1
Universitas Kristen Petra
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Minyak bumi termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dimana keberadaannya dapat habis dalam beberapa tahun ke depan. Akan tetapi dilain sisi, tingkat kebutuhan masyarakat dalam mengkonsumsi minyak bumi sebagai bahan bakar sangatlah besar.
Informasi yang dikutip dari berita detik finance mengungkapkan bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia saat ini hanya tersisa 3,7 miliar barel dengan produksi saat ini mencapai 840.000 barel per hari dan diprediksikan akan habis pada 10 – 11 tahun lagi. Proyeksi yang dipaparkan pemerintah justru cadangan energi yang berpotensi membantu adalah didominasi oleh gas bumi (BP Statistical Review ditulis oleh Dhany, 2013).
Melihat kondisi terkini yang terjadi maka mulai tahun 2007 pemerintah mencanangkan program konversi dari bahan bakar minyak ke bahan bakar gas (LPG) untuk mengantisipasi semakin menipisnya cadangan minyak bumi tersebut.
Kebijakan Pemerintah tentang pengalihan subsidi minyak tanah ke Liquid Petroleum Gas (LPG) didasarkan pada edaran surat Menteri ESDM
No.32429/26/MEM/2006 tanggal 31 Agustus 2006 tentang PT. Pertamina (PERSERO) untuk melakukan pengalihan minyak tanah ke LPG bagi konsumen rumah tangga serta surat Wakil Presiden RI No.20/ WP/ 9/2006 tanggal 1 September 2006 perihal Konversi Pemakaian Minyak Tanah ke LPG.
Sejak diberlakukannya program konversi tersebut membuat tingkat permintaan bahan bakar gas seperti LPG meningkat sangat signifikan.
Mereferensi dari hasil studi yang dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bahwa pada tahun 2007 kebutuhan LPG di Indonesia hanya sebesar 21,476 metric ton (MT) namun pada tahun 2010 kebutuhan LPG naik menjadi 3.077.000 metric ton (MT).
Di Jawa Timur sendiri penyaluran LPG 3 kg pada tahun 2012 yang lalu mencapai 917.504 metric ton (MT) dimana penyaluran tersebut mengalami
2
Universitas Kristen Petra
peningkatan sebesar 36.3% dibandingkan tahun 2011 (Lensa Indonesia ditulis oleh Hernawan, 2013)
Proses distribusi LPG berawal dari pengadaan LPG yang diproduksi dari kilang di dalam negeri dan pengadaan dari impor. LPG yang berasal dari kilang ini selanjutnya di distribusikan ke depot-depot LPG. LPG dari depot ini selanjutnya disalurkan ke SPPBE (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji). Dari SPPBE (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji) ini, produk LPG mulai dilakukan pengisian ke tabung LPG 3 kg, 12 kg dan 50 kg yang selanjutnya di salurkan ke distributor-distributor LPG. Kemudian distributor LPG ini mendistribusikan ke sub-agen LPG. Selanjutnya apabila situasi dan kondisi pasar membutuhkan pasokan LPG maka sub-agen LPG akan mendistribusikan ke pengecer atau konsumen akhir langsung. Jalur distribusi LPG dilakukan berjenjang. Untuk itu, mata rantai pendistribusian LPG tersebut perlu diatur secara sistematis dan perlu dilakukan analisa optimasi distribusi dari titik utama suplai (depot) sampai mata rantai dibawah untuk mengetahui ke-efektifan dan ke- ekonomisan dari sistem distribusi tersebut. Keberadaan dan kapasitas dari SPPBE (Stasiun Pengangkutan dan Pengisian Bulk Elpiji) memegang peranan penting dalam kelancaran distribusi LPG.
Selain SPPBE, peranan dari distributor LPG juga penting. Distributor mempunyai fungsi sebagai perantara antara PT. Pertamina dengan konsumen dalam penyaluran LPG. Harga jual tertinggi dari LPG 3 kg telah ditetapkan oleh PT. Pertamina dengan harapan masyarakat sasaran tidak akan dirugikan dengan permainan harga oleh agen namun permasalahan justru pada harga jual terendah LPG 3 kg. Agen LPG 3 kg saling berebut konsumen dengan menetapkan harga jual yang lebih rendah dari yang telah ditetapkan Pemerintah sebesar Rp 12.750,- sehingga akan terjadi persaingan yang tidak sehat di level agen. Hal tersebut menjadikan ketidakpastian demand pada masing-masing agen yang berpengaruh pada pendapatan perusahaan. Ketidakpastian demand ini merupakan penyebab terbesar dari semua ketidakpastian (Pujawan, 2005).
Berkaitan dengan demand yang tidak terlepas dari faktor ketidakpastian tersebut, maka fungsi persediaan pada proses supply chain management menjadi salah satu faktor yang perlu dikelola dengan baik agar mampu memenuhi
3
Universitas Kristen Petra
permintaan para konsumen (sub agen) karena tingkat kebutuhan konsumsi bahan bakar LPG yang terus meningkat tersebut.
Persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut. Yang dimaksud dengan proses lebih lanjut adalah berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga (Arman Hakim Nasution & Yudha P, 2008: 113). Dapat dikatakan persediaan apabila tidak dikelola dengan baik maka sangat berpengaruh terhadap efisiensi kerja perusahaan yaitu timbulnya biaya yang tidak perlu, yaitu overstock dan outstock. Persediaan yang berlebih (overstock) dapat mengakibatkan timbulnya
dana yang menganggur, menimbulkan biaya penyimpanan yang labih tinggi, dan resiko akan kerusakan barang pada persediaan semakin tinggi. Dalam persediaan yang kurang (outstock) dapat menyebabkan tertundanya proses permintaan barang (penjualan), bahkan dapat berakibat hilangnya customer karena keterlambatan barang.
Untuk mengantisipasi hal tersebut perusahaan sangat perlu melakukan teknik peramalan untuk melakukan suatu perencanaan persediaan yang merupakan hal mendasar yang digunakan untuk menunjang jalannya proses produksi dan distribusi. Perencanaan tersebut berguna bagi perusahaan untuk mencapai biaya persediaan seminimal mungkin. Peramalan (forecasting) adalah memperkirakan sesuatu yang akan datang dan peramalan permintaan berarti memperkirakan jumlah produk yang akan dibutuhkan konsumen (Subagyo, 2000:
117). Perusahaan melakukan peramalan untuk memprediksi jumlah permintaan yang akan datang sebagai akibat dari ketidakpastian. Kesalahan dalam teknik peramalan akan menjadi salah satu masalah dalam persediaan pengaman (safety stock). Safety stock mengacu pada persediaan berlebih yang disimpan sebagai
pengaman untuk mengatisipasi kemungkinan outstock. Menyediakan safety stock berarti menjaga kelancaran proses produksi dan distribusi. Safety stock yang optimum melibatkan dua jenis keputusan pemesanan yang mendasar, yaitu:
pertama menentukan berapa banyak kuantitas yang dipesan dan kedua kapan waktu dilakukan pemesanan.
Sejumlah metode telah dikembangkan diantaranya metode Economic
4
Universitas Kristen Petra
Order Quantity (EOQ) dan Re-Order Point (ROP). EOQ adalah metode yang
dipakai untuk menentukan jumlah bahan optimum yang harus dibeli agar semua biaya yang terkait dengan penyediaan order dan penyimpanan produk per tahun bisa minimal. Sedangkan ROP yaitu metode yang menentukan kapan waktu dilakukan pemesanan (Bowersox, 2002).
Penelitian mengenai supply chain management atau rantai pasok terutama yang berkaitan dengan persediaan seharusnya sudah menjadi fokus perusahaan untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan. Hal ini disebabkan karena rantai pasok perusahaan adalah sistem yang menghubungkan antara pemasok, perusahaan, dan pelanggannya. Jika sistem ini tidak dikelola dan diatur dengan baik maka perusahaan akan kalah bersaing dengan perusahaan kompetitornya.
PT. Usman Sinar Bulan merupakan salah satu agen distribusi LPG yang bertempat di kompleks pergudangan safe and lock di Sidoarjo. PT. Usman Sinar Bulan melayani sub-agen di wilayah Sidoarjo dan Surabaya. Hasil informasi awal dari bagian pembelian, selama ini PT. Usman Sinar Bulan sering mengamankan stok terlalu berlebihan sehingga sisa LPG di gudang terlalu banyak karena terjadi over supply. Over supply ini berdampak terhadap pemborosan, seperti diperlukan
tempat penyimpanan ekstra yang juga membutuhkan dana lebih. Selain itu, biaya simpan juga semakin meningkat serta resiko kebakaran juga semakin tinggi dan lain sebagainya).
Berdasarkan uraian permasalahan diatas, yakni distribusi LPG baik yang terjadi secara umum dan khusus di PT. Usman Sinar Bulan ini, peneliti akan melakukan penelitian untuk memberikan desain umum atas analisa deskriptif Supply Chain Management: Outbond Logistic yang dapat dilakukan oleh PT.
Usman Sinar Bulan dengan judul studi Analisa Deskriptif Supply Chain Management Outbound Logistic pada PT. Usman Sinar Bulan, Sidoarjo.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah persediaan pada PT.
Usman Sinar Bulan, Sidoarjo sudah optimal?
5
Universitas Kristen Petra
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan persediaan pada PT. Usman Sinar Bulan, Sidoarjo.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Pendidikan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan pada saat ini, khususnya mengenai sistem rantai pasok (supply chain management) sehingga nantinya dapat dijadikan acuan peneliti lain
yang akan mengembangkan penelitian serupa di waktu yang akan datang.
2. Perusahaan
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada perusahaan PT. Usman Sinar Bulan untuk mengoptimalisasi pelayanan distribusi LPG
kepada para sub agen.
3. Mahasiswa
a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang implementasi pelaksanaan supply chain management.
b. Mengetahui pengelolaan perusahaan keluarga PT. Usman Sinar Bulan pada saat ini.
c. Untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswa Universitas Kristen Petra Fakultas Ekonomi.
1.5 Batasan Penelitian
Penelitian ini hanya dilakukan pada studi kasus untuk perusahaan keluarga PT. Usman Sinar Bulan yang berlokasi di Kota Sidoarjo dengan bidang usaha distributor LPG pada sistem supply chain management terutama aspek persediaan.