BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Anak adalah individu yang sedang mengalami suatu proses perkembangan yang sangat fundamental dalam kehidupan selanjutnya, dan memiliki dunianya sendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak usia dini adalah anak yang berusia antara 0-8 tahun. Pada usia ini Anak usia dini berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat yang disebut dengan golden age yaitu masa keemasan.
Masa pertumbuhan dan perkembangan ini anak memutuhkan bantuan dari orang lain untuk membantu dalam mengembangkan setiap kemampuannya. Anak membutuhkan kemampuan orang lain untuk mengembangkan kemampuannya, terutama bantuan dari orang tua dan keluarga serta guru disekolah.
Anak membutuhkan bantuan orang lain untuk mengembangkan kemampuan fisik dan motoriknya, kemampuan kognitif, kemampuan bahasanya serta perkembangan kemampuan yang lain, sehingga anak akan tumbuh menjadi manusia normal sebagaimana mestinya.
Semua aspek perkembangan tersebut dapat di kembangkan melalui pendidikan yang baik yang didapatkan dari sekolah. Tujuan pendidikan nasional tercantum dalam Undang-undang RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan nasional pada Bab II, pasal 4, yang berbunyi :
Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Berdasarkan undang-undang sistem pendidikan nasional (UUSPN) Nomor 2 Tahun 1989 dan peraturan pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 1990 Tentang pendidikan prasekolah telah disahkan. Dengan demikian hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai menganggap bahwa betapa pentingnya pembinaan generasi muda secara menyeluruh khususnya pendidikan prasekolah.
Pendidikan prasekolah tersebut membahas berbagai macam hal yang dapat mengembangkan aspek perkembangan anak, pembelajaran dilakukan dengan berbagai macam cara misalnya dengan bermain. Bermain merupakan kegiatan pokok anak usia dini. Dengan bermain anak akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang membantu perkembangannya untuk menyiapkan diri dalam kehidupan selanjutnya.
Pentingnya kegiatan bermain bagi pengembangan kemampuan anak sudah disadari oleh para ahli filsafat seperti Plato maupun Aristoteles. Aristoteles berpendapat bahwa anak-anak perlu didorong untuk bermain dengan apa yang akan mereka tekuni dimasa dewasa nanti. Frobel lebih menekankan bermain dalam belajar karena dia menyadari bahwa kegiatan bermain maupun mainan yang dinikmati anak dapat digunakan untuk menarik perhatian serta mengembangkan pengetahuan mereka (Mayke S, 2001:1) Ahli-ahli pendidikan itu menganggap bermain sebagai kegiatan
yang mempunyai nilai praktis artinya bermain digunakan sebagai media untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan tertentu pada anak. Bermain merupakan jembatan bagi anak dari belajar secara informal menjadi formal.
Kegiatan bermain dapat merangsang perkembangan kemampuan anak.
Menurut Gardner ada 7 komponen kemampuan yang dapat dikembangkan pada diri seseorang. Kemampuan ini antara lain kemampuan linguistik verbal, kemampuan logika matematik, kemampuan interpersonal, kemampuan intrapersonal, kemampuan kinestetik, kecerdasan spasial dan kemampuan Ritmik musikal. Pengembangan kemampuan ini dapat dikembangkan dengan memberikan stimulasi dari lingkungan dimana anak itu berada yaitu dengan cara perencanaan pembelajaran yang dapat merangsang pengembangan kecerdasaran tersebut. Karena pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan sejak dini akan lebih tepat bila pelaksanaan pendidikan usia dini dalam perancangan pembelajarannya mengacu pada pengembangan multiple intellegences tersebut. Berdasarkan alasan itulah penelitian ini dilakukan untuk merancang pembelajaran yang akan merangsang peningkatan kemampuan anak melalui kegiatan bermain.
Berdasarkan kondisi di lapangan pada saat oservasi awal pada tanggal 1-5 september 2014, perkembangan kecerdasan spasial anak masih kurang, hal ini terbukti dengan banyaknya anak didik yang masih belum bisa membedakan sesuatu yang di perlihatkan oleh guru, anak masih harus di bombing dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
TK Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah pada saat observasi awal dengan kegiatan bermain maze memperlihatkan bahwa saat ini anak didik yang ada di TK tersebut masih perlu di kembangkan kecerdasan spasialnya karena dalam hal ini masih banyak anak yang kurang mampu membedakan sesuatu.
Berdasarkan hal tersebut guru hendaknya melakukan pembelajaran yang lebih meningkatkan kecerdasan spasial anak, yang dalam hal ini pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan metode bermain maze.
Berdasarkan alasan itulah peneliti bermaksud mengadakan penelitian dengan merancang pembelajaran yang akan merangsang peningkatan kecerdasan anak melalui kegiatan bermain dengan judul “Penerapan kegiatan bermain maze dalam meningkatkan kecerdasan spasial anak di Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No.
61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah Kab. Sinjai”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, penulis akan mengajukan permasalahan yaitu bagaimana penerapan kegiatan bermain maze dalam meningkatkan kecerdasan spasial anak di Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No.
61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan kegiatan bermain maze dalam meningkatkan kecerdasan
spasial anak di Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang di harapkan dari penelitian ini yaitu ada dua, manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1. Manfaat teoritis yaitu
a. Untuk lembaga pendidikan, dapat menjadi masukan bagi pengembangan ilmu pendidikan anak usia dini untuk mengembangkan pendidikan di Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah yang akan datang.
b. Bagi Peneliti, dapat di jadikan sebagai bahan acuan bagi peneliti-peneliti yang berminat untuk meneliti hal yang sama.
2. Manfaat praktis yaitu
a. Bagi guru, dapat di jadikan sebagai bahan masukan untuk guru dalam meningkatkan kecerdasan spasial anak melalui bermain maze pada anak di Taman Kanak-kanak khususnya di Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah
b. Bagi sekolah yaitu sebagai referensi bagi sekolah tentang pentingnya media pembelajaran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka
1. Tinjauan tentang Bermain Maze a. Pengertian Bermain
Menurut Mayesty (Sujiono, 2009:144) Bermain adalah kegiatan yang anak- anak lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermain adalah hidup dan hidup adalah permainanAnak usia dini tidak membedakan antara bermain, belajar dan bekerja.
Anak-anak umumnya sangat menikmati permainan dan akan terus melakukannya di manapun mereka memiliki kesempatan.
Permainan seharusnya memiliki nilai seimbang dengan belajar. Anak dapat belajar melalui permainan. Banyak hal yang dapat anak pelajari dengan permainan, keseimbangan antara motorik halus dan motorik kasar sangat mempengaruhi pada perkembangan psikologi anak. Selanjutnya Dockett dkk, (Sujiono, 2009:144) berpendapat bahwa:
Bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Bermain merupakan suatu aktifitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti belajar dan bekerja yang selalu dilakukan dalam rangka mencapai suatu hasil akhir.
Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat dikatakan bahwa Bermain adalah salah satu kesukaan mayoritas anak usia dini. Secara normal tidak ada seorang anak pun yang tidak suka bermain. Seemua anak suka bermain, meskipun sifatnya sangat
sederhana. Oleh karenanya, metode bermain ini rassanya sangat cocok bila diterapkan dalam pembelajaran anak usia dini.
Bermain dilakukan dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya akan disukai oleh anak-anak usia dini, tetapi juga sangat bermanfaat bagi perkembangan anak. Untuk itu, ada baiknya bila metode bermain ini diaplikasikan di setiap kali pembelajaran anak usia dini .
Menurut Suyadi (2010: 46) mengemukakan bahwa “Bermain adalah suatu tuntutan atau kebutuhan yang esensial bagi anak TK. Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi, melalui kegiatan bermain anak dapat melakukan koordinasi otot kasar”. Bermacam-macam cara dan teknik dapat digunakan dalam kegiatan bermain. Melalui kegiatan bermain anak dapat terlatih menggunakan kemampuan kognitifnya untuk memecahkan berbagai masalah bermain juga dapat mengembangkan kreativitas anak sesuai dengan tuntutan bermasyarakat, menyesuakan diri dengan teman, dapat memahami tingkah lakunya sendiri, dan paham setiap perbuatan ada konsekuensinya.
Dari uraian di atas dapat simpulkan bahwa bermain bisa dilakukan dimana saja kapanpun, bermain dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran dan tidak hanya akan disukai oleh anak-anak. bermain juga dapat bermanfaat bagi perkembangan anak seperti manfaat motoric, manfaat afeksi, manfaat kognitif, manfaat spiritual, dan manfaat keseimbangan. Menurut Syamsu (2012: 20) mengemukakan :
Bermain juga merupakan tuntutan dan kebutuhan bagi anak TK, dengan bermain anak dapat memuaskan tuntutan kegiatan bermain balok merangsang perkembangan kognitif anak karena anak menggunakan
kemampuan daya pikir atau daya nalarnya, kemampuan menggolong- golongkan, kemampuan menyusun berdasarkan kriteria tertentu dan membayangkan bentuk yang dibuat, cita rasa seni pun dibutuhkan sehingga sehingga menghasilkan suatu bangunan balok yang enak dilihat”. Keterampilan motorik halus dibutuhkan dalam kegiatan ini, konsentrasi juga diperlukan sehingga bermain balok sangat sarat dengan berbagai manfaat.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan kegiatan yang dapat memberikan kesenangan bagi anak. Bermain dapat dilakukan anak secara sendiri-sendiri atau kelompok. Dengan bermain anak-anak dapat mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya dan anak dapat bersosialisasi dengan teman sebaya dan lingkungan tempat bermainnya. Yang dilakukan berdasarkan kesukaanya bukan karena adanya paksaan dari luar diri anak sehingga anak merasa nyaman ketika bermain.
Menurut Purwanto (2010: 5) mengemukakan bahwa “Bermain merupakan kegiatan yang tidak pernah lepas dari anak. Keadaan ini menarik minat peneliti sejak abad ke 17 untuk melakukan penelitian tentang anak dan bermain. Peneliti ingin menunjukkan sejauh mana bermain berpengaruh terhadap anak, apakah hanya sekedar untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan sosial atau sekedar untuk mengisi waktu luang.
Menurut Purwanto (2010: 7) Bermain adalah mengembangkan aspek sosial emosional anak yaitu melalui bermain anak mempunyai rasa memiliki, merasa menjadi bagian/diterima dalam kelompok, belajar untuk hidup dan bekerja sama dalam kelompok dengan segala perbedaan yang ada. Dengan bermain dalam kelompok anak juga akan belajar untuk menyesuaikan tingkah lakunya dengan anak
yang lain, belajar untuk menguasai diri dan egonya, belajar menahan diri, mampu mengatur emosi, dan belajar untuk berbagi dengan sesama. Dari sisi emosi, keinginan yang tak terucapkan juga semakin terbentuk ketika anak bermain imajinasi dan sosiodrama.
Menurut Syaujan (2012) Manusia bermain sepanjang rentang kehidupannya dalam setiap kebudayaan yang asa di dunia. Bermain merupakan suatu fenomena yang sangat menarik perhatian para pendidik. Melalui kegiatan bermain anak,guru akan mendapat gambaran tentang tahap perkembangan dan kemampuan umum si anak. Bermain juga merupakan tuntunan dan kebutuhan yang esensial bagi anak TK.
Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntunan dan kebutuhan perkembangan dimensi.
Menurut Syaujan (2012) Lingkungan bermain yang bermutu tinggi untuk anak usia dini mendukung tiga jenis bermain yang dikenal dalam penelitian anak usia dini.
Tiga jenis bermain tersebut adalah bermain sensorimotor atau main fungsional, main peran, dan main pembangunan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan bermain anak akan memperoleh kesempatan memilih kegiatan yang disukainya, bereksperimen dengan bermacam bahan dan alat, berimajinasi, memecahkan masalah dan bercakap-cakap secara bebas, berperan dalam kelompok, bekerjasama dalam kelompok, dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan.
b. Pengertian Bermain Maze
Permainan maze menurut Alim Sumarno (2012) adalah permainan sejenis puzzle yang berbentuk alur atau jalur-jalur yang bercabang-cabang dan berliku-liku. Maze berguna untuk melatih kecerdasan spasial dan mendorong anak untuk melatih logikanya dalam memecahkan teka-teki dalam permainan maze ini.
Sedangkan menurut Charifa (Alim Sumarno, 2012) menjelaskan “Permainan maze adalah permainan yang melibatkan ketajaman mata dan konsentrasi pikiran untuk menyelesaikannya terutama permainan Maze yang cukup rumit”. Pada permainan Maze, pemain akan dihadapkan pada suatu gambar labirin yang mempunyai titik awal sebagai titik munculnya pemain dan titik tujuan sebagai titik yang harus dicapai pemain dengan melewati jalan bercabang yang tersedia.
c. Manfaat bermain maze
Manfaat bermain maze menurut Khomariyah R.L (Alim Sumarno, 2012) yaitu untuk melatih konsentrasi, koordinasi tangan dan mata, meningkatkan kognitif yaitu daya pikir anak dan melatih motorik halus anak. Permainan maze ini, bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan motorik anak dan kecerdasan spasial anak.
Saat anak mencocokkan bentuk benda tiruan ikan mas, ikan koki, rumput dan batu yang satu dengan yang lainnya, maka pada saat itu anak mengembangkan kecerdasan spasialnya melalui kemampuan menangkap warna, arah, bentuk-bentuk, garis-garis dan ruang sehingga pada saat anak bermain maze, kecerdasan spasial anak
akan berkembang seiring dengan terjadinya sinkronisasi antara kecerdasan spasial anak dengan alur labirin yang digunakan dalam permainan maze.
d. Langkah-langkah bermain maze
Adapun langkah-langkah bermain maze menurut Masterdac (2011) yaitu : 1) Ajak anak duduk diatas alas. 2) Perlihatkan mainan papan alur pada
anak. Perkenalkan gambar apa saja yang ada dalam papan alur tersebut (jenis kendaraan, stasiun, dan tempat-tempat yang terlihat). 3) Kemudian, ajarkan cara memainkannya. Misalnya arahkan kereta api menuju stasiun disertai dengan cerita-cerita yang menarik. 4) Beri kesempatan pada anak untuk memainkan papan alur tersebut, dan biarkan anak bercerita berdasarkan imajinasinya. 5) Lakukan permainan ini berulang-ulang.
2. Kecerdasan spasial
a. Pengertian Kecerdasan spasial
Kemampuan ruang kadang-kadang disebut juga dengan kecerdasan spasial.
Kemampuan ini (Shearer, 2004) meliputi “Kemampuan-kemampuan untuk merepresentasikan dunia melalui gambaran-gambaran mental dan ungkapan artistik.”
Kemampuan psasial merupakan salah satu kemampuan jamak yang dikembangkan oleh Gardner. Gardner (2003 : 173) mengakui bahwa :
Pusat bagi kemampuan ruang adalah kapasitas untuk merasakan dunia secara akurat, untuk melakukan transformasi dan modifikasi terhadap persepsi awal atas pengelihatan, dan mampu menciptakan kembali aspek dari pengalaman, bahkan sampai pada ketidakhadiran dari stimulus fisik yang berhubungan dengan pengalamannya.
Kecerdasan spasial berhubungan dengan objek dan ruang yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasakan pendapat diatas yang dimaksud dengan kecerdasan spasial adalah kemampuan seseorang dalam membentuk model mental dari dunia
ruang yang dicerminkan melalui kemampuan gambar dan dari semua aspek yang ada disekitar mereka dalam mata pikir mereka yang mereka transformasikan tentang gambaran melalui penciptaan dan pembentukan kembali.
Cambell (1996:96) memberikan penjelasan bahwa kecerdasan spasial meliputi kumpulan kemampuan yang saling berkait, termasuk perbedaan, proyeksi, gambaran mental, pertimbangan ruang, manipulasi gambar, dan duplikasi dari gambaran dalam atau gambaran eksternal, setiap atau semua yang dapat diekspresikan.
Pendapat Cambell tersebut dapat dijelaskan bahwa kecerdasan spasial adalah kemampuan dari semua kumpulan yang saling terikat dan terkait satu sama lain yaitu perbedaan kemampuan proyeksi, gambaran mental, pertimbangan ruang, manipulasi gambar dan duplikasi dari gambaran dalam dari semua yang di perlihatkan.
Sedangkan Armstrong (2003:20) menerjemahkan kecerdasan spasial sebagai kemampuan gambar yang mana melibatkan kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga demensi.
Lwin (Sokhrah, 2012:7) memberikan penjelasan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan spasial akan dapat menciptakan kembali semua aspek dari gambaran disekitar mereka dalam mata pikir mereka. Apabila mereka menutup mata mereka, mereka dapat membayangkan dengan jelas pemandangan disekitar mereka, jalan kota yang mereka kunjungi kemarin. Mereka juga dapat menggunakan imajinasi kreatif atau kemampuan berfantasi mereka untuk memperhatikan gambaran yang ada pada berbagai sudut. Mereka kemudian dapat merotasikan gambaran ini dan
melakukan transformasi tentang gambaran tersebut melalui penciptaan atau pembentukan kembali. Kemampuan ini biasa dimiliki oleh seorang pelaut, insinyur, dokter bedah, pemahat ataupun pelukis. Kecerdasan spasial ini memungkinkan orang membayangkan bentuk-bentuk geometri atau tiga demensi dengan lebih mudah. Ini karena ia mampu mengamati dunia spasial secara akurat dan mentransformasi persepsi ini termasuk di dalamnya adalah kapasitas untuk memvisualisasikan, menghadirkan dengan grafik atau ide spasial, dan untuk mengarahkan diri sendiri dalam ruang yang tepat.
b. Indikator kecerdasan spasial
Anak yang memiliki kecerdasan spasial, mereka anak lebih mudah mengenali tempat-tempat yang ada disekitar jalan yang sering mereka lewati. Anak tersebut minimal bisa mengenali beberapa bentuk bangunan atau tempat seperti halnya kotak, lonjong maupun bundar. Selain itu anak ang memiliki kecerdasan spasial juga bisa mengenali warna dengan mudah dan bisa membedakan arah kanan maupun kiri.
Banyak indikator yang bisa anda lihat dari anak yang memiliki kemampuan tersebut.
Berikut beberapa indikator anak yang memiliki kecerdasan spasial menurut Maureen (2014) yaitu “1) Anak mampu melihat arah dan nama jalan, 2) Anak mampu menyebutkan denah rumah, 3) Anak mampu menggambar dengan benar, 4) Membuat beberapa bangunan dalam media yang berbeda, 5) Anak senang bermain puzzle”.
Dari pendapat tersebut, yang akan di gunakan hanya 2 yaitu 1) Anak mampu melihat arah dan nama jalan, dan 2) Anak mampu menyebutkan denah rumah. Hal ini
dilakukan karena hanya dua indikator tersebut yang sesuai dengan hal yang akan di teliti pada penelitian ini.
1. Anak mampu melihat arah dan nama jalan
Hal yang sangat luar biasa bila si kecil mampu menghafal arah dan nama jalan yang sering mereka lewati. Anda tak sadar bahwa mereka memiliki kemampuan yang berbeda dari teman sebaya. Beberapa orang tua mungkin menganggap hal ini hanya sepele padahal mereka memiliki kelebihan yang sangat istimewa yang harus anda dukung dan asah. Dari kecerdasan inilah perlu di kembangkan dan lebih di asah.
2. Anak mampu menyebutkan denah rumah dengan benar
Anak yang cerdas, mereka akan bisa menyebutkan sesuatu yang mereka lihat dengan jelas. Bahkan ibu terkagum ketika anak-anak bisa menyebutkan denah rumah dengan benar. Seperti ketika anak menyebutkan letak kamar, mereka akan menunjukkan letak kamar dengan benar. Anak tersebut mungkin belum pernah melihat denah rumah, namun tanpa di sadari mereka bisa menyebutkan letak kamar dengan benar yang berbentuk segi empat.
c. Langkah untuk mengasah Kecerdasan Spasial
Menurut Howard Gardner, profesor pendidikan dari Harvard University, AS, dalam bukunya Multiple Intelligences, anak yang memiliki kepintaran akan dapat menyelesaikan masalah ruang (spasial). Anak mampu mengamati dunia spasial secara akurat, bahkan membayangkan bentuk-bentuk geometri dan tiga dimensi, serta kemampuan memvisualisasikan dengan grafik atau ide tata ruang (spasial). “Anak
dengan kecerdasan spasial adalah pengamat dunia, mereka peka terhadap tanda-tanda alam dan mengamatinya secara menyeluruh,” ujarnya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan Gardner, orang-orang yang memiliki kepintaran spasial ini lebih banyak dipengaruhi otak kanan, yaitu bagian otak yang bertugas memproses ruang. Namun, sambung Gardner, kemampuan ini bukan hanya anugerah semata dari Tuhan Yang Maha Esa tapi juga bisa ditumbuhkan. Asalkan orangtua bisa menstimulasi kemampuan ini melalui beragam kegiatan. Biasanya anak tipe ini sangat menggemari permainan-permainan ‘melihat melalui pikiran’ seperti menggambar atau membayangkan obyek dan permainan acting atau berpura-pura.
“Latihan bisa diterapkan saat anak di usia balita awal lewat kegiatan sehari-harinya.
Cara untuk mengasah kemampuan anak yang memiliki kecerdasan spasial, kita bisa menstimulasinya sejak dini melalui berbagai cara. Berikut beberapa cara untuk menstimulasi kecerdasan spasial pada anak menurut Maureen (2014) bahwa
“1) Kenalkan mereka pada beberapa nama bangunan dan warna, 2) Bantu anak merakit sesuatu, 3) Pengenalan arah pada anak, 4) Berikan permainan yang menantang.
1) Kenalkan mereka pada beberapa nama bangunan dan warna
Anak yang cerdas dan memiliki kecerdasan spasial, mereka harus diasah kemampuannya dengan berbagai cara. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan mengenalkan beberapa warna dan bentuk bangunan yang sering mereka lihat. Kita bisa mengajak mereka jalan-jalan dan mengenalkan nama bangunan sekaligus warnanya. Secara perlahan anak akan
mudah menghafal beberapa jenis bangunan sekaligus mampu membedakan warna satu dengan warna lainnya.
2) Bantu anak merakit sesuatu
Anak yang memiliki kecerdasan spasial, mereka akan senang bila membangun atau merakit sesuatu. Kita bisa memberikan mereka mainan dan biarkan mereka merakit sendiri, ketika mereka benar-benar kesulitan dalam merakitnya barulah anda membantu dan mengarahkannya.
3) Pengenalan arah pada anak
Anak yang mudah menghafal jalan, lama kelamaan mereka akan mudah menghafal arah, kiri dan kanan, depan dan belakang. Kenalkan arah dengan cara mengajak anak jalan-jalan bersepeda. Lama kelamaan mereka akan mudah untuk menghafal mana sisi kanan, sisi kiri, depan dan belakang.
4) Berikan permainan yang menantang
Membuat anak untuk semakin terasah kecerdasan spasialnya dengan cara memberikan permainan yang menantang dan membuatnya penasaran seperti permainan harta karun. Jenis permainan ini cukup baik untuk stimulasi kemampuan mereka dengan cepat. Adapun menurut Gardner (1993:97) cara mengembangkan kecerdasan spasial anak yaitu sebagai berikut:
1) Sering diajak bepergian dan minta mereka untuk memperhatikan lokasi sebuah tempat, letak toko, dll. 2) Minta mereka menceritakan bagaimana cara mencapai sebuah tempat (misalnya ke rumah nenek). 3) Perbanyak kegiatan menggambar, mulai dari gambar dua dimensi lalu tingkakatkan ke tiga dimensi 4) Perkenalkan dengan alat-alat bantu belajar berupa tiga dimensi, misalnya anatomi tubuh atau kerangka binatang. 5) Permainan
semacam rubik juga dapat membantu meningkatkan kecerdasa spasial juga kemampuan logika matematika. 6) Kegiatan mencari jejak kelompok selain meningkatkan spasial, juga bisa meningkatkan beberapa kemampuan lain seperti kemampuan naturalis, kemampuan logika matematika dan interpersonal.7) Buku-buku yang cocok untuknya adalah jenis buku bergambar menarik apa saja berkaikan dnegan ilmu pengetahuan, daerah wisata, bangunan-bangunan bersejarah, tempat-tempat terkenal, tofografi, tubuh, peta dunia, dll
d. Ciri-ciri kecerdasan Spasial
Ciri-ciri anak dengan potensi kecerdasan spasial (Gardner, 1993:97) yaitu 1) Mampu/mudah tertarik dengan melihat gambar, bentuk, warna, ruang, benda dengan muda. 2) Mudah mengingt letak benda dan lokasi (objek dengan ruang). 3) Memiliki daya imajinasi yang tinggi, mampu membayangkan sesuatu yang tidak dilihat. 4) Memiliki kelebihan dalam menyesuaikan sesuatu menjadi serasi. 5) Senang mendesain sesuatu/menggambar dan melakukan permainan dengan computer. 6) Hasil gambarnya biasanya cukup bagus dan senang membaca peta
2. Peranan permainan maze untuk meningkatkan kecerdasan spasial anak Permainan maze adalah permainan yang membutuhkan konsentrasi, kemampuan untuk membedakan sesuatu dan kemampuan dalam mengkoordinasikan mata dan tangan. Permainan maze jugabermanfaat untuk melatih konsentrasi anak.
Khomariyah, R.L., (Alim, 2012) bahwa :
Permainan maze bermanfaat melatih konsentrasi, koordinasi tangan dan mata, dan melatih kecerdasan spasial anak karena ketika anak melalui lajur dalam permainan maze, maka anak akan memfungsikan penglihatannya sehingga kecerdasan spasial anak dapat berkembang seiring dengan aktivitas yang dilakukan oleh anak saat membedakan sesuatu.
Maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik halus anak dapat dikembangkan melalui permainan maze karena permainan maze merupakan stimuli yang tepat yang dapat digunakan sebagai alternative pilihan dalam mengembangkan kecerdasan spasial anak karena pada saat anak bermain permainan maze, pada saat itulah anak mulai memfungsikan kecerdasan spasialnya sehingga dengan adanya kegiatan membedakan dari penglihatan maka akan dapat mengembangkan kecerdasan spasial anak melalui penglihatan yang terkoordinir dengan baik.
B. Kerangka Pikir
Metode pembelajaran dengan menggunakan permainan maze adalah suatu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran di TK. Metode ini digunakan agar anak dalam belajar mampu mengerti dengan apa yang disampaikan guru melalui permainan tersebut. Sesuai dengan cara belajar anak yaitu bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dapat di katakana bahwa dengan memanfaatkan permainan anak bisa dengan mudah mengerti apa yang disampaikan, atau anak bisa tanggap dan mengambil intisari dari apa permainan yang dimainkan. Permainan maze dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang baik karena dapat menarik perhatian dan minat anak didik. Ada banyak perkembangan yang dapat berkembang melalui pembelajaran menggunakan permainan maze, salah satunya perkembangan kecerdasan spasial.
Permainan maze berfungsi untuk membantu anak didik untuk memperoleh kemudahan dalam meningkatkan kecerdasan spasial anak, karena dengan menggunakan media permainan maze, akan mempermudah anak untuk mengerti apa
yang terlihat dari papan permainan maze tesebut. Langkah-langkah bermain maze a) Ajak anak duduk diatas alas. b) Perlihatkan mainan papan alur pada anak.
Perkenalkan gambar apa saja yang ada dalam papan alur tersebut (jenis kendaraan, stasiun, dan tempat-tempat yang terlihat). c) Kemudian, ajarkan cara memainkannya.
Misalnya arahkan kereta api menuju stasiun disertai dengan cerita-cerita yang menarik. d) Beri kesempatan pada anak untuk memainkan papan alur tersebut, dan biarkan anak bercerita berdasarkan imajinasinya. e) Lakukan permainan ini berulang- ulang.
Permainan maze yang diperlihatkan oleh guru dapat membantu anak untuk cepat mengerti dengan hal-hal penting yang bisa dipahami anak didalam permainan itu. Kemudian perkembangan kecerdasan spasial anak dapat dikembangkan guru dengan menilik lebih jauh lagi dengan menggunakan papan permainan maze pada saat menjelaskan alur-alur mana yang biasanya di tempuh anak dalam menuju ke suatu tempat yang disukai oleh anak-anak sambil menjelaskan bagaimana seharusnya perilaku anak. Menjelaskan kepada anak TK bahwa kecerdasan spasial anak adalah suatu kemampuan yang perlu di kembangkan, menjelaskannya pun harus dengan cara yang mudah di mengerti anak dan dapat dengan cepat di tanggapi oleh anak.
Penerapan kegiatan bermain maze dalam meningkatkan kecerdasan spasial anak dapat diliat pada gambar kerangka pikir berikut.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas, maka dapat dikemukakan hipotesis penelitian sebagai berikut: jika kegiatan bermain maze di terapkan maka dapat meningkatkan kecerdasan spasial anak di TK Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai.
Kecerdasan spasial anak belum meningkat
Langkah-langkah bermain maze : 1) Ajak anak duduk diatas alas.
2) Perlihatkan mainan papan alur pada anak. Perkenalkan gambar apa saja yang ada dalam papan alur tersebut (jenis kendaraan, stasiun, dan tempat-tempat yang terlihat).
3) Kemudian, ajarkan cara memainkannya. Misalnya arahkan kereta api menuju stasiun disertai dengan cerita-cerita yang menarik.
4) Beri kesempatan pada anak untuk memainkan papan alur tersebut, dan biarkan anak bercerita berdasarkan imajinasinya.
5) Lakukan permainan ini berulang- ulang.
1.
Tanda-tandanya :
1) Anak belum mampu melihat arah dan nama jalan,
2) Anak belum mampu menyebutkan denah rumah dengan benar
Kecerdasan spasial anak meningkat:
1) Anak mampu melihat arah dan nama jalan,
2) Anak mampu menyebutkan denah rumah dengan benar
1. Gambar pantai 2. Gambar terminal 3. Gambar gunung 4. Gambar stasiun
BAB III
METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Denzin dan Licoln (Noor Juliansyah, 2012 : 33) Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Menurut Arikunto (2008:15) mendefenisikan penelitian tindakan kelas
adalah penelitian tindakan yang dilakukan dikelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktek pembelajaran. Penelitian tindakan kelas ini digunakan untuk mengkaji dan merefleksikan secara mendalam beberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar, interaksi antara guru dan anak didik, dan interaksi antara anak didik yang dapat menjawab permasalahan penelitian.
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini mengkaji, bermai jemari berangka dalam meningkatkan kemampuan berhitung pada kelompok B di Taman Kanak-Kanak 1 Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai tengah. Untuk mengetahui hal tersebut maka ada beberapa fokus yang ingin diteliti dalam penelitian tindakan kelas ini ada sebagai berikut :
21
1. Permainan maze adalah permainan sejenis puzzle yang berbentuk alur atau jalur-jalur yang bercabang-cabang dan berliku-liku. Maze berguna untuk melatih kecerdasan spasial dan mendorong anak untuk melatih logikanya dalam memecahkan teka-teki dalam permainan maze ini.
2. Kecerdasan spasial sebagai kemampuan gambar yang mana melibatkan kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga demensi.
C. Setting dan Subjek Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Taman Kanak-Kanak 1 Atap SDN No.
61 Tadi yang terletak di Desa Baru Kecamatan Sinjai tengah. Di Taman Kanak- Kanak 1 atap SDN no. 61 tadi. Subjek penelitian ini akan diadakan pada kelompok B yang anak didiknya berjumlah sekitar 15 orang anak didik. Di mana 9 orang laki-laki dan 6 perempuan serta 1 orang guru.
D. Prosedur dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua siklus yang didasarkan atas pertimbangan alokasi waktu dan topik yang dipilih. Masing-masing siklus terdiri dari empat langkah (Arikunto, 2008:16) sebagai berikut : a) Perencanaan, b) Tindakan, c) Observasi, d) Refleksi. Adapun bagan dari tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas oleh Arikunto dkk. (2008: 16) Tahapan penelitian siklus I
Siklus pertama berlangsung dua kali tatap muka dalam seminggu yang dibagi dalam empat tahap sesuai dengan kriteria penelitian tindakan kelas, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Pelaksanaan siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan.
Perencanaan
Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan
Pengamatan
Perencanaan
Refleksi SIKLUS II
Pelaksanaan
Pengamatan
Siklus N
a. Perencanaan
Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian ini, terlebih dahulu diadakan persiapan. Perencanaan dilakukan untuk mempersiapkan segala komponen yang akan digunakan dalam pembelajaran, persiapan meliputi :
1) Melakukan izin kepada pihak sekolah dan guru kelas yang terkait untuk melakukan penelitian dengan menerapkan kegiatan pembelajaran maze dalam kegiatan belajar mengajar.
2) Peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas yang bersangkutan untuk mengidentifikasi kecerdasan spasial anak yang masih kurang meningkat.
3) Peneliti dan guru yang bersangkutan menentukan waktu penelitian dan tempat untuk melaksanakan penelitian.
4) Peneliti menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH) berdasarkan materi yang akan diajarkan.
5) Peneliti menentukan tema yang akan diajarkan sesuai dengan waktu penelitian.
6) Menyiapkan materi pembelajaran dengan menentukan tema yang sesuai dengan bermain maze dalam meningatkan kecerdasan spasial anak.
7) Peneliti membuat lembar observasi untuk anak didik dan observasi untuk guru.
b. Pelaksanaan tindakan 1) Pertemuan pertama
a) Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disiapkan, yaitu mengikuti prosedur pembelajaran berdasarkan bermain maze dengan indicator.
b) Memantau keaktifan anak didik dalam bermain maze untuk meningkatkan kecerdasan spasial dan diakhir siklus pertama diadakan observasi.
c) Mengevaluasi hasil dari pemantauan.
2) Pertemuan kedua
a) Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disiapkan, yaitu mengikuti prosedur pembelajaran berdasarkan kegiatan bermain Maze.
b) Memantau keaktifan anak didik dalam bermain maze diakhir siklus pertama diadakan observasi.
c) Mengevaluasi hasil dari pemantauan.
c. Pengamatan
Tahap pengamatan dilaksanakan pada saat anak melaksanakan kegiatan setiap pembelajaran, adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1) Mengamati kegiatan yang berlangsung 2) Mengamati lembar format pengamatan
3) Memberi catatan tambahan jika ada yang terlewatkan
4) Mendokumentasikan kegiatan yang berlangsung dengan foto d. Refleksi
Pada akhir siklus diadakan refleksi terhadap hasil yang diperoleh dari lembar observasi yang diambil selama proses kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal-hal yang masih kurang perlu diperbaiki dan dikembangkan dengan tetap mempertahankan hasil yang sudah baik pada setiap pertemuan dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengadakan tindakan lanjutan.
Tahapan penelitian siklus II
Rencana tindakan siklus 2 dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan terhadap pelaksanaan program pada siklus 1. Tahapan tindakan pada siklus 2 mengikuti tahapan tindakan siklus 1. Jika tahapan siklus 2 tidak berhasil maka di lanjutkan dengan tahapan siklus selanjutnya.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan bagian yang terpenting dalam suatu penelitian, bahkan merupakan suatu keharusan bagi seorang peneliti. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan beberapa teknik dalam proses pengumpulan data, yaitu, observasi dan dokumentasi.
a. Observasi : dilakukan dalam rangka memperoleh data tentang kegiatan guru saat mengajar dengan kegiatan bermain maze, dan hasil kerja atau foto yang mendukung hasil penelitian.
b. Dokumentasi : dilakukan untuk memperoleh data tentang jumlah anak didik di Taman Kanak-Kanak 1 Atap SDN No. 61 Tadi dan data lampiran portofolio anak yang berkaitan dengan kecerdasan spasial anak dengan bermain maze.
F. Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan 1. Teknik analisis data
Analisis data dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilakukan selama dan sesudah pengumpulan data. Analisis data dapat dilakukan setelah melihat data yang telah dikumpulkan melalui observasi selama tahapan-tahapan (siklus) yang telah dilewati. Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan data aspek guru dan aspek siswa dalam proses pembelajaran dianalisis berdasarkan kemunculan indikator. Teknik yang dilakukan adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Miller dan Hubermann (Iskandar, 2008: 84) yang terdiri dari 3 tahap kegiatan, yaitu: mereduksi data, menyajikan data, menarik kesimpulan dan verifikasi.
a. Mereduksi data adalah proses kegiatan menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan semua data yang diperoleh mulai dari awal pengumpulan data sampai penyusunan laporan penelitian.
b. Menyajikan data adalah kegiatan mengorganisasikan hasil reduksi dengan cara menyusun secara naratif sekumpulan informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi sehingga dapat memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
c. Menarik kesimpulan dan verifikasi data adalah memberikan kesimpulan terhadap hasil penafsiran dan evaluasi yang mencakup makna data serta memberikan penjelasan selanjutnya dilakukan verifikasi yaitu menguji kebenaran, kekokohan makna-makna yang muncul dari data.
2. Indikator keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini apabila peningkatan kecerdasan spasial anak telah mencapai 75% setelah bermain maze diterapkan dan tujuan indikator kurikkulum dapat tercapai.
Tabel 3.1 penilaian hasil belajar
No Kategori Indikator Simbol
1 Baik Anak dapat melakukan kegiatan dengan baik.
•
2 Cukup Anak dapat melakukan kegiatan dengan baik,
tapi agak sedikit lamban.
√
3 Kurang Anak dapat melakukan kegiatan dengan baik,
tapi kadang agak lamban dan kadang salah.
○
Sumber : Dirjen PAUD 2007 (Hernawati 2013)
BAB IV
29
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah didirikan pada tahun tanggal 1 Agustus 2003 yang terletak di Dusun Bua Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai.
Tenaga pendidik di Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 orang Kepala Sekolah dan 2 orang guru.
Sejak didirikan pata tahun 2003 hingga sekarang, Taman Kanak-kanak ini senantiasa mengalami perkembangan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah anak didik pada setiap tahunnya yang selalu bertambah. Pada tahun ajaran 2014/2015 jumlah anak didik adalah 32 orang anak didik yang terbagi dalam dua kelompok yaitu Kelompok A dan kelompok B,dengan jumlah 18 anak didik kelompok A dan kelompok B dengan jumlah 15 anak didik.
2. Penerapan kegiatan bermain maze dalam meningkatkan kecerdasan spasial anak di Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah
Pelaksanaan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kecerdasan spasial melalui kegiatan bermain maze pada anak, sangatlah penting.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan di Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah , bahwa penggunaan kegiatan bermain maze dalam pelaksanaan pembelajaran dapat
meningkatkan kecerdasan spasial pada anak. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan kegiatan bermain maze, yaitu:
menentukan tema, mengatur ruangan, menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, pelaksanaan kegiatan, peningkatan kecerdasan spasial pada anak.
Adapun pelaksanaannya dilakukan dengan 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II di mana pada setiap siklus terdapat dua kali pertemuan.
3. Peningkatan Kecerdasan spasial Melalui Kegiatan bermain maze Di Taman Kanak-Kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah Pada Siklus I Pembelajaran 1
Untuk menggambarkan peningkatan kecerdasan spasial pada anak melalui pembelajaran dengan menggunakan kegiatan bermain maze pada siklus I pembelajaran 1 yang dilaksanakan pada hari Senin, 12 Januari 2015 dapat dilihat pada tahap-tahap berikut:
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut : 1. Menyusun Rancangan Kegiatan Harian (RKH).
2. Membuat lembar observasi mengenai kecerdasan spasial anak melalui kegiatan pembelajaran kegiatan bermain maze.
b. Perlakuan
Pada tahap ini terbagi atas tiga kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan penutup, hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
Tabel 4.1. Proses Pelaksanaan Siklus I Pembelajaran 1 Kegiatan awal:
a. Salam dan berdoa
b. Menyanyi lagu-lagu-lagu berdoa
c. Tanya jawab tentang kendaraan yang ada didarat Kegiatan Inti:
a. Mewarnai gambar jungkitan b. Maze mencari pantai
c. Mengelompokkan gambar permainan yang ada didalam kelas Istirahat:
a. Berdoa
b. Mencuci tangan c. Bermain
Kegiatan Penutup
a. Bermain dengan tenang diluar kelas b. Meniru kata mobil, motor, becak c. Berdoa untuk pulang
1) Kegiatan Awal:
Pada kegiatan awal selalu ditandai dengan pelaksanaan kegiatan pembiasaan atau kegiatan rutin seperti mengucapkan salam kepada guru dan teman-teman ketika masuk ruangan kelas. Sebelum melaksanakan kegiatan belajar, anak dibiasakan untuk selalu berdoa kemudian anak diajak untuk bernyanyi agar anak tetap semangat mengikuti kegiatan belajar hingga usai. Setelah kegiatan pembiasaan dilakukan, anak kemudian diajak untuk menjawab pertanyaan secara sederhana seperti menyebutkan kendaraan yang didarat.
2) Kegiatan inti
Kegiatan inti merupakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran yaitu Mewarnai gambar jungkitan, Mencari jejak ke pantai, mengelompokkan gambar permainan yang ada didalam kelas.
3) Kegiatan akhir
Pada kegiatan akhir, anak diberikan tugas untuk dikerjakan sendiri hingga selesai. Hal ini dilakukan agar anak belajar untuk bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepada mereka. Setelah itu, anak dan guru kemudian melaksanakan kegiatan tanya jawab tentang kegiatan hari itu dimulai dari kegiatan awal hingga kegiatan akhir pembelejaran. Di akhir pertemuan, anak kemudian bernyanyi, berdoa pulang dan member salam kepada guru.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung berupa penilaian terhadap perkembangan kecerdasan spasial pada anak melalui pembelajaran dengan menggunakan kegiatan bermain maze serta pelaksanaan kegiatan guru.
1) Observasi kegiatan guru
(a) Guru memberi penjelasan mengenai manfaat dan tujuan pembelajaran/
latihan untuk membangkitkan motivasi belajar pada anak. Sebelum kegiatan pembelajaran dilakukan terlebih dahulu guru memberi penjelasan manfaat dan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran dalam hal ini meningkatan kecerdasan spasial dengan
menerapkan kegiatan bermain maze. Penjelasan guru belum dipahami oleh sebagian anak didik sehingga, penilaian guru berada pada kategori cukup.
(b) Pembelajaran/ latihan dilaksanakan secara bertahap dari yang sederhana ke taraf yang lebih sulit. Dalam pelaksanaan latihan, agar diperoleh hasil yang maksimal maka latihan harus diberi secara bertahap. Pada langkah ini, guru mendapat penilaian cukup dikarenakan dalam memberikan latihan guru tidak memberikan tahapan latihan dari yang mudah ke taraf yang lebih sulit.
(c) Guru/ pendidik memperhatikan bagian yang sulit menurut anak didik.
Dalam hal ini guru tidak memperhatikan kesulitan dan hambatan pada anak didik dalam melaksanakan latihan yang diberikan, sehingga guru mendapat penilaian kurang.
(d) Guru/ pendidik memberikan perhatian khusus bagi anak didik yang mengalami kesulitan. Pada tahap ini guru tidak memberikan perhatian khusus kepada anak didik secara menyeluruh sehingga hanya beberapa anak saja yang mampu melaksanakan latihan dengan baik. Oleh karenanya, guru hanya memperoleh penilaian kurang.
2) Observasi kecerdasan spasial anak
Hasil observasi pada anak menunjukkan bahwa dari 3 item hal-hal yang diamati pada anak Kelompok B Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN
No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah pada pembelajaran 1 siklus I, dapat diuraikan pada tabel berikut:
Tabel 4.2. Kecerdasan spasial Anak Siklus I Pembelajaran 1
Indikator Yang Diamati Jumlah
Anak
Perkembangan Kecerdasan spasial
Anak
● √ ○
Mewarnai bentuk gambar sederhana
Mewarnai gambar
jungkitan 15 2 6 7
Melihat arah dan nama jalan
Maze mencari pantai
15 2 7 6
Menyebutkan dan menceritakan perbedaan dua buah benda
Mengelompokkan gambar permainan yang ada didalam kelas
15 3 5 7
(1) Pada indikator yang pertama yaitu Mewarnai bentuk gambar sederhana. Dari hasil penelitian diperolah 2 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 6 orang anak yang hasilnya mampu, dan 7 orang anak yang masih kurang mampu.
(2) Pada indikator kedua yaitu Melihat arah dan nama jalan, dalam hal ini yaitu kemampuan anak dalam mencari jejak ke pantai. Hasil penelitian menunjukkan 2 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 7 orang anak yang hasilnya mampu, dan 6 orang anak yang masih kurang mampu.
(3) Pada indikator ketiga yaitu Menyebutkan dan menceritakan perbedaan dua buah benda. Hasil penelitian menunjukkan 3 orang anak yang
hasilnya sangat mampu, 5 orang anak yang hasilnya mampu, dan 7 orang anak yang masih kurang mampu.
d. Refleksi
Dengan melihat hasil pada pembelajaran 1 siklus I, maka hasil refleksi yang ditemukan adalah:
1) Perencanaan: masih perlu dipersiapkan lagi, seperti: anak harus lebih diberikan kesempatan agar anak bisa aktif dalam pembelajaran, dan suasana pembelajaran dalam hal peningkatan kecerdasan spasial pada anak masih terlihat kurang aktif, agar anak merasa tidak bosan dan mereka termotivasi dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
2) Pelaksanaan: guru kurang menjelaskan aturan main kegiatan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan kegiatan bermain maze yang akan dilaksanakan dalam meningkatkan kecerdasan spasial pada anak, anak masih bingung dalam mengikuti kegiatan belajar, serta kurangnya dorongan dari berbagai sumber terutama guru serta motivasi yang dibutuhkan anak.
3) Observasi: pengamatan dalam penelitian masih sangat sulit dilakukan dengan baik karena antara anak maupun guru belum dapat melakukan kegiatan dengan baik.
4. Gambaran Peningkatan Kecerdasan spasial Melalui Kegiatan bermain maze Di Taman Kanak-Kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah Pada Siklus I Pembelajaran 2
Untuk kecerdasan spasial anak pada siklus I pembelajaran 2 yang dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 13 Januari 2015 dan hasilnya dapat dilihat pada tahap berikut:
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut : 1. Menyusun Rancangan Kegiatan Harian (RKH).
2. Membuat lembar observasi mengenai kecerdasan spasial anak melalui kegiatan pembelajaran kegiatan bermain maze.
b. Perlakuan
Pada tahap ini terbagi atas tiga kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan penutup, hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
Tabel 4.4. Proses Pelaksanaan Siklus I Pembelajaran 2 Kegiatan awal:
a. Salam dan berdoa b. Bermain tutup mata
c. Bercakap-cakap tentang sabar Kegiatan Inti:
a. Kolase gambar mobil b. Maze mencari terminal c. Menulis huruf AIUEO.
Istirahat:
a. Berdoa
b. Mencuci tangan c. Bermain
Kegiatan akhir:
a. Bercakap-cakap kegunaan mobil
b. Bercakap-cakap tentang sikap kita pada waktu bermain c. Berdoa untuk pulang
1) Kegiatan awal
Beberapa kegiatan yang dilakukan di awal pertemuan pada hari Selasa tanggal 13 Januari 2015, di antaranya yaitu kegiatan rutin atau kegiatan pembiasaan yang selalu dilakukan seperti mengucapkan salam ketika memasuki ruangan kelas, kemudian berdoa sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai serta gur mengajak anak-anak untuk bernyanyi agar anak tetap semangat mengikuti kegiatan pembelajaran hingga selesai. Setelah kegiatan rutin dilaksanakan, anak kemudian melakukan kegiatan bercakap- cakap tentang sabar.
2) Kegiatan inti
Pada kegiatan inti, dilaksanakan kegiatan pembelajaran yang menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu meningkatkan kecerdasan spasial pada anak melalui pelaksanaan kegiatan bermain maze. Pada kegiatan ini, anak dilatih untuk mencari jalan bagaiana cara agar bisa sampai ketempat tujuan yang dicari yaitu terminal.
3) Kegiatan akhir
Pada akhir kegiatan pembelajaran dilaksanakan kegiatan Bercakap-cakap kegunaan mobil. Kemudian dilakukan kegiatan rutin seperti kegiatan tanya jawab tentang kegiatan hari ini. Kegiatan tanya jawab dilakukan agar anak didik mengingat apa yang telah dilakukan di awal pembelajaran hingga akhir kegiatan belajar. Setelah itu, anak kemudian bernyanyi bersama, sama dan berdoa sebelum pulang.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung berupa penilaian terhadap perkembangan kecerdasan spasial pada anak melalui pembelajaran dengan menggunakan kegiatan bermain maze serta pelaksanaan kegiatan guru.
1) Observasi kegiatan guru
(a) Guru memberi penjelasan mengenai manfaat dan tujuan pembelajaran/
latihan untuk membangkitkan motivasi belajar pada anak. Sebelum kegiatan pembelajaran dilakukan terlebih dahulu guru memberi penjelasan manfaat dan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran dalam hal ini meningkatan kecerdasan spasial dengan menerapkan kegiatan bermain maze. Pada tahap ini, penilaian guru berada pada kategori baik.
(b) Pembelajaran/ latihan dilaksanakan secara bertahap dari yang sederhana ke taraf yang lebih sulit. Dalam pelaksanaan latihan, agar diperoleh hasil yang maksimal maka latihan harus diberi secara bertahap. Pada langkah ini, guru mendapat penilaian cukup dikarenakan dalam memberikan latihan guru belum memberikan tahapan latihan dari yang mudah ke taraf yang lebih sulit.
(c) Guru/ pendidik memperhatikan bagian yang sulit menurut anak didik.
Dalam hal ini guru tidak memperhatikan kesulitan dan hambatan pada
anak didik dalam melaksanakan latihan yang diberikan, sehingga guru mendapat penilaian kurang.
(d) Guru/ pendidik memberikan perhatian khusus bagi anak didik yang mengalami kesulitan. Pada tahap ini guru belum memberikan perhatian khusus kepada anak didik secara menyeluruh sehingga hanya beberapa anak saja yang mampu melaksanakan latihan dengan baik. Oleh karenanya, guru hanya memperoleh penilaian kurang.
2. Observasi kecerdasan spasial anak
Hasil observasi pada anak menunjukkan bahwa dari 3 item hal-hal yang diamati pada anak Kelompok B Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah pada pembelajaran II siklus I, dapat diuraikan pada tabel berikut:
Tabel 4.5. Kecerdasan spasial Anak Siklus I Pembelajaran 2
Indikator Yang Diamati Jumlah
Anak
Perkembangan Kecerdasan spasial
Anak
● √ ○
Membuat gambar dengan tekhnik kolase dengan memakai berbagai media
Kolase gambar mobil
15 4 6 5
Menyebutkan denah rumah dengan benar
Maze mencari terminal
15 4 6 5
Menuliskan nama Menulis huruf AIUEO 15 4 3 8
sendiri yang lengkap
1) Pada indikator pertama yaitu Membuat gambar dengan tekhnik kolase dengan memakai berbagai media. Dari hasil penelitian diperolah 4 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 6 orang anak yang hasilnya mampu, dan 5 orang anak yang masih kurang mampu.
2) Pada indikator kedua yaitu Menyebutkan denah rumah dengan benar.
Hasil penelitian menunjukkan 4 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 6 orang anak yang hasilnya mampu, dan 5 orang anak yang masih kurang mampu.
3) Pada indikator ketiga yaitu Menuliskan nama sendiri yang lengkap.
Hasil penelitian menunjukkan 4 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 3 orang anak yang hasilnya mampu, dan 8 orang anak yang masih kurang mampu.
a. Refleksi
Dengan melihat hasil pada pembelajaran 2 siklus I, maka hasil refleksi yang ditemukan adalah:
1) Perencanaan: masih perlu dipersiapkan lagi, seperti: guru harus mempersiapkan perencanaan pembelajaran dengan lebih baik dengan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan gejala pada anak sehingga
kurang meningkatnya kemampuan anak dalam kemapuan spasial.
Menyusun kembali rancangan tindakan dan skenario tindakan.
2) Pelaksanaan: memberikan perhatian dan pengarahan kepada setiap anak sehingga anak dapat memahami tugas yang diberikan dengan baik. Selain itu, suasana belajar yang harus dilakukan dengan menyenangkan agar anak merasa tidak bosan dan mereka termotivasi dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
3) Observasi: pengamatan dalam penelitian masih sangat sulit dilakukan dengan baik karena anak belum dapat melakukan kegiatan dengan baik sehingga perlu dilakukan pembelajaran dengan melakukan siklus kedua.
5. Peningkatan Kecerdasan spasial Melalui Kegiatan bermain maze Di Taman Kanak-Kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah Pada Siklus II Pembelajaran 1
Untuk kecerdasan spasial anak pada siklus II pembelajaran 1 yang dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 20 Januari 2015 dan hasilnya dapat dilihat pada tahap berikut:
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Menyusun Rancangan Kegiatan Harian (RKH).
2. Membuat lembar observasi mengenai kecerdasan spasial anak melalui kegiatan pembelajaran kegiatan bermain maze.
b. Perlakuan
Pada tahap ini terbagi atas tiga kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan penutup, hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
Tabel 4.6. Proses Pelaksanaan Siklus II Pembelajaran 1 Kegiatan awal:
a. Salam dan berdoa
b. Berjalan diatas papan titian
c. Dramatisasi menolong orang lain/teman yang jatuh Kegiatan Inti:
a. Membuat bentuk sekolah dari balok b. Maze mencari pegunungan
c. Menghubungkan gambar gunung dengan kata Istirahat:
a. Berdoa
b. Mencuci tangan c. Bermain.
Kegiatan Penutup
a. Bercakap-cakap tentang cara menghibur teman yang sedih b. Mengucapkan doa kedua orang tua
c. Berdoa untuk pulang
1) Kegiatan awal
Pada awal pembelajaran dilakukan beberapa kegiatan pembiasaan yang rutin dilakukan seperti memberi salam ketika memasuki ruangan atau bertemu dengan guru dan teman. Kemudian berdoa sebelum belajar serta bernyanyi agar anak tetap semangat mengikuti kegiatan belajar. Setelah melakukan kegiatan pembiasaan, anak didik kemudian melakukan kegiatan Berjalan diatas papan titian. Kegiatan tersebut bertujuan untuk melatih kemampuan motorik anak serta kemampuan anak dalam menjaga keseimbangan.
2) Kegiatan inti
Kegiatan inti ini merupakan kegiatan pembelajaran yang menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu meningkatkan kecerdasan spasial pada anak didik melalui metode pembelajaran kegiatan bermain maze. Pada pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan kegiatan bermain maze.
3) Kegiatan akhir
Pada kegiatan akhir anak dilatih untuk dapat menghibur teman yang sedih.
Setelah itu, anak kemudian melakukan kegiatan ruti yaitu bertanya dan menjawab pertanyaan seputar kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung berupa penilaian terhadap perkembangan kecerdasan spasial pada anak melalui pembelajaran dengan menggunakan kegiatan bermain maze serta pelaksanaan kegiatan guru.
1. Observasi kegiatan guru
(a) Guru memberi penjelasan mengenai manfaat dan tujuan pembelajaran/ latihan untuk membangkitkan motivasi belajar pada anak. Sebelum kegiatan pembelajaran dilakukan terlebih dahulu guru memberi penjelasan manfaat dan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran dalam hal ini meningkatan kecerdasan spasial dengan menerapkan kegiatan bermain maze. Pada tahap ini, penilaian guru berada pada kategori baik.
(b) Pembelajaran/ latihan dilaksanakan secara bertahap dari yang sederhana ke taraf yang lebih sulit. Dalam pelaksanaan latihan, agar diperoleh hasil yang maksimal maka latihan harus diberi secara bertahap. Pada langkah ini, guru mendapat penilaian baik dikarenakan dalam memberikan latihan guru telah memberikan tahapan latihan dari yang mudah ke taraf yang lebih sulit.
(c) Guru/ pendidik memperhatikan bagian yang sulit menurut anak didik.
Dalam hal ini guru mulai memperhatikan kesulitan dan hambatan pada anak didik dalam melaksanakan latihan yang diberikan, sehingga guru mendapat penilaian cukup.
(d) Guru/ pendidik memberikan perhatian khusus bagi anak didik yang mengalami kesulitan. Pada tahap ini guru telah memberikan perhatian khusus kepada anak didik secara menyeluruh sehingga beberapa anak telah mampu melaksanakan latihan dengan baik. Oleh karenanya, guru memperoleh penilaian cukup.
2. Observasi kecerdasan spasial anak
Hasil observasi pada anak menunjukkan bahwa dari 3 item hal-hal yang diamati pada anak Kelompok B Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah pada pembelajaran I siklus II, dapat dilihat pada tabel di bawah berikut:
Tabel 4.7. Kecerdasan spasial Anak Siklus II Pembelajaran 1
Indikator Yang Diamati Jumlah Perkembangan
Anak
Kecerdasan spasial Anak
● √ ○
Menciptakan bentuk dari balok
Membuat bentuk
sekolah dari balok 15 6 6 3
Melihat arah dan nama jalan
Mencari jejak ke
pegunungan 15 6 5 4
Menghubungkan gambar/benda dengan kaca
Menghubungkan gambar
gunung dengan kata 15 7 4 4
1) Pada indikator yang pertama yaitu Menciptakan bentuk dari balok.
Dari hasil penelitian diperolah 6 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 6 orang anak yang hasilnya mampu, dan 3 orang anak yang masih kurang mampu.
2) Pada indikator kedua yaitu Melihat arah dan nama jalan. Hasil penelitian menunjukkan 6 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 5 orang anak yang hasilnya mampu, dan 3 orang anak yang masih kurang mampu.
3) Pada indikator kedua yaitu Menghubungkan gambar/benda dengan kaca. Hasil penelitian menunjukkan 7 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 4 orang anak yang hasilnya mampu, dan 4 orang anak yang masih kurang mampu.
d. Refleksi
Dengan melihat hasil pada pembelajaran 1 siklus II, maka hasil refleksi yang ditemukan adalah:
1) Perencanaan: pada pembelajaran pertama siklus II ini kemampuan anak mulai mengalami peningkatan kemampuan dengan baik walaupun masih terdapat beberapa anak yang masih membutuhkan perlakuan sehingga guru perlu mempersiapkan perencanaan pembelajaran dengan lebih baik dengan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan gejala pada beberapa anak yang mengalami keterlambatan dalam meningkatnya kemampuan mereka dalam kecerdasan spasial anak. Menyusun kembali rancangan tindakan dan skenario tindakan.
2) Pelaksanaan: memberikan perhatian dan pengarahan kepada setiap anak sehingga anak dapat memahami tugas yang diberikan dengan baik. Selain itu, suasana belajar yang harus dilakukan dengan menyenangkan agar anak merasa tidak bosan dan mereka termotivasi dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
3) Observasi: pengamatan dalam penelitian ini sudah dilakukan dengan tepat, hal ini dikarenakan terdapat peningkatan yang baik pada kecerdasan spasial pada anak, namun masih perlu untuk ditingkatkan lagi.
6. Peningkatan Kecerdasan spasial Melalui Kegiatan bermain maze Di Taman Kanak-Kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah Pada Siklus II Pembelajaran 2
Untuk kecerdasan spasial anak pada siklus II pembelajaran 2 yang dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 21 Januari 2015 dan hasilnya dapat dilihat pada tahap berikut:
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Menyusun Rancangan Kegiatan Harian (RKH).
2. Membuat lembar observasi mengenai kecerdasan spasial anak melalui kegiatan pembelajaran kegiatan bermain maze.
b. Perlakuan
Pada tahap ini terbagi atas tiga kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan penutup, hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
Tabel 4.8. Proses Pelaksanaan Siklus II Pembelajaran 2 Kegiatan awal:
a. Salam dan berdoa
b. Mau memelihara hasil karyanya
c. Mencoba menceritakan jika warna dicampur Kegiatan Inti:
a. Mewarnai gambar gunung b. Maze mencari Stasiun
c. Menempel gambar menurut pola Istirahat:
a. Berdoa
b. Mencuci tangan c. Bermain
Kegiatan akhir
a. Menyanyi lagu nasehat papa dan mama b. Mau memelihara hasil karyanya
c. Berdoa untuk pulang
1) Kegiatan awal
Kegiatan awal dilakukan beberapa aktivitas rutin yang merupakan pembiasaan kepada anak didik seperti memberi salam ketika memasuki ruangan, membaca doa sebelum belajar serta bernyanyi agar anak tetap semangat mengikuti kegiatan belajar. Setelah kegiatan pembiasaan dilakukan anak kemudian diajak untuk mencoba menceritakan jika warna dicampur.
2) Kegiatan inti
Pada kegiatan inti dilakukan kegiatan pembelajaran yang menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu mencari jejak ke taman bermain.
3) Kegiatan akhir
Pada kegiatan akhir anak diajarkan untuk mau memelihara hasil karyanya.
Setelah itu, anak diajak untuk melakukan kegiatan tanya jawab seputar kegiatan yang telah dilakukan hari itu agar anak tetap mengingat kegiatan yang telah dilakukan dari awal hingga akhir pertemuan.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung berupa penilaian terhadap perkembangan kecerdasan spasial pada anak melalui pembelajaran dengan menggunakan kegiatan bermain maze serta pelaksanaan kegiatan guru.
1. Observasi kegiatan guru
(a) Guru memberi penjelasan mengenai manfaat dan tujuan pembelajaran/ latihan untuk membangkitkan motivasi belajar pada anak. Sebelum kegiatan pembelajaran dilakukan terlebih dahulu guru memberi penjelasan manfaat dan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran dalam hal ini meningkatan kecerdasan spasial dengan menerapkan kegiatan bermain maze. Pada tahap ini, penilaian guru berada pada kategori baik.
(b) Pembelajaran/ latihan dilaksanakan secara bertahap dari yang sederhana ke taraf yang lebih sulit. Dalam pelaksanaan latihan, agar diperoleh hasil yang maksimal maka latihan harus diberi secara bertahap. Pada langkah ini, guru mendapat penilaian baik dikarenakan dalam memberikan latihan guru telah memberikan tahapan latihan dari yang mudah ke taraf yang lebih sulit.
(c) Guru/ pendidik memperhatikan bagian yang sulit menurut anak didik.
Dalam hal ini guru telah memperhatikan kesulitan dan hambatan pada anak didik dalam melaksanakan latihan yang diberikan, sehingga guru mendapat penilaian baik.
(d) Guru/ pendidik memberikan perhatian khusus bagi anak didik yang mengalami kesulitan. Pada tahap ini guru telah memberikan perhatian khusus kepada anak didik secara menyeluruh semua anak mulai mampu melaksanakan latihan dengan baik. Oleh karenanya, guru memperoleh penilaian baik.
2. Observasi kecerdasan spasial anak
Hasil observasi pada anak menunjukkan bahwa dari 3 item hal-hal yang diamati pada anak Kelompok B Taman Kanak-kanak Satu Atap SDN No. 61 Tadi Desa Baru Kecamatan Sinjai Tengah pada pembelajaran II siklus II, dapat diuraikan sebagai berikut:
Tabel 4.9. Kecerdasan spasial Anak Siklus II Pembelajaran 2
Indikator Yang Diamati Jumlah
Anak
Perkembangan Kecerdasan spasial
Anak
● √ ○
Mewarnai bentuk gambar sederhana
Mewarnai gambar
gunung 15 9 3 3
Menyebutkan denah rumah dengan benar
Maze mencari
Stasiun 15 12 3 0
Memberikan urutan berikutnya setelah melihat bentuk lebih dari pola yang berurutan, misal : segitiga, lingkaran, segiempat
Menempel gambar menurut pola
15 8 4 3
1) Pada indikator yang pertama yaitu Mewarnai bentuk gambar sederhana. Dari hasil penelitian diperolah 9 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 3 orang anak yang hasilnya mampu, dan 3 orang anak yang masih kurang mampu.
2) Pada indikator kedua yaitu Menyebutkan denah rumah dengan benar Hasil penelitian menunjukkan 12 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 3
orang anak yang hasilnya mampu, dan 0 orang anak yang masih kurang mampu.
3) Pada indikator ketiga yaitu Memberikan urutan berikutnya setelah melihat bentuk lebih dari pola yang berurutan, misal : segitiga, lingkaran, segiempat. Hasil penelitian menunjukkan 8 orang anak yang hasilnya sangat mampu, 4 orang anak yang hasilnya mampu, dan 3 orang anak yang masih kurang mampu.
d. Refleksi
Dengan melihat hasil pada pembelajaran 2 siklus II, maka hasil refleksi yang ditemukan adalah:
1. Perencanaan: pada pembelajaran kedua siklus II ini guru telah mempersiapkan kegiatan pembelajaran dengan baik sehingga mendapatkan hasil yang sangat baik di mana kecerdasan spasial pada anak mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi yang diperoleh.
2. Pelaksanaan: pemberian perhatian dan pengarahan yang diberikan oleh guru kepada setiap anak merupakan salah satu strategi yang baik sehingga anak dapat memahami tugas yang diberikan dengan baik. Selain itu, suasana belajar yang dilakukan dengan menyenangkan sehingga anak merasa tidak bosan dan mereka termotivasi dalam proses pembelajaran yang dilakukan.