SIKAP GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERHADAP LESBIAN
(Studi Deskriptif Pada Guru Usia Madya di Yogyakarta)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.)
Program Studi Psikologi
Oleh: Dini Lukasmini NIM: 069114051
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
i
SIKAP GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERHADAP LESBIAN
(Studi Deskriptif Pada Guru Usia Madya di Yogyakarta)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.)
Program Studi Psikologi
Oleh: Dini Lukasmini NIM: 069114051
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
HALAMAN MOTTO
K itamemangberbedatapi kitajugasama
- penulis
Ujian atas keberanian tiba ketika
Kita berada dalam kelompok
Minoritas
-
Raplh Sackman
Datanglah, pelajarilah, renungkanlah, buktikan apakah
itu membawa kebahagiaan atau kehancuran
-
Sang Budha
Mereka yang punya kendali atas orang lain mungkin punya kuasa,
tapi hanya mereka yang mampu mengendalikan diri sendirilah yang
memiliki kekuatan yang sebenarnya
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Kupersembahkan karya ini untuk :
Ibuku,
Kakak & Khuyu
Ndha q
vii
SIKAP GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERHADAP LESBIAN
(Studi Deskriptif Pada Guru Usia Madya di Yogyakarta)
Dini Lukasmini
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sikap guru usia madya terhadap lesbian. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif. Responden dalam penelitian ini adalah guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berusia 40 sampai 60 tahun yang berjumlah 7 orang. Ketujuh responden berasal dari SMP negeri dan swasta yang mengampu mata pelajaran biologi, pendidikan agama, bimbingan dan konseling serta pendidikan jasmani dan kesehatan. Peneliti menentukan responden berdasarkan kecocokan konteks atau kriteria yang telah ditentukan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan sistem terbuka, dimana individu yang diwawancarai mengetahui dan menyadari bahwa mereka diwawancarai. Di samping itu, individu yang diwawancarai juga mengetahui apa maksud dan tujuan wawancara. Peneliti juga memilih untuk menggunakan wawancara yang bersifat semi terstruktur karena dalam wawancara ini peneliti membuat panduan wawancara yang akan diajukan kepada responden tetapi tidak menutup kesempatan bagi responden untuk melakukan improvisasi saat wawancara berlangsung sesuai dengan kebutuhan proses wawancara. Langkah-langkah analisis data adalah dengan menulis transkrip wawancara, membaca transkrip wawancara dengan seksama, memberikan koding, membuat kategorisasi, membuat interpretasi dan pembahasan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap guru cenderung menolak keberadaan lesbian karena lesbian dianggap melanggar norma agama dan sosial, sumber informasi lesbian berasal televisi sehingga menjadi hal yang baru dalam masyarakat serta faktor dominan penyebab lesbian berasal dari lingkungan pergaulan sehingga lesbian dapat kembali menjadi heteroseksual. Selain itu, guru cenderung memberikan transfer of value daripada transfer of knowledge terkait dengan masalah seksualitas termasuk lesbian. Guru sudah menekankan pendidikan nilai tentang seksualitas tetapi masih belum cukup dalam memberikan pengetahuan yang proporsisonal, objektif dan ilmiah mengenai persoalan lesbian.
viii
THE ATTITUDES OF JUNIOR HIGH SCHOOL TEACHERS TOWARD LESBIANS
(Descriptive Study On Middle Age Teachers In Yogyakarta)
Dini Lukasmini
ABSTRACT
This research aimed to know the attitudes of middle aged teachers toward lesbians. The type of this research is descriptive-qualitative research. Respondents in this research were 7 junior high school (SMP) teachers, aged 40 to 60 years old. All respondents came from public and private junior high school; teach biology, religious education, guidance and counseling, and also physical and health education. The Respondents was chosen base on the suitability on the context or predetermined criteria. The data collecting in this research used an open system, where respondents knew and realized that they were interviewed. In addition, respondents who were interviewed also knew what the intent and purpose of the interview. Researcher also chose to use a semi-structured interviews because in this interview, researcher made an interview guide that will be presented to the respondents, but it is possible for the researcher to improvise during the interview base on what being needed from the interview process. The steps of data analysis were; write a transcript of the interview, read the transcript of the interview carefully, provide coding, making categorization, making the interpretation and discussion of research results. The research result shown that teacher tend to reject the existence of lesbians because it was considered to break the religious and social norms, teacher got the information about lesbians from television so the issues about lesbians became a new thing in the society, also the dominant factor of lesbian came from the interaction society so a lesbians may be able to came back as heterosexual. In addition, teachers tend to give the transfer of value rather than the transfer of knowledge related to sexuality, including lesbian issues. Teachers had emphasized education about right and wrong values related to sexuality, but did not provide enough a proportional, objective and scientific knowledge about lesbian issues.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih yang telah memberikan berkat
dan kekuatan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulis
menyadari terselesaikannya karya tulis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Dr. Ch. Siwi Handayani, M.Si selaku Dekan dan dosen pembimbing
skripsi, terima kasih atas bimbingan dan dukungannya selama proses
penyelesaian skripsi ini, juga untuk diskusi dan semangatnya yang
menginspirasi saya.
2. Bapak Y. Heri Widodo, M. Psi dan bapak C. Siswo Widyatmoko, M. Psi
selaku dosen penguji pada saat ujian pendadaran skripsi. Terima kasih atas
saran dan masukan yang telah bapak berikan, semua itu amat bermanfaat
bagi perbaikan dan kemajuan karya ini.
3. Bapak Drs. Hadrianus Wahyudi, M.Si., selaku dosen pembimbing
akademik, terima kasih atas bimbingan dan dukungannya.
4. Segenap dosen-dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma,
terima kasih atas bimbingan dan segala bekal ilmu pengetahuan yang
sangat berharga.
5. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma,
khususnya Pak Gie yang selalu ramah dan memberikan senyuman yang
xi
6. Keluargaku tercinta : Ibu yang selalu mendoakan agar skripsi ini cepat
selesai, Mbak Novi, Khuyu, Simbah Putri dan Kakung serta Lek Wawe
yang selalu mendukungku dengan cara mereka sendiri
7. Sahabatku tercinta, yang selalu ada selama kita bersama-sama meraih
mimpi lewat kelas-kelas yang panas dan terkadang membosankan.
Makasih Hayu dan Jenny, kalian yang terbaik. Kalian mendahuluiku hikk
8. Makasih untuk ganjelan hatiku, dhaa, yang selalu mengingatkan aku untuk
meneruskan tulisan ini, mendekatkan kita dengan masa depan hehe.
Makasih karena hadir di saat yang tepat
9. Teman-teman KKN, Mas Bayu, Neng Ina, Riris, Bekatule Ria, Cik Yen,
Dani nDut, dan Tina, makasih ya telah menjadi bagian dalam hidupku.
Khusus Neng Ina, makasih ya buat motivasinya buat Upa hehe. Dilewatin
lagi sama eneng
10. Temanku Janto, terima kasih sudah mejadi sampah dan tempat sampahku
dan mengajakku refresing ke tempat-tempat yang indah. Kak Febri yang
telah mengenalkanku pada sosok Ve sehingga pengerjaan skripsi ini
menjadi lebih mudah. Zico yang telah meminjamkan alat perekam, terima
kasih teman. Anak-anak Max gym khususnya Ricky terima kasih atas
desakannya. Mas Sat dan Mbak Christin, terima kasih atas dukungan dan
doa kalian. Mas kun makasih yang sebesar-besarnya, tanpamu aku gak
akan bisa tidur karena masih bergelut dengan abstrak hehe.
11. Untuk para guru yang telah merelakan waktu dan hatinya membagi banyak
xii
12. Kepada Cokomarikocurcur, itheng gendut, dan nunik pratiwibago makasih
kamu telah datang ke dalam hidupku dan menyembuhkan
kerinduanku...Thanks God.
13. Semua pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang juga
telah memberikan dorongan serta bantuan baik material maupun spiritual
selama penyusunan skripsi ini. Terima kasih banyak.
Yogyakarta, 11 September 2011
Penulis,
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……….. i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING……….. ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI………... iii
HALAMAN MOTTO………. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN………. v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……… vi
ABSTRAK………. vii
ABSTRACT……… viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH……… ix
KATA PENGANTAR………. x
DAFTAR ISI……… xi
DAFTAR TABEL……… xii
DAFTAR LAMPIRAN……… xiii
BAB I. PENDAHULUAN……… 1
A. Latar Belakang Masalah……… 1
B. Rumusan Masalah……….. 10
C. Tujuan Penelitian………... 10
D. Manfaat Penelitian………. 10
1. Manfaat Teoritis………. 10
2. Manfaat Praktis……….. 10
xiv
A. Sikap………. 11
A. 1 Definisi Sikap……… 11
A. 2 Komponen Sikap………... 12
A. 3 Pembentukan Sikap………... 13
B. Homoseksual……… 18
B. 1 . Pengertian Homoseksual……….. 18
B. 2 . Lesbian……….. 21
B. 3 . Penyebab Lesbian………. . 24
C. Guru pada Tahap Perkembangan Dewasa Madya……….... 29
D. Sikap Guru Dewasa Madya terhadap Lesbian……… 30
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……… 33
A. Jenis Penelitian……….. 33
B. Batasan Istilah……… 33
C. Responden Penelitian………. 34
D. Metode Pengumpulan Data……… 34
E. Analisis Data……….. 36
F. Keabsahan Data atau Verifikasi Data………. 37
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….. 38
A. Proses Penelitian………. 38
B. Pelaksanaan Penelitian……… 39
C. Hasil Analisis Data Penelitian………. 40
D. Ringkasan Hasil Analisis Data Penelitian……… 60
xv
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……….. 80
A. Kesimpulan……… 80
B. Saran………. 81
C. Keterbatasan Penelitian……… 82
DAFTAR PUSTAKA……… 83
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Pedoman Wawancara……… 35
Tabel 2. Tabel Pelaksanaan Penelitian……… 39
Tabel 3. Demografi Responden……… 40
Tabel 4. Data Sintesis Sikap………... 63
Tabel 5. Pemahaman tentang Lesbian……… 41
Tabel 6. Sumber Informasi Lesbian……… 43
Tabel 7. Pandangan Agama terhadap Lesbian………. 45
Tabel 8. Faktor Penyebab Lesbian menurut Responden………. 46
Tabel 9. Kemungkinan Lesbian dapat Menjadi Heteroseksual Kembali…. 48 Tabel 10. Perasaan Responden terhadap Lesbian………. 50
Tabel 11. Perilaku yang Dilakukan Responden jika Dia Lesbian………… 52
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Aspek Kognitif……… 87
Lampiran 2. Aspek Afektif……….. 92
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sikap terhadap homoseksualitas sangat bervariasi dari satu budaya
ke budaya lain dan dari waktu ke waktu. Studi yang dilakukan Ford & Beach
pada masyarakat dari berbagai etnis menunjukkan beragam sikap mulai dari
ketidaksetujuan hingga toleransi dan penerimaan (Nevid, Rathus & Greene,
2003). Misalnya dalam masyarakat Amerika Serikat, pada awalnya
homoseksual dianggap sebagai suatu bentuk penyakit mental, namun setelah
American Psychiatric Association (APA) menghilangkan homoseksual dari
daftar gangguan mental, homoseksual yang mencakup gay, lesbian dan
biseksual tidak lagi dianggap sebagai gangguan mental meskipun gay dan
lesbian terus menjadi target permusuhan, ketakutan dan prasangka yang
ekstrem. Pada tahun 1973, American Psychiatric Association mengakui
bahwa homoseksualitas bukan sebuah bentuk penyakit mental dan
menghapus klasifikasi gangguan mental homoseksualitas, kecuali dalam
kasus dimana individu tersebut menganggap orientasi seksualnya adalah
abnormal (Santrock, 2002).
Namun demikian, tampaknya masyarakat tetap menganggap
homoseksual, termasuk lesbian sebagai penyakit mental. Seperti yang
diungkap oleh Ken Plummer (1992) dalam bukunyaModern Homosexualities
sebelum 1970-an menyebabkan kaum gay dan lesbian dimasukkan dalam
kategori orang-orang yang sinting dan kesepian di dunia ini (“Studi Gay”,
2000). Akan tetapi, lesbian, gay dan biseksual tidak terbukti lebih terganggu
secara psikologis dibandingkan kelompok heteroseksual. (Coleman dan
Reiss, dalam Nevid, Rathus & Greene, 2003). Keberadaan homoseksual
perempuan atau lesbian di masyarakat menjadi sesuatu hal yang idealnya
disadari dengan penuh toleransi (Manji, 2008). Terlepas diterima atau tidak
diterimanya kehadiran lesbian, masyarakat seharusnya menyadari dan
memahami bahwa terdapat sekelompok orang yang memiliki orientasi
seksual yang berbeda. Namun sayangnya lesbian masih dipandang
masyarakat awam sebagai sesuatu yang negatif.
Di Indonesia, lesbian termasuk sebagai tindakan pornoaksi, seperti
yang tertuang dalam Undang – Undang Pornografi pasal 4 ayat 1(2008).
Selain itu, Perda Sumatra Selatan tahun 2004 pasal 8 ayat 1 mengkategorikan
lesbian sebagai perilaku pelacuran. Hal ini menandakan bahwa Negara belum
memahami konsep orientasi seksual, sehingga lesbian masih dianggap
sebagai penyimpangan seksual. Undang – Undang Pornografi dan Perda
tersebut juga membuktikan bahwa lesbian diperlakukan secara diskriminatif
oleh Negara. Amoral, asusila, pembawa aib dan penyakit masyarakat
merupakan sebagian kecil dari stigma sosial yang diberikan terhadap lesbian
(Krisna, 2006). Stigma yang melekat kuat pada lesbian menjelma menjadi
perilaku diskriminatif terhadap lesbian. Stigma masyarakat dan agama masih
menentang kodrat Tuhan karena melakukan hubungan seksual yang tidak
menghasilkan keturunan. Banyak rubrik konsultasi psikologi di beberapa
majalah dan koran yang menyudutkan lesbian. Beberapa pemberitaan di
media massa, lebih menyarankan seorang lesbian untuk bisa kembali menjadi
heteroseksual. Salah satu caranya dengan lebih banyak bergaul dengan lawan
jenis dan mengurangi pergaulan dengan teman-teman homoseksual yang
dianggap dapat menularkan sifat-sifat homoseks (Kamilia, 2008). Sebagian
masyarakat merasa khawatir melihat perilaku kaum lesbian yang semakin
berani menunjukkan eksistensinya, bahkan dianggap sebagai gaya hidup yang
sedang trendi (Karisa, 2004). Kekhawatiran ini menimbulkan ketakutan yang
tidak rasional terhadap lesbian. Masyarakat kemudian merasa berhak untuk
memiliki prasangka terhadap lesbian yang terwujud dalam bentuk kekerasan
personal atau permusuhan hingga vandalism, pelecehan, dan serangan fisik
(Freiberg dan Katz, dalam Nevid, Rathus & Greene, 2003).
Kekerasan dan diskriminasi yang diterima oleh lesbian seperti
penyerangan seksual, kekerasan fisik, verbal maupun non verbal dan
perampokan mempengaruhi hubungan lesbian dengan masyarakat. Banyak
lesbian yang memilih untuk menjauhi masyarakat atau bersikap seolah-olah
dirinya heteroseksual guna menghindari perlakukan buruk masyarakat.
Lesbian lebih banyak bersikap tertutup karena menganggap masyarakat
hanya melihat sisi negatif dari lesbian saja. Penelitian yang dilakukan Herek
(1999) menunjukkan bahwa kekerasan tersebut menyebabkan timbulnya
percaya pada orang-orang yang berbuat baik, dan mempunyai perasaan
rendah terhadap penguasaan.
Ketakutan masyarakat ini muncul karena adanya anggapan bahwa
lesbian berharap untuk menjadi anggota dari gender lainnya yaitu menjadi
laki-laki, dan anggapan bahwa lesbian tidak bisa menjadi orang tua yang baik
karena anak-anak mereka akan menjadi lesbian seperti orang tuanya.
Penilaian masyarakat terhadap kaum lesbian cenderung terfokus pada
interaksi atau hubungan seksual saja, serta menganggap lesbian bertanggung
jawab terhadap epidemi AIDS (Jenny, Roesler, Poyer dan Peplau, dalam
Nevid, Rathus & Greene, 2003).
Selain itu, masyarakat umum masih menyamakan lesbian dengan
gangguan identitas gender, padahal kedua hal ini berbeda. Kaum lesbian
memiliki identitas gender yang konsisten dengan anatomi seks mereka,
dimana lesbian memiliki minat erotis atau tertarik secara seksual pada
anggota gender mereka sendiri. Hal ini berarti kaum lesbian masih merasa
dirinya sebagai wanita, dan tidak ingin menjadi anggota jenis kelamin yang
lain serta tidak merasa jijik pada alat genital mereka, seperti yang dapat kita
temukan pada orang-orang dengan gangguan identitas gender (Nevid , Rathus
& Greene, 2003). Davison (1991) dan Haldeman (1994) menambahkan
bahwa ketakutan terhadap kemungkinan akan kehilangan keluarga, teman,
karir, dan komunitas keagamaan disertai adanya diskriminasi, kekerasan
seksual serta stigma negatif dari masyarakat membuat lesbian tidak nyaman
Gender seringkali disamaartikan dengan seks atau jenis kelamin.
Gender mengacu pada dimensi sosial sebagai laki-laki atau perempuan. Fakih
(1996) menjelaskan konsep gender yang lebih mengacu pada suatu sifat yang
melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikontruksikan secara
sosial maupun kultural. Kontruksi gender tersebut adalah pria dan wanita
dianggap memiliki atribut kepribadian yang berlawanan. Pria bersifat
maskulin seperti kuat, rasional, jantan dan perkasa sedangkan perempuan
bersifat feminin seperti lemah lembut, emosional, atau keibuan. Sebagai
akibatnya perempuan diharuskan memenuhi sifat dari atribut tersebut yaitu
feminin. Sedangkan jenis kelamin (seks) merupakan pemberian (given) yakni
kita sebagai pria dan wanita (Moses, 1996). Atribut pada konsep gender dapat
dipertukarkan sedangkan jenis kelamin (seks) tidak dapat dipertukarkan.
Kontruksi gender dibentuk, disosialisasikan dan diperkuat melalui ajaran
keagamaan maupun negara melalui proses yang panjang. Sosialisasi gender
ini dianggap seolah-olah sebagai sifat biologis yang tidak bisa diubah lagi
(Fakih, 1996). Konstruksi masyarakat yang berlaku juga mengharuskan
seseorang untuk menjadi heteroseksual karena berdasarkan kontruksi tersebut
hanya satu orientasi saja yang diakui yaitu heteroseksual (Riza, 2007).
Identitas gender yaitu rasa sebagai laki-laki atau perempuan
diperoleh sebagian besar anak-anak pada usia 3 tahun melalui orang tua.
Ketika anak-anak beranjak remaja, guru mempunyai peran yang penting
dalam perkembangan remaja karena sebagian besar waktu remaja dihabiskan
perkembangan seksual, yang diperoleh melalui pelajaran biologi, bimbingan
dan konseling, pendidikan jasmani dan kesehatan serta pelajaran agama. Pada
bagian ini guru mengajarkan kepada peserta didiknya mengenai apa yang
dianggap normal dan abnormal dalam masyarakat termasuk perilaku dengan
lawan jenis. Selain itu, peran guru juga penting karena peserta didik
cenderung lebih dekat dengan gurunya dan lebih mendengarkan perkataan
guru daripada orangtuanya. Selain itu, guru menjadi orang tua kedua bagi
anak-anak.
Yogyakarta sebagai kota pelajar, memiliki tenaga pendidik yang
tidak sedikit. Menurut Data Pokok Pendidikan Kementerian Pendidikan
Nasional Republik Indonesia (DAPODIK) dari 528 SMP/ MTs, masyarakat
Yogyakarta yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik sebanyak 6.787
orang (“Dapodik”, 2011). Guru merupakan profesi yang tugasnya berkaitan
dengan keahlian, tanggung jawab, dan kesejawatan yang meliputi mendidik,
mengajar dan melatih (Suparwoto, 2004). Mendidik berkaitan dengan
pengembangan kepribadian peserta didik, mengajar lebih ditekankan pada
bidang intelektual dan kemampuan berfikir, sedangkan melatih berkaitan
dengan pengembangan ketrampilan peserta didik. Dengan kata lain guru
memberikan layanan pendidikan bagi generasi muda penerus bangsa.
Dalam proses belajar-mengajar, terjadi proses transfer of learning
dimana peserta didik mendapatkan pengetahuan atau kerangka berfikir yang
baru. Tidak jarang, guru juga memberikan sikap dan keyakinannya terhadap
dan keyakinan yang ditularkan oleh guru menjadi penting (Martínez,
Montero & Sanchez, dalam Testor et al., 2000), karena sikap dan keyakinan
yang ditunjukkan oleh guru ini terkadang diimitasi oleh muridnya. Mengingat
sikap guru dapat diimitasi oleh peserta didiknya, maka menjadi penting untuk
mengetahui bagaimana pengetahuan, perasaan dan perilaku guru terhadap
lesbian. Melalui pengetahuan guru terhadap lesbian, dapat diketahui apakah
guru telah mentransfer informasi yang proposional mengenai lesbian
mengingat hal yang berbau seksualitas atau lesbian masih dianggap ditabu.
Melalui emosi dan perasaan guru, dapat diketahui bagaimana penilaian
mereka terhadap lesbian, apakah guru cenderung membenarkan dan
memandangnya sebagai hal yang normal, atau menyalahkan dan menganggap
lesbian sebagai bagian dari penyimpangan. Dari emosi dan perasaan guru
juga dapat diketahui apakah guru merasa nyaman atau tidak saat memberikan
materi tentang seksualitas dan homoseksual. Menurut penelitian yang
dilakukan Alldred, David & Smith (2003), mereka yang berusia lebih tua
merasa tidak nyaman jika harus membicarakan hal yang berhubungan dengan
seks kepada peserta didiknya. Akibatnya para guru lebih memilih untuk
menghindar jika ditanya masalah seputar seksualitas termasuk homoseksual
meskipun materi tersebut ada dalam mata pelajaran. Ketidaknyamanan guru
ini berakibat pada terbatasnya informasi yang diberikan dan transfer
pengetahuan yang salah mengenai seksualitas. Hal ini dapat menyebabkan
peserta didik mencari informasi dari narasumber dari luar sekolah, baik
sebaya yang bukan berasal dari media pendidikan. Sedangkan melalui
perilaku guru, dapat diketahui bagaimana kecenderungan perilaku guru
terhadap seksualitas termasuk homoseksual, apakah cenderung memihak atau
tidak menolak.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas,
peneliti ingin mengetahui bagaimana sikap guru terhadap lesbian. Guru
mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi siswa untuk
mengembangkan sikap penerimaan dan penghormatan ataupun penolakan
terhadap keanekaragaman orientasi seksual, yang dilakukan melalui proses
transfer informasi maupun imitasi sikap guru oleh peserta didiknya, dimana
sikap guru ini juga dipengaruhi oleh stigma negatif yang melekat pada
lesbian, keengganan memberikan informasi yang berkaitan dengan
seksualitas, karena hal – hal yang berkaitan dengan seksualitas masih
dianggap tabu. Farr (Testor et al., 2000) menyatakan bahwa guru adalah
kelompok profesional yang mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan.
Hal ini berarti bahwa guru mempunyai tanggung jawab untuk memberikan
informasi yang proporsional, obyektif dan ilmiah mengenai seksualitas
termasuk informasi mengenai lesbian.
Secara khusus, penelitian ini dilakukan di Yogyakarta dimana
masyarakatnya terdiri dari berbagai macam etnis sehingga pandangan
masyarakatnya akan cukup bervariasi. Selain itu, responden penelitian ini
adalah guru yang termasuk pada usia tahap perkembangan dewasa madya (40
usia ini diharapkan/diasumsikan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang
cukup baik dalam memberikan informasi mengenai seksualitas termasuk
lesbian dan mengampu pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan
seksualitas, seperti guru biologi, guru pendidikan agama, guru bimbingan dan
konseling serta guru pendidikan jasmani dan kesehatan.
Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena penelitian tentang
lesbian masih sangat sedikit di Indonesia. Penelitian-penelitian sebelumnya
lebih terfokus pada kondisi psikis para lesbian, seperti kesepian, motivasi,
ataupun relasi dengan orang lain, dan jarang ada yang meneliti tentang sikap
guru dimana guru mempunyai peran penting dalam pembentukan persepsi/
sikap masyarakat umum terhadap lesbian. Penelitian yang dilakukan Testor
dan kawan-kawan (2010) mengatakan bahwa guru merasa sangat sensitif
terhadap isu keanekaragaman dalam arti lebih luas (etnis, budaya, seksual,
dll) namun dalam penelitannya 88% guru tidak menunjukkan sikap
berprasangka terhadap gay dan lesbian. Hal ini dikarenakan adanya
pengalaman kedekatan dengan pria gay atau lesbian sehingga mengurangi
kesenjangan antara nilai-nilai pribadi dan perilaku serta prasangka
homophobic. Mengingat pentingnya mempelajari tingkat prasangka terhadap
gay dan lesbian dalam sekelompok orang dengan bertanggung jawab
terhadap pendidikan maka penelitian ini menarik untuk dilakukan. Hal ini
dikarenakan guru menjadi sentral dari pembentukan sikap masyarakat
terhadap lesbian. Selain itu, posisi kaum lesbian tidaklah menguntungkan
saja. Terlepas diterima atau tidak diterimanya kehadiran lesbian, masyarakat
seharusnya menyadari dan memahami bahwa terdapat sekelompok orang
yang memiliki orientasi seksual yang berbeda. Peneliti berharap adanya
perubahan sosial dalam masyarakat yaitu masyarakat dapat menerima
perbedaan orientasi seksual.
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah gambaran sikap guru terhadap lesbian?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
Mengetahui gambaran sikap pada guru terhadap lesbian.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Memberikan suatu wacana tambahan bagi dunia Psikologis,
khususnya Psikologi Sosial dan Psikologi Pendidikan mengenai tema
lesbian dan kegunaannya dalam melihat permasalahan psikologis di
sekitarnya.
2. Manfaat Praktis
Memberikan wawasan serta wacana baru bagi para guru atau
institusi terkait, agar memberikan pendidikan seks yang proporsional
11 BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Pada bagian ini akan dideskripsikan tinjauan teoritis yang berhubungan
dengan topik penelitian. Secara garis besar pada bab ini akan diuraikan: sikap
yang terdiri dari definisi, komponen dan faktor pembentuk sikap, homoseksual
yang terdiri dari lesbian dan faktor penyebab lesbian, guru usia madya dan
gambaran sikap guru terhadap lesbian. Bagian ini akan membantu peneliti
memberikan dasar teoritis dalam memahami apa yang dipikirkan, apa yang
dirasakan, dan apa yang akan dilakukan oleh responden, dalam hal ini guru usia
madya terhadap keberadaan lesbian.
A. Sikap
A.1. Definisi Sikap
Berkowitz (Azwar, 1995) mengatakan bahwa sikap adalah suatu
bentuk evaluatif atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu
obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun
perasaan tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut. Menurut
skema triadic (triadic schema), Secord & Backman (Azwar, 1995)
mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan
(afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi)
seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. Menurut
dunia sosial. Seringkali sikap kita ambivalensi-mengevaluasi objek
sikap baik secara positif maupun negatif.
A.2. Komponen sikap menurut Sears (1988) adalah :
a. Komponen kognitif yaitu terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki
seseorang mengenai obyek sikap tertentu-fakta, pengetahuan, dan
keyakinan tentang obyek. Persepsi merupakan proses pengamatan
seseorang yang berasal dari aspek kognisi. Persepsi ini dipengaruhi
oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan
pengetahuan. Menusia mengamati suatu objek psikologik dengan
kacamatanya sendiri yang diwarnai oleh nilai dari kepribadiannya.
Objek psikologik ini dapat berupa kejadian, ide atau situasi tertentu.
Faktor pengalaman, proses belajar dan sosialisasi memberikan bantuk
dan struktur terhadap apa yang dilihat, sedangkan pengetahuan dan
cakrawalanya memberikan arti terhadap objek psikologik tersebut.
Melalui aspek kognisi ini akan timbul ide, kemudian konsep
mengenai apa yang dilihat berdasarkan nilai keyakinan (belief)
terhadap objek tersebut.
b. Komponen afektif yaitu terdiri dari seluruh perasaan atau emosi
seseorang terhadap obyek, terutama penilaian.
c. Komponen perilaku/ konatif yaitu terdiri dari kesiapan seseorang
untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap
Dari pendapat beberapa ahli di atas, peneliti menggunakan pendapat
Secord & Backman yaitu skema triadic (triadic schema). Menurut skema
triadic sikap merupakan keteraturan antara kognitif, afektif, dan konatif
yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku
terhadap suatu objek atau aspek di lingkungannya. Dalam konteks penelitian
ini, peneliti ingin melihat bagaimana pengetahuan (kognitif), perasaan dan
emosi (afektif), serta kesiapan untuk bertindak (konatif) pada guru usia
madya dalam memandang keberadaan lesbian.
A.3. Pembentukan Sikap
Dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola
sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya.
Berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap (Azwar, 1995)
adalah :
a. Pengalaman pribadi
Apa yang dialami akan membentuk dan mempengaruhi
penghayatan individu terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan
menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk mempunyai
tanggapan dan pengha yat an, ses eorang harus mempun yai
pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Apakah
penghayatan itu kemudian akan membentuk sikap positif ataukah
sikap negatif akan tergantung pada berbagai faktor lain. Akan tetapi,
pengalaman sama sekali dengan sesuatu objek psikologis cenderung
akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut.
Pembentukan kesan atau ungkapan terhadap objek meruapakan
proses kompleks dalam diri individu yang melibatkan individu yang
bersangkutan, situasi dimana tanggapan itu terbentuk, dan atribut
atau ciri objek yang dimiliki oleh stimulus.
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman
pribadi harus melalui kesan yang kuat. Karena itu sikap akan lebih
mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam
situasi yang melibatkan faktor emosional.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang lain di sekitar individu merupakan salah-satu diantara
komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap individu. Seseorang
yang dianggap penting, seseorang yang diharapkan persetujuannya
bagi setiap gerak tingkah dan pendapat individu, seseorang yang
tidak ingin dikecewakan, atau seseorang yang berarti khusus bagi
individu, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap terhadap
sesuatu. Diantara orang yang biasanya dianggap penting bagi
individu adalah orang tua, orang yang statusnya tinggi, teman
sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan
lain-lain.
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap
penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan
untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan
orang yang dianggap penting tersebut.
c. Pengaruh Budaya
Kebudayaan dimana individu hidup dan dibesarkan
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap. Tanpa
disadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap
individu terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai
sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayan pula lah yang
memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota
kelompok masyarakat asuhannya, dan hanya kepribadian individu
yang kuat saja lah yang dapat memudarkan dominasi kebudayaan
dalam pembentukan sikap individual.
d. Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa
seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dll. Mempunyai
pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang.
Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media
massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat
mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai
sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya
informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif
dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan
keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri
individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara
sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, diperoleh dari
pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajarannya-ajarannya.
Dikarenakan konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan
sistem kepercayaan, maka tidaklah mengherankan kalau pada
gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan
sikap individu terhadap sesuatu hal. Apabila terdapat sesuatu hal
yang bersifat kontroversial, pada umumnya orang akan mencari
informasi lain untuk memperkuat posisi sikapnya atau mungkin
juga orang tersebut tidak mengambil sikap memihak. Dalam hal
seperti itu, ajaran moral yang diperoleh dari lembaga pendidikan
atau dari agama seringkali menjadi determinan tunggal yang
menentukan sikap.
f. Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan
dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang suatu bentuk
berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau penglihatan
bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan
sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang,
akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan
bertahan lama.
Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa faktor yang berperan
dalam pembentukan sikap antara lain adalah pengalaman pribadi, pengaruh
orang lain yang dianggap penting, pengaruh budaya, media massa,
lembaga pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosional.
Pengalaman pribadi adalah apa yang dialami oleh seseorang akan
meninggalkan kesan baik itu positif atau negatif. Sikap akan terbentuk jika
pengalaman tersebut mempunyai kesan yang kuat dan melibatkan faktor
emosional. Pengaruh orang lain yang dianggap penting seperti orang tua
atau orang yang statusnya lebih tinggi akan mudah mempengaruhi sikap
karena individu tersebut biasanya memiliki keinginan untuk berafiliasi dan
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut. Faktor
pengaruh budaya berkaitan dengan kebudayaan yang telah mewarnai sikap
anggota masyarakatnya dan memberi corak pengalaman bagi anggota
masyarakatnya. Media massa berhubungan dengan pengaruhnya yang
besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang serta dapat
memberi sugesti yang mengarahkan pada opini seseorang. Bila sugesti
terjadi cukup kuat maka akan memberi dasar afektif yang mengarah
pada sikap tertentu. Lembaga pendidikan dan lembaga agama mengacu
diri individu. Dikarenakan konsep moral dan ajaran agama sangat
menentukan sistem kepercayaan, maka tidaklah mengherankan kalau
pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam
menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal. Sedangkan pengaruh
faktor emosional yaitu suatu bentuk sikap yang terkadang didasari oleh
emosi yang digunakan sebagai penyalur frustasi. Sikap demikian dapat
bersifat sementara.
B. Homoseksual
B.1. Pengertian Homoseksual
Istilah homoseksual pertama kali dikenal dalam bidang ilmu
psikiatri di Eropa untuk mengacu pada suatu fenomena psikoseksual
yang berkonotasi klinis (Oetomo, 1995). Homoseksualitas adalah
orientasi seksual yang ditandai oleh adanya minat erotis, adanya
pembangunan hubungan romantik dengan individu dari gendernya
sendiri (Nevid, Rathus & Greene, 2003). Menurut Supratiknya (1995)
homoseksual adalah perilaku seksual yang ditujukan pada pasangan
sejenis.
Homoseksual berbeda dengan waria. Waria merupakan laki-laki
yang berpenampilan seperti wanita. Mereka merasa terjebak dalam tubuh
yang salah. Mereka memperoleh kesenangan dan kenikmatan dengan
memainkan peran sosial lawan jenisnya, yaitu perempuan sehingga
secara fisik mereka berusaha mengadakan perubahan sesuai dengan
dan suara yang lembut (Supratiknya, 1995). Manshur 1981 (dalam
Wahyuningtyas, 2003) berpendapat bahwa keinginan waria untuk
memakai pakaian dan atribut wanita bukan sekedar keinginan
berperilaku sebagai wanita, namun merupakan dorongan untuk
benar-benar menjadi seorang wanita karena adanya gangguan identitas gender
yang merasa bahwa alat kelaminnya tidak cocok dengan keadaan
psikisnya.
Homoseksual dibedakan menjadi dua, yaitu gay untuk menyebut
kaum homoseks sesama laki-laki yang orientasi seksnya pada sesama
laki-laki, danlesbianuntuk menyebut kaum homoseks perempuan yang
ori ent asi s eksn ya pada s es am a perempuan. Ada dua pandangan
yang di pakai unt uk mem ahami fenom ena homoseksual, (Oetomo,
2003). Pandangan pertama disebut essentialism, yang cenderung
memahami homoseksual sebagai keadaan pribadi seseorang yang
merupakan sesuatu yang terberi (given), tetapi justru menghadapi
tantangan dari masyarakat. Pandangan ini banyak didukung oleh para
aktivis gerakan lesbian dan gay yang berpegang pada ilmu biologis
dimana homoseksual disebabkan oleh kurangnya hormon seksual,
perbedaan struktur otak dan bawaan genetik (Huffman, 1997).
Pandangan kedua disebut pandangan sosio-kontruksionisme (sosial
constructionism), yang menganggap fenomena homoseksual sebagai hasil
konstruksi sosial. Pengaruh lingkungan dan pengalaman juga ikut
Anderson (Oetomo, 2003) mengatakan bahwa realitas homoseksual
di Indonesia sudah ada sejak masa lampau sampai sekarang. Oetomo
(1991), misalnya menunjukkan tradisi yang ada di Ponorogo, Jawa
Timur dalam kehidupan warok, orang sakti, yang memiliki hubungan
dengan remaja sesama jenis pasangannya, yang disebut gemblak, yang
diperlakukannya sebagai pengganti pasangan lawan jenis. Dari tipologi
sejarah tentang homoseksual tersebut dapat disimpulkan bahwa
keberadaan kaum homoseksual pada jaman dahulu dapat diterima
bahkan dihormati oleh masyarakat karena merupakan suatu hubungan
yang mempunyai tujuan tertentu yang berkaitan dengan budaya,
pemerintahan, seni serta kepercayaan suatu masyarakat pada daerah
tertentu.
Setelah agama muncul eksitensi homoseksual dianggap sebagai
perilaku abnormal. Dalam ajaran agama apapun, dikatakan bahwa
perilaku homoseksual dianggap menyimpang. Pada agama Islam,
praktek homoseksual tercatat pada riwayat nabi Luth yang dikisahkan
dalam al-Quran surat al-A'raaf juz 8 ayat 80-85. Dalam ajaran Kristen
Protestan, alkitab secara tegas menunjukkan bahwa homoseksualitas
adalah dosa, tetapi alkitab tidak menyatakan bahwa para pelakunya
bebas diperlakukan dalam ketidakadilan seperti yang terjadi akhir-akhir
ini. Contoh ayat-ayat dalam alkitab yang menolak hubungan
homoseksual adalah Roma 1:24-27, Imamat 18:22, Imamat 20:13, Yudas
homoseksual adalah sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam dan
penuh dosa, sementara keinginan dan nafsu homoseksual adalah suatu
kelainan. Pada ajaran agama Buddha homoseksualitas dianggap sebagai
halangan untuk mencapai kesucian batin pada kehidupan saat itu
sehingga tidak dapat mengembangkan pandangan terang (vipassana)
akibat adanya kekotoran dalam batinnya. Dalam agama Hindhu
homoseksual disejajarkan dengan zoophilia yaitu hubungan seksual
dengan binatang. Homoseksualitas, seperti halnya orientasi seksual lain
yang dianggap menyimpang, memang diberi tafsiran sebagai abnormal
dan immoral sehingga homoseksualitas menarik dipelajari karena represi
terhadapnya bisa memberikan indikasi mengenai nilai dan sikap suatu
masyarakat terhadap seksualitas pada umumnya (Suryakusuma, 1991).
B.2. Lesbian
Lesbian adalah homoseksual perempuan yang merupakan suatu
hubungan sosial maupun seksual diantara sesama perempuan, lesbian
mencintai sesama perempuan, memilih sesama perempuan sebagai
pasangan hidupnya dan memiliki keterikatan secara emosional kepada
perempuan (Dewi, 2003). Menurut Ferguson (Crawford, 2000) lesbian
adalah perempuan yang memiliki hasrat seksual dan emosi kepada
perempuan lain atau perempuan yang secara sadar mengidentifikasikan
dirinya sebagai lesbian.
Lesbian berasal dari kata Lesbos. Lesbos adalah nama sebuah
sendiri adalah seorang perempuan yang dikenal sebagai pecinta
perempuan dan hidup di jaman Yunani kuno (550 SM). Sappho lalu
dikenal dengan nama Sapphosm (Cunnilingus) karena dikaitkan
dengan perilaku hidup dalam kegiatan seksualnya (“Etimologi”, 2010).
Kemudian Kartono (1992) membagi lesbian menjadi 2, yaitu :
1. Wanita yang menunjukkan banyak ciri-ciri kelaki-lakian, baik
dalam susunan jasmani dan tingkah lakunya, maupun pemilihan
objek erotiknya. Bentuk tubuh wanita tipe ini banyak miripnya
dengan bentuk tubuh pria. Pada beberapa orang wanita bentuk alat
kelaminnya tidak sempurna atau hermaproditis.
2. Wanita yang tidak memiliki tanda-tanda kelainan fisik. Jadi mereka
itu memiliki konstitusi jasmaniah sempurna wanita. Adapun
tanda-tanda inverse (pembalikan) itu diakibatkan oleh faktor-faktor
psikologis.
Goodenough, Kagan dan Watson (Kristantini, 1991) menganggap
bahwa peran merupakan faktor yang penting dalam perkembangan
laki-laki dan perempuan. Masyarakat mengharapkan laki-laki dan
perempuan melakukan peran yang telah dicitrakan. Laki-laki memiliki
sifat maskulin seperti agresif, mandiri, dan tangkas dalam aktivitas fisik.
Sedangkan perempuan memiliki sifat feminine seperti patuh,
lemah-lembut, dan sopan. Namun pada kenyataannya ada perempuan memiliki
Kristantini (1991) menerangkan bahwa Tomboy adalah suatu
gejala di mana kegemaran dan aktivitas yang dipilih, biasanya
diasosiasikan dengan anak laki-laki. Disini, anak perempuan
memainkan peran sebagai laki-laki, yaitu:
a. Perempuan memiliki keengganan yang menetap terhadap
kegiatan-kegiatan perempuan dan keengganan untuk
menjadikan perempuan sebagai teman bermain
b. Perempuan memiliki kecenderungan suatu pilihan yang pasti untuk
bergabung dengan anak laki-laki dan melakukan kegiatan-kegiatan
anak Iaki-laki.
c. Tumbuhnya suatu kegemaran untuk memakai pakaian model
Iaki-laki. Hal ini memperkuat rasa maskulinitasnya.
Pada lesbian dikenal peran-peran yang dilakukan oleh mereka.
Istilah-istilah bagi para lesbian ada tiga jenis yaitu :
1. Butchataubutchy, biasanya dilabelkan pada pasangan yang lebih
dominan dalam hubungan seksual. Butch lebih digambarkan
sebagai sosok yang tomboy, agresif, aktif, melindungi dan biasanya
berlaku sebagai laki-laki.
2. Femme,kataFemmedigunakan dalam komunitas transgender
(gender yang berpindah-pindah, misalnya dulu laki-laki lalu
menjadi perempuan). Kata ini berasal dari bahasa Perancis yang
berarti “as a women”, tapi oleh banyak kalangan diganti menjadi
yang sangat peminim (kewanitaan). Dengan memakai baju seperti
wanita dan berprilaku sebagai wanita. Dalam hubungan lesbian,
femmeini berperan sebagai sang wanita.
3. Andro,dilabelkan pada orang yang diwaktu-waktu tertentu bisa
berperan sebagaibutchyataufemme.
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
lesbian merupakan suatu hubungan sosial maupun seksual diantara
sesama perempuan, lesbian mencintai sesama perempuan, memilih
sesama perempuan sebagai pasangan hidupnya dan memiliki
keterikatan secara emosional kepada perempuan. (Dewi, 2003). Pada
lesbian juga dikenal tiga macam peran yaitubutchy,femme, danandro.
Butchy yang digambarkan sebagai sosok yang tomboy, agresif, aktif,
melindungi dan biasanya berlaku sebagai laki-laki. Femme
digambarkan sebagai sosok yang sangat feminim (kewanitaan),
memakai baju seperti wanita dan berperilaku sebagai wanita.
Sedangkan andro diberikan pada orang yang diwaktu-waktu tertentu
bisa berperan sebagaibutchyataufemme.
B.3. Penyebab Lesbian
Dari beberapa artikel, referensi, dan juga laporan-laporan
penelitian, diperoleh beberapa keterangan yang diperkirakan
menjadi penyebab seorang perempuan menjadi lesbian,
Pangkahila (2000) mengemukakan faktor-faktor penyebab
lesbian antara lain:
1. Faktor biologis, yaitu adanya kelainan di otak atau genetik.
2. Faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan dalam
perkembangan psikoseksual pada masa kanak-kanak.
3. Faktor sosiokultural, yaitu faktor adat-istiadat yang
memberlakukan hubungan homoseksual dengan alasan
tertentu yang tidak benar.
4. Faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang
memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis
menjadi erat. Contohnya, seorang perempuan mengalami
kegagalan pacaran berkali-kali dengan lawan jenis
Kisker (Kristantini, 1991) menjelaskan tentang faktor
penyebab lesbian dalam teori :
a. Teori biologis, yaitu penyebab lesbian adalah sejak lahir
dan berkaitan dengan mekanisme genetika yang melibatkan
berapa banyak derajat kelaki-lakian (maleness) dan
perempuan (femalenenss).
b. Teori psikologis, yaitu periku seksual diperoleh melalui
pengkondisian pada awal masa kehidupan dimana dapat
memberikan pengaruh yang besar pada pilihan terhadap
c. Teori sosiologis, yaitu menekankan adanya kesalahan pada
hubungan keluarga dengan bapak atau ibu yang bersifat
patogenik.
Kenyon (Widiastuti, 1998) mengemukakan 6 faktor yang
dapat menyebabkan seseorang menjadi lesbian, yaitu:
a. Faktor Bilogis
Pangkahila (2000) mengemukakan bahwa faktor
biologis, yaitu adanya kelainan di otak atau genetik. Hal ini
didukung oleh penelitian yang dilakukan Bailey &
Benishay (1993) menunjukkan bahwa homoseksualitas
mengalir dalam keluarga dan konkordansi untuk
homoseksualitas lebih banyak dijumpai di antara kembar
identik dibanding kembar fraternal atau saudara kandung
(Durand & Barlow, 2007, p. 226). Disini homoseksualitas
dihubungan dengan paparan hormon yang berbeda,
terutama tingkat androgen yang atipikal dalam rahim
(Ehrhard, Gladue, Green dan Hellman, dalam Durand &
Barlow, 2007) dan bahwa struktur otak pada orang-orang
homoseksual dan heteroseksual mungkin berbeda (Allen
dan GBorski, Byrne et al., & LeVay, dalam Durand &
Barlow, 2007). Selain itu, kemungkinan adanya gen
homoseksualitas di kromosom X (Hamer, Hu, Magnuson,
b. Gaya hidup
Jaman sekarang banyak perempuan menjadi perempuan
karir yang memilih untuk tidak menikah terlebih dahulu.
Mereka tetap mempunyai kebutuhan keintiman dengan
orang lain, meskipun mereka menganggap bahwa
pernikahan akan membuat karirnya terhambat. Antar
mereka akan saling mengisi kekosongan sampai akhirnya
melakukan hubungan seks, yang jelas mereka tidak
menanggung resiko hamil sehingga tetap menjadi
perempuan karir. Bila kebiasaan ini dilanjutkan,
lama-kelamaan hal ini menjadi gaya hidup, karena secara
psikologis orang ingin mengidentifikasi diri dengan
kelompok yang dianggap eksklusif tersebut.
c. Perilaku-perilaku Seksual
Banyaknya variasi perilaku seksual yang ada pada
awalnya dilakukan oleh beberapa orang, namun akhirnya
menyebar karena adanya informasi dari masyarakat
maupun media massa lainnya, sehingga orang ingin
mencoba hal yang berbeda dan baru.
d. Latar Belakang Keluarga
Ayah yang dominan dan Ibu yang pasif, dengan
demikian anak perempuan tidak merasakan kehadiran ibu
bagi anak perempuan dan akibatnya anak perempuan
mengambil sifat-sifat ayahnya termasuk mencintai
perempuan. Hal lainnya adalah orangtua menginginkan
anak laki-laki, tetapi yang lahir anak perempua dan
orangtua memperlakukan anak perempua tersebut seperti
anak laki-laki.
e. Kekecewaan pada laki-laki
Seorang perempuan mendapatkan perlakuan tidak
baik dari laki-laki , misalnya dikhianati, tidak dihargai, dan
tidak diperlakukan sebagai pendamping tetapi lebih sebagai
perempuan yang harus selalu siap melayani.
Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi suatu pengalaman yang
menyakitkan perempuan.
f. Lingkungan
Lingkungan setempat yang dominan oleh kaum
perempuan sejenis dapat membuat perempuan terdorong
menjadi lesbian, misalnya di penjara.
Kerentanan biologis menyeluruh ini kemudian
berinteraksi dengan cara yang kompleks dengan berbagai
kondisi lingkungan, ciri kepribadian, dan
contributor-kontributor lainnya untuk menetapkan berbagai pola perilaku
Dari berbagai pandangan tersebut, teori tentang penyebab
lesbian kemudian disimpulkan melalui dua tolak ukur yaitu
karena pengaruh faktor internal seperti adanya kromosom yang
berbeda atau faktor genetik dan faktor eksternal seperti adanya
gangguan dalam perkembangan psikoseksual pada masa
kanak-kanak melalui imitasi yang salah terhadap peran orangtua,
kesalahan pada hubungan keluarga yang bersifat patogenik dan
keadaan lingkungan termasuk pengkondisian dalam perilaku
seksual, kekecewaan pada laki-laki, serta gaya hidup.
C. Guru pada Tahap Perkembangan Dewasa Madya
Dalam penelitian ini, responden yang diambil berusia antara 40-60
tahun dan berprofesi sebagai guru. Dalam tahap perkembangan manusia,
responden berada pada tahap perkembangan dewasa madya (Hurlock, 2001).
Masa dewasa madya merupakan masa transisi dimana mereka akan
meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki
suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan
perilaku baru (Hurlock, 2001). Usia dewasa madya memainkan peranan
penting dalam hubungan antar generasi (Brody, Crosby&Ayers, Richard,
Bengston&Miller, dalam Santrock, 2002). Menurut Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, guru merupakan pendidik
professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
tugas guru adalah mendidik yang berkaitan dengan pengembangan
kepribadian peserta didiknya. Menurut McAdams, (1990) usaha ini dapat
ditempuh melalui generativitas yang mencakup rencana-rencana atas apa
yang mereka dapat kerjakan guna meninggalkan warisan pada generasi
selanjutnya seperti ilmu pengetahuan atau nilai-nilai tertentu (Santrock,
2002, p.167). Kotre (1984) berpendapat pengembangan generativitas dapat
dilakukan dengan beberapa cara yang berbeda (Santrock, 2002, p.168).
Misalnya melalui generativitas parental, guru dapat memberikan asuhan dan
bimbingan kepada murid-muridnya. Melalui generativitas kultural, mereka
menciptakan, merenovasi, atau memelihara aspek kebudayaan tertentu yang
akhirnya bertahan. Melalui generativitas, guru berusaha untuk
mempromosikan dan membimbing generasi berikutnya melalui aspek-aspek
penting kehidupan seperti menjadi orang tua (parenting), mengajar,
memimpin, dan melakukan sesuatu yang menguntungkan masyarakat
(McAdams, 1990 dalam Santrock, 2002).
D. Sikap Guru Dewasa Madya terhadap Lesbian
Sikap guru terhadap lesbian diartikan sebagai pengetahuan, emosi dan
perasaan, serta kecenderungan bertindak yang dimiliki guru terhadap
keberadaan lesbian. Sikap antara satu orang dengan lainnya dapat berbeda
meskipun objek sikap yang dihadapi sama. Hal ini disebabkan karena sikap
sendiri merupakan suatu bentuk pandangan dan tiap-tiap individu
guru satu dengan lainnya yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya saja karena pengetahuan tentang
informasi lesbian itu sendiri. Pengetahuan tersebut tentunya juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti budaya atau sistem nilai yang
berlaku. Sistem nilai yang berlaku di Indonesia adalah bahwasanya lesbian
memang diberi tafsiran sebagai abnormal dan immoral karena dianggap
menyimpang (Suryakususma, 1991). Dalam ajaran agama manapun praktek
homoseksual tidak dibenarkan. Hal inilah yang kemudian menjadi pegangan
bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk guru. Berdasarkan
sistem nilai tersebut, guru berkewajiban untuk tidak hanya mendidik dan
mengajar materi pelajaran terhadap peserta didiknya namun juga
membimbing dan mengarahkannya peserta didik pada nilai-nilai moralitas.
Mengingat sikap guru dapat diimitasi oleh peserta didiknya, maka menjadi
penting mengetahui bagaimana pengetahuan guru terhadap lesbian. Melalui
pengetahun guru terhadap lesbian akan dapat diketahui apakah mereka telah
mentransfer informasi yang proposional mengenai lesbian mengingat hal
yang berbau seksualitas atau lesbian masih dianggap ditabu. Menurut
penelitian yang dilakukan Alldred, David & Smith, P (2003) mengatakan
bahwa mereka yang berusia lebih tua merasa tidak nyaman jika harus
membicarakan hal yang berhubungan dengan seks kepada peserta didiknya.
Akibatnya mereka lebih memilih untuk menghindar jika ditanya masalah
seputar seksualitas termasuk homoseksual. Hal ini berakibat pada
tentang seksualtas. Hal ini menyebabkan peserta didik mencari informasi
dari narasumber dari luar, baik dari luar guru maupun orang tua misalnya
televisi, film, atau teman sebaya yang bukan berasal dari media pendidikan.
Kurangnya informasi yang guru miliki otomatis berdampak pada kurangnya
pengetahuan peserta didik mengenai pendidikan seksual, terutama yang
berhubungan dengan homoseksual. Kurangnya informasi yang dimiliki guru
selaku tenaga pendidik berimbas pada pengetahuan yang mereka ajarkan dan
sikap yang mereka miliki. Akibatnya, akan lebih banyak sikap negatif yang
tertransfer pada peserta didik berkaitan dengan seksualitas khususnya
homoseksual/ lesbian. Akan lebih baik jika ada keinginan dari pihak sekolah
atau guru untuk memikirkan kembali pendidikan seks guna memasukkan
informasi lebih lanjut mengenai homoseksual dan pelatihan yang lebih baik
bagi para guru. Hal ini dilakukan agar pengetahuan masyarakat tentang
lesbian bertambah sehingga stigma negatif terhadap lesbian berkurang.
Selain itu, hal ini juga dimaksudkan agar para pendidik seperti guru tidak
33 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kualitatif-deskriptif. Bogdan dan Taylor (1975) mendefinisikan
metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau dari orang-orang dan perilaku yang
dapat diamati (Moleong, 2000, p.4). Pendekatan diarahkan pada latar dan
individu secara utuh/ holistik. Jadi tidak boleh mengisolasikan individu
atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis tetapi perlu
memandangnya sebagai suatu keutuhan. Penelitian deskriptif sendiri
adalah penelitian yang bertumpu atau menitikberatkan pada narasi
(deskripsi) untuk mengungkap kompleksitas permasalahan yang di teliti
(Poerwandari, 2001). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan
secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta atau keadaan
tertentu, yaitu mengenai gambaran pemahaman tentang lesbian pada guru
Sekolah Menengah Pertama usia dewasa madya.
B. Batasan Istilah
Sikap guru terhadap lesbian adalah apa yang dipikirkan (aspek
kognitif), apa yang dirasakan (aspek afektif ), serta apa yang dilakukan
C. Responden Penelitian
Responden dalam penelitian ini diambil dengan cara purposive
sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan pada kriteria tertentu
yang ditentukan oleh peneliti (Sulistyo, 2006). Penelitian ini hendak
menemukan gambaran yang dimiliki oleh guru mengenai lesbian. Selain
itu peneliti juga menetapkan beberapa kriteria, yaitu :
1. Berprofesi sebagai guru Sekolah Menengah Pertama
2. Mengampu mata pelajaran Bimbingan dan Konseling, Pendidikan
Agama, Ilmu Pengetahuan Alam khususnya Biologi, dan
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Hal ini dikarenakan
pada mata pelajaran tersebut memungkinkan ditemukannya
masalah seksualitas termasuk tentang lesbian.
3. Berusia 40 – 60 tahun, yang termasuk pada usia tahap
perkembangan dewasa madya (Hurlock, 2001).
4. Responden berdomisili di Yogyakarta.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan
metode wawancara. Wawancara didefinisikan sebagai situasi peran
antar-pribadi bersemuka (face to face) ketika seseorang, yakni pewawancara,
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh
jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada
menegaskan tujuan wawancara (Moleong, 2007, p.8) antara lain :
mengkontruksi mengenai orang, kejadian atau perasaan-perasaan,
menverifikasi data, mengungkap masa lalu dan harapan di masa datang.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur
dimana peneliti membuat pedoman umum wawancara namun pertanyaan
yang diajukan tidak berdasarkan urutan yang pasti tetapi berkembang dan
disesuaikan dengan situasi responden saat menjawab. Wawancara dengan
pedoman umum memungkinkan terjadinya proses wawancara yang
mendalam (Poerwandari, 2005).
Tabel 1 Pedoman Wawancara
Hal yang diungkap Bentuk pertanyaan 1. Sikap terhadap lesbian
a. Aspek Kognisi
b. Aspek Afektif
c. Aspek Konasi
1. Saat mendengar kata lesbian, apa yang langsung terlintas dipikiran anda ? 2. Lesbian itu apa ?
3. Darimana anda mengetahui istilah lesbian ?
4. Faktor apa saja yang menyebabkan orang menjadi lesbian ?
5. Menurut anda lesbian itu pilihan atau memang dari sananya ?
6. Menurut anda lesbian bisa “disembuhkan” atau tidak ?
7. Bagaimana pandangan agama yang dianut berkaitan dengan lesbian?
1. Bagaimana perasaan terhadap lesbian
1. Bagaimana jika ternyata anda/ siswa/anak/ teman/ saudara memiliki kecenderungan lesbian?
2. Apa yang akan anda lakukan jika ternyata anda/ anak/ siswa/ teman/ saudara memiliki kecenderungan lesbian ?
E. Analisis Data
Higlen dan Finley (1996) mengatakan bahwa organisasi data yang
sistematis memungkinkan peneliti untuk: (a) memperoleh kualitas data
yang baik; (b) mendokumentasikan analisis yang dilakukan, (c)
menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian
penelitian. Pada penelitian ini akan menggunakan metode analisis isi atau
content analysis karena data yang diperoleh merupakan data
deskriptif.(Poerwandari, 2005).
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan analisis
ini adalah sebagai berikut (Poerwandari, 2005):
a. Organisasi Data
Data yang akan diorganisasi adalah data mentah berupa verbatim
hasil wawancara yang telah dipindahkan dari alat perekam. Data
yang diorganisir juga termasuk data yang telah diberi kode spesifik,
bagan, dan catatan analisis.
b. Pengkodean Data
Langkah selajutnya adalah melakukan pengkodean. coding
dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan
mesistematisasikan data secara lengkap dan mendetail sehingga data
dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Proses
coding diawali dengan menyusun data verbatim dan catatan
lapangan kedalam kolom, dimana di samping kanan data diberi
data verbatim dimasukkan dalam kolom, selanjutnya peneliti
melakukan analisis tematik. Analisis tematik adalah proses
mengkode informasi atau data yang dapat menghasilkan daftar tema,
model tema atau indicator kompleks, kualifikasi yang biasanya
terlihat dengan itu, atau hal-hal diantara/ gabungan dari yang telah
disebutkan. Tema diharapkan dapat mendeskripsikan fenomena dari
data hasil penelitian.
c. Interpretasi
Interpretasi dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan tema-tema
yang muncul dalam data verbatim hasil wawancara setelah
diperkuat dengan data observasi. Klave (Poerwandari, 2001)
menjelaskan bahwa interpretasi dilakukan sebagai upaya untuk
memahami data dengan lebih ekstensif sekaligus mendalam.
F. Keabsahan Data atau Verifikasi Data
Kredibilitas merupakan istilah yang paling banyak dipilih untuk mengganti
konsep validitas, yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut
kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas studi kualitatif terletak pada
keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau
mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang
kompleks (Poerwandari, 2005).
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas komunikatif,
yaitu dengan cara mengkonfirmasikan kembali data dan analisisnya kepada
38 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Proses Penelitian
Langkah-langkah yang diambil oleh peneliti selama proses
penelitian adalah sebagai berikut:
Langkah-langkah yang diambil oleh peneliti selama proses penelitian adalah
sebagai berikut:
1. Pencarian responden 1 dan 2 awalnya dilakukan peneliti bersama
saudara dan teman yang mempunyai kenalan yang bekerja di SMP
Negeri. Peneliti kemudian dikenalkan pada beberapa responden.
Para responden tersebut mengenalkan peneliti kepada beberapa
teman guru yang bekerja ditempat lain.
2. Peneliti melakukan wawancara menggunakan panduan wawancara yang
telah ditetapkan. Panduan ini digunakan oleh peneliti sebagai pedoman
atau acuan mengenai hal-hal apa saja yang akan ditanyakan saat
wawancara. Selain itu, panduan ini digunakan untuk menghindari
kemungkinan peneliti melupakan hal-hal yang relevan dan penting untuk
ditanyakan saat wawancara berlangsung
3. Setelah melakukan wawancara, peneliti menuliskan verbatim atau
transkrip wawancara. Kemudian, peneliti menentukan tema untuk setiap
jawabannya. Setelah itu, peneliti menentukan coding serta membuat
4. Setelah melakukan wawancara, peneliti melakukan konfirmasi data
kepada responden, untuk memastikan apakah data yang telah
diperoleh oleh peneliti sudah benar-benar sesuai dengan keadaan
responden. Peneliti menggunakan cara ini untuk mencapai validitas
komunikatif, karena validitas komunikatif dapat tercapai dengan
mengkonfirmasikan kembali data dan analisisnya kepada responden
penelitian.
5. Setelah menentukan tema, coding dan kategori, maka peneliti melakukan
interpretasi data dan membuat kesimpulan untuk masing-masing
responden.
B. Pelaksanaan Penelitian
Berikut ini adalah jadwal wawancara yang dilakukan kepada ketujuh
responden
Tabel 2
Tabel Pelaksanaan Penelitian Nama
Responden
Hari/ tanggal Tempat Waktu
R1 11 November
2010
Laboratorium IPA 10.00 – 11.00 WIB
R2 11 November
2010
Laboratorium IPA 12.00 – 13.00 WIB
R3 15 November
2010
Ruang Guru 10.00 – 11.00
WIB
R4 09 Desember
2010
Ruang Guru 10.00 – 11.00
WIB
R5 10 Januari 2011 Di rumah 18.00 – 18.30
WIB
R6 25 Februari
2011
Kelas 10.00 – 11.30
WIB
R7 25 Februari
2011
Kelas 12.00 – 13.00
C. Hasil Analisis Data Penelitian 1. Deskripsi Responden Penelitian
Melalui hasil wawancara terhadap 7 orang responden, diperoleh
beberapa tema (theme), yaitu bagaimana sikap guru usia madya terhadap
lesbian. Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut proses analisis
yang dilakukan adalah mengetahui apa yang dipikirkan, dirasakan dan
apa yang dilakukan para guru yang berusia 40-60 tahun serta membuat
sintesis dari data sikap responden tadi. Sebelum masuk ke proses analisis,
berikut ini akan dijelaskan mengenai demografi responden.
Tabel 3
Demografi Responden Responden Usia Tempat Mengajar Mata
Pelajaran
SMP Negri 6 Yogyakarta
IPA Islam Laki-laki
R2 48
tahun
SMP Negri 6 Yogyakarta
SMP Bopkri 3 Bimbingan dan
Konseling
Kristen Perempuan
R4 40
tahun
SMP Bopkri 2 Bimbingan dan
Konseling
Kristen Perempuan
R5 56
tahun
SMP Imaculata Pend. Agama Katholik Perempuan
R6 42
Hasil analisis data penelitian tentang Sikap Guru Usia Madya
terhadap Lesbian akan disajikan melalui tiga aspek sikap, yaitu aspek
kognitif, aspek afektif, dan aspek konatif. Berikut akan dijelaskan ketiga
aspek tersebut dalam tabel dibawah ini :
C.1 Aspek kognitif
Pada aspek kognitif hal-hal yang akan dijelaskan antara lain
pemahaman tentang lesbian, sumber infomasi lesbian, faktor penyebab
lesbian, pandangan agama terkait dengan lesbian, dan kemungkinan
lesbian menjadi heteroseksual kembali. Hal-hal tersebut akan diuraikan
satu persatu melalui tabel dibawah ini :
C.1.1 Pemahaman Tentang Lesbian Tabel 5
Pemahaman tentang Lesbian
Res Uraian Makna
R1 “… Lesbian itu hubungan antara 2 atau lebih perempuan yang sejenis yang melakukan hubungan dengan alat reproduksinya”
“…Ya melanggar norma agama karena hubungan inikan sesama jenis... jadi di situ haram dan perbuatan terlarang yang harus dihindari”
Kebutuhan
R2 “...Gak tertarik sama lawan jenis, tertariknya justru pada sesama jenis dalam hal ini perempuan ya”
“...Penyimpangan, mestinya kodratnya kalau perempuankan dengan laki-laki, tapi inikan saya katakan kelainan karena ya memang kodratnya gak begitu “
“..Yang namanya penyimpangan, penyimpangan seks kan terlarang atau bisa dikatakan penyakit ya karena