• Tidak ada hasil yang ditemukan

ENDAPAN EMAS PADA BATUAN METAMORF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ENDAPAN EMAS PADA BATUAN METAMORF"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER ENDAPAN MINERAL

ENDAPAN EMAS PADA BATUAN METAMORF

DI SUSUN OLEH :

NAMA : TRIYADI APRI MANDANI

NIM : 410010054

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL

YOGYAKARTA

(2)

ENDAPAN EMAS PADA SABUK METAMORFIK (OROGENESIS)

Sabuk metamorfik adalah daerah kompleks dimana terdapat akresi dan kolisi dan melibatkan kerak benua. Proses tektonik yang terjadi merupakan skala litosferik, keterlibatan temperatur dan tekanan, dikarenakan oleh proses magmatik pada busur depan dengan asosiasi prisma akresi dan cekungan ekstensional pada bagian busur belakang, deformasi dan metamorfosa umumnya berasosiasi dengan magmatisme granitoid plutonik, dan pengangkatan serta erosi yang diikuti pembentukan cekungan dimana material sedimen dapat terakumulasi.

Endapan emas dapat terbentuk pada berbagai tingkat dari evolusi orogenik, sehingga muncul sabuk metamorfik yang mengandung bermacam-macam tipe endapan yang dapat saling sejajar atau memotong. Groves et al. (2003) membedakan endapan emas yang terbentuk pada sabuk metamorfik selama proses orogen pada fase kompresi berdasar genesa dan bentuk geometri. Tipe-tipe endapan tersebut antara lain, endapan emas orogenik, endapan emas yang berasosiasi dengan intrusi, dan endapan emas yang berasosiasi dengan logam dasar (Gambar 1).

Gambar 1. Skema keterdapatan endapan emas orogenik, endapan emas anomalous metal association/typical metal association, dan endapan emas berasosiasi dengan intrusi,

(3)

dan memperlihatkan korelasi kedalaman dan tatanan struktur serta litologi batuan pembawa(Groves, et al., 2003).

Endapan emas orogenik

Endapan emas orogenik merupakan endapan hasil dari bentuk terakhir pada siklus orogen dari air metamorfik yang berasal dari bagian tengah hingga bagian bawah kerak,

walaupun ada kumungkinan fluida juga berasal dari air magmatik yang dalam. Untuk endapan jenis ini, terkadang digunakan pula terminologi yang berkaitan dengan asosiasi bijih host sequence, seperti greenstone-hosted, greenstone belt, slate-belt style,turbidite hosted. Juga dipergunakan sebutan yang berkaitan denga bentuk bijih yang ditemukan, seperti lode gold, urat kuarsa-karbonat, atau disseminated deposit.

Batuan asal pada endapan emas orogenik ini mayoritas terkena metamorfosa regional membentuk sekishijau hingga fasies amfibolit bawah. Bijih pada endapan ini terbentuk secara sinkinematik, dengan setidaknya 1 tahap deformasi penetrasi pada batuan asal, yang tentunya menghasilkan kontrol struktur yang kuat meliputi sesar, shear zone, lipatan dan atau zone of competency contrast (Hudgons, 1989 dalam Grove et al., 2003).

Endapan ini memperlihatkan dimensi vertikal sekitar 1 km hingga 2 km, menunjukkan penzonaan logamyang halus dengan kenampakan yang khusus dan kuat. Pada endapan ini urat kuarsa±karbonat ada di mana-mana dan pada umumnya mengandung sedikit emas, walaupun pada kebanyakan sistem tersulfidasi, batuan samping dengan kandungan Fe/ (Fe+Mg+Ca) yang tinggi berdampingan dengan urat-urat yang mengandung bijih (Bohlke, 1988 dalam Grove et al., 2003).

Kebanyakan dari endapan emas yang ditemukan pada jumlah yang besar adalah jenis endapan emas orogenik. Secara garis besar endapan ini terbagi menjadi 2, yaitu (1) endapan yang mengalami pengkayaan Cu±Mo (contohnya adalah pada McIntyr Timmins/Kanada dan Boddington/Australia) dan (2) endapan yang mengalami pengkayaan Cu-Zn±Pb±Ag dan/atau pirit yang melimpah (contohnya pada Bousquet/ Kanada; Mount Gibson/Australia, dan beberapa endapan yang ditemukan di Tanzania dan Kenya; Carolinaslate belt/USA dan endapan VMS di

(4)

Mount Read/Australia, yang keduanya memiliki unsur yang berasosiasi dengan endapan emas orogenik (contohnya: As, B, Bi, Sb, Te,W). Endapan emas orogenik ini sangat luas penyebarannya, sehingga dibagi-bagi lagi berdasarkan segmen kedalamannya (Gebre-Mariam et al., 1995). Secara garis besar terbagi menjadi 3 yaitu “epizonal” pada kedalaman < 6 km, “mesozonal” pada kedalaman 6 km – 12 km, dan “hipozonal” pada kedalaman >12 km.

Gambar 2 Pembagian zona pada endapan emas orogenik dan dikorelasikan dengan derajat metamorfosa pada batuan pembawa (Gebre-Mariam et al., 1995).

Karakteristik mineralogi, geokimia dan fluida endapan emas orogenik A. Kondisi geologi host terrane dan tatanan tektonik

Berdasarkan Kondisi geologi tipe endapan ini bercirikan : - Metamorfisme Regional

- Protolithnya 1. pada Archean berupa Green schist mengandung Au vulkanik plutonik pada back arc berupa basal, 2. sedimen laut klastik berupa greywake, argilit

- Endapan emas tipe ini terbentukakhir uruttan deformasi metamorfisme pada batas lempeng : akresi, translasi dan Kolisi.

(5)

Gambar 3. Tatanan tektonik pembentukan berbagai endapan. Tatanan tektonik pembentukan endapan orogenik berada pada batas kontinen, zona akresi atau kolisi (Groves et al, 1998).

Perlu ditekankan bahwa endapan emas orogenik bukan merupakan endapan synvulkanik. Endapan ini terbentuk pada akhir siklus orogen, puluhan juta tahun setelah vulkanisme terjadi (Gebre-Mariam et al., 1995). Terdapat kontrol struktur yang kuat terhadap proses mineralisasi dengan skala yang bervariasi. Endapan biasanya ditemukan pada struktur orde kedua atau ketiga, dan sangat sering ditemukan berupa struktur akibat kompresi dengan skala yang sangat besar. Terdapat sangat banyak variasi tipe struktur yang ditemukan (Groves et al,. 1998), yaitu:

1. Patahan brittle hingga ductile shear zone dengan sesar naik yang memiliki sudut yang kecil hingga sudut yang besar, strike-slip atau oblique-slip motion

2. Fracture array, stockwork atau zona breksiasi pada batuan 3. Zona foliasi (rekahan yang terbentuk akibat tekanan), atau 4. Puncak lipatan pada sekuen turbidit yang bersifat ductile.

(6)

Struktur mineralisasi mengalami syn- atau post-mineralization displacement, namun endapanemas biasanya memiliki penyebaran yang luas, terus menunjam ke bawah (ratusanmeter hingga kilometer). Berbagai aspek geologi mempengaruhi bentuk mineralisasi dari endapan seperti terlihat pada gambar ini.

Gambar 4.Macam-macam bentuk mineralisasi pada lode gold Proterozoik (Partington dan Williams, 2000).

B. Fasies metamorfik batuan samping

Endapan emas pada batuan metamorf tentunya berkaitan dengan proses metamorfosa yang menghasilkan batuan metamorf. Stüwe (1998, dalam Groves et al., 2003) menyatakan bahwa endapan emas orogenik biasanya terkena proses metamorfosa regional membentuk batuan metamorf fasies sekis hijau hingga fasies amfibolit-bawah. Sedangkan Gebre-Mariam et al. (1995) menyatakan bahwa endapan emas pada batuan metamorf ditemukan pada fasies prehnit-pumpelit, fasies sekis hijau, fasies amfibolit, dan granulit bawah. Namun, mayoritas endapan emas ditemukan pada fasies sekishijau.

(7)

C. Mineralogi endapan

Endapan ini dicirikan dengan sistem urat dominan kuarsa dengan mineral sulfida ≤ 3-5% (umumnya sulfida Fe) dan mineral karbonat ≤ 5-13-5%. Mineral albit, mika putih atau fushsite, klorit, scheelite dan turmalin sangat sering menjadi pengotor pada urat yang ditemukan pada batuan pembawa fasies sekishijau. Sistemurat bisa menerus secara vertikal mencapai 1-2 km dengan sedikit perubahan mineralogi atau kadar emas. Zoning mineral ditemukan pada beberapa endapan. Perbandingan emas : perak bervariasi dari 10 (normal) hingga 1 (sangat sedikit), dengan bijih yang terdapat pada urat dan pada batuan samping yang tersulfidasi. Kadar emas relatif tinggi, tercatat mencapai 5–30 g/t. mineralogi sulfida biasanya menunjukkan litogeokimia batuan pembawa. Arsenopirit merupakan mineral sulfida yang paling sering ditemukan pada batuan asal metasedimen, sedangkan mineral pirit atau pirotit ditemukan pada batuan beku yang termetamorfkan. Urat yang mengandung sedikit emas memperlihatkan pengkayaan akan As, B, Bi, Hg, Sb, Te dan W yang bervariasi; konsentrasi Pb dan Zn pada umumnya hanya sedikit di atas keadaan regional awal (Groveset al., 1998).

D. Alterasi batuan samping

Endapan ini menunjukkan zonasi lateral yang kuat pada fase alterasi dari proksimal hingga distal yang mencapai skala meter hingga kilometer yang terjdi baik pada skala camp maupun skala endapan. Alterasi yang umum terjadi adalah kloritisasi dan karbonatisasi dapatmencapai lebar 1 kmdari endapan. Sedangkan untuk zona alterasi yang terbentuk pada fase awal zona sesar transcrustal dan dikontrol struktur skala besar, hanya terbatas atau terpusat dengan karakteristik alterasi karbonatisasi pada batuan pembawa. Kumpulan mineral yang sering ditemukan pada zona alterasi umumnya karbonat, seperti ankerit, dolomit atau kalsit, dan sulfida, seperti pirit, pirotit, atau arsenopirit. Kehadiran metasomatisme alkali menyebabkan proses serisitisasi atau ditemukan (sangat jarang) mineral fuchsite, biotit, atau K-feldspar dan albitisasi, dan mineral mafik yang mengalami kloritisasi tinggi. Amfibol atau diopsid ditemukan pada kerak yang lebih dalam dan mineral karbonat semakin sedikit

(8)

keberadaannya. Sulfidasi sangat ekstrim pada BIF dan batuan pembawa batuan mafik yang kaya Fe. Berikut ini karakteristik alterasi yang umum dijumpai pada zona alterasi endapan orogenik:

Kloritisasi. Klorit dapat muncul sendiri atau hadir bersama-sama dengan kuarsa atau turmalin dalam bentuk kumpulan mineral. Namun, kehadiran mineral propilitik lain juga sering ditemukan, dan terkadang juga muncul anhidrit. Klorit hasil alterasi hidrotermal seringkali menunjukkan perubahan rasio Fe : Mg yang sebanding dengan jarak dari tubuh bijih. Perkembangan mineral klorit sekunder dapat dihasilkan dari alterasi mineral mafik yang ada pada batuan asal atau dari magnesium dan besi yang ada sebelumnya(Evans, 1993).

Karbonatisasi Alterasi tipe karbonatisasi akan menghasilkan mineral dolomit yang terbentuk dari aktivitas hidrotermal. Dolomit hasil alterasi memiliki ukuran butir yang lebih kasar (Evans, 1993).

Serisitisasi.Tipe alterasi ini adalah tipe alterasi yang paling sering ditemukan pada batuan yang kaya aluminium, seperti batusabak, granit, dan lain sebagainya (Evans, 1993).

E. Fluida Bijih

Konsep sistem mineral hampir sama dengan konsep sistem minyak bumi, dimana terdapatsumber, migrasi, trap, kontrol struktur dan lapisan pelindung impermeabel(seal),namun konsep sistem mineral lebih kompleks. Faktor geologi mengontrol keterdapanendapan mineral dan serta adanya gaya yang mendorong (mobilisasi) komponen bijih dari sumber yang kemudian terangkut dan terakumulasi ke dalam bentuk konsentratbijih. Berbagai macam faktor geologi antara lain, sumber energi (sumber panas dan gradien termal dari lingkungan geodinamik) mendorong sistem pada terrane maupun skalaregional, sumber larutan mineralisasi, yang mengangkut ligands dan logam dan komponenbijih lainnya, karakteristik jalur migrasi sebagai jalan untuk mengalirkan larutansehingga sampai pada trap, kontrol struktur dan lapisan penutup (seal) yang impermeabelyang terdapat pada trap atau jebakan, proses kimia dan/atau fisika yang bekerjapada jebakan (Hagemann dan Cassidy, 2000).Penelitian mengenai inklusi fluida pada endapan ini menghasilkan kesimpulan bahwa bijih emas berasal dari fluida dengan salinitas rendah, hampir netral, fluida H2O-CO2±CH4 mengangkut emas berupa sulfur yang

(9)

tereduksi. Fluida berasosiasi dengan endapan emas ini memiliki konsentrasi CO2 yang tinggi

yaitu≥5mol.%. Fluida hidrotermalpada greenstone belt Archaean memiliki isotop tipe 18O sekitar

5–8 permil, sedangkan padalode goldPhanerozoik lebih tinggi sekitar 2 per mil (Groves et al., 1998).Penelitian juga menunjukkan bahwa fluida bercampur dengan fluida aquaeous-carbonic, yang jelas sangat berbeda dengan endapan emas lain pada umumnya (seperti epitermal, porfiri Cu-Au, VMS). Walaupun demikian beberapa endapan individualmenunjukkan pengecualian. Fakta menunjukkan bahwa endapan sinmetamorfik ditemukanpada fasies amfibolit. Ridley et al. (2000, dalam Groves et al., 2003) menunjukkanbahwa fluida diperoleh dari puncak dari proses metamorfosa dan berasal dari sumbe rsumberyang dalam. Walaupun data mengenai isotop radiogenik dan stabil tersebarsecara luas, namun kesimpulan yang pasti mengenai asal dari fluida ini belum dapatdipastikan.Ridley and Diamond (2000, dalam Groves et al., 2003)menyatakan bahwa terdapat beberapaunsur yang mendominasi fluida pada endapat emas orogenik ini, seperti unsurN,Br, Cl, C, dan H, yang memiliki karakteristik isotropik yang dapat memberikan batasansumber-sumber yang mungkin. Dijelaskan pula bahwa isotop H memperlihatkan kecenderunganperpindahan, kimiaN, Br, dan Cl pada kerak yang lebih dalamtidak diketahui, dan reservoar C dalam bentuk grafit atau alterasi karbonat sepanjang jalur fluida dapatmengubah rasio isotropik. Data yang ditemukan mengenai inklusi fluida, geokimia danisotropik tidak dapat dibedakan secara jelas antara sumber metamorfik dan magmatikdalam untuk fluida bijih pada sistem emas orogenik (Groves et al., 2003).

Gambar

Gambar 1. Skema keterdapatan endapan emas orogenik, endapan emas anomalous metal
Gambar  2  Pembagian   zona   pada   endapan   emas   orogenik   dan   dikorelasikan   dengan   derajat metamorfosa pada batuan pembawa (Gebre-Mariam et al., 1995).
Gambar  3.   Tatanan   tektonik   pembentukan   berbagai   endapan.  Tatanan   tektonik   pembentukan endapan orogenik berada pada batas kontinen, zona akresi atau kolisi (Groves et al, 1998).
Gambar  4. Macam-macam   bentuk   mineralisasi   pada lode   gold Proterozoik   (Partington   dan Williams, 2000).

Referensi

Dokumen terkait

Urat kuarsa mengandung (4,348-174,1) ppm emas dengan ketebalan 2 cm hingga 20 cm dengan kedudukan N 280° E/49° dan pada tempat yang lain mempunyai kemiringan tegak terjebak

Dari hasil penelitian ditemukan adanya emas yang terjebak pada urat kuarsa batuan filit, dan dijumpai adanya alterasi atau ubahan pada batuan di daerah tersebut.. Studi

Maka dari model 2-D resistivity dan chargeability dapat disimpulkan bahwa lapisan batuan yang dimungkinkan terdapat vein kuarsa yang mengandung deposit emas terdapat

merupakan batuan metamorf dengan batuan asal napal. Satuan litologi genes terdiri dari mineral biotit, muskovit, garnet, kuarsa, k-felspar, kyanit, silimanit dan cordierit

pelapukankimia, proses kimiawi, dan organisserta proses penguapan / evaporasi.Batuan endapan atau batuan sedimen adalah salah satu dari tiga kelompok utama batuan ( bersama

Sumber batuan, terutama pada urat kuarsa dalam Formasi Cikotok yang terletak di sebelah utara daerah penelitian; dimana daerah mineralisasi batuan berupa urat kuarsa, bijih

feldspar total dan mengandung kuarsa yang banyak Kandungan ortoklas feldsparnya hampir sama dengan feldspar total dan kuarsa kurang berarti dari yang terdapat di batuan

Dengan kata lain, saat terbentuknya zona lemah, larutan hidrotermal yang naik mengisi zona-zona lemah dan terbentuklah urat-urat kuarsa pada zona lemah tersebut Alterasi argilik