• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 i

(2)

ii

Hak Cipta pada Masing-Masing Kontributor

Dilarang memperbanyak sebagian dan/atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, tanpa ijin tertulis dari Kontributor dan Editor

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA)

Penerbit:

Udayana University Press, 2017

Desain Sampul:

Antonius Karel Muktiwibowo

Kontributor Foto Sampul Depan dan Belakang:

Antonius Karel Muktiwibowo

Pracetak:

Ni Made Swanendri, I Wayan Yuda Manik, Dwi Pratiwi, Ni Putu Dian Pratiwi, Sanar Oktaviani, Ni Wayan Fortuna Ningsih, Yosephine Estherina Wibowo, I Kadek Diantara, Kadek Satria Ariwibawa.

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan

Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Denpasar: Penerbit Udayana University Press, 2017

x, 501 hlm; 4 cm

Bibliografi

ISBN: 978-602-294-240-5

1. Arsitektur dan Tata Ruang

I. Judul

(3)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 iii P R A K A T A

Identitas suatu bangsa memiliki peran yang penting dalam percaturan dunia internasional. Bangsa yang beridentitas memiliki karakter yang menjadi pembeda dengan bangsa lain. Dalam konteks Indonesia, identitas bangsa tidak bisa dipisahkan dari budaya lokal, masyarakat, dan lingkungan setempat yang mendukungnya. Tradisi dan budaya Indonesia masih bertahan hingga kini menjadi sebuah kekuatan untuk mempertahankan identitas Secara fisik, arsitektur dan lingkungan binaan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjukkan identitas suatu bangsa. Kedua faktor ini memiliki keterkaitan yang erat dengan dengan manusia sebagai pengguna dan Tuhan sebagai sang pencipta. Dalam filosofi orang Bali, Tri Hita Kharana merupakan sebuah konsep universal yang melestarikan hubungan harmonis antara manusia, alam dan Sang Pencipta untuk melestarikan budaya lokal. Konsep ini diangkat sebagai tema utama dalam seminar yang mengkaji arsitektur, manusia dan lingkungan terbangun dari berbagai sudut pandang yang beragam mulai dari filosofi dan konsepsi tentang arsitektur, kearifan lokal arsitektur, warisan dan budaya lokal serta identitas kota masa kini.

Karenanya, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Bali (IAI Bali) dan Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) menyelenggarakan Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan Binaan pada tanggal 6 Oktober 2017 ini. Seminar nasional ini mengajak para akademisi, para peneliti, para praktisi terkait arsitektur, pemerintah, organisasi nirlaba, pengembang dan pihak lain yang tertarik untuk mengkaji kekayaan arsitektur Indonesia untuk mempertahankan identitas bangsa dari pengaruh globalisasi. SAMARTA 2017 merupakan kegiatan perdana dan direncanakan akan dilakukan secara berkelanjutan setiap dua tahun dengan tema yang berbeda-beda sesuai dengan situasi terkini yang perlu didiskusikan. Akhir kata, kepada Pembicara Kunci, kami ucapkan terima kasih atas waktu serta kesediaannya untuk berbagi di melalui kegiatan ini.

Kepada Pemakalah dan Peserta Seminar, kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Akhirnya, kepada semua Panitia Pelaksana Seminar, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kerja kerasnya, sehingga seminar nasional tahun ini dapat terlaksana dengan baik, dan mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan selama persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.

Semoga seminar nasional ini bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan lokal dan nasional.

Terima kasih

Ketua panitia SAMARTA 2017 6 Oktober 2017

Dr. Tri Anggraini Prajnawrdhi, S.T, M.T, MURP.

NIP. 197301012000122001

(4)

iv

KATA SAMBUTAN

Om Swastyastu,

Puja Pangastuti dipanjatkan kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa karena berkat rahmat dan karunia- Nya Prosiding Seminar Arsitektur dan Tata Ruang (Samarta) tahun 2017 dengan Tema Arsitektur, Manusia dan Lingkungan Terbangun, dapat diterbitkan. Prosiding ini memuat kumpulan makalah yang disertakan pada seminar tersebut.

Seminar yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana ini diharapkan dapat terlaksana setiap tahun. Tema ini mengajak berbagai pihak untuk secara berkelanjutan membedah arsitektur dan tata ruang dalam suatu diskusi.

Terima kasih disampaikan kepada Rektor Universitas Udayana serta Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana atas dukungan moral dan material. Terima kasih juga kami sampaikan kepada pembicara kunci Prof. Josef Prijotomo, Prof. Antariksa, Prof. Sudaryono, dan Prof. Widjaja Martokusumo. Selain itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Bali, Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), peserta seminar, panitia seminar dosen dan mahasiswa serta semua pihak yang telah membantu terbitnya prosiding ini.

Akhir kata, mudah-mudahan prosiding ini bisa menginspirasi pembaca dan menjadi referensi bagi akademisi, praktisi serta pembaca lainnya.

Terima Kasih

Om, Santhi, Santhi, Santhi, Om

Jimbaran, 6 Oktober 2017 Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Prof. Dr. Ir. A. A. Ayu Oka Saraswati, M.T.

NIP. 196104151987022001

(5)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 v RINGKASAN

Prosiding seminar ini merupakan kumpulan paper-paper yang dipresentasikan dan dipublikasi pada Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan Terbangun yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana di Ruang Nusantara Lantai 4 Gedung Agro Kompleks Universitas Udayana, Kampus Denpasar pada hari Jum’at, tanggal 6 Oktober 2017.

Adapun sub tema yang diangkat dalam seminar nasional ini adalah:

1. Interpretasi filosofi dan konsepsi;

2. Diskursi kearifan lokal dalam rancang bangun;

3. Eksplorasi arsitektur warisan dan budaya; dan 4. Identitas lokal pada ruang kota masa kini.

Masing-masing paper telah dipresentasikan, baik dalam sesi presentasi untuk para pembicara kunci maupun sesi diskusi paralel untuk para pemakalah. Peserta dan pemakalah dalam seminar nasional ini berasal dari para akademisi, para peneliti, mahasiswa program pascasarjana, para praktisi terkait arsitektur, para pemerhati lingkungan terbangun, pemerintah, organisasi nirlaba, pengembang, dan kalangan umum.

Kegiatan seminar nasional ini adalah kegiatan awal dari rangkaian kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan secara berkelanjutan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana. Pada setiap kegiatan seminar nasional akan ditetapkan tema yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan isu aktual pada saat itu. Semoga seminar nasional ini dapat menjadi wadah diskusi dan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan gagasan berkaitan dengan arsitektur, manusia, dan lingkungan binaan dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan berkelanjutan di negeri yang kita cintai ini.

Terima kasih

(6)

vi

(7)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 vii DAFTAR ISI

Halaman SAMBUTAN DAN PENGANTAR

1. Prakata Ketua Panitia Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana 2017 ... iii 2. Kata Sambutan Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana 2017 ... iv 3. Ringkasan Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana 2017 .... v

DAFTAR ISI ... vii

PEMBICARA UTAMA ...

1. ‘Nusantara’ dan Perkembangan Arsitektur di Indonesia.

(Josef Prijotomo) ... 1 2. Memaknai Lokalitas Dalam Arsitektur Lingkungan Binaan.

(Antariksa) ... 9 3. Pendekatan Fenomenologi untuk Eksplorasi Arsitektur Lokal Bali.

(Sudaryono) ... 15 4. Pelestarian Warisan Budaya. Catatan untuk Konsep Autentisitas dan Integritas dalam

Pelestarian Arsitektur.

(Widjaja Martokusumo) ... 23

SUB TOPIK 1. INTERPRETASI FILOSOFI DAN KONSEPSI ...

1. Konsep Panca Maha Bhuta dalam Perencanaan dan Perancangan Taman Rekreasi Kalianget Wonosobo.

(Daisy Radnawati, Samsud Dlukha, Ray March Syahadat, Priambudi Trie Putra) ... 1-1 2. Pengaruh Konsep Catus Patha terhadap Tata Ruang Pemukiman di Kawasan Transmigrasi

Masyarakat Bali. Studi Kasus: Desa Jati Bali, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

(Imade Krisna Adhi Dharma, Weko Indira Romanti Aulia) ... 1-9 3. Konsepsi dan Makna Arsitektur Tradisional pada Bangunan Kekinian. Sebuah Intepretasi

Masyarakat Lokal Bali Tengah pada Transformasi Rumah Tradisional.

(I Dewa Gede Agung Diasana Putra) ... 1-21 4. Façade dan Landscape Bali, Interpretasi dan Konsep Tata Ruang Lingkungan Terbangun

Desa Bayung Gede.

(Petrus Rudi Kasimun) ... 1-31 5. Identifikasi Bentuk, Struktur, dan Kontruksi Bale Meten Sakaulu pada Arsitektur Tradisional

Bali di Desa Gunaksa-Klungkung.

(I Nengah Lanus, I Nyoman Susanta, Gede Windu Laskara) ... 1-35 6. Ignition Factor sebagai Informasi Berharga Desain Arsitektur.

(Heru Sufianto) ... 1-43 7. Dari Teks Menjadi Arsitektur: Interpretasi terhadap Naskah Lontar Asta Kosala Kosali.

(I Nyoman Nuri Arthana) ... 1-51 8. Landasan Konsepsual dan Penerapan Pradaksina dan Prasawya dalam Perwujudan

Arsitektur Hindu Bali.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 1-59 9. Makna Simbolis Penataan Palebahan sebagai Unsur Dasar Kompleks Puri di Bali.

(Anak Agung Gde Djaja Bharuna S) ... 1-69

(8)

viii

10. Transformasi Konsep Sara Pataanguna pada Rumah Tradisional Buton Malige di Kota Baubau Sulawesi Tenggara.

(Muhammad Zakaria Umar, Muhammad Arsyad) ... 1-77

SUB TOPIK 2. DISKUSI KEARIFAN LOKAL DALAM RANCANG BANGUN ...

1. Ragam Hias Arsitektur Tradisional Bali pada Gedung Kantor Gubernur Bali.

(Donna Sri Lestari Poskiparta, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-1 2. Kearifan Lokal Migran Madura pada Permukiman Kota Lama Malang.

(Damayanti Asikin, Antariksa, Lisa Dwi Wulandari, Wara Indira Rukmi) ... 2-9 3. Identifikasi Bangunan Kolonial untuk Pelestarian Fasade di Jalur Belanda Kota Singaraja-Bali.

(Agus Kurniawan) ... 2-17 4. Representasi Tradisi Demokrasi pada Arsitektur Bale Banjar Adat di Denpasar-Bali.

(Christina Gantini, Josef Prijotomo) ... 2-25 5. Karakteristik Tangible dan Intangible Gereja Tua Sikka. Sebagai Bukti Sejarah Masuknya

Agama Katolik di Sikka.

(Yohanes Pieter Pedor P., I Wayan Kastawan, Widiastuti) ... 2-35 6. Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa Bebetin, Kecamatan Sawan,

Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Ketut Agusintadewi, Ni Luh Putu Eka Pebriyanti, dan Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-45 7. Bale Tumpang Salu pada Bangunan Umah di Desa Sidatapa, Singaraja.

(Anak Agung Ayu Oka Saraswati) ... 2-53 8. Bentuk dan Makna Arsitektur dan Ornamen Monumen Bajra Sandhi.

(Sri Indah Retno Kusumowati, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-59 9. Kajian Penerapan Arsitektur dan Ragam Hias Tradisional Bali pada Kori Agung Bangunan

Balai Pertemuan di Kantor DPRD Bali.

(Syilvia Agustine Maharani, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-67 10. Adaptasi Arsitektur Tradisional Bali pada Balai Pertemuan DPRD Renon, Bali.

(Made Chryselia Dwiantari, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-75 11. Kajian Ergo-Arsitektur pada Dapur Tradisional di Banjar Tiga Kawan, Desa Penglumbaran,

Bangli-Bali.

(Ida Bagus Gde Primayatna, I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 2-83 12. Ekspansi Ruang pada Bangunan Tradisional Bali.

(I Made Adhika) ... 2-89 13. Kearifan Ekologis Bangunan Vernakuler dalam Konteks Mitigasi Bencana.

(Sri Utami)... 2-95 14. Memahami Esensi Ruang Domestik pada Masyarakat Tradisional Bali Aga di Desa Sekardadi,

Kintamani.

(Ni Ketut Agusintadewi, I Wayan Yuda Manik, Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-103

SUB TOPIK 3. EKSPLORASI ARSITEKTUR WARISAN DAN BUDAYA ...

1. Kampung Adat Deri Kambajawa di Kabupaten Sumba Tengah sebagai Living Museum.

(Titien Saraswati, Maria Adrianus Rambu Day) ... 3-1 2. Reinterpretasi Prinsip Ruang Bersama Tanean Lanjang Madura pada Pusat Komunitas Seni

Tari Topeng Malang.

(Dionisius Dino Briananto, Tito Haripradianto, Abraham M. Ridjal) ... 3-11 3. Peragaman Rupa dan Rupa Inklusif dalam Desain Warisan Arsitektur.

(Noviani Suryasari, Antariksa, dan Lisa Dwi Wulandari) ... 3-17 4. Kota Terapung Muara Muntai. Studi Kasus: Pengembangan Kota Muara Muntai Sebagai Kota

Heritage.

(Huda Nurjanti) ... 3-23

(9)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 ix 5. Pola Tata Bangunan dan Hubungan Kekerabatan: Dusun Kasim, Kabupaten Blitar.

(Yurista Hardika Dinata, Wara Indira Rukmi, dan Antariksa) ... 3-33 6. Kawasan Wisata Permukiman Bantik di Pesisir Pantai Malalayang Berbasis Cultural Heritage.

(Pingkan Peggy Egam, Arthur Harris Thambas) ... 3-41 7. Kajian Place Attachment pada Anak-Anak di Desa Bali Aga Tenganan dengan Visual Analy-

sis.

(Antonius Karel Muktiwibowo, Gede Windu Laskara) ... 3-49 8. Identifikasi Tingkat Perubahan Kawasan Bersejarah Menggunakan Visual Impact

Assessement dan Tipologi Bangunan di Koridor Jalan Ijen, Malang.

(Eddi Basuki Kurniawan, Novita Dian Zahdella, Wulan Astrini) ... 3-59 9. Pola Pemanfaatan Ruang Pemukiman Masyarakat Bajo di Desa Lemo Bajo Kabupaten

Konawe Utara sebagai Arahan Penataan Kawasan Pemukiman Pesisir.

(Santi, Siti Belinda Amri, Haryudin) ... 3-67 10. Kajian Penataan Ruang Kawasan Jabotabek dengan Pendekatan Ekosistem.

(Parino Rahardjo) ... 3-77 11. Ruang Teror pada Labirin Kampung Pulo.

(Coriesta Dian Sulistiani) ... 3-85 12. Faktor Kritis Penentu Keberhasilan Kolaborasi Desain pada Perusahaan Properti di

Kabupaten Gresik.

(Moh. Saiful Hakiki, Ikhtisholiyah, Dandy Nugroho) ... 3-97 13. Tipologi Rumah Adat Pada Desa Bali Aga. Studi Kasus pada Desa Tigawasa, Kecamatan

Banjar, Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Made Yudantini) ... 3-103 14. Perubahan Arsitektur Tradisional Hunian Desa Bayung Gede, Bangli.

(Widiastuti, Syamsul Alam Paturusi, Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, Gede Windu Laskara) ... 3-109 15. Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik

Wisata Desa Singapadu Tengah.

(I Made Suarya, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, Ni Ketut Agusinta Dewi, dan I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 3-119 16. Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani.

(Ni Made Yudantini, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 3-127

SUB TOPIK 4. IDENTITAS LOKAL PADA RUANG KOTA MASA KINI ...

1. Konsep Ruang Komunal Sosio-Kultural Kota Multi-Etnis Historis Gresik.

(Dian Ariestadi, Antariksa, Lisa D. Wulandari, Surjono) ... 4-1 2. Konsep Perancangan Kawasan Pasar Tradisional Badung sebagai Upaya Memperkuat

Karakter Kawasan Jl. Gajah Mada-Denpasar.

(Gede Windu Laskara, Bramana Ajasmara Putra) ... 4-9 3. Place Attachment pada Jalur Pedestrian di Jalan Ijen, Malang sebagai Ruang Terbuka Publik.

(Wulan Astrini, Eddi Basuki Kurniawan) ... 4-17 4. Kearifan Pejabat, Pengembang, Perencana, Perancang, dan Supervisi dalam Etika

Lingkungan Hidup.

(JM. Joko Priyono Santoso) ... 4-25 5. Kearifan Lokal dan Identitas Kota Baru.

(Franky Liauw) ... 4-33 6. Ekowisata pada Cultural Landscape Subak sebagai Identitas Kota Denpasar. Sebuah Upaya

Penggalian Potensi Ekowisata di Subak Sembung Kecamatan Denpasar Utara.

(I Gusti Agung Bagus Suryada, I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 4-41 7. Pengembangan Wisata Sejarah sebagai Penguatan Identitas Kawasan Kabupaten Pulau Mo-

rotai.

(Yudha Pracastino Heston, Yonanda Rayi Ayuningtyas, dan Rivaldo Okono) ... 4-49

(10)

x

8. Permukiman Bali Kuno Desa Bayung Gede sebagai Atraksi Pariwisata di Bali.

(Syamsul Alam Paturusi) ... 4-57

9. Perancangan Kawasan Kedungu Resort sebagai Upaya Pembangunan Sektor Pertanian yang Berkelanjutan di Kabupaten Tabanan.

(Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, I Wayan Yogik Adnyana Putra, Marthin Gunardhy) ... 4-67 10. Materialisasi Ruang Publik dan Pembangunan Pariwisata Budaya. Konflik Kepentingan

Pemanfaatan Kawasan Pesisir di Bali.

(I Ketut Mudra) ... 4-75 11. Upaya Mengeleminir Dampak Investasi terhadap Lingkungan dan Tata Ruang Wilayah Kabu-

paten Badung.

(Putu Rumawan Salain) ... 4-83 12. Permasalahan Keruangan dalam Perencanaan Pasar Seni Desa Pakraman Kutri, Desa Sin-

gapadu Tengah, Gianyar.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa, I Made Suarya, dan Ida Ayu Armeli) ... 4-93 13. Konsep Tata Kelola Homestay di Desa Wisata Pinge Kabupaten Tabanan.

(Ni Putu Atik Pranya Dewi, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, dan Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 4-101 14. Kajian Kawasan Nelayan di Pantai Kuta.

(I Gusti Ngurah Anom Rajendra) ... 4-109 15. Identifikasi Desain Ruang Luar yang Berkearifan Lokal sebagai Place Branding terhadap

Persepsi Wisata Kota di Area Catus Patha Kota Denpasar.

(Kadek Agus Surya Darma) ... 4-117 16. Makna dan Karakteristik Ruang Bermain Anak di Bantaran Sungai Code. Studi Kasus:

Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta.

(Ni Luh Putu Eka Pebriyanti)... 4-125 17. Pemanfaatan Lansekap sebagai Identitas Kota dalam Perspektif City Branding.

(Subhan Ramdlani) ... 4-133 18. Aktivitas Masyarakat sebagai Pembentuk Identitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berkualitas di

Kota Malang.

(Lisa Dwi Wulandari, Subhan Ramdlani) ... 4-141 DAFTAR TUJUH PAPER TERBAIK SAMARTA UNUD 2017 ...

SUSUNAN PANITIA ...

(11)

Ni Made Yudantini1), Tri Anggraini Prajnawrdhi2)-Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani 3-127 CULTURAL LANDSCAPE: POLA DESA TRADISIONAL DI DESA BUAHAN, KINTAMANI

Ni Made Yudantini1), Tri Anggraini Prajnawrdhi2)

1)2)Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana [email protected]

[email protected]

ABSTRACT

Bali as one of tourism destination, having natural wealth, traditions and cultural landscape. Bali is one island that has a unique tradition inherited from generation to generation that the original tradition has not been influenced by culture during the triumph of Majapahit. This original and unique of Balinese tradition is found in old villages well known as Bali Aga villages. One of them is Buahan Village located on the coast of Lake Batur, Kintamani. The village has linear pattern oriented towards the mountain as the main orientation (kaja) and towards the lake as kelod (Muller, 2011). This study aims to explore deeply the pattern of Buahan Village including the functions contained in the pattern. The preliminary results of the study concluded that there were many changes, especially in rural housing, where this could not be dammed by the influence of changes in the dynamics of life and economy. However, the whole village still maintains a linear and sikut satak pattern that exists in the settlement.

Through qualitative research, the method used is direct observation to the field, and interviews to the relevant figures in the village. This study aims to obtain depth information including history of village development, customs, changes that occur especially in the pattern of village spatial. The final result of the study is expected to be a more accurate source of information on the existence of Indigenous villages in Bali and a source of inspiration for further researches.

Keywords: cultural landscape, village spatial pattern, Buahan Village, Kintamani ABSTRAK

Bali sebagai salah satu tujuan pariwisata, dikenal dengan kekayaan alam, adat istiadat beserta lansekap budayanya. Tradisi unik dan masih asli diwariskan turun temurun dan belum mendapat pengaruh budaya Majapahit. Tradisi ini terdapat di desa-desa tua dikenal dengan sebutan desa-desa Bali Aga, salah satunya Desa Buahan di pesisir Danau Batur, Kintamani. Pola desa yang linear dengan berorientasi ke arah gunung sebagai orientasi utama (kaja) dan ke arah danau sebagai kelod (Muller, 2011). Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih mendalam tatanan pola desa di Desa Buahan termasuk fungsi-fungsi yang terdapat dalam pola tersebut.

Hasil awal penelitian menyimpulkan terjadi perubahan khususnya pada bangunan rumah tinggal dimana hal ini tidak dapat dibendung oleh adanya pengaruh perubahan dinamika kehidupan dan ekonomi. Namun secara menyeluruh desa masih tetap mempertahankan pola desa yang linear dan sikut satak yang ada pada permukiman. Melalui penelitian kualitatif, metode yang digunakaan adalah observasi ke lapangan, dan wawancara kepada tokoh-tokoh terkait di desa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam baik mengenai sejarah perkembangan desa, adat istiadat, perkembangan dan perubahan yang terjadi khususnya pada pola tata ruang desa. Hasil akhir penelitian diharapkan dapat menjadi sumber informasi lebih akurat mengenai keberadaan desa-desa tua di Bali dan menjadi sumber inspirasi untuk penelitian selanjutnya.

Kata Kunci: lansekap budaya, pola tata ruang desa, Desa Buahan, Kintamani

PENDAHULUAN

Pulau Bali secara internasional terkenal akan budaya, tradisi, adat istiadat serta alamnya yang masih alami seperti pantai, pegunungan, desa tradisional dengan subak sistem, serta udara yang cukup dingin di daerah pegunungan yang membentang dari bagian Timur hinga ke Barat Pulau Bali. Hal ini membagi Pulau Bali menjadi Bali bagian utara dan Bali bagian Selatan. Penelitian terhadap desa- desa tua (Bali Aga) yang dikenal sebagai "the mountain Balinese" (Reuter, 2002), tetap menjadi topik menarik dan tidak pernah habis untuk dibahas terkait dengan keunikannya sebagai desa tua yang tetap bertahan dengan adat istiadatnya. Dalam hal ini, Desa Buahan sebagai salah satu desa Bali Aga di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli menjadi studi objek dalam penelitian ini. Sebagian besar desa-desa tua memiliki pola permukiman yang linear seperti halnya Desa Buahan dengan bentang alamnya di kelilingi perbukitan dan hamparan Danau Batur. Namun telah terjadi perubahan pada bangunan rumah tinggal karena perkembangan globalisasi. Meskipun terjadi perubahan-

(12)

perubahan, namun Desa Buahan masih tetap mempertahankan pola desa yang linear dan sikut satak yang ada pada pola permukimannya.

Adapun metodelogi yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah melalui observasi pada studi kasus yaitu Desa Buahan untuk mendalami bentang alam serta perkembangan khususnya pada pola desa dan permukimannya tak terpisahkan dari lanskap wilayah itu sendiri yang membentuk bentang alam Pulau Bali. Interview dilaksanakan kepada kepala desa dan tokoh-tokoh adat yang memegang peran penting dalam pelaksanaan adat istiadat di Desa Buahan, sehingga tetap terjaga keaslian budaya dan tradisi secara turun temurun. Dokumentasi juga memegang peranan penting untuk menunjang analisa untuk mendapatkan pemahaman dan informasi tentang Desa Buahan, dimana dokumentasi yang akan disajikan adalah dari berbagai dokumentasi masa lalu hingga sampai saat ini untuk melihat perubahan dan perkembangan di dalam mendukung konservasi dari desa-desa Bali Aga baik tangible maupun intangible.

Penelitian ini memiliki urgensi untuk memperbaharui pemetaan desa-desa tua (Bali Aga) di Propinsi Bali. Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Bali telah melakukan inventarisasi pada tahun 1988/1989 dan DPRD Provinsi Bali tahun 2009, dimana telah terdokumentasi sejumlah 38 desa tua (Bali Aga).

Pemetaan melalui dokumentasi terhadap eksisting desa termasuk pola desa; pola permukiman dan lingkungannya; serta tata adat istiadat dan keunikan lainnya, menjadi tujuan utama dalam inventarisasi permukiman tradisioanal Bali Aga. Penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan informasi untuk pelestarian desa-desa tua (Bali Aga) di Propinsi Bali. Harapan ke depan bagi para akademisi adalah untuk dapat menjadi acuan dalam melaksanakan penelitian lanjutan yang tidak terbatas hanya dalam bidang ilmu arsitektur, namun dalam bidang ilmu lainnya secara holistik.

POTENSI DESA BUAHAN

Desa Buahan adalah salah satu desa tradisional (Bali Aga) yang terletak di pinggir Danau Batur. Desa Buahan memiliki luas wilayah sekitar 14.23 km2 atau 1,423 hektar dengan kondisi lahan bertransis ke arah bukit dan sebagian permukiman dikelilingi bukit. Desa Buahan memiliki 4 dusun yaitu Dusun Buahan, Dusun Tabih, Dusun Binyan, dan Munduk Waru, dengan 2 desa adat yaitu Desa Adat Binyan dan Desa Adat Buahan (yang termasuk dalam desa adat ini adalah Dusun Tabih, Dusun Buahan dan Munduk Waru). Desa Buahan memiliki kurang lebih 570 kepala keluarga dan mata pencaharian masyarakat sebanyak 98% adalah petani bawang, kopi, jeruk, cabe, holtikultur, dan petani nelayan dengan budidaya ikan nila hitam.

Berdasarkan sejarah, sebelum Caka 916 atau 994 Masehi telah ada tatanan di Desa Buahan. Desa Buahan dikukuhkan pada tahun Caka 916 oleh Raja Cri Guna Padni. Nama Buahan telah tercantum dalam Babad Bali Agung. Dimana ada seorang patih bernama Kibuahan yang merupakan patih dari Raja Cri Sura Ratna Bumi Banten. Raja ini merupakan raja Bali Kuna terakhir yang ditaklukkan oleh patih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada. Pemberontakan terjadi yang dipimpin oleh Kibuahan dan meminta agar semua pura yang ada di danau tetap dipertahankan. Ini juga merupakan awal muculnya warga pasek di Desa Buahan.

Seperti desa Bali Aga lainnya, Desa Buahan menerapkan sistem pemerintahan adat yang disebut dulu apad atau ulu apad (yang dituakan) yang dikenal dengan struktur tegak, dimana tidak ada istilah pengempon, namun semuanya adalah desa adat. Sistem ini berjumlah 16 orang anggota yang terdiri dari 8 orang sibak kelod dan 8 orang sibak kaja. Masing-masing sibak kelod dan sibak kaja memiliki urutan dari tertinggi ke rendah yaitu Jro Bayan (Bayan Muncuk), Bahu, Singgukan (tangan) dan 6 orang Saing. Dalam sistem kedinasan atau administratif, Desa Buahan juga menganut struktur prajuru dimana sistem ini ada sejak pemerintahan Hindia Belanda. Struktur prajuru di Desa Buahan terdiri dari paling atas sebagai ketua adalah bendesa adat, di bawahnya terdiri dari pangliman dan petengan, kemudian diikuti oleh kelihan tempek dan kelihan banjar. Untuk kelihan tempek membawahi gong, baris, ebat, dan pecalang. Kelihan banjar membawahi truna dan truni serta krama tamiu (pendatang).

Dalam kemajuan dan perkembangan globalisasi saat ini, banyak warga merantau untuk bekerja dan dalam kurun waktu tertentu tidak tinggal di desa dan mereka akan kembali jika ada kegiatan upacara yang mengikat mereka harus pulang. Namun jika berhalangan untuk pulang maka mereka yang tidak tinggal di desa kewajiban untuk ayah-ayahan (pemlaga) diganti dengan uang yang jumlahnya disesuaikan dan disepakati dalam paruman desa.

(13)

Ni Made Yudantini1), Tri Anggraini Prajnawrdhi2)-Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani 3-129 POLA DESA TRADISIONAL DAN PERKEMBANGANNYA

Secara umum karakteriksik pola desa tradisional di Bali dibagi berdasarkan tata nilai Tri Mandala yaitu zona utama (suci), madya (tengah), dan nista (profan) (Gambar 1). Ketiga tata nilai ini merupakan manifestasi dan implementasi dari konsep Tri Hita Karana yaitu adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan yang diwujudkan dengan parahyangan (tempat suci), hubungan antara manusia dengan sesamanya yang diwujudkan dengan pawongan (tatanan permukiman serta prasarananya), dan hubungan manusia dengan alamnya yang diwujudkan dengan palemahan (adanya kuburan dan pura Dalem). Ketiga nilai ini juga tercermin di dalam pola rumah tinggal tradisional Bali. Untuk parahyangan (utama) adalah tempat suci keluarga (sanggah atau merajan), rumah-rumah baik itu sakaroras (dalam tatatan desa-desa Bali Aga); bale daja, bale dangin, bale delod, bale dauh yang merupakan komposisi natah merupakan pengejawantahan pawongan (madya). Sedangkan dapur, kandang ternak, gudang, pintuk masuk ke dalam pekarangan termasuk ke dalam palemahan atau memiliki nilai nista.

Gambar 1: Elemen Kunci Pola Desa Tradisional Sumber: Yudantini, 2015

Muller (2011) menyatakan bahwa Desa Buahan memiliki pola desa yang linear dengan berorientasi ke arah gunung sebagai orientasi utama (kaja) dan ke arah danau sebagai kelod. Dari hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat, Desa Buahan juga mengenal pola catuspatha (Gambar 2) yang terdapat pada pertemuan jalan utama dengan posisi kantor kepala desa dan jalan menuju ke Pura Sanghyang Jero. Dari catuspatha ini, jarak timur dan barat memiliki jarak yang sama. Area yang dekat dengan Danau Batur merupakan daerah pengembangan permukiman (karang baru) dimana pengembangan ini telah dimulai sejak tahun 1970-an (Gambar 3).

Gambar 2: Catuspatha Desa Buahan

ZONA UTAMA

Lansekap Bali didefinisikan oleh Lansing (1983, p. 51) sebagai “the present-day landscape of Bali [that] is dotted with thousands of beautiful structures of stone and woods which the Balinese call pura”.

Kata pura merupakan tempat bagi orang Bali untuk beribadah kepada Tuhannya (Lansing, 1983).

Dengan demikian, Pulau Bali dikenal dengan sebutan "pulau seribu pura" yang mencerminkan banyaknya tempat suci yang berada tersebar di Pulau Bali. Lansing juga menegaskan bahwa pura

Pura Desa, Pura Puseh

Settlement, public facilities

Pura Dalem,

Jalan utama.

Jarak timur-barat memiliki jarak yang sama dari catus patha

Kantor Kepala desa

Catus Patha desa

Pura Sanghyang Jero

Areal ini merupakan rumah karang baru (pengembangan), mulai sekitar tahun 1970- an, ke arah kelod (danau)

(14)

adalah institusi penting di Bali yang dapat ditemukan mulai dari pura yang berada di desa-desa tradisional hingga pura yang berada di kota. Tempat suci atau pura dapat ditempatkan di desa-desa, di sawah, di kuburan, di pasar, pantai, gua, daerah perbukitan, dan juga di batu gersang di sepanjang tepian (Budihardjo, 1995, p. 67). Dalam institusi ini, Lansing (1983) telah menyimpulkan bahwa pura memiliki peran dalam masyarakat Bali sebagai jaringan dimana orang sangat terikat dengan jaringan pura. Ada banyak jenis tempat suci termasuk pura Kahyangan Rwa Bhineda, Pura Kahyangan Catur Loka Pala, Pura Kahyangan Sad Winayaka/Pura Sad Kahyangan, Pura Kahyangan Padma Bhuwana, Pura Kahyangan Jagat, Pura KahyanganTiga, pura keluarga (pamerajan, dadia, kawitan, dll) dan tempat suci lainnya berdasarkan organisasi komunitas termasuk Pura Subak dan Pura Melanting.

Gambar 3: Desa Buahan dan area pengembangan permukiman

Sebagai karakteristik pola desa, desa adat terkait dengan kewajiban pada Pura Kahyangan Tiga/Kahyangan Desa (tiga tempat suci desa) dan kuburan desa. Pura Kahyangan Tiga meliputi Pura Desa/Pura Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem dengan fungsinya sebagai tempat memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa. Pura Desa dan Pura Puseh terletak di pusat desa di zona primer; di timur laut dari pola cross- road desa. Pura Dalem ditempatkan di dekat pemakaman di zona hilir (teben) desa tepatnya di bagian selatan atau barat selatan (Gelebet, 1985). Pura Tri Kahyangan Tiga dikaitkan dengan tiga prinsip kosmologi Hindu (Lansing, 1983). Lansing (1983) telah menekankan bahwa Brahma sebagai pencipta terkait dengan asal usul candi atau Pura Puseh, Dewa Wisnu memiliki kekuatan konservasi dan perawatan yang terkait dengan Pura Desa atau Pura Bale Agung dan Siwa dengan kekuatannya untuk menghancurkan dikaitkan dengan Pura Dalem.

Zona suci atau utama mandala di desa berfungsi sebagai pura inti desa atau Pura Bale Agung. Pura ini diletakkan di daerah yang lebih tinggi menghadap ke arah gunung atau perbukitan. Pura Bale Agung dan Pura Puseh di beberapa desa terletak di wilayah yang sama (Gambar 4). Demikian juga halnya Pura Bale Agung dan Pura Puseh di Desa Buahan terletak pada ketinggian di daerah perbukitan. Selain Pura Tri Kahyangan Tiga yaitu Pura Puseh, Pura Dalem dan Bale Agung, di Desa Buahan juga terdapat 16 pura lainnya, diantaranya Pura Danu Gadang, Pura Tirta Petak Manu Kuning, Pura Dukuh Petapan, Pura Dalem Pemegalan, Pura Dalem Pingit/Gede, Pura Sanghyang Wasih, Pura Celukan/Hyang Api, Pura Bujangga, Pura Suci, Pura Pengelepan, dan Pura Sanghyang Jero.

Tempat suci di desa umumnya "kosong" dan "diaktifkan" selama perayaan hari suci dalam upacara keagamaan atau festival keagamaan. Upacara tergantung pada interval kalender tradisional Bali yaitu 35 hari, 105 hari, 210 hari, dan 420 hari (Lansing, 1983). Sebuah upacara dapat melibatkan beberapa hari dengan persembahan dan pertunjukan tarian sakral yang berkontribusi pada keunikan desa dalam agama yang diungkapkan dalam pertunjukan seni. Setiap desa memiliki tarian sakral tradisional khas mereka yang dimainkan pada hari festival desa yang disebut ngusaba desa. Perayaan hari suci keagamaan di Desa Buahan, khususnya pada Pura Bale Agung jatuh pada purnama kadasa, upacara di Pura Puseh jatuh pada purnama kapitu, sedangkan pada Pura Dalem jatuh pada tilem karo. Untuk upacara pada Pura Pengelepasan jatuh pada purnama kapat.

Area pengembangan (karang baru)

(15)

Ni Made Yudantini1), Tri Anggraini Prajnawrdhi2)-Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani 3-131

Gambar 4: Pura Bale Agung dan Pura Puseh Berdampingan di Desa Buahan

Gambar 5: Jalan Menuju Pura Sanghyang Jro

Sebagian besar pola perumahan di desa tradisional khususnya Bali Aga mengadopsi pola linier.

Dalam satu unit pekarangan akan terdiri dari beberapa rumah tangga berkisar antara 6 sampai 10 rumah tangga. Tempat suci keluarga ditempatkan di daerah utama, dan bangunannya terletak di daerah madya dengan bangunan pendukung (halaman belakang, peternakan) yang berada di daerah nista. Satu baris dihuni oleh satu keluarga. Rumah tangga mungkin berasal dari keluarga yang sama ataupun tidak. Warisan terpenting bagi orang Bali, yang diwarisi dari keturunannya adalah tempat suci keluarga (sanggah/pamerajan). Hindu Bali mencakup sistem patrilineal dalam hubungan kekerabatan mereka dimana anak laki-laki atau laki-laki menjadi ahli warisnya. Bagi keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki, maka sistem perkawinan menjadi hal penting dalam keturunannya. Ada dua jenis pernikahan dalam tradisi Bali yaitu perkawinan umum dan nyeburin atau perkawinan nyentana (Majelis Utama Desa Pakraman, 2010). Pernikahan umum melibatkan pria sebagai status purusa (pria) dan wanita sebagai pradana (perempuan). Purusa berarti penerus keturunan dalam keluarga.

Pernikahan nyeburin atau nyentana adalah tempat wanita (pengantin wanita) diklasifikasikan sebagai purusa/pria (penerus patrilateral) dan pria diklasifikasikan sebagai pradana/perempuan. Tujuan dari tipe pernikahan ini awalnya dilakukan untuk menghindari pecahnya garis keturunan keluarga. Namun tujuan tambahan lebih jauh adalah mempertahankan putri di keluarga. Sistem pernikahan ini sangat penting untuk meneruskan warisan keluarga yaitu tempat suci keluarga.

Gambar 6: Tempat Suci Keluarga dalam Unit Pekarangan Rumah Tinggal di Desa Buahan

ZONA MADYA

Zona tengah atau madya mandala dalam pola desa berfungsi sebagai tempat untuk fasilitas termasuk perumahan dan atau puri/istana, balai desa (bale banjar), Pura Puseh, pasar tradisional, dan wantilan.

Pola perumahan di desa-desa tradisional (Bali Aga) sebagian besar mengadopsi pola linier dan menciptakan ruang terbuka natah di dalam rumah-rumah sebagian besar sebagai daerah sirkulasi, sedangkan rumah di daerah daratan khususnya Bali bagian selatan memiliki pola majemuk dengan natah di tengahnya tercipta sebagai orientasi bangunan.

(16)

Rumah tinggal tradisional di Desa Buahan adalah sakaroras dengan bahan atap rumah menggunakan blau/belu yang terdapat di hutan lindung. Pada jaman dulu hampir 80% penduduk, atap rumahnya menggunakan material ini, namun sekarang telah diganti dengan genteng. Karena semakin berkembangnya teknologi dan komunikasi, maka rumah-rumah di Desa Buahan telah mengalami perkembangan, namun beberapa rumah tua masih menggunakan pola tradisional (rumah dengan sikut satak). Dalam satu unit pekarangan terdiri dari beberapa rumah tinggal yang terpolakan secara linear, dan penghuninya kemungkinan dan atau tidak dalam satu garis keturunan.

Pola rumah tradisional di Desa Buahan yaitu dalam 1 karang atau petak pekarangan masing-masing terdiri dari 4 kepala keluarga (KK) dengan sikut satak (luas 2 are atau 200 m² untuk 1 KK), maka untuk 1 petak pekarangan memiliki luas sekitar 8 are (800 m²). Dalam sikut satak yang hanya boleh tinggal adalah 1 kepala keluarga saja. Adapun jumlah sikut satak di Desa Buahan adalah sebanyak 132 KK.

Sikut satak ini pada tahun 1980an telah ditutup karangnya (tidak membangun dengan sikut satak lagi), namun membangun dengan sikut krobelah (150 are) saja yang dibangun yaitu berjumlah 36 KK.

Secara adat, keluarga dengan sikut satak memiliki kewajiban ngayang/ngayah di Pura Bale Agung di Desa Buahan antara lain memungkah, balangkep, dan untuk krama tamiu. Memungkah adalah untuk krama ngarep (asli keturunan Desa Buahan, bukan pendatang) yaitu memiliki kewajiban ngayang di pura secara penuh 3 bagian. Balangkep (banjar bale angkep) hanya mendapat sepertiga, tidak mendapat bagian yaitu tidak mendapatkan karang, maka ayahannya atau urunannya adalah di sisi/pinggir danu (danau) dimana mereka lebih banyak berkebun dan kebun yang digarap tidak boleh dibangun. Untuk karma tamiu/tengahan yaitu pendatang, bukan warga asli (uwedan), mereka mendapat hak setengah dari 3 dan tidak boleh duduk atau memangku jabatan di Pura Bale Agung.

Jika mereka membeli tanah di desa maka mereka harus ikut desa adat.

Gambar 7: Sketsa Ruang pada Rumah Tradisional di Desa Buahan

Sumber: Yudantini dan Wisnawa, 2013

Gambar 8: Sketsa Satu Unit Pekarangan Rumah Tradisional di

Desa Buahan

Satu unit rumah tradisional (sakaroras) (Gambar 7) di Desa Buahan terdiri dari beberapa bagian, diantaranya adalah lobang dangin yang merupakan tempat sembahyang, lobang dauh adalah ruangan sebagai tempat tidur orang tua, dan lobang delod adalah ruangan tidur anak-anak.

Selanjutnya terdapat patokan berada diantara lobang dangin dan lobang dauh, di depan patokan terdapat ketungan yang berfungsi sebagai tangga. Dalam satu unit rumah tradisional ini tentunya dilengkapi dengan paon sebagai dapur atau punapi dimana di atas dapur terdapat tempat untuk meletakkan kayu bakar dan meletakkan atau menggantungkan daging babi. Kemudian terdapat peluangan yang berada di tengah-tengah ruangan yang merupakan orientasi dari semua ruangan yang ada. Peluangan inilah yang langsung bersentuhan dengan tanah, dimana semua bagian ruangan memiliki sunduk yang menciptakan ruang antara tanah dengan bale-bale. Di bagian depan terdapat amben merupakan ruangan teras atau kadang terbuka. Di bagian amben ini juga terdapat lincak atau teras kecil yang difungsikan sebagai tempat untuk meletakkan barang-barang pertanian seperti tengale.

(17)

Ni Made Yudantini1), Tri Anggraini Prajnawrdhi2)-Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani 3-133

Gambar 9: Pola Linear Rumah Tinggal di Desa Buahan tahun 1980-an

Sumber: Muller, 2011

Gambar 10: Pola Linear Hunian Masih Terlihat Jelas dalam Sikut Satak

Pola aktivitas masyarakat Bali Aga kesehariannya adalah dalam satu atap yang terdiri dari kegiatan memasak, beristirahat, sembahyang. Untuk kegiatan pertanian masyarakat melakukannya di perkebunan atau tegalan di luar rumah di sekeliling desa dan di pinggir danau. Sedangkan kegiatan mandi-cuci-kakus (mck) pada jaman dahulu berada di teba (kebun belakang), namun sekarang ini wadah untuk kegiatan mck telah dilengkapi di dalam rumah tinggal masing-masing. Masyarakat juga aktif dalam kegiatan kebudayaan seperti 99kegiatan membaca sastra. Penghuni akan melaksanakan kegiatan membaca sastra di area patokan, dimana lontar-lontar disucikan dan diletakkan serta disimpan di lobang dangin.

Gambar 11: Ketungan sebagai Pijakan Kaki dan Suasana Ruang dalam Desa Buahan

Gambar 12: Rumah Tradisional di Desa Buahan yang Telah Berubah Tampilannya

Dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, telah berakibat pada meningkatnya taraf hidup masyarakat sehingga menuntut mereka untuk mendapatkan standar hidup yang lebih baik. Sebagian warga desa Buahan telah melakukan perubahan-perubahan pada bangunan rumah tinggal mereka.

Pola ruang dalam yang lebih efektif sesuai dengan kekinian dengan material-material baru (batu bata, batu alam, genteng) terlihat pada fasade bangunan (Gambar 12). Pada dasarnya masyarakat masih tetap mempertahankan tempat suci yang ada di dalam bangunan karena keterikatan hubungan vertikal kepada para leluhur mereka.

ZONA NISTA

Salah satu lanskap budaya tradisional paling penting, yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang Bali, dan digunakan untuk upacara kematian, adalah kuburan. Kuburan adalah zona ketiga dalam pola desa. Kuburan digunakan sebagai pemakaman dan dilengkapi dengan pura kematian yang disebut Pura Dalem. Pemakaman merupakan elemen kunci dalam lansekap tradisional Bali dan merupakan bagian integral dari pola desa tradisional di seluruh Bali. Secara budaya, orang Bali memiliki upacara kremasi tradisional yang disebut dengan ngaben. Upacara kremasi berlangsung di kuburan dan kemudian abunya dibuang ke laut. Hal yang menarik dari perencanaan penggunaan lahan di Bali adalah dengan adanya upacara kremasi (ngaben) sehingga tidak memerlukan

(18)

pertambahan jumlah lahan untuk kuburan (Yudantini, 2012). Kuburan Bali cenderung statis, tidak memerlukan lahan, karena proses pemakaman tradisional oleh upacara ngaben. Pemakaman merupakan salah satu area terbuka hijau yang memiliki fungsi ekologis. Sementara kuburan ditanami dengan pohon-pohon besar (yaitu pohon kepah, pohon kepuh, dan pohon beringin) mereka juga dapat mendukung aliran air yang terkait dengan sistem ekologi sekaligus memberikan karakteristik estetika kuburan Bali.

Kuburan atau setra di Desa Buahan memiliki karakter tersendiri di dalam pengelolaannya. Secara struktur sosial untuk upacara kematian, ngaben dikelola oleh dua tilem yaitu Tilem Dangin Rurung (sebanyak 90 kepala keluarga) dan Tilem Dauh Rurung (sebanyak 136 kepala keluarga). Kuburan atau setra juga dibagi dua yang berada dalam satu bidang tanah dan hanya dibatasi oleh satu pohon yaitu pohon kayu curiga atau kayu udu tanah. Kedua setra tersebut yaitu setra dangin atau sibak kangin dan setra dauh atau sibak kauh. Untuk setra dangin akan dikelola oleh Tilem Dauh dan setra dauh dikelola oleh Tilem Dangin. Untuk penguburan, semakin ke hulu atau luwan adalah untuk penglingsir (yang dituakan) biasanya untuk kubayan, dengan dicirikan memakai ancak saji dan juga tedung. Sedangkan semakin ke hilir atau teben adalah penguburan untuk bayi atau setra bayi.

Upacara ngaben di Desa Buahan adalah dengan sistem biye tanam atau penguburan, di Desa Buahan juga melaksanakan ngaben masal.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Lanskap budaya pada sebuah desa tradisional dapat dilihat dari unsur tangible maupun intangible desa, baik sejarah, social budaya serta di bidang arsitektur. Lanskap budaya meliputi keterkaitan dalam suatu kegiatan yang melibatkan manusia dan alamnya (UNESCO, 1972). Tahap-tahap perubahan juga menjadi prinsip di dalam lanskap budaya (Palang & Fry, 2003). Untuk itu, perubahan- perubahan yang terjadi di Desa Buahan merupakan suatu dinamika dari lanskap budaya. Meskipun terjadi perkembangan dan perluasan areal permukiman ke arah danau serta perubahan dalam tatanan arsitektur rumah tinggal, namun secara mendasar Desa Buahan tidak meninggalkan tradisi budayanya. Pola Desa Buahan masih tetap terikat dengan sikut satak dan sikut kerobelah, sebagai inti dari permukiman tradisional. Perubahan memang tidak dapat dihindari sepanjang adalah untuk perkembangan hidup yang lebih baik. Adanya wacana pola catuspatha di Desa Buahan menjadi sumber untuk penelitian selanjutnya.

REFERENSI

Budihardjo, E, 1995, Architectural Conservation in Bali, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Dinas Kebersihan dan Pertamanan, & Universitas Udayana, 1998, Hasil Penelitian: Penyusunan

Rencana Umum Pertamanan, Propinsi Daerah Tingkat I Bali, Denpasar, Indonesia.

Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Bali, 1989, Inventarisasi Desa-Desa Tradisional Bali, Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Bali, Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Bali, Proyek Perencanaan Konservasi Lingkungan Desa (1988/1989).

Gelebet, N, 1985, Arsitektur Tradisional Daerah Bali, Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Tahun 1981/1982.

Lansing, J. S, 1983, the Three Worlds of Bali, New York: Praeger.

Majelis Utama Desa Pakraman, 2010, Hasil Pesamuan Agung III MUDP Provinsi Bali, Denpasar, Indonesia: Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali.

Muller, Carole, 2011, Bali Aga Villages; field work in the 1980s, Walsh Bay Press.

Reuter, Thomas A., 2002, Custodians of the Sacred Mountains; Culture and Society in the Highlands of Bali, University of Hawai‟i Press, Honolulu.

Yudantini, Ni Made & Kadek Wisnawa, 2013, Rumah Tinggal Bali Aga; Arsitektur Minimalis dan Fungsionalis, Semnas Reinterpretasi Identitas Arsitektur Nusantara, Bali-2013, ISBN No. 978-602- 7776-68-5

Yudantini, Ni Made, 2012, Learning from Sustainable Landscape of Death in Bali: Landscape Planning and Tri Hita Karana, the 2nd International Conference on Sustainable Technology Development:

Developing Sustainable Tecnology for a Better Future, Denpasar-Bali.

Yudantini, Ni Made, 2015, Bali Aga Cultural Landscape Challenges: Conserving the Balinese Traditional Landscape for Future Balinese Indigenous Villages (Bali Aga) and Communities, Doctorate Thesis. Deakin University-Australia.

UNESCO, 1972, Convention concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage, Paris: UNESCO.

Palang, H., & Fry, G. (Eds.), 2003, Landscape Interfaces, Cultural Heritage in Changing Landscapes (Vol. 1), Dordrecht, the Netherlands: Kluwer Academic Publisher.

Referensi

Dokumen terkait

Jika responden mengalami 2 atau lebih kejadian tersebut tanyakan kejadian yang paling awal/pertama kali pada kolom [1] dan selesaikan dahulu sampai BR18 dan

Sehingga semakin tinggi temperatur preheating yang diberikan maka penetrasi yang terjadi pada saat berlangsungnya proses pengelasan semakin dalam sehingga base metal

Dalam bab ini akan dijelaskan penggambaran sistem kendali, yang meliputi fungsi alih (transfer function), korelasi antara fungsi alih dengan persamaan ruang

Perusahaan manufaktur adalah sebuah industri yang bekerja untuk menghasilkan suatu barang yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, di mana proses produksi dilakukan untuk mengubah

Langkah kedua yang harus dilakukan peneliti adalah menentukan lokasi penelitian atau lokasi data dan sumber data penelitian. Kasus 5: konjungsi koordinatif ‘tetapi’

Berdasarkan data curah hujan bulan Desember 2019 dari stasiun-stasiun BMKG dan pos-pos hujan kerjasama terpilih pada 15 Zona Musim (ZOM) di Bali dapat disajikan

Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2014), berjudul Analisis Struktur dan Komponen Keuangan KJKS UGT Sidogiri Wirolegi, menunjukkan bahwa laporan

Dari hasil analisis menggunakan uji korelasi lambda pada tabel 6 , diperoleh nilai r sebesar 0.541 yang menunjukkan bahwa antara kedua variabel yaitu variabel