• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Rawan Bencana Alam .1. Rawan Gempa bumi

PENDAHULUAN

1.2 KONDISI FISIK WILAYAH KABUPATEN .1 Administrasi

1.2.7 Potensi Rawan Bencana Alam .1. Rawan Gempa bumi

1.2.7 Potensi Rawan Bencana Alam

1.2.7.2. Tanah Longsor / Gerakan Tanah

Tanah Longsor adalah fenomena geologis yaitu pergerakan tanah, misalnya jatuhnya bebatuan, aliran reruntuhan, yang bisa terjadi di lepas pantai, pinggir pantai dan di daratan.

Walaupun penyebab utama tanah longsor adalah gravitasi, ada faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap stabilitas lereng. Secara khusus, faktor-faktor pre-conditional membangun kondisi sub-permukaan khusus yang menyebabkan areal/lereng tersebut menjadii rawan, sedangkan tanah longsor yang sebenarnya sering membutuhkan pemicu (misalnya hujan lebat atau gempa bumi) sebelum terjadi longsor.

Gerakan Tanah dapat dipahami sebagai salah satu proses geodinamik, yang berupa proses perpindahan massa tanah atau batuan penyusun lereng, akibat terjadi gangguan kestabilan pada lereng tersebut. Kestabilan suatu lereng dapat dikontrol oleh berbagai faktor, yaitu morfologi (kemiringan dan bentuk lereng), batuan penyusun lereng, struktur geologi, kondisi hidrologi lereng dan jenis pemanfaatan lahan pada lereng Aceh terdiri dari wilayah-wilayah yang sebagian besar merupakan perbukitan atau pegunungan sehingga banyak dijumpai lahan miring ataupun bergelombang. Lereng pada lahan yang miring ini berpotensi untuk mengalami gerakan massa tanah atau batuan. Temperatur dan curah hujan yang tinggi sangat mendukung terjadinya proses pelapukan batuan pada lereng (proses pembentukan tanah), akibatnya lereng akan tersusun oleh tumpukan tanah yang tebal. Lereng dengan tumpukan tanah yang lebih tebal relatif lebih rentan terhadap gerakan tanah.

Klasifikasi gerakan tanah di Kabupaten Aceh Tamiang antara lain:

 Rendah : semua kecamatan

 Menengah : semua kecamatan

 Tinggi : Kecamatan Bandar Pusaka, Sekerak, Tamiang Hulu dan Tenggulun.

Untuk lebih jelasnya mengenai potensi gerakan tanah di Kabupaten Aceh Tamiang dapat dilihat pada Gambar 1.11.

Gambar 1.11 : Peta Potensi Gerakan Tanah

1.2.7.3. Rawan Banjir

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Peristiwa banjir timbul jika air menggenangi daratan yang biasanya kering. Banjir pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi.

Banjir bandang adalah banjir di daerah permukaan rendah yang terjadi akibat hujan yang turun terus menerus dan muncul secara tiba-tiba. Banjir bandang terjadi saat penjenuhan air terhadap tanah di wilayah tersebut berlangsung dengan sangat cepat hingga tidak dapat diserap lagi. Air yang tergenang lalu berkumpul di daerah-daerah dengan permukaan rendah dan mengalir dengan cepat ke daerah yang lebih rendah. Penyebab banjir adalah:

1. Banyaknya daerah resapan yang berubah fungsi menjadi bangunan;

2. Saluran air yang tidak berfungsi optimal;

3. Air laut ketika terjadi pasang;

4. Tanah kurang dapat menahan air;

5. Penggundulan hutan.

Penanganan banjir secara teknis yaitu:

1. Penanganan daerah rawan banjir dengan menaikkan dasar bangunan dan menaikkan elevasi permukaan tanah;

2. Penanganan Daerah Pengaliran Sungai (DPS), yaitu : Mengurangi debit banjir, seperti dengan membangun waduk dan bendungan di daerah hulu dan sumur resapan;

3. Melayani debit banjir, seperti dengan melakukan normalisasi alur sungai, membangun tanggul dan dinding penahan banjir, saluran by pass (sudetan), dan sistem polder dan pompa.Mengendalikan erosi dan sedimen, seperti melakukan: terracing, penanaman pohon secara segaris, pembuatan saluran di lereng, pembangunan dam penahan (check dam), dinding penahan tebing (Streambank protection) dan pembangunan jetty di muara;

4. Persiapan menghadapi banjir, seperti melakukan pembuatan peta banjir, sistem peringatan dini untuk banjir dan siaga terhadap terjadinya banjir.

Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) melakukan kompilasi 4 data banjir yang dimiliki yaitu, data dari Land System Bakosurtanal, hasil permodelan banjir dengan SOBEK dari Sea Defence Consultant, data kejadian banjir dari Balai Wilayah Sungai Sumatera I dan hasil survey banjir yang dilakukan oleh TDMRC. Hasil kompilasi semua data menghasilkan satu peta area genangan banjir (dengan klasifikasi) untuk Aceh Tamiang.

Untuk lebih jelasnya mengenai potensi Banjir di Kabupaten Aceh Tamiang dapat dilihat pada Gambar 1.12.

Gambar 1.12 : Peta Potensi Banjir

1.2.7.4. Angin Puting Beliung

Puting Beliung adalah angin kencang dan berbahaya yang bergerak melingkar hingga menyentuh permukaan bumi dan awan cumulonimbus atau, dalam sedikit kasus, awan cumulus. Puting Beliung datang dengan berbagai bentuk dan ukuran, tetapi secara tipikal berbentuk gumpalan corong yang ujungnya menyentuh permukaan bumi dan sering disertai dengan puing-puing dan debu. Kebanyakan Puting Beliung berkecepatan suatu kawasan sejauh beberapa beberapa kilometer dan akhirnya menghilang. Yang paling ekstrim dapat mencapai kecepatan di atas 480 km/jam, terbentang lebih dari 1,6 km dan menyentuh permukaan bumi lebih dari 100 km.

Klasifikasi angin puting beliung yang ada di Kecamatan Aceh Tamiang meliputi:

 Bahaya Rendah : Kecamatan Bandar Pusaka dan Tamiang Hulu.

 Bahaya Menengah : Kecamatan Bandar Pusaka dan Tamiang Hulu.

 Bahaya Tinggi : Kecamatan Bandar Pusaka dan Tamiang Hulu.

1.2.7.5. Kekeringan

Kekeringan adalah keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun). Biasanya kejadian ini muncul bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata.

Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan kekeringan karena cadangan air tanah akan habis akibat penguapan (evaporasi), transpirasi, ataupun penggunaan lain oleh manusia Kekeringan dapat menjadi bencana alam apabila mulai menyebabkan suatu wilayah kehilangan sumber pendapatan akibat gangguan pada pertanian dan ekosistem yang ditimbulkannya. Badan Klimatologi Indrapuri, Aceh Tamiang memberi peringatan dini memasuki kemarau pada bulan Juni 2010, agar masyarakat mewaspadai terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, daerah-daerah yang intensitas hujannya rendah antara 0 – 75 mm dan penguapan tinggi antara 3 – 7 mm yaitu Aceh Tamiang.

Kekeringan merupakan kurun waktu yang panjang dalam rentang bulan atau tahun, di mana suatu daerah mengalami kekurangan air. Pada umumnya, hal ini terjadi ketika daerah tersebut secara terus-menerus mengalami hujan di bawah rata-rata.

Hal ini bisa mengakibatkan dampak negatif terhadap ekosistem dan pertanian dari daerah yang terkena bencana kekeringan. Kekeringan bisa berlangsung selama beberapa tahun atau walaupun pendek, bencana kekeringan yang hebat bisa menyebabkan kerusakan yang signifikan dan merugikan ekonomi lokal. Fenomena global ini mempunyai dampak yang luas terhadap pertanian. Klasifikasi kekeringan yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang, meliputi:

 Rendah : Kecamatan Bandar Pusaka, Tamiang Hulu dan Tenggulun.

 Menengah : Kecamatan Bendahara, Karang Baru, Kejuruan Muda, Kota Kualasimpang, Rantau, Sekerak, Bandar Pusaka dan Manyak Payed.

Dokumen terkait