• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODELOGI PENELITIAN. eksperimen. Dalam bidang pendidikan, suatu eksperimen dimaksudkan untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODELOGI PENELITIAN. eksperimen. Dalam bidang pendidikan, suatu eksperimen dimaksudkan untuk"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A. Metode dan Desain Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode quasi eksperimen. Dalam bidang pendidikan, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai pengaruh suatu tindakan pendidikan terhadap tingkah laku atau menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh. Cresswell (1994:132) menegaskan;

“In this design a popular approach to quasi exsperimental group A and the control B are selected without random assignment. Both groups take a pretest and posttest and only the exsperimental group received the treatment”.

Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diseleksi tanpa penetapan secara random. Desain eksperimen yang digunakan adalah Pretest-Posttest, Non- Equivalent Control Group Design, dimana kedua kelompok memperoleh pre test

dan post test, dan hanya kelompok eksperimen yang menerima perlakuan. Pada penelitian ini kelas eksperimen diberi treatment dengan model pembelajaran POE (Predict, Observe, Explain), dan kelas yang lain sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran metode konvensional. Variabel yang dilihat dari penerapan pembelajaran ini adalah peningkatan pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada kedua kelas, kemudian dibandingkan manakah yang lebih baik peningkatannya. Desain penelitian lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut;

(2)

Tabel 3.1. Desain Quasi Eksperimen

Grup Pretes Treatmen Postes

Eksperimen Kontrol

Y1

Y1

X1

0

Y2

Y2

Keterangan : Y-1 : Pre Test Y-2 : Post Test

X1 : Treatmen berupa pembelajaran POE dengan simulasi 0 : Pembelajaran konvensional

B. Populasi Dan Sampel

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri Darmaraja Kabupaten Sumedang. Populasi dalam penelitian adalah Seluruh Peserta Didik SMA di Kelas X di SMA Negeri Darmaraja Kabupaten Sumedang, yaitu sebanyak tujuh kelas.

Penentuan sample didasarkan pada karakteristik yang sama atau dipersamakan yaitu berdasarkan skor nilai ulangan yang telah dilakukan sebelumnya dengan melihat nilai tertinggi, nilai terendah, dan rata-rata (mean). Karakteristik lainnya seperti juga guru pengajar, metode, dan materi berdasarkan hasil pengamatan adalah sama. Karakteristik dari kelas-kelas tersebut kemudian diperbandingkan untuk melihat karakter yang sama atau dipersamakan, yang kemudian ditentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penentuan sampel kelas eksperimen didasarkan pertimbangan kriteria pada Tabel 3.2.

(3)

Tabel 3.2

Penentuan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

No Karakteristik Kelas

X 1 X 2 X 3 X 4 X5 X6 X7 1 Nilai tertinggi 100 80 95 87.5 85 82.5 92.5 2 Nilai terendah 35 35 32.5 42.5 40 42.5 40 3 Nilai rata-rata 67.5 57.5 63.75 65 62.5 62.5 66.25 4 Jumlah Siswa

Laki-laki Perempuan

34 14 20

34 17 17

35 15 20

36 16 20

35 15 20

35 15 20

35 11 24

5 Guru pengajar x x x x x x x

6 Materi x x x x x x x

7 Metode x x x x x x x

Sumber: Hasil pengolahan data penulis, 2012.

Berdasarkan pertimbangan data di atas maka sampel pada penelitian ini adalah kelas X5 dan X6, dimana kelas X5 sebagai kelas eksperimen dan kelas X6 sebagai kelas kontrol.

C. Instrumen Penelitian

Untuk mengumpulkan data pada penelitian kali ini digunakan beberapa instrumen penelitian, sebagai berikut;

1. Tes Pemahaman Konsep

Tes ini dikontruksi dalam bentuk tes obyektif model selected response (pilihan ganda). Jumlah pilihan yang diberikan sebanyak lima pilihan (a-e) dan berjumlah 10 butir soal dengan ketentuan bila jawaban benar maka diberi skor 10 dan jawaban salah diberi skor 0, sehingga jumlah skor total adalah 100. Nilai akhir merupakan perbandingan skor yang diperoleh dengan skor total dikali 100, sehingga jumlah skor maksimal jika menjawab semua dengan benar adalah 100, dan skor minimal yaitu apabila menjawab salah semua adalah 0.

(4)

Semua soal disusun berdasarkan indikator pemahaman konsep, yaitu menterjemahkan (translation), menafsirkan (interpretation), dan mengekstrapolasi (extrapolation). Lebih rinci dapat dilihat pada tabel 3.3 berikut;

Tabel 3.3

Kisi-Kisi Tes Pemahaman Konsep

No Pemahaman Konsep Bentuk

Soal

Nomor soal

Aspek Indikator

1 Menterjemahkan Menterjemahkan sesuatu dari abstrak ke bentuk yang lebih kongkrit.

PG 1

Menerjemahkan suatu prinsip umum dengan memberikan contoh

PG 4

Kemampuan menerjemahkan konsep kedalam suatu tampilan visual atau sebaliknya

PG 2

2 Menafsirkan Membedakan antara kesimpulan yang diperlukan dengan yang tidak

diperlukan.

PG 3

Kemampuan untuk menafsirkan berbagai data sosial.

PG 8

Kemampuan untuk membedakan pembenaran atau penyangkalan suatu kesimpulan yang digambarkan oleh suatu data

PG 5

3. Mengekstrapolasi Menyimpulkan dan menyatakan lebih eksplisit.

PG 6

Kemampuan untuk memperkirakan konsekuensi dari suatu bentuk komunikasi yang digambarkan

PG 9

7 Kemampuan menjadi peka terhadap

faktor-faktor yang dapat membuat prediksi tidak akurat

PG 10

Sumber: Hasil pengolahan data penulis, 2012.

Tes pemahaman konsep tersebut dibuat untuk menguji pemahaman konsep peserta didik terhadap konsep erosi. Pada pelaksanaannya dilakukan dua kali. Tes awal (pre test) dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik mengenai konsep erosi sedangkan tes akhir (post test) dilakukan untuk mengukur

(5)

pemahaman konsep erosi peserta didik sebagai hasil penggunaan model pembelajaran POE (Predict, Observe, Explain). Untuk masing-masing tes ini peserta didik diberikan waktu 10 menit.

Sebuah tes atau instrumen dapat dikatakan baik sebagai alat ukur, harus memenuhi prasyarat, yaitu validitas, dan reliabilitasnya (Arikunto, 2003: 57), maka sebelum diujikan soal-soal tersebut diukur terlebih dahulu tingkat keabsahannya melalui pengujian validitas, dan reliabilitas yang dilakukan pada uji pendahuluan. Hasil uji validitas, dan reliabilitas soal kepada satu kelas diluar kelas kontrol dan kelas eksperimen secara rinci dijelaskan adalah sebagai berikut;

a. Validitas

Validitas dimaksudkan untuk mengukur ketepatan dan kebenaran instrumen terhadap apa yang hendak diukur. Aspek-aspek yang diukur pada tes berlandaskan teori yang relevan (construct validity), serta yang diukur berdasarkan rancangan program yang telah ada. Pada penelitian ini yaitu kesesuaian dengan Standar Kompetensi dan Kompetesi dasar, Indikator pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kreatif, kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Rumus yang digunakan untuk menentukan nilai validitas instrumen adalah Korelasi point biserial (rpbis). Penggunaan rumus korelasi point biserial (rpbis) dalam penentuan nilai validitas karena variabel diukur atas suatu skala interval atau atas skala rasio dan lainnya atas skala dikotomi dengan perlambangan 1 berarti memiliki nilai dan 0 berarti tidak memiliki nilai (Riyanto; 1996: 88).

(6)

Adapun rumus korelasi biserial (rbis) adalah sebagai berikut.

i i t

i t i

pbis

p q

S x

r x

)

(

Keterangan: rpbis(i) = korelasi biserial poin butir ke –i

xi = rata skor total partisipan yang menjawab benar poin butir ke i xt = rata-rata skor total semua partisipan

pi = proporsi jawaban benar qi = proporsi jawaban salah St = standar deviasi skor total

Hipotesis statistik yang berlaku pada uji validitas instrumen menggunakan korelasi point biserial (rpbis) adalah Ho : µ = 0 tidak terdapat hubungan dan Ha : µ

≠ 0 terdapat hubungan. Uji signifikasi korelasi dengan ketentuan derajat kesalahan 5% jika rhitung < rtabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, jika rhitung > rtabel maka Ha diterima. Pengujian validitas pada penelitian ini dilakukan selain pada kelas eksperimen dan kontrol, sampai tingkat validitas terpenuhi. Berdasarkan hasil pengujian validitas, diperoleh hasil tiap item soal memiliki nilai yang lebih dari pada t tabel (0,334) sehingga tiap item butir soal adalah valid. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.4.

b. Reliabilitas

Reliabitas merupakan tingkat keterandalan atau tingkat kepercayaan pengukuran. Intrumen yang digunakan harus mempunyai kriteria reliabel. Untuk mengetahui reliabilitas suatu instrumen, banyak metode pengujian yang dapat dilakukan, sesuai dengan karakteristik penelitian. Pada penelitian ini reliabilitas

(7)

diuji dengan menggunakan KR20 (Kuder-Richardson nomor 20), karena instrumen berupa tes yang dikotomi (benar 1, salah 0), dimana responden harus memilih salahsatu dan tidak boleh memilih keduanya. Rumus yang digunakan untuk menguji reliabilitas instrumen adalah menggunakan sebagai berikut:

r

ii

= (

( )

) (

)

Keterangan: rii = Koefesien reliabilitas tes n = Banyaknya butir soal 1 = Bilangan konstan

2

St = Varians skor total

pi = Proporsi jawaban yang benar untuk butir nomor i qi = Proporsi jawaban yang salah untuk butir nomor i

piqi = Varians skor butir Sumber: Sudijono, Anas 2008

Selanjutnya Sudijono (2008) menyatakan bahwa dalam pemberian interpretasi terhadap koefesien reliabilitas tes (

r

xy), pada umumnya digunakan patokan sebagai berikut;

1. Apabila

r

xy≥ 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi (reliable).

2. Apabila

r

xy< 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan belum memiliki reliabilitas yang tinggi (unreliable).

Sama halnya dengan pengujian validitas, pengujian reliabilitas pada penelitian ini dilakukan selain pada kelas eksperimen dan kontrol, sampai tingkat reliabilitas terpenuhi Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas diperoleh hasil perhitungan 0,722 sehingga soal memenuhi syarat reliabilitas.

(8)

c. Uji Indeks Kesukaran

Soal yang baik adalah butir soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Hal ini karena bila item soal terlalu mudah tidak akan merangsang peserta didik untuk mempertinggi usaha untuk memecahkannya. Sebaliknya juga bila butir item soal terlalu sukar akan menyebabkan peserta didik tidak bersemangat menjawab karena di luar jangkauan kemampuanya.

Tingkat kesukaran butir item soal dinyatakan dalam proporsi perbandingan antara yang menjawab benar dengan yang menjawab salah seluruh item soal.

Tingkat kesukaran dinyatakan dalam indeks kesukaran yang dilambangkan dengan huruf (P) singkatan proporsi. Rumus yang digunakan pada menguji indeks kesukaran butir item soal adalah sebagai berikut:

 

 

 kelompokatas kelompokbawah

benar menjawab yang

bawah kelompok benar

menjawab yang

atas kelompok P

Klasifikasi untuk menginterpretasi indeks kesukaran butir item soal adalah sebagai berikut:

Indeks Kesukaran (P) Interpretasi

P = 0,00 Terlalu sukar

0,00 ≤ P ≤ 0,30 Sukar

0,30 ≤ P ≤ 0,70 Sedang

0,70 ≤ P ≤ 1,00 Mudah

P – 1,00 Terlalu mudah

Sumber: Arikunto, 2003: 210.

Berdasarkan hasil uji pendahuluan diperoleh data indeks kesukaran butir soal berada pada kategori mudah 40%, sedang 50% dan sukar 10%. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.4.

(9)

d. Daya pembeda

Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik yang berkemampuan rendah.

Daya pembeda butir item soal dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi butir item soal. Angka indeks diskriminasi butir item soal adalah angka/bilangan yang menunjukan besar kecilnya daya pembeda (discriminatory power) yang dimiliki butir item soal yang dilambangkan dengan huruf (D) singkatan dari diskriminan. Rumus yang digunakan untuk mengetahui daya pembeda butir item soal adalah sebagai berikut:

kelompokatas kelompokbawah

2 1

benar menjawab yang

bawah kelompok benar

menjawab yang

atas kelompok D

Klasifikasi untuk menginterpetasikan indeks diskiminan adalah sebagai berikut:

Daya Pembeda (D) Interpretasi 0,70 ≤ D ≤ 1,00 Baik sekali

0,40 ≤ D ≤ 0,70 Baik

0,20 ≤ D ≤ 0,40 Cukup

0,00 ≤ D ≤ 0,20 Jelek

D = Negatif Tidak baik

Sumber: Arikunto, 2003: 218.

Berdasarkan hasil uji pendahuluan diperoleh data daya beda butir soal berada pada kategori cukup 20%, dan baik 10%. Adapun hasil rekapan dari uji validitas, uji indeks kesukaran dan daya beda dapat diihat pada tabel 3.4 berikut

(10)

Tabel 3.4

Rekap Uji Validitas, Uji Indeks Kesukaran dan Uji Daya Beda

No.

Soal

Tafsiran Daya

Pembeda

Tingkat Kesulitan

Efektifitas

Option Status Soal Validitas

1 Baik Mudah Baik Dapat diterima Valid

2 Cukup Mudah Baik Dapat diterima Valid

3 Baik Sedang Baik Dapat diterima Valid

4 Baik Mudah Baik Dapat diterima Valid

5 Baik Sulit Baik Dapat diterima Valid

6 Baik Mudah Baik Dapat diterima Valid

7 Baik Sedang Baik Dapat diterima Valid

8 Cukup Sedang Baik Dapat diterima Valid

9 Baik Sedang Baik Dapat diterima Valid

10 Baik Sedang Baik Dapat diterima Valid

Sumber: Hasil penelitian 2012

2. Lembar Kerja Siswa

Lembar kerja siswa (LKS) digunakan untuk memandu peserta didik dalam pembelajaran, dengan mengacu pada aspek kreatif, dikembangkan sesuai dengan model pembelajaran yaitu model pembelajaran POE pada kelas eksperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

Hasil jawaban pada LKS merupakan sebuah produk berpikir peserta didik setelah pembelajaran berlangsung. Sehingga berdasarkan jawaban pada LKS tersebut akan diukur kemampuhan berpikir kreatif peserta didik yang meliputi kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), dan penguraian (elaboration), yang terbagi-bagi lagi kedalam 9 indikator sebagaimana terdapat pada tabel 2.2.

(11)

Jumlah skor maksimal tiap indikator adalah 5 dan minimal 1, sehingga jumlah skor total adalah 45. Nilai akhir merupakan perbandingan skor yang diperoleh dengan skor total dikali 100, sehingga jumlah skor maksimal adalah 100, dan skor minimal adalah 20.

D. Analisis Data:

Analisis data dilakukan untuk mendapatkan makna dari data yang telah dikumpulkan pada penelitian, analisis data dapat dilaksanakan berupa uji normalitas, homogenitas, beda rata-rata, nilai gain dan uji hipotesis.

1. Uji Normalitas

Tujuan dilakukannya uji normalitas adalah mengetahui apakah suatu variabel terdistribusi normal. Hal tersebut dilakukan karena dalam pandangan statistik sifat dan karakteristik populasi adalah terdistribusi secara normal. Data yang berdistribusi normal berarti memeliki sebaran data yang normal pula sehingga dengan profil sepertini maka data tersebut dianggap mewakili populasi.

Kondisi data berdistribusi normal menjadi syarat untuk menguji hipotesis menggunakan statistik parametric, bial tidak berdistribusi normal maka menggunakan alaisi non parametric.

Normal atau tidaknya suatu variabel dilihat dari mean dan standar deviasi yang sama. Pada penelitian ini, uji normalitas menggunakan Test of Normality berdasarkan pada uji Kolmogorov-Smirnov.

(12)

Keterangan: X2 = koefisien

= frekuensi yang diperoleh

= frekuensi yang diperkirakan (teoretis) Sumber: Arikunto, 2003: 220.

Kriteria untuk menentukan data yang telah dianalisis tersebut berdistribusi normal atau tidak, dengan α = 0,05 dapat dilihat pada tabel berikut:

Nilai Probabilitas (Asymp. Sig)

Keterangan Asymp. Sig > 0,05 Data Berdistribusi Normal Asymp. Sig < 0,05 Data Berdistribusi Tidak Normal Sumber: Arikunto, 2003: 235.

Apabila uji Kolmogorov-Smirnov, tidak mencapai angka normalitas maka dilakukan uji Shapiro-Wilk, bila masih belum mencapai angka normal maka normalitas data dilakukan dengan melihat nilai kritis z (Skewness) dimana data dikatakan berdistribusi normal jika nilai Skewness di antara -1 dan +1 (Morgan, dalam Rokhman 1990: 4). Jika semua tes telah dilakukan dan angka normalitas belum dicapai maka analisis data menggunakan analisis non parametric.

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama atau berasal dari populasi yang tidak jauh berbeda keragamannya. Selain itu uji homogenitas dilakukan untuk mendeteksi agar penyimpangan estimasi tidak terlalu besar, dan bisa atau tidaknya digabung untuk dianalisis lebih lanjut, maka homogenitas variansi kelompok-kelompok populasi dari mana sampel diambil, perlu diuji.

(13)

Pada penelitian ini uji homogenitas menggunakan Tes of Homogeneity of Variance berdasarkan pada uji Levene Test, karena sampel diambil dari 2

kelompok data.

Keterangan: = koefien F

= varians kelompok 1 (besar) = varians kelompok 2 (kecil)

Penetapan data yang telah dianalisis bersifat homogen atau heterogen, maka ditetapkan kriteria sebagai berikut:

Nilai Probabilitas (Asymp. Sig)

Keterangan Asymp. Sig ≥0,05 Variansi sample sama (homogen)

Asymp. Sig < 0,05 Variansi sample tidak sama sama (heterogen) Sumber: Arikunto, 2003: 237.

3. Penentuan N-Gain

Untuk mengetahui perbedaan pemahaman konsep melalui pembelajaran dihitung berdasarkan skor gain yang ternormalisasi. Uji N-gain ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana peningkatan hasil belajar peserta didik antara sebelum dan sesudah pembelajaran. Perbedaan skor tes awal dan tes akhir (gain) diasumsikan efek dari treatment (Panggabean, 1996: 21).

Gain yang ternormalisasi dicari dengan menggunakan rumus g factor yang dikembangkan oleh Hake, R. R (Cheng, et al, 2004, dalam Wiyono, 2009:43), yaitu:

(14)

Keterangan: = koefien F

= skor tes akhir;

= skor tes awal;

= skor maksimum

= skor minimum

Penetapan Nilai Indeks N-gain, mengacu pada kriteria sebagai berikut Nilai Indeks N-gain Interpretasi

0,7 IG Tinggi

0,3 IG 0,7 Sedang

IG < 0,3 Rendah

Sumber: Arikunto, 2003: 240.

4. Uji Beda

Uji beda yang digunakan adalah uji t untuk melihat perbedaan skor sesudah perlakuan antara kelas eksperimen dengan model pembelajaran POE dan kelas kontrol dengan model pembeajaran Konvensional. Penelitian ini menggunakan sampel 35 orang siswa, dengan menggunakan pretest dan postest, sehingga uji t yang digunakan adalah uji t dua sampel berpasangan (paired sample t test) untuk melihat perbedaan skor sebelum dan sesudah perlakuan, dan uji t dua

sampel independen (independent sample t test) untuk melihat perbedaan skor sesudah perlakuan antara kelas eksperimen dan kelas Kontrol;

Rumus yang digunakan pada uji t dua sampel berpasangan (paired sample t test) adalah sebagai berikut;

̅ ̅

√ ∑ ( )

(15)

Keterangan: t = Koefisien t ̅ = Mean sampel 1 ̅ = Mean sampel 2

∑ = Jumlah kuadrat deviasi N = Jumlah sampel

(Arikunto, 2010: 349; Riyanto, 1996: 85).

Sedangkan rumus uji t dua sampel independen (independent sample t test) adalah sebagai berikut;

̅ ̅

√[∑ ∑

] * +

Keterangan : t = Koefisien t

̅ = Mean masing-masing sampel

n = Jumlah kasus pada tiap sampe/ banyaknya objek

∑ X2 = Jumlah deviasi pangkat dua (Arikunto, 2010: 354; Riyanto, 1996: 85).

Hipotesis statistik yang berlaku pada uji t dua sampel berpasangan (paired sample t test) adalah Ho : µ = 0 tidak terdapat hubungan dan Ha : µ ≠ 0 terdapat

hubungan. Pada pelaksanaannya pengolahan data menggunakan alat bantu statistik SPSS 17. Dari seluruh hasil keluaran, perhatikan tabel Test Statistics.

Dengan melihat nilai Asymp. Sig. (2-tailed) dapat ditentukan apakah terdapat perbedaan perolehan nilai Pretest dan Posttest setelah diterapkan metode pembelajaran POE. Untuk menentukan ada tidaknya perbedaan, maka perlu diperhatikan kriteria berikut:

1) Jika Asymp. Sig < 0.05, maka terdapat perbedaan yang nyata antara nilai Pretest dengan Posttest.

2) Jika Asymp. Sig > 0.05, maka tidak terdapat perbedaan antara nilai Pretest dengan Posttest.

(16)

5. Pengujian Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian pada bab 1. Hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Hipotesis 1

Ho1 : Tidak terdapat perbedaan pre test dan post test dalam pemahaman konsep pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE

Ha1 : Terdapat perbedaan pre test dan post test dalam pemahaman konsep pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE

b. Hipotesis 2

Ho2 : Tidak terdapat perbedaan pre test dan post test dalam pemahaman konsep pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional

Ha2 : Terdapat perbedaan pre test dan post test dalam pemahaman konsep pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional

c. Hipotesis 3

Ho3 Tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional

Ha3 Terdapat perbedaan pemahaman konsep pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional

d. Hipotesis 4

Ho4 Tidak terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional Ha4 Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif pada kelas

eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional.

Gambar

Tabel 3.1. Desain Quasi Eksperimen

Referensi

Dokumen terkait

Dan Hasil uji beda terhadap skor rata-rata posttest siswa kelas kontrol dan eksperimen menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam kemampuan pemecahan masalah sosial

jika dilihat dari uji t, beda rata-rata kelompok eksperimen lebih tinggi 31,67 dari kelompok kontrol 14,72, itu berarti hipotesis yang berbunyi ada pengaruh bimbingan

Uji homogenitas varians yang digunakan pada data skor tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen dan kontrol. Uji homogenitas varians dilakukan untuk mengetahui

Hasil uji beda terhadap skor rata-rata pretest siswa kelas kontrol dan.. eksperimen menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan

Sehingga dapat disimpulkan bahwa data skor pretest dan posttest untuk siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol atau kedua sampel tersebut berasal dari populasi

Kelompok eksperimen pada desain penelitian ini akan diberikan perlakuan dengan animasi 3D, sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberi perlakuan dengan menggunakan

Uji kesamaan dua rata-rata pada hasil pretest dimaksudkan untuk melihat rata-rata kemampuan berpikir kritis awal siswa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen

1) Memberikan tes awal (pretest) untuk mengukur prestasi belajar siswa sebelum diberi perlakuan baik untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol. 2) Memberikan