• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. LAPORAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. LAPORAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

4. LAPORAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Secara Umum Tentang Tol Laut dan PT. PELNI Sebagai Pelaksananya.

4.1.1. Tol Laut

Tol laut merupakan konsep pengangkutan logistik kelautan yang dicetuskan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Wikipedia, 2016).

Program ini bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di nusantara (Wikipedia, 2016). Dengan adanya hubungan antara pelabuhan- pelabuhan laut ini, maka dapat diciptakan kelancaran distribusi barang hingga ke pelosok (Wikipedia, 2016).

Tol laut diartikan sebagai sebuah gagasan mengenai transportasi laut yang mampu beroperasi dengan efektif dan efisien, dengan berorientasi kepada kesetaraan harga barang di seluruh wilayah Indonesia (Ahlan, 2015). Tol laut merupakan konektivitas laut yang efektif berupa adanya kapal yang melayari secara rutin dan terjadwal dari barat sampai ke timur Indonesia (Mohammad, 2016). Menurut Jokowi tol laut yang dimaksud adalah membangun transportasi laut dengan kapal atau sistem logistik kelautan, yang melayani tanpa henti dari Sabang hingga Merauke (Presidenri.go.id, 2015). Tujuannya ialah menggerakkan roda perekonomian secara efisien dan merata. Dimana akan ada kapal-kapal besar dengan kapasitas 350-550 TEUs yang bolak-balik di laut Indonesia, sehingga biaya logistik menjadi murah.

Jokowi menyebut alasan pengembangan konsep tol laut ini karena adanya disparitas harga antara wilayah barat dan timur Indonesia yang membuat moda angkutan laut yang terbilang paling murah harus digenjot, dengan harapan ongkos logistik bisa terpangkas dengan adanya tol laut.

Berikut ini elemen-elemen yang ada dalam program Tol Laut peti kemas:

a. Pelabuhan yang handal

b. Kecukupan muatan Barat-Timur, Timur-Barat c. Shipping Industry

d. Pelayaran rutin dan berjadwal

(2)

e. Inland akses yang efektif

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) RJ Lino 2014), menyatakan, konsep tol laut milik presiden Joko Widodo sebenarnya mirip dengan konsep Pendulum Nusantara yang dilontarkan Pelindo. Pendulum Nusantara adalah sebuah sistem transportasi barang dengan menggunakan kapal ukuran besar (kapasitas 3000-4000 TEU) yang melewati sebuah jalur laut utama dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia secara rutin (Burhanudinsyah, 2014). Karena pola gerakannya dari barat ke timur dan kemudian berbalik timur ke barat (seperti gerakan sebuah pendulum ketika digoyangkan), maka program ini disebut Pendulum Nusantara (Burhanudinsyah, 2014).

Gambar 4.1. Perkembangan Skema Pendulum Nusantara Sumber: IPC (2012)

Di dalam jalur laut utama tersebut, akan ada 5 pelabuhan utama yang akan disinggahi oleh kapal-kapal tersebut, yaitu Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar dan Sorong (Papua) (Burhanudinsyah, 2014). Lima pelabuhan ini juga berfungsi sebagai titik simpul atau hub regional bagi daerah di sekitarnya (disebut dengan loop). Barang-barang

(3)

akan dikirim ke pelabuhan di sekitarnya menggunakan kapal yang lebih kecil (Burhanudinsyah, 2014).

Ada enam trayek yang masuk program tol laut.

a. Trayek pertama (T-1) dengan rute Tanjung Perak-Wanci (Wakatobi)- Namlea-Fakfak-Kaimana-Timika pulang pergi sejauh 3426 mil yang saat ini telah dilayani KM Freedom.

b. Trayek T-2 dengan rute Tanjung Perak-Kalabahi-Moa-Saumlaki-Dobo- Merauke pulang pergi sejauh 3.874 mil dilayani oleh KM Mentari Perdana.

c. Trayek T-3 dengan rute Tanjung Perak-Larantuka-Lewoleba-Rote-Sabu- Waingapu pulang pergi sejauh 2.078 mil dilayani oleh KM Caraka Niaga Jaya 3- 22.

d. Trayek T-4 dengan rute Tanjung Priok- Makasar-Manokwari-Wasior- Nabire-Serui-Biak pulang pergi sejauh 4.644 mil dilayani oleh KM Meratus Ultima.

e. Trayek T-5 dengan rute Makassar-Tahuna-Lirung-Morotai-Tobelo- Ternate-Babang-Ternate pulang pergi sepanjang 2.608 mil.

f. Terakhir Trayek T-6 dengan rute Tanjung Priok-Tarempa-Natuna pulang pergi sejauh 1.400 mil saat ini telah dilayani Km Caraka Jaya Niaga 3-4 (PT.PELNI, 2016).

4.1.2. PT. PELNI

PT Pelayaran Nasional Indonesia merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kegiatan utamanya adalah menyediakan jasa angkutan transportasi laut yang meliputi jasa angkutan penumpang dan jasa angkutan muatan barang antar pulau. Saat ini PT. PELNI telah mengoperasikan 26 unit armada kapal penumpang yang diklasifikasi berdasarkan kapasitas jumlah penumpang, , diantaranya : Kapal tipe 3.000 pax, tipe 2.000 pax, tipe 1.000 pax, tipe 500 pax, tipe Ro-Ro (Roll on - Roll off) dan 1 unit kapal ferry cepat dengan kapasitas seluruhnya berjumlah 36.913 penumpang. Disamping itu PT Pelni juga mengoperasikan 46 kapal perintis, 6 kapal barang tol laut dan 1 kapal ternak.

Tidak hanya terbatas melayani rute komersial, PT. PELNI juga melayani pelayaran dengan rute pulau-pulau kecil terluar. Hingga saat ini kapal PT. PELNI

(4)

telah menyinggahi 95 pelabuhan kapal penumpang dan lebih dari 300 pelabuhan kapal perintis dengan 46 kantor cabang dan dilayani di 400 travel agen yang tersebar di seluruh Indonesia.

4.2. Profil Informan

Data dari hasil penelitian ini didapatkan oleh peneliti melalui wawancara.

Dimana seluruh informan yang diwawancarai adalah PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) di Surabaya dan 3 Perusahaan Pelayaran Swasta di Surabaya.

Berikut di bawah ini adalah profil informan:

Tabel 4.1. Data Dari Informan

INSTANSI JABATAN JENIS DATA KETERANGAN PT. PELNI Manajer

Operasional

Data Primer Wawancara

Data Sekunder Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut

PT. TT Manajer

Operasional Data Primer Wawancara PT. TM Staff Marketing Data Primer Wawancara

Data Sekunder Laporan Rute TIM MKQ PT. MR Staff Keuangan Data Sekunder Daftar Rute Perusahaan

Sumber: Data Penelitian, diolah (Peneliti ; 2016)

4.3. Deskripsi Hasil Penelitian

Setelah melakukan wawancara dengan sumber-sumber yang ada, data yang didapat oleh peneliti adalah data kualitatif berupa transkrip wawancara, dan juga data kuantitatif berupa angka-angka (terlampir). Karena itu akan dilakukan dua macam pengolahan data, yang pertama untuk pengolahan data kualitatif yang berupa transkrip wawancara tentang tol laut, akan dibuang hal-hal yang tidak diperlukan, diolah, dan disusun sedemikian rupa, kemudian didapatkan data yang valid yang merupakan intisari dari wawancara. Sehingga data tersebut dapat menjawab rumusan masalah yang ada. Data yang telah direduksi akan disajikan oleh penulis dalam bentuk teks naratif dengan tujuan agar data lebih mudah dipahami. Sedangkan untuk data kuantitatif akan dilakukan pengolahan dengan menggunakan teknik analisis trend dengan metode Least Square, dimana teknik

(5)

ini dapat melihat kecenderungan data di masa depan, apakah data cenderung naik, turun, atau stabil. Data yang telah diolah dengan menggunakan teknik analisis trend ini kemudian akan ditampilkan dalam bentuk grafik.

Terdapat 3 rute tol laut yang berasal dari Surabaya ke Indonesia Timur dan sebaliknya, antara lain:

1. Surabaya – Wanci – Namlea – Fak-Fak – Kaimana – Timika dan sebaliknya.

Dilayani oleh kapal : KM. Caraka Jaya Niaga III-32 yang digantikan dengan kapal KM. Freedom.

Gambar 4.2. Muatan Kapal KM. Caraka Jaya Niaga III-32 yang Digantikan

KM. Freedom (dalam TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut, diolah

Rute dari trayek 1 ini merupakan rute yang pertama kali dijalankan sebelum ada rute-rute lainnya yaitu pada November 2015, namun rute ini baru mulai stabil pada tahun 2016. Trayek 1 yang mulanya menggunakan kapal KM.

Caraka Jaya Niaga III-32, pada Mei 2016 digantikan oleh kapal KM. Freedom yang memiliki kapasitas muatan sebesar 180 TEUs dalam sekali keberangkatan. Seperti yang terlihat pada Gambar 4.2., jika data jumlah muatan yang diangkut terakhir kali oleh kapal dibandingkan dengan data jumlah muatan kapal saat pertama kali dijalankan pada tahun 2016, kapal mengalami kenaikan muatan sebesar 107,32%. Dari kapasitas muatan yang

y = 15.057x + 56.467 R² = 0.77509

0 50 100 150 200

1 2 3 4 5 6

Volume (TEUs)

Periode Keberangkatan (2016) KM. CARAKA JAYA NIAGA III-32 >> KM. FREEDOM Linear (KM. CARAKA JAYA NIAGA III-32 >> KM. FREEDOM)

(6)

dimiliki kapal dalam sekali berangkat dan data muatan terakhir dimiliki oleh peneliti, muatan kapal sudah dapat memenuhi sebesar 94,44% dari kapasitas yang dimiliki kapal dalam sekali keberangkatan. Selain itu dari hasil analisis trend-nya juga dapat dilihat bahwa di masa yang akan datang muatan kapal KM. Freedom ini memiliki peluang untuk terus naik.

Selain grafik muatan kapal secara keseluruhan, berikut merupakan grafik muatan untuk setiap kota yang dilalui dalam trayek 1 beserta grafik analisis trend-nya:

Gambar 4.3. Muatan Kapal Untuk Setiap Kota yang Dilalui Trayek 1(dalam

TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut, diolah

y = 3.3429x + 6.1333 R² = 0.64152 y = 6.6286x - 11.867

R² = 0.83821

y = -1.5429x + 37.067 R² = 0.27527 y = 0.5429x + 25.933

R² = 0.03091 y = 6.0857x - 0.8

R² = 0.89831

-10 -5 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

1 2 3 4 5 6

Volume (TEUs)

Periode Keberangkatan (2016)

WANCI NAMLEA FAK-FAK

KAIMANA TIMIKA Linear (WANCI)

Linear (NAMLEA) Linear (FAK-FAK) Linear (KAIMANA) Linear (TIMIKA)

(7)

Pada Gambar 4.3. terlihat bahwa ketika dilakukan perhitungan trend analisis, dari 5 kota yang dilalui dalam trayek 1, Fak-Fak adalah satu-satunya kota yang memiliki hasil perhitungan yang negatif. Dalam Gambar 4.3 ditunjukkan bahwa kota Fak-Fak memiliki garis trend analisis yang memiliki kemiringan negatif (dari kiri atas ke kanan bawah), hal itu menunjukkan bahwa di masa depan muatan yang dibawa menuju kota Fak-Fak memiliki kemungkinan untuk terus menurun.

2. Surabaya – Kalabahi – Moa – Saumlaki – Dobo – Merauke dan sebaliknya.

Dilayani oleh kapal : KM Nusantara Pelangi 101 yang digantikan dengan kapal KM. Mentari Perdana

Gambar 4.4. Muatan Kapal KM. Nusantara Pelangi 101 yang Digantikan KM.

Mentari Perdana (dalam TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut, diolah

Trayek 2 pertama kali dijalankan mulai Maret 2016 dengan menggunakan kapal KM. Nusantara Pelangi 101, yang kemudian digantikan oleh KM.

Mentari Perdana pada April 2016 dengan kapasitas muatan kapal sebesar 180 TEUs untuk tiap keberangkatan. Setelah kemunculan perdananya tersebut, hingga bulan Agustus 2016, KM. Mentari Perdana memiliki frekuensi keberangkatan 2 bulan sekali. Sampai bulan Agustus 2016 kapal dari trayek 2 ini telah melakukan pelayaran sebanyak 4 kali, meskipun demikian kapal ini

y = 45.1x + 23 R² = 0.926

0 50 100 150 200 250

1 2 3 4

Volume (TEUs)

Periode keberangkatan (2016)

KM. NUSANTARA PELANGI - 101 >> KM. MENTARI PERDANA Linear (KM. NUSANTARA PELANGI - 101 >> KM. MENTARI PERDANA)

(8)

mengalami kenaikan volume yang paling banyak jika dibandingkan dengan kedua trayek lainnya, yaitu sebesar 250% (dihitung dari data muatan kapal saat terakhir kali berlayar, dibandingkan dengan data awal saat kapal pertama kali berlayar). Berdasarkan data terakhir yang dimiliki oleh peneliti muatan terakhir yang dibawa kapal dari trayek 2 ini berhasil memenuhi 100% dari kapasitas muatan kapal untuk sekali keberangkatan. Untuk perhitungan analisis trend, kapal ini pun menunjukkan kemiringan garis yang positif, dimana dari perhitungan ini dapat dilihat bahwa di masa yang akan datang kapal ini dapat mengalami kenaikan muatan yang cukup bagus.

Selain grafik muatan kapal secara keseluruhan, berikut merupakan grafik muatan untuk setiap kota yang dilalui dalam trayek 2 beserta grafik analisis trend-nya:

Gambar 4.5. Muatan Kapal Untuk Setiap Kota Yang Dilalui Trayek 2 (dalam

TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut, diolah

y = -3.7x + 27 R² = 0.11548 y = 4x - 1.5 R² = 0.2623 y = 16.3x - 19 R² = 0.95934

y = 32.2x + 2.5 R² = 0.95755 y = -3.7x + 14 R² = 0.96749

-20 0 20 40 60 80 100 120 140

1 2 3 4

Volume (TEUs)

Periode Keberangkatan (2016)

KALABAHI MOA SAUMLAKI

DOBO MERAUKE Linear (KALABAHI)

Linear (KALABAHI) Linear (MOA) Linear (SAUMLAKI) Linear (DOBO)

(9)

Dari Gambar 4.5 dapat dilihat bahwa dari kota-kota yang dilalui dalam trayek 2 terdapat 2 kota yang memiliki perhitungan trend analisis yang negatif, yaitu kota Kalabahi dan Merauke. Berdasarkan data muatan yang dibawa oleh kapal, kota Kalabahi sempat mengalami kenaikan jumlah muatan, namun pada periode akhir keberangkatan kapal, tidak ada muatan yang diangkut untuk kota Kalabahi. Ketika dilakukan perhitungan trend analisis, kota Kalabahi memiliki kecenderungan untuk penurunan jumlah muatan. Untuk kota Merauke, dari awal periode keberangkatan kapal, sampai periode yang terakhir, muatan untuk kota Merauke terus mengalami penurunan. Perhitungan trend analisis untuk muatan yang diangkut ke Merauke juga menunjukkan hasil yang negatif.

3. Surabaya – Larantuka – Lewoleba – Rote – Sabu – Waingapu dan sebaliknya.

Dilayani oleh kapal : KM. Caraka Jaya Niaga III-22

Gambar 4.6. Muatan Kapal KM. Caraka Jaya Niaga III-22 (dalam TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut, diolah

Trayek 3 ini pertama kali dijalankan pada bulan Februari 2016. Kapal KM.

Caraka Jaya Niaga III-22 memiliki kapasitas muatan kapal sebesar 106 TEUs dalam sekali keberangkatan. Berdasarkan data muatan kapal yang dimiliki oleh

y = 5.5714x + 65.571 R² = 0.85473

0 20 40 60 80 100 120

1 2 3 4 5 6 7

Volume (TEUs)

Periode Keberangkatan (2016) KM. CARAKA JAYA NIAGA III-22 Linear (KM. CARAKA JAYA NIAGA III-22 )

(10)

peneliti, muatan kapal berhasil memenuhi 96,23% dari kapasitas kapal untuk sekali keberangkatan. Jika dihitung dari pertama kali kapal dijalankan sampai bulan data terakhir yang dimiliki oleh peneliti, kapal mengalami kenaikan muatan sebesar 41,67%. Kemiringan garis yang menunjukkan perhitungan analisis trend juga menunjukkan perkembangan yang cukup positif untuk kenaikan muatan di masa yang akan datang.

Selain grafik muatan kapal secara keseluruhan, berikut merupakan grafik muatan untuk setiap kota yang dilalui dalam trayek 3 beserta grafik analisis trend-nya:

Gambar 4.7. Muatan Kapal Untuk Setiap Kota yang Dilalui Trayek 3(dalam

TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut, diolah

y = 2.1429x + 13.571 R² = 0.5984 y = -3.7143x + 43.286

R² = 0.32523 y = 2.1429x - 0.5714

R² = 0.27473 y = 4.8214x - 1.7143

R² = 0.86358 y = 0.1786x + 11

R² = 0.00271

0 10 20 30 40 50 60

1 2 3 4 5 6 7

Volume (TEUs)

Periode Keberangkatan (2016)

LARANTUKA LEWOLEBA ROTE

SABU WAINGAPU Linear (LARANTUKA)

Linear (LEWOLEBA) Linear (ROTE) Linear (SABU) Linear (WAINGAPU)

(11)

Pada Gambar 4.7. ditunjukkan bahwa selain kota Lewoleba, semua kota memiliki kemiringan garis trend analisis yang positif. Dalam trayek 3 ini, karena hasil perhitungan trend analisis-nya yang negatif, kota Lewoleba merupakan satu-satunya kota yang memiliki kemungkinan penurunan jumlah muatan di masa depan, sedangkan untuk kota-kota lain yang dilalui dalam trayek 3 memiliki kemungkinan untuk terus mengalami kenaikan jumlah muatan di masa depan.

4.4. Analisis dan Pembahasan

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian, peneliti akan menganalisa lebih jauh bagaimana perkembangan proyek tol laut ini supaya selaras dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan tol laut oleh PT.

PELNI dilihat dari aspek rute, volume, dan frekuensi.

4.4.1. Perkembangan Rute Tol Laut

Rute dalam penelitian ini adalah arah yang ditempuh oleh kapal, dan yang menjadi tolak ukurnya adalah konsistensi rute. Melihat perkembangan rute tol laut dari dan ke Surabaya mulai dari awal dilaksanakannya program tol laut pada November 2015 sampai tahun 2016 dapat dilihat bahwa rute tol laut tidak banyak mengalami perubahan atau bisa dikatakan konsisten. Dari 3 trayek yang ada, hanya ada satu perubahan rute dari trayek 1 yaitu rute yang semula Surabaya – Tual – Fak-Fak – Kaimana – Timika dan sebaliknya berubah menjadi Surabaya – Wanci – Namlea – Fak-Fak – Kaimana – Timika dan sebaliknya. Rute dari trayek 1 tersebut merupakan rute yang pertama kali dijalankan oleh PT. PELNI di Surabaya yaitu pada November 2015. Baru pada tahun 2016 terdapat penambahan 2 rute baru, yaitu pada Februari 2016 rute Surabaya – Larantuka – Lewoleba – Rote – Sabu – Waingapu dan sebaliknya yang dilayani oleh kapal KM. Caraka Jaya Niaga III-22 dan pada Maret 2016 rute Surabaya – Kalabahi – Moa – Saumlaki – Dobo – Merauke dan sebaliknya yang dilayani oleh kapal KM Nusantara Pelangi 101 yang kemudian digantikan dengan kapal KM. Mentari Perdana.

Adanya konsistensi rute ini dianggap oleh peneliti sebagai hal yang positif.

Manfaat yang bisa dirasakan dengan adanya konsistensi rute ini antara lain:

(12)

~ Pemerintah atau PT. PELNI sebagai pelaksana program tol laut secara tidak langsung dapat mengontrol ketersediaan barang di rute-rute yang sudah ditentukan.

~ Dapat menciptakan pesanan di kota-kota tujuan sesuai dengan kebutuhan pasar.

~ Dapat menjadi tolak ukur untuk penilaian kerja PT. PELNI yang lebih akurat.

Namun ketika penelitian ini dilakukan terdapat isu-isu yang berkembang di masyarakat. Isu-isu tersebut terkait dengan perusahaan pelayaran swasta yang merasa dirugikan karena rute tol laut bukan merupakan rute baru, tetapi mengambil rute komersial milik swasta. Menurut Ketua Dewan Pimpinan Cabang Indonesia National Shipowners Association Surabaya Stenvens H. Lesawengen, program tol laut yang bertujuan mengikis disparitas harga barang antara Pulau Jawa dan non-Jawa memiliki implementasi yang salah, kesalahan yang dimaksud ialah keberadaan PT. PELNI sebagai kepanjangan tangan pemerintah justru mematikan kiprah swasta. Ini disebabkan jalur pelayaran yang dilalui kapal pemerintah dengan kapal swasta ada di ruas yang sama sehingga saling bertabrakan. Selain itu Stenvens juga menyatakan biaya angkut kontainer (freight) kapal PT. PELNI jauh lebih murah dibanding swasta dikarenakan subsidi yang diberikan pemerintah. Dani Suantie, seorang pemilik kapal di Surabaya, juga mengatakan sekarang mulai banyak kapal yang berhenti melaut (Industri.bisnis.com, 2016).

Karena adanya isu-isu yang berkembang tersebut ketika penelitian ini dilakukan, peneliti juga melakukan wawancara dengan pihak pelayaran swasta yang memiliki rute pelayaran dari Surabaya ke Indonesia Timur dan sebaliknya.

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan 3 perusahaan pelayaran swasta, didapatkan rute-rute perusahaan pelayaran swasta yang berasal dari Surabaya ke Indonesia Timur dan sebaliknya, yang dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Berdasarkan dari hasil wawancara, untuk rute pelayaran dari Surabaya ke Indonesia Timur dan sebaliknya, PT. PELNI selaku pelaksana program tol laut memiliki rute yang lebih panjang jika dibandingkan dengan perusahaan pelayaran swasta. Untuk ketiga trayek yang dimilikinya, tol laut melalui masing-masing 6 kota, sedangkan perusahaan pelayaran swasta untuk setiap rute yang mereka miliki, hanya melalui 2 sampai 5 kota. Dari 3 perusahaan pelayaran swasta yang

(13)

diwawancarai, kesamaan rute pelayaran dengan PT. PELNI hanya ditemukan pada PT. TM. Dimana seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.2. rute ke 4 yang dimiliki oleh PT. TM melewati kota yang sama seperti trayek 1 dan trayek 3 tol laut, yaitu Timika dan Merauke. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, rute PT. TM tersebut juga baru dilaksanakan pada bulan Februari 2016. Berdasarkan data tersebut, maka membuktikan bahwa isu-isu yang berkembang di masyarakat yang menyatakan bahwa program tol laut yang dijalankan oleh PT. PELNI selaku salah satu BUMN pemerintah, mengambil rute komersial milik swasta tidaklah benar.

Rute maupun kota-kota yang dilewati dalam rute-rute tol laut adalah sama sekali baru.

Tabel 4.2. Rute Perusahaan Pelayaran Swasta

PERUSAHAAN RUTE PELAYARAN

PT. TT Surabaya - Makassar - Manokwari – Jayapura Surabaya - Makassar - Nabire – Sorong

PT. TM

Surabaya - Makassar – Jayapura

Surabaya - Makassar - Sorong - Manokwari - Biak Surabaya - Makassar - Sorong - Biak – Serui Surabaya - Makassar - Ambon - Timika - Merauke

PT. MR

Surabaya - Benete – Lembar Surabaya – Kupang Surabaya - Reo – Maumere

Surabaya – Dili Surabaya – Wini Sumber: Data Penelitian, diolah (Peneliti ; 2016)

4.4.2. Perkembangan Frekuensi

Frekuensi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seberapa seringnya kapal melakukan pelayaran dari Surabaya ke wilayah Timur Indonesia dalam waktu tertentu, dan yang menjadi tolak ukur adalah banyaknya jumlah kunjungan pelayaran ke pelabuhan-pelabuhan di wilayah Indonesia Timur dalam waktu tertentu.

Menurut data yang ada, pelayaran yang dilakukan oleh tol laut termasuk dalam pelayaran liner tetap, dimana kapal-kapal yang digunakan untuk program tol laut ini sudah memiliki jadwal keberangkatan yang tetap. Jadi jadwal

(14)

keberangkatan kapal tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya muatan dalam kapal.

Sampai saat ini 2 kapal tol laut yaitu KM. Caraka Jaya Niaga III-22 dan KM.

Freedom memiliki jumlah kunjungan pelayaran ke pelabuhan-pelabuhan di wilayah Indonesia Timur sebanyak 1 bulan 1 kali, sedangkan untuk KM. Mentari Perdana masih 2 bulan sekali.

Ada pun kapal-kapal perusahaan pelayaran swasta yang memiliki rute pelayaran dari Surabaya ke wilayah Timur Indonesia, juga termasuk dalam pelayaran liner tetap. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, jumlah kunjungan kapal-kapal tol laut ke pelabuhan-pelabuhan di wilayah Indonesia Timur memang lebih jarang jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan kapal- kapal yang dimiliki perusahaan pelayaran swasta ke pelabuhan-pelabuhan di wilayah Indonesia Timur. Untuk rute pelayaran ke Timur rata-rata perusahaan pelayaran swasta memiliki jumlah kunjungan 2 sampai 3 kali dalam sebulan, namun terkadang ada juga perusahaan pelayaran swasta yang memilki jumlah kunjungan ke pelabuhan-pelabuhan di wilayah Indonesia Timur sebanyak lebih dari 3 kali dalam sebulan. Data mengenai frekuensi pelayaran perusahaan swasta dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Frekuensi Pelayaran Perusahaan Pelayaran Swasta

PERUSAHAAN RUTE PELAYARAN Frekuensi

PT. TT Surabaya - Makassar - Manokwari - Jayapura 10 hari 1x Surabaya - Makassar - Nabire - Sorong 10 hari 1x

PT. TM

Surabaya - Makassar – Jayapura 10 hari 3x Surabaya - Makassar - Sorong - Manokwari

– Biak 20 hari 1x

Surabaya - Makassar - Sorong - Biak - Serui 20 hari 1x Surabaya - Makassar - Ambon - Timika –

Merauke 10 hari 1x

PT. MR

Surabaya - Benete – Lembar 8 hari 1x Surabaya – Kupang 5 hari 1x Surabaya - Reo – Maumere 10 hari 1x

Surabaya – Dili 6 hari 1x

Surabaya – Wini 10 hari 1x Sumber: Data Penelitian, diolah (Peneliti ; 2016)

(15)

Perbedaan jumlah kunjungan pelayaran milik PT. PELNI dan pelayaran milik perusahaan swasta untuk ke pelabuhan-pelabuhan di Indonesia Timur ini disebabkan oleh 2 faktor, yaitu panjangnya rute dan jumlah kapal yang dimiliki.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, rute pelayaran yang dimiliki tol laut lebih panjang jika dibandingkan dengan rute pelayaran milik perusahaan swasta.

Lebih panjangnya rute yang dimiliki tol laut menyebabkan kapal-kapal tol laut membutuhkan waktu berlayar yang lebih lama dibandingkan dengan kapal-kapal perusahaan pelayaran swasta yang memiliki rute yang lebih pendek. Untuk trayek 1 dan trayek 3 kapal tol laut membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan pulang- pergi, sedangkan untuk trayek 2 kapal tol laut membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan untuk pulang pergi. Selain karena perbedaan panjang rute yang dimiliki, perbedaan jumlah kapal yang dimiliki PT. PELNI dan perusahaan pelayaran swasta juga mempengaruhi frekuensi pelayaran keduanya. PT. PELNI yang sebelumnya hanya melayani kapal penumpang, hanya memiliki 1 kapal barang untuk masing-masing trayek. Sedangkan untuk menjalankan masing-masing rutenya, perusahaan pelayaran swasta memiliki minimal 2 kapal. Faktor-faktor inilah yang akhirnya menjadi penyebab perbedaan frekuensi pelayaran antara tol laut dan perusahaan pelayaran swasta.

4.4.3. Perkembangan Volume

Volume dalam penelitian ini adalah jumlah kontainer (TEUs) yang diangkut oleh kapal dari Surabaya ke wilayah timur Indonesia dan dalam penelitian ini yang yang menjadi tolak ukur penelitian adalah ada tidaknya kenaikan jumlah muatan yang dibawa oleh kapal. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa ketiga trayek tol laut semuanya mengalami kenaikan jumlah muatan, dan ketika ditarik garis trend analisisnya, ketiganya memiliki kemiringan yang positif (dapat dilihat dalam Gambar 4.8.). Namun dari kota-kota yang dilalui oleh rute-rute tol laut, ditemukan beberapa kota yang memiliki garis trend analisis dengan kemiringan yang negatif, yaitu Fak-Fak (trayek 1), Kalabahi, Merauke (trayek 2), dan Lewoleba (trayek 3).

Pada awal mula dijalankannya tol laut, kapal-kapal yang dijalankan hampir sebagian besar tidak memiliki muatan yang cukup. Namun jika mengarah pada

(16)

data yang ada, meskipun program tol laut berjalan belum genap 1 tahun jumlah muatannya terus mengalami kenaikan. Sekarang rata-rata muatan tiap kapal sebesar 100 TEUs ke atas dan dari data terakhir yang dimiliki oleh peneliti yaitu Agustus 2016 muatan yang dibawa oleh kapal-kapal tol laut berhasil memenuhi sekitar 95%sampai 100% dari kapasitas muatan untuk tiap keberangkatan yang dimiliki oleh masing-masing kapal.

Gambar 4.8. Muatan 3 Kapal dari 3 Trayek Tol Laut (dalam TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut, diolah

Ditunjukkannya perkembangan jumlah volume muatan kapal tol laut yang positif ini juga merupakan peran dari perusahaan-perusahaan ekspedisi yang ada di Surabaya. Selama ini yang menjadi konsumen tetap pemakai jasa tol laut di Surabaya hampir semua adalah perusahaan-perusahaan ekspedisi. Dimana komoditi yang diangkut sebagian besar merupakan barang-barang kebutuhan pokok maupun barang-barang penting sesuai yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2015 Tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting. Sejauh ini, tol laut dengan rute dari Surabaya ke Indonesia Timur sudah berhasil mengangkut barang-barang kebutuhan pokok dan barang-barang penting berupa: beras, gula, tepung terigu, minyak goreng, kedelai, baja ringan, besi konstruksi, pupuk, semen, bahan bangunan, aspal, dan ayam beku.

y = 15.057x + 56.467 R² = 0.7751 y = 45.1x + 23

R² = 0.926

y = 5.5714x + 65.571 R² = 0.8547 0

50 100 150 200 250 300 350 400

1 2 3 4 5 6 7

Volume (TEUs)

Periode Keberangkatan (2016)

T1 T2 T3 Linear (T1) Linear (T2) Linear (T3)

(17)

Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, peneliti menemukan bahwa dari sekian banyak kota yang dikunjungi baik oleh rute tol laut, maupun rute swasta meskipun tidak ditemukan adanya rute yang sama persis, ternyata ada terdapat kesamaan untuk 2 kota tujuan, yaitu Timika dan Merauke. Grafik perbandingan jumlah muatan yang dibawa oleh kapal PT. PELNI dan kapal perusahaan pelayaran swasta untuk rute Timika dan Merauke pada tahun 2016 dapat dilihat pada Gambar 4.10. dan 4.11. berikut.

Gambar 4.9. Muatan Kapal PT. PELNI dan Swasta untuk Rute Timika (dalam TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut dan Laporan Rute TIM MKQ , diolah

y = 23.393x - 12 R² = 0.7961

y = 5.6786x - 4.7143 R² = 0.9176 0

20 40 60 80 100 120 140 160

1 2 3 4 5 6 7

Volume (TEUs)

Periode Keberangkatan (2016)

SWASTA PELNI Linear (SWASTA) Linear (PELNI)

(18)

Gambar 4.10. Muatan Kapal PT. PELNI dan Swasta untuk Rute Merauke (dalam TEUs)

Sumber: Laporan Rekapitulasi Kapal Tol Laut dan Laporan Rute TIM MKQ , diolah

Gambar 4.9. menunjukkan bahwa untuk rute Timika, meskipun kapal milik PT. PELNI mengalami kenaikan volume muatan, namun jumlah muatan yang dibawa oleh kapal PT. PELNI jauh lebih kecil dari jumlah muatan yang dibawa oleh kapal pelayaran swasta. Sedangkan pada gambar 4.10. untuk rute Merauke, jumlah muatan kapal tol laut mengalami penurunan. Hal itu berbanding terbalik dengan jumlah muatan milik kapal pelayaran swasta untuk rute tersebut yang mengalami kenaikan yang cukup pesat baik untuk rute Timika maupun Merauke.

Adanya perbedaan jumlah muatan barang yang diangkut oleh kapal PT.

PELNI dan kapal swasta ini ternyata berhubungan dengan frekuensi pelayaran yang dilakukan keduanya. Untuk kota Timika dan Merauke, perusahaan pelayaran swasta memiliki frekuensi pelayaran sebanyak 2 sampai 3 kali dalam sebulan.

Sedangkan PT. PELNI hanya memiliki frekuensi pelayaran sebanyak sebulan sekali untuk kota Timika yang dilalui Trayek 1 dan 2 bulan sekali untuk kota Merauke yang dilalui Trayek 2.

y = 20.2x + 27.5 R² = 0.8452

y = -3.7x + 14 R² = 0.9675

-20 0 20 40 60 80 100 120

1 2 3 4

Volume (TEUs)

Periode Keberangkatan (2016)

SWASTA PELNI Linear (SWASTA) Linear (PELNI)

Gambar

Gambar 4.1. Perkembangan Skema Pendulum Nusantara  Sumber: IPC (2012)
Tabel 4.1. Data Dari Informan
Tabel 4.2. Rute Perusahaan Pelayaran Swasta
Tabel 4.3. Frekuensi Pelayaran Perusahaan Pelayaran Swasta
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sumarmo (Kusnadi, 2010) memberikan indikator kemampuan yang termasuk pada kemampuan SHQDODUDQ PDWHPDWLN µ PHQDULN NHVLPSXODQ ORJLV 0HPEHULNDQ SHQMHODVDQ WHUKDGDS PRGHO fakta,

Untuk menganalisis pengaruh penerapan pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) terhadap kemampuan berpikir aljabar siswa kelas VII di MTs Salafiyah

Hasil dari wawancara dan observasi yang telah dilakukan selama penelitian yaitu bahwa aspek-aspek subjective wellbeing seperti career wellbeing, social wellbeing,

Dari studi literatur yang peneliti lakukan pada jurnal dan buku-buku ada sebuah fenomena bahwa seni musik khususnya lirik pada lagu dapat meningkatkan komunikasi verbal pada

a.) Nilai konstanta sebesar 13,903 menyatakan bahwa apabila variabel independen (bebas) yaitu rekruitmen, budaya organisasi islam dan kompensasi tidak dimasukkan

Sekalipun level penggunaan jerami padi fermentasi dengan probiotik Starbio dari keempat perlakuan berbeda tetapi tetap saja memberikan hasil yang sama terhadap konsumsi pakan domba,

Variabel utama yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah neraca transaksi berjalan sebagai variabel dependen, sedangkan variabel independennya meliputi nilai

Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan Peraturan