16 A. Surat al-Ankabut
1. Pengertian Surat
Menurut bahasa surah atau sering disebut surat artinya mulia, derajat, atau tingkat dari sebuah bangunan. Surat yang disebut dari bagian al-Quran menunjukkan karena kemuliaannya. Jika diibaratkan al-Quran merupakan sebuah bangunan, maka surat adalah tingkat-tingkatnya. Surat juga diartikan sebagai sesuatu yang sempurna atau lengkap. Dalam KBBI surat diartikan sebagai bagian atau bab dalam al-Quran.1
Secara istilah para ahli ilmu al-Quran berbeda dalam mendefinisikan surat.
Namun bisa diambil kesimpulan bahwa surat adalah sekumpulan ayat-ayat al- Quran yang berdiri sendiri, yang memiliki permulaan dan akhiran sebagai tingkatan untuk membedakan antara surat yang satu dengan surat yang lainnya.2 2. Penamaan Surat al-Ankabut
Berdasarkan keterangan yang terdapat dalam beberapa buah hadis dan riwayat, setiap surat dalam al-Quran memiliki nama tersendiri yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. secara tauqifi. Pada umumnya surat-surat al-Quran mempunyai satu nama saja, ada pula beberapa surat yang mempunyai dua buah nama atau lebih, antara lain at-Taubah, al-Bara‟ah, al-Fadilah, dan al-Hafidzah.
Kata-kata yang dipakai untuk menjadi nama surat-surat tersebut antara lain:3 a. Diambil dari luar surat
Kata yang dipakai untuk menjadi nama surat, tidak terdapat di dalam ayat-ayat dari surat bersangkutan. Surah yang pertama dinamai al-Fatihah tidak ditemukan di dalam ayat-ayatnya, namun nama tersebut telah memberikan petunjuk kepada kita tentang fungsinya sebagai Fatihah (pembukaan atau pendahuluan) bagi al-Qur‟an.
1 Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam al-quran, volume 2, Desember 2016 dalam CENDEKIA: Jurnal Studi Keislaman, hlm. 211, ( e-jurnal.hasanjufri.ac.ad).
2 Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam al-quran,...hlm. 211.
3 Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam al-quran,...hlm. 215-216.
b. Diambil dari tema yang sedang dibicarakan
Misalnya surah an-Nisa‟ dinamakan surah an-Nisa‟ karena banyak membahas tentang wanita.
c. Diambil dari salah satu kata yang terdapat pada ayat
Misalnya surat ke-20, dinamai dengan Thaha. Kata Thaha tersebut sudah dijumpai pada ayat pertama dari. Surat ke-29 dinamai dengan al- Ankabut. Kata al-Ankabut baru dijumpai pada ayat ke-41, dari surat bersangkutan. Selanjutnya surat ke-107, dinamai dengan al-Ma‟un, padahal kata al-Ma‟un ini baru dijumpai pada akhir ayat yang terdapat pada akhir surat bersangkutan.
Dinamakan surat al-Ankabut karena diambil dari salah satu kata yang terdapat pada ayat ke 41, sebagai perumpamaan kaum penyembah selain Allah.
Surat ke 29 yaitu al-Ankabut yang memberi peringatan bahwasanya orang yang telah mengaku beriman kepada Allah tidaklah akan luput dari cobaan. Percobaan adalah ujian dan iman.4 Orang yang mengatakan iman dalam mulut saja, dan bergantung pada selain Allah itulah yang kemudian diibaratkan laba-laba yang berlindung pada sarangnya yang rapuh.
3. Hubungan Isi Surat sengan Nama Surat
Surat al-Ankabut diawali dengan huruf muqat}a’ah yaitu berupa ali}f la}m dan mi}m. Dalam buku 29 Sandi al-Quran, dijelaskan bahwa salah satu tema dari surat yang diawali dengan huruf muqat}a’ah adalah tema mengenai Binatang.5 Sesuai dengan nama surat al-Ankabut yang berarti binatang laba-laba.
Kemudian isi kandungan dari surat yang diawali dengan huruf muqat}a’ah tersebut berbicara seputar keimanan, hukum, dan kisah-kisah.6 Diterangkan pula bahwa ketiga huruf muqat}a’ah menunjukkan fenomena-fenomena tentang sifat- sifat Allah, organ manusia (secara simbolik ali}f berarti otak, la}m berarti tubuh, mi}m berarti mata rantai), dan sifat manusia.7
Seperti yang telah dijelaskan bahwa secara tematik, surat al-Ankabut merupakan surat yang berisi tema kebinatangan. Dalam diri manusia terkadang terdapat sifat-sifat yang mendominasi yakni, munculnya sifat-sifat kebinatangan.
4Hamka, Tafsir al-Azhar, ...hlm. 142.
5 Salman Rusydie Anwar, 29 Sandi al-Quran, (Jogjakarta: Najah, 2012), hlm. 51.
6 Salman Rusydie Anwar, 29 Sandi al-Quran,,,,,,,,,,,,,,hlm. 90-92.
7 Salman Rusydie Anwar, 29 Sandi al-Quran,,,,,,,,,,,,,,hlm. 129-130.
Munculnya sifat tersebut salah satunya disebabkan oleh kurang dipergunakannya otak untuk berfikir, belajar dan merenungi tujuan sesungguhnya manusia diciptakan. Sehingga, keberadaannya tidak lebih dari sekedar tubuh tanpa “otak”.
Jika seperti itu keadaannya, jelas manusia tidak ada bedanya dengan binatang yang memiliki tubuh, memiliki mata rantai dalam kehidupannya, tetapi tidak menggunakan otaknya dengan baik sama sekali.8
Isi kandungan dalam surat al-Ankabut banyak menyinggung masalah keimanan serta jihad mempertahankan keimanan. Mereka yang imannya goyah dan mangimani selain Allah diumpamakan laba-laba yang berlindung pada sarangnya yang rapuh. Allah menyebutkan laba-laba dalam surat al-Quran adalah sebagai perumpamaan bagi kaum musyrik yang percaya kepada kekuatan sesembahan mereka sebagai tempat berlindung dan meminta sesuatu yang mereka inginkan. Padahal sesembahan tersebut tidak sedikitpun dapat menolong mereka dari azab Allah di dunia seperti yang terjadi pada kaum para Nabi yang dikisahkan dalam surat al-Ankabut. Sebagaimana laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat berlindung dan menjerat mangsanya.
Padahal,rumah tersebut akan hancur ketika dihembus angin atau tertimpa suatu barang yang kecil pun.9
Hanya orang-orang yang tersesat dan tidak mendapat hidayahlah yang mencari perlindungan selain Allah dalam bentuk sesembahan, dukun, jin maupun setan. Mereka merupakan orang-orang yang berotak tumpul, tidak mau berfikir, serta tidak bisa membedakan mana yan hak dan yang batil. Sehingga berakibat tingkah laku yang sesat dan berindikasi mengazab pada kezaliman, kekufuran, dan kemusyrikan. Dalam menyesatkan manusia setan senantiasa melakukan tipu daya dan propaganda-propaganda yang tampak menarik dan menggiurkan, sehingga banyak orang yang bersimpati dan menjadi abdi setan.10
B. Tafsir Ilmi
1. Latar Belakang Tafsir Ilmi
Semakin banyaknya kaum Muslimin dan makin luasnya wilayah kekuasan Islam hal ini melatar belakangi beragamnya rujukan penafsiran dan beragamnya
8 Salman Rusydie Anwar, 29 Sandi al-Quran,,,,,,,,,,,,,,hlm. 131.
9 Salman Rusydie Anwar, 29 Sandi al-Quran,,,,,,,,,,,,,,hlm. 91.
10 Fuad Kauma, Tamsil al-Qur’an, (Cet. II, Yogyakarta: Mitra Pustak, 2004), hlm. 264-267.
metode interpretasi. Muncul pula akidah yang dianggap menyimpang sehingga memunculkan berbagai macam aliran teologi. Setiap pemeluk aliran mempunyai rujukan dan metode sendiri dalam menafsirkan dan menginterpretasikan al- Quran.11 Keadaan yang demikian menimbulkan beragamnya metodologi serta tujuan mufasir pun berbeda dalam karya-karya tafsirnya sehingga tidak menutup kemungkinan antara karya tafsir satu dengan yang lainnya memiliki corak yang berbeda.
Tafsir ilmi merupakan salah satu corak tafsir sebagai sebuah upaya dalam memahami ayat-ayat al-Quran yang mengandung isyarat ilmiah dari perspektif ilmu pengetahuan modern. Di era modern tafsir ilmi semakin populer dan meluas.12 Tafsir ilmi berusaha melahirkan berbagai cabang ilmu yang berbeda dan melibatkan pemikiran-pemikiran filsafat.13
Dalam buku Ulumul Quran II karya Ahmad Syadali dan Ahmad Rafi‟i menyebutkan bahwa tafsir ilmi sering disebut dengan tafsir Ashri, yaitu tafsir al- Quran yang beraliraan ilmiah atau modern. Di dalam al-Quran terdapat kaidah- kaidah yang menyeluruh dan prinsip-prinsip umum tentang hukum alam yang dapat disaksikan dan dilihat dari waktu ke waktu dan hal-hal lain yang berhasil diungkap oleh ilmu pengetahuan modern.14
Ayat-ayat al-Quran yang ditafsirkan dalam corak tafsir ilmi adalah ayat- ayat kauniyah (kealaman). Para mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah tersebut dilengkapi dengan teori-teori sains. Hal ini didasarkan pada adanya perintah Allah swt. untuk menggali pengetahuan berkenaan dengan tanda-tanda kekuasaan Allah pada alam yang bnyak dijumpai dalam al-Quran.15
Tafsir ilmi muncul di tengah-tengah masyarakat Muslim sebagai respons terhadap perkembangan berbagai ilmu dan sebagai salah satu upaya untuk memahami ayat-ayat al-Quran yang sejalan dengan perkembangan ilmu. Tafsir ini menguraikan ayat-ayat al-Quran yang menunjukkan betapa agungnya ciptaan
11Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir,...hlm. 190.
12Lihat, “Memahami Isyarat-Isyarat Ilmiah al-Quran; Sebuah Pengantar”, dalam Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, Hewan dalam Persepektif Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012).
13Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir, (Bandung: Tafakur (Kelompok HUMANIORA), 2007), hlm. 207.
14Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi‟i, Ulumul Quran II, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000), hlm. 68-69.
15Supiana dan M. Karman, Ulumul Quran, (Bandung: Pustaka Islamika, 2002), hlm. 314.
Allah. Tafsir ini bukan termasuk dalam kelompok tafsir ar-ra’yi karena tidak memenuhi syarat sebagai tafsir arra’yi.16
Prinsip dasar dari tafsir ilmi adalah menjelaskan isyarat-isyarat dalam al- Quran mengenai gejala alam yang bersentuhan dengan wujud Tuhan yang Maha Hidup dan Maha Kuasa. Maksud dari al-Quran adalah untuk menunjukkan bahwa al-Quran yang dibawa Nabi benar-benar kitab suci yang datang dari Allah swt.
Oleh karena itu, nilai dari keilmiahan al-Quran bukan dilihat dari banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalamnya, tetapi dilihat dari sikap al- Quran terhadap ilmu pengetahuan.17
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tafsir ilmi semakin populer dan meluas di era modern ini, yaitu sebagai berikut.18
1. Pengaruh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan Barat terhadap dunia Arab dan kawasan Muslim. Hegemoni Eropa atas kawasan Arab dan Muslim hanya dimungkinkan oleh superioritas teknologi. Bagi seorang Muslim, membaca tafsir al-Quran bahwa persenjataan dan teknik-teknik asing yang memungkinkan orang-orang Eropa menguasai umat Islam sebenarnya telah disebut dan diramalkan dalam al-Quran, bisa menjadi pelipur lara.
2. Munculnya kesadaran untuk membangun rumah baru bagi peradaban Islam setelah mengalami dualisme budaya yang tercermin pada sikap dan pemikiran.
Tafsir ilmi pada hakikatnya ingin membangun kesatuan budaya melalui pola hubungan harmonis antara al-Quran dan pengetahuan modern yang menjadi simbol peradaban Barat. Para penggagas tafsir pula ingin menunjukkan pada dunia bahwa Islam tidak mengenal pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan.
3. Perubahan sudut pandang Muslim modern terhadap ayat-ayat al-Quran, terutama dengan munculnya penemuan-penemuan ilmiah modern pada abad ke-20.
4. Tumbuhnya kesadaran bahwa memahami al-Quran dengan pendekatan sains modern bisa menjadi sebuah „ilmu kalam baru‟. Kalau dulu ajaran al-Quran
16Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir,...hlm. 190.
17Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir,...hlm. 190.
18Lihat, “Memahami Isyarat-Isyarat Ilmiah al-Quran; Sebuah Pengantar”, dalam Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, Hewan dalam Persepektif Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012).
diperkenalkan dengan pendekatan logika / filsafat sehingga menghasilkan ribuan ilmu kalam, sudah saatnya pendekatan ilmiah/ saintifik menjadi alternatif. Ayat kauniyah di dalam al-Quran kurang lebih ada 750-1000, sementara ayat-ayat hukum hanya sekitar 250 ayat.
Al-Quran menyatakan keterangan terkait ilmu pengetahuan terkadang sulit dipahami ketika ilmu pengetahuannya kurang memadai. Padahal al-Quran sebagai gudang ilmu dapat digali untuk mengembangkan pengetahuan manusia tentang alam semesta serta untuk menambah keimanan kepada Allah. Al-Quran bukan kitab khusus ilmu pengetahuan, namun menerangkan tentang ilmu pengetahuan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh umat masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Oleh sebab itu, perlu ekstra hati-hati dalam menafsirkan ayat ilmiah yang terkandung dalam al-Quran.19 Dalam surat al- Ankabut ayat 49 diterangkan bahwa kebenaran al-Quran akan diakui kebenarannya oleh orang yang memiliki ilmu. Namun, ada yang keimanannya bertambah dan ada pula yang ingkar setelah mengetahui kebenaran tersebut.20
”Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Ankabut/29:49).
Segala kejadian alam terjadi menurut sunnatullah,21 terkecuali Allah berkehendak lain. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat berikut.
”Sebagai suatu sunnatullah yang telah Berlaku sejak dahulu, kamu sekali- kali tiada akan menemukan peubahan bagi sunnatullah itu.”(QS. Al- Fath/48:23)
Ridwan Abdullah sani dalam bukunya mengatakan bahwa,
Beberapa kasus yang menyimpang dari sunnatullah adalah peristiwa terbelahnya Laut Merah ketika Nabi Musa as.
19Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis al-Quran, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2015), Ed.
2,hlm. 7
20Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis al-Quran,...hlm.13
21Sunnatullah Yaitu hukum Allah yang telah ditetapkannya
memukulkan tongkatnya ke laut tersebut, dinginnya api yang digunakan untuk membakar Nabi Ibrahim as., dan Nabi Isa as.
yang menghidupkan orang yang sudah meninggal. Pijakan utama yang menjadi sumber ilmu adalah al-Quran. Jadi, temuan harus diselaraskan dengan al-Quran dan bukan sebaliknya.22
Johannes Kepler menyatakan bahwa dia terlibat dalam sains untuk menggali karya Sang Pencipta, sedangkan Isaac Newton, menyatakan bahwa pendorong utama minatnya terhadap sains adalah keinginan untuk mengenal Tuhan dengan lebih baik.23
Di dalam al-Quran yang diturunkan 14 abad lalu, ketika ilmu astronomi masih primitif, perluasan alam semesta telah digambarkan sebagaimana yang ada dalam ayat berikut:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS.Adz-Zariyat/51:47)
Kata “langit” , seperti dinyatakan dalam ayat di atas digunakan diberbagai tempat dalam al-Quran dengan arti luar angkasa dan alam semesta. Dalam ayat di atas kata itu digunakan lagi dengan arti yang sama. Dengan kata lain dalam al- Quran diungkapkan bahwa alam semesta mengalami “perluasan”. Dan ini tepat sama dengan kesimpulan yang dicapai sains saat ini. Meskipun al-Quran bukan kumpulan ilmu pengetahuan (sains) tetapi di dalamnya banyak terdapat isyarat- isyarat yang berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan, serta memotivasi manusia untuk memperdalam ilmu dan menggunakan nalar secara maksimal.24
Pelajaran yang dapat diambil dari penciptaan langit dan bumi lebih dahsyat daripada penciptaan manusia, bahkan jin (iblis dan setan) tidak diberi pengetahuan tentang penciptaan tersebut. Jika iblis dan jin diberi pengetahuan tentang penciptaan tersebut tentunya ada bahan untuk menyesatkan umat manusia.
Yang menjadi pembeda manusia dengan makhluk lain adalah kelebihan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan sehingga Malaikat pun rela bersujud kepada Nabi Adam as. 25
22 Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis al-Quran,...hlm. 17.
23 Harun Yahya, Al-Quran dan Sains, (Bandung: Dzikra, 2004), hlm. 9.
24 Harun Yahya, Al-Quran dan Sains,... hlm.81-82.
25 Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis al-Quran,...hlm. 21.
Dalam surat al-Ankabut ayat 19 dan 20 menerangkan tentang penyelidikan yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa Allah “mengulang” penciptaan makhluk hidup. Fosil makhluk hidup yang pernah hidup di muka bumi adalah salah satu jenis data yang dapat dianalisis.26
“Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali).
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.Katakanlah:
"Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.27 Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Ankabut/29:19-20)
Jika ditinjau dari ayat berjalanlah di (muka) bumi, “Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi”, dengan ayat tersebut menunjukkan bahwa pada surat al-Ankabut ayat 20 mengandung makna evolusi. Pada ayat tersebut menyatakan bahwa adanya perubahan bentuk makhluk hidup yang dapat diamati dipermukaan bumi. Perubahan bentuk tersebut diketahui setelah adanya penelitian dari ilmuwan pada fosil yang ditemukan di beberapa tempat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terbentuknya fosil merupakan petunjuk dari Allah kepada manusia untuk keperluan belajar dan menyadari kebenaran firman yang dinyatakan dalam al- Quran.28
Al-Quran mendorong orang Islam untuk memerdekakan akal dari belenggu keraguan, melepaskan belenggu-belenggu berfikir, dan mendorong untuk mengamati fenomena alam. Allah mendorong manusia untuk mengamati ayat- ayat kauniyah, di samping ayat-ayat Quraniyah. Oleh sebab itu, dalam al-Quran terdapat ayat-ayat seperti berikut.29
26 Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis al-Quran,...hlm.74.
27 Maksudnya: Allah membangkitkan manusia sesudah mati kelak di akhirat
28 Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis al-Quran,...hlm. 75.
29 Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2005), hlm. 170.
“Kami telah jelaskan ayat-ayat kami bagi kelompok yang berpengetahuan”
“...bagi kelompok yang memahaminya”
“....bagi kelompok yang memikirkannya.”
Keberadaan redaksi ayat-ayat tersebut ditujukan bagi kelompok tertentu yang mampu berfikir secara mendalam. Hal tersebut dibebankan pada mereka karena merekalah yang mampu menyingkapnya.30
Pada masa ini manusia dapat merealisasikan keinginan telah lama diimpikan untuk menerobos perbatasan bumi guna menemukan keajaiban dan kegaiban alam semesta. Hal tersebut menghantarkan manusia semakin dekat terhadap hakikat di balik penciptaan manusia. Kemampuan manusia yang semakin bertambah akan memberikan kesempatan luas terhadapnya untuk menyelidiki kekuatan dan hukum alam yang bekerja dalam jagad raya sehingga kemampuan manusia tentang seluk beluk alam semesta dan tentang Tuhan bertambah luas pula.31
Al-Quran memberitakan pada manusia bahwa semua kekuatan alamiah itu diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan kekuatan tersebut tidak untuk ditakuti atau disembah namun harus dimanfaatkan dengan tepat bagi keuntungan peradaban manusia.32 Al-Quran mewajibkan manusia untuk menyelidiki setiap aspek dari sumber kekayaan materi alam semesta serta mengungkap dan menyingkap tabir rahasianya agar bisa diambil manfaatnya sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kehidupannya.33
2. Pandangan Ulama tentang Tafsir Ilmi
30 Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir,... hlm. 171.
31 Afzalur Rahman, Al-Quran sumber Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), hlm. 19.
32 Afzalur Rahman, Al-Quran sumber Ilmu Pengetahuan,...hlm. 20.
33 Afzalur Rahman, Al-Quran sumber Ilmu Pengetahuan,...hlm. 18.
Dalam sejarah, agama dan ilmu pengetahuan telah diwarnai dengan pertentangan. Agama dan ilmu pengetahuan memiliki persamaan juga perbedaan.
Agama (al-Quran) mengajarkan bahwa selain alam materi yang menuntut manusia untuk melakukan eksperimen, objek ilmu juga mencakup realitas lain di luar jangkauan panca indra (metafisik) yang tidak dapat diobservasi dan diuji coba.
Allah berfirman, “Maka Aku bersumpah demi apa yang dapat kamu lihat dan demi apa yang tidak kamu lihat.”(QS. Al-Haqqah/69:38). Untuk yang bersifat empiris, memang dibuka ruang untuk menguji dan mencoba (al-Ankabut/29:20).
Namun demikian, seorang ilmuwan tidak diperkenankan mengatas namakan ilmu untuk menolak “apa-apa” yang non-empiris, sebab pada wilayah ini al-Quran telah menyatakan keterbatasan ilmu manusia (al-Isra’/17:85) sehingga diperlukan keimanan. Kerancauan terjadi manakala ilmuwan dan agamawan tidak memahami objek dan wilayah masing-masing.34
Sikap para ulama kontemporer terhadap tafsir ilmi terjadi pro dan kontra mulai dari ulama klasik sampai ahli-ahli keislaman di abad modern. Ulama yang pro, di antaranya Abu Hamid al-Ghazali, Fahruddin ar-Razi, Muhammad bin Ahmad al-Iskandarani, Abdullah Fikri, dan Abdul Aziz Ismail. Ulama yang kontra, di antaranya Abu Ishaq, As-Syathibi, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, an Amin al-Khulli.35
Menurut para pendukung tafsir ilmi, berpendapat bahwa model penafsiran semacam ini membuka kesempatan yang sangat luas bagi mufasir untuk mengembangkan berbagai potensi keilmuwan yang telah dan akan dibentuk dalam dan dari al-Quran. Al-Quran bukan hanya sebagai sumber ilmu agama yang bersifat i‟tiqadiyah (keyakinan) dan amaliah (perbuatan). Tetapi juga meliputi semua ilmu keduniaan yang beraneka jenis dan bidangnya.36
Abdul Madjid al-Salam al-Muhtasib berkomentar:
Tujuan utama penafsiran Alquran, menurut para mufassir dulu, ialah menerangkan hal-hal yang dikehendaki Allah dalam kitab- Nya tentang akidah dan hukum-hukum syariat. Tetapi, ketika
34Lihat, “Memahami Isyarat-Isyarat Ilmiah al-Quran; Sebuah Pengantar”, dalam Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, Hewan dalam Persepektif Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012).
35Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, Hewan dalam Persepektif Al-Quran dan Sains,... hlm. 191
36Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir,...hlm. 208
umat Islam terjangkiti perpecahan internal mereka melupakan tujuan-tujuan dari penafsiran al-Quran itu dan lebih berorientasi pada penafsiran yang membabi buta dan cenderung membela dan mempertahankan mazhabnya. Mereka lupa diri dari tujuan semula ketika menafsirkan al-Quran yang sesungguhnya menuntut kecermatan dan objektif. Dedikasi mereka bergeser kepada penafsiran yang bersifat subjektif yang bahkan menyimpang dari dasar tujuan penafsiran itu sendiri. 37
Jika memang ini yang terjadi faktor penyebabnya, seyogyanya tidak perlu melarang secara berlebihan adanya pengembangan tafsir ilmi itu. Tetapi, para pendukungnya perlu diingatkan dan diluruskan pendiriannya agar dalam menafsirkan al-Quran tidak mengabaikan sisi akidah dan syariah yang menjadi bagian terpenting dari tujuan penurunan al-Quran, yakini sebgai hudan li al-nas dan orang-orang yang takwa.38
Meskipun banyak rintangan, masih terdapat sekelompok Muslim yang menaruh perhatian besar terhadap tafsir ilmi. Ayat-ayat kauniyah mereka amati dengan cermat dan seksama. Di antara mereka yaitu Muhammad al-Ghamrawi.
Beliau menyajikan misi-misi al-Quran dengan uraian yang sangat menarik dalam sebuah karyanya. Beliau juga mengemukakan nash-nash Qurani yang berkaitan dengan norma-norma dan kemasyarakatan tanpa terpengaruh oleh terminologi disiplin ilmu tertentu, terkadang pula mengemukakan terminologi-trminologi tersebut.39
Banyak faktor yang melatar belakangi adanya sikap tidak simpatik terhadap kemunculan tafsir ilmi. Di antara faktor terpenting dalam pandangan Hanafi Ahmad adalah keyakinan mereka bahwa al-Quran merupakan sebuah risalah petunjuk yang tidaklah harus berkaitan dengan ilmu-ilmu alam. Ulasan tentang fenomena-fenomena alam dalam al-Quran tidak lantas menunjukkan penjelasan mengenai ilmu-ilmu alam, namun hanya sekedar rangsangan untuk memikirkan dan merenungkan ciptaan-ciptaan Allah. Keyakinan tersebut diperkuat oleh pandangan mereka bahwa uraian dalam al-Quran terkait fenomena alam tersebut terpencar di beberapa surat dan ayat yang berbeda, tidak seperti susunan karya ilmiah yang selama ini dikenal sehingga tidak saling berkaitan.
Mereka tidak menyadari isyarat keberadaan ilmu alam dalam al-Quran sehingga
37Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir,...hlm.208.
38 Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir,...hlm.208.
39Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir,...hlm. 173.
mereka tak memiliki kunci untuk mengkajinya, kecuali jika mereka mengumpulkan semua ayat yang berkaitan dengan isyarat-isyarat ilmiah kemudian mengklasifikasikannya menjadi bab-bab tertentu, selanjutnya mengkaji secara mendalam.40
Faktor-faktor yang timbul dari kelompok yang kontra dengan tafsir ilmi, menunjukkan bahwa tidak ada sekelompok orang Islam pun yang secara khusus berfikir tentang ilmu-ilmu kemoderenan. Akibatnya mayoritas para pelajar Muslim tidak melakukan penelaahan dan perenungan mendalam terhadap kitab suci sebab mereka berkeyakinan bahwa di dalam kitab suci al-Quran tidak terdapat ilmu yang patut dipelajari yang bisa menghantar mereka supaya memiliki kebudayaan yang maju. Tidak adanya kesungguhan dari pra pengelola pusat-pusat studi memperparah keadaan tersebut, untuk merumuskan pada sebuah metode yang dapat melahirkan para pelajar yang memiliki akidah yang benar dan menciptakan kepribadian yang kuat.41
Ada tiga argumen paling populer yang dikeluarkan oleh ulama yang kontra yaitu sebagai berikut.42
a. Kerapuhan Filologisnya
Al-Quran di antara mereka diturunkan kepada bangsa Arab dalam bahasa Ibu mereka, karenanya al-Quran tidak memuat sesuatu yang mereka tidak mampu memahaminya. Para sahabat pastinya lebih mengetahui al-Quran dan isinya, namun tidak seorang pun menyatakan bahwa al-Quran mencakup seluruh cabang ilmu pengetahuan.
b. Kerapuhan Secara Teologis
Mereka menyatakan bahwa al-Quran adalah buku petunjuk dan bukan buku ilmu pengetahuan. Adapun isyarat-isyarata ilmiah yang terkandung di dalam al-Quran dikemukakan dalam konteks petunjuk, bukan menjelaskan teori-teori yang baru.
40 Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir,...hlm. 172.
41 Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir,...hlm.172-173.
42Lihat, “Memahami Isyarat-Isyarat Ilmiah al-Quran; Sebuah Pengantar”, dalam Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, Hewan dalam Persepektif Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012).
c. Kerapuhan Secara Logika
Di antara ciri dari ilmu pengetahuan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal kata‟kekal‟. Apa yang dikatakan sebagai natural law tidak lain hanyalah sekumpulan teori dan hipotesis yang sewaktu-waktu bisa berubah. Bisa jadi apa yang dianggap salah pada masa silam, misalnya, akan diakui kebenarannya pada abad modern. Hal tersebut menunjukkan bahwa produk-produk ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah relatif dan sunjektif.
3. Syarat-Syarat Diterimanya Tafsir Ilmi
Tujuan ditentukannya batasan tafsir ilmiah adalah supaya dalam menerjemahkan pesan Allah tidak terjadi pemaksaan. Jika mufasir berpegang kepada batasan-batasan tersebut, ia akan terlindung dari kesalahan. Syarat-syarat diterimanya tafsir ilmi yaitu sebagai berikut.43
1. Tidak boleh bertentangan dengan makna runtutan dzahir teks al-Quran.
2. Tidak diyakini sebagai satu-satunya pemahaman dan teks al-Quran.
3. Tidak bertentangan dengan makna syar‟i dan masuk akal.
4. Hendaknya dikuatkan oleh bukti yang syar‟i.
5. Menyesuaikan ayat kauniah dengan makna yang dibawa oleh redaksi al-Quran.
6. Tidak hanya berdasarkan pandangan ilmiah.
7. Menyeleksi pandangan ilmiah ayat al-Quran.
8. Tidak memaksakan ayat-ayat al-Quran agar sesuai dengan pandangan ilmiah.
9. Menjadikan muatan yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran sebagai pokok makna yang memagari penjelasan tafsir.
10. Berpegang kepada makna-makna leksikal bahasa Arab dalam menjelaskan isyarat ilmiah yang terdapat di dalam ayat.
11. Tidak bertentangan dengan syariat.
12. Menyesuaikan dengan bidang keilmuan mufasir.
13. Menjaga rangkaian dan korelasi antarayat sehingga terbentuk topik yang sempurna.
43Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir, (Jakarta: Amzah, 2014), hlm. 192.
4. Karya-Karya Tafsir Ilmi
Di antara tafsir yang bercorak ilmi yaitu:44 1. At-Tafsir al-Kabir karya Fahruddin ar-Razi.
2. Jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim karya Thanthawi Jauhari.
3. Kasyf al-Asrar an-Nuraniyyah karya Muhammad bin Ahmad al-Iskandani.
4. Al-Quran Yanbu‟ al-Ulum wa al-Irfan karya Ali Fikri.
5. At-Tafsir al-Ilmi li Ayat al-Kauniyyah karya Hanafi Ahmad.
6. Muqaranah Ba‟dha mabahits al-Falak bi al-Warid fi an-Nushush asy-Syari‟ah karya Abdullah Fikri.
7. Al-Islam wa ath-Thibb al-Hadits karya Abdul Aziz Ismail.
5. Prinsip Dasar dalam Penyusunan Tafsir Ilmi
Para ulama merumuskan beberapa prinsip dasar yang sepatutnya diperhatikan dalam menyusun tafsir ilmi dalam upaya menjaga kesucian al-Quran, di antaranya yaitu:45
1. Memperhatikan arti dan kaidah-kaidah kebahasaan.
2. Memperhatikan konteks yang ditafsirkan, sebab ayat-ayat dan surat al-Quran, bahkan kata dan kalimatnya, saling berkorelasi. Memahami ayat-ayat al-Quran haruslah secara komprehensif.
3. Memperhatikan hasil-hasil penafsiran Rasulullah Saw. sebagai pemegang otoritas tertinggi, para sahabat, tabiin, dan para ulama tafsir, terutama terkait ayat yang akan dipahaminya.
4. Tidak menggunakan ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah untuk menghukumi benar atau salahnya sebuah hasil perumusan ilmiah. Al-Quran memiliki fungsi yang lebih besar dari sekedar membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah.
5. Memperhatikan kemungkinan satu kata atau ungkapan mengandung beberapa makna, kendatipun kemungkinan makna tersebut sedikit jauh (lemah).
6. Untuk bisa memahami isyarat-isyarat ilmiah hendaknya memahami betul segala sesuatu yang menyangkut objek bahasan ayat, termasuk penemuan-
44Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir, (Jakarta: Amzah, 2014), hlm. 193.
45Lihat, “Memahami Isyarat-Isyarat Ilmiah al-Quran; Sebuah Pengantar”, dalam Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, Hewan dalam Persepektif Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012).
penemuan ilmiah yang berkaitan dengannya. M. Quraish Shihab mengatakan,
“Sebab-sebab kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat al- Quran antara lain adalah kelemahan dalam bidang bahasa serta kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.”
7. Sebagian ulama menyarankan agar tidak menggunakan penemuan-penemuan ilmiah yang masih bersifat teori dan hipotesis, sehingga dapat berubah. Yang digunakan hanyalah yang telah mencapai tingkat hakikat kebenaran ilmiah yang tidak bisa ditolak lagi oleh akal manusia.
Kajian pada tafsir ilmi bukan dalam kerangka menjastifikasi kebenaran temuan ilmiah dengan ayat-ayat al-Quran. Tidak juga untuk memaksakan penafsiran ayat-ayat al-Quran sehingga seolah-olah berkesesuaian dengan temuan ilmu pengetahuan. Kajian tafsir ilmi beranjak dari kesadaran bahwa al-Quran bersifat mutlak, sedangkan penafsirannya itu bersifat relatif, baik dalam perspektif tafsir maupun ilmu pengetahuan.46
46Lihat, “Memahami Isyarat-Isyarat Ilmiah al-Quran; Sebuah Pengantar”, dalam Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI, Hewan dalam Persepektif Al-Quran dan Sains, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012).