1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap negara saling melakukan interaksi untuk membangun hubungan kerjasama dengan negara lain dan memperjuangkan kepentingan negaranya, termasuk dalam bidang ekonomi dan kerjasama perdagangan. Di tengah popularitas perdagangan minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO), muncul berbagai hambatan ekspor dari berbagai negara, khususnya Uni Eropa. Untuk mencari jalan keluar yang damai dan penyelesaian yang bersifat positif, Pemerintah Indonesia terus melakukan diplomasi dan memperkuat kerja sama dengan Uni Eropa agar produk CPO dari Indonesia dapat diterima kembali oleh pasar Eropa dan dimasukkan sebagai energi terbarukan.
Industri minyak kelapa sawit merupakan komoditas ekpor terbesar bagi Indonesia dan memiliki posisi penting dalam perekonomian Indonesia karena merupakan penyumbang devisa terbesar bagi negara, mencapai $ 22.9 Milliar atau senilai 432.4 Trilliun Rupiah.1 Menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, dari dua belas komoditas ekspor utama, minyak sawit menempati urutan pertama dalam
1 Indonesian Eximbank Institute, Analisa Rantai Pasok (Supply Chain) Komoditas Unggulan Ekspor Indonesia: Minyak Sawit, Jakarta, UNIED University Network for
Indonesia Export Development, dapat diakses di
http://indonesiaeximbank.go.id/research/downloads/13
2
ekspor sebesar 81,36 Persen dengan nilai $15.38 Milliar atau senilai 216.2 Truliun Rupiah.2
Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia dan mampu memproduksi 35 Juta Ton minyak sawit per tahun. Hal itu karena adanya perkembangan pesat perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang didorong oleh meningkatnya permintaan global untuk minyak berbahan dasar tanaman untuk penggunaan di makanan dan bukan makanan, khususnya untuk bahan bakar biodiesel.3 Selain Indonesia, negara lain yang menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia antara lain Malaysia, Thailand, Nigeria, dan Colombia.4 Negara tujuan ekspor utama minyak sawit Indonesia adalah India yaitu sebesar 2.1 Juta Ton. Kemudian Uni Eropa masih menempati posisi kedua dengan volume 2 Juta ton. Sementara China menempati urutan ketiga sebesar 1.8 Juta ton. dan disusul oleh Afrika 1.1 juta. 5
2 Marizha Nurcahyani, The Export Supply For Indonesian Crude Palm Oil (CPO) To India, Journal Agro Ekonomi, Vol, 29, No, 1, (Juni 2018), Jogjakarta: Universitas Gadjah Mada, Halaman. 19. Dapat diakses di https://jurnal.ugm.ac.id/jae/
3 Amnesty International, 2016, Skandal Besar Minyak Kelapa Sawit Pelanggaran Ketenagakerjaan di Belakang Nama-Nama Merek Besar, Amnesty International Ltd,
Halaman. 4. Dapat diakses di
https://www.amnesty.org/download/Documents/ASA2151842016INDONESIAN.PDF
4 GAPKI, Refleksi Industri Kelapa Sawit Tahun 2017 dan Prospek 2018, Indonesian Palm Oil Association (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), Dapat diakses di https://gapki.id/news/4140/refleksi-industri-kelapa-sawit-2017-dan-prospek-2018
(3/10/2018.20.00 WIB)
5 Dwi Hadya Jayani, Inilah 10 Negara Tujuan Utama Ekpor CPO pada 2019, Katadata, 8 Agustus 2019, dapat diakses di
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/08/08/inilah-10-negara-tujuan-utama- ekspor-cpo-pada-2019
3
Seiring dengan meningkatnya permintaan pasar CPO yang sangat besar memunculkan berbagai isu yang mengatakan bahwa kelapa sawit adalah sumber terjadinya perubahan iklim, penyebab deforestasi, tidak ramah lingkungan, penyebab pemanasan global, hingga isu HAM.6 Isu – Isu tersebut menyebabkan diberlakukannya aksi boikot kelapa sawit Indonesia oleh beberapa negara importir karena kelapa sawit yang berasal dari Indonesia dikategorikan produk tidak ramah lingkungan dan produksinya tidak berkelanjutan.7
Uni Eropa merupakan salah satu negara yang menggunakan isu – isu tersebut untuk memberi hambatan terhadap impor CPO Indonesia ke pasar Uni Eropa sehingga dapat melindungi komoditas minyak nabati lain yang diproduksi di dalam negaranya. Bahkan melalui parlemennya berupaya untuk melakukan pelarangan penggunaan sawit untuk bahan bakar atau biodiesel di Eropa sebagai sumber energi terbarukan.8
Dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan seperti Kebijakan Renewable Energy Directive (RED) dan turunannya yang menetapkan CPO sebagai bahan bakar tidak ramah lingkungan dan akan dihapukan penggunaannya secara
6 Suprayogo, Kampanye Negatif Kelapa Sawit Indonesia. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. DJPEN/MJL/002/06/2011, Eds. Jun. 2011. Jakarta. Warta Ekspor Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Dapat diakses di http://djpen.kemendag.go.id/app_frontend/admin/docs/publication/2481336970842.pdf (3/10/2018.20.00 WIB)
7 Arifin Indra Sulistyanto, Op. Cit., hal. 289
8 Anita Dio Yonanda Suhadak. Pengaruh Black campaign Kelapa Sawit Terhadap Harga Kelapa Sawit Dunia dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia, Jurnal Administrasi Bisnis, Vol, 72, No, 2, (Juli 2019), Bogor: Universitas Institut Pertanian, Dapat diakses di http://administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jab/article/download/2886/327 1
4
berkala dari Uni Eropa pada 2030.9 Pada 4 April 2017, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan Resolusi awit dan menetapkan kebijakan minyak kelapa sawit dalam Official Journal of the European Union. Yang berisi catatan negatif terkait industri kelapa sawit dan mengharuskan negara Eropa untuk berkomitmen terhadap arahan energi terbarukan serta menyarankan penggunaan minyak nabati yang tidak berbasis CPO.10 Selain itu Uni Eropa juga memberlakukan BMAD atau Bea Masuk Anti – Dumping terhadap produk CPO dari Indonesia sebesar sebesar € 76,94 sampai € 178,85 Per Ton.11
Kebijakan – kebijakan yang dibuat tersebut merupakan bentuk hambatan perdagangan yang dibuat untuk melindungi komoditas minyak nabati lain yang ada didalam negerinya agar tidak kalah bersaing dengan CPO dari Indonesia yang masuk ke pasar Uni Eropa.12 Akibat adanya kebijakan hambatan dagang kinerja volume ekspor CPO secara keseluruhan ke negara – negara di kawasan Uni Eropa
9 Directive (EU) 2018/2001 Of The European Parliament And Of The Council Of 11 December 2018 On The Promotion Of The Use Of Energy From Renewable Sources
Parlemen Eropa, Dapat diakses di
file:///C:/Users/USER/Downloads/Documents/DIRECTIVE%20(EU)%202018_2001%20 of%20the%20European%20Parliament%20and%20of%20the%20Council%20of%2011%
20December%202018.pdf
10 European Parliament resolution of 4 April 2017 on palm oil and deforestation of rainforests, Parlemen Eropa dapat diakses di https://eur-lex.europa.eu/legal- content/EN/TXT/PDF/?uri=CELEX:52017IP0098&rid=7
11 Yeni Ariza Rostia, Langkah Indonesia Menghadapi Tuduhan Uni Eropa Terhadap Praktek Dumping Produk Biodiesel Indonesia Tahun 2013, JOM FISIP, (Oktober 2016), Pekanbaru: Universitas Riau, Vol, 3, Nomor, 2, Halaman. 4. Dapat diakses di https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/download/11329/10977
12 Satria Arif, Op. Cit., hal. 87
5
sudah mulai menurun sebesar 15,86 % dari $ 2,15 Milliar pada tahun 2018 menjadi
$ 1,81 Milliar pada 2019.13
Menteri Perdagangan Enggartianto Lukita mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia telah gencar melakukan diplomasi untuk membuktikan produksi kelapa sawit Indonesia berkelanjutan. Sehingga tidak perlu melakukan perang dagang dengan Uni Eropa.14 Setiap negara memiliki tujuannya masing – masing, namun cara yang paling tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memperkuat hubungan kerjasama ekonomi dengan Uni Eropa agar produk CPO Indonesia dimasukkan kembali sebagai salah satu energi terbarukan sehingga dapat diterima di pasar Uni Eropa.
Oleh karena itu, melihat besarnya potensi industri CPO bagi Indonesia dan adanya berbagai hambatan ekspor yang dikeluarkan oleh Uni Eropa serta dampak yang terjadi terhadap ekspor CPO bagi Indonesia, Penulis tertarik untuk mengambil judul Strategi Pemerintah Indonesia Dalam Merespon Hambatan Perdagangan Minyak Kelapa Sawit (CPO) Oleh Uni Eropa.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan hal yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini, ada pun permasalahan yang akan dibahas
13 Buntut Kampanye Hitam, Ekspor CPO RI ke Uni Eropa Anjlok, Cable News Network
(CNN) Indonesia, 16 April 2019, Dapat diakses di
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190415204434-92-386648/buntut-kampanye- hitam-ekspor-cpo-ri-ke-uni-eropa-anjlok
14 Mendag: Kita Buktikan CPO Indonesia Terbaik di Dunia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN.go.id), 29 Agustus 2017, dapat diakses di http://bumn.go.id/ptpn5/berita/1- Mendag-Kita-Buktikan-CPO-Indonesia-Terbaik-di-Dunia
6
antara lain: “Bagaimana strategi Pemerintah Indonesia dalam menghadapi hambatan perdagangan oleh Uni Eropa terhadap CPO Indonesia?”
1.3. Tujuan Penelitian
1. Menjelaskan kebijakan Indonesia dalam meningkatkan kualitas produk CPO agar dapat diterima di pasar Uni Eropa.
2. Menjelaskan upaya pemerintah Indonesia untuk menghadapi hambatan perdagangan CPO oleh Uni Eropa dan memberikan keyakinan terhadap mitra perdagangan tentang produk CPO berkelanjutan Indonesia.
1.4. Penelitian Terdahulu
Dasar acuan yang berupa teori – teori dan data temuan melalui hasil berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data pendukung. Salah satu data pendukung yang menurut penulis perlu dijadikan bagian tersendiri adalah penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang sedang dibahas dalam skripsi ini.
Dalam hal ini, fokus penelitian terdahulu yang dijadikan acuan adalah terkait dengan berbagai upaya pemerintah Indonesia dalam menangani kasus hambatan dagang dalam komoditas minyak nabati dari Uni Eropa. Oleh karena itu, penulis melakukan langkah kajian terhadap beberapa hasil penelitian berupa skripsi, thesis, jurnal, berita dan data resmi dari internet. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa penelitian terdahulu yang relevan yang digunakan untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini, penelitian – penelitian terdahulu tersebut dapat dikategorikan sebagai sengketa minyak sawit antara Indonesia dan Uni Eropa,
7
berbagai jenis hambatan dagang yang dilakukan Uni Eropa terhadap Indonesia, dampak yang dirasakan Indonesia sebagai produsen CPO, komitmen sawit berkelanjutan pemerintah Indonesia serta mengenai konsep konsep hambatan perdagangan dan pembangunan berkelanjutan dan diplomasi.
Penelitian terdahulu yang pertama yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah skripsi oleh Marsha Dewi Putri yang berjudul Analisis Dampak Black campaign Minyak Kelapa Sawit (CPO) Terhadap Volume Ekspor CPO Indonesia.
Skripsi ini menjelaskan mengenai berbagai dampak khususnya pada segi kuantitatif dalam ekspor CPO akibat adanya black campaign dari Uni Eropa. Penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian penulis, yaitu membahas mengenai kebijakan EU terhadap indonesia. Namun penelitian tersebut fokus terhadap dampaknya terhadap ekspor, sementara penulisan penelitian ini lebih kepada upaya pemerintah Indonesia agar tidak terjadi dampak yang signifikan secara luas.
Penelitian milik Marsha tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam menjelaskan berbagai pengaruh dari adanya kebijakan dari Uni Eropa tersebut terhadap Indonesia.15
Penelitian terdahulu yang kedua adalah jurnal milik Novian Iticha Sally yang berjudul Sengketa Minyak Sawit Antara Indonesia dan Uni Eropa. Kesamaan dalam penulisan jurnal tersebut dengan penelitian penulis adalah sama – sama membahas mengenai permasalahan antara Indonesia dengan Uni Eropa mengenai
15 Marsha Dewi Putri, 2013, Analisis Dampak Black campaign Minyak Kelapa Sawti (CPO) Terhadap Volume Ekspor CPO Indonesia, Skripsi, Bogor: Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Halaman. 8. Dapat diakses di https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/65478/1/H13mdp.pdf
8
CPO Indonesia. Namun jurnal ini hanya fokus membahas sengketa dan fokus penelitian penulis lebih kepada upaya pemerintah Indonesia dalam menanganinya.
Penulis menggunakan jurnal ini sebagai bahan untuk melihat berbagai kebijakan Uni Eropa yang menghambat perdagangan CPO16
Penelitian selanjutnya berjudul Motivasi Indonesia Bekerjasama Dengan Malaysia Dalam Membentuk The Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Tahun 2015 yang ditulis oleh Suherno Gunawan. Jurnal ini menjelaskan mengenai upaya Indonesia membentuk wadah kerjasama dengan Malaysia sebagai negara produsen sawit terbesar di dunia. Dimana dalam kerjasama tersebut negara – negara produsen kelapa sawit berupaya mewujudkan perdagangan tanpa adanya hambatan, melihat banyaknya potensi bagi negaranya dan negara produsen kelapa sawit kebanyakan merupakan negara berkembang sehingga tidak seharusnya negara maju seperti Uni Eropa menghambat perdagangan sawit tersebut. Penulis menggunakan jurnal ini untuk melihat salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam menghadapi hambatan perdagangan Uni Eropa dengan cara diplomasi dan merangkul negara lain untuk saling bekerja sama menghadapi isu tersebut.
Penelitian selanjutnya berjudul The Palm Oil Industry From The Perspective of Sustainable development: A Case Study of Malaysian Palm Oil Industry yang ditulis oleh Suhaila Binti Alang Mahat. Penelitian ini menjabarkan berbagai upaya pemerintah malaysia untuk menciptakan lingkungan kelapa sawit
16 Novian Uticha Sally, Sengketa Minyak Sawit Antara Indonesia dan Uni Eropa. Jurnal Dauliyah. Vol, 1, No, 01, (2016), Halaman 7-8. Dapat diakses di https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/dauliyah/article/view/341
9
yang berkelanjutan untuk menghadapi berbagai tekanan terhadap lingkungan.
Persamaan dengan penelitian penulis adalah dalam penelitian ini sama – sama membahas mengenai upaya sebuah negara untuk menciptakan produk CPO yang berkelanjutan. Perbedaannya penelitian tersebut membahas tentang negara Malaysia dan hanya membahas masalah lingkungan sementara penelitian penulis membahas mengenai upaya pemerintah dalam menghadapi hambatan dan serangan isu terhadap CPO Indonesia.17
Penelitian berikutnya berjudul Analisis Alasan Resolusi Kelapa Sawit Uni Eropa (Report on Palm Oil and Deforestation of Rain Forest) dalam Persektif Neo – Merkantilisme oleh Andiko Satria Yusticia. Penelitian tersebut menganalisis kebijakan resolusi kelapa sawit yang dikeluarkan Uni Eropa pada tahun 2017 merupakan bentuk proteksionisme terhadap produk minyak nabati dalam kawasannya, dimana Penulis tersebut menjelaskan dalam perspektif merkantilis bahwa Uni Eropa mengeluarkan kebijakan diskriminatif karena adanya kepentingan nasionalnya yaitu untuk melindungi komoditas minyak nabati lain yang diproduksi dinegaranya dari persaingan dengan minyak sawit yang lebih kompetitif. Penelitian ini penulis sebagai salah satu bentuk hambatan dagang dari Uni Eropa terhadap produk CPO Indonesia.18
17 Suhaila Binti Alang Mahat, 2012, The Palm Oil Industry From The Perspective of Sustainable development: A Case Study of Malaysian Palm Oil Industry, Thesis, Japan:
International Cooperation Policy (Development Economic), Asia Pacific Studies Ritsumeikan Asia Pacific University, Hal. 37 – 38. Dapat diakes di http://r- cube.ritsumei.ac.jp/bitstream/10367/4738/1/51210600.pdf
18 Andhiko Satria Yusticia, 2019, Analisis Alasan Resolusi Kelapa Sawit Uni Eropa (Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforest) dalam Perspektif Neo-
10
Penelitian selanjutnya berjudul Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan oleh Jon Horas dan Tungkot Sipayung.
Jurnal ini meneliti mengenai keberadaan perkebunan sawit sebagai land of use karena banyaknya manfaat yang dihasilkan. Selain itu juga membuktikan bahwa perkebunan kelapa sawit bukan faktor yang mempengaruhi deforestasi di Indonesia. Penulis menggunakan jurnal ini sebagai data acuan yang dapat membuktikan sustainable development dalam industri sawit sudah mampu memenuhi 3 kriteria yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan.19
Penelitian selanjutnya berjudul Daya Saing Minyak Sawit dan Dampak Renewable Energy Directive (RED) Uni Eropa Terhadap Ekspor Indonesia Di Pasar Uni Eropa oleh Gisa Rachma Khairunisa. Penelitian kuantitatif tersebut menunjukkan bahwa CPO memiliki daya saing yang jauh lebih besar dari pada minyak nabati lain. Sehingga walaupun terjadi penurunan kinerja ekspor dibeberapa negara Eropa akibat kebijakan RED tersebut, namun karena adanya kebijakan ISPO Indonesia telah meningkatkan nilai dan kualitas produksi dan ekspor CPO. Hal tersebut juga membuktikan bahwa konsumen akan tetap mengkonumsi minyak kelapa sawit apabila terjadi peningkatan atau penurunan harga. Penulis menggunakan penelitian ini untuk melihat potensi dan keunggulan
Merkantilisme, Skripai, Malang: Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang
19 Jan Horas Purba dan Tungkot Sipayung, Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, Vol, 43, Nomor, 1, (2017), Masyarakat Indonesia (LIPI), Dapat diakses di http://jmi.ipsk.lipi.go.id/index.php/jmiipsk/article/view/717
11
CPO dan pengaruh RED, serta dampak signifikan penerapan ISPO sebagai respon untuk menghadapi kebijakan RED tersebut.20
Selanjutnya penelitian yang berjudul Pengaruh Hambatan Non – Tarif di Pasar Uni Eropa Terhadap Ekspor Komoditas CPO Indonesia oleh Satria Arif Gumelar dkk. Memiliki hasil penelitian yang sama dengan sebelumnya, dimana hambatan non – tarif oleh Uni Eropa tidak berdampak signifikan terhadap ekspor CPO. Namun penelitian tersebut menambahkan bahwa jika hambatan tarif terus dilakukan dan tidak ditangani dengan tepat oleh Pemerintah, maka akan berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor CPO Indonesia ke pasar Eropa.
Dan Indonesia sebagai pengimpor utama komoditas kelapa sawit ke negara tersebut akan diambil alih oleh Malaysia. 21
Tabel 1: Tabel Penelitian Terdahulu
No. Nama dan Peneliti Jenis Penelitian dan Alat Analisa
Hasil dan isi
20 Gisa Rachma Khairunisa dan Tanti Novianti, Daya Saing Minyak Sawit dan Dampak Renewable Energy Directive (RED) Uni Eropa Terhadap Ekspor Indonesia Di Pasar Uni Eropa, Jurnal Agribisnis Indonesia. Vol, 5, No, 2, (Desember 2017), Bogor: Intitute
Pertanian Bogor, Dapat diakses di
https://journal.ipb.ac.id/index.php/jagbi/article/view/22138/14786
21 Satria Arif Gumelar, Pengaruh Hambatan NonTarif di Pasar Uni Eropa Terhadap Ekspor Komoditas CPO Indonesia, Jurnal Agribisnis, Vol, 8, Nomor, 1, (Februari 2020), Lampung: Jurusan Agribisnis, Universitas Lampung, Dapat diakses di https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JIA/article/view/4347
12 1. Analisis Dampak
Black campaign Minyak Kelapa Sawit (CPO) Terhadap Volume Ekspor CPO Indonesia
Oleh : Marsha Dewi Putri
metode deskriptif dan metode kuantitatif.
Teori
Perdagangan Internasional Teori Permintaan Ekspor
Konsep Daya Saing
Berkelanjutan (Sustainable Competitiveness)
Black campaign yang dilakukan uni Eropa terhadap Impor kelapa Sawot Indonesia sampai saat ini berdampak pada terjadinya pemutusan kontrak sepihak oleh konsumen CPO seperti Unilever, Nestle dan Burger King yang membatalkan kontrak pembelian mereka dari grup Sinar Mas pada tahun 2010.
2. Sengketa Minyak
Sawit Antara
Indonesia dan Uni Eropa
Oleh : Novian Uticha Sally
Metode Deskriptif kuaitatif
teori kompleksitas rezim
Konsep
Proteksionisme
Sengketa sawit yang terjadi selama ini sebenarnya merupakan strategi ekonomi Uni Eropa untuk melindungi dan memproteksionis produk dalam kawasannya
3. Motivasi Indonesia Bekerjasama Dengan Malaysia Dalam Membentuk The Council Of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Tahun 2015
Oleh Suherno
Gunawan
Penelitian
Kualitatif metode deskriptif
Indonesia melakukan kerjasama dengan Malaysia membentuk joint act sebagai wadah untuk produsen sawit dunia
13 4. The Palm Oil Industry
From
The Perspective of Sustainable
development:
A Case Study of Malaysian Palm Oil Industry
Oleh :
Suhaila Binti Alang Mahat
Metode Kualitatif Deskriptif
Konsep sustainable development three Pillars of Sustainable development dan Theoritical
Framework of Sustainable development
Pemerintah Malaysia berupaya menangani banyaknya tekanan lingkungan dengan cara melakukan berbagai kegiatan yang berstandar sustainable atau berkelanjutan untuk melindungi produksi CPO Negaranya
5. Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Dalam
Perspektif Pembangunan Berkelanjutan
Jon Horas dan Tungkot Sipayung
Deskriptif Empiris
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah berkelanjutan dilihat dari terpenuhinya aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ditimbulkan dari industri kelapa sawit.
6. Analisis Alasan Resolusi Kelapa Sawit Uni Eropa (Report on Palm Oil and Deforestation of Rain Forest) dalam Persektif Neo – Merkantilisme
Oleh Andhiko Satria Yusticia
Penelitian
Kualitatif Metode Eksplanatif
Pendekatan EPI
Neo –
Merkantilisme
Resolusi Kelapa Sawit yang dikeluarkan oleh Uni Eropa
merupakan bentuk
proteksionisme terhadap produk minyak nabati dalam kawasannya
14 7. Daya Saing Minyak
Sawit dan Dampak Renewable Energy Directive (RED) Uni Eropa Terhadap Ekspor Indonesia Di Pasar Uni Eropa Ooleh Gisa Rachma Khairunisa
Metode Penelitian Kuantitatif
Metode Revealed Comparative Adventage (RCA) Metode Export Product Dynamic (EDP)
Gravity Model
Kebijakan RED Uni Eropa terhadap CPO Indonesia tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ekspor komoditas CPO Indonesia, dan kebijakan ISPO Indonesia telah menaikkan kualitas dan daya saing CPO dalam pasar minyak nabati
8. Pengaruh Hambatan Non – Tarif di Pasar Uni Eropa Terhadap Ekspor Komoditas CPO Indonesia
Oleh : Satria Arif Gumelar, dkk.
Metoda Penelitian Kuantitatif
Model Regresi Berganda
Uni Eropa telah melakukan berbagai hambatan non tarif untuk CPO Indonesia dengan berbagai isu seperti kesehatan, sosial dan pencemaran lingkungan.
9. Strategi Pemerintah Indonesia Pada Sektor Kelapa Sawit Dalam Merespon Hambatan Perdagangan CPO Oleh Uni Eropa
Oleh : Aninditya Puji Rahayu
Metode kualitatif Deskriptif
Konsep Hambatan Perdagangan Pembangunan Berkelanjutan Diplomasi
Uni Eropa mengeluarkan berbagai Hambatan Perdagangan yang ditujukan terhadap CPO Indonesia, hal tersebut mengakibatkan ketidakstabilan ekspor dan pemasukan bagi industri minyak sawit. Sehingga pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya dalam menghadapi hambatan
tersebut dengan
meningkatkan komitmen keberlanjutan dalam sektor pertanian khususnya sawit dan melakukan berbagai diplomasi dan kerjasama agar CPO bisa diterima kembali di pasar Uni Eropa.
15 1.5. Landasan Konseptual.
1.5.1. Hambatan Perdagangan
World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia yang didirikan pada tahun 1995, memiliki tugas utama yaitu mendorong perdangangan bebas dengan mengurangi dan menghilangkan hambatan – hambatan perdagangan seperti tarif dan non – tarif, menyediakan forum perundingan internasional, penyelesaian sengketa dalam perdagangan internasional dan memantau kebijakan perdagangan pada negara – negara anggotanya.22 Namun upaya untuk menciptakan perdagangan dunia yang bebas, multilateral, dan non – diskriminatif terhambat dengan adanya berbagai instrumen kebijakan proteksionisme yang semakin berkembang. Hingga saat ini, dalam perkembangan liberalisasi perdagangan dunia tidak ada satupun negara di dunia yang telah dapat membebaskan perdagangannya dari berbagai bentuk kebijakan proteksionisme.23
Hal ini disebabkan karena masing – masing negara masih berupaya menerapkan berbagai bentuk instrumen baru untuk melindungi pasar dalam negerinya dan menghindari persaingan dengan produk impor. Upaya perlindungan tersebut dilakukan dalam berbagai kebijakan yang justru menjadi hambatan
22 Akbar Kurnia Putra, Agreement on Agriculture dalam World Trade Organization, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol, 46, No, 1 (Februari 2016), Halaman, 90. dapat diakses di http://jhp.ui.ac.id/index.php/home/article/view/37
23 Muhammad Hanif Faisal, 2018, Penerapan Asas Non-Diskriminasi Dalam Perdagangan Sawit Indonesia dan Uni Eropa, Skripsi, Surabaya: Fakultas Hukum, Universitas Airlangga, hal. 12. dapat diakses di http://repository.unair.ac.id/74213/
16
perdagangan baru.24 Hambatan perdagangan dapat diartikan sebagai suatu bentuk tindakan yang dapat mempengaruhi dan membatasi aliran bebas barang dan jasa dalam perdagangan internasional. Dalam perngertian yang lebih sempit, hambatan perdagangan merupakan suatu bentuk tindakan yang diterapkan oleh suatu negara yang tidak sesuai dengan aturan internasional yang sudah disepakati. Dalam praktek perdagangan internasional, hambatan perdagangan dibagi menjadi hambatan tarif dan hambatan non tarif.25
Hambatan Tarif merupakan kebijakan penetapan kenaikan tarif bea sehingga harga jual produk impor menjadi lebih mahal dari pada harga produk yang sejenis dari dalam negeri. Akibat adanya perbedaan harga tersebut, maka produk lokal akan lebih murah dan lebih mudah terjual dari pada produk impor.26 Sementara hambatan non – tarif dilakukan dengan menerapkan pembatasan kuantitas dan pemberlakuan standar tertentu untuk produk yang masuk dari luar negeri dengan menggunakan beberapa alasan teknis seperti alasan dalam rangka melindungi kehidupan dan kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan, standar kesehatan, persyaratan labelling, keamanan nasional, melindungi konsumen melalui informasi yang jelas atas suatu produk, persyaratan daur ulang kemasan produk dan sebagainya. 27
24 Ayu Renita Sari, Op. Cit., hal. 111.
25 Ayu Renita Sati, Op, Cit, hal. 111-112
26 Joko Priyanto, hambatan teknis dibidang Perdagangan Dalam Kaitannya Dengan Kasus Tembakau Indonesia-Amerika Serikat, Masalah-Masalah Hukum Jilid 42, Vol, 42, no, 2, (2013), Semarang: Fakultas Hukum, Universitas Diponogoro, hal. 155, dapat diakses di https://ejournal.undip.ac.id/index.php/mmh/article/view/5802
27 Ibid., hal. 155-156
17
Salah satu tujuan dari kebijakan non – tarif adalah sebagai bentuk proteksi terhadap produk dan produsen dalam negerinya untuk menghadapi persaingan impor dengan produk asing. Penerapan hambatan non tarif akan berdampak pada penurunan ekspor negara – negara yang melakukan perdagangan, sehingga akan mengurangi volume perdagangan serta akan menimbulkan potensi ekspor yang hilang.28 Retifikasi pembentukan WTO telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui UU No.7 Tahun 1994. Dengan hal tersebut, Indonesia memiliki kewajiban untuk memenuhi semua perjanjian yang terkandung di dalamnya. Termasuk Perjanjian Pertanian atau Agreement on griculture (AoA) yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dokumen WTO.29
Tujuan dari AoA ini adalah untuk memperluas liberalisasi perdagangan di bidang pertanian dan secara bertahap mengurangi distorsi perdagangan sesui dengan aturan di dalam GATT. Dimana jenis proteksi yang bersifat kuantitatif tidak diperbolehkan dan proteksi harus diterapkan secara non – diskriminasi. Dalam perkembangannya, negara – negara anggota hingga saat ini masih belum sepenuhnya memenuhi dan mematuhi komitmen yang ada dalam GATT, dengan memberikan proteksi yang besar terhadap produk pertanian yang dihasilkan oleh negara – negara.30
28 Ayu Renita Sari, Op. Cit., hal. 112.
29 A Husni Malian, Kebijakan Perdagangan Internasional Komoditas Pertanian Indonesia, Analisis Kebijakan Pertanian, Vol, 2, Nomor 2, (2004), Halaman. 135. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dapat diakses di http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/akp/article/view/6973
30 Ibid., hal. 137
18
CPO harus bersaing dengan industri minyak nabati negara lain dan menghadapi hambatan perdagangan yang diterapkan oleh negara – negara tujuan ekspor produk CPO. Hingga saat ini Uni Eropa sering mengeluarkan kebijakan yang digunakan untuk menghambat impor CPO ke Eropa, seperti memberikan bea masuk anti dumping ke produk CPO yang berasal dari Indonesia. RED dan aturan turunannya yang memasukkan CPO Indonesia kedalam komoditas minyak nabati yang tidak berkelanjutan dan merusak lingkungan.31
1.5.2. Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan dapat didefinisikan dan ditafirkan dalam banyak cara, tetapi pendekatan intinya adalah tentang keseimbangan antara kebutuhan dan kesadaran lingkungan, keterbatasan sosial dan ekonomi bangsa. 32 Konsep ini muncul karena adanya fenomena dimana pertumbuhan ekonomi akan sangat dibatasi oleh ketersediaan sumber daya alam. Dengan ketersediaan sumber daya alam yang terbatas, arus barang dan jasa yang dihasilkan dari sumber daya alam tidak akan selalu bisa dilakukan secara terus menerus. 33
Menurut Laporan Our Common Future atau Laporan Brundtland yang diproduksi oleh Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (WCED) pada tahun 1987 pembangunan berkelanjutan adalah pengembangan yang memenuhi
31 Bondan Widyatmoko, Menempatkan Implikasi Hambatan Perdagangan Non-Tarif dari Uni Eropa Bagi Komoditas Primer Indonesia, Center for Area Studies Indonesian Institute of Sciences (P2W-LIPI), dapat diakses di http://psdr.lipi.go.id/news-and- events/opinions/menempatkan-implikasi-hambatan-perdagangan-non-tarif-dari-uni-eropa- bagi-komoditas-primer-indonesia.html
32 Suhaila Binti Alang Mahat, Op. Cit., hal. 37-38.
33 Askar Jaya, Op. Cit., hal. 3-4.
19
kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Definisi ini menekankan dua kata kunci penting, yaitu kebutuhan di mana prioritas harus diberikan untuk kebutuhan orang miskin dan keterbatasan harus ditekan oleh adanya kemampuan teknologi dan organisasi sosial dalam memenuhi kebutuhan sekarang dan masa depan. Konsep ini menjadi pendekatan yang paling popular dan membantu membentuk agenda internasional serta sikap terhadap pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan.34
Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga dimensi yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial. Sangat penting untuk memberikan perhatian yang sama dalam setiap komponen untuk memastikan hasil yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan tidak hanya digunakan untuk mengukur manfaat – manfaat ekonomi secara spesifik, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan manfaat ekologis secara lintas generasi.35 Platform Pembangunan Global telah mengalami perubahan dari Millennium Development Goal’s (MDG’s) 2000 – 2015 menjadi Sustainable Development Goals (SDG’s) 2015 – 2030. Tujuan – tujuan SDG’s global selanjutnya akan diimplementasikan pada level negara, daerah, sektor, industri bahkan pada level perusahaan. Pembangunan berkelanjutan merupakan isu yang penting dan menjadi tuntutan dalam berbagai bidang pembangunan terutama pembangunan yang terkait dengan sumber daya alam termasuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia36
34 Suhaila Binti Alang Mahat, Op. Cit., hal. 38
35 Peter R Rogers. Kazi f. Jalal, and John A. Boyd, 2008, An Introduction to Sustainable Development, USA: Glen Educational Foundation, Inc, Halaman. 45.
36 Jon Horas, Op. Cit., hal. 82.
20
Uni Eropa merupakan negara yang berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan terutama dalam keberlanjutan lingkungan dapat dilihat dari kebijakan arahan energinya untuk menggeser penggunaan bahan bakar fosil menjadi penggunaan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan seperti biofuel. Namun kebijakan tersebut malah membatasi dan akan menghentikan impor CPO dengan menggunakan isu keberlanjutan lingkungan. Padahal perkebunan kelapa sawit indonesia memiliki berbagai fungsi yang tidak dimiliki oleh komoditi lainnya.
Khususnya dalam memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia dan masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan kelapa sawit, hal tersebut sesuai dengan pencapaian dari pembangunanberkelanjutan.37
Hingga saat ini, Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi tuduhan tersebut. Pengembangan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan selain karena merupakan tuntutan pasar, juga telah menjadi amanat konstitusi Negara Republik Indonesia yaitu UUD 45 dan dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai peraturan perundang – undangan.38 Pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan merupakan kewajiban yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia dalam upaya memelihara lingkungan, meningkatkan kegiatan ekonomi,
37 A.H. Rahadian, Strategi Pembangunan Berkelanjutan, Prosiding Seminar STIAMI, Vol, 3, No, 01, (Februari 2016), Hal. 48. Jakarta, Dapat diakses di http://www.stiami.ac.id/jurnal/download/140/strategi-pembangunan-berkelanjutan
38 Ermanto Fahamsyah dan Eusebius Pantja Pramudya, ISPO Untuk Menjawab Tantangan Dalam Pembangunan Kelapa Sawit Indonesia Yang Berkelanjutan, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, Masyarakat Indonesia, Vol, 43, No,1, (Juni 2017), Jakarta:
Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-LIPI, Hal. 65-66.
Dapat diakses di http://jmi.ipsk.lipi.go.id/index.php/jmiipsk/article/download/718/520
21
sosial dan penegakan peraturan perundangan Indonesia di bidang kelapa sawit.39 Komitmen tersebut juga bertujuan untuk mensukseskan diplomasi sawit ke Uni Eropa sekaligus untuk menghadapi tuduhan dan isu negatif terhadap pengembangan industri perkebunan kelapa sawit Indonesia dalam mencapai SDG’s40
1.5.3. Diplomasi
Diplomasi adalah salah satu alat utama yang digunakan negara dalam pelaksanaan politik luar negeri dan pencapaian kepentingan nasional yang kemudian bisa menjadi nilai tawar atau state branding sebuah negara sehingga juga dapat membangun citra atau image dari sebuah negara.41 Dalam konteks hubungan internasional, Oxford Dictionary memberi arti diplomasi sebagai manajemen hubungan internasional dengan cara negosiasi. Diplomasi dapat pula diartikan sebagai profesi, aktifitas atau keterampilan mengelola hubungan internasional, biasanya melalui perwakilan suatu negara di luar negeri.42
Dalam kegiatan diplomasi salah satu proses yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan cara negosiasi dalam bentuk kegiatan seperti melalui pertemuan, kunjungan, dan perjanjian – perjanjian. Diplomasi menjadi bagian yang
39 Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sistem Sertifikai Kelapa Sawit Berkelanjutan Hal. 1. Dapat diakases di http://www.ispo- org.or.id/images/pearturan/LAMPIRAN%20I%20sistem%20Sertifikasi%20ISPO.pdf
40 Industri Minyak Kelapa Sawit Indonesia : More Sustainable, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dapat diakses di https://gapki.id/news/2069/industri- minyak-sawit-indonesia-more-sustainable
41 Tonny Dian Effendy, “E-Diplomacy Sebagai Sarana Promosi Potensi Daerah Kepada Dunia Internasional”. diakses melalui journal.unair.ac.id/filerPDF/4 e-Diplomacy Pemda Indonesia, final edit OK.pdf (diakses tanggal 10 mei 2014).
42 Umar Suryadi Bakry, 2017, Dasar - Dasar Hubungan Internasional, Jakarta: PT.Desindo Putra Mandiri, Depok, halaman. 159.
22
sangat penting sebagai solusi atau jalan keluar untuk mengupayakan penyelesaian secara damai. Diplomasi dilakukan untuk mencapai suatu kepentingan nasional suatu negara.43 Menurut Ernest Satow Hakikat diplomasi adalah kegiatan komunikasi di antara para diplomat profesional yang mewakili negaranya masing – masing, dimana pada umumnya kegiatan itu dilakukan untuk memperjuangkan kepentingan nasional negaranya. Diplomasi dapat pula membahas isu – isu penciptaan perdamaian dan perdagangan, perang, ekonomi, budaya, lingkungan dan HAM. Perjanjian – perjanjian internasional biasanya juga dinegosiasikan oleh para diplomat sebelum disahkan dalam forum yang lebih tinggi seperti KTT atau Pertemuan tingkat Menteri. 44
Diplomasi ekonomi adalah penggunaan hubungan pemerintah dan pengaruh pemerintah untuk meningkatkan perdagangan serta investasi di dunia internasional.
Dimana suatu negara menggunakan jalan politik untuk memberi pengaruh dalam negosiaasi internasional dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi Kawasan nasional dengan melakukan promosi perdagangan, membuat kesepakatan dagang, pembahasan isu perdagangan multilateral, serta promosi penanaman modal asing. 45 Diplomasi ekonomi sangat berhubungan dengan masalah ekonomi yang dihadapi oleh suatu negara dengan negara lain yang berkaitan dengan ekonomi atau politik suatu negara. Diplomasi ekonomi tidak
43 Watson Adam, 1984, The Dialogues Between States, London: Methuem. hlm.1
44 Ibid
45 Anugrah Majis Harahap, kepentingan Diplomasi Sawit Indonesia Dalam Upaya Memperkenalkan indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Periode 2016-2018, Skripsi:
Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri syarif, Jakarta, dapat diakses di
https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/55894
23
dapat dipisahkan dengan masalah dalam negeri suatu negara dengan yang dipengaruhi oleh berbagai kalangan bisnis atau pelaku usaha. Dalam penelitian ini, diplomasi meliputi unsur bisnis perdagangan minyak kelapa sawit ke negara – negara Eropa. Dimana kegiatan diplomasi berada pada peran pemerintah Indonesia dalam mendukung kepentingan nasional ekonominya khususnya yang berhubungan dengan ekspor CPO.46
Hubungan Indonesia dan Uni Eropa cukup erat karena adanya upaya saling berinteraksi terutama dalam bidang perdagangan dan kerjasama untuk mencapai tujuannya masing – masing. namun Uni Eropa mengeluarkan kebijakan yang meresahkan industri perkebunan kelapa sawit Indonesia karena kebijakan tersebut adalah alat untuk menciptakan hambatan perdagangan bagi CPO Indonesia untuk masuk ke pasar Eropa dengan cara mendiskriminasi dan memberikan standar tertentu untuk kepentingan minyak nabati yang diproduksi oleh Uni Eropa.
Hingga saat ini, Indonesia selalu berupaya menghadapi masalah tersebut dengan melakukan diplomasi dan memperkuat kerjasama ekonomi baik secara bilateral dengan Uni Eropa atau melakukan kerjasama dengan negara produsen CPO lain seperti Malaysia dan Kolumbia agar dapat tercapai hasil yang maksimal, sehingga CPO dari Indonesia dapat diterima kembali oleh pasar pasar Eropa dan dimasukkan sebagai energi terbarukan.
1.6. Metodologi Penelitian
46 Windratmo suwarmo, Kebijakan Sawit Uni Eropa dan Tantangan bagi Diplomasi Ekonomi Indonesia, Jurnal Hubungan Internasional, Vol, 8, No, 1, (April – September 2019), Hal. 25. Dapat diakses di https://journal.umy.ac.id/index.php/jhi/article/view/7911
24 1.6.1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif.
Dimana penulis menggunakan metode penelitian tersebut untuk menemukan fakta, pengetahuan atau teori terhadap penelitian pada satu waktu tertentu, serta berupaya menggambarkan dan menganalisis hasil dari penelitian. Dalam hal ini, penulis menggambarkan fenomena yang terjadi terhadap komoditas ekspor CPO Indonesia di pasar Uni Eropa, kemudian menganalisis dan mencari data mengenai kebijakan dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menangani hal tersebut.
1.6.2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi dimana penulis mengumpulkan data primer dan sekunder yang bersumber dari buku, artikel, dan data – data dari internet yang sesuai dengan penelitian dan permasalahan serta dapat dipertanggung jawabkan. Penulis juga menggunakan hasil publikasi dan laporan penelitian dari pakar yang mengambil topik yang sama dengan penulis dan digunakan untuk memperoleh bahan dan data mengenai ekspor CPO Indonesia dan hambatan perdagangan oleh Uni Eropa. Selain itu juga mencari data resmi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa seperti RED II, Resolusi Sawit dan Bea masuk anti dumping, serta mengenai kebijakan resmi dari Pemerintah Indonesia seperti komitmen dalam ISPO dan Inpres.
1.6.3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan penulis adalah kualitatif. Dimana penulis menggambarkan permasalahan sesuai dengan data yang diperoleh dan
25
menjelaskan kejadian yang ditemukan secara kronologis, serta menemukan jawaban atas rumusan masalah mengenai penelitian tersebut dengan bukti berupa data data yang sudah dianalisis sebelumnya.
1.6.4. Batasan Penelitian A. Batasan Waktu
Dalam penelitian ini, penulis akan membatasi waktu penelitian dari tahun 2009 dimana pada tahun tersebut Uni Eropa mengeluarkan kebijakan Renewable Energy Directive atau RED yang merupakan salah satu bentuk hambatan perdagangan terhadap CPO Indonesia. Hingga tahun 2020, dimana Pemerintah Indonesia masih melakukan upaya untuk mengatasi tuduhan dan hambatan perdagangan atas CPO Indonesia.
B. Batasan Materi
Batasan meteri dalam penelitian ini adalah memfokuskan mengenai kebijakan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa khususnya RED, Resolusi Eropa dan BMAD sebagai bentuk hambatan perdagangan terhadap komoditas CPO Indonesia dan upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi tuduhan tersebut agar dapat memperbaiki citra perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan produk CPO bisa masuk kembali tanpa hambatan ke pasar Uni Eropa.
1.7. Sistematika Penulisan Tabel 2: Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian
26 1.4 Penelitian Terdahulu
1.5 Kerangka Teori/Konsep Penelitian 1.5.1 Hambatan Perdagangan 1.5.2 Pembangunan Berkelanjutan 1.5.3 Diplomasi
1.6 Metodologi Penelitian
1.6.1 Variabel Penelitian dan Level Analisa 1.6.2 Meode / Tipe Penelitian
1.6.3 Teknik Analisa Data 1.6.4 Ruang Lingkup Penelitian 1.7 Sistematika Penulisan
BAB II Potensi ekspor kelapa sawit dan
bentuk – bentuk hambatan perdagangan Uni
Eropa
PERMASALAHAN
2.1 Potensi Kelapa Sawit Indonesia dan Ekspor CPO ke Eropa
2.2. Hambatan perdagangan terdahap CPO Indonesia 2.2.1 Renewable Energy Directive
2.2.2. Resolusi Sawit
2.2.3. Kebijakan Anti Dumping BAB III
Strategi Pemerintah
Indonesia Menghadapi
Hambatan Perdagangan
PEMBAHASAN
3.1 Meningkatkan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan Pada Komoditas Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia
3.1.1. Menerapkan Kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO)
3.1.2. Rencana Aksi Presiden
2.2. Strategi Eksternal Indonesia dalam Menghadapi Hambatan Perdagangan CPO Oleh Uni Eropa
3.2.1. Kerjasama dengan Negara Produsen CPO dalam the Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC)
27
3.2.2. Diplomasi Melalui Penyusunan Indonesian European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU – CEPA)
3.2.3. Diplomasi Pemerintah Indonesia Melalui World Trade Organization (WTO)
3.4. Hasil yang diperoleh Pemerintah Indonesia dalam upaya menghadapi hambatan perdagangan oleh Uni Eropa
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan 4.2 Saran