• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN TEORITIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III TINJAUAN TEORITIS"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 1

BAB III

TINJAUAN TEORITIS

3.1 Migrasi Penduduk

3.1.1 Definisi Migrasi Penduduk

Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah tujuan dengan maksud menetap. Sedangkan migrasi sirkuler ialah gerak penduduk dari suatu tempat ke tempat lain tanpa ada maksud untuk menetap. Migrasi sirkuler inipun bermacam macam jenisnya ada yang ulang alik, periodik, musiman, dan jangka panjang. Migrasi sirkuler dapat terjadi antara desa desa, desa kota dan kota kota (Ida Bagus Mantra, 2000).

Dalam kamus geografi, PBB memberikan batasan migrasi sebagai bentuk dari mobilitas geografi atau mobilitas keruangan dari suatu unit geografi ke unit geografi lainnya, yang menyangkut suatu perubahan tempat tinggal secara permanen dari tempat asal ke tempat tujuan (Alatas, 1995). Perpindahan yang melewati batas desa/kelurahan saja disebut sebagai migrasi antar desa/kelurahan. Perpindahan yang melewati batas kecamatan disebut migrasi antar kecamatan, yang melewati batas kabupaten/ kota disebut migrasi antar kabupaten/kota dan yang melewati batas provinsi disebut migrasi antar provinsi. Penduduk yang melakukan perpindahan disebut migran.

Berdasarkan jenisnya, migrasi dapat dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu :

1. Migrasi seumur hidup (life time migrant) adalah mereka yang pindah dari tempat lahir ke tempat tinggal sekarang, atau mereka yang tempat tinggalnya sekarang bukan di wilayah provinsi tempat kelahirannya. Penghitungan jumlah migran masuk dan migran ke luar seumur hidup menggunakan matrik tabel silang antara tempat tinggal sekarang dengan tempat lahir. Jumlah migran masuk seumur hidup ke suatu provinsi adalah banyaknya penduduk yang tempat lahirnya di luar provinsi tersebut. Sedangkan jumlah migran ke luar

(2)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 2

seumur hidup dari suatu provinsi adalah banyaknya penduduk provinsi lain yang tempat lahirnya di provinsi tersebut.

2. Migran risen (risen migrant) adalah mereka yang pindah melewati batas provinsi dalam kurun 5 tahun terakhir sebelum pencacahan.

Jumlah migran masuk risen ke suatu provinsi adalah banyaknya penduduk yang tempat tinggalnya 5 tahun lalu di luar provinsi tersebut. Sedangkan jumlah migran ke luar risen dari suatu provinsi adalah banyaknya penduduk provinsi lain yang 5 tahun yang lalu tinggal di provinsi tersebut.

3. Migran total (total migrant) adalah mereka yang pernah pindah antar provinsi tanpa memperhatikan kapan pindahnya, sehingga provinsi tempat tinggal sebelumnya berbeda dengan provinsi tempat tinggal sekarang.

Menurut Everett S. Lee (Mantra, 2000), volume migrasi di suatu wilayah berkembang sesuai dengan tingkat keragaman daerah-daerah di wilayah tersebut. Di daerah asal dan di daerah tujuan, menurut lee, terdapat faktor-faktor yang disebut sebagai :

1. Faktor positif (+) yaitu faktor yang memberikan nilai keuntungan bila bertempat tinggal di tempat tersebut.

2. Faktor negatif (-) yaitu faktor yang memberikan nilai negatif atau

merugikan bila tinggal di tempat tersebut sehingga seseorang merasa perlu untuk pindah ke tempat lain.

3. Faktor netral (0) yaitu yang tidak berpengaruh terhadap keinginan seorang

individu untuk tetap tinggal di tempat asal atau pindah ke tempat lain. Selain ketiga faktor diatas terdapat faktor rintangan antara. Rintangan Antara adalah hal-hal yang cukup berpengaruh terhadap besar kecilnya arus mobilitas penduduk. Rintangan Antara dapat berupa : ongkos pindah, topografi wilayah asal dengan daerah tujuan atau sarana transportasi.

Faktor yang tidak kalah penting yang mempengaruhi mobilitas penduduk adalah faktor individu, karena faktor individu pula yang dapat menilai positif atau negatifkah suatu daerah dan memutuskan untuk pindah atau

(3)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 3

bertahan di tempat asal, jadi menurut Everett S. Lee (Mantra, 2000) arus migrasi dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu :

1. Faktor individu.

2. Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, seperti : keterbatasan

kepemilikan lahan, upah di desa rendah, waktu luang (Time lag) antara masa tanam dan masa panen, sempitnya lapangan pekerjaan di desa, terbatasnya jenis pekerjaan di desa.

3. Faktor di daerah tujuan, seperti : tingkat upah yang tinggi, luasnya lapangan pekerjaan yang beraneka ragam.

4. Rintangan antara daerah asal dengan daerah tujuan, seperti : sarana

transportasi, topografi desa ke kota dan jarak desa kota.

Di negara-negara berkembang gerak perpindahan penduduk yang paling menonjol adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Hal ini bukan hanya karena perbedaan pertumbuhan antara desa dan kota, juga karena menyangkut perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dimana terjadi kesenjangan pertumbuhan antara masyarakat desa dan masyarakat kota. Sehingga migrasi atau mobilitas penduduk dianggap sebagai mekanisme yang membawa masyarakat dari kehidupan yang tradisional ke kehidupan yang modern (Zelinsky, 1971 yang dikutip Saefullah, 1999).

Todaro (2000) menjelaskan tentang teori migrasi yaitu sebagai berikut: Teori ini bertolak dari asumsi bahwa migrasi dari desa ke kota. Pada dasarnya merupakan suatu fenomena ekonomi. Keputusan seorang individu untuk melakukan migrasi ke kota merupakan suatu keputusan yang telah dirumuskan secara rasional. Teori Todaro mendasarkan pada pemikiran bahwa arus migrasi desa ke kota berlangsung sebagai tanggapan terhadap adanya perbedaan pendapatan antara desa dengan kota. Pendapatan disini bukanlah pendapatan aktual namun “penghasilan yang diharapkan” (expected income).

Adapun premis dasar yang dianut dalam teori ini adalah bahwa para migran senantiasa mempertimbangkan pasar-pasar tenaga kerja yang tersedia bagi mereka di sektor pedesaan dan perkotaan. Serta kemudian memilih salah satu di antaranya yang sekiranya akan dapat memaksimumkan keuntungan yang

(4)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 4

diharapkan. Besar kecilnya keuntungan-keuntungan yang mereka harapkan (expected gain) itu diukur berdasarkan (identik dengan) besar kecilnya angka selisih antara pendapatan riil dari pekerjaan dikota dan dari pekerjaan di desa. Angka selisih tersebut juga senantiasa diperhitungkan terhadap besar kecilnya peluang migran yang bersangkutan untuk mendapatkan pekerjaan di kota.

3.1.2 Jenis – Jenis Migrasi

Migrant dan migrasi sangat erat kaitannya. Karena migrasi adalah proses yang dilakukan oleh sekelompok orang tertentu atau seorang indvidu yang disebut sebagai Migran. Berdasarkan dari pengertian migrasi yang telah dibahas sebelumnya, konsep migrasi memiliki dua dimensi penting, yaitu masalah waktu dan daerah. Dalam dimensi ruang atau spasial atau daerah dan dimensi waktu. Jika ditinjau dari dimensi ruang/daerah, secara garis besar migrasi dibagi dua yaitu migrasi internal dan migrasi internasional (Rusli, 1994).

Migrasi internal merupakan perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain dalam satu negara. Migrasi Nasional atau internal terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut :

1. Transmigrasi

Transmigrasi adalah suatu program yang dibuat oleh pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk (kota) ke daerah lain (desa) di dalam wilayah Indonesia dengan upaya untuk mengembangkan wilayah.

2. Ruralisasi

Ruralisasi adalah perpindahan penduduk dari kota ke desa. 3. Urbanisasi

Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Terdapat perbedaan antara mobilitas dan migrasi penduduk. Menurut Tjiptoherijanto (2000) mobilitas penduduk didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II, namun tidak berniat menetap di daerah yang baru, sedangkan migrasi didefinisikan sebagai

(5)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 5

perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II dan sekaligus berniat menetap di daerah yang baru tersebut.

Mobilitas penduduk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pertama, mobilitas penduduk vertikal, yang sering disebut dengan perubahan status.Contohnya adalah perubahan status pekerjaan, dimana seseorang semula bekerja dalam sektor pertanian sekarang bekerja dalam sektor non-pertanian. Kedua, mobilitas penduduk horizontal, yaitu mobilitas penduduk geografis, yang merupakan gerak

(movement) penduduk yang melewati batas wilayah menuju wilayah lain dalam

periode waktu tertentu (Mantra, 2000).

Selanjutnya (Mantra, 2000) menjelaskan bila dilihat dari ada tidaknya niatan untuk menetap di daerah tujuan, mobilitas penduduk dapat pula dibagi menjadi dua, yaitu mobilitas penduduk permanen atau migrasi, dan mobilitas penduduk non-permanen, Jadi menurut (Mantra, 2000) migrasi adalah gerak penduduk yang melintas batas wilayah asal menuju ke wilayah tujuan dengan niatan menetap. Sebaliknya, mobilitas penduduk non-permanen adalah gerak penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuan.

Tabel 3.1 Bentuk-Bentuk Migrasi Penduduk

No Bentuk Migrasi Batas Wilayah Batas Waktu

1 Commuting Dukuh (Dusun) 6 jam atau lebih

dan kembali pada hari yang sama

2 Menginap / mondok di daerah tujuan

Dukuh (Dusun) Lebih dari satu hari dan Lebih dari 6 bulan

3 Permanen/menetap di daerah tujuan

Dukuh (dusun) 6 bulan atau lebih menetap di daerah tujuan Sumber : Ida Bagoes Mantra 2000

(6)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 6

3.1.3 Faktor – Faktor Penyebab Migrasi

Pada umumnya, banyak faktor yang mempengaruhi terjadiya migrasi, disamping adanya faktor utama, terdapat juga faktor klasik berupa kondisi kemiskinan di daerah pedesaan. Menurut Lee, terdapat empat faktor yang menyebabkan seseorang atau penduduk mengambil keputusan untuk bermigrasi.

Faktor-faktor tesebut adalah :

a. Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal b. Faktor-faktor yang terdapat di tempat tujuan c. Rintangan antara daerah asal dan daerah tujuan d. Faktor-faktor daerah asal dan daerah tujuan.

Lee mengungkapkan bahwa volume migrasi di satu wilayah berkembang sesuai dengan keanekaragaman daerah-daerah di dalam wilayah tersebut. Bila melukiskan di daerah asal dan daerah tujuan ada faktor-faktor positif, negatif dan adapula faktor-faktor netral. Faktor positif adalah faktor yang memberi nilai yang menguntungkan kalau bertempat tinggal di daerah tersebut, misalnya di daerah tersebut terdapat sekolah, kesempatan kerja, dan iklim yang baik. Sedangkan faktor negatif adalah faktor yang memberi nilai negatif pada daerah yang bersangkutan sehingga seseorang ingin pindah dari tempat tersebut. Perbedaan nilai kumulatif antara kedua tempat cenderung menimbulkan arus imigrasi penduduk.

Berikut ini merupakan bagan atau gambaran mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya migrasi menurut Lee :

(7)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 7

Gambar 3.1 Faktor Penyebab Terjadinya Migrasi (Lee, dalam Mantra, 2000:181)

Keterangan :

Tanda “+” merupakan simbol faktor penarik Tanda “-“ merupakan simbol faktor pendorong Tanda “0” merupakan simbol faktor netral.

Menurut Lee, dalam setiap daerah banyak sekali faktor yang mempengaruhi orang untuk tinggal atau menetap di situ atau menarik orang untuk pindah ke situ, atau ada faktor-faktor lain yang memaksa mereka untuk meninggalkan daerah itu. Faktor-faktor tersebut digambarkan dalam diagram berbentuk tanda + dan – (positif dan negatif), sedangkan faktor-faktor yang pada dasarnya tidak berpengaruh sama sekali terhadap penduduknya digambarkan dengan tanda 0. Beberapa faktor itu mempunyai pengaruh yang sama terhadap beberapa orang, sedangkan ada faktor berpengaruh yang berbeda terhadap seseorang.

Di setiap tempat atau daerah yang menjadi daerah asal maupun tujuan, yang terkait dengan perpindahan penduduk atau kegiatan mobilitas, akan selalu terdapat faktor positif dan negatif. Yang mana merupakan faktor yang menyebabkan seseorang meninggalkan daerah tersebut.

-- -- + + -- -- -- + + -- + -- + + + -- -- -- + + -- + -- + + Rintangan Antara

(8)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 8

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Lee dapat disimpulkan bahwa di setiap tempat asal maupun tujuan, terdapat sejumlah faktor yang baik (positif) yang menjadi faktor penarik, cenderung menahan orang atau penduduk agar tidak pindah dari daerah asalnya, namun terdapat juga faktor negatif yang mempengaruhi untuk tetap melaksanakan keputusan seseornag atau masyarakat untuk melakukan migrasi.

Menurut Rozy Munir (2000), pada dasarnya terdapat 2 pengelompokan besar tentang faktor yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi. Faktor tersebut adalah faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor). a) Faktor Pendorong Migrasi (Push Factor)

Menurut Marbun (dalam Haryana), orang desa terdorong pindah atau bermigrasi ke kota adalah proses kemiskinan di desa, lapangan pekerjaan yang hampir tidak memadai / tidak tersedia, jika ada pendapatannya masih rendah, adat istiadat yang masih megikat ketat serta sulitnya melanjutkan pendidikan.

Dalam konteks yang lebih luas, meningkatnya arus migrasi dapat mempengaruhi terjadinya perubahan komposisi penduduk di daerah yang terkait dan juga mempengaruhi pola komunikasi baik individu maupun kolektif dalam komunitas yang berbeda. Ini berarti dalam intensitas yang tinggi migarsi dapat memberikan pengaruh modernisasi pada daerah tujuan migrasi. Sehingga mendorong percepatan modernisasi dan pengalihan teknologi di daerah tersebut. Dengan begitu dapat terjadi peningkatan kesejahteraan. Berikut beberapa faktor-faktor pendorong terjadinya migrasi di daerah asal :

1. Semakin berkurangnya sumber dayar alam, menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya makin sulit diperoleh seperti hasil tambang, kayu atau bahan dari pertanian.

2. Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal akibat masuknya teknologi yang menggunakan mesin-mesin.

3. Adanya tekanan-tekanan atau diskriminasi politik, agama, suku di daerah asal 4. Tidak cocok lagi dengan adat, budaya dan kepercayaan di tempat asal

(9)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 9

5. Alasan pekerjaan atau perkawinan yang menyebabkan tidak bisa mengembangkan karir pribadi.

6. Bencana alam, baik banjir, kebakaran, gempa bumi, musim kemarau panjang atau adanya wabah penyakit.

Pendapat lain diungkapkan oleh Waridin (2002) menyebutkan bahwa ada beberapa teori yang mengungkapkan mengapa seseorang melakukan mobilitas atau migrasi, diantaranya adalah teori kebutuhan dan stres. Setiap individu mempunyai beberapa macam kebutuhan yang berupa kebutuhan ekonomi, sosial, budaya dan psikologis. Semakin besar kebutuhan yang tidak terpenuhi, semakin besar stres yang dialami seseorang. Apabila stres sudah berada di atas batas toleransi, maka seseorang akan berpindah ke tempat lain yang mempunyai nilai kefaedahan atau supaya kebutuhannya dapat terpenuhi. Perkembangan teori migrasi ini kemudian dikenal sebagai model ”stress treshold” atau model ”place utility”.

Spare (1975) juga menyatakan, bahwa migrasi dipengaruhi oleh faktor structural, seperti karakteristik sosio-demografis, tingkat kepuasan terhadap tempat tinggal, kondisi geografis daerah asal serta karakteristik komunitas. Pada umumnya, ketidakpuasan pada latar belakang yang berdimensi structural ini akan dapat mempengaruhi seseorang untuk bermigrasi. Sebagai contoh, daerah lahan pertanian yang tandus, biasanya akan ditinggalkan oleh masyarakatnya, dan mencari tempat lain yang lebih subur atau pekerjaan lainnya yang banyak peluang ekonominya, khususnya pada sektor on-pertanian, seperti bidang perdagangan, jasa atau industri.

b) Faktor Penarik Migrasi (Pull Factor)

Faktor penarik merupakan faktor yang ada dan terdapat di daerah tujuan perantauan atau migrasi. Menurut Kartomo (2000), bahwa daya tarik kota adalah adanya rasa superior di tempat yang baru atau kesempatan untuk memasuki lapangan, pekerjaan yang cocok, kesempatan untuk mendapatan pendidikan yang lebih tinggi, keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang lebih menyenangkan.

(10)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 10

Misalnya, iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas kemasyarakatan lainnya, tarikan dari orang yang diharapkan sebagai tempat berlindung.

Kebanyakan migrasi dilakukan guna mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik lagi dibanding daerah asal. Berikut ini adalah beberapa faktor-faktor penarik yang mendorong terjadinya migrasi :

1. Adanya rasa superior di tempat yang baru atau kesempatan untuk memasuki lapangan pekerjaan yang cocok.

2. Kesempatan mendapatkan pendapatan yang lebih baik 3. Kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi

4. Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, misalnya : iklim, perumahan, sekolah, dan fasilitas-fasilitas kemasyarakatan lainnya. 5. Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat

kebudayaan sebagai daya tarik bagi orang-orang dari desa atau kota kecil. Adapun Migran pemula atau pionir akan dianggap sebagai penarik penduduk dari daerah asal yang mengakibatkan timbulnya pola migrasi berantai (chain migration).

3.2 Transmigrasi

3.2.1 Definisi Transmigrasi

Kepadatan penduduk di Indonesia ternyata secara tidak langsung memberikan dampak yang bersifat negatif. Terutama pada sektor kependudukan di Indonesia. Pulau Jawa, adalah salah satu pulau di Indonesia, yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Sehingga, peluang pekerjaan di Pulau Jawapun tidak dapat mengakomodir seluruh masyarakat yang ada di Pulau Jawa. Sehingga, angka pengangguran di Pulau Jawa sendirpun sangat tinggi.

Tingkat pengangguran yang tinggi ini, memiliki ekuivalen dengan tingkat kejahatan pada suatu wilayah. Karena dalam berbagai cabang ilmu mengenai kejahatan juga menyebutkan bahwa kejahatan tersebut dapat terjadi dikarenakan faktor ekonomi. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk membentuk berbagai kebijakan, guna mengatasi permasalahan pembangunan dan kependudukan. Salah satunya adalah kebijakan transmigrasi.

(11)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 11

Transmigrasi merupakan perpindahan penduduk dari daerah yang padat penduduknya ke daerah yang kurang padat penduduknya dalam batas negara, dalam rangka kebijaksanaan nasional untuk terwujudnya penyebaran penduduk yang lebih seimbang (HJ Heeren 1979:6). Sedangkan menurut Collins Mac Andrew, (1995) transmigran merupakan perpindahan penduduk dari daerah yang padat penduduknya ke daerah yang kurang padat penduduknya, sebagian besar direncanakan dan dibiayai oleh pemerintah, guna memindahkan masyarakat dari Jawa, Bali dan Lombok ke perkampungan-perkampungan baru yang dipusatkan di pulau-pulau di luarnya.

Dalam Undang – Undang Transmigrasi No.29 tahun 2009, disebutkan bahwa Transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di kawasan transmigrasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Interpretasi terhadap definisi tersebut bahwa pembangunan transmigrasi pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk merekayasa ruang atau wilayah agar mempunyai nilai tambah dan daya tarik bagi penduduk untuk mendatanginya, bertempat tinggal di dalamnya, dan untuk bekerja-berusaha guna peningkatkan kesejahteraan. Masyarakat transmigrasi, baik para pendatang ataupun masyarakat (penduduk lokal), yang berada di satuan-satuan permukiman dalam kawasan transmigrasi, merupakan entitas kehidupan sosial sebagai subyek, pionir, sekaligus pemanfaat pembangunan transmigrasi.

Transmigrasi dapat dibedakan berdasarkan jenisnya, yaitu sebagai berikut (Warsito, dkk., 1995) :

1. Transmigrasi Umum

Transmigrasi umum adalah program transmigrasi yang disponsori dan dibaiayai secara keseluruhan oleh pihak pemerintah melalui depnakertrans (departemen tenaga kerja dan transmigrasi).

2. Transmigrasi Spontan / Swakarsa

Transmigrasi spontan adalah perpindahan penduduk dari daerah padat ke pulau baru sepi penduduk yang didorong oleh keinginan diri sendiri namun masih mendapatkan bimbingan serta fasilitas penunjang dari pemerintah.

(12)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 12

3. Transmigrasi Bedol Desa

Transmigrasi bedol desa adalah transmigrasi yang dilakukan secara masal dan kolektif terhadap satu atau beberapa desa beserta aparatur desanya pindah ke pulau yang jarang penduduk. Biasanya transmigrasi bedol desa terjadi karena bencana alam yang merusak desa tempat asalnya.

4. Transmigrasi Khusus

Transmigrasi khusus adalah transmigrasi yang diselenggarakan dengan tujuan-tujuan tertentu, misalnya penduduk yang tertimpa bencana alam, pengangguran dan tunawisma di kota-kota besar. Transmigrasi semacam ini disebut transmigrasi sektoral, penyelenggaraannya diurusi pemerintah daerah asal bekerja sama dengan Departemen Transmigrasi.

Transmigrasi di Indonesia telah berjalan selama lebih dari satu abad. Transmigrasi di Indonesia telah memiliki sejarah panjang. Sebagai program pembangunan yang khas Indonesia, awalnya merupakan program politik etis Pemerintah Hindia Belanda, dengan memberikan kesempatan bagi penduduk miskin Jawa, untuk bekerja sebagai buruh di perkebunan swasta di Sumatera. Program ini dinamakan kolonisatie, yang dimulai sejak tahun 1905. Selama tahun 1905 hingga 1941, sejumlah besar penduduk telah dipindahkan ke Lampung dan Sumatera Bagian Selatan.

Setelah kemerdekaan, Pemerintah Indonesia, dengan menggantikan istilah kolonisatie dengan transmigrasi, melanjutkan program ini dengan cara-cara yang relatif sama. Transmigrasi merupakan salah satu program khas Pemerintah Indonesia, yang diselenggarakan dalam bentuk pemindahan (perpindahan) penduduk secara besar-besaran dari dan keluar pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok, untuk bekerja sebagai petani. Selama masa Orde Baru, atau sebelum tahun 2000-an, program transmigrasi pernah dilaksanakan secara besar-besaran untuk menangani problem kemiskinan perdesaan Jawa.

Transmigrasi diselenggarakan Pemerintah pasca kemerdekaan atas alasan-alasan: Demografis (ketimpangan penduduk Indonesia), ideologis (persatuan dan kesatuan bangsa), ekonomis (pengentasan kemiskinan), politis (pemerataan

(13)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 13

pembangunan antar-wilayah), dan kultural, yaitu terjadinya akulturasi dalam hubungan lintas etnis, bagi masyarakat lokal dan pendatang dalam setting budaya masyarakat Indonesia yang plural.

Sosiologi transmigrasi sebagai fenomena khas Indonesia, telah diakui dan dirasakan oleh masyarakat, sebagai sarana [alternatif] pemecahan masalah ketiadaan pekerjaan, sekaligus pencapaian kesejahteraan. Transmigrasi telah begitu popular, dikenal masyarakat, karena jasa-jasanya dalam membentuk komunitas/ masyarakat, yang bermukim di desa-desa baru di berbagai belahan negeri ini. Banyak entitas kehidupan sosial-ekonomi dan kultural, yang terbentuk melalui transmigrasi, yang kini telah maju dan berkembang.

3.2.2 Transmigrasi dari Masa Ke Masa

Dari waktu ke waktu, sejarah transmigrasi diwarnai beberapa perubahan baik dari sisi aturan legal, kebijakan dan paradigma, serta orientasi pragmatis pelaksananya. Sejak masa pra-Pelita hingga kini, setidaknya ada 4 (empat) kategori “generasi transmigrasi”, yang dapat dijelaskan sebagai berikut (Puslitbang Ketransmigrasian, 2013) :

1. Generasi Pertama

Adalah transmigrasi yang dilaksanakan di masa pra-Pelita dan berakhir hingga pertengahan tahun 1980-an (Pelita III). Dasar legalnya adalah UU No. 3 tahun 1972 (tentang Ketentuan Pokok Transmigrasi). Ciri utama transmigrasi generasi ini adalah pemindahan penduduk secara besar-besaran dari dan keluar Pulau Jawa, Madura, Bali (Jambal), dan Lombok, dengan sepenuhnya biaya ditanggung pemerintah. Tema-tema utama transmigrasi saat itu adalah pengurangan kepadatan penduduk Jawa dan kelangkaan penduduk luar Jawa. Pola usaha dan permukiman transmigrasi hampir seluruhnya dibangun dengan orientasi pengembangan pertanian (padi-sawah) baik lahan basah maupun lahan kering.

Produk akhir transmigrasi generasi ini adalah kesatuan-kesatuan sosial, atau komunitas-komunitas administratif desa, yang dalam jangka panjang telah terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap perkembangan wilayah dan

(14)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 14

ekonomi regional sebagai pusat-pusat produksi pertanian dan menjadi wilayah belakang (hinterland) dari kota-kota yang secara tradisional sudah ada di wilayah provinsi yang bersangkutan. Komunitas desa-desa eks transmigrasi umumnya berskala besar, dan berkembang pesat baik secara politis maupun administratif. 2. Generasi Kedua

Adalah transmigrasi yang dilaksanakan di masa Pelita IV hingga berakhir di akhir tahun 1990-an (Pelita VII). Dalam era ini transmigrasi ditandai salah satunya oleh keterlibatan pihak swasta untuk berinvestasi di sektor perkebunan. Sekalipun pola usaha tanaman pangan (padi sawah) masih dipertahankan, pola-pola kemitraan perkebunan dalam bentuk Perusahaan Inti Rakyat (PIR-Trans) dikembangkan secara besar-besaran. Program transmigrasi mendapat berkah dengan dikucurkannya dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) kepada swasta, sehingga banyak swasta yang kemudian berinvestasi membangun perkebunan sawit dan karet dalam bentuk PIR-Trans.

Tema-tema demografis transmigrasi di era ini kemudian ditinggalkan, karena efek-efek pengurangan penduduk di daerah asal (Jambal) ternyata tidak tercapai. Transmigrasi kemudian dilakukan dengan orientasi pengembangan wilayah di daerah. Maka lahirlah UU No. 15 tahun 1997 (tentang Ketransmigrasian, sebagai pengganti UU Nomor 3 tahun 1972). Secara konseptual, orientasi transmigrasi generasi kedua bukan lagi membangun komunitas administratif desa atau desa definitif, melainkan pembangunan proyek-proyek berbasis spasial yaitu WPT (Wilayah Pengembangan Transmigrasi) dan LPT (Lokasi Permukiman Transmigrasi).

3. Generasi ketiga

Adalah transmigrasi yang dilaksanakan sejak berakhirnya pemerintahan sentralistik Orde Baru, dan berakhir di penghujung tahun 2004. Dengan demikian, dalam prakteknya UU nomor 15/1997 belum sempat diimplementasikan secara utuh dan orientasi pengembangan wilayah praktis belum sempat dilaksanakan, karena ketika itu transmigrasi lebih difokuskan atau mendapat mandate yang bersifat ad hoc untuk menangani secara permanen korban konflik baik horisontal

(15)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 15

maupun konflik vertikal melalui upaya pemukiman kembali di berbagai wilayah (termasuk daerah asal Jawa, Madura, dan Bali).

Pada era ini, transmigrasi mengalami stagnasi. Tahun 2000-2001, misalnya, tidak ada penempatan transmigrasi. Di beberapa propinsi, program transmigrasi dihentikan. Sejak saat itulah maka citra (syi’ar) transmigrasi mulai meredup. Kondisi ini semakin sulit, karena otonomi daerah yang mulai diberlakukan menjadikan dikotomi yang begitu kuat antara kepentingan daerah tujuan dan daerah asal transmigrasi, serta perolehan lahan pun untuk permukiman transmigrasi berskala luas (yang bersifat eksklusif) menjadi semakin sensitif untuk dibicarakan. Satuan-satuan permukiman transmigrasi dibangun dalam skala yang relatif lebih kecil, sehingga sulit untuk menjadi embrio pusat pertumbuhan ekonomi wilayah.

Transmigrasi kembali normal menjadi program reguler pemerintah yang teratur di tahun 2005. Namun transmigrasi di era ini sebagian masih mewarisi problematik di era generasi ketiga. Dalam paruh kedua pemerintahan SBY Jilid I, upaya untuk membenahi transmigrasi sebagai program reguler-sektoral, telah berhasil dilakukan. Maka muncullah paradigma baru transmigrasi, yang bukan lagi berorientasi demografis melalui pemindahan dan penempatan penduduk secara besar-besaran, tetapi lebih pada pembangunan transmigrasi dengan membangun dan mendorong pusat-pusat pertumbuhan baru dan atau pusat pertumbuhan yang sudah ada melalui skema Kota Terpadu Mandiri (KTM) dengan basis kawasan transmigrasi (dimulai tahun 2007), yang tujuannya untuk mengurangi ketimpangan dan mempercepat pembangunan daerah dalam rangka memperkukuh pelaksanaan otonomi.

Tetapi dalam era ini, transmigrasi masih tetap harus dilakukan dalam bentuk perpindahan penduduk dari dan keluar daerah pengirim (asal), dengan tetap menyertakan masyarakat setempat sebagai Transmigran Penduduk Setempat (TPS), dan dengan dengan porsi dan komposisi yang lebih seimbang, bahkan lebih besar. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan perlindungan hak-hak masyarakat lokal agar tidak terjadi marginalisasi, karena mereka adalah pemilik

(16)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 16

territorial atau daerah kebudayaan, masyarakat penerima, atau bahkan sebagai pemberi lahan untuk lokasi pembangunan.

4. Generasi Keempat

Era baru transmigrasi akan menjadi transmigrasi yang mendapat tugas lebih kompleks, yaitu: Pertama, merencanakan infrastruktur kawasan transmigrasi sebagai kawasan yang memiliki fungsi-fungsi perkotaan atau ciri fungsi perkotaan baru. Maka transmigrasi dihadapkan pada tantangan untuk memperoleh dukungan aparat birokrasi yang memahami betul planologi wilayah perkotaan. Kedua, transmigrasi harus mempersiapkan para calon transmigran, baik dari daerah pengirim maupun dari daerah tujuan atau penempatan (transmigran penduduk setempat), untuk menjadi calon masyarakat transmigrasi yang mampu menopang pertumbuhan budaya perkotaan dengan basis pertanian.

Selain tugas membangun prasarana dan sarana fisik kawasan perkotaan guna melayani kebutuhan masyarakat, tugas baru transmigrasi adalah membuat program-program pengembangan kultur perkotaan bagi masyarakat transmigran, atau model transformasi kultural yang diperlukan guna menopang kemajuan kawasan yang berciri atau berfungsi perkotaan. Pada generasi ini (saat ini) diperlukan aparat birokrasi (pusat maupun daerah) yang mampu melakukan rekayasa transformasi budaya dari tradisional ke modernitas pendukung kehidupan kota. Ketiga, memberikan pemahaman kepada publik bahwa transmigrasi kedepan bukan lagi hanya membangun desa, melainkan membangun masyarakat kota yang dicirikan oleh kultur kerja keras, kompetitif, dan reseptif terhadap nilai-nilai moderen yang mendukung kemajuan.

Di era baru ini, transmigrasi akan memasuki babak baru, sebagai program yang sangat prestisius, tetapi tetap berciri populis, dan akan mendapat simpati rakyat (publik), bagi siapapun rezim pelaksana dan berkuasa di negeri ini.

Apa yang menjadi ciri khas (“trademark”) dari program transmigrasi, adalah bahwa melalui transmigrasi, atau dengan mengikuti program ini, seseorang atau suatu unit keluarga, dapat memperoleh bantuan sarana produksi, berupa tanah, pangan untuk bekerja (food for work), dan perlakuan pembinaan kemasyarakatan setelah bertempat tinggal (pasca penempatan) di permukiman

(17)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 17

baru transmigrasi. Dengan kata lain, program transmigrasi memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk bekerja dan berusaha di daerah baru, dengan memanfaatkan sumber daya alam (lahan pertanian).

3.3 Urbanisasi

3.3.1 Definisi Urbanisasi

Urbanisasi secara harfiah berarti pengkotaan, yaitu proses menjadi kota (Pontoh dan Kustiawan, 2008). Urbanisasi dipahami secara umum sebagai proses menjadi kawasan perkotaan, migrasi masuk kota, perubahan pekerjaan dari bertani berubah menjadi non-petani, dan juga menyangkut perubahan pola perilaku manusia (Daldjoeni, dalam Pontoh dan Kustiawan, 2008). Pengkotaan juga dapat diterapkan pada suatu negara, sehingga dapat meningkatkan proporsi penduduk yang bertempat tinggal di perkotaan.

Ditinjau dari aspek demografis, urbanisasi yang diartikan sebagai mengalirnya penduduk dari desa ke kota yang disebabkan oleh adanya perbedaan signifikan tingkat kehidupan antara desa dan kota. Dalam konteks ini, para pakar mengidentifikasikan faktor pendorong (push factors) dan faktor penarik (pull

factors) yang berkaitan dengan bangkitan urbanisasi (Khairuddin, dalam Pontoh

dan Kustiawan, 2008).

Harjoko (2010) pengertian urbanisasi diartikan sebagai suatu proses perubahan masyarakat dan kawasan dalam suatu wilayah yang non-urban menjadi urban. Secara spasial, hal ini dikatakan sebagai suatu proses diferensiasi dan spesialisasi pemanfaatan ruang dimana lokasi tertentu menerima bagian pemukim dan fasilitas yang tidak proporsional.

Shogo kayono dalam Abbas (2002) memberikan pengertian urbanisasi sebagai perpindahan dan pemusatan penduduk secara nyata yang memberi dampak dalam hubungannya dengan masyarakat baru yang dilatar belakangi oleh faktor sosial, ekonomi, politik dan budaya. Sementara Keban dalam Abbas (2002) berpendapat bahwa urbanisasi jangan hanya dalam konteks demografi saja karena urbanisasi mengandung pengertian yang multidimensional. Urbanisasi dari pendekatan demografis berarti sebagai suatu proses peningkatan konsentrasi

(18)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 18

penduduk diperkotaan sehingga proporsi penduduk yang tinggal menjadi meningkat yang biasanya secara sederhana konsentrasi tersebut diukur dari proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan, kecepatan perubahan proporsi tersebut, dan perubahan jumlah pusat-pusat kota.

Sedangkan urbanisasi menurut pendekatan ekonomi politik didefenisikan sebagai transformasi sosial ekonomi yang timbul sebagai akibat dari pengembangan dan ekspansi kapitalisme (capitalist urbanization). Dalam konteks modernisasi, urbanisasi mengandung pengertian sebagai perubahan nilai dari orientasi tradisional ke orientasi modern sehingga terjadi difusi modal, teknologi, nilai-nilai, pengelolaan kelembagaan dan orientasi dari masyarakat tradisional ke dunia barat (kota).

3.3.2 Faktor Pendorong Urbanisasi

Faktor-faktor pendorong terjadinya urbanisasi dapat ditinjau dalam beberapa perspektif, yaitu kemajuan di bidang pertanian, industrialisasi, potensi pasar, peningkatan kegiatan pelayanan, kemajuan transportasi, tarikan sosial dan kultural, kemajuan pendidikan dan pertumbuhan penduduk alami (Hammond, 1979 diacu dalam Rustiadi et al., 2009). Alasan penduduk melakukan migrasi dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang berkaitan dengan alasan pekerjaan ataupun alasan non ekonomi yang berkaiatan dengan sosial, budaya, pendidikan, politik dan keamanan.

Faktor pendorong lainnya adalah semakin terbatasnya lapangan kerja di pedesaan, kemiskinan di pedesaan akibat bertambahnya jumlah penduduk, transportasi desa-kota yang semakin lancar, tingginya upah buruh di kota dari pada di desa, meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat desa, dan tata cara serta adat istiadat yang kadang kala dianggap sebagai beban oleh masyarakat desa. Sementara faktor penarik antara lain adalah kesempatan kerja yang lebih luas dan bervariasi di kota, tingkat upah yang lebih tinggi, lebih banyak kesempatan untuk maju (diferensiasi pekerjaan dan pendidikan dalam segala bidang), tersedianya barang-barang kebutuhan yang lebih lengkap, terdapatnya berbagai kesempatan untuk rekreasi dan pemanfaatan waktu luang, dan bagi

(19)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 19

orang-orang atau kelompok tertentu di kota memberikan kesempatan untuk menghindari diri dari kontrol sosial yang ketat.

Analisis hubungan keterkaitan antara urbanisasi dengan pembangunan ekonomi menurut ahli ekonomi dan sosial dapat ditinjau dari dua aspek. Aspek pertama berkaitan dengan peran urbanisasi terhadap pembangunan ekonomi dan aspek kedua tentang pengaruh dari pembangunan ekonomi terhadap urbanisasi (Sukirno, 1985 diacu dalam Pontoh dan Kustiawan, 2008). Kedua aspek analisis tersebut menunjukkan bahwa diantara urbanisasi dan pembangunan ekonomi terdapat hubungan sebab akibat yang timbal balik sifatnya, dimana pembangunan ekonomi dapat mempercepat proses urbanisasi dan sebaliknya proses urbanisasi dapat pula mempercepat proses pembangunan ekonomi.

Pertumbuhan penduduk perkotaan yang kian pesat berdampak pada kebutuhan sarana dan prasarana/infrastruktur perkotaan (urban infrastructure). Penduduk kota dipandang dalam konteks permintaan (demand), sedangkan penyediaan infrastruktur kota merupakan penawaran (suplly) (Adisasmita dan Sakti, 2010). Dalam pembangunan perkotaan yang berkesinambungan, maka sisi permintaan dan sisi penawaran harus diupayakan mencapai titik keseimbangan, sehingga tidak menimbulkan ketimpangan yang berujung pada terjadinya kelangkaan ataupun kesulitan dalam pelayanan terhadap masyarakat.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Urbanisasi timbul oleh adanya usaha untuk mempertinggi efisiensi kegiatan tukar menukar, karena usaha tersebut akan mengembangkan pusat-pusat perdagangan yang nantinya dapat berfungsi sebagai tempat pengumpulan barang produksi suatu wilayah yang akan dipersiapkan untuk didistribusikan ke wilayah lainnya. Untuk menjamin kelancaran usaha pengumpulan dan pendistribusian barang oleh pusat-pusat perdagangan tersebut, maka secara tidak langsung akan berkembang pula kegiatan-kegiatan yang merupakan suplemen/tambahan dari kegiatan perdagangan seperti kegiatan pengangkutan, komunikasi, dan badan-badan keuangan. Perkembangan dari berbagai kegiatan tersebut mendorong orang untuk berpindah ke kota-kota yang berfungsi sebagai pusat perdagangan dalam suatu wilayah tertentu.

(20)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 20

3.4 Ruralisasi

Ruralisasi adalah kebalikan dari urbanisasi, yaitu proses perpindahan penduduk dari suatu daerah di perkotaan yang padat penduduknya ke daerah lain di pedesaan yang masih jarang penduduknya. Pada umumnya mereka yang melakukan ruralisasi dulunya pernah juga melakukan urbanisasi, tapi cukup banyak juga masyarakat kota yang melakukan ruralisasi. Ruralisasi pada umumnya banyak dilakukan oleh mereka yang dulu pernah melakukan urbanisasi, namun banyak juga pelaku ruralisasi yang merupakan orang kota asli (Todaro, 2000).

Ruralisasi dilakukan ketika kepadatan masyarakat di perkotaan sudah sangat tinggi dan keseimbangan populasi sudah terganggu. Sebagian masyarakat kota tersebut akhirnya pindah ke daerah pedesaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan berkualitas. Selain karena di daerah pedesaan masih tersedia ruang yang cukup banyak untuk tempat tinggal, daerah pedesaan juga dianggap lebih sehat ketimbang di perkotaan.

Mengacu pada pengertian ruralisasi di atas, berikut ini adalah beberapa faktor pendorongnya (Pratiwi, 2012) :

1. Masyarakat kota yang jenuh dengan situasi dan kondisi di perkotaan, 2. Semakin mahalnya lahan di perkotaan sehingga banyak masyarakat kota

yang tidak dapat memiliki lahan di kota.

3. Adanya keinginan masyarakat kota untuk kembali ke desa asalnya dan memajukan desanya tersebut.

4. Sebagian masyarakat kota pindah ke pedesaan karena merasa tidak sanggup lagi mengikuti dinamika kehidupan di perkotaan.

Selain faktor pendorong, ada juga faktor yang membuat masyarakat kota tertarik untuk pindah ke pedesaan, diantaranya adalah (Pratiwi, 2012) :

1. Harga lahan di daerah pedesaan relatif masih murah dan terjangkau. 2. Biaya hidup dan pola kehidupan masyarakat di desa lebih sederhana. 3. Suasana dan kondisi di pedesaan jauh lebih tenang ketimbang di

perkotaan. Sangat cocok untuk mereka yang ingin menghabiskan masa tua dan pensiun dengan tenang.

(21)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 21

4. Adanya kenangan masa kecil di pedesaan dan perasaan terhubung dengan desa asalnya.

5. Masyarakat di desa lebih bersahabat, kekeluargaan, dan sopan sehingga merasa lebih nyaman tinggal di desa.

Berikut ini adalah beberapa keuntungan ruralisasi:

1.

Masyarakat dapat menciptakan usaha sendiri, misalnya berjualan.

Hal ini cenderung sulit dilakukan di perkotaan karena persaingan

yang sangat ketat.

2.

Udara pedesaan yang jauh lebih sehat ketimbang di perkotaan

membantu tubuh tetap bugar.

3.

Masyarakat yang melakukan ruralisasi pada umumnya dapat

mempengaruhi kehidupan masyarakat di desa, sehingga masyarakat

desa mengalami modernisasi.

4.

Penduduk kota yang melakukan ruralisasi dapat membeli lahan di

pedesaan dengan harga yang lebih terjangkau.

3.5 Pengembangan Wilayah

3.5.1 Definisi Wilayah

Rustiadi, dkk (2009) mendefinisikan wilayah sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu dimana komponen-komponen didalamnya memiliki keterkaitan dan hubungan fungsional satu dengan lainnya.. Batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis. Komponen-komponen wilayah mencakup Komponen-komponen biofisik alam, sumberdaya buatan, manusia serta bentuk-bentuk kelembagaan. Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusia dengan sumberdaya-sumberdaya lainnya dalam suatu batasan unit geografis tertentu.

Hagget, Cliff dan Frey, (1977) dalam Rustiadi dkk., (2009) mengklasifikasikan konsep wilayah ke dalam tiga kategori, yaitu: (1) wilayah homogen (uniform/homogenous region); (2) wilayah nodal (nodal region); dan (3)

(22)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 22

wilayah perencanaan (planning region atau programming region). Dalam pendekatan klasifkasi konsep wilayah ini, wilayah nodal dipandang sebagai salah satu bentuk dari konsep wilayah sistem. Sedangkan dalam kelompok konsep wilayah perencanaan, terdapat konsep wilayah adminsitratif-politis dan wilayah perencanaan fungsional.

Pada pewilayahan yang menggunaakan konsep wilayah homogeny mendefinisikan wilayah homogen berdasarkan basis kesamaan internal, yaitu wilayah yang memiliki karakteristik serupa atau seragam. Keseragaman ciri tersebut dapat ditinjau dari berbagai aspek seperti sumberdaya alam (iklim dan sumber mineral), sosial (agama, suku, dan budaya), dan ekonomi (mata pencharian).

Wilayah heterogen (nodal region), yaitu wilayah yang saling berhubungan secara fungsional disebabkan faktor heterogenitas (perbedaan komponen). Tiap komponen mempunyai peran tersendiri terhadap pembangunan daerah. Hal ini tercermin dalam perilaku para pelaku ekonomi yang saling tergantung terhadap yang lain. Menurut Blair (1991) wilayah nodal adalah satu tipe penting dari wilayah fungsional. Wilayah nodal terutama didasarkan atas suatu sistem hirarkis dari hubungan perdagangan. Hubungan tersebut berlangsung antara sub-wilayah pusat (core) dan wilayah pinggiran (periphery atau hinterland).

Wilayah perencanaan (planning region), yaitu wilayah yang berada dalam kesatuan kebijakan atau administrasi. Wilayah ini selalu dikaitkan dengan pemerintah dalam rangka pengelolaan organisasi kepemerintahan dan umum digunakan untuk menyatakan kesatuan administratif seperti desa, kecamatan, kabupaten/kota, dan propinsi. Blair (1991) mengemukakan bahwa wilayah perencanaan atau wilayah administratif ini dibentuk untuk tujuan manajerial atau organisasional.

(23)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 23

Secara teoritik, seluruh nomenklatur yang antara untuk istilah wilayah, kawasan dan daerah, semuanya secara umum diistilahkan dengan wilayah (region). Istilah kawasan di Indonesia digunakan karena adanya penekanan fungsional suatu unit wilayah, dengan demikian, kawasan pada dasarnya adalah istilah khusus untuk istilah wilayah berdasarkan konsep wilayah fungsional/system. Karena itu, definisi kawasan adalah adanya karakteristik hubungan dari fungsi-fungsi dan komponen-komponen di dalam suatu unit wilayah, sehingga batas dan sistemnya ditentukan berda-sarkan aspek fungsional (Rustiadi,dkk. 2009). Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal, Bappenas (2004) mendefinisikan kawasan sebagai wilayah yang berbasis pada keberagaman fisik

Wilayah Fungsional Sistem/ Homogen Perencanaan / Pengelolaan Sistem Sederhana Desa – Kota Budidaya – Lindung Sistem Kompleks

Sistem Ekonomi : Kawasan Produksi, Kawasan Industri Sistem Ekologi : DAS, hutan,

pesisir

Sistem Sosial-Politik : Kawasan Adata, Wilayah Etnik

Wilayah Perencanaan Khusus : Jabodetabekjur, KAPET Wilayah Administrasi Politik : Provinsi,

Kabupaten, kota

Konsep Alamiah Nodal (Pusat-Hinterland)

Konsep Non Alamiah

(24)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 24

dan ekonomi tetapi memiliki hubungan erat dan saling mendukung satu sama lain secara fungsional demi mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

3.5.2 Pengembangan Wilayah

Secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai “upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik”. Istilah pembangunan seringkali digunakan dalam hal yang sama dengan pengembangan, sehingga dapat saling dipertukarkan. Namun berbagai kalangan di Indonesia cenderung menggunakan secara khusus istilah pengembangan untuk beberapa hal yang spesifik. Meski demikian, sebenarnya secara umum kedua istilah tersebut diartikan secara tidak berbeda untuk proses-proses yang selama ini secara universal dimaksudkan sebagai pembangunan atau

development (Rustiadi dkk, 2009).

Dalam istilah di dalam bahasa Indonesia, kata “pengembangan” memiliki berbagai penekanan atau konotasi tertentu. Pertama, istilah pengembangan lebih menekankan “proses meningkatkan dan memperluas”. Dalam pengertian bahwa pengembangan adalah melakukan sesuatu yang tidak dari “nol”, atau tidak membuat sesuatu yang sebelumnya tidak ada, melainkan melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah ada tapi kualitas dan kuantitasnya ditingkatkan atau diperluas (Rustiadi, 2009). Kedua, istilah pengembangan menekankan adanya pendekatan yang khusus dan bahkan cenderung bersikap melawan mainstream. Akibat perlunya pendekatan yang sangat khusus dan berdeda, para akademisi maupun praktisi pembangunan yang menekankan pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat lebih memilih istilah “pengembangan masyarakat” dibanding pembangunan masyarakat.

Demikian juga para akademisi dan praktisi di bidang kewilayahan, dengan alasan yang mirip lebih memilih istilah “pengembangan wilayah” dibandingkan istilah pembangunan wilayah. Hal ini terutama karena di dalam pengembangan

(25)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 25

wilayah memberikan berbagai penekanan tujuan yang berbeda dibandingkan tujuan pembangunan sekala makro (nasional).

Menurut Murty (2000), pembangunan regional yang berimbang merupakan sebuah pertumbuhan yang merata dari wilayah yang berbeda untuk meningkatkan pengembangan kapabilitas dan kebutuhan mereka. Hal ini tidak selalu berarti bahwa semua wilayah harus mempunyai perkembangan, tingkat industrialisasi, pola ekonomi, atau mempunyai kebutuhan pembangunan yang sama. Akan tetapi yang lebih penting adalah adanya pertumbuhan yang seoptimal mungkin dari potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah sesuai dengan kapasitasnya. Dengan demikian, diharapkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan merupakan hasil dari sumbangan interaksi yang saling memperkuat di antara semua wilayah yang terlibat.

Riyadi dan Bratakusumah, (2006) membedakan antara pembangunan dengan pengembangan dengan mengemukakan bahwa pembangunan adalah semua proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana, sedangkan perkembangan adalah proses perubahan yang terjadi secara alami sebagai dampak dari adanya pembangunan. Pembangunan dan pengembangan itu dapat berupa fisik dan non-fisik.

Riyadi (2002) secara terperinci mengemukakan bahwa pengembangan wilayah (regional development) merupakan upaya untuk memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan antar wilayah, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup pada suatu wilayah. Pengembangan wilayah sangat diperlukan karena kondisi sosial ekonomi, budaya, dan geografis yang sangat berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya.

Konsep pengembangan wilayah adalah suatu upaya dalam mewujudkan keterpaduan penggunaan sumber daya dengan penyeimbangan dan penyerasian pembangunan antar daerah, antar sektor serta antar pelaku pembangunan dalam mewujudkan tujuan pembangunan daerah (Anwar, 2005). Zen (1999) menyebutkan bahwa pengembangan wilayah merupakan upaya mengawinkan secara harmonis sumberdaya alam, manusia dan teknologi, dengan memperhitungkan daya tampung lingkungan itu sendiri.

(26)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 26

Tujuan pengembangan wilayah mengandung dua sisi yang saling berkaitan. Dari sisi sosial ekonomi, pengembangan wilayah adalah upaya memberikan kesejahteraan kualitas hidup masyarakat. Di sisi lain secara ekologis, pengembangan wilayah juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan lingkungan sebagai akibat dari campur tangan manusia terhadap lingkungan (Triutomo, 1999).

Perencanaan pengembangan wilayah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pendekatan sektoral dan pendekatan regional (wilayah). Pada pendekatan sektoral dengan memfokuskan perhatian pada sektor-sektor kegiatan yang ada di wilayah tersebut, sedangkan pada pendekatan regional melihat pemanfaatan ruang serta interaksi berbagai kegiatan dalam ruang wilayah (Tarigan, 2008).

Menurut Hoover dan Giarratani (1985) dalam Nugroho dan Dahuri (2004), terdapat tiga pilar penting perencanaan pembangunan wilayah yang berkaitan dengan aspek wilayah dan implementasi dalam kebijakan ekonomi.

1. Keunggulan Komperatif

Pilar ini berhubungan dengan keaadan sumberdaya yang spesifik dan khas, yang secara fisik relatif sulit atau memiliki hambatan untuk digerakkan antar wilayah, sehingga wilayah tersebut memiliki keunggulan komparatif. Karakter tersebut umumnya berhubungan dengan produksi komoditas dari sumber daya alam, antara lain pertanian, perikanan, pertambangan, kehutanan dan kelompok usaha sektor primer lain. Menurut Rustiadi dan Hadi (2004), dengan adanya pemahaman tentang comparative advantage, maka pengembangan suatu wilayah harus diprioritaskan pada pengembangan faktor-faktor dominan yang secara kuat dapat mendorong pertumbuhan wilayah tersebut.

2. Aglomerasi

Aglomerasi sebagai akibat pemusatan ekonomi secara spasial. hal ini terjadi karena berkurangnya biaya-biaya produksi akibat penurunan jarak dalam bahan baku dan distribusi produk.

3. Biaya transport

Pilar ini terkait dengan jarak dan lokasi. Ketiga pilar tersebut selanjutnya akan berimplikasi pada pengambilan keputusan terhadap lokasi kegiatan.

(27)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 27

Pendekatan yang mengacu pada aspek sektoral dan spasial tersebut mendorong lahirnya berbagai konsep pengembangan wilayah. Berbagai konsep pengembangan wilayah yang pernah diterapkan adalah:

1. Konsep pengembangan wilayah berbasis karakter sumberdaya, yaitu: (1) pengembangan wilayah berbasis sumberdaya; (2) pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan; (3) pengembangan wilayah berbasis efisiensi; (4) pengembangan wilayah berbasis pelaku pembangunan.

2. Konsep pengembangan wilayah berbasis penataan ruang, yang membagi wilayah ke dalam: (1) pusat pertumbuhan; (2) integrasi fungsional; (3) desentralisasi. Konsep pusat pertumbuhan menekankan pada perlunya melakukan investasi secara besar-besaran pada suatu pusat pertumbuhan atau wilayah/kota yang telah mempunyai infrastruktur yang baik. Pengembangan wilayah di sekitar pusat pertumbuhan diharapkan melalui proses tetesan ke bawah (trickle down effect). Konsep integrasi fungsional mengutamakan adanya integrasi yang diciptakan secara sengaja diantara berbagai pusat pertumbuhan karena adanya fungsi yang komplementer. Konsep ini menempatkan suatu kota atau wilayah mempunyai hirarki sebagai pusat pelayanan relatif terhadap kota atau wilayah yang lain. Sedangkan konsep desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah tidak terjadinya aliran keluar dari sumberdana dan sumberdaya manusia.

3. Konsep pengembangan wilayah terpadu. Konsep ini menekankan kerjasama antarsektor untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan di daerah-daerah tertinggal.

4. Konsep pengembangan wilayah berdasarkan cluster. Konsep ini terfokus pada keterkaitan dan ketergantungan antara pelaku dalam jaringan kerja produksi sampai jasa pelayanan, dan upaya-upaya inovasi pengembangannya. Cluster yang berhasil adalah cluster yang terspesialisasi, memiliki daya saing dan keunggulan komparatif, dan berorientasi eksternal.

Dalam konteks pengembangan wilayah tersebut, Bappenas (2006) mengemukakan prinsip-prinsip dalam ruang lingkup sebagai berikut:

(28)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 28

1. Pengembangan wilayah harus berbasis pada sektor unggulan. Prioritas pada sektor unggulan akan mengarahkan sumber-sumber daya pada sektor yang diunggulkan melalui pemetaan antara sektor unggulan dengan sektor-sektor yang menjadi pendukungnya.

2. Pengembangan wilayah dilakukan atas dasar karakteristik daerah yang bersangkutan, baik aspek ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Suatu program hanya dapat tepat dilakukan pada suatu daerah tertentu dan tidak pada daerah dengan karakteristik berbeda lainnya. Dalam hal ini pengenalan terhadap karakter daerah mutlak dilakukan, sehingga perencanaan dan implementasi program sesuai dengan kelompok sasaran daerah yang bersangkutan.

3. Pengembangan wilayah harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Pengembangan wilayah tidak dapat didasarkan pada satu sektor saja, atau pengembangan masing-masing sektor tidak dapat dilakukan secara terpisah. 4. Pengembangan wilayah mutlak harus mempunyai keterkaitan ke depan dan ke

belakang (forward and backward linkage) secara kuat. Atau pengembangan kawasan produktif di hinterland harus dikaitkan dengan pengembangan kawasan industri pengolahan di perkotaan, untuk memberikan nilai tambah yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan perekonomian suatu wilayah.

5. Pengembangan wilayah dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip otonomi dan desentralisasi. Dengan demikian, pemerintah daerah mempunyai wewenang penuh dalam mengembangkan kelembagaan pengelolaan pengembangan ekonomi di daerah, mengembangkan sumber daya manusianya, menciptakan iklim usaha yang dapat menarik

Dengan demikian, pengembangan suatu wilayah atau kawasan harus didekati berdasarkan pengamatan terhadap kondisi internal dan sekaligus mengantisipasi perkembangan eksternal. Faktor-faktor kunci yang menjadi syarat perkembangan kawasan dari sisi internal adalah pada pola-pola pengembangan : (1) sumber daya manusia, (2) informasi, (3) sumbersumber daya modal dan investasi, (4) kebijakan dalam investasi, (5) pengembangan infrastruktur, (6) pengembangan kemampuan kelembagaan lokal dan kepemerintahan, serta (7)

(29)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 29

berbagai kerjasama dan kemitraan yang harus digalang untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Di lain pihak, faktor-faktor kunci yang menjadi syarat perkembangan kawasan dari sisi eksternal adalah perhatian pada : (1) masalah kesenjangan wilayah dan pengembangan kapasitas otonomi daerah; (2) perdagangan bebas terutama masalah pengembangan produk dalam pasar bebas untuk meningkatkan daya saing seperti peningkatan kualitas unsurunsur sumber daya manusia, (3) pengembangan riset dan teknologi termasuk teknologi informasi, (4) pengembangan sumber-sumber daya modal untuk membiayai investasi berbagai inovasi pengembangan produk; serta (5) otonomi daerah dengan fokus berbagai kebijakan yang mendukung iklim usaha investasi, kerjasama dan kemitraan dalam pengembangan produk antar berbagai pelaku, daerah, secara vertikal dan horisontal, serta pengembangan kemampuan kelembagaan pengelolaan ekonomi di daerah secara profesional.

3.5.3 Pembangunan Kawasan

Pembangunan Kawasan tidak lain adalah usaha untuk mengembangkan dan meningkatkan kesalingtergantungan dan interaksi antara sistem ekonomi (economic system), manusia atau masyarakat (social system), dan lingkungan hidup beserta sumber daya alam (ecosystem) yang ada didalamnya.

Di Indonesia, aspek fungsional dan administratif dari wilayah dijelaskan dalam UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang mendefinisikan wilayah sebagai ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. (Pasal 1 Ayat 17). Selanjutnya dalam UU tersebut juga dinyatakan kawasan sebagai wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya (Pasal 1 Ayat 20).

Dalam pengembangan wilayah, salah satu unsur fundamentalnya adalah keberadaan pusat kegiatan dan atau pusat pertumbuhan. Dalam konteks ini, konsep titik pertumbuhan (growth point concept) merupakan mata rantai antara

(30)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 30

struktur daerah-daerah nodal yang berkembang dengan sendirinya dan perencanaan fisik dan regional.

Teori kutub pertumbuhan berasal dari pengalaman negara-negara Barat dalam pengembangan wilayahnya. Konsep kutub pertumbuhan ini diperkenalkan pertama kali oleh Fancois Perroux pada tahun 1949 (Mercado, 2002) yang mendefinisikan pusat pertumbuhan sebagai “pusat dari pancaran gaya sentrifugal dan tarikan gaya sentripetal”. Menurut Haruo (2000), selanjutnya dalam rangka mendorong pertumbuhan di negara-negara berkembang, berdasarkan teori ini maka disarankan strategi pengembangan wilayah dalam bentuk pengkonsentrasian investasi pada sejumlah kutub pertumbuhan yang terbatas.

(31)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 31

Terkait dengan kutub pertumbuhan ini, Friedman dan Alonso (1964) dalam Stimson, dkk 2002) melahirkan konsep yang dikenal dengan sebutan interaksi antara inti dan tepi (core and 31ngags3131a interaction). Pembangunan berawal dari sejumlah relatif sedikit pusat-pusat perubahan (centre of change) yang terletak di titik-titik interaksi berpotensi tinggi dalam batas atau bidang jangkauan komunikasi. Daerah-daerah inti (core regions) tersebut merupakan pusat-pusat utama dari pembaharuan. Sementara wilayah-wilayah territorial lainnya merupakan daerah-daerah tepi/pinggiran yang berada jauh dari pusat perubahan, yang tergantung kepada daerah-daerah inti.

Pengkonsentrasian investasi pada sejumlah kutub pertumbuhan yang terbatas, pada dasarnya mengacu pada konsep aglomerasi yang berkaitan dengan konsentrasi spasial dari penduduk dan kegiatan-kegiatan ekonomi (Malmberg dan Maskell, 2001). Ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Montgomery (1988) bahwa aglomerasi adalah konsentrasi spasial dari aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan karena penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan kluster spasial dari perusahaan, para pekerja dan konsumen.

Keuntungan-keuntungan konsentrasi spasial sebagai akibat dari ekonomi skala disebut dengan ekonomi aglomerasi (Mills dan Hamilton, 1989). Ekonomi aglomerasi juga berkaitan dengan eksternalitas kedekatan geografis dari kegiatan-kegiatan ekonomi, bahwa ekonomi aglomerasi merupakan suatu bentuk dari eksternalitas positif dalam produksi yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan kota (Bradley and Gans, 1996). Ekonomi aglomerasi diartikan sebagai penurunan biaya produksi karena kegiatan-kegiatan ekonomi berlokasi pada tempat yang sama. Keuntungan-keuntungan aglomerasi telah menyebabkan konsentrasi produksi lebih efisien dari pada terpencar-pencar, sedangkan keseimbangan antara keuntungan-keuntungan skala dalam penyediaan pelayanan-pelayanan sentral dan keinginan akan kemudahan hubungan telah mengakibatkan konsentrasi penduduk yang tersusun dalam suatu hirarki difokuskannya pusat-pusat sub-regional bagi pertumbuhan telah membantu menjembatani celah antara teori lokasi dan teori ekonomi regional.

(32)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 32

Komponen dasar dari sistem tempat sentral adalah hirarki, penduduk ambang dan lingkup pasar. Penduduk ambang adalah jumlah minimum penduduk yang harus ada untuk dapat menopang kegiatan jasa. Lingkup pasar dari suatu kegiatan jasa adalah kesediaan orang untuk menempuh jarak tertentu untuk mencapai tempat penjualan jasa tersebut. Tingkat tempat sentral tergantung pada jasa yang tersedia di lokasi tersebut sehingga membentuk tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

Dengan demikian konsep titik pertumbuhan itu merupakan mata rantai penghubung antara struktur wilayah-wilayah nodal yang berkembang dengan sendirinya dengan perencanaan fisik dan wilayah. Akan tetapi, kutub pertumbuhan tidak hanya merupakan lokalisasi dari industri-industri inti. Kutub pertumbuhan harus juga mendorong ekspansi yang besar di daerah sekitar, dan karenanya efek polarisasi strategi adalah lebih menentukan dari pada perkaitan-perkaitan antar industri.

Pendapatan di daerah pertumbuhan secara keseluruhan akan mencapai maksimum apabila pembangunan dikonsentrasikan pada titik-titik pertumbuhan dibandingkan jika terpencar di seluruh daerah. Dengan demikian, interaksi antara masing-masing titik pertumbuhan dan. Daerah pengaruhnya adalah unsur yang panting dalam teori ini.

Ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah maupun antar wilayah, disamping menyebabkan kapasitas pembangunan regional yang sub-optimal, pada gilirannya juga menihilkan potensi-potensi pertumbuhan pembangunan agregat (makro) dari adanya interaksi pembangunan inter-regional yang sinergis (saling memperkuat). Ketidakseimbangan pembangunan inter-regional, disamping menyebabkan kapasitas pembangunan regional yang sub-optimal, pada gilirannya juga menihilkan potensi-potensi pertumbuhan pembangunan agregat (makro) dari adanya interaksi pembangunan inter-regional yang sinergis (saling memperkuat).

Untuk memperkuat keterkaitan internal,

investasi sarana-prasarana fisik merupakan faktor penting yang dapat

menjamin akses masyarakat lokal berinterksi dan mengakses

sumberdaya-sumberdaya ekonomi baru yang dikembangkan. Namun tanpa disertai

(33)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 33

investasi yang yang memadai di bidang social capital yang menumbuhkan

rasa saling percaya (trust), norma dan networking baru yang efektif

menjembatani masyarakat pendatang dan masyarakat asli maka hubungan

dan interaksi yang positif, transfer knowledge, dan keberimbangan internal

tidak akan terwujud.

3.5.4

Supply and Demand Side Strategy

Pengembangan wilayah dapat dianggap sebagai suatu bentuk intervensi positif terhadap pembangunan di suatu wilayah. Di samping strategi-strategi untuk wilayah yang tengah berkembang, strategi pengembangan wilayah-wilayah baru seperti di luar Pulau Jawa menjadi sangat penting.

Secara teoritis strategi pengembangan wilayah baru dapat digolongkan dalam dua kategori strategi, yaitu demand side strategi dan supply side strategy (Rustiadi dkk (2009). Strategi demand side adalah suatu strategi pengembangan wilayah yang diupayakan melalui peningkatan barang-barang dan jasa-jasa dari masyarakat setempat melalui kegiatan produksi lokal. Tujuan pengembangan wilayah secara umum adalah meningkatkan taraf hidup penduduk.

Di dalam pendekatan demand side strategy, tujuan pengembangan wilayah dilakukan dengan berbagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup penduduk di suatu wilayah. Peningkatan taraf hidup penduduk diharapkan akan meningkatkan permintaan terhadap barang-barang non-pertanian. Adanya peningkatan permintaan tersebut akan meningkatkan perkembangan sektor industri dan jasa-jasa yang akan lebih mendorong perkembangan wilayah tersebut.

Selanjutnya, pengertian dari strategi supply side adalah suatu strategi pengembangan wilayah yang terutama diupayakan melalui investasi model untuk kegiatan-kegiatan produksi yang beriorientasikan keluar. Tujuan penggunaan strategi ini adalah untuk meningkatkan pasokan dari komoditi yang pada umumnya diproses dari sumberdaya alam lokal. Kegiatan produksi terutama ditujukan untuk ekspor yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan lokal. Selanjutnya hal ini akan menarik kegiatan lain untuk datang ke wilayah tersebut. Contoh dari strategi

(34)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 34

ini adalah strategi pengembangan eksplorasi sumber daya alam melalui penambangan, loging (HPH) dan lain-lain.

Keuntungan penggunaan strategi supply-side adalah prosesnya cepat sehingga efek yang ditimbulkannya cepat terlihat. Beberapa permasalahan yang sering muncul dari digunakannya strategi ini adalah: (1) timbulnya enclave karena keterbatasan kapasitas (pengetahuan, keahlian dan kompetensi) penduduk lokal, sehingga seringkali hanya masyarakat tertentu dengan jumlah yang terbatas atau pendatang dari luar kawasan saja yang menikmatinya, dan (2) sangat peka terhadap perubahan-perubahan ekonomi di luar wilayah (faktor eksternal).

3.5.5 Agropolitan

Agropolitan terdiri dari kata “agro” = pertanian dan “politan” = kota, sehingga agropolitan dapat diartikan sebagai kota pertanian atau kota di daerah lahan pertanian (Departemen pertanian, 2002 dalam Pranoto, 2005). Agropolitan merupakan salah satu pendekatan pembangunan yang relevan dengan wilayah perdesaan karena pada umumnya sektor pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam memang merupakan mata pancaharian utama bagi sebagian besar masyarakat perdesaan.

Pendekatan pembangunan perdesaan melalui konsep agropolitan dikembangkan oleh Friedman dan Douglas (1975). Keduanya bahkan menekankan pentingnya pendekatan agropolitan dalam pengembangkan perdesaan di kawasan Asia dan Afrika. Pendekatan agropolitan menggambarkan bahwa pembangunan perdesaan secara beriringan dapat dilakukan dengan pembangunan wilayah perkotaan pada tingkat lokal. Dalam konteks pengembangan agropolitan terdapat tiga issu utama yang perlu mendapat perhatian, yaitu: (1) akses terhadap lahan pertanian dan penyediaan pengairan, (2). Desentralisasi politik dan wewenang administrasi dari tingkat pusat dan tingkat lokal, dan (3) perubahan paradigma atau kebijakan pembangunan nasional untuk lebih mendukung diversifikasi produk pertanian. Melihat kota-kota sebagai site utama untuk fungsi-fungsi politik dan administrasi, pendekatan pengembangan agropolitan di banyak negara lebih cocok dilakukan pada skala kabupaten (Douglass, 1998).

(35)

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN TRANSMIGRASI LOKAL

2018 III- 35

Selanjutnya Mercado (2002) mengemukakan bahwa gambaran agropolitan adalah sebagai berikut: (1) skala geografi relatif kecil; (2) proses perencanaan dan pengambilan keputusan berdasarkan partisipasi dan aksi koperatif pada tingkat lokal; (3) diversifikasi tenaga lokal termasuk pertanian dan kegiatan non-pertanian; (4) pemanfaatan teknologi dan sumberdaya lokal; (5) berfungsi sebagai urban-rural industrial.

Dengan skala luasan kabupaten akan memungkinkan hal-hal sebagai berikut : (1) akses lebih mudah bagi masyarakat untuk menjangkau kota, (2) cukup luas untuk mening-katkan dan mengembangkan wilayah pertumbuhan ekonomi dan cukup luas dalam upaya mengembangkan diversifikasi produk dalam rangka mengatasi keterbatasan pemanfaatan desa sebagai unit ekonomi, dan (3) pengetahuan lokal akan mudah dimanfaatkan dalam proses perencanaan jika proses itu dekat dengan rumah tangga dan produsen perdesaan.

Menurut Rustiadi (2004) pembangunan agropolitan memerlukan terjadinya re-organisasi pembangunan ekonomi wilayah perdesaan. Hal ini dapat dilakukan melalui strategi peningkatan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan. Strategi tersebut memerlukan beberapa dukungan kebijakan pemerintah agar mampu meningkatkan kinerja ekonomi perdesaan seperti redistribusi aset, terutama yang menyangkut lahan dan irigasi.

3.5.6 Peran Transmigrasi dalam Pengembangan Wilayah

Transmigrasi secara nyata telah menunjukkan peran yang penting dalam pengembangan wilayah, khususnya daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Dalam pelaksanaannya selama ini, program transmigrasi telah berhasil mengembangkan sekitar 3.000-an Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) dengan berbagai infrastrukturnya, 945 diantaranya telah berkembang menjadi desa baru. Desa-desa baru tersebut sekarang dihuni oleh kurang lebih 12 juta jiwa dan telah tumbuh mendorong terbentuknya kecamatan dan kabupaten baru. Data eks UPT yang telah mendorong perkembangan daerah menjadi pusat pemerintahan sebanyak 240 kecamatan dan 88 kabupaten. (Pusdatintrans dan P4Trans, 2009). Beberapa diantara kawasan transmigrasi seperti Kurotidur di Bengkulu

Gambar

Tabel 3.1 Bentuk-Bentuk Migrasi Penduduk
Gambar 3.1 Faktor Penyebab Terjadinya Migrasi   (Lee, dalam Mantra, 2000:181)
Gambar 3.2 Model Teori Kutub Pertumbuhan

Referensi

Dokumen terkait

Asumsi Teori : Dalam hal ini terdapat sejumlah asumsi dasar yang menjadi inti gagasan teori penggunaan dan kepuasaan sebagaiman dikemukakan Katz, Blumler dan Gurevitch

Teori baru ”The Foetal Origins of Disease” yang dikemukakan oleh professor David Barker dan kawan-kawan berdasarkan kajian studi di Inggris tahun 1980 merumuskan bahwa bayi

Dari pendapat terebut di atas, dapat disimpulkan bahwa teori konvergensi adalah suatu teori yang berkeyakinan baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan andilnya sama

Penelitian yang dilakukan Elisa ini menjadi sebuah referensi bagi penulisan skripsi yang sedang dilakukan oleh penulis karena terdapat persamaan yaitu sama sama-sama

faktor pemilihan tempat jumlah mahasiswa yang tergolong banyak menjadi faktor penarik bagi pedagang kaki lima. Kehadiran pedagang kaki lima memberikan nilai positif dan

Dengan demikian, yang membuat individu mempertahankan pernikahannya bukan hanya faktor penarik dan faktor perintang seperti yang dikemukakan teori komitmen pernikahan

Dalam penelitian ini terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan selama berada pada suatu organisasi atau intansi sebagai tempat mereka bekerja,

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya yang menggambarkan