• Tidak ada hasil yang ditemukan

DanauLinowResort,Lahendong,Tomohon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DanauLinowResort,Lahendong,Tomohon"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Kata Pengantar

Puji

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga Kajian Fiskal Regional Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2019 dapat selesai tepat pada waktunya. Kajian Fiskal Regional

(KFR) disusun oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Utara sebagai

pengelola fiskal di daerah berisi potret profil dan dinamika kondisi fiskal dan makro

ekonomi di Sulawesi Utara.

Analisis

Analisis fiskal ini dilakukan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan-tujuan makro

ekonomi dalam mendukung pencapaian fungsi APBN terkait alokasi distribusi, dan

stabilisasi seperti menyediakan informasi untuk penyusunan kerangka ekonomi makro

yang menjadi dasar penyusunan kebijakan fiskal/penyusunan APBN/APBD.

Kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan pada

kajian ini, oleh karena itu kami mengharapkan masukan

dari semua pihak untuk perbaikan penyusunan KFR

periode mendatang. Dengan kerendahan hati, kami

periode mendatang. Dengan kerendahan hati, kami

mengucapkan terimakasih terhadap pihak-pihak yang telah

membantu kami dalam proses pengumpulan data sampai

dengan terbitnya KFR ini.

Akhir kata, kami berharap kajian ini dapat bermanfaat bagi

semua kalangan, sehingga dapat menjadi referensi

dan media informasi yang strategis bagi

stakeholders, Satker K/L, Pemda, atau pihak

stakeholders, Satker K/L, Pemda, atau pihak

terkait lainnya guna mendukung keberhasilan

kebijakan fiskal di Sulawesi Utara. Serta

diharapkan bisa menjadi bahan masukan

bagi Kementerian Keuangan, dalam

mengambil kebijakan pengelolaan fiskal

nasional.

Manado, Medio Februari 2020

Manado, Medio Februari 2020

Kakanwil DJPb Prov. Sulut,

(4)

DAFTAR ISI

TIM PENYUSUN:

PENGARAH/PENANGGUNGJAWAB:

KAKANWIL DJPB PROVINSI SULUT, MUHDI

KETUA TIM:

KEPALA BIDANG PPA II, MUSHLIH EDITOR: HATTA HASANUDDIN KONTRIBUTOR: HATTA HASANUDDIN FRANGKY PASUHUK GALIHJATI NOPRID DALAPANG MICHAEL AKAY LAYOUT DESIGN: FRANGKY PASUHUK ALAMAT:

KANTOR WILAYAH DJPB PROV SULUT GKN MANADO LANTAI 3

BAB I

S

T

ASARAN

P

EMBANGUNAN

D

AN

ANTANGAN

S

ULAWESI

U

TARA

1

1.1.

1.2. 1.3.

Pendahuluan

Tujuan Dan Sasaran Pembangunan Sulut Tantangan Daerah

1 2 4

BAB II

P

ERKEMBANGAN

&

A

NALISIS

E

KONOMI

R

EGIONAL

I

NDIKATOR

E

KONOMI

M

AKRO

F

UNDAMENTAL

2.1. 2.2. 2.3.

Indikator Makro Ekonomi Fundamental Indikator Kesejahteraan

Efektivitas Kebijakan Makro Ekonomi dan Pembangunan Regional 11 21 30

BAB III

P

ERKEMBANGAN

D

AN

A

NALISIS

P

ELAKSANAAN

A

PBN

T

INGKAT

R

EGIONAL 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. 3.8.

APBN Tingkat Provinsi

Pendapatan Pemerintah Pusat Tingkat Regional Belanja Pemerintah Pusat Tingkat Regional Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa Analisis Cash Flow APBN Tingkat Regional Pengelolaan BLU Pusat

Pengelolaan Manajemen Investasi Pusat Perkembangan & Analisis Belanja Wajib (Mandatory Spending) & Belanja Infrastruktur Pusat di Daerah 33 33 37 41 45 46 49 51

(5)

JALAN BETHESDA NO. 8 MANADO

BAB IV

P

P

ERKEMBANGAN ELAKSANAAN

A

PBD

D

AN

A

NALISIS

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

APBD Tingkat Provinsi (Konsolidasi Pemda) Pendapatan Daerah

Belanja Daerah

Perkembangan BLU Daerah Surplus/Defisit APBD Pembiayaan

Analisis Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah Perkembangan Belanja Wajib Daerah

55 56 63 65 65 66 67 69

BAB V

P

ERKEMBANGAN

D

AN

A

NALISIS

P

ELAKSANAAN

A

NGGARAN

K

ONSOLIDASIAN (

A

PBN &

A

PBD) 1. 2. 3. 4. 5.

Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian Pendapatan Konsolidasian

Belanja Konsolidasian Surplus/Defisit Konsolidasian

Analisis Dampak Kebijakan Fiskal Agregat

73 73 76 80 81

BAB VI

K

S

EUNGGULAN

D

AN

P

OTENSI

E

KONOMI

ERTA

T

ANTANGAN

F

ISKAL

R

EGIONAL

1. 2. 3.

Sektor Unggulan Daerah Sektor Potensial Daerah

Tantangan Fiskal Regional Dalam Mendorong Potensi Ekonomi Daerah

86 88 94

BAB VII

A

NALISIS

T

EMATIK 101

BAB VIII

P

ENUTUP Kesimpulan Rekomendasi 115 117

D

AFTAR

P

USTAKA 114

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1.

Keunggulan Pelabuhan Samudera Bitung Sebagai ……….

8

Pelabuhan Ekspor-Impor

Tabel 2.1.

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi se-

Indonesia……….………..

13

Tabel 2.11. Indikator Makro Ekonomi & Pembangunan Provinsi Sulut

.………

31

Tabel 3.2.

Perkembangan Penerimaan PNBP Fungsional Sulut………

... 36

Tabel 3.3.

Tingkat Penyerapan 10 K/L Terbesar di SULUT TA 2019………..

37

Tabel 3.4.

Perkembangan Pagu dan Realisasi per Jenis Belanja 2019 ……….

39

Tabel 3.5.

Perkembangan Anggaran dan Realisasi Dana Transfer……….

41

Daerah Prov. Sulut 2018-2019

Tabel 3.6.

Rasio Sumber Pendanaan

BLU………..……….

47

Tabel 3.7.

Analisis Kemandirian BLU Tahun 2019 ………..………

... 47

Tabel 3.8.

Rasio Efektivitas BLU ………..………..

48

Tabel 3.9.

Daftar Satker PNBP dengan Nilai Aset Terbesar Tahun 2019………

48

Tabel 3.10. Profil dan Perkembangan Outstanding Pinjaman

……….

49

BUMD/Pemda Sulut Posisi per 31 Desember 2019

Tabel 3.11.

Realisasi KUR di Sulawesi Utara Tahun 2019..……..………..

50

Tabel 3.12.

Capaian output Prioritas Bidang Pendidikan..……..……….

51

Tabel 3.13.

Capaian Output Bidang Kesehatan.………..………

. 52

(7)

Tabel 4.2.

Perbandingan Rasio Kemandirian Daerah TA 2019 pada

………

58

Prov/Kota/Kab di Provinsi Sulawesi Utara.

Tabel 4.3.

Alokasi dan Realisasi Pendapatan di Prov. Sulawesi Utara……….

60

Tabel 4.4.

Urusan Pilihan Prioritas Pemda Lingkup ………

63

Prov. Sulawesi Utara TA 2019

Tabel 4.5.

Profil APBD Klasifikasi Jenis Belanja Pemda Lingkup

…..………...

64

Prov. Sulawesi Utara TA 2019

Tabel 4.6.

Rasio Surplus/Defisit Terhadap PDRB Lingkup…….………

66

Prov. Sulawesi Utara TA 2019

Tabel 4.7.

Rasio Keseimbangan Primer Pemda Lingkup …………...………

68

Prov. Sulawesi Utara TA 2019

Tabel 4.8.

Peta Kapasitas Fiskal Daerah Kab/Kota Lingkup .……...………..

69

Prov. Sulawesi Utara TA 2019

Tabel 5.1.

Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian Sulawesi Utara……….

73

Tahun 2019

Tabel 5.2.

Perbandingan Realisasi Penerimaan Perpajakan ……….………

.. 74

Konsolidasi Pusat/Daerah dan PDRB Prov Sulut

Tahun 2019 dan 2018

Tabel 5.3.

Rasio Pajak per kapita per daerah………..…………

75

Tabel 5.4.

Realisasi Pendapatan Konsolidasi Pusat/Daerah dan …….………..

75

Pertumbuhan Ekonomi Prov. Sulut Tahun 2018 dan 2019

Tabel 5.5.

Korelasi antara belanja pemerintah konsolidasian terhadap.….……….

79

Beberapa Indikator Ekonomi Regional

Tabel 5.6.

Korelasi antara Belanja Pemerintah terhadap Pertumbuhan………..

79

Sektor Lapangan Usaha

Tabel 5.7.

Rasio Surplus/Defisit Konsolidasian terhadap PDRB pada

..……….

80

Provinsi Sulawesi Utara

Tabel 5.8.

Laporan Operasional GFS Sulut. . . . ……….…………

81

Tabel 5.9.

Analisis Kontribusi Pemerintah terhadap PDRB ……….……….

82

berdasar LO GFS

Tabel 6.1.

Inde

ks Location Quotient Provinsi ………

85

Sulawesi Utara Tahun 2013-2019

Tabel 6.2.

Hasil Analisis MRP, LQ dan Overlay Provinsi Sulawesi Utara ……….

86

Tabel 6.3.

Kondisi Jalan Kewenangan Nasional, Provinsi, dan Kabupaten,

Konektivitas, dan dan Kemaritiman 2015-2018 (Persen)

………

88

Tabel 6.4.

Jumlah Kunjungan Kapal Laut Pada Pelabuhan di Provinsi

………..

89

(8)

Tabel 6.5.

Volume dan Perkembangan Bongkar Muat Barang di Bandar

…..

93

Udara Yang Ada di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2017

dan 2018

Tabel 6.6.

Jumlah dan Perkembangan Angkutan Barang Non Peti Kemas ..

93

Pada Pelabuhan Laut Di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2017

dan 2018

Tabel 7.1.

Balita Stunting Kabupaten/Kota Sulawesi Utara 2016-2018

………103

Tabel 7.2.

Pendanaan Stunting dari Transfer daerah dan ………. 106

Dana Desa Sulawesi Utara 2019

Tabel 7.3.

Total Potensi Nilai Konvergensi Penanganan Stunting……..……… 108

Tabel 7.4.

Jumlah Fasilitas Kesehatan menurut Kecamatan,……….……… 11

2

(9)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 2.1.a Pertumbuhan Ekonomi Sulut dan nasional (persen) ……….. 12

Grafik 2.1.a Indeks Implisit Perkembangan Perekonomian Sulut dan Nasional.. 12

Grafik 2.2 Pertumbuhan beberapa Komponen Pengeluaran Tw IV 2019…... 14

Grafik 2.3 Perkembangan Inflasi Sulut dan Nasional……….. 18

Grafik 2.6 Pergerakan Kurs Tengah Mata Uang Asing terhadap Rupiah……….. 21

Grafik 2.7 Perkembangan IPM Sulut dan Nasional………... 21

Grafik 2.8 Trend Realisasi Belanja Sulut sd Tw III 2019…...………... 21

Grafik 3.1 Realisasi Penerimaan Perpajakan Prov Sulut TA 2019 ………...34

Grafik 3.2 Perkembangan Realisasi Penerimaan Perpajakan Pempus …………... 34

Grafik 3.3 Perkembangan Tax Rasio 5 tahun terakhir ………....35

Grafik 3.4 Pajak Perkapita ………... 35

Grafik 3.5 Perkembangan Realisasi PNBP Sulut ………... 36

Grafik 3.6 Alokasi Belanja Per Fungsi ………... 38

Grafik 3.7 Pagu dan Realisasi Per Fungsi ………... 38

Grafik 3.8 Perbandingan Belanja Sektor Konsumtif dan Produktif... 39

Grafik 3.9 Perbandingan Penyerapan APBN Sulut... 40

Grafik 3.10 Uang yang beredar dari APBN... 40

Grafik 3.11 Cash Flow APBN Sulut diluar Transfer Daerah... 45

Grafik 3.12 Perkembangan Aset BLU Unsrat dan RS Kandou... 46

Grafik 3.13 Perkembangan Pagu BLU dan Pagu RM Satker BLU Sulut... 46

Grafik 4.1 Perbandingan Rasio Ruang Fiskal Pemda Se Sulut TA 2019... 58

Grafik 4.2 Kontribusi Pemda Thd Total PAD Sulut TA 2019... 59

Grafik 4.3 Perkembangan rasio PAD terhadap Belanja Daerah... 61

(10)

Grafik 4.6 Perbandingan Realisasi Retribusi Daerah selain Pemprov Sulut... 62

Grafik 4.7 Perbandingan Realisasi Pendapatan Lain-lain... 63

Grafik 4.8 Proporsi dan Realisasi Belanja APBD Urusan Wajib ... 64

Grafik 4.9 Perbandingan Rasio Surplus/Defisit Terhadap Agregat... 65

Grafik 4.10 Perbandingan Rasio Surplus terhadap realisasi dana transfer... 65

Grafik 4.11 Perbandingan Rasio SIKPA terhadap Alokasi Belanja... 66

Grafik 4.12 Rasio Keseimbangan Primer Pemda... 67

Grafik 4.13 Perkembangan APM Prov. Sulawesi Utara... 67

Grafik 4.14 Perkembangan Kinerja Sektor Kesehatan Prov. Sulawesi Utara... 71

Grafik 5.1 Proporsi Pendapatan Konsolidasian TA 2019………... 73

Grafik 5.2 Perubahan Total Pendapatan Pusat dan Daerah selain Transfer... 74

Grafik 5.3 Perbandingan Proporsi Total Pendapatan Konsolidasian TA 2019.. 74

Grafik 5.4 Perbandingan Proporsi Realisasi Belanja Pusat dan Daerah……….... 76

Grafik 5.5 Komposisi Belanja Konsolidasian Prov Sulut TA 2018 dan 2019.... 76

Grafik 5.6 Rasio Belanja Konsolidasian Per Kapita……….... 76

Grafik 5.7 Rasio Belanja Konsolidasian Per Kapita dlm Juta……….... 76

Grafik 5.8 Rasio Belanja Modal/ Infrastruktur………... 78

Grafik 5.9 Perbandingan Porsi Alokasi Belanja Konsolidasian Kab/Kota….... 78

Grafik 5.10 Surplus Defisit Konsolidasi per kab/kota…... 81

Grafik 6.1. Perbandingan Jumlah Kunjungan Kapal Laut di ……….. 85

Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2017 dan 2018 (Unit) Grafik 6.2. Penumpang Angkutan Laut di Provinsi Sulawesi ……….. 86

Utara 2017 dan 2018 (orang) Grafik 6.3. Jumlah Pesawat Berangkat di Provinsi Sulawesi ……….. 86

Utara (2017-2018) Grafik 6.4 Jumlah Pesawat Datang di Provinsi Sulawesi Utara ……… 87

(2017-2018) Grafik 6.5. Jumlah Penumpang Berangkat di Provinsi Sulawesi Utara ……… 88

2017 dan 2018 (orang) Grafik 6.6. Jumlah Penumpang Datang di Provinsi Sulawesi Utara ……… 88

2017 dan 2018 (orang) Grafik 6.7. Pengurangan PPh Badan ………..………..……… 95

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Posisi Stategis Sulut dalam Jalur Perdagangan

………..

8

Internasional

Gambar 6.1. Lokasi KEK Bitung dan KEK Likupang Sulawesi Utara

………

92

(12)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Kondisi Daerah

Geolokasi Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang berada di bibir Samudera Pasifik menjadikan Provinsi Sulut lebih dekat dengan negara-negara ASEAN dan negara-negara di Asia Pasifik. Posisi geografis ini cukup strategis bagi sulut untuk menjadi hub jalur perdagangan laut maupun udara di Indonesia Timur dan didukung struktur demografi yang bagus. Selain itu, tingginya aktifitas pembangunan infrastruktur dan dengan disertai prospek local factor endowment yang besar menjadikan Sulut sebagai wilayah dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup menjanjikan. Keunggulan pada berbagai wilayah seperti sektor Akomodasi dan Makan Minum di Manado, Pertambangan di Minut, Transportasi pergudangan di Bitung dan Konstruksi di Minahasa, turut menguatkan struktur perekonomian Sulut. Namun demikian masih terdapat tantangan yang perlu diselesaikan seperti rendahnya kemandirian fiskal, peningkatan kualitas SDM dan penyediaan lapangan kerja, titik pertumbuhan yang tidak merata dan hanya berkumpul di Sulut bagian Utara, serta tingginya ketergantungan terhadap produk kelapa dan olahannya. Potensi dan keunggulan yang ada jika dioptimalkan akan mampu mengatasi permasalahan dan tantangan di Sulut.

Perkembangan Indikator Ekonomi Makro dan Kesejahteraan

Indikator perekonomian Sulut menunjukkan sinyal yang positif. Kinerja perekonomian Provinsi Sulut pada tahun 2019 tercatat tumbuh sebesar 5,66% (YoY) dibandingkan tahun 2018 sebesar 6,01%. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh seluruh lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 15,75 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 7,81 persen. Sedangkan, inflasi pada tahun 2019 tetap terjaga pada level yang rendah dan terkendali inflasi pada kisaran 3,52% (YoY), diatas inflasi nasional yang sebesar 2,72%. Kelompok bahan makanan memberikan sumbangan inflasi sebesar -2.2304 persen. Selanjutnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulut masih melanjutkan tren peningkatan dengan capaian tahun 2019 sebesar 72,99 dengan kategori tinggi, meningkat sebesar 0,79 poin atau tumbuh sekitar 1,09 persen dibanding tahun 2018. Namun terdapat beberapa catatan penting pada perkembangan indikator perekonomian Sulut yang patut menjadi perhatian dimana dari Kabupaten/Kota yang memiliki IPM yang lebih tinggi wilayahnya cenderung dekat dengan ibu kota provinsi.

Namun pertumbuhan positif indikator perekonomian tidak seluruhnya sejalan dengan capaian pada indikator pembangunan. Meski terjadi penurunan jumlah penduduk miskin pada tahun 2019, namun hal tersebut tidak selaras dengan angka gini ratio yang justru mengalami kenaikan sebesar

(13)

0.376 masih dibawah nasional 0.382. Pun demikian dengan indikator ketenagakerjaan, dengan angka Tingkat Pengangguran Terbuka yang mengalami peningkatan tercatat angka ketenagakerjaan sampai dengan Agustus 2019 sebanyak 1,21 juta orang dan tingkat penganguran terbuka (TPT) berada pada 6,25 persen. Hal tersebut patut menjadi perhatian pemerintah daerah di Sulut untuk menyelarsakan pertumbuhan Indikator Perekonomian dan Indikator Pembangunan penduduknya.

Perkembangan dan Pengaruh Fiskal Di Provinsi Sulut

Realisasi Pendapatan pada APBN 2019 Prov. Sulut mencapai Rp4,89 triliun atau 95% dari target. Penerimaan perpajakan mengalami kenaikan di banding tahun 2018, hal tersebut tidak diikuti oleh pendapatan PNBP yang menurun 14% dibanding tahun sebelumnya. Hal yang cukup menarik adalah realisasi belanja APBN di Sulut tahun 2019 yang merupakan realisasi belanja APBN dengan total realisasi belanja APBN Sulut mencapai Rp9,38 triliun atau sebesar 90,12%. Belanja Pegawai mengambil porsi terbesar 98,64% sejalan dengan adanya perubahan formasi di satuan kerja Kodam XIII Merdeka dan status tipe B Polda Sulut, diikuti oleh Belanja Barang yang mencapai Rp3,7 triliun. Kebijakan umum TKDD pada tahun 2019 menunjukkan komitmen dan keseriusan pemerintah pusat dalam upaya memperkuat otonomi daerah dan desentralisasi fiskal secara kontinu, sekaligus pengejawantahan Nawacita ketiga yaitu membangun dari pinggiran dengan memperkuat pembangunan daerah dan desa dalam kerangka NKRI. Penurunan angka stunting dan penguatan sistem keuangan desa juga menjadi salah satu fokus agenda pusat yang tertuang dalam alokasi TKDD TA 2019.

Pendapatan negara konsolidasian di tahun 2019 naik tipis 2,4 persen dibanding tahun 2018 dengan nilai Rp21,93 triliun, yang bersumber dari tumbuhnya penerimaan pajak daerah dan PNBP pusat. Demikian juga belanja konsolidasian mengalami kenaikan 0,6 persen di banding tahun 2018 dengan total nilai Rp26,32 triliun, yang berasal dari kenaikan belanja negara pusat termasuk transfer ke daerah yang nilainya melebihi penurunan belanja daerah. Pendapatan Konsolidasian terdiri dari penerimaan Pajak, PNBP, Hibah dan Transfer ke Daerah. Total Pendapatan Kosolidasian pemerintah pusat dan pemerintah daerah tahun 2019 adalah sebesar Rp21,93 triliun, dimana dana transfer menyumbang porsi sebesar 66,14 persen atau Rp14,50 triliun. Pendapatan perpajakan konsolidasi sebesar Rp5,46 triliun berkontribusi 24,90 persen dari total pendapatan konsolidasian. Sedangkan PNBP Konsolidasian berkontribusi sebesar 8,47 persen atau sebesar Rp1,85 triliun.

Dari analisa rasio kemandirian, tidak terdapat satupun pemerintah daerah yang menunjukkan kemandirian pendapatan, yang berarti semua pemda memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dari pusat. Proporsi belanja antara pusat daerah sampai dengan akhir tahun masih berpola sama dengan di dominasi oleh Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Belanja Modal. Sedangkan porsi belanja lainnya sangat kecil dari sisi pagu, seperti Bansos Pusat maupun Daerah yang porsi realisasi kurang dari 1 persen. Porsi Belanja Hibah di daerah pun hanya sebesar 4,41 persen.

(14)

Perbedaan yang mencolok terlihat pada belanja pegawai dimana realisasi daerah lebih besar dibanding belanja pusat. Sedangkan proporsi terbesar Belanja Pusat terdapat pada Belanja Barang. Total belanja operasional daerah sedikit lebih tinggi 8 persen dibandingkan belanja operasional pusat, yang menunjukkan kinerja dalam efisiensi belanja rutin satker pusat maupun daerah di Sulut relatif sama. Namun dari sisi kinerja keseluruhan, besarnya belanja rutin mencerminkan rendahnya fleksibilitas fiskal dalam pembangunan daerah.

Besarnya proporsi realisasi urusan Pendidikan oleh pemda lingkup Provinsi Sulawesi Utara yang mencapai 21,6 persen dari total pagu, telah sejalan dengan misi pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk memantapkan pembangunan sumber daya manusia yang berkepribadian dan berdaya saing. Belanja urusan pendidikan tercatat sebagai sektor yang senantiasa menjadi prioritas setiap tahun anggaran. Sementara itu, kebijakan pemerintah daerah lingkup Provinsi Sulawesi Utara yang menjadikan urusan Kesehatan sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah, sejalan dengan kinerja positif sektor kesehatan daerah ini pada beberapa tahun terakhir. Data Kementerian Kesehatan terkait Angka Kematian Ibu dan Bayi serta Kasus Balita Gizi Buruk menunjukkan tren penurunan.

alokasi belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) di Sulawesi Utara tahun 2019 naik sebesar 3,27% dimana kenaikan terbesar bersumber dari kenaikan Dana Desa dan Dana Alokasi Umum sehubungan dengan adanya DAU Tambahan untuk Dana Kelurahan. Meskipun demikian, capaian realisasi TKDD turun 0,6% dibanding tahun sebelumnya menjadi 97,5%. Sinyal positif adalah kenaikan capaian realisasi DAK Fisik, transfer daerah yang bersifat conditional grant yang menyesuaikan Rencana Pembangunan Nasional yang disusun oleh Bappenas untuk proyek-proyek fisik di daerah prioritas.

Rekomendasi Kebijakan.

Memberikan gambaran bahwa jarak tempuh distribusi barang dari Sulut ke pelabuhan tujuan ekspor, seperti Kaohsiung, Hongkong, Sanghai, Busan, Tokyo, dan Los Angeles lebih dekat dibandingkan dari Jakarta (via Singapura). Selisih jarak rute pelayaran tersebut tentunya akan membawa dampak pada efisiensi waktu dan biaya. Tabel tersebut juga menggambarkan bahwa angka efisiensi baik waktu maupun biaya tersebut cukup signifikan. Hal ini tentunya dapat menekan biaya logistik yang selama ini ditengarai menjadi salah satu faktor rendahnya daya saing Indonesia di pasar Internasional. Oleh karena itu optimalisasi Pelabuhan Bitung dalam kerangka ekspor-impor menjadi sesuatu yang urgen untuk segera direalisasikan. Pada gilirannya program optimalisasi Pelabuhan Bitung dengan peningkatan kapasitas bongkar-muat dapat menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk-produk nasional.

(15)

INFOGRAFIS KONDISI MAKROEKONOMI

SULAWESI UTARA TA 2019

5,45

%

8,13

%

5,66

%

Y-on-Y

Q-to-Q

C-to- C

Q2-2018

Q1-2019

Q2-2019

ADHK 20T ADHB 29T ADHK 21T ADHB 29T ADHK 22T ADHB 31T

PERTUMBUHAN EKONOMI

PERTUMBUHAN TERTINGGI Y-ON-Y

Jasa Lainnya

15,75

%

Jasa Pendidikan

11,94

%

Pengadaan

Listruk,Gas dan

Produksi Es

9,18

%

IHK/INFLASI

JUNI

3,6

%

JAN

JUNI

4,77

%

JUNI ‘18

-

JUNI ’19 (Y

-ON-Y)

5,10%

UMR Rp3,05 Juta

KEMISKINAN PER MARET 2019

ANGKATAN KERJA

1,19 JUTA (NAIK)

TPT 5,37% (TURUN)

SHARE PEREKONOMIAN

PERTANIAN 20,83%

PERDAGANGAN 12,75%

TRANSPORTASI

PERGUDANGAN 11,17%

KONSTRUKSI 11,79%

INDUSTRI

PENGOLAHAN 8,73%

SEKTOR LAIN 35,18%

(16)

REALISA

SI CUKAI

21,29 M

124%

INFOGRAFIS REALISASI APBN

SULAWESI UTARA TA 2019

REALISAS

I PAJAK

3.654 M

87,27%

REALISASI

PNBP

909 M

132%

PELAYANAN UMUM P: 3.683M R: 3.525M

29%

PENDIDIKAN P: 1.743M R: 1.538M

14%

EKONOMI P: 3.603M R: 3.018M

27%

PERTAHANAN P: 1.230 M R: 1.165 M

7,9%

KETERTIBAN KEAMANAN P: 1.258 M R: 1.322 M

10%

AGAMA P: 168M R: 159M

1,1%

PARIWISATA P: 2M R: 2M

0,2%

KESEHATAN P: 1.073M R: 1.017M

7,3%

PERUMAHAN FASUM P: 318 M R: 276 M

2,8%

LINGK HIDUP P: 221 M R: 200 M

1,7%

TOTAL PAGU

13.341 M

98

%

93

%

77

%

96%

99,9

%

BELANJA PER FUNGSI/URUSAN

8,935 10,498 9,846 95.90% 90.0% 89.9% 85.00% 90.00% 95.00% 100.00% 8,000 9,000 10,000 11,000 2017 2018 2019 TREN BELANJA (MILIAR) REAL % 4,592 4,621 4,897 92.11% 91.64% 95.39% 88.00% 90.00% 92.00% 94.00% 96.00% 4,400 4,500 4,600 4,700 4,800 4,900 5,000 2017 2018 2019 TREN PENDAPATAN (MILIAR) REAL % 14,056 13,765 14,055 98.30% 98.1% 97.5% 97.00% 97.20% 97.40% 97.60% 97.80% 98.00% 98.20% 98.40% 13,600 13,700 13,800 13,900 14,000 14,100 2017 2018 2019

TREN TRANSFER DAERAH (MILIAR)

REAL %

(17)

BEL PEGAWAI

97%

BEL BARANG

89%

BEL

MODAL

77

%

BEL LAIN LAIN

95%

INFOGRAFIS REALISASI APBD KONSOLIDASIAN

SULAWESI UTARA TA 2019

REALISAS

I

RETRIBU

SI

259 M

73%

REALISASI

PAJAK

DAERAH

1.659 M

99%

REALISASI

PENDAPAT

AN

LAIN

489 M

110%

REALISASI

TRANSFER

DAERAH

14.311 M

97%

(18)
(19)

BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN

TANTANGAN SULAWESI UTARA

1.1. PENDAHULUAN

Tujuan utama penyelenggaraan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah untuk mewujudkan keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata. Oleh sebab itu, untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang baik maka harus disertai dengan unsur pendanaan yang berasal dari penghimpunan pendapatan maupun dari pengalokasian anggaran belanja baik pada APBN maupun APBD. Sesuai dengan Undang-Undang Keuangan Nomor 17 Tahun 2003, pemegang kekuasan tertinggi pengelolaan keuangan negara adalah Presiden, sedangkan di daerah adalah Gubernur/Bupati/Walikota, oleh karena itu dalam tataran implementasi kebijakan fiskal di daerah, maka diperlukan sinergi dan harmonisasi kebijakan serta pengelolaan keuangan pusat dan daerah agar tujuan dan sasaran pembangunan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, kebijakan fiskal sebagai alat pemerintah untuk mencapai sasaran pembangunan dan kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab pusat dan daerah dalam memastikan efektifitasnya. Dengan tiga fungsi utamanya sebagai alat alokasi, distribusi, dan stabilisasi, maka kebijakan fiskal yang efektif diharapkan mampu meningkatkan perbaikan kualitas indikator-indikator ekonomi makro dan kesejahteraan di daerah. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang efektif dapat terlihat dari perbaikan-perbaikan indikator makro ekonomi dan indikator-indikator kesejahteraan. Tidak terlepas dari hal tersebut, maka hal pertama yang harus menjadi dasar bagi perumusan kebijakan fiskal yang efektif dan efisien adalah daerah harus memetakan terlebih dahulu tantangan -tantangan daerah yang dihadapi baik dari sisi Untuk mewujudkan

keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan

masyarakatyang adil dan

merata. Oleh sebab itu, untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang baik maka harus disertai dengan unsur pendanaan yang berasal dari penghimpunan pendapatan maupun dari pengalokasian anggaran belanja baik pada APBN maupun APBD.

(20)

ekonomi, sosial-kependudukan, serta tantangan wilayahnya, sehingga intervensi kebijakan fiskal melalui program prioritas dapat secara langsung menjawab tantangan daerah yang dihadapi.

1.1 TUJUAN & SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH SULUT

1.1.1 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program kepala daerah yang memuat tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan, pembangunan Daerah dan keuangan Daerah, serta program Perangkat Daerah dan lintas Perangkat Daerah yang disertai dengan kerangka pendanaan bersifat indikatif untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang disusun dengan berpedoman pada RPJPD dan RPJMN.

Sesuai Peraturan Daerah Sulawesi Utara Nomor 3 tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sulawesi Utara sudah diamanatkan visi pembangunan daerah Sulawesi Utara tahun 2005-2025 adalah:

“Sulawesi Utara yang berbudaya, berdaya saing, aman, dan sejahtera sebagai pintu gerbang Indonesia ke Kawasan Asia Timur dan Pasifik”. Selanjutnya, untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan dalam RPJPD Sulawesi Utara 2005-2025 maka arahan kebijakan pada RPJMD periode III 2015-2020 adalah

“Memantapkan pembangunan Sulawesi Utara yang berbudaya, berdaya saing, aman

dan sejahtera, dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis SDA yang tersedia, SDM yang berkualitas, serta

kemampuan iptek.” Dengan berpedoman kepada UUD 1945, UU No. 17 Tahun 2007

tentang RPJPN, Perda Sulawesi Utara nomor 3 tahun 2016, RPJMD Provinsi Sulawesi Utara 2016-2021 yang telah diubah melalui Perda Sulawesi Utara Nomor 2 tahun 2018 disusun sebagai penjabaran dari Visi, Misi, dan Agenda Sulut Hebat Gubernur/Wakil Gubernur Olly Dondokambey, SE dan Drs. Steven Kandouw.

Visi Pembangunan Provinsi Sulawesi Utara 2016-2021 adalah “Terwujudnya Sulawesi Utara Berdikari Dalam Ekonomi, Berdaulat Dalam Politik, dan Berkepribadian Dalam

(21)

Budaya”. Agenda lima tahun selama tahun 2016-2021 diharapkan akan meletakkan fondasi yang kokoh bagi tahap-tahap pembangunan selanjutnya.

Selanjutnya, untuk mewujudkan visi tersebut perlu disusun rumusan umum mengenai upaya-upaya uang akan dilaksanankan dalam suatu misi-misi. Rumusan misi dalam dokumen RPJMD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis, baik eksternal dan internal yang mempengaruhi serta kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah. Terdapat tujuh Misi Pembangunan Sulawesi Utara guna mewujudkan visi yang ada, yaitu:

1) Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan memperkuat sektor pertanian dan

sumberdaya kemaritiman serta mendorong sektor industri dan jasa.

2) Memantapkan pembangunan sumberdaya manusia yang berkepribadian dan

berdaya saing.

3) Mewujudkan Sulawesi Utara sebagai destinasi investasi dan pariwisata yang berdaya saing.

4) Mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat yang adil, mandiri dan maju.

5) Memantapkan pembangunan infrastruktur berdasarkan prinsip pembangunan

berkelanjutan.

6) Mewujudkan Sulawesi Utara sebagai pintu gerbang Indonesia di kawasan timur.

7) Mewujudkan Sulawesi Utara yang berkepribadian melalui tata kelola

pemerintahan yang baik.

1.1.2 Rencana Kerja Pemerintah Daerah

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sulawesi Utara disusun dengan berpedoman pada RPJPD Provinsi Sulawesi Utara dan merupakan penjabaran dari RPJMD 2016-2021 Provinsi Sulawesi Utara, serta diserasikan dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2019. RKPD 2019 adalah RKPD ke-3 pada periode RPJMD SK sebagai bagian dari gerbong pencapaian Visi dan Misi OD-SK. Tema RKPD Sulawesi Utara Tahun 2019 adalah “Mempercepat kemandirian

(22)

pembangunan ekonomi, sosial dan infrastruktur menuju Sulawesi Utara yang

berdaya saing”.

Mengacu dari Tema dan Prioritas Nasional, maka prioritas pembangunan RKPD Tahun 2019 Provinsi Sulawesi Utara di Tetapkan dalam 10 Prioritas Daerah, sebagai berikut:

1) Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran;

2) Pembangunan Pendidikan;

3) Pembangunan Kesehatan;

4) Revolusi Mental dan Reformasi Birokrasi; 5) Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah;

6) Kedaulatan Pangan (Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan Kemaritiman); 7) Trantibmas dan kesuksesan Pemilu Presiden dan Legislatif;

8) Peningkatan daya saing investasi;

9) Pembangunan Pariwisata;

10)Pengelolaan bencana dan mitigasi iklim

Arah kebijakan pembangunan daerah berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemeritahan Daerah bahwa terdapat enam urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar yang terdiri dari 1) bidang pendidikan, 2) bidang kesehatan, 3) bidang pekerjaan umum dan penataan ruang, 4) bidang perumahan rakyat dan kawasan permukiman, 5) bidang ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, dan 6 ) bidang sosial; serta arah kebijakan pembangunan

daerah yang mendukung prioritas nasional seperti penanganan Stunting

terintegrasi, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, pemberdayaan masyarakat dan desa, Koperasi dan UKM, hingga pariwisata. (sumber: Bappeda Sulut, RKPD 2019)

1.2 TANTANGAN DAERAH

1.2.1 Tantangan Ekonomi Daerah

Sesuai KUA-PPAS Sulut 2019, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara membidik target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4 di tahun 2019. Secara historis, selama

(23)

periode 2015-2018 pertumbuhan ekonomi Sulut hanya dikisaran 6,1-6,2 persen dan capaian tersebut masih dibawah target RPJMD. Meski dibanding pertumbuhan ekonomi nasional, Sulut masih berada diatas, namun secara regional dibanding daerah lain di Pulau Sulawesi, capaian Sulut masih di posisi terendah. Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian yang mendominasi PDRB justru mengalami tren penurunan di tengah menurunnya harga komoditas utama Sulut, yakni kelapa dan perikanan serta turunannya. Meski demikian, Pemprov masih optimis target tersebut dapat dicapai dengan adanya peningkatan pertumbuhan sektor pariwisata dengan banyaknya trayek penerbangan langsung dari Manado ke berbagai kota di Luar Negeri, baik dengan Tiongkok maupun negara tetangga Philipina.

Investasi pun mengalami tren peningkatan baik PMD maupun PMA di periode 2016-2018. Kegiatan investasi langsung (direct investment) terjadi pada sektor riil seperti bidang industri semen di Kabupaten Bolaang Mongondow, industri pengolahan di wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung, investasi bidang industri pariwisata di lokasi KEK Likupang dan diluar wilayah KEK di sekitar kota Manado dan Kota Bitung, serta investasi swasta bidang pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Klinik dan Laboratorium) dan bidang Pendidikan membangun dan mendirikan sekolah mulai dari tingkat dasar sampai tingkat menengah. Namun demikian, pesatnya perkembangan dan realisasi investasi langsung di daerah masih memerlukan waktu untuk dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan. Perlu adanya perbaikan layanan perizinan investasi daerah sekaligus menciptakan insentif non-fiskal lebih relevan dengan kebutuhan investor nasional dan asing.

Pengembangan dua kawasan ekonomi khusus berlokasi di Kota Bitung dan Likupang Kabupaten Minahasa Utara, dapat dijadikan sebagai model pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kabupaten/kota sebagai strategi pemerataan pusat perekonomian. KEK Bitung yang berbasis pada industri pengolahan sumber daya alam lokal, memiliki lokasi yang strategis dengan fasilitas Pelabuhan Hub Internasional dan akses Jalan Tol Manado-Bitung. Sedangkan di Likupang, disiapkan untuk KEK Pariwisata sebagai wilayah objek wisata alam pesisir

(24)

pantai dan laut yang memiliki beberapa lokasi diving yang unik serta pulau-pulau kecil tanpa penduduk. Dengan lokasi yang hanya sekitar satu jam dari Bandara Sam Ratulangi, akses yang mudah dan lancar serta tersedianya penerbangan langsung dari Manado ke delapan kota di daratan China, Singapore, Davao, Filipina, dan Kuala Lumpur, Malaysia diharapkan akan men-support pengembangan KEK tersebut. Tantangan terbesar di kedua KEK tersebut adalah percepatan pembangunan dan pengembangan kawasan industri yang masih terhambat pembebasan lahan untuk infrastruktur serta sumber energi listrik yang masih terbatas.

Ketersediaan infrastruktur dasar (basic infrastructure), seperti jalan dan jembatan, menjadi sarana utama untuk mobilitas penduduk dan barang dalam menggerakan kegiatan ekonomi lokal. Namun data yang ada menyebutkan bahwa di tahun 2018 hanya 72 persen jalan provinsi yang berada dalam kondisi layak dan baik (Kondisi Jalan Mantap). Demikian juga dengan Irigasi dengan Kondisi Mantap hanya sebesar 68 persen, masih dibawah target RPJMD 78 persen. Selain infrastruktur tersebut, tentunya masih dibutuhkan ketersediaan infrastruktur dasar lainnya seperti listrik, telekomunikasi, pelabuhan lokal dan regional, hingga bandara domestik di daerah terpencil/kepulauan.

Berdasarkan data BPS pertumbuhan ekonomi yang stagnan hanya 6 persen ternyata cukup mampu menekan angka pengangguran. Yang perlu menjadi perhatian adalah banyaknya pengangguran tamatan Sekolah Menengah Kejuruan yang mengindikasikan bidang kejuruan yang tidak sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pasar tenaga kerja. Tren penurunan angka pengangguran harus terus dipertahankan melalui kebijakan Pemda misalkan pinjaman bunga lunak oleh Bank Daerah untuk modal kerja usaha mandiri dengan tujuan penciptaan lapangan kerja sendiri dan bagi orang lain.

1.2.2 Tantangan Sosial Kependudukan

Jumlah penduduk di Sulawesi Utara pada tahun 2018 berdasarkan data BPS Sulut sebanyak 2.484.392 jiwa, dimana 17,35% (431 ribu jiwa) diantaranya berdomisili di Kota Manado. Hal tersebut menggambarkan Kota Manado sebagai pusat kegiatan perekonomian dari sisi konsumsi masyarakat. Namun, jika ditarik

(25)

lebih luas lagi, 60% penduduk di Sulawesi Utara lebih banyak berada di daratan Sulawesi Utara bagian utara, di sekitar Kota Manado, yakni Kab. Minahasa, Kab. Minahasa Utara, Kota Tomohon dan Kota Bitung. Ketidakmerataan jumlah penduduk berdampak pada alokasi keuangan

daerah maupun strategi

pengembangan/pembangunan daerah.

Mayoritas penduduk Sulawesi Utara

beragama Kristen dengan suku yang dominan adalah suku Minahasa. Banyaknya acara keagamaan, acara adat, hingga budaya acara seremonial seperti pesta ulang tahun dan perayaan lainnya, secara langsung berdampak pada perputaran roda perekonomian di Sulut dari sisi konsumsi, dengan terjaganya pertumbuhan ekonomi regional yang selalu diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Dari sisi mata pencaharian, sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (sebesar 28,52%) dan ini selaras dengan nilai PDRB per sektor lapangan usaha dimana porsi terbesarnya di sektor lapangan usaha tersebut. Sedangkan latar belakang pendidikan untuk penduduk yang bekerja, mayoritas lulusan SMP ke bawah (49,18%) yang bekerja di sektor informal, buruh tani, dan sebagainay, dan hanya 15,4% yang bersertifikat diploma/sarjana (BPS Sulut).

1.2.3 Tantangan Geografi Wilayah

Sulawesi Utara adalah salah satu provinsi kepulauan di Indonesia yang berbatasan laut dengan negara tetangga. Geoposisi Sulawesi Utara yang berhadapan langsung dengan lautan Pasifik menempatkannya lebih dekat dengan

negara-negara yang masuk dalam kerja sama ekonomi Asia Tenggara (ASEAN Free

Trade Area, AFTA) dan Asia Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation, APEC). Letak geografis Sulawesi Utara secara geoposisi terdapat pada Pasific Rim yang merupakan jalur distribusi perdagangan dunia.

(26)

Dengan kondisi demikian, letak Provinsi ini cukup relatif dekat dengan negara tujuan ekspor dan pusat

pertumbuhan ekonomi dunia, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok dan Amerika

Serikat, sehingga sangat

prospektif dalam pendistribusian hasil prosuksi berupa barang dan jasa baik perdagangan domestik

maupun internasional. Dalam konteks jalur ekspor-impor, Pelabuhan Bitung berada pada posisi strategis karena posisi Sulawesi Utara yang diapit oleh dua Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), yaitu ALKI 2 (Laut Sulawesi) dan ALKI 3 (Laut Maluku dan Samudra Pasifik).

Geoposisi yang sangat strategis tersebut telah dioptimalkan melalui pengembangan KEK Bitung yang diproyeksikan sebagai International Hub

pada jalur distribusi

perdagangan domestik di KTI,

maupun perdagangan

internasional.

Tabel 1.1. memberikan gambaran bahwa jarak tempuh distribusi barang dari Sulawesi Utara ke pelabuhan tujuan ekspor, seperti Kaohsiung, Hongkong, Sanghai, Busan, Tokyo, dan Los Angeles lebih dekat dibandingkan dari Jakarta (via Singapura). Selisih jarak rute pelayaran tersebut tentunya akan membawa dampak pada efisiensi waktu dan biaya. Tabel tersebut juga menggambarkan bahwa angka efisiensi baik waktu maupun biaya tersebut cukup signifikan. Hal ini tentunya dapat menekan biaya logistik yang selama ini ditengarai menjadi salah satu faktor rendahnya daya saing Indonesia di pasar Internasional. Oleh karena itu optimalisasi Pelabuhan Bitung dalam kerangka ekspor-impor menjadi sesuatu yang urgen untuk segera direalisasikan. Pada gilirannya program optimalisasi Pelabuhan Bitung dengan

Gambar 1.1. Posisi Strategis Sulut dalam Jalur Perdagangan Domestik dan Internasional

Sumber: Bappeda Provinsi Sulut

Tabel 1.1. Keunggulan Pelabuhan Samudera Bitung Sebagai Pelabuhan Ekspor-Impor

KAOHSIUNG (TAIWAN) HONG KONG (CINA) SHANGHAI (CINA) BUSAN (KOREA) TOKYO (JEPANG) LOS ANGELES (AMERIKA) Via Tanjung Priok &

Singapura (Mil Laut) 3.526 3.365 4.142 4.408 3.429 9.574 Bitung Direct (Mil Laut) 1.346 1.423 1.901 2.113 2.220 6.651 Beda Jarak (Mil Laut) 2.18 1.942 2.241 2.295 1.209 2.923 Beda Jam (Jam) 346,46 336,11 349,11 351,46 364,24 378,76 Beda Hari (Hari) 14,44 14,00 14,55 14,64 15,18 15,78 Selisih Biaya Charter

Kapal (US$) 2,887,137 2,800,905 2,909,239 2,928,804 3,035,326 3,156,340 PELABUHAN BITUNG

PELABUHAN NEGARA TUJUAN

(27)

peningkatan kapasitas bongkar-muat dapat menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk-produk nasional.

(28)
(29)

BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS

EKONOMI REGIONAL

2.1. INDIKATOR MAKRO EKONOMI FUNDAMENTAL

2.1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Perekonomian Sulawesi Utara berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2019 mencapai Rp130,20 triliundan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp84,26 triliun. Secara kumulatif ekonomi bertumbuh (5.66 persen, YoY)di seluruh sektor meskipun masih dibawah target RPJMD tahun 2019 (7.02 persen). Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara dipandang masih dibawah potensi pertumbuhannya sebesar 6.00 persen (YoY) sampai dengan 7.00 persen (YoY) menurut laporan tahunan Bank Indonesia tahun 2019 hal ini dipengaruhi oleh lapangan usaha pertanian yang tumbuh relatif terbatas serta terkontraksinya lapangan usaha non utama administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sejalan dengan melambatnya konsumsi pemerintah.

Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Utara mencatat perekonomian Sulawesi Utara pada tahun 2019 diwarnai beberapa isu & tantangan fiskal utama yang diantaranya:

1. Lapangan Usaha Industri yang didominasi oleh industri pengolahan makanan dan minuman, tercatat tumbuh sebesar 0,31% (YoY) pada tahun 2019 melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,48% (YoY). Perlambatan yang terjadi pada Lapangan Usaha tersebut imbas dari perekonomian dunia yang menyebabkan harga-harga komoditas dunia mengalami penurunan.

2. Salah satu komoditas dunia yang mengalami penurunan harga adalah coconut oil (CNO) yang menjadi andalan Sulawesi Utara. Harga CNO melanjutkan tren negative selama 6 bulan pertama 2019 dan secara tahunan rata-rata harganya tercatat terkontraksi sebesar 26,76% (YoY)

3. Kegiatan pembangunan dari pihak swasta juga melambat tercermin dari pengadaan semen di Sulawesi Utara yang terkontraksi sebesar 4,23% (YoY) melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 19,16% (YoY).

Dan isu-isu fiskal lain seperti pelaksanaan APBN, APBD, potensi ekonomi, determinan investasi, kontribusi dana desa dan lain lain yang akan dibahas secara komprehensif di bab- bab selanjutnya.

Perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan I 2020 diperkirakan tumbuh menguat kisaran 6,2-6,6% (YoY). Konsumsi pemerintah yang tercatat relatif rendah (1,30% (YoY)) pada triwulan I 2019 berpotensi menhasilkan base effect pada peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah di Provinsi Sulawesi Utara. Sementara itu, konsumsi rumah tangga dan investasi diperkirakan tetap tumbuh kuat di Triwulan I 2019 sering terjaganya daya beli masyarakt dan percepatan pembangunan Proyek

Ekonomi Sulut Tahun 2019 Tumbuh 5.66 Persen berada diatas nasional (5.00), dibawah rata-rata se-Sulawesi (6.38) Dan RPJMD (7.02) Struktur ekspor, Kendala di hulu pertanian, average spending wistawan, labor mismatch & perkembangan Investasi menjadi Isu dan tantangan fiskal sepanjang 2018 Prospek Perekonomian relatif menguat di 2020

(30)

Strategis Nasional. Adapun kinerja lapangan usaha utama Sulawesi Utara yaitu industri pengolahan,

perdagangan dan konstruksi diperkirakan

tumbuh positif. Secara keseluruhan tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Sulut diperkirakan cenderung stabil mendekati pertumbuhan tahun 2019 pada kisaran 5,8-6,2% (YoY).

Prospek inflasi IHK Sulut diperkirakan akan mengalami tekanan inflasi relatif lebih rendah pada Triwulan I 2020 dan untuk keseluruhan tahun 2020 inflasi masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 3,0%±1%

(YoY) meski

cenderung bias keatas dipengaruhi beberapa faktor risiko diantaranya

penyesuaian harga komoditas yang harganya diatur

pemerintah dan komoditas volatile food utama Sulawesi Utara yaitu Barito.

a. Laju Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) pada 2019 tercatat bertumbuh sebesar 5,66 persen (YoY, grafik 1.1a) dibandingkan tahun 2018 sebesar 6,01 persen (YoY), pertumbuhan tersebut meningkat serta melanjutkan tren selama 5 tahun terakhir yakni relatif lebih baik dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,00 persen (YoY) namun dibawah rata-rata pertumbuhan provinsi se-Sulawesi sebesar 6.38 persen.

Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh seluruh lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 15,75 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 7,81 persen

Lap.Usaha Jasa Lainnya tumbuh 15,75 persen & Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 7,81 persen tertinggi dari sisi produksi dan pengeluaran

0 200 400

Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV

2018 2019

Grafik 2.1b Indeks Implisit Perkembangan Perekonomian Sulut & Nasional (%) Triwulanan

Nasional Sulut

Sumber: BPS (2020) data diolah

6.86 6.38 6.31 6.12 6.17 6.32 6.01 5.66

6.03 5.56

5.01 4.88 5.02 5.07 5.17 5.00

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Grafik 2.1a Pertumbuhan Ekonomi Sulut dan Nasional (persen)

(31)

Secara triwulanan ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan IV-2018 tumbuh 5,45 persen (YoY, grafik 1.1b). Dari sisi

produksi, sebanyak tiga lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan yang negatif, yaitu Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dana Jaminan Sosial; serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Pertumbuhan tertInggi dicapai Lapangan Usaha Lainnya yang tumbuh 23,15 persen. Secara QtQ ekonomi Sulawesi Utara triwulan IV-2019 tumbuh sebesar 8,13 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 16,10 persen yang didorong efek musiman perayaan keagamaan dan tahun baru, serta meningkatnya permintaan penjualan barang-barang ritel serta penyelesaian proyek-proyek infrastruktur.

Sementara itu PDRB se-Indonesia tahun 2019 dibandingkan tahun 2019 (CtC)

mengalami penurunan sebesar 3,7 persen dimana tahun 2018 mencapai 5,17 sedangkan tahun 2019 hanya 5,00. Sedangkan jika di lihat per provinsi pertumbuhan tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 7,15 persen.

b. Nominal PDRB

1) PDRB Menurut Pengeluaran

Dari sisi pengeluaran Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 7,81 persen; diikuti oleh komponen Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) sebesar 6,88 persen; dan komponen pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 5,31 persen sebagaimana dapat dilihat pada tabel 1.2 di bawah ini. Laju pertumbuhan komponen PK-LNPRT mengalami peningkatan selama tahun 2019 karena peningkatan aktivitas lembaga partai politik menjelang pemilihan calon presiden dan calon legislative dan aktivitas lembaga keagamaan pada perayaan keagamaan di Sulawesi Utara. Pertumbuhan ekonomi Sulut berada di posisi 9 (Sembilan) dari 10 (sepuluh) Provinsi se- Sulampua Laju pertumbuhan komponen PK-LNPRT mengalami peningkatan selama tahun 2019 karena peningkatan aktivitas lembaga partai politik menjelang pemilihan calon presiden dan calon legislative dan aktivitas lembaga keagamaan pada perayaan keagamaan di Sulawesi Utara

Tabel 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi se-Indonesia

Provinsi (PDRB)

Pertumbuhan Ekonomi TW IV 2019 q-to-q y-on-y c-to-c

Aceh 0.46 5.21 4.15 Sumatera Utara -0.04 5.21 5.22 Sumatera Barat 0.11 5.13 5.05 Riau -0.47 2.91 2.84 Jambi 0.34 3.59 4.40 Sumatera Selatan 0.33 5.69 5.71 Bengkulu 0.03 4.79 4.96 Lampung -0.02 5.07 5.27

Kep. Bangka Belitung 1.14 3.99 3.32

Kep. Riau -0.31 5.21 4.89 DKI Jakarta 0.28 5.96 5.89 Jawa Barat 0.59 4.11 5.07 Jawa Tengah -0.10 5.34 5.41 DI Yogyakarta -0.40 6.16 6.60 Jawa Timur -0.02 5.54 5.52 Banten -0.40 6.16 6.60 Bali 0.70 5.51 5.63

Nusa Tenggara Barat -8.47 5.70 4.01

Nusa Tenggara Timur -0.07 5.32 5.20

Kalimantan Barat 0.07 4.66 5.00 Kalimantan Tengah -0.51 6.02 6.16 Kalimantan Selatan 1.04 3.85 4.08 Kalimantan Timur -2.10 2.67 4.77 Kalimantan Utara -0.86 6.04 6.91 Sulawesi Utara 0.35 5.45 5.66 Sulawesi Tengah -0.87 9.59 7.15 Sulawesi Selatan 0.14 6.48 6.92 Sulawesi Tenggara -0.09 6.87 6.51 Gorontalo 0.09 6.47 6.41 Sulawesi Barat 0.59 6.37 5.66 Maluku 0.37 4.73 5.57 Maluku Utara 1.79 5.38 6.13 Papua Barat 3.59 8.27 2.66 Papua 23.09 -3.73 -15.72 Indonesia 0.32 5.04 5.00

(32)

Struktur PDRB Sulawesi Utara menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku pada tahun 2019 tidak menunjukkan perubahan yang

berarti. Aktivitas permintaan akhir tahun 2019 masih didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) yang mencakup hampir separuh dari PDRB Sulawesi Utara (Tabel 1.2). Komponen lainnya yang memiliki peranan besar terhadap PDRB secara berturut-turut adalah komponen PMTB, komponen PK-P, dan komponen ekspor barang dan jasa.

Dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara pada tahun 2019 (YoY), Pertumbuhan tertinggi dicapai oelh komponen pembentukan Modal tetap Domestik Bruto sebesar 12,19 persen; diikuti oelh komponen PK-P sebesar 6,98

persen; dan komponen PK-RT sebesar 3,62 persen. Ekonomi Sulawesi Utara triwulan IV Tahun 2019terhadap triwulan III-2019 (QtQ) tumbuh sebesar 8,13 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen PK-P sebesar 21,49 persen, diikuti oelh komponen Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto sebesar 10,31 persen, dan komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 8,55 persen.

2) PDRB Menurut Lapangan Usaha

Dari sisi Lapangan usaha pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa Lainnya yang tumbuh sebesar 15,75 persen, diikuti oleh lapangan usaha Jasa pendidikan yang mencapai 11,94 persen dan lapangan

usaha Pengadaan listrik, Gas dan Produksi Es yang tumbuh sebesar 9.18 persen sebagaimana di tunjukan oleh tabel 1.3. Ditinjau dari masing-masing sumber pertumbuhan di tahun 2019, lapangan

usaha Konstruksi memiliki sumber pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 0,95 persen, diikuti oleh

apangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 0,73 persen dan Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 0,71 persen.

Pertumbuhan tertingi dicapai lapanganusaha jasa Lainnya tumbuh sebesar 15,75 persen

(33)

Struktur perekonomian Sulawesi Utara menurut lapangan usaha tahun 2019 masih tetap didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu: Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (20,83 persen); Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (12,75 persen) dan Konstruksi (11,79 persen).

Jika ditinjau dari masing-masing sumber pertumbuhan di tahun 2019,

lapangan usaha dengan sumber

pertumbuhan tertinggi dipegang oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yakni sebesar 1,14 persen, diikuti oleh lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 1,12 persen serta Konstruksi sebesar 0,78 persen, sedangkan sebanyak 2,26 persen di topang oleh kategori lapngan usaha yang lain.

Secara triwulanan Ekonomi Sulawesi Utara triwulan IV 2019 tumbuh sebesar 5,45 persen

dibandingkan triwulan IV-2018 (YoY). Sebanyak tiga lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan negative, yaitu Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, Admistrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial.

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Lainnya yang tumbuh sebesar 23,15 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh masih berlanjutnya aktivitas pariwisata yang berdampak pada tumbuhnya beberapa tempat wisata baru dan

event yang diadakan di Sulawesi Utara. Pertumbuhan terbesar kedua terjadi pada lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi yang tumbuh sebesar 15,69 persen. Sementara itu lapangan usaha dengan pertumbuhan terbesar ketiga yaitu Jasa Perusahaan mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,51 persen

c. PDRB Per Kapita

Pendapatan per kapita Sulut menunjukkan tren peningkatan. Perkembangan PDRB per kapita Sulut tahun 2019 yaitu sebesar Rp52,5 juta, mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2017 sebesar 44,76 juta dan tahun 2018 sebesar 48,31 juta. Jika dibandingkan dengan PDB per kapita nasional, posisi PDRB per kapita Sulut masih lebih rendah. Jika dilihat dari nasional dimana pada tahun 2019 sebesar 59,01 naik jika dibanding dengan tahun 2018 sebesar 56,00 juta.

(34)

2.1.2. Suku Bunga

Pada Grafik 1.5 terlihat bahwa BI 7- ay Repo Rate cenderung bergerak turun di sepanjang tahun 2019, suku bunga BI yang

dibuka pada level 6.00 di bulan Januari dan ditutup bulan Desember (5.00). Pertumbuhan ekonomi dunia melambat, namun ketidakpastian pasar keuangan

global menurun. Terdapat

sejumlah perkembangan positif

terkait dengan perundingan

perang dagang antara AS-Tiongkok serta proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), meskipun sejumlah risiko geopolitik masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan 3,0% pada 2019, menurun dari 3,6% pada 2018, dan kemudian pulih terbatas menjadi 3,1% pada 2020, ditopang pertumbuhan negara berkembang. PDB AS dan Tiongkok melambat dipengaruhi terbatasnya stimulus dan dampak pengenaan tarif yang sudah terjadi. Ekonomi India juga menurun dipengaruhi konsolidasi di sektor riil dan sektor keuangan, baik bank maupun nonbank. Perbaikan terlihat pada Eropa dan Jepang, meskipun masih relatif terbatas, ditopang permintaan domestik yang membaik. Kemajuan dalam perundingan perdagangan antara AS-Tiongkok juga berdampak pada menurunnya risiko di pasar keuangan global serta mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing ke negara berkembang. Ke depan, prospek ekonomi global dipengaruhi kemajuan trade deal AS-Tiongkok, pemanfaatan trade diversion negara berkembang, efektivitas stimulus fiskal dan pelonggaran kebijakan moneter, serta kondisi geopolitik. Prospek pemulihan global tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi domestik dan arus masuk modal asing.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga ditopang konsumsi rumah tangga, ekspansi fiskal, dan perbaikan ekspor. Perkembangan terkini menunjukkan keyakinan konsumen meningkat bersamaan dengan pola musiman jelang akhir tahun sehingga dapat menopang konsumsi rumah tangga tetap baik. Perkembangan positif ini diperkuat ekspansi fiskal sejalan dengan pola musiman akhir tahun sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2019. Perbaikan ekspor antara lain dipengaruhi naiknya ekspor pulp, waste paper dan serat tekstil ke Tiongkok, masih kuatnya ekspor besi baja ke Tiongkok dan ASEAN, serta berlanjutnya ekspor kendaraan bermotor ke ASEAN dan Arab Saudi. Investasi mulai tercatat meningkat di beberapa daerah seperti di Sulawesi terkait hilirisasi nikel, dan diperkirakan akan terus meningkat dengan sejumlah kebijakan transformasi ekonomi yang ditempuh Pemerintah dan mulai meningkatnya keyakinan dunia usaha. Investasi bangunan juga terus membaik didorong peningkatan kegiatan konstruksi. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2019 diprakirakan membaik sehingga secara keseluruhan tahun

0 50 100 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 30.33 33.78 37.14 40.41 44.76 48.31 52.5 38.37 41.92 45.14 47.96 51.89 56.00 59.01

Grafik 2.2 PDRB Per Kapita(Juta Rupiah)

(35)

2019 dapat mencapai sekitar 5,1% dan meningkat dalam kisaran 5,1-5,5% pada tahun 2020.

Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan IV-2019 diprakirakan terus membaik sehingga menopang ketahanan sektor

eksternal. Prakiraan ini dipengaruhi oleh surplus transaksi modal dan finansial, serta defisit transaksi berjalan yang terkendali. Aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik pada

Oktober-November 2019

tercatat neto 6,20 miliar dolar

AS, lebih tinggi dari

perkembangan triwulan III-2019 sebesar neto 4,85 miliar dolar AS. Sementara itu,

defisit transaksi berjalan diprakirakan terjaga, meskipun pada November 2019 neraca perdagangan mencatat defisit 1,33 miliar dolar AS. Defisit yang sesuai prakiraan ini dipengaruhi kenaikan impor barang konsumsi sesuai pola musiman jelang akhir tahun dan kebutuhan impor untuk kegiatan produktif, di tengah kinerja ekspor yang belum kuat sejalan kondisi global yang melambat. Dengan perkembangan itu, defisit transaksi berjalan 2019 diprakirakan sekitar 2,7% PDB dan pada 2020 tetap terkendali dalam kisaran 2,5-3,0% PDB. Posisi cadangan devisa pada akhir November 2019 cukup tinggi sebesar 126,6 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 7,5 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk berupaya mendorong peningkatan PMA.

2.1.3. Inflasi

Inflasi Sulawesi Utara pada tahun 2019 terjaga pada level yang rendah dan terkendali.

Hal ini tercermin dari pencapaian inflasi tahun 2019 sebesar 3.52 persen (YoY, grafik 1.3), diatas inflasi nasional yang sebesar 2,72% dan lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2018 (3.13 persen) namun masih dalam rentang target inflasi yang ditetapkan sebesar 3,5±1 persen. Inflasi Sulawesi Utara pada bulan Desember 2019 disebabkan adanya penurunan indeks pada kelompok pengeluaran sandang sebesar 0,22 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,13 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,03 persen. Kelompok pengeluaran yang mengalami

Inflasi Sulawesi Utara pada tahun 2019 terjaga pada level yang rendah dan terkendali. Hal

ini tercermin dari pencapaian inflasi tahun 2019 sebesar 3.52 persen (yoy) 5.25 5.25 5.50 5.75 5.75 6.00 6.00 6.006.00 6.00 6.00 6.00 6.00 5.75 5.50 5.25 5.00 5.00 5.00 1 2 3 4 5 6 7

(36)

peningkatan indeks adalah kelompok pengeluaran transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,31 persen, kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,05 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,03 persen.

Selama Tahun 2019, komoditas yang memberikan sumbangan/andil terbesar terhadap

inflasi Kota Manado adalah tomat sayur sebesar 0,71111 persen, pisang sebesar 0,3233 persen, nasi dengan lauk 0,2231 persen,

kendaraan carter/rental 0,1920 persen, cabai rawit 0,1719

persen, akademi/perguruan

tinggi 0,1497 persen, baju kaos

tanpa kerah/t-shirt 0,1458

persen, cat tembok 0,1397 persen, air kemasan 0,1247

persen, dan pemeliharaan/service 0,1187 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan/andil

deflasi terbesar adalah Bawang-Rica-Tomat (Barito) 0,2484 persen, bahan bakar rumah tangga

0,1881 persen, pepaya sebesar 0,1813 persen, angkutan udara 0,1558 persen, batu bata/tela sebesar 0,0903 persen, cakalang asap sebesar 0,0754 persen, gula pasir sebesar 0,0581 persen, selada/daun selada 0,0510 persen, tarif pulsa ponsel 0,0422 persen dan tarif listrik 0,0390 persen.

Tabel 1.4 dan grafik 1.4 menunjukan indeks harga konsumen pada kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 8,28 persen atau terjadi penurunan indeks dari 184,30 di bulan November 2019 menjadi 169,04 pada Desember 2019. Penurunan indeks umumnya disebabkan oleh sub kelompok sayur-sayuran sebesar 22,35 persen, sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 16,06 persen, sub kelompok buah-buahan sebesar 4,42 persen dan sub kelompok ikan diawetkan sebesar 0,29 persen. Sub kelompok yang mengalami peningkatan indeks adalah sub kelompok lemak dan minyak sebesar 2 persen, sub kelompok kacang-kacangan sebesar 1,44 persen, sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 1,37 persen, sub kelompok bahan makanan lainnya sebesar 1,25 persen, sub kelompok telur, susu dan hasil-hasilnya sebesar 0,74 persen, sub kelompok ikan segar sebesar 0,21 persen, sub kelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya sebesar 0,03 persen.

Kelompok bahan makanan pada Desember 2019 memberikan sumbangan inflasi sebesar-2,2304 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan deflasi antara lain: tomat sayur sebesar

komoditas yang memberikan andil TERBESAR terhadap inflasi Kota Manado adalah tomat sayur sebesar 0,71111 persen, sedangkan penyumbang deflasi Kota Manado adalah daun bawang 0,2484 persen 8.12 9.67 5.56 0.35 2.44 3.83 3.52 8.38 8.36 3.35 3.02 3.61 3.13 2.72 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Grafik 2.3 Perkembangan Inflasi Sulut & Nasional (Persen)

(37)

1,4749 persen; cabai rawit sebesar 0,4825 persen; lemon sebesar 0,1006; cabai merah sebesar 0,0667 persen; pepaya sebesar 0,0654 persen; daun bawang sebesar 0,0388 persen; jeruk nipis/limau sebesar 0,0370 persen; cakalang/sisik sebesar sebesar 0,0332 persen; semangka sebesar 0,0266 persen; dan buncis sebesar 0,0248 persen.

Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan inflasi antara lain: bawang merah sebesar 0,1140 persen;

pisang sebesar 0,0351 persen; minyak goreng sebesar 0,0207 persen; telur ayam ras sebesar 0,0149 persen; biji nangka/kuniran sebesar 0,0135 persen; daging babi sebesar 0,0123

persen; daging ayam ras sebesar 0,0107 persen; selar/tude sebesar 0,0105 persen; daun paku/pakis sebesar 0,0080 dan jagung manis sebesar 0,0076 persen.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,03 persen atau terjadi penurunan indeks di bulan November 2018 sebesar 126,73 persen menjadi 126,69 pada Desember 2019. Terjadi pergerakan indeks turun pada sub kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 0,13 persen. Sub kelompok makanan jadi dan sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol tidak mengalami perubahan.

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,03 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 127,36 di bulan November 2019 menjadi 127,40 di bulan Desember 2019, dimana sub kelompok yang mengalami peningkatan adalah sub kelompok perlengkapan rumah tangga sebesar 0,19 persen dan sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,09 persen. Sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga merupakan sub kelompok yang megalami penurunan indeks sebesar 0,34 persen, sedangkan sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air tidak mengalami perubahan.

Kelompok sandang secara umum mengalami deflasi sebesar 0,22 persen atau terjadi penurunan indeks dari 124,59 di bulan November 2019 menjadi 124,32 di bulan Desember 2019, dimana penurunan indeks terjadi pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lain sebesar 4,06 persen. Sub kelompok yang mengalami peningkatan indeks adalah sub kelompok sandang laki-laki sebesar 0,96 persen, sub kelompok sandang wanita sebesar 0,73 persen dan sub kelompok sandang anak-anak sebesar 0,14 persen.

Kelompok Kesehatan secara umum mengalami deflasi sebesar 0,13 persen atau terjadi penurunan indeks dari 127,30 di bulan November 2019 menjadi 127,13 di bulan Desember 2019, dimana penurunan indeks terjadi pada sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0,25

13.33 11.52 13.91 -3.00 0.12 11.67 -8.28 4.73 10.95 2.22 1.17 4.35 0.43 0.03 17.92 17.57 2.77 0.91 3.29 4.38 2.31 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Bahan Makanan

Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Transpor, komunikasi & Jasa Keuangan

Gambar

Tabel 6.5.  Volume dan Perkembangan Bongkar Muat Barang di Bandar  …..  93  Udara Yang Ada di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2017
Gambar 1.1.  Posisi Stategis Sulut dalam Jalur Perdagangan  ……………………………..   8  Internasional
Grafik 2.1b Indeks Implisit Perkembangan Perekonomian Sulut &  Nasional (%) Triwulanan
Tabel 1.4 dan grafik 1.4 menunjukan indeks harga konsumen pada kelompok bahan makanan  mengalami deflasi sebesar 8,28 persen atau terjadi penurunan indeks dari 184,30 di bulan November  2019  menjadi  169,04  pada  Desember  2019
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pembicaraan mengenai busana dan perhiasan yang diteliti pada relief masa Klasik Muda, yaitu relief cerita Sudamala dan Sri Tanjung, tidak dapat dilepaskan dari

Kajian tentang lansia dewasa ini menjadi penting mengingat jumlah populasi lansia terus bertambah dengan upaya untuk menjaga kondisi kesehatan baik fisik maupun psikis

Perusahaan tidak mengakui pendapatan bunga pembiayaan konsumen yang piutangnya telah lewat waktu lebih dari 3 (tiga) bulan dan akun diakui sebagai pendapatan

Penelitian tentang “Pengembangan Karakter Religius Siswa Melalui Kegiatan Ektrakulikuler Muhadhoroh di Pondok Modern MTs Darul Hikmah Tawangsari Tulungagung”

Hasil dari pengujian hypothesis menentukan bahwa Hipotesis Alternatif (Ha) yang menyatakan bahwa belajar deskriptive dan recount text menggunakan Multiple Choice

Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok di SMP Negeri 22 Semarang sudah dilaksanakan tetapi kurang efektif karena masih seperti diskusi biasa dan kurang memperhatikan karakteristik

Dalam kegiatan Bimbingan, Modul Bimbel dipakai ketika Soal-soal dari Buku sekolah sudah Dalam kegiatan Bimbingan, Modul Bimbel dipakai ketika Soal-soal dari Buku

Menunjukkan bahwa, Intellectual Capital (IC) berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan, semakin baik perusahaan dalam mengelola intellectual capital