11 dan Pembelajaran Sejarah
1. Pengertian Upaya
Menurut Kamisa (2013:383), “Upaya merupakan usaha, ikhtiar untuk mencapai
suatu maksud, memecahkan persoalan, mencarari jalan keluar dan sebagainya dengan
daya upaya. Sedangkan menurut Poerwadarminta (1991:574), “Upaya adalah usaha untuk menyampaikan maksud, akal dan ikhtiar”. Dari pendapat tersebut penulis
menyimpulkan bahwa upaya merupakan suatu usaha atau tindakan untuk memecahkan
persoalan, mencari jalan keluar dalam mencapai sesuatu tertentu.
2. Pengertian Meningkatkan
Menurut Sangadji (2010:98), “Meningkatkan berarti penambahan keterampilan dan kemampuan agar menjadi lebih baik”. Sedangkan menurut Daradjad (2014:172),
“Meningkatkan adalah menaikkan kualitas dari kegiatan pembelajaran yang
dilakukan”. Meningkatkan yaitu “usaha untuk tercapainya suatu peningkatkan
biasanya diperlukan perencanaan dan eksekusi yang baik” (Nasution,2004:36).
Dari pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa meningkatkan yaitu suatu
proses kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas siswa dalam memahami
materi pembelajaran yang diajarkan. Dengan tujuan untuk memperbaiki dan
dimaksud dalam penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar yang di dapat
oleh siswa kelas X SMA Fitra Abdi Palembang.
3. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar ialah gambaran kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan
pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar. Hasil belajar berkaitan
dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang
direncanakan. Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri
siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan
keterampilan. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa
yaitu :
1) Faktor Internal
Faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar
individu, faktor-faktor internal meliputi:
a) Faktor fisiologis
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Keadaan fisik yang
sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif bagi kegiatan belajar seseorang.
b) Faktor psikologis
1. Kecerdasan / intelegensi peserta didik
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psikofisik dalam
mereaksi rengsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara
2. Motivasi
Faktor yang mempengaruhi keaktifan kegiatan belajar peserta didik.
Motivasilah yang mendorong peserta didik ingin melakukan kegiatan belajar.
3. Minat
Kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap
sesuatu.
4. Sikap
Sikap dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala
internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau
merespon dengan cara yang relative tetap terhadap orang, peristiwa, dan
sebagainya.
5. Bakat
Secara umum bakat didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang
(Baharuddin,2010:19-25).
2) Faktor eksternal a) Lingkungan sosial
1. Lingkungan sosial sekolah
Kondisi lingkungan sekolah seperti guru, dan teman-teman sekolah dapat
mempengaruhi proses belajar peserta didik. Hbungan yang harmonis antara
2. Lingkungan sosial masyarakat
Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal peserta didik akan
mempengaruhi proses hasil belajar peserta didik.
3. Lingkungan sosial keluarga
Lingkungan ini sangat mempengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga,
sifat orang tua, pengelolaan keluarga dapat memberi dampak bagi aktivitas
belajar peserta didik.
b) Lingkungan non sosial
Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, dan suasana yang tenang
akan membawa pada kondisi belajar yang baik. Sebaliknya, bila kondisi
lingkungan alam yang tidak mendukung, maka proses belajar akan terganggu.
3) Faktor instrumental
a) Hadware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahraga dan lain sebagainya.
b) Software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, panduan silabus dan lain sebagainya.
c) Faktor materi pelajaran, harus disesuaikan dengan usia perkembangan peserta
didik, begitu juga dengan model mengajar guru disesuaikan dengan kondisi
perkembangan peserta didik (Baharuddin,2010:26-28).
Menurut Sanjaya (2010:214), “Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru”. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada 3 aspek ranah
belajar yang dinilai dalam kegiatan belajar yaitu :
a. Ranah Kognitif, berkaitan dengan hasil belajar berupa pengetahuan,
kemampuan dan kemahiran intelektual.
b. Ranah afektif, terkait dengan perasaan, sikap, minat, dan nilai. Kategori
dalam ranah afektif yaitu penerimaan (receiving), penanggapan (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian (organization), dan pembentukan pola hidup.
c. Ranah psikomotorik menunjukkan adanya kemampauan fisik seperti
keterampilan motoric dan syaraf, manipulasi objek dan koordinasi syaraf.
Kategori ranah psikomotorik yaitu persepsi (perception), kesiapan (set), gerakan terbimbing (guieded respons), penyesuaian (adaption), dan kreativirtas. (Sudjiono, 2007:49)
Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan
pelajaran. Menurut Abdurrahman (199:82), Hasil belajar adalah “Kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”. Berdasarkan pendapat diatas penulis
menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku seseorang yang
dipengaruhi oleh faktor ekstern dan intern yang dimiliki siswa setelah melakukan
4. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode secara harfiah berarti cara. Secara umum, metode diartikan sebagai suatu
cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Nana
Sudjana (2005:76), metode pembelajaran adalah “Cara yang dipergunakan guru dalam
mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”. Menurut
Hamzah (2008:2), metode pembelajaran adalah “cara yang digunakan guru, yang
dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau
strategi yang dilakukan oleh seorang guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
telah di tentukan.
5. Pengertian Pembelajaran Sejarah
Sejarah adalah peristiwa yang terjadi dimasa lampau, yang benar-benar terjadi,
dan dapat dibuktikan kebenarannya baik secara nalar maupun ilmiah. Sejarah menjadi
salah satu dari sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Secara umum
kurikulum Sejarah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan program pendidikan
yang dilakukan oleh lembaga pendidikan bagi siswa.
Dalam Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa kurikulum Ilmu Pengetahuan
Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh
pihak guru sebagai pendidik sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. hal ini
sesuai dengan kutipan dibawah ini:
Pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melihatkan dan mengunakan pengetahuan professional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Jadi pembelajaran adalah suatu aktifitas yang dengan sengaja untuk memodifikasikan berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan yaitu tercaapailah tujuan kurikulum (Hardini, 2012:10).
Menurut Isjoni (2007:11), “Pembelajaran sejarah adalah suatu kombinasi yang
tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan
prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajarann sejarah”.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah adalah
mempelajari, memahami dan mengartikan suatu peristiwa masa lampau.
B. Metode Pembelajaran Active Learning
Metode pembelajaran adalah suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian
kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan (Sudjana, 2007:176). Dalam
melakukan tugasnya seorang guru harus memiliki pengetahuan berbagai metode
pembelajaran.
Active Learning (pembelajaran aktif) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang
mereka miliki. Disamping itu pembelajaran aktif juga dimaksudkan untuk menjaga
Hasan (2001:9), arti kata dari active learning “Active artinya rajin, sibuk, giat dan learning yang berarti mempelajari, belajar”.
Dari uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa Active Learning untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimmiliki oleh anak didik, sehingga
anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik
pribadi yang mereka miliki, dan juga untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju
pada proses pembelajaran.
Menurut Marno (2010:149-151) ada banyak metode active learning yang dapat
digunakan guru untuk mengaktifkan pembelajaran kepada siswa antara lain:
a. Metode Learning Starts Whit A Question
b. Metode The Power Of Two
c. Metode Jigsaw Learning
d. Metode Card Short
e. Metode Everyone Is A Teacher Here
C. Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here 1. Pengertian Model Everyone Is A Teacher Here
Menurut Hisyam (2008:60), Model Everyone Is A Teacher Hereadalah “model
yang sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara
individual”. Model ini memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berperan
sebagai guru bagi teman-temannya. Dengan model ini, siswa yang selama ini tidak mau
Sedang kan menurut Mel Silbermen (2009:171), model Everyone Is A Teacher Here adalah “sebuah metode yang mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu”. Model ini memberika kesempatan kepada setiap
peserta didik untuk bertindak sebagai seorang pengajar terhadap peserta didik lainnya.
Dari pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa dengan metode
pembelajaran Everyone Is A Teacher Here adalah suatu model untuk mendapatkan partisipasi atau meningkatkan aktivitas dalam proses pembelajaran.
2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Langkah-langkah Everyone Is A Teacher Here dalam Hisyam (2008:60) yaitu: a. Guru membagikan secarik kertas kosong kepada seluruh peserta didik dan
meminta mereka menuliskan satu pertanyaan tentang materi pelajaran yang
sedang dipelajari di dalam kelas.
b. Guru mengumpukan kertas yang telah di isi pertanyaan oleh siswa , kemudian
mengacak kertas lalu dibagikan kembali ke siswa.
c. Guru memastikan peserta didik tidak menerima kerta pertanyaan yang telah
ditulis sendiri. Meminta peserta didik membaca dalam hati pertanyaan dalam
kertas tersebut kemudian memikirkan jawaban.
d. Meminta peserta didik sukarela untuk membacakan pertanyaan tersebut dan
menjawabnya.
e. Setelah jawaban diberikan, meminta peserta didik lainnya untuk menambah
f. Melanjutkan dengan suka relawan berikutnya untuk membacakan soal serta
jawabannya.
3. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here
Kelebihan
a. Pertanyaan dapat menarik dan memuaskan perhatian peserta didik, sekalipun
ketika itu peserta didik sedang rebut, dan yang mengantuk kembali segar dan
hilang ngantuknya.
b. Merangsang peserta didik untuk melatih dan mengembangkan daya pikir ,
termasuk daya ingatan.
c. Mengembangkan keberanian dan keterampilan peserta didik dalam menjawab
dan mengemukakan pendapat.
d. Melatih peserta didik untuk banyak berbicara (Zaini, 2008:60).
Kelemahan
a. Memerlukan banyak waktu.
b. Peserta didik merasa takut apabila guru kurang dapat mendorong peserta didik
untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang.
c. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan
D. Tinjauan Terhadap SMA Fitra Abdi Palembang 1. Visi dan Misi SMA Fitra Abdi Palembang
Visi SMA Fitra Abdi Palembang
“Unggul Dalam Prestasi, Imtaq, dan IPTEK, Wawasan Lingkungan”
Misi SMA Fitra Abdi Palembang
(1) Meningkatkan prestasi dalam bidang akademi
(2) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap tuhan yang maha esa dan
meningkatkan pengalaman agama keyakinan masing-masing
(3) Mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran
dan administrasi sekolah
(4) Meningkatkan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan sekolah
yang bersih dan hijau
2. Keadaan Guru dan Staf TU SMA Fitra Abdi Palembang Table Daftar Guru dan Staf
No Kedudukan Jenis Kelamin Jumlah
1 Kepala Sekolah P 1
3. Sarana dan Prasarana SMA Fitra Abdi Palembang
No Sarana dan Prasarana Jumlah
1 Ruang Kelas 12
7 Perpustakaan dan Koperasi 1
8 Ruang UKS 1
4. Pembelajaran Sejarah di SMA Fitra Abdi Palembang
Pembelajaran sejarah berbeda dengan ilmu sejarah, karena penekananya dalam
pengajaran sejarah tetap terkait dengan tujuan pendidikan pada pengajaran sejarah
tetap terkait dengan tujuan pendidikan pada umumnya yaitu ikut membangun
kepribadian dan sikap mental siswa. pembelajaran sejarah dalam kurikulum 2013 SMA
memiliki alokasi waktu yang cukup banyak. Pembelajaran sejarah di jurusan Ilmu
Pengetahuan Sosial terdiri dari Sejarah Peminatan dan Sejarah Wajib, sedangkan
jurusan Ilmu Pengetahuan Alam hanya terdiri dari sejarah wajib. Alokasi waktu sejarah
peminatan yaitu 4 x 45 menit dalam seminggu, sedangkan sejarah wajib yaitu 2 x 45
Sejarah wajib disebut juga sejarah Indonesia, yang lebih mengutamakan pada
penumbuhan ranah afektif. Sejarah digunakan untuk sekedar pengetahuan umum agar
peserta didik mampu mengambil hikmah dari suatu kejadian sejarah untuk menjadikan
kehidupan di masa datang lebih baik. Dalam sejarah wajib ruang lingkup sejarah
digunakan sebagai pembelajaran untuk menumbuhkan sikap rasa cinta tanah air dan
mengembangkan karakteristik perserta didik untuk mencapai tujuan pendidik bangsa.
Sedangkan sejarah peminatan dipelajari secara konstektual dan kritis. Sejara peminatan
dapat diperluas dan diperdalam dengan penerapan ilmu sejarah.
Pembelajaran sejarah di SMA Fitra Abdi Palembang telah menggunakan
Kurikulum 2013 pembelajaran sejarah sebagi kehidupan sejarah memiliki nilai-nilai
yang bisa kita warisi dan menjadi akar bagi kehidupan bangsa di masa depan. Oleh
karena itu, sejarah memiliki arti penting sebagai pengalaman yang bisa menjadi suatu
pedoman atau pegangan hidup bagi suatu bangsa pada masa sekarang dan masa depan.
E. Uraian Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran yang dibahas dalam peneliti yang dilakukan peneliti yaitu
“Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah, sub Materi Sejarah Sebagai Ilmu, Peristiwa,
Kisah, dan Seni” dengan materi sebagi berikut : 1. Pengertian Sejarah
Istilah “sejarah” berasal dari bahasa Arab yaitu syajaratun ysng berarti pohon, maksud pohon di sini adalah “pohon keluarga”, asal usul atau silsilah. Arti sejarah
yaitu historia yang berarti belajar dengan cara bertanya. Menurut beberapa tokoh
pengertian sejarah yaitu :
W.J.S Poerwadarminta, menyebutkan bahwa sejarah mengandung tiga
pengertian berikut .
- Sejarah bererti silsilah atau asal-usul.
- Sejarah berarti kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa
lampau.
- Sejarah berarti ilmu, pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian atau
peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
Moh. Ali, menyatakan pengertian sejarah sebagai berikut
- Jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di
sekitar kita.
- Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam
kenyataan di sekitar kita.
- Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan kejadian dan
peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
Dari uraian tentang sejarah itu, dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah suatu
ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi
pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia.
Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sejak masa lampau menjadi materi yang
sangat penting dalam pembahasan ilmu sejarah. Bahkan melalui peristiwa itu, ilmu
sejarah mendapat suatu gambaran tentang kehidupan manusia di masa lampau, atau
dapat mengetahui sebab-akibat terjadinya suatu peristiwa. Para ahli sejarah atau para
sejarawan tidak begitu saja mencatat rangkaian peristiwa-peristiwa yang telah terjadi
di masa lampau itu, tetapi juga mencoba menelusuri awal mula munculnya suatu
peristiwa atau mencari sebab-sebab munculnya peristiwa itu.
Bahkan para ahli sejara, berusaha untuk mengembangkan pembahasan peristiwa
sejara sampai kepada sector kehidupan manusia yang menjadi pendorong munculnya
peristiwa tersebut, seperti masalah sosial, masalah budaya, masalah ekonomi, masalah
politik, masalah kepercayaan atau masalah-masalah lainnya. Sejarah sebagai peristiwa
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Peristiwa itu abadi, artinya kekal, tidak berubah, dan tetap dikenang
sepanjang masa.
Peristiwa itu unik, artinya hanya terjadi sekali, tidak akan terulang yang sama
persis untuk kedua kalinya (einmaligh).
Peristiwa itu penting, artinya diadikan momentum, karena mempunyai arti
dalam menentukan kehidupan banyak orang.
3. Sejarah sebagai Kisah
Sejarah sebagai suatu kisah, tidak pernah lepas dari peristiwa-peristiwa sejarah
masa lampau itu meninggalkan jejak-jejak sejarah yang memiliki arti penting dalam
menyusun kisah sejarah.
4. Sejarah sebagai Ilmu
Menurut ilmuwan Burry berpendapat, sejarah adalah sutau ilmu pengetahuan,
tidak kurang dan tidak lebih. York Powell menyatakan bahwa sejarah bukanlah sekedar
suatu cerita yang indah, instruktif, dan mengasyikkan, tetapi merupakan cabang ilmu
pengetahuan. Dari uraian diatas dapat diartikan sejarah sebagai ilmu, ditempatkan
sebagai pengetahuan tentang masa lampau yang disusun secara sistematis dengan
metode kajian secara ilmiah agar mendapatkan kebenaran mengenai peristiwa masa
lampau. Karakteristik sejarah sebagai ilmu adalah sebagai berikut :
Bersifat empiris
Memiliki objek
Memiliki teori
Memiliki metode
Mempunyai generalisasi
5. Sejarah sebagai Seni
Sejarah sebagai seni, dianjurkan oleh tokoh George Maauly, Macauly
menyatakan bahwa menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidak mudah, karena
memerlukan imajinasi dan seni. Dalam menulis kisah sejarah digunakan bahasa yang
dalam penulisan sejarah. Sehingga seorang penulis sejarah harus memiliki seni dalam
menyampaikan kisah-kisah sejarah.
6. Kegunaan dan Manfaat Sejarah
Mempelajari sejara dapat memberikan makna dan pelajaran kepada seseorang,
kelompok, ataupun bangsa. Sejarah atau kejadian di masa lampau dapat dikatakan
sebagai guru yang berharga bagi masa yang akan datang. Apabila kita teliti, kehidupan
sejarah memiliki nilai-nilai yang bisa kita warisi dan menjadi akar bagi kehidupan
bangsa di masa depan. Oleh karena itu, sejarah memiliki arti penting sebagai
pengalaman yang bisa menjadi suatu pedoman atau pegangan hidup bagi suatu bangsa
pada masa sekarang dan masa depan. Manfaat sejarah yaitu antara lain :
Guna Rekreatif, kisah atau peristiwa sejarah dapat dinikmati tanpa batas
ruang dan waktu.
Guna Edukatif, belajar sejarah untuk mempelajari banyak kearifan,
kehebatan, kebijaksanaan tokoh dan peristiwa masa lalu.
Guna Inspiratif, menimbulkan banyak inspirasi penting dalam menanamkan
nilai-nilai positif.
Guna Instruktif, menyampaikan perkembangan, pengetahuan untuk
menambah wawasan nilai positif.
F. Sintak Model Pembelajaran Active Learning Everyone Is A Teacher Here Sintak merupakan bagian yang menadi unsur dari model maupun metode
(1982) dalam situs Zamzuri (2012:4 Mei 2018), yang menyatakan bahwa “model
pembelajaran memiliki lima unsur dasar, salah hdiartikan sintak pembelajaran
merupakan langkah-langkah pembelajaran yang disusun sebagai petunjuk atau
pedoman saat mengajar. Dari penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa Sintak
pembelajaran adalah tahapan awal kegiatan yang disusun dengan sistematik untuk
memudahkan guru untuk mengajar dan lebih dapat dipahami siswa.
Sintak Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here
G. Hip
Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah
(Sejrah Sebagai Ilmu, Peristiwa, Kisah, dan Seni)
Model Everyone Is A Teacher Here
Siswa
Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok dan kartu
indeks kepada setiap siswa
Siswa membentuk kelompok, dan masing-masing siswa membuat sebuah pertanyaan
dalam sebuah Kartu
Guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan pendapatnya
Siswa menyampaikan pendapat ke depan kelas. Siswa haruh siap menerima kritik dan saran
dari kelompok lainnya
Siswa menyimpulkan permasalahan yang didiskusikan
dengan bantuan guru sebagai pembimbing
Guru membimbing siswa untuk mendapatkan kesimpulan akhir
Apersepsi
Publikasi Elaborasi
G. Hipotesis Tindakan
Menurut Arikunto (2006:71), hipotesis adalah “Suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan peneliti sampai terbukti melalui data yang
terkumpul”. Sedangkan Nawawi (2006:33) berpendapat bahwa “hipotesis merupakan
pemecahan masalah yang bersifat sementara, karena belum diuji atau dibuktikan
kebenarannya, yang setelah diuji mungkin benar dan mungkin salah”. Dari pendapat
diatas penulis menarik kesimpulan bahwa Hipotesis sebagai jawaban sementara dari
masalah penelitian yang berkaitan dua variable atau lebih.
Penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai penelitian yang bertumpu pada
perbaikan kinerja guru, dalam hipotesis dirumuskan dugaan yang akan terjadi jika
dilakukan suatu perlakuan tertentu. “Hipotesis dirumuskan bukan sekedar ingin
mengetahui adanya keterkaitan antar variable, tetapi mengambarkan adanya perlakuan
yang harus dilakukan serta pengaruh perlakuan tersebut terhadap hasil yang akan
dicapai” (Sanjaya, 2009:125).
1. Upaya model pembelajaran Active Learning Everyone Is A Teacher Here
dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran sejarah kelas X IPA
1 SMA Fitra Abdi Palembang tahun ajaran 2018/2019 bila nilai hasil post
tes siswa dapat mencapai kriteria KKM 70.
30 BAB III
METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian
Kata metode berasal dari kata Methoos yang berarti cara atau jalan. Alwi
(2005:740) metode adalah “cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang di inginkan”. Selanjutnya Purwanto (2010:164) mengatakan bahwa metode adalah “cara tertentu yang dilakukan secara
terencana, sitematik, dan teratur sehingga setiap tahap diarahkan kepada pemecahan
masalah”.
Sedangkan menurut Arikunto (2006:160), metode merupakan “cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data dalam penelitiannya”. Secara
umum metode penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan keguanaan tertentu. Dari kutiapan diatas dapat ditari kesimpulan
bahwa metode adalah cara yang teratur, terencana, sistematik atau cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Menurut Suryabrata (2012:11), peneliti pendidikan diartikan sebagai “ilmu yang mempelajari cara terencana dan sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau
mendapatkan jawaban terhdap pertanyaan-pertanyaan tertentu yang dilakukan untuk
mendukung satu sama lain agar penelitian yang dilakukan mempunyai bobot yang
cukup memadai sehingga harus dilengkapi dan sumber-sumber yang tidak
Dapat di tarik kesimpulan bahwa penelitian pendidikan adalah suatu ilmu,
keinginan yang disusun secara sistematis untuk memecahkan masalah dan
mendapatkan jawaban. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian
pendidikan.
Menurut Sugiyono (2017:6), penelitian pendidikan diartikan “Sebagai cara
ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat di temukan, dan di
buktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk
memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan”. Sedangkan menurut Furchan (2007:32), penelitian pendidikan adalah “Cara yang di
gunakan orang untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat di pertanggung
jawabkan mengenai proses pendidikan yang menggunakan metode penyelidikan yang
sesuai dengan prosedur dasar dan konsepsi ilmu yang berlaku”.
Jadi, dapat disimpulkan metode penelitian pendidikan adalah cara yang
digunakan orang untuk mendapatkan informasi yang berguna atau sebagai cara ilmiah
untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat dikembangkan, dan
dibuktikan, suatu pengetahuan sehingga dapat memahami, memecahkan masalah
dalam bidang pendidikan.
B. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Sebelum membahas tentang pendekatan penelitian yang digunakan oleh penulis,
penulis terlebih dahulu akan menjelaskan pengertian pendekatan. Menurut Kartodirdjo
sekaligus merekontruksi peristiwa sejarah dari berbagai sudut pandang yang
berhubungan dengan permasalahan”.
Sedangkan menurut Alwi (2005:246) Pendekatan adalah “cara usaha dalam
rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang diteliti, metode
untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian”. Dari pendapat di atas, penulis menggunakan beberapa jenis pendekatan antara lain pendekatan Geografis, Pendekatan
Sosiologis, Pendekatan Pisikologis.
a) Pendekatan Geografis
Pendekatan Geografis adalah “Suatu usaha untuk mengetahui letak wilayah yang digunakan untuk kepentingan manusia” (Kartodirdjo,1993:5), selanjutnya menuru Kas Lengkap Bahasa Indonesia (Alwi,2005:335), Geografi adalah “Ilmu bumi yang mencangkup wilayah dan tempat”.
Dalam penulis simpulkan bahwa pendekatan geografi merupakan ilmu bumi atau
sebuah pendekatan yang erat kaitannya dengan masalah letak wilayah maupun denah
suatu wilayah. Dalam penelitian ini letak lokasi penelitian ialah SMA Fitra Abdi
Palembang yang beralamatkan Jl. Tegal Binangun, Plaju Darat.
b) Pendekatan Sosiologis
Menurut Abdurrahman (1999:11) pendekatan sosiologis adalah “pendekatan
yang dipergunakan dalam mengambarkan tentang peristiwa masa lalu, maka di
dalamnya terungkap segi-segi sosial yang dikaji”. Selanjutnya Alwi (2005:185)
mengatakan bahwa “pendekatan sosiologi merupakan pengetahuan atau ilmu tentang
dan perubahannya”. Dari kutipan di atas, penulis simpulkan bahwa pendekatan
Sosiologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang digunakan mempelajari
hubungan antara masyarakat, masyarakat dengan lingkungan, sosial atau pergaulan.
Konstruksi sejarah dengan pendekatan sosiologis itu bahkan dapat pula dikatakan
sebagai sejarah dengan pendekatan sosial, karena pembahasannya mencangkup
golongan sosial yang berperan, jenis hubungan sosial, konflik berdasarkan
kepentingan, pelapisan sosial, peranan dan status sosial.
Dalam hal ini penulis mencoba menitik beratkan pendekatan sosiologis pada
antara siswa dengan siswa, siswa dan guru terhadap mata pelajaran sejarah pada proses
belajar-mengajar yang berlangsung di sekolah.
c) Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis merupakan “segala sesuatu yang dapat memberikan
jawaban tentang apa sebenarnya manusia itu, maka manusia berbuat atau berlaku
demikian, apa yang mendorongnya berbuat demikian, apa maksud dan tujuan berbuat
demikian” (Purwanto,2011:1). Pendekatan pisikologis sosial berasumsi bahwa “kehidupan dan perilaku individu tidak sendiri, individu ada di dalam lingkungan sosial, oleh karena itu kepribadian individu dibentuk oleh kepribadian sosial”
(Liliweri,2012:78).
Dari penjelas diatas penulis menyimpulkan bahwa pendekatan pisikologis
membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan perilaku kehidupan manusia dalam
SMA Fitra Abdi Palembang saat sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di
sekolah.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tiandakan kelas (PTK) merupakan perkembang dari penelitian tindakan oleh Kurt Lewin, “Penelitian tindakan merupakan suatu pencarian sistematik yang hambatan oleh para pelaksanan program dalam kegiatannya dan hambatan yang
dihadapi, untuk kemudian menyusun rencana dan melakukan kegiatan-kegiatan
penyempurnaan” (Sukmadinata,2010:140).
Sehingga penulis menarik kesimpulan penelitian tindakan kelas merupakan suatu
proses pencermatan yang terencana untuk memecahkan masalah di dalam kelas dengan
menganalisis setiap perubahan dan tindakan yang terjadi.
Kurt Lewin mengembangkan konsep pokok penelitian tindakan yang terdiri dari
empat komponen yaitu :
1) Perencanaa atau Planning. 2) Tindakan atau Acting.
3) Pengamatan atau observing, dan. 4) Refleksi atau reflecting.
Hubungan ke empat komponen ini menunjukkan “sebuah siklus atau kegiatan
berulang yang menjadi ciri utama dari penelitian tindakan, jadi bukan hanya satu kali
C. Lokasi Penelitian
Peneliti melaksanakan penelitian di beberapa tempat yaitu di perpustakaan dan
sekolah. Beberapa perpustakaan yang di jadikan lokasi penelitian antara lain (1) Ruang
baca ka. Prodi Sejarah; (2) Perpustakaan FKIP UMP; (3) Perpustakaan Universitas
Muhammadiyah Palembang; (4) Perpustakaan PGRI Palembang. Sedangkan sekolah
yang dijadikan lokasi penelitian yaitu SMA Fitra Abdi Palembang yang beralamatkan
Jl. Tegal Binangun Plaju Darat.
D. Kehadiran Peneliti
Peneliti dalam penelitian tindakan terlibat secara langsung dalam proses
penelitian. “Selama penelitian berlangsung, peneliti melakukan pengamatan, evaluasi
dan refleksi tindakan untuk merangcang tindakan pada putaran waktu berikutnya” (Mulyatiningsih,2013:66). Peneliti dalam penelitian tindakan kelas dibantu oleh
Rahmawati, S.Pd., guru mata pelajaran sejarah yang bersangkutan.
Pada penelitian kelas, istilah yang digunakan ialah tindakan (action). Tindakan yang dilakukan dalam kegiatan penelitian merupakan tindakan yang sengaja dilakukan
untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan yang diterapkan merupakan tindakan baru
yang belum pernah dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Dengan tujuan untuk
memperbaiki dan meningkatkan kualitas dari proses belajar mengajar sehingga
menciptakan hasil belajar yang memuaskan.
Kehadiran peneliti dalam penelitian untuk pengamatan dan survey ke beberapa
penelii di SMA Fitra Abdi Palembang berlangsung dari tanggal 30 Agustus 2018
hingga 20 September 2018. Dari mulai masa observasi hingga penelitian berakhir.
E. Subjek Penelitian
Ukuran subjek penelitian tindakan cukup satu kelas yang mengalami masalah
saja. “Penelitian tindakan mengambil subjek penelitian yang di pilih secara survei yaitu kelas yang mengalami permasalah saja” (Mulyatiningsih,2013:65). Subjek penelitian
ini dilakukan di satu kelas yaitu kelas X IPA 1 di SMA Fitra Abdi Palembang. Jumlah
siswa pada kelas X IPA 1 yaitu berjumlah 36 siswa dengan 20 siswa laki-laki dan 16
siswa perempuan. Kelas X IPA 1 di jadikan subjek penelitian di karena, Siswa kelas
IPA 1 ini memiliki permasalahan keaktifan siswa yang kurang dalam pembelajaran
sejarah dan juga kelas IPA 1 ini belum pernah di adakan nya Penelitian Tindakan Kelas.
Selain itu peneliti ingin memberikan pengajaran yang baru dengan menggunakan
model Active Learning Everyone IsA Teacher Here untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas.
F. Tolak Ukur Keberhasilan
Peneliti dalam melakukan penelitian tindakan kelas ini, menyusun suatu tolak
ukur yang menjadi acuan berhasilnya tindakan yang di lakukan yaitu :
1. Guru dapat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan
model Everyone Is A Teacher Here.
2. Guru dapat menerapkan sintak model Everyone Is A Teacher Here dalam proses
3. 80 % siswa pada kelas tersebut, hasil belajarnya meningkat dan melebihi batas
kriteria ketuntasan minimal (KKM) 70.
4. Pada setiap siklusnya terjadi peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran sejarah.
Untuk mengukur presentase siswa yang melakukan kegiatan lain selama proses
pembelajaran dengan rumus :
Presentase =
Untuk mengukur tuntas dan tidak tuntasnya hasil tes dengan menggunakan
rumus:
Ketuntasa =
Ketidaktuntasan=
G. Sumber Data
Menurut Arikunto (2009:88) sumber data adalah “Benda hal atau orang tempat peneliti mengamati, membaca, atau bertanya tentang data”. Adapun sumber data yang
penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sekunder.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑔𝑖𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑖𝑛
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 × 100 %
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 × 100 %
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠
1. Sumber Data Primer
Menurut Abdurrahman (2011:35) sumber data primer adalah “Sumber asli,
berupa kesaksian pelaku atau saksi mata yang hadir dan melihat suatu peristiwa sumber
ini di hasilkan dari sisa atau jejak orang sezaman dengan peristiwa itu”. Selanjutnya menurut Arikunto (2010:93), sumber data primer yaitu “Sumber data yang di peroleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara)”.
Dapat di tarik kesimpulan bahwa sumber data primer adalah sumber asli berupa
kesaksian orang yang ikut langsung dalam sebuah kejadian sejarah, orang yang
mengalami sebuah peristiwaa sejaraah. Dalam penelitian ini sumber data primer di
peroleh dari :
a) Guru mata pelajaran sejarah kelas X IPA 1 SMA Fitra Abdi Palembang, sekaligus
yang menjadi pengamatan 1 yaitu ibu Rahmawati, S.Pd.
b) Siswa-siswi kelas X IPA 1 SMA Fitra Abdi Palembang yang menjadi subjek
penelitian.
2. Sumber Data Sekunder
Menurut Abdurrahman (2011:35) sumber data sekunder adalah “Sumber yang di
peroleh dari tangan kedua, yaitu orang yang yang tahu peristiwa secara langsung dan
sumber ini di peroleh dari buku-buku, dokumentasi dan arsip”. Selanjutnya menurut Hugiono (1992:32) sumber data sekunder adalah “Kesaksian mulai perantara yang
Dapat ditarik kesimpulan bahwa data sekunder adalah kesaksian atau data yang
di peroleh dari orang yang tidak terlibat secara langsung pada peristiwa tersebut,
ataupun dari penjelasaan-penjelasan buku dan cerita orang lain. dalam penelitian ini
sumber data primer yang digunakan peneliti yaitu :
Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful dan Zain Aswan. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara
Hisyam, Zaini. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani
Marno dan Idris. 2010. Strategi dan Metode Pengajaran. Yogyakarta : Ar-Ruuz Media.
Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Seri, Herman. 2013. Landasan Pendidikan. Palembang: FKIP UMP
Sudjana, Nana. 2007. Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Sanjaya, Wina. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Prenadamedia Grup
H. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, prosedur pengumpulan data yang digunakan oleh penulis
1. Observasi
Observasi adalah “alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati
dan mencatat secara sistematis gejala-gejal yang di selidiki” (Narbuko dan Achmadi,2010:70), menurut Arikunton (2010:199) observasi adalah “meliputi kegitan pemuatan perhatian terhadap objek dengan menggunakan seluruh alat indera” sedangkan menurut Alwi (2005:794) menyatakan bahwa “observasi adalah peninjauan
secara cermat, sebelum praktek mengajar, para calon guru mengadakan kunjungan ke
sekolah-sekolah tempat mereka akan mengajar”. Dapat ditarik kesimpulan bahwa observasi adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan seorang peneliti sebelum
melakukan penelitian di suatu tempat.
Dalam observasi, penulis menggunakan teknik observasi langsung dengan
melakukan pengamatan terhdap objek penelitian yaitu siswa di SMA Fitra Abdi
Palembang dan peneliti sendiri dengan dibantu oleh observer lain yaitu ibu Rahmawati,
S.Pd guru sejarah. Sebagai alat pemantau kegiatan, obserfasi digunakan untuk mencatat
setiap tindakan yang dilakukan oleh peneliti dan siswa dalam setiap siklus atau
tindakan pembelajaran sesuai dengan focus masalah. Dari hasil pengamatan tersebut
dapat di nyatakan berbagai kelemahan sehingga dapat ditindak lanjuti untuk diperbaiki
pada siklus berikutnya.
2. Wawancara
Menurut Narbuko dan Achmad (2010:83) wawancara adalah “Proses Tanya
jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisa antara dua orang atau
adalah “Sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari narasumber”. Penulis menyimpulkan bahwa, wawancara adalah proses Tanya
jawab yang dilakukan secara langsung oleh dua orang atau lebih.
Dari penjelasan di atas, penulis melakukan wawancara dengan guru mata
pelajaran sejarah yaitu Ibu Rahmawati, S.Pd. Mengenai pelaksanaan pembelajaran
sejarah di kelas X IPA 1. Dari wawancara tersebut peneliti juga sedikit banyak
mengetahui situasi dan kondisi dari kelas yang dijadikan subjek penelitian.
Dari kutipan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa wawancara merupakan
Tanya jawab yang dilakukan secara langsung oleh seseorang dengan narasumber untuk
memberikan keterangan dan informasi yang di butuhkan dalam penelitian
3. Dokumentasi
Menurut Arikunto (2010:201) dokumentasi adalah “Barang-barang tertulis yang di peroleh dengan cara mengumpulkan data, mengambil data-data dari catatan,
dokumen, buku, majalah, arsip, surat, dan administrasi yang sesuai dengan masalah
yang diteliti”. Dalam penelitian ini dokumentasi yang penulis gunakan data tentang
sejarah berdirinya SMA Fitra Abdi Palembang. Dokumen ini di ambil dari sekolah
sebagai lampiran, dokumen ini berupa:
a) Profil sekolah SMA Fitra Abdi Palembang
b) Hasil Tes siswa
c) Hasil wawancara degan guru mata pelajaran sejarah di SMA Fitra Abdi
Palembang
Menurut Sugiyono (2011:58) “Dokmentasi ditunjukan untuk memperoleh data
langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan,
peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter.
Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan dokumentasi merupakan sebuah
cara untuk menyediakan bukti yang akurat. Dalam pengumpulan data, dokumentasi
digunakan peneliti untuk mengetahui data-data mengenai siswa dan kondisibelajar
siswa yang dijadikan sampel penelitian.
4. Tes
Menurut Arikunto (2014:193), “Tes adalah serentetan pertanyaan, latihan atau
alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok”. Sedangkan menurut Sanjaya (2009:99) “Tes sebagai alat ukur dikataka memiliki tingkat validitas
seandainya dapat mengukur apa yang hendak diukur, sedangkan tes memiliki tingkat
reabilitas atau kendala jika tes tersebut menghasilkan informasi yang konsisten”.
Dari kedua pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa, tes merupakan alat
pengumpulan data untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kogmitif, atau
tingkat penguasaan materi pembelajaran. Adapun tujuan di lakukannya tes yaitu untuk
mengetahui hasil belajar siswa setelah diadakannya tindakan perlakuan dengan
menggunakan model Everyone Is A Teacher Here. Tes dilakukan setiap kali tindakan siklus berakhir. Tes yang dibuat peneliti berbentuk pilihan ganda sebanyak lima belas
Nilai Tes (N) = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑜𝑎𝑙 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑜𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛
× 100
I. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian tindakan ini dilakukan dengan analisis data
deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Tetapi lebih sering digunakan analisis data
deskriptif kualitatif. Analisis data penelitian tindakan dimulai dari pengelompokan
data, reduksi atau pengurangan data yang sama atau kurang bermakna. “Pemaparan
hasil penelitian dilakukan dengan cara menginterprestasikan data yaitu
membandingkan data dengan hasil penelitian lain atau teori sebelumnya”
(Mulyatiningsih,2013:67).
1. Kualitatif
Analisis data kualitatif digunakan “Untuk menentukan peningkatan proses belajar khususnya berbagai tindakan yang dilakukan guru” (Sanjaya, 2009:107). Menurut Patton (1980) dalam lexy J. Moleong (2002,103) menjelaskan bahwa “Analisis data
dalam pendidikan kualitatif adalah proses mengatur untuk mengorganisasikannya ke
dalam suatu pola, kategori, dan suatu uraian” (Mulyatiningsih,2013:43). Analisis
dalam penelitian kualitatif dilakukan bersama dengan proses pengumpulan data.
“Temuan penelitian dilapangan di bentuk kedalam bangunan teori, bukan teori yang telah ada melainkan dikembangkan dari data lapangan” (Margono,2014:38).
Penulis menyimpulkan dari pendapat diats bahwa analisis data kualitatif hanya
melakukan tindakan di lapangan, dengan membandingkan pada teori-teori yang ada
sehingga memunculkan teori dengan hasil yang baru.
2. Kuantitatif
Arikunto (2014:282), menyatakan bahwa “Data kuantitatif yang di kumpulkan
dalam penelitian korelasional, komparatif, atau eksperimen di lah dengan rumus-rumus
statistic yang sudah disediakan, baik secara manual maupun menggunakan jasa
computer”. Apabila diperoleh data kuantitatif, hasil penelitian tindakan dipaparkan
secara deskriptif karena tidak memenuhi persyaratan untuk dianalisis secara statistic
terutama dari sisi pengambilan sampelnya. Analisis hasil belajar siswa sebagai
pengaruh dari setiap tindakan yang dilakukan guru” (Sanjaya, 2009:106-107). Dapat
disimpulkan bahwa, data kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka sehingga
dapat dihitung dengan rumus tertentu.
Dalam penelitian ini ada beberapa data yang digolongkan data kuantitatif, yaitu
nilai hasil tes yang dilakukan siswa pada setiap akhir siklus. Nilai tersebut hanya untuk
menunjukkan peningkatan dari hasil belajar yang dilakukan siswa setelah
menggunakan metode pembelajaran Everyone Is A Teahcer Here. J. Rencana Tindakan
Peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas yang dikembangkan oleh Krut
Lewin, tetapi saat ini lebih popular dikenalkan oleh Kemmis dan Mc Taggart yaitu
Gambar 3.1 siklus Penelitian Tindakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Arikunto,2014:137).
1. Tindakan Siklus I
a. Tahap Perencanaan Tindakan
1. Peneliti menyusun siklus yang berkaitan dengan materi Hakekat dan Ruang
Lingkup dalam sejarah.
2. Peniliti merancang sintak dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dapat
membuat siswa bereran aktif dengan menggunakan model Everyone Is ATeacher
Here.
Perencanaan
Pelaksanaan Refleksi
Pengamatan
Pelaksanaan Refleksi
Refleksi Siklus I
Refleksi
Siklus II
3. Peneliti merancang alat pengumpulan data berupa soal tes yang digunakan untuk
mengetahui tingkat hasil belajar siswa dan lembar observasi pengamatan dan
penelitian.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
1. Siswa diberikan penjelasan umum tentang tujuan dari penelitian tindakan kelas
sesuai dengan rencana yang telah direncanakan, baik mengenai pengumpulan
data maupun kegiatan-kegiatan lain. kegiatan dalam penelitian tindakan kelas
meliputi (a) memberikan penjelasan secara umum tentang materi Hakekat dan
Ruang Lingkup Sejarah yang diajarkan dengan menggunakan model Everyone Is
A Teacher Here dalam pembelajaran sejarah; (b) mendorong siswa untuk berperan aktif dalam mengikuti.
2. Peneliti mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dirancang dan
mencatat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing siswa pada
lembar observasi untuk siswa.
3. Peneliti memberikan evaluasi berupa tes pada siswa setelah pembelajaran untuk
mengetahui hasil belajar siswa terkait dengan materi Hakekat dan Ruang Lingkup
dalam Sejarah dengan menggunakan model Everyone Is A TeacherHere. c. Tahap Observasi Tindakan
1. Peneliti melakukan observasi tindakan dengan melaksanakan program
pembelajaran menggunakan instrument penelitian yang telah direncanakan dan
2. Peneliti mengamati dan mencatat semua kejadia yang terjadi pada saat siswa
mengikuti pembelajaran.
3. Peneliti menanyakan kepada siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran tentang
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.
d. Tahap Evaluasi/Refleksi
Pada tahap akhir siklus ini, peneliti melakukan evaluasi atau refleksi terhadap
proses dan hasil dari pelaksanaan tindakan kelas. Semua temuan yang di peroleh saat
pelaksanaan tindakan kelas, baik itu hasil pengamatan, wawancara maupun tes akan di
proses. Selanjutnya hasil tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki
rencana tindakan pada siklus ke-II.
2. Tindakan Siklus II
a. Tahap Perencanaan Tindakan
1. Perencanaan pada siklus II hampir sama dengan perencanaan pada siklus I, hanya
ada beberapa penambahan.
2. Peneliti mempersiapkan fasilitas saat siswa membentuk kelompok dengan
menyebar siswa yang menguasai materi yang telah disampaikan.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
1. Peneliti memberikan penjelasan secara umum tentang materi pembelajaran
Hakekat dan Ruang Lingkup dalam Sejarah.
2. Peneliti menyebar siswa yang telah menguasai materi di siklus I setiap kelompok.
Setiap kelompok diberikan tugas untuk di tindak lanjuti yang merupakan lanjutan
3. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil diskusinya.
4. Peneliti membahas ulang dan menjelaskan kembali materi yang dianggap sulit.
5. Peneliti memberikan evaluasi berupa tes pada siswa setelah pembelajaran untuk
mengetahui hasil belajar siswa terkait dengan materi dengan menggunakan model
Everyone Is A Teacher Here. c. Tahap Observasi Tindakan
1. Peneliti melakukan observasi tindakan dengan melaksanakan program
pembelajaran menggunakan instrument penelitian yang telah direncanakan dan
disediakan.
2. Peneliti mengamati dan mencatat semua kejadian terjadi pada saat siswa
mengikuti pembelajaran.
3. Peneliti mencatat perkembangan yang terjadi di siklus II untuk dijadikan
pembeda perkembangan antara siklus II dengan Siklus I, yaitu siklus sebelumnya.
d. Tahap Evaluasi/Refleksi
Setiap tahap evaluasi atau refleksi pada siklus sebelumnya terhadap proses dan
hasil dari pelaksanaan tindakan kelas. Pada tahap ini juga evaluasi atau refleksi
digunakan untuk mengetahui hasil dari perbaikan yang dilakukan pada siklus II dengan
menjadikan siklus I sebagai acuan perbaikan. Tahap ini juga untuk menemukan
kesulitan (jika ada) sehingga dapat menentukan akan melakukan siklus ke-III atau
K. Tahap-tahap Penelitian Table 3.1 Tahap-tahap Penelitian
50 BAB IV
PAPARAN DATA DAN HASIL TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data
1. Paparan Data Pratindakan
Sebelum diadakannya penelitian, peneliti melakukan observasi ke SMA Fitra
Abdi Palembang dengan tujuan untuk memastikan dapat dilakukannya penelitian yang
akan peneliti lakukan. Untuk dapat melakukan penelitian, peneliti mengurus surat izin
dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palembang.
Pada tanggal 1 Agustus 2018, peneliti mengajukan permohonan izin untuk melakukan
penelitian ke SMA Fitra Abdi Palembang dengan membawa surat Izin penelitian dari
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palembang.
Setelah sekolah menyetujui permohonan izin untuk melaksanakan penelitian, peneliti
mengadakan pertemuan dengan Kepala Sekolah SMA Fitra Abdi Palembang dan
menyampaikan maksud untuk melaksanakan penelitian. Kepala sekolah menyambut
baik dan memberikan izin pelaksanaan penelitian serta mengarahkan peneliti untuk
menemui guru mata pelajaran sejarah kelas X IPA.
Kepala sekolah menyerahkan sepenuhnya proses pelaksanaan penelitian kepada
peneliti dan guru mata pelajaran sejarah wajib kelas X IPA selaku guru pembimbing.
Peneliti dan guru pembimbing membicarakan rencana penelitian, mulai dari observasi,
pelaksanaan, evaluasi hingga kelengkapan penelitian. Dari pembicaraan yang
(1) Peneliti dapat melakukan perkenalan dan observasi terhadap kelas yang akan
menjadi subjek penelitian mulai tanggal 26 juli hingga tanggal 9 Agustus 2018.
(2) Waktu pelaksaan penelitian dimuali tanggal 30 Agustus 2018, setiap hari Kamis.
(3) Selama masa perkenalan dan observasi, peneliti diajarkan cara membuat rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) kurikulum 2013.
(4) Peneliti memperoleh sumber data mengenai jumlah siswa kelas X IPA 1 yang
berjumlah 36 siswa dengan 20 laki-laki dan 16 siswa perempuan.
Gambar 4.1 Peneliti Memperkenalkan Diri
Sumber: Dokumen Pribadi
Dalam pelaksanaan penelitian, peniliti bertindak sebagai guru yang akan
melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan
pembelajaran yang telah dibuat dan akan diamati oleh pengamat. Pengamatan
guru mata pelajaran sejarah. Pengamat bertugas untuk mengamati kegiatan selama
pelaksanaan penelitian berlangsung dengan mencatat seluruh aktivitas yang dilakukan
peneliti dan siswa melalui lembar observasi pengamatan yang telah diberikan oleh
peneliti.
2. Paparan Data Pelaksanaan Prasiklus
Pelaksanaan prasiklus dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Agustus 2018 dan
berlangsung mulai pukul 07:30 WIB. Pada pelaksanaan prasiklus materi pokok yaitu
Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah dengan sub materi pengertian sejarah, sejarah
sebagai peristiwa, sejarah sebagai kisah, sejarah sebagai ilmu, sejarah sebagai seni dan
kegunaan sejarah.
Berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya,
pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap yaitu pendahuluan, kegiatan ini dan penutup.
Masing-masing alokasi waktu 15 Menit, kegiatan 60 menit dan penutup 15 menit.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SMA FITRA ABDI PALEMBANG
Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Kelas : X
Materi Pokok : Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah Sebagai Peristiwa,
Sejarah sebagai ilmu, sejarah sebagai kisah dan sejarah
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Tahun Pelajaran : 2018-2019
A. Kompetensi Inti
KI 1 dan KI 2 Kopetensi Sikap Spiritual : “Menghayati dan Mengamalkan ajaran agama yang dianutya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial : “Menunjukkan
perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran,
damai), santun, responsive, dan pro-aktif sebagai baian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efekti dengan lingkungan sosial dan alam serta
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”.
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan factual, konseptual, procedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunnya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusian,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan
bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, menyaji dan menciptakan dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang di pelajarinya di sekolah secara
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi Kompetensi Dasar
No Kompetensi Dasar IPK Pengetahuan
1 3.2. Mendeskripsikan Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah
3.2.1. Menjelaskan pengertian sejarah
3.2.2. Memahami ciri-ciri utama sejarah
3.2.3 Mengidentifikasi Sejarah sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni
3.2.3. Menjelaskan ruang dan waktu dalam sejarah
3.2.4. Memahami kegunaan
Sejarah Indikator Pencapaian Kompetensi
No KD Keterampilan IPK Keterampilan
1 4.1. Menyajikan hasil penerapan Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah
4.1.1. Membuat ringkasan tentang Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah
C. Tujuan Pembelajaran
Melalui model pembelajaran menggunakan aktif konvensiaonal degan
menggunakan metode ceramah dan bertanya dimana guru memberikan presentasi dan
peserta didik dituntut untuk menanggapi/mencatat, setelah model pembelajaran
dilakukan di kelas diharapkan peserta didik dapat menerapkan model pembelajaran
tersebut dan terlibat aktif kelas selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Diharapkan peserta didik mampu memiliki sikap religious, disiplin dalm kegiatan
belajar, memiliki rasa ingintahu, kreatifitas, rasa tanggung jawab, dapat
presentasi guru maupun saat bertanya, sehingga dapat memahami Konsep perubahan
dan keberlanjutan dalam sejarah.
D. Materi Pembelajaran Ilmu Sejarah
(Pertemuan Pertama)
Pengertian Sejarah
Ciri-ciri Utama Sejarah
1. Fakta
- Pengertian sejarah merupakan awal pembelajaran
- Ciri utama sejarah, peristiwa yang abadi, peristiwa yang unik, peristiwa yang
penting.
2. Konsep
- Pengertian sejarah secara umum
- Definisi sejara menurut para ahli
- Ciri utama sejarah a) peristiwa yang abadi, dimana peristiwa tidak dapat
berubah-ubah kembali dan terkenang sepanjang hayat; b) peristiwa yang unik,
peristiwa yang terjadi hanya satu kali; c) peristiwa yang penting, peristiwa
yang dapat dijadikan momentum untuk banyak kehidupan orang banyak.
E. Pendekatan, Metode dan Model Pembelajaran
Pendekatan : Sanintifik
Model : Aktif Konvesional
F. Media Pembelajaran
Media/Alat :Proyektor, Power Point, Laptop, Papan Tulis, Buku Paket
G. Sumber Belajar
1. I Wayan Badrika.2006.Sejarah Untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga
2. Buku penunjang lainnya yang relevan
3. Internet
H. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan Pertama 3.1.1. Menjelaskan sejarah
3.1.2. Memahami ciri utama sejarah, peristiwa yang abadi, unik,dan penting
Kegiatan Sintak Model
Pembelajaran
Deskripsi Kegiatan Alokasi
Waktu
Pendahuluan
Apersepsi
Guru masuk kemudian
mengucpkan salam.
Menyanyikan lagu Indonesia Raya
(rasa nasionalisme).
Berdoa sebelum memulai
pelajaran yang dipimpin oleh salah seorang peserta didik.
Guru melakukan absensi kehadiran
peserta didik.
Peserta didik memperhatikan
penjelasan tentang tujuan, langkah,
dan manfaat dari materi
pembelajaran.
Peserta didik memperhatikan
penjelasan cakupan materi
pembelajaran.
Inti Aktif
Konvensional
Peserta didik mengamati dan
mendengarkan penjelasan
Disela-sela penjelasan peserta didik
diberikan pertanyaan untuk
mengetahui perhatian atau
pemahaman peserta didik terhadap penjelasan yang disampaikan.
Guru memberikan umpan timbal
balik atas pertanyaan yang diajukan peserta didik.
Peserta didik diberikan petunjujk sebagai alat dalam mengingat atau membantu jawaban peserta didik.
Peserta didik dapat mencari dari berbagai informasi untuk dijadikan tambahan materi pembelajaran.
Peserta didik dibantu guru
menyimpulkan materi
pembelajaran.
60 menit
Pentup Guru memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk bertanya mengenai materi pembelajaran.
Peserta didik mengajarkan evaluasi berupa soal pilihan ganda.
Guru menutup kegiatan
I. Penilaian
1. Teknik Penilaian
a. Penilaian SIKAP : Observasi
b. Pengetahuan : Tes Tertulis
c. Keterampilan : Unjuk Kerja/Praktik
2. Bentuk Penilaian
a. Obserbvasi : Lembar pengamatan aktivistas peserta didik
b. Tes Tertulis : Uraian lembar kerja
c. Unjuk Kerja : Lembar penilaian prestasi
3. Instrumen Penilaian (terlampir)
4. Remedial
a. Pembelajaran remedial dilakukan bagi peserta didik yang mencapai KD nya
belum tuntas.
b. Tahapan pemebelajaran remedial dilaksanakan melalui remedial teaching
(klasikal), atau tutor sebaya, atau tugas dan diakhiri dengan tes.
c. Tes remedial dilakukan sebanyak dua kali dan apabila setelah dua kali tes
remedial belum tercapai ketuntasan, maka remedial dilakukan dalam bentuk
tugas tanpa tes tertulis kembali.
5. Pengayaan
a. Bagi peserta didik yang sudah mencapai nilai ketuntasan diberikan
Siswa yang mencapai nilai (ketuntasan) < n < n (maksimum) diberikan
materi masih dalam cakupan KD dengan pendalamn sebagai pengetahuan
tambahan.
Siswa yang mencapai nilai > n (maksimum) diberikan materi melebihi
cakupan KD dengan pendalaman sebagai pengetahuan tambahan.
Pada tahap pendahuluan, peneliti melakukan kegiatan apersepi yaitu, memberi
salam, berdoa, mengabsen siswa. Peneliti manjelaskan secara singkat judul materi
pembelajaran, manfaat pembelajaran, dan menghungkannya dengan kegiatan
sehari-hari.
Pada tahap kegiatan inti, peneliti menjelaskan mengenai materi pembelajaran
dengan sesekali bertanya kepada siswa. Peneliti memberikan umpan timpal balik atas
pertanyaan yang diajukan siswa, dengan bantuan memberi petunjuk mengenai
jawabannya. Untuk mengukur hasil belajar siswa pada pembelajaran prasiklus peneliti
membagikan soal tes prasiklus.
Soal Tes Prasiklus
1. Sebuah peristiwa dapat dianggap sejarah bila…
a. Tidak ada yang mencatat peristiwa tersebut
b. Ada yang mengingatnya
c. Peristiwa itu lumayan penting
d. Membuktikan bahwa peristiwa tersebut benar-benar mempengaruhi
e. Dikisahkan oleh seorang abdi istana
2. Sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau dan memiliki
bukti-bukti sejarah merupakan pengertian sejarah sebagai…
a. Kisah
b. Peristiwa
c. Ilmu
d. Seni
e. Prasejarah
3. Yang tidak menjadi ciri dari pengertian sejarah sebagai ilmu adalah… a. Memiliki objek yang pasti
b. Memiliki unsur subjektivitas yang tinggi dari pengkisahan sejarah
c. Memiliki proses teknis
d. Memiliki metode penelitian ilmiah
e. Memiliki sistematika penelitian dan penulisan yang spesifik
4. Sejarah sebagai kisah memiliki pengertian bahwa yang benar-benar terjadi
tersebut mengalami…
a. Rekronstruksi/ dikisahkan ulang
b. Di bukukan
c. Di dokumentasikan
d. Dimasukkan dalam serita sejarah
e. Tersimpan dalam museum
a. Dapat di buktikan kebenarannya secara raisional
b. Memiliki metode penelitian yang spesifik
c. Memiliki tahapan prosedur penelitian dan penulisan
d. Tidak dapat dibantah dan bersifat tetap
e. Memiliki sistematika penulisan
6. Sejarah sebagai suatu peristiwa mengandung makna… a. Objektif
b. Subjektif
c. Berulang
d. Cerita
e. Peristiwa yang dikisahkan
7. Berikut ini yang bukan merupakan ruang lingkup sejarah, yaitu… a. Peristiwa
b. Seni
c. Ilmu
d. Cerita
e. Kisah
8. Seorang guru yang sedang menjelaskan peristiwa perang padre di kelas bisa
digolongkan dalam proses sebagai…
a. Ilmu
b. Peristiwa
d. Kisah
e. Cermin
9. Sejarawan pada umumnya membagi periode menjadi tiga tahap yang disebut… a. Three times
b. Three histories
c. Three age system
d. Three ages
e. Three system
10. Peristiwa sejarah merupakan suatu proses berkelanjutan karena… a. Terjadi berbagai peristiwa silih berganti dari zaman ke zaman
b. Peristiwa dikendalikan oleh manusia
c. Suatu peristiwa yang terjadi berkelanjutan
d. Peristiwa sejarah sebagai pendorong
e. Peristiwa dapat dikendalikan manusi
11. Secara praktis, kata sejarah sering dipahami dalam emapat pengertian ruang
lingkup, yaitu sebagai…
a. Mitos, dongeng, kisah dan kronik
b. Cerita, legenda, dongeng dan babad
c. Kisah, ilmu, cerita rakyat dan kronik
d. Kenang-kenangan, kisah, ilmu dan seni
12. Berikut ini unsur-unsur sejarah yang paling cepat mengalami perubahan adalah
unsur…
a. Waktu
b. Ruang
c. Perilaku manusia
d. Lingkungan sosial
e. Lingkungan budaya
13. Tujuan adanya konsep periodesasi dalam ilmu sejarah adalah…
a. Mempermudah pemahaman sejarah
b. Mempengaruhi berbagai peristiwa sejarah
c. Mengelompokan peristiwa-peristawa sejarah
d. Menunjukkan bukti dari suatu peristiwa sejarah
e. Memahami perkembangan-perkembangan sejarah
14. Tujuan pembuatan periodisasi adalah…
a. Memudahkan mempelajari sejarah
b. Memudahkan pencarian sumber sejarah
c. Adanya bukti sejarah
d. Kronologi sejarah
e. Kemampuan sejarah
15. Konsep kronologi sangat diperlukan dalam mempelajari ilmu sejarah. Konsep ini
bertujuan untuk…
b. Mengklasifikasi berbagai peristiwa
c. Mengurutkan peristiwa berdasarkan waktu
d. Mengungkapkan berbagai peristiwa
e. Membuat pedoman peristiwa penting
Kunci Jawaban
Berdasarkan tes yang diberikan kepada siswa pada pelaksanaan prasiklus, siswa
dinilai masih kurang memahami materi pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari nilai
hasil tes pada pelaksanaan prasiklus berikut :
Table 4.1 Hails Tes Pelaksanaan Prasiklus
No. Nama Siswa Jenis Kelamin Nilai Tuntas/Tidak Tuntas
10 Erik Septa L 53.3 Tidak Tuntas
Dari hasil Tes siswa pada pelaksanaan prasiklus, masih banyak siswa yang belum
mencapai kriteria keberhasilan, dengan standar nilai keberhasilan 70. Dari keseluruhan
36 siswa, 5 siswa dengan persentase 13,8 % telah tuntas, sedangkan 31 siswa yang
dengan 86.1% belum tuntas. Hasil tes menunjukkan bahwa siswa masih mengalami
3. Paparan Data Pelaksanaan Siklus I a. Perancanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti sintaks dan rencana pelaksanaan pembelajaran,
menyiapkan lembar observasi pengamatan yang diberikan kepada pengamat. Peneliti
menyusun alat pengumpulan data yang berupa soal tes untuk mengetahui tingkat hasil
belajar siswa.
b. Pelaksanaan
Pembelanjaran siklus pada hari Kamis, 6 September 2018 dan berlangsung pada
pukul 08:00 – 08:20. Pada siklus materi pokok yaitu Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah dengan sub materi Sejarah sebagai Peristiwa, Sejarah sebagai kisah, Sejarah
sebagai Ilmu, Sejarah sebagai seni. Berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran
yang telah disusun sebelumnya, pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap yaitu
pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Masing-masing alokasi waktu 15 menit,
kegiatan inti 60 menit dan penutup 15 menit.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : SMA Fitra Abdi Palembang
Mata pelajaran : Sejarah Indonesia
Kelas : X
Materi Pokok : Hakekat Dan Ruang Lingkup, Sejarah sebagai ilmu,
Sejarah sebagai Peristiwa, Sejarah sebagai kisah dan