ACEH TAMIANG
3.2. SISTEM PUSAT-PUSAT KEGIATAN
Berbagai aspek perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pusat-pusat kegiatan di wilayah kabupaten mengingat pusat-pusat kegiatan merupakan simpul pelayanan sosial, budaya, ekonomi dan administrasi masyarakat. Pusat-pusat kegiatan yang dimaksud adalah Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), Pusat Kegiatan Lokal (PKL), Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) yang terdapat di wilayah kabupaten serta pusat kegiatan yang menjadi kewenangan kabupaten yaitu Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan Pusat Pelayanan Lokal (PPL).
Fungsi dan peran kawasan perkotaan di masing-masing ibukota kecamatan atau pusat-pusat pengembangan pada dasarnya sebagai berikut:
1. Fungsi tempat pasar (market-place function) bagi barang dan jasa konsumsi dan investasi. Selain itu juga sebagai tempat pemasaran dan pengolahan hasil pertanian.
2. Fungsi transaksi finansial berupa kemudahan kredit untuk investasi pada wilayah- wilayah pengembangan.
3. Fungsi penyediaan pelayanan pengembangan pertanian.
4. Fungsi pelayanan sosial, seperti pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, komunikasi, keamanan, ibadah, rekreasi, administratif, dan lain-lain.
Selanjutnya kelengkapan dalam penyediaan prasarana dan sarana baik sosial maupun ekonomi pada dasarnya bergantung pada hirarki kota yang bersangkutan.
Selain itu juga terdapat fungsi kota sebagai pusat administrasi pemerintahan yang mempunyai sifat pelayanan hirarkis menurut status administrasi (ibukota kabupaten, dan ibukota kecamatan).
Penentuan fungsi kota ini didasari oleh kelengkapan fasilitas pusat pelayanannya yang akan dikembangkan di tiap kota. Adapun fungsi yang lain didasari oleh alasan tertentu, yaitu:
Fungsi pusat pelayanan sosial dan ekonomi bagi wilayah belakang dari keberadaan kota tersebut sebagai pusat pengumpul atau simpul kegiatan perdagangan.
Fungsi pusat komunikasi dan hubungan dilihat dari keberadaan transportasi utama dan akses ke jaringan transportasi utama.
Jika fungsi-fungsi tersebut tidak berjalan, maka akan terjadi interaksi langsung antara wilayah pedesaan dengan pusat regional. Hal ini akan menimbulkan banyak ketidakefisienan,
seperti dalam ongkos transport, kapasitas dan pemenuhan kebutuhan pelayanan, dan lain- lain yang pada akhirnya akan menghambat perkembangan wilayah-wilayah yang jauh dari pusat itu sendiri.
Sistem perjenjangan struktur ruang menetapkan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sebagai hirarki tertinggi yang memberikan pelayanan pada pusat kegiatan yang berada pada hirarki dibawahnya, yaitu Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Begitu pula Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) memberikan pelayanan pada pusat kegiatan yang berada pada hirarki di bawahnya, yaitu Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Pusat-pusat di dalam struktur ruang wilayah kabupaten yang diharapkan mendorong terbentuknya pola pemanfaatan ruang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Struktur ruang kabupaten mengadopsi pusat-pusat kegiatan yang kewenangan penetapannya berada pada pemerintah pusat dan pemerintah provinsi (PKN, PKW, PKSN dan PKL) yang berada di wilayah kabupaten bersangkutan;
b. Menetapkan Pusat-pusat Pelayanan yang wewenangnya berada pada pemerintah kabupaten, yaitu :
Pusat Pelayanan Kawasan (PPK)
Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL)
c. Dapat mempromosikan suatu pusat permukiman di wilayah kabupaten untuk menjadi PKL di kemudian hari, di luar PKL yang sudah ditetapkan di dalam RTRW Provinsi
Penetapan Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan Pusat Pelayanan Lokal (PPL) merupakan kewenangan kabupaten sesuai dengan potensi sumber daya yang dimiliki oleh masing- masing kawasan.
Sistem pusat-pusat permukiman di Kabupaten Aceh Tamiang ditentukan dengan pembobotan luas kawasan, jumlah penduduk, kepadatan, fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan yang terdapat pada setiap kecamatan.
Hasil identifikasi dan pertimbangan kriteria-kriteria penentuan pusat-pusat kegiatan maka rencana sistem pusat kegiatan di Kabupaten Aceh Tamiang adalah:
(1) Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau beberapa kecamatan.
Sebagaimana disebutkan di atas penetapan PKL merupakan kewenangan Provinsi, sehingga berdasarkan RTRW Aceh ditetapkan PKL di Kabupaten Aceh Tamiang berupa PKL di Kota Kualasimpang-Kota Karang Baru.
Fungsi utama dari PKL Kota Kualasimpang adalah sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat jasa pendukung pariwisata, cagar budaya sedangkan PKL Kota Karang Baru adalah sebagai pusat pemerintahan kabupaten, perdagangan dan jasa, pelayanan sosial dan umum skala kabupaten. Kota Kualasimpang sebagai Ibukota Kecamatan Kota Kualasimpang dan Kota Karang Baru sebagai Pusat Ibukota Kabupaten Aceh Tamiang yang merupakan kawasan perkotaan menerus (contiguous).
(2) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK)
Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disebut PPK adalah kota kecamatan yang mempunyai potensi untuk berfungsi sebagai pusat jasa, pusat koleksi dan distribusi, dan simpul transportasi dengan skala pelayanan desa-desa dalam satu kecamatan yang merupakan kota kecil/ibukota kecamatan. PPK di Kabupaten Aceh Tamiang, meliputi:
a. Sungai Liput di Kecamatan Kejuruan Muda;
b. Pulo Tiga di Kecamatan Tamiang Hulu;
c. Tualang Cut di Kecamatan Manyak Payed;
d. Tangsi Lama di Kecamatan Seruway; dan e. Alur Cucur di Kecamatan Rantau.
(3) Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL)
Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disebut PPL adalah pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa/kampung. Kawasan yang memiliki kriteria sebagai PPL adalah pusat mukim yang berada di kawasan perdesaan.
Atas dasar tersebut PPL Kabupaten Aceh Tamiang sebagai berikut:
a. Sekerak Kanan di Kecamatan Sekerak;
b. Medang Ara di Kecamatan Karang Baru;
c. Sungai Iyu di Kecamatan Bendahara;
d. Telaga Meuku di Kecamatan Banda Mulia;
e. Simpang Kiri di Kecamatan Tenggulun; dan f. Babo di Kecamatan Bandar Pusaka.
(4) Pengembangan Sistem Pusat Kegiatan
a. Pengembangan Sistem Pusat Kegiatan sebagai perwujudan struktur ruang, meliputi:
1. Mengembangkan PKL sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat jasa pendukung pariwisata, cagar budaya serta sebagai pusat pemerintahan kabupaten, perdagangan dan jasa, pelayanan sosial dan umum skala kabupaten;
2. Mengembangkan PPK sebagai pusat kegiatan agroindustri, pengembangan perkebunan, perdagangan dan jasa, permukiman serta simpul transportasi;
3. Mengembangkan PPK dan PPL sebagai pusat pengembangan perkebunan, perdagangan dan jasa hasil perkebunan, pariwisata alam, pertambangan dan pengendalian perkembangan kawasan lindung;
4. Mengembangkan PPL sebagai pusat pengembangan agrowisata dan ilmu pengetahuan, peternakan, perkebunan dan permukiman;
5. Mengembangkan PPK dan PPL sebagai pusat kegiatan Agropolitan, pusat industri pengolahan dan jasa hasil pertanian tanaman pangan dan perikanan, pusat pendidikan serta perdagangan dan jasa;
6. Mengembangkan PPL sebagai pusat pengembangan perdagangan dan jasa, permukiman, pertanian dan perkebunan;
7. Mengembangkan PPK dan PPL sebagai pusat kegiatan Minapolitan, pusat industri pengolahan dan jasa hasil perikanan, perkebunan dan tanaman pangan, pariwisata bahari serta perdagangan dan jasa; dan
8. Mengembangkan PPK sebagai pusat permukiman, pertanian, perdagangan dan jasa dan pengolahan hasil pertambangan.
b. Mengembangkan PKL sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat jasa pendukung pariwisata, cagar budaya dilakukan di PKL Kota Kualasimpang serta sebagai pusat pemerintahan kabupaten, perdagangan dan jasa, pelayanan sosial dan umum skala kabupaten dilakukan di PKL Kota Karang Baru. Kota Kualasimpang sebagai Ibukota Kecamatan Kota Kualasimpang dan Kota Karang Baru sebagai Pusat Ibukota Kabupaten Aceh Tamiang yang merupakan kawasan perkotaan menerus (contiguous);
c. Mengembangkan PPK sebagai pusat kegiatan agroindustri, pengembangan perkebunan, perdagangan dan jasa, permukiman serta simpul transportasi dilakukan di PPK Sungai Liput;
d. Mengembangkan PPK dan PPL sebagai pusat pengembangan perkebunan, perdagangan dan jasa hasil perkebunan, pariwisata alam, pertambangan dan pengendalian perkembangan kawasan lindung di lakukan di PPK Pulo Tiga dan PPL Simpang Kiri;
e. Mengembangkan PPL sebagai pusat pengembangan agrowisata dan ilmu pengetahuan, peternakan, perkebunan dan permukiman dilakukan di PPL Babo dan PPL Sekerak Kanan;
f. Mengembangkan PPK dan PPL sebagai pusat kegiatan Agropolitan, pusat industri pengolahan dan jasa hasil pertanian tanaman pangan dan perikanan, pusat pendidikan serta perdagangan dan jasa dilakukan di PPK Tualang Cut dan PPL Telaga Meuku;
g. Mengembangkan PPL sebagai pusat pengembangan perdagangan dan jasa, permukiman, pertanian dan perkebunan dilakukan di PPL Medang Ara;
h. Mengembangkan PPK dan PPL sebagai pusat kegiatan Minapolitan, pusat industri pengolahan dan jasa hasil perikanan, perkebunan dan tanaman pangan, pariwisata bahari serta perdagangan dan jasa dilakukan di PPK Tangsi Lama dan PPL Sungai Iyu;
i. Mengembangkan PPK sebagai pusat permukiman, pertanian, perdagangan dan jasa dan pengolahan hasil pertambangan dilakukan di PPK Alur Cucur.
Gambar : 3.2. Rencana Sistem Pusat Kegiatan