BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Keluarga Dampingan
Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang cukup pelik di Bali, khususnya di Kabupaten Karangasem. Di Desa Duda Utara, Kecamatan Selat sendiri jumlah KK miskin yang tercatat pada tahun 2010 ialah sejumlah 412 KK Miskin dari jumlah total 1904 Rumah tangga yang ada. Maka dari itu, hal ini perlu ditangani secara intensif dari pemerintah, dan merupakan tugas mahasiswa untuk menjalankan aksi pengabdian masyarakat dan terlibat didalamnya.
Program KKN merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa Universitas Udayana. Salah satu program bagi mahasiswa yang terdapat pada KKN ialah Keluarga Dampingan, yaitu program yang mengharuskan setiap mahasiswa memiliki satu keluarga dampingan yang termasuk dalam kategori kurang mampu. Mahasiswa bertugas mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kehidupan keluarga yang didampingi.
Program ini sangatlah dibutuhkan dalam memecahkan permasalah – permasalah dan mencari jalan keluar bagi keluarga miskin tersebut. Diharapkan dengan adanya program pendampingan keluarga ini mahasiswa dapat membantu dari segi motivasi, membuka pikiran masyarakat dan memberikan solusi – solusi dalam permasalahan kehidupan sehari – hari, sehingga kedapannya keluarga yang didampingi tersebut dapat menjadi lebih baik dan mandiri.
Pada Kesempatan kali ini penulis mendapat kesempatan untuk mendampingi keluarga I Komang Budiantara yang bertempat tinggal di Dusun Perangsari Tengah, Desa Duda Utara.
Keluarga I Komang Budiantara merupakan salah satu Keluarga yang dikatagorikan kurang mampu di Desa Duda Utara. Dengan adanya program Pendampingan keluarga diharapan keluarga I Komang Budiantara dapat menjadi lebih baik setelah mahasiswa mendampingi keluarganya.
1.2 Profil Keluarga Dampingan
Keluarga I Komang Budiantara menetap di Br. Perangsari Tengah, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Karangasem. I Komang Budiantara tinggal bersama kedua orang tuanya, adik, seorang istri dan seorang anak laki – laki yang masih bersekolah di sekolah dasar.
Pekerjaan I Komang Budiantara atau lebih sering dipanggil Komang Monak tidaklah tetap, Ia bekerja sebagai buruh harian di peternakan ayam yang terletak di Br. Perangsari Kaja. Namun
pada saat – saat tertentu tenaga buruh tidak diperlukan, hal ini dikarenakan terdapat rentang waktu kosong setelah panen dan menunggu bibit ayam. Sehingga I Komang Budiantara akan menganggur dirumah selama beberapa hari. Tidak hanya menjadi buruh di peternakan, ia juga pernah merantau bekerja di Denpasar menjadi buruh bangunan, namun hal tersebut sudah tidak dikerjakanna lagi. Istrinya, Ni Kadek Sri ialah seorang ibu rumah tangga dan bekerja sebagai pengerajin ate disela – sela kegiatannya mengurus keluarga dan anak. Ayah I Komang Budiantara masih bekerja sebagai buruh bangunan harian yang juga tidak tetap peghasilannya karena menunggu panggilan. Sementara adiknya mengerjakan kerajinan dari daun bambu dan ate.
I Komang Budiantara dan keluarganya tinggal di tanah milik desa dengan luasan sekitar 15 Are. Dari total tanah tersebut, hanya 1 are bagian yang menjadi tempat tinggal dan sisanya menjadi kebun yang didominasi oleh kebun salak dan kebun kelapa. Menempati tanah desa tidaklah mudah, I Komang Budiantara harus membayar untuk setiap pohon yang ia tanam, sementara pohon kelapa yang terdapat dipekarangan rumahnya ialah milik desa sehingga tidak dapat dipetik setiap saat. Hasil kelapa tersebutpun dimiliki oleh desa, bukan milik pribadi.
Meskipun tanah yang ia tinggali luas, hasil dari kebun tidaklah cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari – hari, karena biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar tiap pohon cukup besar, selain itu rendanhnya produksi salak dan harga jual yang murah tidak memberikan banyak keuntungan kepada keluarganya .
Tempat tinggal I Komang Budiantara sangatlah sederhana, terdiri dari 2 bangunan permanen dan sisanya bangunan tidak permanen. Bangunan permanen tersebut ialah 2 bangunan terpisah, satu milik I Komang Budiantara dan satu milik orang tuanya. Ia tinggal didalam kamar yang hanya berukuran 3x4 m2 bersama istri dan anaknya. Selain tempat tidur, terdapat pula merajan, dapur sederhana dan kamar mandi temporer dari gedeg tanpa atap.
Pada awalnya kamar I Komang Budiantara hanya berupa dinding bedeg, namun setelah mendapat program pemerintah yaitu bedah rumah, maka rumah tersebut direnovasi menjadi rumah yang lebih permanen. Dapur rumah terbuat dari gedeg dan terpisah dari rumah. Selain itu, yang juga menjadi permaslahan tidak terdapat sarana MCK yang layak di rumah tersebut maupun PDAM sebagai prasarananya. Kamar mandi yang dimiliki sangat terbatas hanya terbuat dari gedeg dan beralaskan tanah dengan lubang kakus. Tidak adanya PDAM di
Untuk mengetahui identitas anggota keluarga I Komang Budiantara secara lebih jelas dapat dilihat pada data di bawah.
No Nama Status Umur Pendidikan Pekerjaan Ket 1 I Komang
Budiantara
Menikah 32 Tamat SD Buruh
peternakan ayam
Ayah
2 Ni Kadek Sri Menikah 29 Tamat SD Ibu Rumah Tangga
Ibu
3 I Made Artayasa
Belum Menikah
8 SD Pelajar Anak
1.2 Ekonomi Keluarga Dampingan 1.3.1 Pendapatan Keluarga a. Sumber Penghasilan
Dalam memenuhi kebutuhan sehari hari tentu terdapat pengeluaran – pengeluaran dari berbagai aspek. Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari tersebut tentu keluarga I Komang Budiantara harus memiliki penghasilan. Penghasilan yang didapatkan oleh keluarga I Komang Budiantara tidaklah menentu. Pendapatan utama berasal dari I Komang Budiantara sebagai kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh ternak ayam harian dengan penghasilan senilai Rp 70.000 / hari, dikarenakan dalam pemeliharaan ayam terdapat masa – masa kosong disaat pascapanen, I Komang Budiantara tidak bekerja namun hanya mengulat ate. Sementara istrinya, Ni Kadek Sri adalah ibu rumah tangga namun bekerja disela – sela kegiatan mengurus rumah . Ni Kadek Sri mengerjakan kerajinan ate dengan penghasilan bersih Rp 40.000 yang dikerjakan 3 hari untuk satu kerajinan. Terdapat pula pendapatan lainnya yaitu pendapatan dari kebun salak yang juga tidak menentu harganya. Salak ialah tanaman yang berbuah musiman. Dalam 1 tahun salak berbuah lebat hanya 1 kali pada bulan Januari – Febuari, adapun jumlah yang didapatkan ialah 50 Kg / sekali panen, dengan harga Rp 800- 1000 / Kg. Sementara pada bulan – bulan biasa harganya mencapai Rp 10.000 / Kg namun buah yang dihasilkan sedikit.
1.3.2 Pengeluaran Keluarga
Pemenuhan kebutuhan dari keluarga bapak I Komang Budiantara terbatas hanya pada pemenuhan kebutuhan pokok ataupun kebutuhan primer seperti untuk konsumsi, kesehatan, kerohanian dan sosial.
a. Kebutuhan Sehari-Hari
Kebutuhan sehari – hari keluarga I Komang Budiantara terdiri dari kebutuhan Pokok berupa sembako, lauk pauk dan bahan makanan serta kebutuhan rumah tangga seperti sabun mandi, sabun cuci, dll. Dalam 1 (satu) hari, Ni Kadek Sri memasak 2 kali untuk keluarga dan mertuanya. Pengeluaran keluarga untuk makan dalam satu hari ialah sekitar Rp 30.000.
sementara kebutuhan rumah tangga lainnya kondisional sesuai kebutuhan. Selain itu juga terdapat biaya iuran air sebanyak Rp 10.000/ bulan.
b. Kebutuhan Kesehatan
Kebutuhan untuk kesehatan keluarga ditanggung oleh pemerintah dikarenakan keluarga I Komang Budiantara dikatagorikan kurang mampu sehingga memiliki Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM).
c. Pendidikan Anak-anak
I Komang Budiantara memiliki 1 orang anak laki – laki bernama I Made Artayasa yang masih berusia 8 tahun. Pengeluaran di bidang pendidikan tidak terlalu besar dikarenakan I Made Artayasa masih berada di sekolah dasar. Selama pendidikannya tidak dipungut biaya SPP oleh sekolah, hanya biaya seragam sekolah pada awal masuk sekolah sebesar Rp 300.000.
Pengeluaran untuk buku pelajaran sekolah tidak ada karena buku pelajaran dipinjamkan dari pihak sekolah. Made Artayasa juga mendapat bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dari pemerintah
d. Kerohanian
Keluarga I Komang Budiantara menganut agama Hindu. Sehingga pengeluaran untuk kerohanian berupa persembahyangan saat purnaa, tilem dan kajen kliwon yang menghabiskan sekitar Rp 75.000. Sementara pada hari – hari raya besar seperti galungan dan kuningan
e. Sosial
Dalam sosialisasi ke masyarakat dan ke desa, I Komang Budiantara ikut membayar jika ada kegiatan adat di balai banjar maupun pura. Namun Pembiayaan tersebut kondisional sesuai dengan besarnya besarnya upacara. Selain itu dalam pembangunan bedah rumah, masyarakat yang mendapat
f. Lain-lain
Selain pengeluaran diatas, terdapat pengeluaran lain yang berkaitan dengan hukum adat di desa. Karena menempati tanah desa, maka I Komang Budiantara harus membayar setiap tahunnya druwe desa sebersar Rp 600.000. pegeluaran ini dihitung berdasarkan jumlah pohon yang ada di pekarangan rumah. Secara berkala kebun I Komang Budiantara akan di cek oleh pihak desa dan jumlah pohon yang ada akan dihitung.