The Influence of Ramadhan Fasting to the Blood Glucose Levels among Elderly Pengaruh Puasa Ramadhan terhadap Kadar Glukosa Darah pada Lansia
Primanda Khoiro Utami1, Ika Setyawati2
1Medical Student of UMY, 2Section of Lecturer Staff of FK UMY
Abstract
Glucose is monosaccharides produced from metabolism of carbohydrate, proteins, and fats that are the main energy source. Blood glucose levels can be affected by several factors, among others: age, food, exercise, medications, emotions, stress, and other diseases (diabetes mellitus, hypertension). Along with the increase of age, Elderly (Lansia) physically and mentally decline that raises many consequences, one of them is impaired glucose tolerance. Fifty per cent of the Elderly showed glucose intolerance with fasting blood glucose levels within normal limits. To control the situation above, it needs a special control of the risk factors that is the fasting of Ramadan. This study was conducted to find whether Ramadan fasting can lower blood glucose levels among Elderly.
Cross-sectional was carried out on 30 samples of blood from Elderly with a lifespan of 50-75 years with measurement of blood glucose levels using the tool auto check for 1 month with 3 times of the measurement that are at week 2 and 4 of the fasting month of Ramadan and week 2 after Ramadan. The data analysis used is the analytical test paired samples t-test to determine the image of blood glucose levels during fasting.
Blood glucose level during fasting (FBG) in week 2 when compared with the week 4 decreased slightly but the results of hypothesis test the significance of 0,000. GDP of week 2 of Ramadan with the 2nd week after fasting was p = 0.000. GDP of week 4 of Ramadan with the 2nd week after the fast increase with p = 0.000. A decrease in serum glucose temporary occurring only while fasting is likely due to increased gluconeogenesis in the liver that is affected by a decrease in insulin concentration and increased glucagon. Fasting can have effect on reducing blood glucose levels in the Elderly.
Keywords: Blood glucose levels, Elderly, Ramadan fasting, auto check.
Abstrak
Glukosa adalah gula sederhana atau monosakarida hasil dari metabolisme karbohidrat, protein dan lemak yang merupakan sumber energi utama yang dibutuhkan sel-sel saraf serta untuk mencegah gangguan fungsi saraf dan kematian sel. Kadar glukosa darah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, usia, makanan, latihan fisik, obat-obatan, emosi, stres, dan penyakit lain (Diabetes Melitus, hipertensi). Seiring dengan perkembangan usia, Lanjut Usia (Lansia) mengalami kemunduran fisik dan mental yang menimbulkan banyak konsekuensi, salah satu diantaranya yaitu gangguan toleransi glukosa. Lima puluh persen lansia menunjukkan intoleransi glukosa dengan kadar glukosa darah puasa dalam batas normal. Untuk mengendalikan keadaan di atas, maka perlu adanya pengendalian khusus terhadap faktor risiko yaitu dengan berpuasa Ramadhan. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh puasa Ramadhan terhadap penurunan kadar glukosa darah pada Lansia.
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Cross-sectional dilakukan terhadap 30 sampel darah lanjut usia dengan rentang umur 50-75 tahun dengan pengukuran kadar glukosa darah sebanyak 3 kali menggunakan alat auto check selama 1 bulan yaitu pada minggu ke-2 dan ke-4 bulan puasa Ramadhan dan minggu ke-2 setelah puasa. Analisis data yang digunakan adalah Uji analitik paired sampel t-test untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah saat puasa.
Paired sampel t-test digunakan untuk membandingkan kadar glukosa darah puasa (GDP) minggu ke-2 dengan minggu ke-4 didapatkan hasil terjadi penurunan sedikit tetapi hasil uji hipotesis signifikansinya 0,000. GDP minggu ke-2 saat puasa dengan minggu ke-2 setelah puasa p=0,000. Glukosa darah puasa minggu ke-4 saat puasa Ramadhan dengan minggu ke-2 setelah puasa mengalami kenaikan dengan p=0,000. Penurunan glukosa serum yang bersifat sementara terjadi hanya saat puasa kemungkinan disebabkan karena meningkatnya glukoneogenesis dalam hati yang dipengaruhi oleh penurunan konsentrasi insulin dan peningkatan glukagon. Dengan demikian puasa dapat memiliki pengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah pada lansia.
Kata kunci : Kadar glukosa darah, lansia, puasa Ramadhan, auto check.
Pendahuluan
Glukosa adalah gula sederhana atau monosakarida hasil dari metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Glukosa merupakan sumber energi utama yang dibutuhkan sel-sel saraf serta untuk mencegah gangguan fungsi saraf dan kematian sel1. Dalam keadaan tertentu kadar glukosa darah dapat mengalami fluktuasi yang tinggi jika tidak ada keseimbangan aktivitas hormon insulin dan glukagon begitu juga sebaliknya2. Kadar glukosa darah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, usia, makanan, latihan fisik, obat-obatan, emosi, stres, dan penyakit lain (Diabetes Melitus, hipertensi)3.
Seiring dengan perkembangan usia, Lanjut Usia (Lansia) mengalami kemunduran fisik dan mental yang menimbulkan banyak konsekuensi, salah satu diantaranya yaitu gangguan toleransi glukosa4. Lima puluh persen lansia menunjukkan intoleransi glukosa dengan kadar glukosa darah puasa dalam batas normal5. Untuk mengendalikan keadaan di atas, maka perlu adanya perhatian khusus terhadap faktor risiko yaitu dengan berpuasa Ramadhan6.
Puasa Ramadhan merupakan puasa yang berbeda dari puasa fisiologis karena durasi lebih lama dan tergantung dengan irama sirkandian. Hal ini sesuai dengan periode saat terjadi pengeluaran dan kebutuhan energi yang besar secara sinergis. Puasa Ramadhan memiliki implikasi sosial dan ekonomi yang signifikan disebabkan ritme kehidupan yang baru yang dapat mempengaruhi faktor risiko pengendalian kadar glukosa darah, seperti: kebiasaan makan, aktivitas, dan siklus tidur7.8. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui
pengaruh puasa Ramadhan terhadap kadar glukosa darah pada lansia.
Bahan dan Cara
Penelitian ini adalah penelitian Cross-sectional untuk mengetahui pengaruh puasa Ramadhan terhadap penurunan kadar glukosa darah. Populasi target penelitian ini adalah seluruh manula (usia 50-75 tahun) di kota Lamongan.
Sedangkan populasi terjangkaunya adalah beberapa lansia dari usia 50-75 tahun di kecamatan Brondong.
Sampel yang diuji adalah tiga puluh orang. Sebagai kriteria inklusi lansia laki-laki atau perempuan, usia 50-75 tahun yang melakukan puasa Ramadhan.
Kriteria eksklusi sampel pada penelitian ini adalah pasien dengan riwayat diabetes melitus, BMI >25 kg/m2, GDS > 200 mg/dL.
Variabel bebas pada penelitian ini adalah puasa Ramadhan sedangkan variabel tergantung berupa kadar glukosa darah.
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah formulir data responden, formulir persetujuan, kapas alkohol, autoclix, alat ukur glukosa darah (gluko check), strip test, alat timbangan berat badan dan tinggi badan.
Penelitian ini dilakukan di kecamatan Brondong yang berada di kota Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Ramadhan 2015.
Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Persiapan pengambilan sampel: Permohonan surat kelaikan etik kepada komisi etik FK-UMY dan permohonan ijin penelitian. Skrining subjek penelitian untuk kelompok kasus dengan menggunakan kuesioner dan
pemeriksaan vital sign, berat badan, tinggi badan, dan kadar glukosa darah sewaktu.
Pemeriksaan glukosa darah puasa dilakukan pada sampel sebanyak 3 kali selama puasa 30 hari dan dalam keadaan puasa tidak 30 hari yaitu pada satu hari di minggu ke-2 dan ke-4 puasa Ramadhan serta satu hari pada 2 minggu setelah puasa Ramadhan. Saat dilakukan pemeriksaan probandus tidak diperbolehkan makan dan minum minimal selama 8 jam.
Pemeriksaan akan dilakukan setiap menjelang berbuka atau sekitar pukul 15.00-17.00. Pengambilan darah ini dilakukan oleh tenaga kesehatan setempat.
Alat yang digunakan untuk mengukur kadar glukosa darah puasa adalah auto check.
Analisis data dilakukan melalui tahap penyuntingan, memasukkan data ke perangkat lunak komputer (SPSS 15) menggunakan analisis statistik uni variat (satu variabel bebas) dengan teknik analisis Paired-Sample t-test.
Hasil Penelitian
Diskripsi usia dan BMI responden dalam penelitian ini sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di bawah ini :
Berdasarkan tabel 1, dijelaskan tentang karakteristik usia responden yaitu, responden lansia berusia 50-55 tahun berjumlah 11 orang (36,7%), rentang usia 56-60 tahun terdapat 8 orang (26,7%), (23,3%) atau sebanyak 7 orang dengan rentang usia 61-65 tahun, sedangkan pada rentang usia 66-70 tahun hanya terdapat 1 orang (3,3%) dan pada usia 71-75 tahun berjumlah 3 orang (10,0%). Dari semua responden yang ada dalam penelitian ini didapatkan rerata usia 59,47 tahun dengan simpang baku (SB) 1,278, responden tertua berusia 75 tahun dan termuda berusia 50 tahun.
Berdasarkan tabel 2, didapatkan 3 orang (10,0%) dengan BMI 20 kg/m2, (6,7%) atau sebanyak 2 orang dengan BMI 21 kg/m2, 7 orang (23,3%) dengan BMI 22 kg/m2, sedangkan pada BMI 23 kg/m2 dan 24 kg/m2 masing-masing terdapat 8 orang (26,7%), dan BMI 25 kg/m2 berjumlah 2 orang. Rearata indeks massa tubuh responden 22,73 kg/m2 dengan SB 1,388, responden dengan BMI tertinggi 25 kg/m2 dan terendah 20 kg/m2.
Tabel 3 dapat dilihat bahwa rerata GDP pada minggu ke-2 puasa Ramadhan sebesar 89,30 mg/dl dengan SB sebesar 15,216, tertinggi 125 mg.dl dan terendah 66 mg/dl, sedangkan pada minggu ke-4 puasa ramadhan sebesar 87,97 mg/dl dengan SB sebesar 14,068, tertinggi 118 mg/dl dan terendah 80 mg/dl. Jika dibandingkan maka kadar glukosa darah puasa mengalami penurunan diminggu ke- 4. Pada 2 minggu setelah puasa didapatkan GDP rerata 92,90 mg/dl dengan SB sebesar 12,893, tertinggi 124 mg/dl dan terendah 72 mg/dl.
Tabel 1. Diskripi Usia
Tabel 2. Diskripsi BMI
Tabel 3. Diskripsi Kadar Glukosa Darah Puasa Responden
*minggu ke-2 puasa Ramadhan. **minggu ke-4 puasa Ramadhan. ***2 minggu setelah puasa Ramadhan.
No Karakteristik Usia
Jumlah Rerata Simpang Baku
Tertinggi Terendah 1 50-55 tahun 11(36,7%)
2 56-60 tahun 8 (26,7%) 3 61-65 tahun 6 (20,0%) 4 66-70 tahun 2 (6,7 %) 5 71-75 tahun 3 (10,0%)
Total 30 (100%) 59,47 6,673 75 50
No Karakteristik BMI (kg/m2)
Jumlah Rerata SB Tertinggi Terendah
1 20 3 (10,0%)
2 21 2 (6,7%)
3 22 7 (23,3%)
4 23 8 (26,7%)
5 24 8 (26,7%)
6 25 2 (6,7%)
Total 30 (100%) 22,73 1,388 25 20
Pengukuran (mg/dl)
Rerata SB Tertinggi Terendah
GDP 1* 89,30 15,216 125 66
GDP 2** 87,97 14,068 118 63
GDP 3*** 92,90 12,893 124 72
Diskusi
Rerata GDP pada minggu kedua puasa yaitu sebesar 89,30 mg/dl dengan SB 15,216 dan pada minggu ke-4 puasa ramadhan didapatkan nilai rerata 87,97 mg/dl dengan SB 14, 068 sedangkan pada 2 minggu setelah puasa rerata GDP yaitu sebesar 92,90 mg/dl dengan SB 12,893.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan yang signifikan (p=0,000) pada minggu ke-4 puasa jika dibandingkan dengan minggu ke-2. Jika dibandingkan dengan minngu ke-2 dan ke- 4 pada saat puasa Ramadhan, kadar glukosa darah pada minggu ke-2 setelah puasa naik secara signifikan dengan p sebesar 0,000.
Penurunan kadar glukosa darah pada saat puasa dalam penelitian ini kemungkinan melibatkan faktor asupan makanan. Pada saat berpuasa asupan yang masuk ke dalam tubuh sangat dibatasi selama kurang lebih 9-10 jam sehingga kebutuhan tubuh akan karbohidrat, protein, dan lemak tidak terpenuhi. Sebagai kompensasi tubuh akan menggunakan cadangan energi berupa glikogen8.
Uji hipotesis yang digunakan untuk mengetahui kadar glukosa darah pada saat berpuasa Ramadhan dan setelahnya adalah paired sample t-test. Uji ini dilakukan pada minggu ke-2, ke-4, dan 2 minggu setelah puasa.
Hasil uji paired sample t-test responden pada tabel 4 menunjukkan bahwa minggu ke-2 puasa ramadhan dan minggu ke-4 dengan 2 minggu setelah puasa ramadhan adalah seperti pada tabel 4 dibawah, menunjukkan bahwa nilai p = 0,000, hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan secara nyata pada kadar glukosa darah puasa saat ramadhan dengan puasa sehari setelah ramadhan.
Analisis yang diperoleh pada kadar glukosa saat puasa seperti pada tabel 4 dibawah menunjukkan bahwa hanya terjadi sedikit penuruan dari minggu ke-2 menuju minggu ke-4, meskipun signifikansi sangat tinggi. Sedangkan perubahan yang terjadi pada saat berpuasa
dan setelah berpuasa sangat signifikan.
Penurunan glukosa serum yang bersifat sementara terjadi hanya saat puasa ini disebabkan karena meningkatnya glukoneogenesis dalam hati yang dipengaruhi oleh penurunan konsentrasi insulin dan peningkatan glukagon9.
Penelitian ini memiliki hasil yang sama dengan beberapa penelitian terdahulu. Menurut Jamil et all., (2000) dan Lanjani et all., (2003) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah dengan puasa Ramadhan.
Berbeda dengan hasil penelitian dari Nida et all., (2014) dan Abdul (2007) yang menyebutkan bahwa terdapat kenaikan kadar glukosa darah selama puasa.
Puasa memiliki dampak penting pada darah sehingga dapat mempengaruhi beberapa parameter biokimia dalam tubuh termasuk kadar glukosa darah. Kadar glukosa darah menurun saat berpuasa disebabkan karena ketidakseimbangan intake dan outake kalori. Intake yang kurang tidak dapat menghentikan proses metabolisme didalam tubuh sehingga dengan intake terbatas tubuh akan tetap terus-menerus mengalami metabolisme10.
Pada keadaan puasa penyokong utama untuk memenuhi kebutuhan glukosa di dalam tubuh yaitu glikogen hati.
Glikogen hati disintesis apabila banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan pada saat kadar glukosa meningkat. Glikogen diuraikan saat kadar glukosa darah menurun. Jalur penguraian serta sintesis glikogen tersebut diatur oleh perubahan rasio insulin terhadap glikogen, kadar glukosa darah, epinefrin sebagai respon terhadap olahraga, hipoglikemia, situasi stres11.
Korelasi antara BMI dengan kadar glukosa darah pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 4. Uji Hipotesis menggunakan paired sampel t-test.
Tabel 5. Uji korelasi BMI dengan GDP menggunakan spearman.
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa kadar GDP minggu ke-2, ke-4 puasa ramadhan dan 2 minggu setelah puasa, semua memiliki nilai p (signifikansi) adalah lebih dari 0,05 yang berarti tidak ada korelasi yang bermakna antara indeks massa tubuh dengan kadar glukosa darah, nilai koefisien korelasi kurang dari 0,2 menunjukkan kekuatan korelasi sangat lemah. Hal ini disebabkan oleh karena pada penelitian ini subjek yang digunakan adalah lansia dengan BMI yang normal yaitu kurang dari 24 kg/BB. Pada Individu dengan ukuran tubuh yang lebih besar memiliki metabolik rate yang juga lebih tinggi daripada individu dengan ukuran yang lebih kecil. BMI normal menandakan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna pada metabolik rate masing-masing subjek penelitian. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Selain itu BMI dipengaruhi oleh tingkat kepadatan tulang dan otot selain dari kadar lemak tubuh. Penelitian terkini menyatakan bahwa pengukuran BMI saja tidak spesifik menggambarkan lemak tubuh yang mungkin dapat
berpengaruh terhadap kadar glukosa darah12.13.
Tabel 6. Uji korelasi usia dengan GDP dengan menggunakan pearson.
Hasil uji korelasi antara usia dengan kadar glukosa darah pada tabel 11 diatas, didapatkan nilai p keseluruhan lebih dari 0,05 yang menandakan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna dengan nilai r kurang dari 2, sehingga kekuatan korelasi sangat lemah. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor rentang usia yang diambil terlalu sempit.
Keterbatasan jumlah responden bisa juga memengaruhi hasil penelitian ini. Pada penelitian ini jumlah sampel minimal yang dibutuhkan sudah terpenuhi akan tetapi untuk mendapatkan hasil yang lebih spesifik dibutuhkan jumlah sampel yang lebih banyak sehingga faktor kesalahannya menjadi lebih kecil.
Menurut Astrine (2012) menyatakan bahwa usia memiliki hubungan erat dengan kadar glukosa darah, terlebih pada kelompok lansia.
Perbedaan pada penelitian ini dengan penelitian Astrine yaitu terletak pada kriteria inklusi yang digunakan. Pada penelitian ini usia yang digunakan yaitu lansia dengan usia 50-75 tahun sedangkan pada penelitian yang dilakukan Astrine yaitu usia 20-60 tahun sehingga hasil korelasi antara usia dengan kadar glukosa darah memiliki hasil yang berbanding terbalik. Selain itu dalam penelitian ini subjek yang digunakan yaitu lansia dengan GDS normal14.
Kesimpulan
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Puasa Ramadhan dapat
Rerata SB T Nilai
p GDP
1/GDP 2
86,021 14,006 33,639 0,000 GDP
1/GDP 3
90,954 12,834 38,817 0,000 GDP
2/GDP 3
-4,933 3,903 -6,922 0,000
GDP 1 GDP 2 GDP 3
BMI Nilai r Nilai p
0,183 0,333
-0,107 0,574
-0,070 0,715
GDP 1 GDP 2 GDP 3
Usia Nilai r Nilai p
0,146 0,442
0,147 0,439
0,078 0,684
menurunkan kadar glukosa darah pada lansia dengan signifikansi <0,05.
Saran
Dari penelitian diatas disarankan jika dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menggunakan subjek laki-laki dan perempuan, pengambilan sampel penelitian yang digunakan lebih banyak dan dilakukan pengendalian pada variabel
terkontrol yaitu dengan
mempertimbangkan menu makanan yang dikonsumsi dalam jumlah dan memiliki kandungan kalori yang sama.
Daftar Pustaka
1. Ignatavius, D., & Workman, M. (2010).
Critical Thingking fot Collaberative, Medical Surgical Nursing. ST. Louis Missouri-Elsevier Sounders.
2. Abdul, Mughni. (2007). Pengaruh Puasa Ramadhan Terhadap Faktor- Faktor Risiko Aterosklerosis. Tesis, Universitas Diponegoro Semarang, Semarang.
3. Holt, Richard, I. G. et al, (2010).
Textbook of Diabetes;sixth. Fourth Edition. UK : A John Wiley & Son, ltd.
4. Indra, K. ( 2010, Desember). Diabetes Melitus tipe 2 Pada Usia Lanjut.
Majalah Kedokteran Indonesia, 577.
5. Sidartawan, S., Dyah, P. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II.
Edisi V. Sudoyono, A. W., Setiyohadi, B., Idrus, A.,Marcellus, S.K., Siti, S.
(Eds.). Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
6. Tamher, & Noorkasiani. (2009).
Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
7. Nida A. A., Mammoun.M. E., Awad M.A., Mohammed M.E., Ashraf N.
I.,Imadeldin E., Gad A. M. (2014).
Effect of Ramadan Fasting on Blood Glucose, Serum Lipid Profiles levels in Sudanese Patients with Type 2 Diabetes Mellitus (Versi Elektronik). Scholars
Academic Journal of Biosciences (SAJB), 2(12A):849.
8. Qurratuaeni, (2009). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Terkendalinya Kadar Glukosa darah pada Pasien Diabetes Melitus di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Fatmawati Jakarta, Karya Tulis Ilmiah strata satu, Universitas Islam Negeri Jakarta, Jakarta.
9. Kamal, M. (2007). Study the Effect of Ramadhan Fasting on the Serum Glucose and Lipid Profile among Healthy Jordanian Students. American Journal of Applied Science, 4(8), 565- 569.
10. Jamil, U., & Muhamed, S.(2000).
Changes in Blood Glucose and Lipid Profil During Ramadhan Fasting.
JAMC, Vol 12,No 3.
11. Murray, R.K., Grenner, D.K., &
Radwell, V. (2009). Biokimia Harper.
Eds 27. Jakarta. EGC.
12. Muhammad A., Yanti E., & Dani R.
(2014). Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Gula Darah Puasa pada Pegawai Sekretariat Daerah Provinsi Riau. JOM, 1 (2).
13. Enny, N., Noor Diah, E., A. Azmi, N., Hernita, T. (2011). Perbandingan Efek Peningkatan Kadar Glukosa darah antara Konsumsi Teh Manis dan Kurma saat Puasa pada Usia Dewasa Muda. Laporan Penelitian, Universitas Bengkulu , Bengkulu.
14. Astrine, Permata (2012). Hubungan Usia, Asupan Protein, dan Faktor lainnya dengan Kadar Gula Darah Puasa pada Pegawai Satlantas dan SUMDA di POLRESTA Depok. Karya Tulis Ilmiah strata satu, Universitas Indonesia, Jakarta.