e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 968 p-ISSN: 2620-8512
Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke-46 UNS Tahun 2022
“Digitalisasi Pertanian Menuju Kebangkitan Ekonomi Kreatif”
Uji Daya Hasil Beberapa Genotipe Mutan Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merril) Generasi M7 Hasil Iradiasi Gamma
Yulia Nur Arifah, Florentina Kusmiyati, dan Syaiful Anwar
Program Studi Agroekoteknologi, Departemen Pertanian, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH Tembalang, Semarang 1269, Jawa Tengah
Email: [email protected]
Abstrak
Induksi mutasi pada tanaman kedelai hitam diharapkan dapat menghasilkan kedelai hitam dengan daya hasil tinggi. Tanaman hasil induksi mutasi harus melalui berbagai pengujian terlebih dahulu sebelum dapat dilepas menjadi varietas baru. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hasil serta heritabilitas tanaman mutan kedelai hitam hasil induksi mutasi iradiasi sinar gamma pada generasi M7. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap monofaktor dengan 3 ulangan. Genotipe yang diuji adalah 4 mutan kedelai (06-252/1-6-2-28, 06-400/1-2-2-6, 06- 256/1-2-9-29, dan 06-256/1-4-2-21) dan 3 varietas pembanding (Detam-1, Detam-3 dan Detam-4). Penelitian dilakukan pada lahan yang telah dibuat bedengan dengan ukuran 2,5 m x 13 m, jarak tanam 50 cm x 50 cm sebanyak 21 unit percobaan dengan masing- masing terdapat ± 250 tanaman dan diambil sampel 10 tanaman setiap unitnya untuk analisis data.
Parameter yang diamati jumlah polong isi per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah bji per tanaman, dan bobot 100 biji. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F dan uji lanjut DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan jumlah polong isi dan jumlah polong pada mutan kedelai hitam 07-252/1-6-2-28 dan 07-400/1-2-2-6 tidak berbeda nyata dengan Detam-1 dan Detam 3, sedangkan jumlah polong mutan kedelai hitam 07-256/1-4-2-21 nyata lebih tinggi dibandingkan Detam-1 dan Detam 3 dan tidak berbeda nyata dengan Detam-4. Nilai heritabilitas pada karakter jumlah polong isi per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan bobot 100 butir memiliki nilai heritabilitas tinggi. Mutan 07-256/1-4-2-21 merupakan mutan dengan hasil paling baik sehingga dapat dipertimbangkan sebagai galur harapan varietas unggul kedelai hitam.
Kata kunci : heritabilitas, kedelai hitam, mutan, varietas
Pendahuluan
Tanaman kedelai hitam (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu tanaman pangan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Kedelai hitam banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan makanan seperti kecap. Jumlah
e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 969 p-ISSN: 2620-8512
varietas kedelai hitam yang dikembangkan di Indonesia masih sangat minim. Salah satu varietas kedelai hitam yang diunggulkan yaitu varietas Detam 3 Prida yang memiliki umur genjah 75 hari, potensi hasil biji yang tinggi hingga 3,15 ton/ha, ukuran biji 11,8 g/100 biji, agak toleran terhadap kekeringan serta memiliki kadar nilai protein dan rendemen yang tinggi (Balitkabi, 2016). Kebutuhan kedelai hitam di Indonesia terus meningkat bersamaan dengan peningkatan jumlah penduduk yang pada tahun 2020 diperkirakan telah mencapai 269,6 juta jiwa (Bhagaskara et al., 2020). Usaha dalam memperbanyak jumlah varietas kedelai unggul terus dilakukan agar dapat meningkatkan produktivitas kedelai dalam negeri. Kegiatan pemuliaan tanaman berperan penting dalam pembentukan varietas varietas unggul. Salah satu metode pemuliaan tanaman yang banyak digunakan yaitu teknik mutasi. Kegiatan pemuliaan tanaman melalui mutasi tidak membutuhkan waktu yang relatif lama dalam meningkatkan keragaman genetik suatu tanaman (Damayanti et al., 2021). Induksi mutasi adalah usaha peningkatan keragaman genetik pada suatu individu atau populasi mahkluk hidup dengan perubahan genetik.
Pemuliaan tanaman secara mutasi dapat diinduksi dengan mutagen fisik atau mutagen kimia.
Mutagen fisik adalah bahan mutasi berupa bahan fisika yang sumbernya bisa berupa sinar X, sinar gamma, neutron, partikel beta, partikel alfa, dan proton. Tanaman yang termutasi akan melakukan pembaharuan dan dapat diteruskan ke generasi selanjutnya hingga keragaman menjadi semakin rendah dan heritabilitas semakin tinggi. Sinar gamma merupakan salah satu mutasi fisik yang banyak dilakukan dalam pemuliaan tanaman. Sinar gamma merupakan gelombang elektromagnetik pendek dengan energi tinggi sehingga menyebabkan kombinasi gen - gen baru dengan frekuensi mutasi tinggi (Rizqiani et al., 2018). Iradiasi sinar gamma memiliki daya tembus yang besar sehingga dapat menghasilkan variasi tanaman yang lebih signifikan. Pemuliaan tanaman dengan induksi iradiasi sinar gamma terhadap benih dapat menyebabkan perubahan sifat morfologi, anatomi serta genetiknya sebagai akibat dari radikal bebas dalam sel yang merusak atau memodifikasi komponen penting sel tanaman (Alfariatna et al., 2018).
Tanaman hasil mutasi sebelum dapat dilepas menjadi varietas baru harus melalui berbagai seleksi pengujian untuk mendapatkan tanaman mutan yang stabil secara genetik. Pembentukan varietas mutan berawal dari tahap iradiasi benih, dilanjutkan dengan proses seleksi, evaluasi galur, uji daya hasil, hingga proses perbanyakan benih dan pelepasan varietas. Uji daya hasil bertujuan untuk melihat potensi hasil dari calon varietas yang dibandingkan dengan varietas komersial dan selanjutnya memilih tanaman kembali untuk dilanjutkan dalam seleksi berikutnya (Wulandari dan Sugiharto, 2017). Galur-galur harapan yang terpilih dapat
e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 970 p-ISSN: 2620-8512
berpeluang untuk menjadi varietas unggul melalui rangkaian pengujian daya hasil. Kriteria penilaian uji daya hasil dapat dilihat dari sifat tertentu dari segi ekonomi seperti hasil, ketahanan, kualitas, selera pasar maupun penampilan. Tahapan uji daya hasil yaitu uji daya hasil, uji daya hasil lanjutan dan uji multi lokasi (Astutik et al., 2017). Tanaman mutan pada generasi M5 - M8 harus dilakukan uji daya hasil terlebih dahulu (Asadi, 2013). Galur terpilih dimurnikan sampai generasi M7 atau sampai tanaman homogen, galur terpilih dilanjutkan dengan uji daya hasil pendahuluan dan uji daya hasil lanjutan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji daya hasil serta heritabilitas beberapa mutan tanaman kedelai hitam hasil induksi mutase iradiasi sinar gamma pada generasi M7.
Metode
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret - Juni 2021 di lahan percobaan, Desa Karangharjo, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, Jawa Tengah dan Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Bahan yang digunakan dalam penelitian terdiri dari 4 genotipe mutan kedelai hitam M6, dan 3 varietas pembanding yakni Detam-1, Detam-3, dan Detam-4, pupuk organik cair organik Bioripah untuk memacu pertumbuhan tanaman, dan pestisida Emacel. Alat yang digunakan dalam penanaman yaitu cangkul, kayu tugal, plastik, dan timbangan analitik.
Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap monofaktor dengan bahan penelitian 4 genotipe kedelai hitam M6 hasil perlakuan radiasi sinar gamma dengan kode tanaman 06-252/1-6-2-28, 06-400/1-2-2-6, 06-256/1-2-9-29, dan 06-256/1-4-2-21, serta 3 varietas pembanding yakni Detam-1, Detam-3, dan Detam-4 masing-masing sebanyak 3 ulangan sehingga terdapat 21 unit percobaan. Analisis ragam parameter pengamatan dilakukan pada 10 tanaman contoh setiap unit percobaan. Benih kedelai ditanam pada lahan persawahan yang telah dibuat bedengan dengan ukuran 2,5 m x 13 m dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm. Seluruh benih ditanam langsung pada lubang tanam dengan dua benih setiap lubang tanam. Bibit yang telah berumur 1 MST dihitung daya berkecambah dan dilakukan penyulaman karena terdapat beberapa tanaman yang belum tumbuh.
Tahap berikutnya dilakukan penjarangan dengan hanya menyisakan 1 tanaman per lubang tanam pada umur tanaman 3 MST agar tidak terjadi kompetisi. Pemupukan dasar dilakukan dengan memberikan pupuk kandang dan pemupukan lanjutan dengan pemberian pupuk Urea dosis 50 kg/ha, KCl 100 kg/ha dan TSP 100 kg/ha (Kastono, 2005). Upaya untuk memacu pertumbuhan tanaman dilakukan dengan melakukan penyemprotan dengan pupuk cair Bioripah sebanyak 1 kali
e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 971 p-ISSN: 2620-8512
setiap 2 minggu. Pemeliharaan dilakukan dengan pengairan serta pengendalian gulma dengan herbisida serta pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida. Tanaman diamati hingga panen sesuai dengan umur panen. Pemanenan dilakukan dengan memetik polong yang telah berwarna coklat dan kemudian biji dipisahkan dari kulit polong.
Pengamatan dilakukan pada karakter jumlah polong isi per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan bobot 100 biji. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F pada tingkat kesalahan 5% dan dilanjutkan dengan uji Duncan Muliple Range Test (DMRT) pada tingkat kesalahan 5% untuk mengetahui perbedaan antar genotipe.
Hasil dan Pembahasan
Hasil analisis ragam menunjukkan genotipe kedelai hitam berpengaruh nyata terhadap karakter jumlah polong isi per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan bobot 100 biji namun tidak berpengaruh nyata terhadap karakter lainnya. Genotipe kedelai memberikan pengaruh nyata terhadap karakter jumlah polong isi per tanaman. Hasil uji DMRT pada karakter jumlah polong isi sebagaimana yang tertera pada Tabel 1 menunjukkan genotipe mutan 07-256/1-4-2-21 tidak berbeda nyata terhadap varietas Detam-4 namun berbeda nyata terhadap varietas pembanding lainnya, sedangkan genotipe mutan 07-256 /1-2-9-29 berbeda nyata terhadap seluruh varietas pembanding. Genotipe mutan 07-256/1-4-2-21 merupakan mutan dengan dengan hasil jumlah polong isi per tanaman paling tinggi sebanding dengan varietas pembanding Detam- 4 dan lebih baik dari varietas Detam-1 dan Detam-3. Peningkatan produksi jumlah polong isi dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang baik sehingga mampu mendukung produksi yang tinggi. Kuswantoro et al. (2017) menyatakan pertumbuhan dan pembentukan polong isi dipengaruhi oleh ketersediaan hara tanah, ketersediaan air, dan cahaya matahari. Pembentukan polong juga dipengaruhi oleh perubahan genetik tanaman akibat mutasi iradiasi gamma.
Ramdhani et al. (2015) menjelaskan bahwa iradiasi sinar gamma dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan sel-sel dan dapat terjadi pada setiap bagian tanaman sehingga dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman termasuk pada proses pembentukan polong.
Nilai jumlah polong tinggi juga diharapkan berbanding lurus dengan jumlah biji dalam satu tanaman sehingga meningkatkan nilai jumlah polong isi. Wijayati et al. (2014) dalam penelitiannya mengungkapkan jumlah polong isi memiliki kaitan dengan ukuran biji, varietas yang memiliki polong isi banyak akan memiliki ukuran biji kecil karena adanya kompetisi antar biji untuk mendapatkan fotosintat.
e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 972 p-ISSN: 2620-8512
Tabel 1. Jumlah polong isi per tanaman dan jumlah polong per tanaman genotipe mutan kedelai hitam M7 dan kedelai varietas pembanding
Genotipe Jumlah polong isi per tanaman Jumlah polong per tanaman
Detam-1 (Kontrol) 53,40 c 57,07 d
Detam-3 (Kontrol) 67,90 c 72,00 cd
Detam-4 (Kontrol) 97,20 a 101,87 a
07-252/1-6-2-28 54,43 c 59,47 d
07-400/1-2-2-6 62,50 c 68,53 d
07-256 /1-2-9-29 80,40 b 85,60 bc
07-256/1-4-2-21 88,83 ab 94,69 ab
Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf kecil yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%
Berdasarkan hasil uji lanjut DMRT pada karakter jumlah polong per tanaman, genotipe mutan 07-256 /1-2-9-29 tidak berbeda nyata terhadap varietas Detam-1 dan Detam-4. Genotipe mutan 07-256/1-4-2-21 sebagai mutan dengan hasil terbaik sebanding dengan varietas Detam- 4 dan lebih baik dibanding varietas Detam-1 dan Detam-3. Jumlah polong per tanaman genotipe kedelai hitam menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Astuti (2011) menyebutkan bahwa perbedaan jumlah polong dapat dipengaruhi oleh jumlah cabang pada suatu individu. Jumlah cabang juga dapat mempengaruhi hasil bobot biji per tanaman dan memberikan pengaruh langsung terhadap daya hasil kedelai. Menurut Purba (2015) jumlah polong dapat dijadikan sebagai salah satu kriteria seleksi hasil tinggi pada pemuliaan kedelai. Jumlah polong kedelai lebih dominan dipengaruhi oleh lingkungan pertamanan dibanding faktor genetik tanaman.
Hasil uji lanjut DMRT taraf 5% menunjukkan genotipe mutan kedelai hitam berbeda nyata terhadap varietas pembanding pada karakter jumlah biji per tanaman dan bobot 100 biji sebagaimana yang tertera pada Tabel 2. berikut.
Tabel 2. Jumlah biji per tanaman dan jumlah bobot 100 biji genotipe mutan kedelai hitam M7
dan kedelai varietas pembanding
Genotipe Jumlah biji per tanaman Bobot 100 Biji (g)
Detam-1 (Kontrol) 85,80 c 22,24 a
Detam-3 (Kontrol) 149,52 b 15,31 b
Detam-4 (Kontrol) 210,90 a 12,31 c
07-252/1-6-2-28 104,57 c 15,86 b
07-400/1-2-2-6 111,37 c 14,24 bc
07-256 /1-2-9-29 154,13 b 14,52 bc
07-256/1-4-2-21 154,72 b 16,34 b
Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf kecil yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%
e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 973 p-ISSN: 2620-8512
Berdasarkan hasil uji lanjut DMRT pada nilai rataan jumlah biji per tanaman menunjukkan genotipe mutan 07-256 /1-2-9-29 dan 07-256/1-4-2-21 sebagai mutan dengan hasil terbaik tidak berbeda nyata dengan varietas Detam-3 dan lebih baik dari Detam-1. Jumlah biji yang meningkat pada genotipe mutan dapat dipengaruhi oleh genetic individu tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Pandiangan dan Rayad (2017) yang menyatakan peningkatan jumlah biji yang dihasilkan dipengaruhi faktor genetik bahwa semakin banyak jumlah biji maka dapat meningkatkan berat biji per tanaman serta juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Hasil kedelai ditentukan oleh komponen hasil yang termasuk didalamnya adalah ukuran biji dan jumlah biji. Menurut Salimi dan Moradi (2012) karakter yang bernilai penting terhadap hasil biji kedelai adalah jumlah biji per tanaman.
Hasil uji DMRT pada karakter bobot 100 biji yang tertera pada Tabel 2 menunjukkan 4 genotipe mutan tidak berbeda nyata terhadap, varietas pembanding Detam-3 dan berbeda nyata terhadap varietas pembanding lainnya. Genotipe mutan 07- 256/1-4-2-21 merupakan mutan dengan dengan hasil paling tinggi sebanding dengan varietas pembanding Detam-3 dan lebih baik dari varietas Detam-4 namun lebih rendah dari varietas Detam-1. Hastuti et al. (2018) menjelaskan berat 100 biji yang dihasilkan dipengaruhi oleh jumlah cabang produktif dan jumlah polong per tanaman.
Karakter bobot 100 biji mencerminkan besar kecilnya ukuran biji. Hasil bobot 100 biji pada seluruh genotipe berkisar pada 12,31 – 22,24 gram/100 biji yang menunjukkan seluruh genotipe memiliki ukuran biji sedang hingga besar. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto dan Saneto (1994) yang menyatakan ukuran biji kedelai tergolong kecil apabila memiliki bobot 8-10 g/100 biji, tergolong sedang jika bobotnya10-13 g/100 biji dan tergolong besar bila lebih dari 13g/100 biji. Hasil bobot 100 biji pada seluruh genotipe mutan rata-rata menunjukkan peningkatan jika dibandingkan terhadap deskripsi varietas pembanding Detam-1, Detam-3 dan Detam- 4 yang bernilai bobot 100 biji berkisar antara ±11,0 – ±14,84 gram. Kuswantoro et al. (2016) menyatakan ukuran biji dapat dipengaruhi oleh lama umur berbunga dan umur masak suatu galur, semakin lama umur masak suatu galur akan diikuti dengan peningktaan jumlah polong isi namun cenderung memiliki ukuran biji yang kecil. Karakter bobot 100 biji genotipe mutan tergolong lebih rendah dari genotipe kontrol. Arifiana dan Sjamsijah (2017) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kondisi lahan yang baik, kebutuhan air dan unsur hara yang tercukupi dapat mempengaruhi hasil tanaman dalam proses pembentukan pengisian biji sehingga ukuran biji yang dihasilkan lebih besar dan berat.
Heritabilitas diperoleh dari pembagian antara ragam genetik total dengan ragam fenotipik total, sehingga pengaruh genetik yang besar dan tampak pada fenotipik tanaman akan
e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 974 p-ISSN: 2620-8512
menghasilkan nilai yang besar pula. Semakin besar nilai heritabilitas maka semakin besar pula untuk dapat diwariskan pada keturunan selanjutnya. Menurut Effendy et al. (2018) heritabilitas merupakan parameter genetik yang digunakan untuk mengukur kemampuan genotipe dalam suatu populasi tanaman untuk mewariskan karakter yang dimilikinya. Kriteria nilai duga heritabilitas dalam arti luas menurut Barnawi et al. (2013) dikategorikan sebagai, dengan ketentuan sebagai, tinggi jika h2 > 50%, sedang jika 20% < h2 < 50% dan rendah jika h2 < 20%. Heritabilitas perlu diketahui untuk menduga sejauh mana penampilan suatu karakter dipengaruhi faktor genetik atau lingkungan. Menurut pendapat Syukur et al. (2011) perlu diketahuinya nilai heritabilitas pada suatu karakter untuk melihat pengaruh lingkungan terhadap genetik.
Tabel 3. Nilai duga heritabilitas arti luas karakter kuantitatif genotipe mutan kedelai hitam M7
dan kedelai varietas pembanding
Karakter Heritabilitas (%) Kriteria
Jumlah polong isi 65,40 Tinggi
Jumlah polong per tanaman 52,24 Tinggi
Jumlah biji per tanaman 61,74 Tinggi
Bobot 100 butir 57,64 Tinggi
Nilai duga heritabilitas karakter kuantitatif sebagaimana yang tertera pada Tabel 3 menunjukkan nilai heritabilitas yang tinggi terdapat pada karakter jumlah polong isi per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman dan bobot 100 butir biji. Sesuai dengan penelitian Gabesius et al. (2012) yang menunjukkan bahwa heritabilitas tinggi terdapat pada peubah jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji. Nilai heritabilitas seluruh genotipe menunjukkan nilai yang tinggi yang menunjukkan pengaruh lingkungan yang rendah dan genotipe dengan karakter yang baik dapat dijadikan sebagai genotipe yang dipertimbangkan sebagai galur harapan. Qosim et al. (2013) menyebutkan bahwa nilai duga heritabilitas suatu karakter dengan kategori tinggi menunjukkan bah wa karakter tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik dan sedikit dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan karakter tersebut dijadikan acuan dalam seleksi pengembangan tanaman berikutnya.
Kesimpulan dan Saran
Hasil penelitian terhadap karakter jumlah polong isi per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan bobot 100 biji menunjukkan mutan kedelai hitam 07-256/1-4- 2-21 memiliki hasil paling baik yang tidak berbeda nyata atau bahkan lebih baik dibanding
e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 975 p-ISSN: 2620-8512
varietas pembanding serta memiliki nilai heritabilitas yang tinggi pada karakter-karakter tersebut, sehingga dapat disimpulkan dari hasil mutasi iradiasi gamma diperoleh mutan 07- 256/1-4-2-21 sebagai galur harapan varietas unggul kedelai hitam. Saran yang dapat diberikan adalah genotipe-genotipe kedelai hitam mutan perlu di uji daya hasil lanjutan untuk memastikan kestabilan daya hasil apakah ada perubahan hasil atau tidak terhadap generasi sebelumnya.
Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Program Studi S1 Agroekoteknologi, Departemen Pertanian, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro atas fasilitas yang telah diberikan untuk mendukung terlaksananya penelitian ini.
Daftar Pustaka
Alfariatna, L., F. Kusmiyati, dan S. Anwar. 2018. Karakter fisiologi dan pendugaan heritabilitas tanaman M1 bawang merah (Allium Ascalonicum L.) hasil induksi iradiasi sinar gamma.
J. Agro Complex. 2(1): 19-28.
Arifiana, N. B. dan N. Sjamsijah. 2017. Respon seleksi tanaman F3 pada beberapa genotipe tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merrill). J. Agriprima. 1(1): 50- 58.
Asadi. 2013. Pemuliaan mutasi untuk perbaikan terhadap umur dan produktivitas pada kedelai.
J. AgroBiogen. 9(3): 135–142.
Astuti, A. 2011. Uji daya hasil beberapa galur kedelai (Glycine max (L.) Merr) di Majalengka pada dua musim tanam. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Astutik, W., D. Rahmawati, dan N. Sjamsijah. 2017. Uji daya hasil galur MG1012 dengan tiga varietas pembanding tanaman cabai keriting (Capsicum annum L.). J. Agriprima. 2(1):
163–173.
Balitkabi. 2015. Deskripsi Varietas Unggul Kedelai. Balitkabi, Malang.
Damayanti, F. 2021. Potensi pemuliaan mutasi radiasi sebagai upaya peningkatan variasi genetik pada tanaman hias. J. EduBiologia, 1(2), 78-84.
Effendy, Respatijarti, & Waluyo, B. (2018). Keragaman genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil dan hasil ciplukan (Physalis sp.). J. Agro, 5(1), 30- 38.
Gabesius, Y. O., Siregar, L. A. M. & Husni, Y. (2012). Respon pertumbuhan dan produksi beberapa varietas kedelai (Glycine max (l.) Merrill) terhadap pemberian pupuk bokashi.
J. Online Agroekoteknologi, 1(1), 220–236.
e-ISSN: 2615-7721 Vol 6, No. 1 (2022) 976 p-ISSN: 2620-8512
Hastuti, D. P., Supriyono, dan S. Hartati. 2018. Pertumbuhan dan hasil kacang hijau (Vigna radiata, l.) pada beberapa dosis pupuk organik dan kerapatan tanam. Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture. 33(2): 89-95.
Kastono, D. 2005. Tanggapan pertumbuhan dan hasil kedelai hitam terhadap penggunaan pupuk organik dan biopestisida gulma siam (Chromolaena odorata). J. Ilmu Pertanian, 12(2): 103–116.
Kuswantoro, H., L. Ujianto, A. Sulistyo, dan R.T. Hapsari. 2016. Hasil dan komponen hasil galur-galur kedelai di dua lokasi. J. Agronomi Indonesia. 44(1): 26–32.
Kuswantoro, H., Sutrisno, dan A. Supeno. 2017. Keragaan agronomi galur-galur kedelai potensial pada dua agroekologi lahan kering masam. J. Agron Indonesia. 45(1): 23–29.
Pandiangan, D. N. dan A. Rasyad. 2017. Komponen hasil dan mutu biji beberapa varietas tanaman kedelai (Glycinemax (L.) Merril) yang ditanam pada empat waktu aplikasi pupuk nitrogen. J. Online Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Riau. 4(2): 1–14.
Purba, R. 2015. Kajian pemanfaatan amelioran pada lahan kering dalam meningkatkan hasil dan keuntungan usahatani kedelai. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia. 1(6): 1483–1486. Bandung, September 2015, p1483 – 1486.
Qosim, W. A., M. Rachmadi, J. S. Hamdani, dan I. Nuri. 2013. Penampilan fenotipik, variabilitas, dan heritabilitas 32 genotipe cabai merah berdaya hasil tinggi. J. Agronomi Indonesia. 41(2): 140–146.
Ramdhani, F., L. A. P. Putri, dan H. Hasyim. 2013. Evaluasi karakteristik beberapa varietas kedelai (Glycine max L.Merill) hasil mutasi kolkisin M2 pada kondisi naungan. J. Online Agroekoteknologi. 1(3): 453-456.
Rizqiani, Y., F. Kusmiyati, dan S. Anwar. 2018. Keragaman warna bunga M1 tanaman aster (Callistephus chinensis) hasil induksi mutasi iradiasi sinar gamma. J. Agro Complex.
2(1): 52–58.
Salimi, S. and S. Moradi. 2012. Effect the correlation, regression and path analysis in soybean genotypes (Glycine max L.) under moisture and normal condition. Intl. J. Agron. Plant.
Prod. 3(10): 447–454.
Susanto, T. dan B. Saneto. 1994. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Bina Ilmu. Surabaya.
Syukur, M., S. Sujiprihati, R. Yunianti, dan D.A. Kusumah. 2011. Pendugaan ragam genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil beberapa genotipe cabai. J. Agrivigor. 10(2):
148-156.
Wijayati, R. Y., Purwanti, dan S. Adie, M. M. 2014. Hubungan hasil dan komponen hasil kedelai (Glycine max (L.) Merr.) populasi F5. J. Vegetalika. 3(4): 88– 97.
Wulandari, D. R. dan A. N. Sugiharto. 2017. Uji daya hasil pendahuluan beberapa galur jagung manis (Zea mays L. Saccharata). J. Produksi Tanaman. 12(5): 1998–2007.