RINGKASAN EKSEKUTIF
Risiko perekonomian global makin meningkat di tengah pandemik COVID-19. Dampak yang timbul pada perekonomian global diperkirakan masif. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya 2,4 persen jika puncak wabah berlangsung hingga triwulan I 2020, dan melambat tajam ke 1,5 persen jika wabah menyebar lebih lama dan semakin intensif di kawasan Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika Utara.
Dampak COVID-19 juga menciptakan volatilitas yang tinggi di sektor keuangan global yang terlihat dari meningkatnya VIX Index (level tertinggi sejak GFC), dan meningkatnya permintaan safe haven assets seperti emas, surat berharga AS, dan Dolar AS. Harga komoditas minyak mentah juga menurun tajam di tengah kekhawatiran penurunan permintaan dunia ditambah dengan ketidaksepakatan Rusia dan Arab Saudi dalam menurunkan produksi minyak mentah. Pada Februari 2020, kinerja bursa saham Indonesia menurun hampir 500 poin dibanding akhir Januari 2020. Yield
pasar Surat Berharga Negara menunjukkan peningkatan, sedangkan nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi, berbalik arah dibanding Januari 2020. Credit Default Swap meningkat menunjukkan persepsi investor atas risiko di dalam negeri. Terjadi pula arus modal keluar yang mencapai Rp33,7 triliun (pasar SBN Rp28,9 T dan pasar saham Rp4,7 T). Likuiditas moneter dan perbankan di 2019 sedikit membaik dibandingkan awal 2019. Penurunan suku bunga acuan 100 bps di sepanjang 2019 mendorong penurunan suku bunga Pasar Uang Antar Bank dan JIBOR dan meningkatkan likuiditas di pasar keuangan. Bank Indonesia telah mengambil kebijakan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan (7DRR) di bulan Februari 2020 ke tingkat 4.75%. Di sisi lain, pertumbuhan kredit konsumsi terus mencatat perlambatan yang mengisyaratkan tingkat konsumsi masyarakat yang masih lemah. Pertumbuhan kredit perbankan tahun 2019 mencapai 6,1%, terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga terus mencatat
pertumbuhan yang sangat rendah, yaitu sebesar 6,5%. Loan to Deposit Ratio cukup tinggi sebesar 94,4%, namun tingkat kesehatan perbankan di tahun 2019 secara umum masih cukup terjaga, dengan CAR 23,4% dan tingkat NPL 2,53% atau masih dalam kategori aman.
Inflasi Februari 2020 tercatat 0,28% (mtm) atau 0,66 (ytd) atau 2,98% (yoy). Secara tahunan, laju inflasi Februari 2020 lebih tinggi dibandingkan Januari 2020, disumbang oleh kenaikan harga beberapa komoditas pangan, emas perhiasan, rokok, dan perlambatan komponen inflasi inti. Sementara itu, sektor riil mengalami perlambatan yang ditunjukkan oleh penurunan indikator konsumsi yaitu Indeks Penjualan Riil yang diperkirakan kembali menurun pada Februari 2020. Penurunan optimisme konsumen juga terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen bulan Februari 2020 hanya sebesar 117,7 yang disebabkan turunnya keyakinan atas kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan. Sementara itu aktivitas investasi mengalami gangguan, karena negara-negara investor utama untuk Indonesia mengalami masalah pandemi COVID-19. Investasi langsung melalui penanaman modal diperkirakan sangat rendah, hanya berkisar 5% dari target 2020. Neraca perdagangan Februari 2020 tercatat surplus sebesar USD2,34 miliar, yg disebabkan penurunan impor yang signifikan dan kenaikan ekspor yang moderat. Pada Februari 2020, impor mencapai USD11,6 miliar sedangkan ekspor mencapai USD13,94 miliar. Sementara peningkatan ekspor didorong oleh ekspor nonmigas yang naik sebesar 2,38% (mtm).
39 41 43 45 47 49 51 53 M ar M ei Jul Se p Nov Jan Mar Mei Ju l Se p Nov Jan Mar Mei Ju l Se p Nov Jan 2017 2018 2019 2020
PMI Tiongkok
PEREKONOMIAN GLOBALRisiko pada perekonomian global meningkat di tengah mewabahnya virus Corona (COVID-19) yang menyebar luas di berbagai negara. Pada tanggal 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai sebuah pandemik. Sementara per tanggal 25 Maret 2020 10.37 GMT, total kasus COVID-19 sudah mencapai lebih dari 434 ribu, dengan 303 ribu kasus aktif, lebih dari 19 ribu orang pasien meninggal, dan 111 ribu orang dinyatakan pulih. Penyebaran wabah COVID-19 tersebut terjadi di lebih 160 negara, 33 persen kasus terjadi di Tiongkok (sebagai tempat asal penyebaran virus) dan 67 persen di luar Tiongkok. Saat ini, penyebaran COVID-19 di Tiongkok sudah mereda, sementara di luar Tiongkok khususnya Eropa sedang terjadi peningkatan kasus
Maret 2020
, 0 20 40 60 80 100 0 50 100 150 200 Ja n -18 Ma r-18 Ma y-18 Ju l-18 Sep -18 N o v-18 Ja n -19 Ma r-19 Ma y-19 Ju l-19 Sep -19 N o v-19 Ja n -20 Ma r-20
Volatility Index
MOVE Index
VIX Index (RHS)
yang signifikan. Italia, Iran, Spanyol, Jerman, dan Amerika Serikat (AS) merupakan lima negara dengan jumlah kasus tertinggi di luar Tiongkok.
Dampak yang ditimbulkan oleh COVID-19 pada perekonomian global diperkirakan sangat masif. Di tengah upaya penanggulangan penyebaran wabah, berbagai aktivitas publik dan ekonomi telah menurun secara drastis. Tiongkok sempat memberlakukan lockdown di beberapa kota, langkah serupa yang diambil oleh negara seperti Italia, Perancis, Spanyol, dan lain-lain. Arus lalu lintas manusia dan ekspor impor secara internasional menjadi terhambat, dan berdampak pada sektor transportasi, pariwisata, perdagangan, dan manufaktur. Purchasing Manager Index (PMI) Tiongkok di bulan Februari 2020 turun tajam ke tingkat terendah sejak krisis keuangan global (global financial crisis/GFC) di 2008-2009. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga dperkirakan akan melambat tajam, dengan skenario terendah bisa hanya 3 persen di tahun 2020. Meluasnya wabah COVID-19 membuat risiko ekonomi global tidak hanya berasal dari Tiongkok. Hal tersebut menyebabkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat signifikan. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya 2,4 persen jika puncak wabah di Tiongkok hanya berlangsung hingga triwulan I 2020. Sedangkan jika wabah menyebar lebih lama dan semakin intensif di kawasan Asia Pacific, Eropa, dan Amerika Utara, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat tajam menjadi 1,5 persen.
Dampak COVID-19 yang luas telah menciptakan volatilitas yang tinggi di sektor keuangan dunia. Hal tersebut bisa terlihat VIX Index yang menyentuh level tertinggi sejak GFC, serta meningkatnya permintaan akan safe haven assets seperti emas, surat berharga AS, dan Dolar AS.
Sumber: Bloomberg
Sementara itu, harga komoditas lain khususnya minyak mentah menurun tajam di tengah kekhawatiran penurunan permintaan tingkat permintaan dunia. Tekanan pada harga minyak juga
semakin tinggi setelah Rusia dan Arab Saudi gagal mencapai kesepakatan dalam menurunkan produksi minyak mentah. Dalam rangka mengatasi penyebaran COVID-19 serta memitigasi dampaknya pada perekonomian, berbagai negara mengambil langkah yang signifikan dengan mendorong kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif. Penurunan suku bunga acuan dilakukan berbagai otoritas moneter di dunia guna memberi stimulasi pada perekonomian. Di bulan Maret 2020, The Fed telah dua kali menurunkan suku bunga FFR hingga berada di tingkat 0,0 – 0,25%. AS bersama dengan beberapa negara lain seperti Inggris dan Zona Euro juga melakukan program pembelian aset atau quantitative easing. Dukungan fiskal juga dilakukan oleh negara-negara lain, terutama diarahkan untuk mendukung program kesehatan dalam rangka penanganan COVID-19, menjaga konsumsi masyarakat, serta mendukung sektor terdampak.
Pemerintah Indonesia juga mengoptimalkan instrumen fiskal untuk memitigasi tekanan yang terjadi. Pemerintah telah meluncurkan dua paket stimulus, APBN juga memberi dukungan penuh pada upaya penanganan COVID-19 termasuk dengan relokasi dan refocusing anggaran pada program mitigasi COVID-19 serta percepatan pelaksanaan anggaran. Di tengah tekanan yang sedang terjadi, APBN 2020 akan terus memberi prioritas pada penanganan COVID-19, menjaga daya beli dan konsumsi masyarakat khususnya lapisan bawah, serta mencegah kebangkrutan usaha termasuk UMKM.
NILAI TUKAR, ARUS MODAL KE PASAR UANG DAN CADANGAN DEVISA
Pada bulan Februari 2020 kinerja bursa saham Indonesia mengalami penurunan yang cukup dalam, sementara itu kinerja pasar Surat Berharga Negara menunjukkan peningkatan yield dan nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi (berbalik arah dibandingkan Januari 2020).
Kinerja bursa saham Indonesia selama bulan Februari 2020 mengalami tekanan yang cukup dalam.
MoM YoY Ytd MoM YoY Ytd MoM YoY Ytd
Nilai Tukar/USD Pasar Modal SBN
Euro 0.91 0.60 3.13 1.68 DJIA 25409.36 -10.07 -1.95 -10.96 Yield 5T 6.16 1.55 -17.96 -4.27 Yen 107.89 -0.42 -3.14 -0.66 S&P500 2954.22 -8.41 6.10 -8.56 Yield 10T 6.95 4.06 -11.06 -1.59 GBP 0.78 3.02 3.46 3.42 FTSE 100 6580.61 -9.68 -6.98 -12.75 Komoditas
Rupiah 14234.00 4.19 1.22 2.40 JCI 5452.704 -8.20 -15.37 -13.44 Brent (USD/barrel) 50.02 -11.20 -23.97 -24.69 Rupee 72.18 1.15 2.02 1.12 DAX 11890.35 -8.41 3.25 -10.25 CPO (USD/Ton) 572.52 -12.50 22.39 -22.59 KRW 1214.50 1.91 8.01 5.04 KOSPI 1987.01 -6.23 -9.49 -9.59 Gold (USD/Ounce) 1585.69 -0.22 20.74 4.51 SGD 1.39 2.08 3.04 3.51 Nikkei 21142.96 -8.89 -1.13 -10.63 Coal (USD/Ton) 47.15 -0.74 -37.34 -12.36 Ringgit 4.22 2.86 3.67 3.03 STI 3011.08 -4.52 -6.28 -6.57 Nickel (USD/Ton) 12255.00 -4.63 -6.09 -12.62
Indikator
Perubahan (%)
Sumber: CEIC, Bloomberg, diolah
Perubahan (%)
Indikator Feb-20
Perubahan (%)
Indikator Feb-20 Feb-20
Per 28 Februari 2020, IHSG mencapai 5.452,7 turun hampir 500 poin atau 8,2% dibanding akhir bulan Januari 2020. Sementara jika dibandingkan dengan kondisi akhir tahun 2019 yang mencapai 6.299,5, IHSG pada akhir Februari telah turun hampir 850 poin atau 13,44% (ytd). Level tersebut merupakan merupakan indeks terendah sejak April 2017. Penurunan IHSG di bulan Februari 2020 sejalan dengan pergerakan bursa-bursa Asia dan Eropa. Hampir seluruh bursa global telah bergerak di zona negatif akibat sentimen negatif akibat kekhawatiran prospek ekonomi global sebagai dampak dari merebaknya virus corona (COVID-19).
Di sisi lain, tingkat imbal hasil (yield) pasar Surat Berharga Negara pada bulan Februari 2020 menunjukkan tren meningkat. Berdasarkan composite Bloomberg per Februari 2020, rata-rata Yield SBN menunjukkan kenaikan. Sementara itu, untuk seri benchmark 5 tahun dan 10 tahun masing-masing berada pada level 6,16% dan 6,95%, meningkat dibandingkan posisi di akhir Januari 2020 yang berada pada 6,067% dan 6,68. Kenaikan Yield SBN tersebut juga diiringi dengan meningkatnya Credit Default Swap (CDS), khususnya terlihat pada CDS Indo 5Y yang juga menunjukkan peningkatan yang cukup tajam.
Tekanan tekanan yang terjadi di pasar keuangan tersebut juga senada dengan pergerakan arus modal di bulan Februari 2020. Arus modal investor pada instrumen pasar keuangan hingga 28 Februari 2020 mencatat Net Foreign Selling atau arus keluar yang cukup besar mencapai Rp33,7 triliun. Net Foreign Selling tersebut didorong aliran modal asing keluar baik dari pasar SBN (mencapai Rp28,9 triliun) maupun dari pasar saham (mencapai Rp4,7 triliun). Perkembangan ini dipicu oleh kekhawatiran prospek ekonomi global kedepan akibat virus Corona yang menjadi pandemi.
Sejalan dengan kondisi tersebut, nilai tukar Rupiah per 28 Februari 2020, ditutup pada tingkat Rp14.234/USD terdepresiasi 2,4% dibandingkan akhir tahun 2019 yang mencapai Rp13.901/USD. Namun demikian di tiga minggu pertama Rupiah masih menunjukkan apresiasi dan berada pada kisaran Rp13.647/USD sampai dengan Rp13.777/USD. Tekanan
depresiasi terhadap Rupiah terjadi pada minggu terakhir bulan Februari, dan merupakan mata uang di kawasan/regional yang terakhir mengalami tekanan. Adapun rata rata YTD nilai tukar Rupiah sampai dengan 28 Februari 2020 mencapai Rp 13.753/USD, masih lebih kuat dibandingkan rata-rata selama tahun 2019 yang mencapai Rp14.146/USD.
Perkembangan depresiasi nilai tukar rupiah dan capital outflow yang terjadi telah menyebabkan penurunan cadangan devisa Indonesia. Posisi cadangan devisa pada bulan Februari 2020 mencapai USD130,4 miliar, menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2020 yang mencapai USD131,7 miliar. Nilai cadangan devisa tersebut masih cukup untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah selama 7,4 bulan. Tingkat tersebut masih berada pada tingkat yang aman dan jauh di atas standar kecukupan internasional (sekitar 3 bulan impor). Penurunan cadangan devisa tersebut juga antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. Sementara berdasarkan komponennya, hampir semua komponen cadangan devisa mengalami penurunan, namun penurunan terbesar pada komponen Uang Kertas Asing dan Simpanan. Adapun komponen cadangan devisa didominasi surat berharga (87%), diikuti oleh Uang Kertas Asing dan Simpanan (7,33%) dan Emas Moneter (3,18%)
Sumber: CEIC, Bloomberg, diolah
-33.7 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 ID R T ri liu n
Perkembangan NFB SUN, Saham dan SBI
Sumber: Bloomberg, Bank Indonesia, diolah
PERKEMBANGAN MONETER DAN PERBANKAN
Perkembangan kondisi moneter dalam perekonomian di akhir tahun 2019 menunjukkan sedikit perbaikan likuiditas dibanding posisi akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019. Laju pertumbuhan uang beredar (M1 dan M2) meningkat dari 4,8% dan 6,3% di akhir 2018 menjadi 7,4% dan 6,5% di akhir tahun 2019. Perkembangan kondisi tersebut diantaranya dipengaruhi stance kebijakan BI untuk menurunkan suku bunga acuan 100 bps di sepanjang tahun 2019.
Pada bulan Januari 2020, laju pertumbuhan uang beredar mulai meningkat, dimana M1 dan M2 masing-masing tumbuh 7,9% dan 7,1%. Peningkatan pertumbuhan M2 didorong oleh peningkatan faktor aktiva luar negeri bersih. Di sisi lain, aktiva dalam negeri bersih tumbuh melambat, seiring perlambatan penyaluran kredit serta kontraksi operasi keuangan pemerintah. Sementara itu, peningkatan uang beredar dalam arti sempit (M1) pada Januari 2020 terutama disebabkan oleh pertumbuhan uang kartal.
Penurunan suku bunga acuan juga mendorong penurunan suku bunga Pasar Uang Antar Bank dan JIBOR yang juga mendorong perbaikan likuiditas di pasar keuangan. Namun di sisi lain, pertumbuhan kredit konsumsi terus mencatat perlambatan yang mengisyaratkan tingkat konsumsi masyarakat yang masih lemah, sejalan dengan perkembangan indikator konsumsi dalam PDB. Perlambatan kredit konsumsi ini terutama didorong oleh perlambatan kredit kepemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor. Memasuki bulan Januari 2020, likuiditas di pasar keuangan tetap terjaga, antara lain ditunjukan oleh masih terjadinya penurunan suku bunga PUAB dan JIBOR, serta peningkatan penempatan dana perbankan di Bank Indonesia. Memperhatikan dampak tekanan pada perekonomian dari wabah Covid-19, Bank Indonesia telah mengambil kebijakan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan (7DRR) di bulan Februari 2020 ke tingkat 4,75%. Langkah tersebut juga telah diambil oleh beberapa negara, khususnya di Kawasan ASEAN. Penurunan suku bunga acuan dimaksudkan untuk memberikan stimulus tambahan bagi aktivitas sektor riil dari masing-masing negara.
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2019 mencapai 6,1%, jauh lebih rendah dibanding tahun 2018 sebesar 11,8%, bahkan merupakan pertumbuhan yang paling rendah dalam sepuluh tahun terakhir. Penurunan pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh perlambatan kredit modal kerja dan kredit konsumsi. Sementara kredit investasi telah kembali meningkat di kuartal terakhir 2019, setelah mencatat perlambatan di tiga kuartal pertama 2019. Bila disimak lebih dalam, perlambatan kredit didorong oleh kontraksi pertumbuhan kredit pada bank-bank Buku III, sementara perkembangan kredit bank Buku IV masih meningkat.
Pada saat yang sama, perkembangan tabungan masyarakat (Dana Pihak Ketiga-DPK) juga terus mencatat pertumbuhan yang sangat rendah, yaitu sebesar 6,5%. Perkembangan kredit perbankan dan DPK tersebut menyebabkan tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) tetap berada pada level yang tinggi, yaitu sebesar 94,4% di tahun 2019. Tingginya LDR tersebut tentu menjadi salah satu risiko dan pertimbangan bagi akselerasi kredit ke depan.
Beberapa permasalahan yang disinyalir menyebabkan rendahnya kredit perbankan, antara lain rendahnya pertumbuhan DPK yang menjadi sumber utama pendanaan 14,234 13,753 13,000 13,500 14,000 14,500 15,000 15,500 Ja n Fe b M ar Apr M ay Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Ap r M ay Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb 2018 2019 2020
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah JISDOR
High-Low Last YTD AVG 6.03% 4.82% 7.54% 5.40% 5.00% 4.75% 2.0% 3.0% 4.0% 5.0% 6.0% 7.0% 8.0% 2 0 1 8 -J F M A M J J A S O N D 2 0 1 9 -J F M A M J J A S O N D 2 0 2 0 -J F
Suku Bunga Acuan dan PUAB
PUAB - Keseluruhan JIBOR - 1 Bulan
5.8% 7.1% 7.9% 0% 5% 10% 15% J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J 2018 2019 2020
Pertumbuhan Uang Beredar dan Kredit Konsumsi
bagi kegiatan kredit perbankan. Tingkat DPK yang terbatas mendorong perbankan untuk berhati-hati dalam menyalurkan kredit demi menjaga likuiditas perbankan masing masing. Dalam hal ini, terjadi persaingan perbankan dalam menyalurkan kredit, mengingat nasabah yang dipandang kredibel relatif terbatas. Kondisi-kondisi tersebut juga mendorong penurunan suku bunga kredit yang relatif lambat dan kurang merespon penurunan suku bunga acuan yang telah diambil Bank Indonesia. Alasan lainnya adalah permintaan kredit dari sektor riil yang dipandang rendah seiring meningkatnya ketidakpastian global dan lemahnya permintaan domestik. Rendahnya permintaan kredit dan aktivitas produksi tersebut antara lain dicerminkan oleh tren Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia di tahun 2019 yang bergerak pada tingkat yang lemah.
Langkah Kebijakan Moneter Beberapa Negara
Jan 2020
BNM-Malaysia
menurunkan policy rate 0.25% menjadi 2.75%
Feb 2020 BOT - Thailand
Menurunkan policy rate 0.25% menjadi 1%
BSP-Filipina
Menurunkan policy rate 0.25% menjadi 3.75%
BdeM-Mexico
Menurunkan policy rate 0.25% menjadi 7.0%
Mar 2020 FED - USA
Menurunkan policy rate ke kisaran 1% - 1.25%
BNM-Malaysia
kembali menurunkan policy rate menjadi 2.5%
Sumber: CEICPermasalahan kredit tersebut juga dapat dianalisis dengan melihat pola perkembangannya dalam periode jangka waktu yang lebih panjang. Bila disimak lebih jauh, dalam periode 2010-2013, pertumbuhan kredit mencatat tingkat yang tinggi, di atas 20%. Namun pada saat yang sama, telah terjadi penurunan pertumbuhan DPK cukup signifikan, yaitu dari 20,4% ke 13,3%. Kedua hal tersebut telah mendorong kenaikan LDR dari 76,3% ke tingkat 90,7%. Pada periode selanjutnya, tingkat pertumbuhan kredit perbankan menurun mengikuti pertumbuhan DPK yang rendah. Hal tersebut terutama didorong oleh semakin kecilnya gap yang terjadi antara DPK yang tersisa dengan kredit yang diberikan.
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Dalam perkembangan suku bunga perbankan, telah terjadi penurunan suku bunga kredit, namun tidak secepat penurunan suku bunga acuan yang terjadi (yang telah turun 100 bps). Penurunan suku bunga di 2019, terutama terjadi pada suku bunga investasi yang telah turun 48 bps. Sementara suku bunga kredit modal kerja mencapai 0,31 bps, dan penurunan terendah pada suku bunga kredit konsumsi sebesar 0,11 bps.
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Berdasarkan komposisi penyaluran kredit per lapangan usaha di tahun 2019, alokasi kredit masih didominasi oleh sektor perdagangan dan manufaktur, yang masing masing mencapai 27,5% dan 23,0%.Pertumbuhan kredit tertinggi di 2019, terjadi pada sektor utilitas (listrik, air, gas) dan sektor konstruksi. Hal ini didorong oleh kegiatan pembangunan terkait dengan infrastruktur. Namun demikian, untuk kontribusi pertumbuhan kredit tertinggi dicatat oleh sektor konstruksi dan perdagangan (kombinasi pertumbuhan tinggi dan size kredit yang besar). Pada tahun tersebut, kredit sektor pertambangan mencatat kontraksi, antara lain dipengaruhi sikap perbankan yang berhati-hati seiring dampak penurunan harga komoditas, khususnya batubara.
Tingkat kesehatan perbankan di tahun 2019 secara umum masih cukup terjaga. Hal ini antara lain ditunjukan oleh tingkat Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non-Performing Loan (NPL) yang masih berada pada tingkat yang aman. CAR perbankan di tahun 2019 mencapai 23,4%, jauh di atas ketentuan OJK (pada kisaran 8% - 11%, per OJK nomor 11/2016). Sementara tingkat NPL mencatat 2,53%, di bawah threshold 3%. Namun demikian, tingkat NPL di 2019, sedikit meningkat dibanding posisi tahun 2018, sebesar 2,37%.
Berdasarkan sektor lapangan usaha, tingkat NPL tertinggi dicatat sektor Hotel dan Restoran sebesar 5,6%. Hal tersebut perlu mendapat perhatian mengingat dampak dari virus Corona terutama akan mempengaruhi kinerja sektor tersebut. Dalam hal ini, dengan NPL yang sudah tinggi, tekanan pada kinerja sektor tersebut dapat mengganggu aktivitas perbankan. Tingkat NPL lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah sektor manufaktur dan perdagangan, mengingat tingkat NPL dan besarnya kredit yang diberikan perbankan.
6.1% 5.8% 13.2% 2.5% 0.0% 2.0% 4.0% 6.0% 8.0% 10.0% 12.0% 14.0% 16.0% 18.0% 2 01 5 -J M M J S N 2 01 6 -J M M J S N 2 01 7 -J M M J S N 2 01 8 -J M M J S N 2 01 9 -J M M J S N
Pertumbuhan Kredit Perbankan
Kredit KK KI KMK 6.1% 6.5% 94.4% 82.0% 84.0% 86.0% 88.0% 90.0% 92.0% 94.0% 96.0% 98.0% 0.0% 2.0% 4.0% 6.0% 8.0% 10.0% 12.0% 14.0% 16.0% 18.0% 20.0% 2 01 5 -J M M J S N 2 01 6 -J M M J S N 2 01 7 -J M M J S N 2 01 8 -J M M J S N 2 01 9 -J M M J S N Kredit, DPK, dan LDR Kredit DPK LDR
PERKEMBANGAN HARGA
Pada Februari 2020, laju inflasi mencapai 0,28% (mtm) atau 0,66 (ytd) atau 2,98% (yoy). Secara tahunan, laju inflasi Februari 2020 lebih tinggi dibandingkan Januari 2020, disumbang oleh kenaikan harga beberapa komoditas pangan, emas perhiasan, dan rokok. Dari 90 kota sampel IHK, 73 kota mengalami inflasi, sedangkan 17 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Sintang (Kalimantan Barat) yang mencapai 1,21% (mtm) didorong oleh kenaikan harga bahan pangan (sayuran dan ikan) dan bahan bakar rumah tangga di tengah penurunan transportasi udara. Sementara itu, deflasi terdalam terjadi di Tanjung Pandan (Bangka-Belitung) yang mencapai sebesar 1,20% (mtm) yang dipengaruhi penurunan harga produk ikan segar dan tarif angkutan udara.
Kenaikan harga komoditas pangan bergejolak memberikan tekanan inflasi bulan Februari 2020. Hal ini tercermin dari peningkatan laju inflasi volatile food yang mencapai 6,68% (yoy), naik secara signifikan dari Januari 2020 sebesar 4,13% (yoy). Komoditas pangan yang mengalami peningkatan harga, di antaranya bawang putih karena keterlambatan impor, kekhawatiran dampak wabah COVID-19 sehingga mendorong praktik spekulasi harga serta aneka cabai yang masih dalam masa tanam. Selain itu, daging ayam ras meningkat sebagai dampak kenaikan harga pakan/jagung dan respon kebijakan peningkatan harga acuan di tingkat peternak. Harga minyak goreng juga mengalami kenaikan, dipengaruhi naiknya harga CPO karena kebijakan B30. Harga beras sedikit mengalami peningkatan akibat masih berada pada masa tanam sehingga stok di pasar berkurang. Secara umum, sebagian besar komoditas pangan di Februari 2020 mengalami kenaikan harga, lebih banyak dibandingkan dengan jumlah komoditas pangan yang naik di Februari 2019. Pada Februari 2019, komoditas aneka cabai, produk peternakan, serta bawang merah mengalami penurunan. Sementara itu, komponen inflasi inti mencerminkan perlambatan, mencapai 2,76% (yoy) pada Februari 2020 dari 2,88% (yoy) di Januari 2020. Hal ini dipengaruhi oleh perlambatan inflasi yang terjadi di beberapa kelompok seperti perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, pendidikan, serta rekreasi, olah raga dan budaya. Tekanan permintaan domestik yang terbatas dicerminkan juga oleh perlambatan inflasi pada komoditas inti pangan (antara lain makanan jadi) dan nonpangan serta pada kelompok jasa. Namun di sisi lain, masih terjadi peningkatan harga emas perhiasan sebagai dampak dari faktor sentimen investor yang beralih pada safe haven asset karena faktor ketidakpastian global (terutama wabah COVID-19). Tekanan inflasi juga terjadi pada kelompok kesehatan, terutama subkelompok obat-obatan dan produk kesehatan sebagai dampak eskalasi penyebaran wabah COVID-19. Selain itu, tarif kontrak rumah juga masih mengalami peningkatan.
Kelompok administered price sedikit menurun secara tahunan mencapai 0,54% (yoy), lebih rendah dibandingkan Januari 2020 yang mencapai 0,64% (yoy). Secara bulanan, kelompok ini masih menyumbangkan deflasi yang didorong oleh penurunan tarif angkutan udara akibat permintaan yang menurun, terutama di daerah pariwisata. Di samping itu, harga bensin jenis Pertamax series turun seiring dengan tren penurunan harga minyak mentah dunia yang telah terjadi sejak Januari 2020. Di sisi lain, komoditas rokok masih menyumbangkan inflasi, terutama rokok kretek filter dan putih akibat penerapan kebijakan kenaikan cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tahun 2020.
PERKEMBANGAN SEKTOR RIIL : Kinerja Perdagangan Neraca perdagangan di bulan Februari 2020 mengalami surplus sebesar USD2,34 miliar, setelah defisit sebesar USD864,2 juta pada bulan sebelumnya. Surplus lebih didorong oleh penurunan impor yang signifikan dan kenaikan ekspor yang moderat. Secara kumulatif, hingga Februari 2020, neraca perdagangan barang surplus sebesar USD1,7 miliar.
Nilai ekspor Indonesia pada bulan Februari 2020 mencapai USD13,94 miliar, meningkat baik secara bulanan maupun tahunan masing masing sebesar 2,24% (mtm) dan 11,00% (yoy). Peningkatan utamanya disebabkan oleh ekspor nonmigas yang naik sebesar 2,38% (mtm), sementara ekspor
migas masih terkontraksi sedikit sebesar 0,02% (mtm). Meningkatnya ekspor nonmigas secara bulanan (mtm) utamanya didorong oleh peningkatan ekspor golongan barang utama seperti logam mulia, perhiasan/permata (HS71), barang tekstil jadi lainnya (HS63), lemak dan minyak hewan/nabati (HS15), serta bahan bakar mineral (HS27). Di sisi lain, kinerja ekspor migas pa da Februari 2020 menurun disebabkan oleh terkontraksinya ekspor hasil minyak sebesar 22,14% (mtm) dan gas sebesar 7,15% (mtm). Berbeda dengan hasil minyak dan gas, pada bulan ini ekspor minyak mentah Indonesia meningkat cukup tinggi sebesar 225,83% (mtm) yang didorong oleh meningkatnya volume ekspor minyak mentah sebesar 232,36% (mtm), meskipun secara harga mengalami penurunan.
Berdasarkan sektornya, semua sektor non migas mencatat kenaikan ekspor, dengan kenaikan terbesar dialami oleh industri pengolahan sebesar 2,73% (mtm), dipengaruhi kenaikan ekspor logam dasar, logam mulia, tekstil jadi lainnya (termasuk masker), kendaraan, kelapa sawit. Sektor pertanian dan pertambangan mengalami kenaikan tipis sebesar 0,91% dan 0,53%.
Nilai impor di bulan Februari sebesar USD11,6 miliar, atau terkontraksi baik secara bulanan maupun tahunan masing-masing sebesar 18,69% (mtm) dan 5,11% (yoy). Penurunan impor secara bulanan (mtm) tertinggi terjadi pada golongan barang utama kendaraan dan bagiannya (HS97) yang terkontraksi sebesar 29,38%. Golongan barang lain yang mengalami penurunan yaitu mesin dan perlengkapan elektrik (HS85), bahan kimia organik (HS29), plastik dan barang dari plastik (HS38), mesin dan peralat an mekanik (HS84), yang masing-masing terkontraksi sebesar 28,14%, 19,97%, 19,87%, dan 16,34%. Sementara itu, kinerja impor migas pada bulan ini terkontaksi didorong oleh turunnya impor hasil minyak dan gas masing masing sebesar 14,65% (mtm) dan 41,21% (mtm). Sementara impor minyak mentah masih mengalami peningkatan sebesar 14,46% (mtm).
Berdasarkan penggunaan barang, semua impor bahan baku/penolong, barang modal dan barang konsumsi terkontraksi masing-masing sebesar 15,89%, 18,03% dan 39,9% (mtm). Secara yoy, impor barang-barang tersebut berturut-turut mengalami kontraksi masing-masing sebesar 1,5%, 16,44% dan 12,8%. Dilihat dari negaranya, secara mtm, impor dari Tiongkok mengalami penurunan impor terbesar yaitu mencapai USD1,9 miliar, sebagai imbas dari virus Corona, sementara dari negara lain, penurunan impor hanya mencapai sekitar USD100-an juta. Secara kumulatif, total impor hingga Februari 2020 sebesar USD25,87 miliar, mengalami penurunan sebesar 4,95% (yoy), dengan penurunan terbesar dialamai impor barang modal sebesar 10,64%. Sementara itu, impor barang komsumsi masih tumbuh secara kumulatif sebesar 5%.
PERKEMBANGAN SEKTOR RIIL : Indikator Pertumbuhan Ekonomi
Konsumsi masyarakat pada Februari 2020 menunjukkan indikasi perlambatan. Data penjualan eceran (Indeks Penjualan Riil – IPR) diperkirakan kembali mengalami penurunan pada bulan kedua 2020 ini sebesar -1,9% (yoy). Penurunan penjualan ini terjadi pada sub-kelompok komoditas sandang, dan peralatan informasi dan komunikasi. Perlambatan penjualan juga terjadi pada kelompok suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau. Secara regional kontraksi pertumbuhan penjualan terjadi di kota Medan, Surabaya, Denpasar, dan Bandung.
Hasil survei konsumen Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa optimisme konsumen tidak sekuat bulan sebelumnya, dimana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Februari 2020 hanya sebesar 117,7, lebih rendah dibanding Januari 2020 yang sebesar 121,7. Pelemahan optimisme ini disebabkan penurunan keyakinan atas kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Penurunan Indeks Ekonomi Saat ini (IKE) terutama disebabkan penurunan ekspektasi ketersediaan lapangan kerja, sedangkan penurunan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) disebabkan oleh penurunan ekspektasi
terhadap ketersediaan tenaga kerja dan penghasilan yang akan diterima pada 6 bulan mendatang. Penurunan IKK terdalam terjadi pada responden dengan pengeluaran Rp.2,1 juta sampai dengan Rp.3 Juta per bulan, sementara secara wilayah penurunan terdalam terjadi di Kota Medan, diikuti Banten, dan Surabaya.
Dari sisi penjualan kendaraan, penjualan mobil penumpang masih mampu tumbuh positif sebesar 10,0% pada Januari 2020. Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan tertinggi dalam kurun 1 tahun terakhir. Sementara itu, penjualan sepeda motor mengalami kontraksi dengan pertumbuhan negatif sebesar -6,85% pada Desember 2019. Di sisi lain, penjualan listrik bulan Desember 2019 mengalami pertumbuhan sebesar 6,84%, yang merupakan pertumbuhan tertinggi di sepanjang 2019.
Dari sisi Investasi, dengan kondisi perekonomian global saat ini, yang mendapatkan tantangan berat akibat pandemi
virus Corona (COVID-19) cukup berdampak. Pandemi COVID-19 tersebut mengakibatkan aktivitas investasi terganggu baik dari sisi Penanaman Modal Asing maupun Penanaman Modal dalam Negeri. Negara-negara investor utama Indonesia mengalami pandemi COVID-19, sehingga memaksa Indonesia untuk mulai meningkatkan investasi dari dalam negeri. Dalam kondisi seperti ini, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sangat diharapkan bersumber dari Pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah. Selain itu, Pemerintah juga masih mempunyai ruang untuk menggerakkan investasi BUMN melalui peningkatan target capital expenditure (capex) tahun 2020.
Hingga akhir Februari tahun 2020, belanja modal pemerintah pusat telah direaliasikan sebesar 3,5% dibandingkan dengan anggaran belanja modal pada APBN 2020. Realisasi ini tumbuh 51,3% dibandingkan realisasi pada periode yang sama di tahun 2019. Diharapkan pemerintah daerah juga dapat meningkatkan realisasi belanja modal mereka sekaligus untuk upaya peningkatan efisiensi.
Investasi langsung melalui penanaman modal diperkirakan akan sangat rendah. Nilai investasi selama Triwulan I Tahun 2020 atau periode Januari – Maret 2020 diperkirakan hanya berkisar 5% dari keseluruhan target 2020. Selain itu, PMDN juga diperkirakan akan mengikuti kondisi yang sama seiring dengan kondisi Indonesia yang telah terpapar virus COVID-19.
Adapun perkembangan indikator PMTB lainnya juga mengalami perlambatan akibat tingginya gejolak perekonomian, seperti indikator konsumsi semen dan penjualan mobil niaga. Di awal tahun 2020, penjualan mobil niaga masih melanjutkan tren penurunan seperti tahun sebelumnya. Pada bulan Januari, pertumbuhan penjualan mobil niaga terkontraksi sebesar -25,1% (yoy). Sementara pada bulan Februari 2020, konsumsi semen dalam negeri menunjukan peningkatan, meskipun masih dalam tren pertumbuhan negatif sebesar -0,1% (yoy).
Tabel Nilai Tukar
Tabel Inflasi
Jan Feb Mar April Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Jan Feb
EoP 14,072 14,062 14,244 14,215 14,385 14,141 14,026 14,237 14,174 14,008 14,102 13,901 13,662 14,234
Ytd 14,163 14,104 14,139 14,140 14,192 14,197 14,172 14,181 14,173 14,167 14,158 14,146 13,732 13,776
2020
Sumber: BI, diolah
2019
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Jan Feb
MtM 0.32 -0.08 0.11 0.44 0.68 0.55 0.31 0.12 -0.27 0.02 0.14 0.34 0.38 0.28 Ytd 0.32 0.24 0.35 0.80 1.48 2.05 2.36 2.48 2.20 2.22 2.37 2.72 0.38 0.66 YoY 2.82 2.57 2.48 2.83 3.32 3.28 3.32 3.49 3.39 3.13 3.00 2.72 2.68 2.98 2019 Sumber: BPS, diolah 2020
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Jan Feb
13,93 12,56 14,12 13,11 14,83 11,79 15,45 14,28 14,10 14,93 13,95 14,45 13,63 13,94 12,69 11,45 12,98 12,37 13,69 11,05 13,85 13,41 13,27 14,02 12,91 13,31 12,82 13,12 0,28 0,23 0,27 0,25 0,32 0,21 0,31 0,34 0,36 0,34 0,33 0,37 0,30 0,30 10,20 9,42 10,35 9,93 11,22 9,03 11,52 11,24 10,85 11,34 10,59 10,87 10,73 11,03 2,21 1,80 2,36 2,19 2,15 1,80 2,02 1,83 2,06 2,32 1,99 2,08 1,79 1,80 1,23 1,11 1,14 0,74 1,14 0,75 1,61 0,88 0,83 0,92 1,04 1,13 0,82 0,82 14,99 12,23 13,45 15,40 14,61 11,50 15,52 14,17 14,26 14,76 15,34 14,51 14,27 11,60 13,33 10,64 11,93 13,16 12,42 9,78 13,77 12,54 12,67 13,00 13,21 12,37 12,28 9,85 1,66 1,58 1,52 2,24 2,18 1,71 1,75 1,63 1,59 1,76 2,13 2,13 1,99 1,75 1,22 1,01 1,15 1,46 1,55 1,03 1,47 1,36 1,41 1,44 1,67 1,65 1,47 0,88 11,42 9,03 10,11 11,57 10,73 8,74 11,27 10,33 10,26 10,88 11,17 10,40 10,57 8,89 2,36 2,19 2,20 2,37 2,32 1,73 2,78 2,48 2,59 2,44 2,50 2,45 2,23 1,83 -1,06 0,33 0,67 -2,29 0,22 0,30 -0,06 0,11 -0,16 0,17 -1,39 -0,06 -0,64 2,34 -0,64 0,80 1,05 -0,79 1,26 1,26 0,08 0,87 0,60 1,01 -0,30 0,94 0,53 3,27 -0,42 -0,47 -0,38 -1,49 -1,05 -0,97 -0,14 -0,76 -0,76 -0,84 -1,10 -1,00 -1,17 -0,93 2019 2020 Mi ga s
Golongan Penggunaan Barang
Ba ra ng Kons ums i Ba ha n Ba ku Ba ra ng Moda l Neraca Perdagangan Non Mi ga s Mi ga s Items Ekspor Non Mi ga s Perta ni a n Ma nufa ktur Perta mba nga n
Mi ga s
Impor
Non Mi ga s
Dari sisi penjualan retail, survei penjualan eceran memperkirakan penjualan eceran pada September 2019 sebesar 215,2 atau tumbuh sebesar 2,1% (yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 1,1%. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya pertumbuhan penjualan kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta tetap tingginya pertumbuhan kelompok suku cadang dan aksesori.
Indikator pertumbuhan impor per-penggunaan seperti komponen impor bahan baku dan barang modal masih mengalami kontraksi masing masing sebesar -10,6% dan -4,8% Hal tersebut perlu diwaspadai dampaknya kepada aktivitas produksi serta kinerja investasi mesin dan perlengkapan.
Tabel Indikator Moneter dan Sektor Riil
2020
ITEMS Jan Feb Mar Aprl Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Jan
Pertumbuhan Uang Beredar (%, yoy)
M1 3.8 2.6 4.8 5.8 7.4 4.9 7.4 6.6 6.9 6.6 10.5 7.4 7.9
M2 5.5 6.0 6.5 6.2 7.8 6.9 7.8 7.3 7.1 6.3 7.1 6.5 7.1
Pertumbuhan Kredit
Perbankan (%, yoy) 11.9 12.0 11.5 11.1 11.1 9.9 9.7 8.7 8.0 6.6 7.0 5.2 Kre di t Moda l Ke rja 12.9 12.9 12.3 11.1 10.9 9.5 9.0 7.5 6.1 4.1 4.0 2.1 Kre di t Inve s ta s i 12.6 13.4 13.2 13.3 14.6 13.3 13.8 12.7 13.0 11.4 13.7 12.7
Kre di t Kons ums i 9.9 9.6 9.0 9.0 8.4 7.7 7.3 7.0 6.9 6.6 6.2 4.0
Pertumbuhan Dana Pihak
Ketiga (%, yoy) 6.4 6.6 7.2 6.6 6.3 7.4 8.0 7.6 7.5 6.3 6.7 6.5 Suku bunga 7drr (%) 6.0 6.0 6.0 6.0 6.0 6.0 5.8 5.5 5.3 5.0 5.0 5.0 4.8 Suku bunga Kredit Bank
Komersil (%)
Kre di t Moda l Ke rja 10.5 10.6 10.5 10.5 10.4 10.4 10.4 10.4 10.3 10.2 10.2 10.0 10.1 Kre di t Inve s ta s i 10.4 10.4 10.3 10.3 10.3 10.2 10.2 10.2 10.1 10.0 10.0 9.9 9.9 Kre di t Kons ums i 11.7 11.7 11.6 11.6 11.6 11.6 11.6 11.6 11.5 11.5 11.5 11.6 NPL Bank Umum (%) 2.6 2.6 2.5 2.6 2.6 2.5 2.6 2.6 2.7 2.7 2.8 2.5 CAR Bank Umum (%) 23.2 23.4 23.4 23.2 22.4 22.6 23.2 23.9 23.3 23.5 23.8 23.4
Indeks Keyakinan Konsumen 125.5 125.1 124.5 128.1 128.2 126.4 124.8 123.1 121.8 118.4 124.2 126.4 121.7 Indeks Penjualan Ritel 218.1 218.2 230.2 229.3 249.8 233.6 221.2 216.6 212.4 215.7 216.6 235.1 211.3 Penjualan mobil penumpang
(%, yoy) -23.4 -14.0 -5.4 -14.0 -16.3 5.7 -20.1 -14.9 -2.5 -13.1 -8.2 -6.5 10.0 Penjualan mobil niaga
(%,yoy) 8.4 -16.1 -28.7 -31.7 -15.7 3.0 -18.5 -8.4 -11.4 -5.8 -16.9 10.9 -25.1 Penjualan Motor (%,yoy) 17.9 21.0 8.4 3.0 -4.7 2.7 -11.3 5.1 2.1 -2.0 -8.3 -6.8
Pertumbuhan konsumsi
semen (%, yoy) -1.3 1.3 -0.7 -9.8 -8.4 12.7 -1.6 -3.2 -0.5 2.0 9.5 7.2 -7.5
2019
Sumber: CEIC, Bank Indonesia, OJK, diolah
Pengarah : Kepala Badan Kebijakan Fiskal
Penanggung Jawab : Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro
Penyusun : Thomas NPD Keraf, Andriansyah, Roni Parasian, Lilik Surya, Immanuel Bekti Hartanto, Raditiyo Harya Pamungkas, Dwi Anggi Novianti, Dedy Sunaryo, Aktiva Primananda H., Nurul Putri R.
Layout : Patria Yoga Asmara
Sumber Data : CEIC, BPS, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan
Dokumen ini disusun hanya sebatas sebagai informasi. Semua hal yang relevan telah dipertimbangkan untuk memastikan informasi ini benar, tetapi tidak ada jaminan bahwa informasi tersebu t akurat dan lengkap serta tidak ada kewajiban yang timbul terhadap kerugian yang terjadi atas tindakan yang dilakukan dengan mendasarkan pada laporan ini. Hak cipta Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan.