• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL ILMIAH. Oleh Lamtaruli Purba RSA1C113025

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARTIKEL ILMIAH. Oleh Lamtaruli Purba RSA1C113025"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL ILMIAH

ANALISIS KETERLAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEMAMPUAN

BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA KELAS XI IPA SMAN 11

KOTA JAMBI

Oleh

Lamtaruli Purba RSA1C113025

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Artikel ilmiah berjudul: “Analisis Keterlaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri

Terbimbing dan Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Larutan Penyangga Kelas XI IPA SMAN 11 Kota Jambi” yang disusun oleh Lamtaruli Purba RSA1C113025 telah diperiksa dan disetujui.

Jambi, Juli 2017 Pembimbing I, Drs. Haryanto, M.Kes NIP. 19680313 199303 1 003 Jambi, Juli 2017 Pembimbing II, Aulia Sanova, S.T., M.Pd NIP. 19820803 200801 2 015

(3)

ANALISIS KETERLAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEMAMPUAN

BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA KELAS XI IPA SMAN 11

KOTA JAMBI Oleh

Lamtaruli1, Haryanto2, Aulia Sanova2

1

Alumni Prodi Pendidikan Kimia, Jurusan PMIPA, FKIP Universitas Jambi

2

Staf Pengajar Prodi Pendidikan Kimia, Jurusan PMIPA, FKIP Universitas Jambi email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterlaksanaan model inkuiri terbimbing serta pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada materi larutan penyangga kelas XI IPA SMAN 11 Kota Jambi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif korelasional dengan teknik pengambilan sampel Purposive sampling. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi aktivitas guru dan siswa serta lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa. Untuk melihat pengaruh keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kemampuan berpikir kritis siswa dilakukan uji signifikansi dengan uji t. Keterlakasanaan model inkuiri terbimbing oleh guru memiliki persentase sebesar 80,70% dikategorikan baik, persentase model oleh siswa sebesar 77,73% dikategorikan baik, dan persentase kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 60,56% dikategorikan cukup baik. Hubungan keterlaksanaan model inkuiri terbimbing dengan kemampuan berpikir kritis diperoleh rxy = 0,794 dengan tingkat hubungan kuat. Uji signifikansi dilakukan dengan uji t dengan diperoleh thitung > ttabel (7,614 > 1,691) dengan dk = 34 dan α = 0.05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hasil penelitian bahwa keterlaksanan model pembelajaran inkuiri terbimbing berjalan dengan baik serta terdapat pengaruh keterlaksanaan model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada materi larutan penyangga di kelas XI IPA 4 SMAN 11 Kota Jambi.

Kata kunci: Inkuiri Terbimbing, Berpikir Kritis dan Larutan Penyangga.

PENDAHULUAN

Kurikulum yang diterapkan saat ini di Indonesia adalah kurikulum 2013.

Dalam kurikulum 2013, kemampuan metakognisi merupakan salah satu standar kompetensi lulusan (SKL) dari

(4)

aspek pengetahuan yang harus dikuasai oleh siswa SMA. Berdasarkan kurikulum 2013, penguatan pola pembelajaran berpusat pada siswa.

Siswa diharapkan mampu

mengkonstruksikan pemikirannya sendiri berdasarkan pola pembelajaran berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan merupakan salah satu jenis kemampuan metakognisi dimana pola pembelajaran berpikir kritis diperkuat dengan pendekatan pembelajaran saintifik yang terdiri atas mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi,dan mengkomunikasikan, maka diharapkan kelima pokok kegiatan pembelajaran tersebut diterapkan dalam pembelajaran kimia (Isindanah dan Azizah, 2016). Sehingga dalam proses pembelajaran guru dituntut harus memberikan inovasi pada pembelajaran kimia agar siswa dapat berpikir kritis dalam upaya

memecahkan masalah dengan

pembelajaran yang lebih bermakna. Oleh karena itu, hal mendasar yang perlu diperhatikan oleh guru tidak hanya memberikan informasi tetapi juga harus menerapkan model pembelajaran. Model pembelajaran

tersebut harus mampu

mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir konstruktivis dalam mengembangkan ide dan konsep karena Suyatno (2016) menyatakan adanya indikasi dari semakin tingginya kemampuan berpikir kritis siswa maka semakin tinggi pula penguasaan konsepnya.

Untuk mengembangkan

kemampuan berpikir kritis siswa dalam proses pembelajaran kimia maka perlu dilakukan strategi-strategi pembelajaran inkuiri. Ditinjau dari sintaks model pembelajarannya

terdapat enam tahap pelaksanaan pembelajaran yang berperan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, yakni orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis,

dan merumuskan kesimpulan

(Hamdayana, 2014), dimana peserta didik benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar dan guru bukan sebagai sumber belajar, melainkan sebagai fasilitator. Oleh karena itu dikatakan model inkuiri merupakan model pembelajaran yang mampu mendorong peserta didik untuk menjadi insan yang cerdas, kritis, dan berwawasan luas (Sadia, 2014).

Inovasi model pembelajaran inkuiri yang dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Inkuiri terbimbing (Guided inquiry), yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaannya guru menyedikan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada peserta didik (Fathurrohman, 2015). Inkuiri jenis ini cocok untuk digunakan bagi peserta didik yang belum berpengalaman belajar dengan model pembelajaran inkuiri dan dapat diterapkan dalam pembelajaran mengenai konsep-konsep dan prinsip-prinsip mendasar dalam bidang ilmu tertentu misalnya pada materi larutan penyangga. Materi larutan penyangga merupakan salah satu pokok bahasan yang memerlukan penguatan pemahaman siswa, karena karakteristik dari materi larutan penyangga ini meliputi: bersifat abstrak (reaksi asam basa), pemahaman konsep (sifat larutan penyangga), bersifat riil dan aplikatif (peranan larutan penyangga), sehingga

(5)

guru harus bisa memvisualisasikannya melalui pembelajaran yang nyata agar konsep yang bersifat abstrak tersebut bisa dibuktikan. Untuk itu, materi ini membutuhkan kemampuan berpikir kritis yang perlu diajarkan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing.

Ada beberapa penelitian mengenai penerapan model inkuiri oleh Suyatno (2016) mengatakan pada pembelajaran kimia pada materi pokok larutan penyangga dengan model inkuiri dapat meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa melalui tes. Penelitian juga dilakukan oleh Fajariyah (2016) mengatakan bahwa penerapan model inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui tes kemampuan berpikir kritis pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

Dari penelitian yang telah dilakukan, tidak ada yang menganalisis keterlaksanaan model inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) yang ditinjau dari guru maupun siswa. Hubungan keterlaksanaan model sangat erat terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Maka perlu dilakukan analisis keterlaksanaan model pembelajaran ditinjau dari aktivitas guru dan siswa. Sehingga akan terlihat pengaruh penerapan model tersebut terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.

Tulisan ini akan mengungkapkan kaitan antara keterlaksanaan model inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) dan pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada materi larutan penyangga.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Deskriptif Korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple purposive sampling karena didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini ada dua jenis data yang dikumpulkan, yaitu data keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan data kemampuan berpikir kritis siswa. Kedua jenis data ini dikumpulkan dengan lembar observasi. Lembar observasi keterlaksanaan model inkuiri terbimbing) tersebut memiliki indikator sebagai berikut.

Guru Siswa

Mengkondisikan siswa secara fisik dan psikis siap melaksanakan proses pembelajaran

Mempersiapkan diri secara fisik dan psikis dalam keadaan siap memulai

pembelajaran Mengarahkan siswa

pada topik yang akan dipelajari, menginformasikan tujuan, memberikan apersepsi, dan motivasi pembelajaran Mendengarkan dan memperhatikan arahan guru dan mendengarkan apersepsi, tujuan dan motivasi pembelajaran Menghadapkan siswa pada pertanyaan apersepsi dan mengajak siswa untuk berpikir menjawabnya Masing-masing siswa menelaah dan memberikan tanggapan atas pertanyaan sesuai pengetahuan yang dimiliki Mendorong siswa untuk merumuskan permasalahan Membuat rumusan masalah yang akan dipecahkan dengan bimbingan terbatas dari guru

Menuntun siswa dalam merumuskan masalah yang sesuai dengan topik/ materi

Memiliki konsep tersendiri atas rumusan masalah yang diajukan Memberikan kesempatan pada Mencari informasi dari berbagai

(6)

siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis sumber literatur untuk menjawab rumusan masalah Membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan Membuat jawaban sementara atas rumusan masalah berdasarkan pola berpikir kritis Memberi arahan

kepada siswa untuk melakukan kegiatan penyelidikan/eksperi men dan diskusi untuk membuktikan kebenaran jawaban

Mengikuti arahan prosedur kerja yang dianjurkan dan berhati-hati Membimbing peserta didik mendapatkan informasi melalui eksperimen Melakukan kegiatan penyelidikan/ eksperimen dan diskusi kelompok untuk menjawab permasalahan Mengarahkan siswa untuk membuat laporan berdasarkan eksperimen yang dilakukan Mendapatkan informasi melalui percobaan dan menuliskan laporan hasil eksperimen pada LKS yang diberikan guru Mengarahkan siswa untuk menganalisis data eksperimen dan menguji hipotesis yang diajukan Menganalisis kecocokan masalah dan pemecahan masalah yang dipilih sesuai dengan hasil pengumpulan data Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul Membandingkan hasil praktikum, jawaban LKS dan data yang dikumpulkan Membimbing siswa untuk melakukan sesi tanya-jawab Menentukan jawaban yang dianggap diterima berdasarkan data yang dikumpulkan Memberikan penegasan untuk penguatan konsep siswa Menyampaikan keseluruhan informasi yang diperoleh dan melakukan sesi tanya-jawab dengan kelompok lain Membimbing peserta didik mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis Melakukan refleksi dan menarik kesimpulan hasil praktikum dan diskusi Menarik kesimpulan secara general dan memberikan

penguatan dan motivasi untuk belajar lebih giat lagi dan membaca materi yang akan dipelajari pada materi berikutnya.

Memperhatikan guru dan mencatat tugas yang diberikan

Adapun indikator lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa sebagai berikut.

Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Siswa

Membut rumusan masalah

Membuat hipotesis/ dugaan sederhana dengan bahasa sendiri dari suatu rumusan permasalahan

Mengidentifikasi jawaban yang mungkin Meragukan jawaban/ pendapat teman Mengklarifikasi suatu penjelasan melalui tanya-jawab dan memberikan alternatif solusi.

Mampu menjelaskan atau menyatakan hasil pemikiran berdasarkan bukti. Mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi

Mengidentifikasi hubungan dari keseluruhan informasi yang ada untuk dijadikan sebuah kesimpulan yang masuk akal.

Bersikap dan berpikir terbuka

Data yang diperoleh dianalisis untuk melihat pengaruh antara keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kemampuan berpikir kritis siswa dengan

(7)

menggunakan rumus korelasi produk moment sebagai berikut:

Namun sebelum dilakukan uji korelasi dilakukan uji kesamaan rata-rata sbb: 1 √ dan ( ) ( )

Untuk memperoleh nilai t hitung digunakan rumus sebagai berikut:

t

=

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis data hasil lembar observasi mengindikasikan bahwa guru telah melaksanakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan baik dan mengalami peningkatan setiap pertemuannya. Data yang diperoleh dirata-ratakan dengan perolehan persentase sebesar 80,70% dengan kategori baik. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel dan diagram berikut:

Tabel 1.1 Hasil Lembar Observasi Guru

Presentase Kategori

73,40% Baik

82,80% Sangat Baik

85,90% Sangat Baik

Gambar 1.1 Diagram keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing oleh guru

Sama halnya dengan

peningkatan keterlaksanaan model oleh guru, persentase keterlaksanaan model inkuiri terbimbing oleh siswa juga mengalami peningkatan disetiap pertemuannya. Hal ini terbukti pada pertemuan pertama persentase yang diperoleh adalah 72,10% dengan kategori baik kemudian meningkat pada pertemuan kedua menjadi 78,30% dengan kategori baik, dan pertemuan ketiga meningkat menjadi 82,80%. Sehingga diperoleh rata-rata sebesar 77,73% dengan kategori baik. Berarti siswa sudah mulai menerima penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing di kelas dan mampu mengikuti pembelajaran sesuai dengan sintaks model pembelajaran inkuiri terbimbing serta aktif dalam proses pembelajaran. Data ini juga didukung dengan data kualitatif, untuk melihat hasil yang didapatkan dari lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran oleh siswa dapat dilihat pada tabel 1.2 berikut ini.

73.40% 82.80% 85.90% 65.00% 70.00% 75.00% 80.00% 85.00% 90.00%

Keterlaksanaan Model

Oleh Guru

(8)

Tabel 1.2 Hasil Lembar Observasi Siswa

Presentase Kategori

73,40% Baik

82,80% Sangat Baik

85,90% Sangat Baik

Gambar 1.2 Diagram keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing oleh siswa

Data keterlaksanaan model oleh guru dan siswa diuji normalitas dan homogenitas. Setelah didapatkan data berdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji kesamaan dua rata-rata. Hasil analisis regresi diperoleh nilai t hitung sebesar 0,625 < t tabel 2,776 pada taraf signifikansi 0,05. Hal ini dapat membuktikan bahwa data keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing oleh siswa dapat mewakili data keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing oleh guru.

Sementara data lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa menunjukkan bahwa persentase kemampuan berpikir kritis siswa

meningkat pada setiap pertemuannya. Dimana persentase kemampuan berpikir kritis siswa pada pertemuan pertama sebesar 55,90% dengan kategori cukup baik, pertemuan kedua sebesar 60,80% dengan kategori cukup baik dan pertemuan ketiga menjadi 65% dengan kategori baik. Sehingga diperoleh rata-rata sebesar 60,56% dengan kategori cukup baik. Data ini juga didukung dengan data kualitatif. Untuk melihat hasil yang didapat dari lembar observasi kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilihat pada tabel 1.3 di bawah ini.

Tabel 1.3 Hasil Lembar Observasi Kemampuan Berpikir Kritis

Presentase Kategori

55,90% Cukup Baik

60,80% Cukup Baik

65% Baik

Gambar 1.3 Diagram Persentase Kemampuan Berpikir Kritis

Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk melihat hubungan

72.10% 78.30% 82.80% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00%

Keterlaksanaan Model

Oleh Siswa

55.90% 60.80% 65.00% 50.00% 52.00% 54.00% 56.00% 58.00% 60.00% 62.00% 64.00% 66.00%

Kemampuan Berpikir

Kritis Siswa

(9)

antara keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan rumus korelasi produk moment. Hasil analisis data menunjukkan tingkat hubungan kuat (r = 0,794). Untuk melihat signifikansi antara keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kemampuan berpikir kritis siswa dilakukan uji lanjut dengan uji t dengan syarat data harus normal dan homogen. hasil analisis regresi diperoleh nilai t hitung sebesar 7,614 > t tabel 1,691. Sehingga terdapat pengaruh antara keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing tehadap kemampuan berpikir kritis siswa.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing telah terlaksana dengan baik dan mengalami peningkatan pada setiap pertemuaan. Keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing tersebut memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Fajariyah, N, 2016. Penerapan Model

Pembelajaran Inkuiri

Terbimbing Untuk

Meningkatkan Kemampuan

Berpikir Kritis Sdan Prestasi Belajar Pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Siswa Kelas XI SMA AL Islam. Jurnal Pendidikan Kimia, 5(2): 89-97. 1 Surakarta.

Fathurrohman, M. 2015. Model Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Ar-Ruzz Media.

Hamdayana,J. 2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia.

Isindanah, N.S. dan Azizah, U., 2016, Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk melatih keterampilan berpikir kritis pada materi pokok larutan penyangga di kelas XI SMA Antartika Sidoarjo. Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya, ISBN: 978-602-0951-12-6. Sadia, W. 2014. Model-Model Pembelajaran Sains Konstruktivistik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Suyatno, 2016. Peningkatan

penguasaan konsep dan

keterampilan berpikir kritis siswa melalui implementasi model pembelajaran inkuiri pada materi pokok larutan penyangga. Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia, 1(1): 67-74

Gambar

Tabel 1.1 Hasil Lembar Observasi Guru
Gambar 1.2 Diagram  keterlaksanaan model   pembelajaran inkuiri terbimbing oleh siswa

Referensi

Dokumen terkait

determinan (R 2 ). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, dimana penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik non probability sampling tepatnya purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu

Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling , yaitu teknik penentuan sampel yang didasarkan atas kriteria atau pertimbangan tertentu yang dianggap

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu teknik penentuan sample berdasarkan pertimbangan terentu. Tehnik ini digunakan penelitian

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik pemilihan sampel tak acak (purposive sampling) dengan berdasarkan pada pertimbangan tertentu (judgement sampling). Jumlah

Purposive sampling adalah teknik sampling yang digunakan jika peneliti mempunyai pertimbangan – pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampelnya atau penentuan

Dimana pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dimana pengambilan sampel didasarkan pada pertimbangan hasil belajar pada semester sebelumnya dan pertimbangan