• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PEMBANGUNAN KABUPATEN BREBES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "RENCANA PEMBANGUNAN KABUPATEN BREBES"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

B AB

I I I

RE NCANA PE MBANGUNAN

KABUPATE N BRE BE S

Strategi / Sk enario Pengembangan WilayahStrategi / Sk enario Pembangunan Kabupaten

Safeguard Pengadaan Tanah dan Permuk iman KembaliRencana PengelolaanSafeguard Sosial dan L ingk unganRencana PemantauanSafeguard Sosial dan L ingk ungan

encana pembangunan Kabupaten Brebes, terkait kegiatan Penyusunan Review RPIJM Kabupaten Brebes tahun anggaran 2010 akan diuraikan sebagai berikut.

3.1 STRATEGI/SKENARIO PENGEMBANGAN WILAYAH

3.1.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah

A. Rencana Sistem Pusat Pelayanan

a

a.. RReennccaannaaPPeenneettaappaannSSaattuuaannWWiillaayyaahhPPeemmbbaanngguunnaann((SSWWPP))

Penetapan Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) direncanakan sebagai berikut :

1) Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) I terdiri dari Kec. Brebes, Kec. Wanasari, Kec.

Bulakamba, Kec. Tanjung, dan Kec. Losari. Kecamatan-Kecamatan yang masuk dalam

SWP I pada dasarnya merupakan wilayah kecamatan yang mendapatkan pengaruh

langsung dari Jalan Arteri Primer Pantura, pusat dari SWP I adalah Kota Brebes.

Berdasarkan karakter perkembangannya kawasan SWP I dibagi menjadi 2 (dua) Sub

Satuan Wilayah Pembangunan (SSWP), yaitu :

SSWP) I.1. : meliputi wilayah Kec. Brebes, Kec. Wanasari, Kec. Bulakamba. Pengembangan kawasan ini diarahkan pada usaha keterpaduan antar fungsi

(terutama pemerintahan, perdagangan-jasa, permukiman industri, permukiman

perkotaan, pertanian, dan pelestarian kawasan pesisir) dalam kawasan perkotaan.

Kota pusat pelayanan SSWP I.1 adalah Kota Brebes.

SSWP I.2. : meliputi wilayah Kec Tanjung dan Kec. Losari. Arahan kegiatan SSWP ini adalah kegiatan perdagangan-jasa, transportasi, pengelolaan-konservasi

kawasan pesisir dan pertanian. Kota pusat pelayanan SSWP I.2 ini adalah Kota

(2)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

2) Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) II terdiri atas Kec. Jatibarang, Kec. Songgom, Kec.

Larangan, Kec. Ketanggungan, Kec. Kersana, dan Kec. Banjarharjo.

Kecamatan-Kecamatan yang masuk dalam SWP II pada dasarnya merupakan wilayah kecamatan

yang ada di Kabupaten Brebes bagian tengah, pusat dari SWP II adalah Kota

Ketanggungan. Berdasarkan karakter perkembangannya kawasan SWP II dibagi menjadi

2 (dua) Sub Satuan Wilayah Pembangunan (SSWP), yaitu:

SSWP II.1. : meliputi wilayah Kec. Jatibarang, Kec. Songgom, Kec. Larangan. Arahan kegiatan SSWP II.1 adalah kegiatan pertanian lahan basah, agrobisnis,

industri kecil, hutan produksi. Kota pusat pelayanan SSWP II.1 adalah Kota

Jatibarang.

SSWP II.2. : meliputi wilayah Kec. Ketanggungan, Kec. Kersana, Kec. Banjarharjo. Arahan kegiatan SSWP II.2 adalah kegiatan perdagangan-jasa, transportasi, industri

kecil, pertanian lahan basah, hutan produksi, konsevasi sumberdaya air. Kota pusat

pelayanan SSWP II.2 adalah Kota Ketanggungan.

3) Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) III terdiri atas Kec. Tonjong, Kec. Bumiayu, Kec.

Sirampog, Kec. Paguyangan, Kec. Bantarkawung, dan Kec. Salem.

Kecamatan-Kecamatan yang masuk dalam SWP III pada dasarnya merupakan wilayah kecamatan

yang ada di Kabupaten Brebes bagian selatan, pusat dari SWP III adalah Kota Bumiayu.

Berdasarkan karakter perkembangannya kawasan SWP III dibagi menjadi 2 (dua) Satuan

Wilayah Pembangunan (SSWP), yaitu :

SSWP III.1. : meliputi wilayah Kec. Tonjong, Kec. Bumiayu, Kec. Sirampog, Kec. Paguyangan. Arahan kegiatan SSWP III.1 adalah kegiatan perdagangan-jasa,

transportasi, konservasi alam, konservasi sumber daya air, pertanian lahan basah,

pertanian lahan kering, perkebunan, agribisnis, hutan rakyat, industri (termasuk agro

industri), dan konservasi alam. Kota pusat pelayanan SSWP III.1 ini adalah Kota

Bumiayu.

SSWP III.2. : meliputi wilayah Kec. Bantarkawung, dan Kec. Salem. Arahan kegiatan SSWP III.2 adalah kegiatan pertanian lahan kering, agro industri, konservasi alam,

konsevasi sumberdaya air. Kota pusat pelayanan SSWP III.2 ini adalah Kota Salem.

b

(3)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

umum, pusat perdagangan dan jasa maupun koleksi dan distribusi hasil-hasil bumi

dari kecamatan-kecamatan yang menjadi wilayah pengaruhnya. Untuk mendukung

fungsi tersebut maka fasilitas yang harus ada adalah, fasilitas pelayanan umum serta

perdagangan dan jasa skala kecamatan dan ditunjang oleh sarana dan prasarana

transportasi yang memadai. Kota PKL direncanakan memiliki skala pelayanan satu

Satuan Wilayah Pembangunan (SWP)1. Jenis fasilitas dan prasarana yang dilokasikan

di kawasan perkotaan ini dirancang untuk memiliki pelayanan Kabupaten.

2) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK), meliputi Ibukota Kecamatan (IKK) Tanjung, IKK

Jatibarang, IKK Wanasari, IKK Bulakamba, IKK Losari, IKK Banjarharjo, IKK Larangan,

IKK Songgom, IKK Tonjong, IKK Sirampog, IKK Paguyangan, IKK Bantarkawung, dan

IKK Salem. PPK berfungsi sebagai pusat pelayanan umum, perdagangan dan jasa,

serta pemerintahan bagi desa-desa yang berada di wilayah administrasinya. Untuk

mendukung fungsi tersebut maka fasilitas yang harus ada adalah, fasilitas pelayanan

umum serta perdagangan dan jasa skala kecamatan. Kota PPK ini direncanakan

memiliki skala pelayanan Kecamatan (dalam konteks ini PPK diarahkan juga memiliki

skala pelayanan Sub Satuan Wilayah Pembangunan (SSWP). Jenis fasilitas dan

prasarana yang dilokasikan di kawasan perkotaan ini dirancang untuk memiliki

pelayanan satu kecamatan atau lebih.

3) Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL), adalah Desa dengan dengan pusat permukiman

yang berfungsi untuk melayani kegiatan antar desa. Pusat-pusat permukiman tersebut

berada di Desa Bentar Kec. Salem, Desa Kalilangkap Kec. Bumiayu, Desa Dawuhan

Kec. Sirampog, Desa Sindangwangi Kec. Bantarkawung, Desa Pamulihan Kec.

Larangan, Desa Cikeusal Kidul Kec. Ketanggungan, Desa Bandungsari dan Desa

Cikakak Kec. Banjarharjo, Desa Bojongsari Kec. Losari, Desa Sitanggal Kec.

Larangan, Desa Banjaratma Kec. Bulakamba, dan Desa Sawojajar Kec. Wanasari.

PPL berfungsi sebagai pusat pelayanan umum serta perdagangan dan jasa. Fasilitas

yang harus ada diantaranya adalah fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan

maupun perdagangan dan jasa skala kecamatan. Jenis fasilitas dan prasarana yang

dilokasikan di kawasan pusat pelayanan lingkungan ini dirancang untuk memiliki skala

pelayanan beberapa desa atau satu wilayah kecamatan.

1

(4)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

c

c.. RReennccaannaaSSiisstteemmPPeerrddeessaaaann

Pengembangan sistem permukiman perdesaan di Kabupaten Brebes diarahkan pada usaha

pemerataan pembangunan dan pengembangan wilayah sebagai upaya untuk mencegah

kesenjangan. Hal ini terutama karena hambatan-hambatan strategis yang meliputi kondisi

geografis yang mempengaruhi pola distribusi dengan tingkat kesulitan aksesibilitas yang cukup

tinggi, yang ditunjukkan adanya hambatan-hambatan fisik kawasan dan sistem jaringan yang

belum memadai dalam membuka potensi-potensi pembangunan bagi wilayah terbelakang.

Untuk itu arahan selanjutnya adalah merencanakan pengembangan wilayah pedesaan dengan

pemilihan desa-desa berpotensi untuk menjadi desa pusat pertumbuhan. Desa-desa tersebut

menjadi pusat pelayanan lingkungan (PPL) dan sebagai Kawasan Terpilih Pusat

Pengembangan Desa ( KTP2D ) dengan daerah desa-desa sekitar yang menjadi

hinterlandnya.

Secara lengkap rencana KTP2D dengan DPP di Kabupaten Brebes dapat dilihat pada Tabel

berikut.

Tabel 3-1

Wilayah Pengembangan Pedesaan

KTP2D Desa Pusat

Pertumbuhan

Wilayah Pengaruh Kecamatan Fungsi Pengembangan

Utama

I Bentar Tembograja Salem  Pertanian tanaman pangan

lahan kering

II Kalilangkap Kalinusu Bumiayu  Pertanian tanaman pangan

lahan kering

III Dawuhan Sridadi Sirampog  Hutan negara

 Pertanian tahunan lahan

IV Sindangwangi Kadumanis Salem  Hutan Negara

 Pertanian Lahan Kering

(5)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

KTP2D Desa Pusat

Pertumbuhan

Wilayah Pengaruh Kecamatan Fungsi Pengembangan

Utama  Pertanian pangan lahan

kering

 Pertanian tahunan lahan kering

VI Cikeusal Kidul Sindangjaya Ketanggungan  Pertambangan

 Pertanian lahan basah

VII Bandungsari Penanggapan Banjarharjo  Hutan negara

 Pertanian lahan kering

VIII Cikakak Cibendung Banjarharjo  Pertanian lahan kering

 Pertanian lahan basah

IX Bojongsari Randegan Losari  Pertanian lahan kering

 Pertanian lahan basah

X Sitanggal Siandong Larangan  Pertanian Lahan basah

 Pertanian lahan kering

XI Banjaratma Siwuluh Bulakamba  Pertanian Lahan basah

 Pertanian lahan kering

XII Sawojajar Kertobesuki Wanasari  Pertanian Lahan basah

(6)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

(7)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

(8)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

B. Rencana Prasarana Wilayah

a

a.. SSiisstteemmJJaarriinnggaannTTrraannssppoorrttaassii

1

1)) SSiisstteemmJJaarriinnggaannTTrraannssppoorrttaassiiDDaarraatt

Sistem jaringan transportasi di kabupaten Brebes memiliki 2 (dua) sistem jaringan

transportasi darat, yaitu jaringan jalan dan kereta api.

i. Jaringan Jalan

Rencana jaringan jalan di Kabupaten Brebes dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Jalan Arteri Primer yaitu :

a. Ruas Jalan Losari – Brebes;

b. Ruas Jalan Lingkar Kawasan Perkotaan Brebes dan Kawasan Perkotaan

Bumiayu;

c. Ruas Jalan Pejagan– Ketanggungan – Bumiayu – Paguyangan;

d. Jalan Bebas Hambatan Kanci – Pejagan, Pejagan – Pemalang, dan Pejagan –

Cilacap.

2. Jalan Kolektor Primer yaitu :

a. Ruas jalan yang menghubungkan Jatibarang – Ketanggungan – Kersana –

Ciledug.

3. Jalan Lokal Primer meliputi ruas jalan yang menghubungkan ruas-ruas jalan berikut:

a. Ruas jalan yang menghubungkan Tanjung – Kersana – Banjarharjo – Salem.

b. Ruas jalan yang menghubungkan Brebes – Jatibarang – Songgom.

c. Ruas jalan Losari – Cikakak.

d. Ruas jalan Cibendung – Banjarharjo.

e. Ruas jalan Larangan – Bumiayu (melalui Bantarkawung).

f. Ruas jalan Salem – Bantarkawung – Bumiayu melalui Jalan Desa Kadomanis

dan Sindangwangi Kecamatan Bantarkawung.

g. Ruas jalan lokal primer lainnya yang menjadi kewenangan kabupaten.

Untuk meningkatkan kinerja sistem transportasi jalan raya, maka rencana

pengembangan sarana lalu lintas (terminal) ditetapkan sebagai berikut :

a. Terminal tipe B direncanakan di Kawasan Perkotaan Brebes dan Kawasan

(9)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

b. Terminal Tipe C direncanakan di Kecamatan Ketanggungan, Kecamatan

Jatibarang, Kecamatan Tanjung, Kecamatan Losari, Kecamatan Salem. Terminal

ini direncanakan untuk melayani angkutan umum perdesaan. Namun karena sifat

karakter pergerakan yang kompleks terminal ini juga dapat melayanai pergerakan

angkutan umum antar kota antar propinsi dan angkutan perbatasan.

c. Terminal Asal-Tujuan (origin-destination/OD); terminal ini berfungsi untuk melayani

pergerakan yang menuju pusat-pusat desa. Terminal asal tujuan direncakan di

Kecamatan Bulakamba, Kecamatan Kersana, Kecamatan Banjarharjo, Kecamatan

Bantarkawung, Kecamatan Paguyangan, Kecamatan Sirampog dan Kecamatan

Songgom.

d. Terminal barang direncanakan sebagai berikut: Terminal terminal ini berfungsi

melayani kegiatan bongkar dan/atau muat barang, serta perpindahan intra dan/atau

antar moda transportasi. Terminal barang direncanakan di Perkotaan Bumiayu dan

Perkotaan Brebes.

Selanjutnya untuk rencana pemenuhan kebutuhan moda angkutan adalah untuk

mengantisipasi kebutuhan angkutan manusia dan barang. Untuk ini dapat dilakukan

dengan pendekatan pada pengusaha-pengusaha angkutan bus, angkutan kota,

angkutan pedesaan dan angkutan barang. Sehingga pemenuhan kebutuhan pada

masa yang akan datang tidak ada kesulitan. Selanjutnya untuk pemenuhan kebutuhan

moda angkutan ini juga dapat dilakukan dengan pengendalian, pengelolaan, dan

pengawasan pada angkutan barang dan jasa seperti melakukan penertiban

lokasi-lokasi yang tidak direncanakan sebagai terminal namun berfungsi sebagaimana

layaknya terminal, sehingga tidak ada pelanggaran-pelanggaran kapasitas, jenis

pengangkutan dan juga pelanggaran lainnya.

Rencana peningkatan rute trayek angkutan dibutuhkan untuk lebih meningkatkan

pelayanan serta dalam rangka mendorong Kabupaten Brebes supaya lebih

berkembang. Rencana peningkatan rute trayek ini meliputi :

a. Jalur Tanjung ke arah Bumiayu melewati Ketanggungan, Larangan, Songgom,

Prupuk, dan Tonjong. Pengadaan trayek tersebut untuk melayani masyarakat di

sekitar Ketanggungan, Larangan dan Songgom yang akan bepergian ke arah

Selatan.

b. Jalur Ketanggungan – Bantarkawung melewati jalur tengah yang masih

membutuhkan peningkatan kualitas jaringan jalan sehingga diharapkan setelah

(10)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

c. Jalur Brebes ke Bumiayu lewat Jatibarang, Songgom, dan Tonjong.

Salah satu permasalahan moda angkutan umum manusia di Kabupaten Brebes yang

perlu mendapatkan perhatian adalah terdapatnya jenis angkutan umum terbuka yang

beroperasi di daerah Salem, Banjarharjo dan Bantarkawung. Ditinjau dari segi

keselamatan maka jenis angkutan tersebut sangat berbahaya sehingga tidak layak

dioperasikan untuk untuk angkutan manusia. Rencana penanganan masalah tersebut

harus dilakukan dengan melibatkan masyarakat pemakai angkutan karena penggunaan

jenis angkutan ini sudah menjadi satu kebiasaan setempat yang butuh waktu untuk

mengubahnya.

ii. Jaringan Kereta Api

Jalur yang melintasi Kabupaten Brebes adalah Jalur Rel Kereta Api Utara Jawa dan

jalur Tengah Jawa, yaitu jalur Semarang – Jakarta dan Jalur Kroya – Purwokerto –

Prupuk – Cirebon. Jalur Semarang – Jakarta melintasi Stasiun Brebes, Stasiun

Bulakamba, dan Stasiun Tanjung, sementara Jalur Kroya – Purwokerto – Prupuk –

Cirebon melintasi Stasiun Patuguran, Stasiun Kretek, Stasiun Talok, Stasiun

Linggapura, Stasiun Songgom, Stasiun Larangan, Stasiun Ketanggungan, dan Stasiun

Ketanggungan Barat. Jalur kereta api ini merupakan salah satu potensi yang harus

dioptimalkan sebagai salah satu faktor untuk meningkatkan aksesibilitas terutama

untuk wilayah yang memiliki stasiun Kereta api.

Rencana pengembangan prasarana perkeretaapian di Kabupaten Brebes meliputi:

1. Rencana peningkatan jaringan kereta api utama meyelaraskan rencana jaringan

kereta api nasional;

2. Rencana peningkatan prasarana penunjang Satsiun Kereta Api di Kabupaten

Brebes meliputi Stasiun Brebes, Stasiun Bulakamba, Stasiun Tanjung, Stasiun

Ketanggungan Barat, Stasiun Ketanggungan, Stasiun Larangan, Stasiun Songgom,

Stasiun Linggapura, Stasiun Talok, Stasiun Kretek dan Stasiun Patuguran;

3. Rencana pengembangan stasiun Kereta Api Perkotaan Brebes direncanakan

terpadu dengan terminal tipe B Kawasan Perkotaan Brebes.

2

2)) SSiisstteemmJJaarriinnggaannTTrraannssppoorrttaassiiLLaauutt

(11)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

3. Fasilitas penambatan perahu direncanakan di kawasan pesisir Kabupaten Brebes

meliputi Kecamatan Losari, Kecamatan Tanjung, Kecamatan Bulakamba, Kecamatan

Wanasari, dan Kecamatan Brebes dengan mempertimbangkan potensi masing-masing

(12)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

(13)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

b. Rencana Sistem Sumberdaya Air

Sesuai dengan letak geografis, iklim di Kabupaten Brebes merupakan iklim daerah tropis.

Dalam satu tahunnya ada dua (2) musim yaitu musim kemarau dan antara bulan April –

September dan musim penghujan antara bulan Oktober – Maret. Pada tahun 2005 temperatur

udara rata-rata 21,70oC, sehingga Kabupaten Brebes secara umum dikatakan bersuhu udara

panas. Sedangkan rata-rata hari hujan per bulan pada tahun 2005 adalah 12,9 hari dengan

jumlah curah hujan 1595,0 mm.

Berdasarkan data curah hujan Kabupaten Brebes 2005 di atas, Kabupaten Brebes merupakan

kawasan dengan curah hujan yang tinggi. Dengan curah hujan tinggi itu, menjadikan Kabupaten

Brebes kaya akan sumber daya air yang sekalikgus menjadi ancaman, berupa banjir longsor

dan bencana lainnya apabila Daerah Aliran Sungai (DAS hulu) tidak memiliki daya

resap/tampung air yang tinggi. DAS pada Kabupaten Brebes dibagi menjadi 3 bagian yaiitu :

a. DAS Kabuyutan, meliputi subdas :

1. Kabuyatan Hulu

2. Kabuyatan Hilir

3. Babakan

4. Kluwut

5. Pakijangan

6. Tanjung

b. DAS Pemali, meliputi subdas :

1. Cigunung

2. Pemali

3. Keruh

4. Glagah

5. Kumisik

c. DAS Gangsa, meliputi subdas :

1. Gangsa

Sungai-sungai yang ada dipermukaan ini dimanfaatkan untuk kepentingan irigasi dan air bersih.

Untuk cadangan penyediaan air di masa yang akan datang Kabupaten Brebes memiliki

(14)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

Tabel III-2

Sumber : Hasil Studi Neraca Sumber daya Aalam kabupaten Brebes , tahun 2008

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) serta Perusahaan Daerah Air Minum

(PDAM) sebagai ujung tombak bagi pelaksanaan pemenuhan kebutuhan air bersih baik untuk

rumah tangga, industri, pelayanan umum dan tanah pertanian tanaman pangan di Kabupaten

Brebes harus segera melakukan langkah-langkah pembenahan terutama dalam hal :

a. Pengembangan prasarana sumber daya air untuk memenuhi berbagai kepentingan

pertanian dan bukan pertanian;

b. Pengembangan prasarana sumber daya air untuk air bersih dengan mengoptimalkan

pemanfaatan sumber air permukaan dan sumber air tanah baik yang berada di Kabupaten

Brebes dan di kabupaten lainnya.

c. Pengembangan prasarana air irigasi dengan membangun dan memelihara bendung, waduk

dan embung di wilayah Kabupaten Brebes yang mempunyai potensi sumber daya air

melimpah;

d. Penetapan zona pengelolaan sumber daya air sesuai dengan keberadaan wilayah sungai

dan pada zona kawasan lindung tidak diizinkan pemanfaatan sumber daya untuk fungsi

budidaya dan pertambangan;

e. Areal lahan irigasi teknis tetap dipertahankan agar tidak berubah fungsi dan / atau

peruntukan lain, apabila terpaksa harus berubah fungsi maka wajib disediakan areal lahan

(15)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

1) Rencana Jaringan Irigasi

 Arahan rencana pengembangan sistem jaringan irigasi dilakukan melalui upaya pengoptimalan saluran irigasi untuk meningkatkan produktifitas pertanian (khususnya

mempertahankan lahan berkelanjutan) tersebar pada sekitar 3 DI (Daerah Irigasi) di

Wilayah Kabupaten Brebes dengan luas sekitar 39.577 Ha yang menjadi kewenangan

pengelolaan Pemerintah Pusat, 6 DI seluas 1.716 Ha di Wilayah Kabupaten Brebes yang

menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, dan 399 DI seluas 23.568 Ha di Wilayah

Kabupaten Brebes yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten.

 Rencana sistem pengairan untuk irigasi dapat dilakukan dengan metode sumber lokal dan sumber non lokal. Untuk sumber lokal adalah menggunakan potensi sumber air lokal

untuk pengairan dengan pengelolaan irigasi pedesaan (PID) dan pengelolaan irigasi kota

(PIK), sedangkan sumber irigasi non lokal menggunakan sumber air yang disebarkan

dengan sistem jaringan irigasi terpadu berupa jaringan primer dan dari bendung sungai

dan waduk.

 Peningkatan kualitas dari bendungan-bendungan yang sudah ada sehingga dapat berfungsi dengan lebih baik.

 Pemberdayaan masyarakat yang terus sehingga pada akhirnya program pengelolaan irigasi oleh masyarakat tercapai sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diinginkan, yaitu

dengan meneruskan program Petani Pengguna Penggarap Air (P3A) yang telah

terlaksana dan siap mandiri.

 Pengembangan sarana penampung air yang berupa waduk/ embung (waduk lapangan) .

2) Rencana Jaringan Air Bersih

Penyediaan dan pengelolaan air bersih di Kabupaten Brebes akan direncanakan dengan

menggunakan 2 (dua) sistem, yaitu sistem jaringan perpipaan yang dikelola oleh PDAM dan

sistem non perpipaan yang dikelola secara mandiri oleh penduduk.

a. Sistem Jaringan Perpipaan

Sistem jaringan perpipaan di Kabupaten Brebes ini pelayanan dan pengelolaannya

dilakukan oleh PDAM. Distribusi air bersih dilakukan dengan menggunakan sistem

jaringan pipa transmisi dan sistem jaringan pipa distribusi dimana sistem jaringan

transmisi ini berfungsi untuk mengalirkan air dari sumber mata air ke instalasi

pengolagan/ penampungan yang selanjutnya dialirkan oleh pipa distribusi langsung ke

pelanggan, direncanakan pada tahun 2030 penduduk yang terlayani mencapai lebih

kurang 80%. Rencana pengembangan jaringan primer yaitu melewati Kecamatan

(16)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

Kecamatan Jatibarang dan Ketanggungan dengan prioritas pengembangan pada

kawasan cepat berkembang yaitu: Kawasan Perkotaan Brebes, Ketanggungan, Bumiayu,

dan Tanjung. Serta pengembangan jaringan baru pada masing-masing ibukota

kecamatan dengan prioritas pada pengembangan sambungan rumah (SR). Sistem

operasi yang digunakan adalah sistem gravitasi (pengaliran) dan sistem pompa. Sistem

gravitasi ini adalah sistem yang mengalirkan air sesuai dengan topografi dan kemiringan

tanah. Sedangkan sistem pompa merupakan pengaliran air dari sumber air dengan

bantuan alat (pompa).

b. Sistem Jaringan Non Perpipaan

Pelayanan air bersih dengan sistem non perpipaan adalah sistem pemenuhan kebutuhan

air yang diperoleh langsung dari sumbernya, tanpa melalui jaringan penyaluran/pipa.

Sumber air bersih non perpipaan berasal dari air tanah dan air permukaan yang

dimanfaatkan dengan pembuatan sumur gali dan sumur pompa tangan yang tersebar di

seluruh wilayah Kabupaten Brebes.

Rencana sistem jaringan air bersih diarahkan dengan mempertimbangkan prioritas berikut :

1. wilayah dengan kebutuhan air cukup tinggi dan sumber daya air terbatas;

2. wilayah dengan kriteria perkotaan yang cukup kompleks;

3. wilayah dengan kandungan air tidak memenuhi syarat kesehatan.

Rencana kebutuhan air bersih di Kabupaten Brebes dengan tingkat kebocoran 20% pada

(17)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

Hal III - 17

Tabel III-3

Rencana Kebutuhan Air Bersih Di Kabupaten Brebes Tahun 2020 dan 2030

A. Rencana Kebutuhan Air Bersih SWP I

No kecamatan jml pnddk 1 Brebes 162.117 11.672.424 3.501.727 1.167.242 3.268.279 19.609.672 168.216 12.111.552 3.633.466 1.211.155 3.391.235 20.347.407 2 Wanasari 145.857 10.501.704 3.150.511 1.050.170 2.940.477 17.642.863 155.738 11.213.136 3.363.941 1.121.314 3.139.678 18.838.068 3 Bulakamba 164.218 11.823.696 3.547.109 1.182.370 3.310.635 19.863.809 170.186 12.253.392 3.676.018 1.225.339 3.430.950 20.585.699 4 Tanjung 96.503 6.948.216 2.084.465 694.822 1.945.500 11.673.003 100.681 7.249.032 2.174.710 724.903 2.029.729 12.178.374 5 Losari 129.330 9.311.760 2.793.528 931.176 2.607.293 15.643.757 134.952 9.716.544 2.914.963 971.654 2.720.632 16.323.794 Jumlah 50.257.800 15.077.340 5.025.780 14.072.184 84.433.104 52.543.656 15.763.097 5.254.366 14.712.224 88.273.342

B. Rencana Kebutuhan Air Bersih SWP II

No kecamatan jml pnddk 1 Jatibarang 85.274 6.139.741 1.841.922 613.974 1.719.127 10.314.764 90.172 6.492.361 1.947.708 649.236 1.817.861 10.907.167 2 Songgom 73.674 5.304.508 1.591.352 530.451 1.485.262 8.911.573 73.969 5.325.764 1.597.729 532.576 1.491.214 8.947.283 3 Larangan 145.611 10.483.965 3.145.190 1.048.397 2.935.510 17.613.062 153.079 11.021.686 3.306.506 1.102.169 3.086.072 18.516.432 4 Ketanggungan 133.150 9.586.765 2.876.029 958.676 2.684.294 16.105.765 135.129 9.729.310 2.918.793 972.931 2.724.207 16.345.241 5 Kersana 64.010 4.608.753 1.382.626 460.875 1.290.451 7.742.705 68.441 4.927.734 1.478.320 492.773 1.379.766 8.278.593 6 Banjarharjo 117.761 8.478.820 2.543.646 847.882 2.374.070 14.244.418 119.515 8.605.079 2.581.524 860.508 2.409.422 14.456.533 Jumlah 44.602.551 13.380.765 4.460.255 12.488.714 74.932.286 46.101.934 13.830.580 4.610.193 12.908.542 77.451.250

C. Rencana Kebutuhan Air Bersih SWP III

(18)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

(19)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

(20)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

c

c.. RReennccaannaaSSiisstteemmPPrraassaarraannaaPPeennggeelloollaaaannLLiinnggkkuunnggaann

1

1)) SSiisstteemmPPeerrssaammppaahhaann

Prediksi volume sampah didasarkan kepada pelayanan penduduk yang dikaitkan dengan

volume timbulan sampah domestik ataupun non domestik. Perhitungan tumbulan sampah

domestik disasarkan pada asumsi-asumsi berikut:

a. Volume timbulan sampah pada tahun 2011

b. Volume timbulan sampah pada tahun 2016

c. Persentase pelayanan sampah domestik

Perkiraan volume timbulan sampah pada tahun perencanaan dapat dilihat pada Tabel

berikut.

Tabel III-4

Proyeksi Timbulan Sampah Sampai Dengan Tahun 2030

No Tahun Pelayanan

Permasalahan penanganan sampah, seperti telah disinggung sebelumnya disebabkan

karena ketidakseimbangan antara jumlah sampah yang ditimbulkan dengan pelayanan

penanganan yang dapat diberikan. Pelayanan pemerintah daerah belum dapat menangani

sampah seluruhnya. Keterbatasan sarana menyebabkan hanya sebagian sampah yang

terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Oleh karena itu pelaksanaan

pengelolaan sampah harus melibatkan masyarakat karena sebagai penghasil utama

(21)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

jumlah sampah secara signifikan. Berkaitan dengan itu, perlu diupayakan peningkatan

kesadaran masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam pengelolan sampah. Dimulai dari

upaya untuk mengurangi timbulan, memanfatkan kembali barang, memilih produk isi ulang,

membuang sampah pada tempatnya hingga pemisahan antara sampah kering (anorganik)

dengan sampah basah (organik). Termasuk di dalamnya upaya untuk menekan

pemanfaatan plastik sebagai sarana pembungkus atau kemasan barang.

Pemerintah daerah Kabupaten Brebes harus bekerjasama dengan masyarakat untuk

bersama-sama mengelola sampah sedini mungkin dari sumbernya, terutama di

daerah-daerah yang tidak termasuk dalam wilayah pelayanan pengelolaan sampah oleh

pemerintah. Pada saat ini pengolaan sampah masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan,

sehingga proses pengelolaan sampah di pedesaaan harus didorong untuk dapat

dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat dan diusahakan dapat memberi manfaat.

Dengan karakteristik sampah yang didominasi oleh sampah organik, maka pengomposan

merupakan sarana alternatif yang dapat dikembangkan. Pengomposan dapat dilaksanakan

di TPS-TPS, terutama di daerah-daerah yang dapat memanfaatkan hasil pengomposan

tersebut, misalanya untuk pertanian.

Komitmen pemerintah dareah untuk melaksanakan pengelolaan sampah seoptimal

mungkin diwujudkan melalui pembangunan TPA Regional Rawabaju di Kecamatan

Songgom, TPA Kaliwlingi di Kecamatan Brebes, TPA Kubangwungu di Kecamatan

Ketanggungan, dan TPA Kalijurang di Kecamatan Tonjong yang direncanakan dengan

menggunakan system controlled landfill. Dan sebagai upaya untuk meminimalkan dampak

TPA tersebut, dilaksanakan upaya pemantauan kualitas lindi dan kualitas udara ambient

secara berkala sesuai dengan ketentuan pada dokumen pengelolaan lingkungan.

2

2)) SSiisstteemmPPeennaannggaannaannLLiimmbbaahh

Rencana sistem prasarana air limbah di Kabupaten Brebes dilakukan dengan:

1. Pembangunan instalasi pengolahan limbah yang mampu mengolah limbah rata-rata

600 l/det. Instalasi yang dilengkapi dengan peralatan dan bahan yang memadai untuk

mengelola limbah bahan beracun dan berbahaya, rencana pengelolaan limbah ini

ditujukan pada Kawasan Perkotaan Brebes, Bumiayu, dan Ketanggungan serta

kawasan perkotaan lainnya;

2. Pembangunan instalasi pengolahan limbah pada kawasan industri, lokasi peruntukan

industri yang telah berkembang dan lokasi kegiatan industri besar, industri menengah,

(22)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

3. Pengembangan dan peningkatan IPLT;

4. Pengembangan sistem pengolahan dan pengangkutan limbah tinja dari WC umum

terminal, pasar, lokasi Sanimas dan rumah tangga perkotaan;

5. Pengembangan sistem pengolahan limbah kotoran hewan dan limbah rumah tangga

perdesaan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.

3

3)) RReennccaannaaDDrraaiinnaassee

Rencana pengembangan sistem jaringan drainase di suatu kawasan perencanaan

bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bebas banjir dan genangan air, baik yang

diakibatkan oleh meluapnya air permukaan (run off), maupun yang diakibatkan kondisi

permukaan geografisnya yang relatif datar. Dalam perencanaan pengembangan sistem

jaringan drainase pada suatu kawasan perencanaan, tidak dapat dilakukan hanya dengan

melihat kondisi dan potensi internal kawasan tersebut secara tersendiri (mikro saja), tetapi

harus dilihat juga kondisi dan potensi dalam konteks yang lebih luas (makro).

Demikian halnya dalam perencanaan sistem jaringan drainase pada wilayah perencanaan

di Kabupaten Brebes tidak dapat hanya meninjau kondisi di kawasan tersebut, namun

harus memperhitungkan pola drainase secara regional. Namun dalam penyusunan RTRW

Brebes ini wilayah yang di kaji hanya meliputi Kabupaten Brebes saja. Untuk perencanaan

lebih jauh dan detail mengenai rencana pengembangan sistem drainase harus dilakukan

studi lanjutan yang bersifat lebih teknis.

Secara garis besar pola aliran drainase eksisting di Kabupaten Brebes mengalir dari

selatan menuju ke arah utara. Sedangkan untuk selanjutnya buangan air tersebut mengalir

ke kali atau sungai yang merupakan badan air penerima dengan fungsinya sebagai saluran

drainase primer. Perencanaan pengembangan sistem drainase ini didasarkan pada

pertimbangan :

a. Memanfaatkan sistem drainase yang telah ada (eksisting) secara maksimal, baik

sungai, anak sungai maupun saluran lainnya;

b. Saluran yang direncanakan diusahakan mengikuti kemiringan tanah yang ada sehingga

air hujan dapat dialirkan secara gravitasi;

(23)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

d. Mengalirkan air hujan secepatnya melalui jaringan drainase ke badan air penerima

terdekat sehingga waktu pengaliran lebih pendek dan mengurangi kemungkinan

terjadinya genangan dalam waktu yang panjang;

e. Menghindari pembongkaran saluran yang telah ada dan pembebasan lahan yang

berlebihan;

f. Mudah dalam pelaksanaan, investasi kecil dan operasi – pemeliharaan yang

sederhana.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pengembangan sistem drainase di kawasan

Kabupaten Brebes adalah :

1. Perlu adanya koordinasi dengan wilayah sekitar kawasan rencana untuk pembuatan

sistem drainase yang terpadu untuk menghindari timbulnya genangan air atau banjir di

daerah hilir;

2. Menetapkan garis sempadan yang jelas untuk setiap sungai dan waduk/dam;

3. Penertiban dan pengendalian sungai agar tidak dijadikan tempat pembuangan sampah

oleh penduduk, sehingga tidak terjadi pendangkalan dan penyempitan sungai;

4. Pembuatan jaringan drainase baru di setiap jaringan jalan, di samping tetap

mempertahankan sungai-sungai yang ada sebagai saluran primer dan sekunder;

5. Penghijauan untuk mengurangi run offair dan dan erosi tanah.

Arahan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan untuk pengembangan dan

pengelolaan saluran drainase di Wilayah Kabupaten Brebes meliputi :

1) Menata Daerah Aliran Sungai Kabuyutan, Pemali, dan Gangsa;

2) Mengoptimalkan dan memadukan fungsi saluran besar, sedang dan kecil dan

mengembangkan lokasi penampungan air sebagai kolam penampung atau pengendali

banjir lokal yang dilengkapi dengan sistem pompanisasi di kawasan perkotaan yang

rawan banjir;

3) Penanganan sistem mikro melalui pembangunan tanggul penahan banjir dan saluran

baru, perbaikan inlet saluran air hujan dari jalan ke saluran, perbaikan dan normalisasi

saluran dari endapan lumpur dan sampah, memperlebar dimensi saluran;

4) Penanganan sistem makro melalui perbaikan dan normalisasi badan air dari endapan

lumpur dan sampah, pembangunan kolam penampungan sementara (tandon air),

pemanfaatan daerah genangan sebagai retention pond;

5) Melakukan pemeliharaan dan pembangunan saluran-saluran primer, sekunder dan

(24)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

6) Kawasan yang elevasinya kurang dari 1 (satu) meter di atas permukaan laut dilengkapi

dengan pembangunan kolam tandon, pintu-pintu air dan sistem pompanisasi;

7) Pembangunan saluran drainase pada kawasan-kawasan terbangun yang belum

terlayani.

Sedangkan dalam prioritas penanganan masalah banjir, maka perlu dikembangakan

sistem penanganan banjir di Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung,

(25)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

(26)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

3.1.2 Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten

A. Rencana Kawasan Lindung

a. Kawasan Hutan Lindung

Rencana kawasan hutan lindung di Kabupaten Brebes ditetapkan seluas kurang lebih 6.261

Ha. Kawasan hutan lindung ini terdapat di Kecamatan Paguyangan, Kecamatan Sirampog,

Kecamatan Salem, Kecamatan Bantarkawung, Kecamatan Ketanggungan, dan Kecamatan

Banjarharjo.

b. Kawasan yang Memberi Perlindungan Kawasan Di Bawahnya

Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahnya diperuntukkan untuk

menjamin terselenggaranya fungsi lindung hidrologis bagi kegiatan pemanfaatan lahan.

Kawasan ini meliputi kawasan resapan air. Kawasan resapan air diperuntukkan bagi kegiatan

pemanfaatan tanah yang dapat menjaga kelestarian ketersediaan air bagi kawasan

dibawahnya. Kawasan ini sekaligus berfungsi sebagai Kawasan Lindung di luar Kawasan

Hutan.

Rencana kawasan resapan air di Kabupaten Brebes ditetapkan disebagian wilayah Kecamatan

Banjarharjo, Bantarkawung, Bumiayu, Ketanggungan, Larangan, Paguyangan, Salem,

Sirampog, dan Tonjong, dengan luas kurang lebih 21.564,1 Ha. Lebih rincinya rencana alokasi

ruang untuk kawasan resapan air meliputi:

a. Kecamatan Banjarharjo kurang lebih 1.170 Ha; b. Kecamatan Bantarkawung kurang lebih 2.813 Ha; c. Kecamatan Bumiayu kurang lebih 0,1 Ha; d. Kecamatan Ketanggungan kurang lebih 1.043 Ha; e. Kecamatan Larangan kurang lebih 372 Ha; f. Kecamatan Paguyangan kurang lebih 2.041 Ha; g. Kecamatan Salem kurang lebih 10.550 Ha; h. Kecamatan Sirampog kurang lebih 3.375 Ha; i. Kecamatan Tonjong kurang lebih 200 Ha

c. Kawasan Perlindungan Setempat

Kawasan perlindungan setempat diperuntukkan bagi kegiatan pemanfaatan lahan yang dapat

(27)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

Sempadan Pantai di Kabupaten Brebes terdapat di sepanjang pantai utara dari Kecamatan

Brebes sampai Kecamatan Losari dengan luas sekitar 722 Ha.

2. Sempadan Sungai

Kawasan sepanjang kiri dan kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi

primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi sungai.

Luas areal yang ditetapkan sebagai sempadan sungai sebesar 1.963 Ha, lokasinya

tersebar disepanjang sungai-sungai di Kabupaten Brebes.

Tabel III-5

Nama Sungai Yang Dilindungi di Kabupaten Brebes

NO NAMA LOKASI KECAMATAN

1 Kaligangsa Brebes

2 Pemali Bantarkawung, Larangan, Jatibarang, dan Brebes

(28)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

3. Sekitar Waduk

Kawasan sekitar danau/waduk/rawa adalah kawasan di sekeliling danau/waduk/ rawa

yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/

waduk/rawa, dengan tujuan untuk melindungi danau/waduk/rawa dari kegiatan budidaya

yang dapat mengganggu kelestarian fungsi danau/waduk/rawa.

Waduk Mahalayu seluas kurang lebih 925 Ha di Kecamatan Banjarharjo dan Waduk

Penjalin seluas kurang lebih 125 Ha di Kecamatan Paguyangan.

4. Sekitar Mata Air

Kawasan sekitar mata air adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat

penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Tujuan perlindungan kawasan

ini adalah untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas

air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya.

Di Kabupaten Brebes, kawasan yang termasuk dalam kawasan yang melindungi sumber

mata air di wilayah Kabupaten Brebes meliputi :

Tabel III-6

Daftar Mata Air Yang ada di Kabupaten Brebes

(29)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

(30)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

No Nama Lokasi Luas Areal (Ha)

d. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya

1) Kawasan Cagar Alam

Kawasan cagar alam yang ditetapkan di Kabupaten Brebes adalah kawasan Telaga

Renjeng dengan luas kurang lebih 48,50 Ha sebagai kawasan perlindungan alam yang

berlokasi di Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan.

2) Kawasan Muara Sungai (Estuari)

Kawasan muara sungai (estuari) yang ditetapkan di Kabupaten Brebes berlokasi di muara

Sungai Kaligangsa, muara Sungai Pemali di Kecamatan Brebes, muara Sungai

Balaikambang muara Sungai Luwungmalang di Kecamatan Wanasari, muara Sungai

Bangsri, muara Sungai Pakijangan, muara Sungai Kluwut di Kecamatan Bulakamba; muara

Sungai Babakan, muara Sungai Kabuyutan, muara Sungai Sinung, muara Sungai Tanjung

di Kecamatan Tanjung dan muara Sungai Bancang, muara Sungai Cisanggarung di

Kecamatan Losari.

3) Kawasan Pantai Berhutan Bakau

Kawasan pantai yang memiliki hutan bakau berfungsi sebagai penahan dan pemecah

ombak untuk mengurangi dampak abrasi air laut. Selain itu kawasan hutan bakau juga

sangat bermanfaat bagi habitat ikan dan biota laut lainnya. Vegetasi hutan bakau yang

terdapat di sepanjang kawasan pantai pesisir Kab. Brebes telah banyak yang rusak dan

gundul.

(31)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

b. Kecamatan Tanjung (Desa Krakahan dan Desa Pengaradan);

c. Kecamatan Bulakamba (Desa Grinting, Pulogading dan Bangsri);

d. Kecamatan Wanasari (Desa Sawojajar);

e. Kecamatan Brebes (Desa Kaliwlingi dan Desa Randusanga Kulon).

4) Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan

Kawasan cagar budaya adalah kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil budaya

manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas. Kawasan cagar

budaya dan ilmu pengetahuan ditetapkan dengan kriteria sebagai hasil budaya manusia

yang bernilai tinggi yang dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan diperuntukkan bagi kegiatan yang bertujuan

untuk melindungi atau melestarikan budaya dan kegiatan pengembangan ilmu

pengetahuan. Kawasan cagar budaya di Kabupaten Brebes sekaligus merupakan kawasan

dengan fungsi pendidikan dan ilmu pengetahuan tersebar di beberapa kecamatan, meliputi:

a. Pendopo Kabupaten di Kecamatan Brebes;

b. Masjid Agung Brebes di Kecamatan Brebes dan Masjid Walisongo di Kecamatan

Tanjung;

c. Makam Bupati Brebes dan Makam Mbah Rubi di Kecamatan Wanasari, Makam Mbah

Junet di Randusanga Kecamatan Brebes, Makam Pangeran Angka Wijaya di

Kecamatan Losari, serta Makam Dawa, Makam Panembahan Syeh Padalangu dan

Makam Keluarga Bupati Raja Urip di Kecamatan Tonjong;

d. Gedong Jimat di Kecamatan Ketanggungan;

e. Fosil Kalijurang di Kecamatan Tonjong;

f. Situs Watu Lumpang, Situs Archa Mandi, dan Situs Karang Dawa di Kecamatan

Bumiayu, Situs Candi Pangkuan, Situs Arca Agastya, Situs Arca Kuwera, dan Situs

Sindang Laya di Kecamatan Paguyangan, Situs Petilasan Aria Jipang dan Situs Gua

Batu di Kecamatan Bantarkawung, Situs Pojok Tilu, Situs Pasir Monyong, Situs Batu

Bertulis, Situs Menhir Beundak II, III, Situs Eyang Batara Guru, dan Situs Petilasan

Gunung Sagara di Kecamatan Salem, serta Situs Batu Datar berukuran 75 cm x 60 cm

x 10 cm di Kecamatan Banjarharjo;

g. Stasiun Kereta Api Kretek Paguyangan di Kecamatan Paguyangan;

h. Klentheng di Kecamatan Brebes;

i. Pabrik Gula di Kecamatan Kersana dan Jatibarang;

(32)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

e. Kawasan Rawan Bencana

Kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami

bencana alam. Tujuan perlindungan kawasan ini adalah untuk melindungi manusia dan

kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh

perbuatan manusia.

Di wilayah Kabupaten Brebes, kawasan rawan bencana alam yang teridentifikasi yaitu rawan

bencana banjir dan gerakan tanah.

1. Kawasan Rawan Bencana Banjir

Kawasan rawan bencana banjir seluas 703 Ha (0,42%) dari luas wilayah Kabupaten

Brebes, yang meliputi wilayah yang sering terkena banjir meliputi Kecamatan Tanjung,

Bulakamba, Wanasari, Losari dan Brebes.

2. Rawan Bencana Gerakan Tanah (Longsor)

Kawasan rawan bencana longsor seluas 901 Ha (0,54%) dari luas wilayah Kabupaten

Brebes, yaitu wilayah yang berlereng seperti Kecamatan Larangan, Songgom dan Salem.

3. Kawasan Rawan Bencana Gempa dan Letusan Gunung Berapi

Kawasan rawan bencana gempa dan letusan gunung berapi seluas 1.430 Ha (0,86%) dari

luas wilayah Kabupaten Brebes, yang meliputi Kecamatan Tonjong, Larangan,

Paguyangan dan Sirampog.

4. Kawasan Rawan Bencana Gelombang Pasang dan Abrasi

Kawasan rawan bencana gelombang pasang dan abrasi adalah kawasan yang

mendapatkan pengaruh dari peningkatan gelombang pasang akibat pemanasan global

yang meliputi kawasan pantai di Kabupaten Brebes.

f. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota menurut UU No. 26 Tahun 2007 adalah area

memanjang atau jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka,

tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Pembagian RTH kawasan perkotaan terdiri dari RTH publik dan RTH privat. RTH publik

merupakan RTH yang dimiliki oleh kota/kawasan perkotaan yang digunakan untuk kepentingan

masyarakat secara umum. Yang termasuk RTH publik adalah RTH sepanjang jaringan jalan,

(33)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

Proporsi RTH kawasan perkotaan di wilayah Kabupaten Brebes adalah paling sedikit 30 % dari

luas kawasan perkotaan, yang diisi oleh tanaman baik yang tumbuh secara alamiah maupun

yang sengaja di tanam. Pembagian RTH ini terdiri dari RTH publik paling sedikit 20 % dan RTH

privat 10 %. Distribusi RTH kawasan perkotaan disesuaikan dengan sebaran penduduk dan

hierarki pelayanan dengan memperhatikan rencana struktur dan pola ruang wilayah.

Adapun beberapa kecamatan yang termasuk kawasan perkotaan dan harus memenuhi proporsi

30% dari luas wilayahnya di Kabupaten Brebes meliputi Kecamatan Losari, Tanjung,

Bulakamba, Wanasari, Brebes, Jatibarang, Kersana, Ketanggungan, dan Bumiayu dengan luas

wilayah kawasan perkotaan sebesar kurang lebih 3.247 ha. Dari luasan wilayah perkotaan

tersebut yang termasuk ruang terbuka hijau kota adalah 30% yaitu seluas kurang lebih 974 ha

yang tersebar secara proporsional.

Proporsi RTH publik seluas minimal 20 % dan privat 10 % yang disediakan dimaksudkan agar

proporsi RTH minimal dapat lebih dijamin pencapaiannya, sehingga memungkinkan

pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat. Untuk lebih meningkatkan fungsi dan proporsi

RTH di kawasan perkotaan di wilayah Kabupaten Brebes, maka pemerintah, masyarakat, dan

swasta didorong untuk menanam tumbuhan di atas bangunan gedung miliknya.

Secara jelas penggambaran lokasi kawasan lindung dapat dilihat pada peta Rencana Kawasan

(34)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

(35)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

B. Rencana Kawasan Budidaya

a. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi

Kawasan peruntukan hutan produksi di Kabupaten Brebes yaitu hutan yang berada dalam

pengawasan KPH Pekalongan Barat dan KPH Balapulang, serta hutan rakyat. Kawasan hutan

produksi di Kabupaten Brebes mencapai kurang lebih 43.860,98 Ha atau 26,04% dari luas

wilayah Kabupaten Brebes di bawah pengawasan KPH.

Rencana pengembangan kawasan hutan produksi meliputi hutan produksi tetap dan hutan

produksi terbatas. Hutan produksi tetap seluas kurang lebih 23.650,68 Ha yang tersebar di

Kecamatan Larangan, Songgom, Tonjong, Ketanggungan, Banjarharjo, Losari, Bumiayu,

Paguyangan, Bantarkawung dan Salem. Hutan produksi terbatas seluas kurang lebih 20.210,3

Ha yang tersebar di Kecamatan Banjarharjo, Ketanggungan, Paguyangan, Salem,

Bantarkawung, Tonjong, Bumiayu, dan Sirampog.

b. Kawasan Peruntukan Pertanian

1. Kawasan Pertanian Lahan Basah

Penggunaan tanah untuk pertanian khususnya tanah sawah tiap tahun mengalami

penyusutan. Sehingga jika kondisi ini dibiarkan, akan menjadi polemik dimasa yang akan

datang yang meliputi berkurangnya produktivitas padi yang mengakibatkan goyahnya

swasembada pangan.

Rencana pengembangan kawasan pertanian lahan basah (sawah) dilakukan di seluruh

kecamatan Kabupaten Brebes. Luas rencana kawasan pertanian lahan basah di

Kabupaten Brebes kurang lebih 60.634 Ha.

2. Kawasan Pertanian Lahan Kering

Sesuai dengan rencana penataan ruang yang menetapkan daerah Kecamatan Sirampog,

Paguyangan, Ketanggungan, Bantarkawung, Salem, dan Banjarharjo sebagai

pengembangan pertanian lahan kering maka dibutuhkan penanganan yang optimal

dengan menonjolkan tanaman pertanian lahan kering yang bisa menjadi andalan bagi

wilayah Kabupaten Brebes. Rencana luas pengembangan pertanian lahan kering kurang

lebih 23.561 Ha.

3. Kawasan Pertanian Hortikultura

Untuk tanaman hortikultura didasarkan kriteria pada luas lahan dan tingkat

produktivitasnya, dikembangkan di Kecamatan Ketanggungan, Larangan, Banjarharjo,

Songgom, Salem, Tonjong, Losari, Wanasari, Bulakamba, Brebes, Paguyangan,

(36)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

Rencana pengembangan lahan tanaman hortikultura ini direncanakan pada areal seluas

kurang lebih 17.632 Ha. Dengan mempertimbangkan kesesuaian lahan, konservasi tanah

dan air, mempertimbangkan aspek sosial ekonomi masyarakat, dan mengembangkan jenis

tanaman hortikultura yang memiliki prospek pasar lokal dan regional.

c. Kawasan Peruntukan Perkebunan

Luas areal kawasan perkebunan di Kabupaten Brebes mencapai luas kurang lebih 14.593 Ha

dimana 4 % merupakan perkebunan PT Perkebunan Negara (PTPN) sedangkan 96%

merupakan perkebunan rakyat. Sehingga dalam perencanaan peruntukan kawasan perkebunan

lebih diutamakan pada pengembangan perkebunan rakyat dengan tetap memperhatikan

perkebunan PTPN sebagai salah satu penunjang pertanian di wilayah Kabupaten Brebes.

Tanaman perkebunan yang bersifat tahunan, didasarkan pada tingkat produksi dan luas lahan

yang ada, Terdapat 19 komoditas yang berkembang di Kabupaten Brebes yaitu nilam, cengkeh,

kapas, tebu, kelapa, kapok, tembakau, kemiri, melinjo, kopi, jahe, kencur, jambu mete, lada,

panili, teh, aren, kapulaga, dan lainnya. Dengan komoditas yang menjadi andalan perkebunan

Kabupaten Brebes adalah nilam, cengkeh, dan kapas.

Untuk pengembangan lebih lanjut ditentukan sentra-sentra pengembangan sebagai berikut :

a. Sentra tanaman Kelapa berada di Kecamatan Tonjong, Bumiayu, dan Bantarkawung;

b. Sentra tanaman Kopi berada di Kecamatan Sirampog, Paguyangan, dan Salem;

c. Sentra tanaman Kakau berada di Kecamatan Salem;

d. Sentra tanaman Aren berada di Kecamatan Bantarkawung dan Salem;

e. Sentra tanaman Teh berada di Kecamatan Paguyangan dan Sirampog;

f. Sentra tanaman Lada berada di Kecamatan Tonjong dan Paguyangan;

g. Sentra tanaman Panili berada di Kecamatan Paguyangan dan Tonjong;

h. Sentra tanaman Jambu mete berada di Kecamatan Tonjong dan Banjarharjo;

i. Sentra tanaman Mlinjo berada di Kecamatan Tonjong, Paguyangan dan Bumiayu;

j. Sentra tanaman Kapas berada di Kecamatan Ketanggungan, Losari dan Bulakamba;

k. Sentra tanaman Nilam berada di Kecamatan Salem, Bantarkawung, dan Paguyangan;

l. Sentra tanaman Kapulaga berada di Kecamatan Paguyangan dan Bantarkawung;

m. Sentra tanaman Kapuk berada di Kecamatan Bantarkawung dan Ketanggungan;

n. Sentra tanaman Cengkeh berada di Kecamatan Bantarkawung, Sirampog, dan

(37)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

daerah Selatan dan buah-buahan dataran rendah di wilayah Utara Kabupaten Brebes.

Sentra-sentra pengembangannya meliputi :

a. Sentra buah alpokat di Kecamatan Sirampog;

b. Sentra buah Jeruk di Kecmatan Paguyangan;

c. Sentra buah Rambutan di Kecamatan Sirampog;

d. Sentra buah Nanas di Kecamatan Tonjong;

e. Sentra buah Durian di Kecamatan Bumiayu;

f. Sentra buah Pepaya di Kecamatan Bumiayu;

g. Sentra buah Nangka di Kecamatan Tonjong;

h. Sentra buah Duku/langsat di Kecamatan Bumiayu;

i. Sentra buah Salak di Kecamatan Tonjong;

j. Sentra buah Jambu biji di Kecamatan Banjarharjo;

k. Sentra buah Belimbing di Kecamatan Brebes;

l. Sentra buah mangga di Kecamatan Jatibarang;

m. Sentra buah Sawo di Kecamatan Jatibarang.

Selain pengembangan melalui pembentukan sentra-sentra maka juga diperlukan bentuk

pola-pola pengelolaan dalam pengembangan perkebunan di Kabupaten Brebes yaitu melalui 4 pola-pola

yang saling mendukung berikut ini :

 Pola UPP ( Unit Pelayanan Pengembangan );

 Pola swadaya ( dilaksanakan sendiri oleh Petani );

 Pola partial ( diberikan bantuan sebagian );

 Pola PTPN.

d. Kawasan Peruntukan Perikanan

Kawasan perikanan adalah kawasan yang difungsikan untuk kegiatan perikanan dan segala

kegiatan penunjangnya dengan tujuan pengelolaan untuk memanfaatkan potensi lahan untuk

perikanan dalam meningkatkan produksi perikanan, dengan tetap memperhatikan kelestarian

lingkungan. Kawasan perikanan dibedakan menjadi kawasan perikanan kawasan perikanan

tangkap dan kawasan budidaya perikanan.

1) Kawasan Perikanan Tangkap

Kawasan perikanan tangkap adalah perairan laut yang digunakan penduduk pesisir

Kabupaten Brebes untuk melakukan aktivitas budidaya ikan baik melalui keramba,

penangkapan, pemancingan, dan lain-lain. Sebagai salah satu mata pencaharian utama

penduduk wilayah pesisir Kabupaten Brebes, kegiatan perikanan tangkap diupayakan

(38)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

Hasil dari penangkapan ikan sangat bergantung kepada alat tangkap dan teknologi yang

digunakan. Usaha penangkapan ikan pada wilayah pesisir Kabupaten Brebes, sebagian

besar menggunakan jenis alat tangkap jaring cumi-cumi, pukat cincin, rawai dasar, jaring

cantrang, trammel net, jaring pejer, pancing senggol, dan dogol.

Pengembangan kawasan perikanan tangkap di wilayah pesisir Kabupaten Brebes perlu

memperhatikan faktor-faktor pengembangan sebagai berikut :

1. Potensi perikanan tangkap yang besar dan didukung kestrategisan wilayah laut

Kabupaten Brebes mendorong perkembangan tingkat pemanfaatan sumber daya

perikanan mampu bertumbuh pesat terutama ditinjau dari aspek hasil produksi

perikanan tangkap;

2. Animo masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha perikanan tangkap sangat besar,

namun pengusahaan modal tidak dimiliki secara merata oleh seluruh lapisan

masyarakat;

3. Sarana dan Prasarana Perikanan tangkap seperti tempat pendaratan ikan TPI sudah

tersedia dan mampu melayani kebutuhan yang diperlukan, tetapi masih diperlukan

optimalisasi pada beberapa TPI yang masih dibatasi oleh kelengkapan sarana masih

sederhana;

4. Perlu ditingkatkanya pengembangan industri pengolahan, pada lokasi industri

pengolahan yang ada perlu ditingkatkan pengembangannya ke arah kawasan home

industri. Adapun kajian mengenai rencana pengembangan industri pengolahan ini akan

dijabarkan pada sub bab tersendiri.

Adapun kawasan penangkapan ikan skala kecil dengan daerah tangkapan antara 0-3 mil

dari pantai, sedangkan kawasan penangkapan ikan skala menengah dengan daerah

tangkapan antara 3-6 mil dan kawasan penangkapan ikan skala besar/industri dengan

daerah tangkapan diatas 6 mil dari garis pantai.

2) Kawasan Budidaya Perikanan

a) Budidaya Perikanan Tambak

Pengembangan kegiatan budidaya tambak direncanakan berada di sepanjang pantai

wilayah pesisir Kabupaten Brebes yang terbentang di tiap kecamatan-kecamatan

pesisir Kabupaten Brebes dengan areal pengembangan kurang lebih 12.748 Ha.

(39)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

areal berjenis tanah aluvial hidromorf, hal ini dikarenakan areal lahan berjenis tanah

aluvial relatif memiliki kelerengan yang datar dan tidak bergelombang.

Potensi lahan tersebut didukung pula oleh adanya beberapa sungai yang melintasi

areal sekitar kawasan pertambakan, sehingga seharusnya pemenuhan kebutuhan akan

air untuk keperluan budidaya perikanan dapat dipenuhi. Tetapi kondisi yang

memprihatinkan dan merupakan permasalahan terhadap keberadaan tambak di

wilayah pesisir Kabupaten Brebes adalah beberapa sungai yang melintasi kawasan

pertambakan tersebut sebagian telah mengalami degradasi oleh pencemaran air

limbah industri.

b) Budidaya Perikanan Air Tawar

Kegiatan budidaya perikanan perikanan darat dikembangkan di beberapa kecamatan

dengan luas kolam kurang lebih 114 Ha berada di Kecamatan Salem, Bantarkawung,

Banjarharjo, Bumiayu, Ketanggungan, Paguyangan, Sirampog dan Tonjong.

e. Kawasan Peruntukan Peternakan

Kawasan peternakan di Kabupaten Brebes merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi

peternakan dan atau padang penggembalaan ternak untuk berbagai jenis hewan ternak, yaitu

ternak besar dan ternak kecil. Arahan pengembangan kawasan peternakan yang ada di

Kabupaten Brebes dikembangkan pada seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Brebes,

mengingat potensi yang adapun menyebar di hampir di setiap kecamatan dengan sentra-sentra

pengembangan ternak. Rencana yang harus dilakukan adalah memaksimalkan hasil ternak

sebagai sumber pendapatan dengan meningkatkan pegolahan hasil ternak, dengan

sentra-sentra sebagai berikut :

a. Sentra ternak kuda di Kec. Ketanggungan, Banjarharjo, Losari, Bulakamba dan Wanasari;

b. Sentra ternak sapi di Kec. Ketanggungan, Banjarharjo, Salem, Tonjong, Larangan, dan Bantarkawung;

c. Sentra ternak kerbau di Kec. Salem, Banjarharjo, Bantarkawung, Bumiayu, Paguyangan, Tonjong, Larangan dan Songgom;

d. Pusat pengembangan ternak domba di Kec. Losari;

e. Pusat pengembangan ternak kambing di Kec. Sirampog;

f. Pusat pengembangan ternak kelinci di Kec. Wanasari dan Paguyangan;

g. Pusat pengembangan unggas di Kec. Brebes dan Bulakamba.

f. Kawasan Peruntukan Pertambangan

Potensi pertambangan di Kabupaten Brebes adalah jenis mineral dan batubara.

Pengembangan kawasan pertambangan di kabupaten Brebes masih membutuhkan beberapa

(40)

B A B I I I R E N C A N A P E M B A N G U N A N K A B U P A T E N B R E B E S

LAPORAN AKHIR K egiatan Penyusunan Review RPI JM Bidang PU / Cipta K arya K abupaten Brebes

mengenai kondisi volume kandungan bahan tambang yang ada. Meskipun sudah terindikasikan

luasan hamparan tambang yang merata di wilayah kabupaten Brebes. Sedangkan sampai saat

sekarang penguasaan dan pengusahaan bahan galian tambang yang ada masih ditangani oleh

masyarakat umum awam dengan system pengelolaan informal.

Rencana pengembangan kawasan pertambangan ini mencakup beberapa hal berikut :

a. Eksploitasi bahan galian berlokasi di Kecamatan Brebes, Jatibarang, Wanasari, Losari,

Banjarharjo, Ketanggungan, Larangan, Bumiayu, Paguyangan, Songgom, Tonjong,

Sirampog, Bantarkawung dan Salem, dengan potensi bahan minerba dan non logam

meliputi pasir sungai, trass, batu pasir, andesit, lempung grabah, bentonit, gipsum dan

batu gamping;

b. Sistem penambangan yang berlaku saat ini perlu diperhatikan dengan usaha

meminimalkan kerusakan lingkungan. Karena sebagian besar pengelolaan hasil tambang

bahan galian pasir sungai, trass, batu pasir, andesit, lempung grabah, bentonit, gipsum

dan batu gamping merusak lingkungan. Usaha-usaha tersebut adalah :

1) Peningkatan sumber daya manusia dengan pendidikan dan penyuluhan penambangan;

2) Pembenahan tata usaha pengembangan dan penambangan oleh instansi terkait

terutama perindustrian, pertambangan, perdagangan dan koperasi;

3) Inventarisasi terhadap jenis penambangan yang bersifat informal maupun formal.

c. Studi dan ekplorasi tambang batu gamping meliputi Kecamatan Songgom dan Larangan,

emas, perak, dan platina di Kecamatan Salem, minyak bumi dan pirit (Fes) di Kecamatan

Bantarkawung, batubara di Kecamatan Salem dan Bantarkawung, serta pasir besi di

Kecamatan Brebes.

d. Ekspolrasi dan eksploitasi panas bumi di Kecamatan Sirampog, Paguyangan, Bumiayu

dan Bantarkawung.

e. Dalam rangka mengeksplorasi dan mengeksploitasi kawasan peruntukan pertambangan

harus memperhatikan:

 kegiatan penambangan harus mendapatkan ijin dari Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah;

Gambar

Tabel 3-1
Tabel III-2
Tabel III-3Rencana Kebutuhan Air Bersih Di Kabupaten Brebes Tahun 2020 dan 2030
Tabel III-4Proyeksi Timbulan Sampah Sampai Dengan Tahun 2030
+4

Referensi

Dokumen terkait

1. Kawasan Lindung, yang terdiri dari : a) Kawasan hutan lindung; b) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya; c) Kawasan perlindungan

Perwujudan Kawasan Hutan Lindung Melakukan reboisasi pada lahan-lahan kritis melalui kerjasama dengan berbagai lembaga peduli hutan, lintas instansi pemerintah

Kawasan lindung lainnya di Kabupaten Donggala meliputi kawasan terumbu karang dan padang lamun. Kawasan ini merupakan bagian dari ekosistem Laut dan

Gambar 2.16 Peta Rencana Kawasan Hutan Lindung Kabupaten Tana Toraja... Gambar 2.17 Peta Kepadatan Penduduk Kabupaten

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bintangur yang tumbuh di kawasan hutan di Batam yaitu di Hutan Lindung Bukit Tiban (Kecamatan Batuaji dan Sekupang), Hutan

1. Kawasan Lindung, yang terdiri dari : a) Kawasan hutan lindung; b) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya; c) Kawasan perlindungan

 Penata batasan kawasan hutan lindung.  Memanfaatkan kawasan lindung untuk kegiatan pariwisata yang tidak mengganggu fungsi lindungnya. KAWASAN YANG MEMBERIKAN

INDIKASI PROGRAM POLA RUANG :  Pemeliharaan Kawasan Lindung Taman Nasional Bukit Baka di Kecamatan Serawai  Pemeliharaan Kawasan Lindung Taman Wisata Alam Bukit Kelam di Kecamatan