• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOSIALISASI NILAI DAN NORMA PADA KELUARGA PEMULUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SOSIALISASI NILAI DAN NORMA PADA KELUARGA PEMULUNG"

Copied!
153
0
0

Teks penuh

(1)

SOSIALISASI NILAI DAN NORMA PADA KELUARGA PEMULUNG (Studi Deskriptif di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun

Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara)

SKRIPSI

Oleh :

DEVAYANA GULTOM 140901033

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

SOSIALISASI NILAI DAN NORMA PADA KELUARGA PEMULUNG (Studi Deskriptif di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun

Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara)

ABSTRAK

Pemulung adalah orang yang mempunyai pekerjaan utama sebagai pengumpul barang-barang bekas atau sampah untuk mendukung kehidupannya sehari-hari. Sesuai dengan pemulung yang berada di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara, setiap hari mencari sampah untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari dari pagi hingga malam sehingga tidak ada waktu yang cukup untuk berinteraksi bersama dengan anak.

Landasan analisis penelitian ini menggunakan teori Konstruksi Realitas Sosial dari Peter L. Berger yang menyatakan bahwa proses sosialisasi dilakukan oleh agen sosialisasi primer dan sekunder dengan tahap internalisasi, eksternalisasi dan objektivasi.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan dengan pemilihan informan melalui teknik purposive sampling. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara komprehensif dan sistematis tentang fenomena atau gejala sosial yang ada dalam masyarakat. Lokasi penelitian di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Kriteria informan dalam penelitian ini adalah pemulung berjenis kelamin laki-laki atau perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak serta sudah cukup lama berprofesi dan tinggal di daerah pemulung. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Dari buku dan jurnal dari perpustakaan dan internet.

Hasil penelitian ini menujukkan bahwa proses sosialisasi nilai dan norma pada anak yang dijalankan oleh keluarga pemulung di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun adalah dilakukan oleh agen primer dan sekunder, yakni orang tua, teman sebaya dan media. Sosialisasi yang berlangsung secara primer dan sekunder. Orang tua tidak memiliki waktu yang cukup bersama anak di rumah.Waktu orang tua habis tersita untuk memulung. Sehingga anak kurang mendapat perhatian dari orang tua. Waktu bertatap muka hanya pada malam hari dan hari minggu saja. Adapun jenis nilai dan norma sosial yang disosialisasikan lebih kepada nilai moral atau etika dan norma agama, kesopanan, kesusilaan, kebiasaan dan hukum.

Kata Kunci : Pemulung, Konstruksi Realitas Sosial, Sosialisasi Primer, Sosialisasi Sekunder

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat-Nya yang berlimpah, kasih karunia dan hikmat yang selalu tercurah di setiap waktu sehingga penulis dapat menjalani masa perkuliahan dan hingga pada akhirnya dapat meyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Sosialisasi Nilai Dan Norma Pada Keluarga Pemulung” di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Pada proses penelitian di dalam skripsi ini, penulis mendapatkan sangat banyak dukungan dan bantuan, terutama dari kedua orang tua penulis Bapak B.

Gultom dan Ibu L. Boru Sinaga yang merupakan penyemangat penulis dalam menjalani hidup sampai saat ini, terkhusus untuk Bapak yang teramat banyak disusahkan selama proses penelitian skripsi. Terimakasih pada adik perempuan penulis yang sangat baik hati Deliana Gultom dan Sintia Maya Sari Gultom juga pada adik laki-laki penulis Krisna Juniadi Gultom dan Krisbeny Gultom. Terima kasih untuk semua kesabaran, kasih sayang, doa dan dukungan dalam setiap proses kehidupan, terkhusus dalam proses penyusunan skripsi ini. Terima kasih kepada kalian yang sudah banyak disusahkan oleh saya selama mengerjakan skripsi ini. Saya persembahkan skripsi ini untuk kalian.

Penulis juga menyadari bahwa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sangat membantu penulis baik dalam masa perkuliahan sampai penyusunan

(4)

skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Harmona Daulay, S.Sos, M.Si, selaku Ketua Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Prof. Dr. Drs. Sismudjito, M.Si, sebagai dosen pembimbing saya yang banyak memberikan masukan, dorongan dan nasehat. Penulis ucapkan banyak terima kasih atas ilmu pengetahuan yang diberikan serta kesabaran dalam membimbing saya selama masa perkuliahan dan penulisan skripsi ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan kesehatan dan keselamatan yang tiada henti kepada Bapak.

5. Bapak Drs. T.I. Saladin, MSP, sebagai dosen penguji saya, yang telah memberikan masukan dan telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada saya.

6. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Departemen Sosiologi USU. Terima kasih atas ilmu dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

7. Teman-teman baik penulis Rebecka Manurung, Chrissanty Sitompul, Winda Mey Sari dan Sahat Simatupang yang selalu ada, selalu menasehati apabila ada kesalahan, membantu penulis, memberikan tawa dan penghiburan saat keadaan tidak mendukung, selalu mengajari apabila tidak mengerti, dan selalu

(5)

memberikan dukungan dalam banyak hal kepada penulis baik pada masa perkuliahan sampai penyelesaian skripsi.

8. Teman seperjuangan Sosiologi yang memberikan penulis semangat dan pelajaran hidup yang sangat berharga selama berada di kelas bersama Rika Iswanti, Marya Yohana, Sumarlin Leonardus Sihura, Adrianus Sianipar, Obed Sihite, Achmad Zulnizar, Muhammad Ikhwanul Ihsan, Citra Restu dan teman- teman angkatan 2014 Departemen Sosiologi FISIP USU yang lain. Semoga kita semua meraih kesuksesan di masa depan.

9. Seluruh partisipan dalam penelitian penulis. Terimakasih banyak kepada seluruh masyarakat termasuk jajaran pemerintahan Desa Kelambir Lima Kebun, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang yang sudah sangat membantu penulis dalam penyelesaian skripsi.

Akhir kata penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih ada kekurangan baik dari segi materi maupun penyajiannya. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang berguna untuk penyempurnaan karya tulis ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya. Terima kasih.

Medan, Maret 2019 Penulis

Devayana Gultom

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL viii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Rumusan Masalah 11

1.3 Tujuan Penelitian 12

1.4 Manfaat Penelitian 12

1.5 Defenisi Konsep 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 17

2.1 Pengertian Sosialisasi 17

2.2 Nilai dan Norma Sosial 30

2.3 Interaksi Sosial 37

2.4 Keluarga 40

2.5 Pemulung 48

2.6 Teori Konstruksi Realitas Sosial Peter L. Berger 53

(7)

BAB III METODE PENELITIAN 57

3.1 Jenis Penelitian 57

3.2 Lokasi Penelitian 57

3.3 Unit Analisis dan Informan 58

3.4 Teknik Pengumpulan Data 59

3.5 Interpretasi Data 63

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 65

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 65

4.2 Sarana dan Prasarana Desa Kelambir Lima Kebun 74

4.3 Profil Informan 79

4.4 Kehidupan Pemulung Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun 99 4.5 Interaksi Sosial Dalam Keluarga Pemulung Dengan Dengan Sesama

Pemulung 103

4.6 Interaksi Sosial Dalam Keluarga Pemulung Dengan Masyarakat

Bukan Pemulung 107

4.7 Proses Sosialisasi Nilai dan Norma Pada Keluarga Pemulung Dusun

XIX Desa Kelambir Lima Kebun 110

4.8 Pola Sosialisasi Pada Anak Dalam Keluarga Pemulung Dusun XIX

Desa Kelambir Lima Kebun 121

4.9 Hambatan Dalam Proses Sosialisasi Nilai dan Norma Pada Keluarga Pemulung Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun 125

(8)

BAB V PENUTUP 132

5.1 Kesimpulan 132

5.2 Saran 133

DAFTAR PUSTAKA 134

LAMPIRAN I 138

LAMPIRAN II 143

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Letak Geografi, Topografi dan Wilayah Administrasi Desa Kelambir

Lima Kebun Tahun 2018 67

Tabel 4.2 Daftar Dusun dan Kepala Dusun Dalam Desa Kelambir Lima Kebun

Tahun 2018 67

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Desa Kelambir Lima Kebun Menurut Dusun Pada

Tahun 2018 70

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Desa Kelambir Lima Kebun Menurut Umur Pada

Tahun 2018 71

Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Desa Kelambir Lima Kebun Menurut Agama Tahun

2018 72

Tabel 4.6 Daftar Perdagangan/Industri di Desa Kelambir Lima Kebun

Kecamatan Hamparan Perak Tahun 2018 73

Tabel 4.7 Sarana Kesehatan Pada Desa Kelambir Lima Kebun Tahun 2018 75

Tabel 4.8 Sarana Pendidikan Pada Desa Kelambir Lima Kebun Tahun 2018 76

Tabel 4.9 Sarana Olah Raga Pada Desa Kelambir Lima Kebun Tahun 2018 78

Tabel 4.10 Tempat Ibadah Pada Desa Kelambir Lima Kebun Tahun 2018 79

(10)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Kemiskinan di perkotaan merupakan masalah sosial yang masih belum terselesaikan di Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Utara. Sebagai masalah bangsa, kemiskinan perkotaan banyak dialami oleh pekerja non formal seperti pemulung, pedagang kaki lima, pengamen jalanan dan lain sebagainya. Tingginya kepadatan penduduk khususnya wilayah perkotaan yang tidak diimbangi oleh pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu penyebabnya. Menurut data (http://www.bps.go.id/brs/view/id/1158 diakses pada 23 Mei 2016) persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2014 sebesar 8,16%, naik menjadi 8,29% pada Maret 2016. Hasil ini diperoleh dengan indikator penghasilan minimum keluarga yakni sebesar Rp 316.000/keluarga.

Sebagai sebuah provinsi, terdapat 1,29 juta penduduk miskin di Sumatera Utara berdasarkan hasil perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS). Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sumatera Utara, Mukhamad Mukhanif mengatakan jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara sebanyak 8,94% dari jumlah total penduduk.

Adapun jumlah penduduk miskin di kota dan di desa nyaris sama dengan 686.970 jiwa penduduk miskin di kota dan 605.020 jiwa di desa. Dari hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) periode September 2018, 1,29 juta penduduk di Sumatera Utara masuk kategori miskin karena hanya mengeluarkan biaya rata-rata per bulan sebesar Rp 451.673 per kapita. Penduduk di desa masuk kategori miskin karena hanya mampu memiliki pengeluaran rata-rata Rp 435.492 perkapita setiap bulan. Sementara itu, penduduk di kota masuk kategori miskin karena tak mampu

(11)

berbelanja lebih dari Rp 465.790 perkapita perbulan. Adapun jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara pada periode September 2018 lebih rendah 33.000 penduduk bila dibandingkan dengan periode Maret 2018. Jumlah penduduk miskin di periode September lebih rendah dibandingkan pada periode Maret meskipun dari sisi garis kemiskinan naik 3,6% dari Rp 435.970 perkapita perbulan. Jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara terus turun tetapi belum signifikan (https://m.bisnis.com.Sumatra,penduduk-miskin-sumut-capai-1,29-juta- orang oleh Duwi Setiya Ariyanti diakses pada 04 Februari 2019 pukul 08.10 WIB).

Dari data Badan Pusat Statistik Sumatera Utara tersebut terlihat bahwa pengentasan kemiskinan oleh pemerintah Provinsi Sumatera Utara belum berhasil.

Oleh sebab itu ada masyarakat miskin berupaya mengatasi kemiskinan dengan menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri. Penduduk desa berupaya dengan bermigrasi ke kota sedangkan penduduk kota berupaya dengan berdagang, menjual jasa seperti kurir, menjadi kuli angkut di pasar atau pun menjadi pemulung. Sebuah tulisan di internet (https://melaratian.wordpress.com/modal- sosial-perantau-di-kota/modal-sosial-perantau-di-kota/ diakses pada tanggal 19 Juni 2016) bahwa pada umumnya, masyarakat desa yang bermigrasi ke kota adalah orang-orang yang tidak mempunyai kedudukan tinggi di desanya. Menurut Suparlan (1984), bahwa daya dorong dari pedesaan muncul karena adanya tekanan ekonomi dan rasa tidak aman bagi sebagian warga desa, sehingga warga desa terpaksa mencari tempat yang diduga dapat memberi kesempatan bagi suatu kehidupan yang lebih baik di kota. Sempitnya lahan pertanian, terbatasnya lapangan pekerjaan, terbatasnya sarana dan prasarana serta keinginan untuk

(12)

melanjutkan sekolah merupakan faktor-faktor yang menjadi penarik masyarakat desa bermigrasi ke kota (https://ulfarayi.wordpress.com/2015/04/14/urbanisasi/

diakses pada tanggal 18 Juni 2016). Namun, upaya bermigrasi ke kota tidak selamanya menjanjikan bahwa kemiskinan akan seluruhnya teratasi. Kekosongan skill yang dibawa dari desa justru menimbulkan masalah kemiskinan terbaru di perkotaan. Kaum migran tidak berhasil mendapatkan pekerjaan formal sehingga harus bekerja di sektor informal yang dominan hanya mampu menghidupi keberlangsungan hidup sehari-hari, salah satunya bekerja sebagai pemulung.

Pemulung adalah individu atau sekelompok orang yang bekerja mengumpulkan barang-barang bekas dengan cara mengerumuni muatan truk sampah yang tengah dibongkar, sebagian pemulung lainnya berputar-putar mengais barang bekas dari tumpukan-tumpukan sampah (http://www.social- ekonomi.com, diakses tanggal 19 Oktober 2013 di Palu). Selain itu, pengertian pemulung ada lagi yang lain seperti diungkapkan oleh Twikromo, 1999:09 (dalam Determinan Kebahagiaan Pemulung Studi Kasus Di Tempat Pembuangan sampah Terpadu Piyungan, I-Economic Vol.3 No 1. Juni 2017, oleh Lestari Sukarniati, Suripto dan Rifki Khoiruddin) yaitu pemulung adalah orang yang mempunyai pekerjaan utama sebagai pengumpul barang-barang bekas untuk mendukung kehidupannya sehari-hari, yang tidak mempunyai kewajiban formal dan tidak terdaftar di unit administrasi pemerintahan. Pemulung dalam topik penelitian ini sama dengan pemulung dalam pengertian di atas yaitu sebagai orang yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berpakaian lusuh atau compang- camping bekerja mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas dari timbunan

(13)

sampah yang masih dapat dijual kembali kepada pengepul. Pekerja yang bekerja sendiri tanpa adanya aturan kerja dari atasan yang harus dipatuhi.

Di Indonesia tercatat angka pemulung sampah pada tahun 1998 sebanyak 9,96% dari total penduduk di Indonesia dan setiap tahun terjadi penambahan.

Angka tersebut tersebar paling banyak di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Purwokerto dan Manado. Untuk kota Medan belum ada angka perolehan yang pasti, namun diperkirakan tidak jauh berbeda dengan persentase dari pemulung di Indonesia. Kota Medan sebagai Kota Metropolitan, memiliki luas 265,1 km 2, yang terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan. Jumlah timbunan sampah pada 2009 mencapai 887,75 ton per hari dengan komposisi 47,2% organik dan 52,8% nonorganik. Untuk mengoptimalkan dan memperbaiki tingkat pelayanan sampah di Kota Medan maka Kota Medan dibagi dalam 3 wilayah pelayanan. Pada setiap daerah pelayanan terdiri dari 7 Kecamatan. Sampah dari Wilayah Pelayanan Medan I dan Medan II dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Namo Bintang, terletak di Kelurahan Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu. Kabupaten Deli Serdang, berjarak 16 km dari pusat kota yang luasnya 18,5 Ha, dapat menampung sampah sebanyak m3 dan telah dioperasikan sejak tahun 1988, sedangkan Wilayah Pelayanan III dibuang ke TPA Terjun, yang terletak di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, berjarak 9 km dari pusat Kota Medan (dalam sebuah tulisan online https://docplayer.info.130552517-I-pendahuluan-keragaman-kota-medan-dalam- bidang-ekonomi-sosial-politik-dan-budaya).

Pemulung ada beragam jenis, di antaranya pengais langsung di lokasi tertentu, pengais yang bergerak (mobile), pengepul (kolektor barang bekas yang

(14)

didapat dari para pengais/pemulung) dan pendaur ulang barang bekas (Rohman, 2011 dalam Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah Dan Timbulan Sampah Di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015). Adapun yang dikatakan pengais langsung di lokasi tertentu yaitu pemulung yang memulung di sekitar daerah tempat tinggalnya. Misalnya, ketika di lokasi tinggalnya ada sampah yang laku dijual akan langsung diangkut dan dikumpulkan oleh si pengais atau pemulung tersebut. Dan yang dikatakan pengais bergerak atau mobile adalah pemulung yang mencari dan mengumpulkan sampah dengan berkeliling sampai jauh dari lokasi tempat tinggal dengan menggunakan becak papan atau sepeda lengkap dengan gancu dan karung. Selain itu pengepul yaitu orang yang menampung barang-barang bekas dari para pemulung. Serta pendaur ulang barang bekas yaitu orang yang kreatif dan dapat mengelola beragam sampah menjadi barang-barang yang unik dan bernilai jual. Adapun para pemulung yang ada di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara diantaranya pengais yang bergerak dan pengepul. Di Dusun ini mayoritas warganya adalah pemulung. Pemulung sampah organik dan anorganik. Hampir setiap rumah memiliki tumpukan sampah yang dikumpul sendiri oleh pemilik rumah tersebut.

Setiap harinya keluar rumah berkeliling mencari barang bekas seperti kaleng, besi, seng, botol minuman, plastik, tembaga, aluminium, kardus dan sebagainya, lalu kemudian dijual kepada pengepul ketika dianggap sudah banyak. Bersamaan dengan saat memulung sampah anorganik di Tempat Pembuangan Sampah atau di pinggiran jalan, pemulung menyempatkan diri ke hotel-hotel dan rumah makan

(15)

atau restoran untuk mengangkut sisa-sisa makanan untuk dijadikan pakan ternak.

Warga desa setempat menyebut pengepul barang bekas dengan sebutan Toke.

Para pemulung setelah selesai memulung, kemudian menyortir sampah- sampah hasil mulungnya lalu dikelompokkan dengan yang sama jenisnya. Seperti sampah jenis plastik dengan plastik, kaleng dengan kaleng, kardus dengan kardus, botol dengan botol, besi dengan besi dan seterusnya begitu pengelompokan yang dilakukan untuk jenis sampah yang lainnya. Kegiatan mensortir biasanya dilakukan pada siang hari secara bersama, suami dan istri. Kemudian dimasukkan ke dalam karung-karung dan disusun di wadah tertentu untuk memudahkan ketika hendak menjual nanti kepada pengepul sore hari. Suami yang keluar memulung mencari sampah-sampah yang masih dapat dimanfaatkan. Dari waktu pagi hingga malam hari. Dikarenakan saat ini semakin banyak jumlah pemulung maka para pemulung bersaing berlomba cepat dari pagi hari berangkat memulung agar mendapat lebih banyak barang-barang bekas. Ada dengan berjalan kaki sambil menenteng karung dan gancu untuk memudahkan pemulung dalam memungut sampah-sampah yang menjadi sasaran pemulung. Selain itu, ada lagi di antara pemulung yang dalam memulung menggunakan kendaraan yang dimodifikasi sendiri olehnya yaitu becak papan dengan dilengkapi beberapa karung, keranjang dan tali. Kemudian ada lagi sebagian pemulung yang menggunakan sepeda setiap harinya dalam mencari barang-barang bekas. Setelah beberapa waktu kemudian tiba waktunya bagi pemulung untuk menjual hasil mulungnya setelah dirasa sudah banyak dan bagi pengepul kepada pemulung, hasil mulungnya ditimbang per kilo untuk setiap jenis barang bekas yang dijual. Namun dalam keluarga pemulung tersebut tidak selalu hanya istri yang bekerja atau hanya suami yang bekerja

(16)

mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tidak hanya seorang saja dalam rumah tangga tersebut yang mencari nafkah dengan memulung atau pekerjaan sampingan lainnya selain memulung. Akan tetapi dua orang sekaligus dalam rumah tangga tersebut bekerja sama mencari nafkah memulung, suami dan istri. Adapun anak mereka hanya dipercayakan di sekolah saja dengan setiap paginya diberangkatkan terlebih dahulu ke sekolah lalu setelah itu mulailah kedua orang tua pemulung tersebut memulung mencari barang-barang bekas hingga malam hari, jadilah anak hanya di rumah setelah usai dari sekolah dan hanya dipercayakan pada anak yang lebih tua atau tetangga untuk menjaga saat setelah sudah berada di rumah. Jauh dari yang diharapkan, ternyata anak-anak pemulung tidak terurus, tidak terjaga dengan baik, anak-anak pemulung merasa bebas tanpa pengawasan dari orang tuanya yang tidak dibarengi juga dengan ajaran tentang berperilaku sebagaimana mestinya tentang sebuah nilai dan norma sosial yang berlaku dalam lingkungan bermasyarakat dan dipatuhi (Hasanuddin, 2016).

Sama dengan orang lain pada umumnya, pemulung pun memiliki keluarga. Keluarga pemulung merupakan keluarga yang sehari-harinya mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas yang masih dapat didaur ulang kembali dan dijual kepada pengepul.Berupa kaleng, plastik, botol minuman, besi tua, aluminium, tembaga, kardus, kertas koran dan lain sebagainya. Keluarga pemulung ini yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak merupakan masyarakat yang berada di strata bawah, memiliki pendidikan yang rendah dan tinggal di perkampungan kumuh. Yang berpendidikan rendah dan minim keterampilan menyebabkan mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan upah yang layak.

Menjadi pemulung adalah pilihan alternatif bagi keluarga pemulung yang terpaksa

(17)

dipilih dan harus dilakukan, karena akibat dari ketidaksediaan atau ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja, sehingga keluarga pemulung tidak dapat menikmati hidup yang lebih baik sekarang ini.

Keluarga pemulung sangat mengharapkan untuk dapat hidup lebih baik dalam meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. Namun pada kenyataannya pemulung tidak dapat meningkatkan harapan kesejahteraannya bagi keluarga mereka dan tetap hidup dalam kemiskinan dan walaupun mereka mampu bertahan dalam kehidupan dengan kondisi sangat memperihatinkan. Sehingga hidup mereka sangat tergantung pada sampah.

Anak-anak pemulung yang ditinggal orang tuanya memulung bebas untuk keluar rumah sana-kemari, tidak ada yang sepenuhnya mengawasi, bergaul bebas dengan orang-orang yang ditemui di luar lalu kemudian ada yang menjadi terpengaruh menjadi ikut sama seperti teman-temannya, mulai dari berkata kasar dan tidak sopan pada orang lain, mengganggu orang lain, merokok, bertindak kriminal, hingga ada yang menjadi pemakai narkoba/narkotika dan obat-obat berbahaya. Adapun sebagai contohnya seperti kasus yang terjadi di Palangka Raya, kasus yang dialami seorang pemulung, Muhammad Sugeng Maryanto dan rekan-rekannya yang juga merupakan seorang pemulung menjadi korban penembakan polisi karena kedapatan mencuri di rumah salah seorang warga (http://m.sampit.prokal.co/pemulung-pencuri-rumah-kosong-didor, oleh Dodi/Radar Palangka diakses Rabu, 06 Juni 2018 pukul 15:01 WIB). Kemudian ada lagi kasus yang terjadi dalam keluarga pemulung, seperti yang terjadi di Solo, rombongan pemulung tertangkap polisi karena penggunaan narkoba jenis sabu

(18)

(http://m.solopos.com Narkoba Solo: pemulung-pengguna-narkoba-ditangkap, oleh Muhammad Ismail diakses 04 April 2018 pukul 12:45 WIB).

Dari kedua kasus pemulung di atas dapat diketahui pasti terjadi karena sejak awal tidak mendapat pendidikan mengenai nilai dan norma sosial dari orang tua di rumah mereka. Kurangnya waktu yang berkualitas bersama orang tua sekaligus mendapatkan kata nasehat dari orang tua saat sedang di rumah agar menjadi lebih paham norma-norma yang berlaku dalam hidup bermasyarakat, aturan yang harus dipatuhi dan larangan yang harus dijauhi.

Fenomena yang digambarkan di atas terdapat pula di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara yaitu warganya yang mayoritas bermata pencaharian sebagai pemulung sampah, berpendidikan rendah, bertempat tinggal di tempat yang kumuh di mana di sekitar lingkungan tempat tinggal dipenuhi sampah-sampah seperti sampah plastik, sampah-sampah kardus, botol minuman, kaleng bekas, aluminium dan tembaga yang tak lagi dipakai. Dan selain itu ada juga peternak (Babi, Ayam dan Ikan). Sambil memulung sambil mencari pakan ternak. Pemulung di lingkungan ini mulai keluar rumah untuk memulung mencari barang bekas mulai dari pagi hari sekitar pukul 04.00 WIB hingga malam pukul 24.00 WIB tiba di rumah. Jarang memiliki waktu untuk berkumpul bersama anak- anaknya. Kebanyakan waktu habis tersita mencari nafkah di Tempat Pembuangan Sampah. Sehingga anak-anak pemulung daerah Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara ini banyak yang terjerumus ke arah yang menyimpang seperti mencuri, menyalahgunakan narkoba, bergabung dalam komplotan begal

(19)

dan lain-lain. Selain itu banyak juga anak-anak pemulung yang putus sekolah dikarenakan ekonomi orang tuanya yang tidak memadai. Tidak ada yang berhasil atau sukses para anak pemulung di desa ini. Kebanyakan di antaranya hanya bertamatkan SMA. Sedikit yang sampai ke perguruan tinggi menempuh pendidikan atau berpendidikan terakhir Sarjana dan itu pulalah salah satu indikator yang dianggap warga setempat sebagai ukuran berhasil (Marbun (Perpanjangan tangan Kepala Desa), 2018).

Kehidupan sosial pemulung dan masyarakat sekitar terjalin dengan baik, sementara kehidupan ekonomi masyarakat pemulung masih tergolong memperihatinkan dan perlu uluran tangan pemerintah. Pendapatan per bulan pemulung tidak menentu, terkadang banyak terkadang sedikit bahkan tidak ada sama sekali tergantung dari jumlah barang rongsokan yang didapat oleh si pemulung. Sebesar Rp 50.000 hingga Rp 100.000, tidak menentu disebabkan karena beberapa faktor salah satunya yaitu harga dari barang bekas yang dikumpulkan tidak menentu harganya saat dijual. Tidak selalu mahal harga jual dari barang bekas sehingga pendapatan tiap bulannya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga pemulung. Seperti yang diungkapkan oleh Cardim (55) salah seorang pemulung yang tinggal di Bedeng, memiliki empat orang anak, mengaku rata-rata penghasilan hariannya sebesar Rp 100.000,00. Setiap harinya memulai memulung pagi hari hingga malam hari. Terkadang anaknya yang sudah dewasa membantu Cardim memulung untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dari keempat anak Cardim, tak satu pun yang mengenyam bangku pendidikan. Cardim merasa kurang sanggup membiayai pendidikan anak-anaknya. Anak-anak Cardim menurutnya, merasa lebih penting untuk membantu orangtuanya mencari

(20)

penghasilan daripada bersekolah (https://m.kumparan.commengarungi-relung- hidup-pemulung, diakses 28 September 2017, pukul 10:13 WIB).

Hal inilah yang menjadi substansi pemikiran penulis untuk meneliti tentang proses sosialisasi nilai dan norma pada keluarga pemulung di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Penulis melihat banyak pemulung hampir seluruh waktunya dihabiskan di luar rumah memulung dari pagi hingga malam hari. Lebih sibuk mencari nafkah mengumpul dan mensortir barang-barang bekas yang diperoleh dari Tempat Pembuangan Sampah. Sedikit waktu bersama anak. Anak tidak ada yang mengontrol dan mengawasi sehingga tidak sedikit juga dari anak-anak pemulung yang berperilaku menyimpang karena terlalu bebas. Ada yang mencuri, menggunakan obat-obat terlarang atau narkoba, putus sekolah dan mengganggu orang lain yang lewat melintas dari hadapan si anak pemulung tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah dalam penelitian kualitatif bertumpu pada suatu fokus. Pada dasarnya penentuan masalah menurut Lincoln dan Guba 1985:226 (dalam Moleong, 2006:93) bergantung pada paradigma apakah yang dianut oleh seorang peneliti, yaitu apakah sebagai peneliti, evaluator ataukah sebagai peneliti kebijakan. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses sosialisasi nilai dan norma pada anak yang dijalankan oleh keluarga pemulung di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir

(21)

Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara?

2. Bagaimana pola sosialisasi yang diterapkan oleh keluarga pemulung di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupate Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara?

1.3 Tujuan Penelitian

Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, tujuan penelitian diarahkan untuk memahami (understand) suatu fenomena sosial.

Penelitian kualitatif terkadang disebut penelitian pemahaman (understanding), bukan penelitian penjelasan (explanation) (Bungin, 2003:44). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana proses sosialisasi nilai dan norma pada anak yang dijalankan oleh keluarga pemulung di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.

2. Untuk mengetahui bagaimana pola sosialisasi yang diterapkan oleh keluarga pemulung di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat dalam penelitian ini adalah:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan ilmiah bagi mahasiswa ilmu sosial dan memberi kontribusi bagi ilmu sosiologi.

(22)

Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi mahasiswa sosiologi yang akan melakukan penelitian selanjutnya dan dapat memberikan sumbangan pemikiran serta memperluas pengetahuan.

1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis penelitian ini adalah sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Selain itu juga untuk mengasah kemampuan peneliti dalam mendeskripsikan kehidupan di lingkungan keluarga pemulung. Menggambarkan bagaimana karakteristik keluarga pemulung, karakteristik kerja, kesejahteraan pemulung dan hubungan sosial, bagaimana pemulung berinteraksi atau berperilaku dengan sesama pemulung, pemulung dengan yang bukan pemulung, menggambarkan bagaimana proses sosialisasi nilai dan norma dalam keluarga pemulung serta pola sosialisasi yang diterapkan di Jalan Germania Desa Kelambir Lima Dusun XIX Kebun Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.

1.5 Definisi Konsep

Konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian harus didefinisikan dengan jelas, sehingga dapat dipahami apa yang ingin diteliti. Melalui konsep, peneliti telah mampu mendefinisikan berita yang objektif itu apa (Bungin, 2008:194). Adapun konsep yang digunakan sesuai dengan konteks penelitian adalah sebagai berikut:

1.5.1 Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses di mana seseorang mempelajari pola-pola hidup dalam masyarakat sesuai dengan nilai-nilai, norma dan kebiasaan yang berlaku untuk berkembang sebagai anggota masyarakat dan sebagai

(23)

individu (pribadi) (menurut M. Sitorus, dalam Setiadi, Elly M dan Usman Kolip, 2011:156). Sosialisasi juga merupakan suatu kegiatan yang dimaksudkan agar individu menjadi tahu aturan mana yang berlaku dalam lingkungan individu berpijak. Menjadi tahu mana yang baik dan tidak baik untuk dilakukan serta tahu bagaimana berperilaku. Sosialisasi yang dimaksud dalam penelitian ini ialah sosialisasi yang dijalankan oleh keluarga pemulung di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun. Di mana pelaku yang menjalankan sosialisasi tersebut adalah para orang tua yang berprofesi sebagai pemulung. Anak-anak atau remaja setempat berperilaku tidak sebagaimana mestinya. Mengganggu orang lain yang lewat melintas di lingkungan pemulung tersebut seperti meludah ke arah orang tersebut dan hingga mencuri.

1.5.2 Nilai

Nilai atau value (bahasa inggris) atau valere (bahasa latin) berarti berguna, mampu akan, berdaya, berlaku dan kuat. Nilai dapat dianggap sebagai

“keharusan” suatu cita yang menjadi dasar bagi keputusan yang diambil oleh seseorang. Nilai-nilai itu merupakan bagian kenyataan yang tidak dapat dipisahkan atau diabaikan. Setiap orang bertingkah laku sesuai dengan seperangkat nilai, baik nilai yang sudah merupakan hasil pemikiran yang tertulis maupun belum (dalam Sjarkawi 2006:29). Di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun, tak jarang dijumpai pemuda yang berperilaku tidak sesuai nilai yang berlaku di lingkungan hidup bermasyarakat.

(24)

1.5.3 Norma

Dalam Sjarkawi, 2006, norma berarti ukuran, garis pengarah atau aturan, kaidah bagi pertimbangan dan penilaian. Sesuai dengan latar belakang di atas, norma yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu seluruh aturan atau penuntun hidup yang berlaku dalam hidup bermasyarakat yang harus dipatuhi dan diberi sanksi jika individu melanggar. Di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun, lingkungan pemulung tersebut, banyak ditemui remaja atau pemuda yang bertingkah laku tidak sesuai norma seharusnya yang ditetapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

1.5.4 Keluarga

Keluarga merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan kebersamaan dan keintiman

(http://mushofatulmasdathoniya.blogsome.com). Orang-orang yang ada di dalam keluarga yaitu ayah, ibu, anak, kakak, adik, nenek dan kakek. Ayah adalah orang tua laki-laki dari seorang anak yang tinggal bersama dalam satu keluarga dan ibu adalah orang tua perempuan dari seorang anak yang tinggal bersama dalam satu keluarga. Sedangkan anak adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas yang tinggal bersama dalam satu keluarga. Adapun kakak adalah saudara laki-laki maupun perempuan yang lebih tua dari seorang anak yang tinggal bersama dalam satu keluarga dan adik adalah saudara laki- laki maupun perempuan yang lebih muda dari seorang anak yang tinggal bersama dalam satu keluarga. Kakek adalah ayah dari orang tua seseorang sedangkan nenek adalah ibu dari orang tua seseorang. Keluarga yang

(25)

dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu orang-orang yang tinggal di lingkungan pemulung Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun yang telah menikah dan memiliki anak serta tinggal bersama di dalam satu rumah.

1.5.5 Pemulung

Pemulung adalah orang yang mempunyai pekerjaan utama sebagai pengumpul barang-barang bekas untuk mendukung kehidupannya sehari- hari, yang tidak mempunyai kewajiban formal dan tidak terdaftar di unit administrasi pemerintahan. Atau pemulung adalah orang yang mengumpulkan dan memproses sampah di jalan-jalan, sungai-sungai, bak- bak sampah dan lokasi pembuangan akhir sebagai komoditas pasar. Serupa dengan di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun, mayoritas warganya berprofesi sebagai pemulung. Setiap harinya mencari dan mengumpulkan sampah atau barang bekas yang masih dapat dijual kembali. Seperti sampah plastik, botol minuman, kardus, kaleng, besi, kabel listrik dan lain sebagainya yang memiliki nilai jual.

(26)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Sosialisasi

Menurut Vander Zanden, sosialisasi adalah proses interaksi sosial melalui mana calon anggota masyarakat mengenal cara-cara berpikir, berperasaan dan berperilaku, sehingga dapat berperan serta secara efektif dalam masyarakat (Ihromi, 1990:54). Dari pernyataan Vander Zanden tersebut dapat disimpulkan sosialisasi yaitu bagaimana seseorang di dalam proses interaksi sosial, beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan menyesuaikan diri dengan orang-orang daerah setempat. Saling berkenalan dengan individu satu dengan individu lainnya lalu kemudian membentuk suatu hubungan kekerabatan atau keluarga karena adanya kesamaan suku, kesamaan asal, kesamaan nasib dan perasaan. Kemudian berbaur dengan warga sekitar dan mempelajari nilai dan norma yang ada di daerah tersebut, memahami serta menjadi tahu nilai dan norma yang berlaku di dalam lingkungan bermasyarakat tersebut. Menjadi tahu bagaimana sebaiknya bertingkah laku yang dapat diterima di dalam hidup bermasyarakat, juga menjadi tahu sanksi yang diperoleh ketika melanggar norma-norma yang berlaku di lingkungan itu.

Setelah berinteraksi dengan individu lain yang berada di sekitarnya atau bersosialisasi dengan lingkungannya barulah individu tadi dapat berkembang.

Dalam keadaan yang normal, maka lingkungan pertama yang berhubungan dengan anaknya adalah orang tuanya. Melalui lingkungan itulah anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari, melalui lingkungan itulah anak mengalami proses sosialisasi awal.

(27)

Lewat proses-proses sosialisasi, individu-individu masyarakat belajar mengetahui dan memahami tingkah pekerti-tingkah pekerti apakah yang harus dilakukan dan tingkah pekerti-tingkah pekerti apa pulakah yang harus tidak dilakukan (terhadap dan sewaktu berhadapan dengan orang lain) di dalam masyarakat. Ringkas kata, lewat sosialisasi warga masyarakat akan saling mengetahui peranan masing-masing dalam masyarakat, dan kemudian dapat bertingkah pekerti sesuai dengan peranan sosial masing-masing itu. Tepat sebagaimana yang diharapkan oleh norma-norma sosial yang ada dan selanjutnya mereka-mereka akan dapat saling menyerasikan serta menyesuaikan tingkah pekerti masing-masing sewaktu melakukan interaksi-interaksi sosial.

Tanpa mengalami proses sosialisasi yang memadai tidak mungkin seorang warga masyarakat dapat hidup normal tanpa menjumpai kesulitan dalam masyarakat. Jelas, bahwa hanya dengan menjalani proses sosialisasi yang cukup banyak sajalah seorang individu warga masyarakat dapat menyesuaikan segala tingkah pekertinya dengan segala keharusan norma-norma sosial. Hanya lewat proses-proses sosialisasi ini sajalah generasi-generasi muda dapat belajar bagaimana seharusnya bertingkah laku di dalam kondisi-kondisi tertentu.

Bagaimanapun juga proses sosialisasi adalah suatu proses yang dilakukan secara aktif oleh dua pihak: pihak pertama adalah pihak yang mensosialisasi atau disebut dengan aktivitas melaksanakan sosialisasi dan pihak yang kedua adalah aktivitas pihak yang disosialisasi atau aktivitas internalisasi.

Menurut Ihromi menjelaskan gagasan Berger dan Luckman dalam sosialisasi dibedakan atas dua tahap yakni:

(28)

a. Sosialisasi Primer, didefinisikan sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil, melalui mana ia menjadi anggota masyarakat, dalam tahap ini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak ke dalam dunia umum dan keluargalah yang berperan sebagai agen sosialisasi.

b. Sosialisasi Sekunder, didefinisikan sebagai proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasikan ke dalam sektor baru dunia objektif masyarakat; dalam tahap ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalisme; dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan, lingkungan yang lebih luas dari keluarga.

Walau demikian, pada pihak lain, proses sosialisasi itu pun amat besar pengaruhnya bagi kehidupan warga masyarakat itu sendiri secara individual.

Kiranya tanpa mengalami proses sosialisasi yang memadai tidak mungkin seorang warga masyarakat akan dapat hidup normal tanpa menjumpai kesulitan dalam masyarakat. Jelas, bahwa hanya dengan menjalani proses sosialisasi yang cukup banyak sajalah seorang individu warga masyarakat akan dapat menyesuaikan segala tingkah pekertinya dengan segala keharusan norma-norma sosial. Hanya lewat proses sosialisasi ini sajalah generasi-generasi muda akan dapat belajar bagaimana seharusnya bertingkah pekerti di dalam kondisi-kondisi dan situasi tertentu.

Kesulitan-kesulitan yang cukup besar pasti akan menimpa setiap individu yang tidak berkesempatan mendapatkan sosialisasi yang memadai yang karenanya akan gagal dalam usaha-usahanya untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma

(29)

sosial yang berada pada lingkungan, khususnya dengan tingkah pekerti-tingkah pekerti orang lain di dalam masyarakat. Bagi masyarakat sendiri, kegagalan- kegagalan demikian tentu saja akan dirasakan pula sebagai suatu hal yang amat menyulitkan dan pasti akan mengganggu kelangsungan keadaan tertib masyarakat.

Menurut Narwoko dan Bagong dalam “Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan” proses sosialisasi yang ternyata relevan bagi pembentukan kepribadian dapat dibedakan atas:

a. Proses sosialisasi yang dikerjakan (tanpa sengaja) lewat proses interaksi sosial.

b. Proses sosialisasi yang dikerjakan (secara sengaja) lewat proses pendidikan dan pengajaran.

Sejalan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan mengenai proses sosialisasi dengan cara lewat proses interaksi sosial (tanpa sengaja) maupun melalui proses pendidikan dan pengajaran dengan cara berinteraksi langsung dengan lingkungan di sekitarnya maupun dengan cara diberikan pengajaran dan pendidikan.

Memperhatikan pelaksanaan proses sosialisasi secara agak lebih dekat, tampaklah bahwa sesungguhnya proses ini bukan suatu aktivitas yang bersifat sepihak. Bagaimanapun juga proses sosialisasi adalah suatu proses yang dilakukan secara aktif oleh dua pihak: pihak pertama adalah pihak yang mensosialisasi atau disebut dengan aktivitas melaksanakan sosialisasi dan pihak yang kedua adalah aktivitas pihak yang disosialisasi atau aktivitas internalisasi.

(30)

Proses sosialisasi tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan dari orang-orang yang sadar atau tidak dalam hal ini bekerja “mewakili” masyarakat dalam melaksanakan aktivitas sosialisasi. Orang-orang itu dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Orang-orang yang memiliki wibawa dan kekuasaan atas individu-individu yang disosialisasi. Misalnya ayah, ibu, guru dan atasan, pemimpin dan sebagainya.

b. Orang-orang yang mempunyai kedudukan sederajat dengan individu- individu yang disosialisasi. Misalnya saudara sebaya, kawan sepermainan, kawan kerja, kawan sekelas dan sebagainya.

Berbeda halnya dengan sosialisasi yang dilakukan oleh orang-orang sederajat, orang-orang yang mempunyai wibawa dan kuasa akan selalu mengusahakan tertanamnya pemahaman-pemahaman atas nilai dan norma sosial (ke dalam batin individu yang disosialisasi) dengan melakukannya secara sadar, serta dengan tujuan agar individu-individu yang disosialisasi itu nantinya dapat dikendalikan secara disipiner di dalam masyarakat. Adapun nilai dan norma- norma sosial yang mereka sosialisasikan adalah nilai dan norma sosial yang mengandung keharusan-keharusan untuk taat terhadap kewajiban-kewajiban dan berkesediaan tunduk terhadap kekuasaan-kekuasaan yang superior, berwibawa dan patut dihormati. Sosialisasi demikian ini sedikit banyak dilakukan secara dipaksakan dan didukung oleh suatu kekuasaan yang bersifat otoriter. Itulah sebabnya maka sosialisasi macam ini disebut sosialisasi otoriter.

Proses sosialisasi otoriter biasanya dipercayakan oleh masyarakat kepada orang-orang tua (ayah atau ibu), guru agama, tokoh masyarakat yang dituakan

(31)

oleh masyarakat sekitar. Hal ini dapat dipahami mengingat kenyataan bahwa pada saat proses sosialisasi dilaksanakan, anak-anak yang disosialisasi itu belum memiliki kemampuan, pengalaman dan kemungkinan untuk bergaul dengan individu-individu yang berstatus ekualitas atau sebayanya. Sementara itu, di lain pihak, proses sosialisasi pun dilakukan dengan cara yang lain, tidak secara otoriter, melainkan atas dasar asas kesamaan dan kooperasi antara yang mensosialisasikan dan yang disosialisasi. Proses sosialisasi ini disebut proses sosialisasi ekualitas.

Sosialisasi dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan sederajat dengan mereka-mereka yang disosialisasi dan walaupun di dalam proses sosialisasi macam ini diusahakan juga tertanamnya pemahaman atas nilai dan norma sosial ke dalam ingatan individu-individu yang disosialisasi, akan tetapi tujuannya yang utama adalah agar individu yang disosialisasi itu dapat diajak memasuki suatu hubungan kerja sama yang koordinatif dan kooperatif dengan pihak yang mensosialisasi dengan kata lain di dalam proses sosialisasi ekualitas ini tidak ada unsur paksaan atau pengekangan karena proses sosialisasinya dilaksanakan dengan terbuka saling berbagi pengalaman, berbagi cerita dan sebagainya karena memiliki derajat yang sama atau setara seperti teman sebaya.

Apapun sifatnya, otoriter maupun ekualitas, proses sosialisasi selalu penting bagi usaha untuk menanamkan nilai dan norma sosial. Norma-norma yang bersangkut paut dengan soal-soal disiplin dan rasa tanggungjawab akan diturunkan lewat proses-proses sosialisasi otoriter, sedangkan yang lainnya akan diturunkan lewat proses-proses sosialisasi yang bersifat ekualitas.

(32)

Aktivitas melaksanakan sosialisasi itu tidak selalu dilakukan secara sadar dan sengaja. Selain pendidikan, pengajaran, pemberian petunjuk dan nasehat- nasehat, banyak sekali kita jumpai aktivitas sosialisasi yang dilaksanakan tanpa disadari oleh orang yang mengerjakan itu. Orang-orang ini entah itu berkedudukan otoriter entah berkedudukan ekualitas terhadap pihak yang disosialisasi dengan melakukan tingkah pekerti-tingkah pekerti atau interaksi- interaksi sosial terhadap orang yang disosialisasi, sesungguhnya tanpa disadari telah mengajarkan, memberikan contoh-contoh kepada pihak yang disosialisasi ini tentang bagaimana orang di dalam situasi tertentu bertingkah pekerti. Contohnya saja ketika berada di luar rumah, berada di keramaaian orang tua dan kita hendak lewat dari hadapan para orang tua yang saat itu berada di depan kita entah itu sedang duduk lalu kita lewat dengan sambil menundukkan kepala dan berkata

“permisi pak/bu”, dari hal itu tanpa kita sadari kita sudah mengajarkan hal yang baik terutama tentang kesopanan secara tidak langsung kepada orang atau individu-individu yang mungkin saja pada saat itu ada yang melihat tindakan kita itu. Seseorang yang melihat tersebut pun menjadi sadar dan tahu bahkan mengikuti tindakan sopan kita itu saat ia berada di luar rumahnya dan hendak lewat dari kumpulan orang yang lebih tua.

2.1.1 Agen Sosialisasi

Agen sosialisasi merupakan tempat di mana sosialisasi itu terjadi atau sarana sosialisasi. Yang dimaksud dengan agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang membantu seorang individu menerima nilai-nilai atau tempat di mana seorang individu belajar terhadap segala sesuatu yang kemudian menjadikannya dewasa. Secara rinci, beberapa media sosialisasi yang utama adalah:

(33)

a. Keluarga

Anak yang baru lahir (bayi) mengalami proses sosialisasi yang paling pertama adalah di dalam keluarga. Dari sinilah anak pertama mengenal lingkungan sosial dan budayanya, juga mengenal seluruh anggota keluarganya seperti ayah, ibu dan saudara-saudaranya sampai akhirnya anak itu mengenal dirinya sendiri. Dalam pembentukan sikap dan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara dan corak orang tua dalam memberikan pendidikan anak-anaknya baik melalui kebiasaan, teguran, hukuman, nasehat, perintah dan larangan.

Proses sosialisasi dalam keluarga dapat dilakukan baik secara formal maupun informal. Proses sosialisasi formal dikerjakan melalui proses pendidikan dan pengajaran, sedangkan proses sosialisasi informal dikerjakan lewat proses interaksi yang dilakukan secara tidak sengaja. Antara proses sosialisasi formal dengan proses sosialisasi informal seringkali menimbulkan jarak karena apa yang dipelajari secara formal bertentangan dengan apa yang dilihatnya. Situasi yang demikian sering menimbulkan konflik di dalam batin anak.

b. Kelompok Bermain atau Teman Sebaya

Di dalam kelompok bermain individu mempelajari norma, nilai, kultural, peran dan semua persyaratan lainnya yang dibutuhkan individu untuk memungkinkan partisipasinya yang efektif di dalam kelompok permainannya.

Singkatnya, kelompok bermain ikut menentukan dalam pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku kelompoknya.

Kelompok bermain baik yang berasal dari kerabat, tetangga maupun teman sekolah, merupakan agen sosialisasi yang memiliki pengaruh yang besar dalam

(34)

membentuk pola perilaku seseorang. Di dalam kelompok bermain, anak mempelajari berbagai kemampuan baru yang seringkali berbeda dengan apa yang mereka pelajari dari keluarganya.

c. Sekolah

Robert Dreeben (1968) dalam (Narwoko dan Bagong, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, 2004) mencatat beberapa hal yang dipelajari anak di sekolah. Selain membaca, menulis dan berhitung adalah aturan mengenai kemandirian, prestasi, universalisme dan spesifitas.

Berbeda dengan sosialisasi dalam keluarga di mana anak masih dapat mengharapkan bantuan dari orang tua dan seringkali memperoleh perlakuan khusus, di sekolah anak dituntut untuk bisa bersikap mandiri dan senantiasa memperoleh perlakuan yang tidak berbeda dari teman-temannya. Di sekolah reward akan diberikan kepada anak yang terbukti mampu bersaing dan menunjukkan prestasi akademik yang baik. Di sekolah anak juga akan banyak belajar bahwa untuk mencapai prestasi yang baik, maka yang diperlukan adalah kerja keras. Berusaha belajar keras agar mendapat nilai dan peringkat yang baik di sekolah.

d. Lingkungan Kerja

Setelah seorang individu melewati masa kanak-kanak dan masa remaja, kemudian meninggalkan dunia kelompok permainannya, individu memasuki dunia baru, yaitu di dalam lingkungan kerja. Pada umumnya individu yang ada di dalamnya sudah memasuki masa hampir dewasa bahkan sebagian besar adalah mereka sudah dewasa, maka sistem nilai dan norma lebih jelas dan tegas.

(35)

Di dalam lingkungan kerja inilah individu saling berinteraksi dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di dalamnya.

Seseorang yang bekerja di lingkungan birokrasi biasanya akan memiliki gaya hidup dan perilaku berbeda dengan orang lain yang bekerja di perusahaan swasta.

Seseorang yang bekerja dan bergaul dengan teman-temannya di tempat kerja seperti dunia pendidikan tinggi, besar kemungkinan juga akan berbeda perilaku dan gaya hidupnya dengan orang lain yang berprofesi di dunia kemiliteran.

e. Media Massa

Dalam kehidupan masyarakat modern, komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting terutama untuk menerima dan menyampaikan informasi dari satu pihak ke pihak lain. Akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi dalam waktu yang sangat singkat, informasi- informasi tentang peristiwa-peristiwa, pesan, pendapat, berita, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya dengan mudah diterima oleh masyarakat, sehingga media massa, surat kabar, TV, film, radio, majalah dan lain sebagainya mempunyai peranan penting dalam proses transformasi nilai-nilai dan norma-norma baru kepada masyarakat. Di samping itu media massa juga mentransformasikan simbol-simbol atau lambang tertentu dalam suatu konteks emosional.

Media massa merupakan media sosialisasi yang kuat dalam membentuk keyakinan-keyakinan baru atau mempertahankan keyakinan yang ada. Bahkan proses sosialisasi melalui media massa ruang lingkupnya lebih luas dari media sosialisasi yang lainnya. Iklan-iklan yang ditayangkan media massa, misalnya disinyalir telah menyebabkan terjadinya perubahan pola konsumsi, bahkan gaya hidup warga masyarakat.

(36)

Tayangan adegan kekerasan dan adegan-adegan yang menjurus ke pornografi, ditenggarai juga telah banyak berperan menyulut perilaku agresif remaja, dan menyebabkan terjadinya pergeseran moral pergaulan, serta meningkatkan terjadinya berbagai pelanggaran norma susila. Di media massa, nyaris setiap hari bisa dibaca terjadinya kasus-kasus perkosaan dan pembunuhan yang menghebohkan karena si pelaku diilhami oleh adegan-adegan porno dan sadis yang pernah ditontonnya di film atau ditayangan yang lain.

2.1.2 Fungsi Sosialisasi

Fungsi umum dari sosialisasi dapat dilihat dari 2 (dua) sudut pandang, yaitu sudut pandang individu dan kepentingan masyarakat.

a. Individu

Sosialisasi berfungsi sebagai sarana pengenalan, pengakuan dan penyesuaian diri terhadap nilai-nilai, norma-norma dan struktur sosial yang ada di dalam masyarakat sehingga dapat berperilaku tertib dan disiplin. Dengan demikian, seseorang menjadi warga masyarakat yang baik. Warga yang mampu memenuhi segala kewajiban dan menerima semua haknya sebagai warga masyarakat.

b. Kepentingan masyarakat

Sosialisasi berfungsi sebagai sarana pelestarian, penyebarluasan dan pewarisan nilai-nilai serta norma-norma sosial. Dengan demikian nilai dan norma tetap terpelihara dari generasi ke generasi dalam masyarakat yang bersangkutan.

Apabila fungsi sosialisasi seperti yang dijelaskan di atas berjalan dengan baik, maka diharapkan dapat memenuhi tujuan sosialisasi.

(37)

2.1.3 Tujuan Sosialisasi

Manusia merupakan makhluk sosial sehingga tidak ada satupun manusia yang bisa hidup tanpa orang lain terutama dalam hal kebutuhan. Manusia yang satu dengan yang lain saling bergantung dan berhubungan atau disebut juga saling bersimbiosis. Oleh karena itu, setiap manusia harus bersosialisasi di samping untuk pemenuhan kebutuhan juga untuk bertahan hidup. Dengan sosialisasi, seseorang akan mengenal berbagai macam nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Sosialisasi mempunyai beberapa tujuan penting. Beberapa tujuan tersebut yaitu seperti:

a. Sosialisasi bertujuan untuk mengetahui nilai ataupun norma yang dianut atau tertanam di masyarakat yang kemudian dapat digunakan dalam menjaga kelangsungan hidup terutama mengenai posisi di dalam suatu masyarakat.

b. Sosialisasi membantu mengembangkan fungsi-fungsi organik seseorang melalui instropeksi yang tepat. Dengan bersosialisasi, fungsi organik dalam tubuh/jiwa seseorang akan dapat terlatih dengan baik, sehingga individu tersebut dapat dengan mudah untuk berkumpul pada masyarakat. Serta, dengan komunikasi yang baik, maka individu tersebut dapat dengan mudah untuk hidup berdampingan di masyarakat.

c. Sosialisasi juga bertujuan agar setiap individu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal di masa depan dalam mempertahankan eksistensinya.

d. Sosialisasi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara aktif dan efektif sehingga dapat melakukan kegiatan-kegiatan seperti membaca, menulis dan berbicara dengan baik.

(38)

e. Sosialisasi bertujuan untuk membentuk maupun menciptakan pengalaman pada masing-masing individu tentang bagaimana merespon suatu masalah sehingga membantu untuk berkembang lebih dewasa.

f. Selain itu, sosialisasi juga bertujuan agar setiap individu dapat membentuk identitas dirinya baik fisik maupun mental.

2.1.4 Hambatan-hambatan Proses Sosialisasi

Adapun hambatan yang ditemui ketika dalam proses sosialisasi yaitu seperti berikut ini:

a. Kurangnya interaksi antara anggota keluarga

Karena remaja hidup di dalam suatu kelompok individu yang disebut keluarga, salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi perilaku remaja adalah interaksi antar anggota keluarga. Harmonis atau tidaknya, intensif atau tidaknya interaksi antar anggota keluarga akan mempengaruhi perkembangan sosial remaja yang ada di dalam keluarga. Gardner (1983) dalam penelitiannya menemukan bahwa interaksi antar anggota keluarga yang tidak harmonis merupakan suatu korelat yang potensial menjadi penghambat perkembangan sosial remaja.

b. Pengaruh media (tayangan TV, internet, HP)

Acara-acara TV dalam keluarga memiliki pengaruh yang kuat terhadap kondisi psikis. Apalagi, perkembangan teknologi informasi melalui berbagai saluran TV yang setiap waktu dapat dinikmati remaja menghidangkan acara-acara yang bervariasi. Lebih-lebih jika ditambah dengan antena parabola berarti remaja dalam keluarga dapat menyaksikan sedikitnya 14 saluran dalam dan luar negeri.

Jika demikian keadaannya, praktis remaja dapat menyaksikan acara TV selama 24

(39)

jam terus menerus jika tidak ada pengendalian dari orang tua atau diri sendiri. M.

Amien Rais (1993) pernah mengatakan bahwa di antara negara-negara berkembang, Indonesia merupakan pemegang rekor pemilikan antena parabola dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Cina, Iran, Irak dan Mesir. Belum lagi diramaikan oleh menjamurnya kaset VCD, baik yang berisi tayangan yang positif maupun negatif.

2.2 Nilai dan Norma Sosial 2.2.1 Nilai Sosial

Nilai sosial adalah sekelompok ukuran, patokan-patokan, keyakinan, atau anggapan yang hidup dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat tertentu.

Sekelompok keyakinan-keyakinan tersebut dianut oleh banyak orang di dalam komunitasnya dan memuat mengenai apa yang benar, apa yang salah dan apa yang pantas untuk dilakukan serta yang tidak pantas untuk dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari.

2.2.1.1 Bentuk-bentuk Nilai Sosial

Menurut Prof. DR. Notonegoro, bentuk nilai sosial ada tiga (3) macam yaitu:

a. Nilai Material, yaitu suatu keyakinan atau anggapan yang berguna bagi unsur fisik dan jasmani manusia atau masyarakat.

b. Nilai Vital, yaitu segala keyakinan yang berkembang yang berguna di dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

c. Nilai Kerohanian, yaitu sekelompok keyakinan dalam masyarakat yang berkembang tentang apa yang berguna bagi batin manusia. Nilai kerohanian ini terdiri dari 4 macam:

(40)

1. Nilai Kebenaran, yaitu nilai rohani yang bersumber dari akal dan pikiran masyarakat yang menjalaninya.

2. Nilai Keindahan, yaitu nilai yang bersumber dari perasaan masyarakat yang menjalaninya (unsur estetika).

3. Nilai Moral, yaitu nilai rohani yang bersumber pada unsur kehendak dan kemauan atau etika.

4. Nilai Religius, yaitu nilai rohani yang bersifat mutlak dan tidak pernah salah, yang bersumber langsung dari Tuhan.

Dari pengertian dan jenis nilai di atas dapat disimpulkan bahwa nilai adalah suatu yang bersifat nyata dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan kehidupan lingkungan sekitar. Dan nilai yang lebih ditanamkan pada anak-anak di dalam keluarga pemulung lebih kepada nilai moral atau etika.

2.2.1.2 Fungsi Nilai Sosial

Adapun beberapa fungsi nilai sosial sebagai berikut, di antaranya yaitu:

a. Dapat mengarahkan masyarakat untuk berpikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai yang telah disepakati bersama.

b. Sebagai alat untuk menentukan kelas sosial seseorang dalam kelompok masyarakat.

c. Dapat memotivasi seseorang untuk membentuk pribadinya agar sesuai dengan tujuan hidupnya dan tidak melenceng dari nilai sosial yang telah ada.

d. Sebagai alat solidaritas antar sesama masyarakat sehingga mereka bisa saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

(41)

e. Berperan sebagai pengawas, pembatas dan penekan seseorang untuk selalu berbuat baik.

2.2.1.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nilai Sosial

Terdapat beberapa faktor penting yang berperan dalam menentukan arah nilai sosial kehidupan masyarakat, seperti:

a. Pengaruh Media Massa

Media massa sebagai media konsumsi publik pada zaman ini menjadi suatu yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Banyak hal yang dapat ditayangkan di media massa, sehingga hal tersebut berujung pada perbedaan persepsi pikir seseorang yang akan mempengaruhi budaya dan nilai sosial kehidupannya.

b. Perubahan Dalam Ekonomi

Ekonomi memiliki peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagaimana kehidupan kelompok berpenghasilan tinggi, menengah dan rendah memiliki dampak dalam perbedaan pola pikir dan kehidupan mereka, sehingga ekonomi dapat mempengaruhi nilai-nilai sosialnya.

c. Perubahan Dalam Nilai Moral

Perubahan moral merupakan hal yang sangat penting yang berperan di dalam perbedaan nilai sosial masyarakat. Antara komunitas satu dengan yang lainnya berbeda nilai moral yang dianut, maka berbeda pula nilai sosialnya.

d. Kepercayaan Beragama

Kepercayaan terhadap Tuhan merupakan salah satu faktor penentu bentuk nilai sosial yang dianut oleh masyarakat.

(42)

e. Inovasi Teknologi

Teknologi juga memiliki pengaruh yang besar terhadap terbentuknya nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin cangih teknologi dalam komunitas, maka akan semakin rendah pula nilai sosial yang terkandung.

2.2.2 Norma Sosial

Norma sosial adalah patokan perilaku yang memuat nilai-nilai sosial dalam kelompok masyarakat tertentu. Norma sosial bisa disebut dengan peraturan sosial yang bersifat memaksa individu untuk menjalaninya, sehingga dalam menjalankan interaksi sosial, mereka tetap di dalam ruang lingkup nilai sosial yang telah berlaku.

Berdasarkan tingkatan daya ikat yang memaksa individu untuk berbuat sesuai dengan nilai yang berlaku, norma dibedakan menjadi:

a. Cara (Usage)

Bentuk norma ini merupakan cara mengikat yang paling lemah di dalam norma sosial. Bentuk ini adalah suatu perbuatan tertentu yang dilakukan oleh individu dalam kehidupan masyarakat. Maka karena bentuk ini merupakan cara mengikat yang paling lemah, sehingga jika seseorang yang melanggar norma ini tidak akan dikenakan sanksi sosial. Contohnya, bersendawa setelah makan dalam satu kelompok masyarakat dianggap tidak sopan, namun tidak diberikan sanksi tegas.

b. Kebiasaan (Folkways)

Diterjemahkan menurut arti kata-katanya, folkways itu berarti tata cara (ways) yang lazim dikerjakan atau diikuti oleh rakyat kebanyakan (folk).

Folkways merupakan sesuatu kebiasaan dan kelaziman belaka (yaitu sesuatu yang

(43)

terjadi secara berulang-ulang dan ajeg di alam realita), namun karena dikerjakan secara berulang-ulang maka berangsur-angsur terasa kekuatannya sebagai hal yang bersifat standar yang karenanya secara normatif wajib dijalani. Kebiasaan merupakan bentuk kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan dilakukan secara sadar untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dianggap baik oleh masyarakat. Contohnya, sifat disiplin yang ditanamkan dalam pribadi anak-anak sejak kecil. Misalnya, sebelum makan harus cuci tangan dulu, atau sebelum makan harus berdoa dulu.

Sebagaimana halnya dengan norma-norma sosial yang lain, di dalam perannya sebagai sarana pengontrol dan penentu keadaan tertib sosial di alam kenyataan ini, folkways pun mengancamkan sanksi-sanksi kepada siapa saja yang tidak menjalaninya. Sanksi-sanksi folkways itu relatif tidak berat, dan sifatnya tidak formal, terencana dan teratur; melainkan bersifat informal seperti misalnya berupa sindiran, pergunjingan atau olok-olok.

c. Tata Kelakuan (Mores)

Tata kelakuan adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sikap- sikap hidup dalam masyarakat yang dilakukan secara sadar sehingga dapat berfungsi sebagai alat untuk melakukan pengawasan terhadap anggota kelompok masyarakat. Contohnya, melarang berbuat kriminal pada setiap anggota masyarakat, sehingga jika ada individu yang tidak patuh akan dikenakan sanksi sosial yang tegas.

d. Adat Istiadat (Customs)

Adat istiadat merupakan cara mengikat yang paling kuat diantara tiga cara mengikat di dalam norma-norma sosial masyarakat. Adat istiadat merupakan

(44)

kebiasaan baik yang telah dilakukan sejak turun-temurun, sehingga memiliki hubungan yang paling kuat dalam kehidupan masyarakat.

Sedangkan menurut kekuatan sanksinya, norma dibedakan menjadi:

a. Norma Hukum (laws)

Merupakan aturan-aturan yang dirumuskan dan ditetapkan oleh lembaga-lembaga tertentu yang resmi dan memiliki sanksi yang tegas. Contohnya membayar pajak, hukum pidana, hukum perdata dan lain sebagainya.

b. Norma Agama

Merupakan norma sosial yang bersifat mutlak dan tidak bisa diubah-ubah karena berasal langsung dari wahyu Tuhan. Contohnya kewajiban beribadah, kewajiban menjauhi hal-hal yang dilarang agama dan lain sebagainya.

c. Norma Kesopanan

Merupakan norma yang bersifat kebiasaan suatu kelompok masyarakat, dan terkait dengan bagaimana seseorang itu harus berbuat atau bertingkah laku.

Contohnya tidak membuang air liur sembarangan dan lain sebagainya.

d. Norma Kelaziman

Tindakan seseorang dalam masyarakat yang dilakukan tanpa harus berpikir panjang karena hal tersebut dianggap baik dan benar dalam masyarakat.

Contohnya cara berpakaian.

e. Norma Kesusilaan

Norma ini berasal dari hati nurani seseorang, sehingga ia dapat membedakan mana yang patut untuk dilakukan dan mana yang tidak. Sanksi untuk orang yang melanggar norma ini dapat berupa pengucilan atau diusir dari kelompoknya.

(45)

Contohnya bermesraan di tempat umum, melakukan hubungan suami istri sebelum menikah dan lain sebagainya.

f. Norma Mode (fashion)

Merupakan cara dan gaya dalam melakukan sesuatu yang bersifat dinamis (berubah-ubah) sesuai dengan perkembangan zaman. Contohnya, mode berpakaian dan mode rambut. Mode rambut ala anak punk/jalanan yang dibuat gondrong dan dibentuk serta diwarnai lalu lengkap dengan pakaian kaos dan celana yang berwarna hitam.

2.2.2.1 Fungsi Norma Sosial

Adapun beberapa fungsi dari norma sosial yaitu seperti berikut ini:

a. Berlaku sebagai aturan dalam bertindak dan berbuat dalam kehidupan bermasyarakat.

b. Sebagai alat untuk menertibkan kehidupan sosial.

c. Alat untuk mengontrol perilaku sosial bermasyarakat.

d. Bertindak sebagai pembenaran dalam bertindak dan berperilaku.

Dari pembahasan mengenai nilai dan norma sosial di atas, jika disesuaikan dengan kondisi pada keluarga pemulung di Jalan Germania Dusun XIX Desa Kelambir Lima Kebun, hanya beberapa nilai dan norma sajalah yang diketahui, dipahami dan dijalankan serta diajari oleh para orang tua pemulung terhadap keluarga terutama anak-anaknya. Lebih kepada nilai kerohanian seperti nilai moral dan nilai religius serta norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, norma kebiasaan dan norma hukum.

Gambar

Tabel 4.1 Letak Geografi, Topografi dan Wilayah Administrasi Desa Kelambir  Lima Kebun Tahun 2018
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Desa Kelambir Lima Kebun Menurut Dusun Pada  Tahun 2018
Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Desa Kelambir Lima Kebun Menurut Umur Pada  Tahun 2018  No  Kelompok Umur  (Tahun)  Jumlah (Jiwa)  1  0-3  1241  2  4-6  869  3  7-12  1322  4  13-15  1313  5  16-18  1421  6  19-26  1680  7  27-35  1787  8  36-45  1939  9  46-50
Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Desa Kelambir Lima Kebun Menurut Agama Tahun  2018  No  Agama  Jumlah  (Jiwa)  1  Islam  14769  2  Hindu  318  3  Budha  67  4  Kristen  20  Total  15174
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dari ketiga variasi luas penampang saluran untuk aliran gas hydrogen dan oxygen tersebut diperoleh bahwa semakin besar luas penampang aliran yang dibuat, dalam hal ini ditunjukkan

(9) Dalam hal Dana Desa yang telah digunakan untuk pembayaran BLT Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (8) masih terdapat sisa, kepala desa dapat menggunakan sisa Dana

Rencana keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan perawat guna menanggulangi masalah klien sesuai dengan diagnosis keperawatan yang

Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Pada umumnya klien yang

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas yaitu suatu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem informasi manajemen terhadap produktivitas kerja pegawai pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Petisah. Metode

Kebijakan subsidi ekspor yang dilakukan oleh UE sangat men- distorsi pasar karena ekspor gula dijual dengan harga rendah yang menyebabkan industri gula