• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPERASIONALISASI LEMBAGA PENGELOLA PERIKANAN WPPNRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "OPERASIONALISASI LEMBAGA PENGELOLA PERIKANAN WPPNRI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

OPERASIONALISASI LEMBAGA PENGELOLA PERIKANAN

WPPNRI

DIREKTORAT PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN

DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN TANGKAP

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

2020

(2)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perairan laut Indonesia memiliki karakteristik biologi, sosiologi, dan ekologi yang berbeda-beda setiap Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Berdasarkan perbedaan karakteristik tersebut, perairan laut Indonesia melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 18/Permen-KP/2014 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) dibagi menjadi 11 WPPNRI. Indonesia dalam menentukan 11 WPPNRI juga mengacu pada fishing area dari FAO.

Masing-masing WPPNRI memiliki estimasi potensi, jumlah tangkapan yang diperbolehkan, dan tingkat pemanfaatan yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.Berdasarkan angka estimasi tersebut, perlu dilakukan tindakan pengelolaan di masing-masing WPPNRI dengan melibatkan semua pemangku kepentingan sesuai dengan perannya masing-masing.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, Pasal 1 butir 7, Pengelolaan perikanan adalah semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati.

Pada prinsipnya pengelolaan perikanan di Indonesia harus berbasis Wilayah Pengelolaan Perikanan agar tercapai manfaat yang optimal dan berkelanjutan. Belum optimalnya sinergi dan integrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan langkah- langkah pengelolaan perikanan di WPPNRI merupakan hal utama yang harus segera dibenahi. Pada era pemerintahan saat ini di mana perikanan dan kelautan merupakan salah satu isu sentral, mendapat momentum untuk melakukan berbagai upaya nyata dalam mewujudkan perikanan berkelanjutan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Praktek IUU Fishing ditindak tegas, berbagai regulasi ditetapkan, dukungan berbagai pihak terkait semakin meningkat. Oleh karena itu, pengelolaan perikanan perlu didasari oleh Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) yang memuat tujuan dan rencana aksi prioritas sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan di masing-masing WPPNRI.

Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) sebagai mandat Undang-Undang Perikanan Pasal 7 ayat 1, telah ditetapkan melalui serangkaian Kepmen KP untuk11 RPP WPPNRI, 4 RPP jenis ikan prioritas pengelolaan. RPP tersebut disusun berdasarkan informasi ilmiah terbaik yang tersedia (best scientific evidences), dan aspirasi segenap pemangku kepentingan perikanan yang diberikan melalui serangkaian proses

(3)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 3

konsultasi publik telah diformulasikan dalam dokumen RPP. Selanjutnya, rencana aksi sebagai tindakan pengelolaan perikanan yang dirumuskan dalam dokumen RPP harus diimplementasikan secara terintegrasi. Namun dalam implementasinya diperlukan wadah koordinasi dan sinergi bagi semua stakeholder dalam memberikan masukan dalam penyusunan dan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP), serta memberikan rekomendasi dalam penyusunan kebijakan pengelolaan perikanan berkelanjutan di WPPNRI.

Untuk mencapai tujuan pengelolaan perikanan berdasarkan sebagaimana pasal 6 Undang-Undang Perikanan No. 31 Tahun 2004 dan Perubahannnya Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan, maka diperlukan diperlukan penguatan peran koordinasi dan sinergi melalui kelembagaan pengelolaan WPPNRI. Hal ini dirasa cukup mendesak untuk segera dibentuk suatu kelembagaan pengelolaan yang memiliki tugas dan fungsi utama sebagai wadah berkoordinasi oleh semua pemangku kepentingan (stakeholders) untuk keberlanjutan sumber daya perikanan di masing- masing WPPNRI, yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri Kelautan dan Perikanan.

Dalam rangka optimalisasi pengelolaan perikanan di WPPNRI diperlukan Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI sebagai wadah untuk penguatan peran koordinasi dan sinergi pengelolaan perikanan di setiap WPPNRI. Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI memiliki tugas dan fungsi utama sebagai pengelola sumber daya perikanan di masing-masing WPPNRI, yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri Kelautan dan Perikanan. Hal tersebut sesuai dengan amanah yang tercantum pada Permen KP Nomor 33/PERMEN–KP/2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI. Peraturan tersebut sekaligus sebagai dasar hukum untuk mengoperasionalkan Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 33/PERMEN- KP/2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI, struktur Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI yang dimaksud, disajikan pada Gambar 1.

(4)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 4

Gambar 1. Struktur Organisasi Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI

Mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaannya, maka koordinasi yang dilakukan dalam Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI dapat dilakukan melalui:

1. Rapat konvensional, yaitu rapat yang dilakukan dalam satu ruang pertemuan dan dihadiri langsung secara fisik oleh seluruh peserta rapat.

2. Rapat melalui video conference, yaitu rapat yang dilakukan dengan bantuan alat dan teknologi informasi berbasis internet yang memungkinkan seluruh peserta rapat di lokasi berbeda-beda dapat saling berkomunikasi dan bertukar informasi

1.2 Tujuan:

Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan gambaran mengenai operasionalisasi Lembaga Pengelolala Perikanan di WPPNRI Tahun 2020.

(5)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 5

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka operasionalisasi Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI adalah :

2.1 Launching Operasionalisasi Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 03 Maret 2020 di Ballroom KKP, Gedung Mina Bahari III – Jakarta. Dalam rangka operasionallisasi LPPWPPNRI, Menteri Kelautan dan Perikanan telah melauching Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI sekaligus sosialisasi LPPWPPNRI.

Adapun rangkaian kegiatan launching ini adalah:

Arahan Kebijakan RPJMN 2020-2024: WPP sebagai Basis Spasial Pembangunan Perikanan Berkelanjutan oleh Deputi Bidang Kemaritiman Bappenas

Arah Baru Kebijakan Pengelolaan Perikanan Yang berkelankutan Oleh Koordinator Penasehat MKP (Prof.Dr.Ir.Rokhmin Dahuri, MS

Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan di WPPNRI oleh Direktur Jenderal Perikanan Tangkap

Lembaga Pengelolaa Perikanan WPPNRI oleh Direktur Pengelolaan Sumberdaya Ikan

Perspektif Pasar Perikanan Rajungan terhadap Usaha Perikanan Berkelanjutan di Indonesia oleh John Paterson (Harbor Seafood / BSC Buyer))

Perspektif Pasar Perikanan Kakap dan Kerapu terhadap Usaha Perikanan

Berkelanjutan di Indonesia oleh Bass Zaunbrecher (Anova Seafood / Snapper and Grouper Buyer

Dukungan Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID terhadap Pengelolaan Perikanan, khususnya Kakap dan Kerapu oleh Ryan Washburn (Mission Director USAID)

Dukungan Keberlanjutan dan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan dan Devisa dari Industri Perikanan Kakap dan Kerapu Oleh Asosiasi Ikan Demersal

Dukungan Keberlanjutan dan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan dan Devisa dari Industri Perikanan Rajungan oleh ketua Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (Dr. Hawis Madduppa)

Launching dan sosialisasii Lembaga Pengelolaa Perikanan WPP NRI dihadiri oleh perwakilan dari FAO, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / BAPPENAS;

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi; Eselon I dan II Lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan; Esselon III dan IV lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap; Balai Besar Penangkapan Ikan; Sekretariat LPP 11 WPPNRI;

Perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan di Provinsi Jawa Timur; Jawa Tengah; Banten;

DKI Jakarta; Nusa Tenggara Barat; Nusa Tenggara Timur; Kalimantan Timur; Sulawesi Selatan; Sulawesi Barat; Sulawesi Tenggara; Lampung; Maluku Utara; Maluku; Sumatera Utara; Aceh; Kabupaten Rembang; Kabupaten Lampung Tengah; Asosiasi Pengelolaa Rajungan Indonesia (APRI); Asosiasi Demersal Indonesia (ADI); Perwakilan nelayan Rajungan, Kakap, dan Kerapu; Pelaku Usaha Rajungan; Pelaku Usaha Kakap dan Kerapu dari propinsi dan kabupaten Nusa Tenggara Barat; Nusa Tenggara Timur;

Kalimantan Timur; Sulawesi Selatan; Sulawesi Barat; Sulawesi Tenggara; Lampung;

Maluku Utara; Maluku; Sumatera Utara; Aceh; Kabupaten Rembang; Kabupaten

(6)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 6

Lampung Tengah , Mitra Pendukung (WCS,YKAN, SFP, TNC, UNDP); perwakilan Perguruan Tinggi perikanan di masing-masing WPPNRI serta; BUMN terkait

Hasil dalan kegiatan tersebut adalah :

 Telah tersosialisasinya permen KP no 33/2019 sebagai dasar pelaksanaan LPPWPPNRI,

 Arah kebijakan Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan Berbasis WPPNRI

 Arah kebijakan Pengelolaan Perikanan JRajungan dan Kakap dan Kerapu

 Potensi Perikanan terpilih dalam halini Kakap dan Kerapu, Rajungan

 Dukungan ADI dan APRI dalam pengelolaan Perikanan yang berkelanjutan

 Komitmen dari stakeholders perikanan rajungan, Kakap dan Kerapu dalam pengelolaan yang berkelanjutan

2.2 Penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK)

Kegiatan-kegiatan dalam penyusunan dasar hukum operasionalisasi Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI adalah sebagai berikut:

1. Juknis Operasionalisasi LPP WPPNRI: Penyusunan juknis ini melibatkan semua unit Eselon 1 KKP, semua Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Indonesia dan perguruan Tinggi terkait perikanan dan Kelautan di masing-masing WPPNRI, asosiasi perikanan dan Kelautan, perwakilan nelayan , NGO terkait dan masyarakat perikanan lainnya yang terkait yang bertujuan sebagai pedoman operasional LPPWPP.

2. Buku pedoman pengelolaan perikanan berkelanjutan di WPPNRI:juga melibatkan semua unit Eselon 1 KKP, semua Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Indonesia dan perguruan Tinggi terkait perikanan dan Kelautan di masing-masing WPPNRI, asosiasi perikanan dan Kelautan, perwakilan nelayan , NGO terkait dan masyarakat perikanan lainnya yang terkait yang bertujuan sebagaipedoman bagi pemerintah pusat dan daerah dalam pengelolaan perikanan berbasis WPPNRI.

3. Tersusunnya mekanisme pemilihan sumber daya manusia LPP WPPNRI: Untuk memastikan keberhasilan pengelolaan perikanan berkelanjutan berbasis wppnri, maka diperlukan seorang Koordinator yang disebut “Koordinator Eksekutif” di masing- masing WPPNRI. Adapun tugas , fungsi, kriteria dan mekanismenya telah disusun berdasarkan kompetensi, aturan yang ada dan masukan dari semua pihak terkait dengan pengelolaan perikanan berkelanjutan.

4. Terbitnya Permen KP Nomor 25 tahun 2020 tentang Andon Penangkapan Ikan:

Penyiapan penyusunan Permen Andon no25/2020 ini disebabkan karena adanya perubahan dari kebijakan pengelolaan perikanan oleh UU no23/2014 tentang Pemerintah Daerah sehingga Permen KP No36/2014 harus diganti. Penyususnan ini melibatkan semua unit Eselon 1 KKP, semua Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Indonesia dan perguruan Tinggi terkait perikanan dan Kelautan di masing-masing WPPNRI, asosiasi perikanan dan Kelautan, perwakilan nelayan , NGO terkait dan masyarakat perikanan lainnya yang terkait

5. Draft Juknis Andon Penangkapan Ikan: Agar Permen KP NP25/2020 dapat terlaksana dengan aturan yang ada maka diperlukan Juknis Andon Penangkapan Ikan yang merupakan pedoman bagi semua stakkeholders yang terkait khususnya bagi pemerintah daerah dan nelayan.

6. Draft final RPP WPPNRI 718: Sesuai dengan pedoman Penyususnan RPP Permen KP NO29/2012, maka RPP perlu dilakukan reviu ssekali dalam 5 tahun. RPP WPP 718 telah ditandatangani tahun 2014, dengan perubahan kebijakan dan dinamika

(7)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 7

pengelolaan perikanan serta perubahan lingkungan maka disusun RPP WPP 718 sebagai pengganti.

7. Draft RPP Kakap dan Kerapu di WPPNRI : Perikanan kakap dan kerapu merupakan salah satu perikanan potensi baik di Indonesia maupun untuk diekspor, Oleh karena itu agar perikanan tersebut dapat berkelanjutan maka diperlukan penyususnan RPP Kakap dan Kerapu. Selain itu juga merupakan dasar untuk penyususnan Harvest strategy Kakap dan kerapu.

8. Reviu 10 RPP WPPNRI 571, 572, 573, 711, 712, 713, 714, 715, 716, 717: Sesuai dengan pedoman Penyususnan RPP Permen KP NO29/2012, maka RPP perlu dilakukan reviu ssekali dalam 5 tahun. RPP WPP selain RPP 718 telah ditandatangani tahun 2016, dengan perubahan kebijakan dan dinamika pengelolaan perikanan serta perubahan lingkungan maka disusun draf RPP WPP 571, 572, 573, 711, 712, 713, 714, 715, 716, 717 sebagai pengganti.

9. Draft Juknis rajungan di WPPNRI (implementasi Permen KP 12 tahun 2020):

Dalam rangka pengelolaan perikanan rajungan khususnya dan kepiting serta lobster maka telah diterbitkan Permen KP no 12/2020 sebagai pengganti Permen KP 56/2016. Agar implementasi permen tersebut khususnya rajungan maka diperlukan juknisnya sebagai pedoman bagi semua stakeholders dalam pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan.

10. Harvest Strategy Rajungan di WPPNRI 712: Dilaunching oleh MKP tanggal 3 Maret 2020. Strategi Pemanfaatan (harvest strategy) : berfungsi sebagai pelengkap operasional bagi sebuah RPP Rajungan dan menjadi basis dari siklus pengelolaan yang adaptif. Menyediakan pendekatan yang formal dan konsisten bagi proses pengambilan keputusan pengelolaan perikanan rajungan untuk mempertahankan tingkat pemanfaatan optimal pada saat stok sehat, mendorong pemulihan kembali ketika stok ikan mengalami deplesi dan memastikan tingkat resiko yang rendah pada kondisi stok perikanan rajungan berbahaya atau tidak dapat pulih. Semua ini untu mencapai tujuan pengelolaan perikanan rajungan secara biologi, ekologi, ekonomi dan/atau sosial yang telah disepakati.

11. Interm Harvest Strategy Kakap di WPPNRI 713: Dilaunching MKP pada tanggal 3 Maret 2020: berfungsi sebagai pelengkap operasional bagi sebuah RPP Rajungan dan menjadi basis dari siklus pengelolaan perikanan kakap yang adaptif.

Menyediakan pendekatan yang formal dan konsisten bagi proses pengambilan keputusan pengelolaan perikanan kakap dan kerapu untuk mempertahankan tingkat pemanfaatan optimal pada saat stok sehat, mendorong pemulihan kembali ketika stok kakap mengalami deplesi dan memastikan tingkat resiko yang rendah pada kondisi stok perikanan kakap berbahaya atau tidak dapat pulih. Semua ini untu mencapai tujuan pengelolaan perikanan kakap secara biologi, ekologi, ekonomi dan/atau sosial yang telah disepakati.Namun disebabkan keterbatasan ketersedian data maka, untuk menjadi Harvest strategy diperlukan analisis data lebih lanjut.

12. Interm Harvest Strategy Kerapu di WPPNRI 713: Dilaunching MKP pada tanggal 3 Maret 2020 : berfungsi sebagai pelengkap operasional bagi sebuah RPP Rajungan dan menjadi basis dari siklus pengelolaan perikanan kerapu yang adaptif.

Menyediakan pendekatan yang formal dan konsisten bagi proses pengambilan keputusan pengelolaan perikanan kakap dan kerapu untuk mempertahankan tingkat pemanfaatan optimal pada saat stok sehat, mendorong pemulihan kembali ketika stok kakap mengalami deplesi dan memastikan tingkat resiko yang rendah pada kondisi stok perikanan kerapu berbahaya atau tidak dapat pulih. Semua ini untu mencapai tujuan pengelolaan perikanan kerapu secara biologi, ekologi, ekonomi dan/atau

(8)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 8

sosial yang telah disepakati. Sama dengan perikanan kakap, disebabkan keterbatasan ketersedian data maka, untuk menjadi Harvest strategy kerapu diperlukan analisis data lebih lanjut.

13. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih (Cumi WPPNRI 571: Salah satu Program terkait pengelolaan perikanan berkelanjutan dengan melihat prosesnya melalui ketelusuran produk perikanan untuk dipasarkan yang memungkinkan untuk mendapatkan sertifikasi di pasarannya. Oleh karena itu untuk mendapatkan sertifikasi tersebut maka MSC memberikan bantuan untuk menuju ke sertifikasi tersebut dengandi Penguatan kapasitas dan dukungan pemangku kepentingan Perikanan Berkelanjutan melalui Fish for Good Project dengan salah satu kegiatannya yaitu Program Perbaikan Perikanan/Fishery Improvement Project (FIP) untuk perikananterpilih dalam hal ini cumi di WPP 571).

Saat ini masih dalam tahap pre-assesment, penyusunan Rencana Aksi bersama stakeholders terkait.

14. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih udang bintik WPPNRI 713 (kalsel): Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

15. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih kepiting bakau WPPNRI 714 (Kei ), Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

16. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih rajungan WPPNRI 712 (madura), Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

17. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih Udang banana (sorong), Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

18. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih kakap merah WPPNRI 714 (Laut banda), Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

19. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih kakap kerapu WPPNRI 713 (teluk saleh), Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

20. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih teri WPPNRI 712 dan 713 (jawa timur), Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

21. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih kembung WPPNRI 712, Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

22. Fisheries Improve Program Fish for good menuju sertifikasi MSC perikanan terpilih tongkol WPPNRI 713 (jawa timur), Sama seperti di atas maka tahapannya juga baru preassesment dan penyusunan Rencana Aksi.

23. Assestment EAFM kakap kerapu di WPPNRI 718:Bekerjasama dengan ATSEA dan NGO yang bertujuan untuk menilai pengelolaan perikanan Kerapu dengan pendekatan EAFM menggunakan domain dan indikator EAFM tersebut. Hasil ini merupakan bahan untuk penyusunan rencana Aksi nya

24. Assestment EAFM untuk komoditas Lobster di WPPNRI 713: Bekerjasama dengan Universitas Mataram

25. Assestment EAFM untuk komoditas Kepiting bakau di WPPNRI 713:

Berkerjasama dengan dengan Universitas lambung mangkurat

(9)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 9

26. Assestment EAFM untuk komoditas Kakap Kerapu di WPPNRI 713: Bekerjasama dengan Universitas Hasanudin

27. Assestment EAFM untuk komoditas Kakap kerapu di WPPNRI 712: Bekerjasama dengan IPB University

28. Assestment EAFM untuk komoditas rajungan di WPPNRI 712: Bekerjasama dengan IPB University

29. Penyusunan modul EAFM untuk perencana: Bertujuan sebagai bahan ajar bagi trainer EAFM bidang perencana, dan bekerjasama dengan perguruan tinggi dan Puslat BRSDM.

30. Pengadaan trainer EAFM perencana; Bertujuan untuk menyiapkan SDM untuk trainer EAFM bidang perencana

2.3 Pengumpulan data dan informasi pengelolaan perikanan di WPPNRI

Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka pengumpulan data dan informasi pengelolaan perikanan di WPPNRI adalah sebagai berikut:

1. Technical Data Workshop Harvest Strategy Perikanan Kakap dan Kerapu di WPPNRI :

Data merupakan komponen yang sangat penting dalam pengelolaan perikanan. Data produksi dan data biologi perikanan yang valid dan runut (series) selanjutnya di analisa sebagai bahan kebijakan perikanan yang akan di terapkan khususnya terkait Arah Tindakan Pengelolaan seperti Harvest Strategy. Untuk memastikan data yang digunakan valid dan benar di lakukan Workshop membahas dan menampilkan data- data yang tersedia dari para pemangku kepentingan terkait seperti Pusdatin, Pusriskan dan BRPL-BRSDMKP serta mitra pendukung. Technical Data Workshop harvest strategy perikanan kakap dan kerapu ini bertujuan memastikan bahwa data- data kakap dan kerapu yang tersedia dapat digunakan dan memenuhi kaidah scientific untuk menyusun Harvest Strategy.

2. Technical Data Workshop Harvest Strategy Perikanan Rajungan di WPPNRI : Data merupakan komponen yang sangat penting dalam pengelolaan perikanan. Data produksi dan data biologi perikanan yang valid dan runut (series) selanjutnya di analisa sebagai bahan kebijakan perikanan yang akan di terapkan khususnya terkait Arah Tindakan Pengelolaan seperti Harvest Strategy. Untuk memastikan data yang digunakan valid dan benar di lakukan Workshop membahas dan menampilkan data- data yang tersedia dari para pemangku kepentingan terkait seperti Pusdatin, Pusriskan dan BRPL-BRSDMKP serta mitra pendukung. Technical Data Workshop harvest strategy perikanan rajungan ini bertujuan memastikan bahwa data-data rajungan yang tersedia dapat digunakan dan memenuhi kaidah scientific untuk menyusun Harvest Strategy.

3. Konsolidasi data perikanan di 11 WPPNRI :

Dalam pelaksanaan pengelolaan perikanan secara berkelanjutan di WPPNRI, diperlukan data-data perikanan yang presisi dan update. Data perikanan ini dapat bersumber dari kegiatan Riset/Penelitian, Data Pendaratan Ikan di Pelabuhan, Data Perdagangan/Ekport, Data Karantina, Data Statistik, Data Logbook, Data Observer dan Data dari petugas Enumerator di lokasi-lokasi sampling yang telah ditentukan.

Data-data tersebut dikumpulkan oleh instansi yang berbeda-beda dan perlu dilakukan konsolidasi dan validasi data secara bersama untuk memastikan tidak terjadi kesalahan berupa perbedaan data atau terjadi double counting. Kegiatan konsolidasi data ini bertujuan untuk menyamakan persepsi terkait data perikanan di WPPNRI yang akan digunakan dalam kebijakan pengelolaan perikanan seperti mengestimasi

(10)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 10

potensi, jumlah tangkapan yg di perbolehkan, status tingkat pemanfaatan, kelimpahan stok, alokasi, kuota dan harvest strategy.

4. Pendataan kakap kerapu sebagai bahan penyusunan Harvest Strategy Perikanan Kakap dan kerapu di WPPNRI :

Kegiatan pendataan perikanan Kakap dan Kerapu di lakukan dalam kerangka penyusunan Harvest Strategy untuk pengelolaan kakap dan kerapu di WPPNRI.

Pengumpulan data di lakukan dengan bekerja sama dengan BRPL-Pusriskan- BRSDMKP, Mitra Pendukung (YKAN melalui project SNAPPER yang di biayai USAID) dan WCS serta pemangku kepentingan Kakap dan Kerapu yang terkait. Data yang di kumpulkan adalah data produksi dan data biologi per jenis ikan kakap dan kerapu yang di ambil setiap hari dari lokasi-lokasi pendaratan utama ikan kakap dan kerapu di WPPNRI. Pendataan ini melibatkan enumerator YKAN/WCS, peneliti BRPL dan nelayan/pelaku usaha kakap dan kerapu. Data yang di kumpulkan masuk ke dalam aplikasi I-FISH dan E-BRPL dan selanjutnya di analisa oleh para peneliti dari BRPL dan Pusriskan BRSDMKP.

5. Pengolahan data pemanfaatan perikanan tangkap di WPPNRI tahun 2020 (dari website: PIPP) :

Data produksi penangkapan ikan yang bersumber dari kegiatan pendaratan ikan per trip kapal di Pelabuhan Perikanan di catat dan di tampilkan dalam website Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PIPP). Data ini update setiap hari berdasarkan aktivitas pendaratan ikan di Pelabuhan Perikanan. Data PIPP ini selanjutnya di olah dan di analisa oleh Pengelola Produksi Perikanan Tangkap untuk menjadi salahsatu bahan kebijakan pengelolaan perikanan di lokasi pelabuhan tersebut. Data PIPP ini akan di rekap per pelabuhan, per provinsi dan per WPPNNRI.

6. Profil perikanan di WPPNRI 715 (Kab. Kep Seram Timur-Maluku) :

Dalam rangka kebutuhan pengelolaan perikanan di lokasi kegiatan GEF-6 Child Project : Implementation EAFM in Eastern Indonesia (WPPNRI 715, 717 dan 718) dilakukan penyusunan Profil Perikanan di WPPNRI 715 khususnya pada Kabupaten Seram Timur, Provinsi Maluku yang menjadi salahsatu lokasi dari 3 lokasi project.

Profil perikanan berisikan kondisi eksisting keragaan perikanan saat ini dan penilaian indikator EAFM yang telah di lakukan sebelumnya. Penyusunan profil ini dilakukan bekerja sama dengan WWF Indonesia.

7. Profil perikanan di WPPNRI 717 (Kab. kep. Teluk Wondama-Papua Barat) : Dalam rangka kebutuhan pengelolaan perikanan di lokasi kegiatan GEF-6 Child Project : Implementation EAFM in Eastern Indonesia (WPPNRI 715, 717 dan 718) dilakukan penyusunan Profil Perikanan di WPPNRI 717 khususnya pada Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat yang menjadi salahsatu lokasi dari 3 lokasi project. Profil perikanan berisikan kondisi eksisting keragaan perikanan saat ini dan penilaian indikator EAFM yang telah di lakukan sebelumnya. Penyusunan profil ini dilakukan bekerja sama dengan WWF Indonesia.

8. Profil perikanan di WPPNRI 718 (Kab. Maluku Tenggara-Maluku) :

Dalam rangka kebutuhan pengelolaan perikanan di lokasi kegiatan GEF-6 Child Project : Implementation EAFM in Eastern Indonesia (WPPNRI 715, 717 dan 718) dilakukan penyusunan Profil Perikanan di WPPNRI 718 khususnya pada Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku yang menjadi salahsatu lokasi dari 3 lokasi project.

Profil perikanan berisikan kondisi eksisting keragaan perikanan saat ini dan penilaian indikator EAFM yang telah di lakukan sebelumnya. Penyusunan profil ini dilakukan bekerja sama dengan WWF Indonesia.

(11)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 11

9. Pemetaan implementasi andon penangkapan ikan di WPPNRI :

Dalam rangka penataan dan pengelolaan nelayan andon penangkapan ikan di lakukan kegiatan Pemetaan pelaksanaan andon penangkapan ikan di WPPNRI.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait progress pelaksanaan andon penangkapan antar Provinsi di WPPNRI. Pemetaan ini juga penting untuk mengetahui Provinsi apa saja yang sudah mempunya MoU dan Perjanjian Kerja Sama penangkapan ikan, provinsi mana yang menjadi asal andon dan provinsi mana yang menjadi tujuan andon. Dengan pemetaan ini diharapkan pengelolaan nelayan andon menjadi lebih terintegrasi dan tidak mengalami hambatan/kendala.

2.4 Koordinasi Panel Ilmiah Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI

Koordinasi panel ilmiah berupa konsolidasi Learning Center (LC) EAFM atau peran perguruan tinggi dalam mendukung panel ilmiah LPP WPPNRI dilaksanakan pada bulan Juli s.d Agustus 2020. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan peneliti dari unsur perguruan tinggi dan Kementerian/Lembaga dengan rincian sebagai berikut :

1. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 571 dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2020 dihadiri oleh perwakilan Bappenas, Kemenkomarvest, BRSDMKP, Dit. PSDI, Habibie Abdullah, Dr. Luky Andrianto, perguruan tinggi yang ada di WPPNRI 571. Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) implementasi perguruan tinggi dalam panel ilmiah LPP WPPNRI 571 sesuai permen KP No 33/PERMEN-KP/2019, (2) kerangka pembentukan LC EAFM dalam wadah Panel Ilmiah, (3) mekanisme kerja panel ilmiah, serta (4) tindak lanjut kegiatan LC EAFM dalam mendukung LPP WPPNRI 571.

2. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 572 pada tanggal 12 Agustus 2020 dihadiri oleh perwakilan Bappenas, Kemenkomarvest, BRSDMKP, Dit. PSDI, Habibie Abdullah, Dr. Luky Andrianto, perguruan tinggi yang ada di WPPNRI 572. Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) implementasi perguruan tinggi dalam panel ilmiah LPP WPPNRI 572 sesuai permen KP No 33/PERMEN-KP/2019, (2) kerangka pembentukan LC EAFM dalam wadah Panel Ilmiah, (3) mekanisme kerja panel ilmiah, serta (4) tindak lanjut kegiatan LC EAFM dalam mendukung LPP WPPNRI 572.

3. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 573 pada tanggal 12 Agustus 2020 dihadiri oleh perwakilan Bappenas, Kemenkomarvest, BRSDMKP, Dit. PSDI, Habibie Abdullah, Dr. Luky Andrianto, perguruan tinggi yang ada di WPPNRI 573. Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) implementasi perguruan tinggi dalam panel ilmiah LPP WPPNRI 573 sesuai permen KP No 33/PERMEN-KP/2019, (2) kerangka pembentukan LC EAFM dalam wadah Panel Ilmiah, (3) mekanisme kerja panel ilmiah, serta (4) tindak lanjut kegiatan LC EAFM dalam mendukung LPP WPPNRI 573.

4. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 711 pada tanggal 11 Juli 2020 dihadiri oleh perwakilan Kemenkomarves, Bappenas, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Universitas Tanjung Pura, Universitas Bangka Belitung, Universitas Sriwijaya, Universitas Batanghari, Universitas Jambi, Universitas Muhammadiyah Pontianak, BRSDMKP (Pusriskan, Pusriskel dan BBRSE), DJPT (Bagian Hukum Setditjen PT, Dit. PSDI dan Dit. P&K), Dr. Azbas Tarusman dan Abdullah Habibie. Beberapa poin penting dari pertemuan antara lain (1) perguruan tinggi agar segera mengesahkan Working Group/Learning Center/Research Center, (2) perlu koordinasi dan kolaborasi agar riset yang dilakukan BRSDMKP dan Perguruan Tinggi dapat bersinergi.

5. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 712 pada tanggal 4 Juli 2020 dihadiri oleh perwakilan Bappenas, BRSDMKP, DJPT (Dit. Perizinan dan Kenelayanan, Dit.

Pelabuhan Perikanan, Dit. PSDI), perguruan tinggi yang berada di WPPNRI 712.

Beberapa poin penting antara lain : (1) Perguruan tinggi yang lokasinya memiliki batas langsung dengan WPPNRI 712 dapat menjadi anggota panel ilmiah dalam LPP

(12)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 12

WPPNRI 712, (2) Perguruan Tinggi yang belum mempunyai SK LC didorong untuk dapat segera Menyusun dan menyampaikan kepada Dit. PSDI, (3) Perguruan Tinggi akan menyusun protokol data sharing dan pembagian substansi riset agar terjadi sinergi dan tidak terjadi overlap data atau kegiatan.

6. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 713 pada tanggal 18 Juli 2020, dihadiri oleh perwakilan Kemenkomarvest, BRSDMKP (Pusriskan, Pusriskel dan BBRSE), DJPT (Setditjen PT, Dit. Perzinan dan Kenelayanan, Dit. KAPI, Dit. PSDI), perguruan tinggi yang ada di WPPNRI 713. Beberapa poin penting antara lain : (1) perlu ada formalisasi LC di setiap universitas, (2) perlu disusun roadmap pengelolaan kelautan dan perikanan berbasis WPP, (3) Untuk perguruan tinggi yang belum membentuk LC/RC/WG agar dapat segera dibentuk melalui SK Dekan/Rektor.

7. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 714 pada tanggal 18 Juli 2020 dihadiri oleh perwakilan Kemenkomarvest, BRSDMKP (Pusriskan, Pusriskel dan BBRSE), DJPT (Setditjen PT, Dit. Perzinan dan Kenelayanan, Dit. KAPI, Dit. PSDI), perguruan tinggi yang ada di WPPNRI 714. Beberapa poin penting antara lain : (1) perlu ada formalisasi LC di setiap universitas, (2) perlu disusun roadmap pengelolaan kelautan dan perikanan berbasis WPP, (3) Untuk perguruan tinggi yang belum membentuk LC/RC/WG agar dapat segera dibentuk melalui SK Dekan/Rektor.

8. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 715 pada tanggal 24 Juli 2020 dihadiri oleh perwakilan Bappenas, Kemenkomarvest, BRSDMKP, DJPT (Setditjen PT, Dit.

Perizinan dan Kenelayanan, Dit. PSDI), perguruan tinggi di WPPNRI 715. Tujuan dari kegiatan ini adalah implementasi perguruan tinggi dalam panel ilmiah LPP WPPNRI 715 sesuai permen KP No 33/PERMEN-KP/2019, kerangka pembentukan LC EAFM dalam wadah Panel Ilmiah, mekanisme kerja panel ilmiah, serta tindak lanjut kegiatan LC EAFM dalam mendukung LPP WPPNRI 715. Beberapa poin penting : perguruan tinggi yang lokasinya memiliki batas langsung dengan WPPNRI 715 dapat menjadi anggota panel ilmiah dalam LPP WPPNRI 715, Perguruan Tinggi yang belum mempunyai institusi (WG/LC) didorong untuk dapat segera menyusun dan menyampaikannya kepada Dit. PSDI, Perlu melakukan penyusunan protokol panel ilmiah dan menyusun mekanisme kerja panel ilmiah.

9. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 716 pada tanggal 24 Juli 2020 dihadiri oleh perwakilan Bappenas, Kemenkomarvest, BRSDMKP, DJPT (Setditjen PT, Dit.

Perizinan dan Kenelayanan, Dit. PSDI), perguruan tinggi di WPPNRI 716. Tujuan dari kegiatan ini adalah implementasi perguruan tinggi dalam panel ilmiah LPP WPPNRI 716 sesuai permen KP No 33/PERMEN-KP/2019, kerangka pembentukan LC EAFM dalam wadah Panel Ilmiah, mekanisme kerja panel ilmiah, serta tindak lanjut kegiatan LC EAFM dalam mendukung LPP WPPNRI 716. Beberapa poin penting : perguruan tinggi yang lokasinya memiliki batas langsung dengan WPPNRI 716 dapat menjadi anggota panel ilmiah dalam LPP WPPNRI 716, Perguruan Tinggi yang belum mempunyai institusi (WG/LC) didorong untuk dapat segera menyusun dan menyampaikannya kepada Dit. PSDI, Perlu melakukan penyusunan protokol panel ilmiah dan menyusun mekanisme kerja panel ilmiah.

10. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 717 pada tanggal 24 Juli 2020 dihadiri oleh perwakilan Bappenas, Kemenkomarvest, BRSDMKP, DJPT (Setditjen PT, Dit.

Perizinan dan Kenelayanan, Dit. PSDI), perguruan tinggi di WPPNRI 717. Tujuan dari kegiatan ini adalah implementasi perguruan tinggi dalam panel ilmiah LPP WPPNRI 717 sesuai permen KP No 33/PERMEN-KP/2019, kerangka pembentukan LC EAFM dalam wadah Panel Ilmiah, mekanisme kerja panel ilmiah, serta tindak lanjut kegiatan LC EAFM dalam mendukung LPP WPPNRI 717. Beberapa poin penting : perguruan tinggi yang lokasinya memiliki batas langsung dengan WPPNRI 717 dapat menjadi

(13)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 13

anggota panel ilmiah dalam LPP WPPNRI 717, Perguruan Tinggi yang belum mempunyai institusi (WG/LC) didorong untuk dapat segera menyusun dan menyampaikannya kepada Dit. PSDI, Perlu melakukan penyusunan protokol panel ilmiah dan menyusun mekanisme kerja panel ilmiah.

11. Konsolidasi LC EAFM di WPPNRI 718 pada tanggal 24 Juli 2020 dihadiri oleh perwakilan Bappenas, Kemenkomarvest, BRSDMKP, DJPT (Setditjen PT, Dit.

Perizinan dan Kenelayanan, Dit. PSDI), perguruan tinggi di WPPNRI 718. Tujuan dari kegiatan ini adalah implementasi perguruan tinggi dalam panel ilmiah LPP WPPNRI 715 sesuai permen KP No 33/PERMEN-KP/2019, kerangka pembentukan LC EAFM dalam wadah Panel Ilmiah, mekanisme kerja panel ilmiah, serta tindak lanjut kegiatan LC EAFM dalam mendukung LPP WPPNRI 718. Beberapa poin penting : perguruan tinggi yang lokasinya memiliki batas langsung dengan WPPNRI 718 dapat menjadi anggota panel ilmiah dalam LPP WPPNRI 718, Perguruan Tinggi yang belum mempunyai institusi (WG/LC) didorong untuk dapat segera menyusun dan menyampaikannya kepada Dit. PSDI, Perlu melakukan penyusunan protokol panel ilmiah dan menyusun mekanisme kerja panel ilmiah.

Sedangkan kegiatan panel ilmiah yang melibatkan unsur peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan dari Kementerian/Lembaga terkait, telah dilaksanakan sosialiasi dan implementasi peran panel ilmiah dalam LPP WPNRI pada tanggal 11 Agustus 2020. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Bappenas, Kemenkomarvest, BRSDMKP, Peneliti dari LIPI, DJPT (Dit. Perizinan dan Kenelayanan, Dit. PSDI). Tujuan dari pertemuan ini adalah melakukan sosialisasi dan mendapat dukungan serta konstribusi peneliti pada LPP WPPNRI. Hasil dalam pertemuan antara lain peneliti siap mendukung implementasi Panel ilmiah di LPP WPPNRI, akan disusun jadwal untuk pertemuan dalam rangka implementasi panel ilmiah.

2.5 Koordinasi Sekretariat Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI

Sosialisasi dan identifikasi kebutuhan sekretariat lembaga pengelola perikanan di WPPNRI dalam mendukung operasionalisasi LPP WPPNRI dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2020. Pertemuan dipimpin oleh Kasubdit SDI LPTPK dan dihadiri oleh Kabag Program serta Kepala UPT DJPT dan Perwakilan Sekretariat LPP WPPNRI. Hasil dari kegiatan ini adalah adanya dukungan dari Sekretariat Ditjen Perikanan tangkap dalam operasionalisasi LPP WPPNRI serta kesiapan sekretariat LPP WPPNRI untuk melaksanakan tugas kegiatan kesekretariatan dalam mendukung pelaksanaan tugas Unit Pengelola Perikanan sehingga operasionalisasi LPP WPPNRI dalam berjalan optimal.

2.6 Koordinasi Komisi, Kelompok Kerja Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI a. Dalam rangka penyamaan persepsi tentang LPP WPPNRI telah dilaksanakan

sosialisasi dan koordinasi komisi lembaga pengelola perikanan pada tanggal 22 September 2020. Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan di 34 Provinsi Indonesia.

Tujuan dari kegiatan ini adalah mensosialisasikan peran komisi di dalam LPP WPPNRI. Hal ini perlu dilakukan karena adanya pergantian pimpinan di daerah sehingga belum semua memahami peran dan tugas dari komisi LPP WPPNRI. Hasil dari kegiatan ini adalah perlu koordinasi lebih intensif dan peran aktif dari pemerintah daerah dalam pengelolaan perikanan melalui LPP WPPNRI.

(14)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 14

b. Sesuai dengan tugas LPP WPPNRI di dalam Permen KP 33/2019, diantaranya adalah koordinasi pemberian masukan dalam penyusunan RPP, koordinasi evaluasi pelaksanaan RPP. Sehubungan dengan hal tersebut, dikarenakan RPP 10 WPPNRI (571, 572, 573, 711, 712, 713, 714, 715, 716, 717) yang ditandatangani tahun 2016 perlu dilakukan evaluasi setiap tahun dan penyiapan reviu 5 tahunan serta reviu RPP WPPNRI 718. Kegiatan evaluasi terhadap rencana aksi perlu ditetapkan sesuai sasaran yang ingin dicapai dari masing-masing penanggung jawab kegiatan baik di Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi dengan jangka waktu yang telah ditetapkan, dan kegiatan reviu RPP WPPNRI ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari sektor hulu sampai hilir secara terintegrasi berbasis kewilayahan yang melibatkan multisektor baik pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah, peneliti dan akademisi. Dari reviu awal RPP WPPNRI ini akan dilanjutkan dengan reviu dokumen RPP WPPNRI sesuai dengan amanat dalam dokumen RPP WPPNRI.

Selain evaluasi dan reviu, juga telah dilakukan penyusunan Draft RPP Kakap dan Kerapu. Oleh karena itu maka sekretariat berkoordinasi dengan sekretariat di unit pengelola perikanan masing-masing WPPNRI melakukan kegiatan sebagai berikut : 1) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 571 pada tanggal 21 Oktober 2020, dihadiri oleh perwakilan eselon I lingkup KKP, DKP Provinsi di WPPNRI 571, PPS Belawan, Dr. Azbas Taurusman dan Dit. PSDI.

2) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 572 pada tanggal 4 November 2020, dihadiri oleh perwakilan Kemenkomarvest, eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup DJPT, PPS Bungus, DKP Provinsi di WPPNRI 572, LIPI, Universitas Bung Hatta.

3) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 573 pada tanggal 6 November 2020 dihadiri oleh perwakilan eselon I lingkup KKP, Eselon II lingkup DJPT, DKPT Provinsi di WPPNRI 573, PPS Cilacap, PPN Palabuhanratu, PPN Prigi, PPN Pengambengan, Universitas Muhammadiyah Malang.

4) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 711 pada tanggal 23 Oktober 2020 dihadiri oleh perwakilan eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup DJPT, DKP Provinsi di WPPNRI 711, PPN Pemangkat, Dr. Azbas Taurusman, mitra pendukung.

5) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 712 pada tanggal 13 November 2020 dihadiri oleh perwakilan eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup DJPT, DKP Provinsi di WPPNRI 712, PPN Brondong, PPN Karangantu, PPN Kejawanan, PPN Pekalongan, BBPI Semarang, UPTD Jawa Barat, Perguruan Tinggi (UNDIP, UNTIRTA, UMG, ULM, Untag Cirebon) dan mitra pendukung.

6) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 713 pada tanggal 18 November 2020 dihadiri oleh perwakila eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup DJPT, DKP Provinsi di WPPNRI 713, PP Untia, perguruan tinggi (Unhas, Unmul, Universitas Bosowa, Universitas Artha Wacana Kupang, Universitas Udayana dan mitra pendukung.

7) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 714 pada tanggal 25 November 2020 dihadiri oleh perwakilan eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup DJPT, DKP Provinsi di WPPNRI 714, PPS Kendari, dan mitra pendukung.

8) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 715 pada tanggal 26 Oktober 2020 dihadiri oleh perwakilan eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup DJPT, DKP Provinsi di WPPNRI 715, PPN Ambon, UPT KKP di Provinsi Maluku, LIPI, Universitas Pattmura, Masyarakat Adat Provinsi Maluku dan mitra pendukung.

9) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 716 pada tanggal 27 November 2020 dihadiri oleh perwakilan Kemenkomarvest, eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup

(15)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 15

DJPT, DKP Provinsi di WPPNRI 714, PPS Bitung, PPN Kwandang, dan mitra pendukung.

10) Evaluasi dan reviu RPP WPPNRI 717 pada tanggal 20 November 2020 dihadiri oleh perwakilan eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup DJPT, DKP Provinsi di WPPNRI 717, PPN Ternate, PSDKP Ternate, Koordinator penyuluh,Universitas Khairun, UM Sorong dan mitra pendukung.

11) Reviu RPP WPPNRI 718, telah dilakukan penyusunan draft reviu, pra konsultasi publik, dan konsultasi publik dengan melibatkan eselon I lingkup KKP, pemerintah daerah, perguruan tinggi, mitra pendukung terkait dengan rincian sebagai berikut :

a) Untuk memperoleh masukan dari unit kerja terkait terhadap Draft Reviu RPP WPPNRI 718 telah dilaksanakan Pra konsultasi publik reviu RPP WPPNRI 718 pada tanggal 6 Agustus 2020, dihadiri oleh Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan;

Biro Hukum dan Organisasi – Sekjen KKP; Ditjen PRL; Ditjen PDSPKP;

Ditjen Perikanan Budidaya; BRSDMKP; Itjen KKP; DJPT (Setditjen, Dit.

KAPI, Dit. Pelabuhan Perikanan, Dit. Pengelolaan Sumber Ikan).

b) Masukan yang diberikan pada saat pra konsultasi publik telah dmasukkan dalam perbaikan Draft Reviu RPP WPPNRI 718, dilanjutkan dengan konsultasi publik pada tanggal 10 November 2020, dihadiri oleh Penasihat Menteri serta Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan sebagai perwakilan dari Menteri KP, unit kerja lingkup KKP, pemerintah daerah, peneliti, akademisi, mitra pendukung serta stakeholders perikanan tangkap yang terlibat di WPPNRI 718 yang meliputi Perairan Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor Bagian Timur, dan secara administratif terdiri dari dua provinsi yaitu Provinsi Maluku dan Papua.

c) Tindak lanjut dari konsultasi publik, telah dilaksanakan finalisasi dokumen pada tanggal 17 November 2020. Hasil finalisasi akan disampaikan ke Bagian Hukum DJPT untuk diproses lebih lanjut.

12) Penyusunan Draft RPP Kakap dan Kerapu telah dilakukan sejak tahun 2019 dengan melibatkan eselon I lingkup KKP, eselon II lingkup DJPT, stakeholder terkait, mitra pendukung dan dilanjutkan dengan beberapa kegiatan sebagai berikut :

a) Untuk mendapatkan masukan dari unit kerja telah dilaksanakan Pra konsultasi publik RPP Kakap dan Kerapu pada tanggal 6 Agustus 2020, dihadiri oleh Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan; Biro Hukum dan Organisasi – Sekjen KKP; Ditjen PRL; Ditjen PDSPKP; Ditjen Perikanan Budidaya; BRSDMKP; Itjen KKP;

DJPT (Setditjen, Dit. KAPI, Dit. Pelabuhan Perikanan, Dit. Pengelolaan Sumber Ikan).

b) Tindak lanjut dari pra konsultasi publik tersebut, dilakukan pembahasan pada tanggal 10 Agustus 2020 yang dihadiri oleh Kasubdit Peredaran Pakan – Dit. Pakan dan Obat Ikan dan staf, Kasubdit Perbenihan Ikan Laut – Dit. Perbenihan dan staf, Kasubdit Pelayanan Usaha – Dit. Produksi dan Usaha Budidaya dan staf, Kasubbag Hukum Setditjen Perikanan Tangkap, dan Dr. Am. Azbas Taurusman. Hasil dari pembahasan ini digunakan untuk penyempurnaan draft RPP.

c) Telah dilakukan konsultasi publik RPP Kakap dan Kerapu pada tanggal 3 September 2020 dihadiri oleh Penasihat Menteri serta Komisi Pemangku

(16)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 16

Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan sebagai perwakilan dari Menteri KP, unit kerja lingkup KKP, pemerintah daerah, peneliti, akademisi, mitra pendukung serta stakeholder terkait.

d) Tindak lanjut dari konsultasi publik, telah dilakukan pembahasan untuk memperoleh masukan terhadap rencana aksi pada dokumen RPP Kakap dan Kerapu pada tanggal 15 – 16 September 2020. Kegiatan ini dihadiri oleh Kapuskari-BKIPM, Dit. Pemasaran-DJPDSPKP, Dit. Usaha dan Investasi-DJPSDKP, Ditjen Perikanan Budidaya, Setditjen PT, Dit. PSDI.

Hasil pembahasan untuk penyempurnaan Draft RPP Kakap dan Kerapu yang selanjutnya akan disampaikan kepada Bagian Hukum DJPT untuk diproses lebih lanjut.

(17)

Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 17

BAB III

KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT

3.1 Kesimpulan

Dari evaluasi pelaksanaan dapat diketahui :

a. Kegiatan operasionalisasi dapat dilaksanakan dengan baik akan tetapi belum optimal, hal ini di sebabkan karena pandemi covid 19 sehingga pelaksanaan ttidak dapat dilakukan di lapangan, selain itu juga pemotongan anggaran yang cukup besar baik di pusat maupun di sekretariat LPPWPPNRI pada tahun 2020;

b. Para pemangku kepentingan sangat mendukung operasionaliasi Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI dan berharap adanya dukungan penuh dari K/L terkait agar dapat optimal.

3.2 Tindak Lanjut

Masukan dalam kegiatan operasionalisasi LPP WPPNRI adalah sebagai berikut:

a. Diperlukan pemahaman yang sama terkait LPP WPPNRI ini baik oleh semua unit eselon 1 di KKP, Pemerintah Daerah dan stakeholders lainnya yang terkait.

b. Perlu segera pengadaan SDM untuk mengisi struktur organisasi LPP WPPNRI sebagi amanah dari Permen KP Nomor 33/2019

c. Perlu dukungan anggaran terkait dengan operasional LPP WPPNRI untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan di masing-masing WPPNRI

d. Perlu koordinasi yang intensif dengan pemangku kepentingan agar pelaksanaan operasionalisasi LPP WPPNRI dapat optimal.

Demikian laporan operasionalisasi Lembaga Pengelola Perikanan ini disusun untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Gambar

Gambar 1. Struktur Organisasi Lembaga Pengelola Perikanan WPPNRI

Referensi

Dokumen terkait

penetapan masa manfaat suatu aset tidak berwujud dalam bulan yang diharapkan dapat digunakan untuk aktivitas pemerintahan dan atau pelayanan publik sesuai dengan sifat

Dalam analis hasil regresi, penulis menggunakan alat Bantu penghitungan dengan eviews dimana penggunaan melakukan regresi Partial Adjusment Model dengan hasil bahwa pengaruh

Pengelolaan hutan dalam bentuk pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan yang berada di wilayah masyarakat hukum adat dilakukan oleh masyarakat hukum adat

Kemudian melakukan analisis di titik kesetimbangan dengan teorema mengenai status penyakit kolera, juga diperoleh model penyebaran penyakit kolera dengan vaksinasi yang

Walaupun gambaran klasik kolangitis terdiri dari trias, demam, ikterus, dan nyeri abdomen kuadran kanan atas yang dikenal dengan trias Charcot, namun semua elemen

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti selama empat kali pertemuan melalui pengamatan (observasi), sebaran angket dan tes, diperoleh beberapa data tentang aktivitas

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder, yaitu laporan keuangan (audit) perusahaan yang terdaftar dalam indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia dari

Dapat digunakan untuk menghitung prosentase panggilan yang hilang bila trafik yang ditawarkan dan jumlah server (ingat, server bisa berupa berkas saluran keluar, timeslot