BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Pada bab ini akan diuraikan proses pengumpulan dan pengolahan data hasil eksperimen. Data yang dikumpulkan meliputi langkah-langkah serta hasil pengumpulan dan pengolahan data.
4.1 Pengumpulan Data
Pada bagian ini, menjelaskan mengenai semua data yang diperoleh dari seluruh proses yang dilakukan dalam penelitian.
4.1.1 Spesimen uji konduktivitas termal
Spesimen uji konduktivitas termal dibuat berdasarkan aturan dalam standar ASTM E-1225 dengan diameter spesimen 4 cm. pengujian konduktivitas termal dilakukan di UPT Laboratorium Pusat MIPA sub Fisika, Universitas Sebelas Maret
Gambar 4.1 Spesimen uji konduktivitas termal
4.1.2 Data Awal Eksperimen
Data hasil eksperimen merupakan hasil pengukuran nilai konduktivitas termal spesimen komposit. Data yang diperoleh dari pengujian alat dengan alat konduktivitas termal dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Data awal pengujian konduktivitas termal (oC)
1 38,3 38,3 38,2 38,2 27,5 27,6 27,4 27,4 27,5 27,6 2 38,3 38,3 38,2 38,2 27,5 27,5 27,5 27,3 27,3 27,3 1 38,4 38,3 38,3 38,3 27,6 27,6 27,5 27,6 27,6 27,6 2 38,3 38,3 38,2 38,2 27,6 27,6 27,6 27,4 27,4 27,4 1 38,4 38,4 38,3 38,3 27,7 27,7 27,6 27,6 27,7 27,7 2 38,3 38,3 38,3 38,2 27,7 27,7 27,7 27,6 27,6 27,6 1 37,9 37,8 37,8 37,7 27,6 27,6 27,5 27,6 27,5 27,5 2 38 37,9 37,9 37,8 27,7 27,7 27,7 27,7 27,6 27,6 1 38 38 37,9 37,8 27,7 27,7 27,6 27,6 27,7 27,7 2 38,1 38,1 38,1 38 27,8 27,8 27,6 27,6 27,6 27,6 1 38,3 38,2 38,1 38,1 28,2 28,2 28,2 27,8 27,8 27,8 2 38,2 38 38 38 28,1 28,1 28,1 27,7 27,7 27,7 1 38,4 38,3 38,4 38,3 27,9 27,9 27,7 27,7 27,7 27,7 2 38,4 38,4 38,4 38,3 28 28 27,8 27,8 27,8 27,8 1 38,4 38,3 38,3 38,3 28,3 28,4 28,3 28,3 28,3 28,4 2 38,3 38,2 38,2 38,2 28,3 28,3 28,2 28,2 28,2 28,2 1 38,4 38,4 38,4 38,3 28,5 28,5 28,4 28,4 28,4 28,4 2 38,4 38,4 38,4 38,3 28,5 28,4 28,3 28,3 28,3 28,3 1 38,2 38,1 38,1 38,0 27,9 27,9 27,7 27,7 27,7 27,7 2 38,2 38,2 38,2 38,1 27,6 27,6 27,7 27,8 27,8 27,7 1 38,1 38,1 38,1 38,0 28,6 28,4 28,3 28,3 28,3 28,4 2 38,7 38,7 38,7 38,5 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 1 38,5 38,6 38,6 38,4 28,4 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 2 38,4 38,4 38,4 38,3 28,3 28,2 28,0 28,0 28,0 28,0 1 38,3 38,4 38,3 38,1 28,1 28,0 27,8 27,8 27,8 27,8 2 38,8 38,7 38,7 38,6 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 1 38,4 38,2 38,2 38,2 27,9 27,9 27,8 27,8 27,8 27,8 2 38,9 38,7 38,7 38,7 28,3 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 1 38,2 38,1 38,1 38,0 27,1 27,2 27,2 27,1 27,1 27,1 2 38,8 38,7 38,7 38,7 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 1 38,3 38,2 38,3 38,2 28,6 28,7 28,6 28,6 28,6 28,6 2 38,8 38,7 38,7 38,7 28,2 28,2 28,2 28,2 28,1 27,7 1 38,1 38,1 38,1 38,0 28,3 28,3 28,0 28,0 28,0 28,0 2 38,8 38,7 38,7 38,7 28,0 28,1 28,1 28,1 28,1 28,1 1 38,3 38,3 38,3 38,1 26,4 26,4 26,4 26,4 26,3 26,3 2 38,8 38,7 38,7 38,6 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 1 38,5 38,3 38,3 38,4 28,6 28,7 28,6 28,7 28,7 28,6 2 38,9 38,7 38,7 38,7 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 1 38,2 38,1 38,1 38,0 27,9 27,9 27,7 27,7 27,7 27,7 2 38,8 38,7 38,7 38,6 27,9 28,0 28,0 27,9 27,9 27,9 1 38,1 38,1 38,1 38,0 27,9 27,9 28,0 28,0 28,0 28,0 2 38,8 38,7 38,7 38,7 28,3 28,2 28,3 28,3 28,3 28,3 1 38,9 38,7 38,6 38,7 28,6 27,9 28,0 28,1 27,9 27,9 2 38,7 38,7 38,7 38,6 28,2 28,2 28,1 28,1 28,1 28,1 1 38,8 38,6 38,6 38,7 28,2 28,2 28,1 28,1 28,1 28,0 2 38,1 38 38 38 28 28,1 28,2 28,2 28,1 28,1 1 38,3 38,2 38,2 38,2 28,5 28,5 28,3 28,3 28,3 28,3 2 38,8 38,7 38,7 38,7 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 1 38,0 38,0 38,0 37,9 25,7 25,7 25,7 25,7 25,8 25,8 2 38,8 38,7 38,7 38,7 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 1 38,8 38,7 38,7 38,7 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 2 38,7 38,7 38,7 38,6 28,0 28,0 28,1 28,1 28,1 28,1 1 38,4 38,4 38,4 38,3 27,8 27,8 27,5 27,6 27,6 27,7 2 38,8 38,7 38,7 38,7 28,2 28,2 27,7 27,7 27,7 27,7 Presentase Komposisi
(Sekam Padi : Ampas Tebu)
50% : 50%
60% : 40%
Presentase Perekat Tepung Ketan Putih
5 10 15 5 10 15 5 10 15 Ukuran Partikel
10
20
30
10 10
15 5
5 10 15 10 15 70% : 30%
20
30
10
20
30
Replikasi T1
10 15 5 15
5 10 15 5 5
10
T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10
4.2 Pengolahan Data
Data-data hasil penelitian selanjutnya diolah untuk mendapatkan nilai konduktivitas termal terbaik. Pengolahan data menggunakan nilai konduktivitas termal terbaik dilakukan dengan melihat nilai paling rendah pada hasil perhitungannya. Sedangkan pengolahan data menggunakan metode eksperimen dilakukan melalui dua tahapan, yaitu tahap uji sebelum uji Anova dan tahap uji Anova itu sendiri. Pada tahap uji Anova akan dilanjutkan dengan uji pembanding ganda. Uji ini dilakukan apabila pada uji Anova terdapat faktor atau interaksi faktor yang berpengaruh. Uji pembanding ganda ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi optimum yang dieksperimenkan. Pengolahan data pada eksperimen ini mengambil data pengujian panas menggunakan temperatur 40℃.
4.2.1 Perhitungan Data Konduktivitas Termal Menjadi Nilai Hambat Panas Dari tabel lampiran data awal pengujian konduktivitas termal. Dapat diperoleh nilai laju perpindahan panas konduksi tembaga (q) dengan menggunakan persamaan sebagai berikut,
q = k A q = k A T
L (4.1)
keterangan :
q = Laju perpindahan panas konduksi (watt) k = Konduktivitas (W/moC)
A = Luas Penampang (m2)
T = Perbedaan Temperatur (oC) L = Tebal Spesimen (m)
*Nilai Konduktivitas tembaga (Cu) adalah 379 W/moC
Dengan komposisi sekam padi dan ampas tebu 50:50, perekat ketan putih 5% dan ukuran partikel menggunakan mesh 10
q = k A T1−T4
L
q𝑐𝑢 =379 𝑥 0,001256 𝑥 0,1
0,09
q𝑐𝑢 = 0,5289 Watt
Kemudian, dilakukan perhitungan nilai konduktivitas termal spesimen komposit sekam padi dan ampas tebu dengan perhitungan sebagai berikut :
q = K𝑠 A T4−T5
L
0,5289 = 𝐾_𝑠 𝑥 0,001256 𝑥 10,7
0,01
Kspesimen = 0,3936 W/moC
Perhitungan nilai hambat panas (R) pada komposit sekam padi dan ampas tebu menggunakan rumus pada (2.2). Dengan komposisi sekam padi dan ampas tebu 50%:50%, perekat ketan putih sebesar 5% dan kerapatan bahan menggunakan mesh 10, perhitungan nilai hambat panas sebagai berikut :
R = L
KA R = 0,01
0,3936 x 0,001256 R = 20,2301 oC/W
Menggunakan cara yang sama, didapatkan nilai hambat panas komposit berbahan sekam padi dan ampas tebu seperti pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Nilai hambat panas
Keterangan : A1B1C1 = spesimen komposit dengan kombinasi komposisi sekam padi 50%, ampas tebu 50%, ukuran partikel mesh 10 dan persentase perekat tepung ketan putih 5%.
1 0,01 0,0013 0,39 20,23
2 0,01 0,0013 0,39 20,23
1 0,01 0,0013 0,39 20,23
2 0,01 0,0013 0,40 20,04
1 0,01 0,0013 0,40 20,04
2 0,01 0,0013 0,40 19,85
1 0,01 0,0013 0,42 19,10
2 0,01 0,0013 0,42 19,10
1 0,01 0,0013 0,42 19,10
2 0,01 0,0013 0,41 19,28
1 0,01 0,0013 0,42 18,91
2 0,01 0,0013 0,42 18,91
1 0,01 0,0013 0,40 19,66
2 0,01 0,0013 0,41 19,47
1 0,01 0,0013 0,42 18,91
2 0,01 0,0013 0,43 18,72
1 0,01 0,0013 0,43 18,53
2 0,01 0,0013 0,43 18,53
1 0,01 0,0013 0,42 19,10
2 0,01 0,0013 0,40 19,85
1 0,01 0,0013 0,45 17,77
2 0,01 0,0013 0,40 19,66
1 0,01 0,0013 0,42 18,91
2 0,01 0,0013 0,42 18,91
1 0,01 0,0013 0,42 18,91
2 0,01 0,0013 0,40 19,85
1 0,01 0,0013 0,40 19,66
2 0,01 0,0013 0,40 19,85
1 0,01 0,0013 0,39 20,61
2 0,01 0,0013 0,40 19,85
1 0,01 0,0013 0,44 18,15
2 0,01 0,0013 0,40 19,85
1 0,01 0,0013 0,43 18,34
2 0,01 0,0013 0,39 20,23
1 0,01 0,0013 0,36 22,12
2 0,01 0,0013 0,40 19,66
1 0,01 0,0013 0,43 18,53
2 0,01 0,0013 0,40 20,04
1 0,01 0,0013 0,41 19,28
2 0,01 0,0013 0,39 20,42
1 0,01 0,0013 0,42 19,10
2 0,01 0,0013 0,39 20,42
1 0,01 0,0013 0,37 21,74
2 0,01 0,0013 0,39 20,23
1 0,01 0,0013 0,39 20,42
2 0,01 0,0013 0,40 19,66
1 0,01 0,0013 0,40 20,04
2 0,01 0,0013 0,39 20,42
1 0,01 0,0013 0,35 23,07
2 0,01 0,0013 0,37 21,74
1 0,01 0,0013 0,40 19,85
2 0,01 0,0013 0,40 20,04
1 0,01 0,0013 0,40 19,85
2 0,01 0,0013 0,37 21,74
22,40
19,95
20,80 19,85
19,76
20,99
20,04
20,23 20,23
19,00
19,28
20,89
19,28 19,47
18,72
18,91
19,38
19,76 19,19
18,91
19,57
18,81
18,53 Rata-Rata R Spesimen
(C/W) 20,23
20,14
19,95
19,10 L
Spesimen (m)
A (m2)
A3B3C2
A3B3C3 A2B1C2
A2B1C3
A2B2C1
A2B2C2
A2B2C3 A1B2C3
A1B3C1
A1B3C2
A1B3C3
A2B1C1 A1B1C1
A1B1C2
A1B1C3
A1B2C1
A1B2C2
A2B3C1
A2B3C2
A2B3C3
A3B1C1
A3B1C2
A3B1C3
A3B2C1
A3B2C2
A3B2C3
A3B3C1
K Spesimen (W/mC)
R spesimen
(C/W) Spesimen
4.2.2 Perhitungan Normalitas Data Nilai Hambat Panas
Uji normalitas dilakukan terhadap data observasi yang merupakan sampel populasi. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data observasi tiap perlakuan terdistribusi normal. Pengujian normalitas pada pembahasan ini, menggunakan uji Kolmogorov Smirnov
Perhitungan uji normalitas data menggunakan metode uji Kolmogorov- Smirnov untuk spesimen komposit dengan perlakuan persentase komposisi sekam padi dan ampas tebu sebesar 50% : 50%, pada kerapatan mesh 10 adalah sebagai berikut
1. Mengurutkan data observasi dari yang terkecil 19.85, 20.04, 20.04, 20.23, 20.23, 20.23
2. Menghitung rata-rata (X̅) data observasi dan standar deviasi (s)
x ̅ = ∑nx=1xi n
(4.2)
x̅ =19,85+20,04+20,04+20,03+20,03+20,03
5
x̅ = 20,10
s =√∑ x2-( ∑ x)2 n n-1
(4.3)
s = √19,852+20,042+20,042+20,232+20,232+20,232−
(140,73)2 6
6−1
s =0,154
3. Mentransformasikan data ke nilai baku (z) zi = (xi-x̅)
s (4.4)
𝑧1 = (19,85−20,10)
0.154 = −1,633 𝑧2= (20,04−20,10)
0.154 = −0,408 𝑧3= (20,04−20,10)
0.154 = −0,408 𝑧4= (20,23−20,10)
0.154 = 0,816 𝑧5= (20,23−20,10)
0.154 = 0,816 𝑧6= (20,23−20,10)
0.154 = 0,816
4. Menentukan nilai probabilitas Fr berdasarkan sebaran normal baku sebagai probabilitas pengamatan. Menggunakan tabel standar luas wilayah di bawah kurva normal
z1 = 0,0512 z2 = 0,3415 z3 = 0,3415 z4 = 0,7929 z5 = 0,7929 z6 = 0,7929
5. Menentukan nilai probabilitas harapan kumulatif (Fs) FS1 = 1/6 = 0,1667
FS2 = 2/6 = 0,3333 FS3 = 2/6 = 0,3333
FS4 = 4/6 = 0,6667 FS5 = 4/6 = 0,6667 FS6 = 4/6 = 0,6667
6. Menentukan nilai maksimum dari selisih absolute Ft dan Fs
|𝐹𝑡1− 𝐹𝑠1| = |0,0512 − 0,1667| = 0,1154
|𝐹𝑡2− 𝐹𝑠2| = |0,3415 − 0,3333| = 0,0082
|𝐹𝑡3− 𝐹𝑠3| = |0,3415 − 0,3333| = 0,0082
|𝐹𝑡4− 𝐹𝑠5| = |0,7929 − 0,6667| = 0,1262
|𝐹𝑡5− 𝐹𝑠5| = |0.7929 − 0,6667| = 0,1262
|𝐹𝑡6− 𝐹𝑠6| = |0.7929 − 0,6667| = 0,1262
7. Membandingkan nilai maksimum dengan nilai tabel
Tabel 4.3 Normalitas nilai hambat panas
Nilai maksimum adalah 0,126 sedangkan nilai pada tabel dengan = 0,05 adalah 0,519. Sehingga, nilai maksimum < nilai tabel Kolmogorov. Dari hasil
10 0,126 0,519 Diterima Normal 20 0,421 0,519 Diterima Normal 30 0,256 0,519 Diterima Normal 10 0,201 0,519 Diterima Normal 20 0,267 0,519 Diterima Normal 30 0,285 0,519 Diterima Normal 10 0,177 0,519 Diterima Normal 20 0,303 0,519 Diterima Normal 30 0,208 0,519 Diterima Normal
L Tabel H0 Kesimpulan L Hitung
70% : 30%
60% : 40%
50% : 50%
Presentase Komposisi (Sekam Padi : Ampas
Tebu)
Mesh
4.2.3 Perhitungan Homogenitas Data Nilai Hambat Panas
Pengujian homogenitas dilakukan dengan metode Bartlett yang digunakan untuk menguji apakah k sampel berasal dari populasi dengan varians yang sama.
Uji Bartlett dilakukan pada setiap data dari setiap faktor (variabel independen).
1. Faktor Komposisi
a) Menghitung total data faktor komposisi sekam padi 50% : ampas tebu 50%
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1 = 𝑥1+ 𝑥2+ ⋯ . +𝑥𝑛 (4.5)
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1 = 20.23 + 20.23 + 20.23 + ⋯ + 18.53
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1 = 348.83
b) Menghitung total kuadrat data faktor komposisi sekam padi 50% : ampas tebu 50%
∑ x2
n
i=1 = x12+x22+….+xn2 (4.6)
∑ x2
n
i=1 = (20.23)2+(20.23)2+(20.23)2+…+(18.53)2
∑ x2
n
i=1 = 6766.18 c) Menghitung Varian (S2)
Si2=n( ∑ xi2)-(∑ xi)2 n(n-1)
(4.7)
Si2=9(6766.18)-348.83)2 9(9-1)
Si2= 0.36272
d) Mengelompokkan data varian ke dalam tabel perhitungan varian, untuk melakukan perhitungan total varian
e) Menghitung varian gabungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Sg2 = ∑ db Si2
∑ db
(4.8)
𝑆𝑔2= 20,408 24 𝑆𝑔2= 0,850
log 𝑠𝑔2= log 0,850 log 𝑠𝑔2= −0,070
f) Menghitung nilai satuan Bartlett (B)
B = (∑ db)(logsg2) (4.9)
B = 24*( − 0,070) B = -1,689
g) Menghitung nilai Chi Kuadrat hitung
χh2 = (ln 10){B-(db log sg2)} (4.10)
χh2= 2.3*(-1,689-( − 0,070)) χh2= 2,866
h) Menentukan nilai Chi Kuadrat tabel, gunakan tabel C pada lampiran χt2(0.05, 3-1)= 5,991
i) Kesimpulan dari perhitungan uji Bartlett pada faktor komposisi
Chi Kuadrat hitung lebih kecil daripada chi kuadrat tabel, maka dapat disimpulkan bahwa data berasal dari variansi yang sama atau homogen.
Komposisi db = (n-1) Varian (S2) db S2 log S2 db log S2
50% : 50% 8 0,362 2,901 -0,44 -3,523
60% : 40% 8 0,982 7,857 -0,078 -0,062
70% : 30% 8 1,206 9,649 0,081 0,0651
Total 24 2,551 20,408 -0,366 -2,935
Tabel 4.4 Perhitungan homogenitas data hambat panas faktor komposisi
Tabel 4.5 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikelTabel 4.6 Perhitungan homogenitas data hambat panas pada faktor
komposisi
Tabel 4.7 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel
Tabel 4.8 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor faktor komposisi bahan dan persentase perekatTabel 4.9 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikelTabel 4.10 Perhitungan homogenitas data
hambat panas pada faktor komposisi
Tabel 4.11 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikelTabel 4.12 Perhitungan homogenitas data hambat panas pada faktor
komposisi
2. Faktor Ukuran Partikel
a) Menghitung total data faktor ukuran partikel mesh 10
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1
= 𝑥1+ 𝑥2+ ⋯ . +𝑥𝑛
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1 = 20.23 + 20.23 + 20.23 + ⋯ + 20.42
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1 = 352.61
b) Menghitung total kuadrat data faktor ukuran partikel mesh 10
∑ x2
n
i=1 = x12+x22+….+xn2
∑n x2
i=1 = (20.23)2+(20.23)2+20.23)2+…+(20.42)2
∑n x2
i=1 = 2424.15 c) Menghitung Varian (S2)
Si2=n( ∑ xi2)-(∑ xi)2 n(n-1)
Si2=9(2425.15)-(352.61)2 9(9-1)
Si2= 0,5472
d) Mengelompokkan data varian ke dalam tabel perhitungan varian, untuk melakukan perhitungan total varian
Tabel 4.5 Perhitungan homogenitas data hambat panas faktor ukuran partikel
Ukuran Partikel db = (n-1) Varian (S2) db S2 log S2 db log S2
mesh 10 8 0,547 4,378 -0,262 -2,094
mesh 20 8 0,565 4,517 -0,248 -1,986
mesh 30 8 1,989 15,913 0,299 2,389
Total 24 3,101 24,808 -0,211 -1,691
e) Menghitung varian gabungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Sg2 = ∑ db Si2
∑ db 𝑆𝑔2=24,808
24 𝑆𝑔2= 1,034
log 𝑠𝑔2= log 1,034 log 𝑠𝑔2= 0,014
f) Menghitung nilai satuan Bartlett (B)
B = (∑ db)(logsg2)
B = 24*(0,014) B = 0,345
g) Menghitung nilai Chi Kuadrat hitung
χh2 = (ln 10){B-(db log sg2)}
χh2= 2.3*(0,345-(-1,691) χh2=4,688
h) Menentukan nilai Chi Kuadrat tabel, gunakan tabel C pada lampiran χt2(0.05, 3-1)= 5,991
i) Kesimpulan dari perhitungan uji Bartlett pada faktor komposisi
Chi Kuadrat hitung lebih kecil daripada chi kuadrat tabel, maka dapat disimpulkan bahwa data berasal dari variansi yang sama atau homogen.
2. Faktor Presentase Perekat Tepung Ketan Putih a) Menghitung total data faktor presentase perekat 5%
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1 = 𝑥1+ 𝑥2+ ⋯ . +𝑥𝑛
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1 = 20.23 + 20.23 + 19.10 + ⋯ + 21.74
∑ 𝑥
𝑛
𝑖=1 = 358,85
b) Menghitung total kuadrat data faktor komposisi
∑ x2
n
i=1 = x12+x22+….+xn2
∑ x2
n
i=1 = (20.23)2+(20.23)2+(19.10)2+…+(21.74)2
∑ x2
n
i=1 = 7179.22 c) Menghitung Varian (S2)
Si2=n( ∑ xi2)-(∑ xi)2 n(n-1)
Si2=9( 7179.22)-( 358.85)2 9(9-1)
Si2= 1,485
d) Mengelompokkan data varian ke dalam tabel perhitungan varian, untuk melakukan perhitungan total varian
Tabel 4.6 Perhitungan homogenitas data hambat panas faktor presentase perekat
e) Menghitung varian gabungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Sg2 = ∑ db Si2
∑ db
𝑆𝑔2= 24,520 24 𝑆𝑔2= 0,326
Presentase Perekat db = (n-1) Varian (S2) db S2 log S2 db log S2
5% 8 1,485 11,884 0,172 1,375
10% 8 0,542 4,333 -0,266 -2,130
15% 8 1,038 8,303 0,016 0,129
Total 24 3,065 24,520 -0,078 -0,626
log 𝑠𝑔2= log 0,326 log 𝑠𝑔2= −0,486
f) Menghitung nilai satuan Bartlett (B) B = (∑ db) (logsg2)
B = 24*(-0,486) B = -1,877
g) Menghitung nilai Chi Kuadrat hitung χh2 = (ln10){B-(db logsg2)}
χh2= 2.3*(-16,32-(-16,627) χh2= -2,882
h) Menentukan nilai Chi Kuadrat tabel, gunakan tabel C pada lampiran χt2(0.05, 3-1)= 5.991
i) Kesimpulan dari perhitungan uji Bartlett pada faktor komposisi
Chi Kuadrat hitung lebih kecil daripada chi kuadrat tabel, maka dapat disimpulkan bahwa data berasal dari variansi yang sama atau homogen.
4.2.4 Uji Independensi
Uji independensi dilakukan dengan cara membuat plot residual data untuk setiap perlakuan berdasarkan urutan pengambilan data eksperimen. Nilai residual tersebut didapatkan dari selisih data observasi dengan rata-rata setiap perlakuannya.
Uji independensi dilakukan untuk mengetahui bahwa error yang terjadi tidak berkorelasi. Data residual kemudian diplotkan berdasarkan urutan pengambilan data eksperimen, hasil pengolahan data ditunjukkan sebagai berikut :
Gambar 4.2 Hasil plot residual data
Berdasarkan gambar 4.2 Plot tersebut tidak menunjukkan adanya pola tertentu sepereti pola naik, turun ataupun melengkung. Maka, dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi antar residual atau error independen.
4.2.5 Pengujian ANOVA menggunakan data nilai hambat panas
Pengujian ANOVA dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor secara interaksi dan independent berpengaruh signifikan terhadap variabel. Pengujian ANOVA menggunakan =0,05 dengan taraf kepercayaan sebesar 95%. Hipotesis yang diuji dalam analisis variansi adalah :
1. H0A: Perbedaan komposisi tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
H1A: Perbedaan komposisi berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas 2. H0B: Perbedaan mesh tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
H1B: Perbedaan mesh berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas 3. H0C: Perbedaan presentase perekat tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai
hambat panas
H1C: Perbedaan presentase perekat berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
4. H0AB: Perbedaan komposisi dan mesh tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
H1AB: Perbedaan komposisi dan mesh berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
5. H0AC: Perbedaan komposisi dan presentase perekat tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
H1AC: Perbedaan komposisi dan presentase perekat berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
6. H0BC: Perbedaan mesh dan presentase perekat tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
H0BC: Perbedaan mesh dan presentase perekat berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas
7. H0ABC: Perbedaan komposisi, mesh, dan presentase perekat tidak berpengaruh terhadap nilai hambat panas
H0ABC: Perbedaan komposisi, mesh, dan presentase perekat berpengaruh terhadap nilai hambat panas
Data yang digunakan adalah data eksperimen nilai hambat panas , pengolahan data dituliskan pada tabel 4.7
Tabel 4.7 total nilai hambat panas
I II
5 20,23 20,23 40,46
10 20,23 20,04 40,27
15 20,04 19,85 39,89
5 19,10 19,10 38,19
10 19,10 19,28 38,38
15 18,91 18,91 37,81
5 19,66 19,47 39,14
10 18,91 18,72 37,62
15 18,53 18,53 37,06
5 19,10 19,85 38,95
10 17,77 19,66 37,44
15 18,91 18,91 37,81
5 18,91 19,85 38,76
10 19,66 19,85 39,51
15 20,61 19,85 40,46
5 18,15 19,85 38,00
10 18,34 20,23 38,57
15 22,12 19,66 41,78
5 18,53 20,04 38,57
10 19,28 20,42 39,70
15 19,10 20,42 39,51
5 21,74 20,23 41,97
10 20,42 19,66 40,08
15 20,04 20,42 40,46
5 23,07 21,74 44,81
10 19,85 20,04 39,89
15 19,85 21,74 41,59
Komposisi
Bahan Mesh Presentase Perekat
Pengulangan
Total
70% : 30%
10
20
30 50% : 50%
10
20
30
60% : 40%
10
20
30
Perhitungan uji Anova pada spesimen faktor komposisi bahan dan kerapatan mesh sebagai berikut:
1. Menghitung jumlah kuadrat semua nilai pengamatan (∑𝑥2):
∑ x2= ∑ xi2
A
i=1
+∑ xj2
B
j=1
+ ∑ xk2
C
k=1
(4.11)
∑ x2=20.232+20.232+…+21.742
∑ x2=21125.38
2. Menghitung nilai faktor koreksi (Fk) Fk= [∑Ai=1xi+ ∑Bj=1xj+ ∑Ck=1xk]2
∑ n (4.12)
Fk = (20.23+20.23+…+21.74)2 54
Fk = 21071.71
3. Menghitung jumlah kuadrat total (SStotal)
SStotal=∑ x2-Fk (4.13)
SStotal=21125.38-21071.71 SStotal=53.67
4. Menghitung jumlah kuadrat interaksi (SStreatment) SStreatment=∑ x2
n -Fk (4.14)
SStreatment=21125.38
2 -21071.71 SStreatment=37.66
5. Menghitung jumlah kuadrat galat (SSerror)
SSerror = SStotal-SStreatment (4.15)
SSerror 53.67-37.66 SSerror = 16.01
Tabel 4.8 Pengelompokan data berdasarkan interaksi faktorial komposisi bahan dan kerapatan mesh
7. Menghitung jumlah kuadrat antar faktorial komposisi bahan (SSA) SSA= ∑Ai=1xi2
(n*j*k)-Fk (4.16)
SSA= (348.832+351.282+366.602)
(2*3*3) -21071.71
SSA= 10.30
8. Menghitung jumlah kuadrat antar faktorial Komposisi bahan dan kerapatan mesh (SSAB)
SSAB= ∑Ai=1∑Bj=1xij2
(n*k) -Fk-SSA-SSB (4.17)
SSAB= (120.622+114.202+…+126.302)
(2*3) -21071.71-10.30-0.95 SSAB= 11.97
9. Menghitung jumlah kuadrat antar faktorial komposisi bahan, kerapatan mesh dan persentase perekat ketan putih (SSABC)
SSABC= ∑Ai=1∑Bj=1∑Ck=1xijk2
(n) -Fk-SSA-SSB-SSC-SSAB-SSAC-SSBC (4.18) SSABC= (40.462+40.272+…+41.592)
(2) -21071.71-10.30-0.95-…-1.65 SSABC= 7.04
10. Menghitung Mean Square faktorial komposisi bahan (MSA) MSA= SSA
dfA (4.19)
10 20 30
50:50 120,62 114,38 113,82 348,83 60:40 114,20 118,73 118,36 351,28 70:30 117,79 122,51 126,30 366,60 Total 352,61 355,63 358,47 1066,71
Ukuran Partikel
Komposisi Total
MSA= 10.30 2 MSA= 5.15
11. Menghitung Fratio komposisi bahan (FA) FA= MSA
MSGalat (4.20)
FA= 5.15 0.59 FA= 8.69
12. Membandingkan nilai Fhir dengan Ftab
Keputusan terhadap hipotesis nol didasarkan pada nilai FHit, yakni hipotesis nol (H0) ditolak jika FHit > FTab dan diterima jika FHit < FTab, diperoleh dari tabel distribusi F kumulatif.
Tabel 4.9 Tabel ANOVA nilai hambat panas
4.2.6 Pengujian pembanding ganda
Uji pembanding ganda yang digunakan adalah uji Student Newman-Keuls (SNK). Uji SNK dilakukan untuk mengetahui pada level mana faktor yang memberikan perbedaan nilai hambat panas dan juga menentukan level terbaik dari faktor yang memberikan perbedaan nilai hambat panas. Berikut merupakan hasil dari uji Anova dengan metode SNK
Faktor df SS MS Fhit Ftab
a=0,05 Keterangan
Perlakuan 26 37,66 1,45 2,44
komposisi Bahan 2 10,30 5,15 8,69 3,35 Signifikan Kerapatan mesh 2 0,95 0,48 0,80 3,35 Tidak Signifikan Persentase Perekat 2 1,57 0,78 1,32 3,35 Tidak Signifikan komposisi*mesh 4 11,97 2,99 5,05 2,73 Signifikan komposisi*perekat 4 4,17 1,04 1,76 2,73 Tidak Signifikan Mesh*perekat 4 1,65 0,41 0,70 2,73 Tidak Signifikan seluruh faktor 8 7,04 0,88 1,48 2,31 Tidak Signifikan
galat 27 16,01 0,59
1. Faktor komposisi sekam padi dan ampas tebu
Uji Student Newman-Keuls (SNK) terhadap faktor komposisi sekam padi dan ampas tebu dilakukan untuk perhitungan uji hambat panas, dimana hasil eksperimen menunjukkan bahwa faktor komposisi berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas. Berikut merupakan perhitungan untuk keperluan uji SNK:
a. Menyusun rata-rata faktor komposisi dari terkecil ke terbesar. Tabel 4.10 menunjukkan rata-rata nilai hambat panas pada faktor komposisi yang telah diurutkan dari terkecil ke terbesar.
Tabel 4.10 Rata-rata nilai hambat panas dikelompokkan berdasarkan faktor komposisi
Komposisi 50%:50%
(A1)
60%:40%
(A2)
70%:30%
(A3) Rata-rata Nilai
Hambat Panas 19,38 19,52 20,37 b. Nilai Mean Squareerror = 0,59 dengan dferror = 27
c. Nilai error standart untuk mean level : 𝑆𝑌̅.𝑗 = √𝑀𝑆 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟
𝑘 , k = jumlah perlakuan
= √0,59
3
= 0,44
d. Nilai Least Significant Range (LSR) diperoleh dengan mengalikan significant range dengan error standart.
Significant Rate 2 3
range 1,29 1,55
e. Menghitung selisih antar level secara berpasangan dan membandingkan dengan nilai LSR. Jika selisih > LSR, maka dapat dinyatakan bahwa terdapat
Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor komposisi bahan ditunjukkan pada tabel 4.11
Tabel 4.11 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor komposisi
Dari hasil perbandingan diatas, didapatkan selisih rata-rata A1 lebih kecil dari LSR, sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan antara A1 terhadap A2 dan A3. Begitu pula dengan interaksi antara A2 dengan A3.
2. Faktor ukuran partikel
Uji Student Newman-Keuls (SNK) terhadap faktor komposisi sekam padi dan ampas tebu dilakukan untuk perhitungan uji hambat panas, dimana hasil eksperimen menunjukkan bahwa faktor ukuran partikel berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas. Berikut merupakan perhitungan untuk keperluan uji SNK:
a. Menyusun rata-rata faktor ukuran partikel dari terkecil ke terbesar. Tabel 4.12 menunjukkan rata-rata nilai hambat panas pada faktor ukuran partikel yang telah diurutkan dari terkecil ke terbesar.
Tabel 4.12 Rata-rata nilai hambat panas dikelompokkan berdasarkan faktor ukuran partikel
Ukuran partikel
Mesh 10 (B1)
Mesh20 (B2)
Mesh30 (B3) Rata-
rata 19,59 19,76 19,91 b. Nilai Mean Square = 0,59 dengan df = 27
Perlakuan A1 A2 A3
A1
A2 0,14
A3 0,99 0,85
IV-23 c. Nilai error standart untuk mean level :
𝑆𝑌̅.𝑗 = √𝑀𝑆 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟
𝑘 , k = jumlah perlakuan
= √0,59
3
= 0,44
d. Nilai Least Significant Range (LSR) diperoleh dengan mengalikan significant range dengan error standart.
Significant Rate 2 3
range 1,29 1,55
e. Menghitung selisih antar level secara berpasangan dan membandingkan dengan nilai LSR. Jika selisih > LSR, maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata interaksi tersebut. Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel ditunjukkan pada tabel 4.13
Dari hasil perbandingan diatas, didapatkan selisih rata-rata B1 lebih kecil dari LSR, sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan antara B1 terhadap B2 dan B3. Begitu pula dengan interaksi antara B2 dengan B3.
3. Faktor persentase perekat tepung ketan putih
Uji Student Newman-Keuls (SNK) terhadap faktor persentase perekat tepung ketan putih dilakukan untuk perhitungan uji hambat panas, dimana hasil eksperimen menunjukkan bahwa faktor persentase perekat berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas. Berikut merupakan perhitungan untuk keperluan uji SNK:
Perlakuan B1 B2 B3
B1
B2 0,17
B3 0,33 0,16
Tabel 4.13 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel
Tabel 4.13 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor faktor komposisi bahan dan persentase perekatTabel 4.14 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan
faktor ukuran partikel
Tabel 4.15 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor faktor komposisi bahan dan persentase perekat
Tabel 4.16 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putihTabel 4.17 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor faktor komposisi bahan dan persentase perekatTabel 4.18 Hasil
perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel
a. Menyusun rata-rata faktor persentase perekat dari terkecil ke terbesar. Tabel 4.14 menunjukkan rata-rata nilai hambat panas pada faktor persentase perekat yang telah diurutkan dari terkecil ke terbesar.
Tabel 4.14 Rata-rata nilai hambat panas dikelompokkan berdasarkan faktor persentase perekat
Persentase Perekat
10%
(C2)
15%
(C3)
5%
(C1)
Rata-rata 19,53 19,80 19,94
b. Nilai Mean Squareerror = 0,59 dengan dferror = 27 c. Nilai error standart untuk mean level :
𝑆𝑌̅.𝑗 = √𝑀𝑆 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟
𝑘 , k = jumlah perlakuan
= √0,59
3
= 0,44
d. Nilai Least Significant Range (LSR) diperoleh dengan mengalikan significant range dengan error standart.
Significant Rate 2 3
range 1,29 1,55
e. Menghitung selisih antar level secara berpasangan dan membandingkan dengan nilai LSR. Jika selisih > LSR, maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata interaksi tersebut. Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor persentase perekat tepung ketan putih ditunjukkan pada tabel 4.15
Tabel 4.15 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor persentase perekat
Dari hasil perbandingan diatas, didapatkan selisih rata-rata C3 lebih kecil dari LSR, sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan antara C3 terhadap C2. Begitu pula dengan interaksi antara C1 dengan C2 dan C3.
4. Faktor kombinasi antara komposisi sekam padi dan ampas tebu dengan ukuran partikel
Uji Student Newman-Keuls (SNK) terhadap faktor kombinasi antara komposisi sekam padi dan ampas tebu dengan ukuran partikel dilakukan untuk perhitungan uji hambat panas, dimana hasil eksperimen menunjukkan bahwa faktor komposisi berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas. Berikut merupakan perhitungan untuk keperluan uji SNK:
a. Menyusun rata-rata faktor komposisi dan ukuran partikel dari terkecil ke terbesar. Tabel 4.16 menunjukkan rata-rata nilai hambat panas pada faktor kombinasi komposisi dengan ukuran partikel yang telah diurutkan dari terkecil ke terbesar.
Tabel 4.16 Nilai rata-rata hambat panas dikelompokkan berdasarkan faktor kombinasi antara komposisi dengan ukuran partikel
Komposisi
Ukuran Partikel Mesh 10
(B1)
Mesh 20 (B2)
Mesh 30 (B3) 50%:50%
(A1) 20,10 19,06 18,97 60%:40%
(A2) 19,03 19,79 19,73 70%:30%
(A3) 19,63 20,42 21,05
Perlakuan C2 C3 C1
C2
C3 0,27
C1 0,41 0,14
b. Nilai Mean Squareerror = 0,59 dengan dferror = 27 c. Nilai error standart untuk mean level :
𝑆𝑌̅.𝑗 = √𝑀𝑆 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟
𝑘 , k = jumlah perlakuan
= √0,59
9
= 0,256
d. Nilai Least Significant Range (LSR) diperoleh dengan mengalikan significant range dengan error standard.
Signifikan rate
2 3 4 5 6 7 8 9
2,90 3,51 4,11 4,71 5,32 5,92 6,53 7,13 LSR 0,74 0,90 1,05 1,21 1,36 1,52 1,67 1,83
e. Menghitung selisih antar level secara berpasangan dan membandingkan dengan nilai LSR. Jika selisih > LSR, maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata interaksi tersebut. Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor komposisi bahan dan ukuran partikel ditunjukkan pada tabel 4.17
Tabel 4.17 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor faktor komposisi bahan dan ukuran partikel
Hasil perhitungan didapatkan bahwa A3B3 berbeda signifikan dengan A1B3, Perlakuan A1B3 A2B1 A1B2 A3B1 A2B3 A1B1 A3B2 A3B3
A1B3
A2B1 0,06
A1B2 0,09 0,03
A3B1 0,66 0,60 0,57
A2B3 0,76 0,69 0,66 0,09
A2B2 0,82 0,76 0,72 0,16 0,06
A1B1 1,13 1,07 1,04 0,47 0,38
A3B2 1,45 1,39 1,35 0,79 0,69 0,32
A3B3 2,08 2,02 1,99 1,42 1,32 0,95 0,63
level lebih besar dari nilai LSR. Sedangkan, A1B1 tidak berbeda signifikan dengan A1B3, A2B1, A1B2, A3B1, A2B3, dan A2B2, karena selisih rata-rata dari masing- masing level lebih kecil dari nilai LSR.
5. Faktor kombinasi antara komposisi sekam padi dan ampas tebu dengan persentase perekat tepung ketan putih
Uji Student Newman-Keuls (SNK) terhadap faktor kombinasi antara komposisi sekam padi dan ampas tebu dengan ukuran partikel dilakukan untuk perhitungan uji hambat panas, dimana hasil eksperimen menunjukkan bahwa faktor komposisi berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas. Berikut merupakan perhitungan untuk keperluan uji SNK:
a. Menyusun rata-rata faktor kombinasi komposisi dan persentase perekat dari terkecil ke terbesar. Tabel 4.18 menunjukkan rata-rata nilai hambat panas pada faktor kombinasi komposisi dengan persentase pe rekat yang telah diurutkan dari terkecil ke terbesar.
Tabel 4.18 Nilai rata-rata hambat panas dikelompokkan berdasarkan faktor kombinasi antara komposisi dengan persentase perekat tepung ketan putih
b. Nilai Mean Square = 0,59 dengan df = 27
5% (C1) 10% (C2) 15% (C3) 50:50
(A1) 19,63 19,38 19,13
60:40
(A2) 19,28 19,25 20,01
70:30
(A3) 20,89 19,95 20,26
Perekat Komposisi
c. Nilai error standart untuk mean level : 𝑆𝑌̅.𝑗 = √𝑀𝑆 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟
𝑘 , k = jumlah perlakuan
= √0,59
9
= 0,256
d. Nilai Least Significant Range (LSR) diperoleh dengan mengalikan significant range dengan error standard.
Signifikan rate
2 3 4 5 6 7 8 9
2,90 3,51 4,11 4,71 5,32 5,92 6,53 7,13 LSR 0,74 0,90 1,05 1,21 1,36 1,52 1,67 1,83
e. Menghitung selisih antar level secara berpasangan dan membandingkan dengan nilai LSR. Jika selisih > LSR, maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata interaksi tersebut. Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor komposisi bahan dan persentase perekat ditunjukkan pada tabel 4.19
Perlakuan A1C3 A2C2 A2C1 A1C2 A1C1 A3C2 A2C3 A3C3 A3C1 A1C3
A2C2 0,13
A2C1 0,16 0,03
A1C2 0,25 0,13 0,09
A1C1 0,50 0,38 0,35 0,25
A3C2 0,82 0,69 0,66 0,57 0,32
A2C3 0,88 0,76 0,72 0,63 0,38 0,06
A3C3 1,13 1,01 0,98 0,88 0,63 0,32 0,25
A3C1 1,76 1,64 1,61 1,51 1,26 0,95 0,88 0,63
Tabel 4.19 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor faktor komposisi bahan dan persentase perekat
Tabel 4.21 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putihTabel 4.22 Hasil perhitungan selisih setiap
perlakuan faktor faktor komposisi bahan dan persentase perekat
Tabel 4.23 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putih
Tabel 4.24 Dimensi uji Tarik standar ASTM D-638 Tipe 1Tabel 4.25 Hasil
Hasil perhitungan didapatkan bahwa A3C1 berbeda signifikan terhadap A2C1, A1C2, dan A1C1, karena selisih rata-rata dari masing-masing level lebih besar dari nilai LSR. Sedangkan, untuk faktor kombinasi antara komposisi bahan (A) dengan persentase perekat tepung ketan putih (C) lainnya tidak berbeda signifikan, karena selisih rata-rata dari masing-masing level lebih kecil dari nilai LSR.
6. Faktor kombinasi antara ukuran partikel dengan persentase perekat tepung ketan putih
Uji Student Newman-Keuls (SNK) terhadap faktor kombinasi antara ukuran partikel dengan persentase perekat tepung ketan putih dilakukan untuk perhitungan uji hambat panas, dimana hasil eksperimen menunjukkan bahwa faktor ukuran partikel dan persentase perekat berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas.
Berikut merupakan perhitungan untuk keperluan uji SNK:
a. Menyusun rata-rata faktor kombinasi ukuran partikel dan persentase perekat dari terkecil ke terbesar. Tabel 4.20 menunjukkan rata-rata nilai hambat panas pada faktor ukuran partikel dengan persentase perekat yang telah diurutkan dari terkecil ke terbesar.
Tabel 4.20 Nilai rata-rata hambat panas dikelompokkan berdasarkan faktor kombinasi antara komposisi dengan persentase perekat tepung ketan putih
b. Nilai Mean Squareerror = 0,59 dengan dferror = 27 5%
(C1)
10%
(C2)
15%
(C3)
Mesh 10
(B1) 19,66 19,57 19,54 Mesh 20
(B2) 19,82 19,66 19,79 Mesh 30
(B3) 20,32 19,35 20,07 Perekat
Ukuran Partikel
c. Nilai error standart untuk mean level : 𝑆𝑌̅.𝑗 = √𝑀𝑆 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟
𝑘 , k = jumlah perlakuan
= √0,59
9
= 0,256
d. Nilai Least Significant Range (LSR) diperoleh dengan mengalikan significant range dengan error standard.
Signifikan rate
2 3 4 5 6 7 8 9
2,90 3,51 4,11 4,71 5,32 5,92 6,53 7,13 LSR 0,74 0,90 1,05 1,21 1,36 1,52 1,67 1,83
e. Menghitung selisih antar level secara berpasangan dan membandingkan dengan nilai LSR. Jika selisih > LSR, maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata interaksi tersebut. Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putih ditunjukkan pada tabel 4.21
Tabel 4.21 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putih
Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa tidak ditemukan faktor kombinasi ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putih yang berbeda signifikan antar level berpasangan. Hal tersebut dikarenakan selisih rata-rata
Perlakuan B3C2 B1C3 B1C2 B2C2 B1C1 B2C3 B2C1 B3C3 B3C1 B3C2
B1C3 0,19
B1C2 0,22 0,03
B2C2 0,32 0,13 0,09
B1C1 0,32 0,13 0,09 0,00
B2C3 0,44 0,25 0,22 0,13 0,13
B2C1 0,47 0,28 0,25 0,16 0,16 0,03
B3C3 0,72 0,54 0,50 0,41 0,41 0,28 0,25
B3C1 0,98 0,79 0,76 0,66 0,66 0,54 0,50 0
7. kombinasi seluruh faktor
Uji Student Newman-Keuls (SNK) terhadap kombinasi seluruh faktor yang terdiri dari faktor komposisi sekam padi dan ampas tebu, ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putih dilakukan untuk perhitungan uji hambat panas, dimana hasil eksperimen menunjukkan bahwa seluruh faktor kombinasi berpengaruh signifikan terhadap nilai hambat panas. Berikut merupakan perhitungan untuk keperluan uji SNK:
a. Menyusun rata-rata seluruh faktor kombinasi dari terkecil ke terbesar. Tabel 4.22 menunjukkan rata-rata nilai hambat panas pada keseluruhan faktor yang telah diurutkan dari terkecil ke terbesar.
Tabel 4.22 Nilai rata-rata hambat panas dikelompokkan berdasarkan kombinasi seluruh faktor
b. Nilai Mean Squareerror = 0,59 dengan dferror = 27 c. Nilai error standart untuk mean level :
𝑆𝑌̅.𝑗 = √𝑀𝑆 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟
𝑘 , k = jumlah perlakuan
= √0,59
27
= 0,148
5% (C1) 10% (C2) 15% (C3) Mesh 10
(B1) 20,23 20,14 19,95 Mesh 20
(B2) 19,10 19,19 18,91 Mesh 30
(B3) 19,57 18,81 18,53 Mesh 10
(B1) 19,47 18,72 18,91 Mesh 20
(B2) 19,38 19,76 20,23 Mesh 30
(B3) 19,00 19,28 20,89 Mesh 10
(B1) 19,28 19,85 19,76 Mesh 20
(B2) 20,99 20,04 20,23 Mesh 30
(B3) 22,40 19,95 20,80 Persentase Perekat © Ukuran
Partikel (B) Komposisi
(A)
70% : 30%
(A3) 60% : 40%
(A2) 50% : 50%
(A1)
d. Nilai Least Significant Range (LSR) diperoleh dengan mengalikan significant range dengan error standard.
e. Menghitung selisih antar level secara berpasangan dan membandingkan dengan nilai LSR. Jika selisih > LSR, maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata interaksi tersebut. Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor kombinasi seluruh faktor pada tabel 4.23
Perlakuan A1B3C3 A2B1C2 A1B3C2 A2B1C3 A1B2C3 A2B3C1 A1B2C1 A1B2C2 A3B1C1 A2B3C2 A2B2C1 A2B1C1 A1B3C1 A2B2C2 A3B1C3 A3B1C2 A1B1C3 A3B3C2 A3B2C2 A1B1C2 A2B2C3 A3B2C3 A1B1C1 A3B3C3 A2B3C3 A3B2C1 A3B3C1 A1B3C3
A2B1C2 0,19 A1B3C2 0,28 0,09 A2B1C3 0,38 0,19 0,09 A1B2C3 0,38 0,19 0,09 0,00 A2B3C1 0,47 0,28 0,19 0,09 0,09
A1B2C1 0,57 0,38 0,28 0,19 0,19 0,09
A1B2C2 0,66 0,47 0,38 0,28 0,28 0,19 0,09
A3B1C1 0,76 0,57 0,47 0,38 0,38 0,28 0,19 0,09
A2B3C2 0,76 0,57 0,47 0,38 0,38 0,28 0,19 0,09 0,00
A2B2C1 0,85 0,66 0,57 0,47 0,47 0,38 0,28 0,19 0,09 0,09
A2B1C1 0,95 0,76 0,66 0,57 0,57 0,47 0,38 0,28 0,19 0,19 0,09
A1B3C1 1,04 0,85 0,76 0,66 0,66 0,57 0,47 0,38 0,28 0,28 0,19 0,09
A2B2C2 1,23 1,04 0,95 0,85 0,85 0,76 0,66 0,57 0,47 0,47 0,38 0,28 0,19
A3B1C3 1,23 1,04 0,95 0,85 0,85 0,76 0,66 0,57 0,47 0,47 0,38 0,28 0,19 0,00
A3B1C2 1,32 1,13 1,04 0,95 0,95 0,85 0,76 0,66 0,57 0,57 0,47 0,38 0,28 0,09 0,09
A1B1C3 1,42 1,23 1,13 1,04 1,04 0,95 0,85 0,76 0,66 0,66 0,57 0,47 0,38 0,19 0,19 0,09
A3B3C2 1,42 1,23 1,13 1,04 1,04 0,95 0,85 0,76 0,66 0,66 0,57 0,47 0,38 0,19 0,19 0,09 0,00
A3B2C2 1,51 1,32 1,23 1,13 1,13 1,04 0,95 0,85 0,76 0,76 0,66 0,57 0,47 0,28 0,28 0,19 0,09 0,09
A1B1C2 1,61 1,42 1,32 1,23 1,23 1,13 1,04 0,95 0,85 0,85 0,76 0,66 0,57 0,38 0,38 0,28 0,19 0,19 0,09
A2B2C3 1,70 1,51 1,42 1,32 1,32 1,23 1,13 1,04 0,95 0,95 0,85 0,76 0,66 0,47 0,47 0,38 0,28 0,28 0,19 0,09
A3B2C3 1,70 1,51 1,42 1,32 1,32 1,23 1,13 1,04 0,95 0,95 0,85 0,76 0,66 0,47 0,47 0,38 0,28 0,28 0,19 0,09 0,00
A1B1C1 1,70 1,51 1,42 1,32 1,32 1,23 1,13 1,04 0,95 0,95 0,85 0,76 0,66 0,47 0,47 0,38 0,28 0,28 0,19 0,09 0,00 0,00
A3B3C3 2,27 2,08 1,99 1,89 1,89 1,80 1,70 1,61 1,51 1,51 1,42 1,32 1,23 1,04 1,04 0,95 0,85 0,85 0,76 0,66 0,57 0,57 0,57
A2B3C3 2,36 2,17 2,08 1,99 1,99 1,89 1,80 1,70 1,61 1,61 1,51 1,42 1,32 1,13 1,13 1,04 0,95 0,95 0,85 0,76 0,66 0,66 0,66 0,09
A3B2C1 2,46 2,27 2,17 2,08 2,08 1,99 1,89 1,80 1,70 1,70 1,61 1,51 1,42 1,23 1,23 1,13 1,04 1,04 0,95 0,85 0,76 0,76 0,76 0,19 0,09
A3B3C1 3,88 3,69 3,59 3,50 3,50 3,40 3,31 3,21 3,12 3,12 3,03 2,93 2,84 2,65 2,65 2,55 2,46 2,46 2,36 2,27 2,17 2,17 2,17 1,61 1,51 1,42
Tabel 4.23 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putih
Tabel 4.29 Dimensi uji Tarik standar ASTM D-638 Tipe 1Tabel 4.30 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putih
Tabel 4.31 Dimensi uji Tarik standar ASTM D-638 Tipe 1
Tabel 4.32 Hasil perhitungan nilai tegangan spesimen uji tarikTabel 4.33 Dimensi uji Tarik standar ASTM D-638 Tipe 1Tabel 4.34 Hasil perhitungan selisih setiap perlakuan faktor ukuran partikel dan persentase perekat tepung ketan putih