D R A F T FEASIBILITY STUDY
USAHA DISTRIBUSI PUPUK ANORGANIIK BERSUBSIDI DI WILAYAH CIANJUR SELATAN DAN GARUT SELATAN
Excecutive Summary
Tujuan dari Feasibility Studi (kajian kelayakan) ini adalah untuk menganalisis pendapatan dan profitabilitas usaha pupuk, kelayakan pengembangan usaha dari aspek pasar, teknis dan finansial pada Usaha Distributor Pupuk Anorganik di Kabupaten Cianjur (Naringgul, Cidaun, Sindang Barang, Agrabinta) dan Kabupaten Garut Selatan. Data dianalisis menggunakan analisis pendapatan dan profitabilitas, aspek pasar, teknis dan finansial (NPV, IRR, B/C Rasio dan Payback period).
Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata kebutuhan PUPUK jelang musim tanam ke 2 dan ke -3 Januari - Juni 2023: 1) Depo/Kios Pupuk Cidaun 300 ton (PHOSKA/SP-UREA), 2) Depo/Kios Pupuk Naringgul 200 ton, (PHOSKA/SP 36 - UREA), 3) Depo/Kios Pupuk Sindangbarang 200 ton (PHOSKA/SP 36 - UREA). Anggaran Pengadaan : ✓Pupuk PHOSKA - SP (non SUBSIDI) Rp.
Rp. 125 rb/karung@50kg. ✓Pupuk Urea SUBSIDI Rp. 55,000,000 per Do per Depo x 3 Depo = 165,000,000 alokasi per Depo 36 ton (720 karung) per bulan. Persiapan Dana Minimal untuk Depo Pupuk NON SUBSIDI persiapan dana minimal 1 DO 10 ton (200 x 125,000) bisa di isi 2 DO. Pengadaan pupuk UREA bersubsidi cukup tebus /defosit DO 55 jt.
Aspek pasar menunjukkan bahwa, produksi pupuk setiap tahunnya mengalami peningkatan produksi pada angka kisaran 13-27% tiap tahunnya. Hasil perhitungan analisis finansial menunjukkan bahwa NPV rata-rata sebesar Rp.14.181.366,6. Net B/C Rasio rata-rata sebesar 1,306. Nilai IRR sebesar 14,9%. Nilai Payback period sebesar 3,43 atau titik pengembalian investasi pada saat kegiatan usaha berjalan selama 3 tahun 4 bulan 3 hari. Hal ini menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria finansial, usaha ini layak untuk dilaksanakan.
Kata Kunci : Kelayakan usaha, profitabilitas, pendapatan, NPV, IRR, Net B/C Rasio dan Payback period dan pupuk bersubsidi
BAB I
PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
Pembangunan pertanian di Indonesia bertujuan untuk mensejahterakan petani melalui subsidi input usaha tani (pupuk dan benih) maupun penerapan teknologi baru sehingga dapat meningkatkan produksi pertanian. Salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian adalah pupuk (Moko, 2017).
Penyaluran pupuk bersubsidi telah diatur dalam surat keputusan. Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 1. Tahun 2020 pada 2 Januari 2020, tentang alokasi pupuk bersubsidi dan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) No.
70/MPP/Kep/2/2003 pada 11 Februari 2003, tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian dimana pemberian pupuk ini harus memenuhi enam prinsip utama yang sudah ditetapkan oleh kementan enam prinsip tersebut adalah, tepat waktu, jenis, jumlah, harga, tempat dan mutu. “Dalam pasal 1 peraturan tersebut dijelaskan bahwa pupuk bersubsdi pengadaan dan penyalurannya mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program pemerintah”. Sementara itu, dalam pasal 3 disebutkan jenis pupuk subsidi yang diberikan, yakni Urea, SP-36, ZA, Organik, dan NPK. Semua pupuk tersebut harus memenuhi standar mutu Standar Nasional Indonesia (SNI)
Terkait dengan pupuk bersubsidi tersebut ada beberapa hal yang menjadi hambatan/permasalahan para petani pada daerah penelitian Kabupaten Cianjur dan Garut yaitu permasalahan yang menghambat pendistribusian pupuk bersubsidi, harga yang diterima petani tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan kebutuhan petani tidak sesuai dengan alokasi pupuk bersubsidi yang sudah ditentukan oleh pemerintah pada setiap petani yang ada di Desa/Kelurahan, sehingga akan berimbas pada menurunnya produktivitas hasil tani dan menurunnya pendapatan petani. Selain berdampak pada kehidupan para petani pendistribusian pupuk bersubsidi yang belum optimal tentunya akan berdampak pada enam prinsip utama yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan), dimana enam prinsip utama tersebut adalah tepat waktu, jenis, jumlah, harga, tempat dan mutu. Dengan permasalahan yang sering terjadi pada para petani terkait dengan ketersediaan pupuk bersubsidi dan harga pupuk bersubsidi serta jumlah pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan petani tersebut tentunya masyarakat/petani sangat berharap bagaimana kedepannya proses pendistribusian pupuk bersubsidi dan kebutuhan petani dapat disesuaikan dengan asas enam tepat yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
1.2.Tujuan Feasibility Study
Tujuan dari Feasibility Studi (kajian kelayakan) ini adalah untuk menganalisis pendapatan dan profitabilitas usaha pupuk, kelayakan pengembangan usaha dari aspek pasar, teknis dan finansial pada Usaha Distributor Pupuk Anorganik di Kabupaten Cianjur (Naringgul, Cidaun, Sindang Barang, Agrabinta) dan Kabupaten Garut Selatan. Data dianalisis menggunakan analisis pendapatan dan profitabilitas, aspek pasar, teknis dan finansial (NPV, IRR, B/C Rasio dan Payback period).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Distribusi dan Pemasaran
Pupuk Bersubsidi Sistem distribusi pupuk saat ini diatur oleh Menteri Perdagangan.
Pengaturan sistem distribusi pupuk ini dengan harapan agar petani dapat memperoleh pupuk dengan 6 azas tepat, yaitu : tepat tempat, jenis, waktu, jumlah, mutu, dan harga. Saluran pemasaran pupuk bersubsidi melibatkan produsen, distributor dan pengecer. Saluran ini sudah diatur dalam peraturan pemerintah yang terdapat pada SK. Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) No. 17/M- DAG/PER/6/2011. Dalam SK tersebut dijelaskan bahwa untuk kelancaran pendistribusian pupuk bersubsidi menjadi tanggung jawab produsen, distributor dan pengecer. Menurut Fandy Tjiptono (2002) pendistribusian adalah kegiatan pemasaran yang berusaha mempelancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen ke konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (Jenis, jumlah, harga, tempat, dan waktu yang dibutuhkan).
Assauri (1990) menyebutkan bahwa saluran distribusi merupakan lembaga-lembaga yang berkegiatan memasarkan produk yang berupa barang maupun jasa dari produsen ke konsumen.
Menurut American Marketing Association dalam Kasali (2001) pemasaran adalah sebagai suatu proses perencanaan dan eksekusi, mulai dari tahap konsepsi, penetapan harga, promosi hingga distribusi barang-barang, ide-ide dan jasa-jasa untuk melakukan pertukaran yang memuaskan individu-individu dan lembaga lembaganya.
Hal ini dikuatkan oleh Kasali (2001) yang mengemukakan bahwa pemasaran bukanlah semata-mata kegiatan seperti menjual dan mempromosikan sesuatu tetapi pemasaran adalah suatu konsep yang menyangkut sikap mental, suatu cara berpikir yang membimbing kita untuk melakukan sesuatu. Mursid (2003) mendefenisikan pemasaran adalah semua kegiatan usaha yang bertalian dengan arus penyerahan barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Berdasarkan definisi di atas dapat di simpulkan bahwa, distribusi adalah salah satu aspek dari pemasaran.
Distribusi juga dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada konsumen.
2.2 Fungsi Saluran Distribusi
Menurut Bucari (2002) para anggota saluran distribusi melakukan beberapa tugas penting, seperti : 1. Informasi (Information) Perantara pemasaran melakukan kegiatan pengumpulan dan penyebaran informasi riset pemasaran mengenai potensi produsen pesaing, pelaku, dan kekuatan lainnya dalam lingkungan pemasaran. 2. Promosi (Promotion) Mengembangkan dan menyebarkan komunikasi tentang penawaran 3. Penghubung (Contact) Menemukan dan berkomunikasi dengan calon pembeli . 4. Penyesuaian (Matching) Menyesuaikan penawaran agar sesuai dengan kebutuhan pembeli termasuk penilaian, perakitan, dan pengemasan. 5. Negosiasi (Negotiation) Perantara melakukan usaha untuk mencapai persetujuan akhir mengenai harga dan syarat lain sehingga transfer kepemilikan dapat dilakukan. 6. Distribusi Fisik (Physical Distribution) Mengangkut dan menyimpan barang dari produsen ke perantara hingga konsumen. 7. Pembiayaan (Financing) Perolehan dan pengalokasian dana yang dibutuhkan untuk membiayai persediaan pada berbagai tingkat saluran pemasaran. 8. Pengambilan Resiko (Risk Taking) Perantara melakukan penanggulangan resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan fungsi saluran pemasaran tersebut.
2.3 Pengertian Pupuk Bersubsidi
Menurut surat keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) No.
70/MPP/Kep/2/2003. Pupuk subsidi adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya mendapat subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program pemerintah. Pupuk subsidi yang di maksud adalah Pupuk Urea, Za, SP-36, NPK, dan Organik dengan komposisi N:P:K =15: 15 : 15 dan 20: 10: 10
Menurut peraturan ini pupuk bersubsidi adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya ditataniagakan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan di penyalur resmi Lini IV. Lini IV adalah lokasi gudang atau kios pengecer di wilayah Kecamatan/Desa yang ditunjukkan atau ditetapkan oleh distributor. Pupuk bersubsidi diperuntukan bagi sektor pertanian atau sektor yang berkaitan dengan budidaya tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, hijauan pakan ternak dan budidaya ikan atau udang. Pupuk subsidi tentunya memiliki masing-masing manfaat bagi pertumbuhan tanaman.
Berikut penjelasannya: Pupuk Urea, terbuat dari campuran gas amoniak dan gas asam arang pupuk bersubsidi urea ini merupakan salah satu yang paling banyak digunakan petani,
“Pupuk ini memiliki kadar air yang cukup tinggi sehingga mempercepat pertumbuhan tanaman.
Adanya kandungan air juga membuat tanaman akan tumbuh hijau”. Pupuk SP-36, memiliki manfaat menambah unsur hara fosfor pada tanaman, dengan pupuk ini buah yang di hasilkan
akan lebih banyak dan kualitas biji jadi lebih baik dan pemasakan buah menjadi lebih cepat. Pupuk ZA, memberikan manfaat memperbaiki kualitas tanaman dan menambah nilai gizi, sedangkan Pupuk NPK, memiliki manfaat memperkuat tumbuhnya akar sehingga mudah menyerap zat hara di tanah. Sehingga dapat membantu tanaman tidak tumbuh kerdil.
2.4 Alokasi Pupuk Bersubsidi
Menurut Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 42/Permentan/ OT.140/09/2008, menyatakan bahwa alokasi pupuk bersubsidi agar memperhatikan usulan yang diajukan oleh petani, pekebun, peternak, pembudidaya ikan dan udang berdasarkan RDKK disetujui oleh petugas teknis, penyuluh atau Kepala Cabang Dinas (KCD) setempat. Penyaluran pupuk bersubsidi dari Lini I ke Lini IV adalah mengikuti ketentuan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.21/M-DAG/PER/6/2008, selanjutnya penyaluran pupuk bersubsidi dari Lini IV (tingkat penyalur) sampai dengan petani/ kelompok tani diatur oleh Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.42/Permentan /OT.140/09/2008.
Agar penyaluran pupuk bersubsidi tepat sasaran sesuai dengan rencana/alokasi, diperlukan dasar pertimbangan yang sama sebagai „simpul‟ yang menghubungkan antara Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 21/MDAG/PER/6/2008 yang mengatur penyaluran dari Lini I sampai IV dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.
42/Permentan /OT.140/09/2008 yang mengatur penyaluran dari Lini IV ke petani/kelompok tani.
2.5 Pengadaan dan Pengawasan Pupuk Bersubsidi Menurut Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.21/MDAG/PER/6/2008 dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.
42/Permentan/OT.140/09/2008, mengacu pada Pembentukan perangkat pengawasan serta mekanisme pemantauan dalam pelaksanaan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi.
Berdasarkan peraturan tersebut telah dibentuk Pokja Pupuk Bersubsidi tingkat pusat, Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) tingkat provinsi, dan Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) tingkat kabupaten/kota. Mekanisme pengawasan pupuk bersubsidi mulai dari tingkat Kabupaten/Kota sampai tingkat pusat berikut penjelasannya:
a. Tingkat Kabupaten/Kota
1) Pengawasan oleh Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) dilakukan secara periode (bulanan) dan sewaktu waktu apabila diperlukan, sedangkan Pengawasan oleh Tenaga Harian Lepas (THL) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Pengamat Hama dan Penyakit (POPT-PHP) dilakukan secara harian
2) Rapat koordinasi pembahasan perencanaan kebutuhan, penyediaan, penyaluran dan penggunaan pupuk bersubsidi serta pertemuan teknis penerapan pupuk berimbang dilaksanakan secara reguler/bulanan.
3) Semua hasil kegiatan pemantauan dan rapat koordinasi oleh Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) wajib dilaporkan kepada Bupati/Walikota setiap akhir bulan. Selanjutnya Bupati/Walikota menyampaikan laporan Pengawasan Pupuk Bersubsidi tersebut kepada Gubernur.
b. Tingkat Provinsi
1) Pengawasan oleh Tim Provinsi dilaksanakan secara langsung melalui pemantauan penyediaan dan penyaluran pupuk di lini II dan lini III serta pengawasan tidak langsung melalui pelaporan yang diterima dari Kabupaten/Kota.
2) Rapat koordinasi perencanaan kebutuhan, dan pembahasan kebijakan pupuk bersubsidi dilakukan secara periode yang dihadiri oleh semua instansi terkait di pusat serta perwakilan Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) dari seluruh Provinsi.
3) Hasil kegiatan pemantauan dan rapat koordinasi serta evaluasi hasil laporan pemantauan dari seluruh provinsi tim pengawas pupuk pusat wajib dilaporkan kepada Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, serta Menteri Negara BUMN
c. Tingkat Pusat
1) Pengawasan pupuk bersubsidi oleh Tim Pusat dilaksanakan secara langsung melalui pemantauan ke lini I sampai dengan lini IV maupun pengawasan secara tidak langsung melalui pelaporan yang diterima dari daerah.
2) Rapat koordinasi perencanaan kebutuhan pembahasan kebijakan pupuk bersubsidi secara periode yang dihadiri oleh semua instansi terkait di pusat serta perwakilan Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) dari seluruh provinsi.
3) Semua hasil kegiatan pemantauan dan rapat koordinasi serta evaluasi hasil laporan pemantauan dari seluruh provinsi Tim Pengawas Pupuk Pusat wajib dilaporkan kepada Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, serta Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI KEGIATAN USAHA
3.1.Keadaan Geografis
Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Cianjur 3.1.1. Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat. Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak antara 1060 42’- 1070 25’ Bujur Timur dan 60 21’-7 0 25’
Lintang Selatan.
Adapun batas-batas wilayah daerah meliputi:
Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta
Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Garut
Sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia
Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor Wilayah Kabupaten Cianjur terdiri dari 32
kecamatan dengan luas wilayah 361.434,98 ha dan kecamatan yang memiliki wilayah terluas adalah Kecamatan Cidaun dengan luas 29.551,23 ha. Pada tahun 2015 luas lahan di Kabupaten Cianjur adalah 350.148 ha yang terdiri dari lahan sawah dan lahan bukan sawah. Luas lahan sawah sebesar 65.782 ha mengalami penurunan dari tahun 2014 yaitu 65.909 ha.
Penurunan tersebut disebabkan oleh adanya penurunan luas lahan sawah di Kecamatan Gekbrong dan Sukaluyu. Sementara itu, luas lahan bukan sawah sebesar 284.336 ha mengalami kenaikan dari tahun 2014 yaitu 284.239 ha.
Kenaikan tersebut disebabkan oleh adanya kenaikan luas lahan bukan sawah di kecamatan Campakamulya dan Cikadu.
Peta Administratif Kabupaten Cianjur 3.2. Topografi
Adapun ketinggian wilayah Kabupaten Cianjur berkisar antara 7 - 2.962 mdpl dan memiliki kemiringan 0-40%. Secara geografis wilayah Kabupaten Cianjur terbagi dalam 3 bagian yaitu Wilayah Cianjur Utara, Wilayah Cianjur Tengah, dan Wilayah Cianjur Selatan. Wilayah Cianjur Utara yang merupakan dataran tinggi terletak di kaki Gunung Gede dengan ketinggian sekitar 2.962 m di atas permukaan laut. Wilayahnya juga meliputi daerah Puncak dengan ketinggian sekitar 1.450 m, Kota Cipanas (Kecamatan Cipanas dan Pacet) dengan ketinggian sekitar 1.110 m, serta Kota Cianjur dengan ketinggian sekitar 450 m di atas permukaan laut. Sebagian wilayah ini merupakan dataran tinggi pegunungan dan sebagian lagi merupakan perkebunan dan persawahan. Wilayah Cianjur Tengah merupakan perbukitan, tetapi juga terdapat dataran rendah persawahan, perkebunan yang dikelilingi oleh bukit -bukit kecil yang tersebar dengan keadaan struktur tanahnya yang labil. Wilayah Cianjur Selatan merupakan dataran rendah yang terdiri dari bukit-bukit kecil dan diselingi oleh pegunungan-pegunungan yang melebar ke Samudra Indonesia.
Dataran terendah di selatan Cianjur mempunyai ketinggian sekitar 7 meter di atas permukaan laut.
4. Sistem Informasi Geografis Sistem informasi geografis (SIG) Distribusi Pupuk Bersubsidi di Wilayah Cianjur.
Geographic information system (GIS) adalah sebuah sistem yang didesain untuk menangkap, menyimpan, memanipulasi, menganalisa, mengatur dan menampilkan seluruh jenis data geografis. Hasil Kajian Sistem Informasi Geografis Sistem informasi geografis (SIG) Distribusi Pupuk Bersubsidi di Cianjur, sebagai berikut :
a. Perlu adanya pengawasan melekat secara berjenjang dari produsen dan distributor serta Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3).
b. Berdasarkan rekomendasi hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap pelaksanaan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi tahun 2012, antara lain menyusun prosedur rekonsiliasi atas penyaluran pupuk bersubsidi antara Dinas Pertanian dengan Distributor dan/atau Kios Pengecer, maka perlu dilakukan verifikasi dan validasi terhadap realisasi penyaluran pupuk bersubsidi dari Kios Pengecer ke kelompok tani oleh Tim Verifikasi secara berjenjang mulai tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi sampai tingkat Pusat c. Analisis sistem informasi geografis
dapat di lihat pada Gambar
BAB IV
ANALISIS DATA SPASIAL DISTRIBUSI PUPUK BERSUBSIDI
4.1 Analisis Data Spasial
Data spasial pada aplikasi yang akan dibangun meliputi kecamatan, distribusi pupuk dan sebaran kios. Data spasial tersebut dibedakan dengan bentuk dan warna yang berbeda agar informasi yang di tampilkan terlihat lebih jelas. Analisis data spasial dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Analisis Data Spasial
4.2 Analisis Objektif
Rancangan Dashboard Berikut adalah analisis dari objektif dan KPI Rancangan Dashboard yang akan dibuat dapat dilihat pada Tabel berikut ini :
Tabel 2. Analisis Objektif No Indikator
Pengawasan Deskripsi Data
Spasial Contoh
1 Kecamatan Kecamatan Cidaun Polygon
Kecamatan Sindangbarang Polygon Kecamatan Naringgul Polygon 2 Distribusi
Pupuk
Desa dengan penyebaran pupuk yang memiliki jumlah < 50
Ton
Polygon
Desa dengan penyebaran pupuk yang memiliki jumlah > 50
Ton sd 100 Ton
Polygon
Desa dengan penyebaran pupuk yang memiliki jumlah > 100 Ton
Polygon
3 Sebaran Kios Titik Sebaran Kios didapat dari
latitude dan longitude
Point
4.3. Grafik
Grafik pada dashboard akan digunakan untuk melihat visualisasi dan menunjukan perbandingan terhadap sebaran pupuk ke petani dapat dilihat pada Gambar 2.
Berdasarkan data permintaan pupuk urea, telah dihitung peramalan permintaan untuk bulan Januari 2023 yang dapat dilihat pada Tabel berikut ini :
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata kebutuhan PUPUK jelang musim tanam ke 2 dan ke -3 Januari - Juni 2023: 1) Depo/Kios Pupuk Cidaun 300 ton (PHOSKA/SP-UREA), 2) Depo/Kios Pupuk Naringgul 200 ton, (PHOSKA/SP 36 - UREA), 3) Depo/Kios Pupuk Sindangbarang 200 ton (PHOSKA/SP 36 - UREA). Anggaran Pengadaan : ✓Pupuk PHOSKA - SP (non SUBSIDI) Rp. Rp. 125 rb/karung@50kg. ✓Pupuk Urea SUBSIDI Rp. 55,000,000 per Do per Depo x 3 Depo = 165,000,000 alokasi per Depo 36 ton (720 karung) per bulan. Persiapan Dana Minimal untuk Depo Pupuk NON SUBSIDI persiapan dana minimal 1 DO 10 ton (200 x 125,000) bisa di isi 2 DO. Pengadaan pupuk UREA bersubsidi cukup tebus /defosit DO 55 jt.
Aspek pasar menunjukkan bahwa, produksi pupuk setiap tahunnya mengalami peningkatan produksi pada angka kisaran 13-27% tiap tahunnya. Hasil perhitungan analisis finansial menunjukkan bahwa NPV rata-rata sebesar Rp.14.181.366,6. Net B/C Rasio rata-rata sebesar 1,306. Nilai IRR sebesar 14,9%. Nilai Payback period sebesar 3,43 atau titik pengembalian investasi pada saat kegiatan usaha berjalan selama 3 tahun 4 bulan 3 hari. Hal ini menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria finansial, usaha ini layak untuk dilaksanakan.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka saran yang dapat diberikan dalam pendistribusian pupuk bersubsidi adalah sebagai berikut:
Perlu adanya lembaga yang menaungi para petani untuk membimbing mengenai penggunaan pupuk yang tepat dan benar.
Pemantauan pemerintah lebih diperketat lagi terutama pada proses pendistribusian pupuk bersubsidi sampai kepada petani.