Ekstraksi Biji Karet
Firdaus Susanto 13096501
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2001
BAB I
PENDAHULUAN
Biji karet berpotensi menjadi produk samping dari perkebunan karet yang tersebar luas di Indonesia. Selama ini biji karet hampir tidak mempunyai nilai ekonomis sama sekali dan hanya dimanfaatkan sebagai benih generatif pohon karet. Kenyataannya biji karet mengandung minyak nabati yang dapat dimanfaatkan menjadi input yang berharga pada berbagai industri.
Minyak biji karet (Rubber Seed Oil) dapat digolongkan sebagai semidrying oil yang dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dalam industri. Minyak biji karet dapat digunakan dalam industri cat, faktis, alkid resin dan bahan bantu dalam pembuatan genteng, industri baja, cor beton, keramik dan lain-lain. Selain itu pengolahan biji karet juga memungkinkan untuk menghasilkan produk samping yaitu bungkil biji karet sebagai pakan ternak dan tempurung biji untuk bahan baku arang aktif.
Minyak biji karet diperoleh dari biji karet dengan cara pengempaan (pressing) atau ekstraksi pelarut. Metoda yang lebih umum digunakan adalah pengempaan secara mekanik. Namun metoda ini membutuhkan energi yang relatif besar dibandingkan dengan ekstraksi. Selain itu pengempaan masih menyisakan miyak dalam bungkil biji karet sekitar 10 %. Metoda ekstraksi dengan pelarut menjadi alternatif yang diharapkan memberikan hasil yang lebih baik.
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. memisahkan minyak biji karet dari bungkilnya.
2. menentukan pengaruh temperatur terhadap unjuk kerja ekstraksi.
3. menentukan metoda yang lebih baik untuk mendapatkan minyak biji karet, metoda pengempaan atau ekstraksi pelarut.
Pada penelitian ini dilakukan pemisahan minyak biji karet dengan metoda
pengempaan dan ekstraksi pelarut. Pengempaan dilakukan dengan kempa
hidrolik. Ekstraksi dilaksanakan dengan mencampurkan biji karet dengan
pelarut dalam wadah berpengaduk. Biji karet mengalami perlakuan awal terlebih dulu, yang meliputi pembuangan kulit dan penyerpihan.
Percobaan terdiri dari dua bagian, yaitu pengempaan dan ekstraksi pelarut.
Bagan penelitian selengkapnya seperti gambar dibawah ini.
Gambar 3.1 Bagan Pelaksanaan Penelitian
Rafinat Perlakuan Awal
Biji Karet
Ekstraksi Pengempaan
Sampel
Perlakuan Akhir
Minyak Biji Karet Destilasi
Analisis Minyak Biji Karet Perlakuan Akhir
Larutan Ekstrak Minyak Biji Karet
Grafik Baku
Pada operasi ekstraksi divariasikan temperaturnya. Dalam hal ini temperatur dibatasi oleh titik didih pelarut.
Penentuan konsentrasi larutan ekstrak dilakukan selama ekstraksi berlangsung pada selang waktu tertentu hingga dicapai konsentrasi yang konstan. Analisis sampel dilakukan dengan metoda spektrofotometri sinar monokromatis.
Setelah ekstraksi selesai pada larutan ekstrak siterapkan operasi distilasi
untuk memisahkan minyak dari pelarutnya. Perlakuan akhir yang dilakuakan
pada minyak yang diperoleh adalah pengendapan dan penyaringan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Buah karet masak terdiri atas kulit buah 70 % dan biji karet 30 % dari bobot buah. Biji karet terdiri dari kurang lebih 37 % tempurung biji dan 63 % daging biji dengan sedikit variasi tergantung kesegaran biji [Grist, 1929]. Biji karet kering mengandung sekitar 47 % minyak sedangkan biji karet yang belum dikupas mengandung 25% minyak. Melihat komposisi biji karet, dapat disimpulkan bahwa hampir semua bagian biji karet dapat dimanfaatkan. Tempurung biji sebagai bahan baku arang aktif, biji karet diambil minyaknya dan bungkil biji dapat dijadikan pakan hewan ternak.
Di Indonesia, tanaman karet menghasilkan komoditi yang sangat penting.
Produktifitas biji karet di berbagal negara dilaporkan oleh beberapa peneliti berkisar antara 112 - 370 kg/ha-thn. Dengan asumsi produktifitas perkebunan karet besar di Indonesia sebesar 112 kg/Ha-thn dan perkebunan rakyat sebesar 78.4 kg/ha-thn maka dapat diperkirakan potensi biji karet Indonesia sebesar 170 390 ton/thn.
Griffiths dan Hilditch nielaporkan bahwa kandungan asam lemak jenuh minyak biji karet sebesar 18,4%, asam oleat 23,6%, asam linoleat 43,3% dan asam linolenat 14,7%. Jamieson dan Baughman menyebutkan minyak biji karet terdiri dari 16,9% asam lemak jenuh, 28,9 % asam oleat, 33,4% asam linoleat dan 20,8
% asam linolenat (Baskaran, 1980).
Pemanfaatan minyak biji karet dalam berbagai industri lebih lanjut ditentukan oleh sifat fisika dan kimiannya. Berikut ditampilkan hasil analisis karakteristik rninyak biji karet mentah.
Tabel 2.1 Karakteristik minyak biji karet mentah.
Parameter Nilai Nilai safonifikasi 187,6 – 191,4
Bilangan Iod 133,8 – 146,6
Persentase bilangan tak tersabunkan
0,6 – 1,0
Indeks refraksi 1,4743 – 1,4749
Spesific grafity (15
oC) 0,925 – 0,929
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Penelitian
Pengempaan dan ekstraksi pelarut terhadap biji karet telah menghasilkan minyak biji karet dalam jumlah dan spesifikasi seperti dicantumkan pada Tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Perolehan dan Hasil Analisa Minyak Biji Karet
Metoda Temperatur
oC yield (%) %tinggal Densitas (gr/ml) Nilai Safonifikasi Bil.Iod
Kempa 28 64,3% 35,7% 0,914 188,8 122,4
28 66,3% 33,7% 0,922 179,9 107,9
40 68,6% 31,4% 0,920 167,7 104,9
Ekstraksi Pelarut
50 70,4% 29,6% 0,921 178,3 109,5
Selama ekstraksi berlangsung, pada selang waktu tertentu dilakukan analisis jumlah minyak biji karet yang diekstrak oleh pelarut heksana Hasil analisis ini ditunjukkan pada Gambar 3.1. Analisis lebih lanjut tentang hubungan temperatur ekstraksi dengan yield ditampilkan pada Gambar 3.2 dan 3.3.
Kurva Laju Ekstraksi
0%
20%
40%
60%
80%
0 5 10 15 20 25 30
waktu (menit)
Jumlah Minyak Terekstrak
28 oC 40 oC 50 oC
Gambar 3.1 Laju Ekstraksi sebagai Fungsi Temperatur
20 30 40 50 60
29% 30% 31% 32% 33% 34% 35%
% Minyak tinggal Temperatur (oC)
Gambar 3.2 Persentase minyak yang tertinggal dalam biji pada berbagai temperatur ekstraksi.
0 10 20 30
25 30 35 40 45 50 55
Temperatur (oC)
Waktu (menit)