16
kehidupan manusia dan merupakan hak dasar manusia. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Saat ini masyarakat semakin sadar untuk memilih layanan kesehatan yang terbaik, sehingga membuat masyarakat semakin kritis terhadap mutu pelayanan kesehatan yang ada.
Menurut Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (2006), derajat kesehatan di Indonesia saat ini telah mengalami kemajuan yang cukup bermakna, hal ini ditunjukkan dengan makin menurunnya angka kematian bayi dan kematian ibu, menurunnya prevalensi gizi buruk pada balita serta meningkatkan umur harapan hidup. Namun Indonesia masih menghadapi beban ganda karena munculnya penyakit menular baru sementara penyakit menular lain belum dapat sepenuhnya dikendalikan dengan tuntas, salah satu penyakit yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan adalah kusta.
Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri. Terutama mempengaruhi kulit dan saraf. Hal ini berlangsung perlahan-lahan dengan masa inkubasi rata-rata dalam jangka waktu 3 tahun. Kusta dapat menular ke segala umur baik laki-laki maupun perempuan (World Health Organization, 2000).
Menurut Rita Djupuri (Kasubdit Kusta dan Frambusia Direktorat Penyakit Menular Langsung Direktorat PP dan PL Kemenkes RI) dalam Tula (2015), menyatakan bahwa merujuk pada data yang dimiliki Kementerian Kesehatan tahun 2013 Indonesia sampai saat ini merupakan salah satu negara dengan beban penyakit kusta tertinggi ketiga setelah India dan Brasil.
Jawa Timur termasuk wilayah endemis penyakit kusta atau lepra (morbus hansen) di Indonesia. Setidaknya 30% penderita kusta di Indonesia berasal dari Jawa Timur. Pada tahun 2010, sepertiga penderita kusta di Indonesia ada di Jawa Timur, atau setara dengan 4.653 penderita (14% diderita anak-anak dan cacat permanen). Hingga September 2011 ditemukan penderita baru sebanyak 4.142 penderita. Angka itu menempatkan Indonesia di urutan ketiga terbesar dunia untuk jumlah penderita setelah India dengan angka 126.800 penderita dan Brasil di angka 34.894 penderita. Jumlah itu merupakan 30% dari jumlah penderita Kusta di Indonesia yang jumlahnya mencapai 17.000 orang (Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, 2012).
Rumah sakit mempunyai peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu, hal ini tercantum dalam Undang-Undang RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 29 ayat 1 yang menyatakan bahwa setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban: (b) memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit. Selain itu rumah sakit juga merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara paripurna, meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Untuk meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit maka rumah sakit perlu melakukan akreditasi. Akreditasi Rumah Sakit merupakan salah satu cara untuk mendapatkan gambaran seberapa jauh rumah sakit telah memenuhi berbagai standar yang ditentukan. Selain untuk meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit, akreditasi juga merupakan syarat untuk perpanjangan izin operasional dan perubahan kelas. Hal ini tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 56 tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit yang berbunyi sebagai berikut, registrasi dan akreditasi merupakan persyaratan untuk perpanjangan Izin Operasional dan perubahan kelas. Selain itu, sertifikat akreditasi merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat melakukan kerja sama dengan BPJS Kesehatan, hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional pasal 5 ayat 1, yang berbunyi untuk dapat melakukan kerja sama dengan BPJS Kesehatan, Fasilitas Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 harus memenuhi persyaratan. Pasal 7 yang berbunyi persyaratan yang harus dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 1, bagi Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan terdiri atas: b. untuk rumah sakit harus memiliki: 6. sertifikat akreditasi.
Rekam medis berperan penting dalam pelaksanaan kegiatan di rumah sakit karena rekam medis merupakan bukti tertulis mengenai proses pelayanan yang diberikan dokter dan tenaga kesehatan lain kepada pasien. Rekam medis yang lengkap dan benar juga dapat melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan institusi pelayanan kesehatan dalam segi hukum (medikolegal). Rekam medis juga merupakan upaya yang menunjang tertib administrasi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Oleh karena itu rekam medis dirancang sedemikian rupa agar memuat informasi-informasi yang akurat dan berkesinambungan.
Data rekam medis haruslah lengkap dan terperinci sehingga dalam pengisian rekam medis harus diisi sebaik mungkin dan selengkap mungkin. Mengingat proses pengisian rekam medis di rumah sakit dilakukan oleh dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain mengakibatkan pendokumentasian tidak seakurat dan selengkap yang diharapkan. Untuk menjaga kelengkapan rekam medis perlu dilakukan analisis kuantitatif. Hal ini dimaksudkan untuk membantu menemukan kekurangan-kekurangan khusus yang berkaitan dengan pendokumentasian rekam medis.
RS Kusta Kediri merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah yang secara khusus menangani penyakit kusta. Saat ini RS Kusta Kediri sedang mempersiapkan akreditasi rumah sakit versi KARS 2012. Berdasarkan hasil studi dokumentasi yang peneliti lakukan di Unit Rekam Medis pada bulan Juni 2016 dari 10 berkas rekam medis rawat inap pasien kusta diperoleh hasil presentase kelengkapan pengisian komponen identifikasi sebanyak 75,81%, laporan yang penting sebanyak
94,68%, dan autentikasi sebanyak 83,58%. Untuk hasil keterisian tidak lengkap pada komponen identifikasi sebanyak 10,07%, laporan yang penting sebanyak 0% dan autentikasi sebanyak 20,15%. Hasil ketidakterisian komponen identifikasi sebanyak 14,12%, laporan yang penting sebanyak 5,32% dan autentikasi sebanyak 1,49%. Pendokumentasian yang benar diperoleh hasil sebanyak 92,55% dan yang tidak benar sebanyak 7,45%.
Dari hasil studi dokumentasi tersebut diketahui bahwa hasil keterisian tidak lengkap pada komponen identifikasi sebanyak 10,07% dan autentikasi sebanyak 20,15%, serta hasil ketidakterisian komponen identifikasi sebanyak 14,12%, laporan yang penting sebanyak 5,32% dan autentikasi sebanyak 1,49%. Angka ini masih kurang dari target kelengkapan 100% yang merupakan standar kelengkapan pengisian rekam medis di rumah sakit menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Angka ini masih kurang dari target kelengkapan 100% yang merupakan standar kelengkapan pengisian rekam medis di rumah sakit menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas rekam medis, di RS Kusta Kediri masalah ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medis masih sering muncul. Setiap hari berkas rekam medis yang kembali ke Unit Rekam Medis di input ke dalam komputer namun belum diolah dan dianalisis. Hal ini disebabkan karena belum ada petugas khusus yang bertugas menganalisis pengisian berkas rekam medis. Karena belum diolah dan dianalisis, laporan ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medis tidak dilaporkan ke pihak manajemen rumah sakit. Ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medis membuat riwayat pasien menjadi tidak jelas dan menghambat proses klaim BPJS atau asuransi.
Dengan demikian maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor Penyebab Ketidaklengkapan Pengisian Berkas Rekam Medis Rawat Inap Pasien Kusta di RS Kusta Kediri”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi rumusan masalah adalah “Mengetahui kelengkapan dan ketidaklengkapan Berkas Rekam Medis Rawat Inap Pasien Kusta di RS Kusta Kediri”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengetahui sebab-akibat ketidaklengkapan berkas rekam medis rawat inap pasien kusta berdasarkan analisis kuantitatif di RS Kusta Kediri.
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisis persentase ketidaklengkapan berkas rekam medis rawat inap pasien kusta di RS Kusta Kediri.
b. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medis rawat inap di RS Kusta Kediri. c. Mengetahui akibat dari ketidaklengkapan pengisian berkas
rekam medis di RS Kusta Kediri.
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat antara lain:
1. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan untuk evaluasi tentang kelengkapan rekam medis guna meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan Rumah Sakit dimasa yang akan datang.
2. Bagi Peneliti
Penulis dapat menambah pengetahuan dan pengalaman khususnya dalam hal menganalisis berkas rekam medis dan faktor yang menyebabkan ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medis serta akibat dari ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medis.
3. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan dapat digunakan sebagai referensi penelitian selanjutnya.
E. Keaslian
Ada beberapa penelitian serupa yang pernah dilakukan oleh peneliti lain diantaranya yaitu :
1. Suryanto (2015) “Analisis Keterisian dan Ketercapaian Elemen Penilaian Formulir Rekam Medis Gawat Darurat Terkait Persiapan Akreditasi Kars 2012 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta”.
Tujuan dari penelitian Suryanto (2015) adalah untuk mengetahui gambaran keterisian dan ketercapaian elemen penilaian formulir rekam medis gawat darurat terkait persiapan akreditasi KARS 2012 di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Hasil dari penelitian Suryanto (2015) yaitu penelitian Suryanto (2015) menunjukkan bahwa formulir gawat darurat tidak terdapat item kondisi pulang. Dalam pelaksanaan pengisian formulir gawat darurat diketahui keterisian lengkap jam kedatangan pasien sebesar 47,5%, keterisian lengkap diagnosa akhir sebesar 10%, dan keterisian tindak lanjut sebesar 94%.
Persamaan : penelitian Suryanto (2015) memiliki persamaan dengan penelitian peneliti dalam hal menganalisis kelengkapan berkas rekam medis.
Perbedaan : penelitian Suryanto (2015) bertujuan untuk mengevaluasi keterisian rekam medis gawat darurat berdasarkan standar akreditasi 2012, sedangkan penelitian peneliti bertujuan untuk menganalisis berkas rekam medis rawat inap pasien kusta dan mengetahui faktor-faktor ketidaklengkapan berkas rekam medis serta mengetahui akibat dari ketidaklengkapan tersebut.
2. Apriamudita (2015) “Pendokumentasian Rekam Medis Standar PP 2.3 Akreditasi KARS 2012 Diagnosis Diabetes Melitus Di RSUD Tidar Kota Magelang”.
Tujuan dari penelitian Apriamudita (2015) adalah untuk mengetahui pelaksanaan pendokumentasian rekam medis berdasarkan standar PP 2.3 akreditasi KARS 2012 diagnosis diabetes melitus di RSUD Tidar Kota Magelang.
Hasil dari penelitian Apriamudita (2015) yaitu penelitian Apriamudita (2015) menunjukkan bahwa pelaksanaan standar PP 2.3 akreditasi KARS 2012 telah dilaksanakan di RSUD Tidar Kota Magelang karena tindakan dan hasil tindakan telah di dokumentasi pada lembar yang telah disediakan. Dan berdasarkan studi dokumentasi 100 berkas rekam medis diperoleh angka keterisian tindakan terisi lengkap sebanyak 77%, terisi tidak lengkap 3%, dan tidak terisi adalah 20%. Sedangkan angka keterisian hasil tindakan adalah terisi lengkap 78%, terisi tidak lengkap 17%, dan tidak terisi 5%. Ketercapaian standar PP 2.3 akreditasi KARS 2012 di RSUD Tidar Kota Magelang adalah sebesar 77,5% yang berarti tercapai sebagian (TS).
Persamaan : penelitian Apriamudita (2015) memiliki persamaan dengan penelitian peneliti dalam hal metode penelitian yang digunakan sama yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Perbedaan : penelitian Apriamudita (2015) bertujuan untuk pelaksanaan pendokumentasian rekam medis berdasarkan standar PP 2.3 akreditasi KARS 2012 diagnosis diabetes melitus, sedangkan penelitian peneliti bertujuan untuk menganalisis berkas rekam medis rawat inap pasien kusta dan mengetahui faktor-faktor ketidaklengkapan berkas rekam medis serta mengetahui akibat dari ketidaklengkapan tersebut.
3. Arumdani (2014) “Telaah Rekam Medis Tertutup Terkait Consent Berdasarkan Standar Akreditasi Rumah Sakit 2012 Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta”.
Tujuan dari penelitian Arumdani (2014) adalah untuk mengetahui persentase kelengkapan pengisian consent berdasarkan telaah
rekam medis tertutup standar akreditasi rumah sakit 2012 serta mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan ketidaklengkapan pengisiannya dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi ketidaklengkapan pengisian consent tersebut.
Hasil dari penelitian Arumdani (2014) yaitu penelitian Arumdani (2014) menunjukkan bahwa berdasarkan hasil telaah rekam medis tertutup terhadap 100 berkas rekam medis pasien rawat inap yang didalamnya terdapat formulir consent diperoleh hasil persentase kelengkapan pengisian consent untuk standar HPK 6.3 terkait persetujuan umum sebesar 80%, standar HPK 6.4 terkait persetujuan operasi dan tindakan invasif sebesar 92%, standar HPK 6.4 terkait persetujuan transfusi darah dan produk darah sebesar 89%, standar PAB 7.1 terkait risiko, keuntungan, komplikasi dan alternatif operasi sebesar 96%. Faktor yang menyebabkan ketidaklengkapan pengisian adalah kesibukan individu yang mengisikan lembar tersebut dikarenakan banyaknya pekerjaan sehingga menyebabkan ketidaktelitian dan belum tersosialisasinya standard operating procedure (SOP) secara menyeluruh. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi ketidaklengkapan pengisian adalah dengan menjalin komunikasi dan juga sosialisasi.
Persamaan : penelitian Arumdani (2014) memiliki persamaan dengan penelitian peneliti dalam hal metode penelitian yang digunakan sama yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Perbedaan : penelitian Arumdani (2014) letak fokus penelitian pada persentase ketidaklengkapan informed consent dan faktor penyebabnya, sedangkan penelitian peneliti faktor penyebab ketidaklengkapan berkas rekam medis rawat inap pasien kusta dan mengetahui akibat dari ketidaklengkapan tersebut.
F. Gambaran Umum RS Kusta Kediri
Berdasarkan Buku Profil UPT. Rumah Sakit Kusta Kediri (2016), gambaran RS Kusta Kediri adalah sebagai berikut:
1. Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Kusta Kediri
Rumah Sakit Kusta Kediri (RSKK) dibangun pada tahun 1956 dan beroperasi sejak tahun 1958. Pada awal kegiatannya berupa Poliklinik Pengobatan bagi penderita Kusta, yang dikelola oleh tenaga Perawat. Sejak tahun tersebut sampai saat ini telah mengalami perubahan/pergantian 8 (delapan) kali pimpinan berturut-turut :
a. dr. Sosrodoro, tahun 1958 s/d tahun 1964. b. dr. R. Hidayat, tahun 1964 s/d tahun 1988. c. dr. Sutikno, tahun 1988 s/d tahun 2004.
d. dr. Bambang Ermanadji, MM., tahun 2005 s/d tahun 2008. e. dr. Adi Wirachyanto, M.Kes., Januari 2009 s/d Agustus 2009. f. dr. Tuty Satrijawati, M.Kes., September 2009 s/d 2012. g. drg. Ansarul Fahrudda, M.Kes., 2012 s/d 25 Februari 2013. h. dr. Nur Siti Maimunah, M.Si., 25 Februari 2013 s/d sekarang.
Rumah Sakit Kusta Kediri merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengolahan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, memberikan fleksibilitas kepada Instansi Pemerintah yang mempunyai tugas dan fungsi memberikan pelayanan umum kepada masyarakat dalam Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD).
Rumah Sakit Kusta Kediri (RSKK) merupakan salah satu instansi pemerintah yang dipandang sesuai untuk melakukan PPK-BLUD apabila bisa memenuhi persyaratan yang meliputi persyaratan substantif, teknis dan administratif. Pada tanggal 23 Desember 2009 berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 188/529/KPTS/013/2009 menetapkan 9 (sembilan) UPT. pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sebagai BLUD Unit Kerja.
Pencapaian kinerja Rumah Sakit Kusta sampai dengan saat ini antara lain menambah jenis pelayanan non kusta atau pelayanan umum kemudian membuat pelayanan rawat inap umum dan poli penyakit dalam. Dengan adanya perkembangan saat ini Rumah Sakit Kusta merubah nomenklatur dari Rumah Sakit Khusus menjadi Rumah Sakit Umum Kediri. Review Master Plan Rumah Sakit Kusta Kediri tahun 2014 dengan adanya renovasi Gedung hingga lantai 3 (tiga) dan bertambahnya beberapa jenis layanan. Rumah Sakit Kusta Kediri (RSKK) merupakan rumah sakit bertipe C dengan status akreditasi lulus paripurna pada akreditasi rumah sakit versi 2007. 2. Lokasi Bisnis
Rumah Sakit Kusta Kediri (RSKK) adalah Rumah Sakit Khusus bagi penderita kusta milik Provinsi Jawa Timur, melaksanakan tugas sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Rumah Sakit Kusta Kediri mempunyai dua lokasi yang terpisah. Lokasi untuk Kegiatan Pelayanan pasien Kusta terletak di Jalan Veteran No. 48 Kediri dengan luas tanah 7.701 m2 dan luas bangunan 4.385 m2 telp. (0354) 771062, No. Fax (0354) 773479, email : [email protected]. Lokasi Kegiatan Pelayanan pasien non Kusta (umum) untuk sementara terletak di Jalan Veteran No. 10-12 Kediri dengan luas tanah 3.904 m2 dan luas bangunan 747 m2 telp. (0354) 774266.
Secara keseluruhan Rumah Sakit Kusta Kediri memiliki luas 16.737 m2, terdiri dari luas tanah 11.605 m2 dan luas bangunan 5.132 m2. Kedua tanah tersebut diatas terletak di Desa Mojoroto, Kecamatan Mojoroto Kota Kediri yang berada disebelah barat aliran sungai Brantas.
3. Tugas Pokok dan Fungsi
Sesuai dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 32 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Rumah Sakit Kusta mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Kesehatan di bidang promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif dan penelitian pengembangan penyakit kusta serta melaksanakan UKM Strata II di Wilayah Kerjanya.
Untuk melaksanakan tugas sebagaimana yang dimaksud, Rumah Sakit Kusta mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana dan program rumah sakit; b. Pelaksanaan ketatausahaan;
c. Pengawasan dan pengendalian operasional rumah sakit kusta; d. Pelayanan medis penyakit kusta;
e. Penyelenggaraan pelayanan penunjang medis dan non medis; f. Pelaksanaan pelayanan kesehatan umum masyarakat;
g. Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan;
h. Penyelenggaraan pelayanan rujukan pasien, spesimen, IPTEK dan program;
i. Penyelenggaraan koordinasi dan kemitraan kegiatan rumah sakit kusta;
j. Penyelenggaraan penelitian, pengembangan dan diklat; k. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi program;
l. Pelaksanaan pembinaan wilayah di bidang teknis;
m. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif) baik UKP maupun UKM di dalam gedung maupun di luar gedung di wilayah kerjanya; dan n. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan Kepala Dinas.
Susunan Organisasi UPT Rumah Sakit Kusta, terdiri atas : a. Kepala UPT;
b. Sub Bagian Tata Usaha; c. Seksi Pelayanan Medis; d. Seksi UKM dan Litbang.
Gambar 1. Struktur Organisasi UPT Rumah Sakit Kusta Kediri
Sub Bagian dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala UPT. Seksi Pelayanan Medis dan Seksi UKM dan Litbang dipimpin oleh Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala UPT. Kepala UPT mempunyai tugas, memimpin dan membina, mengkoordinasi, mengawasi serta melaksanakan pengendalian terhadap pelaksanaan tugas rumah sakit kusta sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Visi, Misi dan Motto Rumah Sakit Kusta Kediri a. Visi Rumah Sakit Kusta Kediri :
Menjadi Rumah Sakit dengan Pelayanan Kesehatan Berkualitas terjangkau dan Paripurna.
b. Misi Rumah Sakit Kusta Kediri :
1) Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, terpadu, murah dan mudah diakses oleh masyarakat.
2) Meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3) Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pelayanan di semua bidang secara berkesinambungan. 4) Meningkatkan kerja sama dalam pendidikan, pelatihan dan
penelitian di bidang kesehatan. c. Motto Rumah Sakit Kusta Kediri :
5. Fasilitas Pelayanan a. Instalasi Rawat Inap
Rumah Sakit Kusta Kediri memiliki kapasitas 68 tempat tidur, sesuai dengan Keputusan Kepala UPT Rumah Sakit Kusta Kediri No. 445/176/101.15/2015 tanggal 01 April 2015 tentang Kapasitas Tempat Tidur Rumah Sakit Kusta Kediri Tahun 2015. Pelayanan Instalasi Rawat Inap di Rumah Sakit Kusta Kediri terdiri dari :
1) Pelayanan Kusta
a. Ruangan Pelayanan Kusta b. Ruangan Intensif c. Ruangan Laki-Laki d. Ruangan Perempuan 2) Pelayanan Umum a. Ruangan Anak b. Ruangan Obgyn
c. Ruangan Pelayanan Umum e. Ruangan Laki-Laki
d. Ruangan Perempuan b. Instalasi Rawat Jalan
1) Poli Kusta
2) Poli Kulit dan Kelamin 3) Poli Akupuntur
4) Poli Mata 5) Poli Gigi
c. Instalasi Gawat Darurat d. Instalasi Laboratorium e. Instalasi Gizi
f. Instalasi Rehabilitasi Medik : 1) Fisioterapi
2) Ortotik Prostetik 3) Okupasi Terapi g. Pelayanan Radiologi h. Instalasi Farmasi
i. Pelayanan Rekam Medis
j. Pelayanan Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPS) k. Pelayanan Kesehatan Lingkungan
l. Beberapa pelayanan kesehatan spesialis yang sedang dikembangkan oleh UPT Rumah Sakit Kusta Kediri antara lain :
1) Pelayanan Poli Penyakit Dalam 2) Pelayanan Poli Anak
3) Pelayanan Poli Kandungan 4) Pelayanan Poli Bedah 5) Pelayanan Patologi Klinik.
6. Kapasitas tempat tidur Rumah Sakit Kusta Kediri Tahun 2015 Tabel 1. Kapasitas TT Rumah Sakit Kusta Kediri Tahun 2015
No. Ruangan Kelas Jumlah
TT Keterangan I PELAYANAN KUSTA Ruangan Pelayanan Kusta 1 4 TT 2 ruangan Ruangan Insentif - 3 TT Ruangan Laki-laki 2 2 TT Ruangan Perempuan 2 2 TT Ruangan Laki-laki 3 15 TT Ruangan Perempuan 3 13 TT Sub Total 39 TT II PELAYANAN UMUM Ruangan Anak - 3 TT Ruangan Obgyn - 4 TT Ruangan Pelayanan Umum 1 4 TT 2 ruangan Ruangan Laki-laki 2 2 TT Ruangan Perempuan 2 2 TT Ruangan Laki-laki 3 7 TT Ruangan Perempuan 3 7 TT Sub Total 29 TT TOTAL 68 TT
7. Tingkat Efisiensi dan Mutu Pengelolaan Rumah Sakit Tahun 2015 Tabel 2. Tingkat Efisiensi dan Mutu Pengelolaan Tahun 2015
No. Uraian Rerata Standar
1. Bed Occupancy Rate (BOR) 22,18% 60-85 2. Length of Stay (Av LOS) 8,26 6-9 3. Turn of Interva (TOI) 28,45 1-3 4. Bed Turn Over (BTO) 10,00 40-50 5. Gross Death Rate (GDR) 4,92 < 45 6. Net Death Rate (NDR) 4,92 < 25 Sumber: Buku Profil UPT. RS Kusta Kediri