1
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Tujuh Langkah
Menuju Pementasan
Jose Rizal Manua
Pendiri Homeschooling Pertama di Indonesia
Seto Mulyadi
Eksplorasi Perilaku Anak dalam Lukisannya
Mulyana Silihtonggeng
Mainkan Piano dengan Mata Tertutup
Jefri Setiawan
2 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Sejak Dini Kenalkan Seni-Budaya
kepada Anak-anak
Seni teater merupakan suatu kesenian yang berbeda dari kesenian lainnya, karena pada seni teater terkandung aspek seni sastra dan seni teater. Liku-liku kehidupan dipilih dan disusun oleh pengarang berdasarkan alur (plot), karakter, struktur dramatik, dan latar peristiwa agar menimbulkan
ketertarikan dan keharuan.
Kiprah TEATER
Jose Rizal Manua:
Tujuh Langkah Menuju Pementasan
Sudut PANDANG Seto Mulyadi
Orang Pertama yang Memperkenalkan Homeschooling di Indonesia Bahasan UTAMA
13
MEDIA SENI-BUDAYA SEMESTA SENI NOMOR 15 l JULI l 2021 ProFIL
CISV
4
Lensa SENI
5
Edit ORIAL
Nur Malichah Agustin
6
Cerita PENDEK
34
Ekawati: Kambojaku Histori SENI
Komunitas SENI
D Daftar ISI
Artikel BUDAYA
28
Marilah kita fungsikan seni-budaya sebagai benteng identitas bangsa dengan cara melibatkan anak-anak dalam aktivitas seni-budaya Indonesia, agar tumbuh kebanggaan dalam diri mereka menjadi orang Indonesia. Seharusnya perkenalan yang sehat dengan budaya asing bukannya mengubah kita jadi ikut-ikutan asing, tetapi justru menjadikan kita sadar bahwa betapa kita ini indah jika dilihat melalui kacamata mereka, sehingga tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk menjaga dan mempertahankan seni-budaya kita.
Ritmanto Saleh
Pentas Swara Indonesia (Pensi) Nasionalisme yang Kuat di Jiwa Milenial
Anak yang bersekolah di Home- schooling Kak Seto (HSKS) disiapkan menjadi anak yang dapat menggali potensi diri, sehingga dapat berprestasi sesuai dengan minat dan bakat- nya. Anak diharap kan menjadi seseorang yang mampu bertahan dalam kondisi apapun. Karenya Seto memperoleh penghargaan Prestasi Rekor Pemrakarsa Pendiri dan Pengembangan Homeschooling Pertama di Indonesia dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) di Semarang pada Juli 2019.
Segitiga Art Community Hubungan dengan Manusia dan Tuhan Kelompok Segitiga yang berubah nama menjadi Segitiga Art Community ini diketuai Syafril Cotto dan saksi berdirinya adalah Handoyo JJ. Kini bersekretariat di Tebet Barat, Jakarta Selatan.
lPendidikan dan Konsep Seni pada Usia Dini (PAUD dan TK A)
lAT Mahmud Legenda Pendidik Seni Lewat Nyanyian
l Menyusuri Kenangan Majalah (Media) Anak-anak di Indonesia Karya PUISI-PROSA
30
7
l Fanny Jonathans Poyk l Saut Poltak Tambunan
l Ayu Cipta l Kunni Masrohanti l D Zawawi Imron
l Dhenok Kristianti l Norman Adi Satria l Amyrhiby
l Ali Satri Efendi l Shantined
2
25
37
22
2
3
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Hari demi hari akan kita temukan makin bertambah saja alasan kita untuk bangga pada Indonesia.
Belum lama ini seorang anak bangsa telah kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah musik dunia.
l Dokumentasi Krtun - Ireng Halimun
l Dialog Anggota Tubuh - Munadi
Mulyana Silihtonggeng
Geliat SENI RUPA
Latar PESENI
Loka PUSTAKA
69
Kartun HUMORKulik MUSIK Jefri Setiawan Tekad yang Kuat Jadi Kebanggan Bangsa Semasa kecil, Mulyana Silih tonggeng hidup di pedesaan,
daerah Sumedang, Jawa Barat, kegiat an sehari-hari kalau tidak sekolah, mengaji dan bermain. Kegiatan yang pal- ing mengasyikkan yaitu menggambar, mulai dari meng- gambar pemandangan pegu nungan, pedesaan, binatang sampai ke kartun populer pada masa itu.
Konsisten Melukis tentang Dunia Anak
Awam Prakoso
Jadi Pedongeng Gara-gara Bencana
Ragam SENI
58
l Pesta Kesenian Bali XLIII
l Pameran Orkestra dari Timur
l Remy Sylado dan Masyarakat Adat Laman Kinipan
l Jagad Sastra Milenia - Kenang Mitra Yoevita
l Buku Kumpulan Cerpen - Bedah ‘Ruang Tunggu’-nya Maya Sandita
l Situs seide.id Dibesut oleh Belasan Pewarta Senior
l Komunitas Seni Kuflet
l Eky Ario Damar - Jangan Pandang Seni Kriya dengan Sebelah Mata
70
In MEMORIAMl Toeti Heraty Rooseno l Sori Siregar l Jumari HS
l Steven Kaligis l Idran Yusup l Surya Dhama Nasution
l Irmanto Sulaiman l Fuad Alkhar l Edy Suwandi (Oglek)
l Aria Baron Suprayogi
54
Rahartati Bambang Haryo
Penerjemah Cerita Asterix
51
39
Laporan KHUSUS
Sastra Semesta #8, 13 Juni 2021, Taman Benyamin Suaeb Seni-Budaya Diekspresikan di Tengah Jakarta 494 Tahun Seni utuh ekspresi, entah apapun bentuknya,
bagaimanapun caranya, dan dalam kondisi apapun juga.
Minggu, 13 Juni 2021 lalu sejumlah peseni mengarahkan perhatian ke Gedung eks Kodim yang dialihfungsikan menjadi Taman Benyamin Suaeb di bawah manajemen Dinas Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta. Acara Sastra Semesta yang dikoordinasi oleh pelukis Ireng Halimun dalam rangka mewadahi aspirasi dan ekspresi seni ini telah memasuki edisi ke-8.
44
48
Penggemar komik yang saat ini berusia sekitar 50 tahunan biasanya kenal dengan banyak karya novel dan komik impor yang sempat menguasai ruang baca remaja di ‘80-an seperti Tintin, Astérix, Lucky Luke, Iznogoud, dan sebagainya.
Inilah penerjemah cerita Asterix!
4 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
DALAH Children International Summer Villages(CISV) sebuah organisasi nirlaba global yang bertujuan mewujudkan dunia yang lebih adil dan damai. CISV Indonesia membangun persahabatan dan berkegiatan pada komunitas lokal dan global sejak 1991 dan tahun ini CISV Indonesia memasuki usianya yang ke-30.
Pada beberapa kegiatan lokalnya, CISV menggandeng Like Minded Organization (LMO), baik itu sebagai narasumber atau penerima manfaat. Kali ini dia ber- kola borasi dengan Thalassemia Movement, suatu organisasi nirlaba yang didirikan oleh para penyintas Thalassemia untuk melakukan edukasi bagi awam bagaimana mencegah peningkatan jumlah penderita Thalassemia dan membantu memotivasi teman-teman Thalassemia di Indonesia.
Tahun ini merupakan saat yang teramat sulit bagi para penyintasnya. Kebutuhan inti dari para penyintas akan darah, menjadi lebih sulit diperoleh karena pandemi.
Untuk mewujudkan kepedulian para anggota CISV Indonesia, sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke-30, maka kami menggelar berbagai aktivitas yang melibatkan Thalassemia Movement, yang terdiri dari beberapa kegiatan, mulai dari webinar pengembangan
karakter, kuliner, traveling, olahraga, sampai dengan berkesenian.
Satu di antara kegiatan yang bertajuk Color Me Bag sebagai upaya untuk memberikan aktivitas seni bagi peserta dan men- dorong kreativitas. Kegiatan ini dipandu oleh Agus, yang meng ajarkan proses mewar- nai tas bergambar maskot 30th CISV Indonesia Anniver-
A
CISV Indonesia untuk Thalassemia Movement Ulang Tahun CISV Indonesia yang ke-30
Profil
ren tang usia yang cukup lebar, mulai dari 9 hingga 60 tahun. Bukan saja bapak, ibu, dan anak-anaknya, tetapi juga terlibat seorang nenek dan cucunya yang menjadi- kan ajang ini sebagai quality time keluarga. Peserta juga bukan hanya dari Jakarta, tetapi juga berasal dari Kepulauan Seribu dan ada Ralien, penyintas Thalassemia
berusia 13 tahun, dari Kalimantan Timur sebagai peser- ta terjauh. Mereka mengungkapkan kegembiraannya kepada panitia pelaksana sesi ini, Iwed, dengan mengi- rimkan pesan singkat: kesannya seru, suasananya menyenangkan, happy, enjoy, dan menambah ilmu.
Acara ini dinilai sukses dengan adanya permintaan dari berbagai pihak untuk mengadakan acara seperti itu lagi, membuktikan antusiasme yang harus diako- modasi. Oleh karena itu panitia segera membuat link pendaf taran untuk memesan Color Me Bag Kit dan tutorial video bagi mereka yang masih penasaran dan ingin mengambil bagian dalam kegiatan sosial ini, bisa segera mengunjungi: https://bit.ly/CMBKitVid
Sampai saat ini dari total 8 kegiatan, kami telah menye- lenggarakan 3 acara, masih ada 5 kegiatan lagi yang bisa diikuti oleh masyarakat. Peminat dapat mengun- jungi dan mendaftarkan diri ke website mereka di https://cisv-indonesia.org/ khusus untuk kegiatan Virtu- al Ride & Run dan untuk kegiatan yang lain: https://bit.
ly/CISVWEBINARSFORALL.
Seluruh hasil kegiatan ini ditujukan untuk pengumpul- an dana bagi Thalassemia Movement. Ayo berkontri- busi di acara yang edukatif dan menarik ini!
Ritma Andantina
sary, yang sudah ber- langsung secara daring pada Sabtu, 19 Juni 2021.
Sebanyak 50 peserta ikut memeriahkan acara tersebut dengan
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
5
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Lensa Seni
l Karya : Nur Malichah Agustinl Judul : Belajar Membatik
l Kamera : Canon
l Lokasi : Rumah Puspo, Kampung Sawah, Ciputat, Tangsel
l Waktu : Maret 2015
5
Semesta Seni l Nomor 15 l Juli l 2021
6 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
ITA adalah bangsa yang kaya sekaligus indah sehingga membuatbanyak orang di seluruh dunia berdatangan, mulai dari yang cuma singgah sampai yang berniat menguasai dan merampok kekayaan kita, bahkan juga merusak keindahannya. Sejarah mengajarkan bahwa bersikap ramah dan bersahabat itu baik, namun sebaliknya juga berbahaya karena bermuara pada penderitaan panjang selama berabad-abad.
Sebagai manusia yang bernalar, tentunya kita tak ingin mengulangi kesalahan yang sangat mahal itu. Di sinilah rasa bangga akan seni-budaya sendiri memainkan peran penting. Dunia memang terus bergerak maju dan semakin cepat dengan sains-teknologi sebagai panglima. Namun bukan berarti bahwa seni-budaya harus menjadi usang. Perkembangan sains- teknologi yang bijak seharusnya membawa seni-budaya ikut bergerak maju pula. Kepada siapakah tongkat estafet peradaban yang di dalamnya terdapat seni-budaya akan diserahkan selain kepada anak-cucu kita?
Kecanggihan perkembangan teknologi semakin membuat kita ternganga.
Belum lagi kecepatan anak-anak kita dalam mengikuti perkembangan tersebut. Anak-anak balita yang sudah bisa mengunggah video buatannya sendiri dan viral sudah tidak aneh lagi. Merekalah agen-agen terbaik bagi perkembangan seni-budaya kita. Namun perlu diingat, dalam diri mereka haruslah sudah tertancap akar berupa kebanggaan akan seni-budaya kita sendiri. Bukan impor. Memperkenalkan seni-budaya Indonesia kepada generasi milenial seharusnya lebih mudah karena zaman sudah lebih canggih, tetapi pada kenyataannya tidak demikian, sebab bersamaan dengan itu datang pula serbuan informasi yang masif dan tanpa saringan.
Informasi seni-budaya yang sedianya kita sampaikan kepada anak-anak harus bersaing dengan informasi lain yang tak selalu penting tetapi hampir selalu lebih menarik baginya. Bagaimana mereka bisa mengenal dan bangga akan musik tradisional ketika gempuran K-Pop sedemikian gencar setiap hari? Apalagi jika mereka tiap hari main bareng game online, si ibu pecandu drakor, si ayah senang dalam kegiatan yang tak bermanfaat dan hanya buang-buang waktu. Harap eling, kita sudah punya Pancasila, UUD’45, Bendera Merah-Putih, Garuda, dan Bhinneka Tunggal Ika yang susah-payah dirumuskan oleh para bapak bangsa dengan taruhan nyawa.
Semua ini sekarang sedang terjadi, kita jangan diam. Marilah kita fungsikan seni-budaya sebagai benteng identitas bangsa dengan cara melibatkan anak-anak dalam aktivitas seni-budaya Indonesia, agar tumbuh kebanggaan dalam diri mereka menjadi orang Indonesia. Seharusnya perkenalan yang sehat dengan budaya asing bukannya mengubah kita jadi ikut-ikutan asing, tetapi justru menjadikan kita sadar bahwa betapa kita ini indah jika dilihat melalui kacamata mereka, sehingga tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk menjaga dan mempertahankan seni-budaya kita.
Ritmanto Saleh Redaktur Musik
Sejak Dini
Kenalkan Seni-Budaya
kepada Anak-anak
D Editorial
PELINDUNG
Iwan Henry Wardhana, SE, MSiP, CBA Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta PENASIHAT
Mayjen TNI (Purn) Dr Syamsu Djalal, SH, MH Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana, MSi PEMIMPIN UMUM
Halimah Munawir PEMIMPIN REDAKSI Ireng Halimun
PEMIMPIN MANAJEMEN Imanuel Prabowo DIREKTUR KEUANGAN Dyah Kencono Puspito Dewi SEKRETARIS REDAKSI Diana Prima Resmana REDAKTUR
Wahyu Toveng Ritmanto Saleh Ossie Helmi Rini Intama
BIDANG TEKNOLOGI INFORMATIKA Rama
FOTOGRAFER Tutut Adinegoro
ALAMAT
l Pasar Seni Gembrong Baru, Ruang 151, Jln Basuki Rahmat, Cipinang, Jakarta Timur
l Jln Basuki Rahmat No 44 D, Jatinegara, Jakarta Timur
PONSEL/ WA
l 0859 599 01 299 (IH)
l 0811 1119 803 (WT)
[email protected] MANAJEMEN
PT Dian Rimalma Pratama SAMPUL DEPAN Karya Lukis:
Mulyana Silihtonggeng
Redaksi menerima naskah, foto, dan informasi yang berkaitan dengan seni-budaya.
Naskah, foto, dan informasi tersebut akan disunting sesuai dengan misi-visi penerbitan ini.
K
7
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Tujuh Langkah Menuju Pementasan
1. Seni Teater
ENI teater merupakan suatu kesenian yang berbe- da dari kesenian lainnya, karena pada seni teater terkandung dua aspek sekaligus; yang mana satu dengan lainnya merupakan satu kesatuan. Aspek-aspek tersebut merupakan seni sastra dan seni teater. Sebagai seni sastra ia mengandung cerita yang merupakan hasil budi daya manusia yang mencerminkan ungkapan makna kehidupan. Liku-liku kehidupan itu kemudian dipilih dan disusun oleh pengarang berdasarkan alur (plot), karakter, struktur dramatik, dan latar peristiwa agar menimbulkan ketertarikan dan keharuan. Sebagai seni teater, ia adalah suatu pertunjukan yang di dalamnya berpadu unsur-unsur lakon, tarian, nyanyian, seni rupa, musik, dan lain-lain, sehingga dapat menimbulkan kesan yang memukau bagi penontonnya.
Dalam sejarahnya, setiap bangsa memiliki sejarah
teaternya masing-masing. Satu di antara negara yang yang terkenal sejarah teaternya adalah Yunani. Awal dari teater Yunani adalah upacara keagamaan yang kemudian berkembang menjadi seni teater yang kita kenal seka- rang. Sepanjang tiga kurun waktu, Yunani telah mela- hirkan beratus-ratus penulis lakon, empat di antaranya yang paling terkemuka: Aeschylus, Sophocles, Euripides, dan Aristophanes.
Di Asia, khususnya di Indonesia memunyai sejarah teaternya sendiri, yang juga berawal dari upacara-upaca- ra keagamaan. Teater Indonesia yang paling awal adalah Calon Arang, terdapat di Bali (Boen Sri Oemarjati, Bentuk Lakon Dalam Sastra Indonesia, Jakarta: Gunung Agung, 1971, hlm 16). Mengenai sejarah dan perkem- bangan teater dunia, teater Asia, dan teater Indonesia akan diuraikan lebih lanjut.
Kiprah Teater
S Jose Rizal Manua*
7
Semesta Seni l Nomor 15 l Juli l 2021
8 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Kiprah Teater
8 Semesta Seni
lNomor 14
lJuni
l2021
Tujuh Langkah Menuju Pementasan
Tujuh langkah yang dimaksud adalah tujuh kali pertemu- an. Seandainya, latihan teater di sekolah berlangsung se minggu sekali, maka pada minggu ketujuh, peserta didik sudah bisa mementaskan lakon yang dipelajarinya selama tujuh kali pertemuan tersebut. Isu-isu aktual yang dihadapi remaja bisa menjadi topik yang menarik untuk dijadikan tema pementasan.
Sebelum memulai latihan, ada baiknya guru membaca sebuah artikel mengenai dramaturgi di bawah ini:
Dramaturgi
Dramaturgi adalah sebuah teori yang mempelajari seluk-beluk cerita dari naskah, yang di dalamnya ter- da pat studi struktur dramatik, plot atau alur cerita, penokohan dan seting peristiwa. Dengan mempelajari dramaturgi seseorang memunyai pengertian yang men- dalam tentang hubungan antara dunia fiktif dalam per- mainan drama dan dunia realitas. Fasih dalam mengana- lisis naskah berdasarkan keterangan mengenai keadaan masyarakat yang mana naskah tersebut ditulis dalam teori-teori dan praktik melakukan pemeranan untuk mana naskah atau yang bersangkutan telah ditulis. Juga berkemampuan menerapkan analisis tersebut dengan menguji ketepatan karakterisasi dari watak-wataknya;
seperti merinci keluarga watak, latar belakang pendi- dikan watak, lingkungan kehidupan watak, kepribadian watak, perkawinan watak, dan lain-lain, yang diketemu- kan di dalam analisis naskah, dan mengatur konsisten- sinya dengan visi sutradara. Dengan mempelajari dra- maturgi seseorang dirangsang untuk mencari informasi tentang naskah dari periode tertentu dalam sejarah dan menggali latar belakang sosialnya. Istilah dramaturgi dicetuskan oleh pedrama Jerman Gotthold Ephraim Lessing. Sejak 1767 sampai dengan 1770, ia menulis dan menerbitkan serangkaian kritik melalui bukunya yang berjudul Dramaturgi Hamburg (Hamburgische Dramaturgie). Lessing dikenal sebagai bapak dramaturgi modern. Karya lain yang penting dalam tradisi teater Barat adalah karya Aristoteles yang berjudul Poetics (ditulis sekitar 335 SM). Yang sampai sekarang masih dianggap sebagai acuan dunia teater. Dalam buku Poetics, Aristoteles menjabarkan penelitiannya tentang drama tragedi dan komedi. Aristoteles meneliti hampir semua karya penulis Yunani pada masa itu. Kisah tragis me ru- pa kan objek utama penelitiannya. Aristoteles menyan-
jung lakon Oedipus Rex sebagai drama yang pa ling dapat diperhitungkan. Meskipun Aristoteles menga takan bahwa drama adalah bagian dari puisi, namun Aris to- teles menganalisis drama secara keseluruhan. Bukan saja dari naskah, tapi juga hubungan antarwatak, akting, dialog, plot, dan cerita. Nilai-nilai yang dikemukakan Aristoteles dalam mahakarya tersebut dikenal sebagai drama ala Aristoteles atau drama Aristotelian, di mana Deus Ex Machina (karakter imajiner, buatan, peristiwa yang tiba-tiba terjadi atau keajaiban yang timbul sebagai solusi dalam lakon yang memuncak atau plot yang sulit.
Contohnya, dalam kisah Cinderella ada peri yang tiba- tiba muncul ketika dia tidak bisa pergi ke pesta) adalah suatu kelemahan, dan di mana akting harus tersusun berdasarkan sebab-akibat. Ada juga konsep kunci dra- ma tik seperti Anagnorisis (perilaku tak acuh menjadi butuh karena perkembangan cerita) dan katarsis (sensa- si atau efek turut terbawanya alur cerita ke dalam hati atau kejiwaan; perasaan ini seyogianya muncul di hati penonton seusai menonton lakon drama) tertuang da- lam Poetics. Karya Aristoteles ini sampai sekarang masih menjadi acuan dasar pada berbagai petunjukan ataupun kursus-kursus teater dan perfilman.
Jika Aristoteles mengungkapkan dramaturgi dalam artian seni, maka Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Irving Goffman melalui bukunya yang berjudul The Presentation of Self in Everiday Life, meng- gali segala macam perilaku dalam berinteraksi, seperti yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita menampilkan diri sebagaimana se orang aktor me- nampilkan karakter peran dalam sebuah pertunjukan drama.
Jika Aristoteles mengacu pada pertunjuk an drama, maka Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi (pertun- jukan yang terjadi di masyarakat). Goffman menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan da lam kehidupan sehari-hari, yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan.
Tujuan dari presentasi dari diri Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai dengan apa yang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut.
Aktor akan semakin mudah menggiring penonton untuk
8
Semesta Seni l Nomor 15 l Juli l 20219
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021 9
Semesta Seni
lNomor 14
lJuni
l2021
mencapai tujuan dari pertunjukan. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan.
Dalam komunikasi konvensional manusia ber- bicara tentang bagaimana memaksimasi indera verbal dan nonverbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauannya. Maka dalam dramaturgi, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh tentang bagaimana menghayati peran sehing- ga dapat memberikan sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Tujuan dramaturgi bagi Goffman adalah mempelajari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut.
Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut.
Dalam teori dramaturgi dijelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan setiap identitas tersebut merupakan bagian dari kejiwaan (psikologi) yang mandi- ri. Identitas manusia bisa berubah-ubah tergantung dari interaksinya dengan orang lain.
Dalam dramaturgi, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan drama. Manusia adalah aktor yang berusaha menggabungkan karakterisasi personal dan tujuannya kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”.
Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgi, manusia akan mengembangkan perilaku-peri- laku yang mendukung perannya tersebut.
Sebagaimana pertunjukan drama, seorang aktor kehi- dup an juga harus mempersiapkan kelengkapan pertun- jukan. Kelengkapan ini di antaranya memperhitungkan seting, kostum, penggunaan kata (dialog), dan tindak- an nonverbal lain. Hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan dalam mencapai tujuan.
Oleh Goffman, tindakan di atas disebut dalam istilah Im- pression Management. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas
panggung (front stage) dan di belakang pang gung (back stage) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya pe- nonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita.
Perilaku kita dibatasi oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil. Se- dangkan back stage adalah keadaan di mana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku, bagaimana yang harus kita bawakan. Contohnya, seorang teller senan tiasa berpakai an rapi menyambut nasabah dengan ramah, santun, bersikap formal, dan dengan perkataan yang diatur. Tetapi, saat istirahat siang, sang teller bisa bersikap lebih santai, bersenda gurau dengan bahasa gaul dengan temannya atau bersikap tidak formal (ngerumpi, dan sebagainya).
Saat teller menyambut nasabah, merupakan saat front stage baginya (saat pertunjukan). Tanggung jawabnya adalah menyambut nasabah dan memberikan pelayanan kepada nasabah tersebut. Oleh karenanya, perilaku sang teller juga adalah perilaku yang sudah digariskan skenarionya oleh pihak manajemen.
9
Semesta Seni l Nomor 15 l Juli l 2021
10 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
D Kiprah Teater
10
Langkah Pertama
Waktu: Disesuaikan dengan yang ditetapkan oleh sekolah.
Langkah-langkah bagi guru:
1. Bukalah pertemuan dengan menyapa semua peserta didik. Ajaklah peserta didik untuk mengungkapkan siapa dirinya. Tidak hanya menyebutkan nama dan alamat, tapi juga aktivitas, kegemaran, dan lain-lain. Buatlah suasana cair dan menarik.bukalah dengan doa.
2. Berikan penjelasan mengenai teater, seperti; maksud, tujuan, dan membe- berkan segala permasalahan yang akan dibangun menjadi sebuah pemen- tasan.
3. Proses ini akan membutuhkan ruang yang cukup luas untuk bergerak.
Guru dapat memilih lokasi yang cukup lapang sebelum memulai latihan.
4. Melakukan latihan pemanasan; ajaklah peserta didik untuk mengendurkan seluruh anggota tubuh. Memulainya dari mengendurkan otot-otot leher, bahu, pinggang, hingga jari-jari tangan dan jari-jari kaki.
5. Berikutnya, ajaklah peserta didik untuk membuat gerakan-gerakan ima- jiner, seolah-olah mereka berada dalam situasi tertentu. Misalnya, dimulai dengan setiap peserta didik membayangkan dirinya, menghindar dari serangan kumbang; mulai dari kumbang seekor, lalu sepuluh ekor, lima puluh ekor, dan seterusnya. Diakhiri dengan mengekspresikan; setiap peserta didik yang menjadi kumbangnya.
6. Setiap peserta didik membayangkan dirinya, menghindar dari serangan ular; seekor, sepuluh ekor, lima puluh ekor, dan seterusnya. Diakhiri dengan mengekspresikan; setiap peserta didik yang menjadi ularnya.
7. Setiap peserta didik membayangkan dirinya sebagai mobil atau motor, atau kendaraan di arena balap.
8. Pada akhir latihan buatlah evaluasi. Sampaikan bahwa latihan-latihan tersebut di atas, bertujuan untuk membongkar potensi-potensi yang selama ini tersimpan di dalam diri peserta didik. Mengeksplorasi suara dan gerakan yang selama ini tidak lagi pernah dilakukan. Dan perlu diperhatikan, bahwa latihan-latihan di atas, meski akan berlangsung seru dan menyenangkan, tapi umumnya peserta didik cenderung bercanda dan kurang serius. Jadi guru harus selalu mengingatkan tentang konsentrasi dan kesungguhan berekspresi.
Agar peserta didik bergairah dalam ber-teater, latihan teater haruslah menyenangkan. Serius tapi santai.
9. Tutuplah pertemuan dengan doa.
Langkah Kedua
Waktu: Disesuaikan dengan yang ditetapkan oleh sekolah.
Langkah-langkah bagi guru:
1. Guru membuka diskusi mengenai latihan sebelumnya. Membicarakan apa yang harus diperbaiki dari latihan sebelumnya. Mulailah latihan dengan berdoa.
2. Guru dapat memulai dengan latihan pemanasan seperti dalam langkah pertama.
3. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik mengenai isu/ ide yang akan dipentaskan.
4. Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 – 5 orang.
5. Lakukan latihan sebagai berikut:
a. Melakukan latihan pemanasan; mengendurkan seluruh anggota tubuh.
Memulainya dari mengendurkan otot-otot leher, bahu, pinggang, hingga jari-jari tangan dan jari-jari kaki.
b. Guru memilih tema/ topik sederhana.
10 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
11
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021 11
Semesta Seni
lNomor 14
lJuni
l2021
c. Dari setiap kelompok; 1 orang berperan sebagai tokoh protagonis (tokoh baik), 3 orang sebagai tokoh antagonis (tokoh jahat/ penentang), dan yang 1 orang sebagai tokoh penengah. Peserta didik memper - soalkan “tema/ topik” secara spontan dan dalam bentuk improvisasi (misalnya, mengekspresikan:
“saling menyalahkan”, “saling memuji”, “saling mener- tawakan”, dst. Satu orang lawan tiga orangdan se - orang penengah), diimprovisasikan secara bergantian dan dinamis. Peserta didik bisa melakukannya di tempat yang mereka pilih sendiri, atau bergerak dari satu susut ke sudut lain.
d. Guru mengevaluasi dan membuka diskusi secara umum, untuk perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
e. Guru melakukan evaluasi sebelum mengakhiri latihan.
f. Guru menutup latihan dengan berdoa.
Langkah Ketiga
Waktu: Disesuaikan dengan yang ditetapkan oleh seko- lah.
Langkah-langkah bagi guru:
1. Guru membuka diskusi mengenai latihan sebelumnya.
Membicarakan apa yang harus diperbaiki dari latihan sebelumnya. Mulailah latihan dengan berdoa.
2. Guru dapat memulai dengan latihan pemanasan seperti dalam langkah pertama.
3. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik mengenai isu/ ide aktual, yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan memainkannya secara spontan dan dalam bentuk improvisasi.
4. Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 – 5 orang.
5. Lakukan latihan berikut:
a. Melakukan latihan pemanasan; mengendurkan seluruh anggota tubuh. Memulainya dari mengendurkan otot- otot leher, bahu, pinggang, hingga jari-jari tangan dan jari-jari kaki.
b. Guru memilih tema/ topik sederhana.
c. Guru mengajukan beberapa nomor improvisasi.
Kelompok peserta didik memilih salah satu nomor improvisasi yang diajukan guru:
(a). Tema: Saling menggunjingkan.
Tiga orang duduk berjajar. Yang seorang pamit.
Dua yang tinggal menggunjingkan yang pamit.
Mereka pamit bergantian. Improvisasi ini bisa sangat lucu. Guru mengingatkan peserta didik agar menggunakan bahasa yang santun.
(b). Tema: Mencoba memperdayai.
Dua orang mencoba memperdayai seseorang yang memunyai banyak koleksi mainan.
(c). Tema: Mencoba mengatur siasat.
Dua orang mencoba mengatur siasat untuk membela diri atas kesalahan yang mereka lakukan terhadap seseorang.
(d). Dan seterusnya.
d. Guru mengevaluasi dan membuka diskusi secara umum, untuk perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
e. Guru melakukan evaluasi sebelum mengakhiri latihan.
f. Guru menutup latihan dengan berdoa.
Langkah Keempat
Waktu: Disesuaikan dengan yang ditetapkan oleh seko- lah.
Langkah-langkah bagi guru:
1. Pada langkah keempat ini, latihan akan mengarah ke bentuk pementasan. Guru dapat memulai dengan memberikan pengantar tentang bagian-bagian dalam sebuah pementasan sebagaimana yang terdapat dalam bahan bacaan tentang dramaturgi.
2. Sebelum memulai, buatlah evaluasi latihan sebelum - nya. Tidak lupa berdoa.
3. Lakukan latihan pemanasan seperti dalam langkah pertama.
4. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk mendiskusikan lakon apa dan lakon yang bagaimana yang akan dipentaskan.
11
Semesta Seni l
Nomor 15
lJuli
l2021
12 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
D Kiprah Teater
5. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk mendiskusikan dramaturgi apa (lenong, longser, ketoprak, ludruk, arja, kemidi rodat, kondobuleng, dulmuluk, randai, makyong, mamanda, dan lain-lain), atau bentuk teater modern, yang akan digunakan untuk membangun pementasan.
6. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk menonton (baik langsung mau- pun melalui video, pementasan lenong, longser, ke toprak, ludruk, arja, kemidi rodat, kondobuleng, dulmuluk, randai, makyong, mamanda, dan lain-lain) atau pementasan teater modern yang lain untuk nantinya menjadi panduan ketika membangun pementasan.
7. Guru dan peserta didik menentukan pemeran, pemeran pembantu dan pemeran pendukung. Atau siapa saja pemeran protagonis (tokoh utama), siapa saja pemeran antagonis (tokoh yang selalu menghalangi tercapainya cita-cita atau tujuan dari tokoh utama), dan siapa saja pemeran yang akan menengahi pertikaian.
8. Menentukan setting/ latar peristiwa/ tempat (lokasi) kejadian, yang hubungannya dengan tata artistic (tata pentas, tata rias, tata busana, dll.
9. Menentukan musik, suara, dan atmosfir (suara jang - krik, lolong srigala, kokok ayam, deru kenderaan, dll).
10. Menentukan tata gerak atau tari (kalau diperlukan).
11. Mencoba membangun adegan demi adegan secara improvisasi.
12. Melakukan evaluasi sebelum mengakhiri latihan.
13. Menutup latihan dengan doa.
Langkah Kelima
Waktu: Disesuaikan dengan yang ditetapkan oleh seko- lah.
Langkah-langkah bagi guru:
1. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk melakukan evaluasi dari latihan sebelumnya. Tidak lupa berdoa.
2. Guru dapat memulai dengan latihan pemanasan seperti dalam langkah pertama.
3. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk mempraktikkan rangkaian adegan atau rangkaian babak secara menyeluruh dan memperhatikan detil-detilnya.
4. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik agar memerhatikan unsur-unsur penunjang pementasan lainnya; seperti musik, suara, atmosfer, gerak-tari, busana, dll.
5. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk melakukan evaluasi dan men - diskusikan hasil latihan.
6. Menutup latihan dengan doa.
Langkah Keenam
Waktu: Disesuaikan dengan yang ditetapkan oleh sekolah.
Langkah-langkah bagi guru:
1. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk melakukan evaluasi dari latihan sebelumnya. Tidak lupa berdoa.
2. Guru dapat memulai dengan latihan pemanasan seperti dalam langkah pertama.
3. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk mencoba tata rias, tata busana, properti; meja, kursi, dipan, dll, hands-prop; tongkat, sapu, kemoceng, dll. Yang akan digunakan dalam pementasan.
4. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik memainkan adegan atau babak secara utuh, lengkap dengan tata rias, tata busana, hands-prop, properti, set dekor, musik, suara, atmosfer, gerak-tari, dll.
5. Menutup latihan dengan doa.
Langkah Ketujuh
Waktu: Disesuaikan dengan yang ditetapkan oleh sekolah.
Langkah-langkah bagi guru:
1. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk melakukan evaluasi dari latihan sebelumnya. Tidak lupa berdoa.
2. Guru dapat memulai dengan latihan pemanasan seperti dalam langkah pertama.
3. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik memainkan adegan atau babak secara utuh, lengkap dengan tata rias, tata busana, hands-prop, properti, set dekor, musik, suara, atmosfer, gerak-tari, dll.
4. Guru membimbing (mendorong dan mengarahkan) peserta didik untuk melakukan evaluasi dan men- diskusikan hasil latihan terakhir.
5. Menutup latihan dengan doa.
*Penulis adalah pesyair dan sutradara.
12 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
13
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Bahasan Utama Bahasan Utama
Pendidikan dan Konsep Seni pada Usia Dini (PAUD dan TK A)
Kesenian sebagai bagian dari lingkaran besar kehidupan sudah menjadi keseharian dalam gerak langkah peradaban manusia. Kesenian mengakar kuat pada tata cara dan adat-istiadat pada suatu kaum atau masyarakat. Peseni pada umumnya adalah usia remaja atau dewasa. Ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, sehingga semua kegiatan seni dilakukan oleh para remaja ataupun orang dewasa.
EBENARNYA peseni tidak mutlak milik usia rema- ja atau dewasa, karena kalau kita lihat pengertian seni itu sendiri: Seni adalah hasil atau proses kerja dan gagasan manusia, melibatkan kemampuan terampil, kreatif, kepekaan indera, kepekaan hati dan pikir, untuk menghasilkan karya yang memiliki kesan keindahan, keselarasan, dan nilai artistik yang tinggi.
Belajar seni merupakan pemahaman akan estetika dan pengungkapan kembali estetika dalam sebuah karya.
Dalam hal ini melibatkan anak-anak dan menerapkan pendidikan kesenian pada mereka adalah sebagai satu di antara cara untuk membentuk sikap dan kepribadian anak yang meliputi fantasi, sensitivitas, kreativitas, dan ekspresi. Seorang anak dapat berfantasi terhadap hasil karyanya, melalui perasaan anak menuangkan gagasan ke dalam karyanya, ini menjadikan anak memiliki sensiti- vitas, kreativitas, dan mampu mengekspresikan diri melalui karya seni.
Pendidikan seni pada anak dapat menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri dengan baik. Untuk itu pendidikan seni secara dini perlu dilakukan.
Tujuan dan Fungsi Pendidikan Kesenian
1. Mengembangkan sensitivitas, persepsi inderawi pada anak melalui pengalaman yang kreatif sesuai karakter dan jenjang pendidikan.
2. Memberikan stimulus pada anak untuk pertumbuhan ide-ide yang imajinatif dan dapat menemukan ber - bagai gagasan yang kreatif melalui proses eksplorasi kreasi, sesuai minat dan potensi diri yang dimiliki masing-masing anak.
3. Mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan kesenian dengan disiplin ilmu lain melalui berbagai pendekatan keterpaduan dari berbagai karakter.
4. Melatih anak untuk mencintai keindahan, kerapian, dan keteraturan.
5. Memperkenalkan berbagai macam budaya dan kesenian, baik lokal maupun global yang nantinya akan memperkaya karya dan kreativitas mereka.
Pada usia dini,TK dan PAUD, pembelajaran seni lebih mementingkan unsur bermain dan kegembiraan.
Metode pengajarannya pun berbeda dari jenjang pendi- dikan yang lebih tinggi.
Pendidikan kesenian pada usia dini berfokus pada:
S
13
Semesta Seni l Nomor 15 l Juli l 2021
14 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Bahasan Utama
1. Belajar melalui bermain
Belajar dengan cara ini membuat anak lebih mampu menangkap pelajaran yang diberikan.
2. Belajar melalui observasi
Anak belajar dengan mengamati hal hal menarik dan baru, anak akan mudah mengingatnya karena
kepekaan anak masih tinggi.
3. Belajar melalui eksplorasi
Keingintahuan anak yang besar dapat dimaksimasi melalui kegiatan eksplorasi benda-benda yang ada di sekitar.
4. Belajar melalui intimasi
Anak anak akan meniru hal-hal yang ada di sekitar mereka, dengan memberikan pengertian yang baik akan melahirkan ekspresi seni yang menarik.
5. Belajar melalui seni
Ketika anak melakukan kegiatan seni, banyak peng - alaman dan pengetahuan yang mereka peroleh, ini bisa meningkatkan kreativitas dan kemampuan anak dalam mengolah dan mengekspresikan seni.
Mengembangkan potensi diri yang dimiliki anak, men- cakup kepekaan estetik yang berkaitan dengan peng- etahuan artistik, sensitivitas terhadap lingkungan, juga melatih koordinasi antara pikiran, tangan, dan mata.
Konsep pendidikan seni pada TK dan PAUD, bertujuan untuk membantu anak mengekspresikan sesuatu yang mereka lihat, dengar, rasa, dan mengungkapkannya pada sebuah karya seni yang bermakna.
Secara umum pendidikan seni untuk usia dini mencakup 4 fungsi:
1. Fungsi Ekspresi
Anak usia dini, berkesempatan untuk menyatakan perasaan dan pikiran secara bebas dalam bentuk, bunyi, rupa, gerak dan bahasa atau dapat dikombina- sikan sesuai apa yang dieksplorasikan mereka.
2. Fungsi Komunikasi
Anak dapat menyampaikan pesan melalui bunyi, gerak, rupa, dan bahasa.
3. Fungsi pengembangan bakat
Anak-anak dilahirkan sudah dengan kemampuan sendiri, pendidikan seni mengasah dan mengekspolasi kemampuan yang sudah mereka miliki.
4. Fungsi kreativitas
Sebagian besar anak suka bereksplorasi dengan
lingkungan sekitar, imajinasi anak akan terasah ketika menemukan hal-hal baru dan menarik. Kreativitas bukan hanya menjadikan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, tetapi juga mengubah sesuatu dari yang sudah ada menjadi bentuk yang lebih menarik.
Fungsi pembelajaran seni pada anak usia dini adalah pela- jaran yang berpusat pada anak, melalui metode bermain pelajaran seni dapat dimaksimasi, secara ekspresi anak mengungkapkan hal-hal yang baru, anak menjadi lebih kreatif. Kita dapat mengetahui tentang perasaan, emosi, dan pengalaman anak dari karya seninya.
Pada anak usia dini, respons adalah bentuk awal dari kreativitas. Respons belum menunjukkan kreativitas.
Respons adalah merupakan jawaban atas rangsangan yang diberikan, sedangkan kreatif mengandung unsur mencipta, memodifikasi, ataupun menciptakan kembali dalam bentuk yang sederhana.
Pendidikan anak pada usia dini merupakan wahana pendidikan yang sangat fundamental dalam member- ikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap, dan keterampilan pada anak. Keberhasilan pendidikan pada masa dini tersebut merupakan dasar untuk proses pendidikan selanjutnya.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini tergantung pada sistem dan proses pendidikan yang diterapkan.
Mengingat bahwa aspek tumbuh-kembang anak usia dini sangat kompleks, mencakup perkembangan kog-
14 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
15
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
nitif, fisik-psikomotorik, sosial emosional dan moral ke agamaan (spiritual), oleh karena itu pemerintah me- mandang perlu membina aspek- aspek perkembangan tersebut secara profesional dengan melibatkan ahli-ahli yang terkait di lembaga-lembaga PAUD. Pendidikan anak usia dini ( PAUD) merupakan sebuah sistim pen- didikan yang dilakukan pada anak usia 0 sampai dengan 6 tahun. Dengan pendidikan tersebut guru berupaya menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan memberi kegiatan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan anak. Sistem dan model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh para guru.
Dengan kata lain, sistem pembelajaran adalah bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Pada dasarnya, prinsip pembelajaran anak usia dini tidak bisa dilepaskan dari tiga unsur penting, yakni belajar, bermain, dan bernyanyi. Dari ketiganya, sistem pembelajaran bertujuan melibatkan anak agar secara aktif mampu berinteraksi secara langsung melalui media, atau lingkungan yang ada di sekitarnya, yang mampu memberikan manfaat bagi perkembangan fisik dan mentalnya. Untuk mencapai hal tersebut sistem pembelajaran harus disusun secara sistematis, sehingga menjadi wadah yang menyenangkan, menggembirakan dan demokratis. Penggunaan media bermain sebagai jembatan pembelajaran aktif, menjadi hal yang relevan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini.
Sistem pembelajaran anak usia dini juga tidak terle- pas dari interaksi yang selaras dan kuat antara anak, orangtua, dan guru. Interaksi yang dibangun tersebut merupakan faktor yang memengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Berdasarkan modul sistem pembelajaran PAUD yang dibuat oleh Kementeriann Pendidikan, prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam sistem pembelajaran PAUD adalah:
1. Bermain sambil belajar
2. Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak.
3. Pembelajaran berorientasi pada kebutuhan anak.
4. Kreatif dan inovatif
5. Pembelajaran yang didukung oleh lingkungan yang kondusif
6. Menggunakan pembelajaran terpadu
7. Pembelajaran mengembangkan keterampilan hidup 8. Pembelajaran berpusat pada anak
9. Demokratis dan bermakna
Secara alamiah anak sudah memiliki kemampuan seni yang tinggi, mereka memiliki daya imajinasi yang tinggi pula, misalnya anak umur satu tahun sudah mulai mencoret-coret apa saja, walaupun belum membentuk karya seni yang indah, hal ini dikarenakan seni untuk anak-anak berbeda dari seni untuk orang dewasa, karena karakter fisik dan mentalnya berbeda.
Anak-anak sudah mempelajari dan menyerap segala yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Setiap benda yang dimainkan, berfungsi sesuai dengan imajinasi anak.
Pengertian ini sangat penting diperhatikan khususnya dalam melakukan penilaian karya anak didik, supaya hasil kreasi anak tidak diukur menurut selera dan krite- ria keindahan orang dewasa.
Fungsi seni dalam pendidikan berbeda dari fungsi seni dalam profesional. Seni untuk pendidikan difungsikan sebagai media untuk memenuhi fungsi perkembangan anak, baik secara fisik maupun mental, sedang seni dalam kerja profesional difungsikan untuk meningkat- kan kemampuan bidang keahliannya secara profesional.
Menurut Nancy Beal dan Gloria Bley Miller, seni merupakan lakon yang menolong anak-anak memahami dunia mereka. Namun seni melebihi lakon yang akan membuat mereka mengekspesikan pengalaman-peng- alaman dan fantasi-fantasi individu dengan cara-cara konkret dan spontan. Seni “mengundang” anak-anak untuk menyentuh dan melakukan eksperimen-eksperi- men, mengeksplorasi, dan mentransformasi segala hal yang anak-anak jumpai dalam kehidupan sehari-harinya.
Dengan demikian, seni adalah suatu media yang dapat mem bantu anak usia dini menyampaikan ide, perasaan, ke inginan, imajinasi, dan lain-lain yang tidak mampu me reka ungkapkan dengan kata-kata. Seni merupakan hal yang menyenangkan dan memuaskan untuk anak usia dini. Hal ini memungkinkan mereka untuk belajar banyak kete rampilan, menyatakan perasaan diri mereka, meng hargai keindahan, dan memiliki kesenangan pada waktu yang sama.
Pendidik anak usia dini dapat menggunakan kegiatan seni dalam semua aspek lingkungan pelajaran.
15
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
16 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Bahasan Utama
Dalam sistem pembelajaran seni untuk anak usia dini, komponen-komponen seni yang diajarkan mencakup:
1. Menari 2. Bermain musik
3. Seni rupa/ menggambar 1. Menari/ seni tari
Menari adalah aktivitas menggerakkan tubuh, untuk mengekspesikan gagasan, merespons musik, dan men- curahkan perasaan. Menari memiliki tujuan untuk mende- monstrasikan keterampilan motorik, misalnya berlari, meloncat, melompat, dan lain-lain, melatih keseimbangan saat bergerak, menempatkan diri pada peran dan situasi tertentu, dan memahami/ mengikuti instruksi.
Menari sebagai satu di antara kegiatan seni memiliki bentuk, memiliki keragaman jenis. Khusus untuk anak usia dini, gerakan tarian bersifat alami, menyenangkan, dengan gerakan yang sederhana, tidak rumit, dan yang terpenting adalah memerhatikan kondisi fisik dan psikis anak. Tidak boleh memaksakan atau menekan anak untuk melakukan gerakan tari, terlebih menuntut gerakan anak harus sempurna. Hal ini hanya akan membuat kondisi yang buruk dan tidak dapat mengem- bangkan kreativitas mereka.
Kegiatan gerakan kreativitas tari dapat berupa:
- Bergerak bebas mengikuti irama lagu atau instrumen - Bergerak bebas dan menyesuaikan dengan tempo - Bergerak dan berhenti
- Menari dengan menggunakan gerakan hewan, tumbuh an, robot,kendaraan dan lainnya - Menari dengan pola yang bervariasi - Menari dengan gerakan formasi
Secara umum ada dua jenis tari yang diajarkan, tari daerah dan tari modern. Tari daerah diajarkan sebagai media untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Nusantara, khususnya tari kepada anak-anak. Sedang tari modern sebagai bentuk perkembangan tari itu sendiri yang mengikuti tren atau perkembangan yang terjadi.
Kemampuan dasar fisik anak usia dini dapat dikenali dari gerakan keseimbangan, kecepatan, teknik mengendalikan tubuh, ekspresi, dan koordinasi anggota tubuh. Kemam- puan estetika anak bisa dilihat dari kemampuannya mengungkapkan keindahan tari, sedangkan kemampuan dasar kreativitas anak dapat diketahui dari kemampuan- nya membuat gerakan unik dan berbeda, serta kecepa- tannya menyesuaikan diri dengan teman-temannya ketika mereka melakukan kesalahan gerakan waktu menari.
Seni musik/ suara
Musik adalah kombinasi suara atau instrumen untuk memadukan melodi menjadi bunyi yang teratur dan Indah. Bermain musik atau mendengarkan musik adalah satu di antara kegiatan yang digemari anak-anak. Hampir setiap anak akan dengan mudah melakukan kegiatan ini.
Sering kita lihat anak-anak akan berhenti sejenak dari kegiatannya untuk mendengarkan musik, baik dari televisi, radio, atau perangkat elekronik lainnya. Ada pula anak yang dengan asyiknya menyanyikan lagu yang sering mereka dengar, mereka akan bernyanyi ketika bermain, makan, atau menjelang tidur. Bagi anak musik menumbuhkan rasa senang dan gembira.
Ada lima hal yang harus diperhatikan dalam pembelajar- an musik untuk anak usia dini:
1. Mengajarkan anak bernyanyi sesuai melodi 2. Melatih keberanian anak untuk bereksperimen dengan tempo dan kualitas bunyi seperti volume, dinamik (perubahan volume), warna bunyi, atau nada.
3. Melatih keberanian anak untuk berekspresi dan mengungkapkan diri melalui bernyanyi, bergerak, dan bermain instrumen musik sederhana.
4. Memberikan kesempatan pada anak untuk mende - ngarkan musik.
5. Memperkenalkan pada anak beragam jenis musik, musik tradisional dan modern.
Seni rupa/ menggambar
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap dan dinikmati mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Ada beberapa metode dalam seni rupa atau menggambar:
1. Titik/ bintik
Titik/ bintik merupakan unsur seni rupa yang terkecil.
Semua wujud yang dihasilkan dimulai dari titik. Titik dapat pula menjadi pusat perhatian, bila berkumpul dan berbeda warna. Titik yang membesar biasa disebut bintik.
16 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
17
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021 17
Semesta Seni l Nomor 14 l Juni l 2021 2. Garis
Garis adalah goresan atau batas/ limit dari suatu benda, ruang, bidang, warna, tekstur, dan lainnya. Garis memu- nyai dimensi memanjang dan arah tertentu. Garis memunyai berbagai sifat seperti panjang, pendek, lurus, tipis, vertikal, horizontal, melengkung berombak, halus, tebal, miring, patah-patah, dan lainnya. Kesan lain dari garis adalah dapat memberikan kesan gerak, ide simbol dan kode-kode tertentu. Pemanfaatan garis dalam desain diterapkan guna mencapai kesan tertentu, seperti menciptakan kesan kekar, simpel, kuat, dan agung.
3. Bidang
Bidang dalam seni rupa merupakan unsur seni rupa yang terbentuk dari hubungan beberapa garis. Bidang dibatasi oleh kontur dan merupakan dua dimensi, menyatakan permukaan dan memiliki ukuran. Bidang dasar dalam seni rupa di antaranya: bidang segitiga, segiempat, trapesium, lingkaran, oval, dan segi banyak lainnya.
4. Bentuk
Bentuk dalam segi bahasa bisa berarti bangun (shape) atau bentuk plastis (form). Bangun adalah bentuk benda yang polos seperti terlihat oleh mata sekadar menyebut bentuk sifatnya yang bulat, persegi, ornamental, tak teratur, dan sebagainya. Sedang bentuk plastis adalah bentuk benda yang terlihat dan terasa karena adanya unsur nilai (value) dari benda tersebut, seperti lemari.
Lemari hadir dalam satu ruangan bukan sekadar bentuk kotak persegi tapi memunyai peran dan nilai lainnya.
Sifat dan karakteristik dari setiap bentuk dapat mem- berikan kesan-kesan tersendiri, seperti:
1. Bentuk teratur kubus dan persegi, baik dalam dua atau tiga dimensi, memberi kesan statis, stabil dan formal. Bila menjulang tinggi sifatnya agung dan stabil.
2. Bentuk lengkung bulan dan bola, memberi kesan dina- mis, labil, dan bergerak.
3. Bentuk segitiga runcing memberi kesan aktif, energik, tajam, dan mengarah.
Sebagian anak-anak menyukai seni rupa, mereka menikmati proses pencampuran warna-warna ke atas kertas. Bekerja dengan menggunakan material seni, menawarkan anak-anak kesempatan untuk bereksperi- men dengan warna, bentuk, rancangan, dan tekstur.
Dengan demikian mereka bisa mengekspesikan keingin- an dan kreasi mereka. Bagi anak-anak proses mencip- takan adalah yang paling penting, bukan hasil yang mereka buat.
4. Kerajinan tangan (kolase)
Kolase dalam pengertian sederhana adalah penyusunan berbagai macam bahan sebuah media yang diatur.
Biasanya anak-anak memilih dan mengatur potongan
kertas, kain, dan bahan-bahan yang bertekstur dengan meletakkannya di tempat yang mereka suka.
Dunia anak adalah dunia bermain. Bagi seorang anak, bermain adalah kegiatan yang dilakukan setiap hari.
Karena bagi anak hidup adalah bermain, dan bermain adalah hidup.
Pada dasarnya anak usia dini belum bisa membedakan, bermain dan belajar. Anak-anak sangat menikmati permainan, dan mereka akan melakukannya dimanapun dan kapanpun, sehingga bermain sebenarnya adalah cara anak-anak untuk belajar, karena dengan bermainlah anak-anak belajar apa yang ingin mereka ketahui dan pada akhirnya mampu mengetahui dan mengenal lingkungan atau peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
Sistem dan model pembelajaran khususnya pembelajar- an kesenian yang sesuai, yang mengacu pada fisik dan psikis anak-anak usia dini, serta pemahaman yang tepat tentang dunia mereka akan mendatangkan hasil yang maksimal dan sesuai dengan perkembangan umur mereka.
Sistem pembelajaran yang baik, akan menumbuhkem- bangkan potensi dan kreativitas yang ada di dalam diri mereka, yang lebih jauh akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan psikologis dan rasa percaya diri mereka.
Sistem pembelajaran yang baik untuk anak-anak usia dini, akan menjadikan mereka tunas-tunas bangsa yang berkarakter tangguh dan bermental kukuh.
Ossie Helmi - Berbagai sumber
17
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
18 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Bahasan Utama
Dalam industri musik, segmen lagu anak agaknya dianggap tak semenjanjikan lagu pop walaupun sebenarnya potensinya besar baik dilihat dari sisi bisnis maupun sisi- sisi lain seperti kebudayaan, pendidikan, dan sebagainya. Kondisi ini berakibat tak banyak pemusik memilih lagu anak sebagai jalur karirnya.
I antara yang sedikit ini adalah salah satu legenda musik anak Indonesia yaitu AT Mahmud. Pemusik dan pendidik bernama lengkap Masagus Abdullah Mahmud ini lahir di Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar,
Palembang, Sumatera Selatan, 3 Februari 1930 dan meninggal di Jakarta, 6 Juli 2010 pada usia 80 tahun.
AT Mahmud memiliki nama kecil Abdullah yang biasa dipanggil Dola atau Totong. Ibunya bernama Masayu Aisyah dan ayahnya bernama Masagus Mahmud. Ia adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara. Nama pemberian orangtuanya tercatat pada ijazah yang dimilikinya pada sekolah Sjoeritsoe Mizoeho Gakoe-en (sekolah Jepang) pada 1945, sebagai: “Masagus Abdu’llah Mahmoed” yang merupakan pemberian orangtuanya ketika ia lahir. Nama Totong muncul secara kebetulan. Menurut ibunya, ketika ia masih bayi ada tetangga yang berasal dari Sunda sering menggendong dan menimangnya sambil berucap, “...tong!
...otong!” Oleh sang ibu terdengar seperti “Totong”. Sejak saat itu entah mengapa ibunya memanggilnya “Totong”. Nama ini kemudian menjadi panggilan AT Mahmud di lingkungan keluarga dan kerabatnya. Di ijazah setingkat SMP, namanya tertulis “Totong Machmud”. Kemudian nama ini berubah menjadi “Abdullah Totong Mahmud” atau disingkat AT Mahmud seperti yang kita kenal hingga saat ini.
Mahmud masuk Sekolah Rakyat (SR) ketika tinggal di Sembilan Ilir. Setahun kemudian, setelah berumur 7 tahun, ia dipindahkan ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) 24 Ilir. Ada kenangan yang tak dapat dilupakannya tentang guru HIS yang mengajarkan membaca notasi angka. Guru memperkenalkan urutan nada do rendah sampai do tinggi dengan kata-kata do-dol-ga-rut-e-nak-ni-an. Kemudian, urutan nada dinyanyikan kebalikannya, dari nada tinggi turun
AT Mahmud
Legenda Pendidik Seni Lewat Nyanyian
ke nada rendah masih dengan kata-kata kocak e-nak-ni-an- do-dol-ga-rut.
Setelah para murid menguasai tinggi urutan nada lewat latihan kata-kata itu, baik naik atau turun, barulah gurunya mengganti kata-kata dengan notasi musik pada umumnya yang dipakai dalam pelajaran musik, dilanjutkan latihan membaca notasi angka, seperti menyanyikan bermacam jarak nada (interval), bentuk, dan nilai not. Setelah itu, murid-murid baru diberi lagu nyanyian untuk dipelajari dengan lengkap. Cara mempelajari nyanyian demikian sungguh menyenangkan.
Pada 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah pada bala tentara Jepang. Saat itu ia duduk di kelas 5 HIS. Dalam keadaan peralihan kekuasaan pemerintahan itu, ia pindah ke Muaraenim. Di sana, ia dimasukkan ke sekolah eks HIS, yang telah berganti nama menjadi Kanzen Syogakko. Di sinilah ia mulai bermain sandiwara dan mengenal musik.
Di kota ini pula ia berkenalan dengan Ishak Mahmuddin, seorang anggota orkes musik Ming yang terkenal di kota Muaraenim. Ishak kemudian mengajarinya bermain gitar. dan mengarang lagu. Melihat kemampuan Mahmud yang terus meningkat, Ishak pun mengajaknya bergabung dengan Orkes Ming untuk memainkan alat musik ukulele dan bas.
Masa revolusi sepanjang 1945 - 1949 membuat Mahmud tidak bisa bersekolah karena kondisi yang kurang kondusif.
Ia pun mendaftar menjadi anggota Tentara Pelajar. Selama itu hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, juga keluar masuk hutan. Ia termasuk satu di antara yang beruntung karena masih tetap selamat, sementara banyak rekannya yang meninggal dunia.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI, Mahmud pun keluar dari kesatuan Tentara Pelajar. Ia kemudian melanjutkan sekolah dan dinyatakan lulus dari SMU bagian Pertama (SLTP) setelah mengikuti ujian akhir pada 11 - 16 Agustus 1950.
Ketiadaan biaya membuatnya tidak dapat segera melanjutkan pendidikan. Pamannya, Masagus Alwi mengajaknya bekerja di salah satu bank milik Belanda yang masih beroperasi.
D
18 Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
19
Semesta Seni
lNomor 15
lJuli
l2021
Di tempatnya bekerja, ia dapat melihat langsung keramaian lalu-lintas, lalu-lalang kendaraan, pejalan kaki, juga para siswa membawa buku sekolahnya. Pikiran dan perasaannya mulai gelisah. Ia ingin kembali ke sekolah.
Kebetulan di Palembang sedang dibuka Sekolah Guru bagian A (SGA) yang memberi tunjangan belajar bagi siswanya selama tiga tahun, dengan syarat setelah tamat bersedia ditempatkan di mana saja sebagai guru. Ia pun berhenti bekerja di bank dan segera mendaftar sebagai siswa baru di SGA. Selama tiga tahun (1951 - 1953) ia belajar di SGA.
Lulus SGA, ia ditempatkan di Tanjungpinang, Riau, menjadi guru SGB di kota itu. Ia berangkat ke Tanjungpinang dengan pesawat terbang Catalina yang mampu mendarat di permukaan laut. Di dermaga, Kepala SGB menyambut kedatangannya. Ia dibawa ke sebuah hotel tempat tinggalnya selama bertugas di Tanjungpinang. Di luar dugaannya, gaji pegawai di Tanjungpinang dibayar dengan mata uang dolar, bukan rupiah. Dengan gaji dolar, hidup guru dan PNS pada umumnya lebih dari cukup.
Di kota inilah ia berkenalan dengan Mulyani Sumarman, guru Bahasa Inggris SMP Negeri. Menjelang tahun ketiga berada di Tanjungpinang, ia merasa sudah waktunya pindah. Ia ingin ke Jakarta. Ia ingin melanjutkan pendidikan di BI Jurusan Bahasa Inggris dan membangun rumah tangga dengan Mulyani. Ia mengajukan permohonan pindah, dan dikabulkan. Mulyani akan menyusul.
Pada 1956, ia pindah ke Jakarta diangkat menjadi guru di SGB 5 Kebayoran Baru. Kemudian ia mendaftarkan diri pada BI Jurusan Bahasa Inggris. Pada 2 Februari 1958 ia menikah dengan Mulyani yang kemudian diboyongnya ke Jakarta.
Mulyani ditempatkan di SMP 11 Kebayoran Baru yang tepat berhadapan dengan sekolahnya mengajar. Mulyani pun mendaftar diri kembali pada BI Jurusan Bahasa Inggris. Dengan demikian, mereka dapat pergi dan pulang dari mengajar, ataupun kuliah di BI bersama-sama dengan mengendarai sepeda motor. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Ruri Mahmud, Rika Vitrina, dan Revina Ayu.
Setelah menyelesaikan BI Jurusan Bahasa Inggris, 1959, Mahmud dipindahkan mengajar pada SGA Jalan Setiabudi, Jakarta Selatan.
SGA mendididik calon guru Sekolah Dasar. Di sini ia berkenalan dengan Fat dan Meinar, guru seni suara.
Awal 1962, dengan biaya Colombo Plan, ia ditugaskan kuliah di University of Sydney, Australia, guna memperoleh sertifikat mata kuliah The Teaching Of English As A Foreign Language selama satu tahun. Januari 1963 ia mendaftarkan diri pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jakarta untuk melanjutkan pendidikan sampai sarjana. Pada tahun yang sama ia dipindahtugaskan ke Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Jalan Halimun, Jakarta Selatan. Di sini ia seolah menemukan lahan subur untuk mengembangkan bakat musiknya, khususnya mencipta lagu anak-anak. Ia pun meninggalkan kuliah bahasa Inggris, keluar dari FKIP, dan menekuni musik.
SGTK memiliki suasana yang mendorongnya untuk menekuni dunia musik. Pemimpin sekolah sendiri senang pada musik.
Guru seni musik pandai bermain piano dan siswa SGTK turut memberikan dorongan baginya untuk mengarang lagu anak- anak. Tiap kali siswa SGTK melakukan latihan praktik mengajar, ada yang memerlukan lagu dengan tema tertentu menurut tugasnya. Pada masa itu, mencari lagu anak-anak yang sesuai dengan anak-anak agak sulit. Siswa yang memerlukan lagu baru datang kepadanya meminta dibuatkan lagu. Ia pun mencoba. Lagu yang telah dibuat, diajarkan pada anak- anak TK saat praktik mengajar. Ternyata, lagu itu disukai. Hal ini membesarkan hatinya dan membuatnya makin tekun mengarang lagu anak-anak.
Saat tinggal di Kebayoran Baru, Mahmud sering mengajak anaknya bermain ke Taman Puring. Di sana ada ayunan, jungkat-jungkit, dan lapangan yang cukup luas sehingga anak-anak dapat melakukan permainan lain, seperti main lempar bola atau kejar-kejaran. Roike yang saat itu baru berumur 5 tahun senang sekali bermain ayunan. Ia begitu menikmati permainan itu, sementara Mahmud berpesan kepadanya agar berhati-hati agar tidak sampai mengalami kecelakaan. Perasaan Roike dan pesan agar hati-hati itu ia tuangkan ke dalam lagu Main Ayunan.
Inspirasi lagu Pelangi hadir ketika ia mengantar anaknya, Rika, yang masih berusia lima tahun sekolah di TK. Di tengah perjalanan, Rika berteriak, ”Pelangi!” sambil menunjuk ke arah langit. “Perhatian Rika tiba-tiba pada pelangi di tengah keramaian lalu lintas, mengiringi pikiran dan perasaan saya. Mengapa dia tertarik pada pelangi?
Di mana dia pernah melihat pelangi?
Apa yang ingin dikatakannya? Mungkin pelangi pernah dilihat atau dikenalnya pada pelajaran menggambar ketika guru menyuruh menggambar pelangi di sehelai kertas. Sekarang, Rika melihat pelangi di langit yang luas. Begitu besar bentuknya