STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG RAWAT INAP
RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN PERIODE JANUARI
NAOMI INGGRID NAPITUPULU
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG RAWAT INAP
RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN PERIODE JANUARI DESEMBER 2016
SKRIPSI
OLEH :
NAOMI INGGRID NAPITUPULU 141501068
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG RAWAT INAP
RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN PERIODE JANUARI-
STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI
RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN PERIODE JANUARI
Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
NAOMI INGGRID NAPITUPULU
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG RAWAT INAP
RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN PERIODE JANUARI DESEMBER 2016
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
OLEH :
NAOMI INGGRID NAPITUPULU 141501068
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA RUANG RAWAT INAP RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN PERIODE JANUARI-
Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan anugerah dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Studi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari-Desember 2016”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Hipertensi merupakan penyebab dan komplikasi dari gagal ginjal kronik.
Hipertensi pada gagal ginjal kronik meningkatkan risiko efek samping yang penting, termasuk hilangnya fungsi ginjal dan gagal ginjal, perkembangan dini dan mempercepat perkembangan penyakit kardiovaskular, dan kematian dini.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik pasien, golongan antihipertensi yang digunakan, regimen dosis, serta rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan periode Januari-Desember 2016.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada Ibu Prof. Dr. Masfria, M.S., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi. Ibu Khairunnisa, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt., selaku pembimbing yang telah membimbing dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama penelitian hingga menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Marianne, M.Si., Apt., dan Bapak Hari Ronaldo Tanjung, M.Sc., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan, arahan, kritik dan saran
dalam penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Muchlisyam, M.Si., Apt., selaku penasehat akademik yang memberikan motivasi dan bimbingan kepada penulis serta Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama perkuliahan.
Penulis mempersembahkan rasa terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda tercinta Anggara Napitupulu, Ibunda tercinta Darmawaty Tamba, Kakak tercinta Devy Anggreni Napitupulu, S.Kep. Ns., dan Adolf Hot Asi Napitupulu, A.Md., serta adik tercinta Andreas Rionardo Napitupulu yang tiada hentinya berdoa dan berkorban dengan tulus ikhlas memberikan dukungan baik moril maupun materil selama perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, dengan itu sangat diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, 15 Oktober 2018
Penulis,
Naomi Inggrid Napitupulu NIM 141501068
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertandatangan di bawah ini,
Nama : Naomi Inggrid Napitupulu
Nomor Induk Mahasiswa : 141501068 Program Studi : Sarjana Farmasi
Judul Skripsi : Studi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari- Desember 2016.
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat adalah hasil karya sendiri dan bukan plagiat. Apabila dikemudian hari diketahui skripsi saya tersebut terbukti plagiat karena kesalahan sendiri, maka saya bersedia menerima sanksi apapun oleh Program Studi Sarjana Farmasi Fakultas Farmasi Uniersitas Sumatera Utara. Saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya perbuat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan, 28 September 2018
Naomi Inggrid Napitupulu NIM 141501068
STUDI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG RAWAT INAP RSUD Dr.
PIRNGADI KOTA MEDAN PERIODE JANUARI-DESEMBER 2016
ABSTRAK
Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyebab dan komplikasi dari gagal ginjal kronik. Hipertensi pada gagal ginjal kronik meningkatkan risiko efek samping yang penting, termasuk hilangnya fungsi ginjal dan gagal ginjal, perkembangan dini dan mempercepat perkembangan penyakit kardiovaskular, dan kematian dini. Tujuan dari terapi antihipertensi pada gagal ginjal kronik adalah untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan memperlambat perkembangan gagal ginjal kronik. Diperlukan perhatian dan penanganan yang khusus terutama pemilihan obat antihipertensi yang aman bagi ginjal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, golongan antihipertensi yang digunakan, regimen dosis, serta rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan periode Januari-Desember 2016.
Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif retrospektif.
Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dimulai tanggal 29 Januari – 28 Februari 2018 di ruang rekam medik di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dari 319 populasi pasien dengan menggunakan rumus Slovin maka didapat 76 pasien sebagai sampel penelitian.
Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki (52,6%) dan perempuan (47,4%). Pasien dengan rentang umur 46 – 55 dan 56 – 65 tahun (31,6%).
Kesimpulan: Penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah obat golongan loop diuretik yaitu furosemid (26,3%). Kombinasi antihipertensi yang paling banyak diberikan adalah obat penghambat kanal kalsium dan loop diuretik yaitu amlodipin dan furosemid sebesar 17,1%. Dosis obat antihipertensi yang diberikan kepada pasien gagal ginjal kronik sudah sesuai dengan acuan yang direkomendasikan.
Kata Kunci : Antihipertensi, Gagal Ginjal Kronik, Terapi Kombinasi, Terapi Tunggal.
STUDY OF USE OF ANTIHYPERTENSIVE MEDICINES IN PATIENTS WITH CHRONIC KIDNEY IN PIRNGADI HOSPITAL
ABSTRACT
Background: Hypertension is a cause and complication of chronic kidney disease (CKD). Hypertension in CKD increases the risk of important adverse outcomes, including loss of kidney function and kidney failure, early development and accelerated progression of cardiovascular disease (CVD), and premature death.
The goals of antihypertensive therapy in CKD are to lower blood pressure, reduce the risk of CVD, and slow progression of CKD. Special attention and handling is needed especially the selection of antihypertensive drugs that are safe for the kidneys.
Objective: This research aims to determine the characteristics of patients, the antihypertensive group used, the dosage regimen, and the rationality of the use of antihypertensive drugs in patients with CKD in Pirngadi Hospital period January- December 2016.
Method: This research was conducted using a retrospective descriptive method.
Data collection was conducted retrospectively starting on January 29th until February 28th 2018 in the medical record room at Pirngadi Hospital.
Results: The research showed that from 319 patient’s populations by using the Slovin’s formula, 76 patients were obtained as the sample. Characteristics of the patients based on gender were male (52.6%) and female (47.4%). Patients in the age range 46 - 55 and 56 - 65 years were (31.6%).
Conclusion: The most widely used antihypertensive drugs are loop diuretic drugs namely furosemide (26.3%). The most widely given antihypertensive combinations are calcium channel blockers and loop diuretics which are 17.1%
amlodipine and furosemide. The dose of antihypertensive medications given to patients with CKD is in accordance with the recommended guidelines.
Keywords: Antihypertensive, Chronic Kidney Disease, Combination Therapy, Single Therapy.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 4
1.3 Hipotesis ... 5
1.4 Tujuan Penelitian ... 5
1.5 Manfaat Penelitian ... 5
1.6 Kerangka Pikir Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Ginjal Kronik ... 7
2.1.1 Defenisi Ginjal Kronik ... 7
2.1.2 Patofisiologi Penyakit ... 8
2.1.3 Etiologi Penyakit ... 9
2.1.4 Klasifikasi Penyakit ... 10
2.1.5 Manifestasi Klinik ... 10
2.1.6 Penatalaksanaan ... 11
2.2 Hipertensi ... 12
2.2.1 Defenisi Hipertensi... 12
2.2.2 Hipertensi Primer ... 13
2.2.3 Hipertensi Sekunder ... 14
2.2.4 Hipertensi Pada Ginjal Kronik ... 14
2.3 Terapi Pengobatan ... 15
2.3.1 Terapi Non Farmakologi ... 15
2.3.2 Terapi Obat Antihipertensi ... 16
2.3.2.1 Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor ... 16
2.3.2.2 Angiotensin Receptor Blocker ... 17
2.3.2.3 Diuretik ... 17
2.3.2.4 Calcium Channel Blocker ... 19
2.3.2.5 Beta Blocker ... 20
BAB III METODE PENELITIAN ... 21
3.1 Jenis Penelitian ... 21
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21
3.3 Populasi dan Sampel ... 21
3.3.1 Populasi ... 21
3.3.2 Sampel ... 22
3.4 Instrumen Penelitian ... 22
3.4.1 Sumber Data ... 22
3.4.2 Teknik Pengambilan Data ... 22
3.5 Analisis Data ... 22
3.6 Defenisi Operasional ... 23
3.7 Langkah Penelitian ... 23
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25
4.1 Karakteristik dan Distribusi Data Pasien ... 25
4.2 Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi ... 28
4.3 Dosis Obat Antihipertensi ... 33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 36
5.1 Kesimpulan ... 36
5.2 Saran ... 36
DAFTAR PUSTAKA ... 37
DAFTAR TABEL
4.1 Karakteristik Umur Pasien ... 26
4.2 Karakteristik Jenis Kelamin Pasien ... 27
4.3 Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi ... 28
4.4 Dosis Obat Antihipertensi ... 33
DAFTAR GAMBAR
1.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian ... 6
DAFTAR LAMPIRAN
1. Catatan Penggunaan Obat Antihipertensi ... 40
2. Surat Penunujukkan Dosen Pembimbing dan Judul Penelitian ... 49
3. Surat Permohonan Izin Penelitian dari Fakultas ... 50
4. Surat Izin Pengambilan Data Awal Penelitian ... 51
5. Surat Persetujuan Komisi Etik Penelitian Kesehatan ... 52
6. Surat Telah Selesai Melaksanakan Penelitian ... 53
7. Surat Perubahan Judul Penelitian ... 54
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular dimana penderita memiliki tekanan darah diatas normal. Penyakit ini diperkirakan telah menyebabkan peningkatan angka morbiditas secara global sebesar 4,5%, dan prevalensinya hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara maju.
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab gangguan jantung.
Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat juga berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular.
Penyakit ini seringkali disebut silent killer karena tidak adanya gejala dan tanpa disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital. Penyakit ini menyebabkan tingginya biaya pengobatan dikarenakan alasan tingginya angka kunjungan ke dokter, perawatan di rumah sakit dan penggunaan obat jangka panjang (Depkes, 2006).
Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 tercatat mencapai 25,8% dari populasi penduduk Indonesia pada usia 18 tahun ke atas, dan dari jumlah tersebut 60% penderita hipertensi akan menderita stroke, sementara sisanya akan mengalami gangguan jantung, gagal ginjal dan kebutaan.
Hipertensi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama akan berbahaya sehingga menimbulkan komplikasi. Komplikasi dapat menyerang berbagai target organ tubuh yaitu otak, mata, jantung, pembuluh darah arteri, serta ginjal. Komplikasi
hipertensi menyebabkan kualitas hidup penderita menjadi rendah dan kemungkinan terburuknya adalah kematian (Prasetyorini, 2012).
Pasien hipertensi banyak ditemukan di masyarakat dan sekalipun telah diterapi masih banyak yang tekanan darahnya tidak terkontrol. Hal ini disebabkan karena kombinasi obat yang tidak sesuai dan banyak obat-obat yang mempunyai efek samping dan kontraindikasi. Sehingga diperlukan obat antihipertensi yang dapat digunakan oleh pasien hipertensi yang dapat ditoleransi dengan baik dan mempunyai efek samping yang minimal sehingga ketaatan pemakaiannya juga lebih baik (Tessy, 2010).
Ginjal memiliki 2 juta nefron yang dalam kondisi normal bekerja untuk menyaring, menyerap dan mengeluarkan berbagai zat terlarut dan air. Ginjal adalah regulator utama keseimbangan natrium dan air, dan juga homeostasis asam-basa. Ginjal juga memproduksi hormon yang diperlukan untuk sintesis sel darah merah dan homeostasis kalsium (Derebail dkk., 2011).
Hipertensi merupakan faktor pemicu terjadinya penyakit ginjal akut serta chronic kidney disease (CKD) karena dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dalam ginjal sehingga mengurangi kemampuan ginjal untuk memfiltrasi darah dengan baik (Guyton dan Hall, 2006).
Penyakit ini menyebabkan berkurangnya ekskresi obat maupun metabolitnya yang aktif melalui ginjal, sehingga dapat meningkatkan kadarnya dalam darah dan jaringan, dan juga menimbulkan respon yang berlebihan atau efek toksik. Di samping itu, penurunan fungsi ginjal juga dapat mengurangi ikatan protein plasma (oleh adanya peningkatan kadar ureum dan asam lemak bebas dalam darah) dengan obat sehingga meningkatkan kadar obat bebas dalam darah,
mengubah keseimbangan elektrolit dari asam-basa, meningkatkan sensitivitas atau respon jaringan terhadap beberapa obat, dan mengurangi atau menghilangkan efektivitas beberapa obat (Setiyawati dan Sulistia, 2011). Jika seseorang mengalami tekanan darah yang tinggi dan tidak terkontrol dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan pembuluh darah ginjal menyempit sehingga fungsi ginjal terganggu, dan akan lebih cepat mengalami kemunduran jika terjadi hipertensi berat (Wilson, 2003).
Hipertensi merupakan salah faktor pemicu terjadinya penyakit ginjal akut serta penyakit ginjal kronis (CKD) karena menyebabkan kerusakan pembuluh darah dalam ginjal sehingga mengurangi kemampuan ginjal untuk memfiltrasi darah dengan baik sehingga terjadi penumpukan cairan (Guyton dan Hall, 2006).
Penumpukan cairan dalam sirkulasi menyebabkan peningkatan tekanan darah. Hal ini terjadi karena orang yang mengalami gangguan fungsi ginjal tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.
Tujuan dari pengobatan hipertensi pada penyakit gagal ginjal kronik adalah untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan resiko terjadinya cardio vaskular disease (CVD) pada pasien dengan atau tanpa hipertensi (NKF, 2007).
Obat Antihipertensi mempunyai jalur eliminasi melalui ginjal. Pada kondisi gagal ginjal, obat antihipertensi dapat menyebabkan penumpukan pada ginjal sehingga bisa memperburuk fungsi ginjal.
Oleh karena itu diperlukan perhatian dan penanganan yang khusus terutama pemilihan obat antihipertensi yang aman bagi ginjal. Obat-obat golongan Inhibitor ACE-I dan ARB atau kombinasi keduanya yang dapat menurunkan
tekanan darah dan mengurangi tekanan intraglomerular (Dipiro, 2008).
Penggunaan obat yang rasional sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan terapi (Suyono, 2005).
Peresepan untuk penderita dengan gagal ginjal memerlukan pengetahuan mengenai fungsi hati dan ginjal penderita, riwayat pengobatan, metabolisme dan aktivitas obat, lama kerja obat, serta cara ekskresinya. Perubahan dosis obat yang sering dijumpai adalah penurunan dosis atau perpanjangan interval pemberian obat atau gabunngan keduanya (Kenward dan Tan, 2003).
Penelitian yang sama tentang studi penggunaan obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik telah dilakukan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado menunjukkan bahwa golongan obat antihipertensi kelompok terapi tunggal yang paling banyak digunakan adalah calcium channel bloker (CCB) sebanyak 58,3% dan golongan antihipertensi kelompok terapi kombinasi yang paling banyak digunakan adalah Diuretik dan CCB (Muchtar dkk., 2015).
Banyaknya jumlah penderita hipertensi dengan gangguan ginjal serta risiko kesalahan dalam pemilihan obat untuk terapi hipertensi dengan gagal ginjal sering kali terjadi, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui yang dilaksanakan di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana karakteristik pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota
Medan Periode Januari-Desember 2016?
b. Apa golongan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari- Desember 2016?
c. Bagaimana regimen dosis obat antihipertensi yang diberikan pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan?
1.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah :
a. Karakteristik pasien gagal ginjal kronik yang menjalani perawatan adalah meliputi umur dan jenis kelamin
b. Penggunaan obat antihipertensi yang tergolong baik digunakan pada pasien gagal ginjal kronik.
c. Regimen dosis antihipertensi yang diberikan pada pasien gagal ginjal kronik sudah sesuai dengan acuan.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
a. Karakteristik pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari-Desember 2016.
b. Golongan obat antihipertensi yang digunakan pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari-Desember 2016.
c. Rasionalitas dosis obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat, antara lain untuk :
a. Peneliti, diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti.
b. Rumah Sakit, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian evaluasi bagi Rumah Sakit terhadap penggunaan antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik
c. Masyarakat, menjadi bahan informasi mengenai penyakit gagal ginjal kronik khususnya mengenai terapi obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
1.6 Keranga Pikir Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan obat antihipertensi bagi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani perawatan di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan periode Januari-Desember 2016. Kerangka pikir penelitian ditunjukkan pada Gambar 1.1 dibawah ini:
Parameter Pengamatan Variabel Pengamatan
Gambar 1.1 Skema Parameter Pengamatan Pasien Ginjal Kronik dengan
karakteristik:
Umur
Jenis Kelamin
Penggunaan Obat
Antihipertensi pada pasien ginjal kronik.
Data Penggunaan Obat:
Golongan Obat Antihipertensi
Jenis Obat Antihipertensi Dosis Obat Antihipertensi
Rasionalitas Penggunaan Antihipertensi
- Sesuai - Tidak Sesuai
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ginjal Kronik
2.1.1 Defenisi Ginjal Kronik
Penyakit Ginjal Kronis (PGK) adalah gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible dimana ginjal gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, yang menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). PGK ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible pada suatu derajat atau tingkatan yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Smeltzer dkk., 2010).
Penyakit ginjal kronis (PGK) didefinisikan sebagai penurunan progresif lambat dalam laju filtrasi glomerulus (GFR) selama berbulan-bulan atau bertahun- tahun. Hal ini berbeda dengan gagal ginjal akut (GGA) di mana GFR menurun secara tiba-tiba dalam waktu singkat dan berkurang selama berhari-hari sampai berminggu-minggu. Istilah "insufisiensi ginjal kronik" kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada tahap awal PGK (kreatinin serum <5 mg / dl). Gagal ginjal akut dengan adanya PGK dapat terjadi ketika ginjal yang mengalami gangguan kronis mengalami penghinaan akut seperti dehidrasi, hipotensi, hipertensi yang tidak terkontrol, nefrotoksin, uropati obstruktif, dan infeksi. Sedangkan GGA biasanya reversibel jika pasien bertahan terhadap penyakit yang mendasari, PGK umumnya progresif (Venkat, 1987).
Prevalensi penyakit ginjal kronis (CKD) meningkat seiring dengan usia dan lebih besar pada wanita dan beberapa populasi etnis. CKD diklasifikasikan
berdasarkan tingkat keparahan dari 1 hingga 5, di mana 5 adalah yang paling maju dan 1 paling sedikit. CKD 1–3 sering terjadi dan tidak menyebabkan gejala. Ini bisa berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir tetapi sering tetap stabil selama bertahun-tahun. CKD merupakan faktor risiko penting untuk penyakit kardiovaskular. Karena CKD menjadi lebih maju (tahap 4 dan 5), hampir semua sistem tubuh terpengaruh. Tanda-tanda klinis dan gejala CKD berat termasuk edema, anemia, hipertensi, nyeri tulang, nokturia, perubahan neurologis dan gangguan fungsi otot.
Tujuan pengobatan adalah untuk membalikkan atau menahan proses yang bertanggung jawab untuk CKD, mengurangi gejala dan mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut, kontrol tekanan darah yang memadai dan pengurangan proteinuria sangat penting (Marriott, 2012).
Terapi penggantian ginjal (dialisis atau transplantasi) untuk menghindari uremia yang mengancam nyawa. Uremia adalah sindrom klinis dan laboratorium, yang mencerminkan disfungsi semua sistem organ sebagai akibat dari gagal ginjal akut atau kronis yang tidak diobati atau tidak terobati. Berikan kapasitas ginjal untuk mendapatkan kembali fungsi setelah cedera akut, sebagian besar (> 90%) pasien dengan ESRD telah mencapai keadaan ini sebagai akibat dari PGK (Skorecki dkk., 2001).
2.1.2 Patofisiologi Penyakit Ginjal Kronik
Ginjal merupakan pengatur utama natrium, keseimbangan air, serta homeostasis asam-basa. Ginjal juga memproduksi hormon yang diperlukan untuk sintesis sel darah merah dan homeostasis kalsium (Derebail dkk., 2011).
Patofisiologi penyakit ginjal kronik pada awalnya tergantung pada penyakit yang mendasarinya, tapi dalam perkembangan selanjutnya proses yang terjadi kurang lebih sama. Pengurangan massa ginjal mengakibatkan hipertrofi struktural dan fungsional nefron yang masih tersisa (surviving nephrons) sebagai upaya kompensasi, yang diperantarai oleh molekul vasoaktif seperti sitokin dan growth factors. Hal ini mengakibatkan terjadinya hiperfiltrasi, yang diikuti oleh peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Proses adaptasi ini berlangsung singkat, akhirnya diikuti oleh proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang masih tersisa. Proses ini akhirnya diikuti dengan penurunan fungsi nefron yang progresif, walaupun penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi. Adanya peningkatan aktivitas aksis renin-angiotensin-aldosteron intrarenal, ikut memberikan kontribusi terhadap terjadinya hiperfiltrasi, sklerosis dan progresifitas tersebut. Aktivasi jangka panjang aksis renin-angiotensin-aldosteron, sebagian diperantarai oleh growth factor seperti transforming growth factor β (TGF-β). Beberapa hal yang juga dianggap berperan terhadap terjadinya progresifitas. Penyakit ginjal kronik adalah albuminuria, hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia. Terdapat variabilitas interindividual untuk terjadinya sklerosis dan fibroisis glomerulus maupun tubulointerstisial (Suwitra, 2010).
2.1.3 Etiologi Penyakit
Hipertensi telah diakui sebagai faktor utama yang bertanggung jawab untuk penurunan fungsi ginjal pada pasien dengan penyakit ginjal diabetes dan nondiabetes. Di sisi lain, di antara pasien dengan penyakit ginjal kronis (PGK), tekanan darah tinggi dapat berkembang lebih awal selama perjalanan penyakit dan berkontribusi terhadap hasil yang merugikan. Dengan demikian, hipertensi dapat
menjadi penyebab atau konsekuensi dari PGK. Kontrol tekanan darah merupakan komponen integral dalam perawatan pasien PGK, dan relevan pada semua tahap penyakit, terlepas dari penyebab yang mendasari (Abraham dkk., 2017).
Hipertensi adalah penyebab umum dari PGK pada orang tua, di antaranya iskemia ginjal kronis karena penyakit renovaskular mungkin merupakan kontribusi tambahan yang tidak dikenali untuk proses patofisiologi (Skorecki dkk., 2001).
2.1.4 Klasifikasi Penyakit
Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan penyakit ginjal yang ditandai dengan penurunan nilai laju filtrasi glomerulus atau Glomerular Filtration Rate (GFR) selama tiga bulan atau lebih. Menurut (Derebail dkk., 2011), klasifikasi CKD berdasarkan nilai GFR dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Klasifikasi PGK Berdasarkan Nilai GFR
Stage Deskripsi GFR (ml/min per 1.73m2)
1 Kerusakan ginjal dengan GFR normal >90 2 Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR
ringan
60 – 89
3 Penurunan GFR sedang 30 – 59
4 Penurunan GFR berat 15 – 20
5 Gagal ginjal <15 (atau dialisis)
Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa
Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi Stage 1 140 – 159 90 – 99
Hipertensi Stage 2 ≥160 ≥100
(Tjay dan Kirana, 2013) 2.1.5 Manifestasi Klinik Gagal Ginjal Kronik
Sementara gejala uremik jarang terjadi di PGK stadium 4, mereka menjadi lebih jelas ketika pasien mendekati penyakit ginjal stadium akhir. Permulaan
gejala lambat dan membahayakan sehingga pasien mungkin tidak menyadari bahwa mereka tidak sehat. Tidak jarang pasien muncul pada penyakit ginjal tahap akhir dan memerlukan dialisis segera pada kontak pertama mereka dengan profesi medis (Mariott, 2012).
Penyakit ginjal stadium akhir ditandai dengan kebutuhan terapi pengganti ginjal untuk mempertahankan hidup dan sering disertai dengan uraemia, anemia, asidosis, osteodistrofi, neuropati dan sering disertai dengan hipertensi, retensi cairan dan kerentanan terhadap infeksi. Ini hasil dari penurunan yang signifikan dalam fungsi ekskretoris, homeostatik, metabolik dan endokrin ginjal yang terjadi selama beberapa bulan atau tahun (Mariott, 2012).
2.1.6 Penatalaksanaan Ginjal Kronik
Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik meliputi:
1. terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya
2. pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid (comorbid condition) 3. memperlambat pemburukan (progression) fungsi ginjal
4. pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular 5. pencegahan dan terapi terhadap komplikasi
6. terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Suwitra, 2010).
Penatalaksanaan konservatif terdiri dari 3 strategi. Pertama adalah usaha- usaha untuk memperlambat laju penurunan fungsi ginjal. Kedua adalah mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut. Ketiga adalah pengelolaan berbagai masalah yang terdapat pada pasien dengan gagal ginjal kronik dan komplikasinya. Adapun penyebab gagal ginjal kronik, penurunan progresif fungsi ginjal akan berlanjut
sampai tahap uremia atau terminal. Penatalaksanaan konservatif gagal ginjal kronik lebih bermanfaat bila penurunan faal ginjal masih ringan (Suhardjono dkk., 2001).
2.2 Hipertensi
2.2.1 Defenisi Hipertensi
Hipertensi adalah salah satu penyakit dengan kondisi medis yang beragam.
Kebanyakan pasien hipertensi etiologi patofisiologinya tidak diketahui atau yang dikenal sebagai hipertensi primer (Depkes RI, 2006).
Tekanan darah arteri diatur dalam kisaran yang sempit untuk menyediakan perfusi jaringan yang adekuat tanpa menyebabkan kerusakan sistem vaskular, khususnya intima arteri (endothelium). Tekanan darah arteri secara langsung sebanding terhadap produk curah jantung dan resistensi vaskular perifer. Curah jantung dan resistensi vaskular perifer terumata dikendalikan oleh dua mekanisme yang saling tumpang tindih: barorefleks, yang diperantarai oleh sistem saraf simpatis dan sistem renin-angiotensin-aldosteron. Sebagian besar obat antihipertensi menurunkan tekanan darah dengan cara menurunkan curah jantung dan/atau menurunkan resistensi perier (Champe, 2013).
Klasifikasi tekanan darah yang telah dirilis oleh JNC III pada tahun 2013 masih merujuk klasifikasi tekanan darah JNC VII. Tetapi, manajemen terapi hipertensi dalam JNC VIII lebih berdasarkan Evidence Based Medicine (EBM), komplikasi penyakit, ras dan riwayat penderita. Target tekanan darah pada manajemen terapi hipertensi dalam JNC VIII bergantung pada komplikasi penyakit penderita (James dkk., 2014). Klasifikasi tekanan darah menurut JNC VII 2003 dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Klasifikasi tekanan darah berdasarkan JNC VII
Klasifikasi Tekanan Sistolik (mmHg) Tekanan Diastolik (mmHg)
Normal <120 <80
Pre Hipertensi 120-139 80-89
Stage I 140-159 90-99
Stage II ≥160 ≥100
(Chobanian dkk., 2003).
Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam.
Berdasarkan etiologi patofisiologinya hipertensi dapat dibedakan menjadi hipertensi primer (essensial) yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol dan kelompok penderita hipertensi lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab yang khusus yang dikenal sebagai hipertensi sekunder (non essensial). Banyak faktor penyebab hipertensi sekunder, endogen maupun eksogen. Bila penyebab penderita hipertensi sekunder dapat diidentifikasi maka kemungkinan dapat disembuhkan secara potensial (Depkes RI, 2006).
2.2.2 Hipertensi Primer
Hipertensi primer juga disebut hipertensi essesial atau hipertensi idiopatik (Bowman dan Rand, 1980). Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi primer.
Penyebab multifaktorial meliputi faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik mempengaruhi kepekaan terhadap natrium, kepekaan terhadap stress, reaktivitas pembuluh darah terhadap vasokonstriktor, resistensi insulin dan lain-lain.
Sedangkan yang termasuk faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan merokok, stress emosi, obesitas dan lain-lain (Nafrialdi, 2007).
Beberapa mekanisme yang mungkin berkontribusi untuk terjadinya hipertensi ini telah diidentifikasi, namun belum satupun teori yang tegas menyatakan pathogenesis hipertensi primer tersebut. Hipertensi sering turun temurun dalam satu keluarga, hal ini setidaknya menunjukkan bahwa faktor
genetik memegang peranan penting pada patogenesis hipertensi primer (Depkes RI, 2006).
2.2.3 Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder meliputi 5 – 10 % kasus hipertensi, termasuk dalam kelompok ini antara lain hipertensi akibat penyakit ginjal (hipertensi renal), hipertensi endokrin, kelainan saraf pusat, obat-obatan dan lain-lain (Nafrialdi, 2007). Penyakit ginjal merupakan penyebab penyakit hipertensi sekunder yang paling sering. Obat – obatan tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah. Apabila penyebab sekunder dapat diidentifikasi, maka dengan menghentikan obat yang bersangkutan atau mengobati atau mengoreksi kondisi penyakit lain yang menyertainya merupakan tahap pertama dalam penanganan hipertensi sekunder (Depkes RI, 2006).
2.2.4 Hipertensi pada Ginjal Kronik
Penyakit ginjal dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dan sebaliknya hipertensi dalam jangka waktu lama dapat menngganggu ginjal. Beratnya pengaruh hipertensi pada ginjal tergantung dari tingginya tekanan darah dan lamanya menderita hipertensi. Makin tinggi tekanan darah dalam waktu lama makin berat komplikasi yang dapat ditimbulkan (Tessy, 2010).
Hipertensi, gagal ginjal berlangsung, hipertensi karena garam dan retensi air biasanya berkembang. Karena hipertensi dapat mempercepat perkembangan gagal ginjal, kontrol tekanan darah yang teliti diperlukan. Kontrol hipertensi dapat dicapai dengan pembatasan garam dan air serta terapi antihipertensi.Kapasitas ginjal untuk menyesuaikan variasi natrium dan asupan air menjadi terbatas saat
gagal ginjal berlangsung. Asupan natrium klorida yang terlalu tinggi menyebabkan retensi natrium dan gagal jantung kongestif, edema, dan hipertensi.
Asupan garam yang terlalu rendah menyebabkan kontraksi volume dan hipotensi (Tierney Jr dkk., 1997).
Tekanan darah yang tidak terkontrol dalam jangka waktu lama dapat menaikkan tekanan intraglomerular yang dapat menyebabkan jumlah protein di dalam urin (mikroalbuminuria atau proteinuria). Mikroalbuminuria adalah tanda utama dari penyakit CKD (Ricchetti dan Leticia, 2012).
Fungsi ginjal akan lebih cepat mengalami kemunduran jika terjadi hipertensi berat. Selain itu, komplikasi ekstrarenal (misal, retinopati dan ensefalopati) juga dapat terjadi. Biasanya hipertensi dapat dikontrol secara efektif dengan pembatasan natrium dan cairan, serta melalui ultrafiltrasi bila penderita sedang menjalani hemodialisis, karena lebih dari 90% hipertensi bergantung pada volume (Wilson, 2003).
2.3 Terapi Pengobatan 2.3.1 Terapi Non Farmakologi
Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan merokok, menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol berlebih, asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur.
1. Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih: peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi.
2. Meningkatkan aktifitas fisik: orang yang aktivitasnya rendah berisiko
terkena hipertensi 30-50% daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.
3. Mengurangi asupan natrium
4. Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol: kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi (Nuraini, 2015).
2.3.2 Terapi Obat Antihipertensi
2.3.2.1 Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor
ACE-Inhibitor menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II yang memiliki sifat vasokonstriktor sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron. Selain itu, degradasi bradikinin juga dihambat sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat dan berperan dalam efek vasodiltasi ACE- inhibitor. Vasodilatasi secara langsung akan menurunkan tekanan darah, sedangkan berkurangnya aldosteron akan menyebabkan ekskresi air dan natrium dan retensi kalium. Contoh obat golongan ini adalah Captopril, Ramipril, dan Elanapril (Nafrialdi, 2011).
Di ginjal, ACE-Inhibitor menyebabkan vasodilatasi arteri renalis sehingga meningkatkan aliran darah ginjal dan secara umum akan memperbaiki laju filtrasi glomerulus. Pada sirkulasi glomerulus, ACE-Inhibitor menimbulkan vasodilatasi lebih dominan pada arteriol eferen dibanding dengan arteriol aferen sehingga menurunkan tekanan intraglomerular. Efek ini dimanfaatkan untuk mengurangi proteinuria pada diabetes nefropati dan sindrom nefrotik dan juga memperlambat
perkembangan diabetes nefropati (Nafrialdi, 2011).
2.3.2.2 Angiotensin Receptor Blocker (ARB)
Obat golongan ini bersifat antagonis terhadap angiotensin II, sehingga memiliki mekanisme kerja yakni menduduki reseptor angiotensin II yang memiliki sifat vasokonstriksi. Oleh karena itu, tekanan darah dapat diturunkan.
Contoh obat golongan ini adalah Valsartan, Candesartan, Losartan, dan Irbesartan.
ARB sangat efektif menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan kadar renin yang tinggi tapi kurang efektif pada pasien hipertensi dengan kadar renin yang rendah (Nafrialdi, 2011).
ARB sering efektif ketika digunakan sendiri, dan mereka dapat dikombinasikan dengan diuretik atau agen antihipertensi lainnya ketika pengurangan tekanan darah yang lebih besar diperlukan. Beberapa penelitian menunjukkan manfaat menggabungkan inhibitor ACE dengan ARB pada pasien berisiko tinggi dengan nefropati diabetik atau kondisi lainnya (Brenner dan Craig, 2010).
2.3.2.3 Diuretik
Hipertensi sering terjadi pada pasien dengan PGK dan berkontribusi terhadap kerusakan ginjal progresif dan penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, pengendalian tekanan darah merupakan aspek penting dari penatalaksanaan pasien-pasien ini. Karena kelebihan garam dan air adalah faktor utama yang menyebabkan hipertensi pada populasi ini, diet pembatasan garam dan diuretik harus menjadi langkah terapi awal.
Tiazid dan chlorthalidone umumnya tidak efektif ketika bersihan kreatinin kurang dari 30 ml / menit. Diuretik hemat kalium sebaiknya dihindari pada pasien
dengan insufisiensi ginjal karena risiko hiperkalemia. Loop diuretik (furosemide, asam ethacrynic, atau bumetanide) dan metozalone adalah satu-satunya diuretik yang efektif pada pasien dengan gagal ginjal yang signifikan, tetapi dosis obat ini perlu ditingkatkan pada pasien tersebut (Venkat, 1987).
Diuretik kuat bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit Na+/K+/Cl- di ansa henle asendens bagian epitel tebal, dimana tempat kerjanya berada di permukaan sel epitel bagian luminal. Perubahan hemodinamik ini akan menyebabkan turunnya reabsorpsi cairan dan elektrolit di tubuli proksimal dan meningkatkan efek awal diuresis sehingga tekanan darah dapat menurun. Efek diuretiknya lebih kuat daripada golongan tiazid. Oleh karena itu, diuretik kuat jarang digunakan sebagai antihipertensi, kecuali pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin >2,5mg/dL). Contoh obat golongan ini adalah Furosemid dan Bumetanid (Nafrialdi, 2011).
Loop diuretic bekerja segera, bahkan pada pasien dengan fungsi ginjal yang buruk atau yang tidak berespons terhadap tiazid atau diuretik lainnya. Loop diuretic dapat menyebabkan penurunan resistensi vaskular ginjal dan peningkatan aliran darah (Champe, 2013). Loop diuretik sangat berguna ketika mengobati edema dan tekanan darah tinggi pada pasien CKD 4-5 sebagai tambahan atau sebagai alternatif untuk diuretik tiazid (KDIGO, 2012).
Diuretik hemat-kalium menurunkan absorpsi Na+ pada tubulus dan duktus pengumpul. Absorpsi Na+ (dan sekresi K+) pada tempat tersebut dan duktus aldosterone. Pada tiap laju penghantaran Na+, laju sekresi K+ di distal secara positif berkaitan dengan kadar aldosterone. Seperti yang diuraikan di depan, aldosterone meningkatkan kadar sekresi K+ dengan meningkatkan aktivitas Na+/
K+ ATPase dan aktivitas kanal Na+. Absorpsi Na+ pada tubulus pengumpul menyebabkan potensial elektris negative-lumen, yang menyebabkan peningkatan sekresi K+. Antagonis aldosterone berpengaruh dalam proses tersebut. Efek yang serupa teramati dengan memperhatikan pengelolaan H+ oleh tubulus pengumpul, pada bagian tersebut menjelaskan asidosis metabolik yang terjadi pada penggunaan antagonis aldosterone (Ives, 2001).
Spironolakton mengikat reseptor mineralcorticoid sitoplasmik dan mencegah translokasi kompleks reseptor menuju nukleus. Obat tersebut dapat pula menurunkan pembentukan metabolit aktif aldosterone intraseluler dengan penghambatan aktivitas reduktase-5a (Ives, 2016).
Spironolakton, antagonis aldosteron, tidak cocok untuk terapi lini pertama tetapi merupakan pilihan pengobatan yang semakin penting untuk pasien dengan hipertensi resisten. Di mana hyperaldosteronism dicurigai, spironolactone mungkin terbukti efektif (Dyker, 2012).
2.3.2.4 Calcium Channel Blocker
Pada otot jantung dan otot polos vaskular, kalsium berperan dalam peristiwa kontraksi. Pada otot jantung mamalia, masuknya Ca2+ ke dalam sel akan meningkatkan kontraktilitas dari otot jantung melalui peristiwa repolarisasi dan depolarisasi sel. Ion Ca2+ masuk ke dalam sel melalui sebuah kanal. Obat golongan calcium channel blocker akan menghambat masuknya ion Ca2+ ke dalam sel sehingga kontraktilitas tidak terjadi. Selain itu, obat golongan ini juga memiliki efek lainnya seperti meningkatkan sedikit konsumsi oksigen pada jantung sebagai kompensasi akibat penurunan tekanan darah dan denyut jantung.
Contoh obat golongan ini adalah Nifedipin dan Amlodipin (Suyatna, 2011).
Efek samping yang paling umum dari CCB adalah sakit kepala, edema perifer, bradikardia, dan konstipasi (terutama dengan verapamil pada orang tua).
Zat-zat dihydropyridine-nifedipine, nicardipine, isradipine, felodipine, nisoldipine, dan amlodipine lebih mungkin menghasilkan gejala-gejala vasodilatasi, seperti sakit kepala, flushing, palpitasi, dan edema perifer. Edema diminimalisir dengan pemberian bersama ACE inhibitor atau ARB. Calcium channel blocker memiliki efek inotropik negatif dan harus digunakan dengan hati- hati pada pasien dengan disfungsi jantung. Amlodipine adalah satu-satunya blocker saluran kalsium dengan keamanan yang ditetapkan pada pasien dengan gagal jantung berat (Sutters, 2017).
2.3.2.5 Beta Blocker
Beta Blocker menghambat secara kompetitif efek obat adrenergik, baik Nonephineprin dan Ephineprin endogen maupun obat adrenergik eksogen, pada adrenoreseptor-β. Efek terhadap sistem kardiovaskuler merupakan efek Beta Blocker yang terpenting, terutama akibat kerjanya pada jantung. Beta blocker mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas miokard. Disamping itu, hambatan sekresi renin dari ginjal melalui reseptor β1 juga menimbulkan efek hipotensif.
Sebagian sekresi renin akibat diet rendah natrium juga diblok oleh Beta Bloker.
Contoh obat ini adalah Propanolol, Bisoprolol, dan Atenolol (Setiyawati dan Sulistia, 2011).
Antagonis reseptor β biasanya tidak menyebabkan retensi garam dan air, dan pemberian diuretik tidak diperlukan untuk menghindari edema atau pengembangan toleransi. Namun, diuretik memang memiliki efek antihipertensi tambahan ketika dikombinasikan dengan β blocker (Brunton, 2008).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah metode survei deskriptif yang dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medis pasien ginjal kronik RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan selama tahun 2016.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di ruang rekam medis RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan, pada tanggal 29 Januari – 28 Februari 2018.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi yang dimaksud di dalam penelitian ini adalah data rekam medis pasien penderita CKD di ruang rawat inap RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
Sampel yang diambil haruslah memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi.
Kriteria Inklusi adalah:
a. Pasien dengan diagnosa utama ginjal kronik dengan komplikasi hipertensi.
b. Pasien ginjal kronik yang menerima terapi obat antihipertensi.
Kriteria Eksklusi adalah:
a. Pasien ginjal kronik yang tidak menerima terapi obat antihipertensi.
b. Pasien yang rekam mediknya tidak lengkap.
3.3.2 Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana (Simple Random Sampling) dimana semua anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010).
Untuk jumlah sampel, peneliti menggunakan rumus Slovin (Sevilla, 1993).
Sampel penelitian adalah objek yang diteliti dan dapat mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Sampel dalam penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi.
3.4 Instrumen Penelitian 3.4.1 Sumber Data
Sumber data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa rekam medis pasien penderita ginjal kronik di ruang rawat inap RSUD Dr.
Pirngadi Kota Medan periode Januari-Desember 2016.
3.4.2 Teknik Pengambilan Data
Data yang dikumpulkan merupakan data dari rekam medis yang menuliskan obat antihipertensi untuk pasien ginjal kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan periode Januari-Desember 2016.
3.5 Analisis Data
Data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan menggunakan program Microsoft Excel, kemudian disajikan dalam bentuk persentase, nilai rata-rata dan tabel.
3.6 Defenisi Operasional
1. Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah suatu keadaan hilangnya fungsi ginjal yang progresif yang terjadi selama bulan hingga tahun dan ditandai dengan penurunan nilai GFR dan peningkatan nilai kreatinin.
2. Rekam medik adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang data subjektif pasien, data objektif pasien, penatalaksanaan dan pelayanan
lain kepada pasien di sarana pelayanan kesehatan.
3. Data subjektif pasien adalah data yang diperoleh dari pasien melalui anamnese berdasarkan sudut pandang pasien.
4. Data objektif pasien adalah data yang diperoleh dari suatu pengukuran dan pemeriksaan yang memenuhi standar yang diakui.
5. Penatalaksanaan adalah tindakan, proses dan cara pelayanan kesehatan yang diberikan pada pasien untuk menangani suatu fenomena kesehatan, dalam penelitian ini adalah gagal ginjal kronik.
6. Usia adalah total lama waktu hidup objek sejak tanggal kelahiran hingga saat dilakukan pengobatan gagal ginjal kronik di rumah sakit.
7. Jenis Kelamin merupakan petanda gender seseorang yaitu laki-laki dan perempuan diukur secara nominal.
8. Derajat Penyakit di kelompokan menjadi 5 derajat, dikelompokan atas penurunan faal ginjal berdasarkan LFG.
9. Golongan Obat adalah penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat.
10. Antihipertensi adalah obat–obatan yang digunakan untuk mengobati hipertensi.
3.7 Langkah Penelitian
Adapun pengambilan data untuk mengumpulkan data rekam medis pasien adalah:
1. Meminta rekomendasi dari dekan Fakultas Farmasi USU untuk dapat melakukan penelitian di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
2. Menghubungi kepala bidang pendidikan dan penelitian RSUD Dr.
Pirngadi Kota Medan untuk mendapatkan izin melakukan penelitian dengan membawa surat rekomendasi dari fakultas.
3. Mengumpulkan semua data rekam medis yang masuk dari bulan Januari- Desember 2016.
4. Memilih data rekam medis yang sesuai kriteria inklusi.
5. Menganalisis data dan informasi yang diperoleh sehingga didapatkan kesimpulan dari penelitian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik dan Distribusi Data Pasien Penderita Ginjal Kronik
Proses pengolahan data dilakukan menyeleksi subjek penelitian yang telah dikumpulkan. Subjek penelitian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan sebelumnya. Data subjek penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi adalah nomor rekam medik pasien, usia, jenis kelamin, dan data penggunaan obat antihipertensi.
Sampel pada penelitian ini adalah pasien ginjal kronik di ruang rawat inap RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan selama periode Januari-Desember 2016. Untuk jumlah sampel, peneliti menggunakan rumus Slovin (Sevilla, 1993), yakni:
n= N 1+N ×e2
n= 319
1+319 ×(10%)2 = 76,1≈76
Berdasarkan rumus Slovin, didapatkan 76 rekam medis pasien yang digunakan sebagai sampel. Oleh karena itulah, penulis hanya menggunakan 76 rekam medis pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi untuk menjadi sampel yang dianggap mewakili seluruh populasi dari penelitian.
Data subjek penelitian yang diambil lalu didistribusikan berdasarkan karakteristik yang sama antara semua pasien, yakni usia, jenis kelamin, derajat penyakit dan lama perawatan. Data tersebut lalu disajikan dalam bentuk tabel yang dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Karakteristik umur pasien ginjal kronik (N=76) di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan periode Januari – Desember 2016
Rentang Umur Jumlah Pasien Persentase (%)
17 – 25 4 5,3
26 – 35 3 3,9
36 – 45 11 14,5
46 – 55 24 31,6
56 – 65 24 31,6
>65 10 13,1
Total 76 100
Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa rentang umur 46 – 55 sebanyak 24 orang (31,6%), umur 56 – 65 sebanyak 24 orang (31,6%), umur diatas 65 tahun sebanyak 10 orang (13,1%). Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambahnya usia, semakin berkurang fungsi ginjal yang disebabkan oleh penurunan kecepatan ekskresi glomerulus dan penurunan fungsi tubulus pada ginjal. Pada usia lanjut, fungsi ginjal dan aliran darah ke ginjal berkurang sehingga terjadi penurunan kecepatan filtrasi glomerulus sekitar 30% dibandingkan pada orang yang lebih muda (Guyton dan Hall, 2006).
Usia merupakan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Tekanan darah meningkat seiring bertambahnya usia dan hipertensi seringkali terjadi pada usia lanjut (Saseen dan Maclaughlin, 2011).
Dengan bertambahnya usia, fungsi ginjal akan semakin berkurang. Fungsi ginjal akan menurun sekitar 55% antara usia 35 – 80 tahun. Banyak fungsi yang akan mengalami kemunduran contohnya laju filtrasi, ekskresi dan reabsorpsi oleh ginjal. Selain itu, pembuangan sisa-sisa metabolisme protein dan elektrolit yang harus dilakukan ginjal menjadi beban tersendiri. Hal ini dikarenakan banyak jaringan yang hilang dari korteks, glomerulus dan tubulus ginjal (Guyton dan Hall, 2006).
Rahim (2017) dalam penelitiannya menyatakan bahwa, distribusi usia
pasien Hipertensi dengan CKD di RS Pandan Arang Boyolali Tahun 2015 dan 2016. Kasus terbanyak terdapat pada rentang usia 46 – 65 tahun yaitu sebanyak 20 pasien (66,6%).
Hasil hubungan variabel usia secara statistik dengan kejadian gagal ginjal kronik mempunyai hubungan yang bermakna antara usia <60 tahun dan >60 tahun pada pasien hemodialisis. Secara klinik pasien usia >60 tahun mempuyai risiko 2,2 kali lebih besar mengalami gagal ginjal kronik dibandingkan dengan pasien usia <60 tahun (Pranandari dan Supadmi, 2015).
Tabel 4.2 Karakteristik jenis kelamin pasien ginjal kronik (N=76) di RSUD Dr.
Pirngadi Kota Medan Periode Januari – Desember 2016
Jenis Kelamin Jumlah Pasien Persentase (%)
Pria 40 52,6
Wanita 36 47,4
Total 76 100
Dalam Tabel 4.2 dapat dilihat sekitar 52,6% merupakan pasien pria sedangkan wanita 47,4 %. Hal ini dikarenakan pada pria, pola hidup yang kurang sehat (merokok, konsumsi alkohol, kopi dan minuman penambah energi) jauh lebih banyak dikonsumsi oleh pria sehingga memicu stress oksidatif yang lebih besar dibandingkan pada wanita.
Di Indonesia, pria lebih banyak merokok, yang dapat menginduksi peningkatan tekanan darah sehingga meningkatkan insidensi hipertensi yang merupakan salah satu penyebab CKD (Gennari, 2001).
Nikotin dalam rokok berkhasiat vasokonstriksi dan meningkatkan tekanan darah. Merokok memperkuat efek buruk dari hipertensi terhadap sistem pembuluh (Tjay dan Kirana, 2013). Gaya hidup juga berdampak pada perburukan penyakit ginjal. Merokok telah dibuktikan mempermudah atau mempercepat kerusakan nefron (Harris dan Eric, 2010).
Penelitian yang sama telah dilakukan di RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Karakteristik Jenis Kelamin pasien Gagal Ginjal Kronik terdiri dari penderita laki-laki sebanyak 28 pasien (52,8%) dan penderita perempuan sebanyak 25 pasien (47,2%) (Muchtar dkk., 2015).
Penelitian retrospektif pada pasien hemodialisis di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode tahun 2009 – 2010. Distribusi pasien dengan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan yaitu laki-laki 37 pasien (61,7%) dan perempuan 23 pasien (38,3%) (Supadmi, 2011).
4.2 Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Ginjal Kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari 2016 – Desember 2016
Tabel 4.3 Distribusi Penggunaan Obat Antihipertensi Tunggal dan Kombinasi pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan
Terapi Nama Jumlah %
1 Jenis Obat Furosemid (Loop diuretik) Captopril (ACE-I)
Amlodipin (CCB) Valsartan (ARB) Candesartan (ARB)
20 3 3 2 2
26,3 3,95 3,95 2,63 2,63
Total Penggunaan Obat Tunggal 30 39,46
2 Jenis Obat Amlodipin + Diltizem (CCB + CCB)
Amlodipin + Furosemid (CCB + Loop diuretik) Furosemid + Spironolakton (Loop diuretik) Amlodipin + Candesartan (CCB + ARB) Amlodipin + Valsartan (CCB + ACEI)
Furosemid + Irbesartan (Loop diuretik + ARB) Valsartan + Furosemid (ARB + Loop diuretik) Amlodipin + Bisoprolol (CCB + BB)
2 13
2 3 2 1 4 1
2,63 17,1 2,63 3,95 2,63 1,32 5,26 1,32
Total Penggunaan 2 Kombinasi Obat 28 36,84
3 Jenis Obat Amlodipin + Valsartan + Furosemid (CCB + ARB + Loop diuretik) Valsartan + Amlodipin + Bisoprolol (ARB + CCB + BB)
Captopril + Candesartan + Amlodipin (ACE-I + ARB + CCB)
Captopril + Furosemid + Amlodipin ACE-I + Loop diretik)
Amlodipin + Bisoprolol + Furosemid
7 1 1 2 1
9,21 1,32 1,32 2,63 1,32
Terapi Nama Jumlah % (CCB + BB + Loop diretik)
Valsartan + Bisoprolol + Furosemid (ARB + BB + Loop diretik)
Amlodipin + Captopril + Bisoprolol (CCB + ACE-I + BB)
2 1
2,63 1,32
Total Penggunaan 3 Kombinasi Obat 15 19,75
4 Jenis Obat Valsartan + Amlodipin + Furosemid Bisoprolol (ARB + CCB + Loop diretik + BB)
Captopril + Valsartan + Furosemid + Amlodipin
(ACE-I + ARB + Loop diretik + CCB)
2 1
2,63 1,32
Total Penggunaan Kombinasi 4 Obat 3 3,95
Total 76 100
Keterangan: ACE-I = Angiotensin Converting Enzym Inhibitor, ARB = Angiotensin Receptor Blocker, BB = Beta Blocker, CCB = Calcium Channel Blocker
Menurut anjuran dari The Seven Report of Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7), tekanan darah yang ditargetkan pada pasien GGK adalah 130/80 mmHg untuk mencapai target tersebut sebagian besar pasien diberi kombinasi dua atau lebih antihipertensi (Tessy, 2006). Semakin banyak kombinasi obat yang diberikan maka akan semakin besar pula efek samping yang ditimbulkan dan juga dapat memperburuk kerja ginjal. Dalam penelitian ini ditemukan kombinasi yang tidak tepat pada kombinasi amlodipin dan diltiazem sebanyak 2,63%. Kombinasi yang digunakan tidak tepat karena amlodipin dan diltiazem adalah obat yang berasal dari golongan yang sama yaitu penghambat kanal kalsium. Hal ini dapat meningkatkan efek antihipertensi pada masing – masing obat sehingga meningkatkan resiko efek samping seperti hipotensi.
Kombinasi furosemid (loop diuretik) dan spironolakton (diuretik hemat kalium) yang terdapat dalam penelitian ini sebanyak 2,63%. Antagonis aldosteron seperti spironolakton, adalah diuretik hemat kalium dan dengan demikian dapat dikombinasikan dengan diuretik tiazid atau loop diuretik yang meningkatkan
kehilangan kalium dalam urin (KDIGO, 2012).
Muti dan Chasanah (2016) dalam penelitiannya menyatakan penggunaan kombinasi diuretik digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan mencegah terjadinya resistensi. Loop diuretik dan diuretik spironolakton bekerja di ginjal pada tempat yang berbeda sehingga kombinasinya akan bersifat sinergis.
Pemberian loop diuretik saja dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan hipertrofi pada tubulus distal yang mengakibatkan kenaikan reabsorpsi natrium.
Hal ini dapat dicegah dengan menggunakannya bersama-sama dengan diuretik spironolakton.
Penggunaan kombinasi antihipertensi yang paling banyak adalah kombinasi 2 obat. Amlodipin + Furosemid yaitu 17,1%. Amlodipin merupakan obat antihipertensi dari golongan Calcium Channel Blocker (CCB) dan Furosemid adalah loop diuretik. Kombinasi yang telah teruji efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah diuretik dan ACEI/ARB, CCB dan BB, CCB dan ACEI/ARB, CCB dan diuretik, Alpha bloker dan BB (Yogiantoro, 2009).
Penggunaan terapi tunggal CCB memberikan efektivitas yang sama dengan obat antihipertensi lain CCB terbukti sangat efektif pada hipertensi dengan kadar renin yang rendah seperti pada usia lanjut. CCB tidak mempunyai efek samping metabolik, baik terhadap lipid, gula darah maupun asam urat. Golongan CCB bekerja dengan menghambat influks kalsium pada sel otot polos dan pembuluh darah miokard. Di pembuluh darah, CCB menimbulkan relaksasi arteriol, sedangkan efek hipotensi pada vena kurang dipengaruhi (Nafrialdi, 2007).
Diuretik kuat bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit
Na+/K+/Cl- di ansa henle asendens bagian epitel tebal, dimana tempat kerjanya berada di permukaan sel epitel bagian luminal (Nafrialdi, 2011). Loop diuretik sangat berguna ketika mengobati edema dan tekanan darah tinggi (KDIGO, 2012).
Antagonis kanal kalsium menghambat gerakan kalsium masuk melalui pengikatan dengan kanal kalsium tipe-L dalam jantung dan otot polos pembuluh darah koroner dan perifer. Hal ini menyebabkan relaksasi otot polos pembuluh darah, terutama dilatasi arteriol. Semua dihidropiridin (Amlodipin) memiliki afinitas yang lebih besar terhadap kanal kalsium vaskular dibandingkan kanal kalsium jantung. Oleh sebab itu, obat-obat ini terutama menarik dalam pengobatan hipertensi (Champe, 2013). Kombinasi antara Amlodipin + Furosemid + Valsartan terdapat 9,21%.
Valsartan merupakan obat golongan ARB. ARB kombinasi dengan diuretik berguna untuk pengobatan tekanan darah tinggi . Pemberian bersama beta-blocker dan calcium-channel blocker dengan ACE-Is atau ARB juga dapat diterima (KDIGO, 2012).
Obat antihipertensi yang diberikan pada pasien gagal ginjal kronik rawat inap RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan paling banyak adalah Furosemid sebanyak 62,3%. Furosemid merupakan golongan diuretik (loop diuretik). Captopril dan Amlodipin digunakan masing – masing 3,95%. Captopril adalah obat golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) dan Amlodipin adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB).
The Seven Report of Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7); Rekomendasi bersama dari American Society of Nephrology dan National Kidney Foundation
memberikan panduan yang berguna untuk manajemen pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronik / Chronic Kidney Disease (CKD). Pedoman ini menunjukkan bahwa kebanyakan pasien dengan CKD harus menerima ACEI atau ARB dalam kombinasi dengan diuretik, dan banyak yang akan memerlukan loop diuretik daripada tiazid.
Sebagian besar pasien pada penelitian ini termasuk gagal ginjal stage 5.
Loop diuretik sangat berguna ketika mengobati edema dan tekanan darah tinggi pada pasien CKD Stage 4-5 sebagai tambahan atau sebagai alternatif untuk diuretik tiazid. Meskipun tiazid diekskresikan oleh ginjal, tidak ada penyesuaian dosis yang dianjurkan pada pasien dengan GFR (Glomerulus Filtration Rate) yang berkurang. Ketika GFR turun di bawah sekitar 30-50 ml / menit / 1,73m2, kemampuan tiazid untuk mengatasi retensi cairan berkurang, meskipun manfaat antihipertensi mereka dapat dipertahankan, setidaknya menurut penelitian jangka pendek yang kecil pada manusia. Dokter beralih ke loop diuretik pada pasien dengan CKD Stage 4, terutama jika tekanan darah menjadi resisten terhadap terapi atau edema menjadi masalah (KDIGO, 2012).
Penggunaan Angiotensin Converting Enzyme (ACEI) seperti captopril pada pasien gagal ginjal kronik. Dalam pedoman ini (KDIGO, 2012) ACE-I dan ARB (Angiotensin Receptor Blocker) direkomendasikan untuk kelompok spesifik pasien CKD dengan ekskresi albumin urin yang meningkat di mana penggunaan konteks dari agen ini mungkin terkait dengan hasil ginjal dan kardiovaskular yang lebih baik.
ACE-I dan ARB mempunyai efek melindungi ginjal (renoprotektif) dalam progres penyakit ginjal dengan atau tanpa diabetes. Salah satu dari kedua obat ini
harus digunakan sebagai lini pertama untuk mengontrol tekanan darah dan memelihara fungsi ginjal pada pasien - pasien dengan penyakit ginjal kronis.
Karena pasien – pasien dengan penyakit ginjal kronis memerlukan beberapa obat antihipertensi, diuretik dan kelas obat antihipertensi ketiga diperlukan (penghambat beta atau penghambat kanal kalsium) dalam terapinya (Depkes, 2006).
Calcium-channel blocker adalah agen penurun tekanan darah yang
berharga pada pasien CKD, tetapi golongan obat ini sangat heterogen dalam beberapa hal dan pilihan jenis agen yang digunakan harus mempertimbangkan perbedaan ini serta komorbiditas dan obat lain yang digunakan pasien. Subkelas utama adalah dihidropiridin (misalnya, amlodipine, nifedipine dan lercanidipine), benzothiazepine non-dihydropyridine (misalnya, diltiazem) dan phenylalkylamines (misalnya, verapamil). Dihydropyridines cenderung lebih selektif untuk otot polos vaskular (vasodilatasi) dengan sedikit tindakan pada miokardium (KDIGO, 2012). Dapat penelitian ini golongan CCB yang paling banyak digunakan adalah amlodipin.
Calcium-channel blockers banyak digunakan dalam pengobatan hipertensi,
angina, dan takikardia supra-ventrikel. Laporan Komisi Sumber Daya Kesehatan Oregon pada calcium-channel blocker pada tahun 2005 menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang jelas untuk membedakan efek antihipertensi dari satu calcium-channel blocker dari yang lain (bukti yang tidak memadai untuk
felodipine). Apakah pengamatan ini dapat diterjemahkan ke populasi CKD tidak pasti. Adalah bijaksana untuk menghindari penghambat saluran kalsium dihidropiridin pada pasien CKD dengan ekskresi albumin urin yang meningkat,
terutama jika tidak ada penggunaan ACE-I atau ARB secara bersamaan (KDIGO, 2012).
4.3 Dosis Obat Antihipertensi
Tabel 4.7 Dosis Obat Antihipertensi yang digunakan Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan
Jenis Obat Jumlah
Pasien
Persentase Terapi Tunggal
Furosemid (20 - 40 mg) 20 26,4
Captopril (25 mg) 3 4
Amlodipin (10 mg) 3 4
Candesartan (16 mg) 2 2,6
Valsartan (80 mg) 2 2,6
Total Penggunaan Obat Tunggal 30 39,6
Terapi Kombinasi
Amlodipin (5 mg), Diltiazem (30 mg) 2 2,6
Furosemid (40 mg), Spironolakton (50 mg - 100 mg) 2 2,6 Amlodipin (5mg - 10 mg), Furosemid (20 - 40 mg) 13 17,2 Amlodipin (5 mg – 10 mg), Candesartan (16 mg) 2 2,6
Amlodipin (5 mg – 10 mg), Valsartan (80 mg) 3 4
Valsartan (80 mg), Furosemid (40 mg) 4 5,3
Irbesartan (150 mg), Furosemid (40 mg) 1 1,3
Amlodipin (10 mg), Bisoprolol (10 mg) 1 1,3
Amlodipin (10 mg), Captopril (50 mg), Bisoprolol (5 mg)
1 1,3
Furosemid (20 - 40 mg), Valsartan (40 mg - 80 mg), Amlodipin (5 mg – 10 mg)
7 9,2
Furosemid (20 - 40 mg), Valsartan (80 mg), Bisoprolol (2,5 mg)
2 2,6
Captopril (25 mg), Amlodipin (10 mg), Furosemid (20 - 40 mg)
2 2,6
Amlodipin (10 mg), Bisoprolol (5 mg), Furosemid (20 - 40 mg)
1 1,3
Captopril (25 mg), Candesartan (16 mg), Amlodipin (10 mg)
1 1,3
Valsartan (80 mg), Amlodipin (10 mg), Bisoprolol (2,5 mg)
1 1,3
Furosemid (20 - 40 mg), Valsartan (80 mg – 160 mg), Amlodipin (5 mg – 10 mg) Bisoprolol (2,5 mg)
2 2,6
Captopril (25 mg), Valsartan (80 mg), Furosemid (20 - 40 mg), Amlodipin (10 mg)
1 1,3
Total Penggunaan Obat Kombinasi 46 60,4
Total Seluruhnya 76 100