• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPTIMASI KONSENTRASI KALIUM HIDROKSIDA PADA EKSTRAKSI KARAGINAN DARI ALGA MERAH (Kappaphycus alvarezii) ASAL PULAU LEMUKUTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "OPTIMASI KONSENTRASI KALIUM HIDROKSIDA PADA EKSTRAKSI KARAGINAN DARI ALGA MERAH (Kappaphycus alvarezii) ASAL PULAU LEMUKUTAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

78

OPTIMASI KONSENTRASI KALIUM HIDROKSIDA PADA EKSTRAKSI KARAGINAN DARI ALGA MERAH (Kappaphycus alvarezii) ASAL PULAU LEMUKUTAN

Rian Hidayah1*, Harlia1, Gusrizal1, Ajuk Sapar1

1Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura,

Jln. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi 78124, Ponrianak

*email: [email protected]

ABSTRAK

Karaginan merupakan polisakarida pembentuk gel yang dapat diperoleh melalui proses ekstraksi dari beberapa jenis rumput laut merah (Rhodophyceae), salah satunya jenis Kappaphycus alvarezii. Karaginan diekstraksi selama 2 jam pada suhu 85

˚

C dengan menggunakan variasi konsentrasi kalium hidroksida 0.2 M; 0.4 M; 0.6 M; 0.8 M; dan 1.0 M. Hasil isolasi karaginan menunjukkan pada konsentrasi kalium hidroksida 0.4 M menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 47.75 %, dengan nilai kadar sulfat sebesar 14,75%, kadar logam Pb sebesar 15.975 μg/g, kadar Cu sebesar 9.65 μg/g, dan kadar Zn sebesar 502,55 μg/g. Identifikasi uji kelarutan menunjukkan bahwa kelarutan dari karaginan hasil isolasi pada spektrum 1257,59 cm-1 menunjukkan adanya gugus fungsi ester sulfat, spektrum 925,83 cm-1 adanya gugus fungsi 3,6 andhirogalaktosa, spektrum 848,68 cm-1 menunjukkan adanya gugus fungsi galaktosa 4-sulfat. Hasil karakterisasi FTIR menunjukkan spektrum karaginan hasil isolasi telah memenuhi spesifikasi dengan karaginan komersial karena gugus-gugus fungsi yang terdapat pada spektrum karaginan yang dihasilkan identik dengan spektrum standar karaginan.

Kata Kunci : Ekstraksi, Karaginan, Kappaphycus alvarezii, dan Kalium Hidroksida PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara maritim memiliki sumber daya laut yang beragam dan berpotensi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Salah satunya adalah rumput laut (seaweed) yang dalam bahasa ilmiah dikenal dengan istilah alga. Rumput laut yang ada di Indonesia memiliki jenis yang beragam antara lain jenis Eucheuma sp., Kappaphycus sp., Sargassum sp., Hypnea sp., Gelidium sp., dan Gracillaria. Secara umum rumput laut dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu ganggang merah

(Rhodophyceae), ganggang cokelat

(Phaeophyceae), ganggang hijau

(Chlorophyceae) dan ganggang hijau biru

(Cyanophyceae). Diantara empat kelas

tersebut, Rhodophyceae merupakan rumput laut yang bernilai tinggi karena dapat menghasilkan karaginan. Salah satu jenis sumberdaya hayati yang berpotensi sebagai penghasil karaginan adalah Kappaphycus alvareziii yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat. Syahrul (2005) menyatakan karaginan hampir sama dengan agar-agar berfungsi sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Menurut

Prabowo (2007), karaginan banyak digunakan dalam industri makanan, industri farmasi dan dapat juga dimanfaatkan dalam industri tekstil, kosmetik dan cat.

Karaginan merupakan getah rumput laut yang diekstraksi dengan larutan alkali dari spesies tertentu dari kelas Rhodophyceae. Pada pembuatan karaginan yang harus diperhatikan adalah proses ekstraksi yang meliputi cara ekstraksi, pH, lama ekstraksi dan suhu. Menurut Asnawi (2008), proses pengolahan karaginan dimulai dengan ekstraksi dengan pelarut basa yang kemudian dilanjutkan dengan penyaringan, pengendapan dan penggilingan hingga menjadi tepung. Pelarut basa yang digunakan adalah kalium hidroksida karena dapat menghasilkan karaginan dengan sifat kekuatan gel yang lebih baik dibandingkan NaOH. Winarno (1990) menyatakan pelarut kalium hidroksida dan natrium hidroksida berpengaruh pada ekstraksi karaginan, dimana ion K+ dan Na+ memiliki peran yang berbeda pada sifat gel karaginan. Ion K+ menghasilkan struktur yang baik dibandingkan ion Na+.

Distantina, dkk., (2008), menyatakan pemisahan karaginan dari rumput laut dilakukan dengan menggunakan metode presipitasi kalium klorida sehingga

(2)

79 menghasilkan rendemen dan sifat gel karaginan lebih kuat dibandingkan dengan menggunakan pelarut etanol. Menurut Asnawi, dkk., (2009), rendemen terbesar akan diperoleh jika ekstraksi menggunakan pelarut kalium hidroksida dan pada tahap presipitasi menggunakan presipitan kalium klorida. Pada penelitian ini akan dilakukan optimasi konsentrasi KOH pada proses ekstraksi karaginan dari Kappaphycus alvareziii asal Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang dan hasil karaginan tersebut dianalisis kadar sulfat, kadar logam dengan menggunakan Spektrofotometer AAS, serta dikarakterisasi dengan menggunakan Spektrofotometer FTIR. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi optimum larutan kalium hidroksida pada proses ekstraksi karaginan yang memenuhi standar FCC, FAO dan ECC.

METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan

Alat

Alat yang digunakan antara lain AAS, batang pengaduk, beaker glass, botol semprot, bulb, cawan petri, cawan porselen, corong Buchner, desikator, kertas saring, kondensor, labu ukur, neraca analitik, oven, pemanas listrik, pipet volume, pompa air, pompa vakum, saringan, spatula, termometer, stop watch, tanur, dan oven. Bahan

Bahan yang digunakan yaitu air suling, asam klorida, barium klorida, kalium hidroksida, kalium klorida, dan sampel

Kappaphycus alvarezii.

Cara Kerja

Sampling dan Preparasi Sampel

Sampel dikumpulkan dari pesisir laut asal Pulau Lemukutan. Sampel segar dari seluruh bagian tanaman dibersihkan.

Optimasi Ekstraksi Karaginan dengan KOH Sebanyak 5 gr rumput laut segar dimasukkan ke dalam gelas piala. Setelah itu, rumput laut dipotong ± 1 cm. Kemudian diekstraksi dengan kalium hidroksida dengan variasi konsentrasi 0,2 M; 0,4 M; 0,6 M; 0,8 M; dan 1,0 M dengan volume 250 mL. Campuran ini dipanaskan sambil diaduk selama 2 jam pada suhu 85˚C. Dalam keadaan panas ekstrak disaring dengan kain saring. Kemudian ditambahkan kalium klorida

1,5 % ke dalam filtrat sambil diaduk dan didiamkan pada suhu kamar selama 24 jam hingga terbentuk endapan dan disaring. Karaginan basah dikeringkan di dalam oven pada suhu 55˚C hingga kering dan di timbang hingga beratnya tetap.

Perhitungan Randemen

Ekstrak randemen dihitung berdasarkan presentase berat karaginan serbuk yang dihasilkan terhadap berat sampel yang digunakan, yaitu (Khopkar, 2003) :

% Randemen = x 100%

Kadar sulfat

Sebanyak 1 gr karaginan dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer yang ditambahkan 50 mL HCl 0,2 N kemudian di refluks sampai mendidih selama 6 jam sampai larutan jernih. Kemudian larutan dipindahkan ke dalam gelas beaker dan dipanaskan hingga mendidih. Selanjutnya ditambahkan 10 mL larutan BaCl2 10% dan kembali dipanaskan selama 2 jam.

Endapan yang terbentuk disaring dengan kertas saring bebas berabu dan dicuci dengan air suling mendidih hingga bebas klorida. Kertas saring dikeringkan ke dalam oven pengering, kemudian diabukan pada suhu 1000oC sampai diperoleh abu berwarna putih. Abu didinginkan dalam desikator kemudian ditimbang. Perhitungan kadar sulfat adalah sebagai berikut (FMC Corp. 1977) :

% kadar sulfat = x 100%

Ket :0,4116 = massa moleku relatif SO4 dibagi

dengan massa atom relatif BaSO2

P = berat endapan BaSO4 (g) Analisis Logam

Sebanyak 5-6 mL HCl 6 N ditambahkan ke dalam cawan berisi sampel sebanyak 0,1 gr, kemudian dipanaskan di atas hot plate (pemanas) dengan pemanasan rendah sampai kering. Setelah itu, ditambahkan 15 mL HCl 3 N dan dipanaskan lagi di atas pemanas sampai mulai mendidih. Setelah mendidih larutan didinginkan dan disaring, filrat dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL. Padatan yang tertinggal dicuci dengan air suling dan disaring kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur sebelumnya dan ditempatkan hingga tanda batas. Blanko disiapkan menggunakan pereaksi yang sama. Diukur larutan standar logam, blanko

(3)

80 dan larutan sampel. Kemudian dibuat kurva standar untuk masing-masing logam (nilai absorbsi/emisi vs konsentrasi logam dalam μg/mL) (Apriyantono et al. 1989).

Identifikasi Gugus Fungsi Karaginan Dengan Menggunakan Spektrofotometri FTIR.

Karaginan yang diperoleh kemudian dianalisis dengan spektrofotometri FTIR. Analisa FTIR digunakan untuk mengetahui keberadaan gugus-gugus fungsi molekul yang terdapat dalam isolat karaginan ,dimana kesamaan gugus-gugus fungsi yang terdapat antara standar dan sampel menyatakan sampel yang dianalisa identik dengan standar (Rando Tuvikene, 2005).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Optimasi Ekstraksi Karaginan dengan KOH

Ekstraksi karaginan dilakukan pada suhu 85˚C. Suhu ekstraksi yang semakin besar akan menghasilkn rendemen karaginan yang semakin besar, tetapi apabila suhu lebih dari 85ºC maka rendemen karaginan akan mengalami penurunan. Demikian pula dengan waktu ekstraksi, semakin lama waktu ekstraksi, rendemen karaginan akan semakin besar. Hal ini disebabkan karena semakin lama rumput laut berinteraksi dengan panas maupun dengan larutan pengekstrak, maka semakin banyak karaginan yang terlepas dari dinding sel dan menyebabkan karaginan semakin tinggi. Akan tetapi jika waktu ekstraksi terlalu lama juga dapat menyebabkan struktur karaginan menjadi rusak sehingga terjadi penurunan rendemen karaginan.

Ekstraksi karaginan dilakukan dengan menggunakan pelarut kalium hidroksida. Penggunaan larutan kalium hidroksida dapat menghasilkan rendemen yang tinggi karena kation K+ dari kalium hidroksida akan bersenyawa dengan rangkaian polimer karaginan dan membentuk kappa karaginan sehingga akan memberikan tambahan berat pada rendemen karaginan yang dihasilkan. Selain itu, larutan kalium hidroksida dapat memecahkan dinding sel rumput laut sehingga membantu dalam proses ekstraksi karaginan serta berfungsi sebagai katalisis yang dapat menghilangkan gugus-6-sulfat dari unit monomernya dengan membentuk 3,6-anhidrogalaktosa. Menurut Towle (1973), adanya gugus fungsi 3,6-anhidrogalaktosa

menyebabkan sifat anhidrofilik dan meningkatkan pembentukan struktur heliks rangkap sehingga terbentuk gel yang tinggi. Saat proses ekstraksi berlangsung terjadi transformasi gugus sulfat yang terikat pada gugus galaktosa oleh ion K+ sehingga terbentuknya garam K2SO4. Reaksi yang terjadi saat proses ekstraksi sebagai berikut :

Gambar 4.2 Reaksi pada ekstraksi alkali (European Patent EP0964876, 1998)

Hasil rendemen karaginan yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Rendemen Karaginan Dari Rumput Laut Kappaphycus alvareziii

Perlakuan Konsentrasi (M) Waktu Presipitasi Berat Sampel (gr) Berat Karaginan (gr) Rendemen Karaginan (%) 0,2 24 Jam 5,0002 1,967 39,34 0,4 24 Jam 5,0000 2,387 47,75 0,6 24 Jam 5,0002 2,019 40,38 0,8 24 Jam 5,0001 0,723 14,46 1,0 24 Jam 5,0001 0,827 16,54

Konsentrasi kalium hidroksida 0.4 M menghasilkan rendemen yang tertinggi. Hal ini dikarenakan kation K+ dari kalium hidroksida akan bersenyawa dengan rangkaian polimer karaginan dan membentuk karaginan sehingga akan memberikan tambahan berat pada rendemen karaginan yang dihasilkan. Basmal, et.al., (2003) menyatakan konsentrasi kalium hidroksida yang lebih tinggi pada ekstraksi karaginan akan menyebabkan struktur karaginan sedikit terurai pada saat pembentukan karaginan, sedangkan penurunan rendemen karaginan disebabkan oleh kation K+ terperangkap dalam koagulan karaginan. Proses hidrolisis yang terjadi pada saat ektraksi juga dapat mengakibatkan terbawanya atau keluarnya karaginan ke dalam larutan kalium hidroksida sehingga proses hidrolisis pada larutan kalium hidroksida 0.8 M dan 1.0 M tersebut lebih kecil dibandingkan larutan kalium hidroksida 0.4 M.

Peningkatan rendemen dalam penelitian ini selain dipengaruhi oleh konsentrasi larutan kalium hidroksida juga dipengaruhi oleh penambahan garam kalium klorida sebesar 1,5 % (b/v) yang ditambahkan ke dalam filtrat karaginan. Penambahan kalium

(4)

81 klorida berfungsi sebagai pengendap atau koagulan yang dapat menghasilkan atau meningkatkan kekuatan gel karaginan terhadap kualitas pangan. Menurut Istini, et al,. (1991), peningkatan konsentrasi perlakuan larutan kalium hidroksida dapat meningkatkan rendemen karaginan, dari hasil penelitian terbukti bahwa rendemen meningkat sesuai dengan peningkatan konsentrasi larutan kalium hidroksida yang diberikan.

Pengaruh konsentrasi kalium hidroksida pada ekstraksi karaginan terhadap rendemen karaginan Kappaphycus alvareziii yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 4.2

0,000 0,500 1,000 1,500 2,000 2,500 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 R en d emen (g ra m ) Konsentrasi KOH (M)

Gambar 4.3 Grafik rendemen karaginan terhadap konsentrasi KOH

Rendemen karaginan mengalami peningkatan dengan bertambahnya konsentrasi kalium hidroksida yang ditunjukkan pada gambar 4.3. Hasil rata-rata rendemen berdasarkan konsentrasi ekstraksi menunjukkan bahwa pada konsentrasi 0.4 M menghasilkan rendemen lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi yang lain. Hal ini disebabkan karena kemampuan kalium hidroksida dalam mengekstrak semakin besar sehingga proses ekstraksi polisakarida menjadi sempurna.

Penelitian Distantina (2010) menghasilkan

rendemen sebesar 48,00% sedangkan dari hasil penelitian ini rendemen yang dihasilkan sebesar 47,75%. Rendemen yang dihasilkan pada penelitian ini memenuhi persyaratan minimum rendemen karaginan yang ditetapkan oleh Departemen Perdagangan (1989) yaitu sebesar 25 %.

Kadar Sulfat

Moirano (1977) menyatakan kadar sulfat merupakan salah satu faktor penentu kualitas produk rumput laut. Hasil ekstraksi rumput laut biasa dibedakan berdasarkan kandungan sulfatnya. Kandungan sulfat yang ditetapkan sebesar 18-40%. Waktu ekstraksi berpengaruh terhadap kadar sulfat dalam

karagenan yang dihasilkan dari ekstraksi dengan pelarut KOH. Berdasarkan penelitian Distantina, (2010), kadar sulfat dalam karagenan yang dihasilkan dengan pelarut dapat diasumsi sebagai kadar sulfat dalam rumput laut Kappaphycus alvarezii

Nilai kadar sulfat karaginan Kappaphycus alvareziii sebesar 14,75% dan berbeda nyata dengan karaginan komersial sebesar 15,64 %. Menurut Mantel (1979), kandungan sulfat karaginan Kappaphycus alvareziii pada penelitian ini lebih rendah dari karaginan komersial. Selain dengan kation K+, gugus sulfat dapat berikatan dengan kation Ca2+ yang terdapat dalam rantai polimer karaginan. Bila rangkaian polimer tersebut ditambah air, maka akan mengakibatkan terlepasnya gugus sulfat dari rangkaian polimer karaginan untuk membentuk CaSO4 dan H2SO4. Berdasarkan teori ini maka kemungkinan kation K+ juga mempunyai fungsi yang sama dengan kation Ca2+, sebab penggunaan larutan kalium hidroksida dalam penelitian ini ternyata dapat mereduksi kadar sulfat dalam Kappaphycus alvareziii.

Logam Berat

Analisis logam berat pada karaginan dari

Kappaphycus alvareziii sangat penting,

antara lain untuk menentukan karaginan tersebut aman digunakan atau dikonsumsi untuk produk farmasi (obat-obatan) dan produk pangan. Kandungan logam berat karaginan Kappaphycus alvareziii dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Kandungan Logam Berat Pada Karaginan Kappaphycus alvareziii

Jenis Logam

Kadar Logam Karaginan μg/g

Pb 15,975

Cu 9,65

Zn 502,55

Logam Pb yang terdapat pada karaginan sebesar 15.975 μg/g, dan logam Cu dan Zn masing-masing sebesar 9.65 μg/g dan 502.55 μg/g. Logam Zn merupakan unsur atau mineral yang dibutuhkan oleh rumput laut. Berdasarkan penelitian Syamsuar (2007), kandungan Zn yang terdapat pada karaginan disebabkan karena logam Zn pada rumput laut terakumulasi melalui absorbsi atau proses pertukaran ion. Proses ini terjadi melalui dinding sel rumput laut, yang

(5)

82 kemudian bersenyawa dengan protein dan polisakarida.

Adanya kandungan Pb dan Cu menunjukkan adanya pencemaran di perairan, karena rumput laut mampu menyerap logam berat dari perairan melalui proses absorpsi. Pada penelitian ini karaginan mengandung Zn, Cu dan Pb dalam jumLah yang sedikit dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh EEC untuk Pb sebesar 10 ppm, Cu sebesar 25 ppm dan Zn sebesar 50 ppm.

Karakterisasi Menggunakan IR Spektrofotometer

Analisa FTIR digunakan untuk mengetahui keberadaan gugus-gugus fungsi molekul yang terdapat dalam suatu sampel, dengan kesamaan gugus-gugus fungsi yang terdapat antara standar dan sample menyatakan sampel yang dianalisa identik dengan standar. Berikut ini merupakan spektrum FTIR standar dan sampel yang dihasilkan, dimana kedua spektrum di bawah dibandingkan antar gugus-gugus fungsinya.

Gambar 4.5. Spektrum FTIR standard karaginan (Rando Tuvikene,2005)

Gambar 4.5. Spektrum FTIR karaginan hasil isolasi

Menurut Uy, et al., (2005), Spektrofotometer FTIR menunjukkan adanya berkas absorpsi yang sangat kuat pada daerah 1210-1260 cm-1 karena ikatan ester sulfat dan daerah 1010-1080 cm-1 dianggap ikatan glycosidik pada semua jenis karagenan. Karagenan yang menunjukkan lebar spektrum 840-850 cm-1 adalah galaktosa-4-sulfat yang dimiliki karagenan jenis kappa.

Spektrum FTIR pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karagenan yang dihasilkan memperlihatkan struktur kimia karagenan jenis kappa. Karagenan yang dihasilkan dari Kappaphycus alvarezii pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.4. Tabel 4.4 Spektrum FTIR Karagina Komersial dengan Karaginan Hasil Isolasi

Gugus Kimia Karaginan Panjang Gelombang Absorbansi Komersial (cm-1) Hasil Isolasi (cm-1) Ester sulfat 1257,59 1257,59 3,6 anhidrogalaktosa 925 925,83 Galaktosa 4 sulfat 848,68 848,68

Hal ini menunjukkan spektrum karaginan hasil isolasi telah memenuhi spesifikasi dengan karaginan komersial karena gugus-gugus fungsi yang terdapat pada spektrum karaginan sample yang dihasilkan identik dengan spectrum standar karaginan.

SIMPULAN

Hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan menunjukkan konsentrasi optimum kalium hidroksida pada proses ekstraksi karaginan diperoleh pada konsentrasi 0.4 M yang mrnghasilkan rendemen sebesar 47,74%. Kadar sulfat karaginan hasil isolasi yang diperoleh sebesar 14,75%. Berdasarkan karakteristik FTIR karaginan hasil isolasi menunjukkanadanya pada spektrum 1257,59 cm-1 terdapat gugus ester sulfat, spektrum 925,83 cm-1 terdapat 3,6-anhidrogalaktosa , spektrum 848,68 cm-1 terdapat galaktosa-4-sulfat, serta analisis logam yang dilakukan pada karaginan menghasilkan kadar logam Pb sebesar15.975 μg/g, kadar Cu sebesar 9.65 μg/g, kadar Zn sebesar 502.55 μg/g.

(6)

83 DAFTAR PUSTAKA

Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari NL, Yasni S, Budiyanto S. 1989. Analisis Pangan. Bogor: Institut Pertanian Bogor Press.

Asnawi,2008,“Pengaruh Kondisi Presipitasi Terhadap Rendemen Sifat Karaginan dari Rumput Laut Eucheuma Cottoni”, Surakarta,

Asnawi F., dan Susilaningtyas, L., 2009, ”Pengaruh Kondisi Presipitasi Terhadap Rendemen Dan Sifat Karaginan Dari Rumput Laut

Kappaphycus alvarezii”, Laporan

Penelitian, Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret,

Surakarta.

Basmal J, Syarifudin, Faridma’ruf W. 2003. Pengaruh Konsentrasi Larutan Potasium Hidroksida Terhadap Mutu Kappa-Karagenan yang Diekstraksi dari Eucheuma cottonii. J Pen Perikanan Indones.9(5):95-103. Departemen Perdagangan. 1989. Ekspor

Rumput Laut Indonesia. Jakarta. Hlm 57.

Distantina, S., Fadilah, Danarto, Y.C., Wiratni, dan Fahrurozzi, M., 2008, “Efek Bahan Kimia pada Tahap Presipitasi terhadap Rendemen dan Sifat Karaginan dari Rumput Laut

Kappaphycus alvareziii”, Prosiding Simposium Nasional RAPI VII , Universitas Muhamadiyah Surakarta, Desember 2008, K1-7.

Distantina, S., Fadilah, Rohcmadi, Fahrurrozu M, Wiratni. 2010. Proses Ekstraksi Karagenan Dari Eucheuma cottonii,

Seminar Rekayasa Kimia dan Proses, Universitas Diponegoro Semarang, Agustus 2010.

European Patent EP0964876, 1998, ”Method for Extracting Semi Refined Carrageenan from Seaweed”.

FMC Corp. 1977. Carragenan. Marine Colloid Monograph Number One. Springfield, New Jerney. USA Marine Colloids Division FMC Corporation. Hlm 23-29. Istini, S. dan Zatnika, A. 1991. Optimasi Proses Semirefine Carrageenan dari Rumput Laut Euchema cottonii.

Prosiding Temu Karya Ilmiah

Teknologi Pasca Panen Rumput Laut.

Jakarta. p. 87–100.

Khopkar, 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta : Universitas Indonesia

Mantell, C.L. 1947. The Water Soluble Gum in Resin. Reinhold Publishing Corporation, New York. p105.

Moirano, A.L, 1977, Sulphated Seaweed Polysaccharides In Food Colloids,

Graham MD (editor), The AVI Publishing Company Inc, Westpoint Connecticut.

Prabowo A, Y. 2007. Budi Daya Rumput

Laut.

http://teknis-budidaya.blogspot.com

Rando Tuvikene, at al, 2005, Extraction and quantification of hybridcarrageenans from the biomass of the red algae

Furcellaria lumbricalis and Coccotylus truncates, Proc, Estonian Acad, Sci, Chem., 2006, 55, 1, 40–53.

Syahrul, 2005, Penggunaan Fikokoloid Hasil Ekstraksi Rumput Laut sebagai Substitusi Gelatin, pada Es Krim, Tesis, Institut Pertanian Bogor,

Jakarta, p, 30-43.

Syamsuari, 2007, Karakteristik Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvareziii Pada Berbagai Umur Panen, Konsentrasi Kalium Hidroksida dan Lama Ekstraksi, Institut Pertanian

Bogor, Jakarta

(http://www.damandiri.or.id/detail.php ?id=457, diakses pada tanggal 12 Maret 2011.

Towle, G. A., 1973, Carrageenan di dalam R.L, Whistler (ed), Industrial gum polisacharides and their derivativer, AC Press New York, Hal : 85 -109. Uy, F.S., Easteal, A.J., and Fard,M.M.,

(2005), “Seaweed Processing Using Industrial Single-mode Cavity microwave heating : a preliminary investigation”, Carbohydrate Research, 340 ; 1357-1364.

Winarno, F.G., 1990, Teknologi Pengolahan Rumput Laut, Edisi 1, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Gambar

Gambar  4.2  Reaksi  pada  ekstraksi  alkali  (European Patent EP0964876, 1998)
Gambar 4.3 Grafik rendemen karaginan  terhadap konsentrasi KOH

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan mahkotanya adalah pada warna dan ukuran dari masing-masing bagian bunga,sedangkan persamaannya terdiri atas 5 petala, bentuknya menyerupai kupu-kupu,

Variabel APB secara parsial memiliki pengaruh negatif yang tidak signifikan terhadap ROA pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa periode triwulan I tahun 2013

Pengganti alat stopwatch secara manual adalah menggunakan timer mikrokontroler basic stamp, kemudian input data ( panjang tali dan banyak ayunan) melalui keypad

Hal tersebut terjadi karena kebijaksanaan Bupati untuk memberikan bantuan kepada Partai Politik tidak mendasarkan jumlah bantuan untuk tiap-tiap kursi dan tidak

mindössze 1 százalékát érintette ez a probléma. Az összes hitel esetében még jelentősebb a jövedelmi helyzet szerinti különbség. Az alsó ötödbe tartozók 17

Proses validasi kalimat adalah proses untuk menentukan apakah kalimat pencarian yang dimasukkan sesuai dengan aturan produksi (Mandala, 1999). Valid tidaknya suatu kalimat akan

Dari halaman identitas karyawan juga dapat klik halaman customer terdapat halaman manage user yang berisikan tentang list customer dan jika klik add user