• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN KEPALA CABANG DINAS PENDIDIKAN TERHADAP MANAJEMEN KINERJA EFEKTIF KEPALA SEKOLAH DASAR DALAM RANGKA PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA : Studi Kasus Tentang Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan di Kota Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERANAN KEPALA CABANG DINAS PENDIDIKAN TERHADAP MANAJEMEN KINERJA EFEKTIF KEPALA SEKOLAH DASAR DALAM RANGKA PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA : Studi Kasus Tentang Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan di Kota Bandung."

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

#

277

PERANAN KEPALA CABANG DINAS PENDIDIKAN TERHADAP

MANAJEMEN KINERJA EFEKTIF KEPALA SEKOLAH DASAR DALAM RANGKA PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

(Studi Kasus Tentang Peranan Kepala Cabang

Dinas Pendidikan di Kota Bandung)

TESIS

Oiajukan untuk memenuhi sebagian

Syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan

Program Studi Administrasi Pendidikan

Oleh:

Drs. MUSA SUWENDI

999782

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa karya tulis dengan

judul "Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Terhadap

Manajemen Kinerja Efektif Kepala Sekolah Dasar Dalam Rangka

Pengembangan Sumber Daya Manusia", beserta seluruh isinya

adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak

melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang

tidak sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat

keilmuan.

Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko/sanksi

yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan

adanya pelanggaran atas etika keilmuan dalam karya saya ini,

atau ada klaim terhadap keaslian karya saya ini.

(3)

Disetujui dan disyahkan oleh:

bimrjinig

Pern

•V _

w

Prof.Dr.H. Engkoswara, M.Ed.

Pembimbing II

(4)

%! > JV.1V ' ' l i i i J i 7 4

PROGRAM PASflASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN IND' )NES1A

PROGRAM PASCASARJAN V

BANDUNG

(5)

ABSTRAK

Peranan yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan terhadap manajemen kinerja efektif pada kepala sekolah dasar, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas

sumber daya manusia sebagai unsur pimpinan dalam

penyelenggaraan pendidikan pada level sekolah. Permasalahan

dalam penelitian ini adalah" Sejauhmana peranan yang

dilakukan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dalam mewujudkan

manajemen kinerja kepala sekolah yang efektif di sekolah

dasar?". Rumusan masalah tersebut, dijabarkan ke dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut

Metode penelitian yang digunakan menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan penelitian kualitatif. Yang menjadi subyek penelitian ini adalah Kepala Cabang Dinas

Pendidikan se Kota Bandung dan Kepala Sekolah Dasar yang mewakili setiap Cabang Dinas Pendidikan se Kota Bandung.

Beberapa temuan dari penelitian ini, dapat dirumuskan

sebagai berikut:

1. Peranan yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan dalam membina komitmen kepala sekolah dasar dimaksudkan sebagai upaya untuk menanamkan dan

membina pribadi kepala sekolah untuk senantiasa memiliki sikap komitmen pada tugasnya selaku pemimpin pendidikan

pada level sekolah dasar.

2. Supervisi yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas

Pendidikan dimaksudkan sebagai upaya untuk menggali,

menghimpun, dan menganalisis berbagai permasalahan,

potensi, dan karakteristik penyelenggaraan pendidikan pada

masing-masing sekolah dasar yang ada di wilayah kerja

Kepala Cabang Dinas Pendidikan masing-masing

3. Mengoperasionalisasikan kinerja kepala sekolah dasar yang dilakukan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan dimaksudkan

sebagai upaya pembinaan yang memfokuskan pada penjabaran kebijakan-kebijakan penyelenggaraan pendidikan

sesuai dengan visi dan misi Dinas Pendidikan Kota Bandung.

4. Evaluasi program kerja dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui efektifitas dan tingkat keberhasilan dari program

kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas

Pendidikan dalam upayanya untuk mewujudkan manajemen kinerja kepala sekolah yang efektif.

(6)

DAFTAR ISI Hal PERNYATAAN LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK iv

KATA PENGANTAR v

UCAPAN TERIMA KASIH viii

DAFTAR ISI xii

DAFTAR TABEL xiv

DAFTAR GAMBAR xv

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 11

C. Pertanyaan Penelitian 13

D. Tujuan Penelitian 13

E. Manfaat Penelitian 15

F. Paradigma Penelitian 17

BAB II KAJIAN PUSTAKA 20

A. Konsep Dasar Administrasi Pendidikan 20 1. Pengertian Administrasi Pendidikan 20 2. Pengertian dan Fungsi Administrasi Personil . 25 B. Manajemen Kinerja Kepala Sekolah 30

1. Langkah-Langkah Analisis Kinerja 30 2. Strategi Peningkatan Manajemen Kinerja

Kepala Sekolah Yang Efektif 34 C. Pembinaan Manajemen Kinerja Efektif

Kepala Sekolah 50

1. Membina Komitmen Kepala Sekolah 52 2. Melakukan Supervisi Sekolah 55 3. Operasionalisasi Tugas Kinerja Kepala

Sekolah 56

4. Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah 66 D. Manajemen Kinerja Sumber Daya Manusia 67

1. Pengelolaan Sumber Daya Manusia di

Sekolah Dasar 67

2. Komponen Pengelolaan Sumber Daya

Manusia 70

E. Telaah Studi Terdahulu Yang Relevan 76

F. Kesimpulan Hasil Kajian Pustaka 79

(7)

BAB III METODE PENELITIAN 81

A. Metode Penelitian 81

B. Lokasi dan Subyek Penelitian 83

C. Teknik Pengumpulan Data 85

D. Langkah-Langkah Penelitian 87 E. Proses Analisa dan Interpretasi 89

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN 93

A. Deskripsi Hasil Penelitian 93 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 93 2. Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan

Dalam Membina Komitmen Kinerja Kepala

Sekolah Dasar 97

3. Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan

Dalam Melaksanakan Supervisi Pendidikan. 114 4. Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan

Dalam Mengoperasionalisasikan Kinerja

Kepala Sekolah Dasar 126

5. Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Dalam Mengevaluasi Kinerja Kepala

Sekolah Dasar 131

B. Pembahasan Hasil Penelitian 135

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI .... 144

A. Kesimpuian 144

1. Kesimpuian Umum 144

2. Kesimpuian Khusus 146

B. Implikasi 149

C. Rekomendasi 151

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(8)

DAFTAR TABEL

Hal

TABEL 1; DAFTAR KEPALA CABANG DINAS PENDIDIKAN

SE KOTA BANDUNG 94

TABEL 2; UPAYA YANG DILAKUKAN KEPALA CABANG DINAS

PENDIDIKAN DALAM MEMBINA KOMITMEN

KINERJA KEPALA SEKOLAH DASAR 97

TABEL 3; UPAYA YANG DILAKUKAN KEPALA CABANG DINAS

PENDIDIKAN DALAM SUPERVISI PENDIDIKAN

TENTANG KINERJA KEPALA SEKOLAH 114

TABEL 4; UPAYA YANG DILAKUKAN KEPALA CABANG DINAS

PENDIDIKAN DALAM MENGOPERASIONALISASIKAN

KINERJA KEPALA SEKOLAH DASAR 127

TABEL 5; UPAYA YANG DILAKUKAN KEPALA CABANG DINAS

PENDIDIKAN DALAM MENGEVALUASI KINERJA

KEPALA SEKOLAH DASAR 132

TABEL 6; PROFIL KINERJA KEPALA CABANG DINAS

PENDIDIKAN SE KOTA BANDUNG 136

TABEL 7; ANALISIS ANTARA TEORI DENGAN TEMUAN

LAPANGAN DALAM PEMBINAAN MANAJEMEN

KINERJA EFEKTIF KEPALA SEKOLAH 141

(9)

DAFTAR GAMBAR

Hal

GAMBAR 1; PARADIGMA PENELITIAN 19

GAMBAR 2; WILAYAH KERJA ADMINISTRASI PENDIDIKAN .. 22

GAMBAR 3; STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA

CABANG DINAS PENDIDIKAN 96

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengembangan sumber daya manusia dalam sektor

pendidikan merupakan salah satu isyu strategik yang sedang

mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Pengembangan

sumber daya manusia dipandang sebagai kunci utama untuk

mengembangkan mutu pendidikan. Pola manajemen Sumber

Daya Manusia (SDM) di sektor pendidikan dewasa ini

mengembangkan prinsip pengembangan (developing) daripada

mengontrol (controlling). Melalui pengembangan sumber daya

manusia tersebut, maka upaya percepatan (akselerasi)

pembangunan pendidikan lebih memungkinkan untuk

diwujudkan. Dalam konsep pengembangan sumber daya dalam

sektor pendidikan salah satunya dikembangkan pula konsep

penghargaan atas prestasi kerja yang ditunjukkan oleh personil

pendidikan. Melalui konsep pengembangan sumber daya

manusia tersebut maka peningkatan mutu pendidikan dapat

lebih diwujudkan secara nyata.

Pembangunan sumber daya manusia mempunyai peranan

yang sangat penting bagi kesuksesan dan kesinambungan

pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu, pembangunan dan

(11)

dan dirancang secara seksama berdasarkan pemikiran yang

matang, yang dimulai sejak dari fundamen pendidikan nasional,

yakni pada jenjang pendidikan di Sekolah Dasar.

Sekolah Dasar merupakan salah satu bentuk satuan

pendidikan pada jenjang pendidikan dasar yang

menyelenggarakan program pendidikan enam tahun.

Keberadaannya sangat urgen bagi kepentingan pengembangan

sumber daya manusia, sebab melalui pendidikan di sekolah

dasar, seseorang dikembangkan untuk menguasai berbagai

kemampuan dasar sebagai bekal bagi dirinya untuk berkembang

lebih lanjut pada masa yang akan datang. Keberhasilan

mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar sangat menentukan

keberhasilan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Oleh

karena itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan

keberhasilan di Sekolah Dasar.

Secara konseptual yang bertanggungjawab atas

penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Dasar adalah Kepala

Sekolah. Kepala Sekolah harus bertanggungjawab atas

pengelolaan pendidikan secara mikro, yakni suatu tahapan yang

membahas dan melaksanakan proses belajar mengajar, di mana

guru sebagai pengelola utama pendidikan.

Kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan yang

(12)

kualitas pendidikan di Sekolah dasar. Berkembangnya semangat

kerja, kerjasama yang harmonis, minat terhadap perkembangan

pendidikan, suasana kerja yang menyenangkan serta

perkembangan kualitas profesional guru banyak ditentukan oleh

Kepala Sekolah. Oleh karena itu, tuntutan manajemen kinerja

kepala sekolah yang efektif merupakan kemampuan yang harus

dimiliki oleh kepala sekolah. Dalam posisi seperti ini, Kepala

Cabang Dinas Pendidikan memiliki peranan yang strategis dalam

mendorong terwujudnya manajemen kinerja yang efektif pada

kepala sekolah dasar. Upaya yang dilaksanakan oleh Kepala

Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan dalam mewujudkan

manajemen kinerja kepala sekolah yang efektif, dapat dilakukan

dengan merumuskan program kerja yang merupakan penjabaran

dari tugas pokok dan fungsinya selaku pimpinan pendidikan'di

tingkat kecamatan.

Secara struktural organisasi, upaya pembinaan

manajemen kinerja kepala sekolah yang efektif, merupakan

salah satu tugas pokok dan fungsi dari Cabang Dinas Pendidikan

setempat. Peranan yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas

Pendidikan Kecamatan merupakan upaya untuk menjabarkan visi

dan misi Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten. Dalam hal ini,

Kepala Cabang Dinas Pendidikan bertugas untuk merencanakan,

(13)

penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Dasar yang berada di

daerah kecamatan di mana ia bertugas. Kepala Cabang Dinas

Pendidikan kecamatan pada hakikatnya adalah seorang manajer

yang harus mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang

lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.

Menurut Stonner (1988), seperti yang dikutip Nanang Fatah

(2000: 23), mengemukakan bahwa "semakin banyak jumlah

sumber kekuasaan yang tersedia bagi pimpinan, akan makin

besar potensi kepemimpinan yang efektif".

Para ahli manajemen berpendapat bahwa kepemimpinan

merupakan suatu konsep manajemen di dalam kehidupan

organisasi mempunyai kedudukan strategis dan merupakan

gejala sosial yang selalu diperlukan dalam kehidupan kelompok.

Mempunyai kedudukan strategis karena kepemimpinan

merupakan titik sentral dan dinamisator seluruh kegiatan operasi

pendidikan, sehingga kepemimpinan mempunyai peranan sentral

di dalam menentukan dinamika sumber-sumber yang ada.

Di samping kedudukannya yang strategis, kepemimpinan

mutlak diperlukan di mana terjadi interaksi kerjasama antar dua

orang atau lebih dalam mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan merupakan gejala sosial dan selalu diperlukan di

(14)

nampak dalam peranan kepala Cabang Dinas Pendidikan untuk

melakukan pembinaan terhadap kepala sekolah dasar.

Untuk dapat melaksanakan kepemimpinannya, seorang

pemimpin harus memiliki kompetensi dalam mempergunakan

berbagai cara yang didasarkan atas pengetahuan dan

pengalamannya. Pemimpin harus cepat dalam memilih dan

mempergunakan tindakan, sikap, prosedur kerja yang sesuai

dan kondisi kerja yang dihadapinya.

Sehubungan dengan tuntutan keterampilan manajerial

kinerja kepala sekolah, maka ada beberapa keterampilan yang

perlu dimiliki oleh kepala sekolah, yakni sebagai berikut:

1. Keterampilan dalam kepemimpinan

Tindakan/penampilan sebagai pemimpin harus cepat dan

tepat serta terampil, dengan kompetensi yang harus dimiliki

seperti:

a. Menyusun rencana bersama

b. Mengajak anggota kelompoknya berpartisipasi

c. Memberikan bantuan yang diperlukan para anggotanya

d. Menimbulkan dan memupuk moral kelompok yang tinggi

e. Turut serta dengan kelompoknya dalam menyusun

keputusan bersama

f. Membagi-bagi dan memindahkan tanggung jawab

(15)

h. Menghilangkan rasa malu dan rendah diri pada anggotanya

supaya mereka berani tampil di muka.

2. Keterampilan dalam hubungan insani

Dalam hubungan antar manusia, kita dapat membedakan

adanya hubungan fungsional/formal dan pribadi.

Hubungan-hubungan fungsional adalah hubungan antara orang yang disebabkan karena adanya hubungan fungsi/tugas antara mereka. Hubungan pribadi yaitu hubungan yang tidak didasarkan atas pekerjaan/jabatan, tetapi didasarkan atas hubungan lain, seperti persahabatan, kekeluargaan, kesenangan, hobi, dan sebagainya. Hubungan insani yang baik tidak dapat diminta atau dipaksakan melainkan timbul secara

wajar.

3. Keterampilan dalam proses kelompok

Proses kelompok dimaksudkan bagaimana meningkatkan

partisipasi anggota setinggi-tingginya, sehingga potensi yang dimiliki para anggota dapat diefektifkan secara maksimal. 4. Keterampilan memilih personel

Seorang pemimpin harus menguasai administrasi personel sekolah. Administrasi personel mencakup segala usaha untuk

menggunakan keahlian dan kesanggupan yang dimiliki

(16)

pengangkatan, penempatan, penugasan, pengawasan,

bimbingan, dan pengembangan.

Untuk dapat memilih personel yang tepat bagi suatu

tugas/pekerjaan tertentu, pertama-tama pemimpin harus

menguasai benar bidang pekerjaannya. la harus tahu secara

mendalam tentang:

a. Tujuan yang akan dicapai oleh usaha yang dipimpinnya

b. Jenis kegiatan dan cara bekerja yang digunakan

c. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam

lingkup pekerjaan yang dipimpinnya.

d. Macam dan jenis serta lembaga pendidikan yang dapat

menghasilkan bermacam pengetahuan dan keterampilan

yang diperlukan dalam lingkungan pekerjaan itu.

e. Keadaan masyarakat .lingkungan ia bekerja yang dapat

mempengaruhi situasi bekerja dan sikap para petugas.

f. Teknik yang dapat dipakai untuk menemukan sifat dan

keterampilan pada orang-orang yang diperlukan.

Dalam kenyataannya bahwa keterampilan seperti di atas

belumlah mencukupi sebagai dasar kompetensi kemampuan

manajerial kinerja kepala sekolah yang efektif. Sehubungan

dengan hal tersebut, Joseph Reitz, dalam Siagian (1983: 12)

mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi

efektifitas

(17)

1. Kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pinipi®.

ini mencakup nilai-nilai, latar belakang, dan pengalar

akan mempengaruhi pilihan dan gaya kepemimpinan yang

digunakannya.

2. Penghargaan dan perilaku atasannya.

3. Karakteristik, harapan, dan perilaku bawahan mempengaruhi

terhadap gaya kepemimpinan.

4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan

mempengaruhi gaya kepemimpinan.

5. Ikim dan kebijaksanaan organisasi mempengaruhi harapan

dan perilaku bawahan.

6. Harapan dan perilaku rekan.

Kerangka konseptual yang dapat dijadikan rujukan dalam

mencermati peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan

Kecamatan dalam mewujudkan manajemen kinerja kepala

Sekolah Dasar yang efektif, dapat menggunakan pola

pengembangan sumber daya manusia yang dikemukakan oleh

para pakar manajemen pendidikan, seperti yang dikemukakan

oleh Engkoswara (1999: 26), yakni sebagai berikut:

1. Perencanaan (Planning), terdiri dari aspek sebagai berikit:

a. Perencanaan yang baik sangat diharapkan karena lungsi

personel atau sumber daya manusia merupakan sesuatu

(18)

b. Rekruitmen (pengadaan), dimaksudkan sebagai upaya

pencarian calon Kepala Sekolah yang memenuhi syarat

dan jumlah tertentu.

c. Seleksi, adalah proses yang dilaksanakan oleh Kepala

Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan untuk memilih

calon-calon Kepala Sekolah Dasar.

2. Pelaksanaan, terdiri dari aspek-aspek sebagai berikut:

a. Induction (penempatan), merupakan suatu usaha agar

Calon Kepala Sekolah Dasar dapat ditempatkan pada

formasi yang disediakan.

b. Pengembangan, dimaksudkan sebagai upaya untuk

merespon kebutuhan akan jabatan Kepala Sekolah Dasar.

c. Compensation (imbalan), adalah proses untuk memberikan

kesejahteraan kepada Kepala Sekolah Dasar.

3. Pengawasan, terdiri dari aspek-aspek sebagai berikut:

a. Appraisal (penilaian), merupakan aktivitas untuk

membantu Kepala Sekolah Dasar.

b. Continuity (kesinambungan), berkenaan dengan suatu

jaminan tentang suatu kesinambungan Kepala Sekolah

Dasar dalam pekerjaannya.

c. Information (information), adalah data dan informasi apa

saja yang perlu diketahui oleh seluruh Kepala Sekolah

(19)

Sejalan

dengan

terjadinya

perubahan

^S

..^

manajemen pendidikan dan tingkat kesadaran publik ve^ggg.v

mutu pendidikan, maka kepala sekolah semakin dituntut

memiliki kemampuan manajerial kinerjanya secara efektif.

Paradigma manajemen pendidikan berbasis sekolah sebagai

konsekuensi pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 tahun

1999 tentang Otonomi Daerah, menghendaki manajemen kinerja

kepala sekolah secara efektif, sehingga dalam memberdayakan

potensi sekolah secara maksimal dalam rangka mencapai mutu

pendidikan yang diharapkan. Kesadaran publik, menghendaki

pertanggungjawaban sekolah kepada masyarakat atas perolehan

prestasi pendidikan yang dicapai oleh anak-anaknya. Sementara

di pihak lain, sekolah diberikan kewenangan dan otonomi yang

cukup luas untuk memberdayakan potensi lingkungan sekolah,

dalam rangka memenuhi tuntutan publik tentang mutu

pendidikan.

Dengan kemampuan manajerial kinerja kepala sekolah

yang efektif, diharapkan adanya tuntutan mutu pendidikan dari

publik dan diberikannya kewenangan pengelolaan sekolah dapat

dipertanggungjawabkan secara baik. Menyadar akan posisi dan

tuntutan kinerja kepala sekolah, maka upaya pembinaannya

perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dalam posisi seperti ini,

(20)

11

memegang

peranan

yang

strategis

dalam

mewujudkan

manajemen kinerja kepala sekolah dasar secara efektif.

B. Rumusan Masalah

Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan

dalam mewujudkan manajemen kinerja kepala sekolah yang

efektif, tidak akan terlepas dari berbagai faktor intern dan faktor

ekstern. Yang dimaksud dengan faktor intern dalam konteks

penelitian ini, adalah Sruktur Oganisasi Cabang Dinas Pendidikan

Kecamatan yang memberikan ruang gerak kepada Kepala

Cabang

Dinas

Pendidikan

Kecamatan

dalam

melakukan

pengangkatan,

penempatan,

pengawasan,

pembinaan,

dan

evaluasi, serta tindak lanjut dari hasil evaluasi. Sementara faktor

ekstern, adalah pola komunikasi antara Kepala Cabang Dinas

Pendidikan dengan para Kepala Sekolah Dasar dalam

menjalankan perannya selaku pembina kepala sekolah dasar.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan merupakan

administrator pendidikan di tingkat Kecamatan. Sebagai

perpanjangan pelaksanaan tugas dari Kepala Dinas Pendidikan

Kota/Kabupaten yang membantu merencanakan, melaksanakan

dan mengawasi serta mengevaluasi pelaksanaan tugas di sektor

(21)

12

Pembinaan yang dilakukan Kepala Cabang Dinas

Pendidikan melalui manajemen kinerja efektif terhadap kepala

sekolah, pada dasarnya merupakan upaya peningkatan kualitas

sumber daya manusia pada level sekolah. Dalam hal ini, dapat

dikatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia,

dilakukan melalui kegiatan pembinaan, supervisi, dan promosi

jabatan melalui penilaian yang dilakukan secara obyektif. Untuk

menjalankan fungsi tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan

memiliki peranan yang strategis dalam meningkatkan kualitas

sumber daya manusia di sektor pendidikan, yang dalam hal ini

yakni Kepala Sekolah Dasar.

Berangkat dari konsep Manajemen Kinerja sebagai

landasan operasional Kepala Sekolah Dasar, peranan dan

tantangan yang dihadapi oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan

banyak menentukan kemampuan kinerja kepala sekolah dasar,

sehingga permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut: "Sejauhmana peranan yang dilakukan

Kepala Cabang Dinas Pendidikan terhadap Manajemen

Kinerja

Efektif Kepala

Setolah

Dasar dalam

rangka

(22)

13

C. Pertanyaan Penelitian

Untuk menjabarkan manajemen kinerja efektif pada

Kepala Sekolah Dasar sebagaimana dinyatakan di atas, maka

dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Kegiatan apa saja yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang

Dinas Pendidikan dalam membina komitmen kerja pada

kepala sekolah dasar se Kota Bandung?

2. Kegiatan apa saja yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang

Dinas Pendidikan dalam melakukan supervisi terhadap kinerja

kepala sekolah dasar se Kota Bandung?

3. Kegiatan apa saja yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang

Dinas Pendidikan dalam mengoperasionalisasikan kinerja

kepala sekolah dasar se Kota Bandung?

4. Kegiatan apa saja yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang

Dinas Pendidikan dalam mengevaluasi kinerja kepala sekolah

dasar se Kota Bandung?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mend >skripsikan

sejauhmana peranan yang dilaksanakan oleh Kepcla Cabang

(23)

Sekolah yang efektif. Peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan

dalam konteks penelitian ini difokuskan pada aspek-aspek

seperti: membina komitmen, supervisi, operasionalisasi kinerja,

dan evaluasi kinerja kepala sekolah dasar, dengan indikator

keberhasilan pada kemampuan manajemen kinerja kepala

sekolah dasar yang efektif.

2. Tujuan Khusus

Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap

data tentang aspek-aspek sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi peranan yang dilaksanakan Kepala Cabang

Dinas Pendidikan dalam membina komitmen kerja pada

kepala sekolah dasar se Kota Bandung, seperti; pemahaman

terhadap tujuan/misi/visi, pemahaman terhadap tanggung

jawab dan tugas, disiplin, dan loyalitas.

b. Mengidentifikasi peranan yang dilaksanakan Kepala Cabang

Dinas Pendidikan dalam melakukan supervisi terhadap kinerja

kepaala sekolah dasar se Kota Bandung, seperti;

meningkatkan motivasi, mengidentifikasi masalah,

mengenbangkan rencana kegiatan, dan melaksanakan

keg iate n.

c. Mengic entifikasi peranan yang dilaksanakan Kepala Cabang

(24)

15

kepala sekolah dasar se Kota Bandung, seperti;

mengidentifikasi standar kinerja, mengidentifikasi kinerja, dan

mengimplementasikan program kerja.

d. Mengidentifikasi peranan yang dilaksanakan Kepala Cabang

Dinas Pendidikan dalam mengevaluasi kinerja kepala sekolah

dasar se Kota Bandung, seperti; menentukan alat ukur,

pelaksanaan evaluasi, dan menindaklanjuti hasil dari evaluasi

program kerja.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian untuk

mengembangkan konsep-konsep administrasi pendidikan,

terutama mengenai konsep kepemimpinan, koordinasi program

kerja organisasi yang meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan,

dan pengawasan, dan kajian pengelolaan sekolah dasar.

2. Manfaat Praktis

Secara aplikatif, hasil dari penelitian ini memiliki manfaat

sebagai berikut:

a. Sebagai bahan informasi bagi para kepala sekolah dasar

untuk meningkatkan manajenen kinerja efektif. Temuan

(25)

16

kepala sekolah, secara tidak langsung dapat mendorong

terciptanya

pengelolaan

sekolah

yang

menggambarkan

adanya koordinasi antara kepala sekolah dengan personel

sekolah dan pimpinan pendidikan pada level birokrasi

berikutnya.

b. Sebagai bahan informasi bagi Dinas Pendidikan Kota Bandung

tentang peranan yang telah dilakukan oleh Kepala Cabang

Dinas Pendidikan dalam mewujudkan Manajemen Kinerja

Kepala Sekolah yang efektif.

c. Sebagai bahan masukkan bagi para Kepala Cabang Dinas

Pendidikan tentang faktor-faktor yang menghambat dalam

melaksanakan perannnya untuk mewujudkan manajemen

kinerja Kepala Sekolah Dasar yang efektif. Hasil dari analisis

ini, dapat dijadikan. bahan pertimbangan untuk

mengantisapinya, sehingga peran yang dijalankan oleh Kepala

Cabang Dinas Pendidikan untuk mewujudkan manajemen

kinerja Kepala Sekolah Dasar yang efektif dapat dijalankan

secara optimal.

d. Sebagai alternatif strafegi bagi upaya peningkatan peranan

Kepala

Cabang

Dinas

Pendidikan

untuk

mewujudkan

(26)

17

F. Paradigma Penelitian

Kepala Cabang Dinas Pendidikan mempunyai peranan

strategis dalam mewujudkan manajemen kinerja Kepala Sekolah

Dasar yang efektif, karena secara struktur organisasi Kepala

Cabang Dinas Pendidikan merupakan administrator pendidikan di

tingkat kecamatan yang mempunyai tugas sebagai perpanjangan

pelaksanaan urusan pembangunan pendidikan dari Kepala Dinas

Pendidikan Kota/Kabupaten sesuai dengan kewenangannya

(tugas pokok dan fungsinya).

Dalam menjalankan peranannya tersebut, Kepala Cabang

Dinas Pendidikan senantiasa harus menjadikan visi dan misi

pembangunan pendidikan sebagai landasan operasional dengan

ditunjang oleh kemampuan analisis lingkungan kontekstual

pendidikan dan kemampuan. berkomunikasi dengan para kepala

sekolah dan instansi terkait lainnya. Kemampuan seperti

membimbing, mengarahkan, dan mengevaluasi merupakan

kompetensi dasar yang harus dimiliki Kepala Cabang Dinas

Pendidikan dalam mewujudkan manajemen kinjerja Kepala

Sekolah Dasar yang efektif. Guna memudahkan pembinaan

manajemen kerje kepala sekolah yang efektif, maka Kepala

Cabang Dinas Per didikan dalam menjalankan peranannya perlu

(27)

Menurut Richard Gorton (1983: 12), dikatakan bahwa

untuk mengukur kinerja organisasi yang efektif, dapat

menggunakan tiga pendekatan, yakni:

1. Pendekatan hasil (Outcome Approach), yaitu hasil yang

diperoleh, seperti adanya perubahan perilaku dalam wujud

pengetahuan atau sikap (attitude) sumber daya manusia

akibat belajar.

2. Pendekatan Proses (Process Approach), yang berfokus pada

pengukuran kuantitas atau kualitas aktivitas yang dilakukan

organisasi. Pendekatan ini lebih berorientasi pada usaha

mengukur usaha-usaha daripada pengaruh (effect).

3. Pendekatan Struktural, yaitu mengkaji kapasitas yang dimiliki

organisasi untuk mencapai kinerja yang efektif. Dalam hal ini

sekolah dikaji dari kualitas fasilitas, guru, dan sarana

pendidikan.

Peran yang dijalankan oleh Kepala Cabang Dinas

Pendidikan dalam mewujudkan- manajemen kinerja Kepala

Sekolah Dasar yang efektif, akan dipengaruhi oleh faktor intern

dan faktor ekstern, dan hal tersebut sebenarnya dapat

diberdayakan secara positif, manakala Kepala Cabang Dinas

Pendidikan tersebut memiliki kompetensi, kreativitas, dan jiwa

(28)

19

Uraian kerangka berpikir di atas, dapat digambarkan

dalam paradigma penelitian berikut ini:

Visi, Misi Dinas

Pendidikan

Kota Bandung

Faktor Interr

Peranan Kepala Cabang Dinas

Pendidikan

Faktor Ekstern

Proses

Pengem

bangan Kinerja KS Yang Efektif

Garribar 1

Paradigma Penelitian

Manajemen Kinerja

KSD

(29)
(30)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dalam mewujudkan manajemen

kinerja sumber daya manusia kepala sekolah dasar se Kota

Bandung. Data dan informasi yang berkenaan dengan tujuan

penelitian tersebut, dianalisa secara kualitatif dengan

menggunakan metode penelitian deskriptif analitik. Sehubungan

dengan hal tersebut, Nana Sudjana dan Ibrahim (1989: 64),

menjelaskan bahwa "penelitian deskriptif adalah penelitian yang

berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang

terjadi saat sekarang di mana peneliti berusaha memotret

peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya untuk

kemudian digambarkan sebagaimana mestinya".

Tentang pendekatan penelitian kualitatif, dijelaskan oleh

Nasution (1992: 5), bahwa "penelitian kualitatif pada hakikatnya

adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya,

berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan

tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya".

Secara rinci Bogdan dan Biklen (1982), Lincoln dan Guba

(31)

82

penelitian kualitatif sebagai berikut: (1) Penelitian kualitatif

melakukan penelitian pada latar alamiah; (2) Peneliti merupakan

alat pengumpul data utama; (3) Menggunakan metode kualitatif;

(4) Analisis data secara induktif; (5) Teori dasar (Grounded

Theory); (6) Laporannya berisi kutipan-kutipan data (secara

deskriptif); (7) Lebih mementingkan proses daripada hasil; (8)

Adanya batas yang ditentukan oleh fokus; (9) Adanya kriteria

khusus untuk keabsahan data; (10) Desain bersifat sementara;

(11) Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.

Ciri-ciri

yang

senada

tentang

penelitian

kualitatif

dikemukakan oleh Nasution (1988: 9-12), yakni sebagai berikut:

(1) Sumber data ialah situasi wajar atau natural setting; (2)

Peneliti sebagai instrumen penelitian; (3) Sangat Deskriptif, (4)

Mementingkan proses maupun produk; (5) Mencari makna di

belakang kelakuan atau perbuatan sehingga dapat memahami

masalah suatu situasi; (6) Mengutamakan data langsung atau

firsthand; (7) Menonjolkan rincian kontekstual; (8) Subyek yang

diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti; (9)

Mengutamakan perspektif, artinya mementingkan pandangar

responden; (10) Verifikasi; (11) Sampling yang purpossive; (12;

Menggunakan audit trial; (13) Partisipasi tanpa menunggu; (14

Mengadakan analisis sejak awal penelitian; dan (15) Desair

(32)

83

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, bahwa penelitian

yang berusaha mengamati perilaku orang dan memahami

kehidupannya serta penafsirannya terhadap kehidupannya lebih

tepat menggunakan penelitian secara kualitatif di mana peneliti

secara langsung dapat berinteraksi dengan responden.

B. Lokasi dan Subyek Penelitian

Yang menjadi lokasi penelitian ini adalah Kantor Cabang

Dinas Pendidikan dan sekolah dasar se Kota Bandung, dengan

fokus yang akan diteliti adalah peranan Kepala Cabang Dinas

Pendidikan dalam mewujudkan manajemen kinerja sumber daya

manusia kepala sekolah dasar.

Terdapat perbedaan mendasar antara teknik sampling

dalam penelitian kuantitatif dengan teknik sampling dalam

penelitian kualitatif. Pada penelitian kuantitatif sampel dipilih dari

suatu populasi sehingga dapat digunakan untuk mengadakan

generalisasi. Dengan cara seperti itu, maka sampel telah

dianggap kuat mewakili ciri-ciri suatu populasi.

Pada penelitian kualitatif, menurut Licoln dan Guba yang

dikutip oleh Lexy J. Moleong (1999:165), dijelaskan bahwa

peneliti mulai dengan asumsi bahwa konteksnya sendiri. Selain

itu dalam penelitian kualitatif peneliti sangat erat kaitannya

(33)

84

diharapkan mampu menjaring sebanyak mungkin informasi dari

berbagai macam sumber. Tujuannya adalah untuk merinci

kekhususan yang adadalam rumusan konteks yang unik dan

menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan

teori yang muncul.

Sampel diambil secara pupossive (bertujuan), yaitu

pengambilan subyek sebagai sampel penelitian yang didasarkan

kepada adanya tujuan tertentu. Teknik

sampling tersebut

mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Lexy J. Moleong,

1999:165-166):

a. Sampel tidak dapat ditentukan atau ditarik terlebih

dahulu.

b. Pemilihan sampel secara berurutan, teknik "Snowball

Sampling", dengan cara responden diminta menunjuk orang lain yang dapat memberiakn informasi dan responden berikutnya diminta pula menunjuk lagi dan begitu seterusnya,. sehingga makin lama sampling akan

semakin banyak.

c. Penyesuaian berkelanjutan dari sampel. Pada mulanya setiap sampel dapat sama kegunaannya, Pada saat

informasi semakin banyak diperoleh dan semakin

mengembangkan hipotesis kerja, sampel dipilih atas

dasar fokus penelitian.

-d Pemilihan berakhir jika sudah terjadi pengulangan, jika tidak ada lagi informasi yang dapat dijaring, maka penarikan sampel dihentikan.

Sampel penelitian ini adalah subyel: yang memiliki

berbagai karakteristik, unsur,

nilai yang berkaitan dengan

peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan d^lam mewujudkan

(34)

85

Berangkat dari kerangka konseptuai di atas dan tujuan

penelitian ini, maka yang menjadi subyek penelitian, adalah

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah Dasar se

wilayah Tegallega Kota Bandung.

Subyek penelitian di atas dapat berkembang tergantung

pada tujuan (purpossive) dan pertimbangan (considerance)

informasi sesuai dengan data yang diperlukan sehingga

mencapai ketuntasan.

Sejalan dengan maksud pengambilan subyek penelitian,

Nasution (1988: 32-33), menjelaskan sebagai berikut:

Bahwa untuk memperoleh informasi tertentu, sampling dapat diteruskan sampai pada taraf Redadancy atau

kejenuhan, artinya bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh

tambahan informasi baru yang berarti, dengan kata lain

sampel dianggap memadai bila tidak ditemukan pola

tertentu dan informasi.yang dikumpulkan pada saat ini.

C. Teknik Pengumpulan Data

Sesuai dengan jenis pendekatan penelitian yang digunakan

yaitu penelitian kualitatif, maka peneliti sendiri merupakan

instrumen utama penelitian.

Dalam hal ini, Lincoln dan Guba (1985: 39) dalam Imron

Arifin (1996: 119), mengemukakan bahwa "seorang peneliti

naturalistik memilih menggunakan sendiri sebagai human

(35)

86

sebagai instrumen utama, maka peneliti dapat menangkap

secara utuh situasi yang sesungguhnya serta dapat memberikan

makna atas apa yang diamatinya itu".

Pendapat di atas, diperkuat dengan penyataan Nasution

(1988: 55-56) tentang ciri-ciri manusia (peneliti) sebagai

instrumen penelitian, yaitu: (1) Peneliti sebagai alat peka dan

dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang

harus diperkirakan bermakna; (2) Peneliti sebagai alat dapat

menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat

mengumpulkan aneka data sekaligus; (3) Tiap situasi

merupakan suatu keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen

berupa tes atau angket yang dapat menangkap keseluruhan

situasi kecuali manusia; (4) Suatu situasi yang melibatkan

interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan pengetahuan

semata-mata. Untuk memahami, kita perlu merasakannya,

menyelaminya berdasarkan penghayatan kita; (5) Peneliti

sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang

diperoleh dan menafsirkannya; (6) Hanya manusia sebagai

instrumen yang dapat mengamtil kesimpuian berdasarkan data

yang dikumpulkan pada suatu saat dan segera menggunakannya

sebagai balikan untuk mempt roleh penegasan, perubahan,

(36)

87

penelitian, maka menggunakan berbagai teknik pengumpulan

data sebagai berikut:

1. Observasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung

terhadap obyek yang sedang diteliti yakni kegiatan Kepala

Cabang Dinas Pendidikan dalam mewujudkan manajemen

kinerja yang efektif pada Kepala Sekolah Dasar di wilayah

Tegallega Kota Bandung

2. Wawancara, yaitu melaksanakan tanya jawab tatap muka

atau mengkonformasikan subyek penelitian dengan

menggunakan pedoman wawancara. Wawancara ini bertujuan

untuk menggali data dan informasi dari subyek penelitian

semua dengan permasalahannya.

3. Studi dokumentasi, bertujuan untuk melengkapi data yang

bersumberkan bukan dari manusia yang dapat mengecek

kesesuaian data secara triangulasi.

Untuk pengumpulan data secara cermat dan lengkap

dalam penelitian ini digunakan alat pengumpul data, yaitu

pedoman observasi, pedoman wawancara, dan studi

dokumentasi.

D. Langkah-langkah Penelitian

Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini

(37)

1. Tahap Orientasi

Tahap ini merupakan tahap pendahuluan (\

artinya tahap ini seorang peneliti mengadakan penjajagaTTTTari

mengatur strategi pada tahap selanjutnya. Tahapan ini berfungsi

untuk memahami situasi latar penelitian.

2. Tahap Eksplorasi

Tahap ini merupakan tahapan tindak lanjut dari tahapan

sebelumnya, jika tahapan orientasi lebih merupakan

perencanaan, maka tahap eksplorasi lebih merupakan langkah

implementasi dari yang sudah direncanakan. Tujuannya ialah ...

to obtain information in depth about those elements determined

to be solient (Guba, 1978: 233). Artinya, penulis terjun dalam

kancah penelitian dan melakukan penelitian secara intensif.

3. Tahap Member-Check Data

Pada tahap ini peneliti mengadakan triangulasi , artinya

mengadakan bermacam-macam data yang telah dihimpun

sehingga dapat ditemukan kadar kebenaran dan kepastiannya.

Selanjutnya apabiia masih ada data-data yang kurang lengkap,

mengandung bias, dan dipandang belum sampai memadai, maka

perlu diadakan member-cheek. Ini sebenarnya berfungsi untuk

meyakinkan dilakukan analisis dan interpretasi yang

(38)

89

4. Tahap Analisis dan Interpretasi Data

Tahapan analisis dan interpretasi data ini ada yang

dilakukan di lokasi, dan sebaliknya dilaksanakn penafsiran di luar

lokasi. Data yang langsung dianalisa dan ditafsirkan di lokasi,

yaitu terutama data yang direkam secara manual (non

elektronik). Artinya baik melalui observasi, wawancara, hasil

dokumentasi, bimbingan sosial perorangan (social case work),

maupun dengan problem solving, peneliti langsung mengadakan

langkah-langkah seperti modifikasi, klasifikasi dan simplikasi

kasus perkasus terhadap data-data yang bersifat abstrak dan

fenomenologis, sehingga mengandung pesan-pesan tersendiri

dan kemudian akan dianalisis dan ditafsirkan kembali secara matang di luar lokasi.

E. Proses Analisa dan Interpretasi

Dalam penelitian yang dimaksud bahwa, sesuai dengan

sifatnya naturalistic-fenomenologis-kualitatif, tentunya semua

transformais yang dijaring dengan bermacam-macam alat dalam

studi ini berupa "tumpukan data mentah", tentu pula tidak

semua data yang mentah itu akan dipindahkan dalam laporan

penelitian, melainkan perlu dipilih, direduksi, dielaborasi dan

dianalisis berdasarkan tujuan penelitian. Jelasnya apa yang

(39)

90

merupakan proses penyederhanaan dan transformasi timbunan

data mentah, sehingga menjadi kesimpulanOkesimpulan yang

singkat, padat dan bermakna. Untuk memperoleh kesimpuian

yang demikian itu, maka seluruh pekerjaan dalam proses analisis

data kualitatif, sebagaimana ditawarkan oleh Guba (1978) dan

Bogdan (1973).

Sebagai langkah dan teknik yang ditempuh dalam proses

analisis dan interpretasi, yaitu:

1. Proses Analisis

Proses analisis data bersifat holistic dan berkesinambungan

dan tidak terpisah dalam tahapan pengumpulan data melainkan

mencakup dalam banyak hal yang bersifat sejalan, dan harmonis

serta bersifat utuh. Sebagai tahapannya, yaitu:

a. Teorisasi

Teorisasi (teorizing) merupakan proses untuk

mengabstrakan fenomena-fenomena, membuat katefgorisasi,

dan menentukan saling keterkaitannya. Menurut pengertian

sederhana, bahwa teorisasi dapat diartikan sebagai kegiatan

untuk membahas akan apa yang diteliti. Kegiatan tersebut telah

dimulai dari perekaman data, terutama data-data yang direkam

secara manual. Secara lebih spesifiknya, bahwa teorisasi

(40)

yang telah dipersiapkan peneliti. Sebagaimana dapat dipahami

bahwa, kecuali human orally data, banyak dijumpai data yang

tidak berbicara (silent data). Oleh sebab itu, data itu hendaknya

bias dibahasakan oleh seorang peneliti.

b. Analisa Induksi

Analisa induksi (induction analysis) ditempuh setelah

tahapan teorisasi, maksudnya setelah dalam teorisasi informasi

dan fenomena disusun menjadi konstruk-konstruk (kesimpuian

tentative), maka konstruk-konstruk itu perlu dianalisis secara

induktif. Jadi yang disebut analisis induktif ialah merupakan

suatu proses untuk mereduksi dan memodifikasi data-data yang

telah teorisasi sehingga sesuai dengan kebutuhan penelitian

serta fokus dan tujuan penelitian. Dengan cara tersebut, maka

akan tergambar bahwa analisis induksi dimaksudkan untuk

penyederhanaan, memilah-milah (kategorisasi) data, sehingga

dapat terwujud kesimpulan-kesimpulan (tentative) yang lebih

singkat, padat, dan jelas. Proses analisis ini, dilakukan setelah

diperoleh data-data secara keseluruhan.

c. Analisa Tipologi

Analisis tipologi adalah merupakan kegiatan untuk

membandingkan, menarik implikasi dan membentuk kategorisasi

(41)

berbagai sumber data yang telah dianalisa secara induktif, masih

bersifat terpisahkan, sehingga belum dapat tergambarkan saling

keterkaitannya sesuai dengan butir-butir yang dicari dalam fokus

penelitian. Jadi yang dimaksud analisis tipologi ini adalah

merupakan pengelompokkan baru yang disesuaikan dengan

keperluan penelitian.

2. Proses Interpretasi

Dalam proses analisis bersifat deskriptif dan informative,

maka proses interpretasi bersifat reformatif dan transformatif.

Dalam proses interpretative ini peneliti dituntut untuk memiliki

kemampuan dalam menafsirkan, mengadakan keterkaitan

konteks, referensi konsep dan membangun

pemahaman-pemahaman baru. Dengan demikian, maka akan tergambar

proses interpretasi ini diperlukan analisis dan sistesis

multidisipliner, yakni menghubungkan atau mengkomunikasikan

hasil-hasil penelitian dengan landasan teori (konseptualisasi)

yang menjadi kerangka acuan (frame of referencew) peneliti dan

keterkaitannya dengan temuan-temuan dari penelitian lainnya

(42)
(43)

144

BABV

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa kesimpuian

dan rekomendasi yang didasarkan atas penelitian dan

analisisnya, terutama yang berkenaan dengan peranan kepala

cabang dinas pendidikan se kota Bandung dalam mewujudkan

manajemen kinerja yang efektif dalam rangka pengembangan

sumber daya manusia kepala sekolah dasar.

A. Kesimpuian

1. Kesimpuian Umum

Kepala Cabang Dinas Pendidikan memegang peranan

strategis dalam melakukan pembinaan, monitoring, dan evaluasi

kerja kepala sekolah dasar. Sebelum kebijakan otonomi daerah

diberlakukan di Kota Bandung, ruang lingkup atau wilayah kerja

dari Cabang Dinas Pendidikan didasarkan pada PP No. 65 Tahun

1951. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut, disebutkan bahwa

ruang lingkup kerja Cabang Dinas Pendidikan Kota Bandung,

adalah mengelola pembinaan menyangkut "3M" (Man, Money,

(44)

145

pengelolaannya diserahkan kepala Kantor Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Setelah kebijakan otonomi daerah dilaksanakan pada

pemerintahan Kota Bandung, maka diadakan penggabungan

atau fusi antara Dinas P dan K dengan Kandepdikbud menjadi

Dinas Pendidikan. Dengan adanya kebijakan tersebut,

sebenarnya memberikan peluang yang lebih besar bagi Kepala

Cabang

Dinas

Pendidikan

untuk

melakukan

pembinaan,

monitoring,

dan

evaluasi

kerja

kepala

sekolah.

Untuk

mengefektifkan peranan yang dilakukan oleh Kepala Cabang

Dinas Pendidikan tersebut, maka dalam prakteknya memerlukan

acuan normatif, sebagai patokan untuk mengukur kriteria

keberhasilan kinerja kepala sekolah. Dengan menggunakan

acuan normatif tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dapat

melakukan pembinaan, monitoring, dan evaluasi program kerja

sekolah secara konseptual dan obyektif.

Melalui peranan yang dilakukan oleh Kepala Cabang Dinas

Pendidikan tersebut, diharapkan dapat memberikan dampak

positif terhadap manajemen kinerja efektif kepala sekolah.

Melalui kegiatan-kegiatan seperti: membina komitmen kepala

sekolah, melakukan supervisi sekolah, mengoperasionalisasikan

kinerja

kepala sekolah,

dan

mengevaluasi program kerja

(45)

146

menghimpun berbagai informasi yang diperlukan untuk kegiatan

pembinaan selanjutnya.

2. Kesimpuian Khusus

Kesimpuian khusus ini merupakan jawaban atas item-item

pertanyaan penelitian, yang dirumuskan sebagai berikut.

a. Membina Komitmen Kepala Sekolah Dasar

Peranan yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas

Pendidikan dalam membina komitmen kepala sekolah dasar

dimaksudkan sebagai upaya untuk menanamkan dan membina

pribadi

kepala

sekolah

untuk

senantiasa

memiliki

sikap

komitmen pada tugasnya selaku pemimpin pendidikan pada level

sekolah dasar. Dari temuan penelitian ini, dapat disimpulkan

bahwa ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Kepala

Cabang Dinas Pendidikan se Kota Bandung, yakni; pemahaman

terhadap tujuan/visi/misi, pemahaman terhadap tanggungjawab

dan tugas, membina disiplin, dan membina loyalitas kepala

sekolah dasar.

Semua item-item kegiatan yang dilaksanakan oleh Kepala

Cabang Dinas Pendidikan tersebut, telah dijalankan hampir

dengan prosentase di atas rata-rata sebagaimana dinyatakan

(46)

147

b. Melaksanakan Supervisi Pendidikan

Supervisi yang dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas

Pendidikan merupakan salah satu manifestasi dari peranannya

sebagai supervisor pendidikan, terutama dalam penyelenggaraan

pendidikan di jenjang sekolah dasar. Supervisi pendidikan yang

dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan dimaksudkan

sebagai upaya untuk menggali, menghimpun, dan menganaiisis

berbagai

permasalahan,

potensi,

dan

karakteristik

penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing sekolah dasar

yang ada di wilayah kerja Kepala Cabang Dinas Pendidikan

masing-masing.

Dalam menjalankan peranannya sebagai supervisor

pendidikan, berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Kepala

Cabang Dinas Pendidikan se Kota Bandung dalam mewujudkan

kinerja kepala sekolah yang efektif, adalah; meningkatkan

motivasi, mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh

masing-masing

sekolah,

mengembangkan

rencana kegiatan,

dan

melaksanakan kegiatan. Dari keseluruhan item-item pelaksanaan

supervisor, dapat dikatakan bahwa Kepala Cabang Dinas

Pendidikan se Kota Bandung telah menjalankan peranannya

(47)

148

c. Mengoperasionalisasikan Kinerja Kepala Sekolah Dasar

Mengoperasionalisasikan kinerja kepala sekolah dasar yang

dilakukan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan dimaksudkan

sebagai upaya pembinaan yang memfokuskan pada penjabaran

kebijakan-kebijakan penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan

visi dan misi Dinas Pendidikan Kota Bandung. Dalam posisi

sepeti ini,

Kepala Cabang Dinas Pendidikan berperan sebagai

fasilitator bagi para kepala sekolah dasar dalam menjabarkan

program kerja sekolah secara garis besar. Intervensi Kepala

Cabang Dinas Pendidikan dalam merumuskan program kerja

kepala sekolah dasar lebih diarahkan pada pembinaan teknis,

dan konseptual, sehingga diharapkan kinerja kepala sekolah

dasar tersebut sejalan dengan kebijakan pembangunan

pendidikan yang telah digariskan oleh Kepala Dinas Pendidikan

Kota Bandung.

Untuk mengoperasionalisasikan kinerja kepala sekolah

dasar, Kepala Cabang Dinas Pendidikan se Kota Bandung, telah

melaksanakan

kegiatan-kegiatan

seperti;

mengidentifikasi

standar kinerja, mengidentifikasi kinerja, dan

(48)

149

d. Evaluasi Program Kerja

Evaluasi program kerja dimaksudkan sebagai upaya untuk

mengetahui efektifitas dan tingkat keberhasilan dari program

kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Kepala Cabang Dinas

Pendidikan dalam upayanya untuk mewujudkan manajemen

kinerja kepala sekolah yang efektif. Dari hasil evaluasi kinerja

tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dapat menemukenali

berbagai

permasalahan

dan

potensi

apa

yang

dapat

diberdayakan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan untuk

mewujudkan manajemen kinerja yang efektif sesuai dengan

lingkungan kontekstual pendidikan setempat.

Sementara dalam mengevaluasi program kerja yang telah

dilaksanakan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan melaksanakan

kegiatan-kegiatan seperti; menentukan alat ukur yang akan

digunakan

dalam

evaluasi,

melaksanakan

evaluasi,

dan

menindaklanjuti hasil dari kegiatan evaluasi tersebut.

B. Implikasi

Berangkat dari kesimpuian yang dihasilkan dalam

penelitian ini, maka dirumuskan beberapa implikasi sebagai

berikut:

1. Komitmen seseorang terhadap tugas akan dimiliki manakala

(49)

150

menyeluruh mengenai hak dan kewajibannya. Sisi lain dari

komitmen ini menggambarkan kesanggupan mental pada

seseorang untuk loyalitas dalam melaksanakan tugas pokok

dan fungsinya. Oleh karena itu, apabiia Kepala Cabang Dinas

Pendidikan tidak melakukan pembinaan komitmen pada

kepala sekolah, maka dapat diperkirakan kepala sekolah

kurang loyalitas terhadap tugas pokok dan fungsinya.

2. Supervisi sekolah merupakan salah satu teknik yang dapat

menggali dan menghimpun berbagai permasalahan, dan

potensi yang dimiliki oleh kepala sekolah dalam melakukan

pengelolaan sekolah yang dipimpinnya. Oleh karena itu,

supervisi sekolah merupakan kegiatan awal dan utama untuk

memahami secara obyektif dan empiris mengenai kinerja

kepala sekolah. Pembinaan terhadap kepala sekolah tanpa

didasarkan

pada

hasil

supervisi

sekolah,

tidak

akan

menyentuh

permasalahan-permasalahan

aktual

dan

kontekstual.

3. Dalam batas-batas tertentu, upaya untuk menjabarkan

rumusan tugas pokok dan fungsi suatu jabatan tertentu,

memerlukan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dari

atasan. Hal tersebut, berlaku juga dalam kinerja kepala

sekolah, di mana dalam batas-batas tertentu memerlukan

(50)

15T

Pendidikan untuk mengoperasionalisasikan kinerja kepala

sekolah. Manakala kegiatan mengoperasionalisasikan kinerja

kepala sekolah tersebut tidak dilaksanakan oleh Kepala

Cabang Dinas Pendidikan, maka akan sulit untuk melakukan

penilaian program kerja kepala sekolah secara efektif, efisien,

dan tepat sasaran.

4. Evaluasi

merupakan

alat

untuk

mengukur

tingkat

keberhasilan pelaksanaan program kerja kepala sekolah. Oleh

karena itu, peranan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dalam

melakukan pembinaan terhadap kepala sekolah tanpa

melakukan evaluasi, maka tidak akan mampu mengukur

keberhasilan program kerja kepala sekolah. Manfaat lainnya

dari evaluasi tersebut, adalah dapat merumuskan strategi

pembinaan dalam kegiatan selanjutnya.

C. Rekomendasi

Berangkat dari beberapa temuan penelitian dan kenyataan

yang ditemui di lapangan, maka dapat dirumuskan beberapa

rekomenciasi, sebagai berikut:

1. Mengiiigat masih dijumpai beberapa kepala sekolah yang

belum memahami mengenai visi dan misi pembangunan

pendicikan

di

Kota

Bandung,

maka upaya pembinaan

(51)

Dinas Pendidikan, perlu berangkat dari tingkat

kepala sekolah mengenai konsep visi dan misi

pendidikan. Untuk melaksanakan hal tersebut, KepaggaBafig'

Dinas Pendidikan dapat melibatkan berbagai pihak, seperti

pakar pendidikan untuk memberikan pemahaman secara

mendalam mengenai konsep visi dan misi pendidikan.

2. Adanya sebagian Kepala Cabang Dinas Pendidikan yang

memiliki latar belakang pendidikan dan pekerja yang kurang

relevan dengan prinsip-prinsip pengelolaan sekolah, dan

ditambah dengan belum adanya instrumen supervisi sekolah,

maka dipandang perlu untuk mengadakan pelatihan bagi

Kepala Cabang Dinas Pendidikan

3. Untuk meningkatkan keterampilan kepala sekolah dalam

mengoperasionalisasikan.kinerjanya, maka dipandang perlu

bagi Kepala Cabang Dinas Pendidikan untuk mendalami tugas

pokok dan fungsi kepala sekolah dan melakukan analisis

kebutuhan pengelolaan sekolah, sehingga materi pembinaan

yang

dilakukan

oleh

Kepala

Cabang

Dinas

Pendidikan

menyentuh kebutuhan aktuai d«m kontekstual kepala sekolah

dalam mengelola sekolah yang dipimpinnya.

4. Perlu dirumuskan instrumen pe lilaian sebagai pedoman bagi

Kepala Cabang Dinas Pendidikcn untuk melakukan penilaian

(52)

^T

akan digunakan memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang

tinggi, maka dalam proses perumusannya dapat melibatkan

(53)
(54)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Imron, (1996), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-Ilmu

'Sosial Keagamaan, Malang, Kalimasanda Press

Castetter, B., William, (1981), The Personnel Function in

Education Administration, New York, MacMillan Publishing

Co. Inc

Depdagri dan Depdikbud, (1983), Petunjuk Administrasi Sekolah

Dasar, Jakarta

Depdikbud, (1989/1990), Pedoman Supervisi dan Pembinaan

Profesional Guru Sekolah Dasar, Jakarta

Engkoswara, (1987), Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan,

Jakarta, Depdikbud

t (1999), Menuju Indonesia Modern 2020, Bandung,

Yayasan Amal Keluarga

Fakry, Gaffar, (1987), Perencanaan Pendidikan; Teori dan

Metodologi, Jakarta, Depdikbud

_.

—f (1991), Dampak Globalisasi Terhadap Pemantapan

Penyelenggaraan Pendidikan Indonesia Dalam Jangka

Pembangunan

Panjang

Kedua

(Makalah

Temu Karya

Pendidikan III), Bandung, IKIP

Gilley W., Jerry & Eggland A. Steven., (1989), Principles of

Human Resource Development, Mexico City, University

Associates, Inc

Gorton,

Richard

A.,

(1983),

School

Administration

and

Supervision (Se:ond Edition), USA, W.M.C Brown Company

Publisher

Gregorio, Herman <:., (1978), School Administration and

Supervision, Phi ippine, R.P. Garcia Publishing Company.

Guba, E.G, (1978J, Tc ward AMethodology of Naturalistic Inquiry

in Education,

_ong Engeles, Center for the Studi of

(55)

Hersey, Paul and Kenneth H. Blancard, (1993), Management of

Organizational Behavior Utilizing Human Resources, New

Jersey, Prentice Hall. Inc

Huntua, Ismet, (2000), Analisis Kinerja,

Bandung, Dinas

Pendidikan Kota Bandung

Kartadinata, Sunaryo, (1997), Pendidikan untuk Pengembangan

SDM Bermutu Memasuki Abad XXI: Implikasi

Bimbingannya

(Makalah

Konvensi),

Bandung,

IKIP

Bandung

Malayu, S.P. Hasibuan, (1997), Manajemen Sumber Daya

Manusia; Dasar Kunci Keberhasilan, Jakarta,

Gunung

Agung

Moekijat, (1993), Evaluasi Pelatihan Dalam Rangka Peningkatan

Produktivitas (Perusahaan), Bandung, Mandar Maju

Morphet, L. Edgard & Roe L. Johns, (1976), The Economics &

Financing of Education; A System Approach, New Jersey,

Prentice Hall Inc.

Musanef,

(1992),

Manajemen

Kepegawaian

di

Indonesia,

Jakarta, Haji Masagung

Nasution, (1992), Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif,

Bandung, Tarsito

, (1994), Manajemen Personalia; Aplikasi Dalam

Perusahaan, Jakarta, Djambatan

Randall, S. Schuler & Susan E.- Jackson, (1997), Manajemen

Sumber Daya Manusia Menghadapi Abad Ke 21 (Alih

Bahasa Nurdin Sobari), Jakarta, Erlangga

Rifa'i, M., (1982), Administrasi dan Supervisi Pendidikan,

Bandung, Jemmars

Sutisna, Oteng, (1991), Profesionalisasi Tenaga Kependidikan

(56)

Tilaar, H.A.R, (1998), Beberapa Agenda Reformas^

Nasional Dalam Perspektif Abad 21, Ja^

Indonesia

Tilaar, H.A.R., dan Suryadi, Ace, (1993), Analisis KeBp

Referensi

Dokumen terkait

Manajemen Sumber Daya Manusia -

Dan peran manajemen sumber daya manusia BPJS Kesehatan Cabang Bone dalam upaya mendukung peningkatan daya saing produk terbagi atas tiga peran yakni : (1) Peran

Manfaat penelitian ini bagi perusahaan adalah agar manajemen dapat mengetahui sejauh mana efektivitas sumber daya manusia pada True Money cabang Palembang, serta

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Strategi Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Meningkatkan Kualitas Kerja Pegawai Pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang Strategi MSDM dalam

Tujuan dari penulisan buku ini tidak lain adalah untuk membantu para mahasiswa dalam memahami Manajemen Sumber Daya Manusia dan Peranan msdm dalam konteks global, Peranan SDM dalam

Dokumen ini membahas tentang manajemen sumber daya manusia (HRM) dan cara mengatur dan memanfaatkan karyawan secara

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia Siswanto Sastrohadiwiryo Siswanto Sastrohadiwiryo mendefinisikan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan suatu hal yang didalamnya

Meningkatkan manajemen sumber daya pelaku industri kecil Lemahnya kualitas sumber daya manusia SDM, pengusaha pembuat umkm tidak berani untuk mencoba inovasi yang berkaitan dengan