• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Didalam memasuki era globalisasi sangat diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu berkompetisi dalam persaingan global. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku aparatur harus menjadi prioritas utama.

Salah satu upaya yang dianggap strategis dalam peningkatan professionalisme Pegawai Negeri Sipil adalah melalui Pendidikan dan Pelatihan Pegawai (Diklat).

Dengan demikian para pegawai negeri sipil diharapkan mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

Pendidikan dan Pelatihan fungsional pengangkatan pertama jenjang ahli ini diselenggarakan bagi para PNS calon pejabat fungsional bidang teknik jalan dan jembatan tingkat ahli.

Pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan bekal kemampuan tentang pengetahuan, ketrampilan dan perilaku (sikap) dalam penyelenggaraan penanganan jalan dan jembatan dalam kaitannya dengan tugas pokok jabatan fungsional ahli teknik jalan dan jembatan.

1.2. Deskripsi Singkat

Mata Diklat ini membekali peserta dengan pengetahuan tentang Pengertian Pemeliharaan Perkerasan Aspal, Lingkup Kegiatan Pemeliharaan, Identifikasi dan Klasifikasi kerusakan perkerasan aspal dan penyebab kerusakan serta metoda penanganan dan perbaikan kerusakan yang disajikan dengan menggunakan metoda pelatihan orang dewasa yang meliputi ceramah, tanya jawab, pemaparan dan diskusi.

(2)

1.3. Tujuan Pembelajaran

A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)

Adapun tujuan pembelajaran umumnya adalah :

Setelah selesai mengikuti pembelajaran mata diklat ini diharapkan mampu melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan kerusakan perkerasan aspal sesuai dengan metoda penanganan standar.

B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah mengikuti pembelajaran mata diklat ini peserta mampu :

1) Menjelaskan pengertian dan lingkup pemeliharaan perkerasan aspal 2) Mengidentifikasi dan mendeteksi kerusakan perkerasan aspal

3) Menerangkan metode penanganan dan perbaikan kerusakan jalan

1.4. Metode Pembelajaran

 Ceramah

 Tanya Jawab

 Pemaparan

 Diskusi

1.5. Pokok Bahasan

1) Pengantar Pemeliharaan Perkerasan Aspal 2) Kerusakan Perkerasan Aspal

3) Metoda Penanganan dan Perbaikan Kerusakan Perkerasan Aspal 4) Persyaratan Bahan dan Campuran untuk Pemeliharaan

(3)

BAB II

PEMELIHARAAN PERKERASAN ASPAL

2.1. Latar Belakang dan Permasalahan

Jalan merupakan investasi modal yang besar. Pengabaian dalam pemeliharaan sebagaimana mestinya merupakan salah satu penyebab meningkatnya jumlah biaya operasi kendaraan dan meningkatnya jumlah kecelakaan sehingga akan dibutuhkan biaya rekonstruksi yang mahal untuk memperbaikinya ke standar semula.

Pada waktu perancangan , asumsi yang sering dibuat adalah bahwa perkerasan jalan mulai mengalami gangguan/rusak segera setelah jalan dibuka untuk lalu lintas.

Sebagai contoh untuk jalan yang didesain dengan umur pelayanan 5-10 tahun tentunya tidak akan mengalami kerusakan pada kurun waktu 1-3 tahun pertama. Tetapi jika tidak demikian yang terjadi maka dapat diprediksi bahwa jalan tersebut akan mengalami masalah besar dikemudian hari.

Dengan dasar pemikiran bahwa tindakan pencegahan lebih baik (efisien dan efektif) daripada tindakan pemulihan maka dibutuhkan personil pemeliharaan yang mampu mengenali jenis kerusakan , tahapan dan penyebab kerusakan.

Permasalahan yang kedua adalah pengenalan terhadap kerusakan, penentuan penyebab dan perbaikan yang tepat bersifat subyektif. Hal tersebut sering kali menimbulkan perbedaan pandangan mengenai persoalan yang sama dan setiap orang dapat mengambil solusi yang sangat berbeda. Oleh karena itu sangat penting menyamakan persepsi tentang bagaimana bentuk penilaian terhadap kondisi jalan (road condition assessment) dan identifikasi kerusakan yang terjadi dan penyebab serta akibat lebih lanjut.

Dalam pelaksanaan yang terpenting adalah kemampuan dari personil pemeliharaan (pengamat jalan) untuk dapat mengenali jenis kerusakan dan mendeteksi parahnya kerusakan serta menghubungkan dengan standar penanganan yang biasa digunakan.

(4)

Permasalahan yang ketiga, bahwa dalam program pembiayaan untuk pekerjaan perbaikan dan perawatan jalan terbagi dalam kategori pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala dan rehabilitasi yang mempunyai arti dan batasan yang berbeda yang biasanya dengan aplikasi berlainan antar negara atau instansi pengelola jalan. Di Indonesia pada umumnya program pemeliharaan diaplikasikan terhadap semua ruas jalan dengan kondisi mantap maupun terhadap ruas jalan yang tidak termasuk dalam program betterment maupun periodic maintenance, padahal terdapat perbedaan antara pekerjaan rutin dengan berkala berdasarkan besarnya dana yang dialokasikan dan jenis penanganan yang dikerjakan.

Untuk pemeliharaan rutin meliputi perawatan dan perbaikan ringan yang dikerjakan secara swakelola, sedangkan untuk pemeliharaan berkala meliputi rekondisi dan perbaikan agak berat dan mempunyai target pelapisan tambahan yang biayanya lebih besar dan dilaksanakan secara kontraktual.

Adapun rehabilitasi merupakan pekerjaan pemulihan konstruksi perkerasan (rekonstruksi) akibat keadaan lapis perkerasan makin memburuk karena terjadinya kondisi darurat berupa bencana alam (gempa, banjir, longsor) yang dapat dilaksanakan secara swakelola maupun dikontrakkan.

Substansi permasalahan yang sebenarnya adalah berusaha mencari solusi terhadap permasalahan yang timbul yaitu karena seringnya terjadi perkerasan mulai mengalami kerusakan segera setelah jalan itu dibuka untuk lalulintas.

Solusi terhadap permasalahan tersebut adalah dengan melakukan perawatan perkerasan secara terus menerus sepanjang tahun dan sedini mungkin untuk mencegah meluasnya kerusakan.

Jenis penanganan tidak terbatas hanya pada kerusakan kecil/ringan dan pekerjaan rutin yang umumnya dilaksanakan dalam jangka waktu yang teratur sepanjang tahun pada jalan yang kondisinya mantap melainkan harus meliputi segala upaya penanganan berupa pencegahan dan perbaikan untuk memulihkan kondisi yang tingkatannya tergantung penyebab kerusakan dan kebutuhan perbaikan guna mengembalikan fungsi pelayanan jalan.

(5)

2.2. Tujuan Pemeliharaan Jalan

Secara umum pemeliharaan jalan dimaksudkan untuk :

a. Mempertahankan kondisi jalan agar tetap berfungsi dalam melayani lalu lintas sehingga keselamatan lalu lintas terjamin dan pelayanan jalan meningkat. Artinya kecelakaan yang diakibatkan oleh konsidi jalan yang buruk dapat ditekan seminimal mungkin dan karena kondisi jalan yang baik para pengguna jalan akan menikmati kenyamanan selama perjalanannya.

b. Memperkecil biaya operasi kendaraan.

Besarnya biaya operasi kendaraan tergantung pada jenis kendaraan , geometric dan kondisi jalan. Apabila jalan dalam kondisi baik maka Biaya Operasi Kendaraan (BOK) tidak meningkat, sedangkan yang sangat berkepentingan dengan BOK adalah para pengguna jalan.

c. Memperlambat atau mengurangi laju kerusakan (rate of deterioration) sehingga diharapkan dapat memperpanjang umur jalan.

Secara lebih spesifik tujuan pemeliharaan perkerasan aspal adalah :

o Menutup/mencegah masuknya air kelapisan perkerasan yang karena terjadinya pelapukan kemudian timbul retak dan lubang.

o Menangani akibat gerakan ban dan beban lalulintas yang dapat menyebabkan pengikisan dan tekanan terhadap permukaan perkerasan yang akhirnya dapat menimbulkan kelelahan (fatig) pada struktur jalan.

2.3. Klasifikasi Kegiatan Pemeliharaan Jalan Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya.

a. Pemeliharaan Rutin (Routine Maintenance)

Merupakan Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan secara terus menerus sepanjang tahun.

Kegiatannya meliputi : perawatan permukaan jalan meliputi : perbaikan kerusakan kecil, penambalan lubang, pemburasan, perbaikan kerusakan tepi perkerasan, perawatan trotoar, saluran samping dan drainase bangunan pelengkap jalan dan perlengkapan jalan dan perawatan bahu

(6)

b. Pemeliharaan Berkala (Periodic Maintenance)

Kegiatan pemeliharaan yang diperlukan hanya pada interval beberapa tahun karena kondisi jalan sudah mulai menurun.

Kegiatannya meliputi pelapisan ulang (resealing/overlaying).

c. Rehabilitasi/Penanganan Darurat (Urgent Maintenance)

Kegiatan ini diperlukan untuk hal-hal yang sifatnya mendadak /mendesak/

darurat, misalnya jalan putus akibat bencana alam.

Kegiatannya meliputi semua kegiatan pengembalian kondisi jalan ke kondisi semula yang harus dilakukan secepatnya agar lalu lintas tetap berjalan dengan lancar.

2.4. Perencanaan dan Pemrograman

a. Perencanaan

Perencanaan Pemeliharaan Jalan adalah suatu bentuk kegiatan menentukan jenis pekerjaan, menghitung harga satuan serta memperkirakan Rencana Biaya Penanganan.

Kegiatan Perencanaan adalah sebagai berikut :

1). Melaksanakan survai lapangan untuk mendapatkan data lapangan agar dapat menentukan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan beserta besarnya volume dari masing-masing pekerjaan tersebut.

2). Menghitung analisa harga satuan masing-masing jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan mempergunakan peralatan pemeliharaan yang sesuai, harga bahan, harga upah kerja serta hal lain yang mempengaruhinya, yang berlaku pada saat itu.

3). Setelah diperoleh Volume dengan harga satuan dari masing-masing jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan, diperoleh besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menangani pekerjaan Pemeliharaan pada setiap ruas jalan yang akan ditangani.

(7)

b. Pemrograman

Pemrograman adalah kegiatan untuk menentukan jenis-jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan berdasarkan plafon Biaya yang disetujui, pembuatan jadwal pelaksanaan, jadwal pengoperasian peralatan, jadwal pengadaan bahan, pengadaan tenaga kerja serta monitoring, evaluasi maupun revisi program bila diperlukan.

(8)

BAB III

KERUSAKAN PERKERASAN ASPAL

3.1. KATEGORI KERUSAKAN

Secara umum kategori kerusakan perkerasan terdiri dari :

A. Kerusakan Struktural (Structural Failure)

Kerusakan Struktural adalah kerusakan pada struktur jalan yang menyebabkan perkerasan tidak mampu lagi menahan beban yang bekerja diatasnya.

Hal ini pada umumnya disebabkan karena terjadinya fatigue failure pada struktur jalan (kelelahan akibat peningkatan beban dan repetisi beban lalu lintas) atau karena sistem drainase yang tidak baik atau karena kondisi tanah dasar yang tidak stabil.

Indikasi kerusakan structural dapat berupa retak (cracks) atau deformasi/

perubahan bentuk permanen (permanent deformation) pada permukaan jalan.

B. Kerusakan Fungsional (Functional Failure)

Kerusakan fungsional adalah kerusakan pada permukaan jalan yang menyebabkan terganggunya fungsi jalan dalam melayani lalu lintas pengguna jalan.

Perkerasan masih mampu menahan beban yang bekerja diatasnya.

Perkerasan tidak lagi dapat memberikan tingkat kenyamanan dan keamanan sesuai yang diinginkan.

Adapun indikasi kerusakan fungsional adalah terjadinya kerusakan permukaan (Suface defect/Surface deterioration) dan kerusakan tepi perkerasan.

(9)

3.2. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN A. Faktor Lalu Lintas

Faktor lalu lintas ditentukan oleh : - beban sumbu kendaraan

- distribusi beban kendaraan pada lalu lintas - jumlah pengulangan beban lalu lintas - jenis sumbu kendaraan

Daya rusak kendaraan disebut dengan Damage Factor (DF) yang diekivalenkan ke beban standar 8,16 ton.

Jika P=beban kendaraan, maka besarnya Damage factor adalah pangkat empat dari besarnya beban yang telah diekivalenkan ke beban standar 8,16 ton , maka :

Untuk sumbu tunggal DF = fungsi pangkat empat dari P/8,16 ton

Untuk sumbu ganda DF = 0,086 kali fungsi pangkat empat dari P/8,16 ton

B. Faktor Non Lalu Lintas

Faktor Non Lalu lintas ditentukan oleh :

 Bahan Perkerasan

- Mengalami proses pelapukan/penuaan (Ageing) - Karakteristik aspal yang tidak sesuai spesifikasi - Gradasi agregat yang tidak sesuai spesifikasi - Agregat yang kotor

- Dsb

 Pelaksanaan Pekerjaan

Contohnya pemadatan tanah dasar dan lapis perkerasan yang kurang baik.

 Lingkungan/Cuaca Contohnya :

- curah hujan yang tinggi, air yang mengalir dapat menggerus kestabilan struktur lapis perkerasan dan genangan air diatas aspal

(10)

yang terlalu lama dapat menyebabkan aspal terurai karena kehilangan daya lengket

- drainase yang tidak baik, air yang menggenang dapat menerobos masuk ke badan jalan/tanah dasar

- muka air tanah yang tinggi, air yang terjebak didalam lapis perkerasan atau dibawah perkerasan jika terhimpit beban kendaraan dapat menimbulkan tekanan hidrostatis (Pumping) yang kemidian menggerus tanah dasar atau agregat

- tanah dasar ekspansive karena pergerakannya lembab.

- temperatur udara yang bervariasi sepanjang tahun

- Pergerakan arus panas disebabkan perubahan suhu antara musim panas dengan musim dingin dan siang dengan malam.

3.3. IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI KERUSAKAN

3.3.1 Identifikasi

Identifikasi kerusakan dan penentuan terhadap besarnya tingkat kerusakan membutuhkan pengamatan detail yang dilakukan oleh personil pemeliharaan jalan (pengamat jalan) dengan berjalan kaki.

Tujuan identifikasi adalah untuk mengenali tipe kerusakan sekaligus mendeteksi sebab sebab terjadinya kerusakan dan menentukan tingkat kerusakan. Suatu inspeksi lapangan dilakukan untuk mengamati secara visual terhadap penampakan yang terjadi pada perkerasan. Dengan cara ini kerusakan dapat diukur dari sudut , tinggi dan jaraknya serta dapat dideteksi penyebab dan akibat lanjutan dari penampakan kerusakan tersebut. Sebaiknya pengamatan tidak dilakukan diatas kendaraan, karena akan banyak data terabaikan (tidak tercatat).

Dalam identifikasi ini akan dicatat bentuk / type kerusakan.

Sebagai contoh, dalam satu area yang ditinjau mungkin saja merupakan gabungan dari beberapa tipe kerusakan antara lain retak, alur, dan lubang.

Pemberian nama dimaksudkan untuk memudahkan dalam menyebut penampakan (visualisasi) dari kerusakan. Selanjutnya dideteksi tingkat

(11)

kerusakan sampai sejauh mana untuk menentukan pilihan perbaikannya.

Sebagai contoh misalnya diidentifikasi jenis kerusakan berupa alur dengan kedalaman 6-10 mm , maka tingkat kerusakannya tergolong ringan,sehingga pilihan perbaikannya adalah ”belum perlu diperbaiki”.

3.3.2. Klasifikasi Bentuk/Tipe Kerusakan

Merupakan indikasi dari semua kategori kerusakan baik struktural maupun fungsional yang diuraikan dalam penggolongan dari semua bentuk/tipe kerusakan yang terjadi. Klassifikasi dilakukan sebagai berikut:

A.1. Deformasi, yaitu perubahan permukaan perkerasan dari profil aslinya secara permanen yang mencerminkan kerusakan struktur perkerasan dengan indikasi antara lain berupa :

o Alur (Rutting), bentuk kerusakan berupa bekas jejak lintasan roda kendaraan sejajar as jalan yang menekan permukaan jalan.

o Bergelombang/Keriting (Corrugation), bentuk kerusakan berupa gelombang pendek pada lapis permukaan.

o Sungkur (Shoving), bentuk kerusakan yang dijumpai di lokasi tertentu dimana kendaraan sering berhenti pada kelandaian yang curam atau pada tikungan tajam.

o Ambles (Deppression), berupa turunnya permukaan jalan atau ambles pada lokasi tertentu.

A.2. Retak (Cracks), antara lain :

 Retak Blok (Block Cracks), yaitu retak yang saling berhubungan membentuk serangkaian blok dengan bentuk menyerupai persegi empat.

 Retak Kulit Buaya (Crocodile Cracks), yaitu retak-retak yang berbentuk menyerupai kulit buaya.

(12)

 Retak Garis (Line Cracks), yaitu retak yang berbentuk garis dan dapat berupa garis memanjang (Longitudinal), melintang (Transversal) dan diagonal.

 Memanjang, melintang, diagonal

 Bentuk bulan sabit

A.3. Kerusakan permukaan (Surface defect), antara lain :

 Lubang (Potholes), berbentuk menyerupai mangkok yang dapat menampung dan meresapkan air ke lapisan dibawahnya.

 Delaminasi (Delamination), yaitu terpisahnya lapis permukaan (Wearing Course) dengan lapis dibawahnya membentuk lubang, sehingga terlihat permukaan dari lapis perkerasan yang lama (Binder Course).

 Kegemukan Aspal (Bleeding), terjadinya konstruksi aspal berlebihan pada lokasi tertentu permukaan jalan.

 Pengausan Batu (Polishing), dimana pada permukaan jalan butir-butir agregat terlihat telanjang dan permukaan licin/halus atau mengkilap.

 Pelepasan Batu ( Ravelling), yaitu terlepasnya sebagian butir agregat pada permukaan perkerasan yang umumnya terjadi secara meluas.

 Pengelupasan Batu (Stripping), terlepasnya batu dikarenakan terganggunya ikatan antara butir agregat dengan aspal, yang disebabkan oleh gannguan air.

 Tambalan (Patching), seringkali karena bahan, pelaksanaan, kondisi lalu lintas dan cuaca menyebabkan ketidakrataan tambalan dan retaknya tambalan.

(13)

3.3.3. Diskripsi Pengamatan dan Penilaian Kerusakan.

1. Bergelombang/Keriting :

Indikasi kerusakan berupa gelombang-gelombang melintang atau tegak lurus arah perkerasan aspal yang terjadi akibat deformasi plastis. Gelombang terjadi pada jarak yang relatif teratur dan pada titik-titik yang banyak mengalami tegangan horizontal dimana lalulintas mulai bergerak dan berhenti atau pada jalan yang berbukit akibat kendaraan mengerem saat turun dan pada belokan tajam dan atau pada persimpangan.

 Faktor Penyebab Kerusakan :

Pergerakan lalulintas yang disertai dengan permukaan perkerasan atau lapis fondasi yang tidak stabil. permukaan perkerasan atau lapis fondasi ini karena campuran aspal yang buruk yaitu karena kadar aspal tinggi dan terlalu banyak agregat halus atau agregat yang bulat.

Kadar air dalam lapisan granular terlalu tinggi

 Resiko Lanjutan :

Area yang mengalami keriting meluas

Kenyamanan dan keselamatan kendaraan terganggu

 Data untuk perbaikan :

Kedalaman maksimum dibawah penggaris lurus 1,2 m Jarak dari puncak ke puncak gelombang

Panjang perkerasan yang dipengaruhi .

 Saran Perbaikan :

Dilakukan penambalan diseluruh kedalaman jika perkerasan mempunyai tebal dan fondasi lebih dari 50 mm ,maka keriting dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas kemudian diikuti dengan lapis tambahan ari hotmix agar

(14)

2. Alur (rutting)

Alur adalah deformasi perkerasan permukaan aspal dalam bentuk turunnya perkerasan kearah memanjang pada litasan roda kendaraan.

Distorsi permukaan jalan yang membentuk alur-alur terjadi akibat beban lalu lintas yang berulang-ulang pada lintasan roda sejajar dengan as jalan.

Gerakan keatas perkerasan dapat timbul disepanjang pinggir alur. Alur biasanya baru nampak jelas ketika hujan dan terjadi genangan air didalamnya.

Alur disebabkan oleh pemadatan atau perpindahan campuran aspal yang tidak stabil.

Faktor penyebab kerusakan :

- pemadatan lapis permukaan dan fondasi kurang.

- kualitas campuran aspal rendah.

- Gerakan lateral dari satu atau lebih komponen pembentuk lapis perkerasan yang kurang padat.

- Tanah dasar lemah atau fondasi agregat kurang tebal,pemadatan kurang atau terjadi perlemahan akibat air tanah.

Resiko Lanjutan :

- terjadi kenaikan perkerasan secara berlebihan disepanjang sisi alur

- kenyaman dan keselamatan kendaraan terganggu

- jika alur tergenang air akan mengakibatkan kerusakan meluas dan terjadi kecelakaan kendaraan.

Data yang diperlukan untuk perbaikan :

- kedalaman maksimum dibawah penggaris yang panjangnya dibawah 1,2 m

- panjang alur .

(15)

Saran perbaikan :

- jika penyebabnya dipermukaan maka perbaikan permanen dilakukan dengan menambal seluruh kedalaman atau penambahan lapis tambahan dengan hotmix.

- Jika penyebabnya adalah lemahnya lapis fondasi atau tanah dasar maka diperlukan pembangunan kembali (rekonstruksi).

3. Ambles (depression)

Ambles adalah penurunan perkerasan yang terjadi pada area yang terbatas yang mungkin diikuti dengan keretakan.

Penurunan ditandai dengan genangan air pada permukaan dan membahayakan lalulintas.

Faktor penyebab kerusakan:

- beban lalulintas berlebihan

- penurunan sebagian dari perkerasan akibat lapisan dibawahnya mengalami penurunan.

Resiko lanjutan:

- dapat memicu terjadinya retakan

- mengurangi kenyamanan dan keamanan kendaraan

- apabila ambles tergenang air dapat mengakibatkan hydroplanning

Data yang diperlukan untuk perbaikan :

- kedalam maksimus dibawah penggaris panjang 1,2 m atau 3 m - luas daerah yang mengalami ambles

Saran perbaikan :

- perawatan permukaan.

- Untuk area kerusakan yang besar diperbaiki dengan penambalan permukaan atau seluruh kedalaman.

(16)

4. Sungkur ( Shoving)

Sungkur adalah perpindahan permanen secara lokal dan memanjang dari permukaan yang disebabkan oleh beban lalulintas.

Ketika lalulintas mendorong perkerasan , maka timbul gelombang pendek dipermukaannya.

Penggembungan lokal pada permukaan perkerasan nampak dalam arah sejajar dengan arah lalulintas atau perpindahan horizontal dari material permukaan, terutama pada arah lalulintas dimana aksi pengereman atau percepatan sering terjadi.

Sungkur melintang juga dapat timbul oleh gerakan lalulintas membelok.

Faktor penyebab kerusakan:

- stabilitas campuran aspal tendah.

- Terlalu banyak kadar air pada lapis fondasi.

- Ikatan antara lapis ketiga tidak bagus.

- Tebal perkerasan kurang

Resiko Lanjutan:

- area yang mengalami sungkur meluas

- kenyamanan dan keamanan kendaraan berkurang

- memicu terjadinya keretakan sehingga air masuk dalam perkerasan.

Data untuk perbaikan :

- kedalam maksimum cembungan diukur dari puncak dengan menggunakan penggaris lurus panjang 1,2 m

- luas kerusakan

Saran perbaikan :

- perbaikan yang baik dilakukan dengan menambal seluruh kedalaman.

- Jika perkerasan dengan permukaan tipis maka permukaan dikasarkan.

(17)

- Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan lapis fondasi 5 cm, maka sungkur dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas dan diikuti dengan lapis tambahan hotmix.

5. Retak (Cracks)

Retak dapat terjadi dalam berbagai bentuk , hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor dan melibatkan mekanisme yang kompleks.

Secara teoritis retak dapat terjadi bila tegangan tarik yang terjadi pada lapisan aspal melampaui tegangan tarik maksimum yang dapat ditahan oleh perkerasan tersebut.

Perkerasan yang kurang kuat tidak mempunyai tahanan terhadap tegangan tarik yang tinggi. Demikian pula jika campuran aspal menghasilkan campuran yang kuat tapi lapisan dibawahnya lemah, maka campuran akan mengalami retak tarik .

5.1 Retak Memanjang

Faktor penyebab kerusakan:

- gerakan arah memanjang oleh akibat kurangnya gesekan internal dalam lapis fondasi atau tanah dasar sehingga lapisan kurang stabil.

- Adanya perubahan tanah didalam tanah dasar oleh gerakan vertikal.

- Penurunan tanah urug atau bergeraknya lereng timbunan.

- Adanya penyusutan pada lapis fondasi atau tanah dasar.

- Kelelahan pada lintasan roda.

- Pengaruh tegangan termal atau kurangnya pemadatan.

Resiko lanjutan :

- kenyaman dan keselamatan lalulintas terganggu.

- Retak meluas keseluruh area perkerasan.

- Retak dengan celah besar memngkinkan air masuk kedalam lapis fondasi dan tanah dasar sehingga memperlemah daya dukung perkerasan.

(18)

Data untuk perbaikan :

- lebar retak yang dominan.

- Panjang retak yang dominan.

- Jarak antar retak - Luas daerah kerusakan.

Saran perbaikan :

- perbaikan atau penutupan keretakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakan.

5.2. Retak Melintang

Faktor penyebab kerusakan:

- penyusutan bahan pengikat pada fondasi dan tanah dasar.

- Sambungan pelaksanaan atau retak susut - Kegagalan struktur lapis fondasi

- Pengaruh tegangan ternal atau kurangnya pemadatan.

Resiko lanjutan :

- kenyamatan dan keselamatan lalulintas terganggu.

- Retak meluas keseluruh area perkerasan.

- Retak dengan celah besar memngkinkan air masuk kedalam lapis fondasi dan tanah dasar sehingga memperlemah daya dukung perkerasan.

Data untuk perbaikan :

- lebar retak yang dominan.

- Panjang retak yang dominan.

- Jarak antar retak - Luas daerah kerusakan.

Saran perbaikan :

- perbaikan atau penutupan keretakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakan.

(19)

5.3. Retak Diagonal :

Faktor penyebab kerusakan:

- Refleksi dari retak susut atau retak sambungan pada material pengikat yang berada dibawahnya.

- Terjadi beda penurunan antara timbunan, galian dan bangunan.

- Desakan akar pohon

- Pemasangan bangunan pelayanan umum

Resiko lanjutan :

- kenyamatan dan keselamatan lalulintas terganggu.

- Retak meluas keseluruh area perkerasan.

- Retak dengan celah besar memngkinkan air masuk kedalam lapis fondasi dan tanah dasar sehingga memperlemah daya dukung perkerasan.

Data untuk perbaikan :

- lebar retak yang dominan.

- Panjang retak yang dominan.

- Jarak antar retak - Luas daerah kerusakan.

Saran perbaikan :

- perbaikan atau penutupan keretakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakan.

5.4. Retak Berkelok-kelok : Faktor penyebab kerusakan:

- Penyusutan material dibawah material rekat atau material butiran halus tertentu.

- Pelunakan tanah dipinggir perkerasan akibat kelembaban naik atau terjdi perbedaan penurunan antara timbunan , galian dan struktur.

(20)

Resiko lanjutan :

- kenyamatan dan keselamatan lalulintas terganggu.

- Retak meluas keseluruh area perkerasan.

- Retak dengan celah besar memngkinkan air masuk kedalam lapis fondasi dan tanah dasar sehingga memperlemah daya dukung perkerasan.

Data untuk perbaikan :

- lebar retak yang dominan.

- Panjang retak yang dominan.

- Jarak antar retak - Luas daerah kerusakan.

Saran perbaikan :

- perbaikan atau penutupan keretakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakan.

5.5. Retak kulit Buaya (Alligator Cracks) : Faktor penyebab kerusakan:

- Defleksi berlebihan dari permukaan perkerasan - Gerakan satu atau lebih lapisan dibawahnya.

- Modulus dari lapis fondasi rendah.

- Lapis fondasi atau lapis aus terlalu getas.

- Kelelahan dari permukaan .

- Peapukan permukaan, tanah dasar atau bagis perkerasan dibawah lapis permukaan kurang stabil.

- Bahan lapis fondasi jenuh air karena naiknya air tanah .

Resiko lanjutan :

- kenyamatan dan keselamatan lalulintas terganggu.

- Retak meluas keseluruh area perkerasan.

- Retak dengan celah besar memngkinkan air masuk kedalam lapis fondasi dan tanah dasar sehingga memperlemah daya

(21)

Data untuk perbaikan :

- lebar retak yang dominan.

- Panjang retak yang dominan.

- Jarak antar retak - Luas daerah kerusakan.

Saran perbaikan :

- penambahan parsial atau diseluruh kedalaman.

- Jika tingkat kerusakan ringan, dilakukan pananganan sementara seperti menutup dengan slurry seal .

- Lapis tambahan .

5.6. Retak Blok (Block Cracks) : Faktor penyebab kerusakan:

- Perubahan volume campuran aspal dengan kadar agregat halus tinggi dan aspal penetrasi rendah.

- Pengaruh siklus teemperatur harian dan pengerasan aspal.

- Sambungan dalam lapisan beton yang berada di bawahnya.

- Retak akibat kelelahan

Resiko lanjutan :

- kenyamatan dan keselamatan lalulintas terganggu.

- Retak meluas keseluruh area perkerasan.

- Retak dengan celah besar memngkinkan air masuk kedalam lapis fondasi dan tanah dasar sehingga memperlemah daya dukung perkerasan.

Data untuk perbaikan :

- lebar retak yang dominan.

- Panjang retak yang dominan.

- Jarak antar retak - Luas daerah kerusakan.

(22)

Saran perbaikan :

- Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi.

- Retak yang besar diisi dengan aspal emulsi yang diikuti dengan penanganan permukaan.

- Pengkasaran dengan pemanas dan lapis tambahan

5.7. Retak Slip/Bulan Sabit:

Faktor penyebab kerusakan:

- Kurangnya ikatan antara lapis permukaan dengan lapis dibawahnya.

- Campuran terlalu banyak mengandung pasir.

- Pemadatan perkerasan kurang.

- Tegangan sangat tinggi akibat pengereman dan percepatan kendaraan.

- Lapis aus terlalu tipis.

- Modulus lapis fondasi terlalu rendah.

Resiko lanjutan :

- kenyamatan dan keselamatan lalulintas terganggu.

- Retak meluas keseluruh area perkerasan.

- Retak dengan celah besar memngkinkan air masuk kedalam lapis fondasi dan tanah dasar sehingga memperlemah daya dukung perkerasan.

Data untuk perbaikan :

- lebar retak yang dominan.

- Panjang retak yang dominan.

- Jarak antar retak - Luas daerah kerusakan.

Saran perbaikan :

- membongkar lapisan aspal yang rusak.

- Dilakukan penambalan permukaan.

(23)

5.7. Retak Pinggir (Edge Cracks):

Faktor penyebab kerusakan:

- Kurangnya dukungan dari arah lateral (bahu jalan).

- Drainase kurang baik.

- Kembang susut tanah disekitarnya.

- Bahu jalan turun.

- Silkut lemah.

- Adesi permukaan ke lapis fondasi hilang

- Konsentrasi lalulintas berat berada dipinggir perkerasan.

- Adanya akar-akar pohon besar.

Resiko lanjutan :

- Hilangnya kenayamanan kendaraan.

- Air masuk kedalam lapis fondasi.

- Terjadinya alur dipinggir dapat mengakibatkan erosi pada bahu jalan.

Data untuk perbaikan : - Lebar retak maksimum.

- Panjang retak.

Saran perbaikan :

- Perbaikan bergantung pada tingkat kerusakan.

- Jika bahu jalan tidak mendukung pinggir perkerasan maka material yang buruk dibongkar dan diganti dengan material yang baik, kemudian dipadatkan.

- Jika air menjadi faktor penyebab kerusakan maka harus dibuat drainase.

- Menutup keretakan - Penambalan parsial.

(24)

6. Kerusakan Permukaan

6.1. Pengelupasan ( Delamination):

Faktor penyebab kerusakan:

- Pembersihan kurang bagus atau kurang tack coat sebelum penghamparan.

- Air merembes lewat aspal sehingga memisahkan ikatan antara permukaan dan lapis dibawahnya.

- Lekatan dari lapis pengikat dipermukaan perkerasan dengan ban kendaraan .

Resiko lanjutan :

- kenyamanan lalu lintas teganggu - menyebabkan genangan air hujan

Data untuk perbaikan : - luas daerah kerusakan

Saran perbaikan :

- penghamparan lapis tambahan.

6.2.Lepas Butir /Terburai (Raveling) a. Faktor penyebab kerusakan:

Akibat berkurang atau hilangnya daya lengket binder aspal maka butir-butir batuan terlepas, permukaan jalan kasar, berlubang dan bocor air. Hilangnya daya lengket aspal dapat disebabkan karena aspal menua (ageing), teroksidasi, hangus waktu dicampur di amp atau akibat jenis aspal yang miskin resin/kebanyakan aspalten/kekurangan malten atau karena pemadatan lapisan kurang.

b. Akibat lebih lanjut:

☼ Terburai semakin luas

(25)

c. Saran Perbaikan

☼ Bila tidak diikuti depresi bisa langsung ditutup dengan lapis ulang yang kaya aspal

☼ Bila ada depresi maka perlu evaluasi untuk peningkatan kekuatan perkerasan

6.3. Kegemukan Aspal (Bleeding)

a. Indikasi:

Aspal terlihat berlebihan dan mengumpul disatu tempat setempat biasanya pada jejak ban, membuat permukaan menjadi lunak, mengkilat, sangat mungkin basah, kadang menempel di ban mobil menjadi luka terbuka.

Faktor Penyebab:

Kerusakan tersebut dapat terjadi bila kadar aspal berlebih akibat pencampuran yang kurang merata, aspal dari jenis yang titik lembeknya rendah (dibawah 50°c), panas permukaan tinggi (diatas 60°c), kurang filler (dibawah 6°c) atau akibat ketumpahan bensin/solar.

b. Akibat lebih lanjut

Dapat berkembang menjadi jembul (bulging) yang mengganggu kecepatan kendaraan, menempel di ban mobil membuat rusak terbuka, permukaan licin dapat menyebabkan selip.

c. Saran Perbaikan

Permukaan jalan yang bleeding di panaskan dengan alat pemanas khusus ditabur material halus atau pasir atau dihanguskan sekalian kemudian di garuk dengan cold-mill.

(26)

6.4.Tambalan (Patching) a. Indikasi:

Tambalan akan menyebabkan ketidak rataaan setempat, menggangu gerakan lalulintas, kecenderungan bocor air dan tidak nyaman untuk dilihat

Keretakan tambalan sulit dijamin untuk tidak terjadi walaupun dilaksanakan oleh petugas yang berpengalaman sekalipun karena dipengaruhi banyak factor.

Faktor penyebab:

Antara lain karena kondisi kerja tidak aman terhadap lalulintas yang lewat, pemadatan yang tidak sempurna, lokasi yang berpindah-pindah, material tambal yang sulit dijaga kualitasnya (dingin, menggumpal, hangus) dan perkiraan penyusutan bahan tambal yang sulit diperkirakan

b. Akibat lebih lanjut

☼ Keretakan permukaan kurang baik (roughness), kecepatan kendaraan menurun

☼ Kecenderungan bocor air pada perkerasan semakin tinggi

c. Saran Perbaikan

☼ Pilih material tambal yang sesuai, non shrinkage, kepadatan mudah dicapai, waterproof, tidak rentan terhadap temperatur

6.5.Agregat Licin (Polished Aggregate)

a. Indikasii :

Agregat licin adalah licinnya permukaan bagian atas dari perkerasan aspal akibat ausnya aggregat/batuan di permukaan.

Kecenderungan perkerasan menjadi licin dipengaruhi oleh sifat geologi dari agregat. Akibat pelicinan agregat oleh lalu lintas maka aspalpengikat akan hilang dan permukaan jalan menjadi licin

(27)

Faktor penyebab :

Agregat kasar di permukaan tidak tahan aus, berbentuk bulat dan licin, tidak berbentuk kubikal. Seharusnya permukaan batuan adalah bagian yang mempertahankan kekasaran permukaan agar tidak mudah terjadi slip akibat lapis air (aquaplaning) oleh karena itu disyaratkan sifat kekuatan batuan untuk lapis permukaanjalan minimum disyaratkan LA max 35%. Bila hal itu tidak dipenuhi maka dapat terjadi kerusakan akibat gerusan roda lalulintas.

b. Akibat lebih lanjut

☼ Membahayakan bagi lalulintas berkecapatan tinggi pada waktu hujan

c. Saran Perbaikan

☼ Perlu diberi lapis tipis (overlay) non konstruksi diatasnya agar tahan gerusan.

(28)

BAB IV

METODE PERAWATAN DAN PERBAIKAN

4.1. METODE PERAWATAN DAN PERBAIKAN KERUSAKAN FUNGSIONAL.

Digunakan metode P1 s/d P 6 Manual Pemeliharaan Jalan, Buku 2

4.2. METODE PERAWATAN DAN PERBAIKAN KERUSAKAN STRUKTURAL Terlebih dahulu harus diselidiki kondisi perkerasan untuk menentukan penyebab kerusakan dan pekerjaan pemulihan yang mungkin dapat dilakukan.

Kemungkinan penyebab antara lain adalah :

- drainase yang buruk atau kurangnya drainase - struktur jalan yang tidak memadai.

- Lebar yang tidak mencukupi.

- Dukungan lateral yang tidak memadai

Metode Penyelidikan : - pemeriksaan visual

- pemeriksaan saluran drainase

- membuat lubang percobaan pada struktur dan tepi jalan.

- Adalah sangat penting memeriksa volume lalulintas terutama kendaraan yang dapat menyebabkan kerusakan yang luas.

Metode Perbaikan :

1. memindahkan semua material dari tepi jalan hingga struktur tersebut kuat dan keras.

2. menggali kebawah struktur yang rusak hingga memperoleh bentuk yang masih baik.

3. memastikan lebar penggalian yang cukup untuk memungkinkan penggunaan mesin terutama untuk pemadatan material pengganti.

4. asumsikan bahwa saluran drainase memanjang dibawah bentuk jalan , perbaikan hingga ketinggian bentuk (formation level) dimungkinkan dengan pengisian agregat kering atau pengisian dengan beton kurus.

(29)

5. jika diperlukan ketentuan dari saluran baru sebaiknya dibuat untuk mencegah kemungkinan keluarnya air tanah dan membawa air kepermukaan jalan, penambahan saluran mungkin dilakukan . 6. memasang kereb yang bekerja sebagai dinding penahan tanah

untuk membentuk saluran yang sesuai untuk pergerakan air permukaan dan untuk menetapkan batas permukaan dengan mudah hingga ke struktur jalan.

7. penambahan untuk menyesuaikan dengan struktur yang telah ada lapis demi lapis .

Ketika menghampar aspal sebaiknya lapisan diberi tack coat.

4.3. PELAPISAN PERMUKAAN

Pelapisan permukaan merupakan metode yang telah digunakan secara luas pada pemeliharaan jalan sejak permulaan abad ini.

Tujuan dari pelapisan permukaan adalah : a. Untuk membuat jalan kedap air

b. Untuk menahan disintegrasi

c. Untuk memberikan lapisan aus tahan gelincir

Tipe-tipe pelapisan berupa pelapisan tunggal (single surface dressing) terdiri lapisan bahan pengikat dan batu pecah yang disebarkan dari bahu ke bahu.

Pelapisan ganda (double surface dressing) dimana lapisan pertama menutupi 90 % permukaan dan lapisan kedua sekitar 100 %.

Metode pelaksanaan dapat mengikuti ketentuan dalam spesifikasi Burtu dan Burda.

4.4. PELAPISAN ULANG

Lapisan Ulang pada perkerasan jalan dilakukan untuk satu atau lebih alasan berikut :

- untuk menambah kekuatan pada kontruksi dan memperpanjang umur pelayanan.

- Untuk membetulkan / memperbaiki bentuk permukaan dan memperbaiki

(30)

- Untuk memperbaiki ketahanan luncur pelapisan lama yang terkikis oleh lalu lintas.

- Untuk memperbaiki penampilan/estetika dari permukaan yang lama dipakai.

Prinsip umum :

1. Kekuatan konstruksi yang ada apakah memadai untuk memikul beban dimasa yang akan datang. Jika tidak berapakah tingkat penguatan yang diperlukan.

Penghamparan material baru diatas struktur yang tidak kuat sebaiknya dihindari karena benar-benar membuang waktu dan uang. Adanya retak pada permukaan yang ada menunjukkan kekuatan yang tidak memadai pada bagian bawah struktur jalan. Dan kondisi seperti itu harus dibongkar dan direkonstruksi.

Adanya lubang-lubang yang terjadi pada permukaan lapis aus kemungkinan merupakan indikasi adanya kelemahan yang lebih dalam pada lokasi tersebut.

2. Bentuk konstruksi yang ada apakah memadai untuk memastikan perlintasan drainase air permukaan dan pemadatan yang seragam pada material lapisan penutup.

3. Apakah ketebalan dengan ketinggian tertentu, misalnya kereb memungkinkan lapisan tertutup untuk digunakan atau apakah ketebalan tertentu dari konstruksi yang ada diperlukan untuk dihilangkan sebelum pelapisan yang baru dilakukan.

4. Apakah permukaan yang ada akan memberikan penguncian atau adhesi yang memadai untuk lapisan penutup yang digunakan .

5. Apakah tingkat ketahanan terhadap penggelinciran (skid resistance) diperlukan .

Jenis jenis pelapisan ulang antara lain dapat digunakan Campuran beraspal Panas Laston atau Lataston. Spesifikasi pelapisan ulang mengikuti ketentuan dan syarat-syarat tehnis pelaksanaan sebagaimana disebutkan pada Spesifikasi Jalan dan Jembatan Divisi 6 tentang Perkerasan Aspal.

(31)

B A B V

PERSYARATAN BAHAN DAN CAMPURAN UNTUK PEMELIHARAAN PERKERASAN ASPAL

5.1. LAPIS PEREKAT

Penetrasi Makadam (Lapen).

Merupakan lapisan perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dan agregat pengunci bergredasi terbuka dan seragam yang diikat oleh aspal dengan cara disemprotkan diatas permukaan dan dipadatkan lapis demi lapis.

Bahan agregat harus keras dan bebas dari gumpalan lempung, dan harus memenuhi ketentuan, abrasi maksimum 40% (SNI 03-2417-1991), Indek kepipihan maksimum 25% (BS.812 Part 1 1975), dan kelekatan terhadap aspal lebih dari 95% (SNI 03-2439-1991).

Aspal yang digunakan dapat salah satu dari berikut ini :

a. Aspal keras pen. 60/70 atau pen. 80/100 memenuhi persyaratan AASTHO M20-70.

b. Aspal emulsi jenis CRS.l atau CRS.2 memenuhi ketentuan AASHTO M 140. Jenis RS.l atau RS.2 memenuhi ketentuan Pd. S-01-1995-03.

c. Aspal cair jenis RC.250 atau RC.800, memenuhi ketentuan Pd. S-03- 1995-03. Jenis MC.250 atau MC.800, memenuhi ketentuan Pd. S-02- 1995-03

5.2. LABURAN ASPAL, BURTU dan BURDA

 Laburan Aspal Satu Lapis (Burtu).

Merupakan lapisan penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergredasi seragam, tebal minimum 2 cm.

 Laburan Aspal Dua Lapis (Burda).

Merupakan lapisan penutup yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal minimum 3,5 cm.

(32)

 Laburan Aspal (Buras).

Merupakan lapisan penutup terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi pasir dengan ukuran butir maksimum 9,52 mm (3/8 inchi).

5.3. LATASIR (LAPIS TIPIS ASPAL PASIR)

Mempakan Japisan penutup yang terdiri dari aspal keras dan pasir aJam bergredasi menerus, dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas dengan temperatur tertentu

5.4. CAMPURAN LASTON

Merupakan lapisan yang terdiri dari campuran agregat yang mempunyai gradasi tertentu dan aspal keras, dicarapur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada tempertur tertentu.

Bahan agregat harus keras dan bebas dari gumpalan lempung, dan harus memenuhi ketentuan, abrasi maksimum 40% (SNI 03-2417-1991), Indek kepipihan maksimum 10% (BS.812 Part 1 1975), dan kelekatan terhadap aspal lebih dari 95% (SNI 03-2439-1991). Bila pasir digunakan harus mempunyai nilai setara pasir (sand equivqlent) kurang dari 50 sesuai ketentuan Pd M-03-1996-03.

Aspal yang digunakan pen. 60/70 atau pen. 80/100, harus memenuhi ketentuan AASHTO M-20

5.5. CAMPURAN LATASTON

Mempakan lapisan penutup yang terdiri dari campuran antara agregat bergredasi timpang dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada temperatur tertentu.

5.6. CAMPURAN BERASPAL LAINNYA

Lapis Asbuton Campuran Dingin (Lasbutag).

Merupakan lapisan yang terdiri dari campuran agregat, asbuton dan bahan peremaja yang diaduk, dihampar dan dipadatkan secara dingin.

Bahan agregat harus keras dan bebas dari gumpalan lempung, dan harus memenuhi ketentuan, abrasi maksimum 40% (SNI 03-2417-1991), Indek kepipihan maksimum 10% (BS.812 Part 1 1975), dan kelekatan terhadap

(33)

aspal lebih dari 95% (SNI 03-2439-1991). Bila pasir digunakan harus mempunyai nilai setara pasir.

(sand equivqlent) kwang dari 50 sesuai ketentuan Pd M-03-1996-03. Bahan peremaja yang digunakan harus berasal dari munyak bumi harus memenuhi ketentuan, sebagai berikut Viscositas kinimatik pada 40 °C antara 250-1000 CSt, Titk nyala 122 °C (AASHTO T73-89).

Referensi

Dokumen terkait

yang diukur dengan menggunakan asset utilization bahwa struktur modal, kepemilikan saham terbesar, dan ukuran perusahaan mempunyai hubungan yang positif dengan agency

Semua yang diterangkan di atas yakni basis data, cantuman (record), data, ruas (field), dan subruas (subfield) sesungguhnya telah anda kenal dan temukan dalam pekerjaan sehari-hari

Realitas Tanggapan Siswa Terhadap Strategi Active Learning Tipe Crossword Puzzle Hubungannya dengan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Konsep Perkembangan

Untuk mengetahui bahan makanan dan pelengkap yang digunakan pada hidangan Main Course?. Untuk mengetahui teknik pengolahan hidangan Main Course

Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis dalam proses penentuan lokasi bandara yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan, yaitu

www.det.nsw.edu.au/vetinschools Informasi mengenai program ‘VET in Schools’ dan sekolah untuk transisi kerja dari NSW Department of Education and Training (Departemen Pendidikan

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri mengatur bahwa perlindungan hukum hak atas karya Desain Industri diberikan pada seorang pendesain berdasarkan

Ukuran Panjang : (meter dengan pegangan; meter kayu; metermeja dari logam; tongkat duga; meter saku baja; ban ukur; depthtape).. Jangka sorong