• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA EKSPOR CPO INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KINERJA EKSPOR CPO INDONESIA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Indonesia memiliki posisi penting pada pasar minyak nabati dunia, karena kedudukannya sebagai eksportir utama CPO, Komoditas CPO juga semakin memegang kendali utama karena kedudukannya senbagai sumber utama minyak nabati dalam memenuhi permintaan minyak nabati dunia. Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis kinerja ekspor CPO Indonesia ke negara negara tujuan ekspor Indonesia dan proyeksi ekspor CPO Indonesia tahun 2018. Dalam periode 2008-2016, ekspor CPO dunia meningkat 8,8 persen per tahun. Proporsi terbesar adalah ke India (29.5 %), Uni Eropa (20,4 %) dan China (14

%). Uni Eropa termasuk negara yang paling gencar dalam kampanye anti sawit di Uni Eropa dan mentargetkan penurunan konsumsi nabati dalam 10 tahun kedepan. Secara umum, pertumbuhan (growth) ekspor CPO Indonesia ke China adalah 11,29 persen per tahun, Uni Eropa 5,93 persen per tahun, India 1,27 persen per tahun, disamping itu, Pakistan dan USA serta Bangladesh memiliki trend yang perlu mendapat perhatian, karena pasar di ketiga negara ini cenderung semakin tumbuh, dengan rata-rata peningkatan volume ekspor masing masing sebesar 208 ton, 115 ton dan 55 ton per tahun. Ekspor CPO Indonesia memiliki trend yang positif dan bertumbuh (growth) 8,8 persen per tahun. Dengan demikian, ekspor CPO Indonesia tahun 2018 adalah tetap semakin berkilau.

Keywords : ekspor, Uni Eropa, growth, trend

KINERJA EKSPOR CPO INDONESIA Apakah Tahun 2018 semakin Berkilau?

Oleh Tim Riset PASPI

m nitor

Analisis Isu Strategis Sawit Vol. III, No. 50/12/2017

PASPI

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute www.paspimonitor.or.id

“Dapat dikutip untuk pemberitaan”

(2)

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki posisi penting pada pasar minyak nabati dunia, karena kedudukannya sebagai eksportir utama CPO, Komoditas CPO juga semakin memegang kendali utama karena kedudukannya senbagai sumber utama minyak nabati dalam memenuhi permintaan minyak nabati dunia.

Posisi ini telah menempatkan komoditas CPO menjadi salah satu komoditas strategis nasional, baik dalam tenaga kerja, juga sebagai prime mover agribisnis minyak sawit nasional, dan dalam konteks global, menjadi komoditas yang memiliki orientasi ekspor yang sangat kuat

Orientasi ekspor yang sangat kuat ini secara empiris dan didukung data, bahwa poduksi minyak sawit Indonesia sebagian besar ditujukan untuk ekspor, hanya sekitar 20-25 persen yang digunakan untuk konsumsi domestik, untuk industri oleofood, oleokimia, detergen/sabun dan biodiesel.

Sebagai komoditas penting di pasar global, Indonesia juga menghadapi tekanan dalam persaingan dan bahkan perang dagang di pasar global, yang tercermin dari berbagai tekanan isu kesehatan dari Amerika Serikat, isu lingkungan dari Uni Eropa, hingga kampanye “Palm Oil Free” yang menjadi gerakan baru di Uni Eropa

untuk mengurangi laju ekspor CPOke Uni Eropa. Secara empiris bahwa resolusi parlemen Uni Eropa tidak berhasil menghentikan ekspor CPO ke Uni Eropa (Purba, 2017) terutama dengan gerakan Palm Oil Free, dan bahkan sebaliknya, ekspor CPO Indonesia ke negara Uni Eropa (secara total) kembali meningkat pada tahun 2017(PASPI, 2017).

Dinamika perang dagang ini disatu sisi menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk tumbuh lebih kuat, dan mengubah strategi dari defensif ke ofensif serta penguatan industri hilir yang lebih bernilai tambah tinggi.

(PASPI, 2017)

Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis kinerja ekspor CPO Indonesia ke negara negara tujuan ekspor Indonesia dan proyeksi ekspor CPO Indonesia tahun 2018.

PERKEMBANGAN EKSPOR CPO Volume ekspor minyak sawit Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan produksi.

Tahun 2008 ekspor minyak sawit Indonesia baru mencapai 15 juta ton, meningkat menjadi 25 juta ton (setara CPO) pada tahun 2016. Peningkatan volume ekspor minyak sawit Indonesia juga disertai dengan perubahan dalam komposisi produk ekspor.

Gambar 1. Volume Ekspor CPO dan Olahan Indonesia Excluding Biodiesel

0 5 10 15 20 25 30

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Juta Ton

Olahan CPO

(3)

Kebijakan hilirisasi minyak sawit di dalam negeri telah berhasil memperbaiki komposisi ekspor minyak sawit Indonesia dari dominasi minyak sawit mentah menjadi dominasi minyak sawit olahan. Jika tahun 2008 ekspor minyak sawit Indonesia sekitar 55 persen masih berupa minyak sawit mentah tahun 2016 berubah menjadi 78 persen sudah dalam bentuk minyak sawit olahan (Tabel 1).

Dalam lima belas tahun terakhir industri minyak sawit Indonesia telah

mengalami lompatan perkembangan bukan hanya pada luas areal tetapi juga pada industrialisasi (hilirisasi).

Industrialisasi minyak sawit Indonesia tercermin dari perubahan komposisi produk minyak sawit yang di ekspor (Tabel 1).

Tabel 1. Komposisi Ekspor Minyak Sawit Indonesia (ribu ton)

Tahun Minyak Sawit Mentah (CPO) Minyak Sawit Olahan Volume Pangsa (%) Volume Pangsa (%)

2008 8.375 55,59 6.690 44,41

2009 10.173 59,55 6.912 40,45

2010 10.007 58,57 7.078 41,43

2011 9.768 55,51 7.828 44,49

2012 8.090 44,39 10.133 55,61

2013 6.577 31,00 14.640 69,00

2014 5.782 26,57 15.979 73,43

2015 7.872 29,82 18.529 70,18

2016 5.424 21,60 19.689 78,40

Sumber : BPS, database PASPI

Produk minyak sawit yang di ekspor Indonesia sampai tahun 2011 memang masih didominasi oleh minyak sawit mentah (CPO). Namun, setelah tahun 2011 mengalami perubahan dimana minyak sawit olahan sudah melampaui volume ekspor minyak sawit mentah. Dengan demikian industri minyak sawit Indonesia telah beralih dari pengekspor minyak sawit mentah kepada minyak sawit olahan. Tentu saja peluang untuk memperdalam hilirisasi sawit (lebih hilir dari yang dicapai saat ini) masih terbuka luas ke depan.

Ekspor minyak sawit Indonesia menghasilkan devisa yang penting bagi perekonomian nasional.

Kontribusi ekspor CPO dan produk turunannya sangat penting dan menentukan neraca perdagangan sektor non migas khususnya maupun perekonomian secara keseluruhan.

Dalam perekonomian Indonesia, sektor non migas (termasuk didalamnya industri minyak sawit) merupakan sektor andalan untuk menghasilkan devisa negara. Selama periode 2008-2016 (Tabel 2) nilai ekspor netto sektor non migas mengalami fluktuasi tetapi secara netto masih surplus.

(4)

Tabel 2. Nilai Ekspor Minyak Sawit dan Netto Ekspor Non Migas Indonesia (USD Miliar)

Tahun Netto Ekspor Minyak Sawit

Netto Ekspor Non Migas Selain

Minyak Sawit Netto Ekspor Non Migas

2008 15,4 -0,3 15,1

2009 12,3 13,3 25,6

2010 16,3 11,1 27,4

2011 21,6 3,7 25,3

2012 21,3 -17,4 3,9

2013 19,2 -10,7 8,5

2014 21,1 -9,9 11,2

2015 18,6 -4,9 13,7

2016 18,1 -3,4 14,7

Sumber : BPS

Jika nilai eskpor non migas dipisahkan antara ekspor minyak sawit dan non minyak sawit akan terlihat bahwa nilai netto ekspor minyak sawit secara konsisten mengalami surplus dengan kecenderungan yang meningkat.

Sebaliknya nilai netto ekspor di luar minyak sawit cenderung menurun dari surplus menjadi defisit. Secara total nilai netto ekspor non migas masih mengalami surplus yang disumbang oleh ekspor minyak sawit.

Data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa ekspor minyak

sawit merupakan komponen penting dan penyelamat neraca perdagangan non migas Indonesia. Tanpa ekspor minyak sawit neraca perdagangan Indonesia akan mengalami defisit (negatif devisa).

Nilai ekspor CPO dan produk turunannya (Gambar 8) mengalami peningkatan dari USD 15,4 miliar (2008) meningkat menjadi USD 21,6 miliar (2011) kemudian karena penurunan harga CPO dunia, turun menjadi USD 18,1 miliar (2016).

(Gambar 2).

Gambar 2. Nilai Ekspor Minyak Sawit dan Turunannya Indonesia (PASPI, 2017) 1.08

3.44

15.42 12.16

16.3

21.6 21.3 19.2

21.1

18.6 18.1

0 5 10 15 20 25

2000 2005 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

USD Miliar

(5)

Besarnya nilai ekspor minyak sawit tersebut merupakan suatu net ekspor yang terbesar untuk ukuran satu kelompok komoditi dalam perekonomian Indonesia. Devisa hasil ekspor minyak sawit tersebut dari sudut pandang pembangunan juga lebih berkualitas dan berkelanjutan karena (1) dihasilkan dari kebun- kebun sawit pada 190 kabupaten di Indonesia, (2) sekitar 41 persen disumbang oleh sawit rakyat, (3) komposisi produk olahan hasil hilirisasi domestik makin besar dan (4) dihasilkan dengan kreativitas pelaku perkebunan dan tidak menggunakan subsidi dari pemerintah.

Selain sebagai sumber devisa negara, ekspor minyak sawit dan produk turunannya juga merupakan sumber penerimaan pemerintah yakni dari bea keluar minyak sawit.

Secara akumulatif penerimaan pemerintah dari bea keluar minyak sawit meningkat dari Rp. 4,2 triliun (2007) menjadi Rp. 111,6 triliun (2016).

EKSPOR CPO INDONESIA KE NEGARA-NEGARA TUJUAN EKSPOR Perkembangan ekspor CPO Indonesia ke negara negara tujuan ekspor disajikan pada Tabel 3 berikut.

TAbel 3. Ekspor CPO Indonesia ke negara negara Tujuan Ekspor (000 ton)

China Europe Union India USA Pakistan Bangladesh Others 2008 1,696.34 2,876.69 5,394.68 155.88 401.71 479.07 2,845.83 2009 1,881.26 3,831.90 5,889.88 319.56 582.78 730.24 3,849.31 2010 2,665.82 4,191.91 5,989.68 167.04 125.33 630.89 3,314.49 2011 3,037.59 3,887.78 5,779.94 87.94 199.34 33.7 4,569.81 2012 2,960.11 4,167.99 5,851.02 186.88 811.05 204.19 4,041.61 2013 2,664.96 4,023.20 6,101.94 381.38 903.34 736.97 6,405.09 2014 2,429.19 4,127.53 5,062.58 477.23 1,661.83 909.93 4,064.51 2015 3,990.52 4,233.13 5,798.78 758.56 2,186.88 1,092.18 8,340.44 2016 3,227.97 4,370.57 5,783.86 1,082.93 2,066.52 922.86 7,657.95

Pada tahun 2008 ekspor CPO Indonesia mencapai 13.85 juta ton, dan tahun 2016 mencapai 25,11 juta ton. Hal ini menunjukkan ekspor CPO Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dalam 9 tahun terakhir.

Secara keseluruhan terlihat bahwa proporsi terbesar dalam periode ini adalah ke India (29.5 %), dan peringkat kedua adalah ke Uni Eropa (20,4 %) dan peringkat ketiga adalah China (14 %). Sekitar dua per tiga tujuan ekspor Indonesia adalah ke ketiga negara tersebut, dan sepertiga lebihnya adalah ke sejumlah negara-negara lain di dunia.

Uni Eropa termasuk negara yang paling gencar dalam kampanye anti sawit di Uni Eropa (terutama pada sebagian negara) karena Uni Eropa sadar memiliki bargaining yang kuat dengan pangsa 20,4 persen tersebut.

Hambatan Uni Eropa dapat dipahami dari sisi domestik mereka, yakni untuk mengurangi ketergantungan impor dan berupaya mendorong pertumbuhan sumber minyak nabati domestik, terutama rapeseed oil dan sun flower oil. Hal ini tidak mudah, dan Eropa mentargetkan penurunan konsumsi nabati dalam 10 tahun kedepan.

(6)

Tabel 4. Annual Trend dan Annual Growth Eskpor CPO Indonesia

Negara Tujuan

Eskpor 2008 2016

Annual Trend

(ton)

Annual Growth (%)

China 1696.34 3227.97 2998 11.3

Europe Union 2876.69 4370.57 4586 5.9

India 5394.68 5783.86 -306 1.3

USA 155.88 1082.93 6871 44.2

Pakistan 401.71 2066.52 3070 56.7

Bangladesh 479.07 922.86 4301 92.4

Others 2845.83 7657.95 1164 20.8

Total 13850.2 25112.66 608 8.8

Dalam periode 2008-2016, ekspor CPO dunia meningkat 8,8 persen per tahun. Meskipun volume ekspornya tidak besar, namun dapat dilihat bahwa Bangladesh, Pakistan dan USA memiliki pertumbuhan yang tinggi setiap tahun. Data ini menunjukan adanya pergeseran kurva demand ketiga negara tersebut dan mengimpor CPO yang semakin besar setiap tahun. Berbeda dengan India, relatif flat (datar) atau konstan dapa volume ekspor 5 juta ton per tahun. Demikian halnya dengan RRC, juga setiap tahun permintaan impor CPO bertumbuh 11,3 persen.

Uni Eropa cukup unik, dalam periode yang sama permintaan impor CPO dari Indonesia bertumbuh 5,9 persen per tahun. Dan bahkan hingga saat ini harga CPO dunia masih ditetapkan di Rotterdam, sedangkan produsen utama CPO dunia adalah Indonesia sendiri. Hal itu antara lain disebabkan historis yang cukup

panjang dalam sejarah persawitan dunia, dimana harga CPO ditentukan dalam pasar bursa komoditi CPO di Rotterdam.

Bila ditelaah lebih teknis, analisis trend (dalam volume ton), terlihat bahwa permintaan impor CPO China meningkat dengan trend positif sebesar 2.998 ton per tahun, Dan Uni Eropa memiliki trend positif yang relatif kedua tertinggi setelah USA, yakni positif 4586 ton per tahun, sedangkan India memiliki fluktuasi impor, dan dalam beberapa tahun terakhir terlihat kecenderungan menurun, dengan trend negatif 306 ton per tahun. USA memiliki trend yang lebih tinggi dibandingkan negara negara lainnya yakni positif 6871 ton.

Perkembangan trend ini menunjukkan black campign yang dikembangkan pada tahun 80-an terutama dengan isu isu kesehatan ternyata tidak terbukti benar, dan

(7)

ekspor Indonesia ke USA setiap tahun cenderung makin besar.

KESIMPULAN

Dalam periode 2008-2016, ekspor CPO dunia meningkat 8,8 persen per tahun. Proporsi terbesar adalah ke India (29.5 %), Uni Eropa (20,4 %) dan China (14 %).

Uni Eropa termasuk negara yang paling gencar dalam kampanye anti sawit di Uni Eropa dan mentargetkan penurunan konsumsi nabati dalam 10 tahun kedepan.

Secara umum, pertumbuhan (growth) ekspor CPO Indonesia ke China adalah 11,29 persen per tahun, Uni Eropa 5,93 persen per tahun, India 1,27 persen per tahun,

DIsamping itu, Pakistan dan USA serta Bangladesh memiliki trend yang perlu mendapat perhatian, karena pasar di ketiga negara ini cenderung semakin tumbuh, dengan rata-rata peningkatan volume ekspor masing masing sebesar 208 ton, 115 ton dan 55 ton per tahun.

Data di atas menunjukkan dua indikator penting, yakni ekspor CPO Indonesia memiliki trend yang positif atau meningkat setiap tahun, dan yang kedua adalah growth (pertumbuhan), yakni sebesar 8,8 persen per tahun. Dengan demikian,

ekspor CPO Indonesia tahun 2018 adalah tetap semakin berkilau.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Pertanian RI. 2014.

Statistik Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia 2013-2015.

Kementerian Pertanian RI.

Jakarta.

PASPI. 2017. Resolusi Sawit Oleh Parlemen Eropa Dalam Perspektif Perang Minyak Nabati Global. Monitor, analisis Strategis Sawit. Vol 3, No 15(4): 749-756.

PASPI. 2017. Analisis Ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa. Monitor, analisis Strategis Sawit. Vol 3, No 15(46): 1003-1010

PASPI. 2017. Mitos versus Fakta.

PASPI, Bogor.

Sawit Indonesia :

http://www.sawitindonesia.com /artikel/kontribusi-kelapa-sawit- sebagai-pilar-perekonomian- bangsa

USDA, Index Mundi, 2016.

Purba, JHV. 2017. The Analysis of European Union's Vegetable Oil Consumption: “Will The European Parliament Resolution Halt The Consumption of Crude Palm Oil in The European Union in The Future?” International Journal of Applied Business and Economic Research (IJABER).

Volume 15 No 19:27-39.

(8)

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan Amplitude Shift Keying (ASK) merupakan teknik modulasi dimana informasi digital yang akan dikirimkan ditumpangkan pada sinyal pembawa dengan mengubah – ubah amplituda

Metode Net Present Value (NPV) adalah nilai sekarang dari arus kas usaha pada masa yang akan datang yang didiskontokan dengan biaya modal rata-rata yang digunakan

Kajian yang didasarkan dari hasil analisis pengukuran jumlah biomasa ve- getasi di bagian atas permukaan dan di bagian bawah permukaan di hutan rawa gambut dilakukan

Dengan metode deskriptif analitis ini akan dikaji mengenai konsistensi Pasal 153 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Penerapan

Morinda citrifolia L dapat menurunkan kadar gula darah karena aktivitas antioksidan yang dimilikinya yang terdapat dalam.. Morinda citrifolia L

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan peneliti maka disimpulkan secara umum bahwa: Guru menanamkan perilaku disiplin dengan cara menetapkan

Pengetahuan kita tentang akhir dunia pun stagnan dalam kerangka mitos biblikal yang sulit Pengetahuan kita tentang akhir dunia pun stagnan dalam kerangka mitos

Penawaran yang diberikan Long Tail Strategy adalah sebuah bisnis yang mengutamakan Match Making dan menyediakan Platform untuk produk-produk yang tidak begitu populer/tidak