• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN : 2089

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ISSN : 2089"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

1

ISSN : 2089 8193

Volume 10 | No.2 | Juli – Desember 2020

Diterbitkan Oleh :

Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam www.medistra.ac.id

E-mail : [email protected]

(2)

2

DAFTAR ISI

1. Workshop Evaluasi Penatalaksanaan Trauma Mata.

Kuat Sitepu, Kardina Hayati, Rosita Ginting ... 1-3

2. Seminar Tentang Kecemasan Pasien Sadar Yang Dirawat Di ruang Intensif Care Unit (ICU).

Rahmad Gurusinga, Yemima Desiria Ginting, Rita Ayu Butar-Butar... 4-7

3. Waktu Tanggap (Respon Time) Pasien Di Instalasi Gawat Darurat.

Tati Murfni karo-Karo, Elfrida Simanjuntak, Siti Sarah Bintang ... 8-11

4. Workshop Truama Kimia Pada Mata, Komplikasi dan Tatalaksananya.

Anita Sri Gandaria Purba, Tati Murni Karo-Karo, Miftahul Zannah ... 12-15

5. Workshop Management Tekanan Intra Kranial (TIK) Pada Pasien Cedera Kepala Sedang- Berat.

Grace Erlyn Damayanti Sitohang, Pratiwi Christa Simarmata, Raynal Ignasius Ginting ... 16-19

6. Seminar Tentang Derajat Nyeri Pasca Bedah Pasien Trauma Muskuloscletal Dengan Menggunakan Alat Ukur Visual Analogue Scale.

Yemima Desiria Ginting, Iskandar Markus Sembiring, Isidorus Jehaman ... 20-22

7. Edukasi Penilaian GCS Pada Pasien Trauma Capitis.

Rita Ayu Butar-Butar, Fredy Kalvind Tarigan, Mila Gustia ... 23-26

8. Workshop Waktu Tanggap Tindakan Keperawatan pasien Cedera Kepala Ktegori I-V.

Amelia Sarma, Leni Sumiati Silaban, Ruttama Hutahuruk ... 27-30

9. Promosi Kesehatan Dengan Pemberian Rebusan Daun Seledri Untuk Menurunkan Hipertensi Pada Wanita Menopouse.

Sari Desi Esta Ulina Sitepu, Ni Nyoman Ayu tamal Hardis, Ongku Bosar Hasibuan ... 31-34

10. Seminar Asuhan Keperawatan Pada Pasien Cedera Kepala Sedang dengan Nyeri Akut

Ruttama Hutahuruk, Darwin Tamba, Samuel Ginting ... 35-38

11. Penyuluhan Tentang Ketepatan Teknik Pelaksanaan Pemindahan Pasien Dengan Trauma Servical

Mila Gustia, Beti Susanti Tarigan, Nora Ervina sembiring ... 39-42 ISSN: 2089-8193

KESTRA-NEWS

JURNAL ILMIAH INKES MEDISTRA LUBUK PAKAM

Volume: 10, No: 2 Juli – Desember 2020

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA

LUBUK PAKAM

(3)

1 WORKSHOP EVALUASI PENATALAKSANAAN TRAUMA MATA

Kuat Sitepu1, Kardina Hayati2, Rosita Ginting3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Mata adalah indera penglihatan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Melalui mata, manusia dapat menangkap informasi secara visual yang digunakan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Jika terjadi gangguan ataupun kerusakan pada mata, maka akan sangat mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi manusia. Mata berada dalam perlindungan rongga orbita, kelopak dan jaringan lemak retrobulbar. Walaupun begitu, mata masih sering mengalami trauma dari dunia luar. Trauma pada mata merupakan penyebab gangguan permanen dan kehilangan penglihatan unilateral, kebutaan monokular, morbiditas mata, yang dapat dicegah. Trauma mata dapat terjadi pada semua kalangan usia. Evaluasi Penatalaksanaan trauma mata maka akan meningkatkan peluang sembuhnya jika terjadi trauma mata. Kegiatan workshop ini dilakukan melalui metode ceramah langsung dan diskusi terhadap peserta seminar. Hasil pengabdian yang diperoleh adalah bahwa peserta seminar telah memahami dan dapat menerapkan hasil evaluasi penatalaksanaan trauma mata yang diukur berdasarkan nilai post test yang berkisar 99%.

Kata kunci: Trauma Mata; Penatalaksanaan; Mata

Abstract

The eye is the sense of sight which is very important for human life. Through the eyes, humans can visually capture information that is used in carrying out daily activities. If there is interference or damage to the eye, it will greatly affect the socio-economic life of humans. The eye is protected by the orbital cavity, lids and retrobulbar adipose tissue. Even so, the eyes are still often traumatized from the outside world. Trauma to the eye is a preventable cause of permanent and unilateral vision loss, monocular blindness, and eye morbidity. Eye trauma can occur at any age. Evaluation The management of eye trauma will increase the chances of recovery if eye trauma occurs. This workshop activity is carried out through direct lecture methods and discussions with seminar participants. The results of the service obtained were that the seminar participants had understood and were able to apply the results of the evaluation of the management of eye trauma which was measured based on the post test score which was around 99%.

Keywords: Eye Trauma; Management; Eye

(4)

2 1. Pendahuluan

Mata adalah indera penglihat yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Melalui mata, manusia dapat menangkap informasi secara visual yang dipakai dalam melakukan kegiatan, sehingga jika muncul gangguan ataupun kerusakan pada mata, maka akan sangat mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi manusia. Mata berada dalam perlindungan rongga orbita, kelopak dan jaringan lemak retrobulbar. Walaupun begitu, mata masih sering mengalami trauma dari dunia luar (Khaeriah Amru, 2017).

Trauma pada mata merupakan penyebab gangguan permanen dan kehilangan penglihatan unilateral, kebutaan monokular, morbiditas mata, yang dapat dicegah.

Sebanyak 40.000-60.000 kasus mata yang trauma dapat menjadi buta. Trauma mata dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak, saraf mata dan rongga orbita. Trauma mata memiliki manifestasi klinis yang beragam dan dapat bias pada semua kalangan usia. Perlakuan yang dilakukan juga berbeda bergantung pada manifestasi klinis, penyebab dan potensi kesembuhan setelah dilakukan tindakan.

Data prevalensi trauma mata di Indonesia masih tidak banyak. Misalnya penelitian pada tahun 2011 yang diadakan di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung, ditemukan bahwa angka trauma mata pada 188 anak dengan rentang usia 0-14 tahun paling banyak terjadi pada laki-laki (69.1%) dibandingkan perempuan (30.9 %). Selain itu, ditemukan 22 mata dengan luka terbuka dan 170 mata dengan luka tertutup (Laila Wahyuni, 2015).

Berdasarkan paparan sebelumnya, maka pengabdi berinisiatif untuk mengadakan workshop dalam mengevaluasi Penatalaksanaan Trauma Mata Di Rumah Sakit Sembiring. Sehingga workshop ini akan sangat bermanfaat bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan kualitas penatalaksanaan pada penderita trauma mata.

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui workshop dengan menggunakan metode ceramah langsung dan diskusi.

Dalam pemaparan material menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus. Setelah itu dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat memahami materi dengan lebih baik dan membangun komunikasi yang lebih intens terhadap peserta workshop.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi mengurus perizinan di tempat pengabdian disertakan membawa surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mensosialisasikan kegiatan pengabdian kepada peserta workshop.

3. Langkah 4

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai penatalaksanaan trauma mata.

4. Langkah 5

Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta workshop.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan untuk mengevaluasi penatalaksanaan trauma mata di rumah sakit sembiring. Hasil kegiatan workshop yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan dapat dipahami dan direspon baik oleh peserta seminar.

2. Secara umum peserta seminar memahami materi mengenai penatalaksanaan trauma mata.

Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan workshop pengabdian masyarakat ini adalah agar seluruh tenaga kesehatan di rumah sakit sembiring dapat meningkatkan pemahaman dan penerapan penatalaksanaan trauma mata.

2. Aspek target materi

(5)

3 Ketercapaian target materi sudah sangat

baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak rumah sakit sembiring sebagai tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Peserta sangat antusias dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang, apalagi seperti di masa pandemic saat ini.

4. Kesimpulan

a. Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan dan diskusi.

b. Sebanyak 99% peserta seminar telah mengetahui hasil evaluasi dan akan meningkatkan penatalaksanaan trauma mata untuk menjadi lebih baik ke depannya. Hal ini didukung pemahaman tenaga kesehatan yang semakin meningkat pada saat mengikuti post test.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam 6. Daftar Pustaka

Amru, K. 2017. Evaluasi penatalaksanaan penderita trauma mata di Rumah sakit

umum pusat dokter wahidin sudirohusodo Makassar periode 2015- 2016. Fakultas kedokteran universitas hasanuddin makassar.

Gunarsa, (2008). Psikologis praktis: Anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta; Gunung Mulia

Laila W, M. S. (2015). Characteristics and Management of Pediatric Ocular Trauma. Opthalmology Indonesia, 74-9 Prio, a.z. (2009). Pengaruh teknik

relaksasi dan frekuensi kekambuhan nyeri lansia dan gastritis di wilayah kerja puskesmas pancoran mas kota depok.

http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/l i bri2/detail.jsp?id=124577

Wahyuni, (2012). Ketepatan waktu makan, asupan kafein, protein, dan tingkat stres terhadap kejadian gastritis pada mahasiswa stata I fkm UNHAS.

http://repository.unhas.ac.id//jurnal%20f itri%20wahyuni%20fkm.docx?sequence

=1

Yosep, (2010). Keperawatan Jiwa.

Bandung : Refika Aditama

Zhang, X., Liu, Y., Ji, X., & Zou, Y. (2017). A Retrospective Study on Clinical Features and Visual Outcome of Patient Hospitalized for Ocular Trauma in Cangzhou, China. Hindawi, -.

(6)

4

SEMINAR

TENTANG KECEMASAN PASIEN SADAR YANG DI RAWAT DI RUANG INTENSIF CARE UNIT (ICU)

Rahmad Gurusinga1, Yemima Desiria Ginting2, Rita Ayu Butar Butar3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Kecemasan sebagai gangguan dalam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas, kepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas- batas normal. Ruang Perawatan Intensif (Intensive Care Unit=ICU) adalah bagian dari bangunan rumah sakit dengan kategori pelayanan kritis, selain instalasi bedah dan instalasi gawat darurat.

Pelayanan kesehatan kritis diberikan kepada pasien yang sedang mengalami keadaan penyakit yang kritis selama masa kedaruratan medis dan masa krisis. Kesimpulan : Sebanyak 93% peserta mengalami peningkatan edukasi mengenai materi yang disampaikan dengan nilai post test yang lebih meningkat dibandingkan dengan nilai pre test.

Kata kunci: Kecemasan, Intensif Care Unit (ICU)

Abstract

Anxiety as a disturbance in feelings characterized by feelings of deep fear or worry and sustainable, not experiencing disturbances in assessing reality, personality still intact, behavior can be disturbed but still within normal limits. The Intensive Care Unit (ICU) is part of a hospital building with a critical service category, in addition to surgical installations and emergency installations. Critical health services are provided to patients who are experiencing a critical illness state during medical emergencies and times of crisis. Conclusion: As many as 93% of participants experienced an increase in education regarding the material presented with a higher post-test score compared to the pre-test score.

Keywords: Anxiety, Intensive Care Unit (ICU)

(7)

5 1. Pendahuluan

Pelayanan ICU diberikan kepada pasien dengan kondisi kritis stabil yang membutukan pelayanan, pengobatan dan observasi secara ketat (Dirjen Bina Upaya Kesehatan, 2011).

Perawatan diruang ICU dilakukan dengan cepat dan cermat serta pamantauan hemodinamik yang terus menerus selama 24 jam. Penggunaan alat-alat diruang ICU sangat diperlukan dalam rangka memperoleh hasil yang most useful. Pasien di ICU dalam keadaan sakit kritis, kehilangan kesadaran atau mengalami kelumpuhan, sehingga segala sesuatu yang terjadi pada pasien hanya dapat diketahui melalui tracking yang baik dan teratur. Perubahan yang terjadi harus dianalis secara cermat untuk mendapatkan tindakan atau pengobatan yang tepat.

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor

1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan ICU di Rumah Sakit. ruang ICU merupakan suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri, dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien yang menderita penyakit akut, cedera, beberapa penyulit yang mengancam jiwa atau potensial mengancam nyawa dengan diagnosis dubia yang diharapkan masih reversible Pemberian perawatan di ICU telah berpusat pada pasien kurang memperhatikan kebutuhan keluarga, Penerimaan pasien ke ICU sering akut, transisi non elektif memunculkan ketidakpastian bagi pasien serta keluarga pasien. Paling sering kebutuhan fisiologis pasien menjadi keprihatinan bagi dokter perawatan kritis.

Memperhatikan kebutuhan sakit kritis penting selama episode penyakit kritis, namun mengatasi kebutuhan psikologis keluarga pasien pada awal penyakit kritis juga harus diperhatikan (Ronald & Sara, 2010). ICU untuk peraturan kunjungan ke pasien dibatasi dan berbeda dengan unit lain sehingga

keluarga akan mengalami suatu keadaan depresi, kecemasan bahkan gejala trauma setelah anggota keluarganya dirawat di ruang ICU menurut McAdam dan Puntillo dalam Bailey (2009).

Pasien dan anggota keluarga menjalani pengalaman berbeda dalam menderita gangguan emosional selama tinggal di ICU dan setelah keluar ICU. Kecemasan, depresi dan gangguan stress paska trauma lebih tinggi pada anggota keluarga dari pada pasien, selanjutnya gejala-gejala ini pada anggota keluarga bertahan tiga bulan, sementara menurun pada pasien. Selamat dari Unit Perawatan Intensif mungkin mengalami tekanan psikologis untuk waktu yang lama, biasanya pasien dan anggota keluarga menderita gejala kecemasan, depresi dan stres paska trauma (Fumis, Ranzani, Martins, &

Schettino, 2015).

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dan diikuti diskusi. Dalam pemaparan material menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus. Setelah itu dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat menciptakan komunikasi yang lebih aktif terhadap peserta seminar sehingga terjadi peningkatan pemahaman.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi mengurus perizinan di tempat pengabdian dan menunjukkan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mempersiapkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai seminar tentang kecemasan pasien sadar Yang di rawat di ruang intensif care unit (ICU).

4. Langkah 4

(8)

6 Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak

lanjut kepada para peserta seminar.

5. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan sosialiasasi pengabdian pada masyarakat ini dilakukan agar dapat mengedukasi peserta seminar dalam memahami seminar tentang kecemasan pasien sadar yang di rawat di ruang Intensif Care Unit (ICU). Hasil kegiatan yang telah dicapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan telah mengedukasi peserta seminar dalam memahami seminar tentang kecemasan pasien sadar yang di rawat di ruang Intensif Care Unit (ICU), Hasil ini ditinjau berdasarkan peningkatan nilai post test yang lebih baik dibandingkan pre test.

2. Peserta menguasai materi dan mampu memahami seminar tentang kecemasan pasien sadar yang di rawat di ruang Intensif Care Unit (ICU) di rumah sakit Grandmed lubuk pakam yaitu sebanyak 98%.

Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan workshop pengabdian masyarakat ini adalah agar seluruh peserta seminar memahami seminar tentang kecemasan pasien sadar yang di rawat di ruang Intensif Care Unit (ICU).

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak rumah sakit Grandmed Lubuk Pakam sebagai tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Peserta sangat tertarik dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

3. Kesimpulan

a. Adanya respon positif dari peserta seminar dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan seminar dan diskusi.

b. Sebanyak 98% peserta workshop telah mampu memahami seminar tentang kecemasan pasien sadar yang di rawat di ruang Intensif Care Unit (ICU). Hal ini dinilai berdasarkan nilai praktikal dan post test peserta seminar yang semakin meningkat pada saat mengikuti post test.

c. Berdasarkan data hasil pengabdian ini menjelaskan bahwa peserta semibar dapat melakukan seminar tentang kecemasan pasien sadar yang di rawat di ruang Intensif Care Unit (ICU).

4. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam dan Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam.

5. Daftar Pustaka

Bailey, J. J., Sabbagh, M., Loiselle, C. G., Boileau, J., & McVey, L. (2010).

Supporting families in the ICU: A descriptive correlational study of informational support, anxiety, and satisfaction with care. Intensive and Dahlan. (2010). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.

Depkes RI. (2012). Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Ruang

(9)

7 Perawatan Intensif. Jakarta: Kementrian

Kesehatan RI.

Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan.

(2011). Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit di Rumah Sakit. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI

Friedman. (2014). Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset, Teori, dan Praktik.

Edisi ke-5. Jakarta : EGC.

Fumis, R. R. L., Ranzani, O. T., Martins, P. S.,

& Schettino, G. (2015). Emotional disorders in pairs of patients and their family members during and after ICU stay. PLoS ONE, (1), 1–12.

doi:10.1371/journal.pone.0115332 Halgin, & Whitbourne. (2010).

Psikologi Abnormal Perspektif Klinis Pada Gangguan Psikologis (6th ed.).

Jakarta: Salemba Medika.

Harmoko. (2012). Asuhan Keperawatan Keluarga. (S. Riyadi, Ed.) (Pertama.).Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hawari, D. (2012). Manajemen Stress Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Herkulana. (2013). Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Anggota keluarga Pasien yang di rawat di ICU RSUD Salatiga.

Diakses dari

http://repository.uksw.edu/handle/12345 6789/6693 Hidayat, A.A. (2014).

Metode Penelitian Keperawatan &

Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika

Kaplan, HI, Saddock, BJ & Grabb, JA., (2010). Kaplan-Sadock Sinopsis PsikiatriIlmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis. Tangerang : Bina Rupa Aksara.

(10)

8 WAKTU TANGGAP (RESPONSE TIME) PASIEN DI INSTALASI GAWAT

DARURAT RUMAH SAKIT

Tati Murni Karo Karo1, Elfrida Simanjuntak2, Siti Sarah Bintang3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Waktu tanggap dihitung dalam hitungan menit dan dapat dipengaruhi faktor-faktor jumlah tenaga yang tersedia di IGD, sarana dan prasarana dan pendidikan dan faktor lain yang mendukung. Tepat waktu adalah apabila waktu tanggap yang diperlukan dalam memberikan respon tidak melebihi waktu standar yang sudah ditentukan. Keberhasilan tindakan dalam mengatasi kegawatdaruratan dapat dinilai berdasarkan pelayanan pertama pada saat terjadi kegawatdaruratan dan dapat dikategorikan terlambat apabila tindakan yang di berikan kepada pasien > 5 menit. Selain itu, Petugas IGD telah dilatih Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) dan tindakan untuk menyelamatkan hidup pasien jiwa yang sedang gawat darurat.

Kegiatan workshop ini dilakukan melalui metode ceramah langsung dan diskusi terhadap peserta seminar. Hasil pengabdian yang diperoleh adalah bahwa peserta seminar telah memahami dan dapat menerapkan waktu tanggap (response time) pasien di instalasi gawat darurat rumah sakit grandmed yang diukur berdasarkan nilai post test yang berkisar 99%. Selain itu, Ada hubungan masa kerja perawat dengan waktu tanggap pasien di IGD RS Grandmed dengan nilai signifikan 0,006. Ada hubungan beban kerja perawat dengan waktu tanggap pasien di IGD dengan nilai signifikan 0,002.

Kata kunci: Waktu Tanggap; IGD; Kegawatdaruratan

Abstract

Response time is calculated in minutes and can be influenced by the number of available personnel in the ER, facilities and infrastructure and education and other supporting factors. On time is if the response time required to provide a response does not exceed the predetermined standard time.

The success of the action in dealing with an emergency can be assessed based on the first service when an emergency occurs and can be categorized as late if the action given to the patient is > 5 minutes. In addition, IGD officers have been trained in the Management of Emergency Patients (PPGD) and actions to save the lives of mental patients who are in an emergency. This workshop activity is carried out through direct lecture methods and discussions with seminar participants.

The results of the service obtained are that the seminar participants have understood and can apply the patient response time in the emergency department of the Grandmed Hospital which is measured based on the post test value which is around 99%. In addition, there is a relationship between nurse tenure and patient response time in the ER Grandmed Hospital with a significant value of 0.006. There is a relationship between nurse workload and patient response time in the ER with a significant value of 0.002.

Keywords: Response Time; emergency room; Emergency

(11)

9 1. Pendahuluan

Waktu tanggap dihitung dalam hitungan menit dan waktu tanggap dapat dipengaruhi faktor jumlah tenaga yang tersedia di IGD, Sarana dan prasarana dan Pendidikan dan faktor lain yang mendukung. Tepat waktu adalah apabila waktu tanggap yang diperlukan dalam memberikan respon tidak melebihi waktu standar yang sudah ditentukan.

Pelaksanaan waktu tanggap yang memadai di Indonesia masih memerlukan evaluasi lebih lanjut dan yang menjadi indikator keberhasilan waktu tanggap penderita gawat darurat adalah kecepatan dalam memberikan pertolongan kepada pasien dalam kegiatan rutin maupun sewaktu genting saat membutuhkan bantuan yang diberikan untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah cacat. (Rima, 2015, Soetrisno,2013 dan Yuliati, 2018).

Waktu tanggap yang diberikan oleh petugas kesehatan di Instalasi Gawat Darurat sangat membantu pasien maupun keluarga karena dapat mengurangi biaya pengobatan, namun kecepatan dan ketepatan pelayanan kesehatan yang diberikan tenaga kesehatan kepada pasien haruslah sesuai dengan standar yang sudah ditentukan sesuai dengan kompetensi dan kemampuan tenaga medis agar dapat menjamin dalam memberikan pelayanan kegawatdaruratan yang cepat dan tepat. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan sarana, prasarana, sumber daya

manusia dan manajemen

rumahsakit/puskesmas sesuai standar.

(Soetrisno,2013)

Keberhasilan tindakan dalam mengatasi kegawatdaruratan dapat dinilai dari: 1) Pelayanan pertama pada saat terjadi kegawatdaruratan dan dapat dikategorikan terlambat apabila tindakan yang di berikan kepada pasien > 5 menit, 2) Petugas IGD adalah petugas yang bekerja di IGD Rumah sakit yang telah dilatih Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD), 3) Tindakan untuk menyelamatkan hidupp pasien jiwa yang sedang gawat darurat. (Patricia, 2013).

Berdasarkan paparan sebelumnya, maka pengabdi berinisiatif untuk mengadakan seminar mengenai waktu tanggap (response time) pasien di instalasi gawat darurat rumah sakit Grandmed. Sehingga seminar ini akan sangat bermanfaat bagi tenaga kesehatan dalam menangani pasien instalasi gawat darurat.

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah langsung dan diskusi.

Dalam pemaparan material menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus. Setelah itu dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat menciptakan komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar sehingga pemahaman akan semakin meningkat.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi mengurus perizinan di tempat pengabdian dan membawa surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mempersiapkan kegiatan pengabdian kepada peserta seminar.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai waktu tanggap pasien di instalasi gawat darurat.

4. Langkah 4

Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan pada waktu tanggap pasien di instalasi gawat darurat. Hasil kegiatan workshop yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat:

1. Materi yang disosialisasikan dapat dipahami dan direspon baik oleh peserta seminar.

2. Secara umum peserta seminar memahami materi mengenai waktu tanggap pasien di instalasi gawat darurat.

Faktor – faktor yang berhubungan dengan

(12)

10 waktu tanggap (respon time) pasien

ditampilkan pada tabel 1.

Tabel 1. Faktor yang berhubungan dengan waktu tanggap

Variabel Frekuensi % Masa kerja

≤ 2 tahun 17 56,7

≥ 2 tahun 13 43,3

Beban kerja

Rendah 17 56,7

Tinggi 13 43,3

Sarana dan prasarana Tidak

lengkap

9 30,0

Lengkap 21 70,0

Waktu tanggap (respon time)

≤ 5 menit 12 40,0

≥ 5 menit 18 60,0

Masa kerja dapat memberikan pelayanan yang prima dalam meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan, sehingga masa kerja yang lama maka akan dapat meningkatkan keterampilan dalam bekerja.

Hal ini dapat membantu dalam menangani masalah atau kasus - kasus kegawatdaruratan yang sering terjadi dan sangat berpengaruh terhadap respon time tenaga kesehatan.

Sarana adalah suatu instrument yang digunakan dalam mencapai tujuan, sementara prasarana adalah alat yang digunakan sebagai penunjang utama untuk menjalankan proses usaha, pembangunan dan proyek. Sarana dan prasarana adalah fasilitas yang saling mendukung karena saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan workshop pengabdian masyarakat ini adalah agar seluruh perawat di rumah sakit grandmed dapat meningkatkan kemampuan perawat dalam waktu tanggap (response time) pasien di instalasi gawat darurat

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak rumah sakit grandmed sebagai tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Peserta sangat antusias dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

a. Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan dan diskusi.

a. Sebanyak 98% peserta seminar telah mampu menerapkan waktu tanggap (response time) pasien di instalasi gawat darurat rumah sakit secara baik.

Hal ini dinilai berdasarkan nilai praktikal dan post test tenaga kesehatan yang semakin meningkat pada saat mengikuti post test.

b. Ada hubungan masa kerja perawat dengan waktu tanggap pasien di IGD RS dengan nilai signifikan 0,006. Ada hubungan beban kerja perawat dengan waktu tanggap pasien di IGD RS dengan nilai signifikan 0,002.

(13)

11 5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

2. Direktur Rumah Sakit Grandmed 6. Daftar Pustaka

Patricia Gonce, 2013. Keperawatan Kritis:Pendekatan Asuhan Holistik. Edisi 8 volume 2. Jakarta: EGC.

Rima, Wahyu. 2015. Hubungan Faktor Faktor Eksternal Dengan Response Time Perawat Dalam Penanganan Pasien Gawat Darurat Di IGD RSUP Prof.

DR.R.D. Kandou Manado. Ejournal Keperawatan Vol. 3.

Siahaan., 2013. Setiap Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Harus Memiliki „Response Time‟ yang Cepat dan Tepat.

http://kesehatan.

kompasiana.com/medis/2013/02/1 /setiap-unit-gawat-darurat

rumahsakitharus-memiliki response- timeyang-cepat-dan tepat-527515.html.

Surtiningsih. 2016. Penerapan Response Time Perawat Dalam Pelaksanaan Penentuan Prioritas Penanganan Kegawatdaruratan Pada Pasien Kecelakaan di IGD RSD Balung.

Sutrisno. 2013. Keperawatan Kegawat Daruratan. Jakarta: Media Aesculapins.

Suyanto., 2010. Pengaruh Strategi Respon Time di Instalasi Gawat Darurat dalam Upaya Meningkatkan Kepuasan Pelanggan di Rumah Sakit Semen Gresik. Jurnal

Yuliati. 2018. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. T. Ari, Ed). Jakarta: Cv. Trans Info Medika.

(14)

12 WORKSHOP TRAUMA KIMIA PADA MATA, KOMPLIKASI DAN

TATA LAKSANANYA

Anita Sri Gandaria Purba1, Tati Murni Karokaro2, Miftahul Jannah3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Trauma kimia mata merupakan keadaan darurat oftalmologi yang dapat menyebabkan cedera pada ringan dan berat pada mata, bahkan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

Trauma kimia mata merupakan trauma yang mengenai bola mata karena terpapar bahan kimia yang bersifat asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata. Sebagian besar penderita trauma kimia adalah kaum muda dan mereka yang berisiko terhadap kecelakaan di tempat kerja, rumah dan kriminalitas. Pada lingkungan rumah, trauma kimia mata sering disebabkan oleh penggunaan bahan kimia di rumah tangga seperti pembersih wc, deterjen, pemutih pakaian dan larutan pembersih lainnya. Trauma pada mata memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah kerusakan yang lebih berat agar tidak berujung pada kebutaan. Hasil pengabdian yang diperoleh adalah bahwa peserta seminar telah memahami dan dapat menerapkan penatalaksanaan trauma kimia pada mata dan komplikasi di rumah sakit grandmed yang diukur berdasarkan nilai post test yang berkisar 98%. Selain itu, Ada menunjukkan bahwa trauma kimia pada pasien laki- laki usia produktif lebih sering terjadi pada kasus trauma kimia mata di tempat kerja.

Kata kunci: Trauma Kimia, Cedera Mata

Abstract

Chemical eye trauma is an ophthalmological emergency that can cause minor and severe injuries to the eye, and can even lead to vision loss. Chemical eye trauma is trauma that hits the eyeball due to exposure to acidic or alkaline chemicals that can damage the structure of the eyeball. Most chemical trauma sufferers are young people and those who are at risk for accidents at work, home and crime. In the home environment, eye chemical trauma is often caused by the use of household chemicals such as toilet cleaners, detergents, clothes bleach and other cleaning solutions. Trauma to the eye requires proper treatment to prevent more severe damage from leading to blindness. The results of the service obtained are that the seminar participants have understood and can apply the management of chemical trauma to the eye and complications at Grandmed Hospital which is measured based on the post test value which is around 98%. In addition, Ada showed that chemical trauma in male patients of childbearing age was more common in cases of chemical eye trauma at work.

Keywords: Chemical Trauma, Eye Injury

(15)

13 1. Pendahuluan

Mata merupakan organ yang senantiasa berkaitan langsung dengan lingkungan luar sehingga sering terkena dampaknya secara langsung. Mata sering terpapar dengan kondisi lingkungan sekitar seperti udara, debu, benda asing dan suatu trauma yang dapat mengenai mata secara langsung. Trauma pada mata antara lain trauma kimia, trauma radiasi, trauma tumpul dan trauma tajam (Sidarta Ilya, 2018).

Trauma kimia mata merupakan keadaan darurat oftalmologi yang dapat menyebabkan cedera pada ringan dan berat pada mata, bahkan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan. Trauma kimia mata merupakan trauma yang mengenai bola mata karena terpapar bahan kimia yang bersifat asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata.

(Bowling B, 2016)

Berdasarkan data World Health Organization menyatakan bahwa sekitar 11,5%-22,1% merupakan penderita trauma kimia dari seluruh trauma mata. Jenis trauma kimia, waktu terpapar, volume, konsentrasi dan durasi terpapar kimia sangat mempengaruhi tingkat keparahan mata.

Efeknya dapat berupa gangguan ringan pada permukaan okular hingga memberikan dampak yang lebih berat. Pada kejadian trauma kimia ringan, maka perawatan awal adalah menjaga integritas okular, sementara perawatan selanjutnya adalah pemulihan epitel pada permukaan ocular. (Ehlers JP, Shah CP.

2016)

Sebagian besar penderita trauma kimia adalah kaum muda dan mereka yang berisiko terhadap kecelakaan di tempat kerja, rumah dan kriminalitas. Pada lingkungan rumah, trauma kimia mata sering disebabkan oleh penggunaan bahan kimia di rumah tangga seperti pembersih wc, deterjen, pemutih pakaian dan larutan pembersih lainnya.

Trauma pada mata memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah kerusakan yang lebih berat agar tidak berujung

pada kebutaan. Berdasarkan hal tersebut, maka pengabdi berinisiatif untuk mengadakan workshop trauma kimia pada mata, komplikasi dan tatalaksananya.

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah langsung dan diskusi.

Dalam pemaparan material menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus. Setelah itu dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat menciptakan komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar sehingga pemahaman akan semakin meningkat.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi mengurus surat perizinan di tempat pengabdian dan membawa surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mempersiapkan kegiatan pengabdian kepada peserta seminar.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai workshop trauma kimia pada mata, komplikasi dan tatalaksananya.

4. Langkah 4

Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan sosialiasasi pengabdian pada masyarakat ini dilakukan agar dapat mengedukasi tenaga kesehatan dan masyarakat dalam mengadakan workshop trauma kimia pada mata, komplikasi dan tatalaksananya. Hasil kegiatan yang telah dicapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan telah mengedukasi perawat dalam memahami dan menerapkan mengadakan workshop trauma kimia pada mata, komplikasi dan tatalaksananya. Hasil ini ditinjau berdasarkan peningkatan nilai post test yang lebih baik dibandingkan pre test.

(16)

14 2. Peserta menguasai materi dan mampu

menerapkan workshop trauma kimia pada mata, komplikasi dan tatalaksananya di rumah sakit Grandmed lubuk pakam sebanyak 98%.

Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan workshop pengabdian masyarakat ini adalah agar seluruh perawat di rumah sakit grandmed dapat meningkatkan Tenaga kesehatan dan masyarakat dalam memahami trauma kimia pada mata, komplikasi dan penatalaksananya.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

3. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak rumah sakit grandmed sebagai tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Peserta sangat tertarik dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

4. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

a. Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan dan diskusi.

b. Sebanyak 98% peserta workshop telah mampu memahami trauma kimia pada

mata, komplikasi dan penatalaksananya dalam mengatasi trauma kimia pada mata. Hal ini dinilai berdasarkan nilai praktikal dan post test tenaga kesehatan yang semakin meningkat pada saat mengikuti post test.

c. Berdasarkan data hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa trauma kimia pada pasien laki-laki usia produktif lebih sering terjadi pada kasus trauma kimia mata di tempat kerja.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

3. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

4. Direktur Rumah Sakit Grandmed.

6. Daftar Pustaka

Bowling B. 2016. Trauma, Chemical Injuries.

Kanski‟s Clinical Ophthalmology.

United State of America: Elsevier; 881- 6. 4.

Ehlers JP, Shah CP. 2016. Trauma. Dalam:

Friedberg MA, Rapuano CJ, Editor. The Will‟s Eye Manual, office and emergency room diagnosis and treatment of eye disease. Edisi ke-7. Philadelphia:

Lippincott William and Wilkins. hlm.

12-7.

Ilyas, Sidarta. 2018. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Siahaan., 2013. Setiap Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Harus Memiliki „Response Time‟ yang Cepat dan Tepat.

http://kesehatan.

kompasiana.com/medis/2013/02/1 /setiap-unit-gawat-darurat

rumahsakitharus-memiliki response- timeyang-cepat-dan tepat-527515.html.

Surtiningsih. 2016. Penerapan Response Time Perawat Dalam Pelaksanaan Penentuan Prioritas Penanganan Kegawatdaruratan Pada Pasien Kecelakaan di IGD RSD Balung.

Sutrisno. 2013. Keperawatan Kegawat Daruratan. Jakarta: Media Aesculapins.

(17)

15 Suyanto., 2010. Pengaruh Strategi Respon

Time di Instalasi Gawat Darurat dalam Upaya Meningkatkan Kepuasan Pelanggan di Rumah Sakit Semen Gresik. Jurnal

Yuliati. 2018. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. T. Ari, Ed). Jakarta: Cv. Trans Info Medika.

(18)

16 WORKSHOP MANAJEMEN TEKANAN INTRA KRANIAL (TIK) PADA PASIEN

CIDERA KEPALA SEDANG - BERAT

Grace Erlyn Damayanti Sitohang1, Pratiwi Christa Simarmata2, Raynald Ignasius Ginting3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab yang paling bermakna dalam meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Terdapat 1,4 juta cedera kepala terjadi setiap tahun, dengan lebih dari 1,1 juta yang datang ke Unit Gawat Darurat. Tekanan intrakranial (TIK) merupakan suatu tekanan total yang didesak oleh otak, darah, dan cairan serebrospinal yang berada di dalam kubah intrakranial ≥15 mmHg (nilai normal 3-15 mmHg). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana manajemen TIK pada pasien cedera kepala sedang- berat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan . Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan survey menggunakan kuesioner yang telah melewati tahap uji validitas dan reliabilitas. Penentuan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 88 pasien di instalasi gawat darurat dan ruang rawat intensif di Grandmed Lubuk Pakam. Penelitian ini menggunakan desain analisis univariat. Dari hasil penelitian ini, didapatkan manajemen TIK pada kategori baik sebanyak 56 (63,6%) responden dan kategori kurang baik sebanyak 32 (36,4%) responden.

Kata kunci: Manajemen, Tekanan Intra Kranial (TIK), cidera kepala sedang

Abstract

Head injury is one of the most significant causes of increasing morbidity and mortality. There are 1.4 million head injuries every year, with more than 1.1 million presenting to the Emergency Department. Intracranial pressure (ICP) is the total pressure exerted by the brain, blood, and cerebrospinal fluid in the intracranial vault 15 mmHg (normal value 3-15 mmHg). This study aims to determine how the management of ICT in patients with moderate to severe head injuries at the Haji Adam Malik General Hospital Medan. The research design used is descriptive with a survey approach using a questionnaire that has passed the validity and reliability test stages. Determination of the sample using total sampling with the number of respondents as many as 88 patients in the emergency department and intensive care room at Grandmed. This study used a univariate analysis design. From the results of this study, it was found that there were 56 (63.6%) respondents in the good category of ICT management and 32 (36.4%) respondents in the poor category.

Keywords: Manjament, intracranial pressure, head injury

(19)

17 1. Pendahuluan

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab yang dapat menaikkan angka morbiditas dan mortalitas. Terdapat sebanyak 1,4 juta cedera kepala terjadi setiap tahun, dengan lebih dari 1,1 juta yang datang ke UGD. Kejadian cedera kepala yang terjadi pada anak usia 0-14 tahun sebanyak 475000 setiap tahun. Anak-anak yang bertahan setelah mengalami cedera kepala sedang dan berat berisiko tinggi menderita gangguan kognitif dan perilaku.

Hipertensi intrakranial adalah sebuah komplikasi yang sering terjadi pada cedera kepala berat. Cidera kepala paling sering menyebabkan hipertensi intrakranial, juga dapat meningkatkan tekanan intrakranial (TIK), seperti terjadinya hidrosefalus, stroke, tumor, trombosis sinus venosus, dan dapat menyebabkan perdarahan. Pada pasien cedera kepala, peningkatan TIK ada hubungannya dengan hasil buruk dan terapi agresif terhadap peningkatan TIK ini dapat memperbaiki outcome.

TIK normal bervariasi menurut umur, posisi tubuh, dan kondisi klinis. Nilai TIK normal adalah 7-15 mmHg untuk dewasa, 3-7 mmHg untuk anak-anak, dan 1,5-6 mmHg untuk bayi. Terjadinya hipertensi intracranial tergantung pada patologi spesifik dan usia.

Contohnya nilai TIK>15 mmHg dikatakan abnormal, tetapi penanganan yang diberikan dengan tingkatan yang berbeda tergantung patologinya. TIK >15 mmHg yang memerlukan penanganan yaitu pada pasien hidrosefalus, sedangkan setelah cedera kepala, penanganan diindikasikan bila TIK >20 mmHg.

Perawatan pasien dengan manajemen TIK rata-rata terjadi pada pasien dengan cedera kepala sedang hingga berat.

Secara umum tingkat keparahan cedera kepala diklasifikasikan menjadi cedera kepala ringan, cedera kepala sedang, dan cedera kepala berat.

Cedera pada kepala dapat menyebabkan tengkorak dan isinya bergetar, terjadinya kerusakan tergantung pada besar kecilnya getaran. Semakin besar getaran dan tingkat keparahan maka semakin besar juga kerusakan yang ditimbulkan. Getaran dari benturan dapat menyebabkan pembuluh darah robek sehingga akan menyebabkan hematoma epidural, subdural maupun intrakranial,

perdarahan tersebut juga akan mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun sehingga suplai oksigen berkurang dan terjadi hipoksia jaringan dan menyebabkan edema serebral. Akibatnya isi daripada otak akan terdorong ke arah yang berlawanan dan mengakibatkan naiknya TIK lalu merangsang kelenjar pituitari dan steroid adrenal sehingga sekresi lambung meningkat yang dapat menyebabkan rasa mual dan muntah.

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui workshop. Dalam pemaparan material menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus yang tersedia. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan diskusi antara pengabdi dan peserta seminar sehingga dapat menciptakan komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar sehingga terjadi peningkatan pemahaman.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi mengurus perizinan di tempat pengabdian dan menunjukkan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mempersiapkan materi dan merancang kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta seminar melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat.

4. Langkah 4

Pengabdi melaksanakan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan sosialiasasi pengabdian pada masyarakat ini dilakukan agar dapat mengedukasi peserta workshop dalam memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat. Hasil kegiatan yang telah dicapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

(20)

18 1. Materi yang disosialisasikan telah dipahami

peserta seminar dalam memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat. Hal ini ditinjau berdasarkan peningkatan nilai post test yang lebih baik.

2. Peserta mampu menguasai materi dan mampu memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat sebanyak 98%.

Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan workshop pengabdian masyarakat ini adalah agar seluruh peserta seminar di rumah sakit grandmed dapat memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak Rumah Sakit Grandmed sebagai tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Peserta sangat antusias mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan dan dipantau secara ketat.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

a. Adanya respon positif dari peserta

seminar dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan seminar dan diskusi.

b. Sebanyak 98% peserta workshop telah mampu memahami cara melakukan Manajemen Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat. Sehingga dapat melakukan antisipasi agar terhidar dari terjadinya Tekanan Intra Kranial (TIK) pada pasien Cidera Kepala Sedang – Berat. Hal ini dinilai berdasarkan nilai post test peserta seminar yang semakin meningkat pada saat mengikuti post test.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

5. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

6. Direktur Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam.

6. Daftar Pustaka

Tjahjadi M, Arifin MZ, Gill AS, Faried A.

Early mortality predictor of severe traumatic brain injury: a single center study of prognostic variables based on admission characteristics. The Indian Journal of Neurotrauma. 2013; 10(1):3- 8.

Mak CHKM, Lu YY, Wong GK. Review and recommendations on management of refractory raised intracranial pressure in aneurysmal subarachnoid hemorrhage.

Vascular Health and Risk Management.

2013;9(1): 353–359 Ranger-Castillo L, Gopinath S, Robertson CS.

Management of Itracranial Hypertension. Neurol Clin. May 2008;

26(2):521-41.

Purnama, Eka. Asuhan keperawatan pada klien dengan cedera kepala berat. 2013.

[Diakses: 29 Februari 2016].

Available from:

http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?mod

=browse&op=read&id=jtptunimus- gdl-ekapurnama-5391

Kim, BS., Jallo, J. 2008. Intracranial Pressure Monitoring and Management of raised Intracranial Pressure. In Neurosurgical Emergencies. Second edition. Loftus, C.B editor. New York; AANS, pp. 11-

(21)

19 12.

North, B. 2017. Intracranial Pressure Monitoring. In head Injury. Reilly, P., Bullock, R.editors. London. pp. 209- 216.

(22)

20 SEMINAR TENTANG DERAJAT NYERI PASCA BEDAH PASIEN TRAUMA

MUSCULUSKLETAL DENGAN MENGGUNAKAN ALAT UKUR VISUAL ANALOGUE SCALE

Yemima Desiria Ginting1, Iskandar Markus Sembiring2, Isidorus Jehaman3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Nyeri masih menjadi alasan pasien datang menemui para klinisi. Nyeri adalah rasa dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang dikaitkan dengan adanya kerusakan jaringan. Visual Analogue Scale (VAS) merupakan alat pengukuran intensitas nyeri yang di anggap paling efisien yang telah digunakan dalam penelitian dan uji sensitivitas suatu obat analgetik. VAS umumnya disajikan dalam bentuk garis horizontal dan diberi angka 1-10. Semua pasien hanya mengalami nyeri ringan-sedang selama 24 jam pasca operasi trauma musculuskletal dengan trend penurunan skor VAS sebelum operasi hingga 24 jam pasca operasi. Diperlukan perhatian khusus pada 6 jam pasca operasi untuk menilai ulang derajat nyeri dan pemberian analgetik yang adekuat sehingga tidak terjadi perburukan derajat nyeri. Workshop dengan tingkat keberhasilan penilaian derajat nyeri pasca bedah pasien trauma musculuskletal dengan menggunakan alat ukut visual analogue scale di Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang sehingga dapat melakukan antisipasi yang tepat dalam menghindari ketidakberhasilan penanganan derajat nyeri pada pasien pasca bedah trauma musculuskletal. Nilai post test yang diperoleh sebesar 98% menunjukan peserta seminar telah paham mengenai materi yang disosialisasikan.

Kata kunci: Nyeri, Visual Analogue Scale (VAS), trauma Muskuloskletal

Abstract

Pain is still the reason patients come to see clinicians. Pain is an unpleasant emotional feeling and experience associated with tissue damage. Visual analogue scale (VAS) is a pain intensity measurement tool that is considered the most efisient that has been used in research and sensitivity testing of an analgesic drug is generally presented in the from of a horizontal line and is numbered 1-10. All patient, only experienced mild to moderate pain during 24 hours postoperative musculuskletal trauma with a trend of decreasing VAS scores before surgery to 24 hours postoperatively. Special attention is needed at 6 hours postoperatively to reassess the decalat overi and provide adequate analgesic so that pain does not worsen. Workshop with a success rate of assessing the degree of surgery for musculuskletal trauma patients using a visual analogue scale measuring instrument at the Deli Serdang Regional General Hospital so that they can take appropriate anticipation in avoiding the unsuccessful handling of pain degrees in post musculuskletal trauma patients 98% showed that the seminar participants had understood the material being socialized.

Keywords: Pain, Visual Analogue Scale (VAS). Trauma muskuloskletal

(23)

21 1. Pendahuluan

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan dan berhubungan dengan jaringan. Nyeri bersifat subjektif, penilaiannya tergantung apa yang dilaporkan klien. Sensasi nyeri merupakan fenomena neurobiokimia yang melibatkan banyak zat-zat biokimia yang diwujudkan dalam bentuk neurotransmitter nyeri (Clark C W et al. 2009; IASP.2011).

Nyeri terjadi karena adanya kerusakan jaringan, dari kerusakan jaringan ini akan keluar mediator-mediator inflamasi yang akan merangsang nyeri, sehingga jenis pembedahan dan luas daerah pembedahan akan mempengaruhi persepsi nyeri pasca bedah.

Contohnya nyeri pasca bedah orthopedi yang termasuk golongan nyeri hebat (Riley and Boulis, 2016).

Sebelum melakukan penanganan nyeri maka dilakukan penilaian nyeri terlebih dahulu. Cara yang dapat dilakukan untuk menilai nyeri meliputi Metode Nomor (Numeric Rating Scale), Kata-kata (Verbal Rating Scale), Wajah (Wong-baker Faces Scale) serta menggunakan VAS (Visual Analogue Scale) (SAJA. 2009).

Visual Analogue Scale (VAS) adalah salah satu alat pengukuran intensitas nyeri yang dianggap paling efisien yang digunakan dalam pengukuran skala nyeri. VAS umumnya disajikan dalam bentuk garis horizontal dan diberi angka 1-10, dimana awal garis (0) penanda tidak ada nyeri dan akhir garis (10) menandakan nyeri hebat. Klien diminta untuk membuat tanda garis untuk mengekspresikan nyeri yang sedang di rasakan. Penggunaan skala VAS lebih mudah di pahami oleh klien dan efisien dibandingkan dengan skala lainnya.

VAS secara statistik paling baik dalam menilai derajat nyeri. Nilai VAS antara 0-4 dianggap sebagai tingkat nyeri yang rendah dan digunakan sebagai target untuk tatalaksana analgesia. Nilai VAS >4 dianggap nyeri sedang menuju berat sehingga klien merasa tidak nyaman dan perlu diberikan obat analgetik penyelamat (Willianson, 2015).

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui workshop. Dalam pemaparan material menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus yang tersedia. Setelah itu dilanjutkan dengan

kegiatan diskusi antara pengabdi dan peserta seminar sehingga dapat menciptakan komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar sehingga terjadi peningkatan pemahaman.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi mengurus perizinan di tempat pengabdian dan menunjukkan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mempersiapkan materi dan merancang kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta seminar melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai derajat nyeri pasca bedah pasien trauma musculuskletal dengan menggunakan alat ukur Visual Analogue Scale.

4. Langkah 4

Pengabdi melaksanakan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan sosialiasasi pengabdian pada masyarakat ini dilakukan agar dapat mengedukasi peserta workshop dalam memahami tentang derajat nyeri pasca bedah pasien trauma musculuskletal dengan menggunakan alat ukur VAS. Hasil kegiatan yang telah dicapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan telah dipahami peserta seminar dalam memahami derajat nyeri pasca bedah pasien trauma musculuskletal dengan menggunakan alat ukur visual analogue scale. Hal ini ditinjau berdasarkan peningkatan nilai post test yang lebih baik.

2. Peserta mampu menguasai materi dan mampu memahami derajat nyeri pasca bedah pasien trauma musculuskletal dengan menggunakan alat ukur visual analogue scale sebanyak 98%.

Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan workshop pengabdian masyarakat ini adalah agar seluruh peserta seminar di

(24)

22 rumah sakit umum daerah deli serdang

dapat memahami derajat nyeri pasca bedah pasien trauma musculuskletal dengan menggunakan alat visual analogue scale.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a.Adanya dukungan baik dari pihak Rumah sakit umum daerah Deli Serdang sebagai tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c.Peserta sangat antusias mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan dan dipantau secara ketat.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

3. Kesimpulan

a. Adanya respon positif dari peserta seminar dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan seminar dan diskusi.

b. Sebanyak 98% peserta workshop telah mampu memahami derajat nyeri pasca bedah pasien trauma musculuskletal dengan menggunakan alat visual analogue scale. Sehingga dapat melakukan antisipasi agar terhidar dari ketidakberhasilan penilaian nyeri. Hal ini dinilai berdasarkan nilai post test peserta seminar yang semakin meningkat pada saat mengikuti post test.

4. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam 2. Direktur Rumah Sakit Umum Daerah

Deli Serdang.

5. Daftar Pustaka

Apfelbaun JL,Chen C. Result from a National Surgery Suggest Postoperative Pain Continues to be Undermanaged Aneshtesia &

Analgesia 2003;97:534-40.

International Association for the Study of Pain. Chronic Pain After Surgery.2011.1-6.

Macrae WA. Chronic Pain After Surgery.

British Journal of

Anesthesia.200187:88-9

Tenant F. Complications Uncontrolled Persisstens Pain.2004.1-2.

Joko Tri Atmojo, et Al (2020).

Australasian Triage Scale (ATS) :

Literature Review.

(25)

23 WORKSHOP EDUKASI PENILAIAN GCS PADA PASIEN TRAUMA CAPITIS

Rita Ayu Butar-Butar1, Fredy Kalvind Tarigan2, Mila Gustia3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected].

Abstrak

Trauma merupakan penyebab terbanyak kematian pada usia di bawah 45 tahun dan lebih dari 50 merupakan trauma kapitis. trauma kepala merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kerusakn fisik dan mental yang kompleks, defisit kognitif psikis intelektual dan lain-lain yang dapat bersifat sementara ataupun menetap. Trauma kapitis trauma kepala adalah trauma mekanik terhadap kepala baik secara lansung maupun tidak lansung dan menyebabkan gangguan fungsi neurolois yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial baik temporer maupun permanen. Pada trauma kapitis perlu diperhatikan adana perubahan kesadaran setelah trauma.

Kesadaran dapat dinilai menunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Kesimpulan : Sebanyak 95%

peserta mengalami peningkatan edukasi mengenai materi yang disampaikan dengan nilai post test yang lebih meningkat dibandingkan dengan nilai pre test.

Kata kunci: Edukasi Penilaian GCS, Trauma Capitis.

Abstract

Trauma is the leading cause of death under 45 years of age and more than 50 are head trauma.1 Head trauma is a health problem and can cause physical and mental disorders and complexes, mental deficits, intellectual and others, and can be temporary or temporary. stay. Head trauma head trauma is a mechanical trauma to the head either directly or indirectly and causes neurological function disorders, namely physical, cognitive, psychosocial functions, both temporary and permanent. In head trauma, it is necessary to pay attention to changes in consciousness after the trauma. Consciousness can be assessed using the Glasgow Coma Scale (GCS). Conclusion: 95% of participants experienced an increase in education regarding the material presented with a higher post-test score compared to the pre-test score.

Keywords: GCS assessment education, trauma capitis.

Referensi

Dokumen terkait

Nilai bearing stresses akibat gaya aksial yang terbentuk pada ujung ductile rods (Headrod) lebih kecil dari pada bearing stresses yang dizinkan oleh ACI yaitu

Untuk melindungi peralatan dari sambaran petir maka dipasang arrester dan arcing horn yang dipasang pada jaringan SUTM 20kV secara bersamaan.Pengkombinasian arrester

3 Visualisasi patung Reog membuat daftar ketertarikan penulis mengapa ingin mengangkat Eksistensi Reog Singo Mangku Joyo sebab dengan adanya visualisasi patung tersebut

Hasil penelitian dan diskusi untuk menjelaskan kebijakan hukum pidana terhadap resiko kejahatan di bidang ketenagakerjaan adalah ketentuan peraturan mengenai masalah hukum

Selain itu, peneliti juga ingin mengetahui apakah spiritualitas dapat menjadi moderator dalam hubungan antara persepsi risiko dan kecemasan menghadapi risiko kecelakaan pesawat

salah satu bentuk kompresi data yang bertujuan untuk mengecilkan ukuran file audio.. dengan teknik,

Pada saat kita sudah terhubung dengan Internet, dan kita bermaksud untuk membuka suatu halaman web site tertentu, maka kita perlu menuliskan alamat domain web

Digitized Pictures adalah sebuah video yang diambil apakah itu dari kamera video, VCR, video disc player atau live video yang disimpan pada sebuah komputer dan digunakan