BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kanker merupakan salah satu penyakit yang banyak menimbulkan kesengsaraan dan kematian pada manusia. Saat ini kanker menempati peringkat kedua penyebab kematian setelah penyakit jantung (Ghofar, 2009). Data World Health Organization (WHO) yang diterbitkan pada 2010 menyebutkan bahwa kanker
merupakan penyebab kematian nomor 2 (dua) setelah penyakit kardiovaskuler (Depkes, 2012). Pada tahun 2008 di Amerika terdapat 178.000 orang mengidap kanker payudara (Nurcahyo, 2010).
Menurut WHO, kanker payudara merupakan kanker yang paling sering terjadi pada wanita, 10% dari semua wanita di dunia menderita kanker payudara dalam hidupnya. Prevalensi kanker payudara meningkat seimbang dengan kenaikan usia, sebanyak 400 kasus baru dari 100.000 kasus setiap tahun terjadi (Hidayat dkk, 2009).
Setiap tahun, di Indonesia diperkirakan terdapat 100 orang penderita baru kanker payudara per 100.000 penduduk. Ini berarti dari jumlah 237 juta penduduk ada sekitar 237.000 penderita kanker baru. Sejalan dengan itu, data empiris juga menunjukkan bahwa kematian akibat kanker dari tahun ke tahun terus meningkat dan berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, sekitar 5,7% kematian semua umur disebabkan oleh kanker ganas (Depkes, 2012).
1
Prevalensi kanker payudara di Jawa Tengah tahun 2010 dan tahun 2011 sebanyak 0,03% dan 0,05%, sedangkan pada tahun 2012 prevalensi kasus kanker payudara meningkat sebesar 0,06% dan diprediksi sampai tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 0,07% (Depkes, 2012).
Adapun angka kejadian kanker payudara di Kabupaten Karanganyar mengalami peningkatan dalam empat tahun terakhir dan tergolong tinggi. Kasus kanker payudara di Kabupaten Karanganyar menurut data laporan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) Kabupaten Karanganyar pada tahun 2008 terdapat 402 kasus, pada tahun 2009 meningkat menjadi menjadi 473 kasus, tahun 2010 meningkat menjadi 515 kasus dan tahun 2011 meningkat lagi sebanyak 685 kasus (Profil Kesehatan Karanganyar, 2012).
Kanker payudara merupakan penyakit neoplasma yang bersifat ganas dimana sel payudara mengalami proliferasi, diferensiasi abnormal dan tumbuh secara autonom yang menyebabkan infiltrasi ke jaringan sekitar diambil merusak serta menyebar ke bagian tubuh yang lain (Artanti, 2011). Gejala permulaan kanker payudara sering tidak disadari atau dirasakan dengan jelas oleh penderita sehingga banyak penderita yang berobat dalam keadaan lanjut. Hal inilah yang menyebabkan tingginya angka kematian kanker tersebut. Padahal, pada stadium dini kematian akibat kanker masih dapat dicegah. Kanker pada dasarnya berkembang sangat lambat dalam waktu belasan, bahkan puluhan tahun. Namun, efek atau gejala yang bisa dirasakan atau dilihat pengidapnya baru muncul setelah ia mengalami perkembangan cukup luas dan tidak bisa dihentikan dengan cara-cara sederhana. Kemajuan dalam
bidang terapi dan diagnostik memberikan dampak dalam penemuan dini terhadap penyakit kanker terutama kanker payudara. Namun yang paling penting dari semua kemajuan teknologi yang ada adalah bagaimana seorang wanita mampu menyadari adanya perubahan awal dari organ tubuhnya sehingga kanker payudara dapat diidentifikasi sejak dini sebelum memasuki stadium lanjut (Nurcahyo, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian Malini, dkk. (2008) disimpulkan bahwa sebagian besar wanita yang terdiagnosa stadium lanjut kanker payudara pada awalnya menemukan adanya benjolan di payudara namun menganggap benjolan tersebut sebagai satu hal yang biasa saja. Ketika diidentifikasi faktor-faktor penyebab para wanita yang menderita kanker payudara stadium lanjut dating terlambat ke rumah sakit, didapatkan data bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang (71,43%) terkait tanda, pemeriksaan dini dan waktu pemeriksaan dini. Terkait dengan sikap dalam melakukan pemeriksaan dini terdapat hampir 100% mereka yang menderita stadium lanjut memiliki sikap negatif.
Pencegahan sekunder dengan skrining/deteksi dini, dianggap sebagai upaya paling rasional untuk menurunkan angka kematian akibat Kanker Payudara.
Penelitian skrining dilakukan pertama kali oleh Health Insurance Plan of Greater New York tahun 1963, hasilnya mampu menurunkan angka kematian antara 20% -
25% pada kelompok umur lebih dari 50 tahun. Cara pemeriksaan untuk pelaksanaan skrining terdiri dari pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga kesehatan, misalnya spesialis bedah, dokter umum, perawat yang terlatih, SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri), dan pemeriksaan penunjang atau mamografi (Purwanto, 2012).
Berdasarkan hal di atas maka upaya peningkatan pengetahuan dan sikap dari para wanita pasangan usia subur dalam rangka mencegah terjadinya kanker payudara stadium lanjut dan melihat prevalensi yang ada maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker payudara pada wanita pasangan usia subur yaitu faktor jenis pekerjaan, pengetahuan, sikap, dan pendidikan. Jenis pekerjaan, pengetahuan, sikap dan pendidikan wanita pasangan usia subur menjadi penting karena akan berdampak pada skala yang luas akan meningkatkan kesadaran para wanita pasangan usia subur dalam meningkatkan kesehatan diri.
Menurut Sukardjo (2000), deteksi dini kanker merupakan suatu usaha untuk menemukan adanya kanker yang belum lama tumbuh, masih kecil, masih lokal, dan belum menimbulkan kerusakan yang berarti sehingga masih dapat disembuhkan.
Deteksi dini biasanya dilakukan pada orang-orang yang ”kelihatannya sehat”, asimptomatik, atau pada orang yang beresiko tinggi menderita kanker. Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi dini kanker payudara, yaitu: pemeriksaan payudara sendiri, pemeriksaan payudara oleh tenaga kesehatan, dan pemeriksaan mammografi.
Berdasarkan penelitian Elisa (2012) bahwa dari 10 wanita pasangan usia subur di Desa Dawung Kebakkramat Karanganyar tentang kanker payudara mayoritas (90%) apabila mendengar kata kanker mereka cemas, penyakit tersebut merupakan penyakit keturunan, penyakit yang dapat dicegah, 70% tanda awal terdapat benjolan yang sakit pada payudara, 50% menyatakan pernah merasakan sakit
pada payudara, 40% curiga atas sakitnya di payudara tersebut, dan 20% diperiksakan ke tenaga kesehatan dan 40% pernah mendengar kata Sadari.
Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo diperoleh bahwa remaja putri kurang melakukan pencegahan kanker payudara. Kurangnya pencegahan kanker payudara terkait dengan pengetahuan, sikap dan motivasi remaja putri.
Berdasarkana latar belakang diatas maka penulis tertarik ingin melakukan penelitian dengan judul Hubungan Pengetahuan, sikap dan motivasi remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
1.2. Rumusan Masalah
Yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan pengetahuan, sikap dan motivasi remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Untuk melihat hubungan pengetahuan, sikap dan motivasi remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk melihat hubungan pengetahuan putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
2. Untuk melihat hubungan sikap remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
3. Untuk melihat hubungan motivasi remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengembangan logika berpikir penulis mengenai pencegahan kanker payudara
2. Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo
a. Memberikan informasi mengenai pencegahan kanker payudara.
b. Memberikan informasi dari penelitian ini supaya remaja dapat mengenal tanda-tanda kanker payudara dan pencegahannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengetahuan 2.1.1. Pengertian
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telingan. Dalam wikipedia dijelaskan; pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
7
2.1.2. Kategori Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:
a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76-100% dari seluruh petanyaan
b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56-75% dari seluruh pertanyaan
c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40-55% dari seluruh pertanyaan
2.1.3. Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengatahuan yang paling rendah
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah faham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
d. Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis
Menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menyambungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun suatu formulasi baru dari formulasi- formulasi yang ada.
f. Evaluasi
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek
2.2. Sikap
2.2.1. Pengertian
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek, sehingga manifestasi sikap tidak langsung dapat
dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan (Notoadmojo, 2003). Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu, dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.
2.2.2. Tingkatan Sikap 1. Menerima (receiving).
Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan.
2. Merespons (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap tingkat dua.
3. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi (Azwar, 2005).
2.2.3. Komponen Pokok Sikap
Mengikuti skema triadik, struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (Affective) dan komponen konatif (conative). Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen afektif merupakan perasaan yang
menyangkut aspek emosional dan komponen konatif yang merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang (Azwar, 2005).
2.2.4. Interaksi Komponen-Komponen Sikap
Menurut Azwar (2005), para ahli psikologi sosial banyak yang beranggapan bahwa ketiga komponen adalah selaras dan konsisten, dikarenakan apabila dihadapan dengan satu obyek sikap yang sama maka ketiga komponen itu harus mempolakan sikap yang beragam. Dan apabila salah satu saja diantara komponen sikap (cognitive, affective, conative) tidak konsisten dengan yang lain, maka akan terjadi
ketidakselarasan yang menyebabkan timbulnya perubahan sikap sedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali. Prinsip ini banyak dimanfaatkan dalam manipulasi sikap guna mengalihkan bentuk sikap tertentu menjadi bentuk yang lain, yaitu dengan memberikan informasi berbeda mengenai objek sikap yang dapat menimbulkan inkonsistensi antara komponen-komponen sikap pada diri seseorang.
2.2.5. Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan sikap, sebagaimana yang diungkapkan oleh Azwar (2005) dalam bukunya Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya yaitu dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai obyek psikologis yang dihadapinya. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan sikap antara lain:
1. Pengalaman pribadi
Hal-hal yang telah dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus. Pengalaman pribadi yang memberik kesan kuat merupakan dasar pembentukan sikap (Azwar, 2005).
2. Pengaruh lingkungan sosial
Individu cenderung untuk memiliki sikap searah dengan orang-orang yang berpengaruh terhadap dirinya, hal ini dimotivasi oleh keinginan untuk bergabung dan menghindari konflik dengan orang yang di anggap penting (Azwar, 2005).
3. Pengaruh kebudayaan
Pengaruh kebudayaan dimana individu hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar (Azwar, 2005).
4. Media massa
Media massa sebagai sarana komunikasi mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan dan kepercayaan individu. Informasi baru yang disampaikan memberi landasan kognitif baru, pesan sugestif yang kuat akan memberi dasar afektif dalam menilai suatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu (Azwar, 2005). Media audiovisual secara psikis dapat menggelorakan dorongan seksual (Sakti dan Kusuma, 2006).
5. Institusi, atau lembaga pendidikan dan lembaga agama
Di dalam kedua lembaga tersebut meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara
sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya (Azwar, 2005).
6. Jenis kelamin
Jenis kelamin akan menentukan sikap seseorang, karena reproduksi dan hormonal berbeda, yang diikuti perbedaan proses fisiologi tubuh. Kadar hormon testosteron laki-laki lebih tinggi dibanding wanita, tetapi wanita lebih sensitif terhadap hormon testosteron (Sakti dan Kusuma, 2006).
7. Pengetahuan
Sikap seseorang terhadap suatu obyek menunjukkan pengetahuan orang tersebut terhadap objek yang bersangkutan (Walgito, 2003).
8. Faktor emosi dalam individu (Azwar, 2005).
2.2.6. Ciri-ciri Sikap
1. Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari.
2. Sikap dapat berubah-rubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat berubah bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu.
3. Sikap tidak berdiri sendiri, tapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek.
4. Objek sikap merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan suatu hal.
5. Sikap mempunyai segi-Segi motivasi dan segi-segi perasaan (Azwar, 2005).
2.2.7. Sifat Sikap
Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif (Azwar, 2005).
1. Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu.
2. Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.
2.2.8. Cara Pengukuran Sikap.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.
Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat dan pernyataan responden terhadap suatu obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan- pernyataan hipotesis kemudian dinyatakan pendapat responden melalui kuesioner (Notoadmojo, 2003).
2.3. Konsep Motivasi 2.3.1. Pengertian Motivasi
Motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan, dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu (Nursalam, 2008).
Motivasi adalah proses kesediaan melakukan usaha tingkat tinggi untuk mencapai sasaran organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan usaha tersebut untuk memuaskan kebutuhan sejumlah individu. Meskipun secara umum motivasi
merujuk ke upaya yang dilakukan guna mencapai setiap sasaran, disini kita merujuk ke sasaran organisasi karena fokus kita adalah perilaku yang berkaitan dengan kerja (Robbins & Coulter, 2007).
Oleh sebagian besar ahli, proses motivasi diarahkan untuk mencapai tujuan.
Tujuan atau hasil yang dicari karyawan dipandang sebagai kekuatan yang bisa menarik orang. Memotivasi orang adalah proses manajemen untuk mempengaruhi tingkah laku manusia berdasarkan pengetahuan mengenai apa yang membuat orang tergerak (Suarli dan Bahtiar, 2010).
Menurut Suarli dan Bahtiar (2010), menurut bentuknya motivasi terdiri atas:
a. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang datang dari dalam diri individu.
b. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang datang dari luar diri individu
c. Motivasi terdesak, yaitu motivasi yang muncul dalam kondisi terjepit dan munculnya serentak serta menghentak dan cepat sekali.
2.3.2. Teori Motivasi
1. Teori-Teori Awal Tentang Motivasi a. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Teori motivasi yang paling dikenal mungkin adalah Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Maslow adalah psikolog humanistik yang berpendapat bahwa pada diri tiap orang terdapat hierarki lima kebutuhan.
1. Kebutuhan fisik: makanan, minuman, tempat tinggal, kepuasan seksual, dan kebutuhan fisik lain.
2. Kebutuhan keamanan: keamanan dan perlindungan dari gangguan fisik dan emosi, dan juga kepastian bahwa kebutuhan fisik akan terus terpenuhi.
3. Kebutuhan sosial: kasih sayang, menjadi bagian dari kelompoknya, diterima oleh teman-teman, dan persahabatan
4. Kebutuhan harga diri: faktor harga diri internal, seperti penghargaan diri, otonomi, pencapaian prestasi dan harga diri eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian.
5. Kebutuhan aktualisasi diri: pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri; dorongan untuk menjadi apa yang dia mampu capai.
Menurut Maslow, jika ingin memotivasi seseorang kita perlu memahami ditingkat mana keberadaan orang itu dalam hierarki dan perlu berfokus pada pemuasan kebutuhan pada atau diatas tingkat itu (Robbins &
Coulter, 2007).
b. Teori X dan Y McGregor
Douglas McGregor terkenal karena rumusannya tentang dua kelompok asumsi mengenai sifat manusia: Teori X dan Teori Y. Teori X pada dasarnya menyajikan pandangan negatif tentang orang. Teori X berasumsi bahwa para pekerja mempunyai sedikit ambisi untuk maju, tidak menyukai pekerjaan, ingin menghindari tanggung jawab, dan perlu diawasi dengan ketat agar dapat efektif bekerja. Teori Y menawarkan pandangan positif. Teori Y berasumsi bahwa para pekerja dapat berlatih mengarahkan diri, menerima dan secara
nyata mencari tanggung jawab, dan menganggap bekerja sebagai kegiatan alami. McGregor yakin bahwa asumsi Teori Y lebih menekankan sifat pekerja sebenarnya dan harus menjadi pedoman bagi praktik manajemen (Robbins &
Coulter, 2007).
c. Teori Motivasi Higienis Herzberg
Teori ini menyatakan bahwa kepuasan dan ketidak-puasan seseorang dipengaruhi oleh dua kelompok faktor independen yakni faktor-faktor penggerakan motivasi dan faktor-faktor pemelihara motivasi. Menurut Herzberg, karyawan memiliki rasa kepuasan kerja dalam pekerjaannya, tetapi faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan berbeda jika dibandingkan dengan faktor-faktor ketidakpuasan kerja. Rasa kepuasan kerja dan rasa ketidak- puasan kerja tidak berada dalam satu kontinum. Lawan dari kepuasan adalah tidak ada kepuasan kerja sedangkan lawan dari ketidakpuasan kerja adalah tidak ada ketidak-puasan kerja (Robbins, 2003).
Faktor-faktor yang merupakan penggerak motivasi (faktor-faktor intrinsik) ialah:
a. Pengakuan (cognition), artinya karyawan memperoleh pengakuan dari pihak perusahaan bahwa ia adalah orang, berprestasi, baik, diberi penghargaan, pujian, dimanusiakan, dan sebagainya.
b. Tanggung jawab (responsibility), artinya karyawan diserahi tanggung jawab dalam pekerjaan yang dilaksanakannya, tidak hanya semata-mata melaksanakan pekerjaan.
c. Prestasi (achievement), artinya karyawan memperoleh kesempatan untuk mencapai hasil yang baik atau berprestasi.
d. Pertumbuhan dan perkembangan (growth and development), artinya dalam setiap pekerjaan itu ada kesempatan bagi karyawan untuk tumbuh dan berkembang.
e. Pekerjaan itu sendiri (job it self), artinya memang pekerjaan yang dilakukan itu sesuai dan menyenangkan bagi karyawan.
Adapun faktor-faktor pemelihara motivasi (faktor-faktor ekstrinsik) ialah:
a. Gaji (salary) yang diterima karyawan b. Kedudukan (status) karyawan
c. Hubungan antar pribadi dengan teman sederajat, atasan atau bawahan d. Penyeliaan (supervisi) terhadap karyawan
e. Kondisi tempat kerja (working condition) f. Keselamatan kerja (job safety)
g. Kebijakan dan administrasi perusahaan, khususnya dalam bidang personalia.
Menurut Herzberg, meskipun faktor-faktor pendorong motivasi baik keadaannya (menurut penilaian karyawan), tetapi jika faktor-faktor pemeliharaan tidak baik keadaannya, tidak akan menimbulkan kepuasan kerja bagi karyawan. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan motivasi dengan cara perbaikan faktor-faktor pemeliharaan, baru kemudian faktor-faktor pendorong motivasi (Robbins, 2003).
2. Teori Motivasi Modern a. Teori Tiga Kebutuhan
David McClelland menyebutkan ada tiga kelompok motivasi kebutuhan yang dimiliki seseorang yaitu kebutuhan berprestasi, kebutuhan kekuasaan, dan kebutuhan afiliasi. Kebutuhan prestasi (achievement) yaitu adanya keinginan untuk mencapai tujuan yang lebih baik daripada sebelumnya. Hal ini dapat dicapai dengan cara merumuskan tujuan, mendapatkan umpan balik, memberikan tanggung jawab pribadi, dan bekerja keras. Kebutuhan kekuasaan (power) artinya yaitu adanya kebutuhan kekuasaan yang mendorong seseorang bekerja sehingga termotivasi dalam pekerjaannya. Cara bertindak dengan kekuasaan tergantung kepada pengalaman masa kanak- kanak, kepribadian, pengalaman kerja, dan tipe organisasi. Kebutuhan afiliasi artinya kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dapat dicapai dengan cara bekerja sama dengan orang lain, dan sosialisasi (Ishak, dkk, 2003).
b. Teori Penentuan Sasaran
Teori penentuan sasaran ini menyatakan bahwa orang akan bekerja lebih baik jika mereka mendapatkan umpan balik mengenai sejauh mana mereka maju menuju sasaran, karena umpan balik membantu mengidentifikasi kesenjangan antara apa yang telah mereka lakukan dan apa yang ingin mereka lakukan.
Selain umpan balik, ada tiga faktor lain telah yang mempengaruhi hubungan sasaran-kinerja. Faktor-faktor itu mencakup komitmen pada sasaran,
kemampuan diri yang memadai, dan budaya nasional. Teori penentuan sasaran mensyaratkan bahwa individu berkomitmen pada sasaran tadi artinya individu berniat tidak menurunkan atau meninggalkan sasaran tadi. Komitmen sangat cenderung terjadi jika sasaran itu diumumkan, jika individu tersebut mempunyai tempat kendali internal, dan jika sasaran itu ditentukan sendiri, bukan diberikan. Efektifitas diri merujuk ke keyakinan seseorang bahwa ia mampu melaksanakan tugas tertentu. Semakin tinggi efektifitas diri kita semakin yakin kita kita akan kemampuan berhasil pada tugas tertentu. Jadi dalam situasi-situasi sulit, kami menemukan bahwa orang yang rendah efektivitas dirinya lebih cenderung mengurangi usaha mereka atau sepenuhnya menyerah kalah, sedangkan orang-orang yang tinggi efektifitas dirinya akan berusaha lebih keras, mengatasi tantangan itu (Robbins &
Coulter, 2007).
c. Teori Penguatan
Teori penguatan menunjukkan bagaimana konsekuensi tingkah laku dimasa lampau akan mempengaruhi tindakan dimasa depan dalam proses belajar.
Menurut teori penguatan, seseorang akan termotivasi jika dia memberikan respons rangsangan pada pola tingkah laku yang konsisten sepanjang waktu (Nursalam, 2007). Teori penguatan mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi dari akibat. Teori penentuan sasaran menyatakan bahwa maksud individu mengarahkan perilakunya. Teori penguatan mengatakan bahwa perilaku itu ditimbulkan dari luar. Apa yang mengendalikan perilaku adalah penguat,
akibat yang bila diberikan dengan segera setelah perilaku tertentu dilakukan, meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku tersebut akan diulang (Robbins
& Coulter, 2007). Berlawanan dengan teori penentuan sasaran, kunci teori penguatan ialah mengabaikan faktor-faktor seperti sasaran, harapan, dan kebutuhan. Sebagai gantinya, teori itu hanya memusatkan
d. Teori Penguatan
Teori penguatan menunjukkan bagaimana konsekuensi tingkah laku dimasa lampau akan mempengaruhi tindakan dimasa depan dalam proses belajar.
Menurut teori penguatan, seseorang akan termotivasi jika dia memberikan respons rangsangan pada pola tingkah laku yang konsisten sepanjang waktu (Nursalam, 2007). Teori penguatan mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi dari akibat. Teori penentuan sasaran menyatakan bahwa maksud individu mengarahkan perilakunya. Teori penguatan mengatakan bahwa perilaku itu ditimbulkan dari luar. Apa yang mengendalikan perilaku adalah penguat, akibat yang bila diberikan dengan segera setelah perilaku tertentu dilakukan, meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku tersebut akan diulang (Robbins
& Coulter, 2007). Berlawanan dengan teori penentuan sasaran, kunci teori penguatan ialah mengabaikan faktor-faktor seperti sasaran, harapan, dan kebutuhan. Sebagai gantinya, teori itu hanya memusatkan perhatian pada apa yang terjadi dengan seseorang ketika ia mengambil tindakan tertentu (Robbins
& Coulter, 2007). Berdasarkan teori penguatan, para manajer dapat mempengaruhi perilaku karyawan dengan memperkuat tindakan yang mereka
anggap menguntungkan. Namun, karena penekanan itu terletak pada penguatan positif, bukan hukuman, para manajer seharusnya mengabaikan, bukannya menghukum perilaku yang tidak menguntungkan. Meskipun hukuman lebih cepat menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan dibanding tindakan bukan penguatan, dampak hukuman itu sering hanya sementara dan dikemudian hari akan mempunyai efek samping yang tidak menyenangkan, seperti perilaku disfungsi berupa konflik di tempat kerja, ketidakhadiran, dan tingkat keluar masuknya karyawan (Robbins & Coulter, 2007).
2.4. Kanker Payudara 2.4.1. Pengertian Payudara
Kanker atau neoplasma merupakan suatu penyakit akibat adanya pertumbuhan yang abnormal dari sel-sel jaringan tubuh yang dapat mengakibatkan invasi ke jaringan-jaringan normal. Definisi yang paling sederhana yang dapat diberikan adalah pertumbuhan sel-sel yang kehilangan pengendaliannya. Kanker dapat menyebar pada bagian tubuh tertentu seperti payudara.
Kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Kanker payudara oleh WHO dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD) dengan kode nomor 174 untuk wanita dan 175 untuk pria.
Kanker payudara muncul sebagai akibat sel-sel yang abnormal terbentuk pada payudara dengan kecepatan tidak terkontrol dan tidak beraturan. Sel-sel tersebut merupakan hasil mutasi gen dengan perubahan-perubahan bentuk, ukuran maupun fungsinya.
Kanker payudara dapat menyebar ke organ lain seperti paru-paru, hati, dan otak melalui pembuluh darah. Kelenjar getah bening aksila ataupun supraklavikula membesar akibat dari penyebaran kanker payudara melalui pembuluh getah bening dan tumbuh di kelenjar getah bening.
2.4.2. Anatomi Payudara
Payudara pada pria dan wanita adalah sama sampai masa pubertas (11-13 tahun) karena hormon estrogen dan hormon lainnya mempengaruhi perkembangan payudara pada wanita. Pada wanita perkembangan payudara aktif, sedangkan pada pria kelenjar dan duktus mammae kurang berkembang dan sinus berkembang tidak sempurna. Payudara yang sensitif terhadap pengaruh hormonal mengakibatkan payudara cenderung mengalami pertumbuhan neoplastik baik yang bersifat jinak maupun ganas.
Payudara merupakan bagian dari organ reproduksi yang fungsi utamanya menyekresi susu untuk nutrisi bayi. Payudara terdiri dari jaringan duktural, fibrosa yang mengikat lobus-lobus, dan jaringan lemak didalam dan diantara lobus-lobus.
85% jaringan payudara terdiri dari lemak. Sedikit di bawah pusat payudara dewasa terdapat puting (papila mamaria), tonjolan yang berpigmen dikelilingi oleh areola.
Puting dan areola biasanya mempunyai warna dan tekstur yang berbeda dari kulit di sekelilingnya. Warnanya bermacam-macam dari yang merah muda pucat, sampai hitam dan gelap selama masa kehamilan dan menyusui. Puting susu biasanya menonjol keluar dari permukaan payudara.
Kanker payudara dapat terjadi dibagian mana saja dalam payudara, tetapi mayoritas terjadi pada kuadran atas terluar di mana sebagian besar jaringan payudara terdapat. Dalam menentukan lokasi kanker payudara, payudara dibagi menjadi empat kuadran, yaitu kuadran lateral (pinggir atas), lateral bawah, medial (tengah atas), dan median bawah.
2.4.3. Gejala Kanker Payudara
Gejala dan pertumbuhan kanker payudara tidak mudah dideteksi karena awal pertumbuhan sel kanker payudara tidak dapat diketahui dengan mudah. Gejala umumnya baru diketahui setelah stadium kanker berkembang agak lanjut, karena pada tahap dini biasanya tidak menimbulkan keluhan. Penderita merasa sehat, tidak merasa nyeri, dan tidak mengganggu aktivitas.
Gejala-gejala kanker payudara yang tidak disadari dan tidak dirasakan pada stadium dini menyebabkan banyak penderita yang berobat dalam kondisi kanker stadium lanjut. Hal tersebut akan mempersulit penyembuhan dan semakin kecil untuk disembuhkan. Bila kanker payudara dapat diketahui secara dini maka akan lebih mudah dilakukan pengobatan. Tanda yang mungkin muncul pada stadium dini adalah teraba benjolan kecil di payudara yang tidak terasa nyeri.
Gejala yang timbul saat penyakit memasuki stadium lanjut semakin banyak, seperti :
a. Timbul benjolan pada payudara yang dapat diraba dengan tangan, makin lama benjolan ini makin mengeras dan bentuknya tidak beraturan.
b. Saat benjolan mulai membesar, barulah menimbulkan rasa sakit (nyeri) saat payudara ditekan karena terbentuk penebalan pada kulit payudara.
c. Bentuk, ukuran atau berat salah satu payudara berubah kerena terjadi pembengkakan.
d. Pembesaran kelenjar getah bening di ketiak atau timbul benjolan kecil dibawah ketiak.
e. Bentuk atau arah puting berubah, misalnya puting susu tertarik ke dalam dan yang tadinya berwarna merah muda dan akhirnya menjadi kecoklatan.
f. Keluar darah, nanah, atau cairan encer dari puting susu pada wanita yang sedang tidak hamil. Eksim pada puting susu dan sekitarnya sudah lama tidak sembuh walau sudah diobati.
g. Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah diobati
h. Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk (peau d’orange) akibat dari neoplasma menyekat drainase limfatik sehingga terjadi edema dan pitting kulit.
Gejala kanker payudara pada pria sama seperti kanker payudara yang dialami wanita, mulanya hanya benjolan. Umumnya benjolah hanya dialami di satu payudara, dan bila diraba terasa keras dan menggerenjil. Bila stadium kanker sudah lanjut, ada perubahan pada puting dan daerah hitam di sekitar puting. Kulit putingnya bertambah
merah, mengerut, tertarik ke dalam, atau puting mengeluarkan cairan. Perbedaan penderita kanker payudara pada pria dan wanita dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
2.4.4. Stadium Kanker Payudara
Pembagian stadium menurut Portmann yang disesuaikan dengan aplikasi klinik yaitu:
1. Stadium I
Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya, tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan yang di bawahnya (otot). Besar tumor 1-2 cm dan tidak dapat terdeteksi dari luar. Kelenjar getah bening regional belum teraba. Perawatan yang sangat sistematis diberikan tujuannya adalah agar sel kanker tidak dapat menyebar dan tidak berlanjut pada stadium selanjutnya. Pada stadium ini, kemungkinan penyembuhan pada penderita adalah 70%.
2. Stadium II
Tumor terbebas dalam payudara, besar tumor 2,5-5 cm, sudah ada satu atau beberapa kelenjar getah bening aksila yang masih bebas dengan diameter kurang dari 2 cm. Untuk mengangkat sel-sel kanker biasanya dilakukan operasi dan setelah operasi dilakukan penyinaran untuk memastikan tidak ada lagi sel-sel kanker yang tertinggal. Pada stadium ini, kemungkinan sembuh penderita adalah 30-40%.
3. Stadium III A
Tumor sudah meluas dalam payudara, besar tumor 5-10 cm, tapi masih bebas di jaringan sekitarnya, kelenjar getah bening aksila masih bebas satu sama lain.
Menurut data dari Depkes, 87% kanker payudara ditemukan pada stadium ini.
4. Stadium III B
Melekat pada kulit atau dinding dada, kulit merah dan ada edema (lebih dari sepertiga permukaan kulit payudara), ulserasi, kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain atau ke jaringan sekitarnya dengan diameter 2 - 5 cm.
Kanker sudah menyebar ke seluruh bagian payudara, bahkan mencapai kulit, dinding dada, tulang rusuk dan otot dada
5. Stadium IV
Tumor seperti pada yang lain (stadium I, II, dan III). Tapi sudah disertai dengan kelenjar getah bening aksila supra-klavikula dan Metastasis jauh. Sel-sel kanker sudah merembet menyerang bagian tubuh lainnya, biasanya tulang, paru-paru, hati, otak, kulit, kelenjar limfa yang ada di dalam batang leher. Tindakan yang harus dilakukan adalah pengangkatan payudara. Tujuan pengobatan pada stadium ini adalah palliatif bukan lagi kuratif (menyembuhkan).
2.4.5. Diagnosis Kanker Payudara 2.4.5.1. Diagnosis Klinis
Diagnosis klinis di dasarkan atas:
a. Wawancara dengan pengajuan pertanyaan umum dan terarah sehubungan dengan kanker payudara.
b. Pemeriksaan klinis payudara untuk mencari benjolan atau kelainan lainnya.
Pemerikasaan payudara dilakukan saat ± 1 minggu dari hari terakhir menstruasi.
Penderita diperiksa dengan badan bagian atas terbuka dan posisi badan tegak.
c. Insfeksi untuk melihat simetri payudara kanan dan kiri,kelainan papila, letak dan bentuk, retraksi puting susu, kelainan kulit, tanda radang, dan ulserasi. Dilakukan dalam keadaan kedua lengan diangkat keatas untuk melihat ada tidaknya bayangan tumor di bawah kulit yang ikut bergerak atau adakah bagian yang tertinggal.
2.4.5.2. Pemeriksaan Penunjang
Ada beberapa pemeriksaan penunjang untuk menuju diagnosis pasti suatu kanker payudara, yaitu:
a. Termografi yaitu suatu cara yang menggunakan sinar infra red.
b. Mammografi yaitu pemeriksaan dengan metode radiologis sinar x yang diradiasikan pada payudara. Kelebihan mammografi adalah kemampuannya mendeteksi tumor yang belum teraba (radius 0,5 cm) sekalipun masih dalam stadium dini. Waktu yang tepat untuk melakukan mammografi pada wanita usia produktif adalah hari ke 1-14 dari siklus haid. Pada perempuan usia nonproduktif dianjurkan untuk kapan saja. Ketepatan pemeriksaan ini berbeda-beda berkisar antara 83%-95%.
c. Ultrasonografi, metode ini dapat membedakan lesi/tumor yang solid dan kistik, dan hanya dapat membuat diagnosis dugaan berdasarkan pemantulan gelombang suara.
d. Scintimammografi adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan radioisotop. Dalam protokol penanganan kanker payudara, pemeriksaan yang dianjurkan adalah mammografi dan ultrasonografi. Pemeriksaan gabungan ultrasonografi dan mammografi memberikan angka ketepatan diagnostik yang lebih tinggi.
2.4.5.3. Diagnosis Pasti
Diagnosis pasti hanya ditegakan dengan pemeriksaan histopatologis. Bahan pemeriksaan dapat diambil dengan berbagai cara, yaitu:
a. Biopsi aspirasi (fine needle biopsy)
b. Needle core biopsy dengan jarum Silverman
c. Excisional biopsy dan pemeriksaan potong beku waktu operasi.
2.4.6. Epidemiologi Kanker Payudara
Kanker payudara sering ditemukan di seluruh dunia dengan insidens relatif tinggi dan cenderung meningkat yaitu 20% dari seluruh keganasan dan 99% terjadi pada perempuan,sedangkan pada laki-laki hanya 1%, sehingga kanker payudara masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama pada perempuan.
Pada pria, usia rata-rata untuk terdiagnosis kanker payudara adalah 60 tahun dan sebagian besar kanker payudara pada laki-laki terdiagnosis pada tahap lanjut, kemungkinan karena laki-laki tidak terlalu menyadari tentang benjolan payudara dibandingkan wanita.
Menurut WHO (2008) dari 600.000 kasus kanker payudara baru yang didiagnosis setiap tahunnya 350.000 kasus di antaranya ditemukan di negara maju, sedangkan 250.000 di negara yang sedang berkembang.
Di Amerika Serikat diperkirakan setiap tahunnya 175.000 wanita didiagnosis menderita kanker payudara dengan proporsi 32% dari seluruh jenis kanker yang menyerang wanita dan proporsi umur tertinggi yaitu pada kelompok umur ≥50 tahun dengan proporsi 65%. 150.000 penderita kanker payudara yang berobat ke rumah sakit dan 44.000 penderita meninggal setiap tahunnya (CFR=29%). Di Kanada tahun 2005 jumlah penderita kanker payudara mencapai 21.600 wanita dan 5.300 wanita meninggal dunia (CFR=24,54%). Di Malaysia pada tahun 2006, kanker payudara menduduki urutan pertama dari seluruh kanker yang menyerang wanita dengan proporsi 29,9% dan proporsi umur tertinggi yaitu pada kelompok umur 50-59 tahun dengan proporsi 33,9%.
Data statistik Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Indonesia tahun 2006, menunjukkan bahwa kanker payudara menempati urutan pertama dari seluruh kanker dengan proporsi 19,64%. Pada tahun 2001, dari 447 kasus kanker payudara yang berobat di RS Kanker Dharmais Jakarta 9,1% diantaranya adalah perempuan berusia kurang dari 30 tahun. Menurut Penelitian Azamris (2006), proporsi umur tertinggi penderita kanker payudara yang berobat di RSUP Dr. M. Djamil Padang yaitu pada kelompok umur 40-44 tahun dengan proporsi 34,3%.
2.4.7. Determinan Kanker Payudara
Sampai saat ini belum ada penyebab spesifik timbulnya kanker payudara yang diketahui, diperkirakan multifaktorial. Namun timbulnya kanker payudara dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Faktor risiko ini penting untuk mengembangkan program-program pencegahan. Faktor risiko timbulnya kanker payudara terdiri dari faktor risiko yang tidak dapat diubah (unchangeable) dan dapat diubah (changeable) yaitu :
a. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah (Unchangeable) 1. Umur
Semakin bertambahnya umur meningkatkan risiko kanker payudara. Wanita paling sering terserang kanker payudara adalah usia di atas 40 tahun. Wanita berumur di bawah 40 tahun juga dapat terserang kanker payudara, namun risikonya lebih rendah dibandingkan wanita di atas 40 tahun. Penelitian Azamris tahun 2006 di RS M. Djamil Padang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko kelompok usia ≥ 50 tahun terkena kanker payudara 1,35 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok wanita usia < 50 tahun (OR=1,35).
2. Menarche Usia Dini
Risiko terjadinya kanker payudara meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi pertama sebelum umur 12 tahun. Umur menstruasi yang lebih awal berhubungan dengan lamanya paparan hormon estrogen dan progesteron pada wanita yang berpengaruh terhadap proses proliferasi jaringan termasuk
jaringan payudara. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang menarche pada umur ≤12 tahun terkena kanker payudara 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok wanita yang menarche pada umur
>12 tahun (OR=3,6).
3. Menopause Usia Lanjut
Menopause setelah usia 55 tahun meningkatkan risiko untuk mengalami kanker payudara.sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa sebelummenopause Penelitian Azamris tahun 2006 di RS M. Djamil Padang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko wanita yang menopause setelah usia 55 tahun terkena kanker payudara 1,86 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok wanita yang menopause sebelum usia 55 tahun (OR=1,86).
4. Riwayat Keluarga
Terdapat peningkatan risiko menderita kanker payudara pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara.tertentu. Apabila terdapat BRCA 1 (Breast Cancer 1) dan BRCA 2 (Breast Cancer 2), yaitu suatu kerentanan terhadap kanker payudara, untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun. 10% kanker payudara bersifat familial. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen gen probabilitas. Penelitian Indriati tahun 2009 di
RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang memiliki anggota keluarga penderita kanker payudara terkena kanker payudara 3,94 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki anggota keluarga penderita kanker payudara (OR=3,94).
5. Riwayat Penyakit Payudara Jinak
Wanita yang menderita kelainan ploriferatif pada payudara memiliki peningkatan risiko untuk mengalami kanker payudara. Menurut penelitian Brinton (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, wanita yang mempunyai tumor payudara (adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis) mempunyai risiko 2,0 kali lebih tinggi untuk mengalami kanker payudara (RR=2,0). Wanita dengan hiperplasia tipikal mempunyai risiko 4,0 kali lebih besar untuk terkena kanker payudara (RR=4,0). Wanita dengan hiperplasia atipikal mempunyai risiko 5,0 kali lebih besar untuk terkena kanker payudara (RR=5,0).
b. Faktor Risiko yang Dapat Diubah / Dicegah (Changeable) 1. Riwayat Kehamilan
Usia maternal lanjut saat melahirkan anak pertama meningkatkan risiko mengalami kanker payudara. Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, wanita yang kehamilan pertama setelah 35 tahun mempunyai risiko 3,6 kali lebih besar dibandingkan wanita yang kehamilan pertama sebelum 35 tahun untuk terkena kanker payudara
(RR=3,6). Wanita yang nullipara atau belum pernah melahirkan mempunyai risiko 4,0 kali lebih besar dibandingkan wanita yang multipara atau sudah lebih dari sekali melahirkan untuk terkena kanker payudara (RR=4,0).
2. Obesitas dan Konsumsi Lemak Tinggi
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause. Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Penelitian Norsaadah tahun 2005 di Malaysia dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥ 25 untuk terkena kanker payudara 2,1 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) < 25 (OR=2,1). Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, laki-laki yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT)≥ 25 mempunyai risiko 1,79 kali lebih besar dibandingkan pria yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) < 25 untuk terkena kanker payudara (RR=1,79).
3. Penggunaan Hormon dan Kontrasepsi Oral
Hormon berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral berisiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Kandungan estrogen dan progesteron pada kontrasepsi oral akan memberikan efek proliferasi berlebih pada kelenjar payudara. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral untuk waktu yang lama mempunyai risiko untuk mengalami kanker payudara sebelum menopause. Penelitian Indriati
tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang menggunakan kontrasepsi oral > 10 tahun untuk terkena kanker payudara 3,10 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang menggunakan kontrasepsi oral ≤ 10 tahun (OR=3,10).
4. Konsumsi Rokok
Wanita yang merokok meningkatkan risiko untuk mengalami kanker payudara daripada wanita yang tidak merokok. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr.
Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang merokok untuk terkena kanker payudara 2,36 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok (OR=2,36). Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, laki-laki yang merokok mempunyai risiko 1,26 kali lebih besar dibandingkan laki-laki yang tidak merokok untuk terkena kanker payudara (RR=1,26).
5. Riwayat Keterpaparan Radiasi
Radiasi diduga meningkatkan risiko kejadian kanker payudara. Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun meningkatkan risiko kanker payudara. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang terpapar radiasi lebih dari 1 jam sehari untuk terkena kanker payudara 3,12 kali lebih tinggi (OR=3,12).
2.4.8. Pencegahan
Pencegahan merupakan suatu usaha mencegah timbulnya kanker payudara atau mencegah kerusakan lebih lanjut yang diakibatkan kanker payudara. Usaha pencegahan dengan menghilangkan dan melindungi tubuh dari karsinogen dan mengelola kanker dengan baik. Usaha pencegahan kanker payudara dapat berupa pencegahan primordial, pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tertier.
2.4.8.1. Pencegahan Primordial
Pencegahan sangat dini atau sangat dasar ini ditujukan kepada orang sehat yang belum memiliki faktor risiko dengan memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit tidak berkembang yaitu dengan membiasakan pola hidup sehat sejak dini dan menjauhi faktor risiko changeable (dapat diubah) kejadian kanker payudara. Pencegahan primordial yang dapat dilakukan antara lain.
1. Perbanyak konsumsi buah dan sayuran yang banyak mengandung serat dan vitamin C, mineral, klorofil yang bersifat antikarsinogenik dan radio protektif, serta antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, berbagai zat kimia dan logam berat serta melindungi tubuh dari bahaya radiasi.
2. Perbanyak konsumsi kedelai serta olahannya yang mengandung fitoestrogen yang dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara.
3. Hindari makanan yang berkadar lemak tinggi karena dapat meningkatkan berat badan menyebabkan kegemukan atau obesitas yang merupakan faktor risiko kanker payudara.
4. Pengontrolan berat badan dengan berolah raga dan diet seimbang dapat mengurangi risiko terkena kanker payudara.
5. Hindari alkohol, rokok, dan stress.
6. Hindari keterpaparan radiasi yang berlebihan. Wanita dan pria yang bekerja di bagian radiasi menggunakan alat pelindung diri.
2.4.8.2. Pencegahaan Primer
Pencegahan primer adalah usaha mencegah timbulnya kanker pada orang sehat yang memiliki risiko untuk terkena kanker payudara. Pencegahan primer dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kanker payudara.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain:
a. Penggunaan Obat-obatan Hormonal
1. Penggunaan obat-obatan hormonal harus sesuai dengan saran dokter.
2. Wanita yang mempunyai riwayat keluarga menderita kanker payudara atau yang berhubungan, sebaiknya tidak menggunakan alat kontrasepsi yang mengandung hormon seperti pil, suntikan, dan susuk KB.
b. Pemberian ASI
Memberikan ASI pada anak setelah melahirkan selama mungkin dapat mengurangi risiko terkena kanker payudara. Hal ini di sebabkan selama proses menyusui, tubuh akan memproduksi hormon oksitosin yang dapat mengurangi produksi hormon estrogen. Hormon estrogen memegang peranan penting dalam perkembangan sel kanker payudara.
c. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI).
Semua wanita di atas umur 20 tahun sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan untuk menemukan ada tidaknya benjolan pada payudara. Sebaiknya SADARI dilakukan pada waktu 5-7 hari setelah menstruasi terakhir ketika payudara sudah tidak membengkak dan sudah menjadi lembut.
d. Pemeriksaan Mammografi.
Pemeriksaan melalui mammografi memiliki akurasi tinggi yaitu sekitar 90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Karena hal tersebut, menurut American Cancer Society mammografi dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan antara lain:
1. Untuk perempuan berumur 35-39 tahun, cukup dilakukan 1 kali mammografi.
2. Untuk perempuan berumur 40-50 tahun, mammografi dilakukan 1-2 tahun sekali.
3. Untuk perempuan berumur di atas 50 tahun, mammografi dilakukan setiap tahun dan pemeriksaan rutin.
2.4.8.3. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan diagnosis dini terhadap penderita kanker payudara dan biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker payudara agar dapat dilakukan pengobatan dan penanganan yang tepat. Penanganan yang tepat pada penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecatatan, mencegah komplikasi penyakit, dan
memperpanjang harapan hidup penderita Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
a. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis di mulai dengan mewawancarai penderita kanker payudara, pemeriksaan klinis payudara, untuk mencari benjolan atau kelainan lainnya, insfeksi payudara, palpasi, dan pemeriksaan kelenjar getah bening regional atau aksila. Dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang dilakukan dengan menggunakan alat-alat tertentu antara lain dengan termografi, ultrasonografi, scintimammografi, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologis untuk mendiagnosis secara pasti penderita kanker payudara.
b. Penatalaksanaan Medis yang Tepat
Semakin dini kanker payudara ditemukan maka penyembuhan akan semakin mudah. Penatalaksanaan medis tergantung dari stadium kanker didiagnosis yaitu dapat berupa operasi/pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi homonal.
2.4.8.4. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier dapat dilakukan dengan perawatan paliatif dengan tujuan mempertahankan kualitas hidup penderita dan memperlambat progresifitas penyakit dan mengurangi rasa nyeri dan keluhan lain serta perbaikan di bidang psikologis, sosial, dan spritual.
Untuk mengurangi ketidakmampuan dapat dikakukan Rehabilitasi supaya penderita dapat melakukan aktivitasnya kembali.Upaya rehabilitasi dilakukan baik secara fisik, mental, maupun sosial, seperti menghilangkan rasa nyeri, harus
mendapatkan asupan gizi yang baik, dukungan moral dari orang-orang terdekat terhadap penderita pasca operasi.
2.4.9. Penatalaksanaan Medis
Ada beberapa cara pengobatan kanker payudara yang penerapannya tergantung pada stadium klinik kanker payudara. Pengobatan kanker payudara biasanya meliputi pembedahan/operasi, radioterapi/penyinaran, kemoterapi, dan terapi hormonal. Penatalaksanaan medis biasanya tidak dalam bentuk tunggal, tetapi beberapa kombinasi.
2.4.9.1. Pembedahan/Operasi
Pembedahan dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh payudara yang terserang kanker payudara. Pembedahan paling utama dilakukan pada kanker payudara stadium I dan II. Pembedahan dapat bersifat kuratif (menyembuhkan) maupun paliatif (menghilangkan gejala-gejala penyakit). Tindakan pembedahan atau operasi kanker payudara dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:
a. Mastektomi radikal (lumpektomi), yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya lumpektomi direkomendasikan pada penderita yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.
b. Mastektomi total (mastektomi), yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.
c. Modified Mastektomi radikal, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.
2.4.9.2. Radioterapi
Radioterapi yaitu proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi. Tindakan ini mempunyai efek kurang baik seperti tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.
Pengobatan ini biasanya diberikan bersamaan dengan lumpektomi atau masektomi.
2.4.9.3. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker.
Sistem ini diharapkan mencapai target pada pengobatan kanker yang kemungkinan telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Dampak dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi.
2.4.9.4. Terapi Hormonal
Pertumbuhan kanker payudara bergantung pada suplai hormon estrogen, oleh karena itu tindakan mengurangi pembentukan hormon dapat menghambat laju perkembangan sel kanker. Terapi hormonal disebut juga dengan therapy anti-
estrogen karena sistem kerjanya menghambat atau menghentikan kemampuan hormon estrogen yang ada dalam menstimulus perkembangan kanker pada payudara.
2.5. Kerangka Konsep
Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian
2.6. Tujuan Khusus
1. Terdapat hubungan pengetahuan putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
2. Terdapat hubungan sikap remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
3. Terdapat hubungan motivasi remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
Pengetahuan
Sikap
Motivasi
Pencegahan Kanker Payudara
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan desain cross sectional, yaitu variabel independen dan variabel dependen diteliti secara bersamaan dan dalam satu waktu yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang terdapat antara kedua variabel tersebut.
3.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo.
3.2.2 . Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai pada bulan April-Mei 2015 yaitu mulai pengajuan judul sampai dengan penggandaan laporan.
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo sebanyak 59 bayi.
3.3.2. Sampel
Besar sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi dijadikan menjadi sampel yaitu sebanyak 59 orang.
43
3.4. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 3.4.1. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diambil langsung menggunakan kuesioner.
3.4.2. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara meminta kesediaan responden di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo sampai batas sampel terpenuhi. Peneliti terlebih dahulu menjelaskan cara pengisian kuesioner, menayakan apakah ada hal-hal yang tidak dimengerti oleh responden. Apabila ada maka harus dijelaskan kembali setelah itu hasil kuesioner dikumpulkan kembali.
3.5. Definisi Operasional
1. Pengetahuan remaja adalah segala sesuatu yang diketahui remaja tentang pencegahan kanker payudara yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap responden.
Kategori Pengetahuan : 0. Baik 1. Buruk
Untuk mengukur tingkat pengetahuan remaja tentang pencegahan kanker payudara disusun sebanyak 10 pertanyaan dengan jawaban pilihan ya (bobot nilai 1) dan tidak (bobot nilai 0), maka total skor untuk variabel pengetahuan adalah 10, jadi :
0. Baik, jika jawaban responden memiliki total skor ≥ 60 % dari 10 = 6-10
1. Buruk, jika jawaban responden memiliki total skor < 5 % dari 10 = 0-5 (Nursalam, 2011).
2. Sikap adalah suatu reaksi atau respon remaja yang memiliki remaja putri terhadap pencegahan kanker payudara.
Pengukuran variabel sikap disusun 8 pertanyaan yang diajukan dengan jawaban ”sangat setuju (bobot nilai 4 )”, “setuju (bobot nilai 3 )”, “tidak setuju (bobot nilai 2 )”, dan “sangat tidak setuju (bobot nilai 1 )”, dan dikategorikan menjadi 2, yaitu:
0. Positif, jika jawaban responden memiliki total skor ≥ 50% dari 32 = 17-32 1. Negatif, jika jawaban responden memiliki total skor < 50% dari 32 = 0-16 3. Motivasi Remaja adalah suatu kesediaan remaja melakukan usaha tingkat tinggi
untuk melakukan pencegahan kanker payudara.
Pengukuran variabel motivasi disusun 8 pertanyaan yang diajukan dengan jawaban ”ya (bobot nilai 1 ) dan “tidak (bobot nilai 0 ) dan dikategorikan menjadi 2, yaitu:
0. Ada motivasi, jika jawaban responden memiliki total skor ≥ 50% dari 8 = 5-8 1. Tidak ada motivasi, jika jawaban responden memiliki total skor < 50% dari 8
= 1-4
4. Pencegahan kanker payudara adalah segala tindakan yang dilakukan oleh remaja dalam pencegahan kanker payudara.
Pengukuran variabel pencegahan kanker payudara disusun 8 pertanyaan yang diajukan dengan jawaban ”ya (bobot nilai 1 ) dan “tidak (bobot nilai 0 ) dan dikategorikan menjadi 2, yaitu:
0. Melakukan : jika jawaban responden memiliki total skor ≥ 50% dari 8 = 5-8 1. Tidak Melakukan, jika jawaban responden memiliki total skor ≥ 50% dari 8 =
5-8
3.6. Metode Pengukuran
Tabel 3.1. Variabel, Cara, Alat, Skala dan Hasil Ukur Variabel Cara dan Alat
Ukur
Skala Ukur
Hasil Ukur Variabel Bebas
Pengetahuan Wawancara
(kuesioner)
Ordinal 0. Baik 1. Buruk
Sikap Wawancara
(kuesioner)
Ordinal 0. Positif 1. Negatif
Motivasi Wawancara
(kuesioner)
Ordinal 0. Ada Motivasi 1. Tidak Ada Motivasi Variabel Terikat
Pencegahan kanker payudara
Pemeriksaan Ordinal 0. Melakukan 1. Tidak Melakukan
3.7. Metode Analisis Data 3.7.1. Analisis Univariat
Analisis data secara univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi responden. Analisa ini digunakan untuk memperoleh gambaran variabel independen pengetahuan, sikap dan motivasi, sedangkan variabel dependen yaitu pencegahan kanker payudara.
3.7.2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menguji ada tidaknya hubungan pengetahuan, sikap dan motivasi remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo dengan menggunakan statistik uji chi-square kemudian hasilnya dinarasikan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa Lau Buluh terletak di Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo. Desa Lau Buluh ini merupakan salah satu dusun yang terletak di daerah dataran tinggi.
Secara geografis Desa Lau Buluh mempunyai luas wilayah 12.492 km2.
4.2. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari variabel dependen dan variabel independen, yaitu:
4.2.1. Pengetahuan
Untuk melihat pengetahuan responden tentang pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo adalah seperti tabel dibawah ini:
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Pencegahan Kanker Payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo
No Pengetahuan Jumlah Persentase
1 Baik 15 25,4
2 Buruk 44 74,6
Jumlah 59 100
Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa pengetahuan responden lebih banyak dengan pengetahuan buruk sebanyak 44 orang (74,6%) dan lebih sedikit dengan pengetahuan baik sebanyak 15 orang (25,4%).
48
4.2.2. Sikap
Untuk melihat sikap responden terhadap pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo adalah seperti tabel dibawah ini:
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Sikap terhadap Pencegahan Kanker Payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo
No Sikap Jumlah Persentase
1 Positif 42 71,2
2 Negatif 17 28,8
Jumlah 59 100
Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa sikap responden lebih banyak dengan sikap positif sebanyak 42 orang (71,2%) dan lebih sedikit dengan sikap negatif sebanyak 17 orang (28,8%).
4.2.3. Motivasi
Untuk melihat motivasi responden dalam pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo adalah seperti tabel dibawah ini:
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Motivasi dalam Pencegahan Kanker Payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo
No Motivasi Responden Jumlah Persentase
1 Tidak ada motivasi 15 25,4
2 Ada motivasi 44 74,6
Jumlah 59 100
Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat dilihat bahwa motivasi responden lebih banyak dengan ada motivasi sebanyak 44 orang (74,6%) dan lebih sedikit dengan tidak ada motivasi sebanyak 15 orang (25,4%).
4.2.4. Pencegahan Kanker Payudara
Untuk melihat distribusi frekuensi pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Pencegahan Kanker Payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo
No Pencegahan Kanker Payudara Jumlah Persentase
1 Melakukan 21 35,6
2 Tidak melakukan 38 64,4
Jumlah 59 100
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo lebih banyak dengan tidak melakukan pencegahan sebanyak 38 orang (64,4%) dan lebih sedikit dengan melakukan pencegahan sebanyak 21 orang (35,6%).
4.3. Analisa Data Bivariat
Analisa bivariat untuk mengetahui hubungan variabel pengetahuan, sikap dan motivasi dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut ini:
4.3.1. Hubungan Pengetahuan Remaja Putri dengan Pencegahan Kanker Payudara Di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo Untuk melihat hubungan pengetahuan remaja putri dengan pencegahan kanker payudara di Desa Lau Buluh Kecamatan Huta Buluh Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut: