• Tidak ada hasil yang ditemukan

S{SHI!S IL{TI{,{,N EASIL BELAJAR SISWA MELALUI TffiI}EL. PSMBEfuIJARAN TARI BAMBU I}I KELAS Xl SMA NEGERT I TEI.AGA BIXII LEMBAR TERSETUJUA}I ARTII(EI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "S{SHI!S IL{TI{,{,N EASIL BELAJAR SISWA MELALUI TffiI}EL. PSMBEfuIJARAN TARI BAMBU I}I KELAS Xl SMA NEGERT I TEI.AGA BIXII LEMBAR TERSETUJUA}I ARTII(EI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBAR TERSETUJUA}I

ARTII(EI

S{SHI!S€IL{TI{,{,N EASIL BELAJAR

SISWA

MELALUI

TffiI}EL

PSMBEfuIJARAN TARI BAMBU

I}I

KELAS

Xl

SMA

NEGERT

I

TEI.AGA

BIXII

KABUPATEN GiORONTALO

OIeh

LISFIAWATI

TAI*

Mengetahui

(2)

MENINGKATI{AIIT

IIASIL

BEI,AJAR SISWA

MIIJLL{II

MOI}EI,

PE*lBgtAJAtrAN

TABI

BAM*U

DI

KELAs

x,

sMA

NEGEBI

I

TELAGA

BIRU KABUPATEN G,DRONTALO

Lisuewati Taib', U*man Moontil, Rust*m Tohcpis

ABSTRAK

LISI'{AWATI TAIB. Nim

911

411 119. "I\deningkatkan

Hasil Belajar

Siswa

Melalui

Mdel

Pembelajaran

Tari

Bambu

(Bamboo

Dancing)

Pada

Mata

Pelajaran

Ekonomi

di

Ketas

Xr

SMA

Hegeri

1

Telaga

Biru

Kabupaten

Gorontalo" Skripsi.

Program

$tudi Perka#san

Jrrtrgr

Peadidikaa

Ekonor$i,

Fakultas

Ekonsmi da Bisnis,

Uaiversitas

Hegeri

Gorontalo.

Pdia*biag

1 Bapak

Dr, H,

U*mar

Moouti.rM.Si,

Dan

Pembimbing

2

Bapak

B=saE

fdespi,

S$fr"n{.Si.

Pslaksanaan penelitian

ini

didasarkan pada rumusan masalah apakah dengan menggunakan

m#

pmbelajaran

Tari Bambu dalam proses belajar mengajar hasil belajar siswa

pa&

r*aa

S*jwanekoaami

di

kelas

Xr SMANegeri

1 Telaga

Biru

akaa meningkat.

Paelitian

ini

dilaksanakan

dalam bentuk Peaelitian Tindakan Kelas

€fK),

Subyek

dari

penelitian tindakan kelas

ini

adalah

siswa kelas

Xl

yang berjumlah

26

orang. Variabel

rylieiaa

ssrdiri dari vadabel input,

variabel proses dan variabel

output.

Tatpp

pcrelitian

terdiri

dri

perencanaag pelaksaaaan

tindakan,

pengamatan, analisis daa

refleksi.

Tetdk

pHl€F#.*FEll*r: data

yakni

lembar poagamalan

untuk menilai

keeiata$ guru den sic*va,

**rh

lembar tes untuk rnengnkur peningkata hasil belajar siswa.

Teknik

analisis data dilaksaaken seeera

kuantitatif

pada

setiap

akhir

siklus

pembelajaran dengan menggunakan

data

hasil observasi kegiatan guru dan aktivitas belajar siswa serta

dab

hasil belajar sisua.

Kesiryda*

dari

pnelitian

tindakan kelfls

iai

adalah

menerima hipotesis tindakan

y"ag

dikes*trkqk*rl dalam bab ?, berbunyi:

jika

guru menggunakan model

prnbelajaran kcopmatif

tip

tari

bambu pada kelas

Xt

di

SMA Negeri

1 Tslaga

Biru" m*ka h*sil

beiajar

siswi

akaa dengan

bukti dari hasil

analisis

data:

1)

siswa

yang

memperoleh

trasil

klajar

r{i*las 75 meningkat

dafi

38,46s/o

hasil

observasi

awal

menjadi

51,53yo

pda

hasil

belajar

sifine.

{tatt*

siklus

I,

dan

meningkat

lagi

menjadi

8836%

pada

hasil

klajar

siswa

uat*k

*ikllp

A

2)

hftsil k*giatan

$$u

yang t*rmasuk

Fda

kriteria

sangat

baik

dan baik

meai*gkat

darj 25i/a siklus

I

menjadi 75% pada siklus

II,

Dan

3)

trasil pengpmatan kegiat*n siswa yang

temasuk

pada kategori cukup 72,73a/o pada siklus

I

meningkat menjadi sangat

baik

18,tr8%

p&

*ikt*s

II.

k

I(*E*i

r F{*sil Belajar Siswa daa Model Pembelajaraa Tari bambu

1

Lis*tvgi

Tsib Mah*siswa Jirusari Pendidikan Ekaromi Falriltas Ekalrpmi dffi Bisxis"UHG

?

Dawn Psrdidiksn Ekoaomi den Bisnis,UNG

3

feas?#idikar:

Ekonomi

(3)

PENDAHULUAN

Pendidikan berusaha mengembangkan

potensi

individu

agar mampu

berdiri

sendiri

melalui proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru. Huda (2013:108) dalam bukunya

model-model pembelajaran mengemukakan bahwa tugas utama

guru

adalah mengklarifikasi

makna-makna materi pengajaran yang baru, membedakan makna

dari

dan mendamaikannya dengan pengetahuan yang ada, membuatnya yang relevan dengan siswa secara personal dan

kognitif

serta membantu siswa

untuk

kritis

pada pengetahuan. Dengan demikian siswa pada

idealnya dapat

berpikir

dengan mengajukan pertanyaan dalam merespon materi yang disajikan.

Guru dalam proses belajar mengajar harus menggunakan strategi pengajaran yang tepat karena

hal

tersebut merupakan dukungan terhadap siswa belajar disamping

guru

mengajar. Sasaran

utama penggunaan strategi pembelajaran adalah untuk membantu siswa dalam belajar bekerja

sama, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah baik sifatnya akademik maupun social.

Bentuk

dukungan pembelajaran

yang

dilaksanakan

melalui

proses pengajaran yang

bersifat kooperatif, harus didukung

oleh

ekstensif dan responsive terhadap kebutuhan siswa. Sekolah

perlu

ditunjang oleh perpustakaan yang menyediakan informasi

dari

berbagai media, berbagai informasi referensi yang luas dan banyak. Jadi penggunaan model kooperatif sangatlah menarik, bermanfaat dan konprehensif. Dan model tersebut dapat digunakan untuk semua subjek pelajaran pada siswa, semua tingkat

umur.

Apabila guru dalam pengajaran berkeinginan untuk menekankan proses formulasi yang belum terstruktur dan belum ditetapkan, maka sebagaiknya guru menggunakan model dalam proses pengajaran.

Peran

guru

dalam

mengelola

belajar

mengajar, dapat

mengembangkan berbagai

kreativitas siswa. Langkah

awal

guru adalah merumuskan tujuan

yang

dicapai dalam proses

pembelajaran. Rendahnya

hasil

belajar siswa, disebabkan oleh beberapa

hal,

antara

lain,

baik yang berasal dari siswa, guru maupun sarana dan prasaranayang ada

di

sekolah. Salah satunya

yaitu yang berasal dari guru. Biasanya guru belum sepenuhnya memberikan kesempatan kepada siswa

untuk terlibat

secara

aktif

dalam pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang

belum tepat, dan belum memperhatikan karakter siswa yang ada.

Kenyataan dilapangan dapat ditemui masih banyak siswa yang kurang termotivasi dalam

belajar, sehingga kurang menguasai materi pelajaran dengan

baik,

pada gilirannya partisipasi

(4)

berkomunikasi aktif dalam pembelajaran. Kenyataan tersebut dibuktikan

oleh

hasil belajar siswa yang rendah, yakni dari

jumlah

siswa sebanyak

26

orang, hanya 10 orang atau 38, 46 Yo yang

mendapat ketuntasan belajar sesuai

kriteria

ketuntasan

minimal

(KKM)

yang ditetapkan yakni 75. Sedangkan 16 orang atau 6l,53Yo belum sebagaimana diharapkan.

Hasil

pra

survey

yang

dilakukan

oleh

calon

peneliti,

pada

semester

genap

2014, menunjukkan bahwa, ketidaktuntasan belajar tersebut disebabkan oleh beberapahal antara lain, disebabkan

guru

sangat mendominasi dalam proses pembelajaran, siswa kurang percaya

diri

dalam mengungkapkan pertanyaan, siswa

belum

dapat berpartisipasi secara

aktif

dan

kreatif

dalam proses pembelajaran.

Itulah

sebabnya peneliti merasa termotivasi untuk mengkaji secara ilmiah, yang peneliti rumuskan dalam

judul:

'Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui model Pembelajaran Tari Bambu (Bamboo Dancing) Pada Mata Pelajaran Ekonomi

di

SMA Negeri

1

Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Tari

bambu merupakan strategi kooperatif yang

dikembangkan oleh

Anita

Lie

2002

(dalam Huda

2AB:249)

dari strategi inside outside circle. Model pembelajaran

tari

bamboo

ini

merupakan pengembangan

dan modifikasi dari teknik

lingkaran

kecil

lingkaran

besar.

Di

beberapa kelas, teknik lingkaran

kecil

lingkaran besar sering

kali

tidak bisa dilaksanakan karena kondisi penataan ruang kelas yang tidak menunjang. Tidak ada cukup ruang di dalam kelas untuk membentuk lingkaran dan tidak selalu memungkinkan untuk membawa siswa keluar dari ruang kelas dan belajar

di

alam bebas. Kebanyakan ruang kelas

di

Indonesia memang ditata dengan model klasikaVtradisional. Bahkan, banyak penataan tradisional

ini

bersifat permanen; kursi dan meja

sulit

dipindahkan. Dinamakan

Tari

Bambu karena siswa berjajar dan saling berhadapan dengan model yang

mirip

seperti dua potong bambu yang digunakan dalam Tari Bambu

Filipina

yangjuga populer

di

beberapa daerah

di

Indonesia. Salah satu keunggulan dari teknik

ini

adalah adanya struktur yang

jelas

dan memungkinkan siswa

untuk

saling berbagi

informasi

dengan

singkat dan teratur.

Teknik

ini

juga

memberikan kesempatan

pada

siswa

untuk

mengolah

informasi dan meningkatkan keterampilan komunikasi mereka.

Di

sini,

tari

bambu bisa menjadi alternatif untuk masalah tersebut.

(5)

pengajaran yang

ingin

dicapai, pemilahan model pembelajaran yang belum tepat, rendahnya apersepsi guru dalam mengawali pembelajaran.

Berdasarkan

latar

belakang

dan identifikasi

masalah diatas,

maka

rumusan masalah

dalam penelitian

ini

adalah

"Apakah guru

dalam proses pembelajaran dengan menggunakan

model Pembelajaran kooperatif

Tari

Bambu, dapat meningkatkan hasil Belajar Siswa Kelas X1

Pada Mata Pelajaran Ekonomi

di SMA

1 Negeri Telaga Biru.

Berdasarkan

identifikasi

masalah diatas, maka cara

untuk

mengatasi permasalaharrnya

yaitu

guru dalam proses pengajaran menggunakan strategi pembelajaran, model kooperatif tari

bambu yang sesuai dengan materi yang akan

di

ajarkan pada mata pelajaran Ekonomi. Adapun Langkah-langkah yang dilakukan adalah: 1) Separuh Kelas (atau seperempat

jika jumlah

siswa

terlalu banyak)

berdiri

berjajar didepan kelas

; 2)

Kemungkinan

lain

adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Carayang kedua

ini

akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu yang

relatif

singkat ; 3) Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran

yang

pertama;

4)

Dua

siswa yang

berpasangan

dari

kedua jajaran berbagi informasi;

5) Kemudian, satu atau dua siswa yang berdiri

di

ujung salah satu jajaran pindah keujung lainnya

di

jajarunnya. Jajaran

ini

kemudian bergeser. Dengan

cara

ini,

masing-masing siswa mendapatkan pasangan yang baru untuk berbagi informasi.

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian tindakan kelas

ini

adalah untuk dapat mengetahui apakah dengan penggunaan model pembelajaran Kooperatif tari bambu dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas

Xl

pada mata pelajaran Ekonomi

di

SMA

Negeri 1

Telaga

Biru

KAJIAN TEORI

DAN HIPOTESIS

PENELITIAN

Sudjana (2A09:

3)

mengemukakan bahwa

Hasil

belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Dikatakan bahwa

hasil

belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan

(6)

Darsono (2000:15) menyatakan bahwa

hasil

belajar merupakan kemampuan. Setelah

belajar

siswa

memiliki

ketrampilan, pengetahuan,

sikap dan

nilai.

Timbulnya

nilai

tersebut adalah

dari

stimulasi yang berasal

dari

lingkungan dan proses

kognitif

yang

dilakukan oleh siswa.

Pembelajaran

kooperatif

dikembangkankan

dari teori

belajar kontrutivisme yang lahir

dari gagasan Piaget dan Vitogotsky, menurut Ratna tahun 1988 (dalam Abdul

Majid;

2013: 173),

selanjutnya beliau mengatakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak.

Pembelajaran kooperatif,,

guru

berperan sebagai

fasilitator yang

berfungsi

sebagai

jembatan penghubung kearah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri.

Tari bambu merupakan strategi kooperatif yang dikembangkan oleh Anita

Lie

2002 (dalam

Huda 2013:249) dari

strategi

inside outside

circle. Model

pembelajaran

tari

bamboo

ini

merupakan pengembangan

dan modifikasi dari teknik

lingkaran

kecil

lingkaran

besar.

Di

beberapa kelas, teknik lingkaran kecil lingkaran besar sering

kali

tidak bisa dilaksanakan karena kondisi penataan ruang kelas yang tidak menunjang. Tidak ada cukup ruang di dalam kelas untuk membentuk lingkaran dan tidak selalu memungkinkan untuk membawa siswa keluar dari ruang kelas dan belajar

di

alam bebas. Kebanyakan ruang kelas

di

Indonesia memang ditata dengan model klasikal/tradisional. Bahkan, banyak penataan tradisional

ini

bersifat perrnanen; kursi dan meja

sulit

dipindahkan. Dinamakan

Tari

Bambu karena siswa berjajar dan saling berhadapan dengan model yang

mirip

seperti dua potong bambu yang digunakan dalam Tari Bambu

Filipina

yangjuga populer di beberapa daerah

di

Indonesia. Salah satu keunggulan dari teknik

ini

adalah adanya struktur yang

jelas

dan memungkinkan siswa

untuk

saling berbagi informasi dengan singkat

dan teratur.

Teknik

ini

juga

memberikan kesempatan

pada

siswa

untuk

mengolah

informasi dan meningkatkan keterampilan komunikasi mereka.

Di

sini,

tari

bambu bisa menjadi alternatif untuk masalah tersebut.

(7)

a.

Tari bambu (bamboo dancing)

individu

:

1)

Separuh

kelas (atau

seperempat

jika

jumlah

siswa

terlalu

banyak) berdiri

berjajar di depan kelas.

2)

Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Carayang

kedua

ini

akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu yang relatif singkat.

3)

Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama.

4)

Dua siswa berpasangan dari kedua jajaran berbagi informasi.

5)

Kemudian satu atau dua siswa yang berdiri

di

ujung salah satu jajaran pindah keujung lainnya pada jajaran yang lain sehingga jajaran akan bergeser. Dengan

cara

ini,

masing-masing siswa mendapatkan pasangan

baru

untuk

berbagi informasi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan.

b.

Tari bambu(bamboo dancing) kelompok:

l)

Satu kelompok berdiri disatu jajaran berhadapan dengan kelompok lain.

2)

Kelompok

bergeser seperti prosedur

tari

bambu

individu

di

atas, kemudian mereka pun saling berbagi informasi

Hipotesis dalam peneletian tindakan kelas

ini

adalah

'Jika

guru menggunakan model

pembelajaran

tari

bambu (bamboo dancing) dalam proses pembelajaran, maka hasil belajar siswa kelas

Xl

padamatapelajaran Ekonomi akan meningkat".

METODE PBNELITIAN

Penelitian

ini

merupakan suatu penelitian tindakan kelas

(PTK)

yang akan dilaksanakan

di

SMA Negeri

1 Telaga

Biru

Kabupaten Gorontalo pada semester genap tahun ajaran 2015. Siswa yang dikenai tindakan yaitu siswa kelas

Xr

dengan

jumlah

siswa

26

orang,jumlah siswa

laki-laki

10 orang dan siswa perempuan dengan

jumlah

16 orang. Alasan memilih lokasi

di

SMA

Negeri

1 Telaga

Biru

karena sekolah tersebut merupakan lokasi

PPL-il

dari peneliti, sehingga

peneliti dapat dengan mudah bekerja sama dengan guru Ekonomi.

Adapun

teknik

analisis data dilakukan secara

kualitatif

dan berkesinambungan pada setiap

akhir

siklus pembelajaran. Data yang dianalisis berupa data hasil observasi kegiatan

(8)

Datayang diperoleh akan diolah dan dipresentasikan dengan cara :

Nilai

75

:

jumlah siswa )zang tuntas

X

100yo

Jumlah seluruh siswa

Rata-rata daya serap

:

iumlah skor tercapai

X

100% Jumlah siswa

Nilai

rata-rata

kelas:

jumlah

nilai

seluruh siswa Jumlah siswa

HASIL PENELITIAN

DAN PEMBAHASAN

Dari hasil tindakan kelas pada siklus

I

menunjukan bahwa pengamatan terhadap kegiatan

guru

dari

12 aspek yang diamati, kualifikasinya

3

aspek

(25%)

memperoleh

kriteria baik,

6

aspek (50%) yang mencapai kriteria cukup, 3 aspek (25%) yang memperoleh kriteria kurang dan

0

aspek

(lYo)

yang memperoleh

kriteria

tidak baik.

Selanjutnya

untuk

pengamatan terhadap kegiatan siswa

dari

11 aspek yang diamati, kualifikasinya adalah sebagai berikut

:

diperoleh 8

aspek (72.73%)

yang

memperoleh

kriteria

cukup dan

3

aspek (27.27%)

yang

memperoleh

kriteria kurang.

Pada tahap selanjutnya

untuk hasil'belajar

siswa diperoleh

hasil

sebagai

berikut,

dari

jumlah

siswa yang memperoleh

nilai

75 keatas sebanyak 16 (6L.54%) orang, dan siswa yang memperoleh dibawah 75 berjumlah 10 orang atau (38.46%o), serta daya serap 70.65%.

Berbagai kekurangan yang terdapatpada siklus

I

selanjutnya disempurnakan pada siklus

2

dengan cara memperbaiki dan meningkatkan hasil yang telah dicapai pada siklus

I,

setelah dilakukan siklus

2

temyata

terjadi

peningkatan dari berbagai aspek yaitu terjadi perubahan dan

kemajuan pada kegiatan guru, siswa dan hasil belajar siswa tersebut. Pada hasil kegiatan guru

(9)

baik, 9 aspek

(81.82W

yang memperoleh kriteria baik, 0 aspek yang memperoleh cukup,kriteria kurang dan tidak baik,

dari

11 kriteria yang

di

amati. Sedangkan untuk hasil belajar siswa pada siklus

2 iniyang

memperoleh

nilai

75 keatas

dari

?6 siswa,

yaitu23

orang (88.46%), dan siswa yang memperoleh

nilai

dibawah 75 berjumlah 3 orang atau (11-54%). Carayang ditempuh oleh

peneliti untuk menindak

lanjuti

siswa yang belum tuntas yakni sebanyak

3

orang, mereka akan

diadakan remedial

dan

penambahan

tugas

sesuai

materi yang telah

diajarkan.

Untuk

lebih jelasnya dapat

dilihat

pada lampiran. Peningkatan hasil belajar

ini

dapat

dilihat

bahwa melalui

model pembelajaran tari bambu dimana siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan

yang

berbeda dalam

waktu

singkat

secara teratur.

Hal

ini

sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Isjoni (2009:35) mengemukakan bahwa dengan melaksanakan model pembelajaran

tari

bambu, siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, disamping itu

juga

dapat melatih siswa untuk

memiliki

ketrampilan, baik ketrampilan berpikir

(thingking

skill),

maupun ketrampilan sosial

(social

skill),

seperti ketrampilan

untuk mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain, bekerja sama, rasa setia

kawan,

dan

mengurangi

timbulnya

perilaku yang

menyimpang

dalam kehidupan

dikelas.

Walaupun

hasil

belajar siswa telah

mengalami

peningkatan,

tetapi masih

memerlukan pengembangan lebih lanjut.

Ini

disebabkan dalam pembelajaran masih ada beberapa siswa yang hasil belajarnya dibawah 75.

Berdasarkan garnbaran diatas ternyata model pembelajaran kooperatif tipe tari bambu

ini

memiliki

dampak

yang begitu

besar teriradap peningkatan

hasil

belajar

siswa

pada

mata pelajaran. Hal

ini

dapat dilihat pada dampak perubahan dari siswa yaitu

:

1) siswa menjadi lebih berpartisipasi pada proses belajar mengajar , 2) komunikasi 2 arah itu tercipta, 3) siswa menjadi

aktif

dalam bertanya dan memberikan jawaban,

4)

daya serap siswa dalam menerima materi meningkat, 5) siswa menjadi berani tampil di depan kelas, 6) rasa kerjasama semakin meningkat

serta hasil belajar siswa menjadi meningkat. Oleh karena itu berdasarkan hipotesis tindakan yang telah peneliti rumuskan sebagai berikut

"

jika guru menggunakan model pembelajaran kooperatif

tipe

tari

bambu pada kelas

Xt

di

SMA Negeri

1 Telaga

Biru

maka

hasil

belajar siswa akan

(10)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebanyak dua siklus yang didasarkan pada

hasil

analisis data diatas, maka hipotesis penelitian yang berbunyi

'Jika

guru

menggunakan

model pembelajaran

kooperatif

tipe tari

bambu pada kelas

Xl

di

SMA Negeri

1 Telaga

Biru

Kabupaten Gorontalo, maka hasil belajar siswa akan meningkat, dapat diterima.

DAFTAR

PUSTAKA

Huda,

Miftahul. 2013.

Model-model Pengajaran

Dan

Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sudjana,Nana.

2A09.

Penilaian

Hasil

Proses

Belajar

Mengajar. Bandung

:

PT

Remaja Rosdakarya

Dimyati

&

Mudjiono.

2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakartsa:Rineka Cipta

Darsono, Max.2000- Belajar Dan Pembelajaran. Semarang,

IKIP

semarang press

Majid Abdul.

2A13. Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.

Referensi

Dokumen terkait

a. Setiap butir skala minat yang terkumpul kemudian dihitung menggunakan cara analisis tingkat persetujuan. Setelah pelaksanaan postest, siswa langsung diberikan

Skripsi yang berjudul “ Peran Kebijakan Bisnis Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada Kongbox Kafe , Medan” ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk

Setelah mempelajari pengetahuan faktor penyebab pada kerusakan mesin rajut bundar, manfaat apa yang anda peroleh dari pengetahuan tersebut sebagai kesiapan menjadi

Hasil dari pengujian hipotesis mengindikasikan bahwa customer capital yang dimiliki oleh PT BPR Setia Karib Abadi Semarang telah digunakan secara optimal dan memiliki

Bahan: Plastik translusent (Polyethylene), diameter 30 mm, tinggi 50 mm. Tabung berpenutup, berisi beban berupa butiran-butiran timah hitam/peluru senjata angin/bola baja yang

Analisis data kualitatif (Bogdan & Biklen, 1982) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi

UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO. KELOMPOK KERJA

Dari referensi-referensi jurnal diatas, dapat terlihat adanya perbandingan dengan penelitian yang saat ini dilakukan. Penelitian saat ini memiliki perbedaan dengan