1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelayanan publik merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, baik berupa barang maupun jasa. Hal ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undangan, seperti yang dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Pelayanan publik merupakan produk birokrasi publik yang diterima oleh warga pengguna maupun masyarakat secara luas dan menyeluruh. Pelayanan publik yang berkualitas merupakan pelayanan yang merupakan harapan masyarakat karena pelayanan merupakan hak yang harus masyarakat dapatkan. Namun, fakta di lapangan membuktikan bahwa masih ditemukan adanya keluhan serta saran dari masyarakat (Duhita, 2018).
Kepala Dispendukcapil Kabupaten Pasuruan menjelaskan bahwa maksud dari adanya Kios e-PAKLADI yaitu membuka kios-kios pelayanan administrasi kependudukan (Adminduk) di tingkat desa/ kelurahan yang mengacu pada Permendagri Nomor 7 Tahun 2019. Permendagri tersebut berisi ketentuan bahwa desa dan kelurahan memungkinkan membuka layanan Adminduk secara daring (dukcapil.kemendagri.go.id, 2021).
Kios e-PAKLADI telah berlaku pada bulan Oktober 2020 dan jumlah Kios e-PAKLADI saat ini adalah sebanyak 57 kios. 57 kios tersebut terdiri dari 57 desa yang tersebar di 13 kecamatan dan seterusnya diharapkan dapat bertambah agar desa atau kelurahan di Kabupaten Pasuruan dapat terpasang sistem Kios e-PAKLADI secara merata dan menyeluruh. Pasalnya, pada waktu itu melalui pelayanan publik tersebut, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pasuruan dinilai berhasil mengendalikan kendala geografis, berupa jarak antara warga dengan tempat pelayanan. Dengan demikian, warga Kabupaten Pasuruan khususnya mereka yang tidak dapat mengakses pelayanan online, dapat lebih dekat dengan tempat adminduk karena pelayanan administrasi kependudukan sudah dapat dilakukan di tingkat desa (dukcapil.kemendagri.go.id, 2021).
2
Dalam rangka mendekatkan pelayanan dokumen kependudukan kepada masyarakat, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pasuruan melaksanakan uji coba pelayanan Kios e-PAKLADI pada tanggal 6 Oktober 2020 di beberapa desa yaitu
Table 1.1 Data Realisasi Kios e-PAKLADI
Kecamatan Sukorejo Desa Sukorejo, Desa Sukorame, Desa Kalirejo, Desa Gunting, Desa
Mojotengah, Desa Wonokerto dan Desa Curahrejo
Kecamatan Rejoso Desa Ketegan Kecamatan Purwosari Desa Kayoman
Kecamatan Nguling Desa Nguling dan Desa Watestani Kecamatan Wonorejo Desa Sambisirah
Kecamatan Purwodadi Desa Parerejo Sumber : (dispendukcapil.pasuruankab.go.id, 2020)
Dengan adanya pelayanan publik baru seperti Kios e-PAKLADI (Pelayanan Administrasi Kependudukan Langsung Jadi secara elektronik) yang diciptakan oleh Dispendukcapil Kabupaten Pasuruan dengan tujuan lebih mendekatkan pelayanan dengan masyarakat. Kios tersebut ditempatkan di Balai Desa/ Kantor Desa yang dimana setiap masyarakat tidak perlu lagi datang ke kecamatan untuk mengurus segala layanan kependudukan. Mulai dari KTP, Akta Kelahiran, Akta Kematian, KIA (Kartu Identitas Anak), Kartu Keluarga (KK) dan SKPWNI (Surat Keterangan Pindah Warga Negara Indonesia (SKPWNI).
Kepala Dispendukcapil Kabupaten Pasuruan (Yudha Triwidya Sasongko) mengatakan bahwa per tanggal 16 Oktober 2020 Kios e-PAKLADI telah diuji coba sejak 2 minggu lalu dan saat ini setidaknya sudah ada 20 desa di 7 kecamatan yang sudah merealisasikan E-Pak Ladi. Dari data yang telah dijelaskan di Tabel 1 adapun data terbaru perkembangan desa yang merealisasikan Kios e-PAKLADI yaitu
3
Tabel 1.2 Data Realisasi Kios e-PAKLADI
Kecamatan Sukorejo Desa Karangsono, Desa Lemahbang, Desa Tanjungarum, Desa Suwayuwo, Desa Lecari, dan Desa Pakukerto Kecamatan Purwodadi Desa Gunting
Kecamatan Prigen Desa Jatiarjo Sumber : (pasuruankab.go.id, 2020)
Tujuan dari adanya Kios e-PAKLADI yaitu dikarenakan masih banyak masyarakat yang datang ke Kantor Dispendukcapil lokasinya tepat di Raci untuk pengurusan administrasi kependudukan. Tetapi, dengan adanya Kios e- PAKLADI layanan administrasi kependudukan dapat dilakukan di setiap desa atau kelurahan. Selain itu, Kepala Dispendukcapil juga menjelaskan bahwa terkait alur kepengurusan seperti KTP dan KIA pencetakannya di Dispenduk Capil. Lalu berkas digital melalui aplikasi Kios e-PAKLADI yang telah dikirim di Dispendukcapil akan diantar oleh petugas Dispendukcapil ke kecamatan. Jika kepengurusan tersebut selesai, maka pemohon dapat mengambil di kantor desa dikarenakan petugas yang bersangkutan yang akan mengantarkan ke desa terdekat yang telah terpasang Kios e-PAKLADI (pasuruankab.go.id, 2020).
Inovasi Pelayanan Publik merupakan sebuah terobosan jenis pelayanan baik yang merupakan gagasan / ide kreatif orisinal dan/ atau adaptasi.
Modifikasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, baik secara pelayanan yang diberikan secara langsung maupun tidak langsung. Inovasi pelayanan tersebut tidak harus dalam bentuk penemuan baru, tetapi dapat merupakan suatu pendekatan baru yang bersifat kontekstual dalam arti lain inovasi dapat dikatakan tidak terbatas dari tidak ada kemudian muncul gagasan atau praktik inovasi, tetapi inovasi pelayanan publik juga dapat berupa hasil dari suatu inovasi atau pembaharuan atau peningkatan kualitas layanan pada suatu inovasi yang sudah ada sebelumnya (Hambleton & Howard, 2013).
Dalam literatur inovasi pelayanan publik dijelaskan bahwa keberhasilan tipologi inovasi jika di analisis menggunakan teori menurut Halvorsen yaitu : A new or improved service (pelayanan baru atau pelayanan
4
yang diperbaiki), Process Innovation (Inovasi Proses), Administrative Innovation (inovasi administratif), System Innovation (inovasi sistem), Conceptual Innovation (inovasi konseptual), dan Radical change of rationally (perubahan radikal) (Thomas Halvorsen, Johan Hauknes, Ian Miles, 2005).
Selain itu, keberhasilan suatu inovasi juga dapat dicapai jika sebuah inovasi pelayanan publik dianalisis menggunakan teori atribut inovasi oleh Rogers sebagai jawaban atas permasalahan dan kebutuhan di dalam pelayanan publik.
Adapun atribut inovasi yang ada di dalam inovasi pelayanan publik yaitu : Relative Advantage atau Keuntungan Relatif (lebih baik daripada menggantikan yang sudah ada sebelumnya), Compability atau Kesesuaian dengan inovasi sebelumnya (sejauh mana inovasi dianggap cocok dengan nilai-nilai yang lazim dan bertentangan dengan norma-norma sosial tidak bisa diadopsi, Complexity atau Kerumitan dengan sifatnya yang baru (sejauh mana tingkat kerumitan yang dihasilkan oleh sebuah inovasi dikarenakan ada beberapa inovasi yang akan mudah dipahami dan diserap dengan cepat dari pada beberapa inovasi yang rumit tapi lambat untuk diterapkan, Triability atau Kemungkinan dicoba (sejauh mana inovasi yang saat ini dilakukan bisa bereksperimen dan dikembangkan secara terbatas), serta Observability atau Kemudahan diamati (Everett M. Rogers, 2003).
Selain itu, menurut Mulgan & Alburry yang dikutip oleh Muluk menyatakan bahwa terdapat lima tipologi dalam proses suatu inovasi seperti Inovasi produk atau layanan, Inovasi pada proses layanan, Inovasi pada metode pemberian layanan, Inovasi kebijakan, dan Inovasi pembaharuan sistem (Muluk, 2008). Keberhasilan inovasi dapat dilihat dari produk atau layanan yang berasal dari perubahan bentuk dan desain produk atau layanan sementara inovasi proses berasal dari gerakan pembaruan kualitas yang berkelanjutan dan mengacu pada kombinasi perubahan organisasi, prosedur, dan kebijakan yang dibutuhkan untuk dapat menciptakan suatu inovasi.
Inovasi dalam metode pelayanan dapat dilihat dari adanya perubahan baru dalam hal berinteraksi dengan pemohon dengan metode baru pada saat memberikan pelayanan. Sedangkan terkait inovasi dalam strategi (kebijakan) lebih kepada penjelasan suatu misi, tujuan serta adanya kebijakan baru yang
5
dirancang berdasarkan fakta lapangan. Selain itu, inovasi pada interaksi sistem cenderung menggunakan metode terbaru yang melibatkan beberapa aktor lainnya (Kurniawan, 2015). Terkait tipologi inovasi pelayanan publik, dimana inovasi yang berhasil merupakan hasil kreasi dan implementasi proses, produk layanan dan metode layanan baru serta hasil dari pengembangan nyata dari efisiensi, efektifitas dan kualitas hasil suatu layanan (Putri, 2017).
Dalam penelitian tentang inovasi di Indonesia lebih banyak menggunakan teori menurut pendapat (Rogers et al., 2019) yang menjelaskan bahwa inovasi merupakan ide, praktek, maupun objek (berupa produk atau jasa) yang dapat diterima oleh unit adopsi lain sebagai sesuatu yang bersifat baru sehingga produk tersebut dapat dikatakan sebagai inovasi. Namun, bukan berarti inovasi hanya mengakui sesuatu yang belum pernah ada, melainkan pemutakhiran dari gagasan yang telah ada juga dapat dikategorikan sebagai inovasi. Tetapi dalam suatu kebaruan dalam inovasi dapat dinyatakan dalam bentuk pengetahuan, persuasi maupun keputsan atau kebijakan yang harus dijalankan. Maka dari itu, inovasi pelayanan publik cenderung membahas terkait proses implementasi suatu produk atau layanan.
Beberapa penelitian inovasi pelayanan publik di Indonesia lebih menjelaskan pada aspek proses pengimplementasian suatu inovasi (Deby et al., 2018). Maka dari itu yang kemudian menjadi latar belakang peneliti bahwa penelitian ini lebih menfokuskan pada bentuk tipologi yang mana tipologi tersebut berdasarkan artikel atau referensi dari (Chen et al., 2020).
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka peneliti ingin mengetahui bagaimana bentuk tipologi inovasi pelayanan publik di Kabupaten Pasuruan. Adapun pada penelitian ini saya selaku penulis mengangkat judul penelitian “Inovasi Pelayanan Administrasi Kependudukan Melalui Kios e- PAKLADI”.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah Bagaimana bentuk tipologi inovasi layanan publik melalui Inovasi Kios e-PAKLADI ?
6 1.3 Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan terkait bentuk tipologi inovasi pelayanan publik pada inovasi pelayanan administrasi kependudukan melalui Kios e-PAKLADI di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pasuruan.
2. Manfaat
a) Manfaat Teoritis
Peneliti dapat mengetahui bagaimana bentuk tipologi Inovasi pelayanan administrasi kependudukan melalui Inovasi Kios e- PAKLADI di Dispendukcapil Kabupaten Pasuruan yang memiliki tujuan untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat, mempermudah masyarakat dalam proses kepengurusan administrasi kependudukan di desa masing-masing, menambah wawasan dalam rangka pengembangan khazanah ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan pelayanan administrasi kependudukan berbasis elektronik seperti Kios e-PAKLADI (Kios Pelayanan Administasi Kependudukan Langsung Jadi) serta dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penulisan karya ilmiah pada penelitian selanjutnya.
b) Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dan juga evaluasi bagi pemerintah Kabupaten Pasuruan ataupun pemerintah kabupaten/kota yang lainnya, terutama dalam hal pelayanan administrasi kependudukan yang dapat disasar sampai lapisan paling bawah yaitu desa sehingga dapat memberikan contoh untuk desa atau kelurahan di kabupaten / kota lainnya agar dapat mengembangkan inovasi pelayanan administrasi kependudukan yang dapat mempermudah pada saat memberikan pelayanan kepada masyarakat serta meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya memiliki kelengkapan dokumen kependudukan.
7 1.4 Definisi Konseptual
1) Inovasi Layanan Publik
Inovasi Layanan Publik (Public Service Inovation) di definisikan sebagai suatu pengembangan dan implementasi ide baru oleh kewajiban pelayanan publik (Public Service Obligation) untuk menciptakan atau meningkatkan nilai publik dalam suatu ekosistem. Oleh karena itu, definisi Inovasi Layanan Sektor Publik menekankan pada tiga atribut yaitu kepada kebaruan inovasi, pengembangan dan implementasi, ekosistem, serta hasil atau nilai dari suatu inovasi layanan publik (Chen et al., 2020).
Dari tiga atribut tersebut dijelaskan, pertama yaitu dari segi kebaruan yang dimaksud yaitu derajat kebaruan yang berbeda dari perspektif yang berbeda dan telah digunakan untuk mengklasifikasikan inovasi lainnya, seperti inovasi inkremental vs radikal. Lalu yang kedua yaitu terkait pengembangan dan implementasi untuk memperjelas bahwa inovasi merupakan proses yang harus diperkenalkan kepada anggota ekosistem dalam beberapa bentuk untuk mempengaruhi hubungan serta membedakan antara inovasi yang satu dengan yang lainnya dari segi kreativitas dan ide-ide yang dapat memberikan manfaat untuk publik (Damanpour & Aravind, 2012). Serta ketiga yaitu menempatkan proses inovasi dalam suatu ekosistem yang dimana pelaku yang berbeda terlibat dalam penciptaan nilai bersama atau penciptaan bersama (Lusch &
Nambisan, 2015). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa nilai publik dikatakan sebagai proses pengembangan sedangkan implementasi inovasi sebagai hasil yang diharapkan dari adanya Inovasi Pelayanan Publik (Bozeman, 2007)
2) Tipologi Inovasi
Tipologi dibangun dari dua dimensi perilaku organisasi yang mengarah pada suatu inovasi. Hal tersebut dikarenakan proses penciptaan nilai publik (fokus inovasi) dan pengaturan inovasi (lokus inovasi).
Pertama, membangun literatur nilai publik bersama dengan adaptasi adaptif. Terdapat tiga proses nilai publik untuk mengklasifikasikan inovasi berdasarkan fokusnya hal tersebut mencakup strategi, kapasitas, dan
8
operasi (Miles et al., 1978). Kedua, mengklasifikasikan aktivitas inovasi sebagai memiliki lokus baik internal (pada dimensi endogen ke batas organisasi) dan eksternal (pada dimensi eksogen organisasi) (Tushman &
Benner, 2015). Dengan adanya klasifikasi terkait inovasi layanan publik melalui tiga fokus inovasi dan dua lokus inovasi tersebut dapat mengembangkan tipologi baru yang terdiri dari enam jenis inovasi yaitu misi, kebijakan, manajemen, mitra, layanan dan warga (Chen et al., 2020).
Pada dasarnya, tipologi inovasi berorientasi pada pemenuhan misi suatu organisasi. Hal itu dikarenakan, tujuan organisasi tidak hanya bagaimana inovasi atau program dapat menyeleaaikan misi secara keseluruhan tetapi juga secara hierarkis dengan inovasi yang strategis atau inovasi yang dapat dicapai dengan memvariasikan dua jenis inovasi lainnya seperti program dan administratif (Mark H. Moore, 1995).
3) Kios e-PAKLADI
Kios e-PAKLADI merupakan singkatan dari Kios Pelayanan Administrasi Kependudukan Langsung Jadi secara elektronik. Inovasi tersebut telah dirancang pada awal bulan Juni 2020. Kios e-PAKLADI merupakan wujud nyata upaya Pemkab Pasuruan dalam meningkatkan pelayanan bagi masyarakatnya terutama terkait hal kepengurusan administrasi kependudukan. Kios e-PAKLADI ini terpasang di desa atau kelurahan sehingga masyarakat tidak perlu datang secara langsung ke Kecamatan atau Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil jika akan mengajukan kepengurusan dokumen kependudukan. Adapun kepengurusan dokumen yang dapat dilayani melalui Kios e-PAKLADI yang ada di Desa atau Kelurahan yaitu KTP, Akta Kelahiran dan Akta Kematian, Kartu Identitas Anak (KIA), Kartu Keluarga, serta Surat Keterangan Pindah Warga Negara Indonesia (SKPWNI) (Iwan Sutiawan, 2021).
9 1.5 Definisi Operasional
Definisi Operasional dapat dilihat berdasarkan pada fenomena atau permasalahan yang diamati atau fakta di lapangan sehingga dapat mendefinisikan sesuatu, serta memberikan batasan-batasan pada fenomena yang akan diteliti. Pada penelitian “Inovasi Pelayanan Administrasi Kependudukan Melalui Kios e-PAKLADI” terdapat beberapa indikator yang dijadikan sebagai poin penting untuk dianalisis. Adapun definisi operasional ini mengadopsi dari artikel (Chen et al., 2020) yaitu :
Tabel 1.3 Definisi Operasional
Pertanyaan Penelitian Tipologi Sub Indikator/ Instrumen Bagaimana bentuk
tipologi inovasi pelayanan publik melalui Kios e- PAKLADI ?
Mission (Misi)
Penyusunan inovasi
Kejelasan misi Pengetahuan misi seluruh organisasi
Policy (Aturan)
Peraturan yang mengatur dalam undang-undang mengacu pada Permendagri No 7 tahun 2019 Management
(Pengelolaan)
Pengelolahan Inovasi
Partner (Mitra)
Membuat perjanjian kerjasama pengiriman dokumen kependudukan dengan PT.Pos Indonesia
(Service) Melayani
Sosialisasi dan penyampaian layanan baru (Kios e-PAKLADI) Alur proses kepengurusan layanan
Citizen (Masyarakat)
Kepengurusan dokumen melalui Kios e-PAKLADI yang ada di desa/
kelurahan
Hasil cetak dokumen menggunakan sistem jemput bola
10 1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Penelitian kualitatif merupakan analisis deskriptif yang menjelaskan sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Sedangkan pendekatan studi kasus merupakan penelitian secara empiris serta menyelidiki fenomena dalam konteks kehidupan nyata bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tidak sinkron dan dimana multisumber digunakan (Yin, 1981).
Tujuan dari penelitian deskriptif ini yaitu membuat deskripsi gambaran hasil penelitian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta yang terjadi di lapangan serta saling memiliki keterkaitan dengan fenomena yang diteliti (Prasanti, 2018).
1.6.2 Sumber Data
Dalam melakukan penelitian sumber data yang digunakan oleh peneliti terdapat dua sumber data yaitu :
1.6.2.1 Data Primer
Data primer diperoleh secara langsung oleh peneliti dari informan penelitian melalui wawancara. Data tersebut didapatkan dengan cara memberikan pertanyaan yang akan diajukan secara langsung dengan menyiapkan beberapa kuisioner yang dijadikan sebagai bahan untuk melakukan pengkajian terhadap objek penelitian serta melakukan wawancara dengan Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK), Bidang Pemanfaatan dan Inovasi, Sekretariat serta pemohon (masyarakat) yang mengajukan layanan di Desa/ Kelurahan.
1.6.2.2 Data Sekunder
Data sekunder ini dijadikan sebagai data pendukung dari data primer yang didapatkan melalui sumber tidak langsung. Data tersebut berupa dokumen-dokumen yang didapatkan melalui pihak kedua yang mengetahui informasi terkait judul penelitian, artikel jurnal yang relevan dengan judul penelitian, dokumen resmi milik pemerintah atau
11
dinas terkait, serta website resmi dan dokumen paparan terkait Kios e- PAKLADI.
1.6.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan guna mempermudah peneliti dalam memperoleh data yang dibutuhkan. Oleh karena itu, dalam melakukan penelitian ini teknik yang digunakan yaitu dengan melakukan Observasi, Wawancara dan Studi Dokumentasi (Prasanti, 2018). Adapun kegiatan yang perlu dilakukan dalam tahap pengumpulan data yaitu : a) Observasi
Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan cara melakukan pengamatan dengan cara melihat kondisi dan situasi yang terjadi di lapangan. Dengan adanya observasi secara langsung peneliti dapat mempelajari dan memahami apa saja fenomena- fenomena yang terjadi di lapangan. Hal tersebut bertujuan untuk dapat mengetahui fakta dan realita yang terjadi. Peneliti melakukan observasi langsung dengan informan guna mengetahui proses kepengurusan dokumen serta mendapatkan bahan atau paparan yang berkaitan dengan judul penelitian.
b) Wawancara
Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi serta melengkapi data yang akurat, sumber yang tepat, serta dapat dipertanggungjawabkan oleh peneliti. Teknik wawancara pada penelitian ini menggunakan metode wawancara semi terstruktur.
Wawancara semi terstruktur yaitu proses wawancara menggunakan kuisioner (rangkaian pertanyaan terbuka) yang berasal dari pengembangan topik sehingga dalam mengajukan pertanyaan peneliti lebih fleksibel dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Adapun wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara, sehingga peneliti dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan penelitian sesuai dengan informasi yang dibutuhkan serta dalam penggalian informasi dapat dilakukan secara mendalam (Labiba et al., 2020)
12
Dengan melakukan wawancara peneliti dapat memperoleh informasi yang konsekuen terhadap objek yang menjadi kajian. Dalam penelitian ini, peneliti mewawancarai beberapa bidang yang memiliki keterkaitan dengan judul riset yaitu dengan Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK), Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi (PDI) serta Sekretariat yang memiliki keterkaitan dengan adanya Kios e-PAKLADI
c) Studi Dokumentasi
Studi Dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan guna mempertajam analisis penelitian yang didapatkan oleh peneliti melalui dokumen laporan serta paparan yang dapat mendukung dan memperkuat hasil laporan penelitian. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik dokumentasi berupa dokumentasi gambar atau foto serta rekaman suara (audio) yang didapatkan melalui kegiatan wawancara dengan informan terkait (Prasanti, 2018).
1.6.4 Subjek Penelitian
Subjek penelitian merupakan informan yang menjadi sumber data atau informasi dalam suatu penelitian. Maka dari itu, pihak yang dijadikan sebagai subjek penelitian diharapkan memiliki kemampuan serta pemahaman terkait judul riset yang akan dikaji lebih mendalam oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikan.
Dalam penelitian ini subjek penelitian dalam pengimplementasian Kios e- PAKLADI, antara lain
Tabel 1.4 Subjek Penelitian
Key Informan : Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK),
Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi Sekretariat
Supporting Informan
: Pemohon yang mengajukan kepengurusan dokumen kependudukan melalui Kios e- PAKLADI sejumlah 15 responden
13 1.6.5 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pasuruan.
1.6.6 Teknik Analisis Data
Analisis Data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari Reduksi data, Penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang dijabarkan dalam suatu karya penelitian agar peneliti dapat dengan mudah mempelajari serta membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Rijali, 2019). Sehingga, hasil dari penelitian yang telah tersusun secara terstruktur oleh peneliti dapat dipahami oleh peneliti selanjutnya.
Gambar 1.1 Proses Analisis Data Penelitian Kualitatif Sumber : (Rijali, 2019)
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Dalam proses reduksi data peneliti mengumpulkan seluruh data hasil penelitian, menyederhanakan data yang didapatkan dari catatan tertulis di lapangan lalu menarik kesimpulan dari beberapa data agar dapat memberikan gambaran yang jelas terkait data yang relevan dengan riset penelitian yaitu tipologi pelayanan adminitrasi kependudukan melalui Kios e-PAKLADI. Dengan adanya penemuan- penemuan terbaru tersebut dapat menambah nilai pengembangan teoritis untuk peneliti serta dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.
14 2. Penyajian Data (Data Display)
Dalam penelitian kualitatif, peneliti menyajikan data dengan cara mengumpulkan informasi yang disusun secara terstruktur sehingga peneliti dapat menarik kesimpulan dan pengambilan suatu tindakan.
Dari hasil penyajian tersebut peneliti dapat memberikan penjabaran hasil penelitian lebih akurat dikarenakan adanya evaluasi hasil penelitian berdasarkan penemuan atau fakta yang terjadi di lapangan.
Dengan adanya hasil dari penelitian tersebut, peneliti dapat menjelaskan berupa tipologi inovasi pelayanan publik melalui Kios e- PAKLADI (Pelayanan Administrasi Kependudukan Langsung Jadi secara elektronik).
3. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Darwing, Verification)
Dalam proses penarikan kesimpulan peneliti menjabarkan secara singkat, padat, dan jelas terkait hasil temuan terbaru yang dinilai dapat menjawab permasalahan yang dikaji secara mendalam dan menyeluruh. Maka dari itu, penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara mensinkronasikan kembali data yang didapatkan dengan dokumen yang telah didapatkan agar informasi yang diberikan dapat dikatakan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan oleh peneliti.