Jurnal raad Kertha Vol.5, No. 2 Periode Agustus 2022-Pebruari 2023
1
ANCAMAN SANKSI BAGI KENDARAAN PRIBADI PLAT HITAM YANG MENGGUNAKAN LAMPU ISYARAT DAN SIRINE
Agustina Ni Made Ayu Darma Pratiwi, Ni Komang Sutrisni
Fakultas Hukum universitas Mahasaraswati Denpasar l. Kamboja No.11A, Dangin Puri Kangin, Kec. Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali,
Gmail: [email protected]
Abstrak, Lalu Lintas dan Angkutan Jalan merupakan hal yang sangat dekat dengan kehidupan dan mobilitas masyarakat, dimana setiap waktu masyarakat terus berhubungan dengan Angkutan Jalan untuk berbagai macam kepentingan. Pada saat ini kendaraan yang digunakan masyarakat mengalami pergeseran fungsi, yang dahulu hanya sebagai alat transportasi kini juga berfungsi sebagai penunjang penampilan pemiliknya. Fungsi lampu isyarat dan sirine yang sebenarnya adalah sebagai keperluan ketertiban, keamanan, dan kelancaran berlalu lintas. Namun dalam kenyataannya penggunaan lampu isyarat dan sirine banyak digunakan oleh kendaraan plat hitam, terutama dikalangan komunitas mobil. Lampu isyarat dan sirine yang dipasang pada kendaran plat hitam justru disalahgunakan,karena yang dapat menggunkan lampu isyrat dan sirine hanya kendaraan- kendaraan tertentu saja seperti Pemadam kebaran, ambulance dll. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif, yaitu dengan melihat hukum sebagai kaidah (norma). Untuk rumusan masalah dari peneltian ini adalah Bagaimanakah Bagaimanakah Penegakan Ancaman Sanksi Bagi Kendaraan Pribadi Plat Hitam Yang Menggunakan Lampu Isyarat Dan Sirine.
Kata Kunci : Ancaman Sanksi, Kendaraan Pribadi, Lampu Isyarat dan Sirine
Abtract, Road Traffic and Transportation is a matter that is very close to the life and mobility of the community, where every time people continue to be in touch with Road Transport for various purposes. At this time, the vehicles used by the community experienced a shift in function, which used to be only as a means of transportation, but now also functions as a support for the appearance of the owner. The actual function of signal lights and sirens is for the purposes of order, security, and smooth traffic. But in reality the use of signal lights and sirens is widely used by black plate vehicles, especially among the car community. Signal lights and sirens that are installed on black plate vehicles are actually misused, because only certain vehicles can use signal lights and sirens such as fire extinguishers, ambulances, etc. This research uses a normative research method, namely by looking at the law as a rule (norm). For the formulation of the problem from this research, how is the enforcement of the threat of sanctions for private black plate vehicles that use signal lights and sirens.
Keywords: Threat of Sanctions, Private Vehicles, Signal Lights and Sirens
Pendahuluan
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mempunyai peran yang sangat strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional yang merupakan bagian dari upaya memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Lalu Lintas dan Angkutan jalan merupakan bagian dari sistem transportasi nasional yang harus dikembangkan potensi dan perannya agar terwujudnya keamanan, kesejahteraan, ketertiban berlalu lintas dan Angkutan Jalan, dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan
Jurnal raad Kertha Vol.5, No. 2 Periode Agustus 2022-Pebruari 2023
2 teknologi, otonomi daerah, serta akuntabilitas penyelenggaraan negara.
Peran penting Lalu lintas dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah mengatur berbagai penyelenggaraan, penggunaaan, dan perlengkapan jalan, kendaraan, pengemudi, perlengkapan kendaraan bermotor dan lain-lain. Di Indonesia pengaturan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan telah diatur di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 (UU LLAJ). UU LLAJ merupakan suatu bentuk aturan yang mengatur tentang para pengendara yang berkendara di jalan raya dan menjadi dasar serta pedoman penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas. Ketentuan mengenai pidana terhadap para pengemudi yang melanggar ketertiban lalu lintas telah diatur secara jelas juga di dalam undang undang tersebut, sehingga dengan dibentuk dan diberlakukannya UU LLAJ diharapkan masyarakat untuk lebih patuh serta taat kepada keseluruhan dari aturan hukum mengenai berkendara dan berlalu lintasdan diharapkan dapat terciptanya keamanan, keselamatan dan kelancaran lalu lintas.1
Lalu lintas dan angkutan jalan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menunjang mobilitas sosial masyarakat. Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) merupakan hal yang sangat dekat dengan kehidupan dan mobilitas masyarakat, dimana setiap waktu masyarakat terus berhubungan dengan Angkutan Jalan untuk berbagai macam kepentingan. Dari peran penting yang dijelaskan di atas, salah satu yang
1 Triyogo Prasetyo, Penegakan Hukum Pidana Terhadap Team Escort Ambulance Jogja (Teaj) Yang Melakukan Tindak Pidana Lalu Lintas, Universitas Islam Indonesia, 2019.Hal. 3
akan penulis bahas adalah mengenai ketertiban dijalan raya, karena akhir- akhir ini banyak pihak yang menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadinya bukan mengutamakan kepentingan umum.
Penggunaan lampu isyarat dan sirine pada kendaraan pribadi kerap kita lihat di jalanan.
Pada saat ini kendaraan yang digunakan masyarakat mengalami pergeseran fungsi, yang dahulu hanya sebagai alat transportasi kini juga berfungsi sebagai penunjang penampilan pemiliknya. Tampilan asli dari kendaraan bermotor terkadang kurang memuaskan bagi pemiliknya, sehingga mereka merasa perlu untuk melakukan memodifikasi terhadap kendaraannya agar tampilannya semaksimal dan sebaik mungkin. Proses modifikasi dari yang ringan sampai yang benar-benar merombak hampir seluruh tampilan kendaraan bukan lagi suatu pemandangan yang aneh. Alasan sebenarnya adalah hanya untuk lebih gaya atau terlihat keren. Perpaduan berbagai aksesoris dari bodi, plat nomor, cat, dan sebagainya, bisa membuat kendaraan benar-benar menarik, lebih bagus atau manis, tergantung selera pemilik.2
Dalam Pasal 59 ayat (1) UU LLAJ disebutkan bahwa “untuk kepentingan tertentu, kendaraan bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirine”.
Kepentingan tertentu yang dimaksud dalam pasal 59 ayat (1) adalah kendaraan yang karena sifat dan fungsinya diberi lampu isyarat berwarna merah atau biru sebagai tanda memiliki hak utama untuk kelancaran dan lampu isyarat kuning sebagai tanda yang
2 Https://Www.Jawapos.Com/Jpg- Today/19/04/2018/Pengalaman-Para-Pahlawan- Pengawalambulance Diakses Pada Tanggal 4 Maret 2022 Pukul 22.00
Jurnal raad Kertha Vol.5, No. 2 Periode Agustus 2022-Pebruari 2023
3 memerlukan perhatian khusus dari pengguna jalan untuk keselamatan.
Banyak kendaraan yang menggunakan lampu isyarat dan sirine dengan menyalahartikan maksud pasal tersebut.
Fungsi lampu isyarat dan sirine sebagai keperluan ketertiban, keamanan, dan kelancaran berlalu lintas, baik untuk kendaraan yang menggunakan atau kendaraan yang berada didalam iring- iringannya serta pengguna jalan lainnya.
Lampu isyarat dan sirine digunakan agar pengguna jalan berhati-hati serta memberi jarak dan ruang serta memberikan prioritas jalan kepada kendaraan yang menggunakan sirine dan lampu isyarat. Pemasangan lampu isyarat dan sirine pada kendaraan bermotor telah diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu UU LLAJ dan diatur dalam Peraturan Pemerintah. Namun dalam kenyataannya penggunaan lampu isyarat dan sirine banyak digunakan oleh kendaraan pribadi, terutama dikalangan komunitas mobil. Ketika terjadi kemacetan pada jam pulang kerja karena meningkatnya volume kendaraan, terdapat mobil pribadi yang menggunakan sirine dan menyalakan lampu isyarat dengan cukup keras yang menyebabkan kendaraan lain merasa terganggu. Petugas kepolisian akan melakukan penilangan terhadap mobil pribadi yang menggunakan lampu isyarat dan sirine tersebut.
Penggunaan lampu isyarat dan sirine pada kendaraan pribadi akan sangat merugikan serta mengganggu pengguna jalan yang lain. Lampu isyarat dan sirine yang dipasang pada kendaran plat hitam justru disalahgunakan, contohnya saja kendaraan pribadi menyalakan lampu isyarat dan sirine pada saat kemacetan dijalan raya yang menyebabkan lalu lintas jalan menjadi tidak nyaman dan para pengguna jalan lain merasa terganggu. Penggunaan lampu isyarat dan sirine pada mobil pribadi secara tidak langsung dapat
menyebabkan kecelakaan lalu lintas, sebagai akibat penggunan lampu isyarat dan sirine yang bukan pada peruntukannya. Seharusnya mereka yang kendaraannya dipasangi perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas seperti lampu isyarat dan sirine tanpa hak dapat dikenakan sanksi.
Rumusan masalah
Oleh sebab itu penulis dengan latar belakang diatas ingin meneliti Bagaimanakah Penegakan Ancaman Sanksi Bagi Kendaraan Pribadi Plat Hitam Yang Menggunakan Lampu Isyarat Dan Sirine?
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif, yaitu dengan melihat hukum sebagai kaidah (norma).
Untuk menghimpun data digunakan metode penelitian kepustakaan, yaitu dengan mempelajari kepustakaan hukum yang berkaitan dengan pokok permasalahan, himpunan peraturan perundang-undangan, artikel-artikel hukum dan berbagai sumber tertulis lainnya.
Pembahasan
a. Pengaturan Penggunaan Lampu Isyarat dan Sirine dalam UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Di dalam UU LLAJ, Lampu strobo dikenal dengan istilah lampu isyarat sedangkan sirine adalah alat untuk menghasilkan bunyi yang mendengung keras (sebagai tanda bahaya dan sebagainya), keduanya merupakan salah satu jenis lampu yang digunakan sebagai aksesoris pada kendaraan. Ciri khas dari lampu ini adalah lampu berwarna yang berputar dan mengeluarkan suara. Lampu ini yang sifatnya hanya pelengkap saja atau hanya sebagai aksesoris dan adakalanya
Jurnal raad Kertha Vol.5, No. 2 Periode Agustus 2022-Pebruari 2023
4 pemilik kendaraan memodifikasi dengan menggunakan lampu isyarat dan sirine agar terhindar dari kemacetan bahkan terkadang hanya untuk gaya-gayaan saja. Biasanya, lampu strobo hanya dipakai untuk mobil atau kendaraan yang bersifat darurat, seperti mobil pemadam kebakaran, ambulans, Palang Merah Indonesia (PMI), mobil petugas kepolisian negara, mobil patroli jalan tol, dan lain-lain. Fungsi dari lampu isyarat dan sirine adalah untuk keamanan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas, baik bagi kendaraan yang menggunakan atau kendaraan yang berada didalam iring-iringannya dan pengguna jalan lainnya. Lampu isyarat dan sirine digunakan agar pengguna jalan dapat berhati-hati serta memberi ruang dan jarak serta prioritas jalan kepada kendaraan yang menggunakan lampu isyarat dan sirine..
Perkembangan lalu lintas semakin padat yang diakibatkan meningkatnya rutinitas masyarakat sipil dalam melaksanakan aktivitas menggunakan kendaraan pribadi. Dalam praktek banyak ditemukan masyarakat sipil dalam melaksanakan aktivitas pribadi melengkapi kendaraan pribadi dengan lampu isyarat (rotator), strobe, hingga sirine. Tindakan tersebut tidak saja bertentangan dengan aturan penggunaan aksesoris berupa lampu isyarat hingga sirine tetapi juga cenderung menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat yang menganggu kepentingan umum. Dalam konteks aturan hukum penggunaan aksesoris berupa lampu isyarat dan sirine diatur dalam 134 UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angakutan Jalan yang menyebutkan :
“pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut:
1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;
2. Ambulans yang mengangkut orang sakit;
3. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas;
4. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;
5. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga Internasional yang menjadi tamu negara;
6. Iring-iringan pengantar jenazah;dan 7. Konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Sedangkan dalam pasal 135 UU No.22 Tahhun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan menyebutkan:
1. Kendaraan yang mendapat hak utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 harus dikawal oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau menggunakan isyarat lampu merah atau biru dan bunyi sirine.
2. Petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia melakukan pengamanan jika mengetahui adanya Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud apda ayat (1)
3. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas dan Rambu Lalu Lintas tidak berlaku bagi Kendaraan yang mendapatkan hak utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134.
Selain Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi, Pasal 65 menentukan Dilarang memasang lampu pada kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan yang menyinarkan :
a. Cahaya kelap-kelip, selain lampu penunjuk arah dan
Jurnal raad Kertha Vol.5, No. 2 Periode Agustus 2022-Pebruari 2023
5 lampu isyarat peringatan bahaya.
b. Cahaya berwarna merah ke arah depan.
c. Bahaya berwarna putih ke arah belakang kecuali lampu mundur.
Berdasarkan ketentuan diatas telah secara tegas dinyatakan bahwa penggunaan lampu isyarat dan sirine hanya diperbolehkan terhadap pengguna jalan dengan hak utama tersebut.
Berdasarkan atas uraian pasal tersebut pengguna jalan yang melaksanakan aktivitas atau rutinitas secara pribadi tidak termasuk ke dalam golongan pengguna jalan dengan hak utama.
Selain itu masyarakat harus memahami pula peruntukan dari penggunaan lampu isyarat seperti yang diatur dalam Pasal 59 ayat 5 UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan :
1. Lampu rotator warna biru dan sirine digunakan untuk mobil petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
2. Lampu rotator warna merah dan sirene di gunakan untuk mobil tahanan, pengawalan TNI, Pemadam Kebakaran, Ambulan, Palang Merah, dan Jenazah.
3. Lampu rotator warna kuning tanpa sirene digunakan untuk mobil patroli jalan tol, pengawasan sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas
umum, menderek
kendaraan dan angkutan barang khusus.
Pentingnya pemahaman masyarakat terhadap aturan penggunaan lampu isyarat dan sirene serta termasuk pula dalam peruntukannya, merupakan hal yang harus diketahui secara umum sehingga dalam kedudukannya sebagai
pengguna jalan yang bukan merupakan dengan hak utama, masyarakat tidak melakukan pelanggaran terhadap ketentuan tentang penggunaan lampu isyarat dan sirine. Dalam realitasnya masih banyak terdapat masyarakat dalam menggunakan kendaraan pribadi melengkapi dengan aksesoris berupa lampu isyarat sampai pada sirine telah memenuhi unsur pelanggaran hukum terhadap isi ketentuan dalam UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
b. Ancaman Sanksi Pidana Bagi Kendaraan Pribadi Plat Hitam Yang Menggunakan Lampu Isyarat Dan Sirine
Pengaturan mengenai Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Indonesia tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Dalam UU LLAJ mengatur mengenai pengendara kendaraan baik mobil maupun motor dijalan raya serta menjadi dasar pedoman bagi pelanggaran lalu lintas.
Ketentuan mengenai pidana terhadap para pengemudi yang melanggar ketertiban lalu lintas telah diatur secara jelas di dalam undang undang ini.
sehingga diharapkan dengan diberlakukannya UU LLAJ ini masyarakat untuk lebih patuh serta taat kepada aturan hukum mengenai berkendara dan berlalu lintas di jalan raya dan diharapkan dapat terciptanya keamanan, keselamatan dan kelancaran lalu lintas.
Dalam Pasal 287 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan menjelaskan : Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi Kendaraan Bermotor yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Pasal 106 ayat (4) huruf
Jurnal raad Kertha Vol.5, No. 2 Periode Agustus 2022-Pebruari 2023
6 f, atau Pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000. Dalam undang-undang ini jelas pelanggaran terhadap pemakaian lampu isyarat dan sirine pada kendaraan pribadi bisa dikenai sanksi pidana.
Penggunaan lampu isyarat dan sirine yang banyak digunakan oleh kendaraan pribadi telah menyimpang dari maksud dan kepentingan yang diatur dalam Pasal 59 ayat (1) UU LLAJ. Para pengemudi tersebut menggunakan lampu isyarat dan sirine dengan tujuan agar memiliki hak utama yaitu kendaraan yang dikemudikannya mendapat prioritas dan didahulukan oleh pengguna jalan lain. Untuk mendapatkan hak utama itu hanya diberikan pada kendaraan yang mempunyai kepentingan tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 59 ayat (1) UU LLAJ. Akibat yang dapat ditimbulkan dari penggunaan lampu isyarat dan sirine adalah para pengemudi tersebut dapat menyebabkan lalu lintas jalan menjadi tidak nyaman dan para pengguna jalan lain merasa terganggu. Oleh karena itu, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas akibat dari para pengemudi yang menggunakan lampu isyarat dan sirine dengan sewenang- wenang sehimgga perlu adanya kesadaran bagi para pengendara untuk memahami dan mengerti tentang fungsi dari lampu isyarat dan sirine tersebut.
Sedangkan dalam pengaturan lain terkait ancaman sanksi pidana terhadap pengguna kendaraan pribadi yang menggunakan aksesoris berupa lampu sirene diatur dalam Dalam Pasal 279 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan menjelaskan : “ Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dijalan yang dipasangi perlengkapan yang dapat mengganggu Keselamatan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam pasal 287 ayat (4) dipidana dengan pidana kurungan paling lama
satu bulan atau denda paling banyak 250.000”. Dalam undang-undang ini jelas pelanggaran terhadap pemakaian lampu isyarat dan sirine pada kendaraan pribadi bisa dikenai sanksi pidana.
Penyalahgunaan lampu isyarat dan sirine oleh kendaraan pribadi berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 harus diberikan sanksi karena termasuk pelanggaran, mengingat bahwa tujuan hukum adalah untuk menciptakan suatu masyarakat yang aman dan tentram, yang mana setiap warganya berhak untuk mendapat perlindungan hukum, maka dalam pelaksanaan peraturan perundang- undangan harus dapat dilaksanakan secara adil. Jadi bilamana ada orang melanggar hukum, maka terhadap orang yang bersangkutan harus dijatuhkan hukuman sesuai dengan peraturan perundang-undanga yang berlaku.
Sedangkan berat ringannya hukuman yang dijatuhkan harus setimpal pula dengan kesalahan yang telah diperbuatnya.3
Pelanggaran lalu lintas mengenai penggunaan lampu isyarat dan sirine ini adalah termasuk Tipiring (Tindak Pidana Ringan) karena hukum yang diberikan yaitu kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp.
250.000. Pelanggaran ini diproses sesuai dengan ketentuan KUHP dari penyelidikan, penyidikan, pelimpahan ke pengadilan dan sampai putusan hakim yang merupakan pemberian putusan sanksi kepada si pelanggar lalu lintas. Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 106 ayat (4) huruf b diatur :
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan wajib mematuhi ketentuan :
3 Dimas K, Penyalahgunaan Penggunaan Lampu Rotator Di Kendaraan Umum Menurut Peraturan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, Lex Et Societatis Vol. VI/No. 2/April/2018
Jurnal raad Kertha Vol.5, No. 2 Periode Agustus 2022-Pebruari 2023
7 a.Rambu perintah atau rambu larangan;
b. Marka Jalan;
c.Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas;
d. Gerakan Lalu Lintas;
e.Berhenti dan Parkir;
Dari rumusan pasal-pasal tersebut berkaitan dengan ancaman sanksi terhadap seseorang yang melengkapi kendaraanya dengan menggunakan lampu sirine yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai pemegang hak utama terlihat ancaman sanksi yang diatur bersifat alternatif yakni apabila pelaku tidak menjalankan pidana kurungan maka dapat diganti dengan pidana denda. Dalam prakteknya pelanggaran terhadap aturan tersebut cenderung terjadi sehingga diperlukan suatu bentuk ancaman sanksi yang dapat memberikan efek jera bagi seseorang yang melangar ketentuan tersebut. Dalam buku Barda Nawawi, beliau mengatakan, seandainya hukum pidana digunakan, sehingga sanksi pidana diterapkan, maka tujuan pemidanaan utama yang harus dipertimbangkan bukannya rehabilitasi dan resosialisasi terpidana, melainkan justru efek moral dan pencegahan dari sanksi pidana. Dalam hal ini pelaku tindak pidana telah mengkhianati kepercayaan masysarakat yang paling besar, sehingga pidana harus mencerminkan beratnya kejahatan yang dicela masyarakat.4
Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Penggunaan lampu isyarat dan sirine yang banyak digunakan oleh kendaraan pribadi plat hitam telah menyimpang dari maksud dan kepentingan yang diatur dalam Pasal 59 ayat (1) UU LLAJ. Para pengemudi tersebut menggunakan lampu isyarat dan
4 Muladi dan Barda Nawawi, Bunga Rampai Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1992, hlm. 5.
sirine dengan tujuan agar memiliki hak utama yaitu kendaraan yang dikemudikannya mendapat prioritas dan didahulukan oleh pengguna jalan lain.
Padahal itu merupakan sebuah pelanggaran, yang mana pelanggran tersebut diatur dalam Pasal 287 ayat (4) yaitu kurungan penjara paling lama 1 bulan dan denda paling banyak Rp.
250.000.
Daftar Pustaka
Prasetyo Triyogo, Penegakan Hukum Pidana Terhadap Team Escort Ambulance Jogja (Teaj) Yang Melakukan Tindak Pidana Lalu Lintas, Universitas Islam Indonesia, 2019.Hal. 3
Muladi dkk, Bunga Rampai Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1992, hlm. 5.
Dimas K, Penyalahgunaan Penggunaan Lampu Rotator Di Kendaraan Umum Menurut Peraturan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, Lex Et Societatis Vol. VI/No. 2/April/2018
Https://Www.Jawapos.Com/Jpg- Today/19/04/2018/Pengalaman-Para- Pahlawan-Pengawalambulance Diakses Pada Tanggal 4 Maret 2022 Pukul 22.00