i
CYBERBULLYING DALAM PERSPEKTIF HADIS (Studi Ma’anil Hadis)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
oleh :
Vela Qotrun Nada NIM: 11170360000020
PROGRAM STUDI ILMU HADIS FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1443 H/ 2021 M
ii
CYBERBULLYING DALAM PERSPEKTIF HADIS (STUDI MA’ANIL HADIS)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh:
Vela Qotrun Nada 11170360000020
Pembimbing
Syarifah Rusydah, M.Ag.,Ph.D.
NIP. 19720419200032001
PROGRAM STUDI ILMU HADIS FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1443 H/ 2021 M
iii
iv
Skripsi yang berjudul “CYBERBULLYING DALAM PERSPEKTIF HADIS (STUDI MA’ANIL HADIS)” telah diujikan di dalam sidang munaqashah Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 25 November 2021. Skripsi ini sudah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) di Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 25 November 2021 Sidang Munaqasyah
Ketua Sidang Sekretaris Sidang
Dr. Rifqi Muhammad Fatkhi, M.A. Dr. Abdul Hakim Wahid,SHI,M.A.
NIP. 197701202231992031001 NIP. 1978042420150310
Penguji 1 Penguji II
Dr. H. Masykur Hakim, M.Ag. Maulana, M.Ag.
NIP. 195702231992031001 NIP. 196502071999031001 Pembimbing
Syarifah Rusydah, M.Ag.,Ph.D.
NIP. 19720419200032001
v
PEDOMAN TRANSLITERASI
Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin.
B = ب z = ز F = ف
T = ت s = س Q = ق
Ts = ث sy = ش K = ك
J = ج ṣ = ص L = ل
ḥ = ح ḍ = ض M = م
Kh = خ ṭ = ط N = ن
D = د ẓ = ظ H = ه
dz = ذ ‘ = ع W = و
R = ر gh = غ Y = ي
Ketentuan alih vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu :
Tanda Vokal Tanda Vokal Keterangan
Arab Latin
ا Ā a dengan garis di atas
ي Ī i dengan garis di atas
و Ū u dengan garis di atas
vi
Skripsi yang berjudul “Cyberbullying dalam perspektif hadis (Studi Ma’anil Hadis)” menjelaskan larangan seseorang untuk tidak merendahkan orang lain baik didunia maya ataupun didunia nyata meskipun konteks hadisnya berbeda akan tetapi pemahamannya sama.
Cyberbullying banyak bermunculan karena mudahnya dalam mengakses media sosial, akan tetapi cyberbullying ini masih dianggap sesuatu hal yang sepele di masyarakat. Kajian ini masih perlu diperkaya lagi dengan mencoba berbagai macam sudut pandang, salah satunya adalah sudut pandang ḥadis Nabi. Dengan demikian, dianggap urgen untuk melihat bagaimana ḥadis Nabi berbicara tentang cyberbullying.
Bentuk penelitian ini adalah Library reseach (penelitian kepustakaan). Untuk penelitian sanad peneliti menggunakan metode takhrij dan kritik sanad. Kemudian penelitian matan hadis menggunakan metode ma’anil ḥadis Yusuf Al-Qardhawi, agar penyampaian ḥadis dari sanad dan matan lebih jelas dan mendapat pemahaman terhadap ḥadis.
Kata kunci : Cyberbullying, Hadis
vii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skrispi ini. Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada para keluarganya, sahabatnya dan para umatnya hingga akhir zaman.
Penulis menyadari betul bahwa skripsi yang berjudul Cyberbullying dalam Perspektif Ḥadis (Studi Ma’anil Ḥadis) . Ini tidak akan selesai jika hanya mengandalkan daya yang penulis miliki.
Ada banyak sosok, kerabat, dan orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung telah banyak membantu penulis. Ucapan terima kasih penulis persembahkan kepada :
1. Prof. Dr. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc, M.A. selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Yusuf Rahman, M.A. selaku Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Dr. Rifqi Muhammad Fatkhi, M.A. selaku Ketua Jurusan Ilmu Hadis dan Dr. Abdul Hakim Wahid, SH.I, M.A. selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Hadis yang telah banyak membantu penulis dan memberikan saran dan masukan serta membantu dalam pelayanan akademik dengan baik.
4. Ala’i Nadjib, M.A. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis dari awal perkuliahan hingga sampai pada titik ini.
viii
Skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
6. Kepada kedua orang tua saya Bapak Drs.H. Suntono dan Ibu Hj. Hanik Laela, SP.d. Kakak saya Shofiatina Qurrota A’yun, M.Psi dan Zefa Syi’ar Sani, S.H. yang senantiasa memberikan dukungan lewat doa-doanya. Memberikan saya semangat dan motivasi sehingga bisa terus istiqomah dalam belajar dan bisa menyelesaikan studi ini.
7. Kepada teman-teman seperjuangan Ilmu Hadis 2017 , Annisa Dwi Febriyanti, Fikrani Zakiyyah, Afifah Amaliyah, Mayda Rani Nur Azizah, Alfiyah, Faisal Izzudin Haq, Dan teman- teman lainnya. Terkhusus kepada Annisa Dwi Febriyanti saya ucapkan banyak terima kasih, karena dalam proses penyusunan skrispsi ini banyak membantu, menjadi teman diskusi sekaligus menjadi pembimbing secara nonformal.
8. Kepada teman-teman MAPK Surakarta, Insan Hubba Haqiqi, Nabila Al-haq, Zulfikar El-haq, Muta’ani Az-zahra, Afifatun Masruroh, Puji Astuti, Risma Eka Malinda, Shovia Nur Zakiyyah dan teman-teman lainnya yang telah menjadi teman diskusi dan menjadi motivasi saya untuk melangkah maju.
9. Dan terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada saudara- saudara saya Ulin Nuha, Muhammad Rifqi Alwy, Waffa Kamal Sahir, Badruz Zaman, dan Zunnatul Jannah yang telah menjadi sahabat diskusi sehingga saya terdorong untuk segera secepatnya menyelesaikan tugas akhir saya ini.
ix
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan wawasan yang luas terkait pengkajian hadis di Indonesia. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah dilakukan dengan pahala yang berlipat ganda di dunia dan di akhirat. Amin
x
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
PEDOMAN TRANSLITERASI ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 10
1. Identifikasi Masalah ... 10
2. Pembatasan Masalah ... 10
3. Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11
1. Tujuan Penelitian ... 11
2. Manfaat Penelitian ... 11
D. Tinjauan Pustaka
... 12
E. Metode Penelitian ... 17
1. Jenis Penelitian ... 18
2. Sumber Data
... 18
3. Analisis Data ... 19
F. Sistematika Penulisan ... 21
BAB II GAMBARAN UMUM FENOMENA CYBERBULLYING ... 22
A. Pengertian Cyberbullying ... 22
B. Kategori Cyberbullying ... 28
xi
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Cyberbullying ... 32
D. Dampak Cyberbullying ... 36
E. Upaya Untuk Mencegah Cyberbullying ... 40
BAB III KUALITAS DAN HADIS CYBERBULLYING ... 44
A. Hadis Larangan Mengatakan Perkataan Kotor ... 44
1. Teks dan Takhrij Hadis ... 44
2. Skema Sanad Hadis ... 47
3. Kritik Sanad Hadits ... 48
4. Penilaian Hadis ... 53
B. Hadis Larangan Menggunjing ... 54
1. Teks dan Takhrij Hadis ... 54
2. Skema Sanad Hadis ... 59
3. Kritik Sanad Hadis ... 60
4. Penilaian Hadis ... 64
C. Hadis Larangan Mencela Orang Lain ... 65
1. Teks dan Takhrij Hadis ... 65
2. Skema Sanad Hadis ... 72
3. Kritik Sanad Hadis ... 73
4. Penilaian Hadis ... 77
BAB IV PEMAHAMAN HADITS TENTANG FENOMENA CYBERBULLYING ... 78
A. Pengertian Ma’anil Hadis ... 78
B. Urgensi Ma’anil Hadis ... 79
C. Metode Ma’anil Hadis Yusuf Al-Qardhawi ... 80
D. Analisis Ma’anil Hadis Fenomena Cyber Bullying ... 84
E. Kontekstualisasi Hadist ... 97
xii
A. KESIMPULAN ... 101
B. SARAN ... 102
DAFTAR PUSTAKA ... 103
LAMPIRAN ... 108
1. Gambar 1 ... 108
2. Gambar 2 ... 110
3. Gambar 3 ... 111
4. Gambar 4 ... 113
5. Gambar 5 ... 115
6. Gambar 6 ... 116
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini, kasus yang marak terjadi dikalangan anak hingga remaja adalah kasus bullying. Bullying sering disebut dengan mengolok-olok, penganiayaan1, penindasan2, dan kedzaliman3. Bullying dapat didefinisikan sebagai sebuah kegiatan atau perilaku agresif yang sengaja dilakukan oleh sekelompok orang atau seorang secara berulang-ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak dapat mempertahankan dirinya dengan mudah atau sebuah penyalahgunaan kekuasaan/kekuatan secara sistematik.4
Cyberbullying merupakan perluasan dari bullying, bullying yaitu kekerasan fisik maupun mental yang dilakukan seseorang atau kelompok orang pada seorang atau kelompok orang lainnya sehingga korban merasa teraniaya.5
Cyberbullying sebenarnya tidak lain dari perilaku yang diidentifikasian sebagai bully yang berarti menggangu, menggertak, menghina, dan tindakan pelecehan melalui dunia internet.
1 Penganiayaan adalah perlakuan sewenang-wenang (penyiksaan, penindasan). Lihat. Poerdawinta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 3rd ed. (Jakarta:
Balai Pustaka, 2007),hal 47.
2 Penindasan adalah perlakuan sewenang-wenang. Poerdawinta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 1277.
3 Dzalim-mendzalimi, menindas, menganiaya, berbuat sewenang-wenang.
Poerdawinta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 1370.
4 Kathryn Gerald, Intervensi praktis bagi remaja beresiko, (Yogyakarta:Pustaka pelajar 2012) hal 72.
5 Yesmil Anwar, Saat Menuai Kejahatan; Sebuah Pendekatan Sosiokultural Kriminologi, Hukum dan HAM, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), hal 89.
Cyberbullying merupakan istilah yang ditambahkan ke dalam kamus OED (Oxford English Dictionary) pada tahun 2010. Istilah ini merujuk kepada penggunaan teknologi informasi untuk menggertak orang dengan mengirim atau posting teks yang bersifat mengintimidasi atau mengancam.
OED (Oxford English Dictionary) menunjukkan penggunan pertama dari istilah ini di Canberra pada tahun 1998, tetapi istilah ini sudah ada pada sebelumnya di Artikel New York Times 1995.6 Para ahli mendefinisikan cyberbullying sebagai berikut :
1. Cyberbullying yaitu perlakuan kasar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, menggunakan bantuan alat elektronik yang dilakukan berulang-ulang dan terus menerus pada seorang target yang kesulitan membela diri.
2. Cyberbullying is the use of technology to intimidate, victimize, or bully an individual or group. Cyberbullying adalah penggunaan teknologi untuk mengintimidasi, menjadikan korban, atau menggangu individu atau sekelompok orang.7 Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa cyberbulying adalah intimidasi, pelecehan atau perlakuan kasar secara verbal yang dilakukan di dunia maya.
Dalam islam, bullying sudah ada sejak zaman dahulu salah satu contohnya yaitu terjadi pada zaman nabi Yusuf a.s . Nabi Yusuf mengalami kekerasan yang dilakukan saudara-saudaranya sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an. Hal ini berawal dari
6 Machsun Rifaudin, “Fenomena Cyberbullying pada Remaja (Studi Analisis Media Sosial Facebook”, Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Khizanah Al-Hikmah, 4, (2016), hal 38.
7 Fathur Rahman, “Analisis Meningkatnya Kejahatan Cyberbullying dan Hatespeech Menggunakan Berbagai Media Sosial dan Metode Pencegahannya”, SNIPTEK, (2016), hal. 383
3
kecemburuan kakak-kakak Yusuf karena ayah mereka Nabi Ya’kub a.s lebih menyayangi Nabi Yusuf dan adiknya Benjamin. Sebenarnya hal ini wajar karena Nabi Yusuf dan Benjamin telah ditinggal wafat oleh ibunya saat mereka masih kecil. Namun perlakuan special ayahnya kepada Yusuf membuat saudara-saudaranya cemburu dan dengki.
Kemudian merekapun berkumpul dan merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Yusuf. Awalnya salah satu dari mereka merencanakan untuk membunuh Yusuf, tetapi akhirnya mereka sepakat menenggelamkanya kedalam sumur. Akan tetapi sebelum memasukkan Yusuf ke dalam sumur mereka menganiyaya Yusuf terlebih dahulu.8
Cyberbullying sama halnya dengan bullying yang terjadi pada umumnya, yaitu sama-sama mengintimidasi ataupun mengganggu orang yang lemah. Yang membedakan antara bullying dan cyberbullying adalah tempat dimana pelaku melakukan intimidasi, ancaman dan pelecehan terhadap target atau korban. Alat perantara yang digunakan pelaku cyberbullying adalah smartphone atau komputer yang tersambung dengan jaringan internet.9
Bullying maupun cyberbullying tidak peduli umur, usia, dan jenis kelamin si korban. Di lingkungan pendidikan,masyarakat,tempat kerja hal tersebut dapat terjadi. Bedanya, bullying terjadi di dunia nyata, sedangkan cyberbullying terjadi di dunia maya, utamanya di media sosial (medsos).
8 Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith (Jakarta: Gema Insani, 2013), hal.
142-143.
9 Yana Choria Utami, “Cyberbullying di Kalangan Remaja (Studi tentang Korban Cyberbullying di Kalangan Remaja Surabaya)”, Universitas Airlangga, No.
3, (09, 2014), hal. 3.
Perkembangan teknologi Informasi yang semakin pesat mampu mengubah pola kehidupan masyarakat dalam hal pemenuhan informasi. Segala bentuk informasi dapat menyebar secara cepat bahkan sulit untuk dikontrol. Tidak dapat dipungkiri saat ini manusia semakin “dimanjakan”dengan berbagai kecanggihan teknologi, mulai dari munculnya alat komunikasi handphone sampai smartphone yang dilengkapi dengan bebagai fitur dan teknologi internet. Internet dapat memudahkan penggunannya untuk bertukar informasi tanpa harus bertatap muka satu sama lain. Selain itu adanya internet juga mendorong munculnya berbagai media sosial seperti whatshapp, facebook, tinder, youtube,twitter, instagram, dan sebagainya.
Pesatnya perkembangan jejaring sosial sebagai alat komunikasi yang mudah digunakan oleh siapa saja dan dapat diakses dimana saja membuat fenomena besar terhadap arus informasi, tidak hanya itu pertumbuhan jejaring sosial membawa trend baru dalam masyarakat sebagai ajang untuk melakukan tindakan penindasan secara online atau yang lebih dikenal dengan sebutan cyberbullying. Adanya jejaring sosial memudahkan pengguna untuk melakukan cyberbullying, Bentuk dari cyberbullying adalah ejekan, ancaman, hinaan, ataupun hacking dengan tujuan mengintimidasi dan menindas sehingga korban merasa tersakiti dan malu, sedangkan pelaku merasa puas dan senang karena tujuannya telah tercapai.
Cyberbullying lebih mudah dilakukan daripada kekerasan konvensional karena si pelaku tidak perlu berhadapan muka dengan orang lain yang menjadi targetnya. Korban yang terkena cyberbullying juga jarang yang melaporkan kepada pihak yang berwajib, sehingga banyak orang tua yang tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka
5
terkena bullying di dalam dunia maya. Dan akibat fatal dari tindakan ini adalah bunuh diri.
Fenomena cyberbullying biasanya dilakukan kalangan remaja beberapa alasannya yakni karena pengaruh lingkungan, perkelahian di lingkungan sekolah, adanya imitasi dalam penggunaan sosial media yang berdampak terjadinya cyberbullying, cyberbullyer kurang memahami dampak penggunaan jejaring sosial , kurangnya perhatian orang tua dan guru, korban cyberbullying lebih memilih bercerita kepada teman dan menyimpannya sendiri.
Sejalan dengan data yang diperoleh UNICEF pada 2016, sebanyak 41 hingga 50 persen remaja di Indonesia dalam rentang usia 13 sampai 15 tahun pernah mengalami tindakan cyberbullying.
Bahkan, satu dari tiga orang di 30 negara telah menjadi korban intimidasi online karena cyberbullying dan kekerasan.10
Hal ini diperkuat oleh hasil survey Wearesosial (2019) Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya.
Cyberbullying ini tidak hanya menimpa public figure, tetapi juga dalam kalangan remaja sebagaimana dilansir dari https://databoks.katadata.co.id yang mengungkapkan hasil riset Programme for International Students Assessment (PISA) 2018 menunjukkan siswa di Indonesia mengaku pernah mengalami perundungan (bullying) sebanyak 41,1%. Selain mengalami
10 Zunari Hamro, Fenomena Cyberbullying Pada Kalangan Remaja di Dunia Maya dalam https://pilarpkbijateng.or.id, diakses 12 Februari 2021.
perundungan, murid di Indonesia mengaku sebanyak 15% mengalami intimidasi, 19% dikucilkan, 22% dihina dan barangnya dicuri.
Selanjutnya sebanyak 14% murid di Indonesia mengaku diancam, 18%
didorong oleh temannya, dan 20% terdapat murid yang kabar buruknya disebarkan.
Berbagai macam cara telah dilakukan untuk menanggulangi kasus yang menjadi problem sosial ini. Oleh sebab itu, khazanah baru untuk mengatasi problematika ini sangat diperlukan,karena masih jarang sekali ditemukan pembahasan cyberbullying dari pandangan ḥadis.
Salah satu cara pandang yang ditawarkan di sini adalah menempatkan problematika cyberbullying dalam ranah spiritual untuk ditinjau dengan perspektif ḥadis Nabi. Berbagai solusi telah ditawarkan sebagai upaya untuk menanggulangi problem ini, baik dengan pendekatan sosial, psikologis ataupun spiritual. Namun dari setiap upaya yang telah ditawarkan seolah masih belum efektif jika melihat masih maraknya kasus ini.
Oleh sebab itu, kajian atas fenomena ini masih perlu diperkaya lagi dengan mencoba berbagai macam sudut pandang, salah satunya adalah sudut pandang ḥadis Nabi. Ḥadis Nabi, bagi umat Islam, tidak hanya difungsikan sebagai pedoman dalam menjalankan syari’at saja, namun juga digunakan sebagai pedoman ber-mu’amalah. Oleh sebab itu, dianggap urgen untuk melihat bagaimana ḥadis Nabi berbicara tentang fenomena cyberbullying. Kajian ini tidak hanya menemukan adanya fenomena bullying dalam hadis, melainkan juga eksplorasi atas tindakan preventif yang ditawarkan oleh ḥadis Nabi atas problem ini.
Tujuan dari kajian ini adalah melihat signifikansi ḥadis Nabi sebagai
7
pemecahan masalah atas fenomena bullying yang masih marak di masyarakat.
Menurut Nadirsyah Hosen, seorang pakar tafsir era kontemporer, Cyberbullying, pada dasarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Seorang anak muda atau ibu rumah tangga bisa tiba-tiba menjadi garang dan melecehkan ulama. Ketidaksetujuan kita terhadap tokoh atau pejabat pemerintahan diekspresikan lewat gambar/meme yang berbau hujatan dan hinaan. Kita tidak lagi fokus pada pemikiran, gagasan atau kebijakan, yang kita serang adalah kehormatan pribadi dan nama baik orang lain yang hendak kita permalukan karakternya. Sedangkan kita merasa puas dan tenang-tenang saja seolah tidak terkena dosa atas pelecehan yang kita lakukan itu.11
Agama islam telah melarang pembullyan dalam bentuk apapun.
Al-qur’an telah menyebutkan dalam surat al-Hujurat ayat 11.
ن ْ سنِّ ن ٌ ءۤ اَسِ ن نالاو ن مُه نسنِّ ناًر ياخ نا و نُ ِ وُكَّي ن ناا نى ن َاع ن ٍم وا ق ن ْ سنِّ ن م وا ق ن راخ َ ناي ن ال نا وُ ناِّ ا ناْ يسيََّا نۤاهَ ي نا ي نُم ن س سلا نا سسز ن سۗ ۤاا َا لسال نا وُوا زۤانا ن ن نالاو ن مُكاَُف ِاا نا ن وُوسم لا ن ن الاو ن َّۚ
َّْ ُه نسنِّ نا نًر ياخ نَّْ ُكَّي ن ناا نى ن َاع نٌٍ ءۤ اَنسِ
نان ن وُمسل نظَا نُمُه ناكِٕى ء
َوُۤاف ن بُتا ي ن َّلَّ ن ْ اِّاو نَّۚسنۤا يْس لا ناد عا ز نُق وَُُف َا
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Hujurat:11)
11 Nadirsyah Hosen Tabik, “Ketika Ilmuwan, Ulama, dan Profesor di-bully di medsos” (Australia: Monash Law School).
Mem-bully bukan hanya menimbulkan perasaan malu bagi korbannya, namun juga terselip perasaan bahwa kita yang membully ini lebih baik dari padanya. Lebih jauh lagi, surah al-Hujurat ayat 11 mengajarkan agar kita senantiasa introspeksi diri lebih dulu sebelum menilai baik buruknya orang lain.
Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa mengintimadasi dan memperolok-olok orang lain adalah perbuatan yang dilarang. Hal itu seperti apa yang dikaitkan dengan cyberbullying. Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kehormatan melarang umatnya untuk menghasut, menggunjing, berkata kasar, memanggil dengan julukan tidak baik di hadapan orang, dan perbuatan lain yang menyerang kehormatan dan kemulian manusia. Islam juga mengingatkan untuk menjaga lisan yang telah diberikan oleh Allah untuk berkata baik dan benar agar tidak menimbulkan fitnah dan dosa. Islam juga menempatkan mereka yang berbuat dosa tersebut kedalam golongan orang-orang fasik.12
Jika dilihat orientasi dari perilaku bullying yang mengarah pada suatu tindakan yang merendahkan orang lain, terdapat satu ḥadits yang secara spesifik menjelaskan tentang hal tersebut. Ḥadis tersebut terdapat dalam kitab Musnad Aḥmad dengan redaksi sebagai berikut:
يسهاار زإ ن ْ اع ن،سشام عالأا ن ْ اع ن،الئاار سإ ن ْ اع ن،سقسزاۤس نُْ ز نُدنماُمُ ناۤنثاداح ن ْ اع ن،اةاماا لاع ن ْ اع ن،سم
نسنللاسد باع نامَّلاساو نس يالاع نَُّللا نىَّلال نسَّللا نُ وُساس نا ۤاق نق نا اۤاق ن نق ن
نالاو نسنَّۤعَّلَسال نا ياَ ناْ سِّ ؤُم َا نَّنسإ ن
نسٌيسياب َا ن الاو نسشسحۤاف َا ن الاو نسنَّۤعَّطَا
12 Maulida Nur Muhlishotin, Cyberbullying Perspektif Hukum Pidana Islam, Jurnal Hukum Pidana Islam vol.3 no 3 (2 Desember 2017) hal. 375
9
Diceritakan dari Muhammad bin Sabiq dari israil, dari amasy, dari ibrahim dari al- Qamah dari Abdillah ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin bukanlah orang yang melaknat, mencela, berbuat keji, dan tidak pula mengatakan perkataan kotor.” (HR.Ahmad:3646)
Dalam pemaknaan ḥadis diperlukan kejelasan apakah suatu ḥadis akan dimaknai tekstual atau kontekstual . Pemahaman terhadap kandungan ḥadis apakah suatu hadis termasuk kategori temporal, lokal, atau universal, Serta apakah konteks tersebut berkaitan dengan pribadi pengucapnya saja, atau mencakup pula mitra bicara dan kondisi sosial ketika teks itu muncul.13
Pemaknaan ḥadis menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak ketika teks-teks keagamaan yang lahir banyak mengutip literatur- literatur hadis yang pada gilirannya mempengaruhi pola pikiran dan tingkah laku masyarakat. Sebagai salah satu contoh tentang upaya memahami ḥadis secara lebih tepat dengan menggunakan metode pemaknaan ḥadis adalah bagaimana memahami ḥadis tentang cyberbullying.
Dalam penelitian ini saya menggunakan teori pemikiran ulama’
kontemporer yaitu Yusuf Al-Qardhawī untuk menganalisa dan memahami ḥadits. Ada beberapa metode yang dipaparkan oleh Yusuf Al-Qardhawī antara lain yaitu : Memahami hadis sesuai petunjuk Al- Qur’an, Mengumpulkan hadis yang satu tema, Memahami hadis berdasarkan latar belakang, kondisi dan tujuan, dan yang terakhir memahami makna kata per kata.
Berangkat dari latar belakang masalah yang dipaparkan diatas maka dalam penelitian ini, penulis bermaksud meneliti dan mengkaji
13 M.Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Bandung:Mizan, 1999), hal.
124
pemaknaan dan pemahaman yang tepat terhadap ḥadis-ḥadis yang berkaitan dengan cyberbullying.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Di dalam kitab-kitab hadits belum di jelaskan secara jelas makna bullying . Kebanyakan hanya menjelaskan yakhsar, istihza’ah, talmizu’ atau yang lebih dikenal dengan mengolok-olok dan mempermalukan seseorang di khalayak umum dengan tujuan kepuasan pribadi.
Dengan demikian skripsi ini akan mengulas dan mendalami penelitian mengenai makna ḥadis tentang cyberbullying.
2. Pembatasan Masalah
Dari latar belakang yang telah dijelaskan diatas, untuk menghindari pembahasan yang tidak mengarah kepada maksud dan tujuan dari penulisan skripsi ini, maka penulis perlu membatasi pembahasan yang akan dibahas, yaitu penulis lebih memfokuskan dan menitik-beratkan terhadap makna hadis tentang cyberbullying. Adapun ḥadis-ḥadis diatas penulis batasi pada pada kalimat mengolok-olok.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifiksi masalah yang telah dijelaskan sebelumnya maka penulis mencoba mengambil beberapa rumusan masalah yang menjadi kajian dalam penelitian ini. Adapun yang menjadi rumusan masalah di dalam penelitian ini adalah :
11
a. Bagaimana pemaknaan dan pemahaman ḥadis tentang fenomena cyberbullying melalui ma’anil ḥadis ?
b. Bagaimana kontekstualisasi ḥadis tentang fenomena cyberbullying dalam realita sekarang ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini tentu tidak terlepas dari tujuan yang hendak dicapai, sehingga dapat bermanfat bagi penulis sendiri ataupun bagi para pembaca. Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan skripsi ini adalah:
a. Untuk mengetahui makna fenomena cyberbullying dalam pandangan hadis
b. Untuk mengetahui kontekstualisasi ḥadis tentang cyberbullying dalam realitas kekinian
2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian dalam skripsi ini diharapkan dapat berguna dalam hal-hal :
a. Secara Teoritis : Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumbangan sederhana dalam pengembangan studi ilmu hadis dan menambah khazanah literatur untuk fakultas ushuluddin. Selain itu, diharapkan dapat berguna sebagai pedoman dalam rangka memahami dan mengamalkan hadis-hadits Nabi SAW, untuk mewujudkan pembumian hadis yang rahmatan li al-alamin.
b. Secara Praktis : Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan landasan atau pedoman yang layak sebagai
khazanah intelektual islam. Khususnya para remaja supaya menggunakan media sosial dengan baik dan bijak.
c. Secara Khusus : Penelitian ini menjadi salah satu persyaratan akhir program S1 guna memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) di Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
D. Tinjauan Pustaka
Sebelum saya melakukan penelitian ini, sebelumnya sudah terdapat beberapa penelitian yang terkait masalah cyberbullying yang dibahas dan dikemas memenuhi khazanah koleksi kepustakaan dengan baik dalam bentuk buku-buku, artikel, jurnal, hingga karya ilmiah. Akan tetapi penulis menemukan beberapa literatur yang mengangkat permasalahan dengan pandangan yang berbeda. Diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Skripsi dengan judul “Cyberbullying di Media Sosial Youtube (Analisis Interaksi Sosial Laurentius Rando terhadap Haters)”
Tahun 2017 karya Widyawati MP Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar . Fokus penelitian ini yaitu mengenai cyberbullying di media sosial dengan analisis interaksi sosial Laurentius Rando terhadap haters. Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah penelitian bersifat deskriptif, sumber data penelitian ini adalah vidio Laurentius Rando dan komentar-komentar haters pada akun Youtube nya. Sedangkan teknik pengumpulan data yaitu observasi non partisipasi. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial Laurentius Rando terhadap
13
haters dalam vidio “Baca Comment Hate” terjadi karena adanya beberapa faktor pendorong dan juga bentuk dari interaksi sosial.
2. Jurnal dengan judul “Fenomena Bullying pespektif Hadis:
Upaya Spiritual sebagai Problem Solving atas Tindakan Bullying” Tahun 2019 karya Aunillah Reza Pratama dan Wildan Hidayat Universitas Islam Negeri Yogyakarta . Penelitian ini mengkaji bullying dengan perspektif hadis Nabi.
Kajian ini berusaha menemukan signifikasi fenomena bullying dengan hadis. Sedangkan metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis . Dan hasil dari penelitian ini adalah Hadis riwayat ibnu majah :3203, ide dasar hadis yang dikaji adalah nilai humanise, dan Tindakan preventif yang ditawarkan hadis tersebut.
3. Skripsi dengan judul “Bullying dalam Perspektif Al-Qur’an dan Psikologi” Tahun 2018 karya Mokhammad Ainul Yaqien Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya. Penelitin ini mengkaji makna bullying dalam perspektif Al-qur’an dan psikologi. Jenis penelitian ini adalah library research (penelitian kepustakaan) penyajian tafsiranya dengan pendekatan tematik analisis. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran secara keseluruhn dengan jalan menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian sama. Dan hasil penelitiannya yaitu Menurut para mufassir orang yang melakukan bullying akan mendapat balasan pada hari pembalasan,kemudian menurut psikologi orang yang melakukan bullying dan orang yang
menjadi korban bullying akan mempunyai dampaknya yang berpengaruh pada masa depannya.
4. Skripsi dengan judul “Bullying dan Solusinya dalam Al-Qur’an
” Karya Sindy Kartika Sari Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Penelitian ini fokus mengkaji pesan Alquran tentang bullying dan solusinya dengan menggunakan metode tafsir tematik. Beberapa ayat-ayat yang terdapat makna kata seperti yaskhar,istahza’a,dan derivasinya dikumpulkan kemudian dianalisa. Dan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa ayat Alquran mengindikasikan bahwa bullying memang sudah terjadi pada masa-masa terdahulu, bahkan sebelum al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad.
5. Skripsi dengan judul “Analisis Perilaku Cyberbullying Remaja di Jejaring Sosial Instagram di Sekolah Madrasah Aliyah Islamiyah Sunggal“ Tahun 2019 Karya Krismun Nazara Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Medan Area.
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi pada remaja di Madrasah Aliyah Islamiyah Sunggal, serta melalui dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini. Sehingga dalam penelitian ini ditemukan beberapa jenis cyberbullying yakni harassment serta body shaming.
6. Skripsi dengan judul “Cyberbullying sebagai Dampak Negatif Penggunaan Teknologi Informasi” Karya Florensia Sapty Rahayu Fakultas Teknologi Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Fokus penelitian ini yaitu untuk memperoleh gambaran tentang fenomena cyberbullying di Indonesia. Untuk
15
mendapatkan data digunakan kuesioner yang didistributorkan kepada siswa-siswi SMP dan SMA di kota Magelang, Yogyakarta dan Semarang. Dan hasil dalam penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa cyberbullying telah terjadi dengan angka yang cukup besar (28%) namun dampaknya tidak begitu serius.
Dari jawaban-jawaban yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa banyak remaja yang belum memahami tentang cyberbullying dan potensi dampak yang dapat ditimbulkannya.
7. Skripsi dengan judul “Fenomena Perilaku Cyberbullying dalam Jejaring Sosial Twitter“ Tahun 2014 Karya Salshabila Putri Persada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang. Fokus penelitian ini yaitu untuk memahami motivasi pelaku dalam melakukan cyberbullying dijejaring sosial twitter. Dalam penelitian ini teori yang digunakan adalah motif sosiogenis, yaitu motif cinta, motif kompetensi, dan motif harga diri dan kebutuhan untuk mencari identitas. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap lima orang informan yang masing-masing merupakan pelaku cyberbullying didalam jejaring sosial twitter.
Dan hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dalam jejaring sosial twitter, pelaku cyberbullying terjadi karena adanya motivasi yang ada dalam diri informan. Seperti motif sosiogenis dan motif afektif.
8. Jurnal dengan judul “Fenomena Cyberbullying pada Remaja (Studi Analisis Media Sosial Facebook). Tahun 2016 karya Machsun Rifauddin Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Fokus penelitian ini yaitu menggambarkan fenomena cyberbullying terhadap para remaja di sosial media facebook beserta dengan beberapa contoh nyata yang pernah terjadi di Indonesia. Dan hasil dalam penelitian ini adalah tindakan cyberbullying yang dilakukan remaja di media sosial facebook sudah semakin mengkhawatirkan. Dampak cyberbullying pada korban antara lain mereka mengalami depresi, kecemasan, ketidaknyamanan, prestasi disekolah menurun, tidak mau bergaul dengan teman sebaya, menghindar dari lingkungan sosial, dan adanya upaya bunuh diri. Dan untuk menanggulangi cyberbullying pada remaja di media sosial facebook maka perlu diadakan tindakan preventif melalui pendidikan etika.
9. Skripsi dengan judul “ Pengaruh Pola Komunikasi Orang Tua Terhadap Perilaku Cyberbullying Siswa SMPI Singosari Malang” Tahun 2019 Karya Anggi Citra Alfiroh Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Fokus penelitian ini yaitu Untuk mengetahui tingkat perilaku cyberbullying siswa serta untuk melihat masing- masing pengaruh pola komuikasi orang tua terhadap perilaku cyberbullying siswa SMPI Singosari Malang. Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kuantitatif korelasional. Dan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan pola konsensual terhadap perilaku cyberbullying siswa SMPI Singosari Malang sebesar 7,2% dengan hubungan negatif (Beta=-0,269).
17
10. Skripsi dengan judul “ Hubungan Parental Support Autonomy dengan Kecenderungan Perilaku Cyberbullying Remaja ” Tahun 2018 karya Abdurrohman Malik Ibrahim Fakultas Psikologi Universitas Sunan Ampel Surabaya. Fokus penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara parental support autonomy dengan kecenderungan perilaku cyberbullying.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif berjenis korelasi. Dan hasil dalam penelitian ini bahwa data yang digunakan yaitu analisis product moment dengan diperoleh harga koefisien korelasi sebesar -0,627 dengan signifikasi 0,000, artinya terdapat hubungan antara parental support autonomy dengan kecenderungan perilaku cyberbullying remaja.
Dari berbagai karya ilmiah yang penulis temukan, belum terdapat penelitian mengenai pandangan hadis terhadap cyberbullying. Sehingga penelitian ini menjadi sangat penting untuk diteliti dengan harapan dapat memberikan solusi dan khazanah keilmuan yang baru.
E. Metodologi Penelitian 1. Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif menyajikan data dalam bentuk kata verbal bukan dalam bentuk angka,14 yang pada umumnya lebih
14 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif: Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), hal. 29
mengedepankan perolehan data asli. Pengambilan data pun dilakukan secara natural.15
Karakteristik penelitian kualitatatif naturalistik, antara lain adalah sebagai berikut: Mempunyai sifat induktif, yaitu pengembangan konsep yang didasarkan atas data yang ada, mengikuti desain penelitian yang fleksibel sesuai konteksnya dan penelitian kualitatif sangat menekankan pada perolehan data asli.
2. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian ini yaitu menggunakan penelitian kepustakaan (library research) yakni menelusuri hadits yang dimaksud pada kitab-kitab aslinya yaitu al-kutub al-tis’ah serta buku-buku atau tulisan-tulisan yang mendukung pendalaman dan ketajaman analisis seperti kitab-kitab syarah, kamus bahasa arab, serta artikel-artikel yang menunjang penelitian ini. Kemudian data yang diperoleh dibedah dan dianalisis dengan teori ilmu hadits, khususnya ma’anil hadis dengan teori pemahaman ulama’
kontemporer Yusuf Al-Qardhawi. Dalam hal ini teori penelitian yang dipakai adalah teori pemaknaan atau disebut dengan ma’anil hadis.
3. Sumber Data
Dalam penelitian ini, saya membagi sumber data kedalam dua sumber yaitu sumber primer dan sumber sekunder.
a. Sumber Primer adalah : Sumber data yang diperoleh dari sumber asli yaitu, al-kutub al-tis’ah.
15 Djunaidi Ghony, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2012), hal. 13
19
b. Sumber Sekunder adalah : Data yang mendukung dan melengkapi data primer yaitu buku-buku, artikel, jurnal, dan karya ilmiah lainnya yang berhubungan dengan objek kajian penelitian. Antara lain yaitu Taḥzib al- Taḥzib karangan Ibnu Ḥajar al-Asqalanī, Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW karangan Yusuf Al-Qardhawī, Ilmu Ma’anil Hadis Paradigma Interkoneksi Berbagai Teori dan Metode Memahami Hadis Nabi karangan Abdul Mustaqim dan lain sebagainya.
4. Analisis Data
Pengumpulan data dalam penelitian kepustakaan adalah dengan tekhnik dokumenter yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, skripsi, buku dan sebagainya.16
Untuk mengetahui kualitas ḥadis, saya menggunakan beberapa langkah untuk menganalisisnya, antara lain yaitu sebagai berikut :
1. Tahrij al-hadits : Merupakan penelusuran atau pencarian hadis dalam berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan. Yang didalamnya dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadits yang bersangkutan.17
Maka tahrij hadis merupakan langkah awal dalam pengumpulan data untuk mengetahui kualitas jalur sanad dan matan hadis. Adapun metode takhrij yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode lafaz : Mencari kata dari bagian
16Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hal. 234
17 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992),hal. 41
matan hadis. Kitab yang digunakan dalam metode ini adalah kitab Mu’jam Mufahras Li-alfaz al Hadith Al-nabawi karya Arent Jan Wensink (w.1358 H).18
2. I’tibar : Untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung berupa periwayat yang berstatus mutabi’ atau syahid.19
3. Kritik Sanad : untuk penelitian aspek sanad, menggunakan kitab tadzib al-kamal atau tadzib al-tadzhib.
Kemudian untuk memahami suatu ḥadis terdapat dua metode dalam memahami teks ḥadis yaitu :
1. Tekstual
Metode ini adalah suatu cara untuk memahami teks ḥadis berdasarkan yang tertulis dalam teks, dengan kata lain maksud pemahaman tekstual adalah pemahaman lahiriah nash.
2. Kontekstual
Metode ini adalah suatu cara memahami teks dengan memperhatikan sesuatu yang ada disekitarnya karena ada indikasi makna-makna selain tekstual. Kontekstualisasi ḥadis terbagi menjadi dua macam yaitu :
a. Konteks internal : mengandung bahasa kiasan, majazi, metafora dan simbol.
b. Konteks eksternal : seperti kondisi kultur, sosial serta historis.
18 Mahmud al-Tahan,Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid,terj M.Ridwan Nasir (Surabaya:IMTIYAZ,2015),hal.72
19 Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, (Jakarta: Bulan Bintang 1992), hal 52.
21
E. Sistematika Penulisan
Adapun penelitian ini, terdapat sistematika penulisan yang bertujuan agar penyusunan penelitian lebih terarah dan sesuai dengan bidang kajian yang akan dibahas supaya memudahkan pembaca untuk memahami skripsi ini. Dalam penelitian ini terbagi menjadi lima Bab, dari Bab 1 sampai Bab V yang masing-masing bab akan memperinci semua hal yang berkaitan dengan penelitian.
Sistematika penulisan tersebut adalah :
BAB 1, yaitu Pendahuluan, yang terdiri dari pembahasan latar belakang penulisan skripsi ini. Kemudian pembatasan masalah yang berfungsi untuk membatasi masalah yang akan diteliti agar fokus dan tidak melebar. Kemudian pada bab ini membahas rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II, yaitu Membahas mengenai gambaran umum fenomena cyberbullying serta tinjauan umum ḥadis-ḥadis tentang cyberbullying. Hal ini bertujuan agar ḥadis yang diteliti benar bersumber dari Nabi dan dapat dipertanggungjawabkan.
BAB III, yaitu Dalam melakukan analisis terhadap ḥadis tentang cyberbullying, dilakukan analisis sanad meliputi penelitian terhadap kualitas periwayatan dan persambungan sanad.
Melakukan i’tibar dan meneliti pribadi periwayat hadis serta kualitas sanad hadis.
BAB IV, Membahas mengenai pemahaman ḥadis cyberbullying dengan menggunakan metode Yusuf Al-Qardhawī.
Serta menarik ide dasar pemahaman ḥadis untuk mengetahui tujuannya.
BAB V, yaitu Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.
Pada kesimpulan akan memaparkan inti dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Sedangkan pada saran berisi penjelasan kepada pembaca untuk ikut menyempurnakan penelitian ini dengan memberikan kritik dan masukan yang membangun bagi penulis.
23 BAB II
GAMBARAN UMUM CYBERBULLYING
A. Pengertian Cyberbullying
Secara etimologis, kejahatan diartikan sebagai perbuatan atau tindakan jahat, di mana suatu perbuatan dianggap sebagai kejahatan berdasarkan pada sifat perbuatan tersebut, apabila perbuatan itu merugikan masyarakat atau perorangan baik secara materil, misalnya mencuri, membunuh, merampok, memperkosa dan lain-lain.1
Kata cyber dalam cyberspace, cyber crime, dan cyberlaw, serta istilah lain yang menggunakan kata cyber berkembang dari penggunaan terminologi cybernetics oleh Norbert Wiener pada tahun 1948 dalam bukunya yang berjudul Cybernetics or Control and Communication in the Animal and the Machine.2
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memang belum ada terjemahan resmi kata cyber. Akan tetapi, KBBI sudah memuat kata “sibernetika” yang merupakan terjemahan resmi dari cybernetics, yaitu; “ilmu pengetahuan tentang komunikasi dan pengawasan yang khususnya berkenaan dengan studi bandingan atas sistem pengawasan otomatis (seperti sistem saraf dan otak)”3
1 Muliadi, S. Aspek Kriminologis Dalam Penanggulangan Kejahatan. Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum. Volume 6 No. 1 (1996), hal. 1-11
2 Sitompul, J. Cyberspace, Cybercrimes, Cyberlaw: Tinjauan Aspek Hukum Pidana ( PT Tatanusa,2012)
3 Abdul sakban,Sahrul,Pencegahan Cyberbullying di Indonesia, (CV. Budi Utama Yogyakarta,2012), Hal. 2
Kata cyber merupakan singkatan dari cyberspace yang berasal dari kata cybernetics dan space, istilah cyberspace muncul pertama kali pada tahun 1984 dalam novel Willian Gibson yang berjudul Neuromancer. Pada karya tersebut, ia mendefinisikan cyberspace sebagai; “Cyberspace. A consensual hallucination experienced daily by billions of legitimate operators, in every nation….. A grapic representation of data abstracted from banks of overy computer in the human system. Unthinkable complexity. Lines of light ranged in the nonspace of the mind, clusters and constellations of data. Like city light, receding.”
Pada dasarnya, Gibson menggambarkan cyberspace bukan ditujukan untuk menggambarkan interaksi yang terjadi melaui jaringan komputer, melainkan sebagai sebuah representasi grafis dari data yang diabtraksikan dari wadah penyimpanan di setiap komputer dalam sistem manusia. Sebuah kompleksitas yang tidak dapat dipecahkan.
Kemudian pada tahun 1990, John Barlow mengaplikasi- kan istilah cyberspace untuk dunia yang terhubung atau online ke internet.1
Dapat disimpulkan bahwa cyberspace adalah sebuah media elektronik dalam sebuah jaringan komputer yang banyak dipakai untuk keperluan komunikasi satu arah maupun timbal-balik secara online (terhubung langsung). Cyberspace menawarkan dimensi baru yang terkomputerisasi dimana kita dapat dengan bebas memindahkan informasi dan mengakses data.2
4 Barlow, J. P. Appendix : Crime and Puzzlement. High Noon on the Electronic Frontier: (Conceptual Issues in Cyberspace , 459)1996
5 Abdul sakban,Sahrul,Pencegahan Cyberbullying di Indonesia, (CV. Budi Utama Yogyakarta,2012), Hal. 3
25
Sedangkan arti bullying menurut KBBI adalah perundungan3 Menurut KBBI edisi ke-5, kata rundung memiliki arti menganggu, dan mengusik terus menerus.
Menurut Ken Rigby dan Astuti 4adalah “sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang”.
Sedangkan menurut Riauskina, Djuwita, dan Soesetio
5mendefinisikan bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap seseorang yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Mereka kemudian mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori:
1. Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain).
2. Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name- calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/
mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
6 Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet 9, Balai Pustaka, Jakarta, 1996,
7 Astuti, P. R. Meredam Bullying 3 Cara Efektif Meredam K. P.
A.Kekerasan Pada Anak. (Jakarta: Grasindo,2008)
8 Riauskina, I.I., Djuwita, R., dan Soesetio, S.R.. “Gencet-gencetan” dimata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, scenario, dan dampak
“gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 1 (2006), hal. 1-13
3. Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
4. Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
5. Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Di bawah ini adalah karakteristik yang pada umumnya ditemui pada pelaku bullying, sehingga seseorang yang belum melakukan bullying, namun memiliki beberapa karakteristik berikut:
a. Cenderung hiperaktif, disruptive, impulsif, dan overactive
b. Memiliki temperamen yang sulit dan masalah pada atensi/
konsentrasi
c. Pada umumnya juga agresif terhadap guru, orangtua, saudara, dan orang lain
d. Gampang terprovokasi oleh situasi yang mengundang agresi e. Memiliki sikap bahwa agresi adalah sesuatu yang positif
f. Pada anak laki-laki, cenderung memiliki fisik yang lebih kuat daripada teman sebayanya
g. Pada anak perempuan, cenderung memiliki fisik yang lebih lemah daripada teman sebayanya
h. Berteman dengan anak-anak yang juga memiliki kecenderungan agresif
i. Kurang memiliki empati terhadap korbannya dan tidak menunjukkan penyesalan atas perbuatannya.
27
j. Biasanya adalah anak yang paling insecure, tidak disukai oleh teman- temannya, dan paling buruk prestasinya di sekolah hingga sering terancam drop out
k. Cenderung sulit menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan dalam hidup
Dari berbagai karakteristik yang dimiliki pelaku di atas, dapat kita lihat bagaimana para pelaku tersebut sebenarnya juga adalah korban dari fenomena bullying. “Pelaku” yang sebenarnya bisa dikatakan adalah mereka yang menutup mata terhadap fenomena ini atau menganggapnya normal dan membiarkannya terus- menerus terjadi. Mereka seringkali adalah orang-orang terdekat pelaku dan korban, yaitu teman sebaya, orangtua, dan guru.6
Sedangkan Cyber bullying itu sendiri merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap seseorang melalui text, gambar/foto, atau video yang cenderung merendahkan dan melecehkan.7 Cyber bullying dapat dilakukan melalui media seperti pesan teks, gambar video, panggilan telepon, e-mail, chat room, Instant Messaging (IM), Situs Media Sosial, dan website. Media yang dicatat paling banyak terjadi cyberbullying adalah situs media sosial.
Situs media sosial dipercaya sebagai salah satu penyebab utama maraknya cyberbullying.
Selain itu juga, Tosun mengemukakan bahwa cyber bullying mainly occurred through e-mail, text messages, and phone calls.
9 Astuti, Ponny Retno. Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekerasan Pada Anak. (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.2008)
10Hidajat, M., Adam, Ronald A., Danaparamita, M., & Suhendrik. Dampak Media Sosial Dalam Cyber Bullying. Jurnal ComTech, Vol. 6 No. 1 (2015), hal. 72- 81
Although most cyber bullying victims talked with others about their experience, most cyber bullies did not talk about their harmful behavior to others. Victims often did not know the cyber bully and ignored the cyber bullying when it occurred.8
Jadi dari berbagai definisi di atas , saya menarik kesimpulan bahwa pengertian cyberbullying merupakan tindakan kejahatan (penghinaan , pelecehan , intimidasi, fitnah dan mengolok-olok) yang dapat dilakukan melalui berbagai media berupa video gambar, text, e- mail, telephone dan sejenisnya yang ditujukan baik kepada perorangan , ataupun kelompok dengan tujuan mempermalukan korban sehingga pelaku merasa puas.
B. Kategori Cyberbullying
Perilaku cyberbullying yang terjadi saat ini, sudah termasuk pada tahap yang mencemaskan. Kasus yang terjadipun juga dapat dikatakan beragam, seringkali kita mendengar baik di media elektronik atau cetak, bahwa cyberbullying kerap terjadi di sekeliling kita. Guna mengenali berbagai jenis perilaku cyberbullying,
Notar9 mengemukakan beberapa hal yang dapat dikategorikan sebagai cyberbullying yaitu terdapat 7 (tujuh) karakteristik cyber bullying, yakni flaming,harassment, denigration, impersonation, outing and trickery, exclusion, dan cyberstalking.
1. Flaming
11 Tosun, N. Cyberbully and Victim Experiences of Pre-service Teachers.
(European Journal of Contemporary Education. Vol. 15 No. 1, (2016), hal. 136-146
12 Notar, Charles E., Padgett, Sharon., and Roden, Jessica. Cyberbullying: A Review of the Literature. Dimuat dalam Universal Journal of Educational Research.
Vol.1 No. 1 (2016), hal. 1-9
29
Flaming merupakan perilaku yang berupa mengirim pesan teks dengan katakata kasar, dan frontal. Perlakuan ini biasanya dilakukan di dalam chat di media sosial seperti mengirimkan gambar-gambar yang dimaksudkan untuk menghina orang yang dituju dan menggunakan kata-kata yang penuh amarah.
2. Harassment
Harassment merupakan perilaku mengirim pesan-pesan dengan kata-kata tidak sopan, yang ditujukan kepada seseorang yang berupa gangguan yang dikirimkan melalui email, sms, maupun pesan teks, di jejaring sosial secara terus menerus. Harassment merupakan hasil dari tindakan flaming dalam jangka panjang.
Harassment dilakukan dengan saling berbalas pesan atau bias disebut perang teks.
3. Denigration
Denigration merupakan perilaku mengumbar keburukan seseorang di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama baik orang yang dituju. Seperti seseorang yang mengirimkan gambar-gambar seseorang yang sudah diubah sebelumnya menjadi lebih sensual agar korban diolo-kolok dan mendapat penilaianburuk dari orang lain.
4. Impersonation
Impersonation merupakan perilaku berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan pesan-pesan atau status yang tidak baik.
5. Outing
Outing merupakan perilaku menyebarkan rahasia orang lain, atau foto-foto pribadi milik orang lain.
6. Trickery
Trickery merupakan perilaku membujuk sesorang dengan tipu daya agar mendapatkan rahasia atau foto pribadi orang tersebut.
7. Exclusion
Exclusion merupakan perilaku dengan sengaja dan kejam mengeluarkan seseorang dari grup online.
8. Cyberstalking
Cyberstalking merupakan perilaku berulang kali mengirimkan ancaman membahayakan atau pesan-pesan yang mengintimidasi dengan menggunakan komunikasi elektronik.
Dari beberapa bentuk cyberbullying yang telah dijelaskan di atas, bahwa cyberbullying menitikberatkan kepada kekerasan secara verbal secara tidak langsung yang akan berdampak kepada kondisi emosional atau psikis dari korbannya.
Adapun aspek-aspek cyberbullying dikemukakan oleh Chadwick10 diantaranya adalah :
1. Harassment
Perilaku mengirim pesan-pesan dengan kata-kata tidak sopan, yang ditujukan kepada seseorang yang berupa gangguan yang dikirimkan melalui email, sms, maupun pesan teks, di jejaring sosial secara terus menerus.
2. Denigration
Perilaku mengumbar keburukan seseorang di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama baik orang yang dituju. Seperti seseorang yang mengirimkan gambar-gambar seseorang yang sudah
10 Chadwick, S. Impacts of Cyberbullying, Building Social and Emotional Resilence. North Ryde Australia : Springer.2014
31
diubah sebelumnya menjadi lebih sensual agar korban diolok-olok dan mendapat penilaian buruk dari orang lain.
3. Flaming
Perilaku yang berupa mengirim pesan teks dengan kata-kata kasar, dan frontal. Perlakuan ini biasanya dilakukan di dalam chat group di media sosial seperti mengirimkan gambar-gambar yang dimaksudkan untuk menghina orang yang dituju.
4. Impersionation
Perilaku berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan pesan- pesan atau status yang tidak baik.
5. Masquerading
Tindakan berpura-pura menjadi orang lain dengan menciptakan alamat email palsu, atau juga dapat menggunakan ponsel orang lain sehingga akan muncul seolah-olah ancaman yang dikirim oleh orang lain.
6. Pseudonyms
Perilaku menggunakan nama online untuk menutupi identitas mereka. Secara online orang lain hanya dikenal dengan nama samara, dan hal ini mungkin akan menjadi berbahaya dan bermaksud untuk menghina
7. Outing dan trickery
Outing merupakan perilaku menyebarkan rahasia orang lain, atau foto-foto pribadi milik orang lain, sedangkan trickery merupakan perilaku membujuk sesorang dengan tipu daya agar mendapatkan rahasia atau foto pribadi orang tersebut.
8. Cyber stalking
Perilaku berulang kali mengirimkan ancaman mebahayakan atau pesan-pesan yang mengintimidasi dengan menggunakan komunikasi elektronik.
Berdasarkan uraian yang sudah dipaparkan sebelumnya, terdapat tujuh aspek cyberbullying menurut Notar yaitu flaming, harassment, denigration, impersonation, outing and trickery, exclusion, dan cyberstalking, selain itu cyberbullying mencangkup aspek lainnya yang dikemukakan Chadwick yaitu Harassment, denigration, flaming,impersionation, masquerading,pseudonyms, outing dan trickery, dan cyber stalking.
Dari aspek-aspek perilaku cyberbullying yang telah dijabarkan, maka peneliti memilih untuk menggunakan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Notar yaitu flaming, harassment, denigration, impersonation, outing andtrickery, exclusion, dan cyberstalking. Aspek tersebut dirasa cocok sebagai acuan yang digunakan peneliti untuk mengukur perilaku cyberbullying pada seseorang didunia maya.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Cyberbullying
Faktor kejahatan cyber bullying dapat dengan mudah terjadi karena ada rasa iri, tidak punya pencapaian, iseng, dan mempermalukan tanpa ketahuan.11
1. Iri
Iri Ini jadi alasan yang cukup kuat mengapa bully terjadi, korban sering sekali jadi rasa iri dari pem-bully. Pelampiasannya ialah
13 Abdul sakban,Sahrul,Pencegahan Cyberbullying di Indonesia, (CV. Budi Utama Yogyakarta,2012), Hal. 34
33
pada sejumlah media sosial korban, bisa saja kata-kata sindiran, meremehkan, hingga penghinaan. pelaku akan mencari celah menjatuhkan korban, apalagi tidak berani di dunia nyata bisa lampiaskan di dunia maya. Cukup mencari nama korban, dan langsung serang dengan sporadis akun korban.
2. Tidak Punya Pencapaian
Di dunia maya alasan orang melakukan bully secara sepihak akibat rasa iri hati. Iri yang paling besar ialah karena tidak punya karya atau prestasi serupa. Caranya dengan menjelekkan hasil orang lain secara sepihak. Tujuannya beragam dan yang pasti korban tertekan saat membacanya. Misalnya saja korban punya prestasi mentereng, bisa saja pelaku mem-bully setiap posting- annya atau bahkan mengancam melalui instan messaging korban.
Alhasil korban sedikit tertekan melanjutkan pencapaian atau karya yang dimiliki.
3. Iseng
Pem-bully kadang ingin menguji diri Anda dengan iseng mengganggu dan menunggu respons yang Anda berikan. Bila Anda menanggapi dengan serius, maka pelakunya makin merajalela. Sudah cukup membuat harimu buruk sepanjang hari.
Sebaiknya tak perlu menggubris sesuatu yang terlihat tidak penting karena itu menguras pikiran dan perasaan.
4. Mempermalukan Tanpa Ketahuan
Media sosial punya kemampuan ajaib salah satunya mem-bully orang lain tanpa ketahuan siapa pelakunya. Bisa dengan menggunakan akun media sosial palsu atau dengan menggunakan
akun anonim. Jelas itu sangat mengganggu terutama hasil posting- an Anda yang dipenuhi komentar miring dan menjatuhkan.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebutkan, serangan yang berdampak pada 10 juta lebih identitas terus meningkat. Tahun 2014, serangan berdampak pada 11 juta identitas, 2015 naik menjadi 13 juta identitas, dan 2016 naik lagi menjadi 15 juta identitas. Kominfo bahkan menyatakan, Indonesia merupakan salah satu dari 10 besar negara-negara di dunia yang masuk dalam target perang cyber.
Adapun media yang biasa digunakan dalam cyberbullying adalah sebagai berikut:12
a. Instan Message (IM)
Instant Message (IM) ini meliputi email dan akun tertentu di internet yang memungkinkan penggunanya mengirimkan pesan atau teks ke pengirim lainnya yang memiliki ID di website tersebut.
b. Chatroom
Masih berhubungan dengan Instant Message (IM) sebelumnya, chatroom merupakan salah satu fasilitas website tertentu di mana pengguna yang memiliki ID di sana dapat bergabung dalam satu kelompok chatting. Di sini pelaku cyber bullying dapat mengirimkan kata-kata gertakan di mana orang lain dalam grup chatting tersebut dapat membaca dengan mudah, dan korban merasa tersudutkan.
14 Darly Albert Reppy, “Cyber-Bullying sebagai Suatu Kejahatan Teknologi ditinjau dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik”. Journal Lex Privatium, Vol. 4, No. 7, (Agustus, 2016), hal. 64
35
c. Trash Polling Site
Mungkin ini masih jarang di Indonesia, ada beberapa pelaku cyberbullying yang membuat poling tertentu dengan tema yang diniatkan untuk merusak reputasi seseorang.
d. Blog
Blog merupakan website pribadi yang bisa dijadikan seperti buku harian atau diary. Di sini pelaku bullying bebas mem-posting apa saja termasuk konten yang mengintimidasi seseorang.
e. Bluootooth Bullying
Praktiknya dengan mengirimkan gambar atau pesan yang mengganggu kepada seseorang melalui koneksi bluetooth yang sedang aktif.
f. Situs Jejaring Sosial
Ini yang paling marak di Indonesia, situs jejaring sosial yang berisi banyak fitur banyak disalahgunakan pelaku bullying dengan mem-posting status, komentar, posting dinding, testimony, foto, dan lain-lain yang mengganggu, mengintimidasi, menyinggung, dan merusak citra seseorang.
g. Game Online
Cyber bullying juga banyak ditemukan pada game online. Cyber bullying dapat terjadi pada software game di PC dengan koneksi internet seperti Nintendo, Xbo 360, and Playstation 3. cyber bullying ini dilakukan pada pemain yang kalah yang biasanya pemain baru dan muda.
h. Mobile Phone
Fitur yang digunakan dalam mengintimidasi adalah mengirimkan pesan teks atau sms, gambar, ataupun video yang mengganggu korban. Media komputer beserta aplikasi di dalamnya dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan tujuan dan kepentingan dari pihak pemberi pesannya. Cyberbullying berupa hinaan, ejekan, pelecehan, dan ancaman dilakukan melalui pesan teks. Teks seolah-olah menjadi sebuah bahasa lisan yang disampaikan dalam komunikasi tatap muka dan dapat dimaknai secara beragam.
D. Dampak cyberbullying
Tindakan cyberbullying mempunyai dampak bagi kehidupan korban. Dampak tersebut dapat bertahan lama dan memengaruhi seseorang dalam banyak cara:
1. Dampak Psikologis
Penelitian yang dilakukan oleh Fahy, Stansfeld, Smuk, Smith, Cummins, dan Clark13 menyatakan bahwa ada hubungan antara cyberbullying dengan kesehatan mental. Dengan tingginya prevalensi cyberbullying, hal ini berpotensi lebih besar untuk membuat korban mengalami gejala depresi, gejala kecemasan, dan kesejahteraan remaja di bawah rata-rata hal ini juga didukung oleh meningkatnya penggunaan perangkat seluler dan internet pada remaja.
15Fahy, A. E., Stansfeld, S. A., Smuk, M., Smith, N. R., cummins, S., &
Clark, C.Longitudinal associations between cyberbullying involvement and adolescent mentalhealth. Journal of Adolescent Health. (2006), hal. 502-509