• Tidak ada hasil yang ditemukan

RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

BAB vII − 1

7.1

PENGEMBANGAN PERMUKIMAN

Kajian pengembangan permukiman diuraikan berdasarkan peruaturan UU No. 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman. Untuk lebih jelasnya akan dibahas tentang arahan kebijakan dan lingkup kegiatan isu strategis, usulan pengembangan dan lain sebagainya seperti yang terurai dibahas pada sub bab berikut.

7.1.1 ARAHAN KEBIJAKAN DAN LINGKUP KEGIATAN

Kebijakan untuk pengembangan permukiman di Kabupaten Solok tetap mengarah pada kebijakan pengembangan permukiman yang mengacu pada amanat peraturan perundangan :

1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.

Arahan RPJMN Tahap 3 (2015-2019) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat, sehingga kondisi tersebut mendorong terwujudnya kabupaten tanpa permukiman kumuh pada awal tahapan RPJMN berikutnya.

2. Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Pasal 4 mengamanatkan bahwa ruang lingkup penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman juga mencakup penyelenggaraan perumahan (butir c), penyelenggaraan kawasan permukiman (butir d), pemeliharaan dan perbaikan (butir e), serta pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh (butir f).

3. Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun.

Pasal 15 mengamanatkan bahwa pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara merupakan tanggung jawab pemerintah.

4. Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.

Peraturan ini menetapkan salah satunya terkait dengan penanggulangan kemiskinan yang diimplementasikan dengan penanggulangan kawasan kumuh.

5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.

Peraturan ini menetapkan target berkurangnya luas permukiman kumuh di kawasan perkabupatenan sebesar 10% pada tahun 2014.

(2)

BAB vII − 2

7.1.2. ISU STRATEGIS, KONDISI EKSISTING, PERMASALAHAN DAN TANTANGAN

A. Isu strategis pengembangan permukiman

Pasca gempa pada tanggal 30 September 2009 lalu telah membawa konsekuensi pada beberapa perubahan yang cukup signifikan terhadap arah pengembangan dan percepatan pembangunan di Kabupaten Solok. Terkait dengan pertimbangan tersebut, isu-isu pengembangan Kabupaten Solok di masa yang akan datang diantaranya:

1. Pengembangan Kawasan Ibukabupaten Arosuka. Arosuka merupakan ibukabupaten baru di Kabupaten Solok yang sebelumnya berada di Koto Baru Kecamatan Kubung. Pemindahan ini membawa pengaruh kepada peningkatan konsentrasi permukiman di Kawasan Arosuka karena semakin meningkatnya aktivitas masyarakat disekitar Kantor Bupati. Sehingga perlu penyusunan program dan kegiatan untuk penyediaan permukiman yang layak dan sarana dan prasarana penunjangnya.

2. Pengembangan Kawasan Pusat Kegiatan Lokal Primer yaitu disamping pengembangan Kawasan Ibukabupaten Arosuka, perlu juga pengembangan permukiman di Kawasan Pendukung pertumbuhan ekonomi yaitu kawasan Sumani, Kawasan Muara Panas dan Kawasan Alahan Panjang.

3. Pengembangan kawasan Agropolitan Alahan Panjang. Kawasan Alahan Panjang merupakan sentra pertanian dan perkebunan di Kabupaten Solok dengan komoditi unggulan seperti bawang, kol, cabe dan kentang. Akibatnya pertumbuhan penduduk khususnya dari proses migrasi sangat tinggi sehingga memerlukan pengembangan permukiman yang baru yang perlu ditata.

4. Pengembangan Kawasan Destinasi Wisata Danau Singkarak dan Danau Kembar. Kawasan Danau Singkarak dan Kawasan Danau Kembar merupakan daerah tujuan utama wisata utama di Kabupaten Solok yang menawarkan keindahan alam dan panoramanya. Hal ini perlu mendapat sentuhan dalam penataan ruang khususnya kawasan permukiman yang rapi dan layak.

5. Mengembangkan jaringan jalan untuk mengurangi beban Jalan Arteri Solok – Padang khususnya yang melewati Kawasan Arosuka. Pengembangan jalan baru diutamakan adalah Pembangunan Jalan Pintu Angin – Labuah Saiyo sehingga truk-truk tidak lagi melewati Jalan di depan Kantor Bupati Arosuka.

6. Menata Kawasan Bersejarah, berupa upaya untuk merevitalisasi kawasan Mesjid Tuo Kayu Jao, Kawasan Rumah Gadang Sulit Air, Kawasan Makam Syeck Muchsin, Kawasan Balairung X Koto Diatas, Kawasan Mesjid Raya Tanjung Bingkung, Kawasan Makam Datuk Perpatih Nan Sabatang dengan mempertahankan dan meningkatkan karakter bangunan bersejarah dan kawasannya, serta membangun ruang publik untuk interaksi kehidupan masyarakat Kabupaten Solok.

(3)

BAB vII − 3 8. Pada kawasan sepanjang jalur patahan yang rawan terhadap gempa dan Gunung Api Talang, pengembangan kawasan budidaya dilakukan dengan memberikan porsi yang lebih besar untuk ruang terbuka hijau dan sarana olahraga, yang selain difungsikan sebagai sarana umum dan sosial, juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang evakuasi pada saat terjadi guncangan.

Salah satu isu sentral perkembangan Kabupaten Solok adalah terakit dengan karakteristik Kabupaten Solok sebagai daerah yang berkontur dan berada diatas patahan semangka. Terhadap kondisi tersebut, selain menguntungkan secara geografis, Kabupaten Solok juga rawan terhadap berbagai macam bencana alam.

Selain kecenderungan pemilihan lokasi bermukim pasca gempa dan gunung api Talang, isu lainnya terkait pembangunan permukiman dan infrastruktur permukiman berikut karakteristik, berserta kebutuhan penanganannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 7.1

Isu-Isu Strategis Sektor Pengembangan Permukiman Skala Kabupaten/Kabupaten

No. Isu Strategis Keterangan

(1) (2) (3)

1 Perkembangan cluster-cluster permukiman baru di Kawasan Pusat Pertumbuhan dan aktivitas

2 Permukiman kumuh dan padat penduduk pada kawasan rawan bencana dan pusat ibukabupaten

3 Kawasan permukiman yang mengalami kerusakan dan kemunduran kualitas sebagai dampak terkena bencana alam

4 Perkembangan permukiman pada kawasan yang tidak sesuai dengan peruntukkan

5 Perkembangan permukiman pada kawasan yang bermasalah dengan status lahan

B. Kondisi Eksisting Pengembangan Permukiman

Kondisi eksisting pengembangan permukiman di Kabupaten Solok merupakan capaian s yang diharapkan dalam menyediakan kawasan permukiman yang layak huni. Terlebih dahulu perlu diketahui peraturan perundangan di tingkat kabupaten (meliputi peraturan daerah, peraturan gubernur, peraturan bupati maupun peraturan lainya) yang mendukung seluruh tahapan proses perencanaan, pembangunan, dan pemanfaatan pembangunan permukiman.

Pola Permukiman

(4)

BAB vII − 4 Adapun pola pertumbuhan kawasan permukiman di Kabupaten Solok dapat dibedakan sebagai berikut:

A. Pola Mengelompok. Kawasan permukiman yang tumbuh dengan pola mengelompok ini banyak terdapat di sekitar pusat-pusat kegiatan dan umumnya tumbuh secara tidak terencana dan sangat mungkin menimbulkan gangguan keseimbangan alam. Jika pertumbuhannya tidak terkendali, maka dapat berkembang menjadi padat dan kemungkinan terjadi kawasan kumuh.

B. Pola Menyebar. Pada pola ini, kawasan permukimannya tumbuh tersebar sehingga jangkauan fasilitas umumnya sulit dan tidak merata. Pola permukiman yang menyebar ini memiliki kecendrungan perkembangan kearah pinggiran dan tidak sedikit mengambil ruang-ruang yang dapat mengganggu keseimbangan alam, misalnya mengambil alih lahan yang dilarang untuk peruntukkannya.

C. Pola Memanjang. Kawasan permukiman yang tumbuh dengan pola memanjang ini banyak terdapat di sekitar koridor jalan-jalan utama kabupaten, dan terkadang juga tumbuh secara tidak terencana dan menyebabkan keseimbangan alam terganggu, misalnya pada kawasan sempadan sungai ataupun sempadan danau.

Untuk mendukung kegiatan permukiman ini , Kabupaten Solok harus mengacu juga kepada peraturan yang terkait dengan pengembangan permukiman

Tabel 7.2

Peraturan Daerah/Peraturan Gubernur/Peraturan

Bupati/ /peraturan lainnya terkait Pengembangan Permukiman

No PERDA/Peraturan Gubernur/Peraturan Walikabupaten/Peraturan

Bupati/Peraturan lainnya

Keterangan

No Peraturan Perihal Tahun

1 3 RTRW 2012 Perda

2 1 Bangunan Gedung 2013 Perda

3 3 Tahun 20 RTRW Perda

Kondisi Tata Bangunan dan Lingkungan Permukiman

(5)

BAB vII − 5 Untuk lebih jelasnya pada tabel 7.3, 7.4, 7.5, 7.6 terkait, kawasan kumuh, data kondisi RSH, data kondisi Rusunawa dan data program perdesaan di Kabupaten Solok

Tabel 7.3

Data Kawasan Kumuh di Kabupaten Solok

NO

Lokasi Kawasan Kumuh

Luas (Ha)

Jumlah Rumah Permanen

Jumlah Rumah Semi Permanan

Jumlah Penduduk

1 Kawasan Batu Bajanjang 25 1.711

2 Kawasan Tanjung Bingkuang 20 3.582

3 Kawasan Supayang 20 1.914

4 Kawasan Sulit Air 24 7.550

5 Kawasan Tanjung Balit 12 2.269

6 Kawasan Muaro Pingai 24 1.746

7 Kawasan Salayo 10 13.853

8 Kawasan Sirukam 20 5.284

9 Kawasan Paninggahan 15 10.098

10 Kawasan Garabak Data 8 3.200

11 Kawasan Sumani 17 5.418

12 Kawasan Muara Panas 15 12.135

13 Kawasan Alahan Panjang 14 18.946

14 Kawasan Talang Babungo 15 8.279

15 Kawasan Sariak Alahan Tigo 23 5.851

16 Kawasan Sibarambang 24 1.836

17 Kawasan Labuah Panjang 20 555

18 Kawasan Aripan 16 4.286

19 Kawasan Kuncie 15 738

20 Kawasan Koto Gadang 15 6.021

21 Kawasan Koto Baru 12 20.840

22 Kawasan Saok Laweh 15 5.503

23 Kawasan Taruang- Taruang 13 2.057

24 Kawasan Tanjuang Alai 15 1.894

25 Kawasan Rangkiang Luluih 10 1.948

26 Kawasan Simanau 17 1.485

27 Kawasan Koto Sani 20 6868

28 Kawasan Aie Luo 20 983

Sumber : SK Kawasan Kumuh Kab. Solok

(6)

BAB vII − 6 Terkait dengan suatu kondisi kawasan permukiman yang tergolong kumuh ataupun liar, maka suatu kawasan dapat dikatakan kumuh jika aspek-aspek lingkungan permukiman secara jelas menunjuk kepada keadaan tidak layak, kondisi kesehatan tidak memenuhi syarat, secara fisik bangunan kurang nyaman dan tidak aman, kepadatan bangunan tinggi, rawan terjangkit berbagai penyakit, tingkat pelayanan prasarana dan sarana lingkungan tidak memadai, serta membahayakan keberlangsungan kehidupan dan penghidupan penghuni.

Untuk melakukan indikasi terhadap keberadaan kawasan kumuh di suatu daerah, maka dibutuhkan suatu indikator sebagai alat ukurnya. Indikator penilaian kawasan kumuh yaitu antara lain:

a. Kondisi Lokasi : status legalitas tanah, status penguasaan bangunan, frekuensi bencana banjir

b. Kondisi Kependudukan : kondisi kependudukan, tingkat kepadatan penduduk, rata-rata anggota rumah tangga, tingkat pertumbuhan penduduk

c. Kondisi Bangunan : tingkat kualitas struktur bangunan, tingkat kepadatan bangunan, tingkat kesehatan dan kenyamanan bangunan, tingkat penggunaan luas lantai bangunan

d. Kondisi Sarana dan Prasarana Dasar : tingkat pelayanan air minum, kondisi sanitasi lingkungan, kondisi persampahan, kondisi drainase, kondisi jalan, besarnya ruang terbuka.

e. Kondisi sosial ekonomi.

Berdasarkan analisis dari indikator-indikator diatas, jumlah kawasan permukiman kumuh di Kabupaten Solok masih banyak dan tersebar dibebarapa kawasan pusat pusat permukiman dan masih belum tertangani

Tabel 7.4

Data Kondisi RSH di Kabupaten Solok

No Lokasi RSH

Tahun Pembang

unan

Pengelola Jumlah

Rumah

Kondisi Prasarana CK yang ada

1 Perumahan Villa Halaban Indah 2014 125 Jaringan Air Bersih

2 Perumahan Kayu Aro Permai 2014 178 Jaringan Air Bersih

3 Perumahan Mutiara Residence 2014 140 Jaringan Air Bersih

4 Perumahan Solok Nan Indah 2014 74 Jaringan Air Bersih

5 Perumahan Permata Halaban 2014 82 Jaringan Air Bersih

6 Perumahan Villa Damar 2014 106 Penerangan Jalan Umum

7 Perumahan Nuansa Griya Tahap

3

2014 140 Penerangan Jalan Umum

8 Perumahan Green Arya 2014 140 Penerangan Jalan Umum

9 Perumahan Halaban Permai 2014 60 Penerangan Jalan Umum

Sumber: Dinas Pekerjaan Umum, 2015

(7)

BAB vII − 7 Tabel 7.5

Data Kondisi Rusunawa di Kabupaten Solok (Rusunawa tidak ada di Kab. Solok)

No Lokasi

C. PERMASALAHAN DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN PERMUKIMAN

Permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman di Kabupaten Solok dirinci berdasarkan aspek lahan, aspek lingkungan, aspek infrastruktur, dan aspek kelembagaan. Permasalahan dan tantangan serta peluang pengembangan dalam pengembangan permukiman di Kabupaten Solok selengkapnya tersaji pada Tabel-7.6.

Tabel: 7.6

Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Permukiman di Kabupaten Solok

No Permasalahan Tantangan Peluang Pengembangan

(8)

BAB vII − 8

No Permasalahan Tantangan Peluang Pengembangan

dari segi sosial, ekonomi,

7.1.3. ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN PERMUKIMAN

Analisis kebutuhan merupakan tahapan selanjutnya dari identifikasi kondisi eksisting. Analisis kebutuhan mengaitkan kondisi eksisting dengan target kebutuhan yang harus dicapai. Analisis kebutuhan juga harus mengacu pada target pengembangan permukiman yang termuat dalam RPJMD, RTRW, RP4D maupun Renstra SKPD.

(9)

BAB vII − 9 1. Revitalisasi dan pengembangan kawasan permukiman

Penataan jaringan jalan yang terstruktur, yang seiring dengan penataan jaringan drainase

Peningkatkan kapasitas jalan untuk jalur-jalur evakuasi Penyehatan lingkungan permukiman (sanitasi dan air bersih) Normalisasi sungai

Penataan dan pengamanan kawasan sempadan sungai dan danau melalui pengembangan RTH dan jalur inspeksi

Penataan bangunan dan lingkungan

2. Penataan kawasan permukiman pada daerah rawan bencana Penataan jaringan jalan yang terstruktur

Perbaikan dan peningkatan kualitas saluran drainase dan pembangunan kolam penampungan (embung)

Program air bersih dan sanitasi untuk masyarakat

Penataan bangunan dan lingkungan, terutama dikawasan sekitar Gunung Talang Peningkatkan kualitas dan kapasitas jalan, sekaligus untuk jalur-jalur evakuasi Penyediaan ruang-ruang pelarian (shelter/escape building yang berfungsi

ganda/multi fungsi, maupun escape hill), terutama di Kawasan Gunung Talang Normalisasi sungai dan perlindungan danau

Membangun tanggul dan tembok penahan untuk daerah-daerah yang rawan longsor.

3. Penataan kawasan permukiman di daerah kumuh Penanganan jalan lingkungan

Penanganan drainase yang lebih konprehensif di kawasan Penanganan pelayanan sampah

Perlu penanganan SPAM

Penataan bangunan dan lingkungan

4. Penataan kawasan pengembangan permukiman baru berkepadatan rendah Kasiba/Lisiba

Penanganan jalan lingkungan

Butuh banyak sumber air non perpipaan

Permukiman yang berkontur, sehingga perlu program-program PLP yang terkait dengan kawasan resapan (biopori, dll)

7.1.4. KRITERIA PERSIAPAN DAERAH

Dalam pengembangan permukiman di Kabupaten Solok, kriteria kesiapan daerah yang sudah ada dan yang akan dilaksanakan meliputi:

1. Penyusunan

Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan

Kawasan Permukiman Daerah (RP4D).

(10)

BAB vII − 10

7.1.5. USULAN PROGRAM DAN KEGIATAN

1. Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Permukiman

Setelah melalui tahapan analisis kebutuhan untuk mengisi kesenjangan antara kondisi eksisting dengan kebutuhan, maka disusunlah usulan program dan kegiatan. Usulan program dan kegiatan berdasarkan skala prioritas dengan memperhatikan kriteria kesiapan daerah. Selengkapnya usulan program pengembangan permukiman Kabupaten Solok tersaji pada Tabel-7.6.

Tabel: 7.7

Usulan dan Prioritas Program Infrastruktur Permukiman Kabupaten Solok

(11)
(12)
(13)

BAB vII − 13 nan PS air limbah terpusat skala kota nan PS air limbah setempat dan komunal

(14)

BAB vII − 14

NO. PROGRAM SUB PROGRAM Volume Biaya Lokasi

10 Pemberdayaan Komunitas

Percepatan pelayanan perizinan Tidak ada penjelasan bunga cicilan bagi MBM dan MBR

Tidak ada

2. Usulan Pembiayaan Pembangunan Permukiman

(15)
(16)

BAB vII − 16

NO Output/Suboutput

Volume Output/S

ub-output

Satuan

Output/Sub-output

SUMBER PENDANAAN x Rp. 1.000,-

Tahun Pelaksa naan DETAIL LOKASI

APBN

APBD Prov.

APBD Kab/Kota

PDAM/Swas

ta/Masy. CSR

Rp. Murni PLN

1 2 4 5 6 7 8 9 10 11 12

I Pembinaan dan Pengembangan Kawasan

Permukiman

1 Pembinaan dan Pengawasan Kawasan Permukiman

a Pendampingan Penyusunan Rencana Kawasan

Permukiman

1 STRATEGI PEMBANGUNAN PERMUKIMAN DAN

INFRASTRUKTUR PERKOTAAN (SPPIP) Kab. Solok

1,000,000 2016

2 RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN

PERKOTAAN DAN PERDESAAN (RPKPP) Kab. Solok

1,000,000 2017

2 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan

Permukiman Perkotaan

a Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh

1 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Alahan Panjang 1 kawasan 10,000,000 1,000,000 2016

2 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Sirukam 1 Kawasan 10,000,000 1,000,000 2016

3 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Batu Bajanjang 1 kawasan 10,000,000 1,000,000 2017

4 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Tanjung Bingkung 1 kawasan 10,000,000 1,000,000 2017

5 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Sumani 1 kawasan 10,000,000 1,000,000 2017

6 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Muaro Paneh 1 kawasan 10,000,000 1,000,000 2017

7 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Muaro Pingai 1 kawasan 10,000,000 1,000,000 2018

8 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Garabak Data 1 kawasan 10,000,000 1,000,000 2018

(17)

BAB vII − 17

10 Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Selayo 1 kawasan 10,000,000 1,000,000 2020

b Permukiman Kembali Kawasan Permukiman Kumuh

3 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan

Permukiman Perdesaan

a Pembangunan dan Pengembangan Kawasan

Permukiman Perdesaan Potensial

1 PSD kawasan permukiman pedesaaan potensial

(agropolitan) Alahan Panjang 1 kawasan 5,000,000 500,000 2016

2 PSD kawasan permukiman pedesaaan potensial

(agropolitan) Aira Dingin 1 kawasan 5,000,000 500,000 2017

3 PSD kawasan permukiman pedesaaan potensial

(agropolitan) Sulit Air 1 kawasan 5,000,000 500,000 2018

4 PSD kawasan permukiman pedesaaan potensial

(agropolitan) Koto Hilalang 1 kawasan 5,000,000 500,000 2019

5 PSD kawasan permukiman pedesaaan potensial

(agropolitan) Saok Laweh 1 kawasan 5,000,000 500,000 2020

b

Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan Berbasis

Komunitas/Masyarakat

4 Infrastruktur Perdesaan (PPIP)

a Infrastruktur Perdesaan (PPIP) (sub ouput)

1 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Talang Babungo

Jorong Silanjai,

Taratak Dama, Tabek 3 Jorong 750,000 37,500 2016

Jorong Talang Barat,

(18)

BAB vII − 18

Jorong Bulakan,

Taratak Jarang 2 Jorong 500,000 25,000 2018

2 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Sariak Alahan Tigo

Jorong Sariak Ateh, Sariak Bawah, Talaok, Sungai Pangalek

4 Jorong 1,000,000 50,000 2016

Jorong Sianggai-anggai, Taratak Teleng

2 Jorong 500,000 25,000 2017

Jorong Pintu Kayu,

Lurah Gadang 2 Jorong 500,000 25,000 2018

Jorong Talaok, Sariak

Ateh 2 Jorong 500,000 25,000 2020

3 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Sungai Abu

Jorong Lubuak Muaro, Sungai Kaluang, Sungai Batarak

3 Jorong 750,000 37,500 2016

Jorong Balai Garabak,

Panasahan 2 Jorong 500,000 25,000 2017

Jorong Lubuak Muaro,

Sungai Batarak 2 Jorong 500,000 25,000 2020

4 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Sirukam

Jorong Kubang Nan

Duo, Lubuak Pulai 2 Jorong 500,000 25,000 2016

Jorong Koto Tingga,

Gantiang 2 Jorong 500,000 25,000 2017

5 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Supayang

Jorong Kubang Nan

Raok, Rumah Gadang 2 Jorong 500,000 25,000 2016

Jorong Rumah

Gadang, Koto Kubang 2 Jorong 500,000 25,000 2017

Jorong Rumah

(19)

BAB vII − 19

6 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Aie

Luo Jorong Kipek 1 Jorong 250,000 12,500 2016

Jorong Rumah

Panjang, Tanah Sirah 2 Jorong 500,000 25,000 2017

Jorong Tanah Sirah,

Kipek 2 Jorong 500,000 25,000 2020

7 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Rangkiang Luluih Jorong Kapujan 1 Jorong 250,000 12,500 2016

Jorong Tapak Kudo,

Bancah Laweh 2 Jorong 500,000 25,000 2017

Jorong Kapujan 1 Jorong 250,000 12,500 2020

8 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Batu

Bajanjang

Jorong Kampuang Tangah, Pangka Pulai, Muaro

3 Jorong 750,000 37,500 2016

Jorong Koto Tuo,

Sabie Aie 2 Jorong 500,000 25,000 2017

Jorong Panariak, Batu

Gantuang 2 Jorong 500,000 25,000 2018

Jorong Muaro, Pangka

Pulai 2 Jorong 500,000 25,000 2020

9 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Garabak Data Jorong Lubuak Tareh 1 Jorong 250,000 12,500 2016

Jorong Garabak, Data 2 Jorong 500,000 25,000 2017

Jorong Garabak, Data,

Lubuak Tareh 3 Jorong 750,000 37,500 2020

10 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Tanjung Balik Sumiso

Jorong Tanjung Balik,

Sumiso 2 Jorong 500,000 25,000 2019

11 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Simanau

Jorong Parik Batu,

(20)

BAB vII − 20

12 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Koto

Laweh Sungai Lasi

Jorong Rangguang,

Jariang 2 Jorong 500,000 25,000 2017

13 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Taruang-Taruang

Jorong Balai Okak,

Pangkua Kaciak 2 Jorong 500,000 25,000 2018

14 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Siaro-aro Jorong Taratak 1 Jorong 250,000 12,500 2018

15 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Pianggu Jorong Pianggu 1 Jorong 250,000 12,500 2019

16 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Bukit

Bais

Jorong Tabisu,

Sigando 2 Jorong 500,000 25,000 2019

17 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Aie

Dingin

Jorong Aie Tabu,

Kayu aro 2 Jorong 500,000 25,000 2018

Jorong Aie Sonsang,

Data 2 Jorong 500,000 25,000 2020

18 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Sungai Nanam

Jorong Sapan Munggu

Tigo, Sariak Bayang 2 Jorong 500,000 25,000 2019

19 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Batu

Banyak

Jorong Gobah,

Jambak 2 Jorong 500,000 25,000 2018

20 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Limau

Lunggo Jorong Karatau, Banto 2 Jorong 500,000 25,000 2018

Jorong Banda Palai,

Banda Panai 2 Jorong 500,000 25,000 2019

21 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Batu

Bajanjang

Jorong Gurah,

Simpang Ampek 2 Jorong 500,000 25,000 2019

22 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Kampung Batu Dalam

Jorong Aie Rarak Selatan, Aie rarak utara

2 Jorong 500,000 25,000 2018

23 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Simp

Tjg Nan IV

Jorong Taluak Anjalai, taluak kinari, Lurah Ingu

(21)

BAB vII − 21

24 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Kinari Jorong Pamujan, Tapi

Aie 2 Jorong

500,000

25,000 2018

25 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Dilam Jorong Batu Sangka,

Balai 2 Jorong

500,000

25,000 2020

26 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Parambahan

Jorong Bawah Mesjid,

Jorong Suduik 2 Jorong

500,000

25,000 2020

27 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari

Kuncir

Jorong Balai-balai,

binasi 2 Jorong

500,000

25,000 2019

28 Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Nagari Lolo Jorong Aie Janiah,

Sungai Indaruang 2 Jorong

500,000

25,000 2019

Jorong Pintu Rimbo 1 Jorong 250,000 12,500 2020

5 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan

Permukiman Permukiman

a Pembangunan dan Pengembangan Kawasan

Permukiman Pasca Bencana

b Pembangunan dan Pengembangan Kawasan

Permukiman Perbatasan/Pulau Terluar/Terpencil

(22)

BAB vII − 22

7.2 . PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

7.2.1. ARAHAN KEBIJAKAN DAN LINGKUP KEGIATAN

Kebijakan untuk pengembangan permukiman di Kabupaten Solok tetap mengarah pada kebijakan pengembangan permukiman yang mengacu pada amanat peraturan perundangan :

a. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.

Arahan RPJMN Tahap 3 (2015-2019) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat, sehingga kondisi tersebut mendorong terwujudnya kabupaten tanpa permukiman kumuh pada awal tahapan RPJMN berikutnya.

b. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung

Undang-undang ini mengatur ketentuan tentang bangunan gedung yang meliputi fungsi,

persyaratan, penyelenggaraan, peran masyarakat, dan pembinaan.

c. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

Kabupaten Solok merupakan salah satu Kabupaten/kota yang rawan terhadap bencana alam khususnya gempa bumi dan gunung api, sehingga penataan bangunan dan lingkungan harus memperhatikan faktor keselamatan masyarakat pemakai bangunan gedung dan juga fasilitas lingkungan.

d. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Undang-Undang ini menjadi dasar dan acuan pemerintah daerah dalam menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Solok yang bertujuan untuk mengatur pemanfataan dan pengelolaan ruang wilayah di Kabupaten Solok sehingga kedepannya pembangunan menjadi lebih terarah.

e. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Setiap pembangunan akan memberikan dampak terhadap kualitas lingkungan hidup baik itu dalam skala besar maupun dalam skala kecil. Oleh karena itu diperlukan aturan tentang bagaimana pembangunan khususnya bangunan gedung dan lingkungan tidak memberikan dampak yang significan terhadap kualitas lingkungan dengan adanya dokumen lingkungan seperti AMDAL, UKL/UPL, SPPLH dan lain sebagainya.

f. Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun.

Pasal 15 mengamanatkan bahwa pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara merupakan tanggung jawab pemerintah.

g. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.

Peraturan ini menetapkan target berkurangnya luas permukiman kumuh di kawasan perkabupatenan sebesar 10% pada tahun 2014.

h. Peraturan Daerah Kabupaten Solok Nomor 3 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung

(23)

BAB vII − 23

7.2.2. ISU STRATEGIS, KONDISI EKSISTING, PERMASALAHAN DAN TANTANGAN

Isu stratgeis penataan bangunan dan lingkungan Kabupaten Solok dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Penyusunan Dokumen Penataan Ruang khusunya Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan

1) Pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Solok ke Arosuka pada tahun 2011 dengan melakukan pemindahan kantor-kantor dilingkup pemerintah daerah secara bertahap. Dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Arosuka sudah disusun, untuk itu perlu dilakukan penyusunan RTBL untuk kawasan-kawasan di dalam deliniasi RDTR Arosuka.

2) Penyusunan dokumen tata ruang untuk daerah PKLp Kabupaten Solok yang meliputi Muara Panas, Sumani dan Alahan Panjang. Kondisi eksisting terakhir adalah Kabupaten Solok telah melakukan penyusunan dokumen RDTR untuk ketiga lokasi ini. Sedangkan untuk RTBL baru dilakukan penyusunan untuk kawasan Alahan Panjang.

2. Pengembangan dan Penataan Kawasan Ibukota Arosuka

Arosuka sebagai ibukota Kabupaten Solok masih tergolong muda dan masih banyak diperlukan pembangunan infrastruktur dasar dan penunjang. Disamping itu juga perlu dilakukan penataan kawasan sehingga lebih representatif sebagai sebuah Ibukota Kabupaten. Kegiatan yang dapat dilaksanakan di kawasan Arosuka antara lain: pembangunan trotoar di jalan-jalan utama Arosuka dan pembangunan serta penataan Ruang Terbuka Hijau.

3. Percepatan pembangunan menuju kabupaten metropolitan,

Melalui kebijakan perencanaan dan pemanfaatan tata ruang, pengembangan lingkungan kabupaten yang aman, nyaman, hijau dan bersih, penyediaan sarana publik, kerja sama dengan kawasan hinterland dan pengendalian lingkungan.

KONDISI EKSISTING PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

a. Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara

(24)

BAB vII − 24

Tabel 7.8.

Kondisi Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara

No Kegiatan Sudah

4 Penyusunan Tim Ahli Banngunan

Gedung (TABG)

Belum Dinas PU

5 Pelatihan Teknis Tenaga Pendata

HSBGN dan Keselamatan bangunan

Kawasan nelayan diKabupaten Solok hanya terdapat di selingkar Danau Singkarak dan Danau Kembar seperti tabel berikut:

Tabel 7.9:

(25)

BAB vII − 25

3. Kawasan Rencana Tata Banguan dan Lingkungan

Terdapat beberapa kawasan yang perlu diatur lebih lanjut dengan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. Kawasan-kawasan tersebut diantaranya:

2. Alahan Panjang 350 Kawasan Agropolitan 1 dokumen RTBL

3. Danau Singkarak 400 Kawasan Wisata Belum

4. Sumani 600 Kawasan ekonomi Belum

5. Muara Panas 600 Kawasan ekonomi Belum

Sumber : RDTR Kab Solok, 2015

a. Ruang Terbuka Hijau

Taman-taman yang menghiasi Kabupaten Solok pada tahun 2012 tercatat se luas lahan total 783,16 yang tersebar di 4 (empat) lokasi utama yaitu Arosuka, Alahan Panjang, Sumani dan Muara Panas. Umumnya taman-taman tersebut merupakan bagian dari kelengkapan jalan, bukan dibuat secara khusus sebagai sarana perkabupatenan yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana rekreasi.

Tabel 7.12:

Lokasi Dan Luas Taman Di Arosuka

No. Lokasi RTH Luas

(Ha)

Kepemilikan

1 Taman Sepanjang Jalan Gerbang Utama

0.84 Pemerintah Kabupaten Solok

2 Taman Rumah Dinas Bupati 0.40 Pemerintah Kabupaten Solok

3 Taman Ke Rumah Dinas Wakil Bupati 0.32 Pemerintah Kabupaten Solok

4 Taman Bundaran Tugu Ayam dan

Sekitarnya

52.52 Pemerintah Kabupaten Solok

5 Taman Depan Perkantoran Arosuka 0.63 Pemerintah Kabupaten Solok

6 Taman Kulit Manis 2.10 Pemerintah Kabupaten Solok

(26)

BAB vII − 26

No. Lokasi RTH Luas

(Ha)

Kepemilikan

8 Taman Sepanjang Batang Baliang 1.10 Pemerintah Kabupaten Solok

9 Taman Sepanjang Jalan Ke RSUD 0.56 Pemerintah Kabupaten Solok

10 Taman Hutan Terpadu Arosuka 27.00 Pemerintah Kabupaten Solok

11 Taman Makam Pahlawan 5.35 Pemerintah Kabupaten Solok

12 Taman Jorong (Kayu Aro dan Sukarami) 0.10 Nagari dan/Kaum

13 Taman Nagari (Batang Barus, Koto Gadang, Koto Gaek)

0.48 Nagari

14 Lapangan Taman Kanak-Kanak 0.12 Masing-masing sekolah

15 Lapangan Sekolah SD 0.32 Masing-masing sekolah

16 Lapangan Sekolah SMP (setingkat) 0.36 Masing-masing sekolah

17 Lapangan Sekolah SMA (setingkat) 0.50 Masing-masing sekolah

18 Taman Rumah Ibadah 0.36 Nagari dan/Kaum

19 Pemakaman Kaum (Jorong Kayu Aro

dan Sukarami)

0.05 Kaum

20 Taman Puskesmas 0.05 Pemerintah Kabupaten Solok

21 Taman Pabrik Aqua 2.00 Pemerintah Kabupaten Solok

22 Lapangan Bola Depan THKT 1.00 Pemerintah Kabupaten Solok

23 Lapangan Bola Depan Pom Bensin 1.00 Pemerintah Kabupaten Solok

24 Lapangan Bola Koto Gaek (2 buah @ 1 ha)

2.00 Pemerintah Kabupaten Solok

25 Lapangan Bola Koto Gadang (3 buah @ 1 ha)

3.00 Pemerintah Kabupaten Solok

Total 102.26

Sumber: RIRTH Kabupaten Solok

Tabel 7.13:

Lokasi Dan Luas Taman Di Alahan Panjang

No Lokasi RTH Luas (Ha) Kepemilikan

1 Pemakaman Kaum (40 lokasi) 4.00 Kaum

2 Taman Jorong (Alahan Panjang, Taratak

Galundi, Usak)

0 -

3 Taman Nagari (Alahan Panjang 1 Nagari

4 Taman Convention Hall 1.15 Pemda Kabupaten Solok

5 Taman Balai Adat 0.02 Nagari

6 Lapangan Taman Kanak-Kanak 0.30 Masing-masing sekolah

7 Lapangan Sekolah SD 0.88 Masing-masing sekolah

8 Lapangan Sekolah SMP 1.44 Masing-masing sekolah

9 Lapangan Sekolah SMA 2.00 Masing-masing sekolah

10 Taman Puskesmas 0.3 Pemda Kabupaten Solok

11 Taman Rumah Ibadah 0.54 Nagari

12 Lapangan Sepakbola 1 Nagari

13 Taman Simpang Lembah Gumanti 0.05 Nagari

(27)

BAB vII − 27

Sumber: RIRTH Kabupaten Solok

Tabel 7.14:

Lokasi Dan Luas Taman Di Sumani

No. Lokasi RTH Luas (Ha) Kepemilikan

1 Taman Jorong (7 jorong, masing-masing jorong 2 lokasi)

0.28 Nagari

2 Taman Nagari 0.04 Nagari

3 Taman Pasar Sumani 0.12 Nagari

4 Lapangan Taman Kanak-Kanak 0.08 Masing-masing sekolah

5 Lapangan Sekolah SD 0.24 Masing-masing sekolah

6 Lapangan Sekolah SMP (setingkat)

0.36 Masing-masing sekolah

7 Lapangan Sekolah SMA (setingkat)

0.50 Masing-masing sekolah

8 Taman Puskesmas 0.02 Pemerintah Kabupaten Solok

9 Taman Rumah Ibadah 0.18 Kaum

10 Lapangan Sepak Bola 1 Nagari

Total 2.82

Sumber: RIRTH Kabupaten Solok

Tabel 7.15:

Lokasi Dan Luas Taman Di Muara Panas

No. Lokasi RTH Luas (Ha) Kepemilikan

1 Taman Jorong (5 jorong, masing-masing jorong 2 lokasi)

0,2 Nagari

2 Taman Nagari 0.04 Nagari

3 Taman Kecamatan 0.1 Kecamatan

4 Taman Pasar Muara Panas 0,4 Nagari

5 Lapangan Taman Kanak-Kanak 0.12 Masing-masing sekolah

6 Lapangan Sekolah SD 0.32 Masing-masing sekolah

7 Lapangan Sekolah SMP

(setingkat)

0.36 Masing-masing sekolah

8 Lapangan Sekolah SMA

(setingkat)

0.50 Masing-masing sekolah

9 Taman Puskesmas 0.1 Pemerintah Kabupaten Solok

10 Taman Rumah Ibadah 0.29 Kaum

11 Lapangan Sepak Bola 1 Nagari

12 Lapangan Pemuda di Jorong Galagah

0.08 Nagari

13 Kolam Pemancingan 1 Kaum (hak pakai/pinjaman)

(28)

BAB vII − 28

No. Lokasi RTH Luas (Ha) Kepemilikan

15 Lapangan Badminton dan Basket di Jorong Koto Panjang

0.05 Pemuda

Total 3.84

Sumber: RIRTH Kabupaten Solok

PERMASALAHAN DAN TANTANGAN

Dalam kegiatan penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Solok terdapat beberapa permasalahan dan tantangan yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:

Tabel 7.16:

Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Penataan Bangunan dan Lingkungan Kabupaten Solok

No Permasalahan dan Tantangan Alternatif Solusi

1. Masih banyaknya terdapat permukiman kumuh dikantong-kantong permukiman potensi wisata banyak yang tidak terawat

Pembangunan Prasarana dan sarana Penataan bangunan dan Lingkungan Tradisional dan Bersejarah

3. Terjadinya degradasi kawasan strategis, padahal punya potensi ekonomi untuk mendorong pertumbuhan kabupaten

Penyusunan Rencana Tata bangunan dan Lingkungan (RTBL)

4. Masih kurangnya persentasi Ruang Terbuka Hijau bila dibandingkan dengan luas Kabupaten Solok

Bantuan Teknis Pengelolaan Ruang terbuka Hijau (RTH)

5. Kurang ditegakkan aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bangunan gedung, termasuk pada daerah-daerah rawan bencana

• Masih perlu dilakukan Pembinaan Teknis Pembagunan Gedung Negara

• Perlu dilakukan Pemeriksaan Keandalan bangunan Gedung

6. Kondisi prasarana dan sarana penanggulangan kebakaran pada publik dan perijinan di Kabupaten Solok

Masih perlu dilakukan desiminasi perundang-undangan Kegiatan diseminasi

8. Masih banyaknya bangunan Gedung negara yang belum memenuhi

(29)

BAB vII − 29 No Permasalahan dan Tantangan Alternatif Solusi

negara dan Rumah negara kurang tertib dan efisien

dan keselamatan bangunan • Pembentukan TABG

10. Masih banyaknya aset negara yang tidak teradministrasi dengan baik

• Pendataan bangunan gedung • Mengembangkan sistem informasi • Dukungan prasarana dan sarana Pusat

Informasi Pembangan Permukiman dan Bangunan ( PIPPB)

7.2.3. ANALISIS KEBUTUHAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

Kebutuhan penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Solok masih sangat dibutuhkan untuk mewujudkan RTRW Kabupaten Solok. Dukungan program/ kegiatan dalam penataan bangunan dan lingkungan khususnya di kawasan perkabupatenan masih sangat dibutuhkan, seperti: pembinaan teknis bangunan gedung, rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL), revitalisasi kawasan dan penyediaan RTH. Secara lengkap kebutuhan penataan bangunan dan lingkungan Kabupaten Solok dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman

Penanganan prasarana dan sarana dasar kawasan Kumuh Penataan kawasan tradisional/bersejarah

Penataan dan revitalisasi kawasan strategis

2. Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara Peningkatan penyelenggaran bangunan gedung dan rumah negara Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan rumah Negara

7.2.4. KRITERIA KESIAPAN DAERAH

Dalam penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Solok, kriteria kesiapan daerah yang sudah ada dan yang akan dilaksanakan meliputi:

1. Pembinaan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara Tahun 2011 2. Penyusunan Ranperda bangunan Gedung Tahun 2012

3. Penyusunan RISPK Tahun 2012

4. Penyusunan RTBL Dua Jalur Arosuka Tahun 2012 5. Penyusunan RTBL Alahan Panjang Tahun 2013

6. Penyusunan RTBL Pintu Angin Labuah Saiyo Tahun 2015

7.2.5. USULAN PROGRAM DAN KEGIATAN

(30)

BAB vII − 30

(31)

BAB vII − 31

1 Penyusunan RTBL Kawasan THKT Arosuka Arosuka 1 dokumen

1,000,000 2016

2 Penyusunan RTBL Kawasan Wisata Gunung Talang

Aie

Batumbuk 1 dokumen

1,000,000 2017

3 Penyusunan RTBL Kawasan Sumani Sumani 1 dokumen

1,000,000 2018

4 Penyusunan RTBL Kawasan Muaro Paneh

Muaro

1 Rencana Tindak Kawasan Mesjid Tuo Kayu Jao

Batang

Barus 1 Kawasan

1,000,000 2016

2 Rehabilitasi Gedung Bersejarah Mesjid Tuo Kayu Jao

(32)

BAB vII − 32

1 Penataan Kawasan Tradisional Koto Hilalang

Koto

Rehabilitasi Rekonstruksi PSD Permukiman Rawan Bencana

Sukarami-2 Rehabilitasi Rekonstruksi PSD Permukiman Rawan Bencana

Kampung

3 Rehabilitasi Rekonstruksi PSD Permukiman Rawan Bencana Koto Laweh 1 Kawasan

5,000,000

300,000 2016

4 Rehabilitasi Rekonstruksi PSD Permukiman Rawan Bencana Paninjawan 1 Kawasan

5,000,000

300,000 2016

5 Rehabilitasi Rekonstruksi PSD Permukiman Rawan Bencana Kacang 1 Kawasan

5,000,000

300,000 2017

D Penataan Bangunan Kawasan Destinasi Wisata

1 Penataan Kawasan Agropolitan Alahan Panjang (Lanjutan)

Alahan

2 Penataan Bangunan Kawasan THKT Arosuka Arosuka 1 Kawasan

10,000,000

1,000,000 2017

3 Penataan Kawasan Aie Batumbuk

Aie

4 Penataan Kawasan Danau Singkarak

X Koto

(33)

BAB vII − 33

d Penataan Kota Pusaka

TOTAL

193,000,000

- -

(34)

BAB vII − 34

7.3.

SISTEM PENGEMBANGAN AIR MINUM

7.3.1. ARAHAN KEBIJAKAN DAN LINGKUP KEGIATAN

Kebijakan untuk pengembangan permukiman di Kabupaten Solok tetap mengarah pada kebijakan pengembangan permukiman yang mengacu pada amanat peraturan perundangan :

1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.

Arahan RPJMN Tahap 3 (2015-2019) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat, sehingga kondisi tersebut mendorong terwujudnya kabupaten tanpa permukiman kumuh pada awal tahapan RPJMN berikutnya.

2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Undang-Undang ini menjadi dasar dan acuan pemerintah daerah dalam menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Solok yang bertujuan untuk mengatur pemanfataan dan pengelolaan ruang wilayah di Kabupaten Solok sehingga kedepannya pembangunan menjadi lebih terarah khususnya dalam pengembangan sistem penyediaan air minum.

3. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019

Pada era kepresidenan Jokowi dan Jusuf Kalla, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target universal access 100-0-100, dimana pada tahun 2019 nanti ditargetkan seluruh masyarakat Indonesia telah memiliki akses air minum yang layak.

4. Peraturan Presiden Nomor 185 Tahun 2014 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi

Pembangunan sarana dan prasana air minum dan sanitasi di Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain di Asia Tenggara, untuk itu perlu diperlukan kebijakan guna mempercepat proses tersebut karena fasilitas air minum dan sanitasi merupakan salah satu infrastruktur dasar yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan.

5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan SPAM

Maksud dan tujuan dari pengaturan dalam penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah sebagai pedoman bagi Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara, dan para ahli dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan SPAM untuk: a. mewujudkan pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga terjangkau; b. mencapai kepentingan yang seimbang antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan; c. mencapai peningkatan efisiensi dan cakupan pelayanan air minum; dan d. mendorong upaya gerakan penghematan pemakaian air.

6. Peraturan Bupati Solok Nomor 37 Tahun 2012 tentang Rencana Aksi Daerah Penyediaan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (RAD AMPL)

(35)

BAB vII − 35

7.3.2. ISU STRATEGIS, KONDISI EKSISTING DAN PERMASALAHAN DAN TANTANGAN

Terdapat isu-isu strategis yang diperkirakan akan mempengaruhi upaya Indonesia untuk mencapai target pembangunan di bidang air minum. Isu ini didapatkan melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dalam lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum khususnya Direktorat Jenderal Cipta Karya. Isu-isu strategis tersebut adalah:

1. Peningkatan Akses Aman Air Minum 2. Pengembangan Pendanaan

3. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan

4. Pengembangan dan Penerapan Peraturan Perundang-undangan 5. Pemenuhan Kebutuhan Air Baku untuk Air Minum

6. Peningkatan Peran dan Kemitraan Badan Usaha dan Masyarakat

7. Penyelenggaraan Pengembangan SPAM yang Sesuai dengan Kaidah Teknis dan Penerapan Inovasi Teknologi

Sedangkan di Kabupaten Solok juga terdapat beberapa isu strategis yang diperkirakan akan mempengaruhi upaya Kabupaten Solok dalam mencapai target pembangunan di bidang air minum. Isu-isu strategis tersebut diantaranya:

1. Tingkat pertumbuhan cakupan pelayanan air minum sistem perpipaan dalam 10 tahun terakhir belum dapat mengimbangi pesatnya tingkat perkembangan penduduk;

2. SPAM non-perpipaan selama 30 tahun terakhir berkembang lebih pesat daripada SPAM perpipaan, namun perkembangan SPAM non-perpipaan terlindungi masih memerlukan pembinaan;

3. Tingkat kehilangan air masih cukup tinggi dan tekanan air pada jaringan distribusi umumnya masih rendah;

4. Pelayanan air minum melalui perpipaan masih terbatas untuk masyarakat menengah ke atas di perkotaan, sementara pelayanan air minum untuk masyarakat miskin selain belum memadai;

5. Ketersediaan data yang akurat terhadap cakupan dan akses air minum masyarakat belum memadai;

6. Sebagian air yang diproduksi PDAM telah memenuhi kriteria layak minum, namun kontaminasi terjadi pada jaringan distribusi;

7. Masih tingginya angka prevalensi penyakit yang disebabkan buruknya akses air minum yang aman.

KONDISI EKSISTING PENGEMBANGAN SPAM A. Aspek Teknis

(36)

BAB vII − 36

B. Sistem Penyediaan Air Minum Perpipaan

Sistem penyediaan air minum perpipaan di Kabupaten Solok terbagi ke dalam dua bagian yaitu sistem penyediaan air minum perpipaan perkotaan yang dikelola oleh PDAM Kabupaten Solok dan sistem penyediaan air minum perpipaan pedesaan yang dikelola oleh masyarakat melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).

1. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

Pada Penyusunan Database Cakupan Pelayanan Air Minum di Kabupaten Solok Tahun 2015 ini, berdasarkan hasil kompilasi data yang berhasil di himpun dari berbagai sumber yang diantaranya adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Kesehatan diperoleh hasil tingkat capaian cakupan pelayanan air minum di Kabupaten Solok Tahun 2015 adalah sebesar 64,42%. Data ini diperoleh dengan membandingkan jumlah cakupan pelayanan air minum yang tercatat pada ketiga instansi tersebut dengan total jumlah penduduk di Kabupaten Solok dikali 100%.

Artinya, untuk memenuhi 100% kebutuhan penduduk akan air minum di Kabupaten Solok, saat ini Pemerintah Daerah baru dapat memenuhi keburtuhan tersebut sebesar 64,42%. Hal ini menunjukkan masih ada kekurangan pelayanan sebesar 35,58% di Tahun 2015. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di kemudian hari. Rekapitulasi Cakupan Pelayanan Air Minum di Kabupaten Solok Tahun 2015 digambarkan sebagai berikut.

Gambar 7.1. Rekapitulasi Cakupan Pelayanan Air Minum di Kabupaten Solok Tahun 2015.

(37)

BAB vII − 37 Hiliran Gumanti, Payung Sekaki, Tigo Lurah, Lembang Jaya, Gunung Talang, Junjung Sirih, Pantai Cermin, Danau Kembar, X Koto Diatas, Kubung, Bukit Sundi, dan IX Koto Sungai Lasi. Hasil kompilasi data Cakupan Pelayanan Air Minum di Kabupaten Solok per Kecamatan Tahun 2015 disampaikan pada Tabel berikut ini.

Tabel. 7.17: Cakupan Pelayanan Air Minum di Kabupaten Solok per Kecamatan

Tahun 2015. N

o Kecamatan

Jlh Penduduk

/Jiwa PDAM

1 Lembah Gumanti 56.554 0,52%

2 X Koto Singkarak 31.744 1,42%

3 Hiliran Gumanti 16.593 0,22%

4 Payung Sekaki 8.181 0,00%

5 Tigo Lurah 9.918 0,00%

6 Lembang Jaya 26.429 0,43%

7 Gunung Talang 48.764 4,48%

8 Junjung Sirih 11.845 0,00%

9 Pantai Cermin 20.538 0,49%

10 Danau Kembar 19.433 0,00%

11 X Koto Diatas 17.703 0,04%

12 Kubung 57.822 8,52%

13 Bukit Sundi 23.253 3,19%

14 IX Koto Sungai Lasi 9.605 0,00%

Total 358.382 19,30%

Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Kab. Solok, 2015

(38)

BAB vII − 38

(39)

BAB vII − 39

Cakupan Pelayanan Air Minum per Kecamatan di Kabupaten Solok

dijelaskan sebagai berikut:

1. Kecamatan Lembah Gumanti

Besaran cakupan pelayanan Air Minum di Kecamatan Lembah Gumanti

digambarkan pada diagram berikut ini.

Gambar 7.3 Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan Lembah Gumanti Tahun 2015.

Total pelayanan air minum di Kecamatan Lembah Gumanti Tahun 2015 dengan total jumlah penduduk sebesar 56.554 jiwa baru terpenuhi sebesar 7,31%, sehingga masih ada 8,47% lagi yang belum terlayani. Total pelayanan air minum di masing-masing Nagari adalah: 2,30% di Nagari Alahan Panjang, 2,30% di Nagari Sungai Nanam, 1,62% di Nagari Salimpat dan 1,09% di Air Dingin.

2. Kecamatan X Koto Singkarak

(40)

BAB vII − 40 Gambar 7.4. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan X Koto Singkarak Tahun 2015.

Persebaran pelayanan air minum di Kecamatan X Koto Singkarak pada tiap tiap Nagari adalah sebagai berikut; Nagari Singkarak sebesar 1,02%, Nagari Sumani sebesar 1,11%, Nagari Saning Bakar sebesar 1,03%, Nagari Koto Sani sebesar 0,45%, Nagari Aripan sebesar 0,94%, Nagari Tikalak sebesar 0,38%, Nagari Kacang sebesar 0,59% dan Nagari tanjung Alai sebesar 0,16%.

3. Kecamatan Hiliran Gumanti

Jumlah penduduk di Kecamatan Hiliran Gumanti adalah 16.593 jiwa yang tersebar di 3 Nagari. Total pelayanan air minum di Kecamatan Hiliran Gumanti adalah sebesar 3,06% dengan persebaran di Nagari Sungai Abu 0,57%, Nagari Sariak Alahan Tigo sebesar 0,94% dan Nagari Talang Babungo sebesar 1,55%. Total cakupan pelayanan air minum di Kecamatan Hiliran Gumanti ini digambarkan pada diagram berikut ini.

Gambar 7.5. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan Hiliran Gumanti Tahun 2015.

4. Kecamatan Payung Sekaki

(41)

BAB vII − 41 Tahun 2015 adalah sebesar 1,39% dengan persebaran 0,77% di Nagari Sirukam, 0,40% di Nagari Supayang, dan 0,23% di Nagari Aie Luo. Diagram cakupan pelayanan air minum di Kecamatan Payung Sekaki disampaikan sebagai berikut.

Gambar 7.6. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2015.

5. Kecamatan Tigo Lurah

Kecamatan Tigo Lurah mempunyai jumlah penduduk 9.918 jiwa yang tersebar di 5 Nagari. Total pelayanan air minum di Kecamatan Tigo Lurah adalah sebesar 1,87%. Total pelayanan air minum di tiap Nagari di Kecamatan Tigo Lurah adalah; 0,45% di Nagari Rangkiah Luluih, 0,52% di Nagari Batu Bajanjang, 0,44% di Nagari Simanau, 0,32% di Nagari Tanjung Balik Sumiso, 0,14% di Nagari Garabak Data. Adapun rincian cakupan pelayanan air minum di Kecamatan Tigo Lurah disampaikan pada diagram berikut ini.

(42)

BAB vII − 42

6. Kecamatan Lembang Jaya

Kecamatan Lembang Jaya mempunyai jumlah penduduk sebesar 26.429 jiwa yang tersebar pada 6 Nagari. Total pelayanan air minum di Kecamatan Lembang Jaya adalah sebesar 5,53% dengan sebaran di Nagari Salayo Tanang B Sileh sebesar 0,84%, Nagari Batu Bajanjang sebesar 0,87%, Nagari Koto sebesar 0,84%, Nagari Limau Linggo sebesar 0,65%, Nagari Batu Banyak sebesar 0,53% dan Nagari Koto Anau sebesar 1,79%. Total cakupan pelayanan air minum di Kecamatan Lembang Jaya disampaikan pada diagram berikut ini.

Gambar 7.8. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan Lembang Jaya Tahun 2015.

7. Kecamatan Gunung Talang

(43)

BAB vII − 43 Gambar 7.9. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan Gunung Talang Tahun 2015.

8. Kecamatan Junjung Sirih

Kecamatan Junjung Sirih mempunyai jumlah penduduk sebesar 11.845 jiwa dengan total pelayanan air minum yang tersebar di 2 Nagari sebesar 1,98%. Masing-masing nagari telah mendapatkan pelayanan air minum sebesar 0,44% di Nagari Muaro Pingiai dan 1,54% di Nagari Paninggahan. Total cakupan pelayanan air minum di Kecamatan Junjung Sirih dijelaskan pada diagram berikut ini.

Gambar 7.10. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan Junjung Sirih Tahun 2015.

9. Kecamatan Pantai Cermin

(44)

BAB vII − 44 Gambar 7.11. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan Pantai Cermin Tahun 2015.

10. Kecamatan Danau Kembar

Kecamatan Danau Kembar mempunyai jumlah penduduk sebesar 19.433 jiwa yang tersebar pada 2 Nagari. Dengan jumlah penduduk tersebut, total pelayanan air minum yang diperoleh Kecamatan Danau Kembar adalah sebesar 2,96%. Masing-masing Nagari mendapatkan layanan air minum sebesar 1,05% di Nagari Simpang T. Nan IV dan 1,91% di Nagari Kamp. Batu Dalam. Rincian pelayanan air minum di Kecamatan Danau Kembar digambarkan pada diagram berikut ini.

Gambar 7.12. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan Danau Kembar Tahun 2015.

11. Kecamatan X Koto Diatas

(45)

BAB vII − 45 sebesar 0,46%, Nagari Labuah Panjang sebesar 0,14%, Nagari Tanjung Balit sebesar 0,60%, Nagari Sulit Air sebesar 0,91%, Nagari Pasilihan sebesar 0,09%, dan Nagari Bukit Kandung sebesar 0,32%. Cakupan pelayanan air minum di kecamatan X Koto Diatas, dijabarkan pada diagram berikut ini.

Gambar 7.13. Cakupan Pelayanan Air Minum Kecamatan X Koto Diatas Tahun 2015.

12. Kecamatan Kubung

Gambar 7.14. Cakupan Pelayanan Air Minum di Kecamatan Kubung Tahun 2015.

(46)

BAB vII − 46

13. Kecamatan Bukit Sundi

Kecamatan Bukit Sundi mempunyai jumlah penduduk sebesar 23.253 jiwa yang tersebar pada 5 Nagari. Cakupan pelayanan air minum di Kecamatan Bukit Sundi pada Tahun 2015 telah mencapai 4,96%. Persentasi cakupan pelayanan air minum masing-masing Nagari di Kecamatan Bukit Sundi adalah 0,99% di Nagari Kinari, 0,38% di Nagari Parambahan, 0,71% di nagari Dilam, 2,41% di nagari Muara Panas, 0,47% di Nagari Bukit Tandang. Rincian pelayanan air minum tersebut digambarkan pada diagram berikut ini.

Gambar 7.15. Cakupan Pelayanan Air Minum di Kecamatan Bukit Sundi Tahun 2015.

14. Kecamatan IX Koto Sungai Lasi

(47)

BAB vII − 47 Gambar 7.16. Cakupan Pelayanan Air Minum di Kecamatan Bukit Sundi Tahun 2015.

Berdasarkan capaian tersebut, maka dalam rangka mendukung Universal Access pada Tahun 2019, Kabupaten Solok telah memformulasikan target yang mampu dicapai untuk memenuhi cakupan pelayanan air minum dengan optimis pada Tahun 2019 adalah sebesar 82,21%. Dengan target capaian Universal Access tersebut, maka capaian cakupan pelayanan air minum yang telah terlayani saat ini adalah sebesar 52,95%. Sehingga dibutuhkan peningkatan cakupan pelayanan air minum sebesar 29,25% sampai dengan Tahun 2019.

B. Sistem Penyediaan Air Minum Perpipaan Pedesaan

Sistem penyediaan air minum perpipaan Pedesaan di Kabupaten Solok terdiri dari kegiatan PAMSIMAS dan WSLIC dan ada bantuan dari Dinas Kesehatan seperti yang tergambar pada tabel berikut ini:

No Kecamatan

Jlh Penduduk

/Jiwa

PDAM

DINAS PU + PAMSIMAS + WSLIC

DINKES Total Pelayanan

Total Tidak Terlayani

1 Lembah

Gumanti 56.554 0,52% 4,89% 1,90% 7,31% 8,47%

2 X Koto

Singkarak 31.744 1,42% 3,07% 0,00% 5,69% 3,17%

3 Hiliran Gumanti 16.593 0,22% 1,92% 0,00% 3,06% 1,57%

4 Payung Sekaki 8.181 0,00% 1,15% 0,00% 1,39% 0,89%

5 Tigo Lurah 9.918 0,00% 1,54% 0,00% 1,87% 0,90%

6 Lembang Jaya 26.429 0,43% 3,73% 0,00% 5,53% 1,85%

7 Gunung Talang 48.764 4,48% 3,08% 0,00% 8,67% 4,94%

8 Junjung Sirih 11.845 0,00% 1,56% 0,00% 1,98% 1,32%

9 Pantai Cermin 20.538 0,49% 2,20% 0,00% 3,25% 2,48%

10 Danau Kembar 19.433 0,00% 1,81% 0,00% 2,96% 2,46%

11 X Koto Diatas 17.703 0,04% 2,13% 0,00% 3,33% 1,61%

12 Kubung 57.822 8,52% 2,87% 0,00% 12,21% 3,92%

(48)

BAB vII − 48 No Kecamatan

Jlh Penduduk

/Jiwa

PDAM

DINAS PU + PAMSIMAS + WSLIC

DINKES Total Pelayanan

Total Tidak Terlayani

14 IX Koto Sungai

Lasi 9.605 0,00% 1,44% 0,00% 2,20% 0,48%

Total 358.382 19,30% 32,56% 12,13% 64,42% 35,58%

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum, 2015

Pembangunan dilaksanakan oleh berbagai pihak, yaitu Pemerintah (melalui pendanaan APBN, APBD) dan Masyarakat.

Sumber Air baku yang digunakan adalah Mata Air dan Air permukaan dengan sistem perpipaan Gravitasi, dengan sistem pelayanan secara Hidran Umum (HU) dan Sambungan Rumah (SR). Nama-nama kelurahan yang mendapat program PAMSIMAS, sistem yang digunakan cakupan pelayanan dan pengelola dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel: 7.18:

Kegiatan Program PAMSIMAS Kabupaten Solok Tahun 2015

No Desa/Jorong Sumber Dana Keterangan

APBN APBD

1 Batu Sangka 200.000.000 Reguler APBN

2 Kampung Batu Utara 220.000.000 Reguler APBN

3 Bansa 220.000.000 Reguler APBN

4 Guak Nomeh 240.000.000 Reguler APBN

5 Balai dan Kubang 220.000.000 Reguler APBN

6 Sungai Talang 200.000.000 Reguler APBN

7 Korong Lambah 220.000.000 Reguler APBN

8 Kayu Aro 220.000.000 Reguler APBN

9 Banto 220.000.000 Reguler APBN

10 Muaro Busuak 220.000.000 Reguler APBN

Sumber: Laporan PAMSIMAS Oktober 2015

C. Sistem Penyediaan Air Minum Non Perpipaan

(49)

BAB vII − 49

Tabel: 7.19:

Sumber Air Minum Non Perpipaan Yang Digunakan di Kabupaten Solok

No Kecamatan

Jlh Penduduk

/Jiwa

DINKES Total

Pelayanan

Total Tidak Terlayani

1 Lembah Gumanti 56.554 1,90% 7,31% 8,47%

2 X Koto Singkarak 31.744 0,00% 5,69% 3,17%

3 Hiliran Gumanti 16.593 0,00% 3,06% 1,57%

4 Payung Sekaki 8.181 0,00% 1,39% 0,89%

5 Tigo Lurah 9.918 0,00% 1,87% 0,90%

6 Lembang Jaya 26.429 0,00% 5,53% 1,85%

7 Gunung Talang 48.764 0,00% 8,67% 4,94%

8 Junjung Sirih 11.845 0,00% 1,98% 1,32%

9 Pantai Cermin 20.538 0,00% 3,25% 2,48%

10 Danau Kembar 19.433 0,00% 2,96% 2,46%

11 X Koto Diatas 17.703 0,00% 3,33% 1,61%

12 Kubung 57.822 0,00% 12,21% 3,92%

13 Bukit Sundi 23.253 0,00% 4,96% 1,52%

14 IX Koto Sungai Lasi 9.605 0,00% 2,20% 0,48%

Total 358.382 12,13% 64,42% 35,58%

Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Kab. Solok, 2010

Aspek Pendanaan

A. Pembiayaan Pengelolaan Air Minum

Pembiayaan pengelolaan air minum di Kabupaten Solok terdiri dari pendapatan, biaya langsung usaha, dan biaya tidak langsung. Pendapatan usaha meliputi pendapatan penjualan air dan pendapatan penjualan non air. Untuk biaya langsung usaha terdiri dari biaya sumber air, biaya pengelolaan air, dan biaya transmisi dan distribusi. Sedangkan untuk biaya tidak langsung meliputi biaya umum dan administrasi serta biaya diluar usaha. Selengkapnya pembiayaan pengelolaan air minum di Kabupaten Solok adalah sebagai berikut:

Tabel: 7.20:

Kondisi Pembiayaan Air Minum di Kabupaten Solok

No Uraian Biaya Tahun (Juta Rupiah)

2009 2010 2011 2012 2013

A PENDAPATAN

1. Pendapatan Penjualan Air 2.528.723 2.492.984 2.757.662 3.052.538 3.123.471

2. Pendapatan Non Air 398.500 531.397 912.473 343.605 159.867

Jumlah Pendapatan Usaha 2.927.223 3.024.381 3.670.473 3.396.144 3.283.338

B BIAYA LANGSUNG USAHA

(50)

BAB vII − 50

Jumlah Biaya Langsung Usaha 1.772.173 1.810.291 1.899.977 3.217.823 1.881.579

Laba/Rugi Kotor Usaha 1.155.049 1.214.089 1.770.496 178.321 1.401.759

C BIAYA TIDAK LANGSUNG

1. Biaya Umum dan Administrasi 1.790.739 1.825.433 1.852.254 1.864.063 2.569.567 2. Biaya di Luar Usaha

Jumlah Biaya Tidak Langsung 1.790.739 1.825.433 1.852.254 1.864.063 2.569.567

Laba/Rugi Usaha (635.689) (611.343) (81.757) (1.685.742) (1.167.808)

Sumber: PDAM Kab. Solok

B. Pendapatan Penjualan Air

Pendapatan penjualan air PDAM Kabupaten Solok sampai dengan 31 Desember 2014 sebesar Rp 4.502.162.000 Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel: 7.21:

Pendapatan Penjualan Air PDAM Kabupaten Solok

No Uraian Biaya Tahun (Juta Rupiah)

2011 2012 2013 2014

A Pendapatan Penjualan Air 4.123.289 2.926.064 3.015.196 3.456.488 B Pendapatan Non Air 698.559 343.606 159.162 916.511 C Penjualan Air dengan Mobil

Tangki

118.650 126.475 108.275 114.406

D Pendapatan Lain-lain 9.416 2.426 20.298 14.759 Jumlah Pendapatan 4.949.914 3.398.570 3.302.931 4.502.162 Sumber: RISPAM Kab. Solok 2015

C. Struktur Tarif

Struktur tarif PDAM Kabupaten Solok ditetapkan berdasarkan Keputusan WaliKabupaten Solok, Nomor 20 Tahun 2005, Tanggal 30 Desember 2005. Perumusan tarif yang diterapkan mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Pedoman Teknis Dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum Pada Perusahaan Daerah Air Minum. Selengkapnya struktur tarif air minum di Kabupaten Solok adalah sebagai berikut:

Tabel:7.22:

Struktur Tarif Kabupaten Solok

No Kelompok Pelanggan

Tarif Air per m3 (Rp.)

0 - 10 m3 11 - 20 m3 21 - 30

m3 >30 m3 Kelompok I

1. Sosial Umum 960 1.200 1.440 1.680

2. Sosial Khusus 960 1.200 1.440 1.680

Kelompok II

1. Rumah Tangga A 1.200 1.530 1.860 2.520

2. Rumah Tangga B 1.530 1.860 2.520 3.000

3. Rumah Tangga C 1.860 2.520 3.420 3.600

Kelompok III

(51)

BAB vII − 51 No Kelompok

Pelanggan

Tarif Air per m3 (Rp.)

0 - 10 m3 11 - 20 m3 21 - 30

m3 >30 m3 Pemerintah/

Instansi Kelompok IV

1. Niaga Kecil 2.520 3.120 3.729 4.800

2. Niaga Besar 3.120 3.720 4.800 6.000

3. Industri Kecil 2.760 3.720 4.800 6.000

Sumber: RISPAM Kabupaten Solok, 2015

Aspek Kelembagaan

A. Struktur Organisasi dan Uraian Tugas

Susunan organisasi PDAM Kabupaten Solok ditetapkan berdasarkan Keputusan Direksi PDAM KAB. SOLOK pada tanggal 20 November 2013, dengan susunan sebagai berikut : a. Badan Pengawas, terdiri atas unsur Pejabat daerah, Perorangan, dan Masyarakat

konsumen.

b. Pimpinan, yaitu Direksi yang terdiri atas seorang Direktur.

c. Unsur pembantu pimpinan, terdiri dari 2 (dua) Kepala Bagian yaitu Bagian Administrasi dan Keuangan dan Kepala Bagian Teknik yang dibantu oleh Kasubag dan staf.

d. Unsur Kepala Unit, yang terdiri dari 14 unit layanan.

(52)

BAB vII − 52

(53)

BAB vII − 53 B. Sumber Daya Manusia

Jumlah seluruh pegawai PDAM per 31 Desember 2013 adalah sebanyak 97 orang, dengan rincian sebagai berikut :

Direktur : 1 orang

Kepala Bagian : .. orang Kepala Sub Bagian : 8 orang Kepala Unit : 11 orang Kepala Urusan : 2 orang

Pelaksana : 75 orang

Dilihat dari latar belakang pendidikannya, jumlah pegawai tetap terbanyak adalah pegawai dengan latar belakang pendidikan SLTA yaitu sebesar orang, atau 59% dari total pegawai tetap. Pada tabel berikut dapat dilihat jumlah pegawai PDAM yang dirinci menurut jenjang pendidikan dan status kepegawaiannya.

Tabel: 7.23:

Jumlah Pegawai PDAM Kabupaten Solok

Menurut Jenjang Pendidikan dan Status Kepegawaiannya

Uraian

Pegawai Tetap

Pegawai Tidak Tetap

Total Pegawai Laki-Laki Perem

puan Jumlah

A. Menurut Jenjang Pendidikan

1. Pasca Sarjana 2. Sarjana 3. Sarjana Muda 4. SLTA 5. SMP 6. SD

Jumlah

B. Menurut Status

1. Pegawai Negeri Sipil Daerah

2. Pegawai Perusahaan Jumlah

Sumber: PDAM Kabupaten Solok, 2014

Apabila dibandingkan dengan pelanggan yang ada, diperoleh ratio jumlah pegawai per 1.000 sambungan adalah sebesar 6,67. Berdasarkan criteria penilaian yang dijelaskan dalam Kepmendagri, Nomor 47 Tahun 1999 Tentang Pedoman Penilaian Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum, ratio tersebut termasuk dalam kategori Baik, karena dengan capaian ratio tersebut, nilai kinerja yang diperoleh adalah 4 (empat). Kriteria penilaian menurut pedoman tersebut adalah sebagai berikut :

Ratio pegawai/1.000 sambungan Nilai kinerja

≤ 6 5

6 – 7 4

7 – 9 3

9 – 10 2

Gambar

Tabel 7.5 Data Kondisi  Rusunawa di Kabupaten  Solok
Tabel 7.8.  Kondisi Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
Tabel 7.11:  Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
Tabel 7.13: Lokasi Dan Luas Taman Di Alahan Panjang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Wilayah Afrika, Eropa da Asia bagian tengah dan barat tidak bisa menyaksikan momen ini, karena pada saat awal gerhana sampai akhir gerhana, dari wilayah tersebut bulan masih

Skripsi yang berjudul “Studi Fasies Pengendapan Formasi Bayah dan Formasi Batuasih Daerah Pasir Bende, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat” ini, disusun sebagai

Begitu juga dengan sifat-sifat yang telah disepakati atau kesesuaian produk untuk aplikasi tertentu tidak dapat disimpulkan dari data yang ada dalam Lembaran Data Keselamatan

Perencanaan promosi kesehatan sudah dilakukan tetapi masih banyak yang harus diupayakan, upaya advokasi sudah dilakukan tetapi belum maksimal di lihat dari pelaksanaan

Adapun bentuk dari desain input yang dirancang pada sistem pengolahan data Administrasi keuangan Panti Asuhan „Aisyiyah Pariaman diantaranya adalah Entry data donatur

Bagi penulis dan pengajar Seni Budaya (Seni Rupa) dapat mengetahui gambaran penghayatan dan daya ungkap siswa SMP (remaja) terhadap gagasan kekayaan budaya bangsa

Buy on Weakness : Harga berpotensi menguat namun diperkirakan akan terkoreksi untuk sementara Trading Buy : Harga diperkirakan bergerak fluktuatif dengan

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik Kendall’s W didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara terpaan iklan (X1) dan