• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu 2010 - 2030"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

1.1 LATAR BELAKANG

RTRW Kota Batu merupakan salah satu

dokumen tersebut menjadi acuan bagi setiap gerak

oleh pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat

Dinamika perkembangan wilayah Kota Batu Batu ke depan sebagai sentra pertanian, sentra

Wisata”. Kebutuhan akan ruang di wilayah Kota

yakni pengembangan perdagangan hasil pertanian

penambahan ragam obyek dan atraksi wisata d

penunjang wisata, serta meningkatkan kapabilitas

membentuk sekolah unggulan bertaraf nasional b

pada sektor pertanian, wisata dan pendidikan diar

Batu dalam bidang ilmu pengembangan pertanian paradigma baru dalam membuat arahan penataan r

Perubahan kualitas lingkungan khususnya d

kawasan lindung di Kota Batu, juga mendorong unt

arahan rencana tata ruang. Sebagian kawasan lind

dan sebagian lagi mengalami kerusakan yang men

umum mengakibatkan dampak lingkungan serius

berdampak ke wilayah diluar wilayah Kota Batu.

pembangunan yang berkelanjutan.

BAB I

Pendahu

u dokumen pembangunan yang strategis karena

ak dan langkah pembangunan, baik yang dilakukan

kat Kota Batu.

tu saat ini lebih mengarah pada perkembangan Kota ra wisata dengan ikon Kota Batu sebagai “Kota

a Batu untuk mendukung program pembangunan

n dan penguatan industri pertanian (agro-industry),

dengan didukung sarana, prasarana dan unsur

itas SDM Kota Batu melalui jalur pendidikan dan

l bahkan internasional. Pengembangan Kota Batu

iarahkan khususnya yang sesuai karakteristik Kota

ian, pariwisata dan kerajinan, sehingga menuntut n ruang sebagai panduan pembangunan Kota Batu.

degradasi kawasan yang telah ditetapkan sebagai

ntuk segera melakukan reorientasi dalam membuat

lindung yang dimaksud saat ini telah beralih fungsi

engkawatirkan. Kerusakan kawasan lindung secara

s di beberapa bagian wilayah Kota Batu, bahkan

. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan paradigma

BAB I

(2)

Dasar dan pertimbangan lain perlunya evaluasi dan revisi terhadap produk Rencana Tata

Ruang Wilayah Kota Batu Tahun 2003-2013 yang telah ada sebelumnyameliputi faktor eksternal dan

faktor internal, yakni :

A. Faktor Eksternal

Adanya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, didalam pasal-pasal

undang-undang tersebut memuat aturan-aturan yang tegas dan lebih ketat, sehingga

diperlukan produk perencanaan tata ruang yang lebih aplikatif sesuai dengan ketentuan yang

telah ditetapkan.

Adanya Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata

Ruang Wilayah Nasional, sehingga Keberadaan Kota Batu merupakan wilayah kotaperlu

disesuaikan peranannya sebagai PKN, PKW dan PKL

Adanya Peraturan Daerah Propinsi Nomor 2 Tahun 2006 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah

Propinsi Jawa Timur, sehingga keberadaan RTRW Kota Batu perlu adanya penyesuaian.

Perencanaan tata ruang Kota Batu di harapkan dapat memecahkan permasalahan isu global,

nasional dan regional, seperti; I su Lingkungan (Global Warming), I su Krisis Ekonomi Global, I su

Pengangguran dan Pengentasan Kemiskinan, I su Peningkatan I nvestasi, dan I su lainnya.

B. Faktor I nternal

Berdasarkan faktor internal, Produk RTRW lama belum bisa mengakomodasi

kebutuhan-kebutuhan pembangunan akibat dari:

Arah kebijakan pembangunan 5 tahun ke depan (yang telah dijabarkan dalam RPJM Daerah).

Keberadaan RTRW Kota Batu yang ada masih belum mampu mengakomodasikan

kebutuhan-kebutuhan dan program pembangunan secara optimal, sehingga diperlukan penyempurnaan pembangunan fasilitas skala besar, seperti rencana rest area, rencana obyek wisata baru,

rencana perumahan PNS, rencana fasilitas olah raga (Sport Centre), kawasan perkantoran dan

lain sebagainya.

Produk RTRW Kota Batu disusun pada tahun 2003, sehingga diperlukan upaya-upaya

penyesuaian melalui proses Evaluasi dan Revisi RTRW Kota Batu untuk kurun waktu tertentu ( 5 tahun).

Didalam hasil penyusunan Rencana Tata Ruang yang baru nantinya didasarkan pada

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,dimana jangka waktu RTRW

Kabupaten/ Kota adalah dua puluh (20) tahun dan ditinjau kembali satu (1) kali dalam lima (5) tahun

atau lebih dari satu (1) kali dalam lima (5) tahun sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

yang berlaku.

1.2 DASAR HUKUM PENYUSUNAN RTRW KOTA BATU

Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu mengacu pada peraturan dan

kebijaksanaan, antara lain :

1. Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok);

2. Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3274);

3. Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3317);

4. Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3419);

5. Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3469);

6. Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3470);

7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699);

8. Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1999 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3881);

9. Undang-undang Republik indonesia Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pembentukan Kota Batu (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2001 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4118);

10.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4377);

11.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4389);

12.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 84);

13.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4421);

14.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433);

(3)

16.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4444);

17.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4723);

18.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68);

19.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 69);

20.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4959);

21.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4966);

22.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2009 Nomor 96; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025);

23.Undang-Undang Republik I ndonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140; Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 5059);

24.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2009 Nomor 149; Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 5068);

25.Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 3294);

26.Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3373);

27.Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1996 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3643);

28.Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata cara Peranserta masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik I ndonesia tahun 1996, Nomor 104);

29.Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5098);

30.Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan suaka alam (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3776);

31.Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3838);

32.Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3934);

33.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3980);

34.Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2002 Nomor 119);

35.Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2003 Tentang Perum Kehutanan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 67);

36.Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 147);

37.Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 Tentang Penyediaan Dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2005 Nomor 2);

38.Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2005 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4490);

39.Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 20 tahun 2006 Tentang I rigasi (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2006 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4624);

40.Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 26 Tahun 2006 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 Tentang Penyediaan Dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2006 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4628);

41.Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4655);

42.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2007 Nomor 82);

43.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4828);

44.Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4833);

45.Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 43 tahun 2008 tentang Air Tanah (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2008 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4859);

46.Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan I ndustri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987);

(4)

48.Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban Dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 5098);

49.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2010 Nomor 21; Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 5103);

50.Peraturan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 30; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5112);

51.Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum; 52.Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;

53.Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2005, perubahan atas Perpres Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum;

54.Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional; 55.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 63 Tahun 1993 tentang Garis Sempadan dan Sungai,

Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai;

56.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah;

57.Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999 tentang I zin Lokasi;

58.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 01 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan;

59.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor;

60.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Daerah;

61.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang Pedoman Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kota, beserta Rencana Rincinya;

62.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota;

63.Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 11 Tahun 1991 tentang Penetapan Kawasan Lindung di Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur;

64.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Hutan Raya R. Soeryo;

65.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Hutan di Jawa Timur;

66.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2005 tentang Penertiban dan Pengendalian Hutan Produksi di Provinsi Jawa Timur;

67.Peraturan Menteri Pertanian Nomor 41 Tahun 2009 tentang Kriteria Teknis Kawasan Peruntukan Pertanian;

68.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan;

69.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 41 Tahun 2007 tentang Pedoman KKriteria Teknis Kawasan Budi Daya;

70.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan;

71.Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 tahun 2011 tentang Pedoman teknis Pertanahan;

72.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Timur;

73.Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 61 tahun 2006 tentang Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Pengendalian Ketat Skala Regional Di Provinsi Jawa Timur;

74.Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 3 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu tahun 2003-2013;

1.3 AZAS, MAKSUD DAN SASARAN PENYUSUNAN RTRW KOTA BATU

1.3.1. AZAS

a. Menyajikan data – data lapangan yang dapat memberikan gambaran kondisi real perwujudan

ruang di lapangan yang mempengaruhi pelaksanaan pengembangan tata ruang wilayah Kota

Batu.

b. Mengkaji setiap aspek pembangunan melalui kegiatan analisis data lapangan yang

mempengaruhi proses perencanaan dan pengembangan wilayah Kota Batu.

c. Merumuskan konsep, strategi dan arahan pengembangan wilayah Kota Batu hingga 20 tahun

kedepan sebagai bahan dasar dalam merumuskan rancangan rencana kawasan.

1.3.3. SASARAN

Sasaran penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu adalah sebagai berikut :

(5)

b) tersusun rencana tata ruang wilayah dan program-program pembangunan yang sesuai dengan

dinamika perkembangan wilayah dan kebijakan rencana tata ruang wilayah Nasional dan Propinsi

Jawa Timur, serta paradigma baru penataan ruang wilayah.

c) terkendalinya pembangunan di wilayah kota; dan

d) terciptanya keserasian antara kawasan lindung dan kawasan budidaya. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu menjadi pedoman untuk :

a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang Kota Batu

b. Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah Kota Batu

c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Kota Batu

d. Perwujudan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan perkembangan perkembangan antar

bagian wilayah kota serta keserasian antarsektor

e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi

f. Penataan ruang kawasan strategis Kota Batu

1.4 PROFI L WI LAYAH KOTA

1.4.1. GAMBARANUMUM KOTA

Lingkup Wilayah penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu meliputi

seluruh wilayah administratif Kota Batu. Wilayah perencanaan secara administratif terdiri dari 3 (tiga)

kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Batu

2. Kecamatan Junrejo

3. Kecamatan Bumiaji

Luasan wilayah Kota Batu adalah 19.908,7Ha.Batas Wilayah Kota Batu sebagai berikut:

 Sebelah Utara : Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan

 Sebelah Selatan : Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

 Sebelah Barat : Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang

 Sebelah Timur : Kecamatan Karangploso dan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Berikut PetaOrientasi1.1danPetaBatas Administrasi 1.2.

Secara umum wilayah Kota Batu merupakan daerah perbukitan dan pegunungan. Diantara

gunung-gunung yang ada di Kota Batu, ada tiga gunung yang telah diakui secara nasional, yaitu

Gunung Panderman (2.010 meter), Gunung Welirang (3.156 meter), dan Gunung Arjuno (3.339 meter). Sedangkan kemiringan lahan (slope) di Kota Batu berdasarkan data dari peta kontur

Bakosurtanal 2001 diketahui bahwa, sebagian besar wilayah perencanaan Kota Batu mempunyai

kemiringan lahan sebesar 25 – 40% dan kemiringan > 40.

Berdasarkan ketinggiannya, Kota Batu diklasifikasikan kedalam 6 (enam) kelas, yaitu:

a. 600 – 1.00 0 DPL dengan luas 6.01 9,21 Ha

Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah:

1. Kecamatan Batu (terutama Desa Sidomulyo secara keseluruhan, sebagian besar Kelurahan

Temas, Kelurahan Sisir, Kelurahan Ngaglik dan Desa Sumberejo serta sebagian kecil Desa Oro-oro Ombo, Desa Pesanggrahan dan Kelurahan Songgokerto.

2. Kecamatan Junrejo (terutama Desa Junrejo, Torongrejo, Pendem, Beji, Mojorejo, Dadaprejo

dan sebagian Desa Tlekung)

3. Kecamatan Bumiaji (terutama pada sebagian kecil desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan

Bumiaji)

b. 1.000 – 1 .500 DPL dengan luas 6.493,64 Ha

Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah: sebagian besar desa-desa yang ada di

Kecamatan Bumiaji dan sebagian dari desa-desa yang ada di Kecamatan Batu (terutama wilayah Kelurahan Songgokerto, Desa Oro-oro Ombo dan Desa Pesanggrahan) serta di sebagian kecil

Desa Tlekung yang berada di wilayah Kecamatan Junrejo.

c. 1.500 – 2 .000 DPL dengan luas 4.820,40 Ha

Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah: sebagian kecil Desa Tlekung Kecamatan

Junrejo. Selain itu juga terdapat di sebagian kecil Desa Oro-oro Ombo dan Desa Pesanggrahan,

terutama di sekitar kawasan Gunung Panderman, Gunung Bokong serta Gunung Punuksari.

Sedangkan di wilayah Kecamatan Bumiaji, seluruh bagian desa mempunyai ketinggian ini,

terutama kawasan-kawasan di sekitar Gunung Rawung, Gunung Tunggangan, Gunung

Pusungkutuk.

d. 2.000 – 2 .500 DPL dengan luas 1.789,81 Ha

Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini relatif sedikit, yaitu di sekitar Gunung Srandil serta

diujung Desa Oro-oro Ombo Kecamatan Batu yang berbatasan dengan Kecamatan Wagir. Untuk

Kecamatan Bumiaji, ketinggian ini berada di sekitar Gunung Anjasmoro dan pada sebagian kecil

di wilayah Desa Giripurno, Desa Bumiaji, Desa sumbergondo dan Desa Torongrejo.

e. 2.500 – 3 .000 DPL dengan luas 707,32 Ha

Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah sebagian kecil desa-desa yang berada di

wilayah Kecamatan Bumiaji, terutama pada wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Kecamatan Prigen.

f. > 3.000 DPL dengan luas 78 ,29 Ha

Wilayah yang termasuk dalam ketinggian ini adalah pada beberapa desa di Kecamatan Bumiaji,

khususnya di sekitar Gunung Arjuno (Desa sumbergondo), Gunung Kembar dan Gunung Wlirang

(6)

Sedangkan kemiringan lahan (slope) di Kota Batu berdasarkan data dari peta kontur

Bakosurtanal 2001 diketahui bahwa, sebagian besar wilayah perencanaan Kota Batu mempunyai

kemiringan lahan sebesar 25 – 40% dan kemiringan > 40. Rincian mengenai kemiringan ini adalah :

 0 – 8 % seluas 2.207,21 Ha.

 8 – 15 % seluas 2.223,73 Ha.

 15-25 % seluas 1.799,37 Ha.

 25 – 40 % seluas 4.529,85 Ha.

(7)
(8)
(9)
(10)

Dilihat dari formasi geologi diatas menunjukan bahwa Kota Batu merupakan wilayah yang

subur untuk pertanian karena jenis tanahnya merupakan endapan dari sederetan gunung yang

mengelilingi Kota Batu, sehingga di Kota Batu mata pencaharian penduduk didominasi oleh sektor

pertanian. Kota Batu secara geologis tersusun atas endapan gunung api yang aktif pada masa

lampau. Endapan hasil aktifitas gunung api ini sering disebut endapan Epiklastik dan Tiroklastika. Kota Batu merupakan daerah pegunungan dengan hawa dingin dengan suhu udara 21,3oC

dan 34,2 oC. Adapun Kota Batu memiliki 2 iklim yaitu musim hujan dan musim kemarau.

Kondisi hidrologi Kota Batu banyak di pengaruhi oleh sungai-sungai yang mengalir di bagian

pusat kota, sehingga akan berpengaruh juga terhadap perkembangan kota. Hidrologi di Kota Batu

dibedakan menjadi 3 (tiga ) jenis yaitu air permukaan, air tanah dan sumber mata air.Sampai saat

ini di wilayah Kota Batu telah diinventarisasi sebanyak 83 sumber mata air yang produktif dan

selama ini telah digunakan oleh PDAM Unit Batu, PDAM Kabupaten Malang, PDAM Kota Malang

maupun digunakan oleh swasta dan masyarakat untuk berbagai keperluan.

A. Sistem Pusat Permukiman

Pemukiman di wilayah Kota Batu terdiri atas 2 jenis yaitu jenis permukiman/ perumahan alami

dan permukiman estate. Bangunan permukiman tersebut hampir semuanya merupakan bangunan

permanen dengan kondisi bangunan yang beragam. Kawasan perumahan/ permukiman penduduk

umumnya tersebar merata disetiap wilayah yang ada Kota Batu dengan pola linier. Kepadatan paling

tinggi berada di Kecamatan Batu yaitu di Kelurahan Pesanggrahan tepatnya di sekitar Jalan Panglima

Sudirman, Jalan Hasanudin, Jalan Samadi, Jalan Cempaka. Untuk lebih jelasnya mengenai

permukiman tersebut adalah :

a. Permukiman Kampung

Permukiman kampung di Kota Batu tersebar di sepanjang poros jalan utama di wilayah

perencanaan. Kondisi perkampungan beberapa diantaranya telah tertata dan beberapa

diantaranya belum tertata dengan baik. Pada umumnya tidak tertatanya perkampungan

dilihat dari kondisi lingkungan dan ketersediaan fasilitas.

b. Permukiman Estate

Pada wilayah Kota Batu, perkembangan permukiman cukup pesat terutama permukiman

yang dikembangkan oleh developer. Permukiman jenis ini termasuk di dalam permukiman perkotaan. Berikut permukiman estat yang terdapat di Kota Batu :

Green Apple Regency berlokasi di Kecamatan Junrejo dengan luas lahan 0,391 Ha

Perum Pondok Batu I ndah berlokasi di Kecamatan Junrejo dengan luas lahan 1,468

Ha

Villa Bukit Mas berlokasi di Kecamatan Junrejo dengan luas lahan 1,679 Ha

c. Permukiman Wisata ( Villa)

Sedangkan untuk kawasan permukiman berupa villa lebih banyak tersebar di beberapa

tempat antara lain disekitar Jalan Mawar, Jalan Trunojoyo, Jalan Flamboyan dan daerah

sekitar Songgoriti.

Gambar 1.1

Persebaran Permukiman EstatE di Kota Batu

 Permukiman agropolitan baik yang memiliki bentuk kompak ataupun menyebar umumnya

memiliki pusat pengembangan masing-masing yang sangat potensial mendorong

perkembangan kawasan perdesaan yang ada, serta terdapat banyak perdesaan yang mampu

mendorong perkembangan perdesaan dalam skala yang lebih luas;

B. Fasilitas Pendidikan

Untuk fasilitas pendidikan di Kota Batu pada tahun 2010 meliputi Taman Kanak-kanak (TK)

sejumlah 84 unit, Sekolah Dasar (SD) sejumlah 72 unit, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sejumlah 26 unit , Sekolah Menengah Umum (SMU) sejumlah 9 unit, Sekolah Menengah

Vila Panderman Villa Klub Bunga

(11)

Kejuruan (SMK) 10 unit, Madrasah I btidaiyah (MI ) sejumlah 11 unit, Madrasah Tsanawiyah (MTs)

sejumlah 3 unit dan Madrasah Aliyah (MA) sejumlah 2 unit.

Tabel 1.1

Fasilitas Pendidikan di Kota Batu Tahun 2 01 0

No. Kecamatan

Jumlah Fasilitas ( Unit )

TK SD SLTP SMU SMK MI MTs MA

N S N S N S N S

1 Batu 40 26 6 2 13 1 6 1 6 7 1 2 2 Junrejo 19 16 - 1 4 1 - 1 1 2 1 1 3 Bumiaji 25 23 1 4 2 - 1 1 - 2 1 -

Jumlah 84 65 7 7 19 2 7 3 7 11 3 3

Sumber : Kota Batu Dalam Angka, 2009

a. Fasilitas Peribadatan

Fasilitas peribadatan yang ada di kota Batu berupa masjid sejumlah 138 unit, langgar/ musholla sejumlah 397 unit, Gereja sejumlah 14 unit, Wihara sejumlah 5 unit dan Pura sejumlah 1 unit

yang cenderung menyebar di setiap kecamatan. Sebagian besar penduduk Kota Batu beragama

I slam, hal ini bisa dilihat dari penyebaran jumlah fasilitas peribadatan yang mendominasi adalah

masjid dan langgar/ musholla. fasilitas peribatan dapat dilihat pada tabel 1.2

Tabel 1.2

Fasilitas Peribadatan di Kota BatuTahun 201 0

No. Kecamatan

Jumlah Fasilitas ( Unit )

Masjid Langgar/

Musholla Gereja Vihara Pura

1 Batu 50 175 10 4 -

2 Junrejo 50 79 2 1 -

3 Bumiaji 38 143 2 - 1

Jumlah 138 397 14 5 1

Sumber : Kota Batu Dalam Angka, 2009

b. Fasilitas Kesehatan

Pusat pelayanan kesehatan di Kota Batu dilayani oleh rumah sakit umum sejumlah 5 unit,

Puskesmas sejumlah 4 unit, puskesmas pembantu sejumlah 4 unit, posyandu sejumlah 186 unit,

rumah bersalin sejumlah 3 unit dan apotik sejumlah 10 unit yang lokasinya tersebar di seluruh

kecamatan.

Tabel 1.3

Fasilitas Kesehatan di Kota BatuTahun 201 0

No. Kecamatan

Jumlah Fasilitas ( Unit) Rumah

Sakit

Puskes mas

Puskesmas

Pembantu Posyandu

Rumah

Bersalin Apotik

1 Batu 4 1 - 89 3 8

2 Junrejo 1 2 - 46 - 1

No. Kecamatan Jumlah Fasilitas ( Unit)

3 Bumiaji - 1 4 51 - 1

Jumlah 5 4 4 186 3 10

Sumber : Kota Batu Dalam Angka, 2009

Gambar 1.2

Persebaran Fasilitas Kesehatan di Kota Batu

R.S. William Booth Surabaya Bidan Widiyani

PuskesmasPembantu Kec.Bumiaji

R.S.Haji Kec.Batu R.S.Baptis Batu

(12)

c. Fasilitas Perdagangan dan Jasa

Skala perdagangan di Kota Batu meliputi perdagangan skala kecil, menengah dan besar yang tersebar merata di seluruh kecamatan. Sedangkan menurut jenisnya meliputi supermarket/

swalayan sejumlah 26 unit, pertokoan sejumlah 2353 unit, ruko sejumlah 350 unit, restauran/

rumah makan sejumlah 45 unit, kios dan warung sejumlah 1231 unit. Adapun untuk persebaran

perdagangan tertinggi menurut skala berada di Kecamatan Batu meliputi 7 unit perdagangan

kecil, 17 unit perdagangan menengah dan 73 unit perdagangan besar. Begitu pula untuk jenis

perdagangan tertinggi juga berada di Kecamatan Batu sejumlah 3736 unit.

Tabel 1.4

Jumlah Fasilitas Perdagangan di Kota Batu Tahun 2010

No Nama Jumlah

Kec. Batu Kec. Bumiaji Kec. Junrejo

1 Supermarket/ Swalayan 20 3 3

2 Pertokoan 2226 73 54

3 Ruko

4 Restaurant/ RumahMakan 31 4 10

3 Ruko 303 41 6

4 Restauran/ Rumah

Makan 31 4 10

5 Kios - - -

6 Warung 1156 57 18

Jumlah 3736 178 91

Sumber : Disperindag, 2009

C. Fasilitas perkantoran

Kota Batu pada umumnya masih memiliki kawasan perkantoran yang menyebar di setiap wilayah. Hal ini di sebabkan karena masih banyak kantor pemerintah maupun swasta yang belum

terpusat. Untuk kawasan perkantoran cenderung memusat di Kecamatan Batu dengan jenis

perkantoran antara lain yaitu kantor Walikota dan kantor pos berada di jalan P.Sudirman, kantor

Kecamatan Batu, kantor Pengendalian dampak lingkungan, Kantor Dinas Cipta Karya dan Tata

Ruang, Dinas Pariwisata dan Koramil, Kantor Lingkungan Hidup, kantor Pertanian, berada sekitar

di jalan Dinas Perhubungan berada di jalan Dewi Sartika, Kantor POLRES Batu berada di Junrejo.

Potensi persebaran fasilitas perkantoran dapat dilihat pada gambar 1.3

Gambar 1.3

Persebaran Fasilitas Perkantoran Di Kota Batu

Kantor Permukiman Purnawiraw an AU

Kantor Bappeda di Sidomulyo Kantor Pos dan Kantor Walikota di Jl P. Sudirman

Kantor Kecamatan Batu, kantor

Dispendukcapil, Kantor Pengairan Bina Marga, Dinas Pariw isata dan Koramil, kantor

Bakesbang Linmas berada di Jl. Ridw an, kantor Dinas Perhubungan berada di jl.Dew i Sartika

Kantor Bakesbanglinmas Kantor PEPABRI

Kantor DI SPENDUK CAPI L Kantor

Kejaksaan

Kantor CamatBatu

(13)

D. Kaw asan Pertahanan dan Keamanan

Kota Batu juga memiliki kawasan strategis yakni adanya kawasan militer Arhanud di Desa

Pendem, Kecamatan Junrejo. Di sekitar kawasan ini ada juga kawasan perumahan militer dan

Kantor Lanud sehingga harus diamankan dari penggunaan lahan yang memiliki intensitas

kegiatan yang tinggi sehingga tidak menimbulkan masalah pada kawasan tersebut.Potensi persebaran kawasan militer dapat dilihat pada gambar 1.4

Gambar 1.4

Kaw asan Militer di Kota Batu

E. Sektor informal/ Pedagang kaki lima

Keberadaan pedagang kaki lima di Kota Batu tersebar di lokasi antara lain Jl.Bukit Berbunga,

Desa Sidomulyo Kecamatan Batu berupa tanaman hias, Jl.Kartini berupa buah – buahan dan

Jl.Sudiro berupa pedagang makanan dan minuman Kelurahan Ngaglik Kecamatan Batu.

1.4.2. KEPENDUDUKAN DAN SUMBER DAYA MANUSI A

Jumlah penduduk Kota Batu pada tahun 2010 sebesar 206.980 jiwa yang tersebar di 3

kecamatan. Persebaran penduduk relatif memusat di Kecamatan Batu yaitu sebesar 97.881 jiwa

dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 49.373 jiwa dan perempuan sebesar 48.508 jiwa,

sedangkan untuk jumlah persebaran penduduk terkecil berada di Kecamatan Junrejo sebesar 50.447 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 25.447 jiwa dan penduduk perempuan sebesar

25.000 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.5 berikut;

Tabel 1.5

Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin Per Kecamatan di Kota Batu Tahun 200 9

No. Kecamatan Luas Wilayah(Km2)

Jumlah Penduduk

Jumlah Penduduk ( Jiw a) Kepadatan ( jiw a/ Km2) Laki-laki Perempuan

1 Batu 45,46 97.881 49.373 48.508 2.153

2 Junrejo 25,65 50.447 25.447 25.000 1.967

3 Bumiaji 127,98 58.652 29.559 29.053 458

Jumlah 199,087 206.980 104.419 102.561 1.040

Sumber : BPS Kota Batu, 2009

Untuk pertumbuhan penduduk di Kota Batu selama 5 tahun terakhir mengalami kenaikan

setiap tahunnya, dimana rata-rata kenaikan pertumbuhan penduduk dari tahun 2005 hingga tahun

2009 sebesar 0,04% . Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah penduduk di wilayah perencanaan

selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada grafik pertumbuhannya pada gambar1.5

Gambar 1.5

Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Batu Tahun 2005- 2009

Sumber : BPS Kota Batu, 2009 160000

170000 180000 190000 200000 210000

(14)
(15)

Jumlah penduduk Kota Batu dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga

berpengaruh terhadap kepadatan penduduk di setiap wilayah kecamatan. Berdasarkan data tahun

2007 menunjukkan tingkat kepadatan penduduk di Kota Batu sebesar 870 jiwa/ Km2, dimana

Kecamatan Batu memiliki tingkat kepadatan paling tinggi dibandingkan kecamatan lainnya yaitu

sebesar 1.783 jiwa/ Km² dengan luas wilayah sebesar 45,46 Km² , sedangkan tingkat kepadatan paling rendah sebesar 401 jiwa/ Km² berada di Kecamatan Bumiaji.

Mata pencaharian penduduk di Kota Batu terdiri atas pertanian, pertambangan, industri,

listrik, gas & air, konstruksi, perdagangan, komunikasi, keuangan, jasa, dan lainnya. Jumlah

penduduk menurut jenis mata pencaharian di Kota Batu didominasi oleh sektor jasa dan lainnya

serta sektor pertanian, dimana masing-masing sektor menyerap tenaga kerja sebanyak 75.104 jiwa

untuk sektor jasa dan lain atau sebanyak 51,07% dari total jumlah keseluruhan penduduk menurut

mata pencaharian di Kota Batu, sedangkan sebanyak 34.546 jiwa untuk sektor pertanian atau

sebanyak 23,49% .

Gambar 1.6

Proporsi Jumlah Penduduk Menurut Mata PencaharianDi Kota Batu Tahun 2009

Sumber : BPS Kota Batu, 2009

Berdasarkan kondisi eksisting yang ada di Kota Batu ini pola sebaran penduduk di dalam

bermukim cenderung menyebar mengikuti pola jaringan jalan ada di setiap wilayah Kota Batu, akan

tetapi sebaran paling tinggi berada di Kecamatan Batu yaitu terutama di Kelurahan Sisir.

1.4.3. BENCANAALAM

Kawasan rawan bencana tanah longsor adalah kawasan dengan kerentanan tinggi untuk

terkena bencana tanah longsor, terutama jika kegiatan manusia menimbulkan gangguan pada lereng

kawasan ini. Kawasan ini menempati puncak-puncak dan tubuh lajur gunung api tengah. Kondisi

lereng yang terjal, lapisan tanah yang tebal, daya kohesinya kecil (tidak kompak), kejenuhan air

tinggi (adanya mata air), dan lajur patahan (sesar) menjadikan kawasan ini rawan longsor, yang

dipercepat oleh kegiatan manusia yang tidak memperhatikan lingkungan. Kawasan rawan longsor di

Batu terdapat di Kecamatan Bumiaji. Wilayah kecamatan Bumiaji mempunyai kelerengan diatas

40% .

Gambar 1.7

BencanaAlam Dan KerusakanLingkungan

1.4.4. POTENSISUMBERDAYAALAM

Kaw asan Hutan Lindung

Kawasan hutan lindung berfungsi memberikan perlindungan bagi kawasan sekitarnya dan

bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah erosi dan banjir yang mutlak fungsinya

sebagai penyangga kehidupan dan tidak dapat dialihkan peruntukkannya. Luas kawasan

hutan lindung di Kota Batu adalah sebesar 5197,40 Ha ( termasuk sempadan sungai dan

SUTT seluas 1.634,10 Ha) menyebar di seluruh kecamatan, kecamatan yang memiliki hutan lindung terluas adalah kecamatan Bumiaji yaitu 3674,40 Ha, selanjutnya Kecamatan Junrejo

sebesar 810,20 Ha dan yang terakhir Kecamatan Batu sebesar 622,80 Ha. Potensi persebaran

kawasan hutan lindung dapat dilihat pada table 1.6

20,69%

0,89%

5,56%

0,22%

4,19% 19,93%

1,81% 1,20%

7,88%

1,10%

Pert anian

Pert ambangan & Penggalian

Industri Pengolahan

List rik, Gas & Air Bersih

Konst ruksi

Perdagangan

Komunikasi

Keuangan

Jasa

(16)
(17)

Tabel 1.6

Luas Hutan Lindung di Kota Batu Tahun 2009

No Kecamatan Desa/ Kelurahan Luas Lahan Hutan Lindung ( Ha) pemandangan alam yang indah pada kawasan tersebut terdapat juga tempat pemandian

sumber air panas, Arboretum Cangar yaitu tempat koleksi tanaman langka, Arboretum

Sumber Brantas, Gua-gua Jepang, Petapaan Abiyoso, Padang Rumput Lalijiwo, Pondok

Welirang, Puncak Welirang dan Petapaan I ndrokilo. Beberapa kegiatan wisata alam yang

dapat dilakukan diantaranya : lintas alam, menikmati pemandangan alam pegunungan,

berkemah, mandi air panas dan lain-lain.

Taman Wisata Alam

Batu memiliki banyak objek wisata alam yang menarik. Diantaranya Taman Wisata Selekta.

Objek wisata andalan Batu yang menyediakan arena bermain, berenang, sepeda air dan

ekowisata berupa hutan pinus.Sebagai daerah penghasil utama apel, Batu juga memiliki

tempat agrowisata di Kusuma Agrowisata. Selain itu bisa dinikmati hawa dingin pegunungan di berbagai objek wisata yang tersebar di daerah pinggiran Kota Batu. Sebut saja Pemandian

Air Panas Songgoriti, Pemandian Air Panas Cangar, Air Terjun Coban Rondo, Coban Rais,

Coban Talun, serta Coban Banteng. Ada pula objek wisata sejarah seperti Candi Renggo,

Patung Ganesha, dan Junggo. Untuk kegiatan ekstrim, Gunung Panderman, G.Banyak, dan

G.Arjuno, serta gua di Cangar dan Tlekung menawarkan keekstremannya masing-masing

melalui kegiatan mountain hiking, serta olahraga Paralayang.

1.4.5. POTENSIEKONOMI WI LAYAH

Perkembangan nilai PDRB di Kota Batu pada tahun 2009 didasarkan pada harga yang

berlaku, dimana perkembangannya berdasarkan sektor/ sub sektor yang memberikan kontribusi

terhadap PDRB meliputi sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,

gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi,

keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa.

Gambar 1.8

Grafik Distribusi Sektoral terhadap PDRB Kota Batu Tahun 2009

(18)
(19)

Berdasarkan gambar diatas maka dapat dilihat jika sektor perdagangan, hotel dan restoran

memberikan kontribusi terbesar yaitu sebanyak 20,34% dari total keseluruhan nilai PDRB Kota Batu.

Sedangkan sektor terkecil kontribusinya adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar

0,21% .

Berdasarkan pembahasan mengenai PDRB di atas. Kegiatan-kegiatan perekonomian yang menonjol dan memberi dampak cukup besar terhadap struktur pemanfaatan ruang wilayah Kota

Batu adalah sektor-sektor yang dijabarkan berikut ini:

 Sektor PertanianTamanamPangan

Sektor pertanian yang ada di Kota Batu merupakan salah sektor yang mempunyai peranan besar

terhadap peningkatan perekonomian. Hasil produksi dari sektor pertanian yang ada di Kabupaten

Batu antara lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah. Adapun hasil produksi terbesar

yaitu padi dengan hasil produksi sebesar 5.958,46Ton, sedangkan hasil produksi terkecil yaitu

kacang tanah sebesar 104,49 Ton. Selain produksi tanaman pangan padi dan palawija, Kota Batu juga berpotensi besar sebagai daerah penghasil tanaman hias yang dominan berada di Kecamatan

Bumiaji.

 Sektor PertanianHortikultura

Sektor perkebunan yang ada di Kota Batu merupakan salah sektor yang mempunyai peranan

besar terhadap peningkatan perekonomian. Hasil produksi dari sektor perkebunan yang ada di Kota

Batu antara lain buah alpukat, buah jeruk siam/ keprok, buah pisang dan buah apel. Adapun hasil

produksi terbesar yaitu buah apel sebesar 712.558 Kwintal dengan daerah penghasil terbesar berada

di Kecamatan Bumiaji, hal ini dikarenakan kondisi topografi serta klimatologi di Kota Batu sangat

cocok untuk pengembangan tanaman holtikultura terutama buah apel. Sedangkan hasil produksi terkecil yaitu buah pisang sebesar 8.108 Kwintal dengan persebaran terbesar di Kecamatan Batu.

 Sektor Peternakan

Sektor peternakan yang ada di Kota Batu terdiri atas ternak besar yang meliputi sapi potong, sapi

perah, kerbau, dan kuda, ternak kecil yang meliputi kambing, domba, dan kelinci, serta unggas yang

meliputi ayam buras, ayam pedaging, ayam petelur dan itik. Produksi ternak terbesar berada di

Kecamatan Batu, jika ditinjau dari kondisi klimatologi maka Kota Batu sangat cocok untuk

pengembangan hewan ternak terutama sapi perah.

 Sektor Perikanan

Sektor perikanan di Kota Batu meliputi hasil komoditi ikan di karamba, ikan di kolam dan ikan

hias. Adapun berdasarkan jenis komoditinya ikan di karamba dan ikan di kolam meliputi jenis ikan

emas, ikan nila, ikan lele dan ikan patin dengan hasil produksi terbesar adalah jenis ikan mas

sebesar 1726 kg dan untuk jenis ikan hias meliputi ikan koi, komet, grass carp dan ikan koki dengan

hasil produksi terbesar adalah ikan koi sebesar 7.376 kg. Daerah penghasil produksi ikan yang

terbesar berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Batu yang jika ditinjau secara agroklimat dan

agroekosistem, Desa Sidomulyo sangat cocok sebagai pusat pengembangan budidaya air tawar

dengan kondisi air yang memenuhi syarat secara teknis.

1.5 I SU- I SU STRATEGI S

I su yang berkaitan dengan pengembangan ruang wilayah kota :

A. Pemanasan global (Global Warming)

Pemanasan global (Global Warming) yang terjadi saat ini menyebabkan perubahan iklim.

Perubahan iklim terjadi karena :

 Komposisi atmosfer terganggu terutama sebagai konsekuensi dari aktivitas manusia

 Populasi dunia terus meningkat, saat ini telah melampaui 6 milyar orang (6 kali lipat

selama abad ke-20) sehingga mengakibatkan peningkatan permintaan akan sumberdaya

alam, energi, pangan, dan barang-barang konsumsi. Proses tersebut akan menyumbang

sejumlah gas yang mengubah komposisi atmosfer dan kapasitasnya dalam mengatur

suhu.

Peningkatan pemanasan global disebabkan akumulasi gas-gas rumah kaca (greenhouse

gases) yaitu karbondioksida, methan, nitrogen oksida,dan lain-lain. Selain itu sumber gas

rumah kaca yang lain adalah bahan bakar fosil yangapabila terbakar akan melepaskan CO2

ke atmosfir sehinggaberpengaruh terhadap pemanasan dan perubahan iklim global.

Hutan dan perubahan iklim mempunyai hubungan yang unik. Di satusisi, perubahan iklim

global telah menekan hutan melalui peningkatansuhu rata-rata tahunan, mengganggu pola

curah hujan dan kondisicuaca yang ekstrim. Pada saat yang samahutan dan kayu

yangdihasilkan menangkap dan menyimpan karbondioksida (CO2)mempunyai peran penting dalam mitigasi perubahan iklim. Di sisi lainketika hutan dirusak karena terbakar, illegal

logging, perambahanhutan atau dipanen secara berlebihan maka hutan menjadi sumberdari

gas rumah kaca.

B. Krisis Ekonomi Global

Krisis ekonomi global yang berimbas pada kelangkaan likuiditas akan mempengaruhi

perekonomian karena itu investasi perlu terus didorong dan ditingkatkan guna mewujudkan

pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan serta dapat menyerap lebih banyak tenaga

kerja. Berkaitan dengan Pemilu TAHUN 2009 akan sangat dimengerti kecenderungan para investor untuk bersikap hati-hati dalam melakukan investasi atau ekspansi. Namun, data dari

BKPM menunjukkan cukup banyak proyek yang akan dilaksanakan pada tahun 2009. Untuk

investasi sektor riil (Foreign Direct I nvestment/ FDI ), saat ini yang menarik adalah bidang usaha

(20)

perlambatan ekonomi global, seperti sumber daya alam termasuk energi, infrastruktur,

telekomunikasi dan lainnya.

C. Pengangguran Dan Pengentasan Kemiskinan

Kemiskinan dalam pengertian konvensional pada umumnya (income) komunitas yang berada

dibawah satu garis kemiskinan tertentu. Masalah kemiskinan dan pengangguran di tanah air ini merupakan fenomena laten yang telah berlangsung cukup lama semenjak pemerintahan Orde

Lama hingga sekarang. Kenyataan ini menggambarkan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi

nasional selama ini masih sangat rendah. Selama kurun waktu lima tahun terakhir misalnya pada

setiap satu persen angka pertumbuhan ekonomi, jumlah lapangan kerja yang tercipta hanya

diperuntukkan bagi sekitar 250 ribu orang per tahun. Hal-hal yang patut diwaspadai terkait

dengan kemiskinan adalah :

 Angka gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada tahun-tahun terakhir:

seperempat anak dibawah usia lima tahun menderita gizi buruk di Indonesia, dengan angka gizi buruk tetap sama dalam tahun-tahunterakhir kendati telah terjadi penurunan angka

kemiskinan.

 Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara di kawasan yang

sama angka kematianibu di Indonesia adalah 307 (untuk 100.000 kelahiran hidup), tiga kali

lebih besar dari Vietnam dan enam kalilebih besar dari Cina dan Malaysia, hanya sekitar 72%

persalinan dibantu oleh bidan terlatih.

 Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke sekolah menengah

masih rendah khususnya di antara penduduk miskin, di antara kelompok umur 16-18 tahun

pada kuintil termiskin hanya 55% yang lulus SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya

adalah 89% untuk kohor yang sama.

 Rendahnya akses terhadap air bersih khususnya di antara penduduk miskin. Untuk jumlah

paling rendah hanya 48% yang memiliki akses air bersih di daerah pedesaan, sedangkan untuk perkotaan 78% .

 Akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting. Delapan puluh persen penduduk

miskin di pedesaan dan 59% penduduk miskin di perkotaan tidak memiliki akses terhadap

tangki septik, sementara itu hanyakurang dari satu persen dari seluruh penduduk I ndonesia

yang terlayani oleh saluran pembuangan kotoranberpipa.

1.6 VI SI MI SI PENATAAN RUANG

Visi penataan ruang di Kota Batu adalah “KOTA BATU SEBAGAI KOTA WI SATA DAN AGROPOLI TAN DI JAWA TI MUR”

Misi penataan ruang di Kota Batu, meliputi :

a) Mendayagunakan secara optimal dan terkendali sumber-sumber daya daerah, baik Sumber Daya

Manusia (SDM), Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Budaya (SDB) sebagai unsur-unsur internal untuk penopang upaya pengembangan K ota Batu ke depan.

b) Meningkatkan peran Kota Batu sebagai Kota Pertanian (Agropolitan), khususnya untuk jenis

tanaman sayur, buah dan bunga, serta menguatnya perdagangan hasil pertanian dan industri

pertanian (agro-industri) yang diperhitungkan baik pada tingkat regional (Jawa Timur) maupun

tingkat nasional guna memperkuat ekonomi kerakyatan yang berbasis pertanian.

c) Meningkatkan posisi dan peran Kota Batu dari "Kota Wisata" menjadi "Sentra Wisata" yang

diperhitungkan di tingkat regional atau bahkan nasional, dengan melakukan penambahan ragam

obyek dan atraksi wisata, yang didukung oleh oleh sarana dan prasarana serta unsur penunjang

wisata yang memadai dengan sebaran yang relatif merata di penjuru wilayah Kota Batu guna memperluas lapangan pekerjaan dalam rangka mengatasi pengangguran dan meningkatkan

pendapatan warga maupun PAD Kota Batu yang berbasis pariwisata.

d) Pengembangan sektor fisik berkenaan dengan perkantoran Pemerintah, fasilitas publik,

prasarana dan sarana transportasi, serta penataan ruang secara menyeluruh guna mendukung

pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan kualitas layanan publik.

Penataan ruang kota secara menyeluruh dengan mengedepankan keseimbangan ekosistem.

1.7 WAKTU PERENCANAAN

Kurun waktu implementasi perencanaan adalah selama 20 tahun, untuk kurun waktu tahun

2010 sampai dengan tahun 2030, dengan peninjauan kembali setiap 5 tahun sekali.

Tahap pertama : 2010-2015

Tahap Kedua : 2016-2020

Tahap Ketiga : 2021-2025

Tahap Keempat : 2026-2030

Peninjauan kembali RTRW Kota dapat dilakukan kurang dari 5 (lima) tahun jika:

(21)

2. terjadi dinamika internal yang mempengaruhi pemanfaatan ruang secara mendasar antara

lain berkaitan dengan bencana alam skala besar dan pemekaran wilayah yang ditetapkan

dengan peraturan perundang-undangan.

1.8 KETENTUAN UMUM

Pengertian yang berkaitan dengan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu yaitu: 1. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah

kota, yang berisi rencana operasional pembangunan wilayah kotasesuai dengan peran dan fungsi

wilayah kota yang telah ditetapkan dalam RTRW diatasnya yang akan menjadi landasan dalam

pelaksanaan pembangunan di wilayah kota.

2. Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota adalah tujuan yang ditetapkan pemerintah daerah kota

yang merupakan perwujudan visi dan misi pembangunan jangka panjang kota pada aspek

keruangan, yang pada dasarnya mendukung terwujudnya ruang wilayah nasional yang aman,

nyaman, produktif, clan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan

Nasional.

3. Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Kota adalah arahan pengembangan wilayah yang ditetapkan

oleh pemerintah daerah kota guna mencapai tujuan penataan ruang wiiayah kota dalam kurun

waktu 20 (dua puluh) tahun.

4. Strategi Penataan Ruang Wilayah Kota adalah penjabaran kebijakan penataan ruang ke dalam

langkah-langkah pencapaian tindakan yang lebih nyata yang menjadi dasar dalam penyusunan

rencana struktur dan pola ruang wilayah kota.

5. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota adalah rencana yang mencakup sistem perkotaan wilayah

kota dalam wilayah pelayanannya dan jaringan prasarana wilayah kota yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah kota selain untuk melayani kegiatan skala kota, meliputi sistem

jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringantelekomunikasi, dan

sistemjaringan sumber daya air.Rencana susunan pusat-pusat pelayanan kegiatan kota yang

ber-hirarki sampai 20 tahun mendatang yang satu sama lain dihubungkan oleh sistem jaringan

prasarana wilayah kota.

6. Pusat pelayanan kota adalah pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/ atau administrasi yang

melayani seluruh wilayah kota dan/ atau regional.

7. Subpusat pelayanan kota adalah pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/ atau administrasi yang melayani sub wilayah kota.

8. Pusat lingkungan adalah pusat pelayanan ekonomi, sosial dan/ atau administrasi yang

melayanilingkungan di wilayah kota.

9. Rencana pola ruang wilayah kota adalah rencana distribusi peruntukan ruang wilayah kota yang

meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung clan budidaya sampai dengan akhir masa

berlakunya RTRW kota yang dapat memberikan gambaran pemanfaatan ruang wilayah kota

hingga 20 (dua puluh) tahun mendatang.

10.Kawasan lindung kota adalah kawasan lindung yang secara ekologis merupakan satu ekosistem yang terletak pada wilayah kota, kawasan lindung yang memberikan pelindungan terhadap

kawasan bawahannya yang terletakdiwilayah kota, dan kawasan-kawasan lindung lain yang

menurut ketentuan peraturan perundang-undangan pengelolaannya merupakan kewenangan

pemerintah daerah kota.

11.Kawasan budidaya kota adalah kawasan di wilayah kota yang ditetapkan dengan fungsi utama

untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia,

dan sumber daya buatan.

12.Kawasan strategis kota adalah kawasan yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota terhadap ekonomi, sosial, budaya,

dan/ atau lingkungan, dan pendayagunaan sumberdaya alam dan teknologi tinggi.

13.Arahan pemanfaatan ruang wilayah kota adalah arahan untuk mewujudkan struktur ruang dan

pola ruang wilayah kota sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kota melalui penyusunan dan

pelaksanaan program beserta pembiayaannya, dalam suatu indikasi program utama jangka

menengah lima tahunan kota yang berisi usulan program utama, sumber pendanaan, instansi

pelaksana, dan waktu pelaksanaan.

14.lndikasi program utama jangka menengah lima tahunan adalah petunjuk yang memuat usulan

program utama, perkiraan pendanaan beserta sumbernya, instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan, dalam rangka mewujudkan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata

ruang.

15.Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota adalah ketentuan-ketentuan yang

dibuat/ disusun dalam upaya mengendalikan pemanfaatan ruang wilayah kota agar sesuai dengan

RTRW kota yang dirupakan dalam bentuk ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan

perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi wilayah kota.

16.Ketentuan umum peraturan zonasi sistem kota adalah ketentuan umum yang mengatur

pemanfaatan ruang dan unsur-unsur pengendalian pemanfaatan ruang yang disusun untuk setiap klasifikasi peruntukan/ fungsi ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kota.

17.Ketentuan perizinan adalah ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah kota

sesuai kewenangannya yang harus dipenuhi oleh setiap pihak sebelum pemanfaatan ruang, yang

digunakan sebagai alat dalam melaksanakan pembangunan keruangan yang tertib sesuai dengan

(22)

18.Ketentuan insentif dan disinsentif adalah perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan

terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang dan juga perangkat

untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan

rencana tata ruang.

19.Arahan sanksi adalah arahan untuk memberikan sanksi bagi siapa saja yang melakukan pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku.

20.Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah yang selanjutnya disingkat BKPRD adalah Badan yang

bersifat ad-hoc di Provinsi dan di Kabupaten/ Kota dan mempunyai fungsi membantu pelaksanaan

tugas Gubernur dan Bupati/ Walikota dalam koordinasi penataan ruang di daerah.

1.9 SI STEMATI KA PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan Laporan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu, sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini meguraikan tentang dasar hukum penyusunan RTRW kabupaten, profil wilayah

kotameliputigambaran umum kota yang dilengkapi dengan peta orientasi dan pembagian

wilayah kota; kependudukan dan sumber daya manusia; potensi bencana alam; potensi

sumber daya alam; danpotensi ekonomi wilayah, I su-isu strategis, waktu perencanaan,

ketentuanumumdansistematikapembahasan

BAB I I TUJUAN, KEBI JAKAN DAN STRATEGI RUANG WI LAYAH KOTA

Bab ini menguraikan tentang tujuan penataan ruang wilayah kabupaten; dankebijakan

dan strategi penataan ruang wilayah kota.

BAB I I I RENCANA STRUKTUR RUANG WI LAYAH KOTA

Bab ini berisikan tentang penetapan pusat kota dan kota transisi, pembentuk sistem

hirarki pusat kegiatan, dan rencana sistem prasarana wilayah Kota.

BAB I V RENCANA POLA RUANG WI LAYAH KOTA

Bab ini berisikan Rencana pelestarian kawasan lindung, dan rencana pengembangan

kawasan budidaya, sertarencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka, serta

prasarana dan sarana umum meliputi : ruang terbuka hijau kota dan ruang terbuka non

hijau kota, jaringan pejalan kaki, sistem sirkulasi dan jalur angkutan umum, ruang kegiatan sektor informal, dan ruang evakuasi bencana.

BAB V PENETAPAN KAWASAN STRATEGI S WI LAYAH KOTA

Bab ini menjelaskan tentang penetapan kawasan strategis meliputi kawasan strategis

pengembangan kawasan ekonomi dan kawasan strategis penyelamatan lingkungan hidup.

BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WI LAYAH

Bab ini menjelaskan tentang perumusan kebijkaan strategis operasional rencana tata

ruang wilayah dan rencana tata ruang kawasan strategis, serta prioritas dan tahapan

pembangunan.

BAB VI I KETENTUAN PENGENDALI AN PEMANFAATAN RUANG WI LAYAH

Bab ini menjelaskan tentang pengaturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif

dan disinsentif serta arahan sanksi.

BAB VI I I PENUTUP

Gambar

Gambar 1.1
Gambar 1.2
Gambar 1.3
Gambar 1.4
+3

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses formulasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Serang Tahun 2010-2030

Untuk menggambarkan dan menganalisis keterkaitan disposisi dengan implementasi Peraturan Daerah Nomor : 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Dalam Penetapan Kawasan Ruang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi peraturan daerah nomor 13 tahun 2011 tentang rencana tata ruang wilayah dalam penetapan kawasan ruang terbuka

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi peraturan daerah nomor 13 tahun 2011 tentang rencana tata ruang wilayah dalam penetapan kawasan ruang terbuka

bahwa Peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 5 Tahun 2003 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kota/Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kota Pekalongan Tahun 2004–2013, sudah tidak

Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah Pada Perkembangan Kawasan Permukiman Pasca Likuifaksi Di Kota Palu Berdasarkan Peraturan Gubernur Sulawesi Tengah nomor 10 Tahun 2019 tentang

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI dan BUPATI BANYUWANGI MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG

Rancangan Peraturan Bupati Boyolali tentang Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Perencanaan Kecamatan Andong Tahun