• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJUAN TEORI A. Kehamilan - Witri Puji Rahayu BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJUAN TEORI A. Kehamilan - Witri Puji Rahayu BAB II"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJUAN TEORI

A. Kehamilan

Menurut Faderasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan di

definisikan sebagai fertilisasi ataupun penyatuan dari spermatozoa dan ovum

dan dilanjutkan dengan nidai atau implantasi. Bila dihitung saat fertilisasi hingga

lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau

10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam

3 trimester, di mana trimester ke satu berlangsung dalam 12 minggu, trimester

ke dua 15 minggu (minggu ke -13 hingga minggu ke 27), dan trimester ke tiga

13 minggu ( minggu ke -28 hingga ke-40) (Saifudin, 2010, hal;213).

Kehamilan adalah periode yang dihitung dari hari pertama haid terakhir

(HPHT) hingga dimulainya persalinan sejati, ini yang menandai awal periode

antepartum. Peroide antepartum dibagi menjadi tiga trimester yang

masing-masing terdiri dari 13 minggu atau tiga bulan menurut hitungan kalender.

Pembagian waktu ini diambil dari ketentuan yang mempertimbangkan bahwa

lama kehamilan diperkirakan kurang lebih 280 hari, 40 minggu, 10 bulan, atau 9

bulan sejak hari pertama haid terakhir (HPHT) (Varney, 2006,hal ;492).

Jadi, kehamilan merupakan periode bertemunya spermatozoa, ovum,

pembuahan ovum dan nidasi di tuba falopi sampai perkiraan lahir atau aterm.

1. Etiologi

Peristiwa kehamilan ini tidak lepas dari kejadian yang meliputi : pembuahan

gamet (sperma dan ovum), fertilisasi (pembuahan), nidasi, dan

pembentukan plasentasi.

a. Pembuahan gamet

1) Sperma

Sperma dibentuk ditubulus seminiferus dengan jumlah 100 juta/ml

setiap ejakulasi. Pematangan sperma berlangsung diepidimis

bagian kepala, badan dan ekor. Sperma yang sudah matur berada

(2)

2) Ovum

Ovulasi atau pelepasan sel telur merupakan bagian dari siklus

menstruasi normal, yang terjadi sekitar 14 hari sebelum menstruasi

yang akan datang, ovum keluar dari robekan folikel degraf menuju

tuba.

3) Fertilisasi ( pembuahan)

Fertilisasi adalah penyatuan ovum (oosit sekunder) dan

spermatozoa yang biasanya berlangsung di ampula tuba.

4) Nidasi

Nidasi ( implantasi) merupakan penanaman sel telur yang sudah

dibuahi ke dalam dinding uterus pada awal kehamilan.

5) Plasentasi

Plasentasi adalah proses pembentukan struktur dan jenis plasenta.

Setelah nidasi embrio ke dalam endometrium, plasentasi dimulai.

Pada manusia plasentasi berlangsung sampai 12-18 minggu

setelah fertilisasi (Prawiroharjo, 2009, hal;139).

2. Tanda-tanda kehamilan

a. Tanda tidak pasti (presumtive sign)

Tanda tidak pasti adalah perubahan-perubahan fisiologis yang dapat di

kenali dari pengakuan atau yang dirasakan oleh wanita hamil.

Tanda tidak pasti ini terdiri atas hal hal berikut ini:

1) Amenorea (berhentinya menstruasi)

Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan

folikel degraaf dan ovulasi sehingga menstruasi tidak terjadi.

Lamanya amenorea dapat dikonfirmasi dengan memastikan

HPHT(hari pertama haid terakhir) amenorea juga dapat

disebabkan oleh penyakit kronik tertentu, tumor patuitari,

perubahan dan faktor lingkungan, malnutisi, dan biasanya

(3)

2) Mual (nausea) dan muntah (emesis)

Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam

lambung yang berlebihan dan menimbulkan mual muntah yang

terjadi terutama pada pagi hari yang di sebut morning sickness.

3) Ngidam (memingini makanan tertentu)

Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan

yang demikian disebut ngidam.

4) Syncope (pingsan)

Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral)

menyebabkan iskemia susunan saraf pusat yang menimbulakan

syncope atau pingsan.

5) Kelelahan

Sering terjadi pada trimester pertama, akibat dari penurunan

kecepatan basal metabolisme (basal metabolisme rate-BMR) pada

kehamilan, yang akan meningkat seiring pertambahan usia

kehamilan akibat aktivitas metabolisme hasil konsepsi.

6) Payudara tegang

Estrogen meningkat perkembangan sistem duktus pada payudara,

sedangkan progesteron menstimulasi perkembangan sistem

alveoral payudara.

7) Sering miksi (sering kencing)

Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung kemih cepat

terasa penuh dan sering miksi.

8) Konstipasi atau obstipasi

Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus (tonus

otot menurun) sehingga kesulitan untuk BAB

9) Pigmentasi kulit

Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12 minggu.

Terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid plasenta yang

(4)

10) Epulis

Hipertropi papilla ginggivae/gusi, sering terjadi pada triwulan

pertama.

11) Varises atau penampakan pembuluh darah vena

pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan pelebaran

pembuluh darah terutama bagi wanita yang mempunyai bakat

(Yulifah, dkk, 2011, hal 72).

b. Tanda Kemungkinan (Probability Sigh)

1) Pembesaran perut

Terjdi akibat pembesaran uterus. Hal ini terjadi pada bulan ke

empat kehamilan

2) Tanda hegar

Tanda hegar adalah pelunakan dan dapat di tekannya isthmus

uteri

3) Tanda goodel

Adalah pelunakan servis. Pada wanita yand tidak hamil servik

seperti ujung hidung, sedangkan pada wanita hamil malunak

seperti bibir

4) Tanda chadwicks

Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan mukosa

vagina termasuk juga portio dan serviks

5) Tanda piscaseck

Merupakan pembasaran uterus yang tidak simetris. Terjadi karena

ovum berimplantasi pada daerah dekat dengan kornu sehingga

daerah tersebut berkembang lebih dulu

6) Kontraksi braxton hicks

Merupakan peregangan sel-sel otot uterus, akibat meningkatnya

actomysin di dalam otot uterus.

7) Teraba ballotement

Ketukan yang mendadak pada uterus menyebabkan janin bergerak

(5)

8) Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotest) positif

Pemeriksaan ini adalah untuk menditeksi adanya human Chorionik

Gonadotropin (HCG) yang di produksi oleh sinsiotropoblastik sel

selama kehamilan (Hani, dkk, 2011, hal ;74)

c. Tanda Pasti (positive sign)

tanda pasti adalah tanda yang menunjukan langsung keberadaan

janin, yang dapt dilihat langsung oleh pemeriksa.

Tanda pasti kehamilan terdiri atas hal hal berikut ini.

1) Gerakan janin dalam rahim

Kerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh

pemeriksa. Gerakan janin baru dapat dirasakan pada usia

kehamilan sekitar 20 minggu

2) Denyut jantung janin

Dapat di dengar pada usia 12 minggu dengan menggunakan

alat fetal electrocardiograf (misalnya dopler). Dengan stetoskop

laenec. Djj baru dapat di sengar pada usia kehamilan 18-20

minggu.

3) Bagian bagian janin

Bagian bagian janin yaitu bagian besar janin (kepala dan

bokong) serta bagian kecil janin (lengan dan kaki) dapat di raba

dengan jelas pada usia kehamilan lebih tua (trimester terakhir).

Bgian janin ini dapat di lihat lebih sempurna lagi menggunakan

USG.

4) Kerangka janin

Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rongen maupun USG

(Marjati, dkk, 2011, hal; 75).

3. Perubahan, ketidaknyamanan, dan kebutuhan psikologis ibu hamil

a. Trimester pertama

Segera setelah terjadi peningkatan hormon esterogen dan

(6)

ketidaknyamanan secara fisiologis pada ibu misalnya mual muntah,

keletihan, dan pembesaran pada payudara. Hal ini akan memicu

perubahan psikologi seperti berikut ini.

1) Ibu untuk membenci kehamilannya, merasakan kekecewaan,

penolakan, kecemasan, kesedihan

2) Mencari tahu secara aktif apakah memang benar-benar hamil

dengan memperhatikan perubahan pada tubuhnya dan sering kali

memberitahukan orang lain apa yang di rahasiakkannya

3) Hasrat melakukan sex berbeda beda pada setiap wanita. Ada yang

meningkat libidonya, tetapi ada juga yang mengalami penurunan.

Pada wanita yang mengalami penurunann libido, akan

menciptakan suatu kebutuhan untuk berkomunikasi secara terbuka

dan jujur dengan suami. Sedangkan libido yang sangat besar yang

dipengaruhi oleh kelelahan rasa mual, pembesaran payudara,

keprihatinan, dan kekuwatiran.

4) Sedangkan bagi suami sebagai calon ayah akan timbul

kebanggan, tetapi bercampur dengan keprihatinan akan kesiapan

untuk mencari nafkah bagi keluarga (Ummi dkk,2011, hal;78)

b. Trimester Kedua

Trimester kedua biasanya ibu merasa sudah sehat dan sudah

terbiasa dengan kadar hormon yang tinggi, serta rasa tidak nyaman

akibat kehamilan sudah mulai berkurang. Perut ibupun belum terlalu

besar sehingga belum dirasakan ibu sebagai beban. Ibu sudah

menerima kehamilannya dan dapat mulai menggunakan energi dan

pikirannya secara lebih konstruktif. Pada trimester ini pula ibu dapat

merasakan gerakan janinnya dan bu mulai merasakan kelahiran

bayinya sebagai seseorang di luar dirinya dan dirinya sendiri. Banyak

ibu yang merasa terlepas dari rasa kecemasan dan rasa tidak nyaman

seperti yang dirasakan pada trimester pertama dan merasakan

(7)

c. Trimester Ketiga

Trimester ketiga biasanya disebut periode menunggu dan wapada

sebab pada saat itu ibu tidak sabar menunggu kehadiran bayinya.

Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan 2 hal yang

mengingatkan ibu pada bayinya. Sering kali ibu merasa khawatir atau

takut kalau kalau bayi yang di lahirkan tidak normal. Kebanyakan ibu

juga akan bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang

yang di anggap membahayakan. Keluarga mulai menduga duga

apakah bayi mereka laki-laki atau perempuan dan akan mirip siapa,

bahkan sudah memilih nama untuk bayinya (Hani dkk, 2011,hal;69).

Tabel 2.1 Pertumbuhan janin dalam uterus

Bulan Panjang Berat Tinggi Rahim Keterangan

1 8-10 mm - - Kepala 1/3 mudigah, saluran jantung

terbentuk dan sudah berdenyut,

permukaan kaki dan tangan berbentuk

tonjolan.

2 250 mm - - Muka berbentuk muka manusia,

mempunyai lengan dan tungkai dengan

jari tangan dan kaki, kelamin tampak

3 7-9 cm - Atas simfisis (tulang

kemaluan)

Sudah ada pusat tulang, kaku, ginjal,

janin mulai bergerak

4 10-17 cm 100 gr ½ atas simfisis

pusat

Kelamin luar sudah dapat ditentukan

jenisnya, kulit ditumbuhi rambut halus

atau lanugo, gerak mungkin dirasakan

ibu.

5 18-27 cm 300 gr Setinggi pusat Bunyi jantung terdengar, kalau lahir

sudah berusaha bernafas.

6 28-34 cm 600 gr Di atas pusat Kulit keriput lemak mulai ada di bawah

kulit, dan tertutup verniks kaseosa.

7 35-38 cm 1.000 gr 2/3 atas pusat Kalau lahir dapat hidup didunia luar,

Kalau menangis mengeluarkan suara

(8)

Bulan Panjang Berat Tinggi Rahim Keterangan

8 42,5 cm 1.700 gr Setinggi prosesus

xifoideus

Kulit merah, gerak aktif.

9 46 cm 2.500 gr Dua jari bawah

Px

Kulit penuh lemak, gerak aktif.

10 50 cm 3.000 gr Kepala janin masuk PAP, buku

panjang, testis telah turun. Kulit halus

hampir tidak ada lanugo.

Sumber :Hani,Ummi,dkk.2011. asuhan kebidanan pada kehamilan fisiologis.Jakarta:Salemba Medika

4. Identifikasi dan riwayat kesehatan

a. Data umum pribadi

1) Nama

2) Usia

3) Alamat

4) Pekerjaan ibu/suami

5) Lama menikah

6) Kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan

b. Keluhan saat ini

1) Jenis dan sifat gangguan yang di rasakan ibu

2) Lamanya mengalami gangguan tersebut

c. Riwayat haid

1) Hari pertama haid terakhir (HPHT)

2) Usia kehamilan, taksiran persalinan (rumus neagle: tanggal HPHT

di tambah 7 dan bulan di kurangi 3)

d. Riwayat kehamilan dan persalinan

1) Asuhan antenatal, peralinan, dan nifas sebelumnya

2) Cara persalinan

3) Jumlah dan jenis kelamin anak hidup

4) Berat badan lahir

5) Cara pemberian asupan bagi bayi yang di lahirkan

6) Informasi dan saat persalinan atau keguguran terakhir

(9)

1) dentifikasi kehamilan

2) Identifikasi penyulit (preklamsia atau hipertensi dalam kehamilan)

3) Penyakit lain yang diderita

4) Gerakan bayi dalam kandungan

f. Riwayat penyakit dalam keluarga

1) Diabetes Millitus, Hipertensi atau hamil kembar

2) Kelainan bawaan

g. Riwayat penyakit ibu

1) Penyakit yang pernah di derita

2) DM, HDK, Infeksi, Saluran, Kemih

3) Penyakit jantung

4) Infeksi firus berbahaya

5) Alergi obat atau makanan tertentu

6) Pernah mendapat transfusi darah dan indikasi tindakan tersebut

7) Inkompatibilitas Rhesus

8) Paparan sinar-X/Rontgen

h. Riwayat penyakit yang memerlukan tindakan pembedahan (Saefudin,

2010, hal;279).

1) Dilatasi dan kuretase

2) Reparasi vagina

3) Seksio sesaria

4) Serviks inkompeten

5) Operasi non-ginekologi

i. Riwayat mengikuti program keluarga berencana

j. Riwayat imunisasi

k. Riwayat menyusui

l. Pemeriksaan

1) Keadaan umum

a) Tanda vital

b) Pemeriksaan jantung dan paru

(10)

d) Kelainan otot dan rangka serta neurologik

2) Pemeriksaan abdomen

a) Inspeksi

b) Bentuk dan ukuran abdomen

c) Parut bekas oprasi

d) Tanda-tanda kehamilan

e) Ferakan janin

f) Farises atau pelebaran vena

g) Hernia

h) Edema

3) Palpasi

a) Tinggi fundus

b) Punggung bayi

c) Presentasi

d) Sejauh mana bagian terbawah bayi masuk pintu atas panggul

4) auskultasi

a) 10 minggu dengan Doppler

b) 20 minggu dengan feteskop pinard

5) Inspekulo vagina untuk identifikasi vaginitis pada trimester I/II

6) Laboratorium

a) Pemeriksaan

b) Analisis urin rutin

c) Analisis tinja rutin

d) Hb, MCV

e) Golongan darah

f) Hitung jenis sel darah

g) Gula darah

h) Antigen hepatitis B Virus

i) Antibodi rubela

(11)

k) Ultrasonografi – Rutin pada kehamilan 18 – 22 minggu untuk

identifikasi kelainan janin (Saefudin, 2010, hal;281).

5. Kunjungan Berkala Asuhan Antenatal

Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, kunjungan antenatal sebaiknya

di lakukan secara berkara dan teratur. Bila kehamilan normal, jumlah

kunjungan sukup empat kali : atu kali pada trimester 1, satu kali pada

trimester 2, dua kali pada trimester 3.

a. Menilai kesejahteraan janin

1) Untuk menilai kesejahteraan janin pada kehamilan resiko tinggi

dapat dilakukan berbagai jenis pemeriksaan atau pengumpulan

informasi, baik yang di peroleh dari ibu hamil maupun pemeriksaan

oleh petugas kesahatan. Pemerisaan yang memerlukan peralatan

canggih umumnya di lakukan dengan pencatatan peralatan

pencatat denyut jantung janin (kardiotografi) dan peralatan

ultrasonografi yang di sebut dengan pemeriksaan profil biofisik

janin (biophysic profile). Berbagai jenis pemeriksaan tersebut

adalah:

a) Pengukuran tinggi fundus uteri terutama > 20 minggu yang

akan di sesuaikan dengan usia kehamilan saat pemeriksaan di

lakukan. Tinggu fundus yang normal sama dengan usia

kehamilan

b) Gerakan menendang atau tendangan janin (10 gerakan/12

jam)

c) Gerakan janin

d) Gerakan janin yang menghilang dalam waktu 48 jam dikaitkan

dengan hipoksia berat atau janin meninggal

e) Denyut jantung janin

(12)

b. Bila usia kehamilan memasuki 34 minggu, selain pemeriksaan di atas,

juga di lakukan pula pemeriksaan tentang:

1) Penilaian besar janin, letak dan presentasi

2) Penilaian luas panggul

6. Edukasi Kesehatan Bagi Ibu Hamil

Tidak semua ibu hamil dan keluarganya mendapat pendidikan dan

konseling kesehatan yang memadai tentang kesehatan reproduksi,

terutama tentang kehamilan dan upaya untuk menjaga agar kehamilan

tetap sehat dan berkualitas. Kunjungan antenatal memberi kesempatan

bagi petugas kesehatan untuk memberikan informasi kesehatan esensial

bagi ibu hamil dan keluarganya termasuk rencana persalinan (di mana,

penolong, dana, pendamping, dan sebagainya) dan cara merawat bayi.

Beberapa informasi enting tersebut adalah sebagai berikut.

a. Nutrisi yang edukat

1) Kalori

Jumlah kalori yang di perlukan ibu hamil untuk setiap harinya

adalah 2.500 kalori. Pengetahuan tentang berbagai jenis makanan

yang dapat memberikan kecukupan kalori tersebut sebaiknya

dapat di jelaskan secara rinci dan bahas dan bahasa yang di

mengerti oleh para ibu hamil dan keluarganya. Jumlah kalori yang

berlebihan dapat menyebabkan obesitat dan hal ini merupakan

faktor predisposisi untuk terjadinya preeklamsia. Jumlah

pertambahan berat badan sebaiknyatidak melebihi 10 -12 kg

selama hamil.

2) Protein

Jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil adalah 85 kg

per hari. Sumber protein tersebut dapat di peroleh dari tumbuh –

tumbuhan (kacang-kcangan) atau hewani (ikan, ayam, keju, susu,

telur). Defisiensi protein dapat menyebabkan kelahiran prematur,

(13)

3) Kalsium

Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1,5 gram per hari.

Kalsium diburtuhkan untuk pertumbuhan janin, terutama bagi

pengembangan otot dan rangka. Sumber kalsium yang mudah di

peroleh adalah susu, keju, yugurt, dan kalsium karbonat. Defisiensi

kalsium dapat menyebabkan riketsia pada bayi atau osteomalasia

pada ibu.

4) Zat besi

Metabolisme yang tinggi pada ibu hamil memerlukan

kecukupan oksigenasi jaringan yang di peroleh dari pengikatan dan

pengantaran oksigen melalui hemoglobin di dalam sesl sel darah

merah. Untuk menjaga konsentrasi hemoglobin yang normal,

diperlukan asupan zat besi bagi ibu hamil dengan jumlah 30

mg/hari terutama setelah trimester kedua. Bila tidak di temukan

anemia pemberian zat besi perminggu cukup edukat. Zat besi yang

di berikan dapat diberikan dapat berupa ferrous gluconate, ferrous

fumarate, atau ferrous sulphate. Kekurangan zat besi pada ibu

hamil dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi.

5) Asam folat

Selain zat besi, sel-sel drah merah juga memerlukan asam

folat bagi pematangan sel. Jumlah asam folat yang di butuhkan

oleh ibu hamil adalah 400 mikrogram per hari. Kekurangan aam

folat dapat menyebabkan anemia megaloblastik pada ibu hamil.

6) Perawatan payudara

Payudara perlu di persiapkan sejak sebelum bayi lahir

sehingga dapat segera berfungsi dengan baik pada saat di

perlukan. Pengurutan payudara untuk mengeluarkan sekresi dan

membuka duktus dn sinus laktiferus, sebaiknya di lakukan secara

hati-hati dan benar karena pengurutan yang salah dapat

menimbulkan kontraksi pada rahim sehingga terjadi kondisi seperti

(14)

lembut setiap hari pada aerola dan putting susu akan dapat

mengurangi retak dan lecet pada area tersebut. Untuk sekresi yang

mengering pada putting susu, lakukan pembersihan dengan

menggnakan campuran gliserin dan alkohol. Karena payudara

menegang, sensitif, dan menjadi lebih berat, maka sebaiknya

gunakan penopang payudara yang sesuai (brassiere). (Saefudin,

2010, hal;208)

7) Perawatan gigi

Paling tidak dilakukan pemeriksaan gigi selama kehamilan,

yaitu pada trimester pertama dan ketiga. Penjadulan untuk

trimester pertama terkait dengan hiperemesis dan ptialisme

(produksi liur yang berlebihan) sehingga kebersihan rongga mulut

harus selalu terjaga. Sementara itu, pada trimester ketiga, terkait

dengan adanya kebutuhankalsium untuk pertumbuha janin

sehingga perlu diketahui apakah dapat berpengaruh yang

merugikan pada gigi ibu hamil. Dianjurkan untuk menyikat gigi

setelah makan karena ibu hamil sangat rentan terhadap terjadinya

carries dan gingivitis.

8) Kebersihan tubuh dan pakaian

Kebersihan tubuh harus terjaga selama kehamila. Perubahan

anatomik pada perut, area genetalia/lipat paha, dan payudara

menyebabkan lipatan-lipatan kulit menjadi lebih lembab dan mudah

terinvestasi oleh mikroorganisme. Sebaiknya gunakan pancuran /

gayung pada saat mandi, tidak dianjurkan berndam dalam bathtub

dan melakukan vaginal dauche. Gunakan pakaian yang longgar,

bersih dan nyaman hindarkan sepatu bertongkat tinggi (high heels)

dan alas kaki yang keras (tidak elastis) serta korset penahan perut.

Lakukan gerak tubuh ringan, mesalnya berjalan kaki terutama pada

pagi hari. Jangan melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat

dan hindarkan kerja fisik yang dapat meimbulkan keelahan yang

(15)

dan 2 jam di siang hari. Ibu tidak dianjurkan melakukan kebiasaan

merokok selama ghamil karena dapat menimbulkan vasospasme

yang berakopat anoksia janin, berat badan lahir rendah (BBLR),

prematuritas kelainan kongenetal dan solusio plasenta (Saefudin,

2010, hal ; 286).

9) Gejala dan tanda lain yang harus di waspadai

Beberapa gejala dan tanda lain yang terkait dengan gangguan

serius selama kehamilan adalah sebagai berikut.

a) Muntah yang berlebihan yang berlangsung selama kehamilan

b) Disuria

c) Menggigil atau demam

d) Ketuban pecah dini ataupun sebelum waktunya

e) Uterus lebih besar atau lebih kecil dari usia kehamilan yang

sesungguhnya (Saefudin, 2010, hal; 287).

B. PERSALINAN NORMAL

Definisi persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui

jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan

seniri). Bentuk persalinan berdasarkan definisi sebagai berikut : Persalinan

spontan. bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri,

persalinan buatan. Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar,

persalinan anjuran (partus presipitatus)

1. Tanda dan gejala in partu termasuk :

a. Penipisan dan pembukaan serviks

b. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan servik (frekuensi

minimal 2 kali dalam 10 menit

(16)

2. Tahap persalinan

a. Kala I persalinan

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput

ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika

prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37

minggu) tanpa disertai adanya penyulit. (Azrul, 2008, hal;37)

Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara

pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kala

pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih

dapat berjalan jalan. Lama kala 1 untuk primigravida berlangsung 12

jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurva friedman,

diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan

lengkap dapat di perkirakan (Ida Ayu, 2010, hal;173).

Dalam kala satu ini dimulai dari saat persalinan yaitu pembukaan

1cm sampai dengan pembukaan lengkap (10cm), proses ini terbagi

menjadi 2 fase yaitu:

1) Fase laten

Adala periode waktu dari awal persalinna hingga ke titik ketika

pembukaan mulai berjalan secara progresif, yang umumnya

dimulai berjalan mulai muncul hingga pembukaan 3 sampai 4 cm

atau permulaan fase aktif yaitu berlangsung selama 8 jam.

2) Fase aktif

Periode dari waktu awal kemajuan aktif pembukaan hingga

pembukaan menjadi komplit. Pembukaan umumnya dimuli dari 3

sampai 4 cm hingga pembukaan 10 cm yaitu berlangsung selama

7 jam (Azrul,2008, hal;38).

Pemeriksaan dalam sebaiknya di lakukan setiap 4 jam selama

kala 1 persalinan dan selaput ketuban pecah. Beberapa hal yang

harus menjadi perhatian pada pemeriksaan dalam adalah :

a) Tentukan keadaan vulva dan uretra

(17)

c) Tentukan kosistensi dan pendataran servik (termasuk kondisi

jalan lahir)

d) Mengukur besarnya pembukaan

e) Menilai selaput ketuban, warna cairan amnion

f) Menentukan presentasi dan seberapa jauh bagian terbawa

telah melalui jalan lahir

g) Menentukan denominator (petunjuk) (Sujiyatini dkk, 2011,

hal;41)

b. Kala II

Kala II dimulai dari pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan

berakhir sampai bayi lahir. Tanda dan gejala kala II yaitu sebagai

berikut:

1) Ibu merasakan ingin meneran bersama terjadinya kontraksi.

2) Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan padarektum dan atau

vagina.

3) Perineum menonjol.

4) Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.

5) Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

kemajuan persalinan dalam kala II

temuan berikut menunjukan kemajuan yang cukup baik pada

persalinan kala II:

1) Penurunan yang teratur dari janin di jalan lahir

2) Dimulainya fase pengeluaran,

3) Temuan berikut menunjukan kemajuan yang kurang baik pada

persalinan tahap kedua:

a) Tidak turunnya janin di jalan lahir

b) Gagalnya pengeluaran pada fase akhir

Riwayat yang harus diperhatikan

1) Pernah bedah sesar (sectio cesarea)

2) Riwayat perdarahan berulang

(18)

4) Ketuban pecah dini (ketuban pecah sebelum waktunya).

5) Pewarnaan mekonium cairan ketuban

6) Infeksi ante atau intrapartum

7) Hipertensi

8) Tinggi badan di bawag 140 (resiko panggul sempit)

9) Adanya gawat janin

10) Primipara dengan bagian terbawah masih tinggi

11) Malpresentasi atau malposisi

12) Tali pusat menumbung

13) Keadaan umum jelek atau syok

14) Inersia uteri atau fase laten memanjang

15) Partus lama

c. Kala III

Kala III persalinan disebut juga sebagai kala uri atau kala pengeluaran

plasenta.

1) Lahirnya placenta

Lahirnya plasenta terjadi dalam dua tahap; pelepasan dari

dinding uterus ke dalam segmen bawah rahim dan vagina, dan

pengeluaran placenta yang sesungguhnya dari jalan lahir.

Pelepasan placenta. Umumnya pelepasan placenta terjadi

dalam 5 menit terakhir kala dua. Gejala-gejala yang menunjukan

terjadinya pelepasan placenta meliputi :

a) Keluarnya darah dari vagina

b) Tali pusat di luar vagina bertambah panjang

c) Fundus uteri di dalam abdomen meninggi pada saat placenta

keluar dari uterus masuk kedalam vagina

d) Uterus menjadi keras dan bulat. (Hakimi, 2010, hal; 121)

2) Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama:

a) Pemberian suntikan oksitosin dalam satu menit pertama

setelah bayi lahir

(19)

c) Massase fundus uteri

3) Keuntungan manajemen aktif kala tiga:

a) Persalinan kala tiga yang lebih singkat

b) Mengurangi jumlah kehilangan darah

c) Mengurangi kejadian retensio plasenta (Azrul Azwar, 2008,

hal;99)

d. Kala IV

Pada kala IV ini dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam

pertama postpartum. : (Sumarah,dkk.2008,hal:8)

1) Asuhan dan pemantauan kala IV setelah plasenta lahir:

Lakukan rangsal taktil (massse) uterus untuk merangsang uterus

agar berkontraksi dengan kuat

2) Evaluasi tingigi fundus dengan meletakan jari tangan anda secara

melintang dengan pusat sebagai patokan

3) Memperkirakan kehilangan darah secara keseluruhan

4) Pemeriksa kemungkinan perdarahan dan robekan

5) Evaluasi keadaan umum ibu

6) Dokumenasi semua asuhan dan temuan selama persalinan kala

empat di bagian belakang patograf segera setelah asuhan di

berikan (Azrul,2008, hal;111).

3. Tiga faktor yang menentukan prognosis persalinan :

a. Passage (jalan lahir)

Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang padat, dasar

panggul, vagina, dan introitus (lubang luar vagina).Meskipun jaringan

lunak, khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul yang ikut

menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh lebih berpern dalam

proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya terhadap

jalan lahir yang relatif kaku. Oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul

harus di tentukan sebelum persalinan di mulai (Sumarah,2008, hal;23).

(20)

b. Passenger (janin dan plasenta)

Passanger atau janin bergerak sepanjang jalan lahir merupakan

akibat interaksi beberapa factor, yakni ukuran kepala janin, presentasi,

letak, sikap, dan posisi janin. Karena plasentajuga harus melewati jalan

lahir, maka ia dianggap juga sebagai bagian dari passenger yang

menyertai janin. Namun plasenta jarang menghambat proses

persalinan pada kehamilan normal (Sumarah dkk, 2008, hal; 35).

e. Power (kekuatan)

Kekuatan terdiri dari kemampuan ibu melakukan kontraksi involuter

secara bersamaan untuk mengeluarkan janin dan plasenta dari uterus.

Kontraksi involunter disebut juga kekuatan primer, menandai di

mulainya persalinan. Apabila serviks berdilatasi, usaha volunteer di

mulai untuk mendorong yang disebut kekuatan sekunder, dimana

kekuatan ini memperbesar kekuatan kontraksi involunter, persalinan

kala II di tegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk

memastikan pembukaan lengkap atau kepala janin sudah tampak di

vulva dengan diameter 5-6 cm (Sumarah dkk,2008, hal; 42-43).

4. Perubahan Fisiologis Ibu Bersalin

a. Sifat kontraksi otot rahim

Perubahan : Setelah kontraksi, otot rahim tidak berelaksasi kembali

seperti keadaan sebelum kontraksi, tetapi menjadi sedikit lebih pendek

walaupun tonusnya seperti sebelum kontraksi, yang disebut retraksi.

Dengan retraksi, ukuran rongga rahim akan mengecil dan janin secara

berlahan akan berangsur didorong kebawah dan tidak naik lagi ke atas

setelah his hilang. Retraksi ini mengakibatkan makin tebal dengan

majunya persalinan terutama setelah bayi lahir.

b. Perubahan bentuk rahim

Adanya kontrasi mengakibatkan sumbu panjang rahim bertambah

panjang, sedangkan ukuran melintang maupun ukuran muka belakang

(21)

berkurang, rahim bertambah panjang. Hal ini merupakan salah satu

sebab dari pembukaan serviks.Ligamentum rotundum

Mengandung otot-otot polos dan jika uterus berkontraksi, otot-otot ini

ikut berkontraksi sehingga ligamentum rotundum menjadi pendek.

c. Perubahan pada serviks

Agar janin dapat keluar dari rahim, maka perlu terjadi pembukaan dari

serviks. Pembukaan serviks biasanya didahului oleh pendataran dari

serviks. Pendataran dari serviks, Pemendekan dari canalis servicalis,

yang semula berupa saluran yang panjang 1-2 cm menjadi suatu

lubang dengan pinggir yang tipis. Pembukaan dari serviks.

Pembesaran dari ostium externum yang pada awalnya hanya berupa

suatu lubang dengan diameter beberapa milimeter menjadi lubang

yang berdiameter kira-kira 10 cm, sehingga dapat dilalui janin (Endang,

2015, hal ; 125).

Faktor yang menyebabkan pembukaan serviks:

1) Otot-otot serviks menarik pada pinggir ostium.

2) Waktu kontraksi semen bawah rahim dan serviks teregang oleh isi

rahim terutama oleh air ketuban dan ini menyebabkan tarikan pada

serviks.

3) Waktu kontraksi, bagian dari selaput yang terdapat diatas canalis

ialah yang disebut ketuban. Perubahan pada vagina dan dasar

panggul

4) Pada kala I, ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina.

5) Setelah ketuban pecah, segala perubahan terutama pada dasar

panggul ditimbulkan oleh bagian depan anak. Oleh bagian depan

yang maju tersebut, dasar panggul teregang menjadi saluran

dengan dinding-dinding yang tipis. Pada saat kepala sampai di

vulva, lubang vulva menghadap ke depan atas.

6) Dari luar, peregangan oleh bagian depan tampak pada perineum

yang menonjol dan menjadi tipis, sedangkan anus menjadi terbuka.

(22)

5. Teori kemungkinan terjadinya proses persalinan

a. Teori keregangan

Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertantu.

Setelah melewati bata tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan

dapat di mulai. Contohnya, pada hamil ganda sering terjadi kontraksi

setelah keregangan tertentu, sehingga menimbulkan proses persalinan.

b. Teori penurunan progesteron

Proses penuaan plasenta terjadi saat usia kehamilan 28 minggu,

karena terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami

penyempitan dan buntu. Produksi progesteron mengalami penurunan,

sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap oksitosin. Akibat otot rahim

mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesteron

tertentu.

c. Teori oksitosin internal

Oksitosin di keluarkan oleh kelenjar hipofisis pars posterior. Perubahan

keeimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas

otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks. Dengan

menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan maka

oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat

mulai.

d. Teori prostaglandin

Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak usia kehamilan 15 minggu,

yang di keluarkan oleh desidua. Pemberiaan prostaglandin saat hamil

dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi di

keluarkan.Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu terjadinya

persalinan.

e. Teori hipotalamus – hipofisis dan glandula suprarenalis

Teori ini menunjukan pada kehamilan dengan anensefalus sering

terjadi kelambatan persalinan karna tidak terbentuk hipotalamus. Teori

(23)

Pemberian kartikosteroid dapat menyebabkan maturitas janin,induksi

(mulainya) persalianan.

Dari percobaan tersebut dapat di simpulkan ada hubungan antara

hipotalamus-hipofisis dengan mulainya persalinan.

Dari percobaan tersebut disimpulkan ada hubungan antara

hipotalamus-hipofisis dengan mulainya persalinan.

Glandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan (Ida Ayu

dkk, 2010, hal ; 168).

C. Nifas

masa nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta

dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pascapersalinan harus

terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang

meliputi upaya pencegahan, diteksi dini dan pengobatan komplikasi dan

penyakit yang mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI,

cara menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu. (Saifudin, 2010,

hal; 356).

Masa nifas di sebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa atau

waktu sejak bayi di lahirkan dan plasenta lepas keluar dari rahim, sampai enam

minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ - organ yang

berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan

dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan. (Suherni, 2009, hal; 1)

Dari pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa nifas adalah masa dimana

setelah ibu melahirkan sampai plaenta lahir, disertai dengan pulihnya

organ-organ seperti sebelum hamil.

1. Perubahan fisiologis masa nifas :

a. Perubahan Sistem Reproduksi

Involusi adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat

kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga

(24)

b. Perubahan Sistem Pencernaan

Pengosongan usus spontan terhambat 2-3 hari karena penurunan

kontraksi otot, pembengkakan perineal yang disebabkan oleh epiotomi,

luka dan hemoroid. Kerapkali diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal

usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah

melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan

selama satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian

bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema. Rasa

sakit didaerah perineum dapat menghalangi keinginan ke belakang.

c. Perubahan Sistem Perkemihan

Fungsi ginjal normal dalam beberapa bulan setelah persalinan,

diaforesis terjadi berlebihan pada malam hari pada hari ke 2-3

persalinan sebagai mekanisme untuk mengurangi tahan cairan pada

kehamilan. Kontraksi kandung kemih sering kali pulih 5-7 hari

persalinan dengan pengosongan kandung kemih yang adekuat.

d. Perubahan Sistem Musculoskelatal/diastasis rectie abdominies

Stabilitas secara sempurna terjadi pada 6-8 mg setelah persalinan

sebagai upaya relaksasi yang disebabkan pembesaran uterus selama

kehamilan (Lusiana, 2009, hal; 59).

e. Perubahan Sistem Endoktrin

Kadar estrogen menurun 10% dalam sekitar 3 jam post partum.

Progesteron turun pada hari ke 3 post partum. Kadar prolaktin dalam

darah berangsur-angsur hilang.

f. Perubahan Tanda-tanda Vital

1) Tekanan Darah: Pada proses persalinan akan terjadi peningkatan

sekitar 15 mmHg untuk sistole dan 10 mmHg untuk diastolr.

Kemudian pasca salin akan kembali stabil dan normal.

2) Suhu: Setelah 12 pertama kelahiran umumnya suhu badan kembali

normal

3) Nadi: 60 – 80 x menit < 100 x / menit abnormal,Terjadinya

(25)

Oleh karena itu syok hipovolemik tidak terjadi pada kehilangan

darah normal.

4) Perubahan Sistem Hematologi: Selama minggu-minggu terakhir

kehamilan kadar fibrinogen dan plasma serta faktor-faktor

pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama post partum

kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah

lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga

meningkatkan faktor pembeku darah.

5) Perubahan Peritonium dan Dinding Abdomen: Selama beberapa

hari peritonium yang membungkus dibentuk menjadi lipatan dan

kerutan. Ligamentum latum dan rotundum jauh lebih kendor

sebagai akibat putusnya serat elastis kulit dan distensi rahim waktu

hamil, dinding rahim lunak dan kendor untuk beberapa waktu,

pemulihan dapat dilakukan dengan latihan kecuali striae. Tidak

jarang uterus menjadi retrofleksi (Nova, 2009, hal; 71).

2. Kunjungan Masa Nifas

Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu

dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani

masalah-masalah yang terjadi.

a. Kunjungan I (6-8 jam setelah persalinan), tujuannya:

1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, dan rujuk bila

perdarahan berlanjut

3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga

bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

4) Pemberian ASI awal

5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir

(26)

b. Kunjungan II (6 hari setelah persalinan), tujannya:

1) Memastikan involusi uterus berjalan normal (uterus berkontraksi,

fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak

ada bau)

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

abnormal

3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat

4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memprlihatkan

tanda-tanda penyulit

5) Memberikan konseling pda ibu mengenai asuhan pada bayi, tali

pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

c. Kunjungan III (2 minggu setelah persalinan), tujuannya sama dengan 6

hari setelah persalinan.

d. Kunjungan IV (6 minggu setelah persalinan), tujuannya :

1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi

alami

2) Memberikan konseling untuk KB secara dini.

(Saifuddin, 2009, hal ; 122-123)

D. Perawatan Bayi Baru Lahir

Masa neonatal adalah masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari)

sesudah kelahiran, neonatus dini adalah bayi berusia 0-7 hari, neonatus lanjut

adalah bayi berusia 7-28 hari (Muslihatun, 2010). Jadi masa neonatus adalah

bayi berumur 0 (baru lahir) sampai dengan usia 1 bulan sesudah lahir.

Segera setelah bayi lahir ia harus di pegang dengan kepala dibawah untuk

beberapa saat agar memudahkan drainage lendir. Cara terbaik memegang bayi

adalah dengan meletakkan pada punggungnya di lengan bawah penolong ; satu

kaku diapit diantara lengan atas dan badan penolonguntuk mencegah supaya

bayi tidak terguling ; leher diantara jari ketiga dan ke empat ; bahu terletak pada

(27)

1. Keuntungan cara ini adalah:

a. bayi di pegang dengan aman dan tidak akan tergelincir di atas jari-jari

b. kepala di pertahankan dalam keadaan extensi ringan, dengan demikian

meluruskan tracea dan membantu drainage

c. bayi dipegang dalam posisi yang mantap sehingga tracea dapat diurut

kebawah, lendir dihisap dari mulut dan tenggorokan, dan prosedur lain

yang diperlukan dapat di kerjakan tanpa bayinya bergoyang-goyang

seperti kalau bayinya di pegang pada kedua mata kakinya (Oxorn,

2010, hal; 120)

d. Penanganan bayi baru lahir

2. Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir, adalah:

a. Membersihkan jalan nafas

b. Memotong dan merawat tali pusat

c. Mempertahankan suhu tubuh bayi

d. Identifikasi

e. Pencegahan infeksi (Saifuddin, 2009, h.133)

3. Pemantauan bayi baru lahir

Tujuannya untuk mengetahui aktifitas bayi normal atau tidak dan identifikasi

masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga

dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.

a. Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah

lahir:

1) Kemampuan menghisap kuat atau lemah.

2) Bayi tampak aktif atau lunglai.

3) Bayi kemerahan atau biru.

b. Yang perlu dipantau pada bayi baru lahir:

1) Suhu badan dan lingkungan

2) Tanda-tanda vital

3) Berat badan

4) Mandi dan perawatan kulit

(28)

6) Perawatan tali pusat

c. Pemantauan tanda-tanda vital:

1) Suhu tubuh bayi diukur melalui dubur atau ketiak

2) Pada pernafasan normal, perut dan dada bergerak hampir

bersamaan tanpa adanya retraksi, tanpa terdrngar suara

waktu inspirasi maupun ekspirasi, gerak pernafasan 30-50 kali

per menit

3) Nadi dapat dipantau disemua titik-titik nadi perifer

4) Tekanan darah dipantau hanya ada indikasi

(Saifuddin 2009, hh. 136-138)

4. Kunjungan ulang

Menurut APN.2008.hal:137, mengatakan terdapat minimal tiga kali

kunjungan ulang bayi baru lahir:

a. Kunjungan I : pada usia 6-48 jam

b. Kunjungan II : pada usia 3-7 hari

c. Kunjungan III : pada usia 8-28 hari

5. Tanda-tanda bayi baru lahir normal

Semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tanda-tanda kegawatan atau

kelainan menunjukan suatu penyakit.

Tanda-tanda bayi baru lahir normal :

1) Berat badan : 2500-4000 gram

2) Panjang badan : 48-52 cm

3) Lingkar kepala : 33-35 cm

4) Llingkar dada : 30-38 cm

5) Denyut Jantung : 120-160 x/menit

6) Pernapasan : 40-60 x/menit

7) Kulit kemerahan dan licin karena jaringan dan adanya vernik caeosa

8) Rambut lanugo terlihat, rambut kepala biasanya sudah sempurna

9) Kuku agak panjang dan lepas

10) Genetalia : jika perempuan labia mayora telah menutupi labia minora,

(29)

Tabel 2.2 Reflek pada Bayi Baru Lahir

Refleks Respons Normal Respons Abnormal

Rooting dan

respons terjadi pada prematuritas,

penurunan atau cedera neurologis, atau

depresi sistem saraf pusat (SSP)

Menelan Bayi baru lahir menelan

berkoordinasi dengan mengisap bila

cairan ditaruh di belakang lidah

Muntah, batuk, atau regurgitasi cairan

dapat terjadi; kemungkinan berhubungan

dengan sianosis sekunder karena

prematuritas, defisit neurologis, atau

cedera; terutama terlihat setelah

laringoskopi.

Ekstrusi Bayi baru lahir menjulur lidah keluar

bila ujung lidah disentuh dengan jari

atau puting.

Ekstrusi lidah secara kontinu atau

menjulur lidah yang berulang-ulang

terjadi pada kelainan SSP dan kejang.

Moro Ekstensi simetris bilateral dan

abduksi seluruh ekstremitas,

dengan ibu jari dan jari telunjuk

membentuk huruf „c‟, diikuti dengan

abduksi ekstremitas dan kembali ke

fleksi relaks jika posisi bayi berubah

tiba-tiba atau jika bayi diletakkan

telentang pada permukaan yang

datar.

Respons asimetris terlihat pada cedera

saraf perifer (pleksus brakialis) atau

fraktur klavikula atau fraktur tulang

panjang lengan atau kaki.

Melangkah Bayi akan melangkah dengan satu

kaki dan kemudian kaki lainnya

dengan gerakan berjalan bila satu

kaki disentuh pada permukaan rata

Respons asimetris terlihat pada cedera

saraf SSP atau perifer atau fraktur tulang

panjang kaki.

Merangkak Bayi akan berusaha untuk

merangkak ke depan dengan kedua

tangan dan kakibila diletakkan

telungkup pada permukaan datar

Respons asimetris terlihat pada cedera

(30)

Refleks Respons Normal Respons Abnormal

Merangkak Bayi akan berusaha untuk

merangkak ke depan dengan kedua

tangan dan kakibila diletakkan

telungkup pada permukaan datar

Respons asimetris terlihat pada cedera

saraf SSP dan gangguan neurologis.

Tonik leher atau

fencing

Ekstremitas pada satu sisi di mana

saat kepala ditolehkan akan

ekstensi, dan ekstremitas yang

berlawanan akan fleksi bila kepala

bayi ditolehkan ke satu sisi selagi

beristirahat.

Respons persisten setelah bulan

keempat dapat menandakan cedera

neurologis. Respons menetap tampak

pada cedera SSP dan gangguan

neurologis.

Terkejut Bayi melakukan abduksi dan fleksi

seluruh ekstremitas dan dapat mulai

menangis bila mendapat gerakan

mendadak atau suara keras.

Tidak adanya respons dapat

menandakan defisit nauroogis atau

cedera. Tidak adanya respons secara

lengkap dan konsisten terhadpa bunyi

keras dapat menandakan ketulian.

Respons dapat menjadi tidak ada atau

berkurang selama tidur malam.

Ekstensi

silang

Kaki bayi yang berlawanan akan

fleksi dan kemudian ekstensi

dengan cepat seolah-olah berusaha

untukmemindahkan stimulus ke kaki

yanglain bila diletakkan telentang;

bayi akan mengekstensikan

satukaki sebagai respons terhadap

stimulus pada telapak kaki.

Respons yang lemah atau tidak ada

respons yang terlihat pada cedera saraf

perifer atau fraktur tulang panjang.

Glabellar

“bink”

Bayi akan berkedip bila dilakukan 4

atau 5 ketuk pertama dan batang

hidung saat mata terbuka.

Terus berkedip dan gagal untuk berkedip

menandakan kemungkinan gangguan

neurologis.

Palmar grasp Jari bayi akan melekuk di sekeliling

benda dan menggenggamnya

seketika bila jari diletakkan di

tangan bayi.

Respons ini berkurang pada

prematuritas. Asimetris terjadi pada

kerusakan saraf perifer (pleksus

brakialis) atau fraktur humerus. Tidak ada

respons yang terjadi pada defisit

neurologis yang berat.

Sumber : Sondakh, Jenny J.S, 2013, asuhan kebidanan persalinan dan bayi baru lahir,

(31)

E. Metode kontrasepsi

Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti mencegah

atau melawan; konsepsi berarti pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang

matang dengan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan.

Kontrasepsi berarti adalah menghindari/ mencegah terjadinya pertemuan antara

sel telur yang matang dengan sel sperma, sehingga tidak terjadi kehamilan

(Sukawati 2014, hal; 178).

1. Ada 3 periode masa reproduksi

a. Masa menunda kehamilan/ kesuburan (umur 20 tahun)

1) Tunda perkawinan (alasan fungsi psikologis belum matang)

2) Tunda untuk hamil lagi

b. Masa mengatur kehamilan/kesuburan (umur 20-30 tahun)

1) Atur jarak kelahiran

2) Usia terbaik untuk hamil dan melahirkan

3) Masa mengakhiri kehamilan/kesuburan (umur.30 tahun)/ sesudah

mempunyai 2 anak

c. Masa menunda kehamilan

1) Ciri konsepsi yang di butuhkan:

a) Reversibilitas tinggi : kembali kesuburan cepat hampir 100%

2) Efektivitas tinggi : tingkat kegagalan kecil

a) Pilihan

b) Pil KB

c) AKDR (bila ada kontraindikasi, sebagai pengganti pil)

d) Cara sederhana

3) Alasan menunda / mencegah kehamilan :

a) Usia < 20 tahun : sebaikna jangan punya anak dulu.

b) Prioritas pil oral oleh kamu masih muda

c) Kondom kurang menguntungkan, karena frekuensi koitus

masih tinggi

d) IUD di anjurkan terutama jika ada kontra indikasi kontrasepsi

(32)

4) Fase menunda / mencegah kehamilan:

5) Fase menunda kehamilan bagi PUS dengan usia istri kurang dari

20 tahun di anjurkan untuk menunda kehamilannya.

Alasan menunda/mencegah kehamilan:

1. Umur dibawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya tidak

mempunyai anak dulu karena berbagai alasan.

2. Prioritas penggunaan kontrasepsi pil oral, karena peserta

masih muda.

3. Menggunakan kondom kurang menguntungkan, karena

pasangan muda masih tinggi frekuensi ber sanggamanya,

sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi.

4. Penggunaan IUD-Mini bagi yang belum mempunyai anak pada

masa ini dapat dianjurkan, terlebih bagi calon peserta dengan

kontra-indikasi terhadap Pil oral.

Ciri-ciri kontrasepsi yang di perlukan:

1. Reversibilitas yang tinggi, artinya kembalinya kesuburan

dapat terjamin hampir 100%, karena pada masa ini

peserta belum mempunyai anak.

2. Efektivitas yang tinggi, karena kegagalan akan

menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko-tinggi

dan kegagalan ini merupakan kegagalan program (Abdul,

bari, 2010)

6) Fase menjarangkan kehamilan:

Periode usia istri antara 20-30/35 tahun merupakan periode usia

paling baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan

jarak antara kelahiran adalah 2 – 4 tahun. Ini dikenal sebagai catur

warga. Alasan menjarangkan kehamilan:

1. Umur antara 20-30 tahun merupakan usia yang terbaik untuk

mengandung dan melahirkan.

2. Segera setelah anak pertama lahir, maka dianjurkan untuk

(33)

3. Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tinggi namun

di sini tidak/ kurang berbahay karena yang bersangkutan

berada pada usia mengandung dan melahirkan yang baik.

4. Di sini kegagalan kontrasepsi bukanlah kegagalan program.

Ciri-ciri kontrasepsi yang di perlukan:

1. Efektivitas cukup tinggi

2. Reversibilitas cukup tinggi karena peserta masih

mengharapkan punya anak lagi.

3. Dapat di pakai 2 sampai 4 tahun yaitu sesuai dengan jarak

kehamilan anak yang di rencanakan.

4. Tidak menghambat air susu ibu (ASI), karena ASI adalah

makanan terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun dan

akan mempengaruhi angka kesakitan dan kematian anak.

7) Fase menghentikan/ mengakhiri kehamilan/ kesuburan:

Periode umur istri di atas 30 tahun, terutama di atas 35 tahun,

sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2 orang

anak. Alasan mengakhiri kesuburan:

1. Ibu-ibu dengan usia di atas 30 tahun di anjurkan untuk tidak

hamil/tidak punya anak lagi, karena alasan medis dan alasan

lainnya.

2. Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap.

3. Pil oral kurang dianjurkan karena uia ibu yang relatif tua dan

mempunyai kemungkinan timbulnya akibat sampingan dan

komplikasi.

Ciri – ciri kontrasepsi yang diperlukan:

1. Efektivitas sangat tinggi. Kegagalan menyebabkan

terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan

anak, di samping itu akseptor tersebut memang tidk

mengharapkan punya anak lagi.

(34)

3. Tidak menambah kelainan yang sudah ada. Pada masa

usia tua kelainan seperti penyakit jantung darah tinggi,

keganasan dan metabolik biasanya meningkat, oleh

karena itu sebaiknya tidak di berikan cara kontrasepsi

yang menambah kelainan tersebut.

Perencenaan keluarga dan penapisan klien

Perencanaan keluarga :

a. Seorang perempuan telah dapat melahirka, segera

setelah ia mendapat haid yang pertama (menarch)

b. Kesuburan seorang perempuan akan terus berlangsung

sampai mati haid (menopose)

c. Kehamilan dan kelahiran terbaik, artinya resiko paling

rendah untuk ibu dan anak, adalah antara 20-35 tahun

d. Persalinan pertama dan kedua paling rendah resikonya

e. Jarak antara dua kelahiran sebaiknya 2-4 tahun

Penapisan klien

Tujuan utama penapisan klien sebelum pemberian suatu

metode kontrasepsi (misalnya pil KB, suntik atau AKDR)

adalah untuk menentukan apakah ada:

a) Kehamilan

b) Keadaan yang membutuhkan perhatian khusus

c) Masalah (misalnya diabetes atau tekanan darah tinggi)

yang membutuhkan pengamatan dan pengolaan lebih

lanjut.

Metode kontrasepsi sangat efektif

1. Implan

2. Vasektomi

3. Suntikan kombinasi

4. Suntikan DMPA/NET-EN

5. Tubektomi

(35)

7. Pil progesteron (masa laktasi)

Metode kontrasepsi efektif dalam pemakaian biasa, sangat

efektif jika dipakai secara tepat dan konsisten

1. Metode amenorea laktasi

2. Pil kontrasepsi kombinasi

3. Pil progesteron (bukan masa laktasi)

Metode kontrasepsi efektif jika di pakai secara tepat dan

konsisten

1. Kondom pria

2. Senggama terputus

3. Diafragma + spermisida

4. KB alamiah

5. Kondom perempuan

6. Spermisida (Abdul bari, 2010, hal; 23)

8) Macam – macam kontrasepsi :

1) Metode Amenoreal (MAL) Adalah kontrasepsi dengan

pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif tanpa tambahan

makanan atau minuman lainnya, Cara kerja:

penundaan/penekanan ovulasi; Dapat dipakai bila menyusui

penuh (minimal 8 x sehari), sebelum haid dan umur bayi

kurang dari 6 bulan) Efek samping tidak ada; Masa efektif

selama 6 bulan; setelah itu harus segera dilanjutkan dengan

pemakaian kontrasepsi lainnya.

2) Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)

Profil : a. Ibu harus belajar mengetahui kapan masa subutnya

berlangsung; b. Efektif bila dipakai dengan tertib; c. Tidak ada

efek samping; d. Pasangan secara sukarela menghindari

senggama pada masa subur ibu (ketika ibu tersebut dapat

menjadi hamil), atau senggama pada masa subur untuk

mencapai kehamilan.

(36)

a) Metode Ovulasi Billing (MOB): Atau metode dua hari

mukosa serviks dan metode simtomatermal adalah

metode yang paling efektif. Metode ini sudah diterima

sebagai salah satu metode KB (mandiri).

b) Sistem Kalender/Pantang Berkala: Sanggama dihindari

pada masa subur (dekat pertengahan antara siklus haid

atau ada tanda-tanda kesuburan yaitu keluarnya lendir

encer dari liang vagina). (Cara penghitungan masa subur:

dipakai rumus terpanjang dikurangi 11, terpendek

dikurangi 18; Antara kedua waktu sanggama dihindari!).

c) Metode Suhu Basal: Tidak dianjurkan lagi, karena tingkat

kegagalan yang cukup tinggi (>20%) dan waktu pantang

yang lama.

d) Sanggama Terputus : Adalah metode KB tradisional,

dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari

vagina sebelum pria mencapai ejakulasi. Cara kerja : Alat

kelamin/penis dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga

sperma tidak masuk ke vagina, dan juga berarti tidak ada

pertemuan antara sperma dengan ovum, sehingga

kehamilan tidak terjadi (dapat dicegah); Efektif bila

dilaksanakan dengan benar; Efek samping tidak ada.

4) Metode Barier

a. Kondom : Adalah selubung/sarung karet yang bisa

terbuat dari berbagai bahan seperti lateks/karet,

plastik/vinil atau bahan alami/produksi hewani yang

dipasang pada penis saat berhubungan seksual; Cara

kerja: Kondom menghalangi terjadinya pertemuan

sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma

diujung selubung karet yang dipasang pada penis

sehingga tidak tercurah kedalam saluran reproduksi

(37)

dan mencegah IMS termasuk HIV/AIDS; Efektivitas

cukup efektif bila dipakai dengan baik dan benar.

b. Diafragma : Adalah kap berbentuk bulat cembung,

terbuat dari lateks (karet) yang diinsersikan ke dalam

vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup

serviks; Cara kerja : menahan sperma agar tidak

mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi

bagian atas (uterus dan tuba falopii) dan sebagai alat

tempat spermiside; Efektivitas, efektif bila digunakan

dengan benar.

c. Spermisida : Adalah bahan kimia (nonoksinol-9)

digunakan untuk menon-aktifkan atau membunuh

sperma; dikemas dalam bentuk aerosol (busa), tablet

vagina, suppositoria (dissolvable film), krim. Cara

kerja: menyebabkan sel membran sperma terpecah,

memperlambat pergerakan sperma, dan menurunkan

kemampuan pembuahan sel telur. Cara

penggunaan/bagi klien: cuci tangan dengan air

mengalir sebelum mengisi aplikator dan insersi

spermiside; gunakan setiap melakukan hubungan

seksual; jarak tunggu sesudah memasukkan (tab

vagina)ayau suppositoria) adalah 10-15 menit, tidak

ada jarak tunggu untuk busa; Spermisida ditempatkan

jauh di dalam vagina sehingga serviks terlindungi

dengan baik. (Bakar, 2011, hal;182 )

5) Kontrasepsi Kombinasi (Hormon Estrogen & Progesteron).

a. Pil Kombinasi : Harus diminum setiap hari; dapat

dipakai oleh semua ibu usia reproduksi, baik yang

sudah mempunyai anak ataupun belum; dapat mulai

diminum setiap saat bila yakin sedang tidak hamil; ibu

(38)

ovulasi, mencegah implantasi, lendir serviks

mengental sehingga sulit dilalui sperma, pergerakan

tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan

sendirinya akan terganggu pula. Efektivitas tinggi

(hampir menyerupai tubektomi).Kontra indikasi: hamil/

dicurigai hamil, menyusui ekslusif, pendarahan

pervaginam, hepatitis, perokok/usia >35 th, riwayat

penyakit jantung, strok, atau tekanan darah tinggi (>

180/110 mmHG), riwayat gangguan faktor

pembekuan darah atau kencing manis > 20 tahun,

kanker payudara, migrain dan gejala neurologik fokal

(epilepsi/ riwayat epilepsi), tidak dapat menggunakan

pil secara teratur setiap hari.

b. Suntikan Kombinasi : Jenis suntikan kombinasi adalah

25 mg Depo Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg

Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi 1 m sebulan

sekali (cyclofem), dan 50 mg Noretindron Enantat dan

5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi 1 m

sebulan sekali. Cara kerja: Menekan ovulasi, membuat

lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi

sperma terganggu, perubahan pada endometrium

(atrofi) sehingga implantasi terganggu, menghambat

transportasi gamet oleh tuba. Efektivitas: Sangat efektif

(0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun

pertama penggunaan.

Kontra indikasi: hamil atau diduga hamil, menyusui di

bawah 6 minggu pasca persalinan, pendarahan

pervaginam, hepatitis, perokok/ usia >35 tahun, riwayat

penyakit jantung, strok, atau tekanan darah tinggi (>

180/110 mmHG), riwayat gangguan faktor pembekuan

(39)

kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit

kepala atau migrain.

6) Kontrasepsi Progestin.

a. Kontrasepsi Suntikan Progestin:Sangat efektif, aman,

dapat dipakai semua perempuan usia reproduksi,

kembali kesuburan rata-rata 4 bulan, tidak menekan

produksi ASI. Tersedia 2 jenis, yaitu: Depo Provera

(Depo Medroksiprogesteron Asetat), mengandung 150

mg DMPA, diberikan/ disuntikkan setiap 3 bulan sekali.

Depo Noristerat (Depo Norestisteron Enantat),

mengandung 200 mg Noretindron Enantat,

diberikan/disuntikkan setiap 2 bulan sekali. Cara kerja:

Mencegah ovulasi; mengentalkan lendir serviks

sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma;

menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi; dan

menghambat transportasi gamet oleh tuba. Kontra

indikasi: Hamil, pendarahan vagina, penderita kanker

payudara, dan penderita diabetes mellitus.

b. Kontrasepsi Pil Progestin (Minipil) : Cocok untuk

perempuan menyusui, tidak menurunkan produksi ASI,

dosis rendah, serta efektif pada masa laktasi. Cara

kerja: menekan sekresi gonadotropin dan sintesis

steroid seks di ovarium; endometrium mengalami

transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit;

mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat

penetrasi sperma; mengubah motilitas tuba sehingga

transpormasi sperma terganggu.Efektivitas: 98,5%,

dengan catatan rutin diminum, minum pertama dihari

pertama haid, diminum dijam yang sama (malam hari),

dan sanggama sebaiknya dilakukan 3-20 jam setelah

(40)

pendarahan pervaginam, tidak dapat menerima

terjadinya gangguan haid, pengguna obat TBC dan

epilepsi, kanker payudara/riwayat kanker payudara,

sering lupa menggunakan pil, miom uterus, riwayat

stroke.

c. Kontrasepsi Implan : Adalah metode kontrasepsi

hormonal yang efektif, tidak permanen dan dapat

mencegah kehamilan antara 3 hingga 5 tahun. Cara

kerja: menghambat terjadinya ovulasi, menyebabkan

endometrium tidak siap untuk nidasi, mempertebal

lendir serviks, menipiskan lapisan endometrium.

Efektivitas: sangat tinggi, kegagalan 1-3 %. Kontra

indikasi: hamil/ diduga hamil, pendarahan pervaginam,

tumor/keganasan, penyakit jantung, kelainan haid,

darah tinggi, kencing manis.

7) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR).

Profil: Sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang

(sampai 10 tahun: CuT-380°); haid menjadi lebih lama dan

lebih banyak; pemasangan dan pencabutan perlu

pelatihan; dapat dipakai oleh semua perempuan usia

reproduksi; tidak boleh dipakai oleh perempuan yang

terpapar pada Infeksi Menular Seksual (Abu, 2011,

hal;187 ).

a. Jenis: (1) AKDR CuT-380'; (2). NOVA T ; Cara Kerja:

(1) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke

tuba falopii; (2) Memengaruhi fertilisasi sebelum ovum

mencapai kavum uteri; (3) Mencegah sperma dan

ovum bertemu; (4) Memungkinkan untuk mencegah

implantasi telur dalam uterus. Persyaratan Pemakaian

AKDR: Usia reproduktif, keadaan Nulipara,

(41)

yang ingin menggunakan kontrasepsi, setelah

melahirkan dan tidak menyusui, setelah abortus dan

tidak terlihat infeksi, risiko rendah dari IMS, tidak

menghendaki metode hormonal, tidak menyukai untuk

mengingat-ingat minum pil setiap hari, dan tidak

menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama).

Waktu Penggunaan: (1) Setiap waktu dalam siklus

haid (klien dipastikan tidak hamil); (2). Hari 1 s/d 7

siklus haid; (3). Segera setelah melahirkan (48 jam

pertama atau 4 minggu pasta persalinan; (4). Setelah

6 bulan bila menggunakan metode amenorea laktasi

(MAL); (5). Setelah menderita abortus ( segera atau

dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi;

(6). dan selama 1 s/d 5 hari setelah sanggama yang

tidak dilindungi. Petunjuk bagi klien (Pengguna

AKDR): (1). Kembali memeriksakan diri setelah 4

sampai 6 minggu pemasangan AKDR; (2). Selama

bulan pertama pemasangan AKDR, periksalah

benang AKDR secara rutin terutama setelah haid; (3).

Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu

memeriksa keberadaan benang setelah haid, apabila

mengalami: kram/kejang perut bagian bawah,

pendarahan setelah sanggama, nyeri atau tidak

nyaman saat sanggama; (4). Copper T-380A perlu

dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat

dilakukan lebih awal apabila diinginkan; (5). Kembali

ke Klinik, apabila: tidak dapat meraba benang AKDR,

merasakan bagian yang keras dari AKDR, AKDR

terlepas, Siklus terganggu/meleset, keluar cairan dari

vagina yang mencurigakan, dan adanya infeksi.

(42)

pendarahan vagina, sedang menderita infeksi alat

genital (vaginitis, servisitis), sering menderita PRP

atau abortus septik, kelainan bawaan uterus yang

abnormal atau tumor jinak rahim, penyakit trofoblas

yang ganas, menderita TBC pelvik, kanker alat

genital, dan ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

8) Kontrasepsi Mantap.

Adalah metode kontrasepsi dengan tindakan pembedahan

pada saluran telur wanita atau saluran mani pria yang

mengakibatkan orang atau pasangan yang bersangkutan

tidak akan memperoleh keturunan. Syarat calon: sukarela,

bahagia, sehat.

a. Tubektomi : Tubektomi adalah salah satu metode

mantap dengan cara operasi pada wanita (metode

operasi wanita). Tubektomi adalah tindakan

penutupan (pemotongan, pengikatan, pemasangan

cincin) pada kedua saluran telur kanan kiri sehingga

sel telur tidak dapat melewati saluran telur.Tubektomi

bukan pengebiran atau pembuangan kedua indung

telur.

b. Vasektomi : Vasektomi adalah salah satu metode

mantap dengan cara operasi pada pria (metode

operasi pria), Vasektomi (MOP) adalah tindakan

penutupan (pemotongan, pengikatan, pemasangan

cincin) terhadap kedua saluran mani kanan dan kiri

sehingga sel mani tidak bisa keluar pada waktu

sanggama. Vasektomi: bukan pengebirian atau

pembuangan buah zakar. Kontra indikasi kontap

dengan cara operasi: Keadaan kesehatan kurang

baik, gangguan pembekuan darah, dan lain-lain;

Gambar

Tabel 2.1 Pertumbuhan janin dalam uterus
Tabel 2.2 Reflek pada Bayi Baru Lahir

Referensi

Dokumen terkait

(2) Pelaksanaan Rembug Desa dan Kelurahan yang dilaksanakan baik dalam rangka penyelesaian permasalahan maupun tidak harus dilaporkan secara beIjenjang ke tingkat satuan atas,

Aktivitas komputer akuntansi perusahaan jasa mengarah pada data entri transaksi keuangan yang terjadi pada perusahaan jasa sejak awal periode sampai dengan proses penyiapan laporan

Penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan gambaran tentang budaya organisasi yang ada pada divisi marketing communication di PT Global Informasi Bermutu

Dalam upaya menumbuhkan partisipasi publik guna mengungkap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam butir kesatu diatas, harus diciptakan iklim yang kondusif antara lain

Pembinaan karakter melalui pendidikan ketarunaan yang diawali dengan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan, dinilai mampu membentuk pribadi peserta didik yang

Penelitian ini bermanfaat bagi PT.SIP karena dalam penelitian ini PT.SIP dapat mengetahui tentang bagaimana penyusunan Marketing Plan yang sesuai untuk memasarkan Produk Panel

Si.,Studi Komparasi Kepercayaan diri Mahasiswa dalam Menyelesaikan Skripsi Antara Alumni Pondok Pesantren dan Non Pondok Pesantren Program Studi Pendidikan Bahasa

Data impor produk apparel Kanada dari dunia selama periode tahun 2011 – 2015 yang berada pada kisaran rata-rata US$ 117 juta dengan tren kenaikan sebesar 13.09% per tahun