• Tidak ada hasil yang ditemukan

IR- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IR- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 TESIS

KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF TERHADAP WAKAF MANFAAT DARI BANGUNAN DAN TANAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN

2004 TENTANG WAKAF

1. Latar Belakang

Wakaf merupakan ajaran Islam yang umum dipraktikan masyarakat.

Wakaf untuk masjid, lembaga pendidikan, pesantren dan kuburan merupakan jenis wakaf yang paling dikenal oleh masyarakat.1 Perkembangan wakaf di Indonesia dapat dikatakan sejalan dengan perkembangan penyebaran agama Islam. Pada masa awal penyiaran Islam, kebutuhan terhadap masjid untuk menjalankan aktivitas ritual dan dakwah berdampak positif, yakni pemberian tanah wakaf untuk mendirikan masjid menjadi tradisi yang lazim dan meluas di komunitas Islam Nusantara.

Wakaf merupakan bentuk ibadah yang bersifat kebendaan yang sudah lama dikenal. Institusi ini telah ada sejak kehidupan bermasyarakat terbentuk.

Setiap kelompok manusia selalu menyediakan layanan publik yang diperlukan oleh manusia secara bersama. Tempat ibadah, jalan, sumber air, serta fasilitas umum lainnya.2 Kata wakaf diprediksikan telah sangat popular dikalangan umat islam dan juga dikalangan non muslim. Kata wakaf yang sudah menjadi bahasa Indonesia itu berasal dari kata kerja bahasa Arab waqafa (fi’il madhy), yaqifu (fi’il mudhari), dan waqfan (isim mashdar) yang

secara etimologi berarti berhenti, berdiri, berdiam ditempat, atau menahan.

1 Yulia Mirwati, Wakaf Tanah Ulayat dalam Dinamika Hukum Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2016, h.20.

2 Farid Wajdi dan Suhrawardi K, Hukum Wakaf Tunai, Citra Aditya Bakti, Medan, 2016, h.1.

(2)

2

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C Kata waqafa dalam bahasa arab adalah sinonim dari kata habas (fi’il madhy), yahbisu (fi’il mudhari), dan habsan (isim mashdar) yang menurut etimologi

adalah juga bermakna menahan.3

Perbedaan antara praktik wakaf yang terjadi sebelum datangnya islam dan setelah datangnya islam tersebut terletak pada tujuan wakaf. Dalam Islam, tujuan wakaf adalah untuk mencari ridho Allah SWT dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, sedangkan wakaf sebelum Islam seringkali digunakan sebagai sarana untuk mencari prestise (kebanggaan).4

Diantara tradisi dan agama yang ada di dunia ini, tidak ada yang dapat memberikan pengaruh dan dampak yang demikian besar dan dalamnya pada berbagai aspek kehidupan manusia sebagaimana halnya Islam. Sebagai suatu keyakinan Islam tidak hanya berupa rangkaian peribadatan dan perintah serta segala hal yang berkaitan dengan moral, akan tetapi juga mengatur tentang aturan-aturan dalam hubungan sesama manusia dan juga hak serta kewajiban.5

Menurut Mazhab Syafi’i, wakaf dapat diartikan menahan harta yang dapat diambil manfaatnya dengan tetap utuhnya barang dan barang tersebut hilang kepemilikannya dari waqif (wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya), serta dimanfaatkan pada sesuatu yang diperbolehkan.

3 Suhrawardi K, Wakaf dan Pemberdayaan Umat, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, h.3.

4 Abdul Ghofur Anshori, Hukum dan Praktik Perwakafan di Indonesia, Pilar Media, Yogyakarta, 2005, h.15.

5 Prawitra Thalib, Syariah: Konsep dan Hermeneutika, SHAREAT FHUA dan Lutfansah Mediatama, Surabaya, 2013, h.87.

(3)

3

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C Definisi dari Mazhab Syafi’i yang dikemukakan diatas menampakkan ketegasan terhadap status kepemilikan harta wakaf. Apabila wakaf dinyatakan sah, maka kepemilikan beralih dari pemilik harta semula kepada Allah SWT, dengan pemahaman bahwa harta yang diwakafkan menjadi milik umat, bukan lagi milik orang yang mewakafkan. Dengan demikian, putuslah hubungan orang yang mewakafkan hartanya dengan harta yang telah diwakafkan itu. Putusnya hubungan seseorang dengan hartanya sekaligus timbulnya hubungan baru seseorang dengan pahala dari Allah sebab ia telah berwakaf. Diharapkan keadaan putusnya hubungan dengan harta menjadikan seseorang lebih ikhlas dalam mewakafkan hartanya dan tidak perlu membayangkan lagi bahwa hartanya akan kembali lagi kepadanya.6

Filosofi wakaf lebih unggul dibanding dengan zakat, infaq, sedekah dan hibah karena harus mempertahankan aset wakafnya. Dengan bertahannya aset wakaf maka kemaslahatan bagi masyarakat secara berkelanjutan dapat tercapai. Dari aspek keabadian benda dan nilai, wakaf dapat memberikan manfaat seluas-luasnya kepada khalayak umum dalam jangka waktu yang panjang.7

Berbagai jenis sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan Tuhan kepada manusia dalam ajaran ekonomi islam. Manusia harus memanfaatkannya se-efisien dan se-optimal mungkin dalam produksi guna

6op.cit., h.5.

7Ulya Kencana, Hukum Wakaf Indonesia, Setara Pers, Malang, 2017, h.4.

(4)

4

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C memenuhi kesejahteraan secara bersama di dunia, yaitu untuk menciptakan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Namun yang terpenting adalah bahwa kegiatan tersebut akan dipertanggungjawabkannya di akhirat nanti.8

Di Indonesia Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf tidak menjelaskan secara detail mengenai wakaf manfaat. Model pengembangan wakaf manfaat di Indonesia salah satunya yang telah dilakukan oleh Universitas Airlangga Surabaya dengan Rektor dan beberapa perwakilannya yang tercatat sebagai Nadzir yang diakui oleh Badan Wakaf Indonesia dalam Nomor Pendaftaran No. W.5/14/13/2019 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Urusan Agama, selanjutnya sebagai wadah pengelolaan yaitu Pusat Pengelolaan Dana Sosial Universitas Airlangga (selanjutnya akan disebut PUSPAS UNAIR) untuk dapat menjalankan fungsi nadzir. PUSPAS ini memiliki fungsi tugas untuk menghimpun, mengelola dan menyalurkan donasi yang masuk menjadi beberapa macam. Salah satunya yaitu berupa wakaf produktif. Perkembangan dari wakaf produktif ini terdapat wakaf manfaat dengan contoh seseorang dapat berwakaf dengan nominal sekecil mungkin dan nilai dari nominal tersebut tidak boleh berkurang. PUSPAS tetap harus mengelola sekumpulan uang tersebut dan manfaat yang dihasilkan dari pengelolaan tersebut barulah dapat disalurkan kepada masyarakat yang layak menerima manfaat tersebut.

8 Abd. Shomad, Hukum Islam (Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Islam), Kencana, Jakarta, 2017, h.74.

(5)

5

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C Terdapat pula wakaf manfaat berupa bangunan dan tanah yang akan dijadikan tempat pendidikan berbentuk rumah wakaf dengan diberi jangka waktu tertentu (atau biasa dikenal dengan wakaf temporer/berjangka). Salah satu contohnya adalah dengan wakaf berjangka dalam kurun waktu tertentu dengan akad tertentu. Akad ini nanti dituangkan dalam bentuk ikrar berupa akta ikrar wakaf dengan mencantumkan nama bangunan, peruntukan, dan penjelasan kedudukan nadzir dan wakif dalam ikrar wakafnya. Ikrar merupakan suatu pernyataan kehendak dari wakif untuk mewakafkan harta bendanya. Yang melakukan ikrar ini adalah wakif, yang harus dinyatakan dengan lisan secara jelas kepada nadzir dihadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (selanjutnya disebut PPAIW) dengan disaksikan oleh dua orang saksi, untuk selanjutnya ikrar tersebut dituangkan dalam bentuk akta yang telah disebut pada paragraf sebelumnya.9

Seiring dengan perkembangan ilmu yang semakin pesat, membuat suatu kemajuan bagi perwakafan di Indonesia. Wakaf manfaat dapat dilakukan dengan jangka waktu tertentu tanpa mengurangi esensi dari wakaf dan tetap dapat menghentikan kepemilikannya terhadap suatu benda agar dapat dikelola untuk diambil manfaatnya serta dapat mencapai tujuan untuk kemaslahatan umat dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan.

Dengan begitu, masyarakat yang ingin mewakafkan tanah dan bangunannya dalam jangka waktu tertentudapat merealisasikan tujuannya dalam akta ikrar wakaf dengan jelas dan dapat dipertangunggjawabkan.

9 K.N Sofyan Hasan, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf, Al-Ikhlas, Surabaya, 1995, h.75.

(6)

6

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C Pembuatan akta ikrar wakaf manfaat harus tetap dibuat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, yaitu Kepala KUA dan/atau pejabat yang menyelenggarakan urusan wakaf. Bahkan dalam pembuatannya, tidak menutup kemungkinan memberikan peluang bagi Notaris untuk membuat akta ikrar wakaf dengan syarat notaris tersebut harus memenuhi kriteria yang ditentukan oleh Menteri Agama dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2013 tentang Tata Cara Perwakafan Benda Tidak Bergerak dan Bergerak Selain Uang pasal 27 yaitu:

1. (1) Notaris ditetapkan menjadi PPAIW dengan Keputusan Menteri.

2. (2) Persyaratan notaris untuk dapat ditetapkan menjadi PPAIW sebagai berikut:

1. beragama Islam;

2. amanah; dan

c. memiliki sertifikat kompetensi di bidang perwakafan yang diterbitkan oleh Kementerian Agama.

3. (3) Notaris sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, dapat diangkat menjadi PPAIW setelah mengajukan permohonan kepada Menteri.

Namun belum ada peraturan pelaksana dari Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2013 ini, sehingga menimbulkan kekosongan hukum yang membuat peran Notaris dalam pembuatan Akta Ikrar Wakaf (AIW) belum dapat dilaksanakan dengan maksimal.

(7)

7

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C 2. Rumusan Masalah

a. Skema wakaf manfaat menurut Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf

b. Karakteristik Akta Ikrar Wakaf Manfaat di Pusat Pengelolaan Dana Sosial (PUSPAS) Universitas Airlangga

3. Tujuan Penelitian

a. Untuk menganalisa skema wakaf manfaat menurut UU No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf

b. Untuk menganalisa karakteristik akta ikrar wakaf manfaat di pusat pengelolaan dana sosial (PUSPAS) Universitas Airlangga

4. Manfaat Penelitian

Manfaat-manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat berguna unuk memberikan suatu sumbangan pemikiran dibidang ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari, khususnya di bidang ilmu hukum perdata, khususnya dalam rangka memberikan pemahaman terhadap karakteristik akta ikrar wakaf terhadap wakaf manfaat dari bangunan dan tanah menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

4.2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan baru bagi pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk pihak

(8)

8

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C yang berwenang dan masyarakat umum terhadap pembuatan akta ikrar wakaf terhadap wakaf manfaat dari bangunan dan tanah.

5. Metode Penelitian 5.1. Tipe Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian normatif karena ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan atau ilmu hukum sebagai sui generis yan merupakan ciri dari ilmu hukum. Ciri khas dari ilmu hukum

adalah sifatnya yang normatif.10

Sehubungan dengan tipe penelitiannya yuridis normatif maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan hukum yang berlaku di Indonesia (hukum positif) yang biasanya menggunakan atau bersarankan pada sumber data yang berupa peraturan perundang-undangan, keputusan- keputusan pengadilan, teori-teori maupun konsep hukum dan pandangan para sarjana hukum terkemuka.

Peter Mahmud Marzuki menyatakan bahwa penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan masalah dari isu hukum yang timbul.

Hasil yang dicapai bukanlah untuk menerima atau menolak hipotesis yang

10 Philipus M. hadjon dan Tatiek Djamiati, Argumentasi Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005, h.1.

(9)

9

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C diajukan, melainkan memberikan preskripsi mengenai apa yang seyogyanya terjadi atau isu hukum yang dilakukan.11

5.2. Pendekatan Masalah

Pendekatan yang dipergunakan dalam tesis ini adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konsep (conceptual approach). 12 Perundang-undangan (statute approach) dilakukan dengan menelaah undang-undang yang terkait dengan permasalahan hukum yang dibahas dalam proposal ini yaitu karakteristik akta ikrar wakaf terhadap wakaf manfaat dari bangunan dan tanah menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

Pendekatan konsep (conceptual approach) merupakan pendekatan yang didasarkan pada pendapat para ahli hukum yang diperoleh dari buku- buku literatur, catatan kuliah, data-data yang diambil melalui internet dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, penelitian akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum relavan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam

11Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada, Media Group, Jakarta, 2006, h.103.

12ibid.h.93

(10)

10

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C memecahkan isu yang dihadapi. 13 Dalam penelitian ini khususnya melakukan studi literatur perwakafan Indonesia.

5.3. Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum untuk penelitian tesis ini adalah bahan hukum primer, sekunder dan tersier.

1. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan dan catatan resmi, disini penelitian ini menggunakan sumber bahan primer sebagai berikut, yakni:

A. Al Quran B. Al Hadist

C. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata D. KHI Kompilasi Hukum Islam

E. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

F. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

G. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

2. Bahan Hukum Sekunder adalah semua publikasi tentang hukum yang merupakan bukan dokumen resmi14, disini

13ibid, h.94

14ibid. h.49

(11)

11

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C penulis menggunakan sumber data sekunder sebagai berikut, yakni:

a. Buku-buku tentang Kenotariatan b. Buku-buku tentang Perwakafan

c. Buku-buku tentang metode penelitian hukum

d. Jurnal hukum yang berkaitan dengan Perwakafan dan Kenotariatan

e. Wawancara kepada narasumber

3. Bahan Hukum Tersier terdiri dari bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasaan bermakna terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekuder, seperti kamus-kamus dan ensiklopedia.

5.4. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan adalah dengan cara:

Studi kepustakaan, merupakan pengumpulan data dengan jalan mempelajari peraturan perundang-undangan, buku, makalah, surat kabar, majalah artikel, dan hasil penelitian sebelumnya yang terkait dengan permasalahan yang diteliti. Semua ini dijadikan pedoman dan landasan dalam penelitian.

5.5. Analisis Bahan Hukum

Analisis bahan hukum yang digunakan adalah metode deduktif yaitu metode dengan menganalisis sumber hukum primer dan sekunder yang terdiri dari peraturan perundang-undangan serta literatur-literatur dan bahan hukum yang terkait. Selanjutnya menguraikan masalah berdasarkan bahan hukum yang ada dan disusun secara sistematis, teratur dan dikaji

(12)

12

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C permasalahanya sehingga mendapat kesimpulan untuk memecahkan permasalahan.

6. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan mengikuti uraian penelitian tesis yang berisi 4 (empat) bab ini maka dalam sistematika penulisan ini disusun menurut urutan sebagai berikut.

Dalam bab pertama, menjelaskan tentang latar belakang. Kemudian dirumuskan permasalahannya berdasarkan penjelasan tersebut.

Selanjutnya tujuan penelitian dan manfaat penelitian sebagai harapan yang ingin dicapai. Kajian pustaka yang menjelaskan tentang landasan dari penulisan penelitian. Kemudian metode penelitian yang termasuk salah satu syarat dari penelitian, yang mengemukakan tentang tipe penelitian, sumber bahan hukun yang digunakan, prosedur pengumpulan dan pengolahan bahan hukum, menganalisis bahan hukum, dan sistematika penulisan.

Dalam bab kedua, akan diuraikan secara umum mengenai skema wakaf manfaat menurut Undang-Undang No 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Yang akan membahas tata cara penerimaan wakaf manfaat dan peruntukkannya oleh nadzir Universitas Airlangga yang mendelegasikan Pusat Pengelolaan Dana Sosial Universitas Airlangga sebagai pengelola dana wakaf.

(13)

13

TESIS KARAKTERISTIK AKTA IKRAR WAKAF WIDYA D.C Dalam bab ketiga, akan dibahas tentang karakteristik akta ikrar wakaf manfaat di pusat pengelolaan dana sosial Universitas Airlangga.

Yang akan membahas khusus mengenai pembuatan akta ikrar wakaf manfaat dengan adanya perkembangan wakaf manfaaat.

Dalam bab keempat, adalah bab penutup dari penulisan penelitian tesis ini yang memuat tentang kesimpulan atau ringkasan dari seluruh uraian yang telah dijelaskan dan saran-saran yang dianggap perlu dan relevan.

Referensi

Dokumen terkait

a. Diharapkan hasil penelitian ini berguna bagi perkembangan ilmu hukum khususnya hukum administrasi negara. Diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran untuk dijadikan

Bagi perkembangan ilmu pengetahuan (baik di bidang ilmu pengetahuan hukum pidana maupun hukum perdata). Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi

Secara praktis bahwa penelitian ini adalah sebagai sumbangan pemikiran bagi ilmu pengetahuan hukum perdata tentang hukum benda dalam kaitannya dengan hak

Ort (K)., Ph.D, selaku guru besar Bidang Ortodonti, instruktur klinik Spesialis Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga yang telah banyak memberikan ilmu

selaku dosen pembimbing klinis dan penguji yang telah membantu bimbingan, masukan, arahan, meluangkan waktu selama penyusunan skripsi, serta berbagi ilmu yang berguna

Rektor Universitas Airlangga Surabaya, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti program pendidikan spesialis dalam bidang studi Ilmu Bedah di

Secara teoritis diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada bidang ilmu hukum pasar modal

Manfaat teoritis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu hukum dibidang hukum tata negara dan menjadi