• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH

KABUPATEN

MOJOKERTO

Menimbang :

Mengingat

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 7 TAHUN 2006

TENTANG

RETRIBUSI RUMAH POTONG HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MOJOKERTO.

bahwa dalam rangka peningkatan pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan, pembinaan dan pengawasan serta untuk menyesuaikan kondisi perekonomian saat ini, maka Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 2 Tahun 2000 tentang Retribusi Rumah Potong Hewan, perlu ditinjau kembali yang dituangkan dalam Peraturan Daerah ;

L Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur juncto Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1965 tentang

Perubahan Batas Wilayah Kotapraja Surabaya dan Daerah Tingkat ll Surabaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2730);

2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2842);

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209) ;

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699) ;

(2)

7 . 8 . 5 . 6 . 9 . '10. 1 1 . 12. 2

-Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851) ;

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048) ;

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286\; Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Republik Indonesia Negara Tahun 2A04 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389) ;

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4a00) ; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 20A4 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 20A4 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2OO4 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438) ; Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977 tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3101) ; Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteniter (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3253) ;

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258) ; 1 3 .

(3)

Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4 1 3 e ) ;

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor a578) ;

Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 1gg1 tentang Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara ;

Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 17 Tahun Z0O2 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Mojokerto Tahun 2002 Nomor 7 Seri C) ;

Dengan Percetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO dan

BUPATI MOJOKERTO M E M U T U S K A N :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN MoJoKERTo TENTANG RETRIBUSI RUMAH POTONG HEWAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal I

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Mojokerto.

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Mojokerto. 3. Bupati adalah Bupati Mojokerto.

4. Kas Daerah adalah Kantor Kas Daerah Kabupaten Mojokerto.

5. Pejabat yang ditunjuk adalah Pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan pelayanan pada Rumah Potong Hewan yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati.

6. Petugas yang benarcnang memeriksa adalah juru periksa daging dan petugas ahli.

7. Juru periksa daging adalah pegawai Pemerintah Daerah yang telah memperoleh pendidikan khusus mengenai pemeriksaan daging dan bertugas melakukan pemeriksaan daging yang akan menjadi konsumsi masyarakat baik untuk dijual maupun untuk keperruan lain.

1 5 .

1 6 .

1 7 . 1 8 .

(4)

8 . 9 . 1 0 . 1 1 . 12. 1 3 . 1 5 . 1 6 . 1 7 . 1 8 . 1 4 .

Petugas ahli adalah Dokter Hewan yang bertugas di Pemerintah Daerah atau petugas lain di bawah pengawasan dan tanggung jawab dokter hewan dimaksud yang berdasarkan pendidikan dan pengetahuannya ditetapkan sebagai petugas pemeriksa pemotongan hewan.

Rumah Potong Hewan adalah suatu bangunan atau komplek bangunan dengan desain tertentu yang digunakan sebagai tempat memotong hewan bagi konsumsi masyarakat.

Hewan adalah makhluk hidup, meliputi : sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, babi dan unggas.

Ternak besar bertanduk betina produktif adalah sapi, dan kerbau betina yang dapat dimanfaatkan sebagai bibit ternak.

Retribusi Jasa Usaha adalah retribusi atas jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial.

Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberi oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi, diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu.

Masa retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perijinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SKRD adalah Surat Ketetapan Retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi.

Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.

Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKRDKBT adalah Surat yang menentukan jumlah kekurangan pembayaran retribusi karena jumlah kredit

retribusi lebih kecil daripada retribusi yang terutang atau seharusnya terutang.

Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB adalah Surat yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi daerah.

1 9 .

(5)

5

-21. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi, serta menemukan tersangkanya.

BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 2

Dengan nama Retribusi Rumah Potong Hewan, dipungut retribusi atas pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong serta penyediaan fasilitas Rumah Potong Hewan ternak.

Pasal 3

Objek Retribusi adalah pelayanan pemotongan hewan yang meliputi : a. pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong ; b. penggunaan fasilitas rumah potong hewan ;

c. pemeriksaan ulang kesehatan daging yang berasal dari daerah lain ; d. pemeriksaan hewan besar bertanduk yang tidak produktif (cap S).

Pasal 4

(1) Hewan besar bertanduk betina yang akan dipotong terlebih dahulu diperiksa secara khusus oleh petugas yang berwenang.

(2) Ternak besar bertanduk yang tidak produktif ditandai cap S dan boleh dipotong di rumah pemotongan hewan dengan diberi surat keterangan hasil pemeriksaan dari petugas yang berwenang.

(3) Ternak besar bertanduk yang dinyatakan tidak boleh dipotong, diberikan surat keterangan penolakan dari petugas yang benlrenang.

Pasal 5

Subyek Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang mendapatkan pelayanan pemeriksaan hewan ternak dan penggunaan fasilitas rumah potong hewan.

(6)

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 6

Retribusi Rumah Potong Hewan termasuk golongan retribusi jasa usaha.

BAB IV

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 7

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jenis pelayanan, jenis hewan dan jumlah hewan yang diperiksa/dipotong.

BAB V

PRINSIP YANG DIANUT DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI

Pasal 8

Prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk meningkatkan PAD dan menutup sebagian biaya pelayanan, pembinaan dan pengawasan.

BAB VI

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 9

Struktur dan besarnya tarip retribusi Rumah Potong Hewan sebagai berikut :

N o . Jenis Pelayanan Jenis Ternak/ Daging Besar Tarip (Rp.)

4

I z 3 4

4 Pemeriksaan kesehatan

hewan di dalam Rumah Pemotongan Hewan

a. Babi

b. Sapi, kerbau, kuda c. Domba/kambing d. Unggas 10.000,OO/ekor 6.000,O0/ekor 2.500,0O/ekor 50,0O/ekor 2 . Pemeriksaan kesehatan

hewan di luar Rumah Pemotongan Hewan

a. Babi

b. Sapi, kerbau, kuda c. Domba/kambing d. Unggas 15.000,0O/ekor 11.000,OO/ekor 3.000,OO/ekor 100,O0/ekor

(7)

1 2 3 4

3. Pemeriksaan kesehatan

ternak besar bertanduk

betina yang boleh

dipotong (Cap S)

Sapi, kerbau 10.000,OO/ekor

4 . Pemakaian Rumah

pemotongan hewan dan fasilitasnya

a. Babi

b. Sapi, kerbau, kuda c. Domba/kambing d. Unggas 10.000,00/ekor 5.000,O0/ekor 2.000,0O/ekor 50.00/ekor 5. Pemeriksaan ulang (her

keuring) kesehatan daging (Daging segar atau beku) yang berasal dari daerah lain a. s/d 40 kg b . > 4 0 k 9 15.000,00 200/kg BAB VII

TATA CARA PEMUNGUTAN RETRIBUSI Pasal 10

(1) Pemungutan retribusi tidak boleh diborongkan.

(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD dan atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB VIII

WILAYAH PEMUNGUTAN RETRIBUSI Pasal 11

Retribusi terhutang dipungut di daerah tempat pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong serta penyediaan fasilitas Rumah Potong Hewan ternak.

BAB IX

MASA RETRIBUSI DAN RETRIBUSI TERHUTANG Pasal 12

(1) Masa retribusi adalah jangka waktu retribusi yang lamanya sebagai berikut:

a. pemeriksaan kesehatan hewan di dalam Rumah Potong Hewan selama 1 (satu) kali pemeriksaan ;

b. pemeriksaan kesehatan hewan di luar Rumah Potong Hewan selama 1 (satu) kali pemeriksaan ;

(8)

8

-c. pemeriksaan kesehatan ternak besar bertanduk betina yang boleh dipotong (Cap S) selama 1 (satu) kali pemeriksaan ; d. pemakaian Rumah Potong Hewan dan fasilitasnya selama 1

(satu) kali pakai ;

e. pemeriksaan ulang (her keuring) kesehatan daging yang berasal dari daerah lain 1 (satu) kali pemeriksaan ;

(2) Masa retribusi terhutang adalah pada saat ditetapkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB X

TATA CARA PEII'BAYARAN

RETRIBUSI

Pasal 13

(1) Pembayaran retribusiyang terutang harus dilunasi sekaligus.

(2) Retribusi yang terhutang dilunasi selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokomen lain yang dipersamakan.

(3) Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran retribusi diatur lebih lanjut oleh Bupati.

BAB XI

TATA CARA PENAGIHAN Pasal 14

(1) Retribusi terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT, STRD dan Surat Keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang harus dibayar bertambah, yang tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Retribusi dapat ditagih melalui

Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN).

(2) Penagihan retribusi melalui BUPLN dilaksanakan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.

(9)

BAB XII

KEBERATAN PENGURANGAN KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI

Pasal 15

(1) Wajib retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

(2) Keberatan diajukan secara tertulis dengan disertai alasan-alasan yang jelas.

(3) Dalam hal wajib retribusi mengajukan keberatan atas ketetapan retribusi, wajib retribusi harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan retribusi tersebut.

(4) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, kecuali apabila wajib retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar

kuasanya.

(5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3), tidak dianggap sebagai surat keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan.

(6) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan penagihan retribusi.

Pasal 16

(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.

(2) Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, membebaskan atau merubah besarnya retribusi terhutang.

Pasal 17

(1) Bupati dapat memberikan keringanan dan pembebasan retribusi. (2) Pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana

dimaksud ayat (1), diberikan dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi.

(3) Tata cara pengurangan keringanan dan pembebasan retribusi diatur lebih lanjut oleh Bupati.

(10)

BAB XIII

PENYETORAN HASIL PEMUNGUTAN RETRIBUSI Pasal 18

Semua hasil pemungutan retribusi disetor ke Kas Daerah atau Pejabat yang ditunjuk.

BAB XIV

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 19

(1) Pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pelayanan pemotongan hewan dilakukan oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk.

(2) Tata cara serta bentuk pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Bupati.

BAB XV

SANKSI ADMINISTRASI Pasal 20

Dalam hal wajib retribusi tidak membayar tepat waktunya atau kurang membayar dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari jumlah retribusi yang terhutang atau kurang bayar yang ditagih dengan menggunakan STRD.

BAB XVI PENYIDIKAN

Pasal 21

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan

atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;

(11)

b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana retribusi daerah ; c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau

badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah ;

d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana bidang retribusi daerah ;

e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan buku pembukuan, pencatatan, dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan buktitersebut ;

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah ;

g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf c ;

h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi Daerah ;

i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagaitersangka atau saksi guna keperluan penyidikan ;

j menghentikan penyidikan ;

k. wewenang lainnya yang erat berkaitan dengan kegiatan penyidikan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XVII

KETENTUAN PIDANA Pasal 22

Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya membayar retribusi sehingga merugikan keuangan daerah dapat diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah).

Tindak pidana yang dimaksud ayat (1) adalah pelanggaran. ( 1 )

(12)

BAB Xvlll

KETENTUAN PENUTUP Pasal 23

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Pasal 24

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 2 Tahun 2000 tentang Rumah Potong Hewan (Lembaran Daerah Kabupaten Mojokerto Tahun 2000 Nomor 2 Seri B) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 25

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Mojokerto. Ditetapkan di Mojokerto Padatanggal ^Zr Q-L"crsrr ? c'c)L BUPATI MOJOKERTO, Diundangkan di Mojokerto pada tanggal 2t ft[,''-crr' ) cO L,

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO'

A C H M A D Y

(13)

P E N J E L A S A N A T A S

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 3 TAHUN 2006

TENTANG

RETRIBUSI RUMAH POTONG HEWAN

I, UMUM

Dalam rangka peningkatan pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan, pembinaan dan pengawasan serta untuk menyesuaikan dengan kondisi perekonomian saat ini, maka Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 2 Tahun 2000 tentang Retribusi Rumah Potong Hewan perlu ditinjau kembali yang dituangkan dalam Peraturan Daerah.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Pasal 2 Pasal 3 Pasal 4 Pasal 5 Pasal 6 Pasal 7 Pasal 8 Pasal 9 Pasal 10 : Cukup jelas. : Cukup jelas. . Cukup jelas. : Cukup jelas. : Cukup jelas. : Cukup jelas. : Cukup jelas. : Cukup jelas. : Cukup jelas.

ayat (1) : Yang dimaksud tidak dapat diborongkan adalah, bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan retribusi tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Namun dalam pengertian ini tidak berarti bahwa Pemerintah Daerah tidak boleh bekerja sama dengan pihak ketiga. Dengan sangat selektif dalam proses pemungutan retribusi, Pemerintah Daerah dapat mengajak bekerja sama Badan tertentu yang karena profesionalismenya layak dipercaya ikut melaksanakan sebagian tugas pemungutan jenis retribusi secara lebih efisien. Kegiatan yang tidak dapat dikerjasamakan adalah

(14)

ayat (2) : Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14 aYat (1) aYat (2) Pasal 15 aYat (1) aYat (2) aYat (3) aYat (4) aYat (5) aYat (6) Pasal 16 Pasal 17 aYat (1)

kegiatan penghitungan besarnya retribusi yang terutang' pengawasan penyetoran retribusi dan penagihan retribusi' Yang dimaksud dengan dokumen lain yang dipersamakan a n t a r a | a i n b e r u p a s u r a t t a n d a t e r i m a t e l a h m e m b a y a r retribusi. : CukuP jelas. : CukuP jelas. : CukuP jelas. : P e n a g i h a n y a n g d i l a k s a n a k a n o l e h B a d a n U r u s a n P i u t a n g dan Lelang Negara (BPULN) hanya digunakan untuk

tagihan-tagihan dalam jumlah besar' : CukuP jelas.

: CukuP jelas. : CukuP jelas. : CukuP jelas.

. Yang dimaksud dengan keadaan di luar kekuasaannya

ada|ahSuatuyangterjadidituarkehendak/kekuasaanwajib retribusi misalnya : karena wajib retribusi sakit atau terkena

musibah bencana alam' : CukuP jelas.

: CukuP jelas. : CukuP jelas.

. Dasar pemberian pengurangan dan keringanan dikaitkan dengan kemampuan wajib retribusi' sedangkan

pembebasan retribusi dikaitkan dengan fungsi obyek

retribusi-aYat (2) : CukuP ielas' aYat (3) : CukuP jelas' Pasal 18 : CukuP jetas' Pasal 19 : CukuP jelas' Pasal 21 : CukuP jelas'

P a s a l 2 2 : D e n g a n a d a n y a s a n k s i p i d a n a d i h a r a p k a n t i m b u l k e s a d a r a n dariwajibretribusiuntukmemenuhikewajibannya'. 23 : CukuP jetas' 24 : CukuP jelas' 25 : CukuP jelas' Pasal Pasal Pasal

Referensi

Dokumen terkait

(1) Objek Retribusi adalah pelayanan penyediaan fasilitas rumah pemotongan hewan ternak termasuk pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong,

Pembinaan dan pengawasan penerapan standar teknis alat dan mesin peternakan dan kesehatan hewan dan kesmavet wilayah provinsi.. Pembinaan

Dokter hewan praktik adalah dokter hewan yang melakukan pelayanan jasa medik veteriner berupa praktik konsultasi kesehatan hewan atau transaksi terapetik dengan izin praktik

Bahwa dalam rangka memberikan pelayanan guna meningkatkan ketertiban dan keamanan kepemilikan ternak serta menekan angka pencurian hewan di wilayah Kabupaten

Disamping itu, dalam rangka memberikan payung hukum terhadap pemberian pelayanan kesehatan dan pemungutan retribusi pelayanan kesehatan di rumah sakit pratama dan puskesmas

1) Meningkatkan fasilitas Pelayanan Aparat. 2) Mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. 3) Mengoptimalkan fungsi BPD dalam pengawasan pembangunan desa 4)

Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah Sakit Program Pengawasan Obat dan Makanan Peningkatan Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Cakupan pelayanan

Pengaturan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan pelayanan kesehatan Pemerintah dan swasta dibidang medis yang meliputi pelayanan medis dasar, pelayanan