• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap guru Sekolah Menengah Pertama terhadap lesbian : studi deskriptif pada guru usia madya di Yogyakarta - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Sikap guru Sekolah Menengah Pertama terhadap lesbian : studi deskriptif pada guru usia madya di Yogyakarta - USD Repository"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

SIKAP GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERHADAP LESBIAN

(Studi Deskriptif Pada Guru Usia Madya di Yogyakarta)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.)

Program Studi Psikologi

Oleh: Dini Lukasmini NIM: 069114051

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

SIKAP GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERHADAP LESBIAN

(Studi Deskriptif Pada Guru Usia Madya di Yogyakarta)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.)

Program Studi Psikologi

Oleh: Dini Lukasmini NIM: 069114051

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN MOTTO

K itamemangberbedatapi kitajugasama

- penulis

Ujian atas keberanian tiba ketika

Kita berada dalam kelompok

Minoritas

-

Raplh Sackman

Datanglah, pelajarilah, renungkanlah, buktikan apakah

itu membawa kebahagiaan atau kehancuran

-

Sang Budha

Mereka yang punya kendali atas orang lain mungkin punya kuasa,

tapi hanya mereka yang mampu mengendalikan diri sendirilah yang

memiliki kekuatan yang sebenarnya

(6)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk :

Ibuku,

Kakak & Khuyu

Ndha q

(7)
(8)

vii

SIKAP GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERHADAP LESBIAN

(Studi Deskriptif Pada Guru Usia Madya di Yogyakarta)

Dini Lukasmini

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sikap guru usia madya terhadap lesbian. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif. Responden dalam penelitian ini adalah guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berusia 40 sampai 60 tahun yang berjumlah 7 orang. Ketujuh responden berasal dari SMP negeri dan swasta yang mengampu mata pelajaran biologi, pendidikan agama, bimbingan dan konseling serta pendidikan jasmani dan kesehatan. Peneliti menentukan responden berdasarkan kecocokan konteks atau kriteria yang telah ditentukan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan sistem terbuka, dimana individu yang diwawancarai mengetahui dan menyadari bahwa mereka diwawancarai. Di samping itu, individu yang diwawancarai juga mengetahui apa maksud dan tujuan wawancara. Peneliti juga memilih untuk menggunakan wawancara yang bersifat semi terstruktur karena dalam wawancara ini peneliti membuat panduan wawancara yang akan diajukan kepada responden tetapi tidak menutup kesempatan bagi responden untuk melakukan improvisasi saat wawancara berlangsung sesuai dengan kebutuhan proses wawancara. Langkah-langkah analisis data adalah dengan menulis transkrip wawancara, membaca transkrip wawancara dengan seksama, memberikan koding, membuat kategorisasi, membuat interpretasi dan pembahasan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap guru cenderung menolak keberadaan lesbian karena lesbian dianggap melanggar norma agama dan sosial, sumber informasi lesbian berasal televisi sehingga menjadi hal yang baru dalam masyarakat serta faktor dominan penyebab lesbian berasal dari lingkungan pergaulan sehingga lesbian dapat kembali menjadi heteroseksual. Selain itu, guru cenderung memberikan transfer of value daripada transfer of knowledge terkait dengan masalah seksualitas termasuk lesbian. Guru sudah menekankan pendidikan nilai tentang seksualitas tetapi masih belum cukup dalam memberikan pengetahuan yang proporsisonal, objektif dan ilmiah mengenai persoalan lesbian.

(9)

viii

THE ATTITUDES OF JUNIOR HIGH SCHOOL TEACHERS TOWARD LESBIANS

(Descriptive Study On Middle Age Teachers In Yogyakarta)

Dini Lukasmini

ABSTRACT

This research aimed to know the attitudes of middle aged teachers toward lesbians. The type of this research is descriptive-qualitative research. Respondents in this research were 7 junior high school (SMP) teachers, aged 40 to 60 years old. All respondents came from public and private junior high school; teach biology, religious education, guidance and counseling, and also physical and health education. The Respondents was chosen base on the suitability on the context or predetermined criteria. The data collecting in this research used an open system, where respondents knew and realized that they were interviewed. In addition, respondents who were interviewed also knew what the intent and purpose of the interview. Researcher also chose to use a semi-structured interviews because in this interview, researcher made an interview guide that will be presented to the respondents, but it is possible for the researcher to improvise during the interview base on what being needed from the interview process. The steps of data analysis were; write a transcript of the interview, read the transcript of the interview carefully, provide coding, making categorization, making the interpretation and discussion of research results. The research result shown that teacher tend to reject the existence of lesbians because it was considered to break the religious and social norms, teacher got the information about lesbians from television so the issues about lesbians became a new thing in the society, also the dominant factor of lesbian came from the interaction society so a lesbians may be able to came back as heterosexual. In addition, teachers tend to give the transfer of value rather than the transfer of knowledge related to sexuality, including lesbian issues. Teachers had emphasized education about right and wrong values related to sexuality, but did not provide enough a proportional, objective and scientific knowledge about lesbian issues.

(10)
(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih yang telah memberikan berkat

dan kekuatan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulis

menyadari terselesaikannya karya tulis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Dr. Ch. Siwi Handayani, M.Si selaku Dekan dan dosen pembimbing

skripsi, terima kasih atas bimbingan dan dukungannya selama proses

penyelesaian skripsi ini, juga untuk diskusi dan semangatnya yang

menginspirasi saya.

2. Bapak Y. Heri Widodo, M. Psi dan bapak C. Siswo Widyatmoko, M. Psi

selaku dosen penguji pada saat ujian pendadaran skripsi. Terima kasih atas

saran dan masukan yang telah bapak berikan, semua itu amat bermanfaat

bagi perbaikan dan kemajuan karya ini.

3. Bapak Drs. Hadrianus Wahyudi, M.Si., selaku dosen pembimbing

akademik, terima kasih atas bimbingan dan dukungannya.

4. Segenap dosen-dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma,

terima kasih atas bimbingan dan segala bekal ilmu pengetahuan yang

sangat berharga.

5. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma,

khususnya Pak Gie yang selalu ramah dan memberikan senyuman yang

(12)

xi

6. Keluargaku tercinta : Ibu yang selalu mendoakan agar skripsi ini cepat

selesai, Mbak Novi, Khuyu, Simbah Putri dan Kakung serta Lek Wawe

yang selalu mendukungku dengan cara mereka sendiri

7. Sahabatku tercinta, yang selalu ada selama kita bersama-sama meraih

mimpi lewat kelas-kelas yang panas dan terkadang membosankan.

Makasih Hayu dan Jenny, kalian yang terbaik. Kalian mendahuluiku hikk

8. Makasih untuk ganjelan hatiku, dhaa, yang selalu mengingatkan aku untuk

meneruskan tulisan ini, mendekatkan kita dengan masa depan hehe.

Makasih karena hadir di saat yang tepat

9. Teman-teman KKN, Mas Bayu, Neng Ina, Riris, Bekatule Ria, Cik Yen,

Dani nDut, dan Tina, makasih ya telah menjadi bagian dalam hidupku.

Khusus Neng Ina, makasih ya buat motivasinya buat Upa hehe. Dilewatin

lagi sama eneng

10. Temanku Janto, terima kasih sudah mejadi sampah dan tempat sampahku

dan mengajakku refresing ke tempat-tempat yang indah. Kak Febri yang

telah mengenalkanku pada sosok Ve sehingga pengerjaan skripsi ini

menjadi lebih mudah. Zico yang telah meminjamkan alat perekam, terima

kasih teman. Anak-anak Max gym khususnya Ricky terima kasih atas

desakannya. Mas Sat dan Mbak Christin, terima kasih atas dukungan dan

doa kalian. Mas kun makasih yang sebesar-besarnya, tanpamu aku gak

akan bisa tidur karena masih bergelut dengan abstrak hehe.

11. Untuk para guru yang telah merelakan waktu dan hatinya membagi banyak

(13)

xii

12. Kepada Cokomarikocurcur, itheng gendut, dan nunik pratiwibago makasih

kamu telah datang ke dalam hidupku dan menyembuhkan

kerinduanku...Thanks God.

13. Semua pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang juga

telah memberikan dorongan serta bantuan baik material maupun spiritual

selama penyusunan skripsi ini. Terima kasih banyak.

Yogyakarta, 11 September 2011

Penulis,

(14)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……….. i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING……….. ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI………... iii

HALAMAN MOTTO………. iv

HALAMAN PERSEMBAHAN………. v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……… vi

ABSTRAK………. vii

ABSTRACT……… viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH……… ix

KATA PENGANTAR………. x

DAFTAR ISI……… xi

DAFTAR TABEL……… xii

DAFTAR LAMPIRAN……… xiii

BAB I. PENDAHULUAN……… 1

A. Latar Belakang Masalah……… 1

B. Rumusan Masalah……….. 10

C. Tujuan Penelitian………... 10

D. Manfaat Penelitian………. 10

1. Manfaat Teoritis………. 10

2. Manfaat Praktis……….. 10

(15)

xiv

A. Sikap………. 11

A. 1 Definisi Sikap……… 11

A. 2 Komponen Sikap………... 12

A. 3 Pembentukan Sikap………... 13

B. Homoseksual……… 18

B. 1 . Pengertian Homoseksual……….. 18

B. 2 . Lesbian……….. 21

B. 3 . Penyebab Lesbian………. . 24

C. Guru pada Tahap Perkembangan Dewasa Madya……….... 29

D. Sikap Guru Dewasa Madya terhadap Lesbian……… 30

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……… 33

A. Jenis Penelitian……….. 33

B. Batasan Istilah……… 33

C. Responden Penelitian………. 34

D. Metode Pengumpulan Data……… 34

E. Analisis Data……….. 36

F. Keabsahan Data atau Verifikasi Data………. 37

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….. 38

A. Proses Penelitian………. 38

B. Pelaksanaan Penelitian……… 39

C. Hasil Analisis Data Penelitian………. 40

D. Ringkasan Hasil Analisis Data Penelitian……… 60

(16)

xv

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……….. 80

A. Kesimpulan……… 80

B. Saran………. 81

C. Keterbatasan Penelitian……… 82

DAFTAR PUSTAKA……… 83

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pedoman Wawancara……… 35

Tabel 2. Tabel Pelaksanaan Penelitian……… 39

Tabel 3. Demografi Responden……… 40

Tabel 4. Data Sintesis Sikap………... 63

Tabel 5. Pemahaman tentang Lesbian……… 41

Tabel 6. Sumber Informasi Lesbian……… 43

Tabel 7. Pandangan Agama terhadap Lesbian………. 45

Tabel 8. Faktor Penyebab Lesbian menurut Responden………. 46

Tabel 9. Kemungkinan Lesbian dapat Menjadi Heteroseksual Kembali…. 48 Tabel 10. Perasaan Responden terhadap Lesbian………. 50

Tabel 11. Perilaku yang Dilakukan Responden jika Dia Lesbian………… 52

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Aspek Kognitif……… 87

Lampiran 2. Aspek Afektif……….. 92

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sikap terhadap homoseksualitas sangat bervariasi dari satu budaya

ke budaya lain dan dari waktu ke waktu. Studi yang dilakukan Ford & Beach

pada masyarakat dari berbagai etnis menunjukkan beragam sikap mulai dari

ketidaksetujuan hingga toleransi dan penerimaan (Nevid, Rathus & Greene,

2003). Misalnya dalam masyarakat Amerika Serikat, pada awalnya

homoseksual dianggap sebagai suatu bentuk penyakit mental, namun setelah

American Psychiatric Association (APA) menghilangkan homoseksual dari

daftar gangguan mental, homoseksual yang mencakup gay, lesbian dan

biseksual tidak lagi dianggap sebagai gangguan mental meskipun gay dan

lesbian terus menjadi target permusuhan, ketakutan dan prasangka yang

ekstrem. Pada tahun 1973, American Psychiatric Association mengakui

bahwa homoseksualitas bukan sebuah bentuk penyakit mental dan

menghapus klasifikasi gangguan mental homoseksualitas, kecuali dalam

kasus dimana individu tersebut menganggap orientasi seksualnya adalah

abnormal (Santrock, 2002).

Namun demikian, tampaknya masyarakat tetap menganggap

homoseksual, termasuk lesbian sebagai penyakit mental. Seperti yang

diungkap oleh Ken Plummer (1992) dalam bukunyaModern Homosexualities

(20)

sebelum 1970-an menyebabkan kaum gay dan lesbian dimasukkan dalam

kategori orang-orang yang sinting dan kesepian di dunia ini (“Studi Gay”,

2000). Akan tetapi, lesbian, gay dan biseksual tidak terbukti lebih terganggu

secara psikologis dibandingkan kelompok heteroseksual. (Coleman dan

Reiss, dalam Nevid, Rathus & Greene, 2003). Keberadaan homoseksual

perempuan atau lesbian di masyarakat menjadi sesuatu hal yang idealnya

disadari dengan penuh toleransi (Manji, 2008). Terlepas diterima atau tidak

diterimanya kehadiran lesbian, masyarakat seharusnya menyadari dan

memahami bahwa terdapat sekelompok orang yang memiliki orientasi

seksual yang berbeda. Namun sayangnya lesbian masih dipandang

masyarakat awam sebagai sesuatu yang negatif.

Di Indonesia, lesbian termasuk sebagai tindakan pornoaksi, seperti

yang tertuang dalam Undang – Undang Pornografi pasal 4 ayat 1(2008).

Selain itu, Perda Sumatra Selatan tahun 2004 pasal 8 ayat 1 mengkategorikan

lesbian sebagai perilaku pelacuran. Hal ini menandakan bahwa Negara belum

memahami konsep orientasi seksual, sehingga lesbian masih dianggap

sebagai penyimpangan seksual. Undang – Undang Pornografi dan Perda

tersebut juga membuktikan bahwa lesbian diperlakukan secara diskriminatif

oleh Negara. Amoral, asusila, pembawa aib dan penyakit masyarakat

merupakan sebagian kecil dari stigma sosial yang diberikan terhadap lesbian

(Krisna, 2006). Stigma yang melekat kuat pada lesbian menjelma menjadi

perilaku diskriminatif terhadap lesbian. Stigma masyarakat dan agama masih

(21)

menentang kodrat Tuhan karena melakukan hubungan seksual yang tidak

menghasilkan keturunan. Banyak rubrik konsultasi psikologi di beberapa

majalah dan koran yang menyudutkan lesbian. Beberapa pemberitaan di

media massa, lebih menyarankan seorang lesbian untuk bisa kembali menjadi

heteroseksual. Salah satu caranya dengan lebih banyak bergaul dengan lawan

jenis dan mengurangi pergaulan dengan teman-teman homoseksual yang

dianggap dapat menularkan sifat-sifat homoseks (Kamilia, 2008). Sebagian

masyarakat merasa khawatir melihat perilaku kaum lesbian yang semakin

berani menunjukkan eksistensinya, bahkan dianggap sebagai gaya hidup yang

sedang trendi (Karisa, 2004). Kekhawatiran ini menimbulkan ketakutan yang

tidak rasional terhadap lesbian. Masyarakat kemudian merasa berhak untuk

memiliki prasangka terhadap lesbian yang terwujud dalam bentuk kekerasan

personal atau permusuhan hingga vandalism, pelecehan, dan serangan fisik

(Freiberg dan Katz, dalam Nevid, Rathus & Greene, 2003).

Kekerasan dan diskriminasi yang diterima oleh lesbian seperti

penyerangan seksual, kekerasan fisik, verbal maupun non verbal dan

perampokan mempengaruhi hubungan lesbian dengan masyarakat. Banyak

lesbian yang memilih untuk menjauhi masyarakat atau bersikap seolah-olah

dirinya heteroseksual guna menghindari perlakukan buruk masyarakat.

Lesbian lebih banyak bersikap tertutup karena menganggap masyarakat

hanya melihat sisi negatif dari lesbian saja. Penelitian yang dilakukan Herek

(1999) menunjukkan bahwa kekerasan tersebut menyebabkan timbulnya

(22)

percaya pada orang-orang yang berbuat baik, dan mempunyai perasaan

rendah terhadap penguasaan.

Ketakutan masyarakat ini muncul karena adanya anggapan bahwa

lesbian berharap untuk menjadi anggota dari gender lainnya yaitu menjadi

laki-laki, dan anggapan bahwa lesbian tidak bisa menjadi orang tua yang baik

karena anak-anak mereka akan menjadi lesbian seperti orang tuanya.

Penilaian masyarakat terhadap kaum lesbian cenderung terfokus pada

interaksi atau hubungan seksual saja, serta menganggap lesbian bertanggung

jawab terhadap epidemi AIDS (Jenny, Roesler, Poyer dan Peplau, dalam

Nevid, Rathus & Greene, 2003).

Selain itu, masyarakat umum masih menyamakan lesbian dengan

gangguan identitas gender, padahal kedua hal ini berbeda. Kaum lesbian

memiliki identitas gender yang konsisten dengan anatomi seks mereka,

dimana lesbian memiliki minat erotis atau tertarik secara seksual pada

anggota gender mereka sendiri. Hal ini berarti kaum lesbian masih merasa

dirinya sebagai wanita, dan tidak ingin menjadi anggota jenis kelamin yang

lain serta tidak merasa jijik pada alat genital mereka, seperti yang dapat kita

temukan pada orang-orang dengan gangguan identitas gender (Nevid , Rathus

& Greene, 2003). Davison (1991) dan Haldeman (1994) menambahkan

bahwa ketakutan terhadap kemungkinan akan kehilangan keluarga, teman,

karir, dan komunitas keagamaan disertai adanya diskriminasi, kekerasan

seksual serta stigma negatif dari masyarakat membuat lesbian tidak nyaman

(23)

Gender seringkali disamaartikan dengan seks atau jenis kelamin.

Gender mengacu pada dimensi sosial sebagai laki-laki atau perempuan. Fakih

(1996) menjelaskan konsep gender yang lebih mengacu pada suatu sifat yang

melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikontruksikan secara

sosial maupun kultural. Kontruksi gender tersebut adalah pria dan wanita

dianggap memiliki atribut kepribadian yang berlawanan. Pria bersifat

maskulin seperti kuat, rasional, jantan dan perkasa sedangkan perempuan

bersifat feminin seperti lemah lembut, emosional, atau keibuan. Sebagai

akibatnya perempuan diharuskan memenuhi sifat dari atribut tersebut yaitu

feminin. Sedangkan jenis kelamin (seks) merupakan pemberian (given) yakni

kita sebagai pria dan wanita (Moses, 1996). Atribut pada konsep gender dapat

dipertukarkan sedangkan jenis kelamin (seks) tidak dapat dipertukarkan.

Kontruksi gender dibentuk, disosialisasikan dan diperkuat melalui ajaran

keagamaan maupun negara melalui proses yang panjang. Sosialisasi gender

ini dianggap seolah-olah sebagai sifat biologis yang tidak bisa diubah lagi

(Fakih, 1996). Konstruksi masyarakat yang berlaku juga mengharuskan

seseorang untuk menjadi heteroseksual karena berdasarkan kontruksi tersebut

hanya satu orientasi saja yang diakui yaitu heteroseksual (Riza, 2007).

Identitas gender yaitu rasa sebagai laki-laki atau perempuan

diperoleh sebagian besar anak-anak pada usia 3 tahun melalui orang tua.

Ketika anak-anak beranjak remaja, guru mempunyai peran yang penting

dalam perkembangan remaja karena sebagian besar waktu remaja dihabiskan

(24)

perkembangan seksual, yang diperoleh melalui pelajaran biologi, bimbingan

dan konseling, pendidikan jasmani dan kesehatan serta pelajaran agama. Pada

bagian ini guru mengajarkan kepada peserta didiknya mengenai apa yang

dianggap normal dan abnormal dalam masyarakat termasuk perilaku dengan

lawan jenis. Selain itu, peran guru juga penting karena peserta didik

cenderung lebih dekat dengan gurunya dan lebih mendengarkan perkataan

guru daripada orangtuanya. Selain itu, guru menjadi orang tua kedua bagi

anak-anak.

Yogyakarta sebagai kota pelajar, memiliki tenaga pendidik yang

tidak sedikit. Menurut Data Pokok Pendidikan Kementerian Pendidikan

Nasional Republik Indonesia (DAPODIK) dari 528 SMP/ MTs, masyarakat

Yogyakarta yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik sebanyak 6.787

orang (“Dapodik”, 2011). Guru merupakan profesi yang tugasnya berkaitan

dengan keahlian, tanggung jawab, dan kesejawatan yang meliputi mendidik,

mengajar dan melatih (Suparwoto, 2004). Mendidik berkaitan dengan

pengembangan kepribadian peserta didik, mengajar lebih ditekankan pada

bidang intelektual dan kemampuan berfikir, sedangkan melatih berkaitan

dengan pengembangan ketrampilan peserta didik. Dengan kata lain guru

memberikan layanan pendidikan bagi generasi muda penerus bangsa.

Dalam proses belajar-mengajar, terjadi proses transfer of learning

dimana peserta didik mendapatkan pengetahuan atau kerangka berfikir yang

baru. Tidak jarang, guru juga memberikan sikap dan keyakinannya terhadap

(25)

dan keyakinan yang ditularkan oleh guru menjadi penting (Martínez,

Montero & Sanchez, dalam Testor et al., 2000), karena sikap dan keyakinan

yang ditunjukkan oleh guru ini terkadang diimitasi oleh muridnya. Mengingat

sikap guru dapat diimitasi oleh peserta didiknya, maka menjadi penting untuk

mengetahui bagaimana pengetahuan, perasaan dan perilaku guru terhadap

lesbian. Melalui pengetahuan guru terhadap lesbian, dapat diketahui apakah

guru telah mentransfer informasi yang proposional mengenai lesbian

mengingat hal yang berbau seksualitas atau lesbian masih dianggap ditabu.

Melalui emosi dan perasaan guru, dapat diketahui bagaimana penilaian

mereka terhadap lesbian, apakah guru cenderung membenarkan dan

memandangnya sebagai hal yang normal, atau menyalahkan dan menganggap

lesbian sebagai bagian dari penyimpangan. Dari emosi dan perasaan guru

juga dapat diketahui apakah guru merasa nyaman atau tidak saat memberikan

materi tentang seksualitas dan homoseksual. Menurut penelitian yang

dilakukan Alldred, David & Smith (2003), mereka yang berusia lebih tua

merasa tidak nyaman jika harus membicarakan hal yang berhubungan dengan

seks kepada peserta didiknya. Akibatnya para guru lebih memilih untuk

menghindar jika ditanya masalah seputar seksualitas termasuk homoseksual

meskipun materi tersebut ada dalam mata pelajaran. Ketidaknyamanan guru

ini berakibat pada terbatasnya informasi yang diberikan dan transfer

pengetahuan yang salah mengenai seksualitas. Hal ini dapat menyebabkan

peserta didik mencari informasi dari narasumber dari luar sekolah, baik

(26)

sebaya yang bukan berasal dari media pendidikan. Sedangkan melalui

perilaku guru, dapat diketahui bagaimana kecenderungan perilaku guru

terhadap seksualitas termasuk homoseksual, apakah cenderung memihak atau

tidak menolak.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas,

peneliti ingin mengetahui bagaimana sikap guru terhadap lesbian. Guru

mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi siswa untuk

mengembangkan sikap penerimaan dan penghormatan ataupun penolakan

terhadap keanekaragaman orientasi seksual, yang dilakukan melalui proses

transfer informasi maupun imitasi sikap guru oleh peserta didiknya, dimana

sikap guru ini juga dipengaruhi oleh stigma negatif yang melekat pada

lesbian, keengganan memberikan informasi yang berkaitan dengan

seksualitas, karena hal – hal yang berkaitan dengan seksualitas masih

dianggap tabu. Farr (Testor et al., 2000) menyatakan bahwa guru adalah

kelompok profesional yang mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan.

Hal ini berarti bahwa guru mempunyai tanggung jawab untuk memberikan

informasi yang proporsional, obyektif dan ilmiah mengenai seksualitas

termasuk informasi mengenai lesbian.

Secara khusus, penelitian ini dilakukan di Yogyakarta dimana

masyarakatnya terdiri dari berbagai macam etnis sehingga pandangan

masyarakatnya akan cukup bervariasi. Selain itu, responden penelitian ini

adalah guru yang termasuk pada usia tahap perkembangan dewasa madya (40

(27)

usia ini diharapkan/diasumsikan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang

cukup baik dalam memberikan informasi mengenai seksualitas termasuk

lesbian dan mengampu pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan

seksualitas, seperti guru biologi, guru pendidikan agama, guru bimbingan dan

konseling serta guru pendidikan jasmani dan kesehatan.

Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena penelitian tentang

lesbian masih sangat sedikit di Indonesia. Penelitian-penelitian sebelumnya

lebih terfokus pada kondisi psikis para lesbian, seperti kesepian, motivasi,

ataupun relasi dengan orang lain, dan jarang ada yang meneliti tentang sikap

guru dimana guru mempunyai peran penting dalam pembentukan persepsi/

sikap masyarakat umum terhadap lesbian. Penelitian yang dilakukan Testor

dan kawan-kawan (2010) mengatakan bahwa guru merasa sangat sensitif

terhadap isu keanekaragaman dalam arti lebih luas (etnis, budaya, seksual,

dll) namun dalam penelitannya 88% guru tidak menunjukkan sikap

berprasangka terhadap gay dan lesbian. Hal ini dikarenakan adanya

pengalaman kedekatan dengan pria gay atau lesbian sehingga mengurangi

kesenjangan antara nilai-nilai pribadi dan perilaku serta prasangka

homophobic. Mengingat pentingnya mempelajari tingkat prasangka terhadap

gay dan lesbian dalam sekelompok orang dengan bertanggung jawab

terhadap pendidikan maka penelitian ini menarik untuk dilakukan. Hal ini

dikarenakan guru menjadi sentral dari pembentukan sikap masyarakat

terhadap lesbian. Selain itu, posisi kaum lesbian tidaklah menguntungkan

(28)

saja. Terlepas diterima atau tidak diterimanya kehadiran lesbian, masyarakat

seharusnya menyadari dan memahami bahwa terdapat sekelompok orang

yang memiliki orientasi seksual yang berbeda. Peneliti berharap adanya

perubahan sosial dalam masyarakat yaitu masyarakat dapat menerima

perbedaan orientasi seksual.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah gambaran sikap guru terhadap lesbian?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

Mengetahui gambaran sikap pada guru terhadap lesbian.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Memberikan suatu wacana tambahan bagi dunia Psikologis,

khususnya Psikologi Sosial dan Psikologi Pendidikan mengenai tema

lesbian dan kegunaannya dalam melihat permasalahan psikologis di

sekitarnya.

2. Manfaat Praktis

Memberikan wawasan serta wacana baru bagi para guru atau

institusi terkait, agar memberikan pendidikan seks yang proporsional

(29)

11 BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Pada bagian ini akan dideskripsikan tinjauan teoritis yang berhubungan

dengan topik penelitian. Secara garis besar pada bab ini akan diuraikan: sikap

yang terdiri dari definisi, komponen dan faktor pembentuk sikap, homoseksual

yang terdiri dari lesbian dan faktor penyebab lesbian, guru usia madya dan

gambaran sikap guru terhadap lesbian. Bagian ini akan membantu peneliti

memberikan dasar teoritis dalam memahami apa yang dipikirkan, apa yang

dirasakan, dan apa yang akan dilakukan oleh responden, dalam hal ini guru usia

madya terhadap keberadaan lesbian.

A. Sikap

A.1. Definisi Sikap

Berkowitz (Azwar, 1995) mengatakan bahwa sikap adalah suatu

bentuk evaluatif atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu

obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun

perasaan tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut. Menurut

skema triadic (triadic schema), Secord & Backman (Azwar, 1995)

mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan

(afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi)

seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. Menurut

(30)

dunia sosial. Seringkali sikap kita ambivalensi-mengevaluasi objek

sikap baik secara positif maupun negatif.

A.2. Komponen sikap menurut Sears (1988) adalah :

a. Komponen kognitif yaitu terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki

seseorang mengenai obyek sikap tertentu-fakta, pengetahuan, dan

keyakinan tentang obyek. Persepsi merupakan proses pengamatan

seseorang yang berasal dari aspek kognisi. Persepsi ini dipengaruhi

oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan

pengetahuan. Menusia mengamati suatu objek psikologik dengan

kacamatanya sendiri yang diwarnai oleh nilai dari kepribadiannya.

Objek psikologik ini dapat berupa kejadian, ide atau situasi tertentu.

Faktor pengalaman, proses belajar dan sosialisasi memberikan bantuk

dan struktur terhadap apa yang dilihat, sedangkan pengetahuan dan

cakrawalanya memberikan arti terhadap objek psikologik tersebut.

Melalui aspek kognisi ini akan timbul ide, kemudian konsep

mengenai apa yang dilihat berdasarkan nilai keyakinan (belief)

terhadap objek tersebut.

b. Komponen afektif yaitu terdiri dari seluruh perasaan atau emosi

seseorang terhadap obyek, terutama penilaian.

c. Komponen perilaku/ konatif yaitu terdiri dari kesiapan seseorang

untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap

(31)

Dari pendapat beberapa ahli di atas, peneliti menggunakan pendapat

Secord & Backman yaitu skema triadic (triadic schema). Menurut skema

triadic sikap merupakan keteraturan antara kognitif, afektif, dan konatif

yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku

terhadap suatu objek atau aspek di lingkungannya. Dalam konteks penelitian

ini, peneliti ingin melihat bagaimana pengetahuan (kognitif), perasaan dan

emosi (afektif), serta kesiapan untuk bertindak (konatif) pada guru usia

madya dalam memandang keberadaan lesbian.

A.3. Pembentukan Sikap

Dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola

sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya.

Berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap (Azwar, 1995)

adalah :

a. Pengalaman pribadi

Apa yang dialami akan membentuk dan mempengaruhi

penghayatan individu terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan

menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk mempunyai

tanggapan dan pengha yat an, ses eorang harus mempun yai

pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Apakah

penghayatan itu kemudian akan membentuk sikap positif ataukah

sikap negatif akan tergantung pada berbagai faktor lain. Akan tetapi,

(32)

pengalaman sama sekali dengan sesuatu objek psikologis cenderung

akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut.

Pembentukan kesan atau ungkapan terhadap objek meruapakan

proses kompleks dalam diri individu yang melibatkan individu yang

bersangkutan, situasi dimana tanggapan itu terbentuk, dan atribut

atau ciri objek yang dimiliki oleh stimulus.

Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman

pribadi harus melalui kesan yang kuat. Karena itu sikap akan lebih

mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam

situasi yang melibatkan faktor emosional.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang lain di sekitar individu merupakan salah-satu diantara

komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap individu. Seseorang

yang dianggap penting, seseorang yang diharapkan persetujuannya

bagi setiap gerak tingkah dan pendapat individu, seseorang yang

tidak ingin dikecewakan, atau seseorang yang berarti khusus bagi

individu, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap terhadap

sesuatu. Diantara orang yang biasanya dianggap penting bagi

individu adalah orang tua, orang yang statusnya tinggi, teman

sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan

lain-lain.

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap

(33)

penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan

untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan

orang yang dianggap penting tersebut.

c. Pengaruh Budaya

Kebudayaan dimana individu hidup dan dibesarkan

mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap. Tanpa

disadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap

individu terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai

sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayan pula lah yang

memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota

kelompok masyarakat asuhannya, dan hanya kepribadian individu

yang kuat saja lah yang dapat memudarkan dominasi kebudayaan

dalam pembentukan sikap individual.

d. Media massa

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa

seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dll. Mempunyai

pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang.

Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media

massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat

mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai

sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya

(34)

informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif

dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.

e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai sistem

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan

keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri

individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara

sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, diperoleh dari

pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajarannya-ajarannya.

Dikarenakan konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan

sistem kepercayaan, maka tidaklah mengherankan kalau pada

gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan

sikap individu terhadap sesuatu hal. Apabila terdapat sesuatu hal

yang bersifat kontroversial, pada umumnya orang akan mencari

informasi lain untuk memperkuat posisi sikapnya atau mungkin

juga orang tersebut tidak mengambil sikap memihak. Dalam hal

seperti itu, ajaran moral yang diperoleh dari lembaga pendidikan

atau dari agama seringkali menjadi determinan tunggal yang

menentukan sikap.

f. Pengaruh faktor emosional

Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan

dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang suatu bentuk

(35)

berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau penglihatan

bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan

sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang,

akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan

bertahan lama.

Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa faktor yang berperan

dalam pembentukan sikap antara lain adalah pengalaman pribadi, pengaruh

orang lain yang dianggap penting, pengaruh budaya, media massa,

lembaga pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosional.

Pengalaman pribadi adalah apa yang dialami oleh seseorang akan

meninggalkan kesan baik itu positif atau negatif. Sikap akan terbentuk jika

pengalaman tersebut mempunyai kesan yang kuat dan melibatkan faktor

emosional. Pengaruh orang lain yang dianggap penting seperti orang tua

atau orang yang statusnya lebih tinggi akan mudah mempengaruhi sikap

karena individu tersebut biasanya memiliki keinginan untuk berafiliasi dan

menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut. Faktor

pengaruh budaya berkaitan dengan kebudayaan yang telah mewarnai sikap

anggota masyarakatnya dan memberi corak pengalaman bagi anggota

masyarakatnya. Media massa berhubungan dengan pengaruhnya yang

besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang serta dapat

memberi sugesti yang mengarahkan pada opini seseorang. Bila sugesti

terjadi cukup kuat maka akan memberi dasar afektif yang mengarah

pada sikap tertentu. Lembaga pendidikan dan lembaga agama mengacu

(36)

diri individu. Dikarenakan konsep moral dan ajaran agama sangat

menentukan sistem kepercayaan, maka tidaklah mengherankan kalau

pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam

menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal. Sedangkan pengaruh

faktor emosional yaitu suatu bentuk sikap yang terkadang didasari oleh

emosi yang digunakan sebagai penyalur frustasi. Sikap demikian dapat

bersifat sementara.

B. Homoseksual

B.1. Pengertian Homoseksual

Istilah homoseksual pertama kali dikenal dalam bidang ilmu

psikiatri di Eropa untuk mengacu pada suatu fenomena psikoseksual

yang berkonotasi klinis (Oetomo, 1995). Homoseksualitas adalah

orientasi seksual yang ditandai oleh adanya minat erotis, adanya

pembangunan hubungan romantik dengan individu dari gendernya

sendiri (Nevid, Rathus & Greene, 2003). Menurut Supratiknya (1995)

homoseksual adalah perilaku seksual yang ditujukan pada pasangan

sejenis.

Homoseksual berbeda dengan waria. Waria merupakan laki-laki

yang berpenampilan seperti wanita. Mereka merasa terjebak dalam tubuh

yang salah. Mereka memperoleh kesenangan dan kenikmatan dengan

memainkan peran sosial lawan jenisnya, yaitu perempuan sehingga

secara fisik mereka berusaha mengadakan perubahan sesuai dengan

(37)

dan suara yang lembut (Supratiknya, 1995). Manshur 1981 (dalam

Wahyuningtyas, 2003) berpendapat bahwa keinginan waria untuk

memakai pakaian dan atribut wanita bukan sekedar keinginan

berperilaku sebagai wanita, namun merupakan dorongan untuk

benar-benar menjadi seorang wanita karena adanya gangguan identitas gender

yang merasa bahwa alat kelaminnya tidak cocok dengan keadaan

psikisnya.

Homoseksual dibedakan menjadi dua, yaitu gay untuk menyebut

kaum homoseks sesama laki-laki yang orientasi seksnya pada sesama

laki-laki, danlesbianuntuk menyebut kaum homoseks perempuan yang

ori ent asi s eksn ya pada s es am a perempuan. Ada dua pandangan

yang di pakai unt uk mem ahami fenom ena homoseksual, (Oetomo,

2003). Pandangan pertama disebut essentialism, yang cenderung

memahami homoseksual sebagai keadaan pribadi seseorang yang

merupakan sesuatu yang terberi (given), tetapi justru menghadapi

tantangan dari masyarakat. Pandangan ini banyak didukung oleh para

aktivis gerakan lesbian dan gay yang berpegang pada ilmu biologis

dimana homoseksual disebabkan oleh kurangnya hormon seksual,

perbedaan struktur otak dan bawaan genetik (Huffman, 1997).

Pandangan kedua disebut pandangan sosio-kontruksionisme (sosial

constructionism), yang menganggap fenomena homoseksual sebagai hasil

konstruksi sosial. Pengaruh lingkungan dan pengalaman juga ikut

(38)

Anderson (Oetomo, 2003) mengatakan bahwa realitas homoseksual

di Indonesia sudah ada sejak masa lampau sampai sekarang. Oetomo

(1991), misalnya menunjukkan tradisi yang ada di Ponorogo, Jawa

Timur dalam kehidupan warok, orang sakti, yang memiliki hubungan

dengan remaja sesama jenis pasangannya, yang disebut gemblak, yang

diperlakukannya sebagai pengganti pasangan lawan jenis. Dari tipologi

sejarah tentang homoseksual tersebut dapat disimpulkan bahwa

keberadaan kaum homoseksual pada jaman dahulu dapat diterima

bahkan dihormati oleh masyarakat karena merupakan suatu hubungan

yang mempunyai tujuan tertentu yang berkaitan dengan budaya,

pemerintahan, seni serta kepercayaan suatu masyarakat pada daerah

tertentu.

Setelah agama muncul eksitensi homoseksual dianggap sebagai

perilaku abnormal. Dalam ajaran agama apapun, dikatakan bahwa

perilaku homoseksual dianggap menyimpang. Pada agama Islam,

praktek homoseksual tercatat pada riwayat nabi Luth yang dikisahkan

dalam al-Quran surat al-A'raaf juz 8 ayat 80-85. Dalam ajaran Kristen

Protestan, alkitab secara tegas menunjukkan bahwa homoseksualitas

adalah dosa, tetapi alkitab tidak menyatakan bahwa para pelakunya

bebas diperlakukan dalam ketidakadilan seperti yang terjadi akhir-akhir

ini. Contoh ayat-ayat dalam alkitab yang menolak hubungan

homoseksual adalah Roma 1:24-27, Imamat 18:22, Imamat 20:13, Yudas

(39)

homoseksual adalah sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam dan

penuh dosa, sementara keinginan dan nafsu homoseksual adalah suatu

kelainan. Pada ajaran agama Buddha homoseksualitas dianggap sebagai

halangan untuk mencapai kesucian batin pada kehidupan saat itu

sehingga tidak dapat mengembangkan pandangan terang (vipassana)

akibat adanya kekotoran dalam batinnya. Dalam agama Hindhu

homoseksual disejajarkan dengan zoophilia yaitu hubungan seksual

dengan binatang. Homoseksualitas, seperti halnya orientasi seksual lain

yang dianggap menyimpang, memang diberi tafsiran sebagai abnormal

dan immoral sehingga homoseksualitas menarik dipelajari karena represi

terhadapnya bisa memberikan indikasi mengenai nilai dan sikap suatu

masyarakat terhadap seksualitas pada umumnya (Suryakusuma, 1991).

B.2. Lesbian

Lesbian adalah homoseksual perempuan yang merupakan suatu

hubungan sosial maupun seksual diantara sesama perempuan, lesbian

mencintai sesama perempuan, memilih sesama perempuan sebagai

pasangan hidupnya dan memiliki keterikatan secara emosional kepada

perempuan (Dewi, 2003). Menurut Ferguson (Crawford, 2000) lesbian

adalah perempuan yang memiliki hasrat seksual dan emosi kepada

perempuan lain atau perempuan yang secara sadar mengidentifikasikan

dirinya sebagai lesbian.

Lesbian berasal dari kata Lesbos. Lesbos adalah nama sebuah

(40)

sendiri adalah seorang perempuan yang dikenal sebagai pecinta

perempuan dan hidup di jaman Yunani kuno (550 SM). Sappho lalu

dikenal dengan nama Sapphosm (Cunnilingus) karena dikaitkan

dengan perilaku hidup dalam kegiatan seksualnya (“Etimologi”, 2010).

Kemudian Kartono (1992) membagi lesbian menjadi 2, yaitu :

1. Wanita yang menunjukkan banyak ciri-ciri kelaki-lakian, baik

dalam susunan jasmani dan tingkah lakunya, maupun pemilihan

objek erotiknya. Bentuk tubuh wanita tipe ini banyak miripnya

dengan bentuk tubuh pria. Pada beberapa orang wanita bentuk alat

kelaminnya tidak sempurna atau hermaproditis.

2. Wanita yang tidak memiliki tanda-tanda kelainan fisik. Jadi mereka

itu memiliki konstitusi jasmaniah sempurna wanita. Adapun

tanda-tanda inverse (pembalikan) itu diakibatkan oleh faktor-faktor

psikologis.

Goodenough, Kagan dan Watson (Kristantini, 1991) menganggap

bahwa peran merupakan faktor yang penting dalam perkembangan

laki-laki dan perempuan. Masyarakat mengharapkan laki-laki dan

perempuan melakukan peran yang telah dicitrakan. Laki-laki memiliki

sifat maskulin seperti agresif, mandiri, dan tangkas dalam aktivitas fisik.

Sedangkan perempuan memiliki sifat feminine seperti patuh,

lemah-lembut, dan sopan. Namun pada kenyataannya ada perempuan memiliki

(41)

Kristantini (1991) menerangkan bahwa Tomboy adalah suatu

gejala di mana kegemaran dan aktivitas yang dipilih, biasanya

diasosiasikan dengan anak laki-laki. Disini, anak perempuan

memainkan peran sebagai laki-laki, yaitu:

a. Perempuan memiliki keengganan yang menetap terhadap

kegiatan-kegiatan perempuan dan keengganan untuk

menjadikan perempuan sebagai teman bermain

b. Perempuan memiliki kecenderungan suatu pilihan yang pasti untuk

bergabung dengan anak laki-laki dan melakukan kegiatan-kegiatan

anak Iaki-laki.

c. Tumbuhnya suatu kegemaran untuk memakai pakaian model

Iaki-laki. Hal ini memperkuat rasa maskulinitasnya.

Pada lesbian dikenal peran-peran yang dilakukan oleh mereka.

Istilah-istilah bagi para lesbian ada tiga jenis yaitu :

1. Butchataubutchy, biasanya dilabelkan pada pasangan yang lebih

dominan dalam hubungan seksual. Butch lebih digambarkan

sebagai sosok yang tomboy, agresif, aktif, melindungi dan biasanya

berlaku sebagai laki-laki.

2. Femme,kataFemmedigunakan dalam komunitas transgender

(gender yang berpindah-pindah, misalnya dulu laki-laki lalu

menjadi perempuan). Kata ini berasal dari bahasa Perancis yang

berarti “as a women”, tapi oleh banyak kalangan diganti menjadi

(42)

yang sangat peminim (kewanitaan). Dengan memakai baju seperti

wanita dan berprilaku sebagai wanita. Dalam hubungan lesbian,

femmeini berperan sebagai sang wanita.

3. Andro,dilabelkan pada orang yang diwaktu-waktu tertentu bisa

berperan sebagaibutchyataufemme.

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

lesbian merupakan suatu hubungan sosial maupun seksual diantara

sesama perempuan, lesbian mencintai sesama perempuan, memilih

sesama perempuan sebagai pasangan hidupnya dan memiliki

keterikatan secara emosional kepada perempuan. (Dewi, 2003). Pada

lesbian juga dikenal tiga macam peran yaitubutchy,femme, danandro.

Butchy yang digambarkan sebagai sosok yang tomboy, agresif, aktif,

melindungi dan biasanya berlaku sebagai laki-laki. Femme

digambarkan sebagai sosok yang sangat feminim (kewanitaan),

memakai baju seperti wanita dan berperilaku sebagai wanita.

Sedangkan andro diberikan pada orang yang diwaktu-waktu tertentu

bisa berperan sebagaibutchyataufemme.

B.3. Penyebab Lesbian

Dari beberapa artikel, referensi, dan juga laporan-laporan

penelitian, diperoleh beberapa keterangan yang diperkirakan

menjadi penyebab seorang perempuan menjadi lesbian,

(43)

Pangkahila (2000) mengemukakan faktor-faktor penyebab

lesbian antara lain:

1. Faktor biologis, yaitu adanya kelainan di otak atau genetik.

2. Faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan dalam

perkembangan psikoseksual pada masa kanak-kanak.

3. Faktor sosiokultural, yaitu faktor adat-istiadat yang

memberlakukan hubungan homoseksual dengan alasan

tertentu yang tidak benar.

4. Faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang

memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis

menjadi erat. Contohnya, seorang perempuan mengalami

kegagalan pacaran berkali-kali dengan lawan jenis

Kisker (Kristantini, 1991) menjelaskan tentang faktor

penyebab lesbian dalam teori :

a. Teori biologis, yaitu penyebab lesbian adalah sejak lahir

dan berkaitan dengan mekanisme genetika yang melibatkan

berapa banyak derajat kelaki-lakian (maleness) dan

perempuan (femalenenss).

b. Teori psikologis, yaitu periku seksual diperoleh melalui

pengkondisian pada awal masa kehidupan dimana dapat

memberikan pengaruh yang besar pada pilihan terhadap

(44)

c. Teori sosiologis, yaitu menekankan adanya kesalahan pada

hubungan keluarga dengan bapak atau ibu yang bersifat

patogenik.

Kenyon (Widiastuti, 1998) mengemukakan 6 faktor yang

dapat menyebabkan seseorang menjadi lesbian, yaitu:

a. Faktor Bilogis

Pangkahila (2000) mengemukakan bahwa faktor

biologis, yaitu adanya kelainan di otak atau genetik. Hal ini

didukung oleh penelitian yang dilakukan Bailey &

Benishay (1993) menunjukkan bahwa homoseksualitas

mengalir dalam keluarga dan konkordansi untuk

homoseksualitas lebih banyak dijumpai di antara kembar

identik dibanding kembar fraternal atau saudara kandung

(Durand & Barlow, 2007, p. 226). Disini homoseksualitas

dihubungan dengan paparan hormon yang berbeda,

terutama tingkat androgen yang atipikal dalam rahim

(Ehrhard, Gladue, Green dan Hellman, dalam Durand &

Barlow, 2007) dan bahwa struktur otak pada orang-orang

homoseksual dan heteroseksual mungkin berbeda (Allen

dan GBorski, Byrne et al., & LeVay, dalam Durand &

Barlow, 2007). Selain itu, kemungkinan adanya gen

homoseksualitas di kromosom X (Hamer, Hu, Magnuson,

(45)

b. Gaya hidup

Jaman sekarang banyak perempuan menjadi perempuan

karir yang memilih untuk tidak menikah terlebih dahulu.

Mereka tetap mempunyai kebutuhan keintiman dengan

orang lain, meskipun mereka menganggap bahwa

pernikahan akan membuat karirnya terhambat. Antar

mereka akan saling mengisi kekosongan sampai akhirnya

melakukan hubungan seks, yang jelas mereka tidak

menanggung resiko hamil sehingga tetap menjadi

perempuan karir. Bila kebiasaan ini dilanjutkan,

lama-kelamaan hal ini menjadi gaya hidup, karena secara

psikologis orang ingin mengidentifikasi diri dengan

kelompok yang dianggap eksklusif tersebut.

c. Perilaku-perilaku Seksual

Banyaknya variasi perilaku seksual yang ada pada

awalnya dilakukan oleh beberapa orang, namun akhirnya

menyebar karena adanya informasi dari masyarakat

maupun media massa lainnya, sehingga orang ingin

mencoba hal yang berbeda dan baru.

d. Latar Belakang Keluarga

Ayah yang dominan dan Ibu yang pasif, dengan

demikian anak perempuan tidak merasakan kehadiran ibu

(46)

bagi anak perempuan dan akibatnya anak perempuan

mengambil sifat-sifat ayahnya termasuk mencintai

perempuan. Hal lainnya adalah orangtua menginginkan

anak laki-laki, tetapi yang lahir anak perempua dan

orangtua memperlakukan anak perempua tersebut seperti

anak laki-laki.

e. Kekecewaan pada laki-laki

Seorang perempuan mendapatkan perlakuan tidak

baik dari laki-laki , misalnya dikhianati, tidak dihargai, dan

tidak diperlakukan sebagai pendamping tetapi lebih sebagai

perempuan yang harus selalu siap melayani.

Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi suatu pengalaman yang

menyakitkan perempuan.

f. Lingkungan

Lingkungan setempat yang dominan oleh kaum

perempuan sejenis dapat membuat perempuan terdorong

menjadi lesbian, misalnya di penjara.

Kerentanan biologis menyeluruh ini kemudian

berinteraksi dengan cara yang kompleks dengan berbagai

kondisi lingkungan, ciri kepribadian, dan

contributor-kontributor lainnya untuk menetapkan berbagai pola perilaku

(47)

Dari berbagai pandangan tersebut, teori tentang penyebab

lesbian kemudian disimpulkan melalui dua tolak ukur yaitu

karena pengaruh faktor internal seperti adanya kromosom yang

berbeda atau faktor genetik dan faktor eksternal seperti adanya

gangguan dalam perkembangan psikoseksual pada masa

kanak-kanak melalui imitasi yang salah terhadap peran orangtua,

kesalahan pada hubungan keluarga yang bersifat patogenik dan

keadaan lingkungan termasuk pengkondisian dalam perilaku

seksual, kekecewaan pada laki-laki, serta gaya hidup.

C. Guru pada Tahap Perkembangan Dewasa Madya

Dalam penelitian ini, responden yang diambil berusia antara 40-60

tahun dan berprofesi sebagai guru. Dalam tahap perkembangan manusia,

responden berada pada tahap perkembangan dewasa madya (Hurlock, 2001).

Masa dewasa madya merupakan masa transisi dimana mereka akan

meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki

suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan

perilaku baru (Hurlock, 2001). Usia dewasa madya memainkan peranan

penting dalam hubungan antar generasi (Brody, Crosby&Ayers, Richard,

Bengston&Miller, dalam Santrock, 2002). Menurut Undang-undang

Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, guru merupakan pendidik

professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,

(48)

tugas guru adalah mendidik yang berkaitan dengan pengembangan

kepribadian peserta didiknya. Menurut McAdams, (1990) usaha ini dapat

ditempuh melalui generativitas yang mencakup rencana-rencana atas apa

yang mereka dapat kerjakan guna meninggalkan warisan pada generasi

selanjutnya seperti ilmu pengetahuan atau nilai-nilai tertentu (Santrock,

2002, p.167). Kotre (1984) berpendapat pengembangan generativitas dapat

dilakukan dengan beberapa cara yang berbeda (Santrock, 2002, p.168).

Misalnya melalui generativitas parental, guru dapat memberikan asuhan dan

bimbingan kepada murid-muridnya. Melalui generativitas kultural, mereka

menciptakan, merenovasi, atau memelihara aspek kebudayaan tertentu yang

akhirnya bertahan. Melalui generativitas, guru berusaha untuk

mempromosikan dan membimbing generasi berikutnya melalui aspek-aspek

penting kehidupan seperti menjadi orang tua (parenting), mengajar,

memimpin, dan melakukan sesuatu yang menguntungkan masyarakat

(McAdams, 1990 dalam Santrock, 2002).

D. Sikap Guru Dewasa Madya terhadap Lesbian

Sikap guru terhadap lesbian diartikan sebagai pengetahuan, emosi dan

perasaan, serta kecenderungan bertindak yang dimiliki guru terhadap

keberadaan lesbian. Sikap antara satu orang dengan lainnya dapat berbeda

meskipun objek sikap yang dihadapi sama. Hal ini disebabkan karena sikap

sendiri merupakan suatu bentuk pandangan dan tiap-tiap individu

(49)

guru satu dengan lainnya yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat

disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya saja karena pengetahuan tentang

informasi lesbian itu sendiri. Pengetahuan tersebut tentunya juga

dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti budaya atau sistem nilai yang

berlaku. Sistem nilai yang berlaku di Indonesia adalah bahwasanya lesbian

memang diberi tafsiran sebagai abnormal dan immoral karena dianggap

menyimpang (Suryakususma, 1991). Dalam ajaran agama manapun praktek

homoseksual tidak dibenarkan. Hal inilah yang kemudian menjadi pegangan

bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk guru. Berdasarkan

sistem nilai tersebut, guru berkewajiban untuk tidak hanya mendidik dan

mengajar materi pelajaran terhadap peserta didiknya namun juga

membimbing dan mengarahkannya peserta didik pada nilai-nilai moralitas.

Mengingat sikap guru dapat diimitasi oleh peserta didiknya, maka menjadi

penting mengetahui bagaimana pengetahuan guru terhadap lesbian. Melalui

pengetahun guru terhadap lesbian akan dapat diketahui apakah mereka telah

mentransfer informasi yang proposional mengenai lesbian mengingat hal

yang berbau seksualitas atau lesbian masih dianggap ditabu. Menurut

penelitian yang dilakukan Alldred, David & Smith, P (2003) mengatakan

bahwa mereka yang berusia lebih tua merasa tidak nyaman jika harus

membicarakan hal yang berhubungan dengan seks kepada peserta didiknya.

Akibatnya mereka lebih memilih untuk menghindar jika ditanya masalah

seputar seksualitas termasuk homoseksual. Hal ini berakibat pada

(50)

tentang seksualtas. Hal ini menyebabkan peserta didik mencari informasi

dari narasumber dari luar, baik dari luar guru maupun orang tua misalnya

televisi, film, atau teman sebaya yang bukan berasal dari media pendidikan.

Kurangnya informasi yang guru miliki otomatis berdampak pada kurangnya

pengetahuan peserta didik mengenai pendidikan seksual, terutama yang

berhubungan dengan homoseksual. Kurangnya informasi yang dimiliki guru

selaku tenaga pendidik berimbas pada pengetahuan yang mereka ajarkan dan

sikap yang mereka miliki. Akibatnya, akan lebih banyak sikap negatif yang

tertransfer pada peserta didik berkaitan dengan seksualitas khususnya

homoseksual/ lesbian. Akan lebih baik jika ada keinginan dari pihak sekolah

atau guru untuk memikirkan kembali pendidikan seks guna memasukkan

informasi lebih lanjut mengenai homoseksual dan pelatihan yang lebih baik

bagi para guru. Hal ini dilakukan agar pengetahuan masyarakat tentang

lesbian bertambah sehingga stigma negatif terhadap lesbian berkurang.

Selain itu, hal ini juga dimaksudkan agar para pendidik seperti guru tidak

(51)

33 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kualitatif-deskriptif. Bogdan dan Taylor (1975) mendefinisikan

metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data

deskriptif berupa kata-kata tertulis atau dari orang-orang dan perilaku yang

dapat diamati (Moleong, 2000, p.4). Pendekatan diarahkan pada latar dan

individu secara utuh/ holistik. Jadi tidak boleh mengisolasikan individu

atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis tetapi perlu

memandangnya sebagai suatu keutuhan. Penelitian deskriptif sendiri

adalah penelitian yang bertumpu atau menitikberatkan pada narasi

(deskripsi) untuk mengungkap kompleksitas permasalahan yang di teliti

(Poerwandari, 2001). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan

secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta atau keadaan

tertentu, yaitu mengenai gambaran pemahaman tentang lesbian pada guru

Sekolah Menengah Pertama usia dewasa madya.

B. Batasan Istilah

Sikap guru terhadap lesbian adalah apa yang dipikirkan (aspek

kognitif), apa yang dirasakan (aspek afektif ), serta apa yang dilakukan

(52)

C. Responden Penelitian

Responden dalam penelitian ini diambil dengan cara purposive

sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan pada kriteria tertentu

yang ditentukan oleh peneliti (Sulistyo, 2006). Penelitian ini hendak

menemukan gambaran yang dimiliki oleh guru mengenai lesbian. Selain

itu peneliti juga menetapkan beberapa kriteria, yaitu :

1. Berprofesi sebagai guru Sekolah Menengah Pertama

2. Mengampu mata pelajaran Bimbingan dan Konseling, Pendidikan

Agama, Ilmu Pengetahuan Alam khususnya Biologi, dan

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Hal ini dikarenakan

pada mata pelajaran tersebut memungkinkan ditemukannya

masalah seksualitas termasuk tentang lesbian.

3. Berusia 40 – 60 tahun, yang termasuk pada usia tahap

perkembangan dewasa madya (Hurlock, 2001).

4. Responden berdomisili di Yogyakarta.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan

metode wawancara. Wawancara didefinisikan sebagai situasi peran

antar-pribadi bersemuka (face to face) ketika seseorang, yakni pewawancara,

mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh

jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada

(53)

menegaskan tujuan wawancara (Moleong, 2007, p.8) antara lain :

mengkontruksi mengenai orang, kejadian atau perasaan-perasaan,

menverifikasi data, mengungkap masa lalu dan harapan di masa datang.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur

dimana peneliti membuat pedoman umum wawancara namun pertanyaan

yang diajukan tidak berdasarkan urutan yang pasti tetapi berkembang dan

disesuaikan dengan situasi responden saat menjawab. Wawancara dengan

pedoman umum memungkinkan terjadinya proses wawancara yang

mendalam (Poerwandari, 2005).

Tabel 1 Pedoman Wawancara

Hal yang diungkap Bentuk pertanyaan 1. Sikap terhadap lesbian

a. Aspek Kognisi

b. Aspek Afektif

c. Aspek Konasi

1. Saat mendengar kata lesbian, apa yang langsung terlintas dipikiran anda ? 2. Lesbian itu apa ?

3. Darimana anda mengetahui istilah lesbian ?

4. Faktor apa saja yang menyebabkan orang menjadi lesbian ?

5. Menurut anda lesbian itu pilihan atau memang dari sananya ?

6. Menurut anda lesbian bisa “disembuhkan” atau tidak ?

7. Bagaimana pandangan agama yang dianut berkaitan dengan lesbian?

1. Bagaimana perasaan terhadap lesbian

1. Bagaimana jika ternyata anda/ siswa/anak/ teman/ saudara memiliki kecenderungan lesbian?

2. Apa yang akan anda lakukan jika ternyata anda/ anak/ siswa/ teman/ saudara memiliki kecenderungan lesbian ?

(54)

E. Analisis Data

Higlen dan Finley (1996) mengatakan bahwa organisasi data yang

sistematis memungkinkan peneliti untuk: (a) memperoleh kualitas data

yang baik; (b) mendokumentasikan analisis yang dilakukan, (c)

menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian

penelitian. Pada penelitian ini akan menggunakan metode analisis isi atau

content analysis karena data yang diperoleh merupakan data

deskriptif.(Poerwandari, 2005).

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan analisis

ini adalah sebagai berikut (Poerwandari, 2005):

a. Organisasi Data

Data yang akan diorganisasi adalah data mentah berupa verbatim

hasil wawancara yang telah dipindahkan dari alat perekam. Data

yang diorganisir juga termasuk data yang telah diberi kode spesifik,

bagan, dan catatan analisis.

b. Pengkodean Data

Langkah selajutnya adalah melakukan pengkodean. coding

dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan

mesistematisasikan data secara lengkap dan mendetail sehingga data

dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Proses

coding diawali dengan menyusun data verbatim dan catatan

lapangan kedalam kolom, dimana di samping kanan data diberi

(55)

data verbatim dimasukkan dalam kolom, selanjutnya peneliti

melakukan analisis tematik. Analisis tematik adalah proses

mengkode informasi atau data yang dapat menghasilkan daftar tema,

model tema atau indicator kompleks, kualifikasi yang biasanya

terlihat dengan itu, atau hal-hal diantara/ gabungan dari yang telah

disebutkan. Tema diharapkan dapat mendeskripsikan fenomena dari

data hasil penelitian.

c. Interpretasi

Interpretasi dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan tema-tema

yang muncul dalam data verbatim hasil wawancara setelah

diperkuat dengan data observasi. Klave (Poerwandari, 2001)

menjelaskan bahwa interpretasi dilakukan sebagai upaya untuk

memahami data dengan lebih ekstensif sekaligus mendalam.

F. Keabsahan Data atau Verifikasi Data

Kredibilitas merupakan istilah yang paling banyak dipilih untuk mengganti

konsep validitas, yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut

kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas studi kualitatif terletak pada

keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau

mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang

kompleks (Poerwandari, 2005).

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas komunikatif,

yaitu dengan cara mengkonfirmasikan kembali data dan analisisnya kepada

(56)

38 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Proses Penelitian

Langkah-langkah yang diambil oleh peneliti selama proses

penelitian adalah sebagai berikut:

Langkah-langkah yang diambil oleh peneliti selama proses penelitian adalah

sebagai berikut:

1. Pencarian responden 1 dan 2 awalnya dilakukan peneliti bersama

saudara dan teman yang mempunyai kenalan yang bekerja di SMP

Negeri. Peneliti kemudian dikenalkan pada beberapa responden.

Para responden tersebut mengenalkan peneliti kepada beberapa

teman guru yang bekerja ditempat lain.

2. Peneliti melakukan wawancara menggunakan panduan wawancara yang

telah ditetapkan. Panduan ini digunakan oleh peneliti sebagai pedoman

atau acuan mengenai hal-hal apa saja yang akan ditanyakan saat

wawancara. Selain itu, panduan ini digunakan untuk menghindari

kemungkinan peneliti melupakan hal-hal yang relevan dan penting untuk

ditanyakan saat wawancara berlangsung

3. Setelah melakukan wawancara, peneliti menuliskan verbatim atau

transkrip wawancara. Kemudian, peneliti menentukan tema untuk setiap

jawabannya. Setelah itu, peneliti menentukan coding serta membuat

(57)

4. Setelah melakukan wawancara, peneliti melakukan konfirmasi data

kepada responden, untuk memastikan apakah data yang telah

diperoleh oleh peneliti sudah benar-benar sesuai dengan keadaan

responden. Peneliti menggunakan cara ini untuk mencapai validitas

komunikatif, karena validitas komunikatif dapat tercapai dengan

mengkonfirmasikan kembali data dan analisisnya kepada responden

penelitian.

5. Setelah menentukan tema, coding dan kategori, maka peneliti melakukan

interpretasi data dan membuat kesimpulan untuk masing-masing

responden.

B. Pelaksanaan Penelitian

Berikut ini adalah jadwal wawancara yang dilakukan kepada ketujuh

responden

Tabel 2

Tabel Pelaksanaan Penelitian Nama

Responden

Hari/ tanggal Tempat Waktu

R1 11 November

2010

Laboratorium IPA 10.00 – 11.00 WIB

R2 11 November

2010

Laboratorium IPA 12.00 – 13.00 WIB

R3 15 November

2010

Ruang Guru 10.00 – 11.00

WIB

R4 09 Desember

2010

Ruang Guru 10.00 – 11.00

WIB

R5 10 Januari 2011 Di rumah 18.00 – 18.30

WIB

R6 25 Februari

2011

Kelas 10.00 – 11.30

WIB

R7 25 Februari

2011

Kelas 12.00 – 13.00

(58)

C. Hasil Analisis Data Penelitian 1. Deskripsi Responden Penelitian

Melalui hasil wawancara terhadap 7 orang responden, diperoleh

beberapa tema (theme), yaitu bagaimana sikap guru usia madya terhadap

lesbian. Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut proses analisis

yang dilakukan adalah mengetahui apa yang dipikirkan, dirasakan dan

apa yang dilakukan para guru yang berusia 40-60 tahun serta membuat

sintesis dari data sikap responden tadi. Sebelum masuk ke proses analisis,

berikut ini akan dijelaskan mengenai demografi responden.

Tabel 3

Demografi Responden Responden Usia Tempat Mengajar Mata

Pelajaran

SMP Negri 6 Yogyakarta

IPA Islam Laki-laki

R2 48

tahun

SMP Negri 6 Yogyakarta

SMP Bopkri 3 Bimbingan dan

Konseling

Kristen Perempuan

R4 40

tahun

SMP Bopkri 2 Bimbingan dan

Konseling

Kristen Perempuan

R5 56

tahun

SMP Imaculata Pend. Agama Katholik Perempuan

R6 42

(59)

Hasil analisis data penelitian tentang Sikap Guru Usia Madya

terhadap Lesbian akan disajikan melalui tiga aspek sikap, yaitu aspek

kognitif, aspek afektif, dan aspek konatif. Berikut akan dijelaskan ketiga

aspek tersebut dalam tabel dibawah ini :

C.1 Aspek kognitif

Pada aspek kognitif hal-hal yang akan dijelaskan antara lain

pemahaman tentang lesbian, sumber infomasi lesbian, faktor penyebab

lesbian, pandangan agama terkait dengan lesbian, dan kemungkinan

lesbian menjadi heteroseksual kembali. Hal-hal tersebut akan diuraikan

satu persatu melalui tabel dibawah ini :

C.1.1 Pemahaman Tentang Lesbian Tabel 5

Pemahaman tentang Lesbian

Res Uraian Makna

R1 “… Lesbian itu hubungan antara 2 atau lebih perempuan yang sejenis yang melakukan hubungan dengan alat reproduksinya”

“…Ya melanggar norma agama karena hubungan inikan sesama jenis... jadi di situ haram dan perbuatan terlarang yang harus dihindari”

Kebutuhan

R2 “...Gak tertarik sama lawan jenis, tertariknya justru pada sesama jenis dalam hal ini perempuan ya”

“...Penyimpangan, mestinya kodratnya kalau perempuankan dengan laki-laki, tapi inikan saya katakan kelainan karena ya memang kodratnya gak begitu “

“..Yang namanya penyimpangan, penyimpangan seks kan terlarang atau bisa dikatakan penyakit ya karena

Gambar

Tabel 1Pedoman Wawancara
Tabel 2Tabel Pelaksanaan Penelitian
Tabel 3Demografi Responden
Tabel 5Pemahaman tentang Lesbian
+7

Referensi

Dokumen terkait