• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL PEMBANGUNAN JAWA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL PEMBANGUNAN JAWA BARAT"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL PEMBANGUNAN JAWA BARAT

A. GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI WILAYAH

Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5

o

50’ - 7

o

50’ Lintang Selatan dan 104

o

48’ - 108o48’

Bujur Timur, dengan batas wilayah : sebelah Utara, berbatasan dengan Laut Jawa dan Provinsi Jawa Barat;

sebelah Timur, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah;

sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia; dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Banten.

Luas wilayah Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah daratan seluas 3.710.061,32 hektar dan garis pantai sepanjang 755,829 km. Provinsi Jawa Barat terdiri dari 26 kab/kota, meliputi 17 Kabupaten dan 9 Kota, Sedangkan jumlah kecamatan 626, daerah perkotaan 2 664 dan 3 254 perdesaan ( MFD online, Desember 2011)

B. SOSIAL EKONOMI DAN KEPENDUDUKAN

B1. Kependudukan

Jumlah penduduk di wilayah Provinsi Jawa Barat tahun 2011 sebanyak 43.826.775 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 1.180,79 jiwa per km

2

. Penyebaran penduduk di Provinsi Jawa Barat masih bertumpu di Kabupaten Bogor yakni sebesar 11,08 persen dan Kabupaten Bogor sebesar 10,6 persen sedangkan yang terendah Kota Banjar sebesar 0,39 persen. Sementara dilihat dari kepadatan penduduk Kabupaten/Kota yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kota Bandung yakni sebanyak 14.491 jiwa per Km

2

dan yang paling rendah adalah Kabupaten Ciamis dengan tingkat kepadatan penduduk sebanyak 569 jiwa per Km

2

. Dilihat dari sisi laju pertumbuhan selama sepuluh tahun terakhir (2000-2010) Provinsi Jawa Barat sebesar 1,89 persen lebih tinggi dari pertumbuhan nasional penduduk nasional (1,49%). Sementara untuk laju pertumbuhan penduduk kabupaten/kota tertinggi terdapat di Kabupaten Bekasi 4,69 persen sedangkan yang terendah di Kabupaten Majalengka sebesar 0,40 persen.

Gambar 1

Peta Administrasi

(2)

Tabel I:

Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2011

Kabupaten/Kota Luas Penduduk (orang) Kepadatan Penduduk

(orang/ km2)

Km2 % Jumlah %

01. Bogor 2.997,13 8,06 4.857.612 10.60 1.620,75

02. Sukabumi 4.160,75 11,19 2.383.450 9.57 572,84

03. Cianjur 3.594,65 9,67 2.210.267 4,82 614,88

04. Bandung 1.756,65 4,73 3.235.615 7,06 1.841,92

05. Garut 3.094,40 8,32 2.447.287 5,34 790,88

06. Tasikmalaya 2.702,85 7,27 1.705.763 3,72 631,10

07. Ciamis 2.740,76 7,37 1.560.021 3.40 569,19

08. Kuningan 1.189,60 3,20 1.054.183 2.30 886,17

09. Cirebon 1.071,05 2,88 2.104.313 4,59 1.964,72

10. Majalengka 1.343,93 3,62 1.187.417 2,59 883,54

11. Sumedang 1.560,49 4,20 1.113.238 2,43 713,39

12. Indramayu 2.092,10 5,63 1.693.610 3,70 809,53

13. Subang 2.164,48 5,82 1.491.464 3,25 689,06

14. Purwakarta 989,89 2,66 867.828 1,89 876,69

15. Karawang 1.914,16 5,15 2.165.996 4,73 1.131,56

16. B e k a s i 1.269,51 3,42 2.677.631 5,84 2.109,18

17. Bandung Barat 1.335,60 3,59 1.537.402 3,35 1.151,09

18 Bogor 111,73 0,30 967.398 2.11 8.658,35

19 Sukabumi 48,96 0,13 304.044 0.66 6.210,05

20. Bandung 168,23 0,45 2.437.874 5,32 14.491,32

21. Cirebon 40,16 0,11 301.711 0,66 7.512,72

22. Bekasi 213,58 0,57 2.376.794 5,19 11.128,35

23. Depok 199,44 0,54 1.769.787 3,86 8.873,78

24. Cimahi 41,20 0,11 550.894 1,20 13.371,21

25. Tasikmalaya 184,38 0,50 646.874 1,41 3.508,37

26. Banjar 130,86 0,35 178.302 0,39 1.362,54

Jumlah 37.173,97 100,00 43.826.775 100,00 1.180,79

Sumber: Provinsi Dalam Angka tahun 2012

B2. Ketenagakerjaan

Perkembangan ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Barat dalam 5 tahun terakhir menurut jumlah penduduk usia kerja, angkatan kerja, penduduk bekerja, dan jumlah pengangguran terbuka. Perkembangan penduduk usia kerja, penduduk bekerja secara absolute menunjukkan peningkatan. Namun jumlah pengangguran terbuka cenderung meningkat.

Penduduk Usia Kerja, Perkembangan jumlah penduduk usia kerja dalam lima tahun terakhir meningkat, jumlah penduduk usia kerja tahun 2012 mencapai 31.594.141 jiwa lebih besar dari tahun 2008, dengan jumlah angkatan kerja mencapai 20.150.094 jiwa dan bukan angkatan kerja 11.444.047 jiwa.

Penyebaran penduduk usia kerja paling banyak terdapat di Kabupaten Bogor yaitu sebanyak 3.369.634 jiwa.

(3)

Tabel 2:

Perkembangan Penduduk Usia Kerja Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 dan 2012

Kabupaten/Kota Penduduk Usia Kerja

2008 2012

Angkatan Kerja

Bukan Angkatan

Kerja

Jumlah Angkatan Kerja

Bukan Angkatan

Kerja

Jumlah

Kabupaten Bogor 1.702.048 999.327 2.701.375 2.193.981 1.175.653 3.369.634 Kabupaten Sukabumi 988.658 571.154 1.559.812 1.062.398 615.680 1.678.078 Kabupaten Cianjur 960.201 553.316 1.513.517 1.013.648 538.426 1.552.074 Kabupaten Bandung 1.393.085 672.050 2.065.135 1.496.741 770.787 2.267.528 Kabupaten Garut 905.487 644.002 1.549.489 1.000.365 665.141 1.665.506 Kabupaten Tasikmalaya 829.930 392.048 1.221.978 853.097 373.451 1.226.548 Kabupaten Ciamis 805.457 384.525 1.189.982 790.395 378.856 1.169.251

Kabupaten Kuningan 514.871 299.577 814.448 487.990 286.036 774.026

Kabupaten Cirebon 937.098 596.819 1.533.917 907.699 611.353 1.519.052 Kabupaten Majalengka 556.521 349.521 906.042 597.143 286.223 883.366

Kabupaten Sumedang 542.708 266.780 809.488 526.745 307.646 834.391

Kabupaten Indramayu 735.111 530.018 1.265.129 793.828 461.316 1.255.144 Kabupaten Subang 716.309 381.868 1.098.177 753.650 361.686 1.115.336 Kabupaten Purwakarta 365.069 202.455 567.524 414.313 203.181 617.494 Kabupaten Karawang 938.667 546.731 1.485.398 1.033.921 546.791 1.580.712 Kabupaten Bekasi 985.334 512.927 1.498.261 1.200.377 720.846 1.921.223 Kabupaten Bandung Barat 629.514 438.801 1.068.315 649.511 434.063 1.083.574

Kota Bogor 463.172 303.907 767.079 422.528 287.779 710.307

Kota Sukabumi 139.271 113.609 252.880 123.630 96.815 220.445

Kota Bandung 1.124.411 747.798 1.872.209 1.171.551 683.920 1.855.471

Kota Cirebon 148.644 93.028 241.672 133.261 89.024 222.285

Kota Bekasi 1.039.026 607.485 1.646.511 1.070.719 695.237 1.765.956

Kota Depok 730.924 370.996 1.101.920 828.909 470.190 1.299.099

Kota Cimahi 255.887 188.334 444.221 246.912 161.557 408.469

Kota Tasikmalaya 262.585 147.306 409.891 295.063 172.202 467.265

Kota Banjar 73.991 51.757 125.748 81.719 50.188 131.907

JAWA BARAT 18.743.979 10.966.139 29.710.118 20.150.094 11.444.047 31.594.141 Sumber : Sakernas (Agustus), BPS 2012

Penduduk usia kerja menurut tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan, meskipun memiliki potensi penduduk usia produktif yang besar, namun sebagian besar masih merupakan tamatan pendidikan dasar mencapai 50,53 persen, dan menengah (SMP dan SMA) mencapai sekitar 43,46 persen. Sementara untuk tamatan pendidikan tinggi (universitas dan akademi) tidak sampai 10 persen dari total penduduk usia kerja.

Sementara berdasarkan tipe daerah, sebagian besar penduduk usia kerja terdapat di perkotaan, yaitu sekitar

65,69 persen.

(4)

Gambar 2:

Distribusi Penduduk Usia Kerja menurut Pendidikan dan Tipe Daerah di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Sumber : Sakernas (Agustus), BPS 2012

Angkatan kerja. Perkembangan angkatan kerja Provinsi Jawa Barat dalam 5 tahun terkahir cenderung meningkat, jumlah angkatan kerja tahun 2013 (Februari) sebanyak 20.388.637 atau sebesar 17, 21 persen dari jumlah angkatan kerja nasional, yang terdiri dari 18.573.371 jiwa penduduk bekerja dan 1.815.300 jiwa pengangguran terbuka. Penyebaran jumlah angkatan kerja terbesar terdapat di Kabupaten Bogor mencapai 2.193.981 orang, dan paling sedikit di Kota Banjar sebanyak 81.719 jiwa.

Tabel 3:

Perkembangan Angkatan Kerja Kabupaten/Kota Provinsi Jawa BaratTahun 2008 dan 2012. (jiwa)

Kabupaten/Kota Angkatan Kerja

2008 2012

Penduduk Bekerja

Pengangguran Terbuka

Penduduk Bekerja

Pengangguran Terbuka

Kabupaten Bogor 1.470.487 231.561 1.995.032 198.949

Kabupaten Sukabumi 900.258 88.400 958.955 103.443

Kabupaten Cianjur 847.542 112.659 899.502 114.146

Kabupaten Bandung 1.182.854 210.231 1.323.166 173.575

Kabupaten Garut 806.044 99.443 936.552 63.813

Kabupaten Tasikmalaya 763.367 66.563 811.323 41.774

Kabupaten Ciamis 757.136 48.321 748.629 41.766

Kabupaten Kuningan 465.539 49.332 453.382 34.608

Kabupaten Cirebon 811.856 125.242 762.065 145.634

Kabupaten Majalengka 516.818 39.703 557.086 40.057

Kabupaten Sumedang 494.095 48.613 487.639 39.106

Kabupaten Indramayu 661.242 73.869 732.279 61.549

Kabupaten Subang 649.879 66.430 693.303 60.347

Kabupaten Purwakarta 321.647 43.422 375.959 38.354

Kabupaten Karawang 795.700 142.967 917.556 116.365

Kabupaten Bekasi 854.404 130.930 1.107.002 93.375

Kabupaten Bandung Barat 527.311 102.203 583.954 65.557

Kota Bogor 377.388 85.784 383.111 39.417

Kota Sukabumi 118.349 20.922 109.249 14.381

Kota Bandung 952.752 171.659 1.064.167 107.384

Kota Cirebon 127.531 21.113 116.605 16.656

Kota Bekasi 901.041 137.985 977.043 93.676

50,53 22,15

14,02

7,29 2,03 3,97

≤ SD SMTP SMTA Umum SMTA Kejuruan Diploma I/II/III/Akademi Universitas

65,69 34,31

Perkotaan Pedesaan

(5)

Kabupaten/Kota Angkatan Kerja

2008 2012

Penduduk Bekerja

Pengangguran Terbuka

Penduduk Bekerja

Pengangguran Terbuka

Kota Depok 657.050 73.874 750.820 78.089

Kota Cimahi 219.634 36.253 225.763 21.149

Kota Tasikmalaya 234.054 28.531 274.314 20.749

Kota Banjar 66.417 7.574 76.652 5.067

Sumber : Sakernas (Agustus), BPS 2012

Penduduk Bekerja. Jumlah penduduk bekerja di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2013 (Februari) mencapai 18.573.371 orang meningkat dibandingkan tahun 2008 (16.480.395 orang). Penduduk yang bekerja Provinsi sebagian besar tersedia di perkotaan dibandingkan di perdesaan, dengan sektor utama bekerja pada sektor perdagangan hotel dan restoran sebesar 25,08 persen, dan sektor pertanian (21,65%). Sementara dilihat dari pendidikan yang ditamatkan, sebagian besar penduduk bekerja merupakan tamatan sekolah dasar dan menengah. Penyebaran penduduk bekerja tahun 2012 antar kabupaten/kota terbesar di Kabupaten Bogor mencapai 1.995.032jiwa.

Gambar 3:

Distribusi Penduduk Bekerja Menurut Pendidikan dan Lapangan Usaha di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Pendidikan Lapangan Usaha

Sumber : Sakernas (Agustus), BPS 2012

Pengangguran Terbuka. Jumlah pengangguran Terbuka di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2013 (Februari) mencapai 1.815.300 jiwa menurun dibanding tahun 2008 (2.263.584 orang) atau berkurang sebanyak 448.284 jiwa . Sementara untuk perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuks (TPT), TPT Provinsi Jawa Barat tahun 2013 sebesar 8,90 persen menurun dibandingkan TPT tahun sebelumnya (9,08%), dan kondisi TPT Jawa Barat tergolong tinggi dibandingkan terhadap TPT nasional. TPT tahun 2012 antar kabupaten/kota di Jawa Barat terbesar di Kabupaten Cirebon, yaitu sebesar 16,04 persen dan terendah di Kabupaten Tasikmalaya (4,90 %).

50,96 18,04

14,42

8,36 2,44 5,79

≤ SD SMTP SMTA Umum SMTA Kejuruan Diploma I/II/III/Akademi Universitas

21,65

1,04

21,09

0,27 7,03 25,08

5,75 2,70

15,38

Pertanian Pertambangan Industri Listik-gas-Air Bangunan Perdaggngan Angkutan Keuangan Jasa

(6)

Gambar 4:

Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Jawa Barat terhadap Nasional Tahun 2008-2013.

Gambar 5:

Perbandingan Pengangguran Terbuka Kabupaten/Kota terhadap Provinsi dan Nasional Tahun 2012.

Sumber : Sakernas (Februari), BPS 2013

B3. Kondisi Pendidikan

Perkembangan kondisi pendidikan menurut indikator Angka Melek Huruf (AMH), Rata-rata Lama Sekolah (RLS), dan Angka Partisipasi Sekolah (APS), secara umum kondisi pendidikan di Provinsi Jawa Barat menunjukkan perbaikan dalam lima tahun terakhir (2005-2011). Pada tahun 2011 Angka Melek Huruf mencapai 96,29% berada diatas rata-rata nasional. Sementara untuk AMH mencapai 96,29 persen lebih tinggi dari AMH nasional (92,99%), dengan AMH tertinggi di Kota Cimahi (99,74%) dan terendah di Kabupaten Indramayu (85,66%).

Gambar 6:

Perkembangan Angka Melek Huruf Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2011, (%)

Gambar 7:

Perbandingan Angka Melek Huruf Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2011, (%)

Sumber: BPS 2010

Sementara indikator pendidikan menurut RLS, pada tahun 2011 Rata-rata Lama Sekolah mencapai 8,06 tahun berada diatas rata-rata nasional (7,94 tahun). Sementara untuk perbandingan RLS antar kabupaten/kota di Jawa Barat, RLS tertinggi di Kota Depok (10,97 tahun) dan terendah Kabupaten Indramayu (5,95 tahun).

12,08 10,96

10,33 9,83

9,08 8,90 8,39

7,87 7,14

6,56

6,14 5,92

4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00 10,00 11,00 12,00 13,00

2008 2009 2010 2011 2012 2013 (Feb)

Persen

Jawa Barat Indonesia

16,04

9,08 6,14 0,00

2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 18,00

BOGOR SUKABUMI CIANJUR BANDUNG GARUT TASIKMALAYA CIAMIS KUNINGAN CIREBON MAJALENGKA SUMEDANG INDRAMAYU SUBANG PURWAKARTA KARAWANG BEKASI BANDUNG BARAT KOTA BOGOR KOTA SUKABUMI KOTA BANDUNG KOTA CIREBON KOTA BEKASI KOTA DEPOK KOTA CIMAHI KOTA TASIKMALAYA KOTA BANJAR

TPT_Kab/Kota TPT_Jawa Barat TPT_Nasional

94,61 94,91 95,32 95,53

95,98 96,18 96,29

90,90 91,45 91,87 92,19 92,58 92,91 92,99

88,00 89,00 90,00 91,00 92,00 93,00 94,00 95,00 96,00 97,00

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

%

AMH_JAWA BARAT AMH_NASIONAL

96,29 92,99

75,00 80,00 85,00 90,00 95,00 100,00 105,00

Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Kab Bandung Barat Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar

AMH_Kab/Kota AMH_Jawa Barat AMH_Nasional

(7)

Gambar 8:

Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Provinsi Jawa BaratTahun 2005-2011, (Tahun)

Gambar 9:

Perbandingan Angka Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa BaratTahun 2011,

(Tahun)

Sumber: BPS, Tahun 2011

B4. Kesehatan

Perkembangan derajat kesehatan penduduk antarprovinsi di wilayah Jawa Barat selama periode terakhir menunjukkan kondisi perbaikan, yang diindikasikan oleh menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB), dan meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH). Kondisi ini sejalan dengan perkembangan perbaikan kondisi kesehatan secara nasional yang cenderung terus membaik.

Angka Kematian Jawa Barat (AKB), Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), kondisi AKB menunjukan perbaikan dalam lima tahun terakhir (2005-2010), AKB tahun 2010 sebesar 25,6 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Namun kondisi AKB Provinsi Jawa Barat masih tergolong tinggi dan berada di atas rata-rata AKB nasional.

Status Gizi Jawa Barat, Kondisi kesehatan masyarakat berdasarkan indikator status gizi Jawa Barat, merupakan gangguan pertumbuhan bayi yang terjadi sejak usia dini (4 bulan) yang ditandai dengan rendahnya berat badan dan tinggi badan, dan terus berlanjut sampai usia Jawa Barat. Hal tersebut terutama disebabkan rendahnya status gizi ibu hamil. Perkembangan status gizi Jawa Barat untuk persentase Jawa Barat gizi buruk/kurang menurun pada tahun 2010 dibandingkan tahun 2007, dan lebih rendah dibandingkan nasional

Gambar 10:

Perkembangan Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Barat terhadap Nasional 2005-2010

Gambar 11:

Perkembangan Status Gizi Jawa Baratta Provinsi Jawa Barat terhadap Nasional 2007 dan 2010

Sumber: BPS, Tahun 2011

7,35 7,50 7,50 7,50 7,72

8,02 8,06

7,30 7,40 7,47 7,52 7,72 7,92 7,94

6,00 6,50 7,00 7,50 8,00 8,50

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Tahun

RLS_JAWA BARAT RLS_Nasional

8,06 7,94

0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00

Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Kab Bandung Barat Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar

Tahun RLS_Kab/Kota RLS_Jabar

29,50 28,70 27,90 27,10 26,30 25,6

28,90 28,20 27,50 26,80 26,20 25,5

5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00

2005 2006 2007 2008 2009 2010

Jawa Barat AKB_INDONESIA

3,7

11,3

15,0

3,1

9,9

13,0

4,9

13,0

17,9

0,0 5,0 10,0 15,0 20,0

Gizi Buruk (%) Gizi Kurang (%) Gizi Buruk/

Kurang

2007 2010 Nasional 2010

JAWA BARAT

(8)

Angka Harapan Hidup (AHH), perkembangan AHH Provinsi Jawa Barat dan kabupeten/kota dalam lima tahun terakhir meningkat, sejalan dengan perkembangan AHH secara nasional. AHH Provinsi Jawa Barat tahun 2011 mencapai 68,40 tahun masih lebih rendah dibandingkan terhadap AHH nasional. Sementara untuk perbandingan AHH antar kabupaten/kota taun 2011 di Provinsi Jawa Barat, AHH tertinggi berada di Kota Depok sebesar 73,22 tahun lebih tinggi dari AHH provinsi dan nasional, dan terendah di Kabupaten Cirebon (65,41 tahun).

Gambar 12:

Perkembangan Angka Harapan Hidup Provinsi Jawa BaratTahun 2005-2011, (Tahun)

Gambar 13:

Perbandingan Angka Harapan Hidup Kabupeten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2011, (Tahun)

Sumber: BPS, Tahun 2011

Indikator kesehatan lainnya yang menggambarkan kinerja dari pelayanan kesehatan bagi masyarakat adalah kondisi kesehatan ibu dan bayi yang berkaitan dengan proses melahirkan. Kondisi ini dapat ditunjukkan melalui data persentase kelahiran Jawa Barat menurut penolong kelahiran terakhir. Perkembangan dari persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga medis dalam lima tahun terakhir di Provinsi Jawa Barat terus meningkat dan lebih rendah dari angka nasional.

Gambar 14:

Perkembangan Persentase Kelahiran Jawa Barat Ditolong Tenaga Menis terhadap Nasional Tahun 2004-2011

Sumber: BPS, Tahun 2011

67,23 67,40 67,60 67,80 68,00 68,20 68,40 68,08

68,47 68,70

69,00 69,21 69,43 69,65

66,00 66,50 67,00 67,50 68,00 68,50 69,00 69,50 70,00

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 tahun

AHH_JAWA BARAT AHH_NASIONAL

68,40 69,65

60,00 62,00 64,00 66,00 68,00 70,00 72,00 74,00

Bogor Cianjur Garut Ciamis Cirebon Sumedang Subang Karawang Kab Bandung Barat Kota Sukabumi Kota Cirebon Kota Depok Kota Tasikmalaya

AHH_Kab/Kota AHH_Jawa Barat AHH_Nasional

60,51

58,91

62,60 61,79

65,73

70,17

72,63

75,02

71,53 70,47 72,41 72,53

74,87

77,34

79,82 81,25

50,00 55,00 60,00 65,00 70,00 75,00 80,00 85,00

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

%

Jawa Barat Indonesia

(9)

B5. Kondisi Kemiskinan

Perkembangan kemiskinan di Provinsi Jawa Barat dalam kurun waktu 2008-2013, secara absolut terjadi penurunan sebesar 1.025,36 ribu jiwa, dengan jumlah penduduk miskin tahun 2013 (Maret) sebesar 4.297 ribu jiwa. Seperti halnya dengan kondisi tingkat kemiskinan dari tahun 2008-2013 mengalami penurunan dan hingga akhir tahun persentase tingkat kemiskinan Jawa Barat mencapai 9,52%, kondisi kemiskinan Provinsi Jawa Barat masih tergolong rendah jika dibandingkan terhadap rata-rata kemiskinan nasional (11,37%).

Gambar 15:

Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Kemiskinan Provinsi Jawa Barat terhadap Nasional Tahun 2008-2013.

Sumber: BPS, Tahun 2013

Penyebaran penduduk miskin terbesar tahun 2011 terdapat di Kabupaten Bogor yaitu sebanyak 470,50 ribu jiwa dan Garut sebanyak 330,90 ribu jiwa, dan terendah di Kota Banjar sebesar 14,70 ribu jiwa. Sementara untuk penyebaran tingkat kemiskinan tertinggi terdapat di Kota Tasikmalaya sebesar 19,98% dan tingkat kemiskinan terrendah di Kota Depok sebesar 2,75%.

Tabel 4:

Perkembangan Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2006-2011

kabupaten/kota Pendududk Miskin (000) Presentase Kemiskinan (%)

2006 2011 Δ 2006-2011 2006 2011 Δ 2006-2011

Bogor 536,4 470,50 65,90 13,83 9,65 4,18

Sukabumi 384,6 246,10 138,50 17,66 10,28 7,38

Cianjur 415,7 306,60 109,10 19,81 13,82 5,99

Bandung 619,0 292,20 326,80 15,15 8,99 6,16

Garut 434,5 330,90 103,60 19,61 13,47 6,14

Tasikmalaya 331,3 211,60 119,70 20,27 12,36 7,91

Ciamis 244,1 156,30 87,80 16,13 9,98 6,15

Kuningan 196,7 150,30 46,40 18,69 14,20 4,49

Cirebon 434,5 328,60 105,90 21,13 15,56 5,57

Majalengka 255,09 178,60 76,49 21,82 14,98 6,84

Sumedang 154,7 139,40 15,30 15,12 12,48 2,64

Indramayu 351,2 272,10 79,10 20,66 16,01 4,65

5.322,40

4.984 4.774 4.649 4.478 4.297

13,01 11,96 11,27 10,65 9,89 9,52

15,42

14,15

13,33

12,49

11,67 11,37

- 1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00 5.000,00 6.000,00

- 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00

2008 2009 2010 2011 2012 2013

%

Jumlah Penduduk Miskin (000 jiwa) NASIONAL Jawa Barat

(10)

kabupaten/kota Pendududk Miskin (000) Presentase Kemiskinan (%) 2006 2011 Δ 2006-2011 2006 2011 Δ 2006-2011

Subang 261,9 195,50 66,40 18,90 13,06 5,84

Purwakarta 125,0 89,00 36,00 16,34 10,22 6,12

Karawang 321,4 256,70 64,70 16,51 11,80 4,71

Bekasi 154,7 159,50 -4,80 7,58 5,93 1,65

Bandung Barat 219,80 -219,80 14,22 -14,22

Kota Bogor 89,2 88,90 0,30 9,64 9,16 0,48

Kota Sukabumi 24,6 27,30 -2,70 8,2 8,95 -0,75

Kota Bandung 95,2 116,90 -21,70 4,09 4,78 -0,69

Kota Cirebon 27,4 35,00 -7,60 8,7 11,56 -2,86

Kota Bekasi 104,4 145,90 -41,50 5,07 6,12 -1,05

Kota Depok 35,3 48,90 -13,60 2,48 2,75 -0,27

Kota Cimahi 42,2 39,50 2,70 7,41 7,15 0,26

Kota Tasikmalaya 59,5 129,80 -70,30 10,23 19,98 -9,75

Kota Banjar 13,0 14,70 -1,70 7,96 8,21 -0,25

JAWA BARAT 5712,5 4650,80 1061,70 14,49 10,57 3,92

Keterangan: *) data kemiskinan Kabupaten/Kota 2011 belum tersedia Sumber : BPS, Tahun 2011

B6. Perkembangan IPM

Perkembangan IPM Provinsi Jawa Barat dalam kurun waktu 2004-2011 semakin membaik, IPM Provinsi Jawa Barat tahun 2011 mencapai 72,73 masih rendah dibandingkan rata-rata IPM nasional (72,77), dengan ranking IPM Provinsi Jawa Barat tahun 2011 menduduki peringkat ke 16 secara nasional setelah Bali dan peringkat ke 5 di Pulau Jawa+Jawa Barat setelah Bali. Perbandingan IPM antar kabupaten/kota tahun 2011, IPM tertinggi adalah Kota Depok (79,36) dan menduduki peringkat ke-3 secara nasional, dan IPM terrendah adalah Kabupaten Inderamayu yaitu 68,40dan berada diperingkat ke-404 secara nasional.

Gambar 16:

Perkembangan IPM Provinsi dan Nasional Tahun 2004-2011

Gambar 17:

Perbandingan IPM Kabupaten/Kota terhadap dan Nasional, Tahun 2011

Sumber: BPS Tahun 2011

69,13

69,93 70,32 70,71 71,12 71,64

72,29 72,73

68,69 69,57

70,08 70,59

71,17 71,76

72,27 72,77

66,00 67,00 68,00 69,00 70,00 71,00 72,00 73,00 74,00

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAWA BARAT Indonesia

72,77

62,00 64,00 66,00 68,00 70,00 72,00 74,00 76,00 78,00 80,00 82,00

Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Kab Bandung Barat Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar IPM_Kab/Kota IPM_Jabar IPM_Nasional

(11)

C. PEREKONOMIAN DAERAH

C1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB Provinsi Jawa Barat menurut lapangan usaha Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dengan migas tahun tahun 2012 mencapai 946.861 miliar rupiah lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. PDRB ADHB dengan migas Provinsi Jawa Barat menyumbang sebesar 14,07 persen terhadap PDB nasional (33 provinsi).

Sementara untuk PDRB ADHK tahun 2000 dengan migas sebesar , nilai PDRB dengan migas sebesar 23.309 miliar rupiah.

Tabel :

Perkembangan PDRB menurut ADHB dan ADHK Provinsi DI.

Jawa Barat, Tahun 2008-2012. (Miliara Rupiah).

Tahun PDRB ADHB PDRB ADHK

Demgan Migas Tanpa Migas Demgan Migas Tanpa Migas

2008 633.283 596.917 291.206 282.745

2009 689.841 658.041 303.405 294.324

2010 771.594 738.590 322.224 313.191

2011 860.982 824.062 343.111 334.457

2012 946.861 908.450 364.405 356.310 Sumber: BPS tahun 2012

Struktur perekonomian Provinsi Jawa Barat pada tahun 2011, didominasi bersarnya kontribusi dari sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 37,16%, sektor perdagangan, hotel dan restoran (22,58%), dan sektor pertanian (11,98%). Selain ketiga sektor diatas, sektor lainnya yang memiliki kontribusi cukup besar adalah sektor jasa (9,17%), dan sektor pengangkutan dan komunikasi (7,70%)

Gambar 19:

Struktur Perekonomian PDRB ADHB Provinsi Jawa Barat Tahun 2011

Sumber: BPS tahun 2011

Jika dilihat perbandingan nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dengan migas 2011 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat, menunjukan adanya kesenjangan pendapatan yang cukup tinggi, dimana PDRB tertinggi mencapai 106.773 miliar rupiah (Kabupaten Bekasi) dan PDRB terrendah sebesar 1.949 miliar rupiah (Kota Banjar).

11,98

2,02

37,16

2,55 3,99 22,58

7,70 2,84

9,17

1. PERTANIAN

2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 5. BANGUNAN

6. PERDAGANGAN, HOTEL &

RESTORAN

7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS.

PRSH.

9. JASA-JASA

(12)

Tabel 5:

Perkembangan Nilai PDRB ADHB Kabupaten/Kota di Jawa BaratTahun 2011 Tahun 2007-2011. (Rp. miliar)

KABUPATEN/KOTA 2007 2008 2009 2010* 2011**

01 Kab. Bogor 51.280 58.369 66.084 73.801 83.032

02 Kab. Sukabumi 14.597 16.133 17.265 18.595 20.161

03 Kab. Cianjur 13.805 15.497 16.738 18.436 20.573

04 Kab. Bandung 33.320 38.282 41.262 46.092 51.292

05 Kab. Garut 17.715 20.361 22.271 24.845 27.492

06 Kab. Tasikmalaya 9.361 10.474 11.914 12.772 13.932

07 Kab. Ciamis 12.616 14.502 15.841 17.572 19.345

08 Kab. Kuningan 6.095 7.048 8.179 9.132 10.019

09 Kab. Cirebon 12.927 15.565 17.119 19.170 20.983

10 Kab. Majalengka 7.251 8.298 8.994 10.157 10.994

11 Kab. Sumedang 9.035 10.301 11.188 12.266 13.532

12 Kab. Indramayu 34.542 41.528 41.956 46.410 53.045

13 Kab. Subang 12.125 13.542 14.767 15.895 17.121

14 Kab. Purwakarta 11.279 13.216 14.156 15.957 17.496

15 Kab. Karawang 36.131 42.446 48.283 57.260 63.617

16 Kab. Bekasi 74.498 82.978 89.736 97.527 106.773

17 Kab. Bandung Barat 12.362 14.487 15.848 17.544 19.355

71 Kota Bogor 8.568 10.090 11.905 13.909 15.487

72 Kota Sukabumi 3.173 3.698 4.395 5.175 5.921

73 Kota Bandung 50.552 60.444 70.281 82.002 95.613

74 Kota Cirebon 7.677 8.934 9.877 10.931 12.117

75 Kota Bekasi 25.419 29.525 31.475 35.679 40.529

76 Kota Depok 10.599 12.542 14.064 16.145 17.913

77 Kota Cimahi 9.305 10.716 11.684 12.846 14.165

78 Kota Tasikmalaya 6.354 7.151 7.770 8.469 9.275

79 Kota Banjar 1.290 1.434 1.593 1.770 1.949

PROVINSI 528.220 633.283 689.841 771.594 861.006

Catatan:

#) Merupakan Pecahan dari kabupaten yang berada di atasnya

* Angka sementara; ** Angka sangat sementara

Perkembangan ekonomi Jawa Barat dalam tiga tahun terakhir mengalami percepatan, laju pertumbuhan ekonomi tahun 2012 mencapai 6,21% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara untuk pertumbuhan sektor, seluruh sektor tumbuh positif pada tahun 2011 dan sektor dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi serta sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat adalah: sektor pengangkutan dan komunikasi (14,93%), bangunan (14,16%), dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan (13,45%).

\

(13)

Gambar 20:

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Barat terhadap Nasional Tahun 2004-2012, (%)

Sementara untuk pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota, seluruh kabupaten/kota rata-rata tumbuh positif, dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah Kota Bandung dengan laju pertumbuhan sebesar 8,73%, dan pertumbuhan terendah di Kabupaten Sukabumi dengan laju pertumbuhan sebesar 4,07% dan Tasikmalaya dengan laju pertumbuhan ekonomi 4,32%.

Tabel 6:

Laju Pertumbuhan PDRB dengan Migas ADHK 2000 Menurut Kabupaten di Provinsi Jawa Barat Tahun 2007-2011 (persen)

KABUPATEN/KOTA 2007 2008 2009 2010* 2011**

01 Kab. Bogor 6,04 5,58 4,14 5,09 5,96

02 Kab. Sukabumi 3,98 3,90 3,65 4,02 4,07

03 Kab. Cianjur 4,18 4,04 3,93 4,53 4,74

04 Kab. Bandung 5,92 5,30 4,34 5,88 5,94

05 Kab. Garut 4,76 4,69 5,57 5,34 5,48

06 Kab. Tasikmalaya 4,33 4,02 4,15 4,27 4,32

07 Kab. Ciamis 5,01 4,95 4,92 5,07 5,11

08 Kab. Kuningan 4,22 4,28 4,39 4,99 5,43

09 Kab. Cirebon 5,33 4,91 5,03 4,96 5,03

10 Kab. Majalengka 4,87 4,57 4,73 4,59 4,67

11 Kab. Sumedang 4,64 4,58 4,76 4,22 4,82

12 Kab. Indramayu 2,65 4,55 1,87 4,03 4,89

13 Kab. Subang 4,85 4,33 4,63 4,34 4,45

14 Kab. Purwakarta 4,02 4,87 5,28 5,77 6,40

15 Kab. Karawang 6,36 10,84 7,40 9,65 7,39

16 Kab. Bekasi 6,14 6,07 5,04 6,18 6,26

17 Kab. Bandung Barat 5,35 6,95 4,64 5,47 5,75

71 Kota Bogor 8,09 5,98 6,02 6,14 6,19

72 Kota Sukabumi 8,51 5,23 7,03 6,11 6,31

73 Kota Bandung 8,24 8,10 8,40 8,45 8,73

74 Kota Cirebon 6,17 5,64 5,05 3,81 5,93

75 Kota Bekasi 6,44 5,94 4,13 5,84 7,08

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Jawa Barat 4,8 5,60 6,02 6,48 6,21 4,19 6,20 6,48 6,21

Jawa & Bali 5,4 5,75 5,77 6,18 6,02 4,82 6,32 6,64 6,34

Nasional 5,03 5,38 5,19 5,67 5,74 4,77 6,13 6,32 6,23

3 3 4 4 5 5 6 6 7 7

Persen/tahun

(14)

KABUPATEN/KOTA 2007 2008 2009 2010* 2011**

76 Kota Depok 7,04 6,42 6,22 6,36 6,58

77 Kota Cimahi 5,03 4,77 4,63 5,30 5,56

78 Kota Tasikmalaya 5,93 5,70 5,72 5,73 5,81

79 Kota Banjar 4,93 4,82 5,13 5,28 5,35

PROVINSI 6,48 6,21 4,19 6,20 6,48

Sumber: BPS, 2011

PDRB perkapita dengan migas ADHB Provinsi Jawa Barat dan kabupaten/kota dari tahun 2005-2012 meningkat setiap tahunnya, PDRB perkapita tahun 2012 Jawa Barat mencapai sebesar 21.255 ribu/jiwa lebih rendah dari PDRB perkapita nasional (33.748 ribu/jiwa). Sementara untuk perbandingan PDRB perkapita kabupaten/kota di Jawa Barat kecenderungan adanya kesenjangan yang cukup tinggi, dimana sebagian besar kabupaten/kota memiliki PDRB perkapita dibawah rata-rata PDRB perkapita provinsi, dengan PDRB perkapita tertinggi mencapai 40.161 ribu/jiwa terdapat di Kota Cirebon dan terendah sebesar 3.167 ribu/jiwa di Kabupaten tasikmalaya.

Gambar 21:

PDRB Perkapita ADHB Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2012, (Ribu Rupiah)

Gambar 22:

PDRB Perkapita Kabupaten/Kota di Jawa Barat,Tahun 2011

D2. Investasi PMA dan PMDN

Perkembangan realisasi investasi PMA Provinsi Jawa Barat dalam tiga tahun terakhir meningkat , realisasi investasi PMA tahun 2012 tercatat sekitar 4210,70 juta US$ meningkat dibandingkan tahun 2011 (3.839,4 juta US$) atau sekitar 19,72 persen dari total PMA nasional dengan jumlah proyek sebanyak 682 proyek. Sementara untuk perkembangan realisasi investasi PMDN pada tahun 2012 tercatat sebesar 11.383,97 miliar rupiah meningkat dibandingkan tahun PMDN tahun 2011 (11.194,26 miliar rupiah) dengan jumlah Proyek sebanyak 125 proyek.

11.812 12.895

15.192 16.271 17.843

19.645 21.255

12.558 14.892

17.361 21.365

23.881 27.029

30.795 33.748

11.000 16.000 21.000 26.000 31.000 36.000

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 PDRB Perkapita

Jawa Barat Indonesia (PDB)

39.876 40.161

19.646

0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000

Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Bandung Barat Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar

PDRB Perkapita_Kab/Kota PDRB Perkapita_Lampung

(15)

Tabel 7:

Perkembangan Realisasi Investasi PMA dan PMDN Provinsi Jawa Barat Tahun 2010-2012

Tahun PMA PMDN

Juta US$ Proyek Rp. Miliar Proyek

2010 1692,01 595 15.799,85 103

2011 3839,36 825 11.194,26 170

2012 4210,70 682 11.383,97 125

E. PRASARANA WILAYAH

E1. Jaringan Irigasi

Pembangunan jaringan irigasi merupakan langkah strategis dalam mendukung peningkatan produksi pangan, serta dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.Luas Potensial jaringan irigasi diJawa Barat meliputi 936.735 hektar atau 12,7 persen dari jaringan irigasi potensial di Indonesia., Sementara untuk jaringan irigasi terbangun tersier sekitar 770.748 hektar dan luas jaringan irigasi utama sekitar 768.498 hektar.Sementara menurut kewenangan, sekitar 622.550 hektar kewenangan pusat, 136.049 hektar kewenangan provinsi, dan 219.640 hektar kewenangan kabupaten/kota.

E2. Infrastruktur Jalan

Kondisi panjang jalan berdasarkan status pembinaannya tahun 2011 di Provinsi Jawa Barat mencapai 9.630,9 km. Untuk kondisi kualitas jalan menurut kriteria IRI (International Roughness Index), Departemen PU), kualitas jalan nasional tidak mantap di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2011 mencapai 131,44 km yang terdiri dari 7,30 persen kondisi jalan rusak ringan dan 2,43 persen dengan kondisi rusak berat. Sementara untuk kondisi jalan mantap sepanjang 1.219,70 km atau sekitar 90,27 persen kondisi jalan mantap di Jawa Barat.

Berdasarkan rasio panjang jalan dengan luas wilayah yang mengindikasikan kerapatan jalan (Road

Density), kerapatan jalan di Provinsi Jawa Barat sebesar 0,73. Km/Km² lebih tinggi dari kerapatan jalan tingkat

nasional (0,23 Km/Km²). Sementara panjang jalan menurut kondisi permukaan jalan, jalan beraspal di Provinsi Jawa Barat meliputi 88 persen dari total panjang jalan, dan sisanya 9 persen jalan kerikil, persen jalan tanah dan lainnya.

Tabel 8.

Panjang Jalan Menurut Provinsi dan Tingkat Kewenangan Pemerintahan (km)

Provinsi Negara Provinsi Kab / Kota Jumlah

Jawa Barat 9630,9

Sumber : Kementerian Pekerjaan Umum, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi/Kab/Kota

(16)

Tabel 9.

Kondisi Kemantapan Jalan Nasional Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 Berdasarkan Kerataan Permukaan Jalan (IRI) Status : Awal Agustus 2011

Panjang Kepmen PU (km)

Kondisi Permukaan Jalan (km) Kondisi Kemantapan (km)

Kondisi Permukaan Jalan (%) Kondisi Kemantapan (%) Baik Sedang Rusak

Ringan

Rusak Berat

Mantap Tidak Mantap

Baik Sedang Rusak Ringan

Rusak Berat

Mantap Tidak Mantap 1.351,13 850,07 369,62 98,66 32,77 1.219,70 131,44 62,92 27,36 7,30 2,43 90,27 9,73

Sumber: Subdit Informasi dan Komunikasi, Direktorat Bina Program, Bina Marga, Kementrian PU

E3. Jaringan Listrik

Perkembangan jumlah produksi listrik yang dibangkitkan di Provinsi Jawa Barat dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan setiap tahunnya. Jumlah produksi energi listrik tahun 2011 mencapai 12519,99 Gwh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya 6729,85 Gwh.

Gambar 24:

Tenaga Listrik Yang Dibangkitkan Provinsi Jawa Barat

F. POTENSI SUMBERDAYA ALAM F1. Sumber Daya Lahan

Luas kawasan hutan dan perairan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Kawasan Konservasi Perairan tahun 2009 di Wilayah Jawa Barat tercatat sekitar 108475,45 hektar atau 12,9 persen dari total nasional. Proporsi penggunaan kawasan hutan dan perairan terluas adalah kawasan suaka alam dan pelestarian alam seluas108.800 hektar atau sekitar 99,56. Share dari jenis penggunaan hutan lainnya yang cukup besar adalah hutan kawasan suaka dan pelestarian alam seluas 271,34 persen.

23,23

104,47

71,24

86,04

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

0,00 2000,00 4000,00 6000,00 8000,00 10000,00 12000,00 14000,00

2008 2009 2010 2011

Gwh Produksi (Gwh) Perkembangan (%) %

(17)

Tabel 10.

Proporsi Luas Kawasan Hutan di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Kawasan Konservasi Perairan 2009

Jenis Penggunaan Kawasan Luas Persentase

Perairan 108000 99,56

Kws. Hutan 272,34 0,25

Hutan Lindung (ha) 44,76 0,04

Hutan Produksi Terbatas (ha) -

Hutan Produksi (ha) 158,35 0,15

Hutan Produksi yang dapat dikonversi (ha) -

Taman Buru (ha) 0,00

Total 108475,45 100,00

F2. Potensi Pertanian

Sektor pertanian merupakan sektor dominan ketiga terbesar dalam struktur perekonomian jawa barat, setelah sektor industri dan perdagangan.

Pada tahun 2010 luas penen padi mengalami peningkatan disbanding tahun 2009, hal ini diikuti pula oleh hasil produksinya. Untuk padi sawah luas panen mengalami peningkatan sebesar 4,36 persen mengalami kenaikan sebesar 3,17 persen. Padi lading luas panennya mengalami kenaikan sebesar 6,27 persen mengalami kenaikan sebesar 17,04 persen. Hasil per hektar padi megalami kenaikan yaitu sebesar 1,07 kuintal per hektar untuk padi sawah dan 4,88 kuintal per hektar untuk padi lading. Produksi terbesar buah-buahan adalah pisang sebesar 1.090.777 ton.

Penghasil jagung dan ubi kayu terbesar di Jawa Barat di dominasi oleh jamur, disusul kentang sebesar 3.246.717 ton dan 275.101 ton dengan wilayah penyumbang produksi terbesarnya adalah Kabupaten Garut.

F3. Potensi Perikanan dan Kelautan

Di Jawa Barat prospek perikanan tiap tahunnya hampir memperlihatkan angka yang cukup menjajnjikan. Pada tahun 2010, Total produksi ikan hasil penangkapan dan budidaya sebesar 805.200 ton, dengan nilai produksi sebesar 10.878.141.727 juta rupiah.luas areal tambak ikan adalah 4.132,59 ha, luas kolam ikan adalah 33.879,91 ha, luas keramba 5.750 m3, dan luas areal sawah 46.679,45 ha.

F4. Potensi Sumberdaya Mineral

Kebutuhan energi listrik akan terus meningkat sejalan dengan berkembangnya roda pembangunan perekonomian daerah di sektor perindustrian dan bertambahnya penggunaan listrik rumah tangga.

Tahun 2010 jumlah pelanggan listrik sebanyak 8.206.806 dengan daya tersambung 12.985.322.311 VA sedangkan energi listrik yang terjual sebesar 31.555.882.213 kwh.

Tahun 2010 jumlah perusahaan air minum di Jawa Barat sebesar 22 perusahaan dengan kemampuan kapasitas produksi efektif sebesar 675.,9 Lt/detik. Kapasitas produksi potensial adalah sebesar 885,79Lt/detik.

Total produksi air sebesar 400.380.733 m3.

Gambar

Gambar 1   Peta Administrasi

Referensi

Dokumen terkait

berdasarkan Surat Keputusan Yayasan Sandjaja No. Saat ini Universitas Katolik Soegijapranata Semarang memiliki 13 program studi yaitu Arsitek, Sipil, Manajemen,

Peranan polen trap dari bahan bahan plastik dan logam terhadap peningkatan produksi tepung sari lebah adalah salah satu teknologi yang belum terungkap secara

Hasil penelitian ini menunjukkan variabel keaktifan siswa dalam proses pembelajaran mempunyai kontribusi yang lebih tinggi terhadap prestasi belajar mata pelajaran

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa alasan diperbolehkannya, jual beli emas secara tidak tunai dalam fatwa DSN-MUI menafsirkan hadits Nabi Saw tentang

Jika kita membuka langsung situs www.fotografer.net , di halaman muka telah tersedia ulasan kata sambutan, kolom meng-login anggota, nama-nama anggota baru, berbagai foto

Tujuan merancang sebuah antenna J-Pole yang bekerja pada frekuensi 900 MHz dan 1800 MHz dengan polaradiasi J-pole berpolarisasi vertikal dengan arah pancaran yang omnidirectional

Model yang ada hanya dapat dilakukan untuk menilai kinerja industri asam stearat, dan dapat dikembangkan lagi untuk melakukan penilaian terhadap produk sampingan dari industri

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul “SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENEMPATAN POSISI IDEAL PEMAIN SEPAK BOLA MENGGUNAKAN ALGORITMA FUZZY (STUDI