PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN ACEH TAMIANG
TAHUN 2012-2032
MATERI TEKNIS RTRW
RTRW
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA, yang telah menganugerahkan nikmat dan karunia-NYA, sehingga kita dapat menyelesaikan penyusunan dokumen
“RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ACEH TAMIANG TAHUN 2012 - 2032”
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Aceh Tamiang ditujukan untuk mewadahi perkembangan dan pembangunan yang selama ini berlangsung, sehingga rencana tata ruang tetap dapat berfungsi sebagai pedoman bagi agenda pembangunan.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan bekerjasama serta memberikan kontribusi dalam kegiatan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Aceh Tamiang ini.
Karang Baru, Desember 2013 BUPATI ACEH TAMIANG,
H. HAMDAN SATI, ST
KATA PENGANTAR ... ……….. I DAFTAR ISI ... II DAFTAR TABEL ... VIII DAFTAR GAMBAR ... XII BAB I PENDAHULUAN
1.1 Dasar Hukum Penyusunan ... 1 - 1 1.2 Kondisi Fisik Wilayah Kabupaten ... 1 - 10
1.2.1 Administrasi ... 1 - 10 1.2.2 Rencana Perluasan Wilayah Administrasi Kota
Kualasimpang ... 1 - 14
1.2.3 Topografi ... 1 - 15
1.2.4 Geologi... 1 - 20
1.2.5 Jenis dan Struktur Tanah ... 1 - 22
1.2.5.1 Jenis Tanah ... 1 - 22
1.2.5.2 Struktur Tanah ... 1 - 26
1.2.6 Hidrologi ... 1 - 26
1.2.6.1 Wilayah Sungai (WS) ... 1 - 27
1.2.6.2 Daerah Aliran Sungai (DAS) ... 1 - 28
1.2.6.3 Daerah Irigasi (DI) ... 1 - 30
1.2.6.4 Cekungan Air Tanah (CAT) ... 1 - 32
1.2.6.5 Curah Hujan ... 1 - 34
1.2.7 Potensi Rawan Bencana Alam ... 1 - 37
1.2.7.1 Rawan Gempa Bumi ... 1 - 37
1.2.7.2 Tanah Longsor/Gerakan Tanah ... 1 - 38
1.2.7.3 Rawan Banjir ... 1 - 40
1.2.7.4 Angin Puting Beliung ... 1 - 42
1.2.7.5 Kekeringan ... 1 - 42
1.2.8 Tutupan Lahan ... 1 - 43
1.2.9 Kawasan Hutan Berdasarkan SK Menhut 170/2000 1 - 45
1.3 Kependudukan ... 1 - 47
1.3.1 Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk ... 1 - 47
1.3.2 Kepadatan Penduduk ... 1 - 49
1.3.3 Struktur Penduduk ... 1 - 51
1.4 Perekonomian ... 1 - 53
1.4.1 Pertumbuhan Ekomomi ... 1 - 53
1.4.2 Struktur Ekonomi Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 54
1.4.3 Laju Inflasi ... 1 - 55
1.4.4 PDRB Perkapita ... 1 - 56
1.5 Pertanian ... 1 - 57
1.5.1 Tanaman Pangan ... 1 - 57
1.5.2 Hortikultura ... 1 - 58
1.5.3 Perkebunan ... 1 - 60
1.5.4 Peternakan ... 1 - 62
1.6 Perikanan ... 1 - 63
1.6.1 Perikanan Tangkap ... 1 - 63
1.6.2 Budidaya Perikanan ... 1 - 64
1.7 Potensi Pertambangan ... 1 - 68
1.8 Perindustrian ... 1 - 71
1.9 Pariwisata ... 1 - 72
1.10 Permukiman ... 1 - 75 1.11 Pola Ruang Laut ... 1 - 77 1.12 Isu-isu Strategis Kabupaten ... 1 - 78
BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG
2. 1. Tujuan Penataan Ruang ... 2 - 1 2. 2. Visi dan Misi Pembangunan Kabupaten Aceh Tamiang .... 2 - 2 2.2.1 Visi ... 2 - 2 2.2.2 Misi ... 2 - 2 2. 3. Tujuan, Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang Wilayah 2 - 3 2.3.1 Tujuan ... 2 - 3 2.3.2 Kebijakan ... 2 - 4 2.3.3 Strategi ... 2 - 5
BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH
3.1 Umum ... 3 - 1 3.2 Sistem Pusat-Pusat Kegiatan ... 3 - 4 3.3 Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah ... 3 - 10
3.3.1 Sistem Prasarana Utama ... 3 - 10 3.2.1.1 Rencana Jaringan Transportasi Darat ... 3 - 7 3.2.1.2 Rencana Jaringan Transportasi Laut ... 3 - 28 3.2.1.2 Rencana Jaringan Transportasi Udara .... 3 - 31 3.2.2 Sistem Prasarana Lainnya ... 3 - 34 3.3.2.1 Sistem Jaringan Energi ... 3 - 34 3.3.2.2 Sistem Jaringan Telekomunikasi ... 3 - 37 3.3.2.3 Sistem Jaringan Sumber Daya Air ... 3 – 41 3.3.2.4 Sistem Jaringan Prasarana Wilayah
Lainnya ... 3 - 49
BAB IV RENCANAPOLA RUANG WILAYAH
4.1 Umum ... 4 - 1
4.2 Rencana Kawasan Lindung ... 4 - 5
4.2.1 Kawasan Hutan Lindung ... 4 - 5
4.2.2 Kawasan Yang Memberikan Perlindungan
Terhadap Kawasan Bawahannya ... 4 - 8 4.2.3 Kawasan Perlindungan Setempat ... 4 - 9 4.2.3.1 Kawasan Sempadan Pantai ... 4 - 10 4.2.3.2 Kawasan Sempadan Sungai ... 4 - 11 4.2.3.3 Kawasan Sekitar Waduk ... 4 - 13 4.2.3.4 Kawasan Sekitar Mata Air ... 4 - 13 4.2.3.5 Ruang Terbuka Hijau ... 4 - 13 4.2.4 Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar
Budaya ... 4 - 15 4.2.4.1 Kawasan Taman Nasional ... 4 - 16 4.2.4.2 Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu
Pengetahuan ... 4 - 16
4.2.4.3 Kawasan Suaka Alam Perairan ... 4 - 18
4.2.5 Kawasan Rawan Bencana Alam ... 4 - 20
4.2.6 Kawasan Lindung Geologi ... 4 - 22
4.2.6.1 Cagar Alam Geologi ... 4 - 22
4.2.6.2 Kawasan Rawan Bencana Alam Geologi .. 4 - 26
4.2.6.3 Kawasan Rawan Abrasi ... 4 - 26
4.2.7 Kawasan Lindung Lainnya ... 4 - 28
4.3 Rencana Kawasan Budi Daya ... 4 - 28
4.3.1 Kawasan Peruntukan Hutan Produksi ... 4 - 31
4.3.1.1 Hutan Produksi Terbatas ... 4 - 31
4.3.1.2 Hutan Produksi Tetap ... 4 - 31
4.3.2 Kawasan Peruntukan Hutan Rakyat ... 4 - 33
4.3.3 Kawasan Peruntukan Pertanian ... 4 - 34
4.3.3.1 Tanaman Pangan ... 4 - 36
4.3.3.2 Hortikultura ... 4 - 44
4.3.3.3 Perkebunan ... 4 - 45
4.3.3.4 Peternakan ... 4 - 47
4.3.4 Kawasan Peruntukan Perikanan ... 4 - 49
4.3.4.1 Perikanan Tangkap ... 4 - 50
4.3.4.2 Perikanan Budidaya ... 4 - 51
4.3.5 Kawasan Peruntukan Pertambangan ... 4 - 52 4.3.6 Kawasan Peruntukan Industri ... 4 - 56 4.3.7 Kawasan Peruntukan Pariwisata ... 4 - 57 4.3.8 Kawasan Peruntukan Permukiman ... 4 - 58 4.3.8.1 Permukiman Perkotaan ... 4 - 60 4.3.8.2 Permukiman Perdesaan ... 4 - 62 4.3.9 Kawasan Peruntukan Lainnya ... 4 - 64 4.3.9.1 Pertahanan dan Keamanan Negara ... 4 - 64 4.3.9.2 Transmigrasi ... 4 - 65 4.3.9.3 Pendidikan ... 4 - 65 4.4 Rencana Pola Ruang Laut ... 4 - 65 4.4 Rencana Alih Fungsi Lahan ... 4 - 68
BAB V RENCANA KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
BAB VII KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
7. 1. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi ... 7 - 2 7.1.1 Ketentuan Zonasi Sistem Pusat Kegiatan ... 7 - 4 7.1.2 Peraturan Zonasi Kawasan Sekitar Jaringan
Prasarana ... 7 - 5
7.1.3 Peraturan Kawasan Lindung ... 7 - 10
7.1.4 Peraturan Zonasi Kawasan Budidaya ... 7 - 16
7.1.5 Peraturan Zonasi Kawasan Strategis ... 7 - 23
7. 2. Ketentuan Perizinan ... 7 - 24
7.2.1 Arahan Perizinan ... 7 - 24
7.2.2 Mekanisme Perizinan ... 7 - 25
7.2.3 Kelembagaan Perizinan ... 7 - 26
7.2.4 Jenis-jenis Perizinan Terkait Penataan Ruang ... 7 - 26
7. 3. Ketentuan Insentif dan Disinsentif ... 7 - 27
7.3.1 Ketentuan Pemberian Insentif ... 7 - 31
7.3.2 Ketentuan Pemberian Disinsentif ... 7 - 31
7. 4. Arahan Sanksi ... 7 - 32
7.4.1 Sanksi ... 7 - 32 7.4.2 Sanksi Administratif ... 7 - 33 7.4.3 Sanksi Pidana ... 7 - 37 7. 5. Kelembagaan ... 7 - 38
7.5.1 Susunan Organisasi dan Tugas Kelembagaan
BKPRD ... 7 - 38 7.5.2 Pelaksana Harian BKPRD ... 7 - 40
BAB VIII HAK KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT
8.1. Hak Masyarakat ... 8 - 3
8.2. Kewajiban Masyarakat ... 8 - 4
8.3. Peran Masayarakat ... 8 - 6
Tabel……… Halaman Tabel 1.1 Nama Kecamatan dan Luas Wilayah Kabupaten Aceh
Tamiang... 1 - 10
Tabel 1.2 Luas Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang BerdasarkanPerhitungan GIS ... 1 - 11
Tabel 1.3 Perbedaan Luas Wilayah Berdasarkan UU. RI No. 4 Tahun2002 dan Perhitungan GIS ... 1 - 11
Tabel 1.4 Kondisi Kelerengan Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 15 Tabel 1.5 Persentase Kelerengan Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 15 Tabel 1.6 Rata-rata Curah Hujan dan Hari Hujan di Kabupaten AcehTamiang... 1 - 33
Tabel 1.7 Tutupan Lahan Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 41 Tabel 1.8 Luas Kawasan Hutan Berdasarkan SK Menhut 170/2000 diKabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 43
Tabel 1.9 Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Tamiang... 1 - 45Tabel 1.10 Proyeksi Penduduk di Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 46 Tabel 1.11 Kepadatan Penduduk Berdasarkan Luas Administratif ... 1 - 47 Tabel 1.12 Kepadatan
Penduduk Berdasarkan Luas Kawasan
Permukiman ... 1 - 49
Tabel 1.13 Struktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin... 1 - 50 Tabel 1.14 Indek Pembangunan Manusia Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 50 Tabel 1.15 Nilai dan Kontribusi Sektor PDRB Tahun 2007-2011AtasDasar Harga Konstan Tahun 2000 ... 1 - 51
Tabel 1.16 Nilai dan Kontribusi Sektor PDRB Tahun 2007-2011 AtasDasar Harga Berlaku ... 1 - 52
Tabel 1.17 Perkembangan Kontribusi Sektor PDRB Tahun 2007-2011Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 53
Tabel 1.18 Perkembangan Kontribusi Sektor Dalam PDRB Tahun 2007-2011 Atas Dasar Harga Konstan ... 1 - 53
Tabel 1.19 Nilai Inflasi Rata-rata Provinsi Aceh, Tahun 2007-2011 ... 1 - 54 Tabel 1.20 PDRB Perkapita Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 54 Tabel 1.21 Luas dan Jumlah Produksi Padi ... 1 - 55 Tabel 1.22 Luas dan Jumlah Produksi Jagung ... 1 - 56 Tabel 1.23 Luas dan Jumlah Produksi Tanaman Buah-Buahan... 1 - 57 Tabel 1.24 Luas dan Jumlah Produksi Tanaman Sayur-Mayur ... 1 - 57 Tabel 1.25 Luas Areal dan Produksi Komoditi Perkebunan ... 1 - 58 Tabel 1.26 Luas Areal dan Produksi Perusahaan Kelapa Sawit ... 1 - 59 Tabel 1.27 Populasi Ternak di Kabupaten Aceh Tamiang... 1 - 60 Tabel 1.28 Jumlah Hasil Tangkapan Perikanan Laut Kecamatan Pesisir ... 1 - 61 Tabel 1.29 Rata-rata Hasil Kualitas Air Laut dan Kriteria BudidayaPerikanan Laut ... 1 - 62
Tabel 1.30 Lahan Budidaya Air Payau/Tambak Menurut Kecamatan ... 1 - 63 Tabel 1.31 Produksi Budidaya Air Payau/Tambak Menurut KecamatanPesisir ... 1 - 63
Tabel 1.32 Hasil Kualitas Air Sungai dan Kriteria Budidaya PerairanUmum ... 1 - 64
Tabel 1.33 Lahan Budidaya Perikanan Air Tawar ... 1 - 65 Tabel 1.34 Potensi Bahan Tambang di Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 67 Tabel 1.35 Kondisi Eksisting Perumahan di Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 73 Tabel 1.36 Luas Kawasan Permukiman di Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 74 Tabel 4.1 Rencana Pola Ruang Kabupaten Aceh Tamiang Tahun
2012-2032 ... 4 - 2
Tabel 4.2 Rencana Kawasan Hutan Kabupaten Aceh Tamiang Tahun2012-2032 ... 4 - 6
Tabel 4.3 Luas Kawasan Hutan lindung Setelah Alih Fungsi Lahan ... 4 - 7 Tabel 4.4 Rencana Kawasan Resapan Air Kabupaten Aceh TamiangTahun 2012-2032 ... 4 - 8
Tabel 4.5 Rencana Kawasan Perlindungan Setempat Kabupaten AcehTamiang Tahun 2012-2032 ... 4 - 9
Tabel 4.6 Rencana Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian AlamKabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012-2032 ... 4 - 14
Tabel 4.7 Sebaran Kawasan Banjir di Kabupaten Aceh Tamiang ... 4 - 18 Tabel 4.8 Sebaran Kawasan Karst di Kabupaten Aceh Tamiang ... 4 - 20 Tabel 4.9 Sebaran Kawasan Rawan Bencana Alam Geologi GerakanTanah di Kabupaten Aceh Tamiang ... 4 - 22
Tabel 4.10 Rencana Kawasan Peruntukan Hutan Produksi di KabupatenAceh Tamiang Tahun 2012-2032 ... 4 - 28
Tabel 4.11 Topologi Lahan Berdasarkan Kesesuaian Lahan danPersyaratan Agroklimak ... 4 - 30
Tabel 4.12 Karakteristik Kawasan Peruntukan Pertanian ... 4 - 31 Tabel 4.13 Rencana Pertanian Lahan Basah di Kabupaten Aceh TamiangTahun 2012-2032 ... 4 - 33
Tabel 4.14 Rencana Pertanian Lahan Kering di Kabupaten Aceh TamiangTahun 2012-2032 ... 4 - 35
Tabel 4.15 Rencana Perkebunan Besar di Kabupaten Aceh TamiangTahun 2012-2032 ... 4 - 40
Tabel 4.16 Rencana Perkebunan Rakyat di Kabupaten Aceh Tamiang
Tahun 2012-2032 ... 4 - 41
Tabel 4.17 Potensi Kawasan Pertambangan di Kabupaten Aceh TamiangTahun 2012-2032 ... 4 - 48
Tabel 4.18 Rencana Kawasan Permukiman di Kabupaten Aceh TamiangTahun 2012-2032 ... 4 - 55
Tabel 4.19 Rencana Kawasan Permukiman Perkotaan di Kabupaten AcehTamiang Tahun 2012-2032 ... 4 - 56
Tabel 4.18 Rencana Kawasan Permukiman Perdesaan di KabupatenAceh Tamiang Tahun 2012-2032 ... 4 - 57
Tabel 6.1 Matrik Indikasi Program ... 6 - 2 Tabel 7.1 Insentif dan Disinsentif Pemanfaatan Ruang ... 7 - 29
GAMBAR
... HALAMAN
Gambar 1.1 Peta Orientasi Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 12 Gambar 1.2 Peta Administrasi Kabupaten Aceh Tamiang ... 1 - 13 Gambar 1.3 Peta Kondisi Kelerengan ... 1 - 16 Gambar 1.4 Peta Kondisi Ketinggian ... 1 - 17 Gambar 1.5 Peta Morphologi ... 1 - 18 Gambar 1.6 Peta Kondisi Geologi ... 1 - 20 Gambar 1.7 Peta Jenis Tanah ... 1 - 24 Gambar 1.8 Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) ... 1 - 28 Gambar 1.9 Peta Cekungan Air Tanah (CAT) ... 1 - 31 Gambar 1.10 Peta Curah Hujan ... 1 - 34 Gambar 1.11 Peta Potensi Gerakan Tanah ... 1 - 37 Gambar 1.12 Peta Potensi Banjir ... 1 - 39 Gambar 1.13 Peta Penggunaan Lahan ... 1 - 42 Gambar 1.14 Peta Kawasan Hutan SK Menhut 170/2000 ... 1 - 44Gambar 1.15 Peta Kepadatan Penduduk Berdasarkan Luas Permukiman 1 - 48 Gambar 3.1 Peta Rencana Struktur Ruang ... 3 - 3 Gambar 3.2 Peta Rencana Sistem Pusat Kegiatan ... 3 - 9 Gambar 3.3 Peta Rencana Sistem Jaringan Transportasi Darat ... 3 - 28 Gambar 3.4 Peta Rencana Sistem Jaringan Transportasi Laut ... 3 - 31 Gambar 3.5 Peta Rencana Sistem Jaringan Transportasi Udara ... 3 - 33 Gambar 3.6 Peta Rencana Sistem Jaringan Energi ... 3 - 35 Gambar 3.7 Peta Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi ... 3 - 38 Gambar 3.8 Peta Rencana Sistem Jaringan Sumber Daya Air ... 3 - 46 Gambar 3.9
Peta Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah ... 3 - 52
Gambar 3.10 Peta Rencana Jalur Evakuasi Bencana ... 3 - 54 Gambar 4.1 Peta Rencana Pola Ruang ... 4 - 4 Gambar 4.2 Peta Rencana Kawasan Lindung ... 4 - 17 Gambar 4.3 Peta Kawasan Rawan Banjir ... 4 - 19 Gambar 4.4 Peta Kawasan Karst ... 4 - 21 Gambar 4.4 Peta Rawan Bencana Gerakan Tanah ... 4 - 23 Gambar 4.6 Peta Rencana Kawasan Budidaya ... 4 - 26 Gambar 4.7 Peta Rencana Perlindungan Lahan Pertanian PanganBerkelanjutan (PLP2B) ... 4 - 37
Gambar 4.8 Peta Potensi Pertambangan ... 4 - 49 Gambar 4.9 Peta Rencana Pola Ruang Laut ... 4 - 60 Gambar 4.10 Peta Rencana Alih Fungsi Lahan ... 4 - 62 Gambar 5.1 Peta Rencana Kawasan Strategis ... 5 - 8 Gambar 7.1 Ketentuan Peraturan Zonasi Dalam Penataan Ruang ... 7 - 31.1 DASAR HUKUM PENYUSUNAN
Penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Tamiang tentunya harus mengikuti koridor peraturan yang berlaku. Di bawah ini disampaikan beberapa peraturan perundangan yang melandasi penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Tamiang sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 18 ayat (6) tentang pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan- peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan;
2. Undang-Undang Nomor 7 (Drt) Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten Dalam Lingkungan Wilayah Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 58,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1092);
3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1103);
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274);
PENDAHULUAN
6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
7. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469);
8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3478);
9. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati;
10. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3647);
11. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 129, Tanbahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881);
12. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888); sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412);
13. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 172, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3893);
14. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4145);
15. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
16. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4169);
17. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377);
18. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4380);
19. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4411);
20. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
21. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433); Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah/diamandemen beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844). Dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b ditetapkan bahwa: “Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang.”
22. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
23. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
24. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4441);
25. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Aceh dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara Menjadi Undang-Undang;
26. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633). Dalam Bab XX Perencanaan Pembangunan dan Tata Ruang Pasal 141 sampai Pasal 150, dikemukakan serangkaian penetapan yang berkaitan dengan: pembangunan, penataan ruang, pengelolaan lingkungan hidup, dan secara khusus pengelolaan kawasan ekosistem Leuser di wilayah Aceh.
27. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
28. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4722);
29. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);
30. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724);
31. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725). Pada Ketentuan Penutup Pasal 78 ayat (4) huruf b ditetapkan bahwa: “Dengan berlakunya undang-undang ini semua peraturan daerah provinsi tentang rencana tata ruang wilayah provinsi disusun atau disesuaikan paling lambat dalam waktu 2 (dua) tahun sejak undang-undang ini diberlakukan”;
32. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739);
33. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746);
34. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4849);
35. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 177, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4925);
36. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);
37. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4966);
38. Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4974);
39. Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5052);
40. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5059);
41. Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5068);
42. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya;
43. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
44. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum (Lembaran Negara Republik Indonsia Tahun 2012 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5280);
45. Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara RI Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3445);
46. Peraturan Pemerintah RI Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3660);
47. Peraturan Pemerintah RI Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara RI Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3776);
48. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3816);
49. Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3838);
50. Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara RI Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3934);
51. Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4163);
52. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
53. Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2002 tentang Keadaan Geografis Titik-Titik Garis Pangkal (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4211);
54. Peraturan Pemerintah RI Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 142, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4254);
55. Peraturan Pemerintah RI Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4385);
56. Peraturan Pemerintah RI Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 146, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4452);
57. Peraturan Pemerintah RI Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 147, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4453);
58. Peraturan Presiden RI Nomor 30 Tahun 2005 tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Aceh dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara;
59. Peraturan Pemerintah RI Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi (Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4624);
60. Peraturan Pemerintah RI Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara RI Tahun 2006 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4638);
61. Peraturan Pemerintah RI Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4696);
62. Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4737);
63. Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4741);
64. Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara RI Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4833);
65. Peraturan Pemerintah RI Nomor 37 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2002 Tentang Daftar Koordinat Goegrafis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia (Lembar Negara RI Tahun 2008 Nomor 77, Tambahan Lembar Negara RI Nomor 4854);
66. Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air (Lembaran Negara RI Tahun 2008 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4858);
67. Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah (Lembaran Negara RI Tahun 2008 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4859);
68. Peraturan Pemerintah RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4987);
69. Peraturan Pemerintah RI Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5004);
70. Peraturan Pemerintah RI Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5070);
71. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan (Lembaran Negara RI Tahun 2010 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5097);
72. Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5103);
73. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
74. Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sumatra (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 31);
75. Keputusan Presiden RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
76. Keputusan Presiden RI Nomor 33 Tahun 1991 tentang Penggunaan Tanah Bagi Kawasan Industri;
77. Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1992 tentang Pengelolaan Kawasan Budidaya;
78. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang Di Daerah;
79. Keputusan Presiden RI Nomor 33 Tahun 1998 tentang Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser;
80. Keputusan Presiden RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional;
81. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang;
82. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi;
83. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor;
84. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai;
85. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 41 Tahun 2007 tentang Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budidaya;
86. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan;
87. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan;
88. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Daerah;
89. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2008 tentang Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di Daerah;
90. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang Pedoman Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota beserta Rencana Rinciannya;
91. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.28/Menhut-II/2009 tentang Tata Cara Pelaksanaan Konsultasi Dalam Rangka Pemberian Persetujuan Substansi Kehutanan atas Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Daerah;
92. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi;
93. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
94. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 41/Permentan/OT.140/9/2009 tentang Kriteria Teknis Kawasan Peruntukan Pertanian;
95. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 630 / KPTS / M / 2009 tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Dalam Jaringan Jalan Primer Menurut Fungsinya Sebagai Jalan Arteri dan Jalan Kolektor 1;
96. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 631 / KPTS / M / 2009 tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Menurut Statusnya sebagai Jalan Nasional;
97. Qanun Provinsi Aceh Nomor 14 Tahun 2002 tentang Kehutanan Provinsi Aceh;
98. Qanun Provinsi Aceh Nomor 20 Tahun 2002 tentang Konservasi Sumber Daya Alam;
99. Qanun Provinsi Aceh Nomor 21 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam;
dan
100. Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pembentukan Qanun Aceh (Lembaran Aceh Tahun 2011 Nomor 10, Tambahan Lembaran Aceh Nomor 38).
1.2 KONDISI FISIK WILAYAH KABUPATEN 1.2.1 Administrasi
Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Aceh dengan letak geografis pada posisi 030 53’ 18,81’’ - 040 32’ 56,76’’ Lintang Utara, 970 43’
41,51’’ - 980 14’ 45,41’’ Bujur Timur. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara dan merupakan pintu gerbang memasuki Provinsi Aceh memiliki 12 Kecamatan. Secara geografis batas-batas wilayah Kabupaten Aceh Tamiang sebagai berikut :
Sebelah Utara : Berbatas dengan Kota langsa, Kabupaten Aceh Timur dan Selat Malaka;
Sebelah Selatan : Berbatas dengan Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten langkat Provinsi Sumatera Utara;
Sebelah Barat : Berbatas dengan Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Gayo Lues; dan
Sebelah Timur : Berbatas dengan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dan Selat Malaka.
Untuk Lebih jelasnya mengenai wilayah administrasi Kabupaten Aceh Tamiang dan perbedaan luas wilayah dapat dilihat pada Tabel 1.1, Tabel 1.2, Tabel 1.3, Gambar 1.1. dan Gambar 1.2.
Tabel 1.1
Nama Kecamatan dan Luas Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang Berdasarkan BPS Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2011
No. Kecamatan Ibu Kota Jumlah
Kampung Luas (Km2)
1. Banda Mulia Telaga Meuku 10 48,27
2. Bandar Pusaka Babo 15 252,37
3. Kejuruan Muda Sungai Liput 15 124,48
4. Kota Kualasimpang Kualasimpang 5 4,48
5. Rantau Alur Cucur 16 51,71
6. Sekerak Sekerak Kanan 15 257,95
7. Seruway Tangsi Lama 24 188,49
8. Tamiang Hulu Pulau Tiga 9 194,63
9. Tenggulun Simpang Kiri 5 295,55
10. Manyak Payed Tualang Cut 36 267,11
11. Bendahara Sungai Iyu 33 132,53
12. Karang Baru Karang Baru 31 139,45
Total 213 1.957,02
Sumber: BPS Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2011
Tabel 1.2
Luas Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang Berdasarkan Interpretasi Peta / Perhitungan GIS
No. Kecamatan Ibu Kota Luas (Km2)
1. Banda Mulia Telaga Meuku 60,15
2. Bandar Pusaka Babo 212,73
3. Kejuruan Muda Sungai Liput 162,94
4. Kota Kualasimpang Kualasimpang 10,05
5. Rantau Alur Cucur 70,93
6. Sekerak Sekerak Kanan 140,81
7. Seruway Tangsi Lama 167,48
8. Tamiang Hulu Pulau Tiga 474,56
9. Tenggulun Simpang Kiri 463,06
10. Manyak Payed Tualang Cut 222,30
11. Bendahara Sungai Iyu 128,21
12. Karang Baru Karang Baru 102,94
Total Menurut Interpretasi Peta 2.216,16
Sumber: Perhitungan GIS, Tahun 2012
Tabel 1.3
Perbedaan Luas Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang
Berdasarkan BPS Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2011 dan Interpretasi Peta / Perhitungan GIS
No. Kecamatan BPS (Km2) Hitungan
GIS (Km2)
Perbedaan (Km2)
1. Banda Mulia 48,27 60,15 11,88
2. Bandar Pusaka 252,37 212,73 39,64
3. Kejuruan Muda 124,48 162,94 38.46
4. Kota Kualasimpang 4,48 10,05 5,57
5. Rantau 51,71 70,93 19,22
6. Sekerak 257,95 140,81 117,14
7. Seruway 188,49 167,48 21,01
8. Tamiang Hulu 194,63 474,56 279,93
9. Tenggulun 295,55 463,06 167,51
10. Manyak Payed 267,11 222,30 44,81
11. Bendahara 132,53 128,21 4.32
12. Karang Baru 139,45 102,94 36,51
Total 1.957,02 2.216,16 259,14
Sumber: BPS Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2011 dan Perhitungan GIS Tahun 2012
Gambar 1.1
PETA ORIENTASI KABUPATEN ACEH TAMIANG
Gambar 1.2
PETA ADMINISTRASI KABUPATEN ACEH TAMIANG
1.2.2 Rencana Perluasan Wilayah Administrasi Kota Kualasimpang
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Aceh Tamiang, terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan dengan Ibukota Kabupaten terletak di Kecamatan Karang Baru yaitu Kota Karang Baru. Kecamatan yang tergabung dalam Kabupaten Aceh Tamiang meliputi :
1. Kecamatan Kualasimpang 2. Kecamatan Tamiang Hulu 3. Kecamatan Karang Baru 4. Kecamatan Manyak Payed 5. Kecamatan Kejuruan Muda 6. Kecamatan Seruway 7. Kecamatan Bendahara 8. Kecamatan Rantau
Berdasarkan qanun no. 6 Tahun 2006 tentang pemekaran dan pembentukan kecamatan baru di Kabupaten Aceh Tamiang dari 8 (delapan) kecamatan menjadi 12 (dua belas) kecamatan terdiri dari:
1. Kecamatan Banda Mulia pemekaran dari Kecamatan Bendahara 2. Kecamatan Tenggulun pemekaran dari Kecamatan Kejuruan Muda 3. Kecamatan Bandar Pusaka pemekaran dari Kecamatan Tamiang Hulu 4. Kecamatan Sekerak pemekaran dari Kecamatan Karang Baru
Luas kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Aceh Tamiang hanya 1,10 % dari luas lahan Kabupaten Aceh Tamiang, kawasan permukiman terluas berada di Kecamatan Kota Kualasimpang yaitu 42,54 % atau 446,68 hektar. Kota Kualasimpang hanya memiliki luas wilayah administratif sebesar 1.050 hektar dan hanya menyisakan 603,32 hektar untuk peruntukan bukan permukiman. (Hasil Perhitungan GIS, tahun 2012).
Jika dilihat dari kepadatan penduduk berdasarkan luas kawasan permukiman pada tahun 2012 Kecamatan Kota Kualasimpang masih merupakan wilayah terpadat dengan kepadatan mencapai 103 Jiwa/Ha. Walaupun luas kawasan permukimannya terkecil kedua dari luas kawasan permukiman Kecamatan Banda Mulia yang hanya mencapai 6.015 hektar.
Dengan dasar hal tersebut di atas untuk Kecamatan Kota Kualasimpang dimungkinkan untuk mengalami perluasan wilayah dengan asumsi kepadatan yang tinggi dibandingkan dengan kecamatan - kecamatan lainnya yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang. Adapun
rencana Kampung yang akan dimasukkan ke dalam wilayah administratif Kecamatan Kota Kualasimpang adalah:
1. Kampung Bukit Rata Kecamatan Kejuruan Muda (sebagian wilayah) 2. Kampung Paya Bedi Kecamatan Rantau
3. Kampung Benua Raja Kecamatan Rantau 4. Kampung Landuh Kecamatan Rantau 1.2.3 Topografi
Kabupaten Aceh Tamiang memiliki klasifikasi kelerengan 0-2%, 2-8%, 8-15%, 15-25%, 25- 40%, dan >40%. Berdasarkan kelompok kelerengan tersebut dominan berkelerengan 2-8%, dengan luasan 81.850,65 Ha atau sebesar 37,17% dari total luas wilayah kabupaten.
Kondisi ketinggian Kabupaten Aceh Tamiang secara keseluruh berada di bawah kurang dari 2.000 dpl. Untuk lebih jelasnya lihat Tabel 1.4, Tabel 1.5. Gambar 1.3, Gambar 1.4, dan Gambar 1.5.
Tabel 1.4
Kondisi Kelerengan Kabupaten Aceh Tamiang
No. Kecamatan Kelas Lereng
Luas (Ha) 0-2% 2-8% 8-15% 15-25% 25-40% >40%
1 Banda Mulia 5481,18 429,47 5910,65
2 Bandar Pusaka 33,06 10329,72 4560,46 2685,17 2695,56 950 21253,97
3 Bendahara 11856,11 841,80 12697,91
4 Karang Baru 2781,02 7047,17 502,37 48,57 10379,13
5 Kejuruan Muda 842,46 13645,51 2020,21 4,97 16513,15
6 Kota Kualasimpang 63,03 194,57 257,60
7 Manyak Payed 10501,48 5559,37 3845,15 1426,94 30,64 21363,58
8 Rantau 766,30 6592,55 239,15 7598,00
9 Sekerak 216,12 4683,64 6384,82 2794,02 14078,60
10 Seruway 11621,56 4824,13 16445,69
11 Tamiang Hulu 304,68 12398,10 5042,56 7101,81 13764,12 8818,74 47430,01 12 Tenggulun 3762,12 15304,62 1727,94 2078,34 7414,33 15966,56 46253,91 Jumlah Luas (Ha) 48229,12 81850.65 24322,66 16139,82 23904,65 25735,30 220182,20
Sumber: Hasil Olah Data SRTM Resolusi 90 Meter, USGS, Tahun 2012
Tabel 1.5
Persentase Kelerengan Kabupaten Aceh Tamiang
No. Kelas Lereng Luas (Ha) Persen (%)
1. 0 – 2 % 48.229,12 21,90
2. 2 – 8 % 81.850,65 37,17
3. 8 – 15 % 24.322,66 11,05
4. 15 – 25 % 16.139,82 7,33
5. 25 – 40 % 23.904,65 10,86
>40 % 25.735,30 11,69
220.182,20 100,00
Sumber: Hasil Olah Data SRTM Resolusi 90 Meter, USGS, Tahun 2012
Gambar 1.3 : Peta Kondisi Kelerengan
Gambar 1.4 : Ketinggian
Gambar 1.5 : Morpologi
1.2.4 Geologi
Indonesia terletak diantara pertemuan 4 lempeng bumi besar, yaitu: Lempeng Hindia dan Australia, Lempeng Eurasia, serta Lempeng Pacific. Lempeng Hindia dan Australia bergerak ke utara menumbuk Lempeng Eurasia dengan kecepatan 50 – 70 mm/ tahun. Lempeng Eurasia bergerak sangat lambat ke arah tenggara dengan kecepatan sekitar 0,4 cm/tahun.
Zona tumbukan dua lempeng ini adalah di sepanjang palung laut Sumatra – Jawa – Bali – Lombok. Lempeng Pasific bergerak dengan kecepatan 120 mm/ tahun kearah barat-barat daya menabrak tepian utara dari Pulau Papua New Guinea – Irian Jaya, dan terus ke arah barat sampai ke daerah tepian timur Sulawesi.
Pulau Sumatera merupakan bagian tepi barat daya - selatan dari lempeng benua Eurasia yang berinteraksi dengan lempeng Samudera Hindia-Australia. Gerakan lempeng tersebut telah menghasilkan bentuk - bentuk gabungan penunjaman (subduction) dan sesar mendatar dekstral.
Penunjaman yang terjadi di bawah Pulau Sumatera mengakibatkan terbentuknya jalur busur magma yaitu Pegunungan Bukit Barisan. Penunjaman yang terbentuk secara berkala telah dilepaskan melalui sesar transform yang sejajar dengan tepian lempeng dan terpusat di sepanjang Sistem Sesar Sumatera yang membentang sepanjang Sumatera.
Sistem Sesar Sumatera (Sumatera Fault System) yang berarah Barat Laut-Tenggara, membentang mulai dari Pulau Weh di Aceh sampai Teluk Semangko di Lampung. Sistem Sesar Sumatera ini paling sedikit tersusun oleh 8 segmen sesar berarah orientasi Barat Laut- Tenggara dengan pergerakan yang menganan (dextral). Patahan Lokop - Kutacane, Patahan Blangkejeren - Mamas, Patahan Kla - Alas, Patahan Reunget - Blangkeujeren, Patahan Anu - Batee, Patahan Samalanga - Sipopoh, Patahan Banda Aceh - Anu, Patahan Lamteuba – Baro.
Batuan di Aceh Tamiang dapat dikelompokkan menjadi aluvium, batuan malihan, batuan sedimen dan karbonat. Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 1.6.
Gambar 1.6 : Kondisi geologi
1.2.5 Jenis dan Struktur Tanah 1.2.5.1. Jenis Tanah
Tanah di Kabupaten Aceh Tamiang berdasarkan peta jenis tanah menggunakan sistem klassifikasi tanah (Keys to Soil Taxonomy, 1987) United State of Agriculture Department (USDA) didominasi oleh jenis (ordo) Inceptisols, selain terdapat juga jenis (ordo) Ultisols, Alfisols, Oxisols, Entisols, dan Histosols.
Ordo Inceptisols
Inceptisols adalah tanah yang belum berkembang lanjut atau belum matang (immature) atau selalu disebut dengan tanah muda dengan perkembangan profil tanah atau perkembangan horizon (lapisan-lapisan hasil genesis tanah) yang lebih lemah dibandingkan dengan tanah matang. Sifat tanahnya masih banyak menyerupai sifat bahan induknya.
Lapisan penciri atas (epipedon) dari tanah Inceptisols adalah epipedon Okrik yang memiliki sifat/ciri berwarna terang, umumnya memiliki bahan organik kurang dari 1% atau bisa memiliki bahan organik lebih dari 1% namun ketebalannya kurang dari 18 cm, dan bisa menjadi keras hingga sangat keras dan massive bila kering. Sedangkan lapisan (horizon) penciri bawah umumnya terdiri dari horizon kambik atau albik. Horizon kambik memiliki tekstur pasir sangat halus hingga tekstur yang lebih halus (debu dan liat) berwarna lebih merah dari horizon di bawahnya, dan sudah terbentuk struktur tanah. Sedangkan horizon albik merupakan horizon berwarna pucat.
Ordo Ultisols
Ultisols merupakan ordo tanah yang telah berkembang lanjut atau tanah dewasa (tua) atau tanah yang paling akhir dalam proses pembentukan tanah ditandai dengan horizonisasi (lapisan-lapisan genetic) yang lengkap.
Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua dan hanya ditemukan di daerah- daerah dengan suhu tanah rata-rata lebih dari 8oC. Di Indonesia ordo tanah Ultisols banyak ditemukan di daerah-daerah dengan bahan induk batuan liat (shale stone, clay shale, atau clay stone).
Tanah Ultisols ini tergolong tanah yang kurang subur dibandingkan tanah Inceptisols karena memiliki sifat kemasaman yang tinggi atau pH yang rendah, kejenuhan basa rendah dan memiliki horizon argilik yang merupakan akumulasi liat di lapisan illuviasi pada kedalaman antara 25-100 cm yang sangat pejal sehingga sulit ditembus oleh akar tanaman.
Di Kabupaten Aceh Tamiang tanah Ultisols merupakan tanah yang juga tergolong sangat luas dan terdistribusi hampir merata, hampir sama dengan luas dan distribusi tanah Inceptisols. Tanah Ultisols di daerah ini didominasi oleh great group Hapludults, disamping terdapat pula great group Kanhapludults, dan Haplohumults.
Ordo Alfisols
Satu-satunya great grouf dari ordo Alfisols yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang adalah Hapludalfs. Hapludalf merupakan kelompok tanah yang memiliki timbunan liat yang tinggi di lapisan bawah dengan kejenuhan basa yang juga lebih tinggi dibandingkan pada tanah Ultisols, di bawah pengaruh rejim kelembaban udik (kelembaban yang juga tinggi).
Kelompok tanah Hapludalfs di Kabupaten Aceh Tamiang ini berada dalam asosiasi dengan kelompok tanah Eutropepts dan Dystropepts seperti terdapat di Kecamatan Bandar Pusaka, dan Karang Baru.
Ordo Oxisols
Seperti halnya ordo Alfisols, pada ordo Oxisols juga hanya ada satu kelompok (great group) yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang yaitu great group Haplaquox. Kelompok tanah Haplaquox merupakan tanah yang telah berkembang lanjut, struktur tanah gembur sampai kedalaman lebih dari 150 cm, berwarna merah hingga kedalaman tersebut karena kondisi oksidasi (terdapat banyak besi oksida), tetapi dapat pula terjadi karatan-karatn baur di dalam kedalaman 50 cm akibat jenuh air pada kedalaman tersbut. Kelompok tanah Haplaquox di Kabupaten Aceh Tamiang terdapat dalam asosiasi dengan kelompok tanah Dystropepts, seperti terdapat di Kecamatan Tenggulun dan Kejuruan Muda.
Ordo Entisols
Entisols merupakan tanah yang baru berkembang dan sudah menampakkan tanda terjadinya proses pembentukan tanah awal tetapi belum menghasilkan lapisan (horizon) tanah yang jelas (tegas). Terdapat empat kelompok tanah (great group) Entisols di Kabupaten Aceh Tamiang yaitu: Fluvaquents, Tropofluvents, Tropopsamments, dan Troporthents.
Great group Fluvaquents merupakan tanah Entisols yang selalu jenuh air dengan kandungan bahan organic semakin ke bawah berkurang secara tidak teratur dan tekstur tanahnya tergolong sedang sampai halus.
Tanah ini terbentuk akibat pengendapan yang terus menerus pada derah cekungan di sekitar bantaran sungai atau pantai. Kelompok tanah ini di Kabupaten Aceh Tamiang berada dalam
asosiasi dengan kelompok tanah Tropaquepts, Hydraquepts, Sulfihemist, dan Eutropepts, sebagaimana dijumpai di Kecamatan Seruway, Rantau dan Karang Baru.
Ordo Histosols
Salah satu kelompok tanah gambut (Histosols) yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang adalah great group Sulfihumists. Great group Sulfihemists ini merupakan tanah gambut setengah matang (hemists) yang mengandung bahan-bahan sulfidik pada kedalaman 100 cm dari permukaan tanah.
Bahan sulfidik ini bila terungkap ke permukaan tanah akibat pembuatan drainase akan terjadi tanah sulfat masam yang menyebabkan tanah menjadi sangat masam dengan pH 4 atau lebih kecil. Kelompok tanah Sulfihemists ini terdapat dalam asosiasi dengan kelompok Hydraquepts, Fluvaquents, dan Halaquets, sebagaimana terdapat di Kecamatan Seruway.
Profil (Penampang Vertikal) Berbagai Ordo Tanah Yang Terdapat Di Kabupaten Aceh Tamiang
Inceptisols Ultisol Alfisols
Profil (Penampang Vertikal) Berbagai Ordo Tanah Yang Terdapat Di Kabupaten Aceh Tamiang
Entisols Oxisols Histosols
Regosol Organosol Aluvial
Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 1.5. Berikut dibawah ini.
Gambar 1.7 : Peta Jenis Tanah
Sungai Tamiang
1.2.5.2. Struktur Tanah
Struktur tanah di Kabupaten Aceh Tamiang didominasi oleh struktur gumpal bersudut dengan konsistensi sangat teguh pada keadaan lembab dan sangat keras pada keadaan kering. Plastisitas tanah tergolong plastis hingga sangat plastis dan kelekatannya tergolong lekat hingga sangat lekat. Keadaan struktur, konsistensi dan sifat kelekatan seperti itu mendorong terjadinya gumpalan-gumpalan keras dan pecah-pecah pada saat kering, baik pada tanah sawah, maupun pada lahan kering.
Tekstur tanah secara keseluruhan di Kabupaten Aceh Tamiang yang didominasi oleh tekstur halus (98,59% dari luas wilayah Kabupaten Aceh Tamiang), sedangkan sisanya bertektur sedang (1,04%) dan bertekstur kasar (0,37%). Tanah bertekstur halus akan sangat padat dan keras pada saat kering yang terdiri dari tanah dengan tekstur liat hingga lempung liat berpasir, dan tanah bertekstur sedang terdiri dari tanah dengan tekstur lempung, lempung berdebu, dan debu, sedangkan tanah bertekstur kasar terdiri dari tanah bertekstur lempung berpasir, pasir berlempung, dan pasir.
Tanah yang mengandung kadar liat tinggi (bertekstur halus) dalam keadaan basah dapat menahan air sangat banyak dan menghambat pengolahan tanah, sedangkan pada musim kering tanah menjadi sangat keras sehingga sukar diolah. Tanah bertekstur liat memiliki struktur sangat kompak (tidak remah atau tidak gembur), sehingga sukar diolah dibandingkan dengan tanah yang mengandung liat rendah seperti lempung, lempung berdebu, lempung berpasir, pasir berlempung yang lebih mudah diolah
1.2.6 Hidrologi
Satuan Wilayah Sungai yang terbesar yang terdapat di Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang diantaranya adalah Sungai Tamiang, Sungai Simpang Kiri, Sungai Simpang Kanan, Sungai Telaga Meuku, Sungai Manyak Payed dan sungai-sungai kecil lainnya yang mengalir ke
pantai timur.
Sungai-sungai di kabupaten ini merupakan sumber untuk pengairan ke persawahan dan perkebunan baik yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan swasta. Aliran hidrologi dari sungai yang ada kemudian mengaliri irigasi semi teknis maupun irigasi sederhana di Kabupaten Aceh Tamiang sehingga sebagian besar sawah di kabupaten ini dapat ditanami 3 (tiga) kali setahun.
Sungai-sungai di Kabupaten Aceh Tamiang sebagian besar berhulu di pegunungan Kecamatan Tamiang Hulu yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang. Kondisi ini mengakibatkan fluktuasi air sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi penggunaan lahan wilayah aliran sungai (WAS) atau di hulunya.
Sungai – sungai besar yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang diantaranya adalah:
1. Sungai Tamiang 2. Sungai Manyak Payed 3. Sungai Simpang Kiri 4. Sungai Simpang Kanan 5. Sungai Raja Muda 6. Sungai Pulau Rukut 7. Sungai Telaga Meuku 8. Sungai Kaloy
9. Sungai Sekundur 10. Sungai Makpado
1.2.6.1. Wilayah Sungai (WS)
Di wilayah Aceh terdapat 408 Daerah Aliran Sungai (DAS) besar sampai kecil. Pengelolaan sungai sebagai sumber daya air ditetapkan 11 Wilayah Sungai (WS) yang terdapat di Aceh, berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.11A/PRT/M/2006. Klasifikasi WS yang ada di Aceh Tamiang, yaitu: WS Tamiang-Langsa.
Berdasarkan Keppres No.12 tahun 2012, Wilayah Sungai lintas Kabupaten Aceh Tamiang terdiri atas :
1. DAS Manyak Payed;
2. DAS Rajamuda;
3. DAS Putaurukut;
4. DAS Bunin;
5. DAS Simpang Kiri;
6. DAS Genting;
7. DAS Tamiang;
8. DAS Paya Udang;
9. DAS Kemiri;
10. DAS Matang Maku;
11. DAS Sailau; dan 12. DAS Masin.
1.2.6.2. Daerah Aliran Sungai (DAS)
Arah dan pola aliran sungai yang terdapat dan melintasi wilayah Aceh dapat dikelompokkan atas 2 pola utama, yaitu:
- Sungai-sungai yang mengalir ke Samudera Hindia atau ke arah barat;
- Sungai-sungai yang mengalir ke Selat Malaka atau ke arah timur.
Beberapa Daerah Aliran Sungai dikelompokkan menjadi satu Wilayah Sungai berdasarkan wilayah strategis nasional dan lintas kabupaten. Pengelompokan ini didasari oleh Permen PU No. 11 A/PRT/M/2006 tanggal 26 Juni 2006 tentang pembagian Wilayah Sungai di Indonesia.
Dalam DAS yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang bagian dari WS Tamiang – Langsa terdapat sub DAS yang terdiri dari :
a. Sub DAS Waih Ni Lesten dengan luas 202,64 Ha;
b. Sub DAS Wih Lesten dengan luas 4451,99 Ha;
c. Sub DAS Tenggulun dengan luas 24356,14 Ha;
d. Sub DAS Simpang Dua dengan luas 11676,62 Ha;
e. Sub DAS Simpang Kiri Hulu dengan luas 39565,84 Ha;
f. Sub DAS Simpang Kiri Hilir dengan luas 22938,52 Ha;
g. Sub DAS Cempegih dengan luas 15621,74 Ha;
h. Sub DAS Simpang Kanan dengan luas 5109,33 Ha;
i. Sub DAS Wih Kala Pining dengan luas 1,74 Ha;
j. Sub DAS Wih Tampur dengan luas 1826,95 Ha;
k. Sub DAS Langsa dengan luas 17710,72 Ha;
l. Sub DAS Tamiang Hilir dengan luas 67675,98 Ha; dan m. Sub DAS Telaga Muku dengan luas 10393,8 Ha.
Untuk lebih jelasnya DAS yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang lihat Gambar 1.8.
Gambar 1.8 : Peta DAS
1.2.6.3. Daerah Irigasi (DI)
Daerah Irigasi (DI) yang terdapat di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari Daerah Irigasi (DI) Kewenangan Provinsi Aceh dan Daerah Irigasi (DI) Kewenangan Kabupaten Aceh Tamiang. Daerah Irigasi (DI) tersebut adalah :
a. Rencana DI Kewenangan Provinsi Aceh yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang adalah Daerah Irigasi Cinta Raja seluas kurang lebih 1.149,33 hektar yang berada di Kecamatan Banda Mulia dan Kecamatan Bendahara.
b. Kewenangan Kabupaten meliputi:
1. Daerah Irigasi Tenggulun seluas kurang lebih 133,89 Ha berada di kampung Tenggulun Kecamatan Tenggulun;
2. Daerah Irigasi Paya Prang seluas kurang lebih 81,39 Ha berada di Kampung Benua Raja Kecamatan Rantau;
3. Daerah Irigasi Kernal seluas kurang lebih 39,85 Ha berada di Kampung Simpang Kiri Kecamatan Tenggulun;
4. Daerah Irigasi Alue Lhok seluas kurang lebih 156,95 Ha berada di Kampung Alue Lhok Kecamatan Karang Baru;
5. Daerah Irigasi Alur Baung seluas kurang lebih 218,94 Ha berada di Kampung Alur Baung Kecamatan Karang Baru;
6. Daerah Irigasi Alur PBatu Bedulang seluas kurang lebih 15,18 Ha berada di Kampung Alur Batu Bedulang Kecamatan Bandar Pusaka;
7. Daerah Irigasi Bukit Panjang seluas kurang lebih 29,92 Ha berada di Kampung Bukit Panjang Kecamatan Manyak Payed;
8. Daerah Irigasi Gelanggang Merak seluas kurang lebih 148,22 Ha berada di Kampung Gelanggang Merak Kecamatan Manyak Payed;
9. Daerah Irigasi Ingin Jaya seluas kurang lebih 89,43 Ha berada di Kampung Ingin Jaya, Suka Jadi, Suka Mulia, Suka Rahmat Kecamatan Rantau;
10. Daerah Irigasi Jamur Jelatang seluas kurang lebih 26,1 Ha berada di Kampung Jamur Jelatang Kecamatan Rantau;
11. Daerah Irigasi Jamur Labu seluas kurang lebih 60,19 Ha berada di Kampung Jamur Labu Kecamatan Rantau;
12. Daerah Irigasi Kampung Durian seluas kurang lebih 49,81 Ha berada di Kampung Durian Kecamatan Rantau;
13. Daerah Irigasi Lhong Manyo seluas kurang lebih 212,1 Ha berada di Kampung Lhong Manyo Kecamatan Manyak Payed;
14. Daerah Irigasi Matang Ara seluas kurang lebih 45,66 Ha berada di Kampung M.T.
Ara Aceh, M.T. Ara Jawa Kecamatan Manyak Payed dan Kecamatan Karang Baru;
15. Daerah Irigasi Pahlawan seluas kurang lebih 476,38 Ha berada di Kampung Pahlawan Kecamatan Manyak Payed;
16. Daerah Irigasi Paya Dehok seluas kurang lebih 177,02 Ha berada di Kampung Kp.
Raja Kecamatan Bendahara;
17. Daerah Irigasi Paya Laut seluas kurang lebih 164,61 Ha berada di Kampung P. Meta Kecamatan Karang Baru;
18. Daerah Irigasi Paya Udang seluas kurang lebih 197,79 Ha berada di Kampung P.
Udang Kecamatan Seruway;
19. Daerah Irigasi Pulo Tiga seluas kurang lebih 101,53 Ha berada di Kampung Wonosari, Harum sari, Alur Tani II Kecamatan Taming Hulu;
20. Daerah Irigasi Seunebok Gayo seluas kurang lebih 321,48 Ha berada di Kampung Senebuk Gayo Kecamatan Manyak Payed;
21. Daerah Irigasi Seunebok Bacee seluas kurang lebih 226,12 Ha berada di Kampung T. Neraca Kecamatan Manyak Payed;
22. Daerah Irigasi Seunebok Dalam seluas kurang lebih 31,74 Ha berada di Kampun Seunebok Dalam, Mtg Tepah Kecamatan Bendahara;
23. Daerah Irigasi Rawa Keutengga seluas kurang lebih 161,89 Ha berada di Kampung Paya keutengga Kecamatan Manyak Payed;
24. Daerah Irigasi Rantau Pakam seluas kurang lebih 198,23 Ha berada di Kampung Rantau Pakam Kecamatan Bendahara;
25. Daerah Irigasi Suka Rahmat seluas kurang lebih 67,07 Ha berada di Kampung Suka Rahmat Kecamatan Rantau;
26. Daerah Irigasi Suka Rakyat seluas kurang lebih 38,69 Ha berada di Kampung Suka Rakyat Kecamatan Rantau; dan
27. Sawah beririgasi seluas kurang lebih 775,38 Ha berada di Kecamatan Bendahara, Kecamatan Karang Baru, Kecamatan Kejuruan Muda, Kecamatan manyak Payed, Kecamatan Sekerak, Kecamatan Seruway dan Kecamatan Tenggulun.
1.2.6.4. Cekungan Air Tanah (CAT)
Berdasarkan Peta hidrogeologi Indonesia dapat diidentifikasikan jenis litologi batuan (lithological rock types) serta potensi dan prospek air tanah (groundwater potential and prospects). Pada Peta Hidrogeologi Indonesia ditunjukkan adanya indikasi sesar/patahan yang relatif memanjang mengikuti pola pegunungan yang ada di wilayah Aceh (relatif berarah barat laut – tenggara). Terkait dengan aspek hidrogeologi di atas, selanjutnya dikemukakan juga mengenai cekungan air tanah (CAT) yang ada di wilayah Aceh Tamiang.
Dengan mengacu kepada Atlas Cekungan Air Tanah Indonesia yang diterbitkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2009, pada halaman lembar Aceh, dapat diidentifikasikan ada 1 (satu) Cekungan Air Tanah (CAT) di wilayah Aceh Tamiang, yaitu:
CAT Langsa dengan karakteristik sebagai berikut:
Jumlah Imbuhan Air Tanah bebas: 256 juta m3/tahun.
Jumlah Air Tertekan: 72 juta m3/tahun.
Dari hasil perhitungan GIS dan interpretasi peta Cekungan Air Tanah (CAT) Langsa seluas 66.589,18 Ha meliputi :
a. Kecamatan Manyak Payed seluas 14.619,65 Ha b. Kecamatan Banda Mulia seluas 6.012,06 Ha c. Kecamatan Bendahara seluas 12.959,48 Ha d. Kecamatan Seruway seluas 16.712,07 Ha e. Kecamatan Rantau seluas 7.604,99 Ha
f. Kecamatan Kota Kualasimpang seluas 2.57,6 Ha g. Kecamatan Kejuruan Muda seluas 743,17 Ha h. Kecamatan Sekerak seluas 362,88 Ha dan i. Kecamatan Karang Baru seluas 7.317,28 Ha.
Untuk lebih jelasnya mengenai Cekungan Air Tanah (CAT) di Kabupaten Aceh Tamiang dapat dilihat pada Gambar 1.9.
Gambar 1. 9 : CAT
1.2.6.5. Curah Hujan
Iklim didefinisikan sebagai kondisi cuaca rata-rata selama periode waktu tertentu.
Pengetahuan dasar tentang iklim dapat digunakan dalam peramalan cuaca jangka pendek dengan menggunakan teknik analog seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO), Madden- Julian Oscillation (MJO), North Atlantic Oscillation (NAO), North Annualar Mode (NAM ), Arctic Oscillation (AO), North Pacific (NP), Pacific Decadal Oscillation (PDO), dan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO). Model iklim digunakan untuk berbagai tujuan dari studi mengenai dinamika iklim cuaca dan sistem untuk proyeksi iklim di masa mendatang.
Grafik Curah Hujan Bulanan Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2001 - 2010
Sumber: Stasiun PKS Pulau Tiga, 2001 - 2010
Dari grafik curah hujan bulanan dari tahun 2001 - 2010 yang diukur pada Stasiun PKS Pulau Tiga Kabupaten Aceh Tamiang, diperoleh curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan Mei tahun 2007. Dari total curah hujan bulanan tahun 2001 - 2010, diperoleh curah hujan tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 2.982 mm/tahun.
Tingkat curah hujan tertinggi terjadi pada bulan November mencapai 316,5 mm. Curah hujan terendah pada umumnya terjadi pada bulan Juli mencapai 6,2 mm. Rata – rata curah hujan di Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2009 sebesar 146,7 mm. Untuk lebih jelasnya mengenai curah hujan dan hari hujan di Kabupaten Aceh Tamiang dapat dilihat pada Tabel 1.6, dan Gambar 1.10.
Tabel 1.6. Rata-rata Curah Hujan dan Hari Hujan di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2003– 2009 mber ; Kabupaten Aceh Tamiang Dalam Angka
Gambar 1.10 : Peta Curah Hujan