• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Sistem Informasi Konstituen Menggunakan Rapid Application Development

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengembangan Sistem Informasi Konstituen Menggunakan Rapid Application Development"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom

Pengembangan Sistem Informasi Konstituen Menggunakan Rapid Application Development

Lalu Mutawalli1, Mohammad Taufan Asri Zaen1,*, Khairul Imtihan1 Sistem Informasi, STMIK Lombok, Praya, Indonesia

Email: 1[email protected], 1,*[email protected], 1[email protected] Email Penulis Korespondensi : [email protected],

Submitted 24-03-2022; Accepted 12-04-2022; Published 29-04-2022 Abstrak

Pendataan konstituen bagi masing-masing anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) menjadi suatu keharusan. Dengan melakukan pendataan anggota DPRD akan lebih mudah merancang pokok-pokok pikiran anggota DPRD yang merupakan aspirasi dari konsituennya. Pengolahan data konstituen yang lebih baik sangat diperlukan mengingat saat ini di tidak adanya sistem yang khusus untuk digunakan mengolah data konstituen. Studi yang dilakukan bersama anggota DPRD Kabupaten Lombok Timur menginginkan pengembangan sistem informasi konstituen dapat dikembangkan secara cepat. Permasalahan pada studi ini adalah pada jangka waktu yang singkat, oleh karena itu pada penelitian ini mengusulkan Rapid Application Development (RAD) sebagai metodologi dalam memodelkan permasalahan pengembangan sistem informasi. RAD adalah siklus hidup memberikan cara untuk merancang dan mengembangkan sistem informasi jauh lebih cepat dengan hasil yang memiliki kualitas yang bernilai tinggi. Berdasarkan hasil pengujian pada sistem, pengujian dilakukan dengan mempertimbangkan tiga aspek, pertama adalah kualitas sistem ini bertujuan untuk menguji antarmuka (interface) yaitu kemudahan penggunaan, waktu respon, dan bahasa. Berdasarkan hasil pengujian kualitas sistem medapatkan skor sebanyak 87% dari 13 responden. Kedua penilaian terhadap kualitas informasi, penilaian ini bertujuan untuk mengukur keakuratan informasi, kelengkapan informasi. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan skor penilaian sebanyak 83%

sedangkan yang ketiga terkait dengan pengujian kualitas layanan sistem informasi konstituen mendapatkan skor sebanyak 85%.

Sehingga hasil rata-rata penilaian dari keseluruhan jenis pengujian didapatkan skor sebangak 85% Bahwa sistem informasi yang dikembangkan telah sesuai dengan kebutuhan user.

Kata Kunci: Sistem; Informasi; Konstituen; Rapid Application Development; RAD Abstract

Constituent data collection for each member of Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) becomes a necessity. By conducting data collection of DPRD constituents will be easier to design the main points of the DPRD constituents who are aspirations from the constituents. Better constituent data processing is very necessary considering today in the absence of a system specifically for processing constituent data. The study conducted with members of the East Lombok Regency DPRD wants the development of constituent information systems to be developed quickly. The problem in this study is in a short period, therefore this study proposed Rapid Application Development (RAD) as a methodology in modeling the problem of developing information systems. RAD is a life cycle providing a way to design and develop information systems much faster with results that have high-value quality. Based on the test results on the system, testing is carried out by considering the three aspects, the first is the quality of this system aims to test the interface (interface), namely ease of use, response time, and language. Based on the results of testing the quality of the system obtained a score of 87% of the 13 respondents. Both assessments on the quality of information, this assessment aims to measure the accuracy of the information, information. Based on the results of the test, the assessment score was 83% while the third related to the quality of the Constituent Information System Service received as much as 85%. So the average results of the assessment of the entire type of testing obtained a score of 85% that the information system developed has been by the user's requirements.

Keywords: System; Information; Constituent; Rapid Application Development; RAD

1. PENDAHULUAN

Pendataan konstituen bagi masing-masing anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) menjadi suatu keharusan. Dengan melakukan pendataan anggota DPRD akan lebih mudah merancang pokok-pokok pikiran anggota DPRD yang merupakan aspirasi dari konsituante-nya. Anggota DPRD di tuntut untuk melakukan perencanaan yang tepat dan ideal, tentu hal ini bisa direalisasi apabila memiliki data yang valid dan sistem manajeman penolahan data yang baik. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mitigasi konstitante belum terbentuk. Sistem yang berjalan ada saat ini, pada studi kami bersama salah satu anggota DPRD fraksi Gerindra Kabupaten Lombok Timur pada saat anggota DPRD membutuhkan data konstituen maka anggota DPRD akan mendatangi kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) unruk mengambil data yang merupakan wilayah konstituennya. Akan tetapi data yang didapatkan adalah data dusun, desa, dan kecamatan. Setelah mendapatkan data, tim akan memproses data tersebut menjadi informasi, dalam menggali data tesebut tim kesulitan untuk menemukan pengetahuan dalam data, karena tidak terdapat ahli yang memiliki kemampuan khusus untuk Analisa data.

Penelitian yang dilakukan oleh Khan, dkk, tentang Analisis Komparatif Teknik Rapid Application Development (RAD) dan Agile untuk Manajemen Proyek memberikan pro-kontra yaitu dari teknik manajemen proyek RAD dan Agile, untuk membantu siswa dalam memutuskan pendekatan terbaik untuk mengelola proyek kelulusan mereka. Untuk evaluasi teknik ini, studi kasus serupa diberikan kepada siswa proyek senior (memiliki CGPA serupa) untuk membangun aplikasi berbasis fungsionalitas serupa. Kedua proyek “Life Organizer” yang dikembangkan dan dikelola menggunakan RAD dan

“Smart Patient Assistant (SPA)” yang dikembangkan dan dikelola melalui metodologi Agile dievaluasi berdasarkan kriteria jaminan kualitas untuk proyek senior. Studi ini menemukan bahwa proyek yang dikembangkan dengan

(2)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom metodologi RAD berkinerja 13,33% lebih baik dalam memberikan dokumentasi yang ekstensif dan terperinci daripada siswa yang mengikuti teknik Agile [1]. Dalam penelitian Maulany, dkk tentang perancangan aplikasi pembelajaran menyatakan dalam merancang aplikasi e-learning ini menggunakan metode yang umum digunakan dalam pengembangan sistem informasi yaitu RAD. Sistem yang dibangun dapat memberikan informasi tentang pembelajaran jarak jauh pada pendidikan formal dan informal, serta sistem yang dibangun dapat mempercepat proses pembelajaran bagi siswa/tutor [2].

Penelitian yang dilakukan Fajria tentang penerapan konsep metode perencanaan proyek dengan e-SCM.

Perancangan sistem e-SCM menggunakan metode RAD. Metode ini untuk memastikan bahwa sistem model prototipe yang dikembangkan sesuai atau tidak dengan kebutuhan [3]. Dalam penelitian Tamrin dan Ma’arif tentang penerapan metode RAD dalam pengembangan aplikasi pembelajaran melalui beberapa tahapan. Pertama, membuat analisis dan identifikasi kebutuhan. Kedua, merancang aplikasi yang mendukung proses pembelajaran. Ketiga, tahap implementasi program, pada tahap ini dilakukan instalasi perangkat lunak. Setelah aplikasi dibuat, langkah terakhir adalah menguji program [4]. Penelitian Gunawan, dkk tentang aplikasi pengaduan pelanggan menghasilkan aplikasi berbasis mobile yang sangat dibutuhkan oleh PT. Dhana Jaya Bogaindo. Sistem ini memudahkan departemen yang berhubungan dengan keluhan pelanggan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan menu makanan. Selain itu, proses pengumpulan data, perhitungan, pembuatan laporan dan penyajian informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan pengambilan keputusan dapat diproses dengan cepat dan dapat mengurangi tingkat kesalahan (kesalahan manusia) [5].

Siregar, dkk dalam penelitiannya tentang mHealth menghasilkan prototipe mHealth untuk EMTCT (eliminating mother to child HIV transmission). Penelitian ini menggunakan prototyping RAD. Penelitian yang dikembangkan memenuhi teknologi kesiapan level 5, yang dapat didemonstrasikan di lingkungan yang relevan [6]. Penelitian Putra dan Idhom tentang Perancangan Sistem Aplikasi Laporan Keuangan Internal di LPPM Veteran menggunakan metode RAD.

Metode RAD menggunakan pendekatan berorientasi objek untuk pengembangan sistem yang mencakup metode pengembangan dan perangkat lunak. Sistem pengelolaan laporan keuangan yang dikembangkan disebut SIREKAP.

LPPM dan Dosen sebagai pengguna sistem, dapat melaporkan rekapitulasi keuangan. Sistem dirancang sesuai dengan permintaan dari pengguna. Sistem informasi ini memudahkan petugas dalam mengolah data. Hasil lainnya juga dapat mempermudah, mempercepat dan menghemat waktu dalam pengelolaan pelaporan [7]. Oswari, dkk dalam penelitiannya tentang Sistem Rekomendasi Produk Musik Online menggunakan metode RAD, dan telah dilakukan sesuai dengan tahapannya. Pemodelan desain website musik menggunakan UML. Perancangan sistem dibuat dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Pengujian sistem menggunakan metode blackbox dan user acceptance testing (UAT). Penelitian ini menghasilkan perangkat lunak yang telah berjalan sesuai untuk fungsionalitasnya dan berhasil memenuhi kebutuhan masalah yang ada [8].

Penelitian yang dilakukan oleh Ridoh, dkk tentang Visualisasi Data Berbasis Web menghasilkan visualisasi atau gambaran data berdasarkan penyebaran website Covid-19 di Indonesia. Metode yang digunakan adalah RAD, dengan tiga tahapan yaitu perencanaan kebutuhan, perancangan, dan implementasi dapat menghasilkan sistem aplikasi website untuk kebutuhan mendesak. Website yang dirancang telah memberikan kemudahan bagi pengguna khususnya untuk mengetahui sebaran data Covid-19 di Indonesia [9]. Haratua, dkk dalam penelitiannya tentang Aplikasi Inventory Berbasis Web menghasilkan aplikasi yang dapat membantu proses pencatatan dan tampilan data transaksi, persediaan, pelanggan, pengguna dan pemasok. Aplikasi ini juga dapat membantu para manajer PT. Palugada Indonesia untuk mendapatkan notifikasi saat ketersediaan barang menipis [10].

Pengolahan data konstituen yang lebih baik sangat diperlukan, mengingat tidak adanya sistem yang khusus dalam data konstituen yang dapat digunakan untuk melakukan pendataan dan mengolah data menjadi informasi dan pengetahuan. Studi yang dilakukan bersama anggota DPRD fraksi Gerindra mengharuskan pengembangan aplikasi secara cepat. Waktu yang diminta untuk pengembangan selama tiga bulan mulai dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2020 mengingat aplikasi akan digunakan pada awal tahun 2021. Permasalahan pada studi ini adalah pada jangka waktu yang singkat, oleh karenanya diusulkan Rapid Application Development (RAD) sebagai metodologi dalam memodelkan permasalahan pengembangan sistem informasi. RAD adalah siklus hidup memberikan cara untuk merancang dan mengembangkan sistem informasi jauh lebih cepat dengan hasil yang memiliki kualitas yang bernilai tinggi [11]. Pada penelitian terdahulu RAD berhasil digunakan untuk mengembangkan aplikasi pendataan sumber daya alam dan kearifan lokal dengan tempo waktu yang cepat [12]. Dengan menerapkan RAD berhasil mengembangan apliaksi sistem informasi geografis untuk memetakan pusat industry di Indonesia [13]. Dari beberapa penelitian terdahulu berhasil menerapkan RAD sebagai metodologi dalam mengembangan sistem informasi secara cepat. Penerapan RAD dalam pengembangan sistem informasi konstitauante akan sangat relevan menginat waktu yang didtargetkan untuk penyelesaian aplikasi selama tiga bulan.

2. METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Alur Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem (aplikasi) dengan jangka waktu yang relatif singkat, alur atau tahapan penelitian ini ditunjukkan pada gambar 1 alur penelitian. Penelitian ini membutuhnkan banyak kordinasi dengan user atau stakeholder yang akan menggunakannya sehingga membutuhkan pendekatan penelitian deskriptif, intensitas wawancara

(3)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom dengan pengguna sistem dan pengguna informasi yang dalam hal ini diwakili oleh tim ahli DRPD Kabupaten Lombok Timur dan ketua DPRD.

Mulai

Metode Pengumpulan

Data

Selesai RAD Framework

Studi Literatur

Studi Lapangan

Observasi

Wawancara

Requirement Planing RAD Design

Workshop Prototype Design Thingking Process Method

Functional & Non- Functional

• UML Analytic

• Structure Menu

• Design Planing (Software) Prototype

• Prototype Test

Gambar 1. Alur penelitian 2.2 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan dengan cara dua tahapan yaitu studi literatur dan studi lapangan. Pada studi lapangan dilakukan dua tahapan yaitu wawancara dan observasi.

a. Studi literatur

Studi literatur dilakukan dengan mempelajari tentang sistem pendataan atau yang terkait langsung dengan pengelolaan data konstituen. Mempelejari penelitian terdahulu untuk menemukan metode yang tepat dalam mengembangkan aplikasi yang dapat dibangun dengan waktu yang relative tidak lama.

b. Studi Lapangan

Pada studi lapangan dilakukan dua tahapan 1) wawancara dilakukan untuk mengetahui proses dan pengelolaan data konstituate pada sistem yang sedang berjalan. 2) Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana cara kerja dan mengetahui tools yang digunakan oleh tim ahli dalam mengelola dan mengolah data konstituen. Pada studi ini didapatkan format yang digunakan oleh tim ahli dalam melakukan pendataan berupa format kartu keluarga.

2.3 Flowchart Sistem

Alur sitem informasi konstituen yang akan dikembangkan dapat ditunjukkan pada gambar 2, untuk pengoperasian sistem terlebih dahulu user masuk kedalam sistem dengan memasukkan id dan kata sandi. Setelah kata sandi sesuai maka halaman yang akan muncul adalah dashboard, pada halaman dashboard ditampilkan grafik dan informasi visual terkait dengan data konstituen. Akan tetapi, pada saat user tidak tepat memasukkan id maupun kata sandi maka user diminta untuk menginputkan kembali data dengan benar. Pada saat user berhasil login ke dalam sistem, user dapat memasukkan data kedalam database, selain itu user juga dapat melakukan pemanggilan data, tujuan untuk melakukan pengecekan pada data yang telah diinput. Sistem memungkinkan melakukan pemanggilan data (filter) berdasarkan nomor kartu keluarga, nomor induk penduduk, nama konstituen, usia, dan atribut konstituen yang lainnya. Sehingga sistem dapat memberikan kembudahan pada user untuk memilih dan memilah kebutuhan biodata yang diinginkan.

(4)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom

Mulai

Cek id user &

kata sandi

Selesai

Cek No KK, Cek NIK Masukkan

id us er &

kata sandi

Apakah id user & kata sandi benar

Database Input Data KK &

NIK

Dis play Dasboard Ya

Cek NIK or KK

No KK & NIK Valid tidak terduplikat

Proses Cetak Dokumen

Dokumen Query Report &

Cetak

Ya

Selesai Tidak

Tidak

Gambar 2. Flowchart Sistem 2.4 Metode Pengembangan Sistem RAD

Pada pengembangan sistem konstituen dilakukan tiga tahapan yaitu tahap pertama Requirement Planning merancang kebutuhan functional dan non-functional. Tahap kedua RAD Design workshop menjelaskan proses sistem yang digambarkan menggunakan Unified Modeling Language (UML), menggambarkan struktur menu pada sistem dan mendesain kebutuhan software dan dan hadware. Pada tahap ketiga membangun prototype mencakup mendefinisikan ide dan melakukan uji coba.

a. Requirement Planning

Analisis secara intensif melakukan pertemuan dengan user dalam rangka melakukan identifikasi tujuan aplikasi atau sistem. Hasil pertemuan dengan user menjadi acuan untuk membuat daftar fitur yang akan dibangun pada sistem, pada tabel 1 menunjukkan terdapat empat belas fitur dan terdapat sebelas sub fitur pada Display menu dan Display dashboard.

Tabel 1. Functional & Non-functional Requirement Requirement Phase I

Function Requirement

1 Display halaman registrasi 2 Display halaman login 3 Display menu:

▪ Developer menu (Form input data provinsi, kabupaten, kecamatan, Dusun, Desa)

▪ Admin Menu (User Management, Report Data Konstituen) 4 Display register kartu keluarga

5 Display register nomer induk kewarganegaraan 6 Display lapor Admin

7 Display Dashboard :

▪ Report semua data input dan data pemilih

▪ Report jenis kelamin penduduk dan pemilih

▪ Report analisi data wilayah (Dapil) Kecamatan, Desa, Dusun

▪ Report peta persebaran konstitante 8 Log setting (log data)

9 Log setting (no Hp admin) 10 Display Logout

Non-Function Requirement

(5)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom 11 Menampilkan antar muka (interface) yang menarik

12 Membangun user experience yang mudah dimengerti dan di fahami user 13 Sistem dapat digunakan disemua jenis browser

14 Sistem dapat memberi perlindungan yang aman pada data b. RAD Design Workshop

Pada tahapan ini proses bisnis yang terdapat pada sistem digambarkan menggunakan diagram UML dan pembuatan rancangan struktur menu untuk menunjukkan struktur artitektur yang akan dibangun pada sistem informasi konstituen.

a. UML Analisis

1. Use Case Diagram

Gambar 3. Use Case Diagram Sistem Informasi Konstituen

Pada pengembangan sistem digambarkan use case diagram untuk menujukan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh sistem dalam menanggapi permintaan dari pengguna sistem [11]. Pada gambar 3 menggambarkan proses rencana kegiatan sistem informasi konstituen. Terdapat super user, pada sistem terdapat satu orang user yang bertuga ssebagai super admin yang memiliki tugas memasukkan data produk identitas terkait dengan wilayah seperti provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, dan dusun, jenis pekerjaan. Super admin dapat memberikan tugas kepada banyak admin yang ditugas kan untuk iput data berdasarkan kartu keluarga dan anggota keluarga. Super admin memiliki akses untuk melihar dashboard dan mencetak laporan, selain itu, super admin memiliki akses untuk merubah dan mengaapus data. Sedangkan admin bisa berupa banyak user yang hanya bisa login untuk menginputkan data. Semua menu admin dapat juga diakses dan dipoerasikan oleh super admin.

2. Activity Diagram

Gambar 4. Activity Diagram Sistem Informasi Konstituen

(6)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom Alir kerja atau aktivitas pada sistem informasi konstituen digambarkan menggunakan activity diagram, merupakan teknik untuk menggambarkan logika prosedural proses bisnis [12]. Pada gambar 4 Activity diagram mewakili struktur proses berguna untuk mengambarkan pembagian tugas pada admin. Tugas admin yang dimaksud adalah super admin dan admin, super admin dapat megakses seluruh fitur pada sistem, sedangkan admin hanya dapat melakukan peinputan data kartu keluarga dan penduduk.

3. Sequence Diagram

Gambar 5. Sequence Diagram Sistem Informasi Konstituen

Objek pada divisualisasi agar team dapat mudah memahami hubungan antar objek. Sequence diagram diagram yang dibuat untuk mengetahui alur dari interaksi antar objek [13]. Proses pada sistem informasi konstituen digambarkan pada gambar 5 menjelaskan alur input dari objek admin sampai dengan pelaporan data dalam bentuk rekapitulasi data maupun visualisasi data.

4. Class Diagram

Gambar 6. Diagram class Sistem Informasi Konstituen

Class diagram bertujuan untuk menampilkan kelas-kelas pada suatu sistem, dapat memberikan gambaran mengenai sistem dan relasi-relasi terdapat pada sistem [14]. Pada gambar 6 digambarkan hubungan antar kelas pada sistem informasi konstituen.

(7)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom 5. Struktur Menu atau arsitektur sistem informasi konstituen

Gambar 7. Struktur menu sistem informasi konstituen

Pada struktur menu (arsitektur) sistem informasi konstituen terdapat dua menu yaitu menu internal berupa fungsi utama sistem dan menu ekternal berupa support sistem. Menu utama terdiri dari empat fungsi utama antara lain:

1) sistem input; 2) control; 3) penyimpanan; 4) pencarian; 5) analisa dan visualisasi. Sedangkan support sistem bertujuan untuk mendukung operasional sistem informasi konstituen berjalan pada internet. Gambar 7 menjelaskan bentuk pada struktur menu.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengembangan sistem informasi konstituen mencakupi bebrapa page inti, yaitu page main menu, page input KK, page input KTP, page filter, dashboard atau vsisualisasi data.

3.1 Prototype Desain a. Main menu

Gambar 8. Menu Utama Sistem Informasi Konstituen

Main menu merupakan menu utama yang muncul setelah super admin melakukan login ke sistem. Gambar 7 digambarkan fitur-fitur yang terdapat pada sistem yaitu input data master seperti data Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, Desa, dan Dusun, Pekerjaan. Terdapat menu input identitas, dan fitur dashboard untuk mempermudah pengguna dalam melakukan pemantauan dan analisa data.

(8)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom b. Input KK

Gambar 9. Form Input Kartu Keluarga

Master data yang digunakan pada sistem informasi kosntituante adalah kartu keluarga (KK), hal utama yang dilaukan adalah memasukkan kepala keluaraga yang terdapat pada KK selanjutnya setelah itu dapat akses untuk memasukkan identitas atau anggota yang terdapat pada KK. Pada page input KK terdapat tujuh atribut yaitu nomor KK, nama kepala keluarga, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, Desa, dan Dusun.

c. Input Identitas

Setelah mengiput data master (KK) tahap selanjutnya memasukkan identitas atau isi yang terdapat pada KK yaitu warga.

Pada gambar 10 menunjukkan dua belas atribut yaitu: nomor KK, NIK, nama, kelamin, tempat lahir, tanggal lahir, agama, pendidikan, pekerjaan, status kawin, hubungan dalam keluarga, nomor hand phone.

Gambar 10. Page Input Identitas d. Filter Data

Gambar 11. Page filter data konstituen

(9)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom Page Filter data berfungsi untuk mempermudah pencarian data konstituen, ketika ingin menemukan nama konstituen admin tinggal memasukkan NIK maka akan ditampilkan identitas konstituen yang dicari. Page filter di tunjukkan pada gambar 11 Pada page filter ini dilengkapi dengan filter berdasarkan agama, pekerjaan, pendidikan, status kawin, dan wilayah dimana konstituen berasal.

e. Dashboard atau visualisasi data 1. Data pie chart

Pada gambar 12 menampilkan jumlah data yang telah terinput ke dalam sistem, berdasarkan gambar kotak warna biru menjelaskan terdapat 5132 data yang telah di inpu, dimana data tersebut dibagi menjadi dua yaitu data pemilih (hijau) adalah data penduduk yang berusia diatas tujuh belas tahun, sedangkan data belum memilih (kuning) adalah data penduduk yang berusia di bawah tujuh belas tahun yang notabene belum memiliki hak pilih.

Selain itu pada page ini terdapat pie chart yang mempresentasikan data penduduk dan data pemilih berdasarkan jenis kelamin.

Gambar 12. Data pie penduduk 2. Data grafik line chart

Pada gambar 13 ditampilkan jumlah penduduk berdasarkan usia, grafik line chart memberikan gambaran usia penduduk terbanyak. Jika melihat grafik usia penduduk yang terbanyak adalah pada rentang usia 39-41 tahun.

Gambar 13. Grafik line penduduk 3. Analisa dengan diagram batang

Pada gambar 14 menunjukkan perbandingan jumlah pemilih berdasarkan usia, berdasarkan data yang telah di input pada usia 37-41 terdapat 467 pemilih, usia 17-21 terdapat 462 pemilih, usia 32-36 459 pemilih. Tujuan dari diagram batang ini mempermudah pengguna melakukan perbadingan berdasarkan usia pemilih.

(10)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom

Gambar 14. Perbandingan Jumlah Pemilih Berdasarkan Usia 4. Analisa filter wilayah

Pada gambar 15 analisa jumlah pemilih dapat difilter berdasarkan kecamatan, desa, hingga ke dusun. Dengan adanya fitur ini user lebih mudah mencari tau tentang data konstituen dengan lebih detail hingga sampai ke dusun.

Dengan adanya data yang bersifat mendetail akan membantu anggota dewan dalam menyusun program kerja yang tepat sasaran.

Gambar 15. Filter Data Wilayah 5. Data peta

Data peta (map) bertujuan untuk mempermudah analisa persebaran konstituen, map berfungsi untuk mitigasi data pemilih yang telah di inputkan didalam sistem. Gambar 16 menunjukkan persebaran pemilih (konstituen) dengan adanya visualisasi persebaran data akan membantu menentukan titik lokasi untuk sosialisasi program kerja yang akan dilakukan oleh anggota dewan.

Gambar 16. Map mitigasi persebaran konstituen

(11)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom

3.2 Testing Prototype Sistem

Pada tahapan ini dilakukan pengujian sistem melalui dua tahapan pengujian, tahap pertama pengujian dilakukan dengan metode black box dan pengujian user. Pengujian dengan metode black box bertujuan untuk menguji fungsionalitas pada fitur yang terdapat di dalam sistem sudah berfungsi dengan normal, sedangkan pengujian user bertujuan untuk mengukur efektifitas sistem dalam membatu user menyelesaikan tugas dan pekerjaanya.

a. Pengujian Black Box

Pada tabel 2 merangkum hasil pengujian yang telah dilakukan pada fitur-fitur yang terdapat di dalam sistem telah berhasil beroperasi secara normal.

Tabel 2. Hasil pengujian sistem black box

No Fitur Keterangan

1 Page register admin dan super admin dan login Berhasil

2 Page menu developer untuk input (provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, dusun, dan perkerjaan)

Berhasil 3 Page admin menu (user management. Data konstituen, setting, logs, filter data) Berhasil

4 Form input KK, Form Input NIK Berhasil

5 Dashboard, grafik box, pie chart, line chart, bar chart, filter data grafik, map Berhasil

6 Report export (pdf, exel, csv) dan print Berhasil

7 Lapor Admin dan Logout Berhasil

b. Pengujian user

Pengguna sistem terbagi menjadi dua jenis, super admin terdiri dari 1 orang dan admin terdiri dari 12 orang. Total user yang menggunakan sistem secara teknis sebanyak 13 orang. Tabel 3 adalah merupakan intepretasi fungsionalitas sistem.

Tabel 3. Interpretasi skor fungsionalitas sistem

Persentase Kriteria

0 % - 25 % Sangat Tidak Sesuai

26 % - 50% Tidak Sesuai

51 % - 75 % Cukup Sesuai

76 % - 90 % Sesuai

91% -100 % Sangat Sesuai

Berdasarkan hasi pengujian dibagi menjadi tiga jenis pengujian yaitu, pertama adalah kualitas sistem ini bertujuan untuk menguji antarmuka (interface) yaitu kemudahan penggunaan, waktu respon, dan bahasa. Berdasarkan hasil pengujian kualitas sistem medapatkan skor sebanyak 87% dari 13 responden. Kedua penilaian terhadap kualitas informasi, penilaian ini bertujuan untuk mengukur keakuratan informasi, kelengkapan informasi. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan skor penilaian sebanyak 83% sedangkan yang ketiga terkait dengan pengujian kualitas layanan sistem informasi konstituen mendapatkan skor sebanyak 85%. Sehingga hasil rata-rata penilaian dari keseluruhan jenis pengujian didapatkan skor sebangak 85%, berdasarkan intepretasi skor fungsionalutas pada tabel 4.? Bahwa sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan user.

4. KESIMPULAN

Pengolahan data konstituen yang lebih baik sangat diperlukan, mengingat tidak adanya sistem yang khusus dalam data konstituen yang dapat digunakan untuk melakukan pendataan dan mengolah data menjadi informasi dan pengetahuan.

Studi yang dilakukan bersama anggota DPRD fraksi Gerindra mengharuskan pengembangan aplikasi secara cepat.

Penelitian ini bertujuan mengusulkan sistem yang cepat dan adaptif dalam mengembangkan sistem (aplikasi) yang efektif sehingga mengusulkan RAD sebagai metodologi dalam menyelesaikan permasalahan. Berdasarkan hasil uji coba sistem secara fungsi setiap fitur yang terdapat pada sistem telah berjalan normal, dan hasil pengujian user mendapatkan skor rata-rata sebanyak 85% sehingga sistem dinyatakan telah sesuai dengan kebutuhan user. Namun pada penelitian ini masih perlu dikembangkan untuk melibatkan banyak fraksi agar dapat mengakomodir permasalahan pada setiap anggota dewan.

Sedangkan sistem perlu untuk di integrasikan dengan data yang terdapat di dinas dan institusi terkait dengan pendataan penduduk agar tidak melakukan input data secara manual

REFERENCES

[1] F. Q. Khan, S. Rasheed, M. Alsheshtawi, and S. Jan, “A Comparative Analysis of RAD and Agile Technique for Management of Computing Graduation Projects,” Comput. Mater. Contin., vol. 64, no. 2, June, pp. 777–796, 2020, doi:

10.32604/cmc.2020.010959.

(12)

JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 2, April 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i2.3954 Hal 224−235 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom [2] R. Maulany, B. Hasan, A. G. Abdullah, and D. Rohendi, “Design of learning applications using the Rapid Application

Development method,” IOP Conf. Ser. Mater. Sci. Eng., 2021, doi: 10.1088/1757-899X/1098/2/022090.

[3] R. Fajriah, “DEVELOPMENT E-SCM SYSTEM WITH RAPID APPLICATION DEVELOPMENT METHOD TO IMPROVE PRODUCTION MANAGEMENT OF MICRO BUSINESS IN NORTH MERUYA,” Int. J. Inf. Syst. Comput. Sci., pp. 11–22, 2020.

[4] T. Tamrin and S. Ma’arif, “Android Base Rapid Application Development for Learning Yanbu’a,” J. Appl. Intell. Syst., vol. 5,

no. 2, pp. 91–97, 2020, [Online]. Available:

http://publikasi.dinus.ac.id/index.php/jais/article/view/4375%0Ahttp://publikasi.dinus.ac.id/index.php/jais/article/download/43 75/2188.

[5] A. H. Gunawan, A. Wijaya, and D. Wijaya, “Design and Build Customer Complain Applications for Mobile Based MVVM Architecture Method,” J. TECH-E, vol. 3, no. 2, pp. 9–17, 2020, doi: 10.31253/te.v3i2.297.

[6] K. N. Siregar, R. Rikawarastuti, and M. Yusro, “Design mHealth prototyping to Eliminate Mother to Child HIV Transmission (EMTCT) in Indonesia,” IOP Conf. Ser. Mater. Sci. Eng., vol. 1098, no. 5, p. 052085, 2021, doi: 10.1088/1757- 899x/1098/5/052085.

[7] C. A. Putra and M. Idhom, “Design System of Internal Financial Report Applications (Case Study : Lppm UPN ‘Veteran’ East Java),” Int. Semin. Res. Mon. Sci. Technol. People Empower., vol. 2018, no. 2018, pp. 186–192, 2019, doi:

10.11594/nstp.2019.0224.186.

[8] T. Oswari, T. Yusnitasari, R. D. Kusumawati, and S. Mittal, “Online Music Product Recommendation System Implementation,”

Adv. Nat. Appl. Sci., vol. 14, no. 2, pp. 354–362, 2020, doi: 10.22587/anas.2020.14.2.15.

[9] A. Ridoh, Y. I. Putra, and R. Fadli, “WEB-BASED DATA VISUALIZATION TO IDENTIFY THE SPREAD OF COVID-19 IN INDONESIA,” J. Pendidik. Teknol. Inf. dan Vokasional, vol. 2, no. 1, pp. 20–25, 2020, [Online]. Available:

http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/JPVTI.

[10] J. A. Haratua, A. E. Widjaja, K. Prasetya, and H. Hery, “Web-Based Inventory Application Development for PT. Palugada Indonesia,” IJNMT (International J. New Media Technol., vol. 8, no. 1, pp. 70–78, 2021, doi: 10.31937/ijnmt.v8i1.2063.

[11] E. Triandini and I. G. Suardika, Step By Step Desain Proyek Menggunakan UML, Edisi I. Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2012.

[12] S. Muharni, Analisa dan Perancangan Sistem Informasi. Yogyakarta: Bintang Pustaka Madani, 2021.

[13] A. Nugroho, U. Suprihadi, and A. Jaenul, Rancang Bangun Aplikasi Toko Online Berbasis Web Codeigniter 3 Untuk Usaha Mikro Dan UMKM. Bandung: Media Sains Indonesia, 2021.

[14] Asroni, H. A. Wintoro, A. Darajat, and A. A. Akbar, Modul Praktikum Pengembangan Aplikasi Web. Yogyakarta: Bintang Pustaka Madani, 2021.

Referensi

Dokumen terkait

Diagram Usecase Sistem Usulan User Kepala Sekolah menjelaskan jika user Kepala Sekolah diawali dengan melakukan login kedalam sistem dengan input username dan

Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi sistem informasi pelaporan sediaan jadi prekursor dan obat-obatan tertentu sebagai bentuk pengawasan

Penelitian yang dilakukan oleh Agus Noertjahyana dengan judul Studi Analisis Rapid Application Development Sebagai Salah Satu Alternatif Metode Pengembangan

Sistem Informasi Monitoring Pajak Bumi dan Bangunan yang telah dikembangkan diharapkan mampu menyelesaikan kendala dan permasalahan dalam penyelenggaraan pemungutan

Studi literatur merupakan prosedur untuk mendapatkan literatur / artikel tentang filtering firewall dengan IP Table, kemudian Mempelajari Sistem jaringan yang

Penelitian yang dilakukan oleh Sandy Kosasi dengan judul Penerapan rapid Application Development Dalam Sistem Perniagaan Elektronik Furniture dapat disimpulkan

Sesuai harapan Valid 3 Mengosongkan satu field saja kemudian dilakukan klik login Field password dikosongkaing Sistem menolak dan muncul peringatan harap isikan password Sesuai

KESIMPULAN Bahwa proses perancangan dan pembangunan sistem informasi ojs menggunakan ojs 3 di ITSNU Pekalongan telah berhasil, hal ini ditunjukkan pada hasil pengujian sisten dengan