• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRES LAPORAN PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRES LAPORAN PENELITIAN"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRES LAPORAN PENELITIAN

Pengembangan Sistem Informasi Penjaminan Mutu Berbasis Resiko Mengacu pada Instrumen

Akreditasi Program Studi 4.0

IDENTITAS PENGUSUL

1. Dr. A. Saepul Hamdani, M.Pd.

2. Ali Mustofa, M.Pd.

3. Dwi Rolliawati, MT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR ... 3

DAFTAR TABEL ... 3

BAB I PENDAHULUAN ... 4

A. LATAR BELAKANG ... 4

B. PERUMUSAN MASALAH ... 6

C. TUJUAN ... 6

D. KONTRIBUSI ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. KAJIAN PENELITIAN TERDAHULU ... 8

B. KONSEP DAN TEORI YANG RELEVAN ... 10

B.1 Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) ... 10

B.2 Instrumen Akreditasi Program Studi 4.0 ... 13

B.3 Agile Methodology ... 13

B.4 Manajemen Resiko UINSA ... 15

BAB III METODE PENELITIAN ... 20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21

BAB V PENUTUP ... 22

DAFTAR PUSTAKA ... 23

(3)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Diagram Keterkaitan Penelitian Terdahulu ... 10 Gambar 2 Agile Methodology (Logica, 2017) ... 15 Gambar 3 Metodologi Penelitian ... 20

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kajian Penelitian Terdahulu ... 8 Tabel 2 Tipe dan Karakteristik Metode Agile ... 13

(4)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Perguruan Tinggi (PT) sebagai penyelenggara pendidikan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya (President of Republic of Indonesia, 2003). Otonomi pengelolaan perguruan tinggi dilaksanakan sesuai dengan dasar dan tujuan serta kemampuan Perguruan Tinggi. Dasar dan tujuan serta kemampuan perguruan tinggi melaksanakan otonomi dievaluasi secara mandiri (President of Republic of Indonesia, 2012). Prinsip otonomi ini mengharuskan perguruan tinggi menetapkan,

melaksanakan, mengevaluasi, mengendalikan, dan meningkatkan sistem penjaminan mutu internal (SPMI) secara mandiri. SPMI adalah kegiatan sistemik penjaminan mutu pendidikan tinggi oleh setiap perguruan tinggi secara otonom untuk mengendalikan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan (quality continuous improvement). Luaran SPMI akan diuji melalui sistem penjaminan mutu eksternal (SPME) berupa akreditasi (Ristekdikti, 2016). Status akreditasi merupakan pengakuan pihak eksternal terhadap mutu penyelenggaraan proses akademik sebuah perguruan tinggi.

Salah satu siklus kegiatan SPMI adalah evaluasi pelaksanaan standar.

Evaluasi pelaksanaan standar SPMI dilakukan melalui kegiatan audit mutu internal dan pengukuran kepuasan layanan. Audit mutu internal bertujuan untuk memastikan apakah proses akademik di UIN Sunan Ampel Surabaya telah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran kepuasan layanan akademik maupun layanan non akademik bertujuan untuk memastikan apakah pengguna layanan telah mendapatkan

(5)

layanan yang memuaskan. Kepuasan stakeholders merupakan salah satu indikator keberhasilan mutu perguruan tinggi (Fitrah, Ruslan and Hendra, 2018). Data hasil audit dan data hasil pengukuran terhadap kepuasan layanan dijadikan dasar pertimbangan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan standar.

Data dan informasi pelaksanaan serta luaran SPMI dan SPME dilaporkan dan disimpan oleh perguruan tinggi dalam satu subsistem yang disebut Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti) (Ristekdikti, 2016). Penyimpanan, pengolahan dan pelaporan hasil evaluasi merupakan kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Agar kegiatan ini dapat dilakukan secara efektif dan efisien dibutuhkan perangkat pendukung berupa sistem informasi berbasis teknologi informasi.

Keberadaan sistem informasi penjaminan mutu yang terintegrasi dengan pangkalan data perguruan tinggi di tingkat nasional merupakan kebutuhan mendesak yang harus segera diwujudkan.

Pengembangan sistem informasi penjaminan mutu pendidikan tinggi telah banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi di Indonesia termasuk yang dilakukan (Rolliawati, Yusuf and Hamdani, 2018) di UIN Sunan Ampel Surabaya. Pada tahun 2018 UIN Sunan Ampel Surabaya telah mengembangkan prototipe sistem informasi penjaminan mutu internal, namun sistem informasi yang dikembangkan belum mengacu pada instrumen akreditasi 4.0 (IAPS 4.0) serta belum mewadahi seluruh tahapan kegiatan pada siklus SPMI, yakni penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan (PPEPP). Demikian juga penelitian yang dilakukan (Wibowo and Azimah, 2016) dan (Darmawan, Muhammad and Hasibuan, 2014) belum mengacu pada IAPS 4.0. Sehingga penelitian pengembangan sistem informasi penjaminan mutu mengacu pada IAPS 4.0 merupakan hal yang baru (novelties) dan

(6)

mendesak untuk dilakukan (urgently). Prototype pengembangan yang dihasilkan dapat digunakan oleh perguruan tinggi keagamaan (PTK) di Indonesia dengan terlebih dahulu dilakukan adaptasi secukupnya.

1.2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasar latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana rancangbangun sistem informasi penjaminan mutu internal berbasis resiko mengacu pada IAPS 4.0 menggunakan Agile Methodology?

2. Bagaimana feedback pengguna sistem informasi penjaminan mutu internal berbasis resiko mengacu pada IAPS 4.0

1.3. TUJUAN

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Menemukan model singkronisasi standar SPMI mengacu pada standar nasional pendidikan tinggi (SN Dikti) dan IAPS 4.0 secara efektif dan efisien.

2. Menghasilkan sistem informasi penjaminan mutu internal yang mengacu pada IAPS 4.0 berdasarkan kaidah Agile Methodology Life Cycle.

1.4. KONTRIBUSI

Hasil penelitian ini akan menghasilkan sebuah produk sitem informasi penjaminan mutu internal yang akan menjadi sarana penyimpanan, pengolahan, dan penyajian data setiap tahapan kegiatan pada siklus SPMI yang terdiri atas, penetapan, pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan, pengendalian pelaksanaan dan peningkatan standar mengacu kriteria IAPS 4.0 selanjutnya disebut SIPMI 4.0. Prototype SIPMI 4.0 didesain untuk SPMI UIN Sunan Ampel Surabaya dan dapat diaplikasikan pada

(7)

semua perguruan tinggi keagamaan di Indonesia dengan terlebih dahulu dilakukan adapatasi dan penyesuaian seperlunya.

(8)

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.1. KAJIAN PENELITIAN TERDAHULU

Sejak diwajibkannya penerapan SPMI bagi perguruan tinggi, telah banyak peneliti yang mengembangkan sistem informasi penjaminan mutu pendidikan tinggi.

Salah satunya, penelitian yang dilakukan (Rolliawati, Yusuf and Hamdani, 2018).

Sistem informasi yang dikembangkan Rolliawati dkk. belum memuat seluruh tahapan kegiatan pada siklus SPMI, yakni penetapan, pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan, pengendalian pelaksanaan dan peningkatan standar mengacu kriteria IAPS 4.0. Penelitian ini baru mewadahi satu tahapan kegiatan pada siklus SPMI, yakni evaluasi pelaksanaan standar serta belum menggunakan standar yang mengacu pada 9 (sembilan) kriteria pada IAPS 4.0.

Berikut akan disajikan beberapa hasil penelitian pengembangan sistem informasi penjaminan mutu pendidikan tinggi dalam 2 (dua) tahun terakhir beserta kesenjangan antara realitas dan idealitas (gap) disajikan dalam Tabel 1 berikut.

Tabel 1: Kajian Penelitian Terdahulu

No Hasil Penelitian Gap

1.

2.

Penelitian ini menghasilkan framework SPMI UIN Malang dengan melakukan mappring konsep PDCA (Mulyono et al., 2021) melalui metode kualitatif.

Desain prototipe Sistem Informasi Penjaminan Mutu Internal (SIPMI) yang memiliki tingkat usability sebesar 76,98% dan tingkat kelayakan produk sebesar 85% yang artinya perangkat lunak yang dibangun berdaya guna cukup tinggi (Rolliawati, Yusuf and Hamdani, 2018).

Framework masih belum

mempertimbangakan manajemen resiko dan IAPS 4.0 dalam sistem pengembangan SPMI nya

Pengembangan sistem SPMI masih belum mencakup kaidah PPEPP secara keseluruhan dan belum mengacu pada IAPS 4.0. Belum dilakukan pengujian efektivitas SIPMI dalam menjalankan mekanisme SPM di perguruan tinggi (UIN Sunan Ampel).

(9)

No Hasil Penelitian Gap 3. Sistem informasi manajemen evaluasi

kegiatan mengajar dosen dalam perkuliahan dan praktikum yang dibangun untuk Politeknik Negeri Madiun. Menggunakan framework PHP Laravel dengan metode pengembangan perangkat lunak Rapid Application Development (Atmaja and Azis, 2019).

Pengembangan sistem manajemen evaluasi hanyalah salah satu dari pendukung implementasi SPMI dalam proses pembelajaran dan belum mencerminkan SPMI secara utuh.

4. Kerangka kerja Sistem Informasi Memori Organisasi pada Sistem Penjaminan Mutu Internal (SIMO- SPMI).SIMO-SPMI menggambarkan interaksi antara komponen memori program studi, memori penelitian- pengabdian, dan memori penjaminan mutu serta komponen sistem informasi yang mendukung upaya untuk pelaksanaan penjaminan mutu internal program studi khusus bidang akademik (Manongga et al., 2019).

Hasil riset yang dibangun masih berupa kerangka kerja dan belum pada tahap implementasi sistem informasi.

5. Perencanaan sistem informasi audit mutu internal mengacu pada zahman framework dalam pemodelan sistem informasi. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini berupa blueprint rancangan sistem informasi audit mutu internal (Sugiarta, Suasnawa and Saptarini, 2019)

Hasil riset masih berupa blueprint belum sampai pada tahap implementasi sistem selain itu, perencanaan system audit mutu internal yang dilakukan masih merupakan salah satu dari tahapan PPEPP yaitu Evaluasi.

6. Penelitian menghasilkan data informasi antara lain:

a. Analisis pembuatan Data Warehouse untuk mendukung SPMI di STMIK MPB;

b. Kriteria-kriteria Akreditasi Perguruan Tinggi digunakan sebagai item-item pengumpulan data Data Warehouse;

c. STMIK MPB membutuhkan sistem informasi dalam bentuk aplikasi Data Warehouse SPMI;

d. Data kebutuhan untuk perancangan

(Pahlevi, Sunardi and Abdul Fadlil, 2018)

Hasil riset masih berupa perancangan analisis kebutuhan belum sampai pada tahap pembangunan sistem informasi. Dan sama sekali belum menyinggung dukungan terhadap IAPS 4.0

7. Penelitian menghasilkan komparasi, mapping dan harmonisasi model antara elemen penilaian (EP) pada

Pemetaan standar akreditasi masih menggunakan instrument akreditasi 3.0

(10)

No Hasil Penelitian Gap Standar Akrediasi dengan bagian-

bagian klausa ISO sebesar 90,91 % dan tingkat efisiensi sebesar 90,20%.

(Broto Legowo and Indiarto, 2017) 8 Pembangunan Sistem Informasi

Penjaminan Mutu Internal STMIK Balikpapan terhadap layanan unit.

Model pengembangan sistem yang digunakan adalah Rapid Application Develompment (Safi’i and Vidy, 2017)

Pengujian dan akurasi sistem masih belum terukur. Prototipe sistem informasi penjaminan mutu hanya menyediakan layanan yang berupa pengelolaan dokumen penunjang monitoring dan evaluasi (Monev) seperti silabus dan SAP, soal dan nilai.

Berdasarkan paparan beberapa penelitian terdahulu pada Tabel 1, dihasilkan diagram keterkaitan penelitian yang diusulkan dengan penelitian sebelumnya sebagai mana diilustrasikan pada Gambar 1.

Gambar 1: Diagram Keterkaitan Penelitian Terdahulu

2.2. KONSEP DAN TEORI YANG RELEVAN 2.1.1. Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)

Di Indonesia, sistem penjaminan mutu tersusun atas sistem penjaminan mutu internal (SPMI), sistem penjaminan mutu eksternal (SPME) atau akreditasi, dan pangkalan data pendidikan tinggi (PD Dikti). Lingkup SPMI terbatas hanya pada internal masing-masing pendidikan tinggi. Sebagaimana UU Nomor 12 Tahun 2012,

Landasan Penelitian

•Penelitian pertama merupakan prototipe yang akan

dikembangkan menjadi SIPMI 4.0

•Gap dari penelitian kedua sampai ketujuh dijadikan dasar pengembangan

Dasar Pemilihan Metode

Pengembangan Sistem

•Penelitian pertama menggunakan Prototyping

•Penelitian kedua dan ketujuh menggunakan Rapid Application Develompment

Penelitian yang Diusulkan

•Siklus SPMI memuat PPEPP

•Penyelarasan SPMI dengan IAPS 4.0

•Pengembangan Sistem Informasi

menggunakan Agile Methodology

(11)

pendidikan tinggi diberi otonomi untuk mengatur sendiri lembaga pendidikannya (Kemendikbud, 2012). Seluruh pengaturan dan tata kelola sistem penjaminan mutu di internal pendidikan tinggi sepenuhnya diberikan kewenangannya pada bagian terkait (Kemenristekdikti, 2018). Sistem penjaminan mutu didefinisikan sebagai serangkaian praktik dimana standar akademik, yaitu tingkat prestasi akademik yang dicapai oleh lulusan lembaga pendidikan tinggi dipertahankan dan ditingkatkan (Shah, Nair and Wilson, 2011). Untuk mengevaluasi dan mengetahui kelayakan perguruan tinggi terkait diperlukan pihak eksternal untuk menghindari subjektifitas penilaian. Audit eksternal tersebut diatur dan dilakukan melalui SPME atau akreditasi. Akreditasi merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh LAM dan/atau BAN-PT untuk menentukan kelayakan suatu pendidikan tinggi. Seluruh data yang diperoleh melalui SPMI dan SPME diakumulasi dan diolah pada PD Dikti.

Adapun data yang terakumulasi telah terintegrasi secara nasional.

Sistem penjaminan mutu pada universitas harus didasarkan pada tiga komponen utama, yaitu konteks, metode penjaminan mutu dan pengukuran dampak sistem di tingkat universitas, tingkat fakultas dan tingkat individu (Shah, Nair and Wilson, 2011). Shah menjelaskan bahwa dalam SPMI, seluruh proses harus

dikoordinasikan dengan baik. Seluruh pengembangan baik dalam bidang penelitian maupun perbaikan fasilitas perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas belajar mengajar. Belajar mengajar merupakan satu dari tiga bidang inti penjaminan mutu.

Adapun dua bidang lainnya yaitu penelitian dan manajemen staf (Harman, 2000).

Kegiatan penjaminan mutu dalam SPMI diantaranya adalah perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan, pengendalian pelaksanaan, dan pengembangan yang seluruhnya berada dalam wewenang pendidikan tinggi (DIKTI, 2018). Evaluasi

(12)

berupa audit atau pengukuran kepuasan dalam SPMI merupakan salah satu kegiatan yang penting dilakukan untuk mengetahui dan memastikan bahwa mutu pelayanan dan manajemen dalam pendidikan tinggi telah memenuhi tujuan yang ditentukan dalam kegiatan perencanaan. Audit dapat dilakukan melalui tiga orientasi, yaitu orientasi input, orientasi output dan orientasi hasil. Orientasi input mengarah pada sumberdaya yang dimiliki universitas. Sedangkan orientasi output dapat berupa nilai rata-rata siswa, angka putus sekolah, angka kelulusan, dll. Orientasi ketiga yaitu orientasi hasil merupakan yang paling sulit diperoleh datanya. Orientasi hasil disini tidak hanya berupa nilai kahir lulusan, tetapi peran alumni saat terjun dimasyarakat (Schomaker, 2015).

Dalam proses audit, diperlukan perangkat audit yang berisi dokumen- dokumen kerja yang menjadi tolak ukur penentuan mutu (Ramadhani, Herdiyanti and Astuti, 2018). Perangkat audit juga akan mempermudah para auditor dalam

melakukan penilaian serta memastikan bahwa seluruh aspek telah teraudit dengan benar. Dalam praktiknya, beberapa perguruan tinggi penyusunan perangkat audit secara konvensional. Sehingga seluruh perangkat dikumpulkan dan diolah secara manual dan seluruh perangkat dikumpulkan dalam bentuk fisik. Proses konvensional tersebut kurang optimal jika diterapkan mengingat besarnya kemungkinan kesalahan yang terjadi (Nuraeni, 2010). Solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah melalui pengembangan sistem informasi (Nuraeni, 2010). Menurut Abraham, Junglas, & Willis, penggunaan sistem informasi dalam sebuah lembaga akan dapat menghasilkan kinerja yang lebih efektif dan efisien (Abraham, Junglas and Willis, 2011).

(13)

2.1.2 Instrumen Akreditasi Program Studi 4.0

Instrumen akreditasi program studi 4.0 secara operasional diukur melaui Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) dan Laporan evaluasi diri (LED). Dari LKPS dan LED dinilai dengan 65 (enam puluh lima) indikator penilaian yang mendeskripsikan 9 (sembilan) kriteria meliputi: (a) visi, misi, tujuan dan strategi, (b) tata pamong, tata kelola dan kerjasama, (c) mahasiswa, (d) sumber daya manusia, (e) keuangan, sarana dan prasana, (f) pendidikan, (g) penelitian, (h) pengabdian kepada masyarakat, dan (i) luaran dan capaian tridharma.

2.1.3 Agile Methodology

Metode pengembangan Agile merupakan sekelompok metodologi pengembangan perangkat lunak yang didasarkan pada prinsip yang sama dan memerlukan adaptasi cepat terhadap perubahan dalam bentuk apapun.

Pengembangan perangkat lunak berbasis Agile memiliki karakteristik sebagai berikut (Presman Roger, 2014) : (a) interaksi individu dan tim atas proses dan alat, (b) bekerja dengan perangkat lunak melalui dokumentasi yang komprehensif, (c) kolaborasi pelanggan atas negosiasi kontrak, dan (d) menanggapi perubahan setelah mengikuti rencana. Terdapat 7 (tujuh) tipe dan karakteristik dari metode Agile yang ditampilkan dalam Tabel 2 berikut (Park and Park, 2017) :

Tabel 2: Tipe dan Karakteristik Metode Agile

No. Tipe Karakteristik

1. Scrum Kerangka kerja bersifat iterative dan incremental dalam mengelola pengembangan/pembangunan suatu produk

2. eXtreme Programming XP Kerangka kerja memiliki 12 prinsip untuk meningkatkan kualitas software dan bersifat responsive terhadap perubahan

(14)

3. Scrumban Kombinasi antara model Scrum dan Kanban

4. Kanban Kerangka kerja berfokus pada customer dan bekerja bersama-sama untuk memetakan product requirement

5. Lean Development Prinsip tradiosional yang dimodifikasi bentuknya menjadi 22 perangkat kerja.

6. Dynamic System Developing Method (DSDM)

Pengembangan dari Rapid Application Development, pengembangan perangkat lunak berjangka pendek yang relative cepat

7. Feature Driven Development (FDD)

Proses iterasi pengembangan perangkat lunak relative pendek berbasis model yang terdiri dari lima kegiatan dasar

Proses pengembangan perangkat lunak menggunakan Agile Methodology mengikuti langkah-langkah sebagaimana ilustrasi Gambar 2. Tahapan pengembangan Agile terdiri dari 5 (lima) langkah yaitu: (a) evaluasi proses dan struktur existing dari suatu instansi, tujuan langkah ini adalah untuk menentukan proses bisnis yang dibutuhkan oleh instansi tersebut; (b) memberikan sugesti atau alternative sebagai bentuk peningkatan atau optimisasi kebutuhan proses bisnis dan kebutuhan teknologi dari suatu instansi; (c) merancang desain aplikasi bersama- sama dengan klien, diman feedback dari klien merupakan hal vital yang digunakan sebagai landasan pengembangan aplikasi; (d) Membangun dan mengimplementasikan hasil rancangan secara periodic sebagaimana requirement dari klien. Pengujian dan pengembangan berjalan beriringan sampai proses pengembangan sistem mencapai ideal; (e) evaluasi dan monitoring, tahapan ini untuk mengukur capaian Key Performance Indicator (KPI) penggunaan sistem melalui monitoring kesesuaian sistem dengan kebutuhan user.

(15)

Gambar 2 Agile Methodology (Logica, 2017)

2.1.4 Manajemen Resiko UINSA

Risiko mempengaruhi setiap aspek dari kegiatan operasional di UINSA Surabaya.

Oleh karena itu, memahami risiko yang dihadapi dan mengelola risiko tersebut secara tepat akan meningkatkan kemampuan universitas untuk membuat keputusan yang lebih baik, menjaga aset universitas, meningkatkan kemampuan universitas dalam memberikan layanan kepada stakeholders serta membantu dalam menjalankan visi misi dan mencapai tujuan universitas.

Universitas memandang pengelolaan risiko terhadap sumberdaya manusia, aset dan semua aspek operasionalnya sebagai tanggung jawab yang penting. Oleh karena itu, universitas berkomitmen untuk melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan sebaik- baiknya.

Sebuah manajemen risiko yang efektif tidak hanya merupakan praktek bisnis yang baik namun juga mencerminkan ketahanan institusi, keyakinan dan manfaat bagi institusi, termasuk di dalamnya : (Maynard et al., 2016)

1. Menyediakan proses pengambilan keputusan dan perencanaan yang valid.

(16)

2. Membuat universitas memiliki fleksibilitas dalam rangka merespon ancaman yang tak terduga.

3. Mengambil keuntungan dari peluang yang ada dan memungkinkan diperolehnya keunggulan kompetitif.

4. Melengkapi setiap pimpinan satuan kerja dengan instrumen untuk mengantisipasi perubahan dan ancaman yang dihadapi universitas dan mengalokasikan sumber daya dengan tepat.

5. Memastikan pada seluruh stakholders bahwa risiko kritis telah dikelola dengan baik oleh universitas.

6. Memastikan tercapainya business resilience dan compliance management

Manajemen risiko adalah sebuah kegiatan yang berlangsung dan membutuhkan komitmen yang berkelanjutan. Desain kerangka kerja untuk mengelola risiko yang baik harus memiliki proses dan strategi yang baik pula. Proses manajemen risiko dirancang untuk mendukung pelaksanaan yang efektif. Kegiatan ini meliputi : mendefinisikan konteks risiko, mengelola, merumuskan kebijakan risiko, embedding proses, menentukan semua elemen kunci, merancang kerangka kerja yang efektif untuk mengelola risiko dan menentukan tanggungjawab. (Paul, 2017)

Penerapan manajemen risiko ditekankan bagaimana memastikan prosesnya dapat dipahami oleh pemilik risiko. Monitoring dan review dilakukan dengan melibatkan berbagai elemen manajemen risiko dan kegiatan akan berjalan efektif. Perbaikan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan elemen kunci dari kerangka manajemen risiko (menjalankan PDCA). Kerangka menejemen resiko UIN Sunan Ampel Surabaya tergambar sebagaimana Gambar 3 berikut.

(17)

Gambar 3 Menejemen Resiko UIN Sunan Ampel

(Islam, Sunan and Surabaya, 2020)

(18)

Proses menejemen resiko mengikuti tahapan ISO 31000 (Gambar 4). Adapun langkah- langkah tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Establish Context

Manajemen risiko dilakukan dalam upaya pencapaian tujuan dan sasaran universitas.

Oleh karena itu, manajemen risiko harus ditempatkan dalam konteks strategik maupun operasional. Identifikasi risiko strategik melibatkan hubungan antara universitas dengan lingkungan eksternal. Beberapa isu penting yang harus dipertimbangkan dalam mengevaluasi strategic content, di antaranya adalah:

a. Peluang dan ancaman yang berhubungan dengan lingkungan lokal, b. regional, global, sosial, politik, kultural, kebijakan dan kompetisi c. kekuatan dan kelemahan universitas dalam rangka mencapai tujuan d. universitas.

Berkaitan dengan operational context, identifikasi risiko melibatkan pemahaman terhadap kemampuan organisasi, tujuan, sasaran, kekuatan dan kelemahan dengan mempertimbangkan aspek :

a. struktur organisasi dan budaya organisasi b. geografi dan demografi

c. keberadaan hambatan operasional

d. isu terkait dengan manajamen perubahan atau audit reviews e. kewajiban regulasi dan hambatan regulasi

f. sistem manajemen yang dijalankan universitas 2. Risk Assesment

(19)

Risk assesmen terdiri dari proses untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi risiko. Identifikasi risiko merupakan langkah kritikal, baik dalam konteks strategik maupun operasional. Risiko dapat di-identifikasi melalui beberapa langkah berikut:

a. focus group discussion (brainstorming approaches dan project categories) b. workshops,

c. pengalaman organisasi lain, dan d. interview dengan pihak terkait.

3. Risk Treatment

Perlakuan terhadap risiko dapat dilakukan dengan jalan memperbaiki atau menghindari risiko, memodifikasi kemungkinan dan mengubah konsekuensi.

4. Monitoring dan Review

Monitoring dan review direncanakan dengan jalan melakukan pemantauan secara berkala terhadap semua risiko oleh pemilik risiko.

Gambar 4 Proses Menejemen Resiko berdasarkan ISO 31000

(20)

Tahap 1 Penyelarasan Standar SPMI

Tahap 2 Pengembangan Sistem Informasi BAB III METODE PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk berupa sistem informasi. Berdasar tujuan tersebut maka penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian pengembangan. Metodologi penngembangan yang gunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) tahapan, yaitu: (a) tahap pertama untuk menghasilkan rumusan standar SPMI yang valid dan selaras antara SN Dikti dengan 9 (sembilan) kriteria IAPS 4.0. Tahap kedua yaitu pengembangan sistem informasi penjaminan mutu internal yang menggunakan Agile Methodology. Tahapan metodologi penelitian diilustrasikan pada Gambar 3.

Gambar 5: Metodologi Penelitian

Untuk memperoleh data proses pengembangan digunakan teknik catatan lapangan (field Note), sedangkan untuk memperoleh data validitas hasil pengembangan digunakan teknik validasi. Teknik validasi yang digunakan adalah validitas isi (content validity) dan validitas kontruk (contruct validy).

Studi Literatur

• Dokumen SPMI

• Peraturan SPMI

• Kebijakan SPMI

• IAPS 4.0

Perumusan Standar SPMI Baru

• Data pemetaan rumusan pernyataan standar SPMI selaras dengan IAPS 4.0

Validasi Standar SPMI

• Data Validasi Standar SPMI dan IAPS 4.0

Analisis dan Perancangan

• Pemetaan analisis kebutuhan berdasarkan Agile Methodology

• Merancang proses bisnis yang ada dalam Sistem Informasi menggunakan Object Oriented Design berdasarkan metode Agile

Desain Implementasi

• Pengkodean sistem untuk pengembangan sistem informasi penjaminan mutu internal web based

• Pengujian fungsionalitas sistem

Evaluasi dan Monitoring

• Pengujian Kelayakan sistem atau pengukuran Key Performance Indikator (KIP) dari sistem yang dibangun

(21)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

(22)

BAB V PENUTUP

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Abraham, C., Junglas, I. and Willis, M. (2011) ‘Systems Analysis and Design for Service Oriented Architecture Projects: A Case Study at the Federal Financial

Institutions Examinations Council (FFIEC)’, Journal of Emerging Trends in Computing and Information Sciences, 2(1), pp. 1–15.

Atmaja, A. P. and Azis, A. (2019) ‘Sistem Informasi Terintegrasi Evaluasi Kegiatan Mengajar Dosen Sebagai Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal’, Jurnal Matrix, 9(1).

Broto Legowo, M. and Indiarto, B. (2017) ‘Model Sistem Penjaminan Mutu Berbasis Integrasi Standar Akreditasi BAN-PT dan ISO 9001:2008’, Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi), 1(2), p. 90. doi: 10.29207/resti.v1i2.51.

Darmawan, A., Muhammad, D. and Hasibuan, S. (2014) ‘Analisis dan Perancangan Aplikasi Sistem Informasi Audit Mutu Internal dan Dokumentasi Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi’, Jurnal Generic, 9(2), pp. 1907–4093.

DIKTI, R. (2018) Pedoman Sistem Penjaminan Mutu Internal.

Fitrah, M., Ruslan, . and Hendra, . (2018) ‘Urgensi Sistem Penjaminan Mutu Internal Terhadap Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi’, Jurnal Penjaminan Mutu, 4(1), p. 76.

doi: 10.25078/jpm.v4i1.400.

Harman, G. ed. (2000) ‘Quality Assurance in Higher Education: Standards, Mechanism and Mutual Recognition’, International Conference on Quality Assurance in Higher Education: Standards, Mechanism and Mutual recognition, p. 255.

Islam, U., Sunan, N. and Surabaya, A. (2020) MANUAL MANAJEMEN RISIKO.

Kemendikbud (2012) UU RI No. 12 Tahun 2012.

Kemenristekdikti (2018) Pedoman Sistem Penjaminan Mutu Internal.

(24)

Logica (2017) The Importance of Different Agile Methodologies Included in Agile Manifesto, Web Page. Available at: https://www.360logica.com/blog/the-importance-

of-different-agile-methodologies-included-in-agile-manifesto/.

Manongga, D. et al. (2019) ‘Sistem Informasi Memori Organisasi Pada Sistem Penjaminan Mutu Internal’, Seminar Nasional Inovasi Teknologi, pp. 81–86.

Maynard, A. D. et al. (2016) ‘Industry 4 . 0 as a Part of Smart Cities’, Proceedings of the IEEE, 104(February), pp. 2–7. doi: 10.1109/SCSP.2016.7501015.

Mulyono et al. (2021) ‘Implementation of the Internal Quality Assurance System at UIN Malang Indonesia’, Turkish Journal of Computer and Mathematics Education (TURCOMAT), 12(2), p. 212214.

Nuraeni, Y. (2010) ‘Perancangan Sistem Informasi Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi Bidang Sumber Daya Manusia’, Journal of Information Systems, Vol 6 No.1, pp. 32–

43.

Pahlevi, R. F., Sunardi and Abdul Fadlil (2018) ‘Analisis Kebutuhan Sistem Informasi Data Warehouse untuk Mendukung Sistem Penjaminan Mutu Internal (Studi Kasus STMIK Muhammadiyah Paguyangan Brebes)’, Prosiding SNST, 9, pp. 121–124.

Park, D.-A. and Park, M.-G. (2017) ‘A Study on the Quality Improvement of

Information System Auditing for Agile Methodology’, Journal of Korea Multimedia Society, 20(4), pp. 660–670. doi: 10.9717/kmms.2017.20.4.660.

Paul, H. (2017) Fundamental of Risk Management : Understanding, evaluating and implementating effective risk management. 4th edn. Great Britain and the United States:

The Institute of Risk Management.

President of Republic of Indonesia (2003) ‘Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional’, (Pasal 24 Ayat 2).

(25)

President of Republic of Indonesia (2012) ‘Undang-undang No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi’, (Pasal 62 Ayat 2-3).

Presman Roger (2014) Software Engineering : A Practical Approach.

Ramadhani, S. P., Herdiyanti, A. and Astuti, H. M. (2018) ‘Pembuatan Perangkat Audit Berbasis Risiko Berdasarkan COBIT 5 dan Service Desk Standard pada Service Desk’, Sisfo, 07(01), pp. 57–70. doi: 10.24089/j.sisfo.2017.09.005.

Ristekdikti (2016) ‘Permenristekdikti Nomor 62 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi’, pp. 1–8.

Rolliawati, D., Yusuf, A. and Hamdani, A. S. (2018) ‘Desain Prototipe Sistem Informasi Penjaminan Mutu Internal Berbasis Standar Nasional Pendidikan Tinggi’, Seminar Nasional Inovasi dan Aplikasi Teknologi di Industri 2018, 4(1), pp. 167–173.

Available at: https://ejournal.itn.ac.id/index.php/seniati/article/view/1589.

Safi’i, M. and Vidy (2017) ‘Perancangan Sistem Informasi Badan Penjaminan Mutu’, Metik, 1(2), pp. 1–7.

Schomaker, R. (2015) ‘Accreditation and quality assurance in the Egyptian higher education system’, Quality Assurance in Education, 23(2), pp. 149–165. doi:

10.1108/QAE-08-2013-0034.

Shah, M., Nair, S. and Wilson, M. (2011) ‘Quality assurance in Australian higher education: Historical and future development’, Asia Pacific Education Review, 12(3), pp. 475–483. doi: 10.1007/s12564-011-9152-2.

Sugiarta, I. K., Suasnawa, I. W. and Saptarini, N. G. A. P. H. (2019) ‘Perencanaan Sistem Informasi Audit Mutu Internal dengan Zahman Framework Studi Kasus Politeknik Negeri Bali’, Simetrik, 9(1), pp. 152–158.

Wibowo, A. and Azimah, A. (2016) ‘Rancang Bangun Sistem Informasi Penjaminan

(26)

Mutu Perguruan Tinggi Menggunakan Metode Throwaway Prototyping Development’, in Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2016, pp. 6–7.

(27)

1

Gambar

Tabel 1: Kajian Penelitian Terdahulu
Gambar 1: Diagram Keterkaitan Penelitian Terdahulu
Tabel 2: Tipe dan Karakteristik Metode Agile
Gambar 2 Agile Methodology (Logica, 2017)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui unjuk kerja sistem pengaman pintu ber-password, serta menganalisis kemampuan kerja dari beberapa komponen penggerak

Maksud data sekunder ini di gunakan dalam penelitian ini adalah untuk melihat seberapa banyak adanya kepemilikan tanah pertanin secara absentee serta untuk mengetahui

Gangguan jiwa seringkali menyebabkan ODHA tidak patuh terhadap pengobatan ARV dan tidak adanya penurunan perilaku berisiko. Gangguan jiwa dapat.. mempengaruhi ketaatan dalam minum

Karena anak menghabiskan banyak waktu dengan bermain dan berolah raga dengan teman-teman sebaya, maka anak yang keterampilannya dalam bidang tersebut melebihi anggota kelompok yang

Sistem pemeliharaan secara intensif ini dapat memperbaiki pertambahan bobot badan harian (PBBH) karena pemberian pakan dasar dan pakan tambahan cukup sesuai dengan kebutuhan

Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan dengan metode depth jump dan jump to box

Dalam kedudukannya sebagai pengelola barang, dan dihubungkan dengan amanat pasal 6 ayat (2) Undang-undang nomor 17 tahun 2003, Gubernur juga berwenang mengajukan usul untuk

Analisis deskriptif variable lingkungan kerja berdasarkan pada delapan pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengukur seberapa berpengaruhnya variabel lingkungan kerja, Dari