KONSTRUKSI BETON BERTULANG
KURIKULUM 2013
Jilid 2
Semester 4
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KATA PENGANTAR
Buku siswa atau Bahan ajar ini disusun dalam bentuk paket pembelajaran yang berisi uraian materi untuk mendukung penguasaan kompetensi/elemen kompetensi tertentu yang ditulis sequensial, sistematis dan sesuai dengan prinsip pembelajaran yang mengacu kepada kurikulum SMK 2013.
Buku siswa ini, merupakan salah satu bahan ajar yang sangat sesuai dan mudah dipelajari secara individu. Karena itu, meskipun buku siswa ini dipersiapkan untuk pengembangan kompetensi kejuruan bagi siswa SMK khususnya bidang teknik Konstruksi Batu dan Beton dan atau tenaga kependidikan, dapat digunakan juga untuk pendidikan lain yang sejenis. Di dalam penggunaannya, bahan ajar ini tetap mengharapkan penerapan azas keluwesan dan keterlaksanaan, yaitu menyesuaikan dengan karakteristik peserta, kondisi fasilitas dan tujuan kurikulum SMK 2013.
Dengan demikian, kepada semua pihak baik unit kerja maupun guru/tenaga pengajar diharapkan untuk dapat berusaha mengoptimalkan penggunaannya sehingga kegiatan pembelajaran yang dilakukan lebih bermakna dalam meningkatkan/membekali kompetensi peserta didik/siswa.
Kami, atas nama Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (PPPPTK BMTI) Bandung, menyampaikan terima kasih dan penghargan yang setinggi-tingginya kepada para penulis dan semua pihak yang terkait atas peran sertanya dalam penulisan buku ini.
Demikian, semoga buku yang telah disusun ini dapat bermanfaat dalam mendukung pengembangan pendidikan kejuruan, khususnya dalam peningkatan kompetensi kejuruan peserta didik/siswa.
DAFTAR ISI
f. Kunci Jawaban 212
6. KEGIATAN BELAJAR 6. EVALUASI MUTU BETON 215
a. Tujuan Pembelajaran 215
b. Uraian Materi 215
c. Rangkuman 232
d. Tugas 233
e. Tes Formatif 234
f. Kunci Jawaban tes Formatif 235
7. KEGIATAN BELAJAR 7. PERANCAH DAN BEKISTING 224
a. Tujuan Pembelajaran 224
b. Uraian Materi 224
1) Tugas 1. Tujuan dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pekerjaan Perancah 228
2) Tugas 2. Pemeliharaan Bahan dan Komponen Perancah 240
3) Tugas 3. Konstruksi Perancah 243
4) Tugas 4. Sistem Sambungan Bekisting Kolom 262
c. Rangkuman 277
d. Tugas 277
e. Tes Formatif 281
DAFTAR TABEL
Tabel 20. A-24 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 35 MPa, fy = 350 MPa,
K dalam MPa) 114
Tabel 21. A-25 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 40 MPa, fy = 350 MPa, K dalam MPa) 116
Tabel 22. A-26 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 17 MPa, fy = 400 MPa, K dalam MPa) 118
Tabel 23. A-27 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 20 MPa, fy = 400 MPa, K dalam MPa) 119
Tabel 24. A-28 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 25 MPa, fy = 400 MPa, K dalam MPa) 120
Tabel 25. A-29 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 30 MPa, fy = 400 MPa, K dalam MPa) 121
Tabel 26. A-30 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 35 MPa, fy = 400 MPa, K dalam MPa) 122
Tabel 27. A-31Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 40 MPa, fy = 400 MPa, K dalam MPa) 123
Tabel 28. A-32 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 17 MPa, fy = 500 MPa, K dalam MPa) 125
Tabel 29. A-33 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 20 MPa, fy = 500 MPa, K dalam MPa) 125
Tabel 30. A-34 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 25 MPa, fy = 500 MPa, K dalam MPa) 125
Tabel 31. A-35 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 30 MPa, fy = 500 MPa, K dalam MPa) 126
Tabel 32. A-36 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 35 MPa, fy = 500 MPa, K dalam MPa) 127
Tabel 33. A-37 Rasio penulangan va koefisien tahanan (k) (fc’ = 170 MPa, fy = 240 MPa, K dalam MPa) 128
Tabel 34. A-38 Lebar balok minimum 129
Tabel 35. A-39 Panjang Penyaluran Dasar (mm) 130
Tabel 36. A-40 Jumlah maksimum batang tulangan dalam satu baris penulangan kolom 132
Tabel 37. Nilai Faktor Pengali Bila Benda Uji Kurang Dari 30 Pasang 138
Tabel 38. Nilai Konstanta dan Kegagalan 138
Tabel 39. Hasil Pengujian Kuat Tekan 139
Tabel 41. Klasifikasi Agregat Berdasarkan Bentuk 147
Tabel 42. Klasifikasi Agregat Berdasarkan Tektur Permukaan 148
Tabel 43. Besar Tegangan Leleh dan Tegangan Dasar 152
Tabel 44. Daftar Isian Rancangan Proporsi Campuran Beton 152
Tabel 45. Perkiraan Kekuatan Tekan (N/mm2) Beton dengan Faktor Air Semen 0,5 154 Tabel 46. Persyaratan Jumlah Semen Minimum dan Faktor Air Semen Maksimum 157
Tabel 47. Ketentuan Untuk Beton Yang Berhubungan Dengan Air Tanah 156
Tabel 48. Ketentuan Minimum Untuk Beton Bertulang Kedap Air 159
Tabel 49. Nilai Slump Untuk Berbagai Pekerjaan Beton (SNI) 159
Tabel 50. Persyaratan Batas-Batas Susunan Besar Butir Agregat Kasar 160
Tabel 51 Perkiraan Kadar Air bebas (kgf/cm2) yang Dibutuhkan 162
Tabel 52. Data Bahan 166
Tabel 53. Perhitungan Proporsi Campuran Beton 167
Tabel 54. Hasil Perhitungan dan Data Bahan 171
Tabel 55. Data Kuat Tekan beton 174
Tabel 56.Daftar Isian Rancangan Campuran Beton (Metode DOE) 176
Tabel 57. Nilai-nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton (PBI’71) 184
Tabel 58. Berbagai sifat pekerjaan dan nilai slup (Ditjen Bina Marga) 184
Tabel 59. Contoh Perhitungan Kekuatan Tekan Beton dari Hasil Pengujian 186
Tabel 60. Koreksi Sudut 193
Tabel 61. Contoh perhitungan Destruktif 199
Tabel 62. Kuat Tekan Beton Berdasarkan Umur 200
Tabel 63. Data beban hasil pengujian kuat tekan beton 200
Tabel 64. Data beban hasil pengujian kuat tekan beton 201
Tabel 65. Evaluasi Mutu Beton 210
Tabel 66. Contoh penggunaan daftar isian evaluasi mutu beton 215
Tabel 67. Nilai , ß, dan 1 219
Tabel 68. Nilai Tertinggi dan Terrendah S/Sr 221
Gambar 38. Grafik Standar Deviasi Rencana dan Kuat Tekan 140
Gambar 48. Grafik Persentase Jumlah Pasir dengan Ukuran Agregat Maksimum 10 mm 161
Gambar 49. Grafik Persentase Jumlah Pasir dengan Ukuran Agregat Maksimum 20 mm 162
Gambar 71. Dudukan tiang dengan ulir yang dilengkapi dengan lubang dan pin 236
Gambar 86. Perancah menara dengan penguat tali baja Perancah menara dengan penguat rangka 246
Gambar 104. Pegangan pada perancah dengan sistem kerangka tiang satu lapis 256
Gambar 106. Dudukan tiang dicor beton 258
Gambar 107. Dudukan tiang roda (castor) 258
Gambar 108. Penyambungan Papan Cetakan 263
Gambar 109 Penyambungan Papan Siku 263
Gambar 110. Panel cetakan seperempat lingkaran 263
Gambar 111. Tekanan yang timbul dalam konstruksi bekisting beton pada waktu pengecoran 264
Gambar 112. Jarak Sumbu Tumpuan 265
Gambar 113. Perkuatan cetakan kayu pada kolom 266
Gambar 114. Perakitan Papan-papan menjadi Bekisting Kolom 267
Gambar 115. Cetakan dengan menggunakan baut 267
Gambar 116 . Cetakan dengan klem baja yang dapat diatur 268
Gambar 117. Cetakan kolom dengan menggunakan sabuk baja 268
Gambar 118. Bekisting Kolom 269
Gambar 119. Cetakan dinding penahan tanah dengan papan kayu dan kerangka kayu 269
Gambar 120. Cetakan mendaki (Climbing Formwork) satu sisi 270
Gambar 121. Potongan Bekisting Dinding Beton 270
Gambar 122. Cetakan mendaki (climbing Formwork) dua sisi 271
Gambar 123. Detail jangkar cetakan 271
Gambar 124. Kawat jangkar 271
Gambar 125. Cetakan kolom dengan perkuatannya 272
Gambar 126. Konstruksi bekistng dinding penahan tanah 272
Gambar 127. Potongan bekisting dinding beton 273
Gambar 128. Cetakan/bekisting dari papan kayu/panel kayu lapis untuk balok dan plat lantai, beserta penyangga dan kakinya 274
Gambar 129. Konstruksi tepi pada pelat lantai beton balok T maupun yang datar 275
Gambar 130. Perkuatan balok melintang mempergunakan batang penguat Samping 275
Gambar 131. Perkuatan balok melintang memergunakan batang penguat samping dan baut 275
GLOSARIUM
Agregat adalah butiran-butiran mineral yang dicampurkan dengan semen portland dan air menghasilkan beton
Agregat Halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi secara alami dari batu atau pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm.
Agregat Kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi secara alami dari batu atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5 - 40 mm.
Baja tulangan adalah jenis baja yang dipakai untuk tulangan beton yang harus memenuhi ketentuan-ketentuan SNI
Batang yang diprofil adalah batang tulangan dengan bentuk penampang khusus untuk memperbesar lekatan dengan beton
Batang polos adalah batang tulangan dengan permukaan licin dan berbentuk prismatis sesuai dengan SNI
Berat jenis SSD adalah berat jenis suatu benda dalam kondisi kering permukaan (saturated Surface Dry Condition) artinya pori-pori benda tersebut diisi oleh air dengan kata lain sudah jenuh, hanya permukaannya kering.
Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan campuran tambahan membentuk massa padat
Beton bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum, yang disyaratkan dengan atau tanpa prategang, dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahan gaya yang bekerja.
Beton adalah campuran antara semen Portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk masa padat. Sedangkan tulangan adalah batang baja berbentuk polos atau
memenuhi ketentuan minimum serta mendapatkan hasil pekerjaan struktur yang aman dan ekonomis.
Kekuatan tekan beton karakteristik adalah kekuatan tekan, dimana dari sejumlah besar hasil-hasil pemeriksaan, kemungkinan adanya kekuatan tekan yang kurang dari itu terbatas sampai 5 % saja.
Semen Portland adalah bahan perekat Hidrolis yang dapat mengeras bila bersenyawa dengan air dan membentuk massa yang padat serta tak larut dalam air.
SK SNI adalah singkatan dari Standar Konsep Standar Nasional Indonesia