• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH RIDHOSYAH YAZID PUTRA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH RIDHOSYAH YAZID PUTRA"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, PROFITABILITAS, AKTIVITAS TERHADAP REAL GROWTH PADA PERUSAHAAN

REAL ESTATE DAN PROPERTY YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA

OLEH

RIDHOSYAH YAZID PUTRA 160522035

PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul: “PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, PROFITABILITAS, AKTIVITAS TERHADAP REAL GROWTH PADA PERUSAHAAN REAL ESTATE DAN PROPERTY YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA” adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasi atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi Program Strata-1 Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan jelas, benar apa adanya. Apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.

Medan, 2018 Yang Membuat Pernyataan,

Nama : Ridhosyah Yazid Putra

(6)

ABSTRAK

PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, PROFITABILITAS, AKTIVITAS TERHADAP REAL GROWTH PADA PERUSAHAAN

REAL ESTATE DAN PROPERTY YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh Rasio Likuiditas (diproksikan Current Ratio), Solvabilitas (diproksikan Debt to Assets Ratio), Profitabilitas (diproksikan Return On Assets dan Net Profit Margin,), Aktivitas (diproksikan Total Assets Turnover) terhadap Real Growth (diproksikan Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset) dengan menggunakan Analisis Korelasi Kanonikal pada perusahaan real estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Populasi penelitian yaitu perusahaan real estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2016 sebanyak 48 perusahaan. Sampel dipilih menggunakan metode purposive sampling yang menghasilkan 29 perusahaan sampel dengan 116 unit observasi. Pengujian hipotesis menggunakan analisis Korelasi Kanonikal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil Canonical Loading dan Canonical Weight dapat disimpulkan bahwa dari lima variabel ada empat variabel yang berkaitan erat yaitu Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover terhadap Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset pada perusahaan real estate dan property, sedangkan dari kedua variabel dependen, angka korelasi yang menunjukkan hubungan paling erat adalah variabel Pertumbuhan Aset. Variabel Current Ratio tidak memberikan pengaruh terhadap Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset pada perusahaan real estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Kata Kunci : Likuiditas, Solvabilitas, Profitabilitas, Aktivitas, Real Growth, Real Estate dan Property

(7)

ABSTRACT

EFFECT OF LIQUIDITY RATIO, SOLVENCY, PROFITABILITY, ACTIVITIES ON REAL GROWTH IN COMPANIES

REAL ESTATE AND PROPERTY COMPANIES LISTED ON INDONESIA STOCK

EXCHANGE

This study aims to analyze and determine the effect of Liquidity Ratio (proxied by Current Ratio), Solvability (proxied by Debt to Assets Ratio), Profitability (proxied by Return On Assets and Net Profit Margin), Activity (Proxied Total Assets Turnover) on Real Growth (proxied Profit Growth and Asset Growth) using Canonical Correlation Analysis in real estate and property companies listed on the Indonesia Stock Exchange.

The research population was 48 real estate and property companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2013-2016. The sample was selected using a purposive sampling method and produce 29 samples companies with 116 unit of observation analysis. Hypothesis testing using Canonical Correlation analysis.

The results show that the results of Canonical Loading and Canonical Weight can be concluded that of the five variables there are four variables that are closely related, namely Debt to Assets Ratio, Return on Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover to Profit Growth and Asset Growth in real estate companies and property, whereas from the two dependent variables, the correlation number that shows the closest relationship is the Asset Growth variable. The Current Ratio variable does not affect the Profit Growth and Asset Growth in real estate and property companies listed on the Indonesia Stock Exchange

.

Keywords: Liquidity, Solvability, Profitability, Activities, Real Growth, Real Estate and Property

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan-Nya kepada penulis hingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Rasio Likuiditas, Solvabilitas, Profitabilitas, Aktivitas Terhadap Real Growth Pada Perusahaan Real Estate Dan Property Yang Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia” sebagai syarat dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Program studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Saya menyadari bahwa dalam penyelesaian tugas akhir ini tidak terlepas dari dukungan, bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beberapa pihak yang berperan penting yaitu :

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak., CPA. dan Bapak Drs.

Syahrul Rambe, M.M., Ak., CA. selaku Ketua Departemen/ Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Dra. Narumondang B. Siregar, MM., Ak., selaku Dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu, serta Bapak Abdillah Arif, SE, M.Si., Ak dan Alm. Bapak Drs. Syahrul Rambe, MM, Ak, selaku Dosen Penguji dan Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak selaku Dosen

(9)

Pembanding yang telah memberikan saran dalam penulisan dan perbaikan skripsi ini.

4. Teristimewa di hati buat keluarga saya, terutama kepada kedua orang tua saya, Ayahanda H. Yaziddin dan Ibunda Hj. Ilmiwati Br Sagala yang telah memberikan doa, motivasi, semangat dan nasihat kepada saya. Terima kasih atas segala pengorbanan, cinta, kasih sayang dan doa yang tiada batas untuk saya. Saudara-saudari tercinta kak Razimah Yazid, SKM; kak Zur Erwina Yazid, S.Kep, Ners; kak Budiana Yazid, S.Kep, M.Kep, Ners; kak Sari Purnama Yazid, SKM; dan abang saya Rahmadsyah Yazid Putra, ST, serta kedua abang dan kakak ipar saya bang Haris Seyuti Simatupang, S.Pd, bang Yasir Mahfudz Siregar, ST dan kak dr. Caludia Pricilia Manik yang telah banyak membantu dan mendukung saya selama ini, terima kasih atas doanya.

5. Buat saudara/i seperjuangan: bang Luthfi, Nana, Arif Akang, Ahmad Ridwan, Anes, Wasis, dan semua mahasiswa akuntansi ekstensi lainnya yang tidak dapat disebutkan seluruhnya terima kasih atas semangat dan bantuannya selama ini.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Akhir kata saya mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, Agustus 2018 Penulis

Ridhosyah Yazid Putra

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN

PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL...viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN………. ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 10

1.3. Tujuan Penelitian ... 11

1.4. Manfaat Penelitian ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1. Landasan Teori ... 12

2.1.1. Teori Sinyal ... 12

2.2. Pengertian Laba ... 14

2.3. Pertumbuhan Laba ... 15

2.4. Pengertian Aset ... 16

2.5. Pertumbuhan Aset ... 16

2.6. Rasio Keuangan ... 17

2.6.1 Pengertian Rasio Keuangan... 17

2.6.2. Analisis Rasio Keuangan ... 18

2.7. Jenis Rasio Keuangan ... 18

2.7.1. Rasio Likuiditas ... 19

2.7.2. Rasio Solvabilitas ... 20

2.7.3. Rasio Profitabilitas ... 21

2.7.4. Rasio Aktivitas ... 22

2.8. Penilitian Terdahulu ... 23

2.9. Kerangka Konseptual ... 27

2.10. Hipotesa Penelitian... 32

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34

3.1. Jenis Penelitian ... 34

3.2. Populasi dan Sampel ... 34

3.3. Metode Pengumpulan Data ... 36

3.4. Definisi Operasional Variabel ... 37

3.5. Metode dan Teknik Analisis Data ... 38

3.5.1. Teknik Analisis Data ... 38

3.5.1.1. Statistik Deskriptif ... 38

3.5.1.2. Uji Asumsi Klasik ... 39

(11)

3.5.1.2.1. Uji Normalitas ... 39

3.5.1.2.2. Uji Multikolinearitas ... 40

3.5.1.2.3. Uji Heteroskedastisitas ... 41

3.5.1.2.3. Uji Autokorelasi ... 41

3.5.2. Analisis Korelasi Kanonikal dan Uji Hipotesis ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46

4.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 46

4.2. Pengujian Asumsi Klasik ... 47

4.2.1. Uji Normalitas ... 47

4.2.2. Uji Multikolinearitas ... 50

4.2.3. Uji Heteroskedastisitas ... 51

4.2.4. Uji Autokorelasi ... 53

4.3. Analisis Korelasi Kanonikal dan Uji Hipotesis ... 54

4.4. Pembahasan Hasil Penelitian ... 62

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN... 66

5.1. Kesimpulan ... 66

5.2. Keterbatasan ... 66

5.3. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA……… ... 68

DAFTAR LAMPIRAN ... 71

(12)

DAFTAR TABEL

NO. TABEL JUDUL HALAMAN

2.1 Penelitan Terdahulu ... 23

3.1 Daftar Populasi dan Sampel ... 35

3.2 Definisi Operasional Variabel ... 37

4.1 Hasil Analisis Statistik Deskriptif... 46

4.2 Uji Normalitas Pada Variabel Dependen Pertumbuhan Laba ... 48

4.3 Uji Normalitas Pada Variabel Dependen Pertumbuhan Aset ... 49

4.4 Uji Multikolinearitas Pada Variabel Dependen Pertumbuhan Laba ... 50

4.5 Uji Multikolinearitas Pada Variabel Dependen Pertumbuhan Aset ... 51

4.6 Uji Autokorelasi Pada Variabel Dependen Pertumbuhan Laba ... 53

4.7 Uji Autokorelasi Pada Variabel Dependen Pertumbuhan Aset ... 54

4.8 Uji Signifikansi Multivariat ... 56

4.9 Eigenvalues dan Korelasi Kanonikal ... 57

4.10 Analisis Reduksi Dimensi ... 58

4.11 Variabel Dependen dalam Canonical Weight ... 59

4.12 Variabel Independen dalam Canonical Weight ... 60

4.13 Variabel Dependen dalam Canonical Loading ... 61

4.14 Variabel Independen dalam Canonical Loading ... 61

(13)

DAFTAR GAMBAR

NO. GAMBAR JUDUL HALAMAN

1.1 Rata- rata Total Laba dan Aset Perusahaan

Real Estate dan Property ... 5 1.2 Rata-rata CR, DAR, ROA, NPM dan TAT

Perusahaan Real Estate dan Propery ... 7 2.1 Kerangka Konseptual ... 27 4.1 Normal Probability Plot Pada Variabel Dependen

Pertumbuhan Laba ... 48 4.2 Normal Probability Plot Pada Variabel Dependen

Pertumbuhan Aset ... 49 4.3 Grafik Scatterplot Pada Variabel Dependen

Pertumbuhan Laba ... 52 4.4 Grafik Scatterplot Pada Variabel Dependen

Pertumbuhan Aset ... 52

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

NO. LAMPIRAN JUDUL HALAMAN

1 Daftar Populasi dan Sampel Penelitian

Tahun 2013-2016 ... 71 2 Data Variabel Penelitian……… ... 73 3 Tabel Durbin Watson ……….. ... 77 4 Hasil Analisis Statistik Deskriptif dan Uji Asumsi

Klasik ... 78 5 Hasil Uji Korelasi Kanonikal ……… 82

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap perusahaan selalu senantiasa menginginkan usahanya tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan posisi usahanya dalam perkembangan ekonomi dimana perusahaan tersebut beroperasi. Perusahaan dapat dikatakan sehat apabila perusahaan mampu bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit yang dapat dilihat dari kemampuan perusahaan tersebut dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keuangan dan operasinya secara stabil serta mampu menjaga keberlangsungan perkembangan usahanya.

Perusahaan yang beroperasi pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan perusahaan ada dua, yaitu tujuan komersil dan tujuan sosial. Untuk mencapai tujuannya, pengelolaan perusahaan harus dilakukan dengan sebaik mungkin agar dapat menjadi perusahaan yang mampu bersaing dengan perusahaan lain karena akan terjadi seleksi yang tinggi. Setiap perusahaan dituntut untuk selalu mencari cara agar dapat memenangkan persaingan tersebut. Suatu perusahaan dapat dikatakan mencapai kesuksesan dan berhasil memenangkan persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain salah satu indikatornya jika bisa meningkatkan pertumbuhan laba bagi pemiliknya.

Salah satu faktor yang menentukan suksesnya perusahaan adalah pertumbuhan perusahaan (Pandey, 2001:2). Hal ini dilihat bahwa perusahaan yang tumbuh membutuhkan dana dalam menjalankan aktivitas operasinya.

(16)

Pertumbuhan perusahaan ini mencakup pertumbuhan penjualan, laba, dan aset.

Pertumbuhan perusahaan ini dilihat dengan semakin tinggi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan maka semakin baik juga perusahaan tersebut. Salah satu pengukuran pertumbuhan perusahaan adalah Laba. Hal ini dapat dilihat melalui peningkatan laba perusahaan dari satu periode ke periode berikutnya.

Pertumbuhan yang dialami perusahaan adalah sebuah prestasi yang sesuai dengan keinginan para pemiliknya karena akan meningkatkan kesejahteraan para pemiliknya. Pertumbuhan yang diharapkan tidak akan terjadi karena tidak terjalin kerjasama yang baik antara pihak manajemen dengan para stake holders dalam melihat kemungkinan dan kesempatan di masa yang akan datang, baik jangka panjang maupun jangka pendek dalam menjalankan perusahaan secara optimal.

Pertumbuhan perusahaan yang selalu meningkat diharapkan dapat tercapai oleh perusahaan yang sudah ditargetkan sebelumnya. Hartini (2012) mengemukakan bahwa “perusahaan yang mengalami pertumbuhan secara positif setiap tahunnya dapat menarik investor untuk melakukan investasi pada perusahaan tersebut dan perusahaan dapat memprediksi proyek tersebut dimasa depan mengenai kinerja perusahaan”.

Hartono (2005:210) mengemukakan bahwa “suatu perusahaan dapat dikatakan bertumbuh apabila terjadi pertumbuhan nilai aset, peningkatan laba, peningkatan penjualan, dan peningkatan nilai perusahaan”. Masyarakat luas pada dasarnya mengukur keberhasilan perusahaan berdasarkan kemampuan perusahaan yang dilihat dari kinerja manajemen. Salah satu parameternya kinerja tersebut adalah laba dan aset. Perusahaan yang baik mengisyaratkan pertumbuhan laba

(17)

yang baik pula, yang pada akhirnya memberikan return yang tinggi atas investasi yang ditanamkan.

Laba pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari pendapatan (revenue).

Pendapatan perusahaan timbul dikarenakan adanya aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, royalti, dan sewa.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 mengemukakan bahwa “karakteristik yang membentuk pengertian pendapatan dan untung tersebut adalah kenaikan aset, operasi utama berlanjut, penurunan kewajiban suatu entitas, produk perusahaan, pertukaran produk, menyandang beberapa nama, dan mengakibatkan kenaikan ekuitas” . Pendapatan dapat dikatakan ada, jika terjadi suatu transaksi atau kejadian yang menaikkan aset atau menimbulkan aliran masuk kas. Suwardjono (2005:184) mengemukakan bahwa “transaksi, kejadian dan peristiwa yang dapat menambah aset, yaitu: transaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor, laba yang berasal dari kegiatan investasi, misalnya penjualan aset tetap, hadiah, donasi atau temuan, revaluasi aset yang telah ada, dan penyediaan atau penyerahan produk (barang atau jasa)”.

Laba yang diperoleh oleh perusahaan mencerminkan kenaikan manfaat ekonomik masa depan perusahaan. Manfaat ekonomik masa depan salah satunya yang berwujud dalam aset. Manfaat dari aset tersebut memberikan potensi yang baik yaitu untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung.

Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu yang produktif dan merupakan bagian dari aktivitas operasional perusahaan yaitu dengan memproduksi barang dan jasa

(18)

dalam memuaskan kebutuhan konsumen dengan menggunakan seluruh aset yang dimiliki oleh perusahaan dan secara langsung memberikan dampak kenaikan laba perusahaan.

Beaver et al. (1970:660) mengemukakan bahwa “pertumbuhan didefinisikan sebagai perubahan tahunan dari total aktiva”. Perubahan tersebut dilihat melalui peningkatan aset perusahaan dari setiap periodenya. Peningkatan aset tersebut menyebabkan perusahaan membutuhkan dana yang besar, karena kebutuhan dana semakin besar maka perusahaan cenderung menahan sebagian besar pendapatannya. Semakin besar pendapatan yang ditahan menyebabkan semakin kecil dividen yang dibagikan kepada pemegang saham. Brigham dan Houston (2001:288) mengemukakan bahwa “pertumbuhan sebagai perubahan aktiva tahunan dari total aktiva”. Hal ini dapat dibuktikan melalui perusahaan yang tumbuh dapat dilihat dari peningkatan aset untuk memperbesar ukuran perusahaan. Konsep ini didasarkan pada dua argumentasi. Pertama, pertumbuhan aset berbeda dengan pertumbuhan pendapatan, yang setiap usaha yang dilakukan secara langsung membawa implikasi pada penerimaan. Kedua, investasi pada aset membutuhkan waktu sebelum dioperasikan, sehingga aktifitas yang dilakukan tidak terkait dengan pendapatan.

Sektor real estate dan property merupakan salah satu sektor terpenting di suatu negara. Hal ini dapat dijadikan indikator untuk menganalisis kesehatan ekonomi suatu negara. Santoso (2009:63) mengemukakan bahwa “real estate dan property merupakan salah satu sektor yang memberikan sinyal jatuh atau sedang bangunnya perekonomian suatu negara”. Hal ini menandakan bahwa semakin

(19)

banyak perusahaan yang bergerak dibidang sektor real estate dan property mengindikasikan semakin berkembangnya perekonomian di Indonesia. Investasi di bidang real estate dan property pada umumnya bersifat jangka panjang dan akan bertumbuh sejalan dengan pertumbuhan ekonomi serta diyakini merupakan salah satu investasi yang menjanjikan. Perkembangan sektor real estate dan property tentu saja akan menarik minat investor dikarenakan kenaikan harga tanah dan bangunan yang cenderung naik, supply tanah bersifat tetap sedangkan demand akan selalu bertambah besar seiring dengan pertambahan jumlah penduduk serta bertambahnya kebutuhan manusia akan tempat tinggal, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan lain-lain.

Tingkat kesejahteraan masyarakat tentu merupakan faktor yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan sektor real estate dan property seiring dengan pertumbuhan perekonomian Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor real estate dan property umumnya memiliki tingkat persaingan yang tinggi, oleh karena itu para investor membutuhkan data yang akurat dan dapat menjamin prospek dalam berinvestasi pada sektor tersebut tentu dengan memperhatikan tingkat kenaikan laba dan aset perusahaan setiap periode.

Sumber: data diolah peniliti Gambar 1.1

(20)

Pasar real estate dan property di Indonesia menunjukan trend positif dengan peningkatan laba sebesar 6,4% dan peningkatan aset sebesar 12,4% di tahun 2014 dari tahun sebelumnya. Tahun 2016 nilai laba yang diperoleh sektor real estate dan property turun 2,34% dibanding tahun sebelumnya, namun nilai aset terus mengalami kenaikan jumlah sebesar 8,5%. Pertumbuhan laba pada sektor real estate dan property tahun 2015 dan 2016 mengalami penurunan jumlah laba yang diperoleh dari tahun sebelumnya, namun pertumbuhan aset terus mengalami kenaikan setiap tahun tentu dalam hal tersebut para investor akan mengevaluasi berbagai perusahaan-perusahaan yang bisa untuk dijadikan prospek dalam berinvestasi. Salah satu cara dalam melihat prospek investasi perusahaan adalah dengan memperhatikan kegiatan-kegiatan perusahaan yang mempengaruhi laba yang di hasilkan perusahaan tersebut.

Salah satu cara untuk memprediksi pertumbuhan yang dialami perusahaan adalah menggunakan rasio keuangan. Analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis dan pihak pemerintah dalam mengevaluasi keadaan keuangan perusahaan masa lalu, sekarang dan memproyeksikan hasil yang akan datang.

Rasio keuangan dapat dijadikan sebagai prediktor pertumbuhan laba di masa yang akan datang, hal ini merupakan pengetahuan yang akan berguna bagi para pemakai laporan keuangan perusahaan yang secara riil, maupun potensial berkepentingan dengan perusahaan tersebut. Kasmir (2010:66) mengemukakan bahwa “rasio keuangan dapat dipakai sebagai sistem peringatan awal terhadap kemunduran kondisi keuangan dari suatu perusahaan”.

(21)

Wild et al. (2010:44) mengemukakan bahwa “secara umum rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi rasio likuiditas, rasio solvabilitas (leverage),rasio aktivitas, rasio aktivitas, rasio proftabilitas, rasio ukuran pasar”. Pertumbuhan perusahaan dapat dengan menganalisis laporan keuangan terlebih dahulu sehingga dapat memahami informasi dari laporan keuangan tersebut secara akurat. Analisis laporan keuangan tersebut akan menggunakan rasio keuangan. Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain terdiri dari Rasio likuiditas yang diwakili oleh Current Ratio, Rasio Solvabilitas yang di wakili oleh Debt to Assets Ratio dan Rasio Profitabilitas yang diwakili oleh Return On Assets dan Net Profit Margin, dan Rasio Aktivitas yang diwakili oleh Total Assets Turnover.

Sumber: data diolah peniliti

Gambar 1.2

Rata-rata CR, DAR, ROA, NPM dan TAT Perusahaan Real Estate dan Property

1,933 2,220 2,257 2,224

15,082

17,331

19,986

21,171

0,081 0,081 0,081 0,081

1,055 0,898 0,866 0,979

7,687

9,030 9,372

8,287

0,000 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000

2013 2014 2015 2016

CR DAR ROA NPM TAT

(22)

Berdasarkan gambar 1.2, dapat di lihat bahwa rata-rata rasio keuangan perusahan real estate dan property pada rentang tahun 2013 sampai 2016 mempengaruhi jumlah perolehan laba dan aset dengan jumlah yang berbeda-beda setiap tahunnya. Pada tahun 2013 sampai 2015, DAR mengalami kenaikan 32,51%, TAT mengalami kenaikan 21,92%, CR mengalami kenaikan yang cukup kecil sebesar 16,76%, ROA tidak mengalami kenaikan ataupun penurunan, hal ini berbanding dengan pertumbuhan laba yang mengalami penurunan sebesar 11,18%

dan juga dikuti oleh NPM yang mengalami penurunan sebesar 17,91% tapi tidak dengan pertumbuhan aset yang terus mengalami kenaikan 26,24% dari tahun 2013 sampai 2015. Pada tahun 2016 DAR mengalami kenaikan 5,93%, NPM mengalami kenaikan 13%, ROA tidak juga mengalami kenaikan ataupun penurunan, namun TAT terjadi penurunan 11,57%, dan CR mengalami penurunan cukup kecil sebesar 1,46% hal ini juga diikuti penurunan laba sebesar 2,36% tapi tidak dengan aset yang terus mengalami kenaikan 8,5% dari tahun sebelumnya.

Pada perusahaan real estate dan property data yang telah diolah tidak selalu menunjukkan pertumbuhan khususnya pertumbuhan laba meskipun rasio-rasio keuangan mengalami kenaikan, demikian pula sebaliknya, penurunan rasio keuangan tidak selalu diikuti dengan penurunan khususnya penurun aset. Hal ini jelas bertentangan dengan Rusti’ani dan Wiyani (2017) mengemukakan bahwa

“hasil perhitungan rasio keuangan dapat mencerminkan baik buruknya kinerja keuangan suatu perusahaan”. Perusahaan yang memiliki kinerja keuangan baik dapat menarik para investor untuk berinvestasi, karena kinerja keuangan perusahaan yang menjadi tolak ukur seberapa besar risiko yang akan ditanggung

(23)

investor untuk memastikan kinerja perusahaan berada dalam keadaan baik atau buruk yang dilakukan dengan menganalisa rasio keuangan dari laporan keuangan.

Apabila kinerja keuangan perusahaan mengalami peningkatan, maka aset dan khususnya laba akan meningkat, demikian juga sebaliknya.

Beberapa penelitian mengenai rasio keuangan terhadap pertumbuhan laba telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Erselina et al. (2014) hasil penelitian menunjukkan bahwa Current Ratio terdapat pengaruh yang signifikan dan Total Assets Turnover tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba, berbanding dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dan Wahyuni (2013) mengemukakan bahwa Current Ratio tidak ada pengaruh yang signifikan dan Total Assets Turnover memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Safitri (2016) hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Debt to Assets Ratio memiliki pengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba berbanding dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dan Wahyuni (2013) menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara Debt to Assets Ratio terhadap Pertumbuhan Laba. Heikal et al. (2014) hasil penelitian menunjukkan bahwa Net Profit Margin berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba berbanding dengan penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2016) yang menyatakan bahwa variabel Net Profit Margin tidak berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penambahan variabel dependen yaitu Pertumbuhan Aset sehingga pada penelitian kali ini menggunakan dua variabel dependen, serta pengambilan popoulasi penelitian

(24)

yaitu perusahaan real estate dan property dengan rentang tahun 2013 sampai 2016. Inkonsistennya hasil yang didapatkan oleh peneliti terdahulu maka penulis tertarik untuk diteliti kembali, maka dalam penilitian ini penulis meneliti pengaruh Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover terhadap Real Growth pada perusahaan real estate dan property yang terdapat pada bursa efek indonesia dengan periode penelitian tahun 2013-2016. Saputro (2003:4) mengemukakan bahwa“realisasi pertumbuhan terbagi menjadi empat bagian yaitu pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba, pertumbuhan nilai buku ekuitas dan pertumbuhan aset”. Pada penilitian kali ini penulis terfokus variabel Real Growth adalah Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset pada perusahaan real estate dan property yang terdaftar di BEI periode 2013- 2016.

Berdasarkan uraian diatas dan terdapatnya perbedaan hasil penelitian- penelitian pada Real Growth, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian yaitu “Pengaruh Rasio Likuiditas, Solvabilitas, Profitabilitas, Aktivitas Terhadap Real Growth Pada Perusahaan Real Estate dan Property Yang Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia”

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah terdapat hubungan antara Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover dengan Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Asetpada perusahaan real estate dan property.

(25)

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menguji dan mengetahui hubungan antara Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover dengan Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset pada perusahaan real estate dan property.

1.4. Manfaat Penelitian

Yang menjadi manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Peneliti, menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover terhadap Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset pada perusahaan real estate dan property.

2. Akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi nilai tambah untuk perkembangan ilmu akuntansi, memperluas wawasan mengenai Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset.

3. Peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung penelitian selanjutnya dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset .

4. Calon investor, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada calon investor sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan dalam berinvestasi.

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori

Pada bagian landasan teori ini akan diuraikan teori yang melandasi penelitian ini. Teori yang juga mendukung dalam perumusan hipotesis, dan nantinya akan membantu dalam menganalisis hasil yang didapat.

2.1.1. Teori Sinyal

Morris (1987:47) mengemukakan bahwa “teori sinyal menunjukkan bagaimana masalah asimetris informasi dalam pasar dapat dikurangi dengan memberikan sinyal informasi yang lebih banyak kepada pihak lain”.

Asimetris informasi dalam pasar modal terjadi karena pihak perusahaan (manajemen) memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan pihak luar perusahaan (calon investor). Teori sinyal menjelaskan manajemen perusahaan bertindak sebagai agen, memiliki dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan kepada pihak eksternal. Informasi yang paling dinanti pihak eksternal biasanya yang berupa good news. Teori sinyal menyatakan perusahaan yang berkualitas baik akan memberikan sinyal secara sengaja kepada pasar, sehingga diharapkan pasar dapat membedakan kualitas dari perusahaan-perusahaan (Hartono, 2005:38). Pasar harus dapat menangkap sinyal secara efektif agar dapat mempersepsikan dengan baik (Hartono, 2005:46).

Banyak informasi dari perusahaan yang dapat menjadi sinyal salah satunya tertuang di dalam laporan tahunan. Informasi yang terdapat dalam

(27)

laporan tahunan ini berupa informasi akuntansi yaitu informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan, serta informasi non-akuntansi yaitu informasi yang tidak berkaitan dengan laporan keuangan. Pihak manajemen dituntut untuk bersikap transparan dalam menyajikan laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan dibuat berdasarkan aktivitas-aktivitas yang terjadi di perusahaan pada waktu periode tertentu. Pada laporan keuangan akan dapat diketahui apakah perusahaan berada dalam kondisi sehat atau tidak.

Manajer memberikan informasi melalui laporan keuangan bahwa mereka menerapkan kebijakan akuntansi konservatisme yang menghasilkan hasil akhir yang lebih berkualitas karena prinsip ini mencegah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan aset dan untuk membantu pengguna laporan keuangan melihat laba dan aset yang tidak overstate.

Informasi yang diterima oleh investor terlebih dahulu diterjemahkan sebagai sinyal yang baik (good news) atau sinyal yang buruk (bad news). Untuk mengetahui pertumbuhan perusahaan maka laporan keuangan tersebut harus di analisis terlebih dahulu sehingga dapat memahami informasi dari laporan keuangan tersebut secara akurat. Analisis laporan keuangan tersebut akan menggunakan rasio keuangan.

Wild et al. (2010:40) mengemukakan bahwa “rasio merupakan alat untuk menyediakan pandangan terhadap kondisi yang mendasari. Rasio merupakan salah satu titik awal, bukan titik akhir. Rasio yang diinterpretasikan dengan tepat mengindikasikan area yang memerlukan

(28)

investigasi lebih lanjut”. Rasio dapat digunakan untuk mengetahui apakah terdapat penyimpangan-penyimpangan. Rasio keuangan merupakan alat analisis perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada laporan keuangan. Rasio merupakan alat ukur yang digunakan perusahaan untuk menganalisis laporan keuangan. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain.

Menggunakan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari suatu periode ke periode berikutnya.

2.2. Pengertian Laba

Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan laba. Pengertian laba secara operasional merupakan perbedaan antara pendapatan yang direalisasi timbul dari transaksi selama satu periode dengan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut. Wild et al. (2010:109) mengemukakan bahwa “laba merupakan ringkasan hasil bersih aktivitas operasi usaha dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam istilah keuangan.” Laba (earnings) atau laba bersih (net income) mengindikasikan profitabilitas perusahaan. Chariri dan Ghozali (2003:214) mengemukakan bahwa:

laba memiliki beberapa karakteristik antara lain sebagai berikut:

a. laba didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi.

b. laba didasarkan pada postulat periodisasi, artinya merupakan prestasi perusahaan pada periode tertentu.

(29)

c. laba didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan pemahaman khusus tentang definisi, pengukuran dan pengakuan pendapatan.

d. laba memerlukan pengukuran tentang biaya dalam bentuk biaya historis yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan pendapatan tertentu.

e. laba didasarkan pada prinsip penandingan (matching) antara pendapatan dan biaya yang relevan dan berkaitan dengan pendapatan tersebut.

Laba mencerminkan pengembalian kepada pemegang ekuitas untuk periode bersangkutan, sementara pos-pos dalam laporan merinci bagaimana laba didapat.

Laba merupakan perkiraan atas kenaikan (atau penurunan) ekuitas sebelum distribusi kepada dan kontribusi dari pemegang ekuitas. Berdasarkan pengertian, dapat disimpulkan bahwa laba adalah kelebihan pendapatan di atas biaya sebagai imbalan menghasilkan barang dan jasa selama satu periode akuntansi.

2.3. Pertumbuhan Laba

Laba merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur keberhasilan kerja suatu perusahaan. Adanya pertumbuhan laba dalam suatu perusahaan dapat menunjukan bahwa pihak-pihak manajemen telah berhasil dalam mengelola sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan secara efektif dan efisien. Suatu perusahaan pada tahun tertentu bisa saja mengalami pertumbuhan laba yang cukup pesat dibandingkan dengan rata-rata perusahaan, akan tetapi untuk tahun berikutnya perusahaan tersebut bisa saja mengalami penurunan laba. Pertumbuhan laba dihitung dengan cara mengurangi laba periode sekarang dengan laba periode sebelumnya kemudian dibagi dengan laba pada periode sebelumnya.

Hanafi (2011:41) mengemukakan bahwa “Pertumbuhan laba dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: besarnya perusahaan, umur perusahaan, tingkat

(30)

leverage, tingkat penjualan, perubahan laba masa lalu”. Pertumbuhan perusahaan dari segi laba sangatlah penting untuk keberlangsungan hidup perusahaan dikarenakan laba menunjukan kinerja sebuah perusahaan, dari ukuran laba maka dapat dilihat perusahaan tersebut mempunyai kinerja yang bagus atau tidak.

Secara matematis pertumbuhan laba perusahaan (growth) dapat dirumuskan sebagai berikut:

( ) ( )

( )

2.4. Pengertian Aset

Perusahaan dalam menghasilkan produk agar dapat memenuhi tujuan perusahaan adalah harus memiliki aset. Tanpa memiliki aset, tidak ada perusahaan yang dapat menghasilkan suatu produk untuk dijual, pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuannya yaitu laba. Rudianto (2012:255) mengemukakan bahwa “aset dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yaitu aset lancar, aset tidak berwujud, hingga aset tetap berwujud”. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 mengemukakan bahwa:

karakteristik aset yang dimiliki perusahaan adalah:

a. Digunakan baik sendiri maupun bersama aset lain dalam produksi barang dan jasa yang dijual oleh entitas.

b. Dipertukarkan dengan aset lain.

c. Digunakan untuk menyelesaikan liabilitas.

d. Dibagikan kepada para pemilik perusahaan.

2.5. Pertumbuhan Aset

Aset merupakan alat yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan. Semakin besar aset diharapkan semakin besar hasil operasional yang

(31)

dihasilkan oleh perusahaan. Peningkatan aset yang diikuti peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan.

Meningkatnya kepercayaan pihak luar (kreditor) terhadap perusahaan, maka proporsi utang semakin lebih besar daripada modal sendiri. Martono dan Harjito (2013:133) mengemukakan bahwa “keyakinan kreditor atas dana yang ditanamkan ke dalam perusahaan dijamin oleh besarnya aset yang dimiliki perusahaan tersebut”. Secara matematis pertumbuhan aset perusahaan (growth) dapat dirumuskan sebagai berikut:

( ) ( )

( )

2.6. Rasio Keuangan

2.6.1. Pengertian Rasio Keuangan

Rasio keuangan merupakan alat analisis keuangan yang paling sering digunakan. Rasio keuangan menghubungkan berbagai perkiraan yang terdapat pada laporan keuangan sehingga kondisi keuangan dan hasil operasi suatu perusahaan dapat diinterpretasikan. Sjahrial dan Purba (2013:33) mengemukakan bahwa “rasio keuangan merupakan bagian dari analisis laporan keuangan yang sangat erat kaitannya, karena rasio keuangan merupakan alat analisis laporan keuangan yang tergolong pada alat analisis umum”.

Berdasarkan defenisi diatas, dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan merupakan indeks yang memperlihatkan hubungan yang relevan

(32)

dan signifikan antar satu atau lebih pos-pos laporan keuangan yang dirancang untuk membantu dalam mengevaluasi suatu laporan keuangan.

2.6.2. Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio (Ratio Analysis) merupakan salah satu analisis paling populer dan banyak digunakan karena sangat sederhana yang menggunakan operasi aritmatika, namun interpretasinya sangat kompleks.

Analisis rasio sangat bermakna untuk investigasi lebih lanjut karena angka rasio yang diperoleh dari pos yang saling terkait dan berhubungan.

Mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan rasio dapat dilakukan dengan beberapa rasio keuangan. Setiap rasio keuangan memilki tujuan, kegunaan dan arti tertentu. Sjahrial dan Purba (2013:36) mengemukakan bahwa:

terdapat keterbatasan analisis rasio antara lain sebagai berikut:

a. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya.

b. Jika ada dua atau lebih perusahaan yang dibandingkan tetapi teknik dan standar akuntansi yang dipakai berbeda maka dipastikan tidak tepat analisis rasionya.

c. Jika data yang tidak tersedia tidak sinkron ataupun tidak tersedia, maka sulit untuk menghitung rasio.

2.7. Jenis Rasio Keuangan

Rasio keuangan yang digunakan akan menunjukan nilai kinerja perusahaan apakah sudah tergolong baik atau belum sehingga dengan cara ini dapat membantu para pihak manajemen perusahaan dapat mengambil keputusan dan mempertimbangkan hal-hal krusial sebelum menetapkan keputusan terkait operasional perusahaan. Secara umum terdapat lima macam rasio keuangan yang

(33)

sering digunakan untuk memahami kondisi perusahaan antara lain rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan rasio ukuran pasar (Sjahrial dan Purba, 2013:37), namun pada penilitian kali ini penulis hanya memakai empat rasio yang akan digunakan yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas dan rasio aktivitas.

2.7.1. Rasio Likuiditas

Rasio yang digunakan dalam menghitung tingkat likuiditas suatu perusahaan dalam penelitian ini adalah Current Ratio (CR). Rasio lancar (Current Ratio) menggambarkan kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek (utang lancar) pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aset lancar. Berdasarkan keterangan diatas dapat diketahui bahwa dasar perhitungan rasio diperoleh dari aset lancar dibandingkan dengan kewajiban lancar. Semakin tinggi rasio ini adalah semakin baik artinya aset lancar dapat menutupi kewajiban lancar yang disebut likuid.

Rasio yang terlalu tinggi juga tidak baik, karena perusahaan tidak dapat mengelola aset lancar dengan efektif. Semakin besar nilai rasio, semakin lancar perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Perusahaan yang memilki nilai rasio lancar dua, artinya perusahaan memilki aset lancar yang nilainya dua kali dari utang yang harus dibayar. Nilai rasio lancar dua sudah dianggap cukup baik atau memuaskan bagi beberapa perusahaan, namun untuk mengukur kinerja manajemen ukuran yang terpenting adalah rata-rata untuk perusahaan yang sejenis. Rumus menghitung Current Ratio sebagai berikut:

(34)

2.7.2. Rasio Solvabilitas

Rasio yang digunakan dalam menghitung tingkat likuiditas suatu perusahaan dalam penelitian ini adalah Debt to Assets Ratio (DAR). Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan melunasi kewajiban jangka panjang apabila perusahaan dilikuidasi. Semakin kecil rasio ini adalah semakin baik karena kewajiban jangka panjang lebih sedikit dari aset dan kewajiban jangka panjang yang besar memiliki konsekuensi beban bunga yang besar pula. Hal yang paling penting untuk dipahami adalah pada titik mana yang dianggap aman (safety position) untuk menerapkan konsep pinjaman. Titik aman adalah jika pinjaman itu maksimal adalah 40%

dari jumlah nilai aset.

Pa = Ta x PP

Keterangan:

Pa = Pinjaman aman Ta = Total aset

Pp = Persentase pinjaman

Semakin tinggi DAR yang dimiliki perusahaan menunjukkan semakin tinggi sumber keuangan yang dimiliki oleh perusahaan yang didanai oleh kreditur. Tingginya DAR yang dimiliki perusahaan jika terus berlanjut merupakan trend yang sangat berbahaya karena akan mengganggu keuangan perusahaan apabila utang tersebut sudah jatuh tempo. Utang yang dimiliki dapat dimanfaat secara efisien dan efektif dalam mendanai

(35)

kegiatan operasional perusahaan maka hasil yang diperoleh berupa laba dapat cukup untuk membayar biaya bunga secara periodik ditambah kewajiban pokok. Rumus menghitung Debt to Assets Ratio adalah:

2.7.3. Rasio Profitabilitas

Rasio yang digunakan dalam menghitung tingkat likuiditas suatu perusahaan dalam penelitian ini adalah Return On Assets ( ROA ) dan Net Profit Margin ( NPM ). Rasio profitabilitas menggambarkan pengukuran kemampuan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan aset perusahaan. Berdasarkan keterangan diatas dipastikan bahwa semakin tinggi rasio ini adalah semakin baik karena laba yang diperoleh semakin besar.

Return On Assets sering disebut dengan tingkat pengembalian aset adalah rasio profitabilitas yang menunjukan persentase keuntungan (laba bersih) yang diperoleh perusahaan sehubungan dengan keseluruhan sumber daya atau rata-rata jumlah aset. Return On Assets atau sering disingkat dengan ROA adalah rasio yang mengukur seberapa efisien suatu perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba selama suatu periode.

Rumus menghitung ROA adalah:

Net Profit Margin (NPM) atau dalam bahasa indonesia disebut dengan marjin laba bersih adalah rasio profitabilitas yang digunakan untuk

(36)

mengukur persentase laba bersih pada suatu perusahaan terhadap penjualan bersihnya. Net Profit Margin ini biasanya digunakan untuk mengukur seberapa efisien manajemen mengelola perusahaannya dan juga memperkirakan profitabilitas masa depan berdasarkan peramalan penjualan yang dibuat oleh manajemennya. Caranya adalah dengan membandingkan laba bersih dengan total penjualan, investor dapat melihat berapa persentase pendapatan yang digunakan untuk membayar biaya operasional dan biaya non-operasional serta berapa persentase tersisa yang dapat membayar dividen kepada para pemegang saham ataupun berinvestasi kembali ke perusahaannya. Rumus menghitung NPM adalah

2.7.4. Rasio Aktivitas

Rasio perputaran total aset atau Total Assets Turnover Ratio adalah rasio aktivitas (rasio efisiensi) yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan penjualan dari total asetnya dengan membandingkan penjualan bersih dengan total aset rata-rata. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan aset perusahaan untuk memperoleh pendapatan, makin cepat aset perusahaan berputar makin besar pendapatan perusahaan tersebut. Rasio ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan dapat menggunakan asetnya untuk menghasilkan penjualan. Total Assets Turnover dapat dihitung dengan rumus:

(37)

2.8. Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa peneltian terdahulu yang berkaitan dengan penilaian Real Growth antara lain :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Nama

Peneliti

Variabel Penelitian Hasil Penelitian Erselina et al.

(2014)

Variabel Independen:

Current Ratio (CR) , Total Assets Turnover (TAT) , Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA)

Variabel Dependen : Perubahan Laba

1. Berdasarkan uji t menunjukkan bahwa secara secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara CR terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan property dan real estate.

2. Berdasarkan uji t menunjukkan bahwa secara secara parsial tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara TAT terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan property dan real estate.

3. Berdasarkan uji t menunjukkan bahwa secara secara parsial tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara DER terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan property dan ral estate.

4. Berdasarkan uji t menunjukkan bahwa secara secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan antara ROA terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan property dan real estate.

Gunawan dan Wahyuni (2013)

Variabel Independen:

Total Assets Turnover,

Fixed Assets

Turnover, Inventory Turnover, Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Debt to Equity Ratio

1. Ada pengaruh yang signifikan Total Assets Turnover terhadap pertumbuhan laba. meningkatnya Total Assets Turnover maka diikuti dengan meningkatnya Pertumbuhan Laba pada perusahaan perdagangan.

2. Ada pengaruh yang signifikan Fixed Assets Turnover terhadap pertumbuhan

(38)

Variabel Dependen:

Pertumbuhan Laba

laba. meningkatnya Fixed Assets Turnover maka diikuti dengan menurunnya

Pertumbuhan Laba secara signifikan pada perusahaan perdagangan.

3. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara Current Ratio terhadap Pertumbuhan Laba.

4. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara Debt to Assets Ratio terhadap pertumbuhan laba. meningkatnya Debt to Assets Ratio maka diikuti dengan menurunnya Pertumbuhan Laba walaupun tidak signifikan pada perusahaan perdagangan.

5. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara Debt to Equity Ratio terhadap pertumbuhan laba. meningkatnya Debt to Equity Ratio maka diikuti dengan meningkatnya Pertumbuhan Laba walaupun tidak signifikan.

6. Total Assets Turnover, Fixed Assets Turnover, Inventory Turnover, Current Ratio, Debt to Assets Ratio dan Debt to Equity Ratio secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba.

Heikal et al.

(2014)

Variabel Independen:

Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Debt to Equity Ratio (DER), and Current Ratio (CR) Variabel Dependen:

Profit Growth

1. Return On Assets berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan otomotif di Indonesia Bursa Efek Indonesia.

2. Return On Equity berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan otomotif di Indonesia bursa efek indonesia.

3. Net Profit Margin berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan otomotif di Indonesia Bursa Efek Indonesia.

4. Rasio utang terhadap ekuitas dan

(39)

pengaruh negatif yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan otomotif di Indonesia Bursa Efek Indonesia.

5. Rasio lancar dan pengaruh negatif yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba operasional pada perusahaan otomotif di Indonesia Bursa Efek Indonesia.

6. Return On Assets, Return On Equity, Net Profit Margin, Debt to Equity Ratio Current Rasio dan dampak positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan otomotif di Indonesia Bursa Efek Indonesia.

Safitri (2016) Variabel Independen:

Financial Ratios, Debt To Assets Ratio, Net Profit Margin, Inventory Turnover, Retun On Equity Variabel Dependen:

Pertumbuhan Laba

1. Secara parsial variabel Debt to Assets Ratio memiliki pengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba PT. Kalbe Farma Tbk.

2. Secara parsial variabel Net Profit Margin tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan Laba PT. Kalbe Farma Tbk.

3. Secara Parsial Variabel Inventory Turnover memiliki pengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba PT. Kalbe Farma Tbk.

4. Secara parsial variabel Return On Equity tidak berpengaruh signifikan Pertumbuhan Laba PT. Kalbe Farma Tbk.

Djuwita dan Mohammad (2016)

Variabel Independen:

Dana Pihak Ketiga (DPK), Financing to Deposit Ratio (FDR), Return On Asset (ROA)

dan Non Performing Financing (NPF)

1. Secara parsial DPK berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap perubahan total aset bank syariah.

2. Secara parsial FDR berpengaruh positif dan signifikan terhadap total aset.

3. Secara parsial NPF berpengaruh signifikan dan negatif terhadap total aset.

4. Secara parsial ROA pengaruhnya tidak

(40)

Variabel Dependen:

Total Aset

signifikan dan negatif terhadap total aset.

5. Secara bersama-sama Dana Pihak Ketiga (DPK), Financing To Deposit Ratio (FDR), Return On Asset (ROA) dan Non Performing Financing (NPF) berpengaruh secara signifikan terhadap total aset bank syariah di Indonesia Hasil Penelitian Erselina et al. (2014) menyimpulkan bahwa variabel Current Ratio dan Return On Assets berpengaruh signifikan dan positif terhadap perubahan laba, sedangkan Total Assets Turnover tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan laba pada perusahaan property dan real estate di Bursa Efek Indonesia melalui analisis regresi linear berganda, uji koefisien determinasi, uji t-tes dan uji F–tes yang telah dilakukan.

Hasil Penelitian Gunawan dan Wahyuni (2013) menyimpulkan bahwa variabel Total Assets Turnover Ada pengaruh yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba, sedangkan Current Ratio dan Debt to Assets Ratio tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia melalui analisis regresi linear berganda, uji koefisien determinasi, uji t-tes dan uji F–tes yang telah dilakukan.

Hasil Penelitian Heikal et al. (2014) menyimpulkan bahwa variabel Return On Assets dan Net Profit Margin berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba, sedangkan Current Ratio tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia melalui analisis regresi linear berganda, uji koefisien determinasi, uji t-tes dan uji F–tes yang telah dilakukan.

(41)

Hasil Penelitian Safitri (2016) menyimpulkan bahwa variabel Debt To Assets Ratio memiliki pengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba, sedangkan Net Profit Margin tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan Laba pada PT. Kalbe Farma Tbk melalui analisis regresi linear berganda, uji koefisien determinasi, uji t-tes dan uji F–tes yang telah dilakukan.

Penelitian Djuwita dan Mohammad (2016) menyimpulkan bahwa variabel Return On Assets pengaruhnya tidak signifikan dan negatif terhadap total aset pada bank syariah di Bursa Efek Indonesia melalui analisis regresi linear berganda, uji koefisien determinasi, uji t-tes dan uji F–tes yang telah dilakukan.

2.9. Kerangka Konseptual

Sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, maka kerangka konseptual yang menunjukkan pengaruh variabel Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover terhadap Real Growth (Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset ) yang digambarkan sebagai berikut:

(42)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Penelitian ini melihat pengaruh set variabel independen yaitu Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover terhadap set variabel dependen yaitu Real Growth (Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset). Berdasarkan kerangka konseptual diatas, dapat diuraikan hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen sebagai berikut:

2.9.1. Hubungan Current Ratio terhadap Pertumbuhan Laba

Current Ratio (CR) atau rasio lancar digunakan untuk menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang tersedia (Syahyunan, 2013:93). Current Ratio berpengaruh terhadap laba karena dalam hal ini menunjukkan bahwa Current Ratio dapat melunasi kewajiban jangka pendeknya sehingga dapat mempengaruhi aktivitas perusahaannya. Current Ratio yang tinggi menunjukkan kondisi perusahaan baik sehingga risiko yang dihadapi perusahaan rendah. Risiko yang rendah berarti return rendah, oleh karena itu CR memiliki pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan laba. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dan Wahyuni (2013) yang menyatakan bahwa Current Ratio tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

2.9.2. Hubungan Current Ratio Ratio terhadap Pertumbuhan Aset Current Ratio (CR) atau rasio lancar digunakan untuk menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang tersedia (Syahyunan, 2013:93). Semakin besar rasio ini

(43)

menunjukkan bahwa penggunaan atas aset lancar yang dimiliki akan mempengaruhi penurunan total aset, dikarenakan hutang jangka pendeknya melebihi aset lancarnya untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan aset lancar yang dimiliki.

2.9.3. Hubungan Debt to Assets Ratio terhadap Pertumbuhan Laba Debt to Asset Ratio digunankan untuk mengukur jumlah aset perusahaan yang dibiayai oleh utang atau modal yang berasal dari kreditur (Syahyunan, 2013:93). Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar pula jumlah modal pinjaman yang dimiliki oleh perusahaan yang digunakan untuk investasi pada aset sehingga akan mempengaruhi peningkatan keuntungan bagi perusahaan karena investasi ini mempengaruhi kegiatan aktivitas operasi perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2016) yang menyatakan Debt to Asset Ratio berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

2.9.4. Hubungan Debt to Assets Ratio terhadap Pertumbuhan Aset Debt to Asset Ratio digunankan untuk mengukur jumlah aset perusahaan yang dibiayai oleh utang atau modal yang berasal dari kreditur (Syahyunan, 2013:93). Apabila pihak manajemen memutuskan untuk melakukan pinjaman utang sebagai alternatif pendanaan, maka dapat dikatakan perusahaan telah melakukan leverage keuangan. Leverage digunakan untuk mengetahui besarnya penggunaan utang dalam struktur modalnya oleh suatu perusahaan. Rasio ini menunjukkan besarnya aset yang dimiliki perusahaan yang dibiayai dengan utang yang digunakan sebagai

(44)

tambahan untuk mendanai aset perusahaan sehingga total aset yang dimiliki akan naik.

2.9.5. Hubungan Return On Assets terhadap Pertumbuhan Laba Return On Assets menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan (Syahyunan, 2013:94).

Return On Assets (ROA) adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aset tersebut dimiliki telah digunakan untuk menghasilkan keuntungan. Return On Assets (ROA) yang lebih besar menunjukkan bahwa semakin baik kinerja perusahaan, karena tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi. Semakin tinggi pengembalian investasi yang dimiliki oleh perusahaan maka secara langsung akan mempengaruhi laba yang didapatkan oleh perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Heikal et al. (2014) yang menyatakan Return On Assets berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

2.9.6. Hubungan Return On Assets terhadap Pertumbuhan Aset Return On Assets menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan (Syahyunan, 2013:94).

Return On Assets (ROA) yang lebih besar menunjukkan bahwa semakin baik kinerja perusahaan, karena tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi. Hal ini menandakan apabila ROA semakin besar maka penggunaan aset terhadap memperoleh laba semakin besar yang berarti aset yang dimiliki akan semakin turun. .

2.9.7. Hubungan Net Profit Margin terhadap Pertumbuhan Laba

(45)

Net Profit Margin (NPM) digunakan untuk mengukur keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah pajak dan bunga dengan penjualan (Syahyunan, 2013:94). Semakin besar NPM menunjukkan bahwa semakin besar laba bersih yang diperoleh perusahaan. Laba bersih yang besar, bertambah luas kesempatan bagi perusahaan untuk memperbesar modal usahanya tanpa melalui utang-utang baru, sehingga pendapatan yang diperoleh meningkat. Pencapaian laba ini, investor juga akan memperoleh gambaran positif terhadap kinerja perusahaan, sehingga investor dapat mengharapkan adanya return yang tinggi dari modal yang dimilikinya, dengan demikian pertumbuhan laba meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Heikal et al. (2014) yang menyatakan Net Profit Margin berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

2.9.8. Hubungan Net Profit Margin terhadap Pertumbuhan Aset Net Profit Margin (NPM) digunakan untuk mengukur keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah pajak dan bunga dengan penjualan (Syahyunan, 2013:94). Semakin besar rasio NPM maka laba yang diperoleh akan semakin meningkat atas pendapatan yang dialami, dengan meningkatnya NPM maka earnings to assets akan semakin tinggi.

2.9.9. Hubungan Total Assets Turnover terhadap Pertumbuhan Laba Total Asset Turnover (TAT) digunakan untuk menunjukkan seberapa efisien perusahaan dapat menggunakan dana yang tertanam pada seluruh asetnya untuk menghasilkan penjualan (Syahyunan, 2013:94).

Semakin besar rasio TAT perusahaan, maka pertumbuhan laba juga akan

(46)

meningkat,karena semakin cepat tingkat perputaran aset maka laba bersih yang dihasilkan akan semakin meningkat, karena perusahaan sudah dapat memanfaatkan aset tersebut untuk meningkatkan penjualan yang berpengaruh terhadap pendapatan. Hal ini menunjukkan perusahaan dapat memanfaatkan seluruh aset untuk meningkatkan penjualan yang akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan laba perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dan Wahyuni (2013) yang menyatakan Total Asset Turnover berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

2.9.10. Hubungan Total Assets Turnover terhadap Pertumbuhan Aset Total Asset Turnover (TAT) digunakan untuk menunjukkan seberapa efisien perusahaan dapat menggunakan dana yang tertanam pada seluruh asetnya untuk menghasilkan penjualan (Syahyunan, 2013:94). Rasio ini menunjukkan keefisienan perusahaan dalam mengelola aset yang dimiliki dalam aktivitas operasi perusahaan maka akan secara langsung mempengaruhi total aset yang dimiliki.

2.10. Hipotesa Penelitian

Sudjana (2005:219) mengemukakan bahwa “hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang digunakan untuk menjelaskan hal ini yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya”. Hipotesis merupakan jawaban sementara dari penelitian yang akan dilakukan. Berdasarkan rumusan masalah, landasan teoritis, penelitian terdahulu dan kerangka konseptual, maka diajukan hipotesis alternatif sebagai berikut:

(47)

Ha1 : Terdapat hubungan antara Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover dengan Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset.

(48)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah asosiatif kausal, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui ada dan tidaknya pengaruh atau hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen dan apabila ada seberapakah eratnya pengaruh atau hubungan serta berarti atau tidaknya pengaruh atau hubungan itu (Sugiyono, 2007:59). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara set variabel independen terhadap set variabel dependen. Variabel Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Return On Assets, Net Profit Margin, Total Assets Turnover (X) berpengaruh terhadap variabel dependen Real Growth (Pertumbuhan Laba dan Pertumbuhan Aset) (Y).

3.2. Populasi dan Sampel

Populasi adalah jumlah keseluruhan obyek yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan real estate dan property yang terdaftar di BEI pada tahun 2013 - 2016. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sugiyono (2007:68) mengemukakan bahwa “purposive sampling adalah teknik pentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (disengaja)”. Purposive sampling di sini menggunakan judgement sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan beberapa kriteria tertentu. Beberapa kriteria yang ditentukan adalah:

(49)

1. Perusahaan real estate dan property yang mempublikasikan laporan keuangan dan telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik pada periode 2013 - 2016.

2. Perusahaan real estate dan property yang tidak mengalami kerugian (laba negatif) pada periode 2013 - 2016.

Berdasarkan kriteria di atas, sampel dalam penelitian ini sebanyak 29 amatan pertahunnya sehingga untuk periode tahun 2013-2016 diperoleh total sampel pada penelitian ini adalah berjumlah 116 amatan.

Tabel 3.1.

Daftar Populasi dan Sampel

No Nama Perusahaan

Kriteria Sampel

1 2

1 Armidian Karyatama Tbk - -

2 Agung Podomoro Land Tbk.   Sampel 1

3 Alam Sutera Reality Tbk   Sampel 2

4 Bekasi Asri Pemula Tbk   Sampel 3

5 Bumi Citra Permai Tbk. - -

6 Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk.   Sampel 4

7 Binakarya Jaya Abadi Tbk. - -

8 Bhuawanatala Indah Permai Tbk.   Sampel 5

9 Bukit Darmo Property Tbk.  -

10 Sentul City Tbk.   Sampel 6

11 Bumi Serpong Damai Tbk.   Sampel 7

12 Cowell Development Tbk.  -

13 Ciputra Development Tbk.   Sampel 8

14 Duta Anggada Realty Tbk.   Sampel 9

15 Intiland Development Tbk.   Sampel 10

16 Puradelta Lestari Tbk. - -

17 Duta Pertiwi Tbk.   Sampel 11

18 Bakrieland Development Tbk.  -

19 Megapolitan DevelopmentTbk.   Sampel 12

20 Forza Land Indonesia Tbk - -

Gambar

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu  Nama
Grafik Scatterplot Pada Variabel Dependen Pertumbuhan Laba   Berdasarkan gambar 4.3, tidak terdapat pola yang begitu jelas, serta  titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak  terjadi heteroskedastisitas

Referensi

Dokumen terkait

1. Perusahaan dapat mengharapkan kelangsungan hidup sebagai tujuan utamanya jika terjadi kelebihan kapasitasnya, persaingan yang sangat sengit atau keinginan konsumen

Bahwa yang dimaksud dengan waktu damai adalah saat atau waktu melakukan kegiatan meninggalkan kesatuan tersebut, Negara RI tidak dalam keadaan darurat perang sebagaimana

 Pengertian latihan yang berasal dari kata training adalah penerapan dari suatu perencanaan untuk meningkatkan kemampuan berolahraga yang berisikan materi teori dan praktek,

 Dalam welfare state, hak kepemilikan diserahkan kepada swasta sepanjang hal tersebut memberikan insentif ekonomi bagi pelakunya dan tidak merugikan secara sosial,

Tujuan penelitian adalah untuk mengukur laju dekomposisi serasah daun Rhizophora mucronata pada berbagai tingkat salinitas serta untuk menentukkan kandungan unsur karbon (C),

Dari hasil penelitian menggambarkan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran bervariasi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.Penerapan suatu metode pembelajaran

4 galur mutan kapas menunjukkan karakter agronomis yang berbeda nyata dengan induknya Tabel 1 terlihat bahwa tinggi tanaman dengan rata-rata yang tertinggi pada varietas

Inkubasi tabung mikrosentrifus kedua selama 10 menit pada temperatur ruang (bolak-balikkan tabung 2-3 kali selama masa inkubasi) untuk melisis sel-sel darah