• Tidak ada hasil yang ditemukan

Try Estu Moertiwi SMA Negeri 1 Grati Pasuruan Kata Kunci: Problem Based Learning, kokami, aktivitas siswa, hasil belajar.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Try Estu Moertiwi SMA Negeri 1 Grati Pasuruan Kata Kunci: Problem Based Learning, kokami, aktivitas siswa, hasil belajar."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MENINGKATKANAKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA

PADA KONSEP PELUANG MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM

BASED LEARNING(PBL) DENGAN MEDIA KOKAMI

DI SMA NEGERI 1 GRATI

Try Estu Moertiwi

SMA Negeri 1 Grati Pasuruan

[email protected]

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembelajaran Kooperatif model Problem Based Learn-ing dengan media kokami (Kotak dan Kartu Misterius) pada konsep peluang dapat menLearn-ingkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.Dalam pembelajaran matematika kehadiran media atau alat peraga mempunyai arti yang sangat penting. Karena dengan menggunakan alat peraga proses belajar mengajar akan lebih termotivasi, baik dari siswa maupun guru, utamanya siswa akan merasa senang dan lebih tertarik untuk mempelajari. Kokami (kotak dan kartu miterius) merupakan salah satu jenis media yang dikombinasikan dengan permainan bahasa yang tujuannya untuk lebih mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Peneltian Tindakan Kelas (PTK). Tahapannya meliputi Peren-canaan – Tindakan – Observasi – Refleksi. Pelaksanaan tindakan minimal dua siklus dan tahapan penelitian menggunakan model Kemmis – Taggart. Berdasarkan hasil penelitian pembelajaran model Problem Based Learningdengan media kokami ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata kelas 72,50 pada siklus I menjadi 77,78 pada siklus II. Ketuntasan klasikal juga meningkat dari 52,78 % menjadi 88,89 %. Selain itu pembelajaran ini juga dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam aspek partisipasi dalam kelompok meningkat dari 25 % pada siklus I menjadi 33,33 % pada siklus II, aspek memecahkan masalah juga mengalami peningkatan dari 19,44 % menjadi 27,78 %,dan pada aspek perhatian pada pelajaran mengalami peningkatan dari 27,78% meningkat menjadi 44,44 %. Sedangkan respon siswa terhadap pembelajaran ini hampir semua menyatakan sangat setuju dan setuju sehingga dapat digunakan untuk pembelajaran selanjutnya.

Kata Kunci: Problem Based Learning, kokami, aktivitas siswa, hasil belajar.

145

materi yang diajarkan. Sebuah permasalahan yang dihadapi dalam belajar matematika selama ini yaitu siswa menganggap matematika adalah mata pelajar-an ypelajar-ang ditakuti, membospelajar-ankpelajar-an dpelajar-an sulit dimengerti, khususnya pada sub pokok bahasan peluang ini. Konsep Peluang adalah salah satu materi matematika yang memerlukan penalaran dan berpikir logis dalam memahami setiap permasalahannya, karena variasi permasalahan yang ada pada konsep peluang ini banyak yang berkaitan dengan permasalahan sehari-hari. Dalam menyelesaikan permasalahan-perma-salahan yang berkaitan dengan persoalan Peluang, siswa dituntut untuk benar-benar memahami apa yang dimaksud dalam setiap permasalahan itu, dan diharapkan bisa menganalisa dalam penyelesaiannya dengan menggunakan prinsip-prinsip yang ada pada konsep Peluang. Dari pengalaman selama meng-Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang

turut mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, setiap warga negara diharapkan bisa menguasai matematika baik dalam aspek terapannya maupun penalarannya. Bidang studi matematika ditinjau dari aspek kompetisi yang ingin dicapai merupakan bidang studi yang menekan-kan penguasaan konsep dan algoritma disamping kemampuan memecahkan masalah. Ditinjau dari aspek materi pelajaran, cakupan atau ruang lingkup pelajaran matematika SMA meliputi logika, aljabar, kalkulus, geometri, trigonometri, dan statistika. Disamping itu matematika juga bersifat hirarkis, artinya suatu materi merupakan prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.

Bidang studi matematika mencakup dimensi pemahaman, keterampilan dan penerapan terhadap

(2)

ajarkan materi Peluang pada kelas-kelas terdahulu, sering dijumpai beberapa permasalahan yang timbul diantaranya sering dijumpai siswa kurang bisa memahami perbedaan konsep perkonsep tentang permutasi dan kombinasi, kadang siswa juga kurang mampu menganalisa soal-soal tentang peluang suatu kejadian yang memerlukan pemecahan dengan nalar tinggi, dan semuanya berdampak pada hasil belajar yang dicapai siswa tidak sesuai dengan yang diharap-kan. Pada pembelajaran materi ini masih sering terjadi tidak adanya ketuntasan secara klasikal maupun ketuntasan perorangan. Dari hasil pembel-ajaran konsep Peluang di kelas XII IPA-1 tahun pelajaran 2018-2019 lalu diperoleh ketuntasan kla-sikal hanya 68%, sedangkan pada pembelajaran konsep ini di kelas XII IPA-2 ketuntasan klasikal hanya mencapai 65% pada tes belajar tahap pertama, sehingga perlu diadakan remedial untuk memperoleh ketuntasan klasikal minimal yaitu 85%.

Kondisi siswa kelas XII IPA – 5 SMA Negeri 1 Grati sangat heterogen karena baru masih terjadi penyesuaian dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kerjasama antar teman, keberanian mengungkapkan pertanyaan, keaktifan dalam setiap pembelajaran masih belum nampak, siswa masih merasa malu dan takut untuk menjawab setiap persoalan yang diajukan guru, siswa lebih banyak diam kalau tidak memahami materi, siswa takut untuk bertanya pada sesama teman maupun guru. Kalaupun terjadi interaksi ha-nyalah antar teman sebangku saja. Sehingga suasana aktif dalam kelas tidak tidak terlihat dan hal ini berdampak pada hasil belajar siswa. Hal ini terlihat pada hasil ulangan pada Kompetensi Dasar sebe-lumnya, dari hasil tes diperoleh jumlah siswa yang tuntas hasil belajarnya hanya 18 orang sedangkan yang 18 siswa masih belum tuntas, sehingga tidak tercapai ketuntasan klasikalnya karena

85% siswa yang tuntas.

Melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami konsep Peluang ini, dan dari hasil observasi dari pembelajaran tahun lalu, maka guru merasa metode yang digunakan dalam pembelajaran kurang sesuai karena tidak dapat menciptakan keaktifan siswa. Karena dengan terciptanya suasana yang aktif dalam suatu pembelajaran, siswa akan merasa senang dalam kegiatan pembelajaran dan akan membuat siswa berusaha untuk memahami materi dengan baik sehingga pada akhirnya nanti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, guru perlu berusaha meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep Peluang ini, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik. Untuk mencapai peningkatan pemahaman siswa

maka digunakan metode pembelajaran berbasis masalah agar siswa dapat mengembangkan kemam-puan berpikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual, karena selama ini guru masih mengguna-kan metode ceramah dimana siswa hanya pasif menerima penjelasan dari guru.

Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Suprijono, 2010:61). Pembel-ajaran kooperatif menggunakan model PembelPembel-ajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menggu-nakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran (Nurhadi, dkk, 2004:56). Menurut Duch (dalam Aris Shoimin 2014:130) mengemukakan bahwa Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasih masalah adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasa-lahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan. Pembel-ajaran berbasis masalah dikembangkan agar dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual. Dalam pembelajaran ini siswa berperan aktif, guru hanya memberikan bimbingan dan moti-vasi pada siswa. Pembelajaran berbasis masalah merupakan proses belajar mengajar dimana guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi.

Sedangkan dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting, karena madia dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa. Oleh karena itu, diperlukan media atau alat peraga agar siswa dapat menguasai konsep Peluang dengan baik. Media pembelajaran merupakan alat untuk mem-bantu guru dalam kegiatan mengajar. Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu, bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada peserta didik.

Alat bantu yang digunakan seperti alat bantu visual meliputi gambar, model, grafis atau benda nyata lain. Alat-alat bantu itu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih konkret, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat peserta didik dalam belajar (Falahuddin, 2014:110).

(3)

Sebe-narnya, guru tidak harus selalu menggunakan me-dia pembelajaran tertentu sebagai meme-dia pilihan karena pemilihan media harus selalu disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan (Widiasworo, 2015:148–149).

Kokami (Kotak dan Kartu Misterius) merupa-kan salah satu jenis media yang dikombinasimerupa-kan dengan permainan bahasa (Kadir 2004:1). Permainan ini menjadi salah satu alternatif, selain untuk mena-namkan pengetahuan kepada siswa dengan menarik dan berbekas juga berfungsi untuk merangsang minat dan perhatian siswa. Guru sebagai instruktur juga sebagai fasilitator menyiapkan sebuah kotak yang didalamnya berisi pesan-pesan. Gabungan antara media dan permainan ini,, mampu secara signifikan memberikan motivasi dan menarik minat siswa untuk ikut aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Pesan itu dapat berupa perintah, gambar, pertanyaan dan sanksi yang ditulis di atas potongan-potongan karton dan dimasukkan dalam amplop tertutup. Kartu pesan ini merupakan komponen yang paling penting dalam permainan ini karena arah kegiatan belajar mengajar tertuang didalamnya.

Permainan dan media pembelajaran ini mampu melibatkan seluruh siswa. Ini berangkat dari asumsi dasar bahwa pada hakekatnya siswa usia sekolah masih senang bermain. Untuk itu, siswa dapat diajak untuk belajar sambil bermain. Permainan ini juga mampu merangsang daya pikir yang inovatif, kreatif, dan kritis siswa sehingga mampu memahami pesan yang diberikan. Respon-respon positif yang timbul secara komunikatif merupakan hasil dari permainan yang dirancang dan diatur secara menarik dan sistimatis.

Kokami (Kotak kartu misterius) adalah salah satu jenis media yang dikombinasikan dengan permainan bahasa. Dalam menggunakan kokami tersebut melibatkan seluruh siswa, baik siswa yang biasanya pasif maupun yang aktif. Oleh karena itu, media kokami sangat baik jika digunakan dalam kelas yang heterogen, yang dimaksud dalam kelas hete-rogen yaitu kelas yang memiliki karakteristik yang berbeda atau beranekaragam siswanya. Media kokami dapat menjadi media alternatif untuk mena-namkan pengetahuan kepada siswa dengan menarik dan berbekas (Marga, 2018: 19).

Pembelajaran berbasis masalah dengan media kokami pernah diterapkan pada kelas biologi. Kelas yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah dengan kokami siswa lebih mengerti dan memahami materi yang disampaikan daripada kelas konven-sional. Hal ini dapat dilihat dari nilai ketuntasan pada kelas pembelajaran berbasis masalah lebih besar daripada kelas konvensional.

Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Harini (2005) menunjukkan hasil, bahwa keefektifan metode pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dengan media kokami terhadap hasil belajar biologi telah mengalami ketuntasan belajar sebesar 86,77%. Selanjutnya, penelitian yang telah dilakukan Deviyanti (2011) menunjukkan hasil bahwa dengan PBL dapat meningkatkan keteram-pilan pemecahan masalah sebesar 45% serta dapat meningkatkan hasil belajar biologi sebesar 25,5% pada siswa kelas X semester gasal di SMA Negeri 1 Prajekan Bondowoso.

Terdapat dua manfaat penelitian bagi siswa dan guru. Bagi siswa, penelitian ini dapat mengem-bangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterrampilan intelektual serta berinteraksi sosial dengan sehat. Bagi guru, sebagai masukan dalam menentukan pendekatan pembelajaran yang tepat dalam rangka meningkatkan kualitas proses belajar mengajar khususnya dalam mata pelajaran mate-matika. Bagi peneliti, sebagai pengalaman dan tambahan pengetahuan dalam pembelajaran matema-tika. Bagi peneliti lain, sebagai bahan pengembangan untuk penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dikemukakan adalah ba-gaimana pembelajaran berbasis masalah dengan media kokami (Kotak dan Kartu Misterius) pada konsep peluang dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa kelas XII IPA – 5 SMAN 1 Grati Pasuruan?.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar oleh para praktisi (termasuk guru) untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pokoknya, bagi seorang guru tugas pokok adalah pelaksanaan KBM. Menurut Zainal Aqib (2008:3) penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat. P enelit ian tindakan kelas dilaksanakan di dalam kelas sehingga interaksi antara siswa dengan guru dapat terfokuskan secara maksi-mal. Kelas yang dimaksud disini bukan hanya ruangyang berupa gedung, melainkan tempat berlangsungnya proses pembelajaran antara gurudan murid. (Suyadi,2012:6).

Adapun langkah-langkah penelitiannya bersifat refleksi tindakan dengan pola proses pengajian berdaur siklus. Langkah ini berlangsung

(4)

berulang-ulang yang meliputi tahapan Perencanaan – Tindakan – Observasi – Refleksi. Pelaksanaan tindakan mini-mal dua siklus dan tahapan penelitian menggunakan model Kemmis – Taggart.

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Grati, jalan Raya Sumurwaru no. 32, Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa Timur. Obyek penelitian adalah siswa kelas XII IPA – 5 tahun pelajaran 2019 – 2020 SMA Negeri 1 Grati Kabupaten Pasuruan dengan jumlah siswa 36 orang, yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Subyek penelitian ini adalah guru pengajar matematika kelas XII IPA – 5, yang dalam hal ini adalah penulis sendiri dan melibatkan 2 rekan guru matematika lain sebagai observer.

Dalam pemahaman konsep Peluang ini akan diawali dengan memahamkan siswa tentang kaidah Pencacahan dalam teori kemungkinan dan notasi faktorial sebagai prasyarat dalam memahami konsep Peluang. Pemahaman konsep peluang ini sering dianggap sulit oleh siswa, maka dengan metode pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning menggunakan media kokami diharapkan siswa akan menjadi lebih aktif, siswa lebih tertarik dan siswa lebih mudah memahami permasalahan yang ada dalam konsep peluang sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Pada penelitian ini akan dilaksanakan 2 siklus dengan rencana tindakan yaitu pada siklus I untuk materi Ruang Sampel dan Konsep Peluang, dan pada siklus II untuk materi Peluang Majemuk dengan mengguna-kan media kokami.

Pengumpulan data dalam penelitian ini bertu-juan untuk mendapatkan bahan-bahan yang relevan, akurat dan sesuai dengan tujuan penelitan. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah observasi, angket dan tes.

Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan jalan pengamatan dan pencatatan terhadap suatu obyek secara sistematis mengenai yang diselidiki baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui observasi dapat diketahui sikap dan perilaku obyek peneliti, kegiatan yang dilakukan, tingkat partisipasi dalam kegiatan, proses kegiatan yang dilakukan, kemampuan, dan hasil yang diperoleh. Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah observasi tentang aktivitas siswa dalam pembelajaran ini. Aktivitas yang diamati pada pelaksanaan pembelajaran ini ada tiga aspek yaitu: Perhatian pada pelajaran, Partisipasi dalam kelompok dan Kemampuan memecahkan masalah.

Angket respon siswa digunakan untuk menge-tahui sampai sejauh mana siswa merespon

pembel-ajaran berbasis masalah dengan media kokamiini. Angket respon siswa diberikan setelah pelaksanaan siklus II berakhir. Adapun indikator yang diukur dalam angket respon siswa meliputi: apakah siswa menyenangi pembelajarana ini, apakah siswa bisa mengikuti pembelajaran ini, apakah siswa merasa terbebani dengan pembelajaran ini, dan apakah pem-belajaran ini dapat digunakan pada mata pelajaran lain.

Salah satu cara yang digunakan untuk mengukur efektitivitas pembelajaran sampai dimana hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses pembel-ajaran ini adalah dengan menggunakan tes. Tes dilakukan pada setiap akhir siklus, hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa secara individu, dimana hasil tes individu ini nantinya dapat diguna-kan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran secara klasikalnya. Tes ini berupa tes obyektif yang jawabannya ditulis secara uraian (essay), karena dengan menjawab secara uraian dapat memunculkan kreatifitas siswa dalam berpikir. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2014:163) tes uraian (es-say) mempunyai keunggulan dibandingkan dengan tes obyektif, sebab akan memberikan kreatifitas siswa dalam mendalami materi yang diberikan.

Analisa data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Analisa data pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif terhadap data yang didapat dari hasil observasi dan angket respon siswa, sedangkan analisa data kuantitatif berwujud angka-angka dari data yang diperoleh dari tes pada tiap-tiap akhir siklus. Data yang akan dianalisa pada penelitian ini adalah :

1. Observasi Aktivitas Siswa

Aktivitas yang diamati pada pelaksanaan pembelajaran ini ada tiga aspek yaitu: Perhatian pada pelajaran, Partisipasi dalam kelompok dan Kemam-puan memecahkan masalah. Masing-masing aspek terdapat 4 indikator penialaian.

Aktivitas siswa selama penerapan pembelajaran berbasis masalah dengan media kokami dapat diperoleh dari observasi selama pembelajaran ber-langsung. Angket respon siswa dianalisa untuk mendapatkan data penunjang keberhasilan penelitian. Instrumen angket diolah dengan menggunakan analisa data deskriptif dalam bentuk persentase, sehingga benar-benar dapat menjadi data tentang respon siswa terhadap pembelajaran ini.

(5)

2. Tes

Tes awal diperoleh dari hasil evaluasi pada akhir siklus pertama dan tes akhir diperoleh dari hasil evaluasi pada akhir kegiatan siklus kedua. Penilaian tes awal maupun tes akhir menggunakan pedoman nilai sesuai dengan skor pada tiap-tiap soal yang diujikan. Data yang diperoleh dari tes awal dan tes akhir ini dianalisa dengan tehnik evaluasi, dimana siswa dinyatakan telah tuntas secara individu jika nilainya lebih besar atau sama dengan KKM nya yaitu

75 dan jika tidakdemikian maka siswa dinyatakan belum tuntas secara individu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dan siklus II terjadi perubahan yang meningkat baik dari aktivitas siswa maupun hasil belajar siswa. Data dari aktivitas siswa mengalami peningkatan pada tiap aspek yang dinilai, untuk aspek perhatian pada pelajaran mengalami peningkatan dari 27,78% pada siklus I meningkat menjadi 44,44% pada siklus II. Hal ini disebabkan pada siklus II siswa sudah merasa senang mengikuti pelajaran karena sudah tidak lagi menganggap materi peluang ini sebagai materi yang

susah untuk dipelajari sehingga perhatian terhadap pelajaran meningkat. Pada aspek partisipasi dalam kelompok juga meningkat dari 25% pada siklus I menjadi 33,33% pada siklus II. Partisipasi dalam kelompok mengalami peningkatan pada siklus II disebabkan siswa sudah merasa membutuhkan pema-haman lebih untuk dapat mengikuti permainan sehingga dia berusaha betul-betul untuk memahami materi dengan bekerja sama dengan kelompoknya masing-masing. Siswa yang merasa kurang bisa tidak lagi merasa malu untuk bertanya pada temannya yang lebih pintar dalam kelompoknya masing-masing, sehingga tiap-tiap kelompok terjadi interaksi yang aktif.

Untuk aspek memecahkan masalah juga mengalami peningkatan dari 19,44% pada siklus I menjadi 27,78% pada siklus II. Peningkatan pema-haman siswa dalam memecahkan masalah ini sebagai dampak dari meningkatnya aspek perhatian siswa pada pelajaran dan kerja sama siswa dalam kelom-poknya, karena dengan siswa lebih perhatian pada pelajaran maka akan lebih mudah memahami materi, dan dengan ikut aktif dalam partisipasi kelompok maka siswa akan mudah menerima informasi dalam menyelesaikan masalah yang ada pada kartu pesan.

No Aspek yang dinilai

Siklus I Siklus II

Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase

yang aktif klasikal yang aktif klasikal

1 Perhatian terhadap pelajaran 10 25,64 % 16 43,59 %

2 Pertisipasi dalam kelompok 9 23,08 % 12 30,77 %

3 Memecahkan masalah 7 17,95 % 10 28,21 %

Tabel 1 Data perbandingan Aktivitas Siswa dilihat dari masing-masing aspek yang dinilai pada Siklus I dan Siklus II 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Perhatian terhadap pelajaran Pertisipasi dalam kelompok Memecahkan masalah J u m la h S is w a Ak tivitas Siswa

DATA PERBANDINGAN PENILAIAN ASPEK ATAS AKTIVITAS SISWA PADA SIKLUS I DAN SIKLUS II

SIKLUS I SIKLUS II

(6)

Peningkatan aktivitas keaktifan siswa juga mengalami peningkatan, untuk siswa aktif pada siklus sebanyak 30,56% meningkat menjadi 55,56%, sedangkan siswa Cukup Aktif menurun dari 44,44% pada siklus I menjadi 36,11% pada siklus II. Hal ini disebabkan siswa yang kurang aktif mengalahi peningkatan menjadi siswa yang aktif. Untuk kriteria siswa yang Kurang aktif juga menurun dari 25% menjadi 8,33%, ini disebabkan hampir semua siswa mulai termotivasi untuk berusaha memahami materi pelajaran sehingga pada saat permainan siswa beru-saha untuk dapat memperoleh skor yang lebih banyak bagi kelompoknya. Kriteria keaktifan siswa juga

No Kriteria Siklus

Siklus I Siklus II

Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase

yang aktif klasikal yang aktif klasikal

1 Aktif 11 30,56% 20 55,56%

2 Cukup aktif 16 44,44% 13 36,11%

3 Kurang aktif 9 25% 3 8,33%

Tabel 2 Data perbandingan tentang Aktivitas Siswa dilihat dari jumlah perolehan ketiga aspek pada Siklus I dan Siklus II 0 5 10 15 20

Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif

J u m la h S is w a Kriteria Keaktifan

PERBANDINGAN HASIL KRITERIA AKTIVITAS

SISWA PADA SIKLUS I DAN SIKLUS II

SIKL US I SIKL US II

Diagram 2 Perbandingan Hasil Kriteria Keaktifan Siswa Pada Sikuls I dan II

Tabel 3 Perbandingan Rekapitulasi hasil ulanganformatif pada siklus I dan siklus II

Aspek yang di amati Siklus I Siklus II

Jumlah siswa yang tuntas secara individual 19 33 Jumlah siswa yang tidak tuntas secara individual 17 4

Persentase Ketuntasan klasikal 52,78% 88,89%

Nilai rata-rata kelas 72,50 77,78

mengalami perubahan dari cukup aktif pada siklus I berubah menjadi aktif pada siklus II.

Hasil belajar siswa pada siklus I terlihat bahwa ketuntasan belajar individu hanya 19 siswa dengan ketuntasan klasikal 52,78% dansetelah mengalami perbaikan pada siklus II ketuntasan individual meningkat menjadi 33 siswa dengan ketuntasan klasikal 88,89%. Nilai rata-rata kelas juga mengala-mi peningkatan dari 72,50 pada siklus I menjadi 77,78 pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa dengan meningkatnya semua aspek pada kegiatan pembelajaran menyebabkan peningkatan hasil belajar siswa. Dapat diartikan bahwa pembelajaran berbasis

(7)

masalah dengan media kokami dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dimungkinkan siswa merasa senang dengan adanya permainan kokami, dalam permainan ini selain siswa bermain dalam kompetisi antar kelompok, juga belajar bekerja sama antar anggota dalam kelompok untuk menyelesaikan soal-soal, juga dengan permainan kokami ini siswa lebih banyak mendapatkan variasi soal-soal tentang materi peluang.

Peningkatan hasil belajar siswa dilihat dari nilai tes formatifnya dapat dilihat perbandingan antar siklusnya. Dari hasil angket tentang respon siswa yang diberikan kepada 36 siswa kelas XII IPA–5, diperoleh data bahwa respon siswa terhadap pembel-ajaran ini ternyata sangat baik. Angket yang peneliti bagikan pada seluruh siswa diperoleh datahampir semua siswa merespon antara setuju dan sangat setuju terhadap pembelajaran berbasis masalah dengan media kokami ini, siswa merasa pembelajaran ini menyenangkan, mudah dipahami, tidak membe-bani, dapat digunakan untuk pelajaran yang lainnya dan menjadikan siswa lebih aktif. Siswa menganggap penggunaan media kokami ini dapat memudahkan siswa dalam memahami pembelajaran matematika, siswa juga merasa dapat berinteraksi dengan teman dan guru dengan baik.

PENUTUP

Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka secara umum dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dengan me-dia kokami pada materi Peluang ini dapat meningkat-kan aktivitas dan hasil belajar siswa.Secara khusus dapat disimpulkan, aktivitas siswa untuk meng-konstruksi pengetahuan siswa cenderung meningkat baik dalam memahami materi yang ada di LKS, berdiskusi, dan bekerja sama antar teman. Penggu-naan alat peraga dan pemberian soal-soal yang banyak dan langsung dibahas dalam permainan dengan media kokami merupakan salah satu faktor yang bisa meningkatkan perhatian siswa sehingga bisa meningkatkan hasil belajar siswa. Keterampilan siswa menjadi terlatih dalam menyelesaikan soal-soal, terutama ketepatan jawaban, kecepatan dalam menyelesaikan soal dan ketelitan serta daya nalar. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, karena penguasaan materi siswa meningkat dan siswa juga terlatih menyelesaiakan soal-soal dengan cepat dan benar. Pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan media kokami membuat situasi kelas lebih menyenangkan bagi siswa dan guru sehingga situasi belajar benar-benar menyenangkan.

Saran, sebagai seorang guru haruslah jeli dalam memilih metode pembelajaran sehingga benar-benar sesuai dengan materi yang diberikan untuk mem-peroleh penguasaan konsep siswa secara maksimal dan untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning (PBL) dengan media kokami dapat diguna-kan sebagai salah satu metode pembelajaran yang baik digunakan pada konsep Peluang maupun konsep-konsep yang lain. Selain itu, PBL juga bisa di mix and match dengan media yang lainnya guna penelitian mendatang agar proses pembelajaran lebih bervariatif dan inovatif. Hasil penelitian diharapkan mampu menambah pengetahuan tentang media pembelajaran kokami serta dapat menjadikannya sebagai sumber referensi bagi penelitian selanjutnya.

DAFTAR RUJUKAN

Aqib, Zainal. 2008. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SMP, SMA, SMK. Bandung: Yrama Widya. Arikunto, S. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta.

Bumi Aksara.

Arikunto, S. 2014. Prosedur Penelitian Pendekatan Suatu Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Depdiknas. 2003. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Deviyanti, R. A. 2011. Pembelajaran Biologi dengan

Pendekatan Kontekstual Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based learning) untuk Meningkatkan Keterampilan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar. Skripsi tidaj diterbitkan. Jember: FKIP UNEJ.

Falahuddin, Iwan. 2014. Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran . Jurnal Lingkar Widyaiswar a, 1(4):110.

Harini, Y. T. 2005. Keefektifan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Dengan Media Kokami Terhadap Hasil Belajar Biologi. Skripsi tidak diterbitkan. Jember: FKIP UNEJ.

Kadir, A. 2004. Menguasai Bahasa Inggris Melalui Kokami. Diambil dari http:\\www.replubika.co.id/ suplemen/cetakdetal.agp?mid=1&id=171407 &katid=105&katid=151. Diakses tan ggal 5 Agustus 2009.

Marga, K. M. 2018. Pengaruh Media KOKAMI (Kotak Kartu Misterius) terhadap Ketrampilan Berpikir Kritis dan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 19 Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018. Jurnal Hasil Kajian, Inovasi, dan Aplikasi Pendi-dikan Fisika, 4 (2): 18-22.

Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang Press.

(8)

dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-ruzz Me-dia.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suyadi. 2012. Buku Panduan Guru Profesional

Pene-litian Tindakan Kelas (PTK) dan PenePene-litian Tindak-an Sekolah. Yogyakarta: Andi.

Suyadi. 2012. Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Diva Press.

Widiasworo, Erwin. 2015. 19 Kiat Sukses Membang-kitkan Motivasi Belajar Peserta Didik. Jogjakarta:: Ar-Ruzz Media

Gambar

Diagram 1  Perbandingan Data Aktivitas Siswa Pada Siklus I dan II
Tabel 3 Perbandingan Rekapitulasi hasil ulanganformatif pada siklus I dan siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Peningkatan aktivitas berkarakter dan pemahaman konsep siswa yang diajar dengan model Problem Based Learning lebih baik dari siswa yang diajar dengan model pembelajaran

Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Dengan Pendekatan Saintifik Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika (PTK Pembelajaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model problem based learning (PBL) dengan pemahaman konsep awal tinggi berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa dengan perbedaan yang

Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah ( Problem Based Learning ) berpengaruh terhadap hasil belajar biologi aspek afektif siswa kelas X MIA

melalui pembelajaran biasa. Ini dimaknai bahwa dengan menggunakan strategi Problem Based Learning kemampuan siswa dalam menunjukkan pemahaman masalah lebih baik

Pendekatan PBL (Problem Based Learning) atau pembelajaran berbasis masalah adalah suatu proses belajar mengajar di dalam kelas dimana siswa terlebih dahulu

Kelompok eksperimen memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dari kelompok kontrol Dapat disimpulkan bahwa metode problem based learning meningkatkan hasil penilaian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) pengembangan modul pembelajaran IPA Fisika SMP berbasis problem based learning